<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
	<channel>
		<title><![CDATA[Minang Forum - Suara Konsumen]]></title>
		<link>http://www.minangforum.com/</link>
		<description><![CDATA[Minang Forum - http://www.minangforum.com]]></description>
		<pubDate>Sat, 25 May 2013 12:49:48 +0000</pubDate>
		<generator>MyBB</generator>
		<item>
			<title><![CDATA[Santap Makanan Matang Cegah Keracunan]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Santap-Makanan-Matang-Cegah-Keracunan</link>
			<pubDate>Thu, 13 Dec 2012 02:52:11 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Santap-Makanan-Matang-Cegah-Keracunan</guid>
			<description><![CDATA[Padang, (ANTARA) - Ahli mikrobiologi Fakultas Farmasi Universitas Andalas (Unand) Padang, Prof Marlina mengemukakan, perilaku menyantap makanan yang dimasak dengan sempurna dapat mencegah terjadinya keracunan.<br />
<br />
Makanan yang dimasak dengan sempurna akan memusnahkan bakteri patogen  yang ada dalam makanan tersebut karena patogen tersebut dapat mati pada suhu panas mencapai 100 derajat celcius, kata dia di Padang, Senin.<br />
<br />
         Ia mengemukakan hal itu menanggapi terjadinya kasus dugaan keracunan makanan di Kelurahan Belimbing, Kecamatan Kuranji Padang mengakibatkan  puluhan warga dirawat  setelah menyantap makanan di salah satu bofet di Pasar Belimbing.<br />
<br />
         Menurut dia,  bakteri patogen yang sering mengkontaminasi makanan yaitu bakteri Salmonella, Esherichia  coli, Vibrio parahaemolyticus, Campylobacter jejuni dan Listeria monocytogenes.<br />
<br />
         Apalagi kondisi memungkinkan,  maka bakteri tersebut  akan tumbuh dan berkembang biak pada makanan  dan bila mencapai jumlah yang cukup menyebabkan infeksi, lanjut dia yang menamatkan studi S3 di Faculty of Food Sciences and Biotechnology, Universiti Putra Malaysia.<br />
<br />
         Karena itu, kata dia, selain memasak makanan dengan sempurna juga dianjurkan menyantap langsung makanan yang telah dimasak tanpa ada waktu jeda.<br />
<br />
         Sebab, kata dia, jika makanan telah dimasak  kemudian didiamkan, ada peluang bakteri Staphylococcus aureus yang berasal dari rongga mulut, hidung dan tangan  akan mencemari makanan tersebut dan tumbuh sebagai enterotoksin, kata dia.<br />
<br />
         Ia juga  mengimbau  agar masyarakat agar teliti saat mengkonsumsi  jajanan tradisional mencegah  terjadinya keracunan makanan dengan memastikan warna,  aroma dan cita rasanya tidak berubah.<br />
<br />
         Dikatakannya, jika warna, aroma makanan dan rasanya telah berubah sebaiknya tidak dikonsumsi karena ada indikasi telah tercemar bakteri yang akan membahayakan jika dikonsumsi.<br />
<br />
         Selain itu, jika hendak membeli jajanan tradisional masyarakat harus memastikan lingkungan tempat pembuatan makanan  bersih serta dalam proses pembuatannya menggunakan bahan-bahan yang higienis, kata dia.<br />
<br />
         Lebih lanjut  Marlina mengemukakan,  saat ini keracunan makanan yang disebabkan bakteri patogen yang ada dalam makanan masih menjadi masalah serius di berbagai negara termasuk di Tanah Air.<br />
<br />
         Selain itu saat terdapat lebih dari 250 jenis penyakit yang timbul karena mengkonsumsi makanan yang tidak aman, tambah dia.(antarasumbar.com)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Padang, (ANTARA) - Ahli mikrobiologi Fakultas Farmasi Universitas Andalas (Unand) Padang, Prof Marlina mengemukakan, perilaku menyantap makanan yang dimasak dengan sempurna dapat mencegah terjadinya keracunan.<br />
<br />
Makanan yang dimasak dengan sempurna akan memusnahkan bakteri patogen  yang ada dalam makanan tersebut karena patogen tersebut dapat mati pada suhu panas mencapai 100 derajat celcius, kata dia di Padang, Senin.<br />
<br />
         Ia mengemukakan hal itu menanggapi terjadinya kasus dugaan keracunan makanan di Kelurahan Belimbing, Kecamatan Kuranji Padang mengakibatkan  puluhan warga dirawat  setelah menyantap makanan di salah satu bofet di Pasar Belimbing.<br />
<br />
         Menurut dia,  bakteri patogen yang sering mengkontaminasi makanan yaitu bakteri Salmonella, Esherichia  coli, Vibrio parahaemolyticus, Campylobacter jejuni dan Listeria monocytogenes.<br />
<br />
         Apalagi kondisi memungkinkan,  maka bakteri tersebut  akan tumbuh dan berkembang biak pada makanan  dan bila mencapai jumlah yang cukup menyebabkan infeksi, lanjut dia yang menamatkan studi S3 di Faculty of Food Sciences and Biotechnology, Universiti Putra Malaysia.<br />
<br />
         Karena itu, kata dia, selain memasak makanan dengan sempurna juga dianjurkan menyantap langsung makanan yang telah dimasak tanpa ada waktu jeda.<br />
<br />
         Sebab, kata dia, jika makanan telah dimasak  kemudian didiamkan, ada peluang bakteri Staphylococcus aureus yang berasal dari rongga mulut, hidung dan tangan  akan mencemari makanan tersebut dan tumbuh sebagai enterotoksin, kata dia.<br />
<br />
         Ia juga  mengimbau  agar masyarakat agar teliti saat mengkonsumsi  jajanan tradisional mencegah  terjadinya keracunan makanan dengan memastikan warna,  aroma dan cita rasanya tidak berubah.<br />
<br />
         Dikatakannya, jika warna, aroma makanan dan rasanya telah berubah sebaiknya tidak dikonsumsi karena ada indikasi telah tercemar bakteri yang akan membahayakan jika dikonsumsi.<br />
<br />
         Selain itu, jika hendak membeli jajanan tradisional masyarakat harus memastikan lingkungan tempat pembuatan makanan  bersih serta dalam proses pembuatannya menggunakan bahan-bahan yang higienis, kata dia.<br />
<br />
         Lebih lanjut  Marlina mengemukakan,  saat ini keracunan makanan yang disebabkan bakteri patogen yang ada dalam makanan masih menjadi masalah serius di berbagai negara termasuk di Tanah Air.<br />
<br />
         Selain itu saat terdapat lebih dari 250 jenis penyakit yang timbul karena mengkonsumsi makanan yang tidak aman, tambah dia.(antarasumbar.com)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Jilbab ala Wanita Zaman Sekarang]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Jilbab-ala-Wanita-Zaman-Sekarang</link>
			<pubDate>Tue, 11 Dec 2012 02:17:00 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Jilbab-ala-Wanita-Zaman-Sekarang</guid>
			<description><![CDATA[&lt;img src="http://padangekspres.co.id/up/nberita/09122012085039suryani.jpg" alt="Suryani " title="klik untuk memperbesar" align="left" width="280" /&gt;<br />
<div align="justify"><span style="font-weight: bold;">Dewasa</span><br />
ini, boleh dikatakan 90 persen wanita di Ranah Minang memakai jilbab. <br />
Apalagi di Kota Padang, mulai anak SD sampai SMA diwajibkan pakai jilbab<br />
ke sekolah. PNS dan guru-guru juga begitu. Di setiap kesempatan dan <br />
setiap sudut dominan ditemui perempuan berjilbab. Hanya 1-2 ditemui <br />
wanita yang tak berkerudung. Ini kebalikan dengan 10 tahun lalu. Jilbab <br />
mulai tren di kalangan wanita, sejak tahun 2.000-an. Satu persatu, <br />
wanita dewasa maupun remaja mulai mengubah penampilannya. Menutup kepala<br />
dengan jilbab dan memakai pakaian yang tertutup. Baju lengan panjang <br />
dipadu rok atau celana panjang.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Satu persatu para wanita nampaknya mulai<br />
risih jika tak berjilbab. Makanya perlahan dan pasti dari tahun ke <br />
tahun semakin banyak perempuan yang menutup auratnya. Tepatnya mengubah<br />
gaya berbusananya.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Kenapa dikatakan demikian, sebab kebanyakan tidak sesuai syariat Islam.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Menutup aurat dalam ajaran Islam, <br />
kerudung harus panjang menutup dada, baju dan rok panjang longgar serta<br />
tidak memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh. Yang tersisa hanya muka dan <br />
telapak tangan. Islam juga melarang wanita berdandan berlebihan seperti <br />
pakai <span style="font-style: italic;">make up</span> tebal dan lipstik warna mencolok. </div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Tapi kenyataan yang kita lihat, busana muslim yang dikenakan wanita apalagi remaja banyak yang jauh dari ajaran Islam.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Kebanyakan kaum hawa apalagi yang hanya <br />
ikut-ikutan tren, hanya berjilbab gaul. Berj­il­bab tapi tetap pakai <br />
baju dan celana jeans ketat. Tak jarang, atasannya kaos ketat lengan <br />
panjang dipadu celana pensil yang sangat ngepas plus jilbab gantung. <br />
Alhasil penampilan terlihat sangat ”sempurna”. Seksi abis!</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Pantas saja kaum adam ter­pan­cing dan membayangkan hal-hal negatif karena melihat pemandangan yang sangat me­ngun­dang.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Jika ditanya kepada be­be­rapa remaja <br />
yang pakai jilbab gaul, dengan enteng mereka menjawab; hanya pakaian <br />
se­perti itulah yang banyak dijual di toko atau mall.</div>
<div align="justify">Ya, ini memang sejalan de­ng­an gaya hidup modern yang ingin serba cepat dan instan.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Ditunjang kemunculan mall-mall yang mengundang kaum wanita menjadi konsumtif dan gemar <span style="font-style: italic;">shopping. Refresing</span> sembari <span style="font-style: italic;">shopping.</span></div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Dalam perjalanannya, bu­sana muslim <br />
mengalami per­kembangan yang semakin pesat. Tidak hanya di Ranah Minang <br />
yang mayoritas penduduknya muslim tapi juga di Indonesia. Hingga tak <br />
heran mode pakaian gamis pun beragam.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Jika dulu pakaian muslim identik dengan <br />
baju kurung, kini sudah me­nga­lami meta­mor­fosis. Salah sa­tu­nya <br />
kaftan yang dipo­pulerkan penyanyi pop ibukota, Syahrini. Jilbab pun tak<br />
lagi berupa kain segitia atau segi empat yang disungkupkan ke kepala. <br />
Kini popular dengan sebutan hijab, yakni gaya ber­jilbab yang dik­reasi <br />
dan dimodifikasi. </div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Wanita urban maupun so­sialita kini <br />
terlihat anggun dalam balutan busana muslimah nan mewah. Guna <br />
menonjolkan muka karena rambut sudah ditutup jilbab, tak jarang mereka <br />
berdandan menor, pakai perona pipi<span style="font-style: italic;">, eye shadow</span>, hingga lipstik warna menggoda.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Inilah tren wanita muslimah abad ini! Ada juga yang mem­bentuk komunitas untuk kum­pul-kumpul.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify"><span style="font-weight: bold;">Semua itu sah-sah saja </span></div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Tetapi akan lebih <span style="font-style: italic;">perfect</span> kalau<br />
penampilan luar serasi dengan di dalamnya. Kesadaran be­rjilbab memang <br />
dari hati ingin me­nyempurnakan iman. Hanya sa­ja masih banyak ditemui <br />
kela­ku­kan perempuan berjilbab tak se­suai dengan penampilan luar­nya. </div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Jangan heran, bila jalan-jalan ke Pantai<br />
Padang atau ke Bungus, banyak ditemui gadis berjilbab memadu kasih <br />
dengan pasangannya. Memamerkan kemesraan seperti di film atau sinetron <br />
remaja. Pernah juga wanita berjilbab digiring Satpol PP karena mesum di <br />
sebuah tempat penginapan. <span style="font-style: italic;">Nauzubil­lah­minzalik!</span></div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Kelakuan wanita berjilbab juga masih <br />
banyak yang jauh dari nilai-nilai Islami. Ironisnya, masih juga kita <br />
temui ada pe­rem­puan berjilbab tapi tidak shalat.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Idealnya, seorang wanita berjilbab <br />
mestilah memiliki sifat sopan-santun, ramah-tamah, jadi panutan dan <br />
tentu saja memahami dan mengamalkan ajaran Islam.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Andai saja semua wanita muslimah <br />
berjilbab berkelakuan seperti itu, maka akan damailah dunia ini. Masuk <br />
surgalah kaum hawa. Semoga. <span style="font-weight: bold;">(padek)</span> </div>Oleh : Suryani <br />
Wartawan Padang Ekspres]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[&lt;img src="http://padangekspres.co.id/up/nberita/09122012085039suryani.jpg" alt="Suryani " title="klik untuk memperbesar" align="left" width="280" /&gt;<br />
<div align="justify"><span style="font-weight: bold;">Dewasa</span><br />
ini, boleh dikatakan 90 persen wanita di Ranah Minang memakai jilbab. <br />
Apalagi di Kota Padang, mulai anak SD sampai SMA diwajibkan pakai jilbab<br />
ke sekolah. PNS dan guru-guru juga begitu. Di setiap kesempatan dan <br />
setiap sudut dominan ditemui perempuan berjilbab. Hanya 1-2 ditemui <br />
wanita yang tak berkerudung. Ini kebalikan dengan 10 tahun lalu. Jilbab <br />
mulai tren di kalangan wanita, sejak tahun 2.000-an. Satu persatu, <br />
wanita dewasa maupun remaja mulai mengubah penampilannya. Menutup kepala<br />
dengan jilbab dan memakai pakaian yang tertutup. Baju lengan panjang <br />
dipadu rok atau celana panjang.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Satu persatu para wanita nampaknya mulai<br />
risih jika tak berjilbab. Makanya perlahan dan pasti dari tahun ke <br />
tahun semakin banyak perempuan yang menutup auratnya. Tepatnya mengubah<br />
gaya berbusananya.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Kenapa dikatakan demikian, sebab kebanyakan tidak sesuai syariat Islam.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Menutup aurat dalam ajaran Islam, <br />
kerudung harus panjang menutup dada, baju dan rok panjang longgar serta<br />
tidak memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh. Yang tersisa hanya muka dan <br />
telapak tangan. Islam juga melarang wanita berdandan berlebihan seperti <br />
pakai <span style="font-style: italic;">make up</span> tebal dan lipstik warna mencolok. </div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Tapi kenyataan yang kita lihat, busana muslim yang dikenakan wanita apalagi remaja banyak yang jauh dari ajaran Islam.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Kebanyakan kaum hawa apalagi yang hanya <br />
ikut-ikutan tren, hanya berjilbab gaul. Berj­il­bab tapi tetap pakai <br />
baju dan celana jeans ketat. Tak jarang, atasannya kaos ketat lengan <br />
panjang dipadu celana pensil yang sangat ngepas plus jilbab gantung. <br />
Alhasil penampilan terlihat sangat ”sempurna”. Seksi abis!</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Pantas saja kaum adam ter­pan­cing dan membayangkan hal-hal negatif karena melihat pemandangan yang sangat me­ngun­dang.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Jika ditanya kepada be­be­rapa remaja <br />
yang pakai jilbab gaul, dengan enteng mereka menjawab; hanya pakaian <br />
se­perti itulah yang banyak dijual di toko atau mall.</div>
<div align="justify">Ya, ini memang sejalan de­ng­an gaya hidup modern yang ingin serba cepat dan instan.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Ditunjang kemunculan mall-mall yang mengundang kaum wanita menjadi konsumtif dan gemar <span style="font-style: italic;">shopping. Refresing</span> sembari <span style="font-style: italic;">shopping.</span></div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Dalam perjalanannya, bu­sana muslim <br />
mengalami per­kembangan yang semakin pesat. Tidak hanya di Ranah Minang <br />
yang mayoritas penduduknya muslim tapi juga di Indonesia. Hingga tak <br />
heran mode pakaian gamis pun beragam.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Jika dulu pakaian muslim identik dengan <br />
baju kurung, kini sudah me­nga­lami meta­mor­fosis. Salah sa­tu­nya <br />
kaftan yang dipo­pulerkan penyanyi pop ibukota, Syahrini. Jilbab pun tak<br />
lagi berupa kain segitia atau segi empat yang disungkupkan ke kepala. <br />
Kini popular dengan sebutan hijab, yakni gaya ber­jilbab yang dik­reasi <br />
dan dimodifikasi. </div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Wanita urban maupun so­sialita kini <br />
terlihat anggun dalam balutan busana muslimah nan mewah. Guna <br />
menonjolkan muka karena rambut sudah ditutup jilbab, tak jarang mereka <br />
berdandan menor, pakai perona pipi<span style="font-style: italic;">, eye shadow</span>, hingga lipstik warna menggoda.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Inilah tren wanita muslimah abad ini! Ada juga yang mem­bentuk komunitas untuk kum­pul-kumpul.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify"><span style="font-weight: bold;">Semua itu sah-sah saja </span></div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Tetapi akan lebih <span style="font-style: italic;">perfect</span> kalau<br />
penampilan luar serasi dengan di dalamnya. Kesadaran be­rjilbab memang <br />
dari hati ingin me­nyempurnakan iman. Hanya sa­ja masih banyak ditemui <br />
kela­ku­kan perempuan berjilbab tak se­suai dengan penampilan luar­nya. </div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Jangan heran, bila jalan-jalan ke Pantai<br />
Padang atau ke Bungus, banyak ditemui gadis berjilbab memadu kasih <br />
dengan pasangannya. Memamerkan kemesraan seperti di film atau sinetron <br />
remaja. Pernah juga wanita berjilbab digiring Satpol PP karena mesum di <br />
sebuah tempat penginapan. <span style="font-style: italic;">Nauzubil­lah­minzalik!</span></div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Kelakuan wanita berjilbab juga masih <br />
banyak yang jauh dari nilai-nilai Islami. Ironisnya, masih juga kita <br />
temui ada pe­rem­puan berjilbab tapi tidak shalat.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Idealnya, seorang wanita berjilbab <br />
mestilah memiliki sifat sopan-santun, ramah-tamah, jadi panutan dan <br />
tentu saja memahami dan mengamalkan ajaran Islam.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Andai saja semua wanita muslimah <br />
berjilbab berkelakuan seperti itu, maka akan damailah dunia ini. Masuk <br />
surgalah kaum hawa. Semoga. <span style="font-weight: bold;">(padek)</span> </div>Oleh : Suryani <br />
Wartawan Padang Ekspres]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Randai, Sebuah Kesenian Daerah Dari Minangkabau ]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Randai-Sebuah-Kesenian-Daerah-Dari-Minangkabau--19320</link>
			<pubDate>Thu, 06 Dec 2012 04:04:02 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Randai-Sebuah-Kesenian-Daerah-Dari-Minangkabau--19320</guid>
			<description><![CDATA[Randai merupakan suatu teater tradisi yang bersifat kerakyatan <br />
yang terdapat di daerah Minangkabau, Sumatera Barat. Sampai saat ini, <br />
Randai masih hidup dan bahkan berkembang serta masih digemari oleh <br />
masyarakatnya, terutama di daerah pedesaan atau di kampung-kampung. <br />
Menurut pembagian daerah di Minang disebut Negari.<br />
<br />
Teater tradisi bertolak dari sastra lisan, begitu juga Randai <br />
bertolak dari sastra lisan yang disebut: Kaba (dapat diartikan ”cerita”)<br />
BAKABA artinya bercerita. Ada dua unsur pokok yang menjadi unsur <br />
Randai:<br />
<br />
PERTAMA, unsur penceritaan, yang diceritakan adalah kaba, dan <br />
dipaparkan/disampaikan lewat gurindam, dendang dan lagu, yang sering <br />
diiringi oleh alat musik tradisional Minang, yaitu: salung, rebab, <br />
bansi, rebana, atau yang lainnya.<br />
<br />
KEDUA, unsur laku dan gerak atau tari, yang dibawakan melalui <br />
gelombang. Gerak tari yang digunakan bertolak dari gerak-gerak silat <br />
