<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
	<channel>
		<title><![CDATA[Minang Forum - Sejarah Minangkabau]]></title>
		<link>http://www.minangforum.com/</link>
		<description><![CDATA[Minang Forum - http://www.minangforum.com]]></description>
		<pubDate>Sat, 25 May 2013 11:08:35 +0000</pubDate>
		<generator>MyBB</generator>
		<item>
			<title><![CDATA[Tempo Doeloe "Padang, Gaji Inlander Paling Rendah"]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Tempo-Doeloe-Padang-Gaji-Inlander-Paling-Rendah</link>
			<pubDate>Mon, 03 Dec 2012 07:08:54 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Tempo-Doeloe-Padang-Gaji-Inlander-Paling-Rendah</guid>
			<description><![CDATA[<img src="http://www.nederlandsindie.com/wp-content/uploads/2009/03/padang-wapen-150x150.jpg" border="0" alt="[Image: padang-wapen-150x150.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<br />
<br />
<br />
Lambang Kotapraja Padang di Zaman Belanda<br />
<br />
<br />
Nederlandsindie.com<br />
– Di zaman itu kota Padang, Sumatra Barat, dihuni oleh masyarakat yang <br />
dipisahkan menurut undang-undang berdasarkan kelompok etnik, yakni: (a) <br />
Eropa, (b) Asing Timur (Cina), dan &copy; inlanders (pribumi). <br />
Kelompok-kelompok masyarakat ini memiliki hukum dan aturannya <br />
sendiri-sendiri, tempat ibadah sendiri, kawasan hunian dan makam/kuburan<br />
juga sendiri-sendiri.<br />
<br />
Para inlander digaji lebih rendah dibandingkan kelompok Eropa dan <br />
Asing Timur, tetapi ongkos hidup mereka juga rendah. Dalam sebuah koran <br />
terbitan masa itu, ketika Papa masih berusia 10 tahun, pernah dimuat <br />
bahwa pada pertunjukan sirkus harga tiket untuk dewasa Eropa Fl 10 <br />
(sepuluh Gulden), anak-anak Fl 5 (lima Gulden) dan inlanders Fl 2,5 (2,5<br />
gulden).<br />
<br />
Di Padang dan sekitarnya dengan ibukota Bukkitinggi atau Fort de Kock<br />
(dulu) banyak tinggal orang-orang Minang. Mereka ini termasuk penganut <br />
matriarchat yang sangat langka di dunia.<br />
<br />
Anak-anak keturunan mereka menyandang nama keluarga dari pihak ibu, <br />
dan mewarisi harta dari garis keturunan ibu. Mayoritas dari mereka <br />
adalah muslim dan itu bisa dilihat pada sebagian besar perempuan yang <br />
mengenakan kerudung.<br />
<br />
Mereka secara umum kedudukannya tidak lebih rendah dan melakukan pekerjaan sebagaimana laki-laki.<br />
<br />
Kawasan di luar Padang sangat subur dan makmur, suatu hal yang tidak <br />
terlihat di Padang sendiri. Padang nampak seperti kota tidur, sangat <br />
sepi. Lalulintas di dalam kota tidak boleh melebihi kecepatan 40km/jam. <br />
Di luar kawasan tempat tinggal kecepatan maksimalnya 70km/jam.<br />
<br />
Warga inlander tidak pernah berteriak atau membuat keributan. <br />
Semuanya begitu tenang dan damai. Orang-orang setempat umumnya <br />
duduk-duduk dengan sikap mereka yang sangat spesifik: berjongkok melamun<br />
sambil menghisap rokok kretek. (Clemensjacobusboon)<br />
<br />
<br />
Sumber; <a href="http://www.nederlandsindie.com/padang-gaji-inlander-paling-rendah/" rel="nofollow" target="_blank">http://www.nederlandsindie.com/padang-ga...ng-rendah/</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<img src="http://www.nederlandsindie.com/wp-content/uploads/2009/03/padang-wapen-150x150.jpg" border="0" alt="[Image: padang-wapen-150x150.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<br />
<br />
<br />
Lambang Kotapraja Padang di Zaman Belanda<br />
<br />
<br />
Nederlandsindie.com<br />
– Di zaman itu kota Padang, Sumatra Barat, dihuni oleh masyarakat yang <br />
dipisahkan menurut undang-undang berdasarkan kelompok etnik, yakni: (a) <br />
Eropa, (b) Asing Timur (Cina), dan &copy; inlanders (pribumi). <br />
Kelompok-kelompok masyarakat ini memiliki hukum dan aturannya <br />
sendiri-sendiri, tempat ibadah sendiri, kawasan hunian dan makam/kuburan<br />
juga sendiri-sendiri.<br />
<br />
Para inlander digaji lebih rendah dibandingkan kelompok Eropa dan <br />
Asing Timur, tetapi ongkos hidup mereka juga rendah. Dalam sebuah koran <br />
terbitan masa itu, ketika Papa masih berusia 10 tahun, pernah dimuat <br />
bahwa pada pertunjukan sirkus harga tiket untuk dewasa Eropa Fl 10 <br />
(sepuluh Gulden), anak-anak Fl 5 (lima Gulden) dan inlanders Fl 2,5 (2,5<br />
gulden).<br />
<br />
Di Padang dan sekitarnya dengan ibukota Bukkitinggi atau Fort de Kock<br />
(dulu) banyak tinggal orang-orang Minang. Mereka ini termasuk penganut <br />
matriarchat yang sangat langka di dunia.<br />
<br />
Anak-anak keturunan mereka menyandang nama keluarga dari pihak ibu, <br />
dan mewarisi harta dari garis keturunan ibu. Mayoritas dari mereka <br />
adalah muslim dan itu bisa dilihat pada sebagian besar perempuan yang <br />
mengenakan kerudung.<br />
<br />
Mereka secara umum kedudukannya tidak lebih rendah dan melakukan pekerjaan sebagaimana laki-laki.<br />
<br />
Kawasan di luar Padang sangat subur dan makmur, suatu hal yang tidak <br />
terlihat di Padang sendiri. Padang nampak seperti kota tidur, sangat <br />
sepi. Lalulintas di dalam kota tidak boleh melebihi kecepatan 40km/jam. <br />
Di luar kawasan tempat tinggal kecepatan maksimalnya 70km/jam.<br />
<br />
Warga inlander tidak pernah berteriak atau membuat keributan. <br />
Semuanya begitu tenang dan damai. Orang-orang setempat umumnya <br />
duduk-duduk dengan sikap mereka yang sangat spesifik: berjongkok melamun<br />
sambil menghisap rokok kretek. (Clemensjacobusboon)<br />
<br />
<br />
Sumber; <a href="http://www.nederlandsindie.com/padang-gaji-inlander-paling-rendah/" rel="nofollow" target="_blank">http://www.nederlandsindie.com/padang-ga...ng-rendah/</a>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Sejarah Nagari Air Bangis]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Sejarah-Nagari-Air-Bangis</link>
			<pubDate>Sat, 01 Dec 2012 07:13:41 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Sejarah-Nagari-Air-Bangis</guid>
			<description><![CDATA[<a href="http://4.bp.blogspot.com/-NHdoi8TQoLA/UKCbjNdJ2QI/AAAAAAAABLg/YjPmtKHJ5Ak/s1600/aia+bangih.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://4.bp.blogspot.com/-NHdoi8TQoLA/UKCbjNdJ2QI/AAAAAAAABLg/YjPmtKHJ5Ak/s320/aia+bangih.jpg" border="0" alt="[Image: aia+bangih.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Nagari<br />
Air Bangis adalah nagari yang sangat plural dan heterogen. Pada abab ke<br />
17 orang pelarian dari kerajaan indrapura sampai di daerah air bangis <br />
dan menetap di air bangis membuat<br />
perkampungan dan semakin berkembang mereka membentuk pemerintahan <br />
mengatur tata kehidupan masyarakat,daerah perkampungan itu dinamakan air<br />
bangis,dan kenapa di beri nama air bangis karna pertama rombongan dari <br />
kerajaan indra pura menemukan sebatang pohon bangei(sebangsa pohon <br />
tumbuh di pinggir sungai) maka dinamakan sungai itu dengan nama “Ayer <br />
Bangei” dan pada abab 17 datanglah pedagang dari eropa tapi karna lafaz <br />
orang eropa itu mengatakan Ayer Banges,dan dalam perkembanganya <br />
masyarakat menyebut dengan kata Air Bangis<br />
<br />
<br />
<div align="justify">
Tidak hanya saat ini <br />
nagari air Bangis yang didatangi oleh pendatang. Tetapi sejak dahulu <br />
kala nagari Air Bangis sudah merupakan pusat perdagangan sebagaimana <br />
layaknya daerah-daerah pesisir pantai lainnya. Perkawinan penduduk asli <br />
dengan pendatang kemudian melahirkan keturunan yang kemudian menetap di <br />
Nagari Air Bangis.</div>
<br />
<br />
<div align="justify">
Air bangis sejak dalu terkenal sebagai daerah <br />
dagang terbaik. fakta sejarah menyangkut posisi Air Bangis sebagai <br />
daerah dagang yang dikutip dari W. Marsden, The Su-matera's, Cet.ke-3, <br />
London: BlackHorse, 1941) Marsden mengatakan bahwa pada tahun 1730 M. <br />
terdapat beberapa daerah di pantai barat Sumatera yang memiliki <br />
intensitas perdagangan yang cukup tinggi yaitu : Barus, Sungai Taru, <br />
Batu Mundam, Sinkuan, Tabuyung, Kun-kun, Natal, Batahan, Air Bangis, <br />
Pariaman. Kamper, barus dan emas serta lilin menjadi komoditas <br />
perdagangan favorit didaerah ini.</div>
<div align="justify">
Menurut Kroeskamp (sejarawan <br />
Belanda) dalam bukunya De Westkust, pada tahun 1730 di Natal, Air Bangis<br />
dan Batahan banyak terdapat pemukiman pedagang Aceh yang hanya membeli <br />
emas. Emas berasal dari lembah Rao. Karena perdagangan ramai di daerah <br />
pesisir, maka transaksi emas antara orang-orang dari lembah Rao dengan <br />
pedagang Aceh dilakukan di tiga daerah tersebut. Kroeskamp menggambarkan<br />
keadaan daerah Natal dan Air Bangis pada tahun 1740-an sebagai berikut :<br />
"Natal dan Air Bangis menjadi tempat berdagang, banyak orang menetap <br />
didua daerah ini untuk berdagang, berasal dari Achin (maksudnya: Aceh), <br />
Rau (Rao), Menangkabau (daerah darat) dan dari seberang laut (Eropa dan <br />
India seperti yang saya tulis dalam Bulletin Lentera Ummat terdahulu). <br />
Tahun 1756 Inggris mendirikan pabrik (tidak disebutkan pabrik apa) di <br />
Tapanuli. Untuk membalas pengaruh Inggris ini, maka Belanda tahun 1756 <br />
menetap di Air Bangis".<br />
<br />
sumber : <a href="http://allaboutminangkabau.blogspot.com/2012/11/sejarah-nagari-air-bangis.html" rel="nofollow" target="_blank">http://allaboutminangkabau.blogspot.com/...angis.html</a></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://4.bp.blogspot.com/-NHdoi8TQoLA/UKCbjNdJ2QI/AAAAAAAABLg/YjPmtKHJ5Ak/s1600/aia+bangih.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://4.bp.blogspot.com/-NHdoi8TQoLA/UKCbjNdJ2QI/AAAAAAAABLg/YjPmtKHJ5Ak/s320/aia+bangih.jpg" border="0" alt="[Image: aia+bangih.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Nagari<br />
Air Bangis adalah nagari yang sangat plural dan heterogen. Pada abab ke<br />
17 orang pelarian dari kerajaan indrapura sampai di daerah air bangis <br />
dan menetap di air bangis membuat<br />
perkampungan dan semakin berkembang mereka membentuk pemerintahan <br />
mengatur tata kehidupan masyarakat,daerah perkampungan itu dinamakan air<br />
bangis,dan kenapa di beri nama air bangis karna pertama rombongan dari <br />
kerajaan indra pura menemukan sebatang pohon bangei(sebangsa pohon <br />
tumbuh di pinggir sungai) maka dinamakan sungai itu dengan nama “Ayer <br />
Bangei” dan pada abab 17 datanglah pedagang dari eropa tapi karna lafaz <br />
orang eropa itu mengatakan Ayer Banges,dan dalam perkembanganya <br />
masyarakat menyebut dengan kata Air Bangis<br />
<br />
<br />
<div align="justify">
Tidak hanya saat ini <br />
nagari air Bangis yang didatangi oleh pendatang. Tetapi sejak dahulu <br />
kala nagari Air Bangis sudah merupakan pusat perdagangan sebagaimana <br />
layaknya daerah-daerah pesisir pantai lainnya. Perkawinan penduduk asli <br />
dengan pendatang kemudian melahirkan keturunan yang kemudian menetap di <br />
Nagari Air Bangis.</div>
<br />
<br />
<div align="justify">
Air bangis sejak dalu terkenal sebagai daerah <br />
dagang terbaik. fakta sejarah menyangkut posisi Air Bangis sebagai <br />
daerah dagang yang dikutip dari W. Marsden, The Su-matera's, Cet.ke-3, <br />
London: BlackHorse, 1941) Marsden mengatakan bahwa pada tahun 1730 M. <br />
terdapat beberapa daerah di pantai barat Sumatera yang memiliki <br />
intensitas perdagangan yang cukup tinggi yaitu : Barus, Sungai Taru, <br />
Batu Mundam, Sinkuan, Tabuyung, Kun-kun, Natal, Batahan, Air Bangis, <br />
Pariaman. Kamper, barus dan emas serta lilin menjadi komoditas <br />
perdagangan favorit didaerah ini.</div>
<div align="justify">
Menurut Kroeskamp (sejarawan <br />
Belanda) dalam bukunya De Westkust, pada tahun 1730 di Natal, Air Bangis<br />
dan Batahan banyak terdapat pemukiman pedagang Aceh yang hanya membeli <br />
emas. Emas berasal dari lembah Rao. Karena perdagangan ramai di daerah <br />
pesisir, maka transaksi emas antara orang-orang dari lembah Rao dengan <br />
pedagang Aceh dilakukan di tiga daerah tersebut. Kroeskamp menggambarkan<br />
keadaan daerah Natal dan Air Bangis pada tahun 1740-an sebagai berikut :<br />
"Natal dan Air Bangis menjadi tempat berdagang, banyak orang menetap <br />
didua daerah ini untuk berdagang, berasal dari Achin (maksudnya: Aceh), <br />
