<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
	<channel>
		<title><![CDATA[Minang Forum - Kuliner]]></title>
		<link>http://www.minangforum.com/</link>
		<description><![CDATA[Minang Forum - http://www.minangforum.com]]></description>
		<pubDate>Fri, 24 May 2013 02:55:01 +0000</pubDate>
		<generator>MyBB</generator>
		<item>
			<title><![CDATA[Menikmati Wisata Kuliner di Simpang Kinol Padang]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Menikmati-Wisata-Kuliner-di-Simpang-Kinol-Padang</link>
			<pubDate>Tue, 05 Feb 2013 04:25:50 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Menikmati-Wisata-Kuliner-di-Simpang-Kinol-Padang</guid>
			<description><![CDATA[TEMPO.CO, Padang--Padang terkenal dengan masakannya yang enak, dan masakan Padang juga tersebar di seluruh kawasan di Indonesia. Kalau anda ke kota Padang, sebenarnya tak terlalu sulit mencari tempat makan yang enak. Ada di mana-mana. Mulai dari restoran hingga warung kecil di pinggir jalan.<br />
Sebagai penanda praktis, tempat makan yang enak itu biasanya akan ramai saat makan siang, walaupun warungnya kecil, kalau enak, pasti banyak yang antri.<br />
<br />
Kalau agak kesulitan mencari tempat makan enak, karena tersebar itu, ada satu kawasan yang berkembang menjadi pusat kuliner malam di Padang sejak tahun 1990-an, namanya Simpang Kinol. Tempatnya di Pondok, kawasan Pecinaan. Dulunya di perempatan jalan ini ada Apotik Kinol, makanya namanya menjadi Simpang Kinol. Simpang ini pertemuan Jalan Niaga, Jalan Imam Bonol, Jalan Tepi Pasang dan Jalan Pondok.<br />
<br />
Kawasan pertokoan ini akan mulai ramai sore hari dengan pedagang makanan yang kebanyakan membawa gerobaknya dan berderet rapi di trotoar Jalan Niaga. Selain gerobak makanan, juga sudah banyak rumah makan dan warung yang menjual beragam makanan. Satu rumah makan bisa diisi tiga pedagang, seperti Sate Dangun-Dangun, Soto Padang Roda Tiga dan Es Durian Ganti Nan Lamo.<br />
<br />
Jadi kalau duduk di rumah makan itu, bisa pesan sate, makan soto dan es durian.<br />
Tempatnya juga bersih. Pedagang keturunan Tionghoa biasanya menjual kwitiau, seafood, steek, bubur ayam, es durian dan es tebak, ini es campur khas Padang.<br />
<br />
Makanan yang dijual rata-rata enak. Harganya juga standar, tidak terlalu mahal tetapi lebih mahal sedikit dari tempat lain di Padang. Seperti seporsi sate dangun-dangun Rp18 ribu, sementara untuk sate yang sama di tempat lain di Padang Rp13 ribu.<br />
<br />
Hampir semua jenis makanan ada di sini. Dari martabak manis hingga martabak mesir. Dari gado-gado, lotek, sampai pecel lele. Ada juga nasi goreng dan soto padang. Yang paling banyak itu penjual sate, mulai dari sate dangun-dangun, ini sate khas dari Payakumbuh, sate padang, sate ayam sampai sate madura.<br />
<br />
Penjual minuman juga berjejer dengan gerobaknya dan bangku untuk tempat duduk. Bukan minuman keras, tetapi minuman tradisional Minang yang populer seperti teh taluau, jus pinang dan air daun kacang. Teh talua atau teh telur ini campuran yang dikocok sama kuning telur dan dicampur susu. Minuman ini hangat, berbuih dan wangi kue bolu. Rasanya seperti menyeruput coklat panas.<br />
<br />
Ada juga Jus Pinang Muda. Jus pinang ini terbuat dari biki pinang muda yang dicampur kuning telur ayam kampung atau telur itik, madu, susu dan segelas air panas. Rasanya tidak sepet, karena buah pinangnya hanya tujuh butir dan kecil-kecil. Satu lagi minuman tradisional yang wajib dicoba adalah air daun kacang dan cincau hijau.<br />
<br />
Kawasan Simpang Kinol ini hidup hingga tengah malam. Malam hari semakain ramai dengan orang yang berburu kuliner.<br />
<br />
"Paling ramai malam minggu, bisa sampai jam satu malam," kata Aris, penjual sate dangun-dangun. Menurutnya, yang datang kebanyakan malah dari luar kota.<br />
"Pelanggan tetap sate saya malah rombongan pilot dan pramugari Garuda." <br />
FEBRIANTI<br />
<br />
<br />
------------------------------------------------------------------------------------------ <br />
Note: Sate Dangun-Dangun (Sate Danguang-Danguang)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[TEMPO.CO, Padang--Padang terkenal dengan masakannya yang enak, dan masakan Padang juga tersebar di seluruh kawasan di Indonesia. Kalau anda ke kota Padang, sebenarnya tak terlalu sulit mencari tempat makan yang enak. Ada di mana-mana. Mulai dari restoran hingga warung kecil di pinggir jalan.<br />
Sebagai penanda praktis, tempat makan yang enak itu biasanya akan ramai saat makan siang, walaupun warungnya kecil, kalau enak, pasti banyak yang antri.<br />
<br />
Kalau agak kesulitan mencari tempat makan enak, karena tersebar itu, ada satu kawasan yang berkembang menjadi pusat kuliner malam di Padang sejak tahun 1990-an, namanya Simpang Kinol. Tempatnya di Pondok, kawasan Pecinaan. Dulunya di perempatan jalan ini ada Apotik Kinol, makanya namanya menjadi Simpang Kinol. Simpang ini pertemuan Jalan Niaga, Jalan Imam Bonol, Jalan Tepi Pasang dan Jalan Pondok.<br />
<br />
Kawasan pertokoan ini akan mulai ramai sore hari dengan pedagang makanan yang kebanyakan membawa gerobaknya dan berderet rapi di trotoar Jalan Niaga. Selain gerobak makanan, juga sudah banyak rumah makan dan warung yang menjual beragam makanan. Satu rumah makan bisa diisi tiga pedagang, seperti Sate Dangun-Dangun, Soto Padang Roda Tiga dan Es Durian Ganti Nan Lamo.<br />
<br />
Jadi kalau duduk di rumah makan itu, bisa pesan sate, makan soto dan es durian.<br />
Tempatnya juga bersih. Pedagang keturunan Tionghoa biasanya menjual kwitiau, seafood, steek, bubur ayam, es durian dan es tebak, ini es campur khas Padang.<br />
<br />
Makanan yang dijual rata-rata enak. Harganya juga standar, tidak terlalu mahal tetapi lebih mahal sedikit dari tempat lain di Padang. Seperti seporsi sate dangun-dangun Rp18 ribu, sementara untuk sate yang sama di tempat lain di Padang Rp13 ribu.<br />
<br />
Hampir semua jenis makanan ada di sini. Dari martabak manis hingga martabak mesir. Dari gado-gado, lotek, sampai pecel lele. Ada juga nasi goreng dan soto padang. Yang paling banyak itu penjual sate, mulai dari sate dangun-dangun, ini sate khas dari Payakumbuh, sate padang, sate ayam sampai sate madura.<br />
<br />
Penjual minuman juga berjejer dengan gerobaknya dan bangku untuk tempat duduk. Bukan minuman keras, tetapi minuman tradisional Minang yang populer seperti teh taluau, jus pinang dan air daun kacang. Teh talua atau teh telur ini campuran yang dikocok sama kuning telur dan dicampur susu. Minuman ini hangat, berbuih dan wangi kue bolu. Rasanya seperti menyeruput coklat panas.<br />
<br />
Ada juga Jus Pinang Muda. Jus pinang ini terbuat dari biki pinang muda yang dicampur kuning telur ayam kampung atau telur itik, madu, susu dan segelas air panas. Rasanya tidak sepet, karena buah pinangnya hanya tujuh butir dan kecil-kecil. Satu lagi minuman tradisional yang wajib dicoba adalah air daun kacang dan cincau hijau.<br />
<br />
Kawasan Simpang Kinol ini hidup hingga tengah malam. Malam hari semakain ramai dengan orang yang berburu kuliner.<br />
<br />
"Paling ramai malam minggu, bisa sampai jam satu malam," kata Aris, penjual sate dangun-dangun. Menurutnya, yang datang kebanyakan malah dari luar kota.<br />
"Pelanggan tetap sate saya malah rombongan pilot dan pramugari Garuda." <br />
FEBRIANTI<br />
<br />
<br />
------------------------------------------------------------------------------------------ <br />
Note: Sate Dangun-Dangun (Sate Danguang-Danguang)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Soto Padang Ditemani Kerupuk Merah...]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Soto-Padang-Ditemani-Kerupuk-Merah</link>
			<pubDate>Fri, 11 Jan 2013 02:44:46 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Soto-Padang-Ditemani-Kerupuk-Merah</guid>
			<description><![CDATA[<img src="http://assets.kompas.com/data/photo/2013/01/09/1845584-soto-padang-620X310.gif" border="0" alt="[Image: 1845584-soto-padang-620X310.gif]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<a href="http://WWW.REKOMENDASI.ME" rel="nofollow" target="_blank">http://WWW.REKOMENDASI.ME</a><br />
Soto Padang H. St. Mangkuto. <br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">KOMPAS.com</span> - Awalnya <br />
saya belum terlalu suka dengan soto padang, karena dulu pernah coba tapi<br />
lupa dimana, rasa kuahnya seperti jamu, he-he... Rasa rempah-rempahnya <br />
kuat sekali.<br />
Seiring berjalannya waktu saya sering diajak teman saya yang asli dari Padang untuk<a href="http://ads6.kompasads.com/new/www/delivery/ck.php?oaparams=2__bannerid=9541__zoneid=0__cb=%7Brandom%7D__oadest=http://www.urbanesia.com//" rel="nofollow" target="_blank"> makan</a> soto Padang H. St. Mangkuto.<br />
Teman<br />
saya mengatakan sudah cukup lama menjadi pelanggan tetap soto padang H.<br />
Mangkuto ini. Bahkan menurut teman saya, soto padang ini salah satu <br />
yang terenak yang pernah dimakan. Sementara saya sudah hampir 2 tahun <br />
menjadi pelanggan tetap disini.<br />
Soto Padang H. St. Mangkuto memang<br />
legendaris, karena sudah ada sejak 1987 Dan hebatnya, di sini hanya <br />
menjual menu soto padang saja tidak ada menu lain.<br />
Kalau urusan <br />
pelanggan tidak perlu diragukan lagi, setiap harinya selalu ramai. Saat <br />
ini soto padang Mangkuto mempunyai cabang di Kelapa Gading dan Pasar <br />
Baru.<br />
Anda jangan kaget ya kalau makan di sini, ukuran satu <br />
porsinya tergolong kecil. Jadi menggunakan seperti mangkok soto kudus <br />
yang ukuran kecil. Saya kalau makan di sini biasa makan dua mangkok <br />
he-he...<br />
Apa kelebihan soto padang Mangkuto? Menurut saya, soto <br />
padang ini istimewa, mulai dari kuahnya yang lezat, lalu dagingnya itu <br />
lho, enak banget dan terasa garing. Dilengkapi dengan soun dan sedikit <br />
perkedel yang sudah dicampur jadi satu. Sambalnya memang tidak pedas, <br />
tapi bisa menambah nikmat soto ini.<br />
Makan soto padang cocoknya <br />
memang ditemani dengan kerupuk merah. Kalau Anda pesan nasi, sudah ada <br />
sedikit kerupuk merah. Kalau saya pasti tambah kerupuk merahnya yang <br />
sudah disediakan di setiap meja dengan dibungkus plastik. Kalau Anda <br />
belum pernah mencoba makan soto padang yang satu ini, saya <br />
rekomendasikan untuk mencobanya.<span style="font-weight: bold;">(Frans)</span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<img src="http://assets.kompas.com/data/photo/2013/01/09/1845584-soto-padang-620X310.gif" border="0" alt="[Image: 1845584-soto-padang-620X310.gif]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<a href="http://WWW.REKOMENDASI.ME" rel="nofollow" target="_blank">http://WWW.REKOMENDASI.ME</a><br />
Soto Padang H. St. Mangkuto. <br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">KOMPAS.com</span> - Awalnya <br />
saya belum terlalu suka dengan soto padang, karena dulu pernah coba tapi<br />
lupa dimana, rasa kuahnya seperti jamu, he-he... Rasa rempah-rempahnya <br />
kuat sekali.<br />
Seiring berjalannya waktu saya sering diajak teman saya yang asli dari Padang untuk<a href="http://ads6.kompasads.com/new/www/delivery/ck.php?oaparams=2__bannerid=9541__zoneid=0__cb=%7Brandom%7D__oadest=http://www.urbanesia.com//" rel="nofollow" target="_blank"> makan</a> soto Padang H. St. Mangkuto.<br />
Teman<br />
saya mengatakan sudah cukup lama menjadi pelanggan tetap soto padang H.<br />
Mangkuto ini. Bahkan menurut teman saya, soto padang ini salah satu <br />
yang terenak yang pernah dimakan. Sementara saya sudah hampir 2 tahun <br />
menjadi pelanggan tetap disini.<br />
Soto Padang H. St. Mangkuto memang<br />
legendaris, karena sudah ada sejak 1987 Dan hebatnya, di sini hanya <br />
menjual menu soto padang saja tidak ada menu lain.<br />
Kalau urusan <br />
pelanggan tidak perlu diragukan lagi, setiap harinya selalu ramai. Saat <br />
ini soto padang Mangkuto mempunyai cabang di Kelapa Gading dan Pasar <br />
Baru.<br />
Anda jangan kaget ya kalau makan di sini, ukuran satu <br />
porsinya tergolong kecil. Jadi menggunakan seperti mangkok soto kudus <br />
yang ukuran kecil. Saya kalau makan di sini biasa makan dua mangkok <br />
he-he...<br />
Apa kelebihan soto padang Mangkuto? Menurut saya, soto <br />
padang ini istimewa, mulai dari kuahnya yang lezat, lalu dagingnya itu <br />
lho, enak banget dan terasa garing. Dilengkapi dengan soun dan sedikit <br />
perkedel yang sudah dicampur jadi satu. Sambalnya memang tidak pedas, <br />
tapi bisa menambah nikmat soto ini.<br />
Makan soto padang cocoknya <br />
memang ditemani dengan kerupuk merah. Kalau Anda pesan nasi, sudah ada <br />
sedikit kerupuk merah. Kalau saya pasti tambah kerupuk merahnya yang <br />
sudah disediakan di setiap meja dengan dibungkus plastik. Kalau Anda <br />
belum pernah mencoba makan soto padang yang satu ini, saya <br />
rekomendasikan untuk mencobanya.<span style="font-weight: bold;">(Frans)</span>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Dekranasda Gelar Pesta Kuliner Minang di Kuala Lumpur]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Dekranasda-Gelar-Pesta-Kuliner-Minang-di-Kuala-Lumpur</link>
			<pubDate>Sun, 16 Dec 2012 08:05:25 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Dekranasda-Gelar-Pesta-Kuliner-Minang-di-Kuala-Lumpur</guid>
			<description><![CDATA[<a href="http://kliksumbar.com/foto_berita/21nevi.JPG" rel="nofollow" target="_blank"><br />
&lt;img alt="" src="http://kliksumbar.com/foto_berita/medium_21nevi.JPG" width="205" align="center" /&gt;</a><br />
<span style="font-weight: bold;">Ny. Nevi Irwan (ketiga dari kiri) di Indonesia Food Festival</span><br />
<br />
<span style="font-weight: bold;"><span style="color: black;">Kuala Lumpur, </span></span><span style="font-weight: bold;"><span style="color: darkblue;">Klik</span></span><span style="font-weight: bold;"><span style="color: red;">Sumbar</span></span> <br />
<br />
<br />
Provinsi Sumatera Barat yang dikenal dengan Ranah Minang memiliki <br />
kekayaan masakan tradisionalnya yang terkenal beragam dan enak. Dan dari<br />
macam-macam makanan tersebut dapat kita bedakan masakan pada kategori <br />
makanan utama, kue tradisional dan aneka minuman.<br />
<br />
<br />
<br />
Cita rasa yang utama ditemui pada masakan khas Minang adalah gurih dan <br />
pedas. Rasa gurih dan pedas tersebut diperoleh dari santan dan cabai <br />
merah. Rasa gurih dan pedas ini yang berasal dari santan dan cabe, dapat<br />
dicampur dengan bahan baku apa saja semisal bahan baku hewani yaitu <br />
daging sapi, ayam atau bebek, ikan laut, ikan tambak, termasuk telur <br />
ayam. Sementara sayurannya lebih banyak menggunakan kacang panjang, daun<br />
singkong, pakis, nangka, buncis, serta petai dan jengkol.<br />
<br />
<br />
<br />
Semua ini ditampilkan oleh delegasi Provinsi Sumatera Barat pada <span style="font-style: italic;">Indonesia Food Festival</span><br />
yang diadakan pada tanggal 4-5 Desember 2012 di Gedung Dewan Perdana <br />
Keramat di Kuala Lumpur Malaysia. Delegasi ini dipimpin langsung oleh <br />
Ketua Dekranasda Ny. Nevi Irwan Prayitno.<br />
<br />
<br />
<br />
Dalam pembukaan hadir Duta Besar RI untuk Malaysia Marsekal TNI (Purn) <br />
Herman Prayitno, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekenomi Kreatif Sapta <br />
Nirwandar, Direktur Raseno Arya, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata <br />
Kota Padang Asnel dan Kabid Pemasaran Lilit Damsir.<br />
<br />
<br />
<br />
Ketua Dekranasda Provinsi Sumatera Barat Ny. Nevi Irwan Prayitno <br />
menyampaikan, keberagaman menu makanan khas daerah Minang memiliki <br />
potensi dan daya tarik tersendiri untuk meningkatkan jumlah wisatawan <br />
yang berkunjung ke Provinsi Sumatera Barat. Namun semua itu tentu perlu <br />
upaya promosi dan kerjasama semua pihak untuk mensosialisasikannya ke <br />
dunia internasional.<br />
<br />
<br />
<br />
<span style="font-style: italic;">Indonesia Food Festival</span> ini merupakan bentuk promosi dan <br />
pelestarian kuliner nusantara khususnya kuliner asal Minang yang <br />
tersohor hingga ke mancanegara. Makan Minang yang ditampilkan adalah <br />
orisinil masakan dan minuman khas Minang yang langsung dimasak oleh 34 <br />
koki dari seluruh kabupaten/kota yang ada di Provinsi Sumatera Barat. <br />
Makanan antara lain onde-onde, galamai, bubur kampiun sampai masakan <br />
utama seperti gulai kepala ikan, beragam jenis rendang, gulai cangkuak, <br />
gulai masin dan lain-lain. <span style="font-weight: bold;">(Relis)</span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://kliksumbar.com/foto_berita/21nevi.JPG" rel="nofollow" target="_blank"><br />
&lt;img alt="" src="http://kliksumbar.com/foto_berita/medium_21nevi.JPG" width="205" align="center" /&gt;</a><br />
<span style="font-weight: bold;">Ny. Nevi Irwan (ketiga dari kiri) di Indonesia Food Festival</span><br />
<br />
<span style="font-weight: bold;"><span style="color: black;">Kuala Lumpur, </span></span><span style="font-weight: bold;"><span style="color: darkblue;">Klik</span></span><span style="font-weight: bold;"><span style="color: red;">Sumbar</span></span> <br />
<br />
<br />
Provinsi Sumatera Barat yang dikenal dengan Ranah Minang memiliki <br />
kekayaan masakan tradisionalnya yang terkenal beragam dan enak. Dan dari<br />
macam-macam makanan tersebut dapat kita bedakan masakan pada kategori <br />
makanan utama, kue tradisional dan aneka minuman.<br />
<br />
<br />
<br />
Cita rasa yang utama ditemui pada masakan khas Minang adalah gurih dan <br />
pedas. Rasa gurih dan pedas tersebut diperoleh dari santan dan cabai <br />
merah. Rasa gurih dan pedas ini yang berasal dari santan dan cabe, dapat<br />
dicampur dengan bahan baku apa saja semisal bahan baku hewani yaitu <br />
daging sapi, ayam atau bebek, ikan laut, ikan tambak, termasuk telur <br />
ayam. Sementara sayurannya lebih banyak menggunakan kacang panjang, daun<br />
singkong, pakis, nangka, buncis, serta petai dan jengkol.<br />
<br />
<br />
<br />
Semua ini ditampilkan oleh delegasi Provinsi Sumatera Barat pada <span style="font-style: italic;">Indonesia Food Festival</span><br />
yang diadakan pada tanggal 4-5 Desember 2012 di Gedung Dewan Perdana <br />
Keramat di Kuala Lumpur Malaysia. Delegasi ini dipimpin langsung oleh <br />
Ketua Dekranasda Ny. Nevi Irwan Prayitno.<br />
<br />
<br />
<br />
Dalam pembukaan hadir Duta Besar RI untuk Malaysia Marsekal TNI (Purn) <br />
Herman Prayitno, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekenomi Kreatif Sapta <br />
Nirwandar, Direktur Raseno Arya, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata <br />
Kota Padang Asnel dan Kabid Pemasaran Lilit Damsir.<br />
<br />
<br />
<br />
Ketua Dekranasda Provinsi Sumatera Barat Ny. Nevi Irwan Prayitno <br />
menyampaikan, keberagaman menu makanan khas daerah Minang memiliki <br />
potensi dan daya tarik tersendiri untuk meningkatkan jumlah wisatawan <br />
yang berkunjung ke Provinsi Sumatera Barat. Namun semua itu tentu perlu <br />
upaya promosi dan kerjasama semua pihak untuk mensosialisasikannya ke <br />
dunia internasional.<br />
<br />
<br />
<br />
<span style="font-style: italic;">Indonesia Food Festival</span> ini merupakan bentuk promosi dan <br />
pelestarian kuliner nusantara khususnya kuliner asal Minang yang <br />
tersohor hingga ke mancanegara. Makan Minang yang ditampilkan adalah <br />
orisinil masakan dan minuman khas Minang yang langsung dimasak oleh 34 <br />
koki dari seluruh kabupaten/kota yang ada di Provinsi Sumatera Barat. <br />
Makanan antara lain onde-onde, galamai, bubur kampiun sampai masakan <br />