tradisi Minangkabau,<br />
<br />
dengan berbagai variasinya dalam kaitannya dengan gaya silat di masing-masing daerah.<br />
<br />
Meskipun pada dasarnya budaya yang menopang termasuk kelompok budaya <br />
etnis ”melayu”, namun budaya Minang lebih terlihat spesifiknya dibanding<br />
dengan teater tradisi lainnya di daerah Sumatra pada umumnya. Terutama <br />
sekali sangat terasa bahwa tarian Minang yang bersumber dari silat <br />
Minang, gerak-geraknya sangat spesifik. Berbeda dengan tarian ”melayu” <br />
pada umumnya.<br />
<br />
Kehidupan budaya masyarakat minagkabau, dapat tercermin dari <br />
pertunjukkan Randai, baik dialog yang diucapkan yang penuh dengan pantun<br />
dan syair serta prosa liris yang berupa untaian bait yang masing-masing<br />
bait umumnya terdiri dari empat baris, dua baris berisi sampiran, <br />
sedangkan dua lainnya berisi maksud yang sebenarnya. Dalam pertunjukkan <br />
Randai hal itu meskipun tidak terlalu ketat namun masih terasa bahwa <br />
mereka menyadari perlunya bait-bait tersebut untuk menjaga irama-irama <br />
pertunjukkan agar sesuai dengan gurindam dan dendang yang ada.<br />
<br />
Karena sifatnya yang liris, yang terikat dengan jumlah suku kata dan <br />
adanya sajak, syair, pantun, maka kaba selalu didendangkan. Didalam <br />
Randai bagian-bagian cerita yang didendangkan inilah yang disebut <br />
gurindam. Gurindam dan tari yang bersumber dari gerak silat inilah yang <br />
menjadi ciri khas Randai sebagai Teater Tradisi Minang.<br />
<br />
Cerita yang dimainkan umumnya dari kaba yang ada, yang merupakan <br />
bentuk sastra lisan di Minangkabau yang terkenal. Kaba-kaba yang populer<br />
umumnya cerita yang dihidangkan sudah dikenal oleh masyarakatnya, <br />
bahkan grup Randai sering memakai nama cerita, misalnya Grup Randai <br />
Magek Manadin, Grup Randai Anggun Nan Tongga, Grup Randai Rambun <br />
Pamenan, dan Grup Randai Gadih Rantin. Padahal semua itu adalah <br />
cerita-cerita yang populer dan digemari oleh rakyat Minang. Cerita <br />
Rakyat, dongeng, legenda, dan lain sebagainya.<br />
<br />
Pertunjukkan Randai umumnya dilakukan di alam terbuka, dalam bentuk <br />
arena dan tidak memakai panggung. Rakyat penonton dan pertunjukkan <br />
menjadi satu.<br />
<br />
Pertunjukkan Randai tidak memakai dekor, dan tidak ada batas antara <br />
pemain, penonton dan pemain musik. Karena terasa sangat akrab, mereka <br />
tahan menonton dari jam delapan malam sampai subuh pagi.<br />
<br />
Randai tumbuh benar-benar dalam lingkungan masyarakat kebanyakan, <br />
karena dalam struktur masyarakat Minang tidak membedakan golongan dalam <br />
masyarakat yang ada. Randai sekaligus menggambarkan kehidupan masyarakat<br />
sehari-hari. Sesuai dengan petatah-petitih Minangkabau yang berbunyi: <br />
”Kesenian Minang Mambusek dari Bumi dan Manitik Dari langik”.<br />
sumber : <a href="http://minangkabauku.wordpress.com/2005/06/08/randai-sebuah-kesenian-daerah-dari-minangkabau/" rel="nofollow" target="_blank">http://minangkabauku.wordpress.com/2005/...nangkabau/</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Randai merupakan suatu teater tradisi yang bersifat kerakyatan <br />
yang terdapat di daerah Minangkabau, Sumatera Barat. Sampai saat ini, <br />
Randai masih hidup dan bahkan berkembang serta masih digemari oleh <br />
masyarakatnya, terutama di daerah pedesaan atau di kampung-kampung. <br />
Menurut pembagian daerah di Minang disebut Negari.<br />
<br />
Teater tradisi bertolak dari sastra lisan, begitu juga Randai <br />
bertolak dari sastra lisan yang disebut: Kaba (dapat diartikan ”cerita”)<br />
BAKABA artinya bercerita. Ada dua unsur pokok yang menjadi unsur <br />
Randai:<br />
<br />
PERTAMA, unsur penceritaan, yang diceritakan adalah kaba, dan <br />
dipaparkan/disampaikan lewat gurindam, dendang dan lagu, yang sering <br />
diiringi oleh alat musik tradisional Minang, yaitu: salung, rebab, <br />
bansi, rebana, atau yang lainnya.<br />
<br />
KEDUA, unsur laku dan gerak atau tari, yang dibawakan melalui <br />
gelombang. Gerak tari yang digunakan bertolak dari gerak-gerak silat <br />
tradisi Minangkabau,<br />
<br />
dengan berbagai variasinya dalam kaitannya dengan gaya silat di masing-masing daerah.<br />
<br />
Meskipun pada dasarnya budaya yang menopang termasuk kelompok budaya <br />
etnis ”melayu”, namun budaya Minang lebih terlihat spesifiknya dibanding<br />
dengan teater tradisi lainnya di daerah Sumatra pada umumnya. Terutama <br />
sekali sangat terasa bahwa tarian Minang yang bersumber dari silat <br />
Minang, gerak-geraknya sangat spesifik. Berbeda dengan tarian ”melayu” <br />
pada umumnya.<br />
<br />
Kehidupan budaya masyarakat minagkabau, dapat tercermin dari <br />
pertunjukkan Randai, baik dialog yang diucapkan yang penuh dengan pantun<br />
dan syair serta prosa liris yang berupa untaian bait yang masing-masing<br />
bait umumnya terdiri dari empat baris, dua baris berisi sampiran, <br />
sedangkan dua lainnya berisi maksud yang sebenarnya. Dalam pertunjukkan <br />
Randai hal itu meskipun tidak terlalu ketat namun masih terasa bahwa <br />
mereka menyadari perlunya bait-bait tersebut untuk menjaga irama-irama <br />
pertunjukkan agar sesuai dengan gurindam dan dendang yang ada.<br />
<br />
Karena sifatnya yang liris, yang terikat dengan jumlah suku kata dan <br />
adanya sajak, syair, pantun, maka kaba selalu didendangkan. Didalam <br />
Randai bagian-bagian cerita yang didendangkan inilah yang disebut <br />
gurindam. Gurindam dan tari yang bersumber dari gerak silat inilah yang <br />
menjadi ciri khas Randai sebagai Teater Tradisi Minang.<br />
<br />
Cerita yang dimainkan umumnya dari kaba yang ada, yang merupakan <br />
bentuk sastra lisan di Minangkabau yang terkenal. Kaba-kaba yang populer<br />
umumnya cerita yang dihidangkan sudah dikenal oleh masyarakatnya, <br />
bahkan grup Randai sering memakai nama cerita, misalnya Grup Randai <br />
Magek Manadin, Grup Randai Anggun Nan Tongga, Grup Randai Rambun <br />
Pamenan, dan Grup Randai Gadih Rantin. Padahal semua itu adalah <br />
cerita-cerita yang populer dan digemari oleh rakyat Minang. Cerita <br />
Rakyat, dongeng, legenda, dan lain sebagainya.<br />
<br />
Pertunjukkan Randai umumnya dilakukan di alam terbuka, dalam bentuk <br />
arena dan tidak memakai panggung. Rakyat penonton dan pertunjukkan <br />
menjadi satu.<br />
<br />
Pertunjukkan Randai tidak memakai dekor, dan tidak ada batas antara <br />
pemain, penonton dan pemain musik. Karena terasa sangat akrab, mereka <br />
tahan menonton dari jam delapan malam sampai subuh pagi.<br />
<br />
Randai tumbuh benar-benar dalam lingkungan masyarakat kebanyakan, <br />
karena dalam struktur masyarakat Minang tidak membedakan golongan dalam <br />
masyarakat yang ada. Randai sekaligus menggambarkan kehidupan masyarakat<br />
sehari-hari. Sesuai dengan petatah-petitih Minangkabau yang berbunyi: <br />
”Kesenian Minang Mambusek dari Bumi dan Manitik Dari langik”.<br />
sumber : <a href="http://minangkabauku.wordpress.com/2005/06/08/randai-sebuah-kesenian-daerah-dari-minangkabau/" rel="nofollow" target="_blank">http://minangkabauku.wordpress.com/2005/...nangkabau/</a>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Masyarakat Sumbar Sambut Positif Rute Baru Mandala]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Masyarakat-Sumbar-Sambut-Positif-Rute-Baru-Mandala</link>
			<pubDate>Tue, 04 Dec 2012 01:54:04 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Masyarakat-Sumbar-Sambut-Positif-Rute-Baru-Mandala</guid>
			<description><![CDATA[Padang, (ANTARA) - Masyarakat Sumatera Barat <br />
menyambut positif kehadiran rute penerbangan baru yang dibuka Mandala <br />
Airlines Padang-Singapura, karena semakin memperpendek transportasi ke <br />
negara tetangga tersebut.<br />
<br />
<br />
Rute baru Mandala Airlines Padang-Singapura yang penerbangan <br />
perdana pada 1 Desember 2012, langkah positif untuk memperlancar akses <br />
transportasi kedua negara tersebut, kata Azwir Alwi penumpang Mandala <br />
Airlines, saat ditemui di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), <br />
Minggu.<br />
<br />
Menurut dia, sebelum adanya penerbangan langsung<br />
rute Padang-Singapura, jika ingin ke negara 'Singa' itu mesti melaui <br />
Batam dan menaiki kapal Batam-Singapura.<br />
<br />
Selain <br />
menghabiskan waktu cukup lama sampai waktu dua jam lebih, dan biaya yang<br />
mesti dikeluarkan juga relatif tinggi ketimbang penerbangan langsung.<br />
<br />
<br />
'Rata-rata saat situasi normal harga tiket pesawat Padang-Batam senilai<br />
Rp350 ribu, ditambah tiket kapal Batam-Singapura sebesar Rp200 ribu,' <br />
jelas Guru SMA 1 Lubuk Alung, Padang Pariaman itu.<br />
<br />
Jadi,<br />
dilihat dari sisi tiket maupun waktu cukup efesien dan efektif terbang <br />
dengan Mandala Airlines Padang-Singapura karena menawarkan tiket lebih <br />
murah dengan waktu tempuh hanya 55 menit.<br />
<br />
Menurut dia, <br />
yang tak kalah penting mesti menjadi perhatian dari manajemen Mandala <br />
ketepatan waktu, sesuai jadwal yang ditetapkan, sehingga tidak membuat <br />
penumpang kecewa.<br />
<br />
Hal senada juga disampaikan warga <br />
Bukittinggi, Dedi dibuka rute baru Mandala Airlines Padang-Singapura <br />
cukup memperpendek dan mempercepat hubungan transportasi udara kedua <br />
negara.<br />
<br />
Sebab, selama ini dari Padang atau sebaliknya <br />
selain via Batam, banyak juga penumpang pesawat melalui Jakarta, tentu <br />
dilihat soal waktu cukup lama.<br />
<br />
'Saya dan anggota <br />
keluarga lainnya domisisli di Singapura, biasanya pulang dari Singapura <br />
ke Padang melalui Jakarta, karena belum ada penerbangan langsung <br />
BIM-Changi Airport,' tutur pria yang mendapatkan tiket promo Mandala <br />
Rp25 ribu rute Padang-Singapura.<br />
<br />
Direktur Komersial <br />
Mandala Airlines, Brata Rafly menyampaikan, penerbangan perdana Mandala <br />
Airlines Padang-Singapura sudah dimulai 1 Desember 2012 dan <br />
Alhamdulillah berjalan mulus dan lancar.<br />
<br />
Penerbangan <br />
perdana Mandala Airlines menggunakan pesawat Airbus A320 bernomor <br />
penerbangan RI 892 dengan waktu penerbangan 50 menit.<br />
<br />
<br />
Brata menjelaskan, dalam penerbangan perdana turut serta Presiden <br />
Direktur Mandala Airlines Paul Rombeek, dan Gubernur Sumatra Barat Irwan<br />
Prayitno bersama istri, Nevi Irwan Prayitno.<br />
<br />
Selain <br />
itu, sebanyak 123 penumpang yang diantaranya 18 orang rombongan jurnalis<br />
media cetak dan elektronik Sumatera Barat.<br />
<br />
<br />
Keberuntungan bagi penumpang penerbangan perdana Mandala, bukan saja <br />
mendapatkan tiket murah, tapi memberikan kejutan berupa 'lucky-draw' ke <br />
tiga orang penumpang untuk tiket gratis Padang-Singapura.<br />
<br />
<br />
'Kita memberikan harga promo ke penumpang Mandala sampai 5 Desember <br />
mendatang. Ke depan harga tiket Padang-Singapura mulai Rp329.900, tapi <br />
sudah menjadi komitmen tetap termurah dari lainnya,' ujarnya.<br />
<br />
<br />
Pria berdarah Minang itu, mengatakan saat ini sudah empat pesawat <br />
Airbus Mandala yang terbang melayani rute Internasional, di antaranya ke<br />
Singapura. Namun, pada tahun depan ditargetkan 14 pesawat dan sampai <br />
akhir 2012 jumlah keseluruhan 25 unit pesawat.<br />
<br />
Mandala <br />
Airlines pada Desember 2012, telah membuka empat rute baru meliputi <br />
Denpasar-Surabaya, Jakarta-Padang, dan Denpasar-Singapura, <br />
Padang-Singapura dengan armada pesawat Airbus A320 yang berkapasitas 180<br />
kursi.(antarasumbar.com)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Padang, (ANTARA) - Masyarakat Sumatera Barat <br />
menyambut positif kehadiran rute penerbangan baru yang dibuka Mandala <br />
Airlines Padang-Singapura, karena semakin memperpendek transportasi ke <br />
negara tetangga tersebut.<br />
<br />
<br />
Rute baru Mandala Airlines Padang-Singapura yang penerbangan <br />
perdana pada 1 Desember 2012, langkah positif untuk memperlancar akses <br />
transportasi kedua negara tersebut, kata Azwir Alwi penumpang Mandala <br />
Airlines, saat ditemui di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), <br />
Minggu.<br />
<br />
Menurut dia, sebelum adanya penerbangan langsung<br />
rute Padang-Singapura, jika ingin ke negara 'Singa' itu mesti melaui <br />
Batam dan menaiki kapal Batam-Singapura.<br />
<br />
Selain <br />
menghabiskan waktu cukup lama sampai waktu dua jam lebih, dan biaya yang<br />
mesti dikeluarkan juga relatif tinggi ketimbang penerbangan langsung.<br />
<br />
<br />
'Rata-rata saat situasi normal harga tiket pesawat Padang-Batam senilai<br />
Rp350 ribu, ditambah tiket kapal Batam-Singapura sebesar Rp200 ribu,' <br />
jelas Guru SMA 1 Lubuk Alung, Padang Pariaman itu.<br />
<br />
Jadi,<br />
dilihat dari sisi tiket maupun waktu cukup efesien dan efektif terbang <br />
dengan Mandala Airlines Padang-Singapura karena menawarkan tiket lebih <br />
murah dengan waktu tempuh hanya 55 menit.<br />
<br />
Menurut dia, <br />
yang tak kalah penting mesti menjadi perhatian dari manajemen Mandala <br />
ketepatan waktu, sesuai jadwal yang ditetapkan, sehingga tidak membuat <br />
penumpang kecewa.<br />
<br />
Hal senada juga disampaikan warga <br />
Bukittinggi, Dedi dibuka rute baru Mandala Airlines Padang-Singapura <br />
cukup memperpendek dan mempercepat hubungan transportasi udara kedua <br />
negara.<br />
<br />
Sebab, selama ini dari Padang atau sebaliknya <br />
selain via Batam, banyak juga penumpang pesawat melalui Jakarta, tentu <br />
dilihat soal waktu cukup lama.<br />
<br />
'Saya dan anggota <br />
keluarga lainnya domisisli di Singapura, biasanya pulang dari Singapura <br />
ke Padang melalui Jakarta, karena belum ada penerbangan langsung <br />
BIM-Changi Airport,' tutur pria yang mendapatkan tiket promo Mandala <br />
Rp25 ribu rute Padang-Singapura.<br />
<br />
Direktur Komersial <br />
Mandala Airlines, Brata Rafly menyampaikan, penerbangan perdana Mandala <br />
Airlines Padang-Singapura sudah dimulai 1 Desember 2012 dan <br />
Alhamdulillah berjalan mulus dan lancar.<br />
<br />
Penerbangan <br />
perdana Mandala Airlines menggunakan pesawat Airbus A320 bernomor <br />
penerbangan RI 892 dengan waktu penerbangan 50 menit.<br />
<br />
<br />
Brata menjelaskan, dalam penerbangan perdana turut serta Presiden <br />
Direktur Mandala Airlines Paul Rombeek, dan Gubernur Sumatra Barat Irwan<br />
Prayitno bersama istri, Nevi Irwan Prayitno.<br />
<br />
Selain <br />
itu, sebanyak 123 penumpang yang diantaranya 18 orang rombongan jurnalis<br />
media cetak dan elektronik Sumatera Barat.<br />
<br />
<br />
Keberuntungan bagi penumpang penerbangan perdana Mandala, bukan saja <br />
mendapatkan tiket murah, tapi memberikan kejutan berupa 'lucky-draw' ke <br />
tiga orang penumpang untuk tiket gratis Padang-Singapura.<br />
<br />
<br />
'Kita memberikan harga promo ke penumpang Mandala sampai 5 Desember <br />
mendatang. Ke depan harga tiket Padang-Singapura mulai Rp329.900, tapi <br />
sudah menjadi komitmen tetap termurah dari lainnya,' ujarnya.<br />
<br />
<br />
Pria berdarah Minang itu, mengatakan saat ini sudah empat pesawat <br />
Airbus Mandala yang terbang melayani rute Internasional, di antaranya ke<br />
Singapura. Namun, pada tahun depan ditargetkan 14 pesawat dan sampai <br />
akhir 2012 jumlah keseluruhan 25 unit pesawat.<br />
<br />
Mandala <br />
Airlines pada Desember 2012, telah membuka empat rute baru meliputi <br />
Denpasar-Surabaya, Jakarta-Padang, dan Denpasar-Singapura, <br />
Padang-Singapura dengan armada pesawat Airbus A320 yang berkapasitas 180<br />
kursi.(antarasumbar.com)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[ Studi dari Taiwan : Aromaterapi Membahayakan Jantung]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Studi-dari-Taiwan-Aromaterapi-Membahayakan-Jantung</link>
			<pubDate>Mon, 03 Dec 2012 05:08:23 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Studi-dari-Taiwan-Aromaterapi-Membahayakan-Jantung</guid>
			<description><![CDATA[&lt;img src="http://inioke.com//foto/berita/aromatherapy-121130.jpg" align="left" width="300" /&gt;AromaterapiAromaterapi,<br />
menurut sebuah studi baru di Taiwan, yang membawa serta uap dari minyak<br />
esensial, mungkin bermanfaat untuk jangka pendek, tapi bisa <br />
membahayakan jantung jika dihirup terlalu lama.<br />
<br />
Dalam studi tersebut, 100 pekerja spa di Taipei duduk di sebuah <br />
ruangan dan menghirup uap minyak ekstrak yang terkonsentrasi aroma <br />
citrus (jeruk) selama dua jam, sementara peneliti mengukur tekanan darah<br />
dan denyut jantung, serta tingkat organik yang mudah menguap senyawa <br />
VOC di udara. VOC adalah zat, termasuk minyak esensial, yang mudah <br />
menguap pada suhu kamar.<br />
<br />
Selama satu jam pertama, tekanan darah pekerja dan detak jantung <br />
turun. Setelah 45 menit, darah sistolik pengukuran tekanan rata-rata <br />
telah turun 2,10 mmHg, dan denyut jantung 2,21 denyut per menit. Temuan <br />
ini setuju dengan beberapa penelitian sebelumnya yang menunjukkan minyak<br />
esensial meredakan stress tetapi berpengaruh buruk pada jantung.(del/inioke)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[&lt;img src="http://inioke.com//foto/berita/aromatherapy-121130.jpg" align="left" width="300" /&gt;AromaterapiAromaterapi,<br />
menurut sebuah studi baru di Taiwan, yang membawa serta uap dari minyak<br />
esensial, mungkin bermanfaat untuk jangka pendek, tapi bisa <br />
membahayakan jantung jika dihirup terlalu lama.<br />
<br />
Dalam studi tersebut, 100 pekerja spa di Taipei duduk di sebuah <br />
ruangan dan menghirup uap minyak ekstrak yang terkonsentrasi aroma <br />
citrus (jeruk) selama dua jam, sementara peneliti mengukur tekanan darah<br />
dan denyut jantung, serta tingkat organik yang mudah menguap senyawa <br />
VOC di udara. VOC adalah zat, termasuk minyak esensial, yang mudah <br />
menguap pada suhu kamar.<br />
<br />
Selama satu jam pertama, tekanan darah pekerja dan detak jantung <br />
turun. Setelah 45 menit, darah sistolik pengukuran tekanan rata-rata <br />
telah turun 2,10 mmHg, dan denyut jantung 2,21 denyut per menit. Temuan <br />
ini setuju dengan beberapa penelitian sebelumnya yang menunjukkan minyak<br />
esensial meredakan stress tetapi berpengaruh buruk pada jantung.(del/inioke)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Obat Ilegal Beredar Luas]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Obat-Ilegal-Beredar-Luas</link>
			<pubDate>Fri, 30 Nov 2012 03:16:33 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Obat-Ilegal-Beredar-Luas</guid>
			<description><![CDATA[<div align="justify">PADANG – Masyarakat harus waspada,<br />
peredaran obat dan makanan illegal (ilegal) makin marak dan <br />
mengkhawatirkan. Salah satu yang ditemukan Balai Besar Pengawas Obat dan<br />
Makanan (BPOM) Padang, obat tradisional dan suplemen makanan yang <br />
mengandung sildenafil (obat disfungsi ereksi).<br />
<br />
“Berbagai jenis obat dan obat tradisional dan suplemen yang tersebar <br />
banyak yang tidak memiliki izin edar (TIE) dan tidak memenuhi syarat <br />
(TMS) yang ditawarkan mulai dari kios, gerobak hingga transaksi online. <br />
Ini harus diwaspadai karena banyak dampak negatif dari pemakaian atau <br />
pengunaan produk tersebut,” ujar Kepala BPOM Padang Indra Ginting kepada<br />
para wartawan, Kamis (29/11) sebelum melakukan kampanye tentang bahaya <br />
obat serta makanan ilegal.</div>