Rau (Rao), Menangkabau (daerah darat) dan dari seberang laut (Eropa dan <br />
India seperti yang saya tulis dalam Bulletin Lentera Ummat terdahulu). <br />
Tahun 1756 Inggris mendirikan pabrik (tidak disebutkan pabrik apa) di <br />
Tapanuli. Untuk membalas pengaruh Inggris ini, maka Belanda tahun 1756 <br />
menetap di Air Bangis".<br />
<br />
sumber : <a href="http://allaboutminangkabau.blogspot.com/2012/11/sejarah-nagari-air-bangis.html" rel="nofollow" target="_blank">http://allaboutminangkabau.blogspot.com/...angis.html</a></div>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Sejarah Nama Minangkabau]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Sejarah-Nama-Minangkabau</link>
			<pubDate>Thu, 29 Nov 2012 03:31:04 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Sejarah-Nama-Minangkabau</guid>
			<description><![CDATA[<br />
<ol type="1">
<li>Prof. Dr. RM. NG. Poerbacaraka. Pendapatnya dikemukakan dalam sebuah<br />
karangan yang berjudul “Riwayat Indonesia”. Dalam tulisan mengenai nama<br />
Minangkabau dikaitkan dengan prasasti yang terdapat di Palembang, yaitu<br />
prasasti Kedudukan Bukit. Prasasti ini memuat 10 baris kalimat yang <br />
berangka tahun 605 Caka (Syaka) atau 683 M. Batu bertulis ini telah <br />
diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai berikut : ( a. Selamat <br />
Tahun Syaka telah berjalan 605 tanggal 11 b. Paro terang bulan <br />
waisyakha yang dipertuan yang naik di c. Perahu mengambil perjalanan <br />
suci pada tanggal 7 paro terang d. Bulan Jyestha yang dipertuan hyang <br />
berangkat dari Minanga. e. Tamwan membawa bala tentara dua puluh ribu <br />
dengan peti. f. dua ratus sepuluh dua banyaknya g. dua ratus berjalan di<br />
perahu dengan jalan darat seribu h. tiga ratus sepuluh dua banyaknya <br />
datang di mata Yap. i. Bersuka cita pada tanggal lima bulan… j. dengan <br />
mudah dan senang membuat kota.. k. syri wijaya menang karena perjalanan <br />
suci). Kesimpulan dari isi prasasti ini adalah Yang Dipertuan Hyang <br />
berangkat dari Minanga Tamwan naik perahu membawa bala tentara. Sebagian<br />
melalui jalur darat. Menurut Poerbacaraka kata tamwan pada prasasti itu<br />
sama dengan bahasa Jawa Kuno yaitu “Temwan”, bahasa Jawa sekarang Temon<br />
dan bahasa Indonesianya pertemuan. Pertemuan disini yaitu pertemuan dua<br />
buah sungai yang sama besarnya. Sungai yang dimaksudkan ialah Sungai <br />
Kampar Kiri dan Kampar Kanan. Besar kemungkinan dari orang kemudian <br />
dinamakan “Minangakanwa”, yang lama kelamaan diucapkan Minangkabau. Juga<br />
dikemukakan, bahwa dekatnya pertemuan Kampar Kiri dan Kampar Kanan <br />
inilah terletak pusat agama Budha Mahayana, yaitu Muara Takus.</li>
<li>M. Said bertitik tolak dari prasasti Padang Roco Tahun 1286 di <br />
dekat Sungai Langsat di hulu Sungai Batang Hari. Pada prasasti ini <br />
ditemui kata-kata Swarna Bhumi dan Bhumi Melayu. Tidak satupun dari <br />
prasasti-prasasti yang ditemui yang berisikan kata-kata Minangkabau. <br />
Sedangkan tempat prasasti ditemui termasuk daerah Minangkabau sekarang. <br />
Oleh sebab itu, M. Said berkeyakinan bahwa ketika ekspedisi Pamalayu, <br />
nama Minangkabau belum ada. Menurut penelitian ahli sejarah seperti M. <br />
Yamin dan CC Berg, ekspedisi Pamalayu bukanlah agresi Militer, melainkan<br />
muhibah diplomatik dalam usaha mengadakan aliansi untuk menghadapi <br />
serangan Khubilai Khan. Itulah sebabnya prasasti Padang Roco isinya juga<br />
menunjukkan kegembiraan. Tidak mustahil antara pihak tamu dengan tuan <br />
rumah diadakan pesta untuk menyenangkan hati kedua belah pihak. Pada <br />
peristiwa inilah salah satu acaranya diadakan arena pertarungan kerbau <br />
antara kerbau tuan rumah dengan pihak tamu. Rupanya kemenangan berada di<br />
pihak tuan rumah. Suatu pertanyaan timbul, apakah cerita mengenai <br />
perlagaan kerbau yang kebanyakan dianggap dongeng tidak mempunyai <br />
hubungan dengan kedatangan misi Pamalayu ini. Menurut ukuran sekarang <br />
terlalu kecil peristiwa pertarungan kerbau ini untuk menguji kalah <br />
menang yang mempertaruhkan peristiwa dan status negara. Tetapi dari <br />
peristiwa ini nama Minangkabau lahir bukan mustahil.</li>
<li>Prof. Dr. Muhammad Husein Nainar. Menurut keterangannya Guru <br />
Besar pada Universitas Madras ini, sebutan Minangkabau berasal dari <br />
“Menonkhabu” yang artinya “tanah pangkal” atau “tanah permai”</li>
<li>Prof. Vander Tuuk mengatakan bahwa Minangkabau asalnya dari kata “Pinang Khabu” yang artinya tanah asal</li>
<li>Sultan Muhammad Zein mengatakan bahwa Minangkabau berasal dari <br />
“Binanga Kanvar” yang artinya Muara Kampar. Keterangan ini bertambah <br />
kuat oleh karena Chau Yu Kua yang dalam abad ke 13 pernah datang <br />
berkunjung ke Muara Kampar menerangkan, bahwa disana didapatinya <br />
satu-satu bandar yang paling ramai di pusat Sumatera.</li>
<li>Pendapat Tambo. Dari beberapa tambo seperti Tambo Pariangan dan <br />
Tambo Sawah Tangah, pada dasarnya mempunyai kesamaan lahirnya nama <br />
Minangkabau. Salah satu diantaranya transkripsi Tambo Pariangan nama <br />
Minang kabau diceritakan sebagai berikut : (” Tidak berapa lama <br />
antaranya datang lagi raja itu membawa seeokor kerbau besar yang <br />
tanduknya sepanjang delapan depa. Maka raja itu bertaruh atau <br />
bertanding, seandainya kalah kerbau kami, maka ambillah isi perahu ini. <br />
Maka dijawablah oleh raja, kemudian minta janji selama tujuh hari. <br />
Keesokkan hari dicarilah seekor anak kerbau yang sedang menyusu, lalu <br />
dipisahkan dari induknya. Anak kerbau tadi dibuatkan tanduk dari besi, <br />
yang bercabang dua yang panjangnya enam depa. Setelah sampai janji itu, <br />
maka dipasanglah tanduk palsu itu di kepala anak kerbau yang dipisahkan <br />
dari induknya itu. Melihat kerbau besar tersebut, berlarilah anak kerbau<br />
itu menuju kerbau besar yang disangka induknya sendiri untuk menyusu <br />
karena demikian haus dan laparnya. Lalu anak kerbau itu berbuat seperti <br />
menyusu sehingga tanduk palsunya masuk perut kerbau besar itu dan <br />
akhirnya mati. Maka mufakatlah seluruh rakyat akan menamakan negeri itu <br />
Minang kabau.</li>
<li>Menurut Drs. Zuber Usman, dalam bukunya ” Kesustraan Lama <br />
Indonesia”. Dalam buku Hikayat raja-raja Pasai itu dikemukakan Raja <br />
Majapahit telah menyuruh Patih Gajah Mada pergi menaklukan pulau Perca <br />
dengan membawa seekor kerbau keramat yang akan diadu dengan kerbau Patih<br />
Sewatang. Dalam pertarungan ini Patih Sewatang mencari anak kerbau yang<br />
sedang kuat menyusu. Setelah sekian lama tidak menyusu kepada induk <br />
baru dibawa ke arena pertarungan. Karena haus dan kepalanya diberi <br />
MINANG (taji yang tajam), ketika pertarungan terjadi anak kerbau <br />
tersebut menyeruduk kerbau raja Majapahit tadi. Dalam pertarungan ini <br />
Patih Sewatang menang. Berdasarkan kepada Tambo mungkin ada yang <br />
bertanya mengapa tidak disebut “Manang kabau”, tetapi Minangkabau. <br />
Jawabnya karena kemenangan itu lantaran anak kerbau tadi memakai kata ” <br />
MINANG” yaitu taji yang tajam dan runcing, sehingga merobek perut <br />
lawannya.(kompasiana)</li></ol>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<br />
<ol type="1">
<li>Prof. Dr. RM. NG. Poerbacaraka. Pendapatnya dikemukakan dalam sebuah<br />
karangan yang berjudul “Riwayat Indonesia”. Dalam tulisan mengenai nama<br />
Minangkabau dikaitkan dengan prasasti yang terdapat di Palembang, yaitu<br />
prasasti Kedudukan Bukit. Prasasti ini memuat 10 baris kalimat yang <br />
berangka tahun 605 Caka (Syaka) atau 683 M. Batu bertulis ini telah <br />
diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai berikut : ( a. Selamat <br />
Tahun Syaka telah berjalan 605 tanggal 11 b. Paro terang bulan <br />
waisyakha yang dipertuan yang naik di c. Perahu mengambil perjalanan <br />
suci pada tanggal 7 paro terang d. Bulan Jyestha yang dipertuan hyang <br />
berangkat dari Minanga. e. Tamwan membawa bala tentara dua puluh ribu <br />
dengan peti. f. dua ratus sepuluh dua banyaknya g. dua ratus berjalan di<br />
perahu dengan jalan darat seribu h. tiga ratus sepuluh dua banyaknya <br />
datang di mata Yap. i. Bersuka cita pada tanggal lima bulan… j. dengan <br />
mudah dan senang membuat kota.. k. syri wijaya menang karena perjalanan <br />
suci). Kesimpulan dari isi prasasti ini adalah Yang Dipertuan Hyang <br />
berangkat dari Minanga Tamwan naik perahu membawa bala tentara. Sebagian<br />
melalui jalur darat. Menurut Poerbacaraka kata tamwan pada prasasti itu<br />
sama dengan bahasa Jawa Kuno yaitu “Temwan”, bahasa Jawa sekarang Temon<br />
dan bahasa Indonesianya pertemuan. Pertemuan disini yaitu pertemuan dua<br />
buah sungai yang sama besarnya. Sungai yang dimaksudkan ialah Sungai <br />
Kampar Kiri dan Kampar Kanan. Besar kemungkinan dari orang kemudian <br />
dinamakan “Minangakanwa”, yang lama kelamaan diucapkan Minangkabau. Juga<br />
dikemukakan, bahwa dekatnya pertemuan Kampar Kiri dan Kampar Kanan <br />
inilah terletak pusat agama Budha Mahayana, yaitu Muara Takus.</li>
<li>M. Said bertitik tolak dari prasasti Padang Roco Tahun 1286 di <br />
dekat Sungai Langsat di hulu Sungai Batang Hari. Pada prasasti ini <br />
ditemui kata-kata Swarna Bhumi dan Bhumi Melayu. Tidak satupun dari <br />
prasasti-prasasti yang ditemui yang berisikan kata-kata Minangkabau. <br />
Sedangkan tempat prasasti ditemui termasuk daerah Minangkabau sekarang. <br />
Oleh sebab itu, M. Said berkeyakinan bahwa ketika ekspedisi Pamalayu, <br />
nama Minangkabau belum ada. Menurut penelitian ahli sejarah seperti M. <br />
Yamin dan CC Berg, ekspedisi Pamalayu bukanlah agresi Militer, melainkan<br />
muhibah diplomatik dalam usaha mengadakan aliansi untuk menghadapi <br />
serangan Khubilai Khan. Itulah sebabnya prasasti Padang Roco isinya juga<br />
menunjukkan kegembiraan. Tidak mustahil antara pihak tamu dengan tuan <br />
rumah diadakan pesta untuk menyenangkan hati kedua belah pihak. Pada <br />
peristiwa inilah salah satu acaranya diadakan arena pertarungan kerbau <br />
antara kerbau tuan rumah dengan pihak tamu. Rupanya kemenangan berada di<br />
pihak tuan rumah. Suatu pertanyaan timbul, apakah cerita mengenai <br />
perlagaan kerbau yang kebanyakan dianggap dongeng tidak mempunyai <br />
hubungan dengan kedatangan misi Pamalayu ini. Menurut ukuran sekarang <br />
terlalu kecil peristiwa pertarungan kerbau ini untuk menguji kalah <br />
menang yang mempertaruhkan peristiwa dan status negara. Tetapi dari <br />
peristiwa ini nama Minangkabau lahir bukan mustahil.</li>
<li>Prof. Dr. Muhammad Husein Nainar. Menurut keterangannya Guru <br />
Besar pada Universitas Madras ini, sebutan Minangkabau berasal dari <br />
“Menonkhabu” yang artinya “tanah pangkal” atau “tanah permai”</li>
<li>Prof. Vander Tuuk mengatakan bahwa Minangkabau asalnya dari kata “Pinang Khabu” yang artinya tanah asal</li>
<li>Sultan Muhammad Zein mengatakan bahwa Minangkabau berasal dari <br />
“Binanga Kanvar” yang artinya Muara Kampar. Keterangan ini bertambah <br />
kuat oleh karena Chau Yu Kua yang dalam abad ke 13 pernah datang <br />
berkunjung ke Muara Kampar menerangkan, bahwa disana didapatinya <br />
satu-satu bandar yang paling ramai di pusat Sumatera.</li>
<li>Pendapat Tambo. Dari beberapa tambo seperti Tambo Pariangan dan <br />
Tambo Sawah Tangah, pada dasarnya mempunyai kesamaan lahirnya nama <br />
Minangkabau. Salah satu diantaranya transkripsi Tambo Pariangan nama <br />
Minang kabau diceritakan sebagai berikut : (” Tidak berapa lama <br />
antaranya datang lagi raja itu membawa seeokor kerbau besar yang <br />
tanduknya sepanjang delapan depa. Maka raja itu bertaruh atau <br />
bertanding, seandainya kalah kerbau kami, maka ambillah isi perahu ini. <br />
Maka dijawablah oleh raja, kemudian minta janji selama tujuh hari. <br />
Keesokkan hari dicarilah seekor anak kerbau yang sedang menyusu, lalu <br />
dipisahkan dari induknya. Anak kerbau tadi dibuatkan tanduk dari besi, <br />
yang bercabang dua yang panjangnya enam depa. Setelah sampai janji itu, <br />
maka dipasanglah tanduk palsu itu di kepala anak kerbau yang dipisahkan <br />
dari induknya itu. Melihat kerbau besar tersebut, berlarilah anak kerbau<br />