utama seperti gulai kepala ikan, beragam jenis rendang, gulai cangkuak, <br />
gulai masin dan lain-lain. <span style="font-weight: bold;">(Relis)</span>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Rajou Minta Randang Jadi Raja di Negeri Sendiri]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Rajou-Minta-Randang-Jadi-Raja-di-Negeri-Sendiri</link>
			<pubDate>Wed, 12 Dec 2012 02:16:09 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Rajou-Minta-Randang-Jadi-Raja-di-Negeri-Sendiri</guid>
			<description><![CDATA[<div align="justify">PADANG – Empat mahasiswa program <br />
beasiswa unggulan pascasarjana Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Trisakti <br />
mengangkat kuliner tradisional Minangkabau, khususnya randang sebagai <br />
bahan kajian untuk tugas akhir atau tesis mereka. Kegiatan menggali <br />
kajian tentang kuliner Minang itu dirangkai dalam sebuah iven yang <br />
disebut “Rendang Journey (Rajou)”. </div>
<a href="http://hariansinggalang.co.id/wp-content/uploads/2012/12/rajou.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://hariansinggalang.co.id/wp-content/uploads/2012/12/rajou-267x300.jpg" border="0" alt="[Image: rajou-267x300.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a>COBA<br />
<br />
<div align="justify">
Keempat mahasiswa itu adalah Ulfi Maranisya, Lulu Andini, Ancella Tasman<br />
dan Ima Amelia. Ide awal mengangkat randang sebagai kajian dalam tesis <br />
mereka diakui Ulfi terinspirasi dari tulisan dalam buku Rendang Traveler<br />
yang ditulis Reno Andam Dewi, seorang putri Minang yang besar di <br />
perantauan.<br />
<br />
“Dalam buku itu, Reno menjelaskan tentang randang sebagai makanan khas <br />
Ranah Minangkabau yang mengandung banyak filosofi. Empat bahan pokok <br />
randang, yakni daging sapi, kelapa, cabai dan bumbu melambangkan <br />
keutuhan masyarakat Minangkabau dan mewakili pilar utama penyangga <br />
masyarakat Minang, yaitu pemimpin adat, alim ulama, intelektual, dan <br />
masyarakat,” beber Ulfi.<br />
<br />
Selain itu, randang sebagai bagian dari kuliner Indonesia sudah tercatat<br />
sebagai makanan terenak di dunia. “Pengakuan ini jelas tidak akan <br />
berarti apa-apa, bila kita sebagai pemiliknya diam saja. Penelitian kami<br />
ini juga dengan harapan bisa menjadikan randang sebagai raja yang <br />
dihormati dan dicintai di negerinya sendiri,” kata Ulfi yang juga putri <br />
Minang itu.<br />
<br />
Setelah mematangkan berbagai persiapan, pada 30 November hingga 3 <br />
Desember lalu mereka melakukan penelitian ke berbagai daerah di Sumbar. <br />
Payakumbuh, Bukittinggi, Padang Panjang, Sawahlunto, dan Lintau Buo di <br />
Kabupaten Tanah Datar dijadikan sebagai lokasi penelitian. “Pemilihan <br />
Lintau Buo sebagai salah satu lokasi penelitian karena Lintau Buo <br />
merupakan salah satu tempat bersejarah bagi masyarakat Minangkabau, <br />
dimana di sana tercetus Sumpah Sati Marapalam tepatnya di Puncak Pato,” <br />
bebernya.<br />
<br />
Untuk kuliner, Lintau Buo memiliki randang baluik, anyang jengkol, gulai<br />
pucuk ubi, keripik ubi dengan aroma udang serta makanan penutup lapek <br />
bugih, onde-onde dan pisang. Di sana, juga tersedia katan badadiah <br />
(ketan yang diberi dadiah atau yoghurt khas Minangkabau yang terbuat <br />
dari susu kerbau).<br />
<br />
Uniknya, randang baluik adalah menu utama untuk menerima tamu. Jadi <br />
setiap tamu yang datang wajib disugihi randang baluik yang terbuat dari <br />
rempah yang unik, campuran daun-daun. Mulai dari daun serai, daun <br />
kemangi, daun jeruk, daun surian dan lainnya.<br />
<br />
Soal keunikan randang baluik juga diakui chef kuliner nusantara, Haryo <br />
yang menjadi penilai dalam iven Rajou tersebut. “Keunikan randang baluik<br />
ini memang pada rempah-rempahnya. Daun-daun inilah yang menjadi aroma <br />
randang baluik menjadi wangi. Formula ini jelas tidak sederhana, tentu <br />
semuanya sudah dilakukan riset tradisional yang cukup lama, sehingga <br />
bisa menciptakan resep yang enak dan luar biasa ini,” ujarnya.<br />
<br />
Selain melihat langsung berbagai kuliner ranah Minang, anggota Rajou <br />
juga menyempatkan diri melihat langsung seni tradisi di daerah itu, <br />
yakni silet tuo Lintau. (104/singgalang)</div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">PADANG – Empat mahasiswa program <br />
beasiswa unggulan pascasarjana Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Trisakti <br />
mengangkat kuliner tradisional Minangkabau, khususnya randang sebagai <br />
bahan kajian untuk tugas akhir atau tesis mereka. Kegiatan menggali <br />
kajian tentang kuliner Minang itu dirangkai dalam sebuah iven yang <br />
disebut “Rendang Journey (Rajou)”. </div>
<a href="http://hariansinggalang.co.id/wp-content/uploads/2012/12/rajou.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://hariansinggalang.co.id/wp-content/uploads/2012/12/rajou-267x300.jpg" border="0" alt="[Image: rajou-267x300.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a>COBA<br />
<br />
<div align="justify">
Keempat mahasiswa itu adalah Ulfi Maranisya, Lulu Andini, Ancella Tasman<br />
dan Ima Amelia. Ide awal mengangkat randang sebagai kajian dalam tesis <br />
mereka diakui Ulfi terinspirasi dari tulisan dalam buku Rendang Traveler<br />
yang ditulis Reno Andam Dewi, seorang putri Minang yang besar di <br />
perantauan.<br />
<br />
“Dalam buku itu, Reno menjelaskan tentang randang sebagai makanan khas <br />
Ranah Minangkabau yang mengandung banyak filosofi. Empat bahan pokok <br />
randang, yakni daging sapi, kelapa, cabai dan bumbu melambangkan <br />
keutuhan masyarakat Minangkabau dan mewakili pilar utama penyangga <br />
masyarakat Minang, yaitu pemimpin adat, alim ulama, intelektual, dan <br />
masyarakat,” beber Ulfi.<br />
<br />
Selain itu, randang sebagai bagian dari kuliner Indonesia sudah tercatat<br />
sebagai makanan terenak di dunia. “Pengakuan ini jelas tidak akan <br />
berarti apa-apa, bila kita sebagai pemiliknya diam saja. Penelitian kami<br />
ini juga dengan harapan bisa menjadikan randang sebagai raja yang <br />
dihormati dan dicintai di negerinya sendiri,” kata Ulfi yang juga putri <br />
Minang itu.<br />
<br />
Setelah mematangkan berbagai persiapan, pada 30 November hingga 3 <br />
Desember lalu mereka melakukan penelitian ke berbagai daerah di Sumbar. <br />
Payakumbuh, Bukittinggi, Padang Panjang, Sawahlunto, dan Lintau Buo di <br />
Kabupaten Tanah Datar dijadikan sebagai lokasi penelitian. “Pemilihan <br />
Lintau Buo sebagai salah satu lokasi penelitian karena Lintau Buo <br />
merupakan salah satu tempat bersejarah bagi masyarakat Minangkabau, <br />
dimana di sana tercetus Sumpah Sati Marapalam tepatnya di Puncak Pato,” <br />
bebernya.<br />
<br />
Untuk kuliner, Lintau Buo memiliki randang baluik, anyang jengkol, gulai<br />
pucuk ubi, keripik ubi dengan aroma udang serta makanan penutup lapek <br />
bugih, onde-onde dan pisang. Di sana, juga tersedia katan badadiah <br />
(ketan yang diberi dadiah atau yoghurt khas Minangkabau yang terbuat <br />
dari susu kerbau).<br />
<br />
Uniknya, randang baluik adalah menu utama untuk menerima tamu. Jadi <br />
setiap tamu yang datang wajib disugihi randang baluik yang terbuat dari <br />
rempah yang unik, campuran daun-daun. Mulai dari daun serai, daun <br />
kemangi, daun jeruk, daun surian dan lainnya.<br />
<br />
Soal keunikan randang baluik juga diakui chef kuliner nusantara, Haryo <br />
yang menjadi penilai dalam iven Rajou tersebut. “Keunikan randang baluik<br />
ini memang pada rempah-rempahnya. Daun-daun inilah yang menjadi aroma <br />
randang baluik menjadi wangi. Formula ini jelas tidak sederhana, tentu <br />
semuanya sudah dilakukan riset tradisional yang cukup lama, sehingga <br />
bisa menciptakan resep yang enak dan luar biasa ini,” ujarnya.<br />
<br />
Selain melihat langsung berbagai kuliner ranah Minang, anggota Rajou <br />
juga menyempatkan diri melihat langsung seni tradisi di daerah itu, <br />
yakni silet tuo Lintau. (104/singgalang)</div>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Sate Padang, Kami Jatuh Hati Kepadamu]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Sate-Padang-Kami-Jatuh-Hati-Kepadamu</link>
			<pubDate>Tue, 11 Dec 2012 05:58:12 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Sate-Padang-Kami-Jatuh-Hati-Kepadamu</guid>
			<description><![CDATA[<img src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/12/13550589821828033035_300x225.jpg" border="0" alt="[Image: 13550589821828033035_300x225.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
sate padang - koleksi pribadi <br />
<br />
<br />
<div align="justify">Namanya saja sate padang, jadi pasti <br />
asalnya dari padang sumatera barat . lalu kenapa saya yang jawa asli <br />
ini jadi suka sate padang ? Ada cerita tersendiri mengenai sate padang <br />
ini. Awalnya saya tidak pernah makan jenis sate ini, bagi saya yang <br />
namanya sate pasti berbumbu kacang, itu kalau satenya daging ayam. <br />
Kalau sate daging sapi bumbunya biasanya kecap dicampur bawang merah <br />
yang di iris tipis dan ditambah acar . Sate padang pernah mencoba <br />
ketika menghadiri undangan perkawinan, tetapi karena bumbunya terlalu <br />
pedas, maka tidak berniat untuk membeli .</div>
<div align="justify">Lalu, kenapa sekarang ini kami <br />
sekeluarga jadi menyukai sate padang , ini ada cerita tersendiri. Pada <br />
waktu itu suami saya sakit, dan harus menjalani perawatan dengan <br />
kemoterapi. Efek kemoterapi ini mempengaruhi nafsu makannya. Katanya <br />
lidahnya terasa baal, sehingga tidak bisa merasakan rasa . Semua makanan<br />
rasanya tidak enak. Dia selalu minta makanan yang rasanya extra, bisa <br />
extra dingin, extra asin, dan extra lainnya, supaya menembus rasa <br />
baalnya itu. Berbagai resep masakan saya coba untuk memenuhi seleranya <br />
itu, tetapi tetap saja dia kurang nafsu makannya. Pada suatu hari dia <br />
minta dibelikan sate padang, siapa tahu enak, katanya begitu.</div>
<div align="justify">Berbekal referensi teman yang orang <br />
padang, saya belikan sate padang yang terkenal enak rasanya. Suami saya <br />
yang biasanya sakit perut kalau makan pedas, saat itu makan nasi dengan <br />
lauk sate padang dengan lahapnya. Kejadian ini selalu berulang setiap <br />
habis kemoterapi dan nafsu makannya hilang, saya belikan sate padang. <br />
Melihat ayahnya makan, dan juga mencium baunya yang harum, saya dan anak<br />
anak tergerak untuk mencobanya. Kamipun mulai mencicipi dengan mencolek<br />
bumbunya sedikti saja , takut dengan rasa pedasnya. Akhirnya setiap <br />
membeli tidak cukup satu porsi, karena kami semua ikut makan.</div>
<div align="justify">Ketika pengobatan sudah selesai dan <br />
suami sudah sembuh, sate padang masih menjadi pilihan kami , sambalnya <br />
yang kental dengan rasa pedas tetap kami colek sedikit dengan sate <br />
daging yang di iris tipis tipis itu. Terima kasih sate padang yang telah<br />
membuat suamiku mau makan, sehingga kesehatannya bisa pulih kembali.(kompasiana)</div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<img src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/12/13550589821828033035_300x225.jpg" border="0" alt="[Image: 13550589821828033035_300x225.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
sate padang - koleksi pribadi <br />
<br />
<br />
<div align="justify">Namanya saja sate padang, jadi pasti <br />
asalnya dari padang sumatera barat . lalu kenapa saya yang jawa asli <br />
ini jadi suka sate padang ? Ada cerita tersendiri mengenai sate padang <br />
ini. Awalnya saya tidak pernah makan jenis sate ini, bagi saya yang <br />
namanya sate pasti berbumbu kacang, itu kalau satenya daging ayam. <br />
Kalau sate daging sapi bumbunya biasanya kecap dicampur bawang merah <br />
yang di iris tipis dan ditambah acar . Sate padang pernah mencoba <br />
ketika menghadiri undangan perkawinan, tetapi karena bumbunya terlalu <br />
pedas, maka tidak berniat untuk membeli .</div>
<div align="justify">Lalu, kenapa sekarang ini kami <br />
sekeluarga jadi menyukai sate padang , ini ada cerita tersendiri. Pada <br />
waktu itu suami saya sakit, dan harus menjalani perawatan dengan <br />
kemoterapi. Efek kemoterapi ini mempengaruhi nafsu makannya. Katanya <br />
lidahnya terasa baal, sehingga tidak bisa merasakan rasa . Semua makanan<br />
rasanya tidak enak. Dia selalu minta makanan yang rasanya extra, bisa <br />
extra dingin, extra asin, dan extra lainnya, supaya menembus rasa <br />
baalnya itu. Berbagai resep masakan saya coba untuk memenuhi seleranya <br />
itu, tetapi tetap saja dia kurang nafsu makannya. Pada suatu hari dia <br />
minta dibelikan sate padang, siapa tahu enak, katanya begitu.</div>
<div align="justify">Berbekal referensi teman yang orang <br />
padang, saya belikan sate padang yang terkenal enak rasanya. Suami saya <br />
yang biasanya sakit perut kalau makan pedas, saat itu makan nasi dengan <br />
lauk sate padang dengan lahapnya. Kejadian ini selalu berulang setiap <br />
habis kemoterapi dan nafsu makannya hilang, saya belikan sate padang. <br />
Melihat ayahnya makan, dan juga mencium baunya yang harum, saya dan anak<br />
anak tergerak untuk mencobanya. Kamipun mulai mencicipi dengan mencolek<br />
bumbunya sedikti saja , takut dengan rasa pedasnya. Akhirnya setiap <br />
membeli tidak cukup satu porsi, karena kami semua ikut makan.</div>
<div align="justify">Ketika pengobatan sudah selesai dan <br />
suami sudah sembuh, sate padang masih menjadi pilihan kami , sambalnya <br />
yang kental dengan rasa pedas tetap kami colek sedikit dengan sate <br />
daging yang di iris tipis tipis itu. Terima kasih sate padang yang telah<br />
membuat suamiku mau makan, sehingga kesehatannya bisa pulih kembali.(kompasiana)</div>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Slurupp...Nikmatnya Masakan di Restoran Padang Pertama di Beijing ]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Slurupp-Nikmatnya-Masakan-di-Restoran-Padang-Pertama-di-Beijing</link>
			<pubDate>Sun, 09 Dec 2012 04:45:24 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Slurupp-Nikmatnya-Masakan-di-Restoran-Padang-Pertama-di-Beijing</guid>
			<description><![CDATA[<img src="http://images.detik.com/content/2012/12/09/10/rmpadang460.jpg" border="0" alt="[Image: rmpadang460.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
	<br />
Foto: KBRI Beijing	<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
[b]Jakarta - Gamad atau musik khas Minang <br />
terdengar riang di Shimao Departement Store, Beijing, seolah memanggil <br />
orang untuk datang mendekat. Ratusan warga negara Indonesia, Tiongkok <br />
dan warga negara asing lainnya tampak memadati sebuah rumah makan <br />
‘Padang’ di lantai tiga kawasan pertokoan tersebut. <br />
<br />
Kerinduan <br />
terhadap cita rasa masakan nusantara rupanya juga memikat sejumlah duta <br />
besar dan perwakilan asing lain dari negara-negara Organisasi Konferensi<br />
Islam (OKI) untuk menikmati suasana hangat dan meriah acara peluncuran <br />
Restoran ‘Padang’, bersama dengan ratusan tamu undangan lainnya, Sabtu <br />
(8/12/2012).<br />
<br />
Dalam sambutan pembukaan restoran Padang seperti <br />
termuat dalam siaran pers KBRI Beijing, Dubes Imron Cotan, menyatakan <br />
bahwa rumah makan ini merupakan rumah makan Padang pertama yang <br />
didirikan di Beijing, bahkan di seluruh wilayah Tiongkok. <br />
<br />
Restoran<br />
ini juga merupakan rumah makan Padang terbesar yang ada di luar wilayah<br />
nusantara. Rumah makan milik Mr. Yusof Ma, Mr. Huang Hua dan Ujang <br />
Marhum ini merupakan bukti kecintaan mereka terhadap budaya dan kuliner <br />
Indonesia khususnya Sumatera Barat, serta komitmen mereka untuk membagi <br />
pengalaman dan memperluas ‘foot-print’ Indonesia di Beijing dan <br />
Tiongkok.<br />
<br />
Para tamu undangan dan pengunjung dapat menikmati <br />
berbagai sajian khas Sumatera Barat seperti Rendang, Gulai Ikan dan <br />
Sambal Lado. Selain itu para penikmat kuliner juga bisa mencicipi <br />
masakan Indonesia lainnya, seperti Nasi Goreng dan Sop Iga, serta <br />
beragam masakan muslim Tiongkok.<br />
<br />
Dubes RI Beijing mengundang <br />
para pengunjung untuk menyumbangkan saran dan masukan bagi peningkatan <br />
pelayanan, serta kualitas dari sajian yang dihidangkan restoran <br />
’Padang’. Masukan ini sangat penting bagi manajemen restoran, karena <br />
apabila mereka dapat bertahan lebih dari 6 bulan maka dapat dipastikan <br />
restoran tersebut akan bertahan selamanya.<br />
<br />
Beberapa daya tarik <br />
restoran ‘Padang’ antara lain semua hidangan yang disajikan adalah <br />
halal. Masyarakat Tiongkok dan wisatawan asing yang tengah berkunjung <br />
dapat mencicipi makanan khas Indonesia yang lezat, serta kaya dengan <br />
bumbu dan cita rasa Indonesia, hasil karya empat juru masak handal yang <br />
datang langsung dari Indonesia.<br />
<br />
Manajemen restoran ini juga <br />
berhasil menciptakan suasana khas Indonesia, dengan memajang pelaminan <br />
Padang yang mewah, serta menempatkan pepohonan dan kolam-kolam ikan <br />
untuk menciptakan suasana hutan tropis yang rindang dan sejuk. <br />
<br />
Tak<br />
kalah menariknya adalah para pelayan yang menggunakan baju khas Minang <br />
(Anak Daro) dan menyambut semua pengunjung dengan ucapan ’Selamat <br />
Datang’.<br />
<br />
Restoran ’Padang’ ini berdiri di atas lahan seluas 1.200<br />
meter persegi, tepatnya di lantai 3, Shimao Department Store, San Li <br />
Tun Diplomatic Compound, Choyang District, Beijing. <br />
<br />
Lokasi ini <br />
sangat strategis karena terletak di dekat kawasan diplomatik, serta <br />
berada di jantung wilayah wisata belanja penduduk Beijing dan wisatawan <br />
asing. Restoran ini memiliki ruang-ruang VIP bertema Padang, seperti <br />
Bukit Tinggi, Padang Panjang, dan Solok, yang layak untuk pertemuan <br />
resmi/ working lunch, resepsi makan malam, atau sekedar menghabiskan <br />
waktu bersama keluarga. <br />
<br />
Bagi masyarakat Indonesia yang kebetulan<br />
sedang berkunjung, tidak ada salahnya untuk mampir dan menikmati <br />
nikmatnya rendang pedas di ibu kota negeri Panda ini.<br />
<br />
<br />
[b] (fdn/fdn/detiknews)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<img src="http://images.detik.com/content/2012/12/09/10/rmpadang460.jpg" border="0" alt="[Image: rmpadang460.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
	<br />
Foto: KBRI Beijing	<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
[b]Jakarta - Gamad atau musik khas Minang <br />
terdengar riang di Shimao Departement Store, Beijing, seolah memanggil <br />
orang untuk datang mendekat. Ratusan warga negara Indonesia, Tiongkok <br />
dan warga negara asing lainnya tampak memadati sebuah rumah makan <br />
‘Padang’ di lantai tiga kawasan pertokoan tersebut. <br />
<br />
Kerinduan <br />
terhadap cita rasa masakan nusantara rupanya juga memikat sejumlah duta <br />
besar dan perwakilan asing lain dari negara-negara Organisasi Konferensi<br />
Islam (OKI) untuk menikmati suasana hangat dan meriah acara peluncuran <br />
Restoran ‘Padang’, bersama dengan ratusan tamu undangan lainnya, Sabtu <br />
(8/12/2012).<br />
<br />
Dalam sambutan pembukaan restoran Padang seperti <br />
termuat dalam siaran pers KBRI Beijing, Dubes Imron Cotan, menyatakan <br />
bahwa rumah makan ini merupakan rumah makan Padang pertama yang <br />
didirikan di Beijing, bahkan di seluruh wilayah Tiongkok. <br />