<div align="justify">Menurut Indra, tidak saja suplemen <br />
makanan yang mengandung disfungsi ereksi yang beredar di pasaran. <br />
Peredaran kosmetik ilegal juga meningkat.<br />
<br />
“Ini diakibatkan tuntutan masyarakat yang ingin cantik seketika, produk <br />
dijual murah sehingga menarik minat masyarakat tingkat menengah ke <br />
bawah, padahal produk yang dibeli belum tentu aman,” katanya.<br />
<br />
Dikatakannya, pada 2012 ada sekitar 1.500 sal produk dan 16 produk <br />
pangan ilegal yang ditemukan BPOM Padang. Barang bukti ini nantinya akan<br />
dimusnahkan di Kantor BPOM Padang yang beralamat di Jalan Gajah Mada <br />
Gunung Pangilun ini pada 10 dan 11 Desember mendatang.<br />
<br />
“Kita harap setiap stakeholder dapat terlibat dalam mengkomunikasikan, <br />
menginformasikan dan mengedukasikan tentang bahaya pengunaan obat dan <br />
makanan ilegal kepada masyarakat luas,” pungkasnya. (wahyu/singgalang)</div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">PADANG – Masyarakat harus waspada,<br />
peredaran obat dan makanan illegal (ilegal) makin marak dan <br />
mengkhawatirkan. Salah satu yang ditemukan Balai Besar Pengawas Obat dan<br />
Makanan (BPOM) Padang, obat tradisional dan suplemen makanan yang <br />
mengandung sildenafil (obat disfungsi ereksi).<br />
<br />
“Berbagai jenis obat dan obat tradisional dan suplemen yang tersebar <br />
banyak yang tidak memiliki izin edar (TIE) dan tidak memenuhi syarat <br />
(TMS) yang ditawarkan mulai dari kios, gerobak hingga transaksi online. <br />
Ini harus diwaspadai karena banyak dampak negatif dari pemakaian atau <br />
pengunaan produk tersebut,” ujar Kepala BPOM Padang Indra Ginting kepada<br />
para wartawan, Kamis (29/11) sebelum melakukan kampanye tentang bahaya <br />
obat serta makanan ilegal.</div>
<div align="justify">Menurut Indra, tidak saja suplemen <br />
makanan yang mengandung disfungsi ereksi yang beredar di pasaran. <br />
Peredaran kosmetik ilegal juga meningkat.<br />
<br />
“Ini diakibatkan tuntutan masyarakat yang ingin cantik seketika, produk <br />
dijual murah sehingga menarik minat masyarakat tingkat menengah ke <br />
bawah, padahal produk yang dibeli belum tentu aman,” katanya.<br />
<br />
Dikatakannya, pada 2012 ada sekitar 1.500 sal produk dan 16 produk <br />
pangan ilegal yang ditemukan BPOM Padang. Barang bukti ini nantinya akan<br />
dimusnahkan di Kantor BPOM Padang yang beralamat di Jalan Gajah Mada <br />
Gunung Pangilun ini pada 10 dan 11 Desember mendatang.<br />
<br />
“Kita harap setiap stakeholder dapat terlibat dalam mengkomunikasikan, <br />
menginformasikan dan mengedukasikan tentang bahaya pengunaan obat dan <br />
makanan ilegal kepada masyarakat luas,” pungkasnya. (wahyu/singgalang)</div>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Genta Budaya tak Terurus]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Genta-Budaya-tak-Terurus</link>
			<pubDate>Wed, 28 Nov 2012 06:46:28 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Genta-Budaya-tak-Terurus</guid>
			<description><![CDATA[Listrik Sekretariat LKAAM Diputus<br />
<br />
Padang, Padek—Gedung Gen­­ta Budaya, sekaligus Kantor Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sum­bar di Jalan Diponegoro, Pa­dang, tak terawat. Bahkan, sejak Senin (26/11), listrik di gedung milik Yayasan Abdullah Kamil itu sudah diputus PLN, karena menunggak selama enam bulan.<br />
<br />
 <br />
<br />
Di halaman gedung, rumput tampak meninggi, sampah ber­se­rakan. Sepintas gedung itu seperti tak bertuan. Lampu-lampu tidak terpasang lagi, kaca pintu ditutupi debu tebal.<br />
<br />
 <br />
<br />
Di dalam gedung lebih parah lagi. Suasananya seperti bangu­nan tua tak berpenghuni. Debu tebal di lantai, cat dinding me­mudar. Prasasti peresmian ge­dung oleh mantan Presiden RI Soeharto, pada tahun 1992, sudah memudar.<br />
<br />
Sekretariat LKAAM Sum­bar, LKAAM Padang, dan Bun­do Kan­duang juga tampak tak te­rawat.<br />
<br />
 <br />
<br />
Fasilitas dan aset gedung juga tak terurus. Kemarin, ada pertemuan antara LKAAM Sum­­­bar dengan tokoh adat dari Kabupaten Pasaman Barat. Ketika pengurus LKAAM akan bicara, ternyata mikrofon tidak bisa digunakan, karena listrik su­dah diputus sejak Senin (26/11).<br />
<br />
 <br />
<br />
Pantauan Padang Ekspres, gedung ini masih kokoh dan memiliki konstruksi yang kuat. Walau dihoyak gempa 30 September 2009, tidak ada tonggak yang rusak. Namun, ketika kita lihat lantai dua, kita akan lihat suasana yang memiriskan.<br />
<br />
 <br />
<br />
Betapa tidak, gedung yang pernah menjadi tempat dek­larasi Gamawan Fauzi dan Mar­lis Rahman pada tahun 2005 itu, seperti tidak pernah dihuni lagi. Tangganya saja sudah sangat kotor, apalagi kondisi lantai dan perabotan yang ada di lantai dua.<br />
<br />
 <br />
<br />
Di sana ada gedung pertun­jukan dan gedung pameran. Sayangnya, yang ada hanya kursi berserakan dan dionggok di sudut ruangan. Bungkus nasi dan rokok berserakan di sana.<br />
<br />
 <br />
<br />
Wakil Ketua Bidang Orga­nisasi LKAAM Sumbar, Yayas­par Datuk Paduko Amat menga­takan, sekretariat LKAAM ini sangat layak dipakai. “Kita me­mang sedang berupaya untuk mendapatkan kantor sekretariat sendiri, ka­rena sampai sekarang kita masih menumpang,” se­butnya, ke­marin siang (27/11).<br />
<br />
 <br />
<br />
Sudahlah tak ada lampu, kamar mandi juga tidak ada air. Untuk shalat saja harus keluar dari gedung mencari air untuk wudu. “Di daerah lain, organisasi adat sangat dihargai, diberi fasilitas yang baik. Sementara LKAAM Sumbar seperti ter­buang saja. Kalau tidak ada pengakuan seperti ini, lebih baik LKAAM ini dibubarkan saja,” ujarnya.<br />
<br />
 <br />
<br />
Dia menceritakan, gedung Genta Budaya didirikan untuk menjadi tempat kegiatan bu­daya. LKAAM ditumpangkan di sana karena LKAAM dianggap masih bergerak di bidang buda­ya. “Di sini, ada ruang pertunju­kan dan pameran. Tapi tak pernah dipa­kai. Kegiatan ke­buda­yaan justru dilaksanakan di depan (Taman Budaya, red),” jelasnya.<br />
<br />
 <br />
<br />
Pe­gawai Sekretariat LKAAM, Yani mengatakan, lis­trik sudah dua kali diputus PLN. Pertama pada tahun 2009 lalu, sekarang listrik diputus PLN hari Senin (26/11). Diungkapkannya, sebe­lum­nya ada perjanjian antara LKAAM dengan pengurus Yaya­san Adulah Kamil untuk mem­bayar listrik. LKAAM membayar sebanyak 25 persen kemudian LKAAM Padang dan Bundo Kandung membayar masing-masing 15 persen. Sementara 50 persen dibayar Yayasan. Ter­nyata sejak tahun 2009 lalu listrik dibayar oleh LKAAM sebanyak 75 persen. “Sekarang, karena Bundo Kanduang sedang tak ada uang, terpaksa kita tahan dulu situasi seperti ini,” ulasnya.<br />
<br />
 <br />
<br />
Ketika hendak dikonfirmasi wartawan, Sekretaris Yayasan Abdullah Kamil, Edi Utama, mengaku tidak bisa menjawab. “Silahkan saja tanya pada ketua Yayasan, pak Zuiyen Rais,” jawabnya singkat. (ad)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Listrik Sekretariat LKAAM Diputus<br />
<br />
Padang, Padek—Gedung Gen­­ta Budaya, sekaligus Kantor Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sum­bar di Jalan Diponegoro, Pa­dang, tak terawat. Bahkan, sejak Senin (26/11), listrik di gedung milik Yayasan Abdullah Kamil itu sudah diputus PLN, karena menunggak selama enam bulan.<br />
<br />
 <br />
<br />
Di halaman gedung, rumput tampak meninggi, sampah ber­se­rakan. Sepintas gedung itu seperti tak bertuan. Lampu-lampu tidak terpasang lagi, kaca pintu ditutupi debu tebal.<br />
<br />
 <br />
<br />
Di dalam gedung lebih parah lagi. Suasananya seperti bangu­nan tua tak berpenghuni. Debu tebal di lantai, cat dinding me­mudar. Prasasti peresmian ge­dung oleh mantan Presiden RI Soeharto, pada tahun 1992, sudah memudar.<br />
<br />
Sekretariat LKAAM Sum­bar, LKAAM Padang, dan Bun­do Kan­duang juga tampak tak te­rawat.<br />
<br />
 <br />
<br />
Fasilitas dan aset gedung juga tak terurus. Kemarin, ada pertemuan antara LKAAM Sum­­­bar dengan tokoh adat dari Kabupaten Pasaman Barat. Ketika pengurus LKAAM akan bicara, ternyata mikrofon tidak bisa digunakan, karena listrik su­dah diputus sejak Senin (26/11).<br />
<br />
 <br />
<br />
Pantauan Padang Ekspres, gedung ini masih kokoh dan memiliki konstruksi yang kuat. Walau dihoyak gempa 30 September 2009, tidak ada tonggak yang rusak. Namun, ketika kita lihat lantai dua, kita akan lihat suasana yang memiriskan.<br />
<br />
 <br />
<br />
Betapa tidak, gedung yang pernah menjadi tempat dek­larasi Gamawan Fauzi dan Mar­lis Rahman pada tahun 2005 itu, seperti tidak pernah dihuni lagi. Tangganya saja sudah sangat kotor, apalagi kondisi lantai dan perabotan yang ada di lantai dua.<br />
<br />
 <br />
<br />
Di sana ada gedung pertun­jukan dan gedung pameran. Sayangnya, yang ada hanya kursi berserakan dan dionggok di sudut ruangan. Bungkus nasi dan rokok berserakan di sana.<br />
<br />
 <br />
<br />
Wakil Ketua Bidang Orga­nisasi LKAAM Sumbar, Yayas­par Datuk Paduko Amat menga­takan, sekretariat LKAAM ini sangat layak dipakai. “Kita me­mang sedang berupaya untuk mendapatkan kantor sekretariat sendiri, ka­rena sampai sekarang kita masih menumpang,” se­butnya, ke­marin siang (27/11).<br />
<br />
 <br />
<br />
Sudahlah tak ada lampu, kamar mandi juga tidak ada air. Untuk shalat saja harus keluar dari gedung mencari air untuk wudu. “Di daerah lain, organisasi adat sangat dihargai, diberi fasilitas yang baik. Sementara LKAAM Sumbar seperti ter­buang saja. Kalau tidak ada pengakuan seperti ini, lebih baik LKAAM ini dibubarkan saja,” ujarnya.<br />
<br />
 <br />
<br />
Dia menceritakan, gedung Genta Budaya didirikan untuk menjadi tempat kegiatan bu­daya. LKAAM ditumpangkan di sana karena LKAAM dianggap masih bergerak di bidang buda­ya. “Di sini, ada ruang pertunju­kan dan pameran. Tapi tak pernah dipa­kai. Kegiatan ke­buda­yaan justru dilaksanakan di depan (Taman Budaya, red),” jelasnya.<br />
<br />
 <br />
<br />
Pe­gawai Sekretariat LKAAM, Yani mengatakan, lis­trik sudah dua kali diputus PLN. Pertama pada tahun 2009 lalu, sekarang listrik diputus PLN hari Senin (26/11). Diungkapkannya, sebe­lum­nya ada perjanjian antara LKAAM dengan pengurus Yaya­san Adulah Kamil untuk mem­bayar listrik. LKAAM membayar sebanyak 25 persen kemudian LKAAM Padang dan Bundo Kandung membayar masing-masing 15 persen. Sementara 50 persen dibayar Yayasan. Ter­nyata sejak tahun 2009 lalu listrik dibayar oleh LKAAM sebanyak 75 persen. “Sekarang, karena Bundo Kanduang sedang tak ada uang, terpaksa kita tahan dulu situasi seperti ini,” ulasnya.<br />
<br />
 <br />
<br />
Ketika hendak dikonfirmasi wartawan, Sekretaris Yayasan Abdullah Kamil, Edi Utama, mengaku tidak bisa menjawab. “Silahkan saja tanya pada ketua Yayasan, pak Zuiyen Rais,” jawabnya singkat. (ad)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Pacuan Kuda yang Makin Ditinggalkan]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Pacuan-Kuda-yang-Makin-Ditinggalkan</link>
			<pubDate>Tue, 20 Nov 2012 06:59:06 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Pacuan-Kuda-yang-Makin-Ditinggalkan</guid>
			<description><![CDATA[<span style="font-weight: bold;">&lt;img src="http://harianhaluan.com/images/stories/Berita8/201112/pacukuda.jpg" align="left" height="107" width="149" /&gt;Sebagian </span>besar<br />
masyarakat Minangkabau, khususnya yang hidup di zaman penjajahan sampai<br />
dengan era tahun 60 hingga 70-an, tentu sangat mengenal dan bahkan <br />
mencintai alek tradisional pacuan kuda. Bisa dipastikan, seluruh orang <br />
pada saat itu, sangat menanti-nanti pelaksanaan hiburan rakyat, yang <br />
oleh masyarakat dunia disebut-sebut sebagai olahraga para raja itu.<br />
<br />
Kini, alek pacuan kuda seperti nyaris menyisakan sejarah. Ringkik <br />
suara kuda jelang dilepas di box start, sejak beberapa dekade terakhir <br />
telah berganti dengan raungan suara knalpot dari garis-garis start <br />
perhelatan road race (balap sepeda motor).<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Kondisi ini bukan sekedar isapan jempol. Karena hampir sebagian besar<br />
daerah di Sumbar, khususnya yang memiliki gelanggang, sudah sangat <br />
jarang bahkan hampir tak pernah lagi menghelat iven pacu kuda. Padahal <br />
dari beberapa pengalaman daerah penyelenggara, iven tersebut terbukti <br />
mampu dalam memberikan <span style="font-style: italic;">multiplier effect</span> terhadap daerah itu sendiri.<br />
<br />
“Sampai sekarang, belum ada iven-iven yang bisa menyamai jumlah <br />
penonton pacuan kuda. Sudah jelas, dampaknya tentu sangat besar bagi <br />
daerah penyeleng­gara,” ujar salah seorang pencinta olahraga pacuan <br />
kuda, yang juga mantan pengurus Pordasi Sumbar, Taufik Hidayat alias <br />
Capaik.<br />
<br />
Selain sebagai ajang hiburan dan tontonan murah bagi rakyat, kata <br />
Capaik, dari berbagai penga­laman pelaksanaannya, alek pacu kuda juga <br />
mampu dalam menyerap tenaga kerja, menggeliatkan pereko­nomian <br />
masyarakat, serta sekaligus memberikan peluang dan berkah tersendiri <br />
bagi para peternak kuda, atau para kusir bendi khususnya.<br />
<br />
“Hemat saya, keengganan dae­rah-daerah pemilik gelanggang untuk <br />
menghelat iven pacu kuda sejak beberapa waktu terakhir ini, antara lain <br />
disebabkan populasi ternak kuda di masing-masing daerah sudah sangat <br />
menurun, bahkan nyaris mendekati punah,” pungkas Capaik.<br />
<br />
Kondisi ini jelasnya, diakibatkan miskinnya perhatian pemerintah <br />
daerah melalui dinas terkait, terutama dalam meningkatkan populasi kuda <br />
melalui proses pengem­bang biakan. Pemerintah, ujar Capaik, lebih <br />
memberikan perhatian penuh terhadap ternak lain, sehingga populasi dan <br />
pengem­bang biakan kuda menjadi terabaikan.<br />
<br />
Pada masa emasnya di tahun 1980 sampai dengan 1995, peme­rintah pusat<br />
masih terus mem­berikan perhatian penuh terhadap kelangsungan populasi <br />
kuda di berbagai daerah. Bahkan, dari bantuan berupa kuda-kuda pejan­tan<br />
dengan biaya pengawinan yang sangat terjangkau itu, manfaat ekonomi <br />
paling besar juga ikut dirasakan para peternak kuda.<br />
<br />
“Otomatis, karena pada masa itu, para peternak maupun kusir bendi, <br />
bisa dengan mudah mening­katkan populasi dan mengembang biakkan <br />
kuda-kuda mereka, untuk selanjutnya dijual kepada para penggila dan <br />
pencinta olahraga pacu kuda,” pungkas Capaik.<br />
<br />
Menurunnya populasi kuda, khususnya di Sumatera Barat, imbuh Capaik, <br />
setidaknya sudah dirasakan sejak mulai tahun 2000 silam. Sejak saat itu,<br />
pemerintah pusat tidak lagi memberikan ban­tuan bibit kuda pejantan. <br />
Ironisnya, ma­sing-masing daerah yang memiliki ge­langgang dan biang <br />
kuda-kuda be­tina, juga terlambat dalam me­lakukan proses pengem­bang <br />
biakan.<br />
<br />
“Kondisi ini harus menjadi perhatian serius pemerintah, teruta­ma <br />
bagi yang memiliki gelanggang pacuan kuda di daerah­nya. Seperti halnya <br />
di Kota Padang Panjang, yang saat ini tengah mengupayakan pendanaan dari<br />
APBD, untuk pembiayaan pengawi­nan kuda-kuda milik kusir bendi yang <br />
kurang mampu,” papar Capaik.<br />
<br />
Terpisah, H Muhammad Haris, salah seorang mantan Ren Comite Pengurus <br />
Pacuan yang terbilang aktif di era tahun 60-an, mengaku sangat prihatin <br />
melihat kondisi tersebut. Prediket Sumbar sebagai salah satu daerah <br />
penghasil ternak kuda terbaik, sangat membutuhkan pemikiran dan <br />
perhatian serius dari seluruh pihak. Hal ini bertujuan agar populasi <br />
kuda dan iven pacuan kuda bisa terus dipertahankan di Ranah Minang.<br />
<br />
“Masa emas itu harus kembali kita jemput. Pemerintah daerah bersama <br />
pihak legislatif, harus peka terhadap persoalan ini. Dengan pengawinan <br />
sekurang-kurang 30 ekor dalam setahun, diyakini populasi kuda sudah akan<br />
mening­kat signifikan sampai 5 tahun ke depan,” kata M Haris.<br />
<br />
Apapun alasannya, alek tradi­sional pacuan kuda memang harus terus <br />
dilestarikan. Upaya dalam meningkatkan populasi kuda, khususnya bagi <br />
daerah yang me­m­i­liki gelanggang, juga harus mendapat perhatian serius<br />
dari pemerintah daerah terkait. Karena ketika hal ini terabaikan, <br />
bising suara knalpot akan terus menga­lahkan ringkik suara kuda di garis<br />
<span style="font-style: italic;">start</span>. Bukan tidak mungkin, hiburan tertua di Ranah Minang ini, juga dikhawatirkan hanya akan tinggal sejarah. <span style="font-weight: bold;">(Ryan Syair/haluan)</span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span style="font-weight: bold;">&lt;img src="http://harianhaluan.com/images/stories/Berita8/201112/pacukuda.jpg" align="left" height="107" width="149" /&gt;Sebagian </span>besar<br />
masyarakat Minangkabau, khususnya yang hidup di zaman penjajahan sampai<br />
dengan era tahun 60 hingga 70-an, tentu sangat mengenal dan bahkan <br />
mencintai alek tradisional pacuan kuda. Bisa dipastikan, seluruh orang <br />
pada saat itu, sangat menanti-nanti pelaksanaan hiburan rakyat, yang <br />
oleh masyarakat dunia disebut-sebut sebagai olahraga para raja itu.<br />
<br />
Kini, alek pacuan kuda seperti nyaris menyisakan sejarah. Ringkik <br />
suara kuda jelang dilepas di box start, sejak beberapa dekade terakhir <br />
telah berganti dengan raungan suara knalpot dari garis-garis start <br />
perhelatan road race (balap sepeda motor).<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Kondisi ini bukan sekedar isapan jempol. Karena hampir sebagian besar<br />
daerah di Sumbar, khususnya yang memiliki gelanggang, sudah sangat <br />
jarang bahkan hampir tak pernah lagi menghelat iven pacu kuda. Padahal <br />
dari beberapa pengalaman daerah penyelenggara, iven tersebut terbukti <br />
mampu dalam memberikan <span style="font-style: italic;">multiplier effect</span> terhadap daerah itu sendiri.<br />
<br />
“Sampai sekarang, belum ada iven-iven yang bisa menyamai jumlah <br />
penonton pacuan kuda. Sudah jelas, dampaknya tentu sangat besar bagi <br />
daerah penyeleng­gara,” ujar salah seorang pencinta olahraga pacuan <br />
kuda, yang juga mantan pengurus Pordasi Sumbar, Taufik Hidayat alias <br />
Capaik.<br />
<br />
Selain sebagai ajang hiburan dan tontonan murah bagi rakyat, kata <br />
Capaik, dari berbagai penga­laman pelaksanaannya, alek pacu kuda juga <br />
mampu dalam menyerap tenaga kerja, menggeliatkan pereko­nomian <br />
masyarakat, serta sekaligus memberikan peluang dan berkah tersendiri <br />
bagi para peternak kuda, atau para kusir bendi khususnya.<br />
<br />
“Hemat saya, keengganan dae­rah-daerah pemilik gelanggang untuk <br />
menghelat iven pacu kuda sejak beberapa waktu terakhir ini, antara lain <br />
disebabkan populasi ternak kuda di masing-masing daerah sudah sangat <br />
menurun, bahkan nyaris mendekati punah,” pungkas Capaik.<br />
<br />
Kondisi ini jelasnya, diakibatkan miskinnya perhatian pemerintah <br />
daerah melalui dinas terkait, terutama dalam meningkatkan populasi kuda <br />
melalui proses pengem­bang biakan. Pemerintah, ujar Capaik, lebih <br />
memberikan perhatian penuh terhadap ternak lain, sehingga populasi dan <br />
pengem­bang biakan kuda menjadi terabaikan.<br />
<br />
Pada masa emasnya di tahun 1980 sampai dengan 1995, peme­rintah pusat<br />
masih terus mem­berikan perhatian penuh terhadap kelangsungan populasi <br />
kuda di berbagai daerah. Bahkan, dari bantuan berupa kuda-kuda pejan­tan<br />
dengan biaya pengawinan yang sangat terjangkau itu, manfaat ekonomi <br />
paling besar juga ikut dirasakan para peternak kuda.<br />
<br />
“Otomatis, karena pada masa itu, para peternak maupun kusir bendi, <br />