itu menuju kerbau besar yang disangka induknya sendiri untuk menyusu <br />
karena demikian haus dan laparnya. Lalu anak kerbau itu berbuat seperti <br />
menyusu sehingga tanduk palsunya masuk perut kerbau besar itu dan <br />
akhirnya mati. Maka mufakatlah seluruh rakyat akan menamakan negeri itu <br />
Minang kabau.</li>
<li>Menurut Drs. Zuber Usman, dalam bukunya ” Kesustraan Lama <br />
Indonesia”. Dalam buku Hikayat raja-raja Pasai itu dikemukakan Raja <br />
Majapahit telah menyuruh Patih Gajah Mada pergi menaklukan pulau Perca <br />
dengan membawa seekor kerbau keramat yang akan diadu dengan kerbau Patih<br />
Sewatang. Dalam pertarungan ini Patih Sewatang mencari anak kerbau yang<br />
sedang kuat menyusu. Setelah sekian lama tidak menyusu kepada induk <br />
baru dibawa ke arena pertarungan. Karena haus dan kepalanya diberi <br />
MINANG (taji yang tajam), ketika pertarungan terjadi anak kerbau <br />
tersebut menyeruduk kerbau raja Majapahit tadi. Dalam pertarungan ini <br />
Patih Sewatang menang. Berdasarkan kepada Tambo mungkin ada yang <br />
bertanya mengapa tidak disebut “Manang kabau”, tetapi Minangkabau. <br />
Jawabnya karena kemenangan itu lantaran anak kerbau tadi memakai kata ” <br />
MINANG” yaitu taji yang tajam dan runcing, sehingga merobek perut <br />
lawannya.(kompasiana)</li></ol>
]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Arca Amoghapasha Menguak Muasal Adityawarman]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Arca-Amoghapasha-Menguak-Muasal-Adityawarman</link>
			<pubDate>Wed, 28 Nov 2012 06:48:48 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Arca-Amoghapasha-Menguak-Muasal-Adityawarman</guid>
			<description><![CDATA[Dari Pameran Artefak Festival Seni Melayu Asia Tenggara 2012 <br />
<br />
&lt;img src="http://padangekspres.co.id/up/berita/281120121039101-Boks-3.jpg" alt="Salah satu stand pemeran artefak, di Rumah Budaya Fadli Zon" title="klik untuk memperbesar" align="left" width="280" /&gt;<br />
<br />
<br />
Rangkaian Southeast Asia Malay Festival (Sea MAF)/ Festival Melayu Asia Tenggara 2012 di Padangpanjang diisi sejumlah kegiatan, termasuk pameran artefak dan regalia Kesultanan Nusantara. Pameran artefak berlangsung di Rumah Budaya Fadli Zon sampai Kamis (26/11) mendatang itu, bukan sekadar memamerkan benda purbakala, tapi juga mengungkap tabir sejarah kejayaan kerajaan Melayu di nusantara. <br />
<br />
 <br />
<br />
TAK hanya memamerkan benda bersejarah budaya Minangkabau, artefak kerajaan Melayu di daerah lain ikut di­pamerkan. Peninggalan peradaban Me­la­yu berupa benda kuno dan foto di­pa­mer lengkap dengan deskripsinya. Si­tus-situs sejarah itu mengungkap tabir per­kem­bangan kebudayaan Melayu dan ke­ra­jaan di Minangkabau.<br />
<br />
 <br />
<br />
Ya, perkembangan Kerajaan Sriwi­jaya dan Melayu (Moloyu) merupakan pe­nguasa sekitar daerah aliran sungai (DAS) Ba­tang Hari, mulai dari hilir (Jam­bi) sam­pai hulu (Sumbar) berkuasa se­jak abad VII hingga abad XIV Masehi. Ki­­lasan se­jarah ini menggambarkan Dhar­­ma­s­raya sebagai embrio lahirnya Pa­garuyung di Tanahdatar.<br />
<br />
 <br />
<br />
Fakta sejarah ini terlihat dari bebe­ra­pa temuan berupa Candi Pulau Sawah (Si­guntur) dan sejumlah arca mengidentitaskan Kerajaan Me­layu sekitar abad 12 Masehi. Di antaranya, Arca Amogha­pasha, Arca Boddhi Satva Ber­ta­ngan Delapan, Arca Boddhi Sat­va Maitreya, Arca Ganesa dan Ar­ca Dhyani Budha.<br />
<br />
 <br />
<br />
Arca Amoghapasha ditemu­kan di Rambahan ini, meng­ung­k­ap­kan perubahan pu­sat pe­me­rintahan Melayu dari Jam­bi ke Dhar­masraya. Peru­bahan ter­sebut ditelusuri dari prasasti Dharmasraya yang ditulis dalam empat baris huruf Jawa kuno meng­gunakan bahasa Melayu ku­no dan Sansakerta tahun 286 M­a­sehi. Arca Amoghapasa de­ngan 14 pengiringnya dan sapta­ratna, dibawa dari Bhumi Jawa ke Swarnabhumi untuk ditem­patkan di Dharmasraya.<br />
<br />
 <br />
<br />
Pihak Balai Pelestarian P­e­ning­galan Purbakala (BP3) Ba­tu­sangkar, Azwar Sutihat me­nye­butkan, dari naskah Jawa ku­no itu diketahui bahwa tahun 1347 M, Kerajaan Melayu dipim­pin Sri Maharajadiraja Aditya­warman menyebut dirinya Sri­mat Sri Udayadityawarman. Adit­yawarman merupakan ke­tu­­runan Kerajaan Melayu dari ibu bernama Dara Jingga dan bang­sawan Singasari, Adwa­yabrahma yang merupakan salah satu pe­ngiring Arca Amog­ha­pasa.<br />
<br />
 <br />
<br />
”Dua arca penting yang dite­mu­kan di Dharmasraya itu, yak­ni Archa Amoghapasa tersim­pan di Museum Jakarta dan Arca Bhai­rawa disimpan di Museum Na­sional,  menggambarkan so­sok Raja Adityawarman dan di­susul    ditemukannya bebe­rapa prasasti di Tanahdatar. Salah sa­tunya prasasti Pagaruyung I sam­­pai VI, semuanya me­nyang­kut Adityawarman,” ungkap Az­war.<br />
<br />
 <br />
<br />
Melihat temuan sejumlah ar­tefak dan prasasti di  Dhar­mas­raya dan Tanahdatar itu, kata Az­war, menunjukkan bahwa per­kembangan Kerajaan Melayu dari Dharmasraya menuju dae­rah pedalaman (Tanahdatar). Na­mun dari sejarah dan pene­li­tian yang dilakukan BP3, tidak di­te­mukan kata-kata Paga­ru­yung, melainkan Surawasan, yang  kemudian diterjemahkan men­jadi Saruaso. Ini diper­kirakan sebagai tempat tegaknya ke­rajaan Adityawarman. Na­mun selama ini, berdasarkan pe­nelitian, tidak ditemukan adanya bukti-bukti berupa arca, kitab kuno dan prasasti tentang Kera­jaan Pagaruyung.<br />
<br />
 <br />
<br />
”Adityawarman sendiri dari Dhar­masraya dan berkembang hing­ga ke Tanahdatar, hanya men­cantumkan kata-kata Sura­wasan dan Parahyangan. Dia ti­dak pernah menyebutkan Pag­a­ru­­yung. Berbeda dengan Su­ra­wa­san yang disebutkan di salah sa­tu prasasti berbahasa Sans­ker­ta pada abad 1375 Masehi,” ung­kapnya (padangekspres)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Dari Pameran Artefak Festival Seni Melayu Asia Tenggara 2012 <br />
<br />
&lt;img src="http://padangekspres.co.id/up/berita/281120121039101-Boks-3.jpg" alt="Salah satu stand pemeran artefak, di Rumah Budaya Fadli Zon" title="klik untuk memperbesar" align="left" width="280" /&gt;<br />
<br />
<br />
Rangkaian Southeast Asia Malay Festival (Sea MAF)/ Festival Melayu Asia Tenggara 2012 di Padangpanjang diisi sejumlah kegiatan, termasuk pameran artefak dan regalia Kesultanan Nusantara. Pameran artefak berlangsung di Rumah Budaya Fadli Zon sampai Kamis (26/11) mendatang itu, bukan sekadar memamerkan benda purbakala, tapi juga mengungkap tabir sejarah kejayaan kerajaan Melayu di nusantara. <br />
<br />
 <br />
<br />
TAK hanya memamerkan benda bersejarah budaya Minangkabau, artefak kerajaan Melayu di daerah lain ikut di­pamerkan. Peninggalan peradaban Me­la­yu berupa benda kuno dan foto di­pa­mer lengkap dengan deskripsinya. Si­tus-situs sejarah itu mengungkap tabir per­kem­bangan kebudayaan Melayu dan ke­ra­jaan di Minangkabau.<br />
<br />
 <br />
<br />
Ya, perkembangan Kerajaan Sriwi­jaya dan Melayu (Moloyu) merupakan pe­nguasa sekitar daerah aliran sungai (DAS) Ba­tang Hari, mulai dari hilir (Jam­bi) sam­pai hulu (Sumbar) berkuasa se­jak abad VII hingga abad XIV Masehi. Ki­­lasan se­jarah ini menggambarkan Dhar­­ma­s­raya sebagai embrio lahirnya Pa­garuyung di Tanahdatar.<br />
<br />
 <br />
<br />
Fakta sejarah ini terlihat dari bebe­ra­pa temuan berupa Candi Pulau Sawah (Si­guntur) dan sejumlah arca mengidentitaskan Kerajaan Me­layu sekitar abad 12 Masehi. Di antaranya, Arca Amogha­pasha, Arca Boddhi Satva Ber­ta­ngan Delapan, Arca Boddhi Sat­va Maitreya, Arca Ganesa dan Ar­ca Dhyani Budha.<br />
<br />
 <br />
<br />
Arca Amoghapasha ditemu­kan di Rambahan ini, meng­ung­k­ap­kan perubahan pu­sat pe­me­rintahan Melayu dari Jam­bi ke Dhar­masraya. Peru­bahan ter­sebut ditelusuri dari prasasti Dharmasraya yang ditulis dalam empat baris huruf Jawa kuno meng­gunakan bahasa Melayu ku­no dan Sansakerta tahun 286 M­a­sehi. Arca Amoghapasa de­ngan 14 pengiringnya dan sapta­ratna, dibawa dari Bhumi Jawa ke Swarnabhumi untuk ditem­patkan di Dharmasraya.<br />
<br />
 <br />
<br />
Pihak Balai Pelestarian P­e­ning­galan Purbakala (BP3) Ba­tu­sangkar, Azwar Sutihat me­nye­butkan, dari naskah Jawa ku­no itu diketahui bahwa tahun 1347 M, Kerajaan Melayu dipim­pin Sri Maharajadiraja Aditya­warman menyebut dirinya Sri­mat Sri Udayadityawarman. Adit­yawarman merupakan ke­tu­­runan Kerajaan Melayu dari ibu bernama Dara Jingga dan bang­sawan Singasari, Adwa­yabrahma yang merupakan salah satu pe­ngiring Arca Amog­ha­pasa.<br />
<br />
 <br />
<br />
”Dua arca penting yang dite­mu­kan di Dharmasraya itu, yak­ni Archa Amoghapasa tersim­pan di Museum Jakarta dan Arca Bhai­rawa disimpan di Museum Na­sional,  menggambarkan so­sok Raja Adityawarman dan di­susul    ditemukannya bebe­rapa prasasti di Tanahdatar. Salah sa­tunya prasasti Pagaruyung I sam­­pai VI, semuanya me­nyang­kut Adityawarman,” ungkap Az­war.<br />
<br />
 <br />
<br />
Melihat temuan sejumlah ar­tefak dan prasasti di  Dhar­mas­raya dan Tanahdatar itu, kata Az­war, menunjukkan bahwa per­kembangan Kerajaan Melayu dari Dharmasraya menuju dae­rah pedalaman (Tanahdatar). Na­mun dari sejarah dan pene­li­tian yang dilakukan BP3, tidak di­te­mukan kata-kata Paga­ru­yung, melainkan Surawasan, yang  kemudian diterjemahkan men­jadi Saruaso. Ini diper­kirakan sebagai tempat tegaknya ke­rajaan Adityawarman. Na­mun selama ini, berdasarkan pe­nelitian, tidak ditemukan adanya bukti-bukti berupa arca, kitab kuno dan prasasti tentang Kera­jaan Pagaruyung.<br />
<br />
 <br />
<br />
”Adityawarman sendiri dari Dhar­masraya dan berkembang hing­ga ke Tanahdatar, hanya men­cantumkan kata-kata Sura­wasan dan Parahyangan. Dia ti­dak pernah menyebutkan Pag­a­ru­­yung. Berbeda dengan Su­ra­wa­san yang disebutkan di salah sa­tu prasasti berbahasa Sans­ker­ta pada abad 1375 Masehi,” ung­kapnya (padangekspres)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Ini Sejarah Tabuik Pariaman]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Ini-Sejarah-Tabuik-Pariaman</link>
			<pubDate>Sat, 17 Nov 2012 07:15:03 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Ini-Sejarah-Tabuik-Pariaman</guid>
			<description><![CDATA[&lt;img src="http://inioke.com//foto/berita/suryadi-tabuik-pariaman1.jpg" align="left" width="300" /&gt;Perayaan Tabuik Pariaman awal abad 20. (Suryadi--koleksi Tropenmuseum, Amsterdam) Setiap<br />
memasuki bulan Muharam atau tahun baru Hijriyah, masyarakat Kota <br />
Pariaman menggelar perayaan tabuik. Perayaan membuat dan membuang ke <br />
laut keranda yang dihiasi menyerupai buraq (sejenis burung yang membawa <br />
nabi Muhammad dalam perjalanan Isra’ Mikraj), ini menjadi iven tahunan <br />
Pemko Pariaman yang disaksikan beramai-ramai oleh masyarakat dari <br />
berbagai daerah, bahkan luar negeri.<br />
<br />
Lalu, bagaimana sejarah tabuik Pariaman ini?<br />
<br />
Dalam berbagai literatur disebutkan, perayaan tabuik yang berlangsung<br />
1-10 Muharam itu memperingati meninggalnya cucu nabi Muhammad yang <br />
bernama Husein pada tahun 61 Hijriyah, yang bertepatan dengan 680 <br />
Masehi. Makanya, muncul istilah <span style="font-style: italic;">Oyak Hosen</span> dalam perayaan <br />
tabuik, untuk menggelorakan semangat perjuangan umat Islam dalam <br />
menghadapi musuh-musuhnya. Sekaligus ratapan atas kematian Husein yang <br />
dipenggal kepalanya oleh tentara Muawiyah dalam perang Karbala di Irak. <br />
<br />
<br />
 <br />
<br />
<div align="center"><img src="http://inioke.com/foto/berita/suryadi-tabuik-pariaman-03.jpg" border="0" alt="[Image: suryadi-tabuik-pariaman-03.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></div>
<div align="center"><span style="font-style: italic;">Anak-anak dan remaja dalam perayaan tabuik Pariaman awal abad 20. (Suryadi--koleksi Tropenmuseum, Amsterdam<span style="font-size: small;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="color: black;">)</span></span></span></span></div>
Tradisi mengenang kematian cucu Nabi ini menyebar ke berbagai negara <br />
dengan cara yang berbeda. Di Indonesia, selain Pariaman, di Bengkulu <br />
juga dikenal pesta tabuik atau tabot. Mengenai asal usul tabuik <br />
Pariaman, ada beberapa versi.<br />
<br />
Versi pertama mengatakan bahwa tabuik dibawa oleh orang-orang Arab <br />
aliran Syiah yang datang ke Pulau Sumatera untuk berdagang. Sedangkan, <br />