<br />
Restoran<br />
ini juga merupakan rumah makan Padang terbesar yang ada di luar wilayah<br />
nusantara. Rumah makan milik Mr. Yusof Ma, Mr. Huang Hua dan Ujang <br />
Marhum ini merupakan bukti kecintaan mereka terhadap budaya dan kuliner <br />
Indonesia khususnya Sumatera Barat, serta komitmen mereka untuk membagi <br />
pengalaman dan memperluas ‘foot-print’ Indonesia di Beijing dan <br />
Tiongkok.<br />
<br />
Para tamu undangan dan pengunjung dapat menikmati <br />
berbagai sajian khas Sumatera Barat seperti Rendang, Gulai Ikan dan <br />
Sambal Lado. Selain itu para penikmat kuliner juga bisa mencicipi <br />
masakan Indonesia lainnya, seperti Nasi Goreng dan Sop Iga, serta <br />
beragam masakan muslim Tiongkok.<br />
<br />
Dubes RI Beijing mengundang <br />
para pengunjung untuk menyumbangkan saran dan masukan bagi peningkatan <br />
pelayanan, serta kualitas dari sajian yang dihidangkan restoran <br />
’Padang’. Masukan ini sangat penting bagi manajemen restoran, karena <br />
apabila mereka dapat bertahan lebih dari 6 bulan maka dapat dipastikan <br />
restoran tersebut akan bertahan selamanya.<br />
<br />
Beberapa daya tarik <br />
restoran ‘Padang’ antara lain semua hidangan yang disajikan adalah <br />
halal. Masyarakat Tiongkok dan wisatawan asing yang tengah berkunjung <br />
dapat mencicipi makanan khas Indonesia yang lezat, serta kaya dengan <br />
bumbu dan cita rasa Indonesia, hasil karya empat juru masak handal yang <br />
datang langsung dari Indonesia.<br />
<br />
Manajemen restoran ini juga <br />
berhasil menciptakan suasana khas Indonesia, dengan memajang pelaminan <br />
Padang yang mewah, serta menempatkan pepohonan dan kolam-kolam ikan <br />
untuk menciptakan suasana hutan tropis yang rindang dan sejuk. <br />
<br />
Tak<br />
kalah menariknya adalah para pelayan yang menggunakan baju khas Minang <br />
(Anak Daro) dan menyambut semua pengunjung dengan ucapan ’Selamat <br />
Datang’.<br />
<br />
Restoran ’Padang’ ini berdiri di atas lahan seluas 1.200<br />
meter persegi, tepatnya di lantai 3, Shimao Department Store, San Li <br />
Tun Diplomatic Compound, Choyang District, Beijing. <br />
<br />
Lokasi ini <br />
sangat strategis karena terletak di dekat kawasan diplomatik, serta <br />
berada di jantung wilayah wisata belanja penduduk Beijing dan wisatawan <br />
asing. Restoran ini memiliki ruang-ruang VIP bertema Padang, seperti <br />
Bukit Tinggi, Padang Panjang, dan Solok, yang layak untuk pertemuan <br />
resmi/ working lunch, resepsi makan malam, atau sekedar menghabiskan <br />
waktu bersama keluarga. <br />
<br />
Bagi masyarakat Indonesia yang kebetulan<br />
sedang berkunjung, tidak ada salahnya untuk mampir dan menikmati <br />
nikmatnya rendang pedas di ibu kota negeri Panda ini.<br />
<br />
<br />
[b] (fdn/fdn/detiknews)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Sehatnya Dadih, Yoghurtnya Orang Minang ]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Sehatnya-Dadih-Yoghurtnya-Orang-Minang</link>
			<pubDate>Mon, 03 Dec 2012 06:57:12 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Sehatnya-Dadih-Yoghurtnya-Orang-Minang</guid>
			<description><![CDATA[<a href="http://3.bp.blogspot.com/-jrPE4lsta_U/UIazxvZwvuI/AAAAAAAAAXg/DTTcLUbVOHo/s1600/Dadiah1.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://3.bp.blogspot.com/-jrPE4lsta_U/UIazxvZwvuI/AAAAAAAAAXg/DTTcLUbVOHo/s400/Dadiah1.jpg" border="0" alt="[Image: Dadiah1.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
Sebagai orang minang, saya ingin mengenalkan makanan khas daerah saya. <br />
Pasti pembaca berpikir makanan tersebut kalo gak rendang, pastilah sate <br />
padang atau makanan berlemak lainnya. Sama sekali bukan! Saya ingin <br />
mengenalkan makanan minang lainnya yang jauh lebih sehat dibanding yang <br />
selama ini kita kenal, karena tidak mengandung lemak dan santan seperti <br />
kuliner minang pada umumnya. Makanan sekaligus sebagai minuman sehat <br />
khas minang yang unik satu ini bernama ‘Dadih’ yang lebih dikenal <br />
sebagai yoghurtnya orang minang. Uniknya lagi dadih yang terbuat dari <br />
susu kerbau dan berbentuk minuman semacam yoghurt ini bisa juga <br />
dijadikan teman makan nasi. <br />
<br />
Sebelum saya paparkan Dadih secara panjang lebar saya ingin bernostalgia<br />
sebentar mengapa saya bisa tahu Dadih. Bukan karena saya orang minang. <br />
Apalagi di dikeluarga saya hingga kini lebih sering diperkenalkan <br />
rendang, sate padang dan makanan berlemak lainnya daripada dadih yang <br />
jauh lebih sehat. Dadih inilah satu-satunya makanan minang yang rendah <br />
lemak dan dapat menurunkan kolesterol. <br />
<br />
Yah, saya ingat betul ketika kecil dulu saya sering melihat abak (bapak)<br />
sangat senang makan nasi hangat dengan lauk yang mirip dengan tahu dan <br />
berwarna putih ini. Ketika saya bertanya abak menjawab namanya dadih. <br />
Dari situlah awalnya saya tahu bentuk dan warna dadih meskipun sekarang <br />
sudah agak lupa bagaimana persisnya bentuk dan warna dadih karena <br />
sekarang sudah tak pernah lagi disajikan dirumah kami sejak abak tiada. <br />
<br />
Selama ini kita mengenal minuman fermentasi sejenis yoghurt berasal dari<br />
luar. Nah, Dadih ini adalah minuman fermentasi produk dalam negeri. <br />
Kelebihannya terbuat dari susu kerbau bukan susu sapi. Mengapa saya <br />
katakan lebih memiliki kelebihan? Sebab dalam susu kerbau persentase <br />
lemaknya daging lebih rendah (0,5 per 100 gr) dibandingkan daging sapi <br />
(14 per 100 gr), sehingga lebih aman dikonsumsi oleh pende¬rita <br />
diabetes, obesitas, manula, dan penderita jantung koroner. rendah <br />
lemaknya dibanding susu sapi. Hasil fermentasi dari susu kerbau ini juga<br />
menghasilkan bakteri baik yaitu asam laktat, Lactobacillus casei. <br />
Bakteri ini sangat baik untuk menjaga metabolisme tubuh. Secara in viro,<br />
mampu menurunkan kolesterol darah sebanyak 34%. Selain itu, asam laktat<br />
juga dapat mencegah kanker usus<br />
<br />
Proses Pembuatan Dadih<br />
-Pertama-tama susu kerbau segar yang baru diperah disaring untuk <br />
memisahkan kotoran atau benda asing yang masuk selama pemerahan, <br />
kemudian dimasukkan ke dalam tabung bambu yang telah dipotong (dengan <br />
panjang masing-masing ± 5 cm dari ruas/buku bambu).<br />
-Kedua, tabung bambu yang telah berisi air susu kerbau ini ditutup <br />
dengan daun pisang atau plastik dan diikat dengan karet gelang. <br />
-Ketiga, tabung bambu yang telah berisi susu kerbau kemudian didiamkan <br />
dalam suhu ruang (250 – 300C) selama 24 – 48 jam dalam ruangan yang <br />
tidak kena sinar matahari langsung (difermentasi) selama ± 2 hari atau <br />
sampai menjadi kental/menggumpal. <br />
<br />
Adapun Dadih yang disenangi oleh konsumen adalah yang berwarna putih, <br />
karena bertekstur lebih lembut dengan aroma spesifik. Bagi penderita <br />
“laktosa intolerance”, mengkonsumsi dadih merupakan salah satu <br />
alternatif untuk memperoleh manfaat dari susu. Pada saat proses <br />
fermentasi telah selesai susu kerbau akan mengental (curd), rasanya <br />
menjadi asam (0,99%), memiliki kandungan protein (6,81%), lemak (8,66%),<br />
vitamin A (80 SI) dan total bakteri asam laktat (16,0 x 105 CFU/ml) . <br />
Yah, menurut sebuah sumber Nilai gizi dadih sangat tinggi dan bermanfaat<br />
sebagai penambah energi karena mempunyai kandungan lemak 6,8 %, protein<br />
4,5 % cocok untuk meningkatkan konsumsi protein hewani. Daya cerna <br />
proteinnya cukup tinggi 86,4 % - 97,8 % yang mengandung 16 asam amino ( <br />
13 esensial dan 3 non esensial) menjadikan Dadiah sebagai makanan <br />
bergizi yang mudah diserap tubuh, dan vitamin A adalah 1,70 - 7,22 IU/g <br />
dan pH (keasaman) 0,90 - 1,23 serta terdapat 10 isolat bakteri asam <br />
laktat yang tahan terhadap pH 2 selama 2 jam juga tahan terhadap asam <br />
empedu, sehingga berpotensi sebagai bakteri Probiotik, sedangkan <br />
kandungan laktosanya 5,29 %..<br />
<br />
<br />
Jenis Bambu untuk membuat Dadih<br />
Ada dua jenis bambu yang sering digunakan oleh masyarakat Sumatera <br />
Barat, bambu gombong (Gigantochloa verticilata) dan bambu ampel (Bambusa<br />
vulgaris). Pemilihan bambu tersebut dikarenakan rasa pahit pada bambu, <br />
sehingga menghindarkan dari semut. Bambu yang digunakan adalah yang <br />
berumur sedang. Selain itu penutup tempat dadih biasa juga menggunakan <br />
daun keladi, daun pisang atau plastik. Bambu yang digunakan harus masih <br />
segar atau belum kering, karena dari hasil penelitian buluh pada bagian <br />
dalam bambu inilah yang mengandung bakteri asam laktat (BAL) yang <br />
membuat susu kerbau menggumpal menjadi dadih.<br />
<br />
Pembuatan dadih sendiri masih dilakukan secara tradisional dan belum ada<br />
standar cara pembuatannya. Oleh sebab itu kualitas dadih yang <br />
dihasilkan dari tiap daerah bervariasi, walaupun relatif tidak jauh <br />
berbeda. Kualitas dadih yang dihasilkan juga dipengaruhi oleh kualitas <br />
susu yang digunakan.<br />
<br />
Daerah Potensi Penghasil Dadih<br />
Daerah yang berpotensi untuk usaha pengolahan dadih di Sumatera Barat <br />
adalah pada daerah yang mempunyai populasi kerbau yang cukup besar dan <br />
tersebar pada beberapa Kabupaten di Sumatera Barat yaitu Kabupaten Agam,<br />
Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Swl/Sijunjung dan Kabupaten Solok. <br />
Tentu kita bertanya-tanya mengapa di daerah minang orang lebih senang <br />
beternak kerbau daripada sapi? Tak heran memang, sebab bagi suku <br />
Minangkabau, kerbau memiliki cerita sejarah yang menarik. Kerbau telah <br />
mengantarkan kejayaan suku besar <br />
<br />
Minangkabau di masa silam. Penamaan Mi¬nang¬kabau sendiri diawali <br />
keme¬nangan dalam suatu pertan¬dingan adu kerbau untuk mengakhiri <br />
peperangan mela¬wan kerajaan besar dari Pulau Jawa. Dari situlah arti <br />
kata minang, yang berarti keme¬nangan. Minangkabau berarti “Kerbau yang <br />
Menang”.<br />
Sayangnya kuliner unik satu ini kurang terekspos sehingga orang hanya <br />
mengenal rendang dan makanan berlemak lainnya. Padahal dadih perlu lebih<br />
diperkenalkan dan dikembangkan menjadi salah satu kuliner khas daerah <br />
minang yang sangat bermanfaat bagi kesehatan.<br />
<br />
sumber : <a href="http://seuntaikatahati.blogspot.com/2012/10/sehatnya-dadih-yoghurtnya-orang-minang.html" rel="nofollow" target="_blank">http://seuntaikatahati.blogspot.com/2012...inang.html</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://3.bp.blogspot.com/-jrPE4lsta_U/UIazxvZwvuI/AAAAAAAAAXg/DTTcLUbVOHo/s1600/Dadiah1.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://3.bp.blogspot.com/-jrPE4lsta_U/UIazxvZwvuI/AAAAAAAAAXg/DTTcLUbVOHo/s400/Dadiah1.jpg" border="0" alt="[Image: Dadiah1.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
Sebagai orang minang, saya ingin mengenalkan makanan khas daerah saya. <br />
Pasti pembaca berpikir makanan tersebut kalo gak rendang, pastilah sate <br />
padang atau makanan berlemak lainnya. Sama sekali bukan! Saya ingin <br />
mengenalkan makanan minang lainnya yang jauh lebih sehat dibanding yang <br />
selama ini kita kenal, karena tidak mengandung lemak dan santan seperti <br />
kuliner minang pada umumnya. Makanan sekaligus sebagai minuman sehat <br />
khas minang yang unik satu ini bernama ‘Dadih’ yang lebih dikenal <br />
sebagai yoghurtnya orang minang. Uniknya lagi dadih yang terbuat dari <br />
susu kerbau dan berbentuk minuman semacam yoghurt ini bisa juga <br />
dijadikan teman makan nasi. <br />
<br />
Sebelum saya paparkan Dadih secara panjang lebar saya ingin bernostalgia<br />
sebentar mengapa saya bisa tahu Dadih. Bukan karena saya orang minang. <br />
Apalagi di dikeluarga saya hingga kini lebih sering diperkenalkan <br />
rendang, sate padang dan makanan berlemak lainnya daripada dadih yang <br />
jauh lebih sehat. Dadih inilah satu-satunya makanan minang yang rendah <br />
lemak dan dapat menurunkan kolesterol. <br />
<br />
Yah, saya ingat betul ketika kecil dulu saya sering melihat abak (bapak)<br />
sangat senang makan nasi hangat dengan lauk yang mirip dengan tahu dan <br />
berwarna putih ini. Ketika saya bertanya abak menjawab namanya dadih. <br />
Dari situlah awalnya saya tahu bentuk dan warna dadih meskipun sekarang <br />
sudah agak lupa bagaimana persisnya bentuk dan warna dadih karena <br />
sekarang sudah tak pernah lagi disajikan dirumah kami sejak abak tiada. <br />
<br />
Selama ini kita mengenal minuman fermentasi sejenis yoghurt berasal dari<br />
luar. Nah, Dadih ini adalah minuman fermentasi produk dalam negeri. <br />
Kelebihannya terbuat dari susu kerbau bukan susu sapi. Mengapa saya <br />
katakan lebih memiliki kelebihan? Sebab dalam susu kerbau persentase <br />
lemaknya daging lebih rendah (0,5 per 100 gr) dibandingkan daging sapi <br />
(14 per 100 gr), sehingga lebih aman dikonsumsi oleh pende¬rita <br />
diabetes, obesitas, manula, dan penderita jantung koroner. rendah <br />
lemaknya dibanding susu sapi. Hasil fermentasi dari susu kerbau ini juga<br />
menghasilkan bakteri baik yaitu asam laktat, Lactobacillus casei. <br />
Bakteri ini sangat baik untuk menjaga metabolisme tubuh. Secara in viro,<br />
mampu menurunkan kolesterol darah sebanyak 34%. Selain itu, asam laktat<br />
juga dapat mencegah kanker usus<br />
<br />
Proses Pembuatan Dadih<br />
-Pertama-tama susu kerbau segar yang baru diperah disaring untuk <br />
memisahkan kotoran atau benda asing yang masuk selama pemerahan, <br />
kemudian dimasukkan ke dalam tabung bambu yang telah dipotong (dengan <br />
panjang masing-masing ± 5 cm dari ruas/buku bambu).<br />
-Kedua, tabung bambu yang telah berisi air susu kerbau ini ditutup <br />
dengan daun pisang atau plastik dan diikat dengan karet gelang. <br />
-Ketiga, tabung bambu yang telah berisi susu kerbau kemudian didiamkan <br />
dalam suhu ruang (250 – 300C) selama 24 – 48 jam dalam ruangan yang <br />
tidak kena sinar matahari langsung (difermentasi) selama ± 2 hari atau <br />
sampai menjadi kental/menggumpal. <br />
<br />
Adapun Dadih yang disenangi oleh konsumen adalah yang berwarna putih, <br />
karena bertekstur lebih lembut dengan aroma spesifik. Bagi penderita <br />
“laktosa intolerance”, mengkonsumsi dadih merupakan salah satu <br />
alternatif untuk memperoleh manfaat dari susu. Pada saat proses <br />
fermentasi telah selesai susu kerbau akan mengental (curd), rasanya <br />
menjadi asam (0,99%), memiliki kandungan protein (6,81%), lemak (8,66%),<br />
vitamin A (80 SI) dan total bakteri asam laktat (16,0 x 105 CFU/ml) . <br />
Yah, menurut sebuah sumber Nilai gizi dadih sangat tinggi dan bermanfaat<br />
sebagai penambah energi karena mempunyai kandungan lemak 6,8 %, protein<br />
4,5 % cocok untuk meningkatkan konsumsi protein hewani. Daya cerna <br />
proteinnya cukup tinggi 86,4 % - 97,8 % yang mengandung 16 asam amino ( <br />
13 esensial dan 3 non esensial) menjadikan Dadiah sebagai makanan <br />
bergizi yang mudah diserap tubuh, dan vitamin A adalah 1,70 - 7,22 IU/g <br />
dan pH (keasaman) 0,90 - 1,23 serta terdapat 10 isolat bakteri asam <br />
laktat yang tahan terhadap pH 2 selama 2 jam juga tahan terhadap asam <br />
empedu, sehingga berpotensi sebagai bakteri Probiotik, sedangkan <br />
kandungan laktosanya 5,29 %..<br />
<br />
<br />
Jenis Bambu untuk membuat Dadih<br />
Ada dua jenis bambu yang sering digunakan oleh masyarakat Sumatera <br />
Barat, bambu gombong (Gigantochloa verticilata) dan bambu ampel (Bambusa<br />
vulgaris). Pemilihan bambu tersebut dikarenakan rasa pahit pada bambu, <br />
sehingga menghindarkan dari semut. Bambu yang digunakan adalah yang <br />
berumur sedang. Selain itu penutup tempat dadih biasa juga menggunakan <br />
daun keladi, daun pisang atau plastik. Bambu yang digunakan harus masih <br />
segar atau belum kering, karena dari hasil penelitian buluh pada bagian <br />
dalam bambu inilah yang mengandung bakteri asam laktat (BAL) yang <br />
membuat susu kerbau menggumpal menjadi dadih.<br />
<br />
Pembuatan dadih sendiri masih dilakukan secara tradisional dan belum ada<br />
standar cara pembuatannya. Oleh sebab itu kualitas dadih yang <br />
dihasilkan dari tiap daerah bervariasi, walaupun relatif tidak jauh <br />
berbeda. Kualitas dadih yang dihasilkan juga dipengaruhi oleh kualitas <br />
susu yang digunakan.<br />
<br />
Daerah Potensi Penghasil Dadih<br />
Daerah yang berpotensi untuk usaha pengolahan dadih di Sumatera Barat <br />
adalah pada daerah yang mempunyai populasi kerbau yang cukup besar dan <br />
tersebar pada beberapa Kabupaten di Sumatera Barat yaitu Kabupaten Agam,<br />
Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Swl/Sijunjung dan Kabupaten Solok. <br />
Tentu kita bertanya-tanya mengapa di daerah minang orang lebih senang <br />
beternak kerbau daripada sapi? Tak heran memang, sebab bagi suku <br />
Minangkabau, kerbau memiliki cerita sejarah yang menarik. Kerbau telah <br />
mengantarkan kejayaan suku besar <br />
<br />
Minangkabau di masa silam. Penamaan Mi¬nang¬kabau sendiri diawali <br />
keme¬nangan dalam suatu pertan¬dingan adu kerbau untuk mengakhiri <br />
peperangan mela¬wan kerajaan besar dari Pulau Jawa. Dari situlah arti <br />
kata minang, yang berarti keme¬nangan. Minangkabau berarti “Kerbau yang <br />
Menang”.<br />
Sayangnya kuliner unik satu ini kurang terekspos sehingga orang hanya <br />
mengenal rendang dan makanan berlemak lainnya. Padahal dadih perlu lebih<br />
diperkenalkan dan dikembangkan menjadi salah satu kuliner khas daerah <br />
minang yang sangat bermanfaat bagi kesehatan.<br />
<br />
sumber : <a href="http://seuntaikatahati.blogspot.com/2012/10/sehatnya-dadih-yoghurtnya-orang-minang.html" rel="nofollow" target="_blank">http://seuntaikatahati.blogspot.com/2012...inang.html</a>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Teh Talua Minuman Para Borjuis Minangkabau]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Teh-Talua-Minuman-Para-Borjuis-Minangkabau</link>
			<pubDate>Thu, 29 Nov 2012 03:33:00 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Teh-Talua-Minuman-Para-Borjuis-Minangkabau</guid>
			<description><![CDATA[<img src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/11/1353902072494347271.jpg" border="0" alt="[Image: 1353902072494347271.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
@Teh_Talua<br />
<br />
<br />
Teh<br />
talua adalah minuman khas minangkabau yang rasanya sangat khas dan <br />
enak, rata-rata orang minangkabau tahu dengan minuman khas ini. Minuman <br />
ini dibuat dengan cara kuning telur ayam kampung (Buras) diaduk sampai <br />
berbusa bersama gula pasir di dalam gelas, setelah itu di seduhkan air <br />
larutan teh panas/mendidih dan diberi susu kental manis didalam gelas <br />
tersebut. <br />
<br />
<br />
<br />
Teh talua yang berkualitas tinggi itu berbentuk 3 (tiga) <span style="font-weight: bold;"><span style="font-style: italic;">lenggek</span></span> (tinggkat/lapis) di dalam gelas, <span style="font-weight: bold;"><span style="font-style: italic;">lenggek</span></span> pertama buriah, <span style="font-weight: bold;"><span style="font-style: italic;">lenggek</span></span> kedua berwarna coklatan, dan yang <span style="font-weight: bold;"><span style="font-style: italic;">lenggek</span></span> terakhirwarna<br />
putih, apa bila ditarok sendok almunium di tengahnya maka sendok itu <br />
akan berdiri/tegak menjulang. Disamping rasanya enak teh talua dari <br />