bisa dengan mudah mening­katkan populasi dan mengembang biakkan <br />
kuda-kuda mereka, untuk selanjutnya dijual kepada para penggila dan <br />
pencinta olahraga pacu kuda,” pungkas Capaik.<br />
<br />
Menurunnya populasi kuda, khususnya di Sumatera Barat, imbuh Capaik, <br />
setidaknya sudah dirasakan sejak mulai tahun 2000 silam. Sejak saat itu,<br />
pemerintah pusat tidak lagi memberikan ban­tuan bibit kuda pejantan. <br />
Ironisnya, ma­sing-masing daerah yang memiliki ge­langgang dan biang <br />
kuda-kuda be­tina, juga terlambat dalam me­lakukan proses pengem­bang <br />
biakan.<br />
<br />
“Kondisi ini harus menjadi perhatian serius pemerintah, teruta­ma <br />
bagi yang memiliki gelanggang pacuan kuda di daerah­nya. Seperti halnya <br />
di Kota Padang Panjang, yang saat ini tengah mengupayakan pendanaan dari<br />
APBD, untuk pembiayaan pengawi­nan kuda-kuda milik kusir bendi yang <br />
kurang mampu,” papar Capaik.<br />
<br />
Terpisah, H Muhammad Haris, salah seorang mantan Ren Comite Pengurus <br />
Pacuan yang terbilang aktif di era tahun 60-an, mengaku sangat prihatin <br />
melihat kondisi tersebut. Prediket Sumbar sebagai salah satu daerah <br />
penghasil ternak kuda terbaik, sangat membutuhkan pemikiran dan <br />
perhatian serius dari seluruh pihak. Hal ini bertujuan agar populasi <br />
kuda dan iven pacuan kuda bisa terus dipertahankan di Ranah Minang.<br />
<br />
“Masa emas itu harus kembali kita jemput. Pemerintah daerah bersama <br />
pihak legislatif, harus peka terhadap persoalan ini. Dengan pengawinan <br />
sekurang-kurang 30 ekor dalam setahun, diyakini populasi kuda sudah akan<br />
mening­kat signifikan sampai 5 tahun ke depan,” kata M Haris.<br />
<br />
Apapun alasannya, alek tradi­sional pacuan kuda memang harus terus <br />
dilestarikan. Upaya dalam meningkatkan populasi kuda, khususnya bagi <br />
daerah yang me­m­i­liki gelanggang, juga harus mendapat perhatian serius<br />
dari pemerintah daerah terkait. Karena ketika hal ini terabaikan, <br />
bising suara knalpot akan terus menga­lahkan ringkik suara kuda di garis<br />
<span style="font-style: italic;">start</span>. Bukan tidak mungkin, hiburan tertua di Ranah Minang ini, juga dikhawatirkan hanya akan tinggal sejarah. <span style="font-weight: bold;">(Ryan Syair/haluan)</span>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Tertipu Lagi, Tergiur Lagi ]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Tertipu-Lagi-Tergiur-Lagi</link>
			<pubDate>Sat, 17 Nov 2012 04:23:23 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Tertipu-Lagi-Tergiur-Lagi</guid>
			<description><![CDATA[<div align="left"><span style="font-weight: bold;">Tertipu lagi! </span>Tak jera-jera orang <br />
tergiur untung besar dengan jalan pintas tapi berakhir dengan nahas. <br />
Kekecewaan dan kemarahan kembali bermunculan setelah banyak korban <br />
berjatuhan. Sebelum ini sejumlah orang berduit tertipu ajakan <br />
berinvestasi. Korban berjatuhan di daerah Kabupaten Pesisir Selatan. <br />
Bahkan sejumlah polisi pun ikut jadi korban.</div>
<div align="left">Kini, godaan jadi orang kaya dengan jalan pintas dan <br />
ternyata tipuan belaka, terulang lagi. Diberitakan oleh media-media <br />
tentang bisnis investasi tambang emas memakan ratusan korban. Sekitar <br />
521 investor tambang emas di PT BRPG kena tipu. Gara-gara tergiur untung<br />
besar, uang miliaran rupiah pun raib.<br />
<br />
<br />
</div>
<div align="left">Kepala Cabang PT Build Rich Pasifik Global (PT BRPG) <br />
Wilayah Sumbar, Martha Kristina Sartika Dewi pun dilaporkan belasan <br />
anggotanya ke Mapolresta Padang, Kamis (15/11) sore. Namun Martha <br />
sendiri juga mengaku sebagai korban penipuan pimpinan PT BRPG berinisial<br />
T.</div>
<div align="left">Dari 521 korban, yang datang ke Mapolresta Padang hanya <br />
belasan orang. Yang dilaporkan bukan pimpinan tertinggi PT BRPG yang <br />
mengaku punya tambang emas di Kelantan, Malaysia. Tapi Kacab PT BRPG <br />
Wilayah Sumbar Martha Kristina Sartika Dewi. Soalnya, Martha inilah yang<br />
bernegosiasi dan memberikan janji-janji kepada calon investor untuk <br />
wilayah Sumbar.</div>
<div align="left">Belasan korban menduga Martha yang menggelapkan uang <br />
mereka total sekitar Rp6 miliar. Uang tersebut, merupakan milik sekitar <br />
521 anggota investasi tambang emas di PT BRPG. Mereka merasa telah <br />
ditipu oleh Martha, karena uang yang dijanjikan untuk pembayaran laba <br />
dari investasi perusahaan itu tidak dibayarkan sepenuhnya. Bahkan, ada <br />
yang sama sekali belum menerimanya.</div>
<div align="left">Para investor tersebut telah mencoba mendatangi dan <br />
menghubungi Martha. Namun sayangnya, jawaban yang diterima tidak <br />
memuaskan. Sampai saat ini tidak ada keterangan pasti atas laba dari <br />
investasi yang ditanam. Ada yang berinvestasi sampai Rp15 juta.</div>
<div align="left">Ini agak mirip dengan kasus investasi bodong ala <br />
Investasi Trasindo Jaya Komara (KSU Langit Biru) yang heboh di Jakarta <br />
tahun silam. Para kolomnis hukum menulisnya sebagai tragedi penipuan <br />
nasional lantaran korbannya lintasprovinsi. Jumlah korban yang tertipu <br />
lebih dari 120 ribu orang dengan jumlah dana lebih dari Rp18 triliun.</div>
<div align="left">Kekuatan internet memang luar biasa menjadi testimonial <br />
masif tanpa screening sehingga korban masyarakat awam sangatlah besar. <br />
Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 230 juta jiwa, pendapatan <br />
perkapitanya memang terus meningkat. Tapi tingkat pemahaman masyarakat <br />
yang belum secerdas negara lain, menjadi ladang yang sangat menggiurkan <br />
dan mudah bagi para pebisnis hitam untuk meraup keuntungan dengan cara <br />
tidak benar.</div>
<div align="left">Kita sangat sedih tentunya melihat tragedi <br />
penipuan-penipuan ini. Karena yang ikut umumnya adalah kelas menengah ke<br />
bawah yang memang ingin cepat kaya dengan cara jalan pintas. Bayangkan <br />
siapa yang tidak tergiur dengan investasi hanya senilai Rp10 juta, <br />
anggota akan mendapat keuntungan 10 persen per bulan atau 120 persen per<br />
tahun. Bandingkan dengan bagi hasil/bunga deposito bank saat ini hanya <br />
sebesar 6 - 8 persen per tahun, belum dipotong pajak pula. Masyarakat <br />
Indonesia yang pragmatis dan malas bekerja tentunya memilih cara yang <br />
pertama tadi.</div>
<div align="left">Antisipasinya mesti kita buat. Masyarakat perlu <br />
dicerahkan untuk melihat seberapa jauh sebuah tawaran investasi yang <br />
benar-benar logis. Maka perlu diwaspadai ajakan berinvestasi yang tidak <br />
masuk akal. Misalnya tawaran investasi yang menawarkan<br />
keuntungan yang sangat besar, bahkan luar biasa besar dan tidak wajar <br />
untuk menarik minat dan membius orang-orang dengan mudah. Bandingkan <br />
saja langsung dengan dengan bunga bank, dana reksa atau obligasi resmi <br />
yang beredar di bursa resmi yang menawarkan <span style="font-style: italic;">return</span> atau tingkat pengembalian keuntungan hanya sebesar 6- 11 persen per tahun.</div>
<div align="left">Maka bila ada investasi yang menawarkan keuntungan <br />
berlipat-lipat seperti ini dari lembaga yang tidak dikenal, tidak resmi <br />
atau bahkan dari luar negeri, selain riba dan judi yang haram hukumnya <br />
dalam Islam, maka sikap menolak adalah langkah terbaik.</div>
<div align="left">Investasi yang baik adalah bila dana investasi kita <br />
dengan mudah dapat kita tarik kembali kapan saja atau sesuai kontrak. <br />
Maka tanyakan saja kepada pihak yang menawarkan investasi cara dan <br />
lamanya waktu kita menarik dana investasi kembali. Bila jawaban dan <br />
prosedurnya berbelit dan rumit, maka sebaiknya tawaran investasi seperti<br />
itu jangan ditanggapi.</div>
<div align="left">Investasi penipuan dan atau perjudian pada umumnya <br />
menawarkan bisnis trading dengan skema yang canggih dengan dalih <br />
perputarannya cepat sehingga returnnya pun cepat. Skema bisnis trading <br />
apalagi <span style="font-style: italic;">online</span> sangatlah rumit, untuk orang awam banyak yang <br />
menganggap sebagai “kecanggihan bisnis modern”. Investasi semacam <br />
Speedline, VGMC dan ECMC jelas praktik perjudian dan spekulatif.</div>
Agar tragedi penipuan tidak terulang lagi, maka perlu pencerahan <br />
terhadap masyarakat sekitar investasi. Baik oleh pemerintah daerah, <br />
lembaga ekonomi, lembaga perbankan, kepolisian sampai ke ulama. Cukup <br />
kasus terakhir ini menjadi tragedi terakhir. Tidak usah diulang lagi.(haluan)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="left"><span style="font-weight: bold;">Tertipu lagi! </span>Tak jera-jera orang <br />
tergiur untung besar dengan jalan pintas tapi berakhir dengan nahas. <br />
Kekecewaan dan kemarahan kembali bermunculan setelah banyak korban <br />
berjatuhan. Sebelum ini sejumlah orang berduit tertipu ajakan <br />
berinvestasi. Korban berjatuhan di daerah Kabupaten Pesisir Selatan. <br />
Bahkan sejumlah polisi pun ikut jadi korban.</div>
<div align="left">Kini, godaan jadi orang kaya dengan jalan pintas dan <br />
ternyata tipuan belaka, terulang lagi. Diberitakan oleh media-media <br />
tentang bisnis investasi tambang emas memakan ratusan korban. Sekitar <br />
521 investor tambang emas di PT BRPG kena tipu. Gara-gara tergiur untung<br />
besar, uang miliaran rupiah pun raib.<br />
<br />
<br />
</div>
<div align="left">Kepala Cabang PT Build Rich Pasifik Global (PT BRPG) <br />
Wilayah Sumbar, Martha Kristina Sartika Dewi pun dilaporkan belasan <br />
anggotanya ke Mapolresta Padang, Kamis (15/11) sore. Namun Martha <br />
sendiri juga mengaku sebagai korban penipuan pimpinan PT BRPG berinisial<br />
T.</div>
<div align="left">Dari 521 korban, yang datang ke Mapolresta Padang hanya <br />
belasan orang. Yang dilaporkan bukan pimpinan tertinggi PT BRPG yang <br />
mengaku punya tambang emas di Kelantan, Malaysia. Tapi Kacab PT BRPG <br />
Wilayah Sumbar Martha Kristina Sartika Dewi. Soalnya, Martha inilah yang<br />
bernegosiasi dan memberikan janji-janji kepada calon investor untuk <br />
wilayah Sumbar.</div>
<div align="left">Belasan korban menduga Martha yang menggelapkan uang <br />
mereka total sekitar Rp6 miliar. Uang tersebut, merupakan milik sekitar <br />
521 anggota investasi tambang emas di PT BRPG. Mereka merasa telah <br />
ditipu oleh Martha, karena uang yang dijanjikan untuk pembayaran laba <br />
dari investasi perusahaan itu tidak dibayarkan sepenuhnya. Bahkan, ada <br />
yang sama sekali belum menerimanya.</div>
<div align="left">Para investor tersebut telah mencoba mendatangi dan <br />
menghubungi Martha. Namun sayangnya, jawaban yang diterima tidak <br />
memuaskan. Sampai saat ini tidak ada keterangan pasti atas laba dari <br />
investasi yang ditanam. Ada yang berinvestasi sampai Rp15 juta.</div>
<div align="left">Ini agak mirip dengan kasus investasi bodong ala <br />
Investasi Trasindo Jaya Komara (KSU Langit Biru) yang heboh di Jakarta <br />
tahun silam. Para kolomnis hukum menulisnya sebagai tragedi penipuan <br />
nasional lantaran korbannya lintasprovinsi. Jumlah korban yang tertipu <br />
lebih dari 120 ribu orang dengan jumlah dana lebih dari Rp18 triliun.</div>
<div align="left">Kekuatan internet memang luar biasa menjadi testimonial <br />
masif tanpa screening sehingga korban masyarakat awam sangatlah besar. <br />
Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 230 juta jiwa, pendapatan <br />
perkapitanya memang terus meningkat. Tapi tingkat pemahaman masyarakat <br />
yang belum secerdas negara lain, menjadi ladang yang sangat menggiurkan <br />
dan mudah bagi para pebisnis hitam untuk meraup keuntungan dengan cara <br />
tidak benar.</div>
<div align="left">Kita sangat sedih tentunya melihat tragedi <br />
penipuan-penipuan ini. Karena yang ikut umumnya adalah kelas menengah ke<br />
bawah yang memang ingin cepat kaya dengan cara jalan pintas. Bayangkan <br />
siapa yang tidak tergiur dengan investasi hanya senilai Rp10 juta, <br />
anggota akan mendapat keuntungan 10 persen per bulan atau 120 persen per<br />
tahun. Bandingkan dengan bagi hasil/bunga deposito bank saat ini hanya <br />
sebesar 6 - 8 persen per tahun, belum dipotong pajak pula. Masyarakat <br />
Indonesia yang pragmatis dan malas bekerja tentunya memilih cara yang <br />
pertama tadi.</div>
<div align="left">Antisipasinya mesti kita buat. Masyarakat perlu <br />
dicerahkan untuk melihat seberapa jauh sebuah tawaran investasi yang <br />
benar-benar logis. Maka perlu diwaspadai ajakan berinvestasi yang tidak <br />
masuk akal. Misalnya tawaran investasi yang menawarkan<br />
keuntungan yang sangat besar, bahkan luar biasa besar dan tidak wajar <br />
untuk menarik minat dan membius orang-orang dengan mudah. Bandingkan <br />
saja langsung dengan dengan bunga bank, dana reksa atau obligasi resmi <br />
yang beredar di bursa resmi yang menawarkan <span style="font-style: italic;">return</span> atau tingkat pengembalian keuntungan hanya sebesar 6- 11 persen per tahun.</div>
<div align="left">Maka bila ada investasi yang menawarkan keuntungan <br />
berlipat-lipat seperti ini dari lembaga yang tidak dikenal, tidak resmi <br />
atau bahkan dari luar negeri, selain riba dan judi yang haram hukumnya <br />
dalam Islam, maka sikap menolak adalah langkah terbaik.</div>
<div align="left">Investasi yang baik adalah bila dana investasi kita <br />
dengan mudah dapat kita tarik kembali kapan saja atau sesuai kontrak. <br />
Maka tanyakan saja kepada pihak yang menawarkan investasi cara dan <br />
lamanya waktu kita menarik dana investasi kembali. Bila jawaban dan <br />
prosedurnya berbelit dan rumit, maka sebaiknya tawaran investasi seperti<br />
itu jangan ditanggapi.</div>
<div align="left">Investasi penipuan dan atau perjudian pada umumnya <br />
menawarkan bisnis trading dengan skema yang canggih dengan dalih <br />
perputarannya cepat sehingga returnnya pun cepat. Skema bisnis trading <br />
apalagi <span style="font-style: italic;">online</span> sangatlah rumit, untuk orang awam banyak yang <br />
menganggap sebagai “kecanggihan bisnis modern”. Investasi semacam <br />
Speedline, VGMC dan ECMC jelas praktik perjudian dan spekulatif.</div>
Agar tragedi penipuan tidak terulang lagi, maka perlu pencerahan <br />
terhadap masyarakat sekitar investasi. Baik oleh pemerintah daerah, <br />
lembaga ekonomi, lembaga perbankan, kepolisian sampai ke ulama. Cukup <br />
kasus terakhir ini menjadi tragedi terakhir. Tidak usah diulang lagi.(haluan)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Hati-hati Pilih Jajanan di Sekolah, 40 Jajanan Terkontaminasi Zat Berbahaya]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Hati-hati-Pilih-Jajanan-di-Sekolah-40-Jajanan-Terkontaminasi-Zat-Berbahaya</link>
			<pubDate>Mon, 12 Nov 2012 19:27:15 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Hati-hati-Pilih-Jajanan-di-Sekolah-40-Jajanan-Terkontaminasi-Zat-Berbahaya</guid>
			<description><![CDATA[<img src="http://www.minangkabaunews.com/foto_berita/medium_67xz.JPG" border="0" alt="[Image: medium_67xz.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
Padang,<br />
MinangkabauNews -- Waspadalah memberi uang jajan kepada anak-anak. <br />
Empat puluh persen jajanan anak sekolah masih terkontaminasi zat <br />
berbahaya dan terlarang. Nyawa jutaan pelajar pun terancam.<br />
<br />
<br />
<br />
“Saat ini peredaran jajanan anak sekolah masih sulit diawasi. Hampir 40 <br />
persen bahan baku makanan olahan tersebut mengandung zat yang <br />
terlarang,” papar Kepala BPOM Padang, Indra Ginting, di Padang, belum <br />
lama ini.<br />
<br />
<br />
<br />
Ia menghimbau kepada orang tua siswa untuk lebih hati-hati memilih <br />
makanan dan minuman jajanan naknya. Hal ini dilakukan untuk mengurangi <br />
indikasi terhadap penyakit yang disebabkan oleh makanan yang mengandung <br />
zat kimia berbahaya, karena banyak para pedagang dadakan dan bukan <br />
merupakan pedagang yang benar-benar berprofesi sebagai penjual makanan <br />
serta minuman ringan.<br />
<br />
<br />
<br />
Menurutnya, zat terlarang itu di antaranya masih ada yang menggunakan <br />
formalin dan boraks. Peredaran penjualannya yang bebas dari toko kimia <br />
membuat produsen mudah mendapatkannya.<br />
<br />
<br />
<br />
BPOM menurutnya tidak dapat berbuat banyak karena jajanan anak sekolahan<br />
masih didominasi dari produk rumah tangga. Tapi pihaknya terus berupaya<br />
memberi sosialisasi kepada segenap sekolah SMA, SMP maupun SD. BPOM <br />
mendatangi sekolah-sekolah tertentu untuk member penjelasan bahaya zat <br />
pewarna, pengawet dll.<br />
<br />
<br />
<br />
“Pengawasan makanan yang berasal dari produksi rumah tangga merupakan <br />
tanggung jawab pemerintah daerah. Jadi, BPOM meminta stake holder <br />
terkait peduli terhadap kesehatan jajanan anak,” ucapnya.<br />
<br />
<br />
<br />
Dari 40 persen yang pernah diteliti Badan POM, produk rumah tangga <br />
tersebut tidak semuanya mengandung zat berbahaya. Namun penggunaan zat <br />
tambahan makanan yang berlebihan atau tidak sesuai takaran dan standar <br />
bisa mempengaruhi kesehatan anak.<br />
<br />
<br />
<br />
“Sehingga banyak anak sakit perut usai menyantap jajanan di sekolah. <br />
Sementara si pembuat tidak menyadari bahan baku yang digunakannya tidak <br />
sesuai takaran,” sebutnya.<br />
<br />
<br />
<br />
Namun walau bukan domain pihaknya untuk mengawasi peredarana jajanan <br />
anak sekolahan yang berasal dari produk rumah tangga, BPOM tetap <br />
membantu supervisi pemerintah daerah dalam mengawasi makan tersebut. <br />
(bp)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<img src="http://www.minangkabaunews.com/foto_berita/medium_67xz.JPG" border="0" alt="[Image: medium_67xz.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
Padang,<br />
MinangkabauNews -- Waspadalah memberi uang jajan kepada anak-anak. <br />
Empat puluh persen jajanan anak sekolah masih terkontaminasi zat <br />
berbahaya dan terlarang. Nyawa jutaan pelajar pun terancam.<br />
<br />
<br />
<br />
“Saat ini peredaran jajanan anak sekolah masih sulit diawasi. Hampir 40 <br />
persen bahan baku makanan olahan tersebut mengandung zat yang <br />
terlarang,” papar Kepala BPOM Padang, Indra Ginting, di Padang, belum <br />
lama ini.<br />
<br />
<br />
<br />
Ia menghimbau kepada orang tua siswa untuk lebih hati-hati memilih <br />
makanan dan minuman jajanan naknya. Hal ini dilakukan untuk mengurangi <br />
indikasi terhadap penyakit yang disebabkan oleh makanan yang mengandung <br />
zat kimia berbahaya, karena banyak para pedagang dadakan dan bukan <br />
merupakan pedagang yang benar-benar berprofesi sebagai penjual makanan <br />
serta minuman ringan.<br />
<br />
<br />
<br />
Menurutnya, zat terlarang itu di antaranya masih ada yang menggunakan <br />
formalin dan boraks. Peredaran penjualannya yang bebas dari toko kimia <br />
membuat produsen mudah mendapatkannya.<br />
<br />
<br />
<br />
BPOM menurutnya tidak dapat berbuat banyak karena jajanan anak sekolahan<br />
masih didominasi dari produk rumah tangga. Tapi pihaknya terus berupaya<br />
memberi sosialisasi kepada segenap sekolah SMA, SMP maupun SD. BPOM <br />
mendatangi sekolah-sekolah tertentu untuk member penjelasan bahaya zat <br />
pewarna, pengawet dll.<br />
<br />
<br />
<br />
“Pengawasan makanan yang berasal dari produksi rumah tangga merupakan <br />
tanggung jawab pemerintah daerah. Jadi, BPOM meminta stake holder <br />