versi lain (diambil dari catatan Snouck Hurgronje), tradisi tabuik masuk<br />
ke Indonesia melalui dua gelombang. Gelombang pertama sekitar abad 14 <br />
M, tatkala Hikayat Muhammad diterjemahkan ke dalam Bahasa Melayu. <br />
Melalui buku itulah ritual tabuik dipelajari Anak Nagari.<br />
<br />
 <br />
<br />
<div align="center"><img src="http://inioke.com/foto/berita/suryadi-tabuik-pariaman-05.jpg" border="0" alt="[Image: suryadi-tabuik-pariaman-05.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></div>
<div align="center"><span style="font-style: italic;">Perayaan tabuik Pariaman awal abad 20 yang dimeriahkan juga oleh anak-anak dan remaja. (Suryadi--koleksi Tropenmuseum, Amsterdam<span style="font-size: small;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="color: black;">)</span></span></span></span></div>
Sedangkan, gelombang kedua tabuik dibawa oleh bangsa Cipei/Sepoy <br />
(penganut Islam Syiah) yang dipimpin oleh Imam Kadar Ali. Bangsa <br />
Cipei/Sepoy ini berasal dari India yang oleh Inggris dijadikan serdadu <br />
ketika menguasai (mengambil alih) Bengkulu dari tangan Belanda (Traktat <br />
London, 1824).<br />
<br />
Orang-orang Cipei/Sepoy ini setiap tahun selalu mengadakan ritual <br />
untuk memperingati meninggalnya Husein. Lama-kelamaan ritual ini diikuti<br />
pula oleh masyarakat yang ada di Bengkulu dan meluas hingga ke Painan, <br />
Padang, Pariaman, Maninjau, Pidi, Banda Aceh, Melauboh dan Singkil.<br />
<br />
Dalam perkembangan berikutnya, ritual itu satu-persatu hilang dari <br />
daerah-daerah tersebut dan akhirnya hanya tinggal di dua tempat yaitu <br />
Bengkulu dengan sebutan Tabot dan Pariaman dengan sebutan Tabuik. Di <br />
Pariaman, awalnya tabuik diselenggarakan oleh Anak Nagari dalam bentuk <br />
Tabuik Adat.<br />
<br />
 <br />
<br />
<div align="center"><img src="http://inioke.com/foto/berita/suryadi-tabuik-pariaman-01.jpg" border="0" alt="[Image: suryadi-tabuik-pariaman-01.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></div>
<div align="center"><span style="font-style: italic;">Masyarakat berkumpul dalam perayaan tabuik Pariaman awal abad 20. (Suryadi--koleksi Tropenmuseum, Amsterdam<span style="font-size: small;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="color: black;">)</span></span></span></span></div>
Pembuatan dan pembinaan Tabuik di Pariaman dikembangkan oleh Mak <br />
Sakarana dan Mak Sakaujana. Merekalah yang mempelopori Tabuik Pasar dan <br />
Tabuik Kampung Jawa. Tabuik Pasar melahirkan Tabuik Cimparuh, Bato dan <br />
Karan Aur, sedangkan Tabuik Kampung Jawa melahirkan Tabuik Pauh, Jati, <br />
Sungai Rotan.<br />
<br />
Pada masa kolonial Belanda perayaan Tabuik digalakkan sehingga Tabuik<br />
yang tampil sampai 12 buah. Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, <br />
tabuik masih rutin dilaksanakan. Hanya saja pada tahun 1969 sampai 1980<br />
perayaan tabuik terhenti, hal ini disebabkan situsai yang tidak <br />
memungkinkan untuk diadakan, disamping tidak adanya keinginan masyarakat<br />
untuk melaksanakan, karena adanya perkelahian masal yang menggangu <br />
ketentraman kota.<br />
<br />
 <br />
<br />
<div align="center"><img src="http://inioke.com/foto/berita/taubik.jpg" border="0" alt="[Image: taubik.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></div>
<div align="center"><span style="font-style: italic;">Perayaan tabuik Pariaman beberapa tahun lalu. (restaprana.blogspot.com)</span></div>
Perayaan Tabuik dihidupkan lagi Tahun 1980, yaitu pada masa Pariaman <br />
dipimpin oleh Anas Malik, mengingat pembiayaan maka tabuik dibuat Tabuik<br />
Pasa dan Tabuik Subarang. Kedua Tabuik itu sampai sekarang bertahan <br />
untuk ditampilkan pada saat upacara Tabuik berlangsung.<br />
<br />
Hari ini pesta tabuik kembali dilaksanakan. Diprediksi ribuan orang <br />
akan mengunjungi Pariaman pada puncak perayaannya 10 Muharam (25 <br />
November) nanti. Yaitu, saat tabuik dibuang bersama-sama ke laut dengan <br />
segala prosesinya. <span style="font-style: italic;">(gry/inioke/pelbagai sumber)</span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[&lt;img src="http://inioke.com//foto/berita/suryadi-tabuik-pariaman1.jpg" align="left" width="300" /&gt;Perayaan Tabuik Pariaman awal abad 20. (Suryadi--koleksi Tropenmuseum, Amsterdam) Setiap<br />
memasuki bulan Muharam atau tahun baru Hijriyah, masyarakat Kota <br />
Pariaman menggelar perayaan tabuik. Perayaan membuat dan membuang ke <br />
laut keranda yang dihiasi menyerupai buraq (sejenis burung yang membawa <br />
nabi Muhammad dalam perjalanan Isra’ Mikraj), ini menjadi iven tahunan <br />
Pemko Pariaman yang disaksikan beramai-ramai oleh masyarakat dari <br />
berbagai daerah, bahkan luar negeri.<br />
<br />
Lalu, bagaimana sejarah tabuik Pariaman ini?<br />
<br />
Dalam berbagai literatur disebutkan, perayaan tabuik yang berlangsung<br />
1-10 Muharam itu memperingati meninggalnya cucu nabi Muhammad yang <br />
bernama Husein pada tahun 61 Hijriyah, yang bertepatan dengan 680 <br />
Masehi. Makanya, muncul istilah <span style="font-style: italic;">Oyak Hosen</span> dalam perayaan <br />
tabuik, untuk menggelorakan semangat perjuangan umat Islam dalam <br />
menghadapi musuh-musuhnya. Sekaligus ratapan atas kematian Husein yang <br />
dipenggal kepalanya oleh tentara Muawiyah dalam perang Karbala di Irak. <br />
<br />
<br />
 <br />
<br />
<div align="center"><img src="http://inioke.com/foto/berita/suryadi-tabuik-pariaman-03.jpg" border="0" alt="[Image: suryadi-tabuik-pariaman-03.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></div>
<div align="center"><span style="font-style: italic;">Anak-anak dan remaja dalam perayaan tabuik Pariaman awal abad 20. (Suryadi--koleksi Tropenmuseum, Amsterdam<span style="font-size: small;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="color: black;">)</span></span></span></span></div>
Tradisi mengenang kematian cucu Nabi ini menyebar ke berbagai negara <br />
dengan cara yang berbeda. Di Indonesia, selain Pariaman, di Bengkulu <br />
juga dikenal pesta tabuik atau tabot. Mengenai asal usul tabuik <br />
Pariaman, ada beberapa versi.<br />
<br />
Versi pertama mengatakan bahwa tabuik dibawa oleh orang-orang Arab <br />
aliran Syiah yang datang ke Pulau Sumatera untuk berdagang. Sedangkan, <br />
versi lain (diambil dari catatan Snouck Hurgronje), tradisi tabuik masuk<br />
ke Indonesia melalui dua gelombang. Gelombang pertama sekitar abad 14 <br />
M, tatkala Hikayat Muhammad diterjemahkan ke dalam Bahasa Melayu. <br />
Melalui buku itulah ritual tabuik dipelajari Anak Nagari.<br />
<br />
 <br />
<br />
<div align="center"><img src="http://inioke.com/foto/berita/suryadi-tabuik-pariaman-05.jpg" border="0" alt="[Image: suryadi-tabuik-pariaman-05.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></div>
<div align="center"><span style="font-style: italic;">Perayaan tabuik Pariaman awal abad 20 yang dimeriahkan juga oleh anak-anak dan remaja. (Suryadi--koleksi Tropenmuseum, Amsterdam<span style="font-size: small;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="color: black;">)</span></span></span></span></div>
Sedangkan, gelombang kedua tabuik dibawa oleh bangsa Cipei/Sepoy <br />
(penganut Islam Syiah) yang dipimpin oleh Imam Kadar Ali. Bangsa <br />
Cipei/Sepoy ini berasal dari India yang oleh Inggris dijadikan serdadu <br />
ketika menguasai (mengambil alih) Bengkulu dari tangan Belanda (Traktat <br />
London, 1824).<br />
<br />
Orang-orang Cipei/Sepoy ini setiap tahun selalu mengadakan ritual <br />
untuk memperingati meninggalnya Husein. Lama-kelamaan ritual ini diikuti<br />
pula oleh masyarakat yang ada di Bengkulu dan meluas hingga ke Painan, <br />
Padang, Pariaman, Maninjau, Pidi, Banda Aceh, Melauboh dan Singkil.<br />
<br />
Dalam perkembangan berikutnya, ritual itu satu-persatu hilang dari <br />
daerah-daerah tersebut dan akhirnya hanya tinggal di dua tempat yaitu <br />
Bengkulu dengan sebutan Tabot dan Pariaman dengan sebutan Tabuik. Di <br />
Pariaman, awalnya tabuik diselenggarakan oleh Anak Nagari dalam bentuk <br />
Tabuik Adat.<br />
<br />
 <br />
<br />
<div align="center"><img src="http://inioke.com/foto/berita/suryadi-tabuik-pariaman-01.jpg" border="0" alt="[Image: suryadi-tabuik-pariaman-01.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></div>
<div align="center"><span style="font-style: italic;">Masyarakat berkumpul dalam perayaan tabuik Pariaman awal abad 20. (Suryadi--koleksi Tropenmuseum, Amsterdam<span style="font-size: small;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="color: black;">)</span></span></span></span></div>
Pembuatan dan pembinaan Tabuik di Pariaman dikembangkan oleh Mak <br />
Sakarana dan Mak Sakaujana. Merekalah yang mempelopori Tabuik Pasar dan <br />
Tabuik Kampung Jawa. Tabuik Pasar melahirkan Tabuik Cimparuh, Bato dan <br />
Karan Aur, sedangkan Tabuik Kampung Jawa melahirkan Tabuik Pauh, Jati, <br />
Sungai Rotan.<br />
<br />
Pada masa kolonial Belanda perayaan Tabuik digalakkan sehingga Tabuik<br />
yang tampil sampai 12 buah. Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, <br />
tabuik masih rutin dilaksanakan. Hanya saja pada tahun 1969 sampai 1980<br />
perayaan tabuik terhenti, hal ini disebabkan situsai yang tidak <br />
memungkinkan untuk diadakan, disamping tidak adanya keinginan masyarakat<br />
untuk melaksanakan, karena adanya perkelahian masal yang menggangu <br />
ketentraman kota.<br />
<br />
 <br />
<br />
<div align="center"><img src="http://inioke.com/foto/berita/taubik.jpg" border="0" alt="[Image: taubik.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></div>
<div align="center"><span style="font-style: italic;">Perayaan tabuik Pariaman beberapa tahun lalu. (restaprana.blogspot.com)</span></div>
Perayaan Tabuik dihidupkan lagi Tahun 1980, yaitu pada masa Pariaman <br />
dipimpin oleh Anas Malik, mengingat pembiayaan maka tabuik dibuat Tabuik<br />
Pasa dan Tabuik Subarang. Kedua Tabuik itu sampai sekarang bertahan <br />
untuk ditampilkan pada saat upacara Tabuik berlangsung.<br />
<br />
Hari ini pesta tabuik kembali dilaksanakan. Diprediksi ribuan orang <br />
akan mengunjungi Pariaman pada puncak perayaannya 10 Muharam (25 <br />
November) nanti. Yaitu, saat tabuik dibuang bersama-sama ke laut dengan <br />
segala prosesinya. <span style="font-style: italic;">(gry/inioke/pelbagai sumber)</span>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Sejarah Singkat Pembentukan Kabupaten Pasaman]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Sejarah-Singkat-Pembentukan-Kabupaten-Pasaman</link>
			<pubDate>Thu, 25 Oct 2012 03:44:07 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Sejarah-Singkat-Pembentukan-Kabupaten-Pasaman</guid>
			<description><![CDATA[Pada zaman Belanda Kabupaten Pasaman termasuk Afdeling Agam, <br />
afdeling ini dikepalai oleh seorang asisten residen. Afdeling Agam <br />
terdiri atas 4 onder afdeling, yaitu : Agam Tuo, Maninjau, Lubuksikaping<br />
dan Ophir.<br />
<br />
Setiap onder afdeling dikepalai oleh seorang Contreleur, setiap <br />
contreleur dibagi lagi menjadi Distrik. Tiap Distrik dikepalai oleh <br />
seorang Demang (Kepala Pemerintahan), setiap Distrik dibagi lagi menjadi<br />
Onder Distrik (Asisten Demang). Onder Afdeling Lubuk Sikaping terdiri <br />
dari Distrik Lubuk Sikaping dan Distrik Rao. Onder Afdeling Ophir <br />
terdiri dari Distrik Talu dan Distrik Air Bangis.<br />
<br />
Distrik Lubuk Sikaping terdiri dari, Onder Distrik Lubuk Sikaping, <br />
Onder Distrik Bonjol. Distrik Rao Mapat Tunggul terdiri dari, Onder <br />
Distrik Rao, Onder Distrik Silayang. Distrik Talu terdiri dari, Onder <br />
Distrik Talu, Onder Distrik Suka Menanti. Distrik Air Bangis terdiri <br />
dari Onder Distrik Air Bangis, Onder Distrik Ujung Gading.<br />
<br />
Sesudah kemerdekaan Onder Afdeling Agam Tuo dan Maninjau digabung <br />
menjadi Kabupaten Agam dan Onder Afdeling Lubuk Sikaping dan Ophir <br />
dijadikan satu susunan pemerintahan menjadi Kabupaten Pasaman dengan <br />
dibagi menjadi 3 Kewedanaan yaitu : Kewedanaan Lubuk Sikaping, <br />
Kewedanaan Talu, Kewedanaan Air Bangis, dengan pusat pemerintahan <br />
Kabupaten Pasaman di Talu. Pada Agustus 1947 sewaktu Basyrah Lubis <br />