ranah minang juga memberikan khasiat untuk menabah energi dan fitalitas.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Talua tentu bermaksud telur. Teh talua minuman jenis ini umumditemukan di <span style="font-weight: bold;"><span style="font-style: italic;">lapau-lapau</span></span> (kedai) di ranah minang. Biasanya minuman ini dinikmati sebagai pembuka hari atau diminumpagi<br />
hari sebelum masyarakat minang melakuka aktivitas atau kegiatan disawah<br />
dan diladang. tapi pada dasarnya bisa juga diminum setiap waktu atau <br />
menikmatinya sepanjang hari.<br />
<br />
<br />
<br />
Dalam sejarahnya masyarakat minangkabau, minum teh talua dilakukan oleh masyarakat sambil <span style="font-weight: bold;"><span style="font-style: italic;">“ma hota” </span></span>(diskusi/becerita) di <span style="font-weight: bold;"><span style="font-style: italic;">lapau-lapau</span></span><br />
(dikedai-kedai), dimana masyarakat sambil berbagi informasi dan saling <br />
berdebat tentang perkembangan, keadaan atau peristiwa nagari, negara dan<br />
situasi dunia secara umum. “<span style="font-weight: bold;"><span style="font-style: italic;">Ma hota” </span></span>sambil meminum teh talua sedikit demi sedikit, maka akan semakin terasa nikmatnya.<br />
<br />
<br />
<br />
Dalam pengamatan yang pernah dilakukan oleh pencita teh talua bahwa nikmatnya teh talua tersebut memang di iringin dengan <span style="font-weight: bold;"><span style="font-style: italic;">“ma hota”</span></span>,<br />
ini sebuah cara yang baik untuk merasakan nikmatnya minuman khas minang<br />
ini. Apabila diatara kita tidak percaya silahkan minum teh talua tanpa <span style="font-weight: bold;"><span style="font-style: italic;">“ma hota”</span></span>, dan minum teh talua sambil<span style="font-weight: bold;"><span style="font-style: italic;"> “ma hota”</span></span>, pasti akan beda rasanya.<br />
<br />
<br />
<br />
Disamping minum teh talua itu enak, di minangkabau minuman<br />
teh talua merupakan minuman bergensi dan minuman orang-orang <br />
berkelas/borjuis, missalnya ada pejabat, saudagar-saudagar kaya, <br />
juragan, pengusaha dan para perantau kaya pulang lalu singgah di lapau, <br />
pasti mereka itu akan pesan minum teh talua,dan mereka pun<br />
akan menawarkan keorang lain yang ada dilapau untuk minum teh talua <br />
juga, sehingga minuman teh talua merupakan minuman berbudaya orang-orang<br />
bergensi. <br />
<br />
<br />
<br />
Sekarang<br />
teh talua sudah menjadi minuman bersama di nusatara ini, teh talua <br />
melalui rantau orang minang sudah menyebar keseluruh polosok tanah air, <br />
malah dunia, saat ini teh talua telah bisa didapatkan dengan mudah <br />
dimana-mana, seperti plaza Indonesia, mall makassar, plaza maliborro <br />
djogja dan pasar-pasar modern lainya.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Melihat makin terkenalnya teh talua ini, penulis selaku orang minang <br />
mengajak wagra minang dikampung dan diperantauan, bersama untuk selalu <br />
membudayakan nilai budaya dan keenakan minuman teh talua ini.Kedepan<br />
budaya teh talua perlu dilestarikan dan dibudayakan juga ke anak cucuk <br />
kita secara dinamis, kepada pemerintah daerah di harapkan sesegra <br />
mungkin mematenkan minuman budaya teh talua yang khas ini menjadi <br />
minuman khusus milik minagkabau/Sumatra Barat, atau miliknya orang <br />
Propinsi Sumatra Barat.<br />
<br />
<br />
<br />
Disamping<br />
itu mari juga kita budayakan kehidupan teh talua dalam kehidupan <br />
bersosial di masyarakat minangkabau, kita tumbukan lagi diskus, <br />
berdebat, beretorika dan berbagi informasi, berwacana dan lainya-lainya <br />
di <span style="font-weight: bold;"><span style="font-style: italic;">lapau</span></span> (kedai) sambil minum teh talua, itu <br />
bukti kecintaan kita kepada ranah minangkabau yang memiliki keragaman <br />
dan kekhususan budaya yang tidak ada duanya didunia(kompasiana)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<img src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/11/1353902072494347271.jpg" border="0" alt="[Image: 1353902072494347271.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
@Teh_Talua<br />
<br />
<br />
Teh<br />
talua adalah minuman khas minangkabau yang rasanya sangat khas dan <br />
enak, rata-rata orang minangkabau tahu dengan minuman khas ini. Minuman <br />
ini dibuat dengan cara kuning telur ayam kampung (Buras) diaduk sampai <br />
berbusa bersama gula pasir di dalam gelas, setelah itu di seduhkan air <br />
larutan teh panas/mendidih dan diberi susu kental manis didalam gelas <br />
tersebut. <br />
<br />
<br />
<br />
Teh talua yang berkualitas tinggi itu berbentuk 3 (tiga) <span style="font-weight: bold;"><span style="font-style: italic;">lenggek</span></span> (tinggkat/lapis) di dalam gelas, <span style="font-weight: bold;"><span style="font-style: italic;">lenggek</span></span> pertama buriah, <span style="font-weight: bold;"><span style="font-style: italic;">lenggek</span></span> kedua berwarna coklatan, dan yang <span style="font-weight: bold;"><span style="font-style: italic;">lenggek</span></span> terakhirwarna<br />
putih, apa bila ditarok sendok almunium di tengahnya maka sendok itu <br />
akan berdiri/tegak menjulang. Disamping rasanya enak teh talua dari <br />
ranah minang juga memberikan khasiat untuk menabah energi dan fitalitas.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Talua tentu bermaksud telur. Teh talua minuman jenis ini umumditemukan di <span style="font-weight: bold;"><span style="font-style: italic;">lapau-lapau</span></span> (kedai) di ranah minang. Biasanya minuman ini dinikmati sebagai pembuka hari atau diminumpagi<br />
hari sebelum masyarakat minang melakuka aktivitas atau kegiatan disawah<br />
dan diladang. tapi pada dasarnya bisa juga diminum setiap waktu atau <br />
menikmatinya sepanjang hari.<br />
<br />
<br />
<br />
Dalam sejarahnya masyarakat minangkabau, minum teh talua dilakukan oleh masyarakat sambil <span style="font-weight: bold;"><span style="font-style: italic;">“ma hota” </span></span>(diskusi/becerita) di <span style="font-weight: bold;"><span style="font-style: italic;">lapau-lapau</span></span><br />
(dikedai-kedai), dimana masyarakat sambil berbagi informasi dan saling <br />
berdebat tentang perkembangan, keadaan atau peristiwa nagari, negara dan<br />
situasi dunia secara umum. “<span style="font-weight: bold;"><span style="font-style: italic;">Ma hota” </span></span>sambil meminum teh talua sedikit demi sedikit, maka akan semakin terasa nikmatnya.<br />
<br />
<br />
<br />
Dalam pengamatan yang pernah dilakukan oleh pencita teh talua bahwa nikmatnya teh talua tersebut memang di iringin dengan <span style="font-weight: bold;"><span style="font-style: italic;">“ma hota”</span></span>,<br />
ini sebuah cara yang baik untuk merasakan nikmatnya minuman khas minang<br />
ini. Apabila diatara kita tidak percaya silahkan minum teh talua tanpa <span style="font-weight: bold;"><span style="font-style: italic;">“ma hota”</span></span>, dan minum teh talua sambil<span style="font-weight: bold;"><span style="font-style: italic;"> “ma hota”</span></span>, pasti akan beda rasanya.<br />
<br />
<br />
<br />
Disamping minum teh talua itu enak, di minangkabau minuman<br />
teh talua merupakan minuman bergensi dan minuman orang-orang <br />
berkelas/borjuis, missalnya ada pejabat, saudagar-saudagar kaya, <br />
juragan, pengusaha dan para perantau kaya pulang lalu singgah di lapau, <br />
pasti mereka itu akan pesan minum teh talua,dan mereka pun<br />
akan menawarkan keorang lain yang ada dilapau untuk minum teh talua <br />
juga, sehingga minuman teh talua merupakan minuman berbudaya orang-orang<br />
bergensi. <br />
<br />
<br />
<br />
Sekarang<br />
teh talua sudah menjadi minuman bersama di nusatara ini, teh talua <br />
melalui rantau orang minang sudah menyebar keseluruh polosok tanah air, <br />
malah dunia, saat ini teh talua telah bisa didapatkan dengan mudah <br />
dimana-mana, seperti plaza Indonesia, mall makassar, plaza maliborro <br />
djogja dan pasar-pasar modern lainya.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Melihat makin terkenalnya teh talua ini, penulis selaku orang minang <br />
mengajak wagra minang dikampung dan diperantauan, bersama untuk selalu <br />
membudayakan nilai budaya dan keenakan minuman teh talua ini.Kedepan<br />
budaya teh talua perlu dilestarikan dan dibudayakan juga ke anak cucuk <br />
kita secara dinamis, kepada pemerintah daerah di harapkan sesegra <br />
mungkin mematenkan minuman budaya teh talua yang khas ini menjadi <br />
minuman khusus milik minagkabau/Sumatra Barat, atau miliknya orang <br />
Propinsi Sumatra Barat.<br />
<br />
<br />
<br />
Disamping<br />
itu mari juga kita budayakan kehidupan teh talua dalam kehidupan <br />
bersosial di masyarakat minangkabau, kita tumbukan lagi diskus, <br />
berdebat, beretorika dan berbagi informasi, berwacana dan lainya-lainya <br />
di <span style="font-weight: bold;"><span style="font-style: italic;">lapau</span></span> (kedai) sambil minum teh talua, itu <br />
bukti kecintaan kita kepada ranah minangkabau yang memiliki keragaman <br />
dan kekhususan budaya yang tidak ada duanya didunia(kompasiana)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[ RM Sabar Menanti : 70 Tahun Mengembangkan Masakan Padang di Singapura]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-RM-Sabar-Menanti-70-Tahun-Mengembangkan-Masakan-Padang-di-Singapura</link>
			<pubDate>Tue, 27 Nov 2012 03:46:25 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-RM-Sabar-Menanti-70-Tahun-Mengembangkan-Masakan-Padang-di-Singapura</guid>
			<description><![CDATA[&lt;img src="http://www.padangmedia.com//foto/berita/RM%20Sabar%20Menanti%20Singapore.jpg" align="left" width="250" /&gt;RM Sabar Menanti di Singapura. (foto: tumpak)SINGAPURA<br />
- Di tengah ramainya rumah makan dan restoran siap saji serta makanan <br />
praktis lainnya di Negara Singapura, ternyata rumah makan Padang tetap <br />
diminati. Salah satunya Rumah Makan (RM) Sabar Mananti yang terus <br />
mengembangkan bisnis kuliner khas masakan Padang.<br />
<br />
Kegigihan itu dibuktikan dengan bertahannya RM Sabar Menanti yang <br />
telah dirintis (alm) Haji Bagindo Marlian sejak 70 tahun lalu. Kini <br />
sudah tersebar di beberapa sudut negara itu. Bahkan, merambah sampai <br />
Johor Bahru, Malaysia.<br />
<br />
Menurut Hj Maryunis, pimpinan RM Sabar Menanti Nort Bridge kepada <br />
padangmedia.com, Rabu (21/11) di sela lawatan peserta PPAN (Pertukaran <br />
Pelajar antar Negara) ke Singapura, kini ia dan saudaranya meneruskan <br />
rintisan bisnis rumah makan masakan Padang ayahnya.<br />
<br />
"Namun, kita sangat jaga ciri khas serta bumbu masakan sejak berdiri.<br />
Karena, di Singapura pelanggan bukan hanya dari kalangan warga <br />
Indonesia dan melayu saja," sebut wanita asal Sungai Limau Pariaman itu.<br />
<br />
Hal yang sama diungkapkan Ahmad Tarmizi Marlian, Director RM Sabar <br />
Menanti Cabang Kandahar Street. Menurutnya masakan tetap dijaga <br />
kehieginisannya serta ragam menu.<br />
<br />
"Meski tak datang kemari, pesanan dalam bentuk catering lebih <br />
mendominasi. Terlebih rendang yang jadi favorit di sini. Tentu <br />
kehangatan sampai di tujuan juga harus dijaga," ujarnya.<br />
<br />
Kalau ada bumbu yang sulit didapat, terkadang harus diimpor dari <br />
Indonesia demi menjaga kualitas, kata Ahmad Tarmizi tanpa mau menyebut <br />
berapa omset didapat seharian. (tumpak/padangmedia)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[&lt;img src="http://www.padangmedia.com//foto/berita/RM%20Sabar%20Menanti%20Singapore.jpg" align="left" width="250" /&gt;RM Sabar Menanti di Singapura. (foto: tumpak)SINGAPURA<br />
- Di tengah ramainya rumah makan dan restoran siap saji serta makanan <br />
praktis lainnya di Negara Singapura, ternyata rumah makan Padang tetap <br />
diminati. Salah satunya Rumah Makan (RM) Sabar Mananti yang terus <br />
mengembangkan bisnis kuliner khas masakan Padang.<br />
<br />
Kegigihan itu dibuktikan dengan bertahannya RM Sabar Menanti yang <br />
telah dirintis (alm) Haji Bagindo Marlian sejak 70 tahun lalu. Kini <br />
sudah tersebar di beberapa sudut negara itu. Bahkan, merambah sampai <br />
Johor Bahru, Malaysia.<br />
<br />
Menurut Hj Maryunis, pimpinan RM Sabar Menanti Nort Bridge kepada <br />
padangmedia.com, Rabu (21/11) di sela lawatan peserta PPAN (Pertukaran <br />
Pelajar antar Negara) ke Singapura, kini ia dan saudaranya meneruskan <br />
rintisan bisnis rumah makan masakan Padang ayahnya.<br />
<br />
"Namun, kita sangat jaga ciri khas serta bumbu masakan sejak berdiri.<br />
Karena, di Singapura pelanggan bukan hanya dari kalangan warga <br />
Indonesia dan melayu saja," sebut wanita asal Sungai Limau Pariaman itu.<br />
<br />
Hal yang sama diungkapkan Ahmad Tarmizi Marlian, Director RM Sabar <br />
Menanti Cabang Kandahar Street. Menurutnya masakan tetap dijaga <br />
kehieginisannya serta ragam menu.<br />
<br />
"Meski tak datang kemari, pesanan dalam bentuk catering lebih <br />
mendominasi. Terlebih rendang yang jadi favorit di sini. Tentu <br />
kehangatan sampai di tujuan juga harus dijaga," ujarnya.<br />
<br />
Kalau ada bumbu yang sulit didapat, terkadang harus diimpor dari <br />
Indonesia demi menjaga kualitas, kata Ahmad Tarmizi tanpa mau menyebut <br />
berapa omset didapat seharian. (tumpak/padangmedia)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Nasi Kapau Bertahan dengan Rasa ]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Nasi-Kapau-Bertahan-dengan-Rasa</link>
			<pubDate>Mon, 26 Nov 2012 03:22:13 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Nasi-Kapau-Bertahan-dengan-Rasa</guid>
			<description><![CDATA[<div align="left"><span style="font-weight: bold;">&lt;img src="http://harianhaluan.com/images/stories/Berita8/261112/kapau.jpg" align="left" height="148" width="260" /&gt;“Duduaklah</span><br />
pak, buk, a sambano pak, buk,”sapa seorang pelayan dengan ramah kepada <br />
sepasang suami istri yang memasuki rumah makan nasi kapau Uni Lis di <br />
Pasar Atas Bukittinggi Sabtu (24/11) siang.</div>
<div align="left">”Jo tunjanglah, tu tambunsu ciek” jawab bapak itu <br />
sembari mengamati deretan baskom berisi aneka sambal dan gulai pada <br />
etalase bertingkat.<br />
<br />
<br />
</div>
<div align="left">Lalu dengan sigap, menggunakan <span style="font-style: italic;">sanduak</span> <br />
bertangkai panjang si pelayan menyiapkan pesanan pengunjung. Sepasang <br />
suami istri itupun makan dengan lahapnya, tak lama berselang mereka <br />
meminta tambah, “tambuah duo, agiah kuah cancang stek” pesan mereka.</div>
<div align="left">Memang pengunjung yang ma­kan di rumah makan nasi kapau jarang yang tidak <span style="font-style: italic;">batambuah </span>karena rasa masakannya enak dan merangsang selera makan.</div>
<div align="left">Cita rasa nasi kapau yang enak itu bukan saja sesuai <br />
bagi selera orang awak Minang, tetapi juga oleh selera orang dari <br />
berbagai etnis di tanah air dan negara jiran.</div>
<div align="left">“Orang dari luar, termasuk para pejabat tinggi dari <br />
Jakarta kalau ke Bukittinggi sering mampir ke sini, mereka kalau makan <br />
juga batambuah” kata Uni Lis pengu­saha rumah makan itu.</div>
<div align="left">“Bagi kami orang Kapau yang berjualan nasi, <br />
mempertahankan rasa masakan sesuai dengan as­linya merupakan kewajiban <br />
dan prio­ritas, disamping mem­perta­han­kan ciri khas penyajian” ulas <br />
Uni Lis yang mengaku telah berjua­lan nasi kapau bersama orang tuanya <br />
sejak awal tahun1970 di Bukittinggi.</div>
<div align="left">Kala itu, sebelum Pasar Atas terbakar penjual nasi kapau<br />
di Kota Bukittinggi baru 7 orang, mereka berjualan di Pasar Lereng. <br />
Kemu­dian seiring dengan perkembangan kota jumlah penjual nasi kapau <br />
terus bertambah, kini jumlahnya telah mencapai puluhan orang, tersebar <br />
di berbagai tempat dalam Kota Jam Gadang itu, namun pusat “kerajaan” <br />
nasi kapau tetap di Pasar Lereng. Sementara pada kota-kota lain di <br />
tanah air bahkan di Malaysia dan Brunei penjual nasi kapau juga semakin<br />
banyak.</div>
<div align="left">Masakan khas nasi kapau yang digemari banyak orang itu <br />
antara lain, gulai tunjang, pangek ikan, dendeng, tambunsu atau usus <br />
sapi yang di dalamnya diberi telor campur tahu, cancang, gajeboh, tidak <br />
ketinggalan gulai cubadak,kacang panjang, rabuang, kamumu, lobak serta <br />
kalio jariang.</div>
<div align="left">Kuah gulai masakan kapau sedikit encer dan kurang <br />
santan, rendah kolesterol, selalu menggu­nakan bumbu kunyit dan cabe, <br />
sehingga warnanya kuning ke merah-merahan.</div>
<div align="left">Kuah gulai merupakan salah satu ciri khas penyajian nasi<br />
kapau. Biarpun pengungjung meme­san nasi dengan dendeng yang kering, <br />
nasi tetap dikuahi.</div>
<div align="left">Disebutkan Uni Lis, pasar utama nasi kapau adalah pasar <br />
yang ada di kota Bukittinggi. Pada awalnya nasi kapau dijual di Los <br />
Lambuang depan Jam Gadang, kemudian pada ruangan terbuka di Pasar <br />
Lereang.</div>
<div align="left">Di Pasar Lereang itu orang kapau berjualan nasi di bawah<br />
payung besar yang memiliki tempat duduk sederhana, rak atau etalase <br />
bertingkat tempat baskom berisi aneka macam sambal dan gulai, sanduak <br />
panjang dan yang ber­jualan semuanya ibuk-ibuk. Kondisi demikian <br />
merupakan “trade mark-nya” nasi kapau.</div>
<div align="left">Digunakannya rak bertingkat tempat memajang aneka samba <br />
bertujuan untuk menghemat rua­ngan yang sempit disamping untuk <br />
memudahkan pengunjung memilih samba yang disukainya, sedangkan sanduak <br />
bertangkai panjang ber­fung­si memudahkan pelayan me­ngam­bil sambal <br />
pesanan pegun­jung.</div>
<div align="left">Tetapi kini payuang besar terbuat dari kayu dan atap <br />
kertas dibungkus plastik itu tidak ada lagi di Bukittinggi, penjual nasi<br />
kapau berjualan sudah pada ruangan tertutup berupa los yang dibangun <br />
pemerintah kota seperti yang di Pasar Lereang, bahkan ada yang telah <br />
memiliki rumah makan sendiri berukuran besar seperti halnya rumah makan <br />
lain, hanya saja untuk membedakan di rumah makan itu ditulis “nasi <br />
kapau”.</div>
<div align="left">Ciri pelayanan nasi kapau yang masih bertahan walaupun <br />
tempat­nya pada ruangan megah adalah, pelayannya selalu perempuan dan <br />
menyapa dengan ramah serta menanyai pengunjung terlebih dahulu megenai <br />
makanan yang akan dipesan, bukan pengunjung yang memesan makanan <br />
terlebih dahulu seperti halnya pada rumah makan biasa.</div>
<div align="left">Cobalah masuk ke rumah ma­kan nasi kapau, barusan di <br />
pintu masuk Anda akan disapa pela­yannya dengan sapaan dalam logat khas <br />
rang Agam, “duduaklah pak, ibuk, uda, uni, a sambano pak, ibuk, uda, <br />
uni”.</div>
<div align="left">Cuma yang menjadi masalah, kini banyak juga rumah makan <br />
atau warung nasi kapau palsu, dimana sipenjual maupun masakanya bukan <br />
dari kapau, dan standar masakannya berbeda dengan masa­kan kapau. <br />
Sedangkan di rumah makan itu dipajang juga tulisan “rumah makan nasi <br />
kapau”. Ken­dati demikian orang kapau tidak dapat berbuat apa-apa karena<br />
masakan kapau yang berciri khas itu belum dihakpatenkan.</div>
Kapau salah satu nagari dari 3 nagari yang ada di kecamatan Tilatang<br />
Kamang Agam, terletak di sebelah utara pinggiran kota Bukittinggi, <br />