terkait peduli terhadap kesehatan jajanan anak,” ucapnya.<br />
<br />
<br />
<br />
Dari 40 persen yang pernah diteliti Badan POM, produk rumah tangga <br />
tersebut tidak semuanya mengandung zat berbahaya. Namun penggunaan zat <br />
tambahan makanan yang berlebihan atau tidak sesuai takaran dan standar <br />
bisa mempengaruhi kesehatan anak.<br />
<br />
<br />
<br />
“Sehingga banyak anak sakit perut usai menyantap jajanan di sekolah. <br />
Sementara si pembuat tidak menyadari bahan baku yang digunakannya tidak <br />
sesuai takaran,” sebutnya.<br />
<br />
<br />
<br />
Namun walau bukan domain pihaknya untuk mengawasi peredarana jajanan <br />
anak sekolahan yang berasal dari produk rumah tangga, BPOM tetap <br />
membantu supervisi pemerintah daerah dalam mengawasi makan tersebut. <br />
(bp)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Pertamina harus Tindak SPBU Layani Pembelian Jerigen]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Pertamina-harus-Tindak-SPBU-Layani-Pembelian-Jerigen</link>
			<pubDate>Fri, 09 Nov 2012 22:37:57 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Pertamina-harus-Tindak-SPBU-Layani-Pembelian-Jerigen</guid>
			<description><![CDATA[Padang, (ANTARA) - Yayasan Lembaga Perlindungan Konsuman (YLKI) Sumatera<br />
Barat, meminta pihak Pertamina menindak dan memberi sanksi kepada <br />
pengelola Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum yang masih melayani <br />
pembelian premium bersubsidi saat terjadinya kelangkaan bahan bakar di <br />
provinsi itu.<br />
<br />
<br />
Ketua Harian YLKI Sumbar Syaharman Zanhar di Padang, Kamis, <br />
mengatakan, pihaknya menyayangkan masih ditemukan di lapangan pembelian <br />
premium bersubsidi oleh masyarakat dengan jerigen ukuran besar di SPBU <br />
saat terjadi kelangkaan minyak di provinsi ini.<br />
<br />
Apalagi, imbuh dia, BBM tersebut juga dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi oleh pemilik jerigen-jerigen tersebut.<br />
<br />
'Kita<br />
meminta pihak Pertamina dan juga Hiswana Migas, untuk mengawasi dan <br />
memberikan tindakan tegas kepada SPBU yang melayani pembelian BBM dengan<br />
jerigen, apalagi yang berukuran besar, seperti 20 liter dan <br />
selebihnya,' kata dia.<br />
<br />
Dia menambahkan, sebab telah ada <br />
larang tegas melayani pembelian bensin bersubsidi jenis premium dengan <br />
menggunakan jerigen, kecuali yang memiliki izin dari pemerintah.<br />
<br />
Dia<br />
menambahkan, peraturan penggunaan dan penjualan premium tersebut juga <br />
telah dituangkan dalam Peraturan Presiden Nomor 15 tahun 2012 tentang <br />
harga jual eceran dan pengguna jenis BBM tertentu, serta Peraturan <br />
Menteri ESDM Nomor 8 Tahun 2012 yang mengatur secara detail tentang <br />
konsumen pengguna.<br />
<br />
Hal tersebut disampaikan YLKI terkait <br />
masih ditemukannya SPBU yang melayani pembeliam premium bersubsidi <br />
dengan jerigen, seperti yang terpantau di Kecamatan Padang Selatan, dan <br />
Kecamatan Padang Timur, Kota Padang.<br />
<br />
Dari pantauan di <br />
beberapa SPBU kawasan tersebut, terlihat adanya jerigen-jerigen besar <br />
dengan ukuran 20 liter yang masih mendapat pelayanan pihak SPBU, padahal<br />
akibat kelangkaan BBM yang terjadi sejak Selasa (6/11), untuk <br />
mendapatkan premium masyarakat pengguna roda dua dan roda empat terpaksa<br />
mengantre.<br />
<br />
Antrean yang terjadi akibat kelangkaan BBM di <br />
provinsi tersebut, seperti yang terpantau di Kota Padang, terjadi sejak <br />
Rabu malam hingga Kamis sore, bahkan di sejumlah ruas jalan juga terjadi<br />
kemacetan akibat antrean tersebut.<br />
<br />
Sehubungan dengan itu, meski adanya pihak Kepolisian yang berada di SPBU, namun pembelian dengan jerigen tetap terlihat.<br />
<br />
<br />
Salah seorang warga Kota Padang Jamaldi, mengatakan, masyarakat <br />
pengguna roda dua dan roda empat mengantre untuk mendapatkan premium, <br />
namun pihak SPBU juga melayani pembeli dengan jerigen.<br />
<br />
'Saya<br />
melihat modus pembelian dengan jerigen tersebut, adalah mengunakan <br />
jerigen kecil ukuran lima sampai 10 liter, namun jerigen besarnya <br />
diletakkan agak jauh dari SPBU, padahal pengendara banyak yang mengantre<br />
untuk mendapatkan premium. Tidak hanya itu, di sana padahal juga ada <br />
aparat Kepolisian,' jelas Jamaldi.<br />
<br />
Terkait hal tersebut, <br />
YLKI juga meminta aparat Kepolisian hendaknya melakukan tindak tegas <br />
terhadap pelanggaran semacam itu, dan tidak membiarkannya.<br />
<br />
<br />
'Kita berharap pihak Kepolisian bertindak tegas, dan jangan membiarkan <br />
pelanggaran yang ada. Apalagi BBM merupakan kebutuhan masyarakat,' ujar <br />
Syaharman.<br />
<br />
Dia menambahkan, pembelian dengan jerigen <br />
tersebut tidak hanya merugikan konsumen, namun juga tidak sepantasnya <br />
dilakukan, apalagi saat warga mengantre untuk mendapatkannya di SPBU. <br />
(antarasumbar.com)<br />
<br />
<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;"><span style="font-style: italic;">(Kantor Berita Antara)</span></span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Padang, (ANTARA) - Yayasan Lembaga Perlindungan Konsuman (YLKI) Sumatera<br />
Barat, meminta pihak Pertamina menindak dan memberi sanksi kepada <br />
pengelola Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum yang masih melayani <br />
pembelian premium bersubsidi saat terjadinya kelangkaan bahan bakar di <br />
provinsi itu.<br />
<br />
<br />
Ketua Harian YLKI Sumbar Syaharman Zanhar di Padang, Kamis, <br />
mengatakan, pihaknya menyayangkan masih ditemukan di lapangan pembelian <br />
premium bersubsidi oleh masyarakat dengan jerigen ukuran besar di SPBU <br />
saat terjadi kelangkaan minyak di provinsi ini.<br />
<br />
Apalagi, imbuh dia, BBM tersebut juga dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi oleh pemilik jerigen-jerigen tersebut.<br />
<br />
'Kita<br />
meminta pihak Pertamina dan juga Hiswana Migas, untuk mengawasi dan <br />
memberikan tindakan tegas kepada SPBU yang melayani pembelian BBM dengan<br />
jerigen, apalagi yang berukuran besar, seperti 20 liter dan <br />
selebihnya,' kata dia.<br />
<br />
Dia menambahkan, sebab telah ada <br />
larang tegas melayani pembelian bensin bersubsidi jenis premium dengan <br />
menggunakan jerigen, kecuali yang memiliki izin dari pemerintah.<br />
<br />
Dia<br />
menambahkan, peraturan penggunaan dan penjualan premium tersebut juga <br />
telah dituangkan dalam Peraturan Presiden Nomor 15 tahun 2012 tentang <br />
harga jual eceran dan pengguna jenis BBM tertentu, serta Peraturan <br />
Menteri ESDM Nomor 8 Tahun 2012 yang mengatur secara detail tentang <br />
konsumen pengguna.<br />
<br />
Hal tersebut disampaikan YLKI terkait <br />
masih ditemukannya SPBU yang melayani pembeliam premium bersubsidi <br />
dengan jerigen, seperti yang terpantau di Kecamatan Padang Selatan, dan <br />
Kecamatan Padang Timur, Kota Padang.<br />
<br />
Dari pantauan di <br />
beberapa SPBU kawasan tersebut, terlihat adanya jerigen-jerigen besar <br />
dengan ukuran 20 liter yang masih mendapat pelayanan pihak SPBU, padahal<br />
akibat kelangkaan BBM yang terjadi sejak Selasa (6/11), untuk <br />
mendapatkan premium masyarakat pengguna roda dua dan roda empat terpaksa<br />
mengantre.<br />
<br />
Antrean yang terjadi akibat kelangkaan BBM di <br />
provinsi tersebut, seperti yang terpantau di Kota Padang, terjadi sejak <br />
Rabu malam hingga Kamis sore, bahkan di sejumlah ruas jalan juga terjadi<br />
kemacetan akibat antrean tersebut.<br />
<br />
Sehubungan dengan itu, meski adanya pihak Kepolisian yang berada di SPBU, namun pembelian dengan jerigen tetap terlihat.<br />
<br />
<br />
Salah seorang warga Kota Padang Jamaldi, mengatakan, masyarakat <br />
pengguna roda dua dan roda empat mengantre untuk mendapatkan premium, <br />
namun pihak SPBU juga melayani pembeli dengan jerigen.<br />
<br />
'Saya<br />
melihat modus pembelian dengan jerigen tersebut, adalah mengunakan <br />
jerigen kecil ukuran lima sampai 10 liter, namun jerigen besarnya <br />
diletakkan agak jauh dari SPBU, padahal pengendara banyak yang mengantre<br />
untuk mendapatkan premium. Tidak hanya itu, di sana padahal juga ada <br />
aparat Kepolisian,' jelas Jamaldi.<br />
<br />
Terkait hal tersebut, <br />
YLKI juga meminta aparat Kepolisian hendaknya melakukan tindak tegas <br />
terhadap pelanggaran semacam itu, dan tidak membiarkannya.<br />
<br />
<br />
'Kita berharap pihak Kepolisian bertindak tegas, dan jangan membiarkan <br />
pelanggaran yang ada. Apalagi BBM merupakan kebutuhan masyarakat,' ujar <br />
Syaharman.<br />
<br />
Dia menambahkan, pembelian dengan jerigen <br />
tersebut tidak hanya merugikan konsumen, namun juga tidak sepantasnya <br />
dilakukan, apalagi saat warga mengantre untuk mendapatkannya di SPBU. <br />
(antarasumbar.com)<br />
<br />
<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;"><span style="font-style: italic;">(Kantor Berita Antara)</span></span>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[ANGKOT KACA GELAP : Perketat Razia, Berikan Sanksi]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-ANGKOT-KACA-GELAP-Perketat-Razia-Berikan-Sanksi</link>
			<pubDate>Tue, 16 Oct 2012 14:54:59 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-ANGKOT-KACA-GELAP-Perketat-Razia-Berikan-Sanksi</guid>
			<description><![CDATA[<div align="justify">PADANG – Singgalang</div><div align="justify">Dalam dua bulan terakhir <br />
di Kota Padang, sudah terjadi dua kali percobaan perkosaaan di angkutan <br />
kota (angkot). Terkait dengan itu, angkot dilarang memasang stiker dan <br />
kaca gelap. Namun masih banyak angkot yang melanggar. Angkot berstiker <br />
dan berkaca gelap masih nampak hilir mudik di jalanan kota Bingkuang <br />
ini.</div>
<div align="justify">Tentang pelanggaran ini, Kepala Dinas <br />
Perhubungan Sumbar, Mudrika berharap dinas dan muspida terkait <br />
memperketat razia dan pemberian sanksi. “Razia saja sering-sering. <br />
Berikan sanksi. Lama-lama mereka juga pasti akan jera,” kata Mudrika, <br />
Senin (15/10).<br />
<br />
Menurut Mudrika, angkot yang memasang stiker dan berkaca gelap lebih <br />
rentan dijadikan tempat melakukan tindakan kriminalitas. Stiker dan kaca<br />
gelap menutup pengawasan mata publik dari aktivitas di dalam angkot, <br />
sehingga aksi kriminalitas lebih mudah dilakukan di dalamnya. <br />
“Pelarangan stiker dan kaca gelap itu satu cara efektif untuk menangkal <br />
aksi kriminalitas di angkot,” katanya.<br />
<br />
Selera penumpang<br />
<br />
Namun, di Kota Padang banyak sopir dan pemilik angkot yang seolah tak <br />
mau mengerti. Masih banyak saja yang tak menggubris alasan itu. Apalagi <br />
faktanya faktor penampilan angkot menjadi salah satu penarik penumpang <br />
agar mau naik.<br />
<br />
“Kalau angkotnya biasa saja. Polos saja, nanti tak ada yang mau naik,” <br />
kata Zion, 25 salah satu sopir angkot jurusan Pasar Raya-Labor.<br />
<br />
Kata Zion, sebagian besar penumpang angkot adalah anak muda, seperti <br />
siswa dan mahasiswa. Para penumpang ini punya kebiasaan pilih-pilih <br />
angkot. Kalau angkotnya keren, mereka berebutan ingin naik. Tapi kalau <br />
angkotnya biasa saja, mereka pura-pura tak butuh angkot. “Kami <br />
menyesuaikan dengan selera penumpang dong. Kalau penumpang tak mau naik <br />
kami kan rugi,” tuturnya.<br />
<br />
Menurut Zion pula, angkot yang rentan menjadi tempat berbuat <br />
kriminalitas itu biasanya angkot-angkot jurusan yang jauh dari pusat <br />
kota. Angkot-angkot yang punya rute di pusat kota, apalagi keramaian, <br />
biasanya tidak. Tak ada kesempatan karena ramai.<br />
<br />
“Bagusnya angkot yang tak boleh pasang stiker dan kaca gelap itu angkot <br />
jurusan jauh dari pusat kota itu saja. Yang lain dari itu, biarkan <br />
saja,” harap Zion.<br />
<br />
Namun, menurut Mudrika, aksi dua kali percobaan perkosaan di dalam <br />
angkot tak bisa dianggap sepele. Apalagi terjadi dalam jangka waktu <br />
berdekatan. “Dinas dan muspida, teruatama aparat kepolisian harus tegas.<br />
Tak perlu pilih kasih apalagi ‘manenggang’. Nanti kalau sudah terjadi <br />
lagi baru menyesal. Itu percuma,” katanya.<br />
<br />
Soal penumpang yang pilih-pilih, Mudrika menilai tak akan menjadi <br />
masalah apalagi menurunkan pendapatan sopir dan pemilik angkot. “Kalau <br />
semua angkot sudah seragam. Sudah tak ada yang pakai stiker dan kaca <br />
gelap, penumpang mau pilih-pilih bagaimana lagi? apa mau jalan kaki, kan<br />
tidak?” katanya. (403)</div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">PADANG – Singgalang</div><div align="justify">Dalam dua bulan terakhir <br />
di Kota Padang, sudah terjadi dua kali percobaan perkosaaan di angkutan <br />
kota (angkot). Terkait dengan itu, angkot dilarang memasang stiker dan <br />
kaca gelap. Namun masih banyak angkot yang melanggar. Angkot berstiker <br />
dan berkaca gelap masih nampak hilir mudik di jalanan kota Bingkuang <br />
ini.</div>
<div align="justify">Tentang pelanggaran ini, Kepala Dinas <br />
Perhubungan Sumbar, Mudrika berharap dinas dan muspida terkait <br />
memperketat razia dan pemberian sanksi. “Razia saja sering-sering. <br />
Berikan sanksi. Lama-lama mereka juga pasti akan jera,” kata Mudrika, <br />
Senin (15/10).<br />
<br />
Menurut Mudrika, angkot yang memasang stiker dan berkaca gelap lebih <br />
rentan dijadikan tempat melakukan tindakan kriminalitas. Stiker dan kaca<br />
gelap menutup pengawasan mata publik dari aktivitas di dalam angkot, <br />
sehingga aksi kriminalitas lebih mudah dilakukan di dalamnya. <br />
“Pelarangan stiker dan kaca gelap itu satu cara efektif untuk menangkal <br />
aksi kriminalitas di angkot,” katanya.<br />
<br />
Selera penumpang<br />
<br />
Namun, di Kota Padang banyak sopir dan pemilik angkot yang seolah tak <br />
mau mengerti. Masih banyak saja yang tak menggubris alasan itu. Apalagi <br />
faktanya faktor penampilan angkot menjadi salah satu penarik penumpang <br />
agar mau naik.<br />
<br />
“Kalau angkotnya biasa saja. Polos saja, nanti tak ada yang mau naik,” <br />
kata Zion, 25 salah satu sopir angkot jurusan Pasar Raya-Labor.<br />
<br />
Kata Zion, sebagian besar penumpang angkot adalah anak muda, seperti <br />
siswa dan mahasiswa. Para penumpang ini punya kebiasaan pilih-pilih <br />
angkot. Kalau angkotnya keren, mereka berebutan ingin naik. Tapi kalau <br />
angkotnya biasa saja, mereka pura-pura tak butuh angkot. “Kami <br />
menyesuaikan dengan selera penumpang dong. Kalau penumpang tak mau naik <br />
kami kan rugi,” tuturnya.<br />
<br />
Menurut Zion pula, angkot yang rentan menjadi tempat berbuat <br />
kriminalitas itu biasanya angkot-angkot jurusan yang jauh dari pusat <br />
kota. Angkot-angkot yang punya rute di pusat kota, apalagi keramaian, <br />
biasanya tidak. Tak ada kesempatan karena ramai.<br />
<br />
“Bagusnya angkot yang tak boleh pasang stiker dan kaca gelap itu angkot <br />
jurusan jauh dari pusat kota itu saja. Yang lain dari itu, biarkan <br />
saja,” harap Zion.<br />
<br />
Namun, menurut Mudrika, aksi dua kali percobaan perkosaan di dalam <br />
angkot tak bisa dianggap sepele. Apalagi terjadi dalam jangka waktu <br />
berdekatan. “Dinas dan muspida, teruatama aparat kepolisian harus tegas.<br />
Tak perlu pilih kasih apalagi ‘manenggang’. Nanti kalau sudah terjadi <br />
lagi baru menyesal. Itu percuma,” katanya.<br />
<br />
Soal penumpang yang pilih-pilih, Mudrika menilai tak akan menjadi <br />
masalah apalagi menurunkan pendapatan sopir dan pemilik angkot. “Kalau <br />
semua angkot sudah seragam. Sudah tak ada yang pakai stiker dan kaca <br />
gelap, penumpang mau pilih-pilih bagaimana lagi? apa mau jalan kaki, kan<br />
tidak?” katanya. (403)</div>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Batelematika]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Batelematika</link>
			<pubDate>Mon, 15 Oct 2012 05:49:37 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Batelematika</guid>
			<description><![CDATA[<div align="justify">Ada satu bagian di jajaran pemerintahan <br />
provinsi maupun kabupaten/kota yang nyaris luput dari kontrol DPRD, <br />
inspektorat maupun kontrol publik termasuk media massa sejak sepuluh <br />
tahun terakhir. Yaitu fungsi dan keberadaan Bagian Telematika yang <br />
mengelola website atau media online milik pemerintah daerah. <br />
<br />
Di Pemerintahan Provinsi Sumatra Barat, bagian itu berada di bawah Biro <br />
Humas. Dipimpin seorang kepala bagian/pejabat eselon III, dan dibantu <br />
sekitar sepuluh pegawai. Di 19 kabupaten/kota bagian telematika berada <br />
di bawah Dinas Infokom atau Bagian Humas. Dipimpin seorang kepala seksi <br />
dan mempekerjakan sekitar 3 hingga 5 pegawai. Beberapa SKPD seperti <br />
dinas, badan dan kantor pemerintahan juga memiliki website tersendiri.<br />
<br />
Kalau dihitung-hitung, biaya pembangunan jaringan internet untuk <br />
mengoperasikan website resmi milik pemerintah daerah itu, berikut <br />
pembelian peralatan seperti server, komputer dan pembangunan jaringan <br />
bisa mencapai milyaran rupiah. Dan, kalau dihitung biaya operasional, <br />
termasuk gaji pejabat dan pegawai pengelola bisa menghabiskan puluhan <br />
dan bahkan ratusan juta rupiah tiap bulan.<br />
<br />
Adapun manfaat yang diharapkan dari website itu pada prinsipnya adalah <br />
untuk menunjang keterbukaan penyelenggaraan dan komunikasi pemerintah <br />
dan masyarakat. Melalui website itu siapa saja dan di mana saja di <br />
belahan dunia ini yang ingin mengetahui, menganalisa dan berpartisipasi <br />
terhadap jalannya penyelenggaraan pemerintahan bisa memperoleh informasi<br />
dan memberikan masukan melalui website itu.</div>
<div align="justify">Mengingat fungsi dan peran yang sangat <br />
penting maka halaman website itu mesti diisi dengan data serta informasi<br />
yang lengkap, akurat, aktual dan up to date tentang apa saja tentang <br />
daerah dan penyelenggaran pemerintahan di tiap daerah.<br />
<br />
Website mesti menyediakan data base tiap kabupaten/kota. Mulai dari <br />
kondisi geografis, sosial, ekonomi, budaya, lingkungan, serta perangkat <br />
pemerintahan, kebijakan, kegiatan, anggaran, sampai aktivitas masyarakat<br />
dan penyelenggaraan pemerintahan. Singkat kata, tanpa harus berkeringat<br />
masuk kantor pemerintahan, melalui website itu kita bisa mengenal semua<br />
derah dengan segala potensi, dan permasalahannya secara lengkap, aktual<br />
dan up to date.<br />
<br />
Sayang realitanya jauh panggang dari api. Coba buka Website Resmi <br />
Pemprov Sumatera Barat, SUMBARPROV.go.id. Meski di situ memuat beberapa <br />
kategori, seperti profil daerah, organisasi, peluang investasi, produk <br />
unggulan, perizinan, pariwisata dan sebagainya, tapi data yang ada di <br />
dalamnya nyaris tak memadai. Bahkan, selain tidak lengkap data yang ada <br />
sudah kadaluwarsa. Yang paling menonjol adalah pemuatan foto Gubernur <br />
dan Wakil Gubernur. Yang lain lebih berupa berita-berita sebagaimana <br />
dimuat di surat kabar sehingga mirip kumpulan kliping koran. Dimuat <br />
misalnya, dokumen pelaksanaan anggaran pejabat pengelola keuangan <br />
kabupaten, Januari 2012. Tapi bagaimana realisasinya kemudian, tak ada <br />
informasi. Realisasi anggaran sampai September 2012 sebesar 61,33% <br />
justru bersumber dari berita Antara. Bukan penjelasan resmi pemerintah <br />
provinsi.<br />
<br />
Data tentang ruas jalan di Sumatra Barat dimuat 14 April 2011, tapi data<br />