menjadi Bupati maka ibu kota Kabupaten Pasaman dipindahkan ke Lubuk <br />
Sikaping.<br />
<br />
Untuk mewujudkan aspirasi masyarakat dalam percepatan pelayanan <br />
pemerintahan, maka wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten Pasaman <br />
dimekarkan menjadi 2 (dua) wilayah pemerintahan kabupaten yang <br />
ditetapkan dengan Undang-Undang No: 36 Tahun 2003, yaitu Kabupaten <br />
Pasaman dan Kabupaten Pasaman Barat.(padang media)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Pada zaman Belanda Kabupaten Pasaman termasuk Afdeling Agam, <br />
afdeling ini dikepalai oleh seorang asisten residen. Afdeling Agam <br />
terdiri atas 4 onder afdeling, yaitu : Agam Tuo, Maninjau, Lubuksikaping<br />
dan Ophir.<br />
<br />
Setiap onder afdeling dikepalai oleh seorang Contreleur, setiap <br />
contreleur dibagi lagi menjadi Distrik. Tiap Distrik dikepalai oleh <br />
seorang Demang (Kepala Pemerintahan), setiap Distrik dibagi lagi menjadi<br />
Onder Distrik (Asisten Demang). Onder Afdeling Lubuk Sikaping terdiri <br />
dari Distrik Lubuk Sikaping dan Distrik Rao. Onder Afdeling Ophir <br />
terdiri dari Distrik Talu dan Distrik Air Bangis.<br />
<br />
Distrik Lubuk Sikaping terdiri dari, Onder Distrik Lubuk Sikaping, <br />
Onder Distrik Bonjol. Distrik Rao Mapat Tunggul terdiri dari, Onder <br />
Distrik Rao, Onder Distrik Silayang. Distrik Talu terdiri dari, Onder <br />
Distrik Talu, Onder Distrik Suka Menanti. Distrik Air Bangis terdiri <br />
dari Onder Distrik Air Bangis, Onder Distrik Ujung Gading.<br />
<br />
Sesudah kemerdekaan Onder Afdeling Agam Tuo dan Maninjau digabung <br />
menjadi Kabupaten Agam dan Onder Afdeling Lubuk Sikaping dan Ophir <br />
dijadikan satu susunan pemerintahan menjadi Kabupaten Pasaman dengan <br />
dibagi menjadi 3 Kewedanaan yaitu : Kewedanaan Lubuk Sikaping, <br />
Kewedanaan Talu, Kewedanaan Air Bangis, dengan pusat pemerintahan <br />
Kabupaten Pasaman di Talu. Pada Agustus 1947 sewaktu Basyrah Lubis <br />
menjadi Bupati maka ibu kota Kabupaten Pasaman dipindahkan ke Lubuk <br />
Sikaping.<br />
<br />
Untuk mewujudkan aspirasi masyarakat dalam percepatan pelayanan <br />
pemerintahan, maka wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten Pasaman <br />
dimekarkan menjadi 2 (dua) wilayah pemerintahan kabupaten yang <br />
ditetapkan dengan Undang-Undang No: 36 Tahun 2003, yaitu Kabupaten <br />
Pasaman dan Kabupaten Pasaman Barat.(padang media)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Menapaktilasi Jejak Sejarah Silek Kumango]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Menapaktilasi-Jejak-Sejarah-Silek-Kumango</link>
			<pubDate>Thu, 11 Oct 2012 03:03:53 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Menapaktilasi-Jejak-Sejarah-Silek-Kumango</guid>
			<description><![CDATA[<div align="justify">TANAH DATAR – Berdasarkan catatan <br />
Kahar Syamsuddin yang bersumber dari orangtuanya dan Angku Gadang Syech <br />
Muhammad Dali diketahui, silek kumango tidaklah tiba-tiba saja ada, <br />
melainkan dirancang dan diramu sehingga tumbuh menjadi sebuah aliran <br />
yang berdiri sendiri.</div>
<a href="http://hariansinggalang.co.id/wp-content/uploads/2012/10/rangkiang.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://hariansinggalang.co.id/wp-content/uploads/2012/10/rangkiang-300x225.jpg" border="0" alt="[Image: rangkiang-300x225.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a>RANGKIANG DAN RUMAH GADANG<br />
<br />
<div align="justify">
Sebenarnya, silek kumango menjadi bagian tak terpisahkan dari <br />
silat-silat klasik yang ada di Minangkabau, semisal Lintau, Pauah, <br />
Maninjau, Balubus, dan Pariaman. Berdasarkan sejarahnya, silek kumango <br />
dirancang dan diramu oleh seorang ulama terkemuka, Syech Abdul Rahman <br />
Al-Khalidi yang kerap disapa Baliau Kumango. Syech dilahirkan pada tahun<br />
1850 di Kampuang Jambak, Nagari Kumango.<br />
<br />
Referensi yang ada menyebutkan, Beliau Kumango pergi menuntut ilmu silat<br />
ke Lintau ketika masih berusia 25 tahun. Namun setelah tiga bulan <br />
berguru di sana, beliau tidak puas lantaran tidak diberi kesempatan <br />
untuk berlatih dalam arti sesungguhnya. Posisinya tak lebih dari seorang<br />
penonton dan membantu Datuk Guru Silat setempat.<br />
<br />
Lewat petunjuk dari mimpi, akhirnya Beliau Kumango bisa belajar silat <br />
kepada seorang guru yang kemudian dikenal sebagai guru besar persilatan.<br />
Beliau Kumango juga diajari ilmu tasawuf yang membawanya menguasai <br />
secara penuh ilmu suluk dan tarekat. Ilmu silat inilah yang kemudian <br />
dikenal dengan silek kumango.<br />
<br />
Beliau Kumango tidak hanya mengembangkan ilmu silatnya di Kumango, <br />
tetapi juga sampai ke Pasar Gadang Padang. Sesuai dengan karakter <br />
dasarnya sebagai seorang sufi yang gemar menyampaikan dakwah dan <br />
melakukan perjalanan jauh, silek kumango juga beliau ajarkan sampai ke <br />
Tanah Deli, Tapanuli, Aceh, Indrapura (Pessel), Negeri Sembilan dan <br />
negara-negara lain yang beliau lalui saat ke Mekkah dengan berjalan <br />
kaki.<br />
<br />
Mulanya yang boleh belajar silek kumango hanya terbatas pada keluarga <br />
kerabat beliau semata, termasuk murid-murid suluknya. Salah seorang dari<br />
muridnya itu bernama Muhammad Kodim yang kemudian populer dengan <br />
sebutan Syeh Muhammad Kodim Belubus alias Baliau Balubuih. Murid syech <br />
ini yang terkenal Syech Baringin yang bermukim di Tebing Tinggi, Sumatra<br />
Utara.<br />
<br />
Sejak 1910, silek kumango telah berkembang pesat. Hampir seluruh anak <br />
nagari di Kumango mempelajari aliran silat ini. Aliran silek kumango pun<br />
terus berkembang, baik dilakukan oleh murid-muridnya langsung maupun <br />
murid dari muridnya ke berbagai kota di dunia.<br />
<br />
Kini, asal bicara tentang persilatan di belahan dunia mana pun, orang <br />
takkan bisa melupakan silek kumango yang sudah termasyhur itu.<br />
<br />
(musriadi musanif/singgalang)</div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">TANAH DATAR – Berdasarkan catatan <br />
Kahar Syamsuddin yang bersumber dari orangtuanya dan Angku Gadang Syech <br />
Muhammad Dali diketahui, silek kumango tidaklah tiba-tiba saja ada, <br />
melainkan dirancang dan diramu sehingga tumbuh menjadi sebuah aliran <br />
yang berdiri sendiri.</div>
<a href="http://hariansinggalang.co.id/wp-content/uploads/2012/10/rangkiang.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://hariansinggalang.co.id/wp-content/uploads/2012/10/rangkiang-300x225.jpg" border="0" alt="[Image: rangkiang-300x225.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a>RANGKIANG DAN RUMAH GADANG<br />
<br />
<div align="justify">
Sebenarnya, silek kumango menjadi bagian tak terpisahkan dari <br />
silat-silat klasik yang ada di Minangkabau, semisal Lintau, Pauah, <br />
Maninjau, Balubus, dan Pariaman. Berdasarkan sejarahnya, silek kumango <br />
dirancang dan diramu oleh seorang ulama terkemuka, Syech Abdul Rahman <br />
Al-Khalidi yang kerap disapa Baliau Kumango. Syech dilahirkan pada tahun<br />
1850 di Kampuang Jambak, Nagari Kumango.<br />
<br />
Referensi yang ada menyebutkan, Beliau Kumango pergi menuntut ilmu silat<br />
ke Lintau ketika masih berusia 25 tahun. Namun setelah tiga bulan <br />
berguru di sana, beliau tidak puas lantaran tidak diberi kesempatan <br />
untuk berlatih dalam arti sesungguhnya. Posisinya tak lebih dari seorang<br />
penonton dan membantu Datuk Guru Silat setempat.<br />
<br />
Lewat petunjuk dari mimpi, akhirnya Beliau Kumango bisa belajar silat <br />
kepada seorang guru yang kemudian dikenal sebagai guru besar persilatan.<br />
Beliau Kumango juga diajari ilmu tasawuf yang membawanya menguasai <br />
secara penuh ilmu suluk dan tarekat. Ilmu silat inilah yang kemudian <br />
dikenal dengan silek kumango.<br />
<br />
Beliau Kumango tidak hanya mengembangkan ilmu silatnya di Kumango, <br />
tetapi juga sampai ke Pasar Gadang Padang. Sesuai dengan karakter <br />
dasarnya sebagai seorang sufi yang gemar menyampaikan dakwah dan <br />
melakukan perjalanan jauh, silek kumango juga beliau ajarkan sampai ke <br />
Tanah Deli, Tapanuli, Aceh, Indrapura (Pessel), Negeri Sembilan dan <br />
negara-negara lain yang beliau lalui saat ke Mekkah dengan berjalan <br />
kaki.<br />
<br />
Mulanya yang boleh belajar silek kumango hanya terbatas pada keluarga <br />
kerabat beliau semata, termasuk murid-murid suluknya. Salah seorang dari<br />
muridnya itu bernama Muhammad Kodim yang kemudian populer dengan <br />
sebutan Syeh Muhammad Kodim Belubus alias Baliau Balubuih. Murid syech <br />
ini yang terkenal Syech Baringin yang bermukim di Tebing Tinggi, Sumatra<br />
Utara.<br />
<br />
Sejak 1910, silek kumango telah berkembang pesat. Hampir seluruh anak <br />
nagari di Kumango mempelajari aliran silat ini. Aliran silek kumango pun<br />
terus berkembang, baik dilakukan oleh murid-muridnya langsung maupun <br />
murid dari muridnya ke berbagai kota di dunia.<br />
<br />
Kini, asal bicara tentang persilatan di belahan dunia mana pun, orang <br />
takkan bisa melupakan silek kumango yang sudah termasyhur itu.<br />
<br />
(musriadi musanif/singgalang)</div>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Meniti Sejarah Songket Silungkang]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Meniti-Sejarah-Songket-Silungkang</link>
			<pubDate>Tue, 09 Oct 2012 22:53:04 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Meniti-Sejarah-Songket-Silungkang</guid>
			<description><![CDATA[<div align="justify"><span style="font-weight: bold;">sawahluntokota.go.id</span>: <br />
Yang mana Songket Silungkang berasal dari Negara Bagian Selangor, <br />
sedangkan Songket Pandai Sikek berasal dari Silungkang dan Songket <br />
Payakumbuh berasal dari Pandai Sikek. Yang membawa ilmu songket dari <br />
Selangor ke Silungkang yaitu Baginda Ali asal Kampung Dalimo Singkek <br />
beserta hulubalang beliau yang diperkirakan pada abad ke 16 dan lebih <br />
kurang sudah sejak 400 tahun yang lalu.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Pada tahun 1910 Songket Silungkang <br />
telah berkiprah di gelanggang Internasional pada Pekan Raya Ekonomi <br />
yang berlangsung di Brussel ibukota Belgia. Yang mendemonstrasikan cara<br />
bertenun pada waktu itu yaitu Ande BAENSAH dari Kampung Malayu, dan <br />
dikala itu hanya dua daerah penghasil Songket dari Indonesia yang ikut <br />
didalam Pekan Raya Ekonomi tersebut yaitu Silungkang dan Bali. Seperti<br />
Songket Bali itu sendiri berasal dari Negeri Sungai Gangga India. Di <br />
tahun 1920, Ismail, Kampung Dalimo Godang, adik dari Ongku Palo pergi <br />
merantau kenegeri Indo Cina, seperti Vietnam, Birma dan Laos yang <br />
membawa barang dagangan berupa kain Songket, kain Batik, kain Lurik <br />
serta kain sarung Bugis dari Makasar.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Kemudian menyusul pada tahun 1921 yaitu<br />
Muhammad Yasin kampung Panai Empat Rumah pergi merantau ke Calcutta <br />
sebuah kota yang terletak diujung pantai timur India, membawa barang <br />
dagangan yang sejenis dengan barang dagang yang dibawa Ismail ke Indo <br />
China. Apa kata Om Frans dari Maluku, bagi kami orang Maluku belum bisa<br />
dibilang Dehafe (Elite) apabila salah satu keluarga disana belum <br />
menyimpan sekurang-kurangnya 20 helai kain Songket tenunan Silungkang. <br />
Begitu juga pakaian adat perkawinan di Minahasa Sulawesi Utara, <br />
seperti penganten wanitanya juga memakai kain Songket tenunan <br />
Silungkang, yang mana warga dari kedua daerah tersebut sangat bangga <br />
sekali memakai kain Songket tenunan Silungkang, sebagaimana bangganya <br />
masyarakat Minangkabau memaki kain sarung Bugis dari Makasar. Di era <br />
tahun 50-an, Abidin kampung Dalimo Godang berdagang kain Songket <br />
dengan mempergunakan jasa Pos dan mengirimkan dengan pos paket ke <br />
berbagai kota di Indonesia, antara lain : Padang, Jakarta, Bandung, <br />
Semarang, Yogyakarta, Surabaya dan Makasar.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Masih pada era yang sama, Songket <br />
Silungkang hadir sebagai peserta di arena Pasar Malam dibeberapa kota <br />