berpenduduk sekitar 3 ribu jiwa dengan mata pencarian utama bertani dan <br />
ibu-ibunya memiliki kepandaian memasak aneka jenis samba dan gulai. <span style="font-weight: bold;">(Kasra Scorpi/haluan)</span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="left"><span style="font-weight: bold;">&lt;img src="http://harianhaluan.com/images/stories/Berita8/261112/kapau.jpg" align="left" height="148" width="260" /&gt;“Duduaklah</span><br />
pak, buk, a sambano pak, buk,”sapa seorang pelayan dengan ramah kepada <br />
sepasang suami istri yang memasuki rumah makan nasi kapau Uni Lis di <br />
Pasar Atas Bukittinggi Sabtu (24/11) siang.</div>
<div align="left">”Jo tunjanglah, tu tambunsu ciek” jawab bapak itu <br />
sembari mengamati deretan baskom berisi aneka sambal dan gulai pada <br />
etalase bertingkat.<br />
<br />
<br />
</div>
<div align="left">Lalu dengan sigap, menggunakan <span style="font-style: italic;">sanduak</span> <br />
bertangkai panjang si pelayan menyiapkan pesanan pengunjung. Sepasang <br />
suami istri itupun makan dengan lahapnya, tak lama berselang mereka <br />
meminta tambah, “tambuah duo, agiah kuah cancang stek” pesan mereka.</div>
<div align="left">Memang pengunjung yang ma­kan di rumah makan nasi kapau jarang yang tidak <span style="font-style: italic;">batambuah </span>karena rasa masakannya enak dan merangsang selera makan.</div>
<div align="left">Cita rasa nasi kapau yang enak itu bukan saja sesuai <br />
bagi selera orang awak Minang, tetapi juga oleh selera orang dari <br />
berbagai etnis di tanah air dan negara jiran.</div>
<div align="left">“Orang dari luar, termasuk para pejabat tinggi dari <br />
Jakarta kalau ke Bukittinggi sering mampir ke sini, mereka kalau makan <br />
juga batambuah” kata Uni Lis pengu­saha rumah makan itu.</div>
<div align="left">“Bagi kami orang Kapau yang berjualan nasi, <br />
mempertahankan rasa masakan sesuai dengan as­linya merupakan kewajiban <br />
dan prio­ritas, disamping mem­perta­han­kan ciri khas penyajian” ulas <br />
Uni Lis yang mengaku telah berjua­lan nasi kapau bersama orang tuanya <br />
sejak awal tahun1970 di Bukittinggi.</div>
<div align="left">Kala itu, sebelum Pasar Atas terbakar penjual nasi kapau<br />
di Kota Bukittinggi baru 7 orang, mereka berjualan di Pasar Lereng. <br />
Kemu­dian seiring dengan perkembangan kota jumlah penjual nasi kapau <br />
terus bertambah, kini jumlahnya telah mencapai puluhan orang, tersebar <br />
di berbagai tempat dalam Kota Jam Gadang itu, namun pusat “kerajaan” <br />
nasi kapau tetap di Pasar Lereng. Sementara pada kota-kota lain di <br />
tanah air bahkan di Malaysia dan Brunei penjual nasi kapau juga semakin<br />
banyak.</div>
<div align="left">Masakan khas nasi kapau yang digemari banyak orang itu <br />
antara lain, gulai tunjang, pangek ikan, dendeng, tambunsu atau usus <br />
sapi yang di dalamnya diberi telor campur tahu, cancang, gajeboh, tidak <br />
ketinggalan gulai cubadak,kacang panjang, rabuang, kamumu, lobak serta <br />
kalio jariang.</div>
<div align="left">Kuah gulai masakan kapau sedikit encer dan kurang <br />
santan, rendah kolesterol, selalu menggu­nakan bumbu kunyit dan cabe, <br />
sehingga warnanya kuning ke merah-merahan.</div>
<div align="left">Kuah gulai merupakan salah satu ciri khas penyajian nasi<br />
kapau. Biarpun pengungjung meme­san nasi dengan dendeng yang kering, <br />
nasi tetap dikuahi.</div>
<div align="left">Disebutkan Uni Lis, pasar utama nasi kapau adalah pasar <br />
yang ada di kota Bukittinggi. Pada awalnya nasi kapau dijual di Los <br />
Lambuang depan Jam Gadang, kemudian pada ruangan terbuka di Pasar <br />
Lereang.</div>
<div align="left">Di Pasar Lereang itu orang kapau berjualan nasi di bawah<br />
payung besar yang memiliki tempat duduk sederhana, rak atau etalase <br />
bertingkat tempat baskom berisi aneka macam sambal dan gulai, sanduak <br />
panjang dan yang ber­jualan semuanya ibuk-ibuk. Kondisi demikian <br />
merupakan “trade mark-nya” nasi kapau.</div>
<div align="left">Digunakannya rak bertingkat tempat memajang aneka samba <br />
bertujuan untuk menghemat rua­ngan yang sempit disamping untuk <br />
memudahkan pengunjung memilih samba yang disukainya, sedangkan sanduak <br />
bertangkai panjang ber­fung­si memudahkan pelayan me­ngam­bil sambal <br />
pesanan pegun­jung.</div>
<div align="left">Tetapi kini payuang besar terbuat dari kayu dan atap <br />
kertas dibungkus plastik itu tidak ada lagi di Bukittinggi, penjual nasi<br />
kapau berjualan sudah pada ruangan tertutup berupa los yang dibangun <br />
pemerintah kota seperti yang di Pasar Lereang, bahkan ada yang telah <br />
memiliki rumah makan sendiri berukuran besar seperti halnya rumah makan <br />
lain, hanya saja untuk membedakan di rumah makan itu ditulis “nasi <br />
kapau”.</div>
<div align="left">Ciri pelayanan nasi kapau yang masih bertahan walaupun <br />
tempat­nya pada ruangan megah adalah, pelayannya selalu perempuan dan <br />
menyapa dengan ramah serta menanyai pengunjung terlebih dahulu megenai <br />
makanan yang akan dipesan, bukan pengunjung yang memesan makanan <br />
terlebih dahulu seperti halnya pada rumah makan biasa.</div>
<div align="left">Cobalah masuk ke rumah ma­kan nasi kapau, barusan di <br />
pintu masuk Anda akan disapa pela­yannya dengan sapaan dalam logat khas <br />
rang Agam, “duduaklah pak, ibuk, uda, uni, a sambano pak, ibuk, uda, <br />
uni”.</div>
<div align="left">Cuma yang menjadi masalah, kini banyak juga rumah makan <br />
atau warung nasi kapau palsu, dimana sipenjual maupun masakanya bukan <br />
dari kapau, dan standar masakannya berbeda dengan masa­kan kapau. <br />
Sedangkan di rumah makan itu dipajang juga tulisan “rumah makan nasi <br />
kapau”. Ken­dati demikian orang kapau tidak dapat berbuat apa-apa karena<br />
masakan kapau yang berciri khas itu belum dihakpatenkan.</div>
Kapau salah satu nagari dari 3 nagari yang ada di kecamatan Tilatang<br />
Kamang Agam, terletak di sebelah utara pinggiran kota Bukittinggi, <br />
berpenduduk sekitar 3 ribu jiwa dengan mata pencarian utama bertani dan <br />
ibu-ibunya memiliki kepandaian memasak aneka jenis samba dan gulai. <span style="font-weight: bold;">(Kasra Scorpi/haluan)</span>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Yuk! Nikmati Rendang di Akhir Pekan Panjang Ini]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Yuk-Nikmati-Rendang-di-Akhir-Pekan-Panjang-Ini</link>
			<pubDate>Sat, 17 Nov 2012 07:20:33 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Yuk-Nikmati-Rendang-di-Akhir-Pekan-Panjang-Ini</guid>
			<description><![CDATA[&lt;img src="http://inioke.com//foto/berita/rendangdaging.jpg" align="left" width="300" /&gt;Rendang daging. (rendangsikamba.wordpress.com)Bagi<br />
kamu yang di Jakarta akhir pekan panjang ini bisa dinikmati dengan <br />
mengunjungi acara Battle of Rendang di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, <br />
Sabtu (17/11) nanti. Acaranya bersifat kreatif, apresiatif lewat <br />
kompetisi memasak rendang, media sosial, fotografi, dan penulisan soal <br />
rendang. Terpenting, tentu saja, senang-senang menikmati rendang di <br />
bazaar boga. Mari menikmati dan menghargai rendang di akhir pekan <br />
panjang.<br />
<br />
Acara bernama Rajou-Rendang Journey ini digelar oleh Program Pasca <br />
Sarjana Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti Jakarta . Diawali dengan <br />
seminar dan bincang tentang "The Uniqueness of Food Culinary as the Gate<br />
of Indonesia" di Balairung Soesilo Soedarman, Kementerian Pariwisata <br />
dan Ekonomi Kreatif, Sabtu, 13 Oktober 2012 lalu. Diskusi menampilkan <br />
Reno Andam dan Lisa Virgiano yang menggagas Underground Secret Dining di<br />
Indonesia, yang terlilhami oleh “gerakan serupa” di AS.<br />
<br />
Ketika pada September 2011, rendang ditahbiskan sebagai masakan terlezat nomor satu di dunia berdasarkan angket <span style="font-style: italic;">CNN.go,</span><br />
inilah kesempatan emas untuk mengangkat kekayaan luar biasa boga <br />
Indonesia. Selama ini kuliner Nusantara dianggap masih terlalu rendah <br />
hati dibanding jual diri gencar yang dilakukan dunia boga Jepang, Korea,<br />
Thailand, Italia, dan Amerika Serikat.<br />
<br />
Tujuh tahun sebelumnya, Reno Andam Suri, penulis buku “Rendang <br />
Traveler: Menyingkap Bertuahnya Rendang Minang,” telah merintis agar <br />
rendang tak hanya bisa dinikmati dadakan di rumah makan Minang yang <br />
tersebar se-antero Indonesia. Ia mempertahankan proses memasak rendang <br />
secara tradisional yang diolah dari daging, santan kelapa, cabai, dan <br />
bumbu rempah.<br />
<br />
Namun, ia memberi nilai tambah dengan mengemas hidangan tahan lama <br />
tanpa bahan pengawet ini – sarat bumbu telah menjadi “pengawet” <br />
tersendiri. Berupa <span style="font-style: italic;">vacuum pac</span>k cantik yang layak menjadi <br />
oleh-oleh dan antaran. Keuletannya mengupayakan rendang bisa awet dibawa<br />
melanglang ke mancanegara pun diganjar Pemenang Penghargaan I Lomba <br />
Wanita Wirausaha Femina 2009.<br />
<br />
Dari penelitian Reno Andam terhadap rendang padang, ternyata tiap <br />
daerah di ranah Bundo Kanduang memiliki kekhasan rendang – Padang, <br />
Batusangkar, Painan, Pariaman, Bukittinggi, Danau Maninjau, Agam, <br />
Payakumbuh. Ada yang memakai kemiri, kapulaga, ketumbar hijau. Bahan <br />
dasar tak hanya daging tapi kekayaan sekitar.<br />
<br />
Masyarakat di pesisir ada yang mengolah rendang lokan. Di Payakumbuh,<br />
misalnya, sedikitnya dikenal delapan variasi rendang – rendang ayam, <br />
daun kayu, runtiah, sapuluik itam, tumbuak, telur, cubadak, batokok.<br />
<br />
Cerita tentang rendang ini tidak akan pernah habis, kamu mesti <br />
kunjungi Battle of Rendang nanti. Di sana ada berbagai cerita menarik <br />
lainnya tentang makanan khas dari Ranah Minang ini.<br />
<br />
 <br />
<br />
<span style="font-style: italic;">Sumber: National Geographic</span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[&lt;img src="http://inioke.com//foto/berita/rendangdaging.jpg" align="left" width="300" /&gt;Rendang daging. (rendangsikamba.wordpress.com)Bagi<br />
kamu yang di Jakarta akhir pekan panjang ini bisa dinikmati dengan <br />
mengunjungi acara Battle of Rendang di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, <br />
Sabtu (17/11) nanti. Acaranya bersifat kreatif, apresiatif lewat <br />
kompetisi memasak rendang, media sosial, fotografi, dan penulisan soal <br />
rendang. Terpenting, tentu saja, senang-senang menikmati rendang di <br />
bazaar boga. Mari menikmati dan menghargai rendang di akhir pekan <br />
panjang.<br />
<br />
Acara bernama Rajou-Rendang Journey ini digelar oleh Program Pasca <br />
Sarjana Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti Jakarta . Diawali dengan <br />
seminar dan bincang tentang "The Uniqueness of Food Culinary as the Gate<br />
of Indonesia" di Balairung Soesilo Soedarman, Kementerian Pariwisata <br />
dan Ekonomi Kreatif, Sabtu, 13 Oktober 2012 lalu. Diskusi menampilkan <br />
Reno Andam dan Lisa Virgiano yang menggagas Underground Secret Dining di<br />
Indonesia, yang terlilhami oleh “gerakan serupa” di AS.<br />
<br />
Ketika pada September 2011, rendang ditahbiskan sebagai masakan terlezat nomor satu di dunia berdasarkan angket <span style="font-style: italic;">CNN.go,</span><br />
inilah kesempatan emas untuk mengangkat kekayaan luar biasa boga <br />
Indonesia. Selama ini kuliner Nusantara dianggap masih terlalu rendah <br />
hati dibanding jual diri gencar yang dilakukan dunia boga Jepang, Korea,<br />
Thailand, Italia, dan Amerika Serikat.<br />
<br />
Tujuh tahun sebelumnya, Reno Andam Suri, penulis buku “Rendang <br />
Traveler: Menyingkap Bertuahnya Rendang Minang,” telah merintis agar <br />
rendang tak hanya bisa dinikmati dadakan di rumah makan Minang yang <br />
tersebar se-antero Indonesia. Ia mempertahankan proses memasak rendang <br />
secara tradisional yang diolah dari daging, santan kelapa, cabai, dan <br />
bumbu rempah.<br />
<br />
Namun, ia memberi nilai tambah dengan mengemas hidangan tahan lama <br />
tanpa bahan pengawet ini – sarat bumbu telah menjadi “pengawet” <br />
tersendiri. Berupa <span style="font-style: italic;">vacuum pac</span>k cantik yang layak menjadi <br />
oleh-oleh dan antaran. Keuletannya mengupayakan rendang bisa awet dibawa<br />
melanglang ke mancanegara pun diganjar Pemenang Penghargaan I Lomba <br />
Wanita Wirausaha Femina 2009.<br />
<br />
Dari penelitian Reno Andam terhadap rendang padang, ternyata tiap <br />
daerah di ranah Bundo Kanduang memiliki kekhasan rendang – Padang, <br />
Batusangkar, Painan, Pariaman, Bukittinggi, Danau Maninjau, Agam, <br />
Payakumbuh. Ada yang memakai kemiri, kapulaga, ketumbar hijau. Bahan <br />
dasar tak hanya daging tapi kekayaan sekitar.<br />
<br />
Masyarakat di pesisir ada yang mengolah rendang lokan. Di Payakumbuh,<br />
misalnya, sedikitnya dikenal delapan variasi rendang – rendang ayam, <br />
daun kayu, runtiah, sapuluik itam, tumbuak, telur, cubadak, batokok.<br />
<br />
Cerita tentang rendang ini tidak akan pernah habis, kamu mesti <br />
kunjungi Battle of Rendang nanti. Di sana ada berbagai cerita menarik <br />
lainnya tentang makanan khas dari Ranah Minang ini.<br />
<br />
 <br />
<br />
<span style="font-style: italic;">Sumber: National Geographic</span>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Goyang Lidah Pembeli, Lestarikan Makanan Minang]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Goyang-Lidah-Pembeli-Lestarikan-Makanan-Minang</link>
			<pubDate>Wed, 14 Nov 2012 02:30:44 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Goyang-Lidah-Pembeli-Lestarikan-Makanan-Minang</guid>
			<description><![CDATA[<span style="font-weight: bold;">Melirik Usaha Palai Bada Yeni di Ampang</span><br />
&lt;img src="http://padangekspres.co.id/up/berita/08112012123011eqshakemap.jpg" alt="Yeni saat melayani pembeli" title="klik untuk memperbesar" align="left" width="280" /&gt;<br />
<div align="justify"><span style="font-weight: bold;">Ambiak rumpuik sibilang-sibilang</span></div>
<div align="justify"><span style="font-weight: bold;">Jikok tuan indak picayo</span></div>
<div align="justify"><span style="font-weight: bold;">Bali sabungkuik bawok pulang</span></div>
<div align="justify"><span style="font-weight: bold;">Yo..... Palai Bada, </span></div>
<div align="justify"><span style="font-weight: bold;">Lamak rasonyo makan baduo</span></div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify"><span style="font-weight: bold;">Lirik </span>lagu <br />
Minang ini meng­gambarkan bagaimana palai bada menggoyang lidah rang <br />
Minang tempo dulu. Dengan palai bada itu pula, makan bisa <span style="font-style: italic;">batambuah</span>,<br />
tali silaturahmi bisa langgeng. Palai Bada adalah makanan khas Minang, <br />
terdiri bada basah, kelapa parut lalu dicampur dengan bumbu seperti <br />
kunyit, lengkuas dan cabe.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Sayang, masakan tempo dulu ini kini terpingirkan oleh masakan <span style="font-style: italic;">fast food </span>(cepat<br />
saji) seperti Fried Chic­ken dan masakan sejenis lainnya yang menjamur <br />
dimana-mana. Se­olah-olah menjadi penonton di negeri sendiri. Padahal <br />
kalau dari segi rasa, palai bada dan lompong sagu sangat cocok dengan <br />
lidah rang Minang.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Yang lebih menyedihkan lagi,<br />
sebagian anak muda sekarang tidak kenal lagi dengan rasa palai bada dan<br />
lompong sagu. Mereka lebih kenal dengan Fried Chicken dan makanan <br />
sejenisnya.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Namun lain halnya dengan <br />
Yeni, 38. Ia bersama keluarganya men­coba meneruskan tradisi <br />
orang­tuanya, berjualan palai bada. Me­nurut ibu dua anak ini, berjualan<br />
palai bada tidak saja untuk membuat asap dapurnya mengepul. Namun lebih<br />
dari itu, ada keinginan mulia yakni melestarikan makanan khas Minang <br />
yang sudah tergerus zaman.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Baginya, bisa menggoyang <br />
lidah pembeli dengan palai bada plus lompong sagu adalah hal <br />
mem­bahagiakan hati. Sebagai rang Mi­nang, terkadang ia menjerit dalam <br />
hati. Kenapa makanan Minang seperti palai bada, lompong sagu hanya bisa <br />
menjadi penoton di negeri sendiri. Padahal saat ini, turis dari <br />
mancanegara malah mencari masakan khas Timur yang rasanya berbeda dengan<br />
makanan mereka.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Tak hanya itu, makanan <br />
tra­disional lebih sehat jika diban­ding­kan dengan masakan cepat saji <br />
yang sering memakai bahan kimia untuk pengawet makanan.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">“Ya, Palai Bada ini bisa <br />
pengobat rindu orang tempo dulu. Pe­me­san­nya tidak saja dari wilayah <br />
Sumbar tapi ada yang dari Jakarta, Yogya­karta. Bahkan ada yang dari <br />
Malaysia,” ujarnya sambil melayani pem­beli.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Yeni adalah puluhan, mungkin<br />
ratusan penjual palai bada yang masih bertahan di tengah gencarnya <br />
promosi makanan siap saji dengan berbagai variasi dan rasanya.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">“<span style="font-style: italic;">Kalau ndak awak sia lo lai nan ka melestarikan makanan Minang ko</span>,” ujar Yeni yang berjualan palai bada dan lompong sagu di Ampang, Padang ini.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Menurut Yeni, sehari ia bisa<br />
menghabiskan 3 kilogram bada untuk membuat palai bada dan tiga gantang <br />
sagu untuk membuat lom­pong sagu. Kalau untuk harganya cukup bersaing. <br />
“Untuk satu bung­kus palai harganya Rp5.000. Se­mentara untuk satu <br />
bungkus lom­pong sagu Rp2.000. Jadi dalam sehari itu berpenghasilan Rp <br />
300 ribuanlah, itupun kalau ramai,” ujarnya.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Ujang, 38, salah seorang <br />
pembeli mengatakan, tiga kali seminggu ia pasti datang membeli palai <br />
bada buk Yeni ini. “ Dulu saat di kampung orang tua saya sering <br />
membuatnya, hingga saat ini saya sangat rindu dengan masakan ini, <br />
rasanya cocok dengan lidah saya,” ujarnya.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Memasak makanan ini cukup <br />
murah, setelah adonan dicampur dengan bada basah dibungkus de­ngan daun,<br />
lalu dikukus dengan dandang. Setelah setengah jam lalu, palai bada ini <br />
dibakar di atas bara api. “Beberapa menit saja akan terasa bau harum <br />
dari palai bada dan lompong sagu, karena dibungkus dengan daun,” <br />
ujarnya.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Bagi mereka, tidak cuma <br />
ingin bertahan ditengah menjamurnya masakan modern. Tapi ada tugas mulia<br />
yakni melestarikan masakan tradisional yang hampir dilupakan generasi <br />
muda sekarang yang lebih doyan memakan makanan cepat saji.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Namun ia berharap ada bantuan kredit <br />
lunak dari pemerintah untuk menyambung usahanya. “Saat ini, kami butuh <br />
tempat yang bagus, kalaupun nanti dapat bantuan dari pemerintah kami <br />
akan gunakan untuk tempat dan sebagian lagi untuk membeli alat-alat yang<br />
telah usang,” ujarnya. <span style="font-weight: bold;">(padangekspres)</span></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span style="font-weight: bold;">Melirik Usaha Palai Bada Yeni di Ampang</span><br />