yang digunakan 2 Agustus 2009. Data ini tentu tak mungkin digunakan <br />
menganalisa kemacetan/kepadatan lalulintas kendaraan. Selain karena <br />
kadaluwarsa, SUMBARPROV.go.id, tak menyediakan jumlah kendaraan di <br />
provinsi ini. Begitu juga tentang penduduk miskin. Data yang tersedia <br />
justru berita Antara, 6 Juni 2012.<br />
<br />
Semua itu hanyalah sekadar contoh. Kondisi serupa akan ditemukan pada <br />
bagian yang lain seperti luas dan produksi perkebunan rakyat, pertanian,<br />
peternakan, perikanan, pariwisata, pendidikan dan sebagainya. Kondisi <br />
yang sama ditemukan pada website 19 kabupaten/kota. Yang dipajang di <br />
masing-masing website hanyalah foto bupati/wakil bupati, walikota/wakil <br />
walikota. Nyaris tak satupun yang menyediakan data base masing-masing <br />
daerah secara lengkap, akurat dan up to date. Updating data dan <br />
informasi hampir tak pernah dilakukan secara rutin sesuai perkembangan.<br />
<br />
Berdasarkan kondisi itu tak berlebihan kalau bagian telematika tersebut <br />
pantas disebut batele-mati aka. Batele, bahasa Minang, artinya ngawur, <br />
kacau, tak terukur dan tak bisa dipedomani. Mati aka, sama dengan kurang<br />
dinamis, tak kreatif, lemah inisiatif alias pemalas. Jangan-jangan <br />
karena itu Gubernur Irwan Paryitno dan Wakil Gubernur Muslim Kasim <br />
membuka website/blog atau halaman sendiri di internet yang memuat <br />
tulisan dan pikirannya.<br />
<br />
Maka, mengingat besarnya biaya (APBD) yang dikucurkan tiap bulan untuk <br />
bagian telemetika itu, kemudian melihat keseriusan pengelolaannya <br />
barangkali ada baiknya DPRD tiap daerah meninjau kembali anggaran dan <br />
kelembagaan bagian ini. Dari pada minyak habis samba tak lamak, perlu <br />
dipertimbangkan apakah pengelolaannya diserahkan kepada pihak yang <br />
kompetensional dan profesional, atau publikasi pemerintah itu diserahkan<br />
sepenuhnya ke media massa publik. Atau ditiadakan sama sekali.<br />
<br />
Kalau dibiarkan, justru yang terjadi arang habis besi bi nasa. Dan, <br />
karena batelematika, tentu akan merusak citra Sumbar dan daerah-daerah <br />
di mata dunia. (FAchrul Rasyid HF/singgalang)</div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">Ada satu bagian di jajaran pemerintahan <br />
provinsi maupun kabupaten/kota yang nyaris luput dari kontrol DPRD, <br />
inspektorat maupun kontrol publik termasuk media massa sejak sepuluh <br />
tahun terakhir. Yaitu fungsi dan keberadaan Bagian Telematika yang <br />
mengelola website atau media online milik pemerintah daerah. <br />
<br />
Di Pemerintahan Provinsi Sumatra Barat, bagian itu berada di bawah Biro <br />
Humas. Dipimpin seorang kepala bagian/pejabat eselon III, dan dibantu <br />
sekitar sepuluh pegawai. Di 19 kabupaten/kota bagian telematika berada <br />
di bawah Dinas Infokom atau Bagian Humas. Dipimpin seorang kepala seksi <br />
dan mempekerjakan sekitar 3 hingga 5 pegawai. Beberapa SKPD seperti <br />
dinas, badan dan kantor pemerintahan juga memiliki website tersendiri.<br />
<br />
Kalau dihitung-hitung, biaya pembangunan jaringan internet untuk <br />
mengoperasikan website resmi milik pemerintah daerah itu, berikut <br />
pembelian peralatan seperti server, komputer dan pembangunan jaringan <br />
bisa mencapai milyaran rupiah. Dan, kalau dihitung biaya operasional, <br />
termasuk gaji pejabat dan pegawai pengelola bisa menghabiskan puluhan <br />
dan bahkan ratusan juta rupiah tiap bulan.<br />
<br />
Adapun manfaat yang diharapkan dari website itu pada prinsipnya adalah <br />
untuk menunjang keterbukaan penyelenggaraan dan komunikasi pemerintah <br />
dan masyarakat. Melalui website itu siapa saja dan di mana saja di <br />
belahan dunia ini yang ingin mengetahui, menganalisa dan berpartisipasi <br />
terhadap jalannya penyelenggaraan pemerintahan bisa memperoleh informasi<br />
dan memberikan masukan melalui website itu.</div>
<div align="justify">Mengingat fungsi dan peran yang sangat <br />
penting maka halaman website itu mesti diisi dengan data serta informasi<br />
yang lengkap, akurat, aktual dan up to date tentang apa saja tentang <br />
daerah dan penyelenggaran pemerintahan di tiap daerah.<br />
<br />
Website mesti menyediakan data base tiap kabupaten/kota. Mulai dari <br />
kondisi geografis, sosial, ekonomi, budaya, lingkungan, serta perangkat <br />
pemerintahan, kebijakan, kegiatan, anggaran, sampai aktivitas masyarakat<br />
dan penyelenggaraan pemerintahan. Singkat kata, tanpa harus berkeringat<br />
masuk kantor pemerintahan, melalui website itu kita bisa mengenal semua<br />
derah dengan segala potensi, dan permasalahannya secara lengkap, aktual<br />
dan up to date.<br />
<br />
Sayang realitanya jauh panggang dari api. Coba buka Website Resmi <br />
Pemprov Sumatera Barat, SUMBARPROV.go.id. Meski di situ memuat beberapa <br />
kategori, seperti profil daerah, organisasi, peluang investasi, produk <br />
unggulan, perizinan, pariwisata dan sebagainya, tapi data yang ada di <br />
dalamnya nyaris tak memadai. Bahkan, selain tidak lengkap data yang ada <br />
sudah kadaluwarsa. Yang paling menonjol adalah pemuatan foto Gubernur <br />
dan Wakil Gubernur. Yang lain lebih berupa berita-berita sebagaimana <br />
dimuat di surat kabar sehingga mirip kumpulan kliping koran. Dimuat <br />
misalnya, dokumen pelaksanaan anggaran pejabat pengelola keuangan <br />
kabupaten, Januari 2012. Tapi bagaimana realisasinya kemudian, tak ada <br />
informasi. Realisasi anggaran sampai September 2012 sebesar 61,33% <br />
justru bersumber dari berita Antara. Bukan penjelasan resmi pemerintah <br />
provinsi.<br />
<br />
Data tentang ruas jalan di Sumatra Barat dimuat 14 April 2011, tapi data<br />
yang digunakan 2 Agustus 2009. Data ini tentu tak mungkin digunakan <br />
menganalisa kemacetan/kepadatan lalulintas kendaraan. Selain karena <br />
kadaluwarsa, SUMBARPROV.go.id, tak menyediakan jumlah kendaraan di <br />
provinsi ini. Begitu juga tentang penduduk miskin. Data yang tersedia <br />
justru berita Antara, 6 Juni 2012.<br />
<br />
Semua itu hanyalah sekadar contoh. Kondisi serupa akan ditemukan pada <br />
bagian yang lain seperti luas dan produksi perkebunan rakyat, pertanian,<br />
peternakan, perikanan, pariwisata, pendidikan dan sebagainya. Kondisi <br />
yang sama ditemukan pada website 19 kabupaten/kota. Yang dipajang di <br />
masing-masing website hanyalah foto bupati/wakil bupati, walikota/wakil <br />
walikota. Nyaris tak satupun yang menyediakan data base masing-masing <br />
daerah secara lengkap, akurat dan up to date. Updating data dan <br />
informasi hampir tak pernah dilakukan secara rutin sesuai perkembangan.<br />
<br />
Berdasarkan kondisi itu tak berlebihan kalau bagian telematika tersebut <br />
pantas disebut batele-mati aka. Batele, bahasa Minang, artinya ngawur, <br />
kacau, tak terukur dan tak bisa dipedomani. Mati aka, sama dengan kurang<br />
dinamis, tak kreatif, lemah inisiatif alias pemalas. Jangan-jangan <br />
karena itu Gubernur Irwan Paryitno dan Wakil Gubernur Muslim Kasim <br />
membuka website/blog atau halaman sendiri di internet yang memuat <br />
tulisan dan pikirannya.<br />
<br />
Maka, mengingat besarnya biaya (APBD) yang dikucurkan tiap bulan untuk <br />
bagian telemetika itu, kemudian melihat keseriusan pengelolaannya <br />
barangkali ada baiknya DPRD tiap daerah meninjau kembali anggaran dan <br />
kelembagaan bagian ini. Dari pada minyak habis samba tak lamak, perlu <br />
dipertimbangkan apakah pengelolaannya diserahkan kepada pihak yang <br />
kompetensional dan profesional, atau publikasi pemerintah itu diserahkan<br />
sepenuhnya ke media massa publik. Atau ditiadakan sama sekali.<br />
<br />
Kalau dibiarkan, justru yang terjadi arang habis besi bi nasa. Dan, <br />
karena batelematika, tentu akan merusak citra Sumbar dan daerah-daerah <br />
di mata dunia. (FAchrul Rasyid HF/singgalang)</div>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Ciputra Group Jakarta Bakal Bangun Waterboom di Padang]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Ciputra-Group-Jakarta-Bakal-Bangun-Waterboom-di-Padang</link>
			<pubDate>Tue, 09 Oct 2012 02:19:22 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Ciputra-Group-Jakarta-Bakal-Bangun-Waterboom-di-Padang</guid>
			<description><![CDATA[Pengusaha Ciputra Group Jakarta berminat berinvestasi di Kota Padang, membangun tempat permainan anak- anak (Waterboom) di kawasan Pasir Jambak Kecamatan Koto Tangah. Untuk itu Pimpinannya Budiarsa dan rombongan seperti Firdaus. HB, melakukan peninjauan ke lapangan dan diterima Walikota Padang, Fauzi Bahar, Sekda Kota Padang, Basril Basyir, dan sejumlah Kepala SKPD, di kediaman walikota, setelah itu langsung ke kawasaan Pasir Jambak dan Bungus Teluk Kabung, Senin (8/10).<br />
<br />
Pada kesempatan itu walikota mengekspose berbagai potensi investasi di Kota Padang, baik dalam pembangunan sarana prasarana kota maupun  kawasan wisata Terpadu Kota Padang, di kawasan Pasir Jambak dan Gunung Padang.<br />
<br />
Pemko Padang kata Fauzi Bahar sangat welcome dengan setiap investor yang ingin menanamkan modalnya di Kota Padang, karena berbagai kemudahan akan diberikan dan telah tertuang dalam peraturan daerah. Kalau betul Ciputra Group berminat membangun waterboom di Pasir Jambak Kecamatan Koto Tangah, Pemko Padang sudah siap, karena lahannya sudah tersedia, serta berbagai kebutuhan administrasinya akan dibantu sepenuhnya oleh Pemko Padang, ujarnya, seperti yang diekspose Kabid Humas Pemko Padang Richardi Akbar.<br />
<br />
Lebih jauh walikota memaparkan bahwa sejak gempa besar 30 September 2009 lalu Padang masih mencari berbagai peluang untuk membenahi kota ini dengan sempurna. Untuk itu berbagai upaya dan terobosan telah dilakukan. Sehingga kota ini bisa segera kembali pulih seperti sebelumnya, bahkan bila perlu lebih baik lagi.<br />
<br />
Bila waterboom itu menjadi kenyataan tentu akan berdampak positif bagi kemajuan kota.  Karena ini salah satu upaya menggenjot perekonomian masyarakat. Mari kita sama- sama berdoa semoga pengusaha Ciputra Group bisa merealisasikan rencanya tersebut, ujar Fauzi Bahar optimis. (padangtoday)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Pengusaha Ciputra Group Jakarta berminat berinvestasi di Kota Padang, membangun tempat permainan anak- anak (Waterboom) di kawasan Pasir Jambak Kecamatan Koto Tangah. Untuk itu Pimpinannya Budiarsa dan rombongan seperti Firdaus. HB, melakukan peninjauan ke lapangan dan diterima Walikota Padang, Fauzi Bahar, Sekda Kota Padang, Basril Basyir, dan sejumlah Kepala SKPD, di kediaman walikota, setelah itu langsung ke kawasaan Pasir Jambak dan Bungus Teluk Kabung, Senin (8/10).<br />
<br />
Pada kesempatan itu walikota mengekspose berbagai potensi investasi di Kota Padang, baik dalam pembangunan sarana prasarana kota maupun  kawasan wisata Terpadu Kota Padang, di kawasan Pasir Jambak dan Gunung Padang.<br />
<br />
Pemko Padang kata Fauzi Bahar sangat welcome dengan setiap investor yang ingin menanamkan modalnya di Kota Padang, karena berbagai kemudahan akan diberikan dan telah tertuang dalam peraturan daerah. Kalau betul Ciputra Group berminat membangun waterboom di Pasir Jambak Kecamatan Koto Tangah, Pemko Padang sudah siap, karena lahannya sudah tersedia, serta berbagai kebutuhan administrasinya akan dibantu sepenuhnya oleh Pemko Padang, ujarnya, seperti yang diekspose Kabid Humas Pemko Padang Richardi Akbar.<br />
<br />
Lebih jauh walikota memaparkan bahwa sejak gempa besar 30 September 2009 lalu Padang masih mencari berbagai peluang untuk membenahi kota ini dengan sempurna. Untuk itu berbagai upaya dan terobosan telah dilakukan. Sehingga kota ini bisa segera kembali pulih seperti sebelumnya, bahkan bila perlu lebih baik lagi.<br />
<br />
Bila waterboom itu menjadi kenyataan tentu akan berdampak positif bagi kemajuan kota.  Karena ini salah satu upaya menggenjot perekonomian masyarakat. Mari kita sama- sama berdoa semoga pengusaha Ciputra Group bisa merealisasikan rencanya tersebut, ujar Fauzi Bahar optimis. (padangtoday)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[169 aliran silat dikhawatirkan hilang]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-169-aliran-silat-dikhawatirkan-hilang</link>
			<pubDate>Thu, 04 Oct 2012 06:10:23 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-169-aliran-silat-dikhawatirkan-hilang</guid>
			<description><![CDATA[Bangkinang, Riau (ANTARA News) - 69 aliran pencak silat di wilayah Provinsi Sumatera Barat dikhawatirkan hilang sehingga perlu ada regenerasi karena selama ini silat dkikuasai kaum tua.<br />
"Masalah banyaknya aliran silat itu merupakan aset berharga untuk pembinaan pesilat muda, karena ada sekitar 169 aliran di daerah ini," kata Ketua Umum Pengurus Provinsi Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia (IPSI) Sumatera Barat, Fauzi Bahar dihubungi dari Bangkinang, Kampar, Rabu.<br />
<br />
Ia mengatakan, pesilat tua sebagai pewaris aliran tersebut belum menularkan keahliannya kepada pesilat muda, sehingga aset tersebut terancam hilang.<br />
<br />
Jika para pesilat tua itu meninggal, maka akan hilang pula aliran-aliran tersebut tanpa ada pewaris, sambung Fauzi.<br />
<br />
Oleh sebab itu IPSI Sumatera Bafrata akan menggelar festival pencak silat se-Sumatera Barat tahun ini dengan  mengundang para pesilat tua yang menguasai aliran tersebut.<br />
<br />
Aliran pencak silat ini tersebar di beberapa daerah Sumatera Barat seperti Kabupaten Agam, Solok, Padang Panjang, Lima Puluh Kota, Pariaman, Tanah Datar, Sijunjung dan Kabupaten Pesisir Selatan.<br />
<br />
Menurut dia, bahwa regenerasi itu penting setelah melihat pesilat andalan Weni Sasmita yang turun pada kelas B putri meraih medali emas pada PON XVIII/2012 di Sport Center Bangkinang, Kampar, sementara Cori Mita Kurnia kelas A meraih medali perak setelah dikalahkan pesilat Yulinar Tikasari dari Jawa Barat di final.<br />
<br />
Menurut dia, sejak PON pertama di Solo, Jawa Tengah pada 1948, belum pernah ada pesilat Sumatera Barat yang meraih medali emas, padahal banyak aliran silat potensial di daerah ini.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Bangkinang, Riau (ANTARA News) - 69 aliran pencak silat di wilayah Provinsi Sumatera Barat dikhawatirkan hilang sehingga perlu ada regenerasi karena selama ini silat dkikuasai kaum tua.<br />
"Masalah banyaknya aliran silat itu merupakan aset berharga untuk pembinaan pesilat muda, karena ada sekitar 169 aliran di daerah ini," kata Ketua Umum Pengurus Provinsi Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia (IPSI) Sumatera Barat, Fauzi Bahar dihubungi dari Bangkinang, Kampar, Rabu.<br />
<br />
Ia mengatakan, pesilat tua sebagai pewaris aliran tersebut belum menularkan keahliannya kepada pesilat muda, sehingga aset tersebut terancam hilang.<br />
<br />
Jika para pesilat tua itu meninggal, maka akan hilang pula aliran-aliran tersebut tanpa ada pewaris, sambung Fauzi.<br />
<br />
Oleh sebab itu IPSI Sumatera Bafrata akan menggelar festival pencak silat se-Sumatera Barat tahun ini dengan  mengundang para pesilat tua yang menguasai aliran tersebut.<br />
<br />
Aliran pencak silat ini tersebar di beberapa daerah Sumatera Barat seperti Kabupaten Agam, Solok, Padang Panjang, Lima Puluh Kota, Pariaman, Tanah Datar, Sijunjung dan Kabupaten Pesisir Selatan.<br />
<br />
Menurut dia, bahwa regenerasi itu penting setelah melihat pesilat andalan Weni Sasmita yang turun pada kelas B putri meraih medali emas pada PON XVIII/2012 di Sport Center Bangkinang, Kampar, sementara Cori Mita Kurnia kelas A meraih medali perak setelah dikalahkan pesilat Yulinar Tikasari dari Jawa Barat di final.<br />
<br />
Menurut dia, sejak PON pertama di Solo, Jawa Tengah pada 1948, belum pernah ada pesilat Sumatera Barat yang meraih medali emas, padahal banyak aliran silat potensial di daerah ini.]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Hati-hati di Kelok 20 dan 22]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Hati-hati-di-Kelok-20-dan-22</link>
			<pubDate>Fri, 14 Sep 2012 03:16:07 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Hati-hati-di-Kelok-20-dan-22</guid>
			<description><![CDATA[<div align="justify">AGAM — Bagi pengendara kendaraan <br />
yang melewati kelok 44 Maninjau, mestilah berhati-hati, sebab kondisi <br />
aspal jalan, terutama kelok 22 dan kelok 20 yang memiliki keterjalan <br />
pendakian lebih terjal dibandingkan dengan pendakian dan penurunan kelok<br />
atau bengkolan lainnya.</div>
“Jangan ditempuh dulu pak, nanti bapak <br />
bisa masuk jurang, jalannya licin,” ujar beberapa pengendara yang <br />
berdiri ramai-ramai di samping mobilnya, di kelok 22.<br />
<br />
Semanjak Rabu (12/9) hingga Kamis (13/3) dua pendakian dan penurunan di <br />
kelok 44 Maninjau itu memang licin. Kendaraan yang hendak melewati jalan<br />
tersebut manggasiang. Roda berputar, tapi kenderaan tidak jalan. <br />
Berbahaya lagi, bergeser ke kiri atau ke kanan, sementara jurang dalam <br />
menunggu mangsanya. Informasi yang berhasil dihimpun Singgalang, hingga <br />
berita ini dikirimkan, belum ada pihak berkompeten yang melakukan <br />
aksinya pada kawasan itu.<br />
<br />
Menurut Dedet yang mengendara sepedamotor nopol BA 5412 L, yang datang <br />
dari arah Matur menuju Maninjau, ketika melewati kelok 22 itu nyaris <br />
mengalami kecelakaan di lokasi tersbut. Sepedamotor yang ia kendarai <br />
berputar dari berbalik arah ketika ia menginjak rem. Untung ketika saat <br />
melewati kawasan jalan tersebut tidak ada kenderaan lain, apabila masuk <br />
kenderaan lain, akan celakalah ia, jelas Dedet kepada Singgalang, Kamis <br />
(13/9) di lokasi. Sebuah mini bus terperangkap, dan nyaris masuk jurang <br />
di kelok 22 tersebut.<br />
<br />
Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Agam, Yunaldi, yang <br />
dihubungi Singgalang, mengaku telah menugaskan anggota Bidang Binamarga <br />
untuk mencek ke lokasi. Dari cek lokasi, ternyata kelok 20 dan kelok 22 <br />
tersebut mengalami gangguan, karena adanya tumpahan minyak solar, namun <br />
hingga berita ini diturunkan, belum ada yang mengalami kecelakaan.<br />
<br />
“Saya mengimbau, menjelang lokasi dibenahi kembali, hendaklah hati-hati,<br />
sebab bila terjatuh kedalam ke dalam jurang, aduh, ngerinya,” jelas <br />
Yunaldi, membayangkan ngerinya kedalaman jurang yang menanti.<br />
<br />
Informasi yang berhasil dihimpun Singgalang dari Sumarni, dan beberapa <br />
warga menyebutkan, penyebab penyebab licinnya dua kelok di kelok 44 itu,<br />
disebabnya tumpahan minyak solar dari sebuah kenderaan, namun dia tidak<br />
mengetahui apa jenis kendaraannya dan berapa nomor polisi (Nopol) nya.(singgalang)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">AGAM — Bagi pengendara kendaraan <br />
yang melewati kelok 44 Maninjau, mestilah berhati-hati, sebab kondisi <br />
aspal jalan, terutama kelok 22 dan kelok 20 yang memiliki keterjalan <br />
pendakian lebih terjal dibandingkan dengan pendakian dan penurunan kelok<br />
atau bengkolan lainnya.</div>
“Jangan ditempuh dulu pak, nanti bapak <br />
bisa masuk jurang, jalannya licin,” ujar beberapa pengendara yang <br />
berdiri ramai-ramai di samping mobilnya, di kelok 22.<br />
<br />
Semanjak Rabu (12/9) hingga Kamis (13/3) dua pendakian dan penurunan di <br />
kelok 44 Maninjau itu memang licin. Kendaraan yang hendak melewati jalan<br />
tersebut manggasiang. Roda berputar, tapi kenderaan tidak jalan. <br />
Berbahaya lagi, bergeser ke kiri atau ke kanan, sementara jurang dalam <br />