besar di pulau Jawa, seperti pasar malam Gambir di Jakarta, pasar malam<br />
Andir di Bandung, pasar malam Simpang Lima di Semarang, pasar malam <br />
Alun-Alun di Yogyakarta, pasar malam Yand Mart di Surabaya.</div>
<div align="justify">Pada tahun 1974 diruangan Bali Room <br />
Hotel Indonesia Jakarta diadakan pameran Industri Kecil yang <br />
diselenggarakan oleh Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) pimpinan <br />
DR. Dewi Motik Pramono.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Dari sekian banyak hasil kerajinan <br />
industri kecil dari seluruh Nusantara yang dipamerkan pada waktu itu, <br />
merasa kagum dan bangga akan Nagari Silungkang, setelah melihat didalam<br />
sebuah kotak kaca, disana tersimpan sehelai kain Songket karya anak <br />
nagari yang telah berumur 234 tahun pada waktu itu, warna dasar merah <br />
hati ayam yang memakai benang Mokou Bulek Soriang tak sudah, bermotif <br />
Pucuk Rebung, yang mana kain Songket tersebut bukanlah milik kolektor, <br />
tetapi milik sebuah Museum di Den Haag Negeri Belanda.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Informasi dari seorang sarjana asal <br />
Koto Anau Solok, di era tahun 1990-an pernah mengikuti bidang studi di <br />
Canada, ibu kost dari sarjana tersebut menyimpan lima helai kain <br />
Songket tenunan Silungkang. Memang sudah selayaknya kampung Batu <br />
Manonggou dijadikan sebagai kawasan penghasil Songket di Nagari <br />
Silungkang, karena hampir disetiap rumah disana memiliki alat tenun <br />
(palantai) untuk memproduksi kain Songket sebagai Home Industri, <br />
istimewanya lagi bukan kaum wanitanya saja yang pandai bertenun <br />
Songket, tetapi kaum prianya juga mahir bertenun Songket.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Di masa lampau jika ada tamu yang <br />
berkunjung ke Silungkang untuk melihat bagaimana cara bertenun Songket,<br />
mereka diajak ke bawah rumah, karena disanalah diletakkan alat tenun,<br />
sekarang ini sudah ada dua show room kain Songket yang terletak <br />
ditepi jalan lintas Sumatera, lebih tepatnya dibawah kampung batu <br />
Manongou, disana juga tersedia alat tenun untuk mendemontrasikan cara <br />
bertenun Songket. Keunggulan dari kain Songket Silungkang selama ini, <br />
jika dipakai akan terlihat indah cemerlang, Songket Silungkang bukan <br />
saja berjaya di Bumi Merah Putih ini, bahkan juga berkibar dibeberapa <br />
negara Eropa seperti Belanda, Inggris, Perancis, Swiss dan Belgia <br />
bahkan ada diantara ibu rumah tangga disana yang mengoleksi kain tenun<br />
Songket Silungkang yang telah berumur antara 100 hingga 200 tahun. <br />
Bahkan di Nagari Silungkang sendiri Songket yang seumur itu sudah <br />
sangat sulit untuk ditemui. (Sumber : Tabloid Suara Silungkang edisi <br />
Kelima November 2007)</div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="justify"><span style="font-weight: bold;">sawahluntokota.go.id</span>: <br />
Yang mana Songket Silungkang berasal dari Negara Bagian Selangor, <br />
sedangkan Songket Pandai Sikek berasal dari Silungkang dan Songket <br />
Payakumbuh berasal dari Pandai Sikek. Yang membawa ilmu songket dari <br />
Selangor ke Silungkang yaitu Baginda Ali asal Kampung Dalimo Singkek <br />
beserta hulubalang beliau yang diperkirakan pada abad ke 16 dan lebih <br />
kurang sudah sejak 400 tahun yang lalu.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Pada tahun 1910 Songket Silungkang <br />
telah berkiprah di gelanggang Internasional pada Pekan Raya Ekonomi <br />
yang berlangsung di Brussel ibukota Belgia. Yang mendemonstrasikan cara<br />
bertenun pada waktu itu yaitu Ande BAENSAH dari Kampung Malayu, dan <br />
dikala itu hanya dua daerah penghasil Songket dari Indonesia yang ikut <br />
didalam Pekan Raya Ekonomi tersebut yaitu Silungkang dan Bali. Seperti<br />
Songket Bali itu sendiri berasal dari Negeri Sungai Gangga India. Di <br />
tahun 1920, Ismail, Kampung Dalimo Godang, adik dari Ongku Palo pergi <br />
merantau kenegeri Indo Cina, seperti Vietnam, Birma dan Laos yang <br />
membawa barang dagangan berupa kain Songket, kain Batik, kain Lurik <br />
serta kain sarung Bugis dari Makasar.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Kemudian menyusul pada tahun 1921 yaitu<br />
Muhammad Yasin kampung Panai Empat Rumah pergi merantau ke Calcutta <br />
sebuah kota yang terletak diujung pantai timur India, membawa barang <br />
dagangan yang sejenis dengan barang dagang yang dibawa Ismail ke Indo <br />
China. Apa kata Om Frans dari Maluku, bagi kami orang Maluku belum bisa<br />
dibilang Dehafe (Elite) apabila salah satu keluarga disana belum <br />
menyimpan sekurang-kurangnya 20 helai kain Songket tenunan Silungkang. <br />
Begitu juga pakaian adat perkawinan di Minahasa Sulawesi Utara, <br />
seperti penganten wanitanya juga memakai kain Songket tenunan <br />
Silungkang, yang mana warga dari kedua daerah tersebut sangat bangga <br />
sekali memakai kain Songket tenunan Silungkang, sebagaimana bangganya <br />
masyarakat Minangkabau memaki kain sarung Bugis dari Makasar. Di era <br />
tahun 50-an, Abidin kampung Dalimo Godang berdagang kain Songket <br />
dengan mempergunakan jasa Pos dan mengirimkan dengan pos paket ke <br />
berbagai kota di Indonesia, antara lain : Padang, Jakarta, Bandung, <br />
Semarang, Yogyakarta, Surabaya dan Makasar.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Masih pada era yang sama, Songket <br />
Silungkang hadir sebagai peserta di arena Pasar Malam dibeberapa kota <br />
besar di pulau Jawa, seperti pasar malam Gambir di Jakarta, pasar malam<br />
Andir di Bandung, pasar malam Simpang Lima di Semarang, pasar malam <br />
Alun-Alun di Yogyakarta, pasar malam Yand Mart di Surabaya.</div>
<div align="justify">Pada tahun 1974 diruangan Bali Room <br />
Hotel Indonesia Jakarta diadakan pameran Industri Kecil yang <br />
diselenggarakan oleh Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) pimpinan <br />
DR. Dewi Motik Pramono.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Dari sekian banyak hasil kerajinan <br />
industri kecil dari seluruh Nusantara yang dipamerkan pada waktu itu, <br />
merasa kagum dan bangga akan Nagari Silungkang, setelah melihat didalam<br />
sebuah kotak kaca, disana tersimpan sehelai kain Songket karya anak <br />
nagari yang telah berumur 234 tahun pada waktu itu, warna dasar merah <br />
hati ayam yang memakai benang Mokou Bulek Soriang tak sudah, bermotif <br />
Pucuk Rebung, yang mana kain Songket tersebut bukanlah milik kolektor, <br />
tetapi milik sebuah Museum di Den Haag Negeri Belanda.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Informasi dari seorang sarjana asal <br />
Koto Anau Solok, di era tahun 1990-an pernah mengikuti bidang studi di <br />
Canada, ibu kost dari sarjana tersebut menyimpan lima helai kain <br />
Songket tenunan Silungkang. Memang sudah selayaknya kampung Batu <br />
Manonggou dijadikan sebagai kawasan penghasil Songket di Nagari <br />
Silungkang, karena hampir disetiap rumah disana memiliki alat tenun <br />
(palantai) untuk memproduksi kain Songket sebagai Home Industri, <br />
istimewanya lagi bukan kaum wanitanya saja yang pandai bertenun <br />
Songket, tetapi kaum prianya juga mahir bertenun Songket.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Di masa lampau jika ada tamu yang <br />
berkunjung ke Silungkang untuk melihat bagaimana cara bertenun Songket,<br />
mereka diajak ke bawah rumah, karena disanalah diletakkan alat tenun,<br />
sekarang ini sudah ada dua show room kain Songket yang terletak <br />
ditepi jalan lintas Sumatera, lebih tepatnya dibawah kampung batu <br />
Manongou, disana juga tersedia alat tenun untuk mendemontrasikan cara <br />
bertenun Songket. Keunggulan dari kain Songket Silungkang selama ini, <br />
jika dipakai akan terlihat indah cemerlang, Songket Silungkang bukan <br />
saja berjaya di Bumi Merah Putih ini, bahkan juga berkibar dibeberapa <br />
negara Eropa seperti Belanda, Inggris, Perancis, Swiss dan Belgia <br />
bahkan ada diantara ibu rumah tangga disana yang mengoleksi kain tenun<br />
Songket Silungkang yang telah berumur antara 100 hingga 200 tahun. <br />
Bahkan di Nagari Silungkang sendiri Songket yang seumur itu sudah <br />
sangat sulit untuk ditemui. (Sumber : Tabloid Suara Silungkang edisi <br />
Kelima November 2007)</div>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[SEJARAH KOTA PADANG ]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-SEJARAH-KOTA-PADANG--18043</link>
			<pubDate>Mon, 08 Oct 2012 02:49:15 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-SEJARAH-KOTA-PADANG--18043</guid>
			<description><![CDATA[<img src="http://1.bp.blogspot.com/-yIK_U5C5QP0/TdJ5MIqldYI/AAAAAAAAAQg/vUMXiPWdpSg/s400/09052011190323Padang.jpg" border="0" alt="[Image: 09052011190323Padang.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<br />
<span style="font-family: Trebuchet MS;">Kota Padang berawal<br />
dari pemukiman di tepi air, tepatnya di muara Sungai Batang Arau ke <br />
Samudera Hindia. Pada waktu itu Padang merupakan sebuah perkampungan <br />
nelayan kecil. Penduduk pada waktu itu terdiri atas orang-orang Rupit <br />
dan Tirau (Non Minangkabau). Mereka bekerja sebagai nelayan mengarungi <br />
samudera dengan kapal-kapal kecil mereka yang disandarkan di bibir <br />
muara. </span><br />
<br />
<br />
<span style="font-family: Trebuchet MS;">Pada abad ke–14 <br />
(1340-1375) Kota Padang dikenal sebagai kampung nelayan dengan sebutan <br />
Kampung Batung yang diperintah oleh Penghulu Delapan Suku. Tidak ada <br />
data yang pasti siapa yang memberi nama kota ini Padang. Yang jelas <br />
sejak kedatangan Bangsa Belanda ke kota ini, penduduknya sudah cukup <br />
banyak dengan bermukim disepanjang Sungai Batang Arau. Diperkirakan Kota<br />
Padang pada zaman dahulu berupa sebuah dataran atau padang yang sangat <br />
luas yang ditumbuhi semak-semak kecil, rumput-rumput, lalang, sikejut <br />
dan sebagainya. Oleh sebab itu orang-orang yang datang pertama kali <br />
memberi nama kota ini Padang.</span><br />
<br />
<span style="font-family: Trebuchet MS;"><br />
<br />
<br />
<br />
<span style="font-family: Trebuchet MS;">VOC lalu membangun <br />
Padang sebagai kota pelabuhan dan pemukiman baru. Kota Padang pun tumbuh<br />
menjadi kota bandar pelabuhan dan perdagangan yang ramai di pantai <br />
barat Sumatera. Bercongkolnya VOC di Kota Padang membuat masyarakat <br />
sekitar marah. Pada 7 Agustus 1669 merupakan puncak pergolakan <br />
masyarakat Pauh dan Koto Tangah melawan Belanda. Loji-loji Belanda di <br />
Muaro, Padang berhasil dikuasai. Peristiwa tersebut diabadikan sebagai <br />
tahun lahir Kota Padang. Namun kemudian pergolakan itu berhasil <br />
dilemahkan VOC.</span><br />
<br />
<br />
<span style="font-family: Trebuchet MS;">Pada 31 Desember <br />
1799 seluruh kekuasaan VOC diambil alih pemerintah Belanda dengan <br />
membentuk pemerintah kolonial. Kota Padang dijadikan pusat kedudukan <br />
Residen dan pusat pemerintahan wilayah Gouvernement Sumatra's Westkust <br />
yang meliputi Sumatera Barat dan Tapanuli.</span><br />
<br />
<span style="font-family: Trebuchet MS;">Padang tahun 1795</span><br />
<br />
<br />
<span style="font-family: Trebuchet MS;">Pada 1 Maret 1906 lahir ordonansi yang menetapkan Padang sebagai daerah Cremente (STAL 1906 No.151) yang berlaku 1 April 1906.</span><br />
<br />
<br />
<span style="font-family: Trebuchet MS;">Pada 9 Maret 1950, <br />
Padang dikembalikan ke tangan RI yang merupakan negara bagian melalui <br />
SK. Presiden RI Serikat (RIS), No.111 tanggal 9 Maret 1950.</span><br />
<br />
<br />
<span style="font-family: Trebuchet MS;">Surat Keputusan <br />
Gubernur Sumatera Tengah No. 65/GP-50, tanggal 15 Agustus 1950 <br />
menetapkan Pemerintahan Kota Padang sebagai suatu daerah otonom <br />
sementara menunggu penetapannya sesuai UU No. 225 tahun 1948. Saat itu <br />
kota Padang diperluas, kewedanaan Padang dihapus dan urusannya pindah ke<br />
Walikota Padang. Pada 29 Mei 1958. Gubernur Sumatera Barat melalui <br />
Surat Keputusan No. 1/g/PD/1958 secara de facto menetapkan kota Padang <br />
menjadi ibukota propinsi Sumatera Barat.</span><br />
<br />
<br />