&lt;img src="http://padangekspres.co.id/up/berita/08112012123011eqshakemap.jpg" alt="Yeni saat melayani pembeli" title="klik untuk memperbesar" align="left" width="280" /&gt;<br />
<div align="justify"><span style="font-weight: bold;">Ambiak rumpuik sibilang-sibilang</span></div>
<div align="justify"><span style="font-weight: bold;">Jikok tuan indak picayo</span></div>
<div align="justify"><span style="font-weight: bold;">Bali sabungkuik bawok pulang</span></div>
<div align="justify"><span style="font-weight: bold;">Yo..... Palai Bada, </span></div>
<div align="justify"><span style="font-weight: bold;">Lamak rasonyo makan baduo</span></div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify"><span style="font-weight: bold;">Lirik </span>lagu <br />
Minang ini meng­gambarkan bagaimana palai bada menggoyang lidah rang <br />
Minang tempo dulu. Dengan palai bada itu pula, makan bisa <span style="font-style: italic;">batambuah</span>,<br />
tali silaturahmi bisa langgeng. Palai Bada adalah makanan khas Minang, <br />
terdiri bada basah, kelapa parut lalu dicampur dengan bumbu seperti <br />
kunyit, lengkuas dan cabe.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Sayang, masakan tempo dulu ini kini terpingirkan oleh masakan <span style="font-style: italic;">fast food </span>(cepat<br />
saji) seperti Fried Chic­ken dan masakan sejenis lainnya yang menjamur <br />
dimana-mana. Se­olah-olah menjadi penonton di negeri sendiri. Padahal <br />
kalau dari segi rasa, palai bada dan lompong sagu sangat cocok dengan <br />
lidah rang Minang.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Yang lebih menyedihkan lagi,<br />
sebagian anak muda sekarang tidak kenal lagi dengan rasa palai bada dan<br />
lompong sagu. Mereka lebih kenal dengan Fried Chicken dan makanan <br />
sejenisnya.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Namun lain halnya dengan <br />
Yeni, 38. Ia bersama keluarganya men­coba meneruskan tradisi <br />
orang­tuanya, berjualan palai bada. Me­nurut ibu dua anak ini, berjualan<br />
palai bada tidak saja untuk membuat asap dapurnya mengepul. Namun lebih<br />
dari itu, ada keinginan mulia yakni melestarikan makanan khas Minang <br />
yang sudah tergerus zaman.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Baginya, bisa menggoyang <br />
lidah pembeli dengan palai bada plus lompong sagu adalah hal <br />
mem­bahagiakan hati. Sebagai rang Mi­nang, terkadang ia menjerit dalam <br />
hati. Kenapa makanan Minang seperti palai bada, lompong sagu hanya bisa <br />
menjadi penoton di negeri sendiri. Padahal saat ini, turis dari <br />
mancanegara malah mencari masakan khas Timur yang rasanya berbeda dengan<br />
makanan mereka.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Tak hanya itu, makanan <br />
tra­disional lebih sehat jika diban­ding­kan dengan masakan cepat saji <br />
yang sering memakai bahan kimia untuk pengawet makanan.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">“Ya, Palai Bada ini bisa <br />
pengobat rindu orang tempo dulu. Pe­me­san­nya tidak saja dari wilayah <br />
Sumbar tapi ada yang dari Jakarta, Yogya­karta. Bahkan ada yang dari <br />
Malaysia,” ujarnya sambil melayani pem­beli.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Yeni adalah puluhan, mungkin<br />
ratusan penjual palai bada yang masih bertahan di tengah gencarnya <br />
promosi makanan siap saji dengan berbagai variasi dan rasanya.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">“<span style="font-style: italic;">Kalau ndak awak sia lo lai nan ka melestarikan makanan Minang ko</span>,” ujar Yeni yang berjualan palai bada dan lompong sagu di Ampang, Padang ini.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Menurut Yeni, sehari ia bisa<br />
menghabiskan 3 kilogram bada untuk membuat palai bada dan tiga gantang <br />
sagu untuk membuat lom­pong sagu. Kalau untuk harganya cukup bersaing. <br />
“Untuk satu bung­kus palai harganya Rp5.000. Se­mentara untuk satu <br />
bungkus lom­pong sagu Rp2.000. Jadi dalam sehari itu berpenghasilan Rp <br />
300 ribuanlah, itupun kalau ramai,” ujarnya.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Ujang, 38, salah seorang <br />
pembeli mengatakan, tiga kali seminggu ia pasti datang membeli palai <br />
bada buk Yeni ini. “ Dulu saat di kampung orang tua saya sering <br />
membuatnya, hingga saat ini saya sangat rindu dengan masakan ini, <br />
rasanya cocok dengan lidah saya,” ujarnya.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Memasak makanan ini cukup <br />
murah, setelah adonan dicampur dengan bada basah dibungkus de­ngan daun,<br />
lalu dikukus dengan dandang. Setelah setengah jam lalu, palai bada ini <br />
dibakar di atas bara api. “Beberapa menit saja akan terasa bau harum <br />
dari palai bada dan lompong sagu, karena dibungkus dengan daun,” <br />
ujarnya.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Bagi mereka, tidak cuma <br />
ingin bertahan ditengah menjamurnya masakan modern. Tapi ada tugas mulia<br />
yakni melestarikan masakan tradisional yang hampir dilupakan generasi <br />
muda sekarang yang lebih doyan memakan makanan cepat saji.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Namun ia berharap ada bantuan kredit <br />
lunak dari pemerintah untuk menyambung usahanya. “Saat ini, kami butuh <br />
tempat yang bagus, kalaupun nanti dapat bantuan dari pemerintah kami <br />
akan gunakan untuk tempat dan sebagian lagi untuk membeli alat-alat yang<br />
telah usang,” ujarnya. <span style="font-weight: bold;">(padangekspres)</span></div>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Dendeng Daun Singkong Rita, Wow!]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Dendeng-Daun-Singkong-Rita-Wow</link>
			<pubDate>Fri, 09 Nov 2012 22:40:52 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Dendeng-Daun-Singkong-Rita-Wow</guid>
			<description><![CDATA[&lt;img src="http://www.padangmedia.com//foto/berita/Dendeng.JPG" align="left" width="250" /&gt;Rita Yanti Pengusaha dendeng daun singkongDendeng dari daging itu sudah biasa, jika ada dendeng yang dibuat dari daun singkong itu baru agak mengherankan. <br />
<br />
Tapi<br />
itu memang ada, buktinya Rita Yanti warga jalan Cindua Mato No. 34 <br />
Lapai, Kota Padang telah hampir setahun ini mengembangkan usaha membuat <br />
dendeng daun singkong ini.<br />
<br />
"Usaha membuat dendeng daun singkong <br />
ini telah saya mulai sejak awal 2012. Mulanya saya hanya coba - coba <br />
karena terinspirasi oleh pembuat makanan berbahan sama yang saya akses <br />
di internet. Akan tetapi saya membuat formulasi sendiri. Sampai akhirnya<br />
saya temukan formula yang saya rasa tepat dan rasanya menurut <br />
kebanyakan orang yang telah mencoba juga enak,"terang Rita saat ditemui <br />
padangmedia.com di Bazaar Muharram di pelataran parkir Lapangan Imam <br />
Bonjol Padang.<br />
<br />
Rita menyilakan untuk mencicipi dendeng daun <br />
singkong tersebut. Wow, harus diakui rasanya enak. Beberapa orang yang <br />
mencicipi juga ikut bilang wow.<br />
<br />
Rita bersedia menjelaskan saat <br />
ditanya bahannya apa saja. Dijelaskan Rita, bahan utamanya daun singkong<br />
yang tua, tapi bukan yang sudah berwarna kuning. Kemudian tepung beras,<br />
bawang putih, merica, garam, serta sedikit penyedap rasa.<br />
<br />
Prosesnya,<br />
daun singkong tersebut direbus sampai lodoh (lunak sekali) untuk <br />
kemudian diangkat dan hancurkan lalu dicampurkan dengan tepung beras <br />
serta bahan lainnya yang telah dihaluskan sampai menjadi adonan.<br />
<br />
Selanjutnya kata Rita, dimasukan ke dalam plastik lalu direbus kembali hingga tepung berasnya matang seperti membuat lontong.<br />
<br />
"Setelah<br />
itu didinginkan beberapa saat hingga agak mengeras terus dilakukan <br />
pemotongan tipis - tipis. Potongan - potongan tipis tersebut sudah bisa <br />
langsung digoreng,"ujar Rita.<br />
<br />
Selesai digoreng tentunya siap dikemas. Rita mengemasnya dengan plastik berlabel " Dendeng Daun Singkong Rita.<br />
<br />
Usaha<br />
Rita ini sempat mengalami kesulitan pemasaran di masa awal ia memulai. <br />
Menurut Rita, karena orang masih merasa asing dengan dendeng berbahan <br />
daun singkong, orang tahunya dendeng itu pasti dari daging.<br />
<br />
Istri<br />
Idrus ini terus menjalani membuat dendeng daun singkong hingga akhirnya<br />
ia mendapat binaan dari Disperindag bersama penggerak PKK Kota Padang <br />
maka merambahlah dendeng daun singkong Rita ke swalayan - swalayan. <br />
Bahkan produk Rita dapat ditemukan hampir di semua toko makanan oleh - <br />
oleh di Kota Padang, sebut saja nama Christine Hakim, Rohana Kudus, <br />
Serly, SDS serta 4x7.<br />
<br />
Untuk 1 bungkus berat 1 ons dibandrol Rp 10<br />
ribu sedangkan perkilonya mencapai Rp 100 ribu. Dari hasil ini Rita <br />
bisa memperoleh laba 100 persen, artinya dengan modal Rp 1 juta Rita <br />
bisa memperoleh keuntungan paling tidak Rp 1 juta pula.<br />
<br />
Diakui <br />
Rita, dari hasil penjualan setiap minggu ia bisa memperoleh keuntungan <br />
Rp 1 juta. Sehingga ia dapat membantu perekonomian keluarga.<br />
<br />
Ke depannya Rita berencana akan merekrut dua atau tiga orang karyawan agar skala produksinya bisa lebih ditingkatkan. <br />
<br />
"Saya<br />
optimis produk ini akan dapat berkembang lebih besar lagi bila <br />
dilakukan serius dan pemerintah tetap dapat memberikan pembinaan, baik <br />
dari bantuan modal maupun secara manajerial,"ujar ibu muda satu anak <br />
yang sempat mengenyam pendidikan tinggi ini.<br />
<br />
Ada yang berminat untuk mencoba seperti Rita? (der)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[&lt;img src="http://www.padangmedia.com//foto/berita/Dendeng.JPG" align="left" width="250" /&gt;Rita Yanti Pengusaha dendeng daun singkongDendeng dari daging itu sudah biasa, jika ada dendeng yang dibuat dari daun singkong itu baru agak mengherankan. <br />
<br />
Tapi<br />
itu memang ada, buktinya Rita Yanti warga jalan Cindua Mato No. 34 <br />
Lapai, Kota Padang telah hampir setahun ini mengembangkan usaha membuat <br />
dendeng daun singkong ini.<br />
<br />
"Usaha membuat dendeng daun singkong <br />
ini telah saya mulai sejak awal 2012. Mulanya saya hanya coba - coba <br />
karena terinspirasi oleh pembuat makanan berbahan sama yang saya akses <br />
di internet. Akan tetapi saya membuat formulasi sendiri. Sampai akhirnya<br />
saya temukan formula yang saya rasa tepat dan rasanya menurut <br />
kebanyakan orang yang telah mencoba juga enak,"terang Rita saat ditemui <br />
padangmedia.com di Bazaar Muharram di pelataran parkir Lapangan Imam <br />
Bonjol Padang.<br />
<br />
Rita menyilakan untuk mencicipi dendeng daun <br />
singkong tersebut. Wow, harus diakui rasanya enak. Beberapa orang yang <br />
mencicipi juga ikut bilang wow.<br />
<br />
Rita bersedia menjelaskan saat <br />
ditanya bahannya apa saja. Dijelaskan Rita, bahan utamanya daun singkong<br />
yang tua, tapi bukan yang sudah berwarna kuning. Kemudian tepung beras,<br />
bawang putih, merica, garam, serta sedikit penyedap rasa.<br />
<br />
Prosesnya,<br />
daun singkong tersebut direbus sampai lodoh (lunak sekali) untuk <br />
kemudian diangkat dan hancurkan lalu dicampurkan dengan tepung beras <br />
serta bahan lainnya yang telah dihaluskan sampai menjadi adonan.<br />
<br />
Selanjutnya kata Rita, dimasukan ke dalam plastik lalu direbus kembali hingga tepung berasnya matang seperti membuat lontong.<br />
<br />
"Setelah<br />
itu didinginkan beberapa saat hingga agak mengeras terus dilakukan <br />
pemotongan tipis - tipis. Potongan - potongan tipis tersebut sudah bisa <br />
langsung digoreng,"ujar Rita.<br />
<br />
Selesai digoreng tentunya siap dikemas. Rita mengemasnya dengan plastik berlabel " Dendeng Daun Singkong Rita.<br />
<br />
Usaha<br />
Rita ini sempat mengalami kesulitan pemasaran di masa awal ia memulai. <br />
Menurut Rita, karena orang masih merasa asing dengan dendeng berbahan <br />
daun singkong, orang tahunya dendeng itu pasti dari daging.<br />
<br />
Istri<br />
Idrus ini terus menjalani membuat dendeng daun singkong hingga akhirnya<br />
ia mendapat binaan dari Disperindag bersama penggerak PKK Kota Padang <br />
maka merambahlah dendeng daun singkong Rita ke swalayan - swalayan. <br />
Bahkan produk Rita dapat ditemukan hampir di semua toko makanan oleh - <br />
oleh di Kota Padang, sebut saja nama Christine Hakim, Rohana Kudus, <br />
Serly, SDS serta 4x7.<br />
<br />
Untuk 1 bungkus berat 1 ons dibandrol Rp 10<br />
ribu sedangkan perkilonya mencapai Rp 100 ribu. Dari hasil ini Rita <br />
bisa memperoleh laba 100 persen, artinya dengan modal Rp 1 juta Rita <br />
bisa memperoleh keuntungan paling tidak Rp 1 juta pula.<br />
<br />
Diakui <br />
Rita, dari hasil penjualan setiap minggu ia bisa memperoleh keuntungan <br />
Rp 1 juta. Sehingga ia dapat membantu perekonomian keluarga.<br />
<br />
Ke depannya Rita berencana akan merekrut dua atau tiga orang karyawan agar skala produksinya bisa lebih ditingkatkan. <br />
<br />
"Saya<br />
optimis produk ini akan dapat berkembang lebih besar lagi bila <br />
dilakukan serius dan pemerintah tetap dapat memberikan pembinaan, baik <br />
dari bantuan modal maupun secara manajerial,"ujar ibu muda satu anak <br />
yang sempat mengenyam pendidikan tinggi ini.<br />
<br />
Ada yang berminat untuk mencoba seperti Rita? (der)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Wow, Rendang Dipromosikan Sampai Belanda Lho...]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Wow-Rendang-Dipromosikan-Sampai-Belanda-Lho</link>
			<pubDate>Tue, 23 Oct 2012 05:38:18 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Wow-Rendang-Dipromosikan-Sampai-Belanda-Lho</guid>
			<description><![CDATA[<img src="http://static.republika.co.id/uploads/images/detailnews/rendang-_110911101056-656.jpg" border="0" alt="[Image: rendang-_110911101056-656.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<br />
Rendang<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia gencar mempromosikan <br />
rendang ke Belanda. Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi <br />
mengatakan survei rendang sebagai salah satu makanan terlezat di dunia <br />
membuat makanan ini berpotensi dipromosikan.<br />
<br />
Bayu menuturkan, dari 1.500 restoran lebih yang menjual masakan Asia <br />
di Eropa, 30 persen di antaranya merupakan restoran Indonesia. Kedekatan<br />
hubungan sejarah antara Indonesia dan Belanda menurutnya membuat <br />
Belanda bisa menjadi tiik awal untuk mempromosikan makanan khas Sumatra <br />
Barat tersebut ke pasar internasional.<br />
<br />
"Kita mulai dengan <br />
Belanda. Kalau rendang sudah masuk, kita lanjutkan promosi sate, nasi <br />
goreng," ujar Bayu, saat ditemui, Rabu (3/10). Pemerintah, kata Bayu <br />
juga akan mempromosikan UKM yang membuat bumbu-bumbu kemasan ke Belanda.<br />
<br />
Selain Belanda, Indonesia juga melirik Afrika Selatan dan Hongkong. <br />
Di Afrika Selatan, terdapat 1,5 juta penduduk keturunan Indonesia. Jika <br />
satu saja warga membeli rendang secara rutin, angka perdagangan akan <br />
meningkat cukup signifikan<br />
<br />
Bayu mengatakan, angka investasi atau <br />
perdagangan ini mungkin tidak spektakuler, namun ia optimistis jika <br />
rendang sudah dikenal di suatu negara, akan mudah untuk memperluas <br />
jaringan di negara sekitarnya.<br />
<br />
Bisnis pangan olahan di Indonesia <br />
memiliki potensi sekitar Rp 5.000 triliun. Sekitar Rp 1.000 triliun <br />
berasal dari skala usaha kecil dan menengah. Selain redang yang <br />
dipromosikan ke Belanda, pecel Indonesia juga sudah dipromosikan hingga <br />
ke Australia.<br />
<br />
Untuk terus mengembangkan kuliner daerah, Kementerian Perdagangan <br />
memberikan penghargaan bagi pelaku UKM yang melakukan berbagai inovasi. <br />
Penghargaan dalam bentuk UKM Pangan Award ini diberikan untuk memotivasi<br />
para pelaku UKM di bidang kuliner agar mampu mengembangkan <br />
kreativitasnya terhadap produk pangan yang bersumber dari tradisi dan <br />
budaya bangsa Indonesia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<img src="http://static.republika.co.id/uploads/images/detailnews/rendang-_110911101056-656.jpg" border="0" alt="[Image: rendang-_110911101056-656.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<br />
Rendang<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia gencar mempromosikan <br />
rendang ke Belanda. Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi <br />
mengatakan survei rendang sebagai salah satu makanan terlezat di dunia <br />
membuat makanan ini berpotensi dipromosikan.<br />
<br />
Bayu menuturkan, dari 1.500 restoran lebih yang menjual masakan Asia <br />
di Eropa, 30 persen di antaranya merupakan restoran Indonesia. Kedekatan<br />
hubungan sejarah antara Indonesia dan Belanda menurutnya membuat <br />
Belanda bisa menjadi tiik awal untuk mempromosikan makanan khas Sumatra <br />
Barat tersebut ke pasar internasional.<br />
<br />
"Kita mulai dengan <br />
Belanda. Kalau rendang sudah masuk, kita lanjutkan promosi sate, nasi <br />
goreng," ujar Bayu, saat ditemui, Rabu (3/10). Pemerintah, kata Bayu <br />
juga akan mempromosikan UKM yang membuat bumbu-bumbu kemasan ke Belanda.<br />
<br />
Selain Belanda, Indonesia juga melirik Afrika Selatan dan Hongkong. <br />
Di Afrika Selatan, terdapat 1,5 juta penduduk keturunan Indonesia. Jika <br />
satu saja warga membeli rendang secara rutin, angka perdagangan akan <br />
meningkat cukup signifikan<br />
<br />
Bayu mengatakan, angka investasi atau <br />
perdagangan ini mungkin tidak spektakuler, namun ia optimistis jika <br />
rendang sudah dikenal di suatu negara, akan mudah untuk memperluas <br />
jaringan di negara sekitarnya.<br />
<br />
Bisnis pangan olahan di Indonesia <br />
memiliki potensi sekitar Rp 5.000 triliun. Sekitar Rp 1.000 triliun <br />
berasal dari skala usaha kecil dan menengah. Selain redang yang <br />
dipromosikan ke Belanda, pecel Indonesia juga sudah dipromosikan hingga <br />
ke Australia.<br />
<br />
Untuk terus mengembangkan kuliner daerah, Kementerian Perdagangan <br />
memberikan penghargaan bagi pelaku UKM yang melakukan berbagai inovasi. <br />
Penghargaan dalam bentuk UKM Pangan Award ini diberikan untuk memotivasi<br />
para pelaku UKM di bidang kuliner agar mampu mengembangkan <br />
kreativitasnya terhadap produk pangan yang bersumber dari tradisi dan <br />
budaya bangsa Indonesia.]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Maskapai AirAsia Tambah Menu Nasi Padang]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Maskapai-AirAsia-Tambah-Menu-Nasi-Padang</link>
			<pubDate>Wed, 17 Oct 2012 03:00:21 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Maskapai-AirAsia-Tambah-Menu-Nasi-Padang</guid>
			<description><![CDATA[|<img src="http://assets.kompas.com/data/photo/2010/07/08/1326162620X310.JPG" border="0" alt="[Image: 1326162620X310.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/> <br />
<span style="font-weight: bold;">MAKAU, KOMPAS.com —</span> <br />
Maskapai penerbangan berbiaya hemat AirAsia senantiasa berinovasi untuk <br />
memberikan layanan terbaik. Willian Tan, Catering and In-Flight Manager<br />
AirAsia Indonesia, Rabu (17/10/2012), di Macau, China, mengatakan, <br />
AirAsia mempersembahan menu baru, yakni nasi padang Uda Ratman.<br />
Menu<br />
nasi padang Uda Ratman ini melengkapi daftar makanan yang disediakan di<br />
seluruh penerbangan AirAsia. Menu nasi padang ini menambah menu lokal <br />
dalam layanan penerbangan AirAsia, seperti halnya AirAsia Malaysia (MAA)<br />