menunggu mangsanya. Informasi yang berhasil dihimpun Singgalang, hingga <br />
berita ini dikirimkan, belum ada pihak berkompeten yang melakukan <br />
aksinya pada kawasan itu.<br />
<br />
Menurut Dedet yang mengendara sepedamotor nopol BA 5412 L, yang datang <br />
dari arah Matur menuju Maninjau, ketika melewati kelok 22 itu nyaris <br />
mengalami kecelakaan di lokasi tersbut. Sepedamotor yang ia kendarai <br />
berputar dari berbalik arah ketika ia menginjak rem. Untung ketika saat <br />
melewati kawasan jalan tersebut tidak ada kenderaan lain, apabila masuk <br />
kenderaan lain, akan celakalah ia, jelas Dedet kepada Singgalang, Kamis <br />
(13/9) di lokasi. Sebuah mini bus terperangkap, dan nyaris masuk jurang <br />
di kelok 22 tersebut.<br />
<br />
Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Agam, Yunaldi, yang <br />
dihubungi Singgalang, mengaku telah menugaskan anggota Bidang Binamarga <br />
untuk mencek ke lokasi. Dari cek lokasi, ternyata kelok 20 dan kelok 22 <br />
tersebut mengalami gangguan, karena adanya tumpahan minyak solar, namun <br />
hingga berita ini diturunkan, belum ada yang mengalami kecelakaan.<br />
<br />
“Saya mengimbau, menjelang lokasi dibenahi kembali, hendaklah hati-hati,<br />
sebab bila terjatuh kedalam ke dalam jurang, aduh, ngerinya,” jelas <br />
Yunaldi, membayangkan ngerinya kedalaman jurang yang menanti.<br />
<br />
Informasi yang berhasil dihimpun Singgalang dari Sumarni, dan beberapa <br />
warga menyebutkan, penyebab penyebab licinnya dua kelok di kelok 44 itu,<br />
disebabnya tumpahan minyak solar dari sebuah kenderaan, namun dia tidak<br />
mengetahui apa jenis kendaraannya dan berapa nomor polisi (Nopol) nya.(singgalang)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[MERANTAU: Sarana Ujian Keluar dari Surau bagi Anak Minang]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-MERANTAU-Sarana-Ujian-Keluar-dari-Surau-bagi-Anak-Minang</link>
			<pubDate>Wed, 12 Sep 2012 08:13:54 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-MERANTAU-Sarana-Ujian-Keluar-dari-Surau-bagi-Anak-Minang</guid>
			<description><![CDATA[Siapa yang sangka, kiranya budaya merantau bagi anak Minang bukanlah sekedar untuk melestarikan karatau madang di ulu, di rumah<br />
babungo balun, ka rantau bujang daulu, dirumah baguno balun atau hanya untuk lari dari pahit getirnya h…..<br />
<br />
<br />
Siapa yang sangka, kiranya budaya merantau bagi anak Minang bukanlah sekedar untuk melestarikan karatau madang di ulu, di rumah babungo balun, ka rantau bujang daulu, dirumah baguno balun atau hanya untuk lari dari pahit getirnya hidup dikampung.<br />
<br />
     Namun lebih dari itu, adalah dalam rangka mengikuti ujian nilai adat Minang itu sendiri. Kita lihat euphoria masa lalu, dimana anak Minang menjadi yang terbaik di negeri ini. Mereka bisa berdakwah, mereka bisa berdiplomasi dan mereka bisa beladiri.MasyaAllah, Tidakkah kita tergerak ingin seperti mereka kembali.<br />
<br />
     Apa bekal yang mereka bawa merantau?, ini adalah sebuah pertanyaan filosofis yang perlu kita jawab, sehingga dengan jawaban tersebut kita dapat menjawab tantangan aplikatif merantau dewasa ini. Kita agak skeptis pada hari ini, anak Minang pergi merantau hanya membawa bekal fisik saja lalu kita berharap mereka akan sukses di rantau. Tidakkah kita galau akan pengaruh globalisasi ini, dimana yang tidak punya bekal hanyut dibawa oleh globalisasi yang negatif, seperti pergaulan bebas, narkotika dan sampai kepada perubahan agama. Ini terjadi bukan saja di rantau, di kampung halamanpun terjadi, sehingga sudah berlaku cupak diganti urang pangaleh, jalan di alihurang lalu. Wallahualam.<br />
<br />
     Apakah kita masih ingin mempertahankan Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (biasa dikenal ABS-SBK), kalau masih, mari kita bersama jangan hanya berwacana, sementara kafilah berlalu jua. Mari kita wujudkan kembali anak Minang keSURAU. Ke surau disini, jangan hanya sekedar kita bayangkan, bahwa anak Minang disuruh lalok di surau, namun lebih dari itu, apa yang anak Minang masa lalu mempelajarinya mari kita hidupkan kembali, dengan jalan kemasan pendidikan yang disesuaikan dengan adat salingka nagari. Seperti, kalau kita berjalan-jalan, ke Jorong Batu Baselo, Nagari Matua Hilia, Kabupaten Agam, dimana masyarakat memberikan bekal kepada anak kemenakannya dengan bergantian tempat, dari satu rumah, besoknya kerumah yang lain atau dengan sistem bergiliran pada setiap rumah, yang bagusnya lagi mereka tidak memberatkan tuan rumah. Sesuatu pekerjaan yang juga patut kita tiru, disamping ilmu dapat bagi anak kemenakan kita, silahturrahmi juga berjalan.<br />
<br />
Apa bekal itu ?<br />
<br />
     Bekal yang di dapatkan anak Minang di masa lalu, setidak-tidaknya ada 4 (empat) pendidikan dan latihan, yaitu Bapamahaman Islam, Bapasambahan atau Bapanitahan,Ba Silek, Badendang.<br />
<br />
     Ilmu yang paling diutamakan di dalam SURAU anak Minang dahulu adalah Bapamahaman Islam. Setiap sore anak Minang selepas beraktivitas –kalau sekarang sekolah- pergi ke surau untuk belajar bagaimana pemahaman tentang Islam yang benar, jadi disinilah peran pentingnya tuangku atau malin di dalam nagari atau jorong, mereka mendidik anak Minang didalam pemahamam Islam yang benar.<br />
<br />
     Pemahaman Islam yang benar juga dilingkupi dengan pelajaran berdakwah dan qira’atul alqur’an yang bagus didengar. Kalaulah ini saja berjalan disetiap jorong atau nagari, maka kita tidak akan takut anak Minang kehilangan identitasnya dimanapun mereka kita suruh pergi, sekalipun ke Amerika atau Eropa yang terkenal dengan liberalismnya itu.<br />
<br />
     Disamping itu juga mereka belajar Bapasambahan atau Bapanitahan. Selesai sholat magrib atau Isya, dengan dipandu oleh cadiak pandai yang ada di nagari atau jorong tersebut, diberikan pelajaran tentang Bapasambahan atau Bapanitahan ini. Kita tahu bahwa Bapasambahan atau Bapanitahan adalah nilai sastra yang tinggi, karena di dalamnya anak Minang mendapatkan ilmu berdiplomasi yang sangat halus, dimana ini sangat terpakai didalam pergaulan dimanapun berada. Dengan Bapasambahan atau Bapanitahan ini, anak Minang juga dididik mempunyai rasa malu, dimana ini sejalan dengan Islam itu sendiri,”malu adalah bagian dari iman’.<br />
<br />
     Kemudian anak Minang juag diberi bekal dengan olah tubuh yang baik, dengan fisik yang terlatih yaitu pada pelajaran Basilek. Basilek adalah seni mempertahankan diri yang ada pada anak Minang. Dengan adanya bekal ini maka setiap anak Minang yang pergi merantau akan dapat mempertahankan nyawa, kekayaan dan harga dirinya dari ancaman, tantangan, hambatan dan ganguan dari sesuatu yang tidak baik. Dan ini biasanya diberikan selepas sholat isya atau sekali dalam seminggu.<br />
<br />
     Penutup dari pelajaran yang diberikan kepada anak Minang, juga dibekali dengan Badendang. Badendang disini adalah dalam arti seni budaya yang ada pada adat salingka nagari, misal randai, saluang, tari-tarian, dan sebagainya.<br />
<br />
Merantau sarana ujian<br />
<br />
     Dengan adanya bekal tersebut di atas, maka baru anak Minang dilepas pergi merantau sesuai dengan keahlian yang telah didapatnya –sekarang sekolah- tersebut. Bekal tersebut tidak akan membuat ninik mamak dan orang tua cemas anak kemenakannya pergi walaupun terjadi globalisasi sekalipun <br />
<br />
     Kembali berlaku karatau madang di ulu, di rumah babungo balun, ka rantau bujang daulu, dirumah baguno balun atau guna mengubah hidup dari pahit getirnya hidup dikampung, namun dengan batasan bahwa ketikan anak Minang sukses di rantau, disana sudah dapat pertanda dari kampung bahwa ilmu yang diberikan guru-guru dikampung berhasil.<br />
<br />
     Apakah sampai di situ?, tidak ketika anak Minang sudah berhasil di rantau maka ia harus membawa keberhasilannya tersebut ke kampung halaman. Dia harus membangun kampung halamannya sebagai ucapan terima kasih kepada guru-gurunya yang telah memberikan bekal tadi.<br />
<br />
     Namun, dewasa ini apa yang terjadi, anak Minang yang sudah berhasil di rantau mereka tidak mau membangun kampung halamannya dengan berbagai dalil, dan yang lebihnya ini ketika ada yang ingin ikut serta membangun kampungnya di katakan ada udang dibalik bakwan, Kenapa? Karena bekal yang empat tadi tidak mereka dapatkan. Untuk itu mari kita ubah paradigma kita, bekali anak Minang dan pergilah merantau dan kembalilah ketika berhasil di rantau, bangun kampung. <br />
<br />
Beda Zaman<br />
<br />
     Pledoi kita, orang tua dan ninik mamak sekarang adalah zaman kini dak amuahdisamokan dengan zaman saisuak. Betul, masa memang saling berganti, namun apa yang didalam hakikat yang didapat anak Minang dahulu masih relevan kita pakai sampai hari ini. Yang perlu kita sesuaikan adalah kemasannya. Kalau dahulu marokok jo daun anau, sekarang dengan gudang garam filter, akan tetapi yang intinya tetap rokok.<br />
<br />
     Mari kita, pemerintah, ninik mamak dan orang tua saayun salangkah seperti contoh jorong Batu Baselo di atas, insyaAllah kita bisa.<br />
 <br />
<br />
<a href="http://2.bp.blogspot.com/_9H2foaR_EK4/TQDRwey97AI/AAAAAAAAADs/XrkzvYcWqxw/s1600/rumah-gadang-minang.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><span style="color: #000000;"><img src="http://2.bp.blogspot.com/_9H2foaR_EK4/TQDRwey97AI/AAAAAAAAADs/XrkzvYcWqxw/s320/rumah-gadang-minang.jpg" border="0" alt="[Image: rumah-gadang-minang.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></span></a><br />
<br />
 sumber : <a href="http://rajaoriza.blog.imtelkom.ac.id/2012/03/22/merantau-sarana-ujian-keluar-dari-surau-bagi-anak-minang/" rel="nofollow" target="_blank">http://rajaoriza.blog.imtelkom.ac.id/201...ak-minang/</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Siapa yang sangka, kiranya budaya merantau bagi anak Minang bukanlah sekedar untuk melestarikan karatau madang di ulu, di rumah<br />
babungo balun, ka rantau bujang daulu, dirumah baguno balun atau hanya untuk lari dari pahit getirnya h…..<br />
<br />
<br />
Siapa yang sangka, kiranya budaya merantau bagi anak Minang bukanlah sekedar untuk melestarikan karatau madang di ulu, di rumah babungo balun, ka rantau bujang daulu, dirumah baguno balun atau hanya untuk lari dari pahit getirnya hidup dikampung.<br />
<br />
     Namun lebih dari itu, adalah dalam rangka mengikuti ujian nilai adat Minang itu sendiri. Kita lihat euphoria masa lalu, dimana anak Minang menjadi yang terbaik di negeri ini. Mereka bisa berdakwah, mereka bisa berdiplomasi dan mereka bisa beladiri.MasyaAllah, Tidakkah kita tergerak ingin seperti mereka kembali.<br />
<br />
     Apa bekal yang mereka bawa merantau?, ini adalah sebuah pertanyaan filosofis yang perlu kita jawab, sehingga dengan jawaban tersebut kita dapat menjawab tantangan aplikatif merantau dewasa ini. Kita agak skeptis pada hari ini, anak Minang pergi merantau hanya membawa bekal fisik saja lalu kita berharap mereka akan sukses di rantau. Tidakkah kita galau akan pengaruh globalisasi ini, dimana yang tidak punya bekal hanyut dibawa oleh globalisasi yang negatif, seperti pergaulan bebas, narkotika dan sampai kepada perubahan agama. Ini terjadi bukan saja di rantau, di kampung halamanpun terjadi, sehingga sudah berlaku cupak diganti urang pangaleh, jalan di alihurang lalu. Wallahualam.<br />
<br />
     Apakah kita masih ingin mempertahankan Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (biasa dikenal ABS-SBK), kalau masih, mari kita bersama jangan hanya berwacana, sementara kafilah berlalu jua. Mari kita wujudkan kembali anak Minang keSURAU. Ke surau disini, jangan hanya sekedar kita bayangkan, bahwa anak Minang disuruh lalok di surau, namun lebih dari itu, apa yang anak Minang masa lalu mempelajarinya mari kita hidupkan kembali, dengan jalan kemasan pendidikan yang disesuaikan dengan adat salingka nagari. Seperti, kalau kita berjalan-jalan, ke Jorong Batu Baselo, Nagari Matua Hilia, Kabupaten Agam, dimana masyarakat memberikan bekal kepada anak kemenakannya dengan bergantian tempat, dari satu rumah, besoknya kerumah yang lain atau dengan sistem bergiliran pada setiap rumah, yang bagusnya lagi mereka tidak memberatkan tuan rumah. Sesuatu pekerjaan yang juga patut kita tiru, disamping ilmu dapat bagi anak kemenakan kita, silahturrahmi juga berjalan.<br />
<br />
Apa bekal itu ?<br />
<br />
     Bekal yang di dapatkan anak Minang di masa lalu, setidak-tidaknya ada 4 (empat) pendidikan dan latihan, yaitu Bapamahaman Islam, Bapasambahan atau Bapanitahan,Ba Silek, Badendang.<br />
<br />
     Ilmu yang paling diutamakan di dalam SURAU anak Minang dahulu adalah Bapamahaman Islam. Setiap sore anak Minang selepas beraktivitas –kalau sekarang sekolah- pergi ke surau untuk belajar bagaimana pemahaman tentang Islam yang benar, jadi disinilah peran pentingnya tuangku atau malin di dalam nagari atau jorong, mereka mendidik anak Minang didalam pemahamam Islam yang benar.<br />
<br />
     Pemahaman Islam yang benar juga dilingkupi dengan pelajaran berdakwah dan qira’atul alqur’an yang bagus didengar. Kalaulah ini saja berjalan disetiap jorong atau nagari, maka kita tidak akan takut anak Minang kehilangan identitasnya dimanapun mereka kita suruh pergi, sekalipun ke Amerika atau Eropa yang terkenal dengan liberalismnya itu.<br />
<br />
     Disamping itu juga mereka belajar Bapasambahan atau Bapanitahan. Selesai sholat magrib atau Isya, dengan dipandu oleh cadiak pandai yang ada di nagari atau jorong tersebut, diberikan pelajaran tentang Bapasambahan atau Bapanitahan ini. Kita tahu bahwa Bapasambahan atau Bapanitahan adalah nilai sastra yang tinggi, karena di dalamnya anak Minang mendapatkan ilmu berdiplomasi yang sangat halus, dimana ini sangat terpakai didalam pergaulan dimanapun berada. Dengan Bapasambahan atau Bapanitahan ini, anak Minang juga dididik mempunyai rasa malu, dimana ini sejalan dengan Islam itu sendiri,”malu adalah bagian dari iman’.<br />
<br />
     Kemudian anak Minang juag diberi bekal dengan olah tubuh yang baik, dengan fisik yang terlatih yaitu pada pelajaran Basilek. Basilek adalah seni mempertahankan diri yang ada pada anak Minang. Dengan adanya bekal ini maka setiap anak Minang yang pergi merantau akan dapat mempertahankan nyawa, kekayaan dan harga dirinya dari ancaman, tantangan, hambatan dan ganguan dari sesuatu yang tidak baik. Dan ini biasanya diberikan selepas sholat isya atau sekali dalam seminggu.<br />
<br />
     Penutup dari pelajaran yang diberikan kepada anak Minang, juga dibekali dengan Badendang. Badendang disini adalah dalam arti seni budaya yang ada pada adat salingka nagari, misal randai, saluang, tari-tarian, dan sebagainya.<br />
<br />
Merantau sarana ujian<br />
<br />
     Dengan adanya bekal tersebut di atas, maka baru anak Minang dilepas pergi merantau sesuai dengan keahlian yang telah didapatnya –sekarang sekolah- tersebut. Bekal tersebut tidak akan membuat ninik mamak dan orang tua cemas anak kemenakannya pergi walaupun terjadi globalisasi sekalipun <br />
<br />
     Kembali berlaku karatau madang di ulu, di rumah babungo balun, ka rantau bujang daulu, dirumah baguno balun atau guna mengubah hidup dari pahit getirnya hidup dikampung, namun dengan batasan bahwa ketikan anak Minang sukses di rantau, disana sudah dapat pertanda dari kampung bahwa ilmu yang diberikan guru-guru dikampung berhasil.<br />
<br />
     Apakah sampai di situ?, tidak ketika anak Minang sudah berhasil di rantau maka ia harus membawa keberhasilannya tersebut ke kampung halaman. Dia harus membangun kampung halamannya sebagai ucapan terima kasih kepada guru-gurunya yang telah memberikan bekal tadi.<br />
<br />
     Namun, dewasa ini apa yang terjadi, anak Minang yang sudah berhasil di rantau mereka tidak mau membangun kampung halamannya dengan berbagai dalil, dan yang lebihnya ini ketika ada yang ingin ikut serta membangun kampungnya di katakan ada udang dibalik bakwan, Kenapa? Karena bekal yang empat tadi tidak mereka dapatkan. Untuk itu mari kita ubah paradigma kita, bekali anak Minang dan pergilah merantau dan kembalilah ketika berhasil di rantau, bangun kampung. <br />
<br />
Beda Zaman<br />
<br />
     Pledoi kita, orang tua dan ninik mamak sekarang adalah zaman kini dak amuahdisamokan dengan zaman saisuak. Betul, masa memang saling berganti, namun apa yang didalam hakikat yang didapat anak Minang dahulu masih relevan kita pakai sampai hari ini. Yang perlu kita sesuaikan adalah kemasannya. Kalau dahulu marokok jo daun anau, sekarang dengan gudang garam filter, akan tetapi yang intinya tetap rokok.<br />
<br />
     Mari kita, pemerintah, ninik mamak dan orang tua saayun salangkah seperti contoh jorong Batu Baselo di atas, insyaAllah kita bisa.<br />
 <br />
<br />
<a href="http://2.bp.blogspot.com/_9H2foaR_EK4/TQDRwey97AI/AAAAAAAAADs/XrkzvYcWqxw/s1600/rumah-gadang-minang.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><span style="color: #000000;"><img src="http://2.bp.blogspot.com/_9H2foaR_EK4/TQDRwey97AI/AAAAAAAAADs/XrkzvYcWqxw/s320/rumah-gadang-minang.jpg" border="0" alt="[Image: rumah-gadang-minang.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></span></a><br />
<br />
 sumber : <a href="http://rajaoriza.blog.imtelkom.ac.id/2012/03/22/merantau-sarana-ujian-keluar-dari-surau-bagi-anak-minang/" rel="nofollow" target="_blank">http://rajaoriza.blog.imtelkom.ac.id/201...ak-minang/</a>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Yang Hilang dari Sumnatera Barat]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Yang-Hilang-dari-Sumnatera-Barat</link>
			<pubDate>Fri, 07 Sep 2012 07:22:43 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Yang-Hilang-dari-Sumnatera-Barat</guid>
			<description><![CDATA[<a href="http://bovenlanden.multiply.com/photos/hi-res/1M/31" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://multiply.com/mu/bovenlanden/image/ueZjwL-45exwNfvDljN5FA/photos/1M/300x300/31/DSC00423.JPG?et=n97BHj68LRvWQOmvtcmKug&#x26;nmid=0" border="0" alt="[Image: DSC00423.JPG?et=n97BHj68LRvWQOmvtcmKug&amp;nmid=0]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
Jejak Mak Itam di Bukittinggi<br />
<br />
Tahukah engkau foto apa itu kawan? Ah, akupun tak tahu, yang aku tahu foto tersebut merupakan foto dari salah satu alat pengantur lalu lintas bagi kereta api. Foto ini ku ambil di Tanjuang Alam, sebuah kampung yang terletak di Jalan Raya Bukittnggi-Payakumbuh, sekitar delapan kilometer dari Bukittinggi.<br />
<br />
Sedih sekali kawan, karena keadaan jalur kereta api disini sudah lama tak terawat, ditumbuhi semak belukar. Kalau tak salah ingat, ketika aku masih kecil jalur-jalur kereta api sepanjang Payakumbuh-Bukittinggi dan Bukittinggi-Padang Panjang tidak pernah dilalui oleh kereta api. Kecuali jalur-jalur di Lembah Anai yang menuju Padang, jalur ini dilewati oleh kereta pengangkut batubara. Jika kereta lewat selalu ku pandangi hingga tak terlihat lagi, tak jarang orangtua ku membangunkan ku jika aku tertidur di atas mobil. Ketika itu, kereta api bagi ku merupakan sesuatu yang unik, menarik, dan menimbulkan rasa ingin tahu.<br />
<br />
Dari dulu aku selalu bertanya-tanya “Kenapa kereta api tak lagi digunakan di daerah kita?” beda dengan Pulau Jawa yang hingga kini kereta api masih digunakan sebagai sarana transportasi. Aneh memang,.. akan tetapi ada hikmahnya kawan. Di Jawa banyak nyawa melayang yang diakibatkan oleh alat transportasi ini, setidaknya hal serupa tidak terjadi di Sumatera Barat.<br />
<br />