<span style="font-family: Trebuchet MS;">Tahun 1975 secara <br />
de jure Padang menjadi ibukota Sumatera Barat, yang ditandai dengan <br />
keluarnya UU No.5 tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah.<br />
Kotamadya Padang dijadikan daerah otonom dan wilayah administratif yang<br />
dikepalai oleh seorang Walikota.<br />
<br />
sumber : <a href="http://cerita-indonesian.blogspot.com/2012/09/sejarah-kota-padang.html" rel="nofollow" target="_blank">http://cerita-indonesian.blogspot.com/20...adang.html</a><br />
</span></span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<img src="http://1.bp.blogspot.com/-yIK_U5C5QP0/TdJ5MIqldYI/AAAAAAAAAQg/vUMXiPWdpSg/s400/09052011190323Padang.jpg" border="0" alt="[Image: 09052011190323Padang.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<br />
<span style="font-family: Trebuchet MS;">Kota Padang berawal<br />
dari pemukiman di tepi air, tepatnya di muara Sungai Batang Arau ke <br />
Samudera Hindia. Pada waktu itu Padang merupakan sebuah perkampungan <br />
nelayan kecil. Penduduk pada waktu itu terdiri atas orang-orang Rupit <br />
dan Tirau (Non Minangkabau). Mereka bekerja sebagai nelayan mengarungi <br />
samudera dengan kapal-kapal kecil mereka yang disandarkan di bibir <br />
muara. </span><br />
<br />
<br />
<span style="font-family: Trebuchet MS;">Pada abad ke–14 <br />
(1340-1375) Kota Padang dikenal sebagai kampung nelayan dengan sebutan <br />
Kampung Batung yang diperintah oleh Penghulu Delapan Suku. Tidak ada <br />
data yang pasti siapa yang memberi nama kota ini Padang. Yang jelas <br />
sejak kedatangan Bangsa Belanda ke kota ini, penduduknya sudah cukup <br />
banyak dengan bermukim disepanjang Sungai Batang Arau. Diperkirakan Kota<br />
Padang pada zaman dahulu berupa sebuah dataran atau padang yang sangat <br />
luas yang ditumbuhi semak-semak kecil, rumput-rumput, lalang, sikejut <br />
dan sebagainya. Oleh sebab itu orang-orang yang datang pertama kali <br />
memberi nama kota ini Padang.</span><br />
<br />
<span style="font-family: Trebuchet MS;"><br />
<br />
<br />
<br />
<span style="font-family: Trebuchet MS;">VOC lalu membangun <br />
Padang sebagai kota pelabuhan dan pemukiman baru. Kota Padang pun tumbuh<br />
menjadi kota bandar pelabuhan dan perdagangan yang ramai di pantai <br />
barat Sumatera. Bercongkolnya VOC di Kota Padang membuat masyarakat <br />
sekitar marah. Pada 7 Agustus 1669 merupakan puncak pergolakan <br />
masyarakat Pauh dan Koto Tangah melawan Belanda. Loji-loji Belanda di <br />
Muaro, Padang berhasil dikuasai. Peristiwa tersebut diabadikan sebagai <br />
tahun lahir Kota Padang. Namun kemudian pergolakan itu berhasil <br />
dilemahkan VOC.</span><br />
<br />
<br />
<span style="font-family: Trebuchet MS;">Pada 31 Desember <br />
1799 seluruh kekuasaan VOC diambil alih pemerintah Belanda dengan <br />
membentuk pemerintah kolonial. Kota Padang dijadikan pusat kedudukan <br />
Residen dan pusat pemerintahan wilayah Gouvernement Sumatra's Westkust <br />
yang meliputi Sumatera Barat dan Tapanuli.</span><br />
<br />
<span style="font-family: Trebuchet MS;">Padang tahun 1795</span><br />
<br />
<br />
<span style="font-family: Trebuchet MS;">Pada 1 Maret 1906 lahir ordonansi yang menetapkan Padang sebagai daerah Cremente (STAL 1906 No.151) yang berlaku 1 April 1906.</span><br />
<br />
<br />
<span style="font-family: Trebuchet MS;">Pada 9 Maret 1950, <br />
Padang dikembalikan ke tangan RI yang merupakan negara bagian melalui <br />
SK. Presiden RI Serikat (RIS), No.111 tanggal 9 Maret 1950.</span><br />
<br />
<br />
<span style="font-family: Trebuchet MS;">Surat Keputusan <br />
Gubernur Sumatera Tengah No. 65/GP-50, tanggal 15 Agustus 1950 <br />
menetapkan Pemerintahan Kota Padang sebagai suatu daerah otonom <br />
sementara menunggu penetapannya sesuai UU No. 225 tahun 1948. Saat itu <br />
kota Padang diperluas, kewedanaan Padang dihapus dan urusannya pindah ke<br />
Walikota Padang. Pada 29 Mei 1958. Gubernur Sumatera Barat melalui <br />
Surat Keputusan No. 1/g/PD/1958 secara de facto menetapkan kota Padang <br />
menjadi ibukota propinsi Sumatera Barat.</span><br />
<br />
<br />
<span style="font-family: Trebuchet MS;">Tahun 1975 secara <br />
de jure Padang menjadi ibukota Sumatera Barat, yang ditandai dengan <br />
keluarnya UU No.5 tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah.<br />
Kotamadya Padang dijadikan daerah otonom dan wilayah administratif yang<br />
dikepalai oleh seorang Walikota.<br />
<br />
sumber : <a href="http://cerita-indonesian.blogspot.com/2012/09/sejarah-kota-padang.html" rel="nofollow" target="_blank">http://cerita-indonesian.blogspot.com/20...adang.html</a><br />
</span></span>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Sebenarnya apakah keterkaitan antara Minang dan Melayu]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Sebenarnya-apakah-keterkaitan-antara-Minang-dan-Melayu</link>
			<pubDate>Sun, 07 Oct 2012 03:46:20 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Sebenarnya-apakah-keterkaitan-antara-Minang-dan-Melayu</guid>
			<description><![CDATA[terkadang saya agak confused, karena minang dan melayu laksana "serupa tapi tak sama".<br />
berikut beberapa statement sejauh yang saya baca mengenai keterkaitan Minang dan Melayu:<br />
<br />
1. menurut A.A. Navis, Minangkabau lebih kepada kultur etnis dari suatu rumpun melayu yg tumbuh dan besar karena sistem monarki, serta anutan Matrilinealnya<br />
<br />
2. menurut Thomas Stamford Rafles, setelah melakukan ekspedisi ke pedalaman Minangkabau tempat kedudukan Kerajaan Pagaruyung, menyatakan bahwa Minangkabau adalah sumber kekuatan dan asal bangsa Melayu, yang kemudian penduduknya tersebar luas di kepulauan timur.<br />
<br />
3. orang Minangkabau merupakan pewaris terhormat dari tradisi tua kerajaan Melayu yang gemar berdagang dan dinamis.<br />
<br />
4. dalam bahasa arti minang kabau adalah menang kerbau.<br />
minangkabau dalam istilah artinya : peradaban suku-suku melayu kuno di sumatera tengah dengan membentuk sistem adat berdatuk berpenghulu, beraja berakyat.<br />
<br />
5. induk bangsa orang melayu adalah minangkabau.<br />
jauh sebelum melayu ada, tanah melayu sana di kuasai oleh kerajaan pagaruyung minang kabau.<br />
bahkan ketika invasi kerajaan majapahit dalam ekspedisi pamalayu untuk menaklukkan tanah raja-raja sumatera, tanah melayu dinela oleh kerajaan pagaruyung sumatera barat. yang jajahannya sampai pada kerajaan siak sri indrapura. hang tuah dan para hang yang lain pun masuk dalam segmentasi sejarah jaman ini.<br />
dan nama minangkabau pun dikenal sejak jaman ini. karena prajurit majapahit kalah adu kerbau dengan kerbau dari kerajaan pagaruyung.<br />
minang ( menang) kabau (kerbau) bahasa minang tua. jadi tanah minang ini, udah ada sejak lama.<br />
manuskrip yang berasal dari kerajaan sriwijaya, tercatat bahwa ketika ekspedisi kerajaan china ke tanah sumatera, laksamana china mencatat sudah ada kampung orang minang daratan sumatera barat tercatat pada tahun 637 M.dan aktif berdagang sampai ke gujarat dan arab.<br />
manuskrip ini bisa dilihat di arsip nasional di perpustakaan nasional di jkarta, jl merdeka barat. <br />
<br />
sumber tulisan pada statements diatas saya kutip dari refrensi internet dan perkataan kenalan saya yang orang minang, benar atau tidaknya mohon koreksi serta penjelasannya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[terkadang saya agak confused, karena minang dan melayu laksana "serupa tapi tak sama".<br />
berikut beberapa statement sejauh yang saya baca mengenai keterkaitan Minang dan Melayu:<br />
<br />
1. menurut A.A. Navis, Minangkabau lebih kepada kultur etnis dari suatu rumpun melayu yg tumbuh dan besar karena sistem monarki, serta anutan Matrilinealnya<br />
<br />
2. menurut Thomas Stamford Rafles, setelah melakukan ekspedisi ke pedalaman Minangkabau tempat kedudukan Kerajaan Pagaruyung, menyatakan bahwa Minangkabau adalah sumber kekuatan dan asal bangsa Melayu, yang kemudian penduduknya tersebar luas di kepulauan timur.<br />
<br />
3. orang Minangkabau merupakan pewaris terhormat dari tradisi tua kerajaan Melayu yang gemar berdagang dan dinamis.<br />
<br />
4. dalam bahasa arti minang kabau adalah menang kerbau.<br />
minangkabau dalam istilah artinya : peradaban suku-suku melayu kuno di sumatera tengah dengan membentuk sistem adat berdatuk berpenghulu, beraja berakyat.<br />
<br />
5. induk bangsa orang melayu adalah minangkabau.<br />
jauh sebelum melayu ada, tanah melayu sana di kuasai oleh kerajaan pagaruyung minang kabau.<br />
bahkan ketika invasi kerajaan majapahit dalam ekspedisi pamalayu untuk menaklukkan tanah raja-raja sumatera, tanah melayu dinela oleh kerajaan pagaruyung sumatera barat. yang jajahannya sampai pada kerajaan siak sri indrapura. hang tuah dan para hang yang lain pun masuk dalam segmentasi sejarah jaman ini.<br />
dan nama minangkabau pun dikenal sejak jaman ini. karena prajurit majapahit kalah adu kerbau dengan kerbau dari kerajaan pagaruyung.<br />
minang ( menang) kabau (kerbau) bahasa minang tua. jadi tanah minang ini, udah ada sejak lama.<br />
manuskrip yang berasal dari kerajaan sriwijaya, tercatat bahwa ketika ekspedisi kerajaan china ke tanah sumatera, laksamana china mencatat sudah ada kampung orang minang daratan sumatera barat tercatat pada tahun 637 M.dan aktif berdagang sampai ke gujarat dan arab.<br />
manuskrip ini bisa dilihat di arsip nasional di perpustakaan nasional di jkarta, jl merdeka barat. <br />
<br />
sumber tulisan pada statements diatas saya kutip dari refrensi internet dan perkataan kenalan saya yang orang minang, benar atau tidaknya mohon koreksi serta penjelasannya.]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Ulama Besar Minang di Haramain 	]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Ulama-Besar-Minang-di-Haramain-%09</link>
			<pubDate>Fri, 05 Oct 2012 04:23:14 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Ulama-Besar-Minang-di-Haramain-%09</guid>
			<description><![CDATA[<span style="font-weight: bold;">SYEIKH YASIN FADANI</span><br />
<br />
Di antara ulama Nusan­tara yang kehebatannya dia­kui secara luas di <br />
dunia Islam ialah Syeikh Fadani. Beliau merupakan tokoh Minang yang <br />
terkemuka di Tanah Suci setelah Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau. Namanya<br />
ter­ukir indah dalam buku-buku biografi ulama modern. Beliau digelari <br />
sebagai muhaddis dan ahli fikih abad ini. Selain menulis, beliau juga <br />
mengajar dan mentadbir beberapa seko­lah di Mekah. Artikel ini <br />
dimaksudkan untuk menye­rlahkan sejarah hidup dan karya tulisnya.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Sejarah Hidup dan Pendidikan </span><br />
<br />
Syeikh Muhammad Yasin al-Fadani dilahirkan di tengah keluarga ulama <br />
yang taat di Misfalah Mekah pada hari Selasa, 27 Sya’ban 1335H/17 Juni <br />
1917M. Beliau adalah cahaya mata pasangan Syeikh Muhammad ‘Isa bin Udiq <br />
al-Fadani dan Maimunah binti Abdullah Fadan. Di samping dengan kedua <br />
orang tuanya, beliau telah berguru kepada paman di pihak ayahnya, Syeikh<br />
Mahmud Engku Hitam al-Fadani.<br />
<br />
Pada tahun 1346H/19­27M beliau bersekolah di Madra­sah Sawlatiyah <br />
hingga tahun 1353H/1935M. Beliau kemu­dian pindah ke Madrasah Dar <br />
al-‘Ulum yang baru saja dibangun oleh Sayyid Muhsin Falimbani pada 16 <br />
Syawwal 1353H/22 Januari 1935M. Syeikh Fadani menamatkan pengajiannya di<br />
sini pada 14 Rabi’ al-Awwal 1356H/25 Mei 1937M (Ahmad, [t.th]). Selain <br />
pendidikan formal, beliau juga menimba ilmu di lingkungan Masjid <br />
al-Haram dan di kediaman para <span style="font-style: italic;">masyayikh</span> di sekitar Mekah, <br />
Madinah, Thaif, dan Riyadh. Beliau juga pernah melakukan lawatan ke <br />
Indonesia, Malaysia, Ya­man, Mesir, Syiria, Kuwait, dan sebagainya <br />
(Zakwan, 1993).<br />
<br />
Syeikh Fadani telah berguru kepada 700 ulama di zamannya, dari <br />
pelbagai suku-bangsa, sama ada yang bela­jar langsung ataupun sekedar <br />
mengambil ijazah ilmu (Mar­’ashli, 2005). An­taranya Syeikh ‘Abd <br />
al-Karim al-Khatib Mi­nang­kabau, Syeikh Ahmad Man­sur Filfulani, Syeikh<br />
‘Abd al-Qadir Mandili, Syeikh ‘Abd al-Satar Dehlawi, Syeikh Hasan <br />