yang sudah menyuguhkan nasi lemak Pak Nasser dan Uncle Chin's Chicken <br />
Rice.<br />
Nasi lemak Pak Nasser dan Uncle Chin's diambil dari nama dua<br />
pemimpin di maskapai penerbangan tersebut sebagai penghargaan atas <br />
dedikasinya. Nama nasi padang Uda Ratman juga diambilkan dari nama <br />
Aeronautical Advisor to CEO AirAsia Indonesia Soeratman Doerahman.<br />
Mengutip Tina Melyana dari AirAsia Indonesia, wartawan <span style="font-style: italic;">Kompas </span><span style="font-weight: bold;">Winarto Herusansono </span>melaporkan<br />
dari Makau, layanan nasi padang sudah mulai dapat dinikmati sejak <br />
Agustus 2012. Menu nasi padang dipilih sebagai bentuk kebanggaan AirAsia<br />
Indonesia terhadap kekayaan budaya dan<a href="http://ads6.kompasads.com/new/www/delivery/ck.php?oaparams=2__bannerid=9541__zoneid=0__cb=%7Brandom%7D__oadest=http://www.urbanesia.com//" rel="nofollow" target="_blank"> kuliner</a> Nusantara.<br />
Nasi<br />
padang, makanan khas berasal dari Minangkabau, Provinsi Sumatera Barat,<br />
ini disajikan lengkap dengan daging rendang, daun singkong rebus, <br />
sambal hijau, teri balado, dan kerupuk udang. Nasi padang ini dapat <br />
dipesan secara <span style="font-style: italic;">online</span> di <a href="http://www.airasia.com" rel="nofollow" target="_blank">www.airasia.com</a> dengan harga Rp 36.200.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[|<img src="http://assets.kompas.com/data/photo/2010/07/08/1326162620X310.JPG" border="0" alt="[Image: 1326162620X310.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/> <br />
<span style="font-weight: bold;">MAKAU, KOMPAS.com —</span> <br />
Maskapai penerbangan berbiaya hemat AirAsia senantiasa berinovasi untuk <br />
memberikan layanan terbaik. Willian Tan, Catering and In-Flight Manager<br />
AirAsia Indonesia, Rabu (17/10/2012), di Macau, China, mengatakan, <br />
AirAsia mempersembahan menu baru, yakni nasi padang Uda Ratman.<br />
Menu<br />
nasi padang Uda Ratman ini melengkapi daftar makanan yang disediakan di<br />
seluruh penerbangan AirAsia. Menu nasi padang ini menambah menu lokal <br />
dalam layanan penerbangan AirAsia, seperti halnya AirAsia Malaysia (MAA)<br />
yang sudah menyuguhkan nasi lemak Pak Nasser dan Uncle Chin's Chicken <br />
Rice.<br />
Nasi lemak Pak Nasser dan Uncle Chin's diambil dari nama dua<br />
pemimpin di maskapai penerbangan tersebut sebagai penghargaan atas <br />
dedikasinya. Nama nasi padang Uda Ratman juga diambilkan dari nama <br />
Aeronautical Advisor to CEO AirAsia Indonesia Soeratman Doerahman.<br />
Mengutip Tina Melyana dari AirAsia Indonesia, wartawan <span style="font-style: italic;">Kompas </span><span style="font-weight: bold;">Winarto Herusansono </span>melaporkan<br />
dari Makau, layanan nasi padang sudah mulai dapat dinikmati sejak <br />
Agustus 2012. Menu nasi padang dipilih sebagai bentuk kebanggaan AirAsia<br />
Indonesia terhadap kekayaan budaya dan<a href="http://ads6.kompasads.com/new/www/delivery/ck.php?oaparams=2__bannerid=9541__zoneid=0__cb=%7Brandom%7D__oadest=http://www.urbanesia.com//" rel="nofollow" target="_blank"> kuliner</a> Nusantara.<br />
Nasi<br />
padang, makanan khas berasal dari Minangkabau, Provinsi Sumatera Barat,<br />
ini disajikan lengkap dengan daging rendang, daun singkong rebus, <br />
sambal hijau, teri balado, dan kerupuk udang. Nasi padang ini dapat <br />
dipesan secara <span style="font-style: italic;">online</span> di <a href="http://www.airasia.com" rel="nofollow" target="_blank">www.airasia.com</a> dengan harga Rp 36.200.]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Lamak Bana! 4 Kuliner Wajib Saat ke Minangkabau]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Lamak-Bana-4-Kuliner-Wajib-Saat-ke-Minangkabau</link>
			<pubDate>Tue, 09 Oct 2012 03:57:42 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Lamak-Bana-4-Kuliner-Wajib-Saat-ke-Minangkabau</guid>
			<description><![CDATA[<img src="http://www.albiouna.com/images/stories/120235_kulinerpadang1.jpg" border="0" alt="[Image: 120235_kulinerpadang1.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><span style="font-weight: bold;">Padang</span><br />
- Traveling ke Sumatera Barat tak lengkap tanpa wisata kuliner. Inilah 4<br />
kuliner yang wajib Anda cicipi sebelum pulang ke kota asal. Buktikan <br />
sendiri ketenaran masakan Padang yang mendunia!<br />
<br />
	<br />
<br />
	Salah satu hal yang paling identik dengan Sumatera Barat adalah <br />
kulinernya yang banyak orang menyebutnya masakan Padang. Kenikmatannya <br />
sudah tak diragukan lagi. Tak heran, restoran masakan Padang tersebar di<br />
seluruh pelosok negeri bahkan mancanegara!<br />
<br />
	<br />
<br />
	Kuliner lezat Padang, lebih dari sekadar rendang. Inilah 4 kuliner <br />
wajib yang harus Anda cicipi saat traveling ke Ranah Minang, dihimpun <br />
detikTravel, Kamis (27/9/2012):<br />
<br />
	<br />
<br />
	<span style="font-weight: bold;">1. Nasi Kapau, Bukittinggi</span><br />
<br />
	<br />
<br />
	Tak afdol rasanya ke Bukittinggi tanpa melahap Nasi Kapau. Datanglah ke<br />
Pasar Bawah atau Pasar Lereng, tempat warung-warung Nasi Kapau berderet<br />
untuk Anda pilih. Di Pasar Lereng, kios makan Nasi Kapau diberi nama <br />
sesuai dengan nama pemilik kios, seperti Uni Lis dan Uni Er.<br />
<br />
	<br />
<br />
	Lauk pauk berupa gulai nangka muda, gulai daging cincang, gulai kikil, <br />
dendeng daging, rendang, gulai kepala ikan kakap, itik sambal hijau, <br />
perkedel kentang, gulai otak, usus sapi isi telur dan tahu, telur <br />
balado, dan beragam bahan lain diolah menggunakan bumbu yang kaya <br />
rempah.<br />
<br />
	<br />
<br />
	Pilih sendiri lauknya, dan nikmatilah bersama nasi putih dengan <br />
pelengkap kol rebus, rebung muda, kacang panjang, dan sayur pakis. <br />
Masing-masing lauk ditempatkan dalam wadah besar, dengan sendok <br />
bertangkai panjang untuk memudahkan penjual saat mengambil makanan.<br />
<br />
	<br />
<br />
	Serunya lagi, walaupun hanya memesan satu jenis lauk, penjual Nasi <br />
Kapau selalu menambahkan bumbu-bumbu dari masakan lain untuk memperkaya <br />
rasa. Satu porsi berkisar antara Rp 10.000-20.000, tergantung lauk pauk <br />
yang Anda pilih.<br />
<br />
	<br />
<br />
	<span style="font-weight: bold;">2. Sate Mak Syukur, Padang Panjang</span><br />
<br />
	<br />
<br />
	Di mana Anda bisa mencicipi Sate Padang paling terkenal di Ranah <br />
Minang? Jawabannya adalah warung Sate Mak Syukur di Padang Panjang. Dulu<br />
sekitar tahun 1941, Mak Syukur adalah penjaja sate padang keliling di <br />
kawasan tersebut. Sekarang, para keturunannya siap melayani Anda saat <br />
singgah Jalan Sutan Syahrir Silaing Bawah.<br />
<br />
	<br />
<br />
	Yang membuat Sate Mak Syukur terkenal tentu saja kenikmatannya. Daging <br />
atau bagian dalam sapi seperti jantung, lidah, dan usus diiris <br />
besar-besar, ditusuk dan disajikan bersama potongan ketupat, lalu <br />
disiram kuah kuning kental. Kuah Sate Padang yang berwarna kuning <br />
seperti ini adalah khas Padang Panjang. Di Kota Padang, warna kuahnya <br />
sedikit merah sedangkan di Sawahlunto dominan berwarna cokelat.<br />
<br />
	<br />
<br />
	Selain kesempurnaan kuah kentalnya, kenikmatan Sate Mak Syukur ini juga<br />
berasal dari kualitas dagingnya. Sapi yang dipilih adalah yang <br />
diternakkan di Padang Panjang. Udara sejuk dan bersih khas kawasan <br />
tersebut memengaruhi kondisi sapi, serta pakan yang dimakannya. Hal <br />
inilah yang menentukan kualitas daging sapi di Sate Mak Syukur.<br />
<br />
	<br />
<br />
	Menikmati Sate Mak Syukur berbeda dari Sate Padang lainnya. Saat masuk,<br />
Anda akan diberi satu piring berisi ketupat yang sudah dipotong-potong.<br />
Kuah sate bisa diambil sepuasnya. Sementara satenya, disajikan <br />
banyak-banyak di depan mata untuk dipilih sendiri. Kalau sudah begini, <br />
lupakan sejenak kolesterol dan makanlah sampai puas!<br />
<br />
	<br />
<br />
	Saking enaknya, Presiden RI Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) selalu <br />
menyempatkan diri makan di tempat ini saat berkunjung ke Sumatera Barat.<br />
Di kasir, terdapat foto SBY dan Ibu Ani Yudhoyono sedang berpose saat <br />
menikmati sate ini!<br />
<br />
	<br />
<br />
	<span style="font-weight: bold;">3. Teh Talua, Bukittinggi</span><br />
<br />
	<br />
<br />
	Apa rasanya teh kalau dicampur telur? Inilah Teh Talua, minuman khas <br />
Sumatera Barat yang bisa ditemukan di Sawahlunto dan Bukittinggi. Namun,<br />
Bukittinggi jadi tempat paling asyik untuk menikmati teh penghangat <br />
tubuh ini. Datanglah ke sekitar Jam Gadang dan hampirilah warung tenda <br />
di pinggir jalan.<br />
<br />
	<br />
<br />
	Setelah memesan Teh Talua, Anda bisa melihat sendiri proses <br />
pembuatannya. Telur mentah -biasanya telur ayam atau telur itik- dikocok<br />
langsung di gelas. Setelah itu dituang teh, lalu ditambahkan gula dan <br />
kayu manis sebagai perasa. Setelah dikocok, Teh Talua pun disajikan <br />
dengan potongan jeruk nipis. Ada pula opsi Teh Talua yang ditambah <br />
potongan pinang. Rasanya semakin manis!<br />
<br />
	<br />
<br />
	Aromanya sungguh wangi, tak tercium sedikit pun bau amis. Slurpppp.. <br />
Rasanya pun sungguh nikmat dengan rasa kayu manis yang dominan. Cukup Rp<br />
6.000-10.000 saja, Anda bisa menikmati segelas Teh Talua.<br />
<br />
	<br />
<br />
	<span style="font-weight: bold;">4. Itiak Lado Mudo, Bukittinggi</span><br />
<br />
	<br />
<br />
	Satu lagi kuliner khas kota sejuk Bukittinggi. Bayangkan betapa <br />
nikmatnya bebek muda yang direndam kuah cabai hijau. daging bebek yang <br />
empuk terasa sangat nikmat berpadu dengan bumbu yang sedikit pedas. <br />
Inilah Itik Lado Mudo, yang bisa ditemukan di Warung Itiak Lado Mudo <br />
dekat Ngarai Sianok.<br />
<br />
	<br />
<br />
	Datanglah ke warung ini dari siang menuju malam. Warga lokal dan <br />
wisatawan berbondong-bondong mencicipi Itiak Lado Mudo yang terkenal <br />
nikmat. Seporsi Itiak Lado Mudo plus nasi dibandrol Rp 25.000. Cukup <br />
mahal, namun harganya sepadan dengan kenikmatannya. Nyam!<br />
sumber : <a href="http://www.albiouna.com/pariwisata-dan-kuliner/lamak-bana-4-kuliner-wajib-saat-ke-minangkabau" rel="nofollow" target="_blank">http://www.albiouna.com/pariwisata-dan-k...inangkabau</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<img src="http://www.albiouna.com/images/stories/120235_kulinerpadang1.jpg" border="0" alt="[Image: 120235_kulinerpadang1.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><span style="font-weight: bold;">Padang</span><br />
- Traveling ke Sumatera Barat tak lengkap tanpa wisata kuliner. Inilah 4<br />
kuliner yang wajib Anda cicipi sebelum pulang ke kota asal. Buktikan <br />
sendiri ketenaran masakan Padang yang mendunia!<br />
<br />
	<br />
<br />
	Salah satu hal yang paling identik dengan Sumatera Barat adalah <br />
kulinernya yang banyak orang menyebutnya masakan Padang. Kenikmatannya <br />
sudah tak diragukan lagi. Tak heran, restoran masakan Padang tersebar di<br />
seluruh pelosok negeri bahkan mancanegara!<br />
<br />
	<br />
<br />
	Kuliner lezat Padang, lebih dari sekadar rendang. Inilah 4 kuliner <br />
wajib yang harus Anda cicipi saat traveling ke Ranah Minang, dihimpun <br />
detikTravel, Kamis (27/9/2012):<br />
<br />
	<br />
<br />
	<span style="font-weight: bold;">1. Nasi Kapau, Bukittinggi</span><br />
<br />
	<br />
<br />
	Tak afdol rasanya ke Bukittinggi tanpa melahap Nasi Kapau. Datanglah ke<br />
Pasar Bawah atau Pasar Lereng, tempat warung-warung Nasi Kapau berderet<br />
untuk Anda pilih. Di Pasar Lereng, kios makan Nasi Kapau diberi nama <br />
sesuai dengan nama pemilik kios, seperti Uni Lis dan Uni Er.<br />
<br />
	<br />
<br />
	Lauk pauk berupa gulai nangka muda, gulai daging cincang, gulai kikil, <br />
dendeng daging, rendang, gulai kepala ikan kakap, itik sambal hijau, <br />
perkedel kentang, gulai otak, usus sapi isi telur dan tahu, telur <br />
balado, dan beragam bahan lain diolah menggunakan bumbu yang kaya <br />
rempah.<br />
<br />
	<br />
<br />
	Pilih sendiri lauknya, dan nikmatilah bersama nasi putih dengan <br />
pelengkap kol rebus, rebung muda, kacang panjang, dan sayur pakis. <br />
Masing-masing lauk ditempatkan dalam wadah besar, dengan sendok <br />
bertangkai panjang untuk memudahkan penjual saat mengambil makanan.<br />
<br />
	<br />
<br />
	Serunya lagi, walaupun hanya memesan satu jenis lauk, penjual Nasi <br />
Kapau selalu menambahkan bumbu-bumbu dari masakan lain untuk memperkaya <br />
rasa. Satu porsi berkisar antara Rp 10.000-20.000, tergantung lauk pauk <br />
yang Anda pilih.<br />
<br />
	<br />
<br />
	<span style="font-weight: bold;">2. Sate Mak Syukur, Padang Panjang</span><br />
<br />
	<br />
<br />
	Di mana Anda bisa mencicipi Sate Padang paling terkenal di Ranah <br />
Minang? Jawabannya adalah warung Sate Mak Syukur di Padang Panjang. Dulu<br />
sekitar tahun 1941, Mak Syukur adalah penjaja sate padang keliling di <br />
kawasan tersebut. Sekarang, para keturunannya siap melayani Anda saat <br />
singgah Jalan Sutan Syahrir Silaing Bawah.<br />
<br />
	<br />
<br />
	Yang membuat Sate Mak Syukur terkenal tentu saja kenikmatannya. Daging <br />
atau bagian dalam sapi seperti jantung, lidah, dan usus diiris <br />
besar-besar, ditusuk dan disajikan bersama potongan ketupat, lalu <br />
disiram kuah kuning kental. Kuah Sate Padang yang berwarna kuning <br />
seperti ini adalah khas Padang Panjang. Di Kota Padang, warna kuahnya <br />
sedikit merah sedangkan di Sawahlunto dominan berwarna cokelat.<br />
<br />
	<br />
<br />
	Selain kesempurnaan kuah kentalnya, kenikmatan Sate Mak Syukur ini juga<br />
berasal dari kualitas dagingnya. Sapi yang dipilih adalah yang <br />
diternakkan di Padang Panjang. Udara sejuk dan bersih khas kawasan <br />
tersebut memengaruhi kondisi sapi, serta pakan yang dimakannya. Hal <br />
inilah yang menentukan kualitas daging sapi di Sate Mak Syukur.<br />
<br />
	<br />
<br />
	Menikmati Sate Mak Syukur berbeda dari Sate Padang lainnya. Saat masuk,<br />
Anda akan diberi satu piring berisi ketupat yang sudah dipotong-potong.<br />
Kuah sate bisa diambil sepuasnya. Sementara satenya, disajikan <br />
banyak-banyak di depan mata untuk dipilih sendiri. Kalau sudah begini, <br />
lupakan sejenak kolesterol dan makanlah sampai puas!<br />
<br />
	<br />
<br />
	Saking enaknya, Presiden RI Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) selalu <br />
menyempatkan diri makan di tempat ini saat berkunjung ke Sumatera Barat.<br />
Di kasir, terdapat foto SBY dan Ibu Ani Yudhoyono sedang berpose saat <br />
menikmati sate ini!<br />
<br />
	<br />
<br />
	<span style="font-weight: bold;">3. Teh Talua, Bukittinggi</span><br />
<br />
	<br />
<br />
	Apa rasanya teh kalau dicampur telur? Inilah Teh Talua, minuman khas <br />
Sumatera Barat yang bisa ditemukan di Sawahlunto dan Bukittinggi. Namun,<br />
Bukittinggi jadi tempat paling asyik untuk menikmati teh penghangat <br />
tubuh ini. Datanglah ke sekitar Jam Gadang dan hampirilah warung tenda <br />
di pinggir jalan.<br />
<br />
	<br />
<br />
	Setelah memesan Teh Talua, Anda bisa melihat sendiri proses <br />
pembuatannya. Telur mentah -biasanya telur ayam atau telur itik- dikocok<br />
langsung di gelas. Setelah itu dituang teh, lalu ditambahkan gula dan <br />
kayu manis sebagai perasa. Setelah dikocok, Teh Talua pun disajikan <br />
dengan potongan jeruk nipis. Ada pula opsi Teh Talua yang ditambah <br />
potongan pinang. Rasanya semakin manis!<br />
<br />
	<br />
<br />
	Aromanya sungguh wangi, tak tercium sedikit pun bau amis. Slurpppp.. <br />
Rasanya pun sungguh nikmat dengan rasa kayu manis yang dominan. Cukup Rp<br />
6.000-10.000 saja, Anda bisa menikmati segelas Teh Talua.<br />
<br />
	<br />
<br />
	<span style="font-weight: bold;">4. Itiak Lado Mudo, Bukittinggi</span><br />
<br />
	<br />
<br />
	Satu lagi kuliner khas kota sejuk Bukittinggi. Bayangkan betapa <br />
nikmatnya bebek muda yang direndam kuah cabai hijau. daging bebek yang <br />
empuk terasa sangat nikmat berpadu dengan bumbu yang sedikit pedas. <br />
Inilah Itik Lado Mudo, yang bisa ditemukan di Warung Itiak Lado Mudo <br />
dekat Ngarai Sianok.<br />
<br />
	<br />
<br />
	Datanglah ke warung ini dari siang menuju malam. Warga lokal dan <br />
wisatawan berbondong-bondong mencicipi Itiak Lado Mudo yang terkenal <br />
nikmat. Seporsi Itiak Lado Mudo plus nasi dibandrol Rp 25.000. Cukup <br />
mahal, namun harganya sepadan dengan kenikmatannya. Nyam!<br />
sumber : <a href="http://www.albiouna.com/pariwisata-dan-kuliner/lamak-bana-4-kuliner-wajib-saat-ke-minangkabau" rel="nofollow" target="_blank">http://www.albiouna.com/pariwisata-dan-k...inangkabau</a>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Masakan Padang Sentuhan China...]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Masakan-Padang-Sentuhan-China</link>
			<pubDate>Tue, 02 Oct 2012 04:50:15 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Masakan-Padang-Sentuhan-China</guid>
			<description><![CDATA[<img src="http://assets.kompas.com/data/photo/2011/03/07/2030455620X310.jpg" border="0" alt="[Image: 2030455620X310.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/>YUDI/DOYANMAKAN.COMAyam goreng di Pondok Djaya.<br />
Foto:<br />
<span style="font-weight: bold;">KOMPAS.com</span> - Sederhana dan kuno, itulah kesan saya ketika pertama kali sampai di Pondok Djaya. Sebuah rumah<a href="http://ads6.kompasads.com/new/www/delivery/ck.php?oaparams=2__bannerid=9541__zoneid=0__cb=%7Brandom%7D__oadest=http://www.urbanesia.com//" rel="nofollow" target="_blank"> makan</a> zaman dulu yang berkesan sangat sederhana, tapi teman saya<span style="font-style: italic;"> keukeuh</span><br />
untuk mengajak saya makan disini. Katanya ayam gorengnya enak sekali. <br />
Saya pun semakin penasaran untuk mencicipi kelezatan makanannya. <br />
Tempatnya sih sangat biasa, sebuah rumah makan di Jalan Hayam Wuruk <br />
dengan gaya zaman dulu, begitu pula dengan meja kursinya dan disini juga<br />
hanya menggunakan kipas angin yang dipasang di atap yang cukup tinggi, <br />
ciri khas bangunan jaman dulu.<br />
Dan ternyata menu makanan yang ditawarkan disini adalah masakan khas Padang/Minang dengan sentuhan khas<a href="http://ads6.kompasads.com/new/www/delivery/ck.php?oaparams=2__bannerid=9541__zoneid=0__cb=%7Brandom%7D__oadest=http://www.urbanesia.com//" rel="nofollow" target="_blank"> kuliner</a><br />
China, hmm... menarik kan? Pasalnya, pemiliknya, Bapak Sofyan keturunan<br />
Tionghoa, dan beliau sudah merintis usaha Pondok Djaya ini sejak tahun <br />
1969.<br />
Begitu saya duduk, pelayannya langsung menawarkan untuk <br />
menyajikan berbagai menunya di meja. Saat itu ada beberapa keluarga <br />
sedang menikmati hidangan mereka dengan lahap dan ada juga sekelompok <br />
anak muda yang sedang asik bercengkerama sambil menikmati sepiring ayam <br />
goreng di mejanya.<br />
Menurut teman saya, ayam goreng disini enak <br />
sekali meskipun hanya Ayam Goreng biasa dan minimalis. He-he... seperti <br />
gaya rumah aja ya minimalis. Kami langsung pesan empat potong ayam <br />
goreng tersebut dan harus menunggu sekitar beberapa menit karena mereka <br />
baru menggoreng ayamnya berdasarkan pesanan. Sedangkan menu-menu yang <br />
lain sudah tersaji rapi di meja kami. Ada udang, gulai otak, sambal ijo,<br />
rendang, acar timun yang di tempatkan di piring-piring kecil. Tapi yang<br />
sangat kami tunggu-tunggu adalah ayam gorengnya.<br />