Hingga kini jika ku pandangi foto lama yang memperlihatkan kereta api yang sedang melintasi jalur di Anai, ataupun yang sedang berhenti di Bukittinggi, hati ku serasa bergetar. Sedih karena hal tersebut tinggal kenangan. Kadangkala jika orangtua ku atau orang-orang tua di kampung bercerita mengenai pengalaman mereka naik mak itam aku selalu merasa iri. Mereka benar-benar beruntung. Kata mereka keadaan di dalam gerbong panas dan penuh sesak, gerbong sendiri terbuat dari kayu. Dari jauh mereka sudah dapat melihat asap mak itam yang membumbung tinggi, dan mereka yang kala itu masih kanak-kanak sering kali berlari-lari menuju stasiun.<br />
<br />
<br />
Di Bukittinggi memang terdapat stasiun kereta api, hingga kini daerah tersebut masih dikenal dengan nama stasiun. Terletak di depan Kantor Pos, Kantor Pos sendiri terletak persis di depan persimpangan yang lebih dikenal oleh orang-orang dengan nama simpang stasiun. Ketika aku masih sekolah di SMA, masih terdapat bangunan yang terbuat dari kayu (semacam pos), kata orang bangunan tersebut merupakan peninggalan masa mak itam masih ada. Walau sejauh yang dapat ku ingat, aku tidak pernah menemukan rel kereta api di sana. Mungkin karena sudah ditutupi aspal. Sekarang bangunan pos tersebut sudah tidak ada, tidak ada sama sekali bekas-bekas yang menunjukkan daerah tersebut dahulunya merupakan stasiun kereta api.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
sumber : <a href="http://bovenlanden.multiply.com/?&amp;=&amp;preview=&amp;item_id=25&amp;album=7&amp;photo=&amp;page_start=60" rel="nofollow" target="_blank">http://bovenlanden.multiply.com/?&#x26;=&#x26;prev...e_start=60</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://bovenlanden.multiply.com/photos/hi-res/1M/31" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://multiply.com/mu/bovenlanden/image/ueZjwL-45exwNfvDljN5FA/photos/1M/300x300/31/DSC00423.JPG?et=n97BHj68LRvWQOmvtcmKug&nmid=0" border="0" alt="[Image: DSC00423.JPG?et=n97BHj68LRvWQOmvtcmKug&amp;nmid=0]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
Jejak Mak Itam di Bukittinggi<br />
<br />
Tahukah engkau foto apa itu kawan? Ah, akupun tak tahu, yang aku tahu foto tersebut merupakan foto dari salah satu alat pengantur lalu lintas bagi kereta api. Foto ini ku ambil di Tanjuang Alam, sebuah kampung yang terletak di Jalan Raya Bukittnggi-Payakumbuh, sekitar delapan kilometer dari Bukittinggi.<br />
<br />
Sedih sekali kawan, karena keadaan jalur kereta api disini sudah lama tak terawat, ditumbuhi semak belukar. Kalau tak salah ingat, ketika aku masih kecil jalur-jalur kereta api sepanjang Payakumbuh-Bukittinggi dan Bukittinggi-Padang Panjang tidak pernah dilalui oleh kereta api. Kecuali jalur-jalur di Lembah Anai yang menuju Padang, jalur ini dilewati oleh kereta pengangkut batubara. Jika kereta lewat selalu ku pandangi hingga tak terlihat lagi, tak jarang orangtua ku membangunkan ku jika aku tertidur di atas mobil. Ketika itu, kereta api bagi ku merupakan sesuatu yang unik, menarik, dan menimbulkan rasa ingin tahu.<br />
<br />
Dari dulu aku selalu bertanya-tanya “Kenapa kereta api tak lagi digunakan di daerah kita?” beda dengan Pulau Jawa yang hingga kini kereta api masih digunakan sebagai sarana transportasi. Aneh memang,.. akan tetapi ada hikmahnya kawan. Di Jawa banyak nyawa melayang yang diakibatkan oleh alat transportasi ini, setidaknya hal serupa tidak terjadi di Sumatera Barat.<br />
<br />
Hingga kini jika ku pandangi foto lama yang memperlihatkan kereta api yang sedang melintasi jalur di Anai, ataupun yang sedang berhenti di Bukittinggi, hati ku serasa bergetar. Sedih karena hal tersebut tinggal kenangan. Kadangkala jika orangtua ku atau orang-orang tua di kampung bercerita mengenai pengalaman mereka naik mak itam aku selalu merasa iri. Mereka benar-benar beruntung. Kata mereka keadaan di dalam gerbong panas dan penuh sesak, gerbong sendiri terbuat dari kayu. Dari jauh mereka sudah dapat melihat asap mak itam yang membumbung tinggi, dan mereka yang kala itu masih kanak-kanak sering kali berlari-lari menuju stasiun.<br />
<br />
<br />
Di Bukittinggi memang terdapat stasiun kereta api, hingga kini daerah tersebut masih dikenal dengan nama stasiun. Terletak di depan Kantor Pos, Kantor Pos sendiri terletak persis di depan persimpangan yang lebih dikenal oleh orang-orang dengan nama simpang stasiun. Ketika aku masih sekolah di SMA, masih terdapat bangunan yang terbuat dari kayu (semacam pos), kata orang bangunan tersebut merupakan peninggalan masa mak itam masih ada. Walau sejauh yang dapat ku ingat, aku tidak pernah menemukan rel kereta api di sana. Mungkin karena sudah ditutupi aspal. Sekarang bangunan pos tersebut sudah tidak ada, tidak ada sama sekali bekas-bekas yang menunjukkan daerah tersebut dahulunya merupakan stasiun kereta api.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
sumber : <a href="http://bovenlanden.multiply.com/?&amp;=&amp;preview=&amp;item_id=25&amp;album=7&amp;photo=&amp;page_start=60" rel="nofollow" target="_blank">http://bovenlanden.multiply.com/?&=&prev...e_start=60</a>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Dilarang Mendaki Marapi-Talang ]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Dilarang-Mendaki-Marapi-Talang</link>
			<pubDate>Thu, 06 Sep 2012 07:36:39 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Dilarang-Mendaki-Marapi-Talang</guid>
			<description><![CDATA[&lt;img src="http://padangekspres.co.id/up/berita/0609201212343416-marapi.jpg" alt="Gunung Merapi" title="klik untuk memperbesar" align="left" width="280" /&gt;<br />
<br />
Padang, Padek—Meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda dan Jawa Barat tak mem­pengaruhi aktivitas gunung berapi di Sumatera Barat. Kemarin (5/9), Gu­nung Marapi mengeluarkan asap dalam radius kecil meski masih dalam kondisi yang wajar. Gunung Marapi dan Talang masih berstatus waspada.<br />
<br />
 <br />
<br />
Hartanto, staf vulkanologi pe­mantau Gunung Marapi menye­but­kan, ada beberapa embusan kecil setinggi seratus meter. Namun, itu bukan karena pe­ngaruh meningkatnya aktivitas gunung berapi di Jawa. “Itu wajar dan tidak perlu dikhawatirkan,” ujarnya.<br />
<br />
 <br />
<br />
Sejak berstatus waspada, menurut Hartanto, masyarakat dan pendaki dilarang mendekat dalam radius 3 km dari puncak gunung. Namun, masih ada pendaki yang nekat ke puncak. “Memang sudah ada larangan keras dari kita. Namun, pendaki masih mencuri-curi untuk naik,” terangnya.<br />
<br />
 <br />
<br />
Gunung Marapi terakhir kali me­letus pada 2005. namun, pada 3 Agustus 2011 sempat mengeluarkan abu vulkanik berbau belerang dengan ketinggian mencapai 1.000 meter. Abu menjangkau sejumlah daerah di Sum­bar seperti Agam, Tanahdatar, Pa­dangpariaman, dan Padangpanjang.<br />
<br />
 <br />
<br />
Sementara, Ketua Pos Pengamatan Gunung Api Talang Dalipa Marjusi mengatakan, saat ini memang masih ada gempa yang terjadi karena akti­vitas gunung. “Aktivitasnya fluktuasi, namun dua minggu belakangan cen­derung menurun. Jadi, masyarakat tidak perlu cemas,” kata Dalipa.<br />
<br />
 <br />
<br />
Walaupun begitu, hingga kini pihak pemantau gunung api masih melarang pendaki dan masyarakat mendekati puncak Gunung Talang. “Memang masih ada yang mendaki, namun kita menu­tup jalur kira-kira 3 kilometer dari puncak,” kata Dalipa.<br />
<br />
 <br />
<br />
“Sebagai gunung berapi yang aktif, Gunung Talang tentu saja menunjukkan ak­tivitas yang turun naik. Itu adalah karakter normal dari gunung berapi. Namun perlu juga diingat bahwa adanya aktivitas seperti itu justru berefek baik bagi kondisi gu­nung. Karena dengan aktivitas itu, ada pelepasan energi, yang membuat kemungkinan erupsi sangat kecil,” ujarnya.<br />
<br />
 <br />
<br />
Dalipa mengatakan, status waspada pada Gunung Talang adalah sebuah fenomena biasa. Dari pengamatannya selama ini, level di status waspada justru baik untuk gunung itu. Kalau Gunung Talang tidak beraktivitas lama, justru ma­kin meningkatkan kemung­ki­nan erupsi maupun semburan abu.<br />
<br />
 <br />
<br />
“Kalau tidak ada aktivitas, justru membuat kita khawatir. Karena bakal ada energi yang tertahan dan sewaktu-waktu bisa meletup atau menyem­burkan abu. Jadi kita ma­sya­rakat tidak panik,” lanjutnya.<br />
<br />
 <br />
<br />
Sekadar diketahui, sejak tahun 1833, Gunung Talang telah meletus sebanyak de­lapan kali. Yang terakhir ter­jadi tahun 2005. Ketika itu, Gunung Talang mengeluarkan material abu vulkanik di per­mukaannya, sehingga me­nutupi jalan-jalan dan areal pertanian warga sekitar.<br />
<br />
 <br />
<br />
Sejak letusan tersebut sam­pai saat ini status Gunung Talang masih waspada dan belum mengalami pe­ning­katan aktivitas.<br />
<br />
 <br />
<br />
Setidaknya ada empat ke­ca­matan yang warganya ber­mukim di sekitar kaki gunung ini, yakni Kecamatan Lem­bahgumanti, Danau Kembar, Gunung Talang, dan Lem­bangjaya. Jumlah penduduk di empat kecamatan itu men­capai 160.000 jiwa atau se­pertiga dari jumlah penduduk Kabupaten Solok.<br />
<br />
 <br />
<br />
Pantauan Padang Ekspres, aktivitas Gunung Talang justru tidak terlihat dari kejauhan. Sementara masyarakat yang memiliki peladangan palawija di pinggang tetap beraktivitas seperti biasa. “Ada semburan abu vulkanik, tapi itu sudah biasa,” ujar Taufik, warga Bukiksileh, Kecamatan Lem­bangjaya. (ad/rzy)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[&lt;img src="http://padangekspres.co.id/up/berita/0609201212343416-marapi.jpg" alt="Gunung Merapi" title="klik untuk memperbesar" align="left" width="280" /&gt;<br />
<br />
Padang, Padek—Meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda dan Jawa Barat tak mem­pengaruhi aktivitas gunung berapi di Sumatera Barat. Kemarin (5/9), Gu­nung Marapi mengeluarkan asap dalam radius kecil meski masih dalam kondisi yang wajar. Gunung Marapi dan Talang masih berstatus waspada.<br />
<br />
 <br />
<br />
Hartanto, staf vulkanologi pe­mantau Gunung Marapi menye­but­kan, ada beberapa embusan kecil setinggi seratus meter. Namun, itu bukan karena pe­ngaruh meningkatnya aktivitas gunung berapi di Jawa. “Itu wajar dan tidak perlu dikhawatirkan,” ujarnya.<br />
<br />
 <br />
<br />
Sejak berstatus waspada, menurut Hartanto, masyarakat dan pendaki dilarang mendekat dalam radius 3 km dari puncak gunung. Namun, masih ada pendaki yang nekat ke puncak. “Memang sudah ada larangan keras dari kita. Namun, pendaki masih mencuri-curi untuk naik,” terangnya.<br />
<br />
 <br />
<br />
Gunung Marapi terakhir kali me­letus pada 2005. namun, pada 3 Agustus 2011 sempat mengeluarkan abu vulkanik berbau belerang dengan ketinggian mencapai 1.000 meter. Abu menjangkau sejumlah daerah di Sum­bar seperti Agam, Tanahdatar, Pa­dangpariaman, dan Padangpanjang.<br />
<br />
 <br />
<br />
Sementara, Ketua Pos Pengamatan Gunung Api Talang Dalipa Marjusi mengatakan, saat ini memang masih ada gempa yang terjadi karena akti­vitas gunung. “Aktivitasnya fluktuasi, namun dua minggu belakangan cen­derung menurun. Jadi, masyarakat tidak perlu cemas,” kata Dalipa.<br />
<br />
 <br />
<br />
Walaupun begitu, hingga kini pihak pemantau gunung api masih melarang pendaki dan masyarakat mendekati puncak Gunung Talang. “Memang masih ada yang mendaki, namun kita menu­tup jalur kira-kira 3 kilometer dari puncak,” kata Dalipa.<br />
<br />
 <br />
<br />
“Sebagai gunung berapi yang aktif, Gunung Talang tentu saja menunjukkan ak­tivitas yang turun naik. Itu adalah karakter normal dari gunung berapi. Namun perlu juga diingat bahwa adanya aktivitas seperti itu justru berefek baik bagi kondisi gu­nung. Karena dengan aktivitas itu, ada pelepasan energi, yang membuat kemungkinan erupsi sangat kecil,” ujarnya.<br />
<br />
 <br />
<br />
Dalipa mengatakan, status waspada pada Gunung Talang adalah sebuah fenomena biasa. Dari pengamatannya selama ini, level di status waspada justru baik untuk gunung itu. Kalau Gunung Talang tidak beraktivitas lama, justru ma­kin meningkatkan kemung­ki­nan erupsi maupun semburan abu.<br />
<br />
 <br />
<br />
“Kalau tidak ada aktivitas, justru membuat kita khawatir. Karena bakal ada energi yang tertahan dan sewaktu-waktu bisa meletup atau menyem­burkan abu. Jadi kita ma­sya­rakat tidak panik,” lanjutnya.<br />
<br />
 <br />
<br />
Sekadar diketahui, sejak tahun 1833, Gunung Talang telah meletus sebanyak de­lapan kali. Yang terakhir ter­jadi tahun 2005. Ketika itu, Gunung Talang mengeluarkan material abu vulkanik di per­mukaannya, sehingga me­nutupi jalan-jalan dan areal pertanian warga sekitar.<br />
<br />
 <br />
<br />
Sejak letusan tersebut sam­pai saat ini status Gunung Talang masih waspada dan belum mengalami pe­ning­katan aktivitas.<br />
<br />
 <br />
<br />
Setidaknya ada empat ke­ca­matan yang warganya ber­mukim di sekitar kaki gunung ini, yakni Kecamatan Lem­bahgumanti, Danau Kembar, Gunung Talang, dan Lem­bangjaya. Jumlah penduduk di empat kecamatan itu men­capai 160.000 jiwa atau se­pertiga dari jumlah penduduk Kabupaten Solok.<br />
<br />
 <br />
<br />
Pantauan Padang Ekspres, aktivitas Gunung Talang justru tidak terlihat dari kejauhan. Sementara masyarakat yang memiliki peladangan palawija di pinggang tetap beraktivitas seperti biasa. “Ada semburan abu vulkanik, tapi itu sudah biasa,” ujar Taufik, warga Bukiksileh, Kecamatan Lem­bangjaya. (ad/rzy)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Harga Tiket Naik 200 Persen]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Harga-Tiket-Naik-200-Persen</link>
			<pubDate>Thu, 23 Aug 2012 22:19:12 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Harga-Tiket-Naik-200-Persen</guid>
			<description><![CDATA[<div align="left"><span style="font-weight: bold;">JAKARTA, HALUAN—</span>Para pemudik yang akan <br />
kembali ke Jakarta pada puncak arus balik Lebaran kali ini harus merogoh<br />
kocek lebih untuk harga tiket bus. Sebab Harga tiket bus untuk tujuan <br />
Jakarta ini bisa melonjak hingga 200 persen dari harga normal.</div>
<div align="left">Baik agen tiket maupun awak bus mengaku, lonjakan harga <br />
tiket ini lebih dipengaruhi oleh waktu tempuh yang lebih lama. Terutama <br />
akibat kepa­datan arus lalulintas di jalur utama mudik pada arus balik <br />
Lebaran. “Pihak operator bus antarkota antar provinsi (AKAP)­ umumnya <br />
mengan­tisipasi panjangnya waktu tempuh ini dengan menaikkan harga <br />
tiket,” ungkap Ismiyati (41), pemilik agen tiket bus di Terminal Kelas <br />
II Bawen, Kabupaten Semarang, Kamis (23/8).<br />
<br />
<br />
</div>
<div align="left">Bahkan untuk puncak arus balik —yang diprediksi akan <br />
berlangsung pada Jumat (24/8) dan Sabtu (25/8) nanti—tiket bus naik <br />
hampir tiga kali lipat dari harga normal. Harga ini berlaku untuk semua <br />
angkutan bus tujuan Jakarta.</div>
<div align="left">Hal ini diamini oleh Franky (30), dari Perusahaan Otobus<br />
(PO) Rosalia Indah. Menurut­nya, jarak tempuh yang lebih lama akan <br />
membutuhkan bahan bakar (solar) lebih banyak diban­dingkan dengan <br />
perjalanan yang relatif lancar. “Sehingga setiap armada bus <br />
‘membebankan’ kebutuhan solar —yang lebih banyak ini— pada tiket <br />
penumpang. Hal ini untuk mengurangi kerugian,” ujar Franky yang <br />
dikonfirmasi terpisah.</div>
<div align="left">Namun ia mengaku, persen­tase lonjakan harga tiket bus <br />
tersebut tidak jauh berbeda dengan persentase kenaikan harga tiket pada <br />
Mudik dan Arus Balik Lebaran tahun lalu. Kalaupun terpaut selisihnya <br />
juga tidak terlalu banyak.</div>
<div align="left">Faktor lainnya, jelas dia, banyak dipicu menurunnya <br />
animo masyarakat untuk mudik menggunakan transportasi bus. “Sekarang ini<br />
banyak instansi dan lembaga yang menyelenggarakan mudik gratis. Mau tak<br />
mau animo masya­rakat juga menurun,” lanjutnya.</div>
<div align="left">Berdasarkan pantauan di lapangan, harga tiket bus pada <br />
arus balik ini dilakukan secara berjangka. PO Gunung Mulia jurusan <br />
Jakarta misalnya, harga normal (kelas VIP) hanya Rp 120.000 dan <br />
Eksekutif Rp 160.000.</div>
<div align="left">Namun untuk tiket tanggal 20 hingga 22 Agustus untuk <br />
kelas VIP naik menjadi Rp 200.000 dan kelas eksekutif menjadi Rp <br />
250.000. Khusus keberangkatan tanggal 23 Agustus hingga 26 Agustus harga<br />
tiket melonjak menjadi Rp 250.000 (VIP) dan Rp 310.000 (eksekutif).</div>
<div align="left">Demikian pula PO Arga Mas jurusan Jakarta, yang harga <br />
tiket pada hari biasa hanya Rp 110.000 (VIP) juga mengalami kenaikan <br />
menjadi Rp 240.000 untuk keberang­katan tanggal 23 Agustus. Pada <br />
keberangkatan tanggal 24 Agustus kembali melonjak menjadi Rp 300.000. <span style="font-weight: bold;">(h/rol)</span></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="left"><span style="font-weight: bold;">JAKARTA, HALUAN—</span>Para pemudik yang akan <br />
kembali ke Jakarta pada puncak arus balik Lebaran kali ini harus merogoh<br />
kocek lebih untuk harga tiket bus. Sebab Harga tiket bus untuk tujuan <br />
Jakarta ini bisa melonjak hingga 200 persen dari harga normal.</div>
<div align="left">Baik agen tiket maupun awak bus mengaku, lonjakan harga <br />
tiket ini lebih dipengaruhi oleh waktu tempuh yang lebih lama. Terutama <br />
akibat kepa­datan arus lalulintas di jalur utama mudik pada arus balik <br />
Lebaran. “Pihak operator bus antarkota antar provinsi (AKAP)­ umumnya <br />
mengan­tisipasi panjangnya waktu tempuh ini dengan menaikkan harga <br />
tiket,” ungkap Ismiyati (41), pemilik agen tiket bus di Terminal Kelas <br />
II Bawen, Kabupaten Semarang, Kamis (23/8).<br />
<br />
<br />
</div>
<div align="left">Bahkan untuk puncak arus balik —yang diprediksi akan <br />
berlangsung pada Jumat (24/8) dan Sabtu (25/8) nanti—tiket bus naik <br />
hampir tiga kali lipat dari harga normal. Harga ini berlaku untuk semua <br />
angkutan bus tujuan Jakarta.</div>
<div align="left">Hal ini diamini oleh Franky (30), dari Perusahaan Otobus<br />
(PO) Rosalia Indah. Menurut­nya, jarak tempuh yang lebih lama akan <br />
membutuhkan bahan bakar (solar) lebih banyak diban­dingkan dengan <br />
perjalanan yang relatif lancar. “Sehingga setiap armada bus <br />
‘membebankan’ kebutuhan solar —yang lebih banyak ini— pada tiket <br />
penumpang. Hal ini untuk mengurangi kerugian,” ujar Franky yang <br />
dikonfirmasi terpisah.</div>
<div align="left">Namun ia mengaku, persen­tase lonjakan harga tiket bus <br />
tersebut tidak jauh berbeda dengan persentase kenaikan harga tiket pada <br />
Mudik dan Arus Balik Lebaran tahun lalu. Kalaupun terpaut selisihnya <br />
juga tidak terlalu banyak.</div>
<div align="left">Faktor lainnya, jelas dia, banyak dipicu menurunnya <br />
animo masyarakat untuk mudik menggunakan transportasi bus. “Sekarang ini<br />
banyak instansi dan lembaga yang menyelenggarakan mudik gratis. Mau tak<br />
mau animo masya­rakat juga menurun,” lanjutnya.</div>
<div align="left">Berdasarkan pantauan di lapangan, harga tiket bus pada <br />
arus balik ini dilakukan secara berjangka. PO Gunung Mulia jurusan <br />
Jakarta misalnya, harga normal (kelas VIP) hanya Rp 120.000 dan <br />
Eksekutif Rp 160.000.</div>
<div align="left">Namun untuk tiket tanggal 20 hingga 22 Agustus untuk <br />
kelas VIP naik menjadi Rp 200.000 dan kelas eksekutif menjadi Rp <br />
250.000. Khusus keberangkatan tanggal 23 Agustus hingga 26 Agustus harga<br />
tiket melonjak menjadi Rp 250.000 (VIP) dan Rp 310.000 (eksekutif).</div>
<div align="left">Demikian pula PO Arga Mas jurusan Jakarta, yang harga <br />
tiket pada hari biasa hanya Rp 110.000 (VIP) juga mengalami kenaikan <br />
menjadi Rp 240.000 untuk keberang­katan tanggal 23 Agustus. Pada <br />
keberangkatan tanggal 24 Agustus kembali melonjak menjadi Rp 300.000. <span style="font-weight: bold;">(h/rol)</span></div>]]></content:encoded>
		</item>
	</channel>
</rss>