Tidak lama <br />
kemudian ayam goreng kami datang. Owww.. pantas saja teman saya <br />
menjulukinya Ayam Goreng Minimalis, karena memang dari penampilannya <br />
sangat simple dan minimalis, tanpa ada bumbu serundeng, kremesan atau <br />
bumbu yang lainnya, ukuran per potongnya pun kecil sesuai dengan selera <br />
saya, ayam yang berukuran kecil he-he...<br />
Langsung saja saya ambil <br />
sepotong dan mencicipinya, Wuih... rasanya luar biasa, enak sekali. <br />
Daging ayamnya sangat lezat, bumbunya meresap sampai kedalam dan yang <br />
paling saya suka adalah karena ini digoreng sampai sangat kering dan <br />
anda bisa menikmati kelezatannya hingga ke tulang-tulangnya.<br />
He-he...<br />
bisa Anda bayangkan kan kelezatannya jika kita bisa menikmati sebuah <br />
ayam goreng hingga ke tulang-tulangnya. Ini enak sekali menurut saya, <br />
bahkan karena terlena dengan rasanya... tidak terasa sepiring nasi putih<br />
hampir habis saya santap dengan ayam goreng ini. Kelezatan yang sangat <br />
luar biasa dari sebuah kesederhanaan Ayam Goreng Minimalis. Anda harus <br />
mencobanya.<br />
Saya juga mencoba menu yang lain seperti rendang, <br />
sambal ijo dan udangnya. Ini juga enak, sangat layak sekali untuk anda <br />
coba. Tidak heran rumah makan ini bisa bertahan begitu lama, karena <br />
memang rasanya sangat enak. Tempat boleh sederhana, tapi jangan ragukan <br />
kelezatannya. <span style="font-weight: bold;">(Ita)</span><br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Sumber :</span><br />
<a href="http://www.doyanmakan.com" rel="nofollow" target="_blank">www.doyanmakan.com</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<img src="http://assets.kompas.com/data/photo/2011/03/07/2030455620X310.jpg" border="0" alt="[Image: 2030455620X310.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/>YUDI/DOYANMAKAN.COMAyam goreng di Pondok Djaya.<br />
Foto:<br />
<span style="font-weight: bold;">KOMPAS.com</span> - Sederhana dan kuno, itulah kesan saya ketika pertama kali sampai di Pondok Djaya. Sebuah rumah<a href="http://ads6.kompasads.com/new/www/delivery/ck.php?oaparams=2__bannerid=9541__zoneid=0__cb=%7Brandom%7D__oadest=http://www.urbanesia.com//" rel="nofollow" target="_blank"> makan</a> zaman dulu yang berkesan sangat sederhana, tapi teman saya<span style="font-style: italic;"> keukeuh</span><br />
untuk mengajak saya makan disini. Katanya ayam gorengnya enak sekali. <br />
Saya pun semakin penasaran untuk mencicipi kelezatan makanannya. <br />
Tempatnya sih sangat biasa, sebuah rumah makan di Jalan Hayam Wuruk <br />
dengan gaya zaman dulu, begitu pula dengan meja kursinya dan disini juga<br />
hanya menggunakan kipas angin yang dipasang di atap yang cukup tinggi, <br />
ciri khas bangunan jaman dulu.<br />
Dan ternyata menu makanan yang ditawarkan disini adalah masakan khas Padang/Minang dengan sentuhan khas<a href="http://ads6.kompasads.com/new/www/delivery/ck.php?oaparams=2__bannerid=9541__zoneid=0__cb=%7Brandom%7D__oadest=http://www.urbanesia.com//" rel="nofollow" target="_blank"> kuliner</a><br />
China, hmm... menarik kan? Pasalnya, pemiliknya, Bapak Sofyan keturunan<br />
Tionghoa, dan beliau sudah merintis usaha Pondok Djaya ini sejak tahun <br />
1969.<br />
Begitu saya duduk, pelayannya langsung menawarkan untuk <br />
menyajikan berbagai menunya di meja. Saat itu ada beberapa keluarga <br />
sedang menikmati hidangan mereka dengan lahap dan ada juga sekelompok <br />
anak muda yang sedang asik bercengkerama sambil menikmati sepiring ayam <br />
goreng di mejanya.<br />
Menurut teman saya, ayam goreng disini enak <br />
sekali meskipun hanya Ayam Goreng biasa dan minimalis. He-he... seperti <br />
gaya rumah aja ya minimalis. Kami langsung pesan empat potong ayam <br />
goreng tersebut dan harus menunggu sekitar beberapa menit karena mereka <br />
baru menggoreng ayamnya berdasarkan pesanan. Sedangkan menu-menu yang <br />
lain sudah tersaji rapi di meja kami. Ada udang, gulai otak, sambal ijo,<br />
rendang, acar timun yang di tempatkan di piring-piring kecil. Tapi yang<br />
sangat kami tunggu-tunggu adalah ayam gorengnya.<br />
Tidak lama <br />
kemudian ayam goreng kami datang. Owww.. pantas saja teman saya <br />
menjulukinya Ayam Goreng Minimalis, karena memang dari penampilannya <br />
sangat simple dan minimalis, tanpa ada bumbu serundeng, kremesan atau <br />
bumbu yang lainnya, ukuran per potongnya pun kecil sesuai dengan selera <br />
saya, ayam yang berukuran kecil he-he...<br />
Langsung saja saya ambil <br />
sepotong dan mencicipinya, Wuih... rasanya luar biasa, enak sekali. <br />
Daging ayamnya sangat lezat, bumbunya meresap sampai kedalam dan yang <br />
paling saya suka adalah karena ini digoreng sampai sangat kering dan <br />
anda bisa menikmati kelezatannya hingga ke tulang-tulangnya.<br />
He-he...<br />
bisa Anda bayangkan kan kelezatannya jika kita bisa menikmati sebuah <br />
ayam goreng hingga ke tulang-tulangnya. Ini enak sekali menurut saya, <br />
bahkan karena terlena dengan rasanya... tidak terasa sepiring nasi putih<br />
hampir habis saya santap dengan ayam goreng ini. Kelezatan yang sangat <br />
luar biasa dari sebuah kesederhanaan Ayam Goreng Minimalis. Anda harus <br />
mencobanya.<br />
Saya juga mencoba menu yang lain seperti rendang, <br />
sambal ijo dan udangnya. Ini juga enak, sangat layak sekali untuk anda <br />
coba. Tidak heran rumah makan ini bisa bertahan begitu lama, karena <br />
memang rasanya sangat enak. Tempat boleh sederhana, tapi jangan ragukan <br />
kelezatannya. <span style="font-weight: bold;">(Ita)</span><br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Sumber :</span><br />
<a href="http://www.doyanmakan.com" rel="nofollow" target="_blank">www.doyanmakan.com</a>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Festival Kuliner Serpong: Minang Nan Rancak]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Festival-Kuliner-Serpong-Minang-Nan-Rancak</link>
			<pubDate>Sun, 16 Sep 2012 23:07:04 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Festival-Kuliner-Serpong-Minang-Nan-Rancak</guid>
			<description><![CDATA[<img src="http://assets.kompas.com/data/photo/2011/02/23/1031038620X310.jpg" border="0" alt="[Image: 1031038620X310.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
Dok Summarecon Agung<br />
Summarecon Mal Serpong<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">TANGERANG, KOMPAS.com</span> — <br />
Untuk kedua kalinya Summarecon Mal Serpong menggelar Festival Kuliner <br />
Serpong 2012. Festival yang bertajuk "Minang Nan Rancak" ini akan <br />
berlangsung mulai 14 September hingga 7 Oktober di parkir selatan <br />
Summarecon Mal Serpong.<br />
<br />
<br />
<div align="right"><img src="http://assets.kompas.com/data/2k10/kompascom2011/images/quote_1.gif" border="0" alt="[Image: quote_1.gif]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></div>
"Tema ini diambil karena terinspirasi keunikan <br />
kuliner Sumatera Barat, Minang Nan Rancak. Selain itu, ini juga bagian <br />
dari pelestarian sekaligus merayakan kekayaan kuliner dan ragam budaya <br />
Minangkabau yang tersohor hingga mancanegara," kata General Manager <br />
Coorporate Comunication PT Sumarecon Agung Cut Meutia di Gading Serpong,<br />
Jumat (14/9/2012) malam.<br />
Dalam festival ini, kata Meutia, <br />
pencinta kuliner dapat menikmati beragam menu makanan khas daerah Minang<br />
dan Nusantara, di antaranya sate padang Mak Syukur, lontong kacang <br />
padang Tacik Telo, rendang ASESE, martabak kubang, dan sate batibul <br />
Lakalaka. Selain itu, juga tersedia ayam goreng Indah Jaya Minang, bebek<br />
Sedap Wangi, es duren Sakinah, dan oleh-oleh khas Padang Christine <br />
Hakim.<br />
Masakan Nusantara yang juga hadir memeriahkan festival ini <br />
antara lain gado-gado Cemara 1947, sate Pasar Lama, nasi bakar Tacose, <br />
dan sate kuda Sedjati. Festival ini dibuka Senin sampai Jumat mulai <br />
pukul 16.00-pukul 22.00 dan pada Sabtu dan Minggu pukul 11.00 - pukul <br />
23.00.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<img src="http://assets.kompas.com/data/photo/2011/02/23/1031038620X310.jpg" border="0" alt="[Image: 1031038620X310.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
Dok Summarecon Agung<br />
Summarecon Mal Serpong<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">TANGERANG, KOMPAS.com</span> — <br />
Untuk kedua kalinya Summarecon Mal Serpong menggelar Festival Kuliner <br />
Serpong 2012. Festival yang bertajuk "Minang Nan Rancak" ini akan <br />
berlangsung mulai 14 September hingga 7 Oktober di parkir selatan <br />
Summarecon Mal Serpong.<br />
<br />
<br />
<div align="right"><img src="http://assets.kompas.com/data/2k10/kompascom2011/images/quote_1.gif" border="0" alt="[Image: quote_1.gif]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></div>
"Tema ini diambil karena terinspirasi keunikan <br />
kuliner Sumatera Barat, Minang Nan Rancak. Selain itu, ini juga bagian <br />
dari pelestarian sekaligus merayakan kekayaan kuliner dan ragam budaya <br />
Minangkabau yang tersohor hingga mancanegara," kata General Manager <br />
Coorporate Comunication PT Sumarecon Agung Cut Meutia di Gading Serpong,<br />
Jumat (14/9/2012) malam.<br />
Dalam festival ini, kata Meutia, <br />
pencinta kuliner dapat menikmati beragam menu makanan khas daerah Minang<br />
dan Nusantara, di antaranya sate padang Mak Syukur, lontong kacang <br />
padang Tacik Telo, rendang ASESE, martabak kubang, dan sate batibul <br />
Lakalaka. Selain itu, juga tersedia ayam goreng Indah Jaya Minang, bebek<br />
Sedap Wangi, es duren Sakinah, dan oleh-oleh khas Padang Christine <br />
Hakim.<br />
Masakan Nusantara yang juga hadir memeriahkan festival ini <br />
antara lain gado-gado Cemara 1947, sate Pasar Lama, nasi bakar Tacose, <br />
dan sate kuda Sedjati. Festival ini dibuka Senin sampai Jumat mulai <br />
pukul 16.00-pukul 22.00 dan pada Sabtu dan Minggu pukul 11.00 - pukul <br />
23.00.]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Orang Minang Suka Maco]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Orang-Minang-Suka-Maco</link>
			<pubDate>Fri, 14 Sep 2012 06:34:43 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Orang-Minang-Suka-Maco</guid>
			<description><![CDATA[<a href="http://minangel.files.wordpress.com/2012/07/orang-minang-suka-macho.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://minangel.files.wordpress.com/2012/07/orang-minang-suka-macho.jpg?w=600&#x26;h=400" border="0" alt="[Image: orang-minang-suka-macho.jpg?w=600&amp;h=400]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
 <br />
<br />
Di dalam budaya populer, macho berarti KELELAKIAN yang sejati. Namun di dalam bahasa Minang, macho punya arti lain.<br />
<br />
Di dalam bahasa Minang, macho adalah masakan IKAN, khususnya yang <br />
digoreng. Jadi kalau Anda berkunjung ke Ranah Minang, jangan heran kalau<br />
di sana banyak orang makan macho ….<br />
<br />
Seperti di dalam Ungkapan, MACHO BALADO. Ini artinya adalah ikan <br />
goreng yang diberi balado. MACHO PANGGANG, ini berarti ikan yang <br />
dipanggang untuk disantap.<br />
<br />
Kata ‘Ikan’ digunakan untuk binatang ini yang masih di air, atau <br />
masih hidup, atau pun masakan ikan yang dikuah. Jangan pernah sebut <br />
‘macho’ untuk merujuk yang masih hidup di air ini. Itu semua karena kata<br />
‘macho’ adalah hanya untuk ikan yang digoreng.<br />
<br />
Nah siapa yang ingin menikmat macho? Maka jalan-jalan lah ke Ranah Minang …..<br />
sumber : <a href="http://minangel.wordpress.com/" rel="nofollow" target="_blank">http://minangel.wordpress.com/</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://minangel.files.wordpress.com/2012/07/orang-minang-suka-macho.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://minangel.files.wordpress.com/2012/07/orang-minang-suka-macho.jpg?w=600&h=400" border="0" alt="[Image: orang-minang-suka-macho.jpg?w=600&amp;h=400]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
 <br />
<br />
Di dalam budaya populer, macho berarti KELELAKIAN yang sejati. Namun di dalam bahasa Minang, macho punya arti lain.<br />
<br />
Di dalam bahasa Minang, macho adalah masakan IKAN, khususnya yang <br />
digoreng. Jadi kalau Anda berkunjung ke Ranah Minang, jangan heran kalau<br />
di sana banyak orang makan macho ….<br />
<br />
Seperti di dalam Ungkapan, MACHO BALADO. Ini artinya adalah ikan <br />
goreng yang diberi balado. MACHO PANGGANG, ini berarti ikan yang <br />
dipanggang untuk disantap.<br />
<br />
Kata ‘Ikan’ digunakan untuk binatang ini yang masih di air, atau <br />
masih hidup, atau pun masakan ikan yang dikuah. Jangan pernah sebut <br />
‘macho’ untuk merujuk yang masih hidup di air ini. Itu semua karena kata<br />
‘macho’ adalah hanya untuk ikan yang digoreng.<br />
<br />
Nah siapa yang ingin menikmat macho? Maka jalan-jalan lah ke Ranah Minang …..<br />
sumber : <a href="http://minangel.wordpress.com/" rel="nofollow" target="_blank">http://minangel.wordpress.com/</a>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[DENDENG BATOKOK, KULINER ANDALAN SAWAHLUNTO ]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-DENDENG-BATOKOK-KULINER-ANDALAN-SAWAHLUNTO</link>
			<pubDate>Fri, 07 Sep 2012 07:09:39 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-DENDENG-BATOKOK-KULINER-ANDALAN-SAWAHLUNTO</guid>
			<description><![CDATA[<div align="center">
<span style="font-weight: bold;">Salah satu wisata kuliner di Muaro Kalaban Kota Sawahlunto</span></div>
<div align="center">
repost : indonesia-hertage.net<br />
</div>
<br />
<img src="http://indonesia-heritage.net/wp-content/uploads/et_temp/dendeng-batokok-65346_600x300.jpg" border="0" alt="[Image: dendeng-batokok-65346_600x300.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
Dendeng Batokok Khas Sawahlunto<br />
<br />
<br />
<br />
<div align="justify">
<br />
<br />
Berbicara kuliner untuk Sumatera Barat tidak ada habisnya. Mulai dari <br />
Rendang, hingga kuliner lainnya yang dipandang sangat sesuai dengan <br />
lidah orang Indonesia. Tidak salah, kalau kuliner dari Sumatera Barat <br />
sangat diminati dan digemari banyak orang.</div>
<br />
<div align="justify">
Untuk Sumatera Barat sendiri pun, punya ciri khas disetiap daerahnya. <br />
Sebut saja, Gulai Itiak (gule bebek) yang merupakan ciri khas masyarakat<br />
Payakumbuh. Begitu juga dengan Dendeng Batokok (makanan dari irisan <br />
daging sapi yang dipukul sampai lunak untuk dibumbui) yang berasal dari <br />
Kota Sawahlunto.</div>
<div align="justify">
Keunikan inilah yang mengantarkan Sumatera Barat sebagai gudangnya <br />
kuliner. Itu dibuktikan dengan menjamurnya rumah makan asal Ranah Minang<br />
yang hampir ditemukan disetiap daerah, bahkan luar negeri sekalipun. <br />
Masing-masing rumah makan juga memberikan warna hidangan yang <br />
berpariatif, sesuai dengan keunggulan yang dimiliki.</div>
<br />
<div align="justify">
Berkaitan dengan Dendeng Batokok, kuliner ini adalah ciri khas Kota <br />
Sawahlunto. Hampir disetiap rumah makan yang ada di Kota Arang ini <br />
menyajikan menu makanan yang memiliki aroma dan rasa yang special. Tak <br />
heran, kalau kuliner ini sudah identink dengan kuliner Sawahlunto yang <br />
kini sudah merambah disetiap rumah makan yang ada di Sumatera Barat.</div>
<br />
<br />
<div align="justify">
Yang mungkin perlu di perhatikan disini adalah tidak semua bagian daging<br />
cocok untuk dibuat dendeng batotok. Daging sapi yang cocok adalah <br />
bagian rump / dekat ekor dan juga bagian paha atas (sengkel).</div>
<div align="justify">
Percampuran antara daging sapi yang gurih dengan bumbu khusus dan irisan<br />
cabai yang pedas merupakan suatu perpaduan yang nikmat dan ajib. <br />
Apalagi jika di santap dengan nasi yang masih hangat. Biasanya pasangan<br />
kuliner ini dibubuhi dengan sayuran daun singkong.</div>
<br />
<div align="justify">
Jika ditelusuri, kuliner ini sudah ada sejak zaman dulunya. Namun tahun <br />
persis kapan makanan ini menjadi makanan favorit masyarakat Sawahlunto <br />
tidak diketahui. Yang pasti, jenis makanan ini menjadi andalan Kota <br />
Arang dalam hal kuliner. <span style="font-weight: bold;">(Adrial)<br />
<br />
sumber : <a href="http://palantabudaya.blogspot.com/2012/08/dendeng-batokok-kuliner-andalan.html" rel="nofollow" target="_blank">http://palantabudaya.blogspot.com/2012/0...dalan.html</a><br />
</span></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="center">
<span style="font-weight: bold;">Salah satu wisata kuliner di Muaro Kalaban Kota Sawahlunto</span></div>
<div align="center">
repost : indonesia-hertage.net<br />
</div>
<br />
<img src="http://indonesia-heritage.net/wp-content/uploads/et_temp/dendeng-batokok-65346_600x300.jpg" border="0" alt="[Image: dendeng-batokok-65346_600x300.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
Dendeng Batokok Khas Sawahlunto<br />
<br />
<br />
<br />
<div align="justify">
<br />
<br />
Berbicara kuliner untuk Sumatera Barat tidak ada habisnya. Mulai dari <br />
Rendang, hingga kuliner lainnya yang dipandang sangat sesuai dengan <br />
lidah orang Indonesia. Tidak salah, kalau kuliner dari Sumatera Barat <br />
sangat diminati dan digemari banyak orang.</div>
<br />
<div align="justify">
Untuk Sumatera Barat sendiri pun, punya ciri khas disetiap daerahnya. <br />
Sebut saja, Gulai Itiak (gule bebek) yang merupakan ciri khas masyarakat<br />
Payakumbuh. Begitu juga dengan Dendeng Batokok (makanan dari irisan <br />
daging sapi yang dipukul sampai lunak untuk dibumbui) yang berasal dari <br />
Kota Sawahlunto.</div>
<div align="justify">
Keunikan inilah yang mengantarkan Sumatera Barat sebagai gudangnya <br />
kuliner. Itu dibuktikan dengan menjamurnya rumah makan asal Ranah Minang<br />
yang hampir ditemukan disetiap daerah, bahkan luar negeri sekalipun. <br />
Masing-masing rumah makan juga memberikan warna hidangan yang <br />
berpariatif, sesuai dengan keunggulan yang dimiliki.</div>
<br />
<div align="justify">
Berkaitan dengan Dendeng Batokok, kuliner ini adalah ciri khas Kota <br />
Sawahlunto. Hampir disetiap rumah makan yang ada di Kota Arang ini <br />
menyajikan menu makanan yang memiliki aroma dan rasa yang special. Tak <br />
heran, kalau kuliner ini sudah identink dengan kuliner Sawahlunto yang <br />
kini sudah merambah disetiap rumah makan yang ada di Sumatera Barat.</div>
<br />
<br />
<div align="justify">
Yang mungkin perlu di perhatikan disini adalah tidak semua bagian daging<br />
cocok untuk dibuat dendeng batotok. Daging sapi yang cocok adalah <br />
bagian rump / dekat ekor dan juga bagian paha atas (sengkel).</div>
<div align="justify">
Percampuran antara daging sapi yang gurih dengan bumbu khusus dan irisan<br />
cabai yang pedas merupakan suatu perpaduan yang nikmat dan ajib. <br />
Apalagi jika di santap dengan nasi yang masih hangat. Biasanya pasangan<br />
kuliner ini dibubuhi dengan sayuran daun singkong.</div>
<br />
<div align="justify">
Jika ditelusuri, kuliner ini sudah ada sejak zaman dulunya. Namun tahun <br />
persis kapan makanan ini menjadi makanan favorit masyarakat Sawahlunto <br />
tidak diketahui. Yang pasti, jenis makanan ini menjadi andalan Kota <br />
Arang dalam hal kuliner. <span style="font-weight: bold;">(Adrial)<br />
<br />
sumber : <a href="http://palantabudaya.blogspot.com/2012/08/dendeng-batokok-kuliner-andalan.html" rel="nofollow" target="_blank">http://palantabudaya.blogspot.com/2012/0...dalan.html</a><br />
</span></div>]]></content:encoded>
		</item>
	</channel>
</rss>