Mashat, KH. Hasyim Asy’ari, Syeikh Ibrahim Da­wud Fatani, Syeikh Djanan <br />
Thaib Minangkabau, Syeikh Kha­lifah Nabhani, KH. Ma’­sum Lasem, Syeikh <br />
Ahyad Bug­huri, Syeikh ‘Atarid Bug­huri, Sayyid ‘Alawi Maliki, Sayyid <br />
Muhsin Falimbani, Syeikh ‘Umar Bajunid, Syeikh ‘Umar Ham­dan, Syeikh <br />
Zu­bayr Ahmad Filfulani, dan banyak lagi.<br />
<br />
Adapunmengenai per­jalanan karier beliau, bermula <br />
sejak dilantik menjadi guru di Madarasah Dar al-‘Ulum, tahun <br />
1356H/1937M. Antara mata pelajaran yang diasuh oleh beliau ialah hadis, <br />
fikih Shafi’i, <span style="font-style: italic;">usul al-fiqh, qawa</span>’<span style="font-style: italic;">id fiqhiyyah, </span>nahu, <br />
sharaf, balag­hah dan ilmu falak (Mar’ashli, 2005). Kiprahnya di dunia <br />
akademik kian rancak se­hingga dilantik menjadi wakil mudir, sejak <br />
1359H/1940M hingga 1384H/1964M. Setelah kepulangan Syeikh Ahmad Mansur <br />
ke Tanah Melayu, tahun 1384H/1964M, beliau menggantikan posisi gurunya <br />
itu sebagai mudir Madrasah Dar al-‘Ulum hingga ke akhir hayatnya. Syeikh<br />
Fadani juga terlibat dalam pembangunan Madrasah al-Banat <br />
al-Ibti­da’iyah yang diresmikan pada Rabi’ al-Awwal 1362H/Maret 1943M. <br />
Institusi ini meru­pakan sekolah perempuan kedua dalam Kerajaan Arab <br />
Saudi. Beliau juga membangun Ma’had al-Mu’allimat al-Ahliyyah, sekolah <br />
bagi calon guru yang didirikan pada Rabi’ al-Akhir 1377H/Oktober 1957M. <br />
Ilmu yang diajarkan di sini diantaranya ilmu psikologi pendidikan dan <br />
ilmu metodologi pengajaran, dan lain-lain.<br />
<br />
Di samping itu, beliau juga mengajar di Masjid al-Haram dan di <br />
rumahnya. Bahkan, tradisi ilmu di rumahnya masih diteruskan hingga kini <br />
oleh murid-murid beliau. Tidak heran, jika beliau melahirkan anak didik <br />
yang teramat sukar untuk diper­kirakan bilangan pastinya (Mamduh, 1983).<br />
Antara yang terkemuka ialah Dato’ Syeikh Abdul Halim Abd Kadir, KH. <br />
Abdul Hamid Abd Halim, KH. Dr. Abdul Muhith, Prof. Dr. Abdul Wahhab <br />
Ibrahim, Syeikh Dr. Ali Jum’ah, KH. Dr. Ahmad Sahal Mahfuz, Tan Sri <br />
Hasan Azhari, KH. Dr. Maghfur Usman, KH. Maimun Zubair, Syeikh Dr. <br />
Mahmud Sa’id Mamduh, Syeikh Nur al-Din Banjari, Prof. Dr. Said Agil <br />
Husin al-Munawar, KH. Syafi’i Hadzami, Syeikh Dr. Yusuf al-Mar’ashli, <br />
KH. Zak­wan Abd Hamid, dan ramai lagi.<br />
<br />
Syeikh Fadani wafat di Mekah pada hari Jum’at, 28 Zulhijjah 1410H/21 <br />
Juli 1990M. Allahyarham disalat­kan selepas Jum’at di Masjid al-Haram <br />
dan dikebumikan di Tanah Pekuburan Ma’la. Beliau meninggalkan satu orang<br />
isteri dengan empat orang putera yaitu Muham­mad Nur ‘Arafah, Fahd, <br />
Ridha dan Nizar. <span style="font-style: italic;">Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un!</span><br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Karya Tulis dan Keilmuan </span><br />
<br />
Syeikh Fadani amat pro­duk­tif dalam menulis karya. Selain kitab <br />
hadis, yang menjadi keahliannya, beliau juga menyusun buku sejarah <br />
ulama, fikih dan <span style="font-style: italic;">usul al-fiqh</span>, ilmu falak, ilmu tafsir dan <br />
bahasa. Menurut kajian penu­lis (2010), telah lahir khazanah keilmuan <br />
Islam lebih dari 100 judul dari ujung penanya. Namun sayang, agak sukar <br />
menjumpai karya-karya ter­sebut di tanah air. Karya beliau lebih banyak <br />
dicetak di Beirut dan Syiria. Sele­bihnya masih tersimpan dalam bentuk <span style="font-style: italic;">makhtutat</span> di pustaka peribadi almarhum. Bahkan, karyanya yang fun­damental dalam bidang hadis, <span style="font-style: italic;">Fath al-‘Allam </span>dan<span style="font-style: italic;"> al-Durr al-Mandud</span> masih dalam bentuk manuskrip.<br />
<br />
Sebatas upaya dha’if pe­nulis, inilah karya Syeikh Fadani yang baru <br />
dapat diko­leksi. Judulnya sengaja ditulis ringkas dengan tahun terbit <br />
dan berdasarkan huruf abjad: <span style="font-style: italic;">al-Arba’un al-Bul­daniyyah </span>(1407H/1987M); <span style="font-style: italic;">al-Arba’un Hadithan </span>(1429H/2008M); <span style="font-style: italic;">al-Asanid al-Mak­kiyyah </span>(1409H/1989M); <span style="font-style: italic;">As­anid al-Faqih al-Haytami </span>(1429H/2008M); <span style="font-style: italic;">al-Awa’il al-Sunbuliyah wa Dhay­luha </span>(1427H/2006M); <span style="font-style: italic;">Bulghah al-Mushtaq </span>([t.th]); <span style="font-style: italic;">Fayd al-Khabir wa Khulasah al-Taqrir </span>([t.th]; <span style="font-style: italic;">Fayd al-Mabdi bi Ijazah al-Zabidi </span>(1429H/2008M); <span style="font-style: italic;">al-Fawa’id al-Ja­niyyah </span>(1417H/1996M); <span style="font-style: italic;">al-Fayd al-Rahmani bi Ijazah al-‘Uthmani </span>(1406H/1986M); <span style="font-style: italic;">Husn al-Siyaghah Sharh Durus al-Balaghah </span>([t.th.]); <span style="font-style: italic;">Husn al-Wafa li Ikhwan al-Safa </span>([t.th]); <span style="font-style: italic;">Ittihaf al-Bara­rah </span>(1403H/1983M); <span style="font-style: italic;">Ittihaf al-Ikhwan </span>(1406H/1986M); <span style="font-style: italic;">Ta’liqat ‘ala Kifayah al-Mustafid </span>([t.th]); <span style="font-style: italic;">Ta’liqat ‘ala Madkhal al-Wusul ila ‘Ilm al-Usul </span>([t.th]); <span style="font-style: italic;">al-Maslak al-Jali </span>(1408H/1988M); <span style="font-style: italic;">al-Nafhah al-Hasaniyyah </span>(1396 H/1976M); <span style="font-style: italic;">al-Rawd al-Fa’ih wa Bughyah al-Ghadi wa al-Ra’ih </span>(1426H/2005M); <span style="font-style: italic;">Sadd al-Arab min ‘Ulum al-Isnad wa al-Adab </span>([t.th]); <span style="font-style: italic;">Tanwir al-Basirah </span>(1403H/1983M); <span style="font-style: italic;">Thabt al-Kazbari </span>(1403H/1983M); <span style="font-style: italic;">al-‘Ujalah fi al-Ahadith al-Musal­salah </span>(1405 H/1985M); <span style="font-style: italic;">al-Wafi bi Dhayl Tidhkar al-Masafi </span>(1429H/2008M); dan <span style="font-style: italic;">Waraqat fi Majmu’ah al-Musalsalat </span>(14 06H/1986M).<br />
<br />
Meskipun kabarnya Syeikh Fadani mampu bertutur da­lam bahasa Melayu <br />
(Halim, 2010), namun beliau menulis seluruh karyanya dalam ba­hasa Arab.<br />
Karena itu, hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi cerdik pandai <br />
semasa untuk menterjemahkan, meng­kaji dan memetakan gagasan pemikiran <br />
beliau dalam aneka sudut pandang keilmuan Islam. Di samping tentunya <br />
usaha dalam penerbitan kar­ya-karyanya di tanah air. Adalah itu pantas, <br />
sebagai salah satu wujud kebanggaan muslim Nusantara terhadap beliau, <br />
apalagi ramai murid­nya yang berasal dari kawasan ini.<br />
<br />
Terkait karya ulama yang juga ahli fikih ini, ada bebe­rapa perkara yang menarik. <span style="font-style: italic;">Pertama</span>, Syeikh Fadani ter­nyata pernah menulis empat kitab <span style="font-style: italic;">arba’in </span>(hadis 40) seka­ligus. Kitab hadis 40 yang telah mencuri perhatian kaum muslimin selama ber­abad-abad ialah<span style="font-style: italic;"> Arba’in Nawawi </span>karya Imam Nawawi (w. 676H/1278M). Sudah sela­yaknya juga, Syeikh Fadani yang menulis 4 versi kitab <span style="font-style: italic;">arba’in </span>mendapat apre­siasi yang sama dalam arti yang luas di kalangan umat Islam. Antara kitab <span style="font-style: italic;">Arba’in Fadani</span> yaitu <span style="font-style: italic;">al-Arba</span>’<span style="font-style: italic;">un al-Bul­da­niyah, al-Arba</span>’<span style="font-style: italic;">un Ha­dithan, Sharh al-Jawhar al-Thamin fi Arba</span>’<span style="font-style: italic;">in Hadithan</span> dan <span style="font-style: italic;">al-Arba</span>’<span style="font-style: italic;">un Hadithan Musalsalah.</span><br />
<br />
<span style="font-style: italic;">Kedua</span>, karya Syeikh Fa­dani didominasi oleh kitab sanad yang<br />
ditulis dengan sangat teliti. Hampir di­pastikan, setiap ilmu yang <br />
beliau tuntut ada susur ga­lurnya hingga ke sumber pertama. Hal ini, <br />
setidaknya menyiratkan nilai ketekunan (<span style="font-style: italic;">telaten</span>), ketulenan <br />
(otoritatif), dan keberkahan ilmu. Dengan ketekunan memelihara sil­silah<br />
keilmuan itulah agaknya ramai tokoh kontemporer menyebut beliau sebagai<br />
<span style="font-style: italic;">musnid al-dunya</span> (pemegang sanad di dunia) atau <span style="font-style: italic;">musnid al-‘asr</span> (pakar sanad zaman ini).<br />
<br />
Lihat misalnya Syeikh ‘Abdullah al-Ghumari, sebagai diceritakan oleh Syeikh Sa’id Mamduh: <span style="font-style: italic;">“Dalam<br />
suatu kesem­patan berkumpul dengan Syeikh Sayyid ‘Abdullah Siddiq <br />
al-Ghumari pada musim haji tahun 1401H/1991M, beliau berkata kepada <br />
sekumpulan jama’ah. Kita, sebelum ini telah mengakui Syeikh Sayyid Rafi’<br />
al-Tahtawi sebagai musnid al-‘asr. Namun sekarang, keta­huilah bahwa <br />
Syeikh Yasin al-Fadani adalah sebagai musnid al-‘asr, tanpa diragukan <br />
lagi”</span>. Suatu pengakuan yang tulus dari seorang pakar Islam yang <br />
kritis. Oleh itu, patut kiranya perjalanan hidup tokoh besar keturunan <br />
“sekeping tanah syurga” ini dijadikan iktibar. Semoga!<br />
<br />
 <br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">JANNATUL H ANUAR, MA</span><br />
(Mengikuti Program Ph.D di SOAS Centre for Islamic Studies, Universiti Brunei Darussalam)<br />
sumber : haluan]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span style="font-weight: bold;">SYEIKH YASIN FADANI</span><br />
<br />
Di antara ulama Nusan­tara yang kehebatannya dia­kui secara luas di <br />
dunia Islam ialah Syeikh Fadani. Beliau merupakan tokoh Minang yang <br />
terkemuka di Tanah Suci setelah Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau. Namanya<br />
ter­ukir indah dalam buku-buku biografi ulama modern. Beliau digelari <br />
sebagai muhaddis dan ahli fikih abad ini. Selain menulis, beliau juga <br />
mengajar dan mentadbir beberapa seko­lah di Mekah. Artikel ini <br />
dimaksudkan untuk menye­rlahkan sejarah hidup dan karya tulisnya.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Sejarah Hidup dan Pendidikan </span><br />
<br />
Syeikh Muhammad Yasin al-Fadani dilahirkan di tengah keluarga ulama <br />
yang taat di Misfalah Mekah pada hari Selasa, 27 Sya’ban 1335H/17 Juni <br />
1917M. Beliau adalah cahaya mata pasangan Syeikh Muhammad ‘Isa bin Udiq <br />
al-Fadani dan Maimunah binti Abdullah Fadan. Di samping dengan kedua <br />
orang tuanya, beliau telah berguru kepada paman di pihak ayahnya, Syeikh<br />
Mahmud Engku Hitam al-Fadani.<br />
<br />
Pada tahun 1346H/19­27M beliau bersekolah di Madra­sah Sawlatiyah <br />
hingga tahun 1353H/1935M. Beliau kemu­dian pindah ke Madrasah Dar <br />
al-‘Ulum yang baru saja dibangun oleh Sayyid Muhsin Falimbani pada 16 <br />
Syawwal 1353H/22 Januari 1935M. Syeikh Fadani menamatkan pengajiannya di<br />
sini pada 14 Rabi’ al-Awwal 1356H/25 Mei 1937M (Ahmad, [t.th]). Selain <br />
pendidikan formal, beliau juga menimba ilmu di lingkungan Masjid <br />
al-Haram dan di kediaman para <span style="font-style: italic;">masyayikh</span> di sekitar Mekah, <br />
Madinah, Thaif, dan Riyadh. Beliau juga pernah melakukan lawatan ke <br />
Indonesia, Malaysia, Ya­man, Mesir, Syiria, Kuwait, dan sebagainya <br />
(Zakwan, 1993).<br />
<br />
Syeikh Fadani telah berguru kepada 700 ulama di zamannya, dari <br />
pelbagai suku-bangsa, sama ada yang bela­jar langsung ataupun sekedar <br />
mengambil ijazah ilmu (Mar­’ashli, 2005). An­taranya Syeikh ‘Abd <br />
al-Karim al-Khatib Mi­nang­kabau, Syeikh Ahmad Man­sur Filfulani, Syeikh<br />
‘Abd al-Qadir Mandili, Syeikh ‘Abd al-Satar Dehlawi, Syeikh Hasan <br />
Mashat, KH. Hasyim Asy’ari, Syeikh Ibrahim Da­wud Fatani, Syeikh Djanan <br />
Thaib Minangkabau, Syeikh Kha­lifah Nabhani, KH. Ma’­sum Lasem, Syeikh <br />
Ahyad Bug­huri, Syeikh ‘Atarid Bug­huri, Sayyid ‘Alawi Maliki, Sayyid <br />
Muhsin Falimbani, Syeikh ‘Umar Bajunid, Syeikh ‘Umar Ham­dan, Syeikh <br />
Zu­bayr Ahmad Filfulani, dan banyak lagi.<br />
<br />
Adapunmengenai per­jalanan karier beliau, bermula <br />
sejak dilantik menjadi guru di Madarasah Dar al-‘Ulum, tahun <br />
1356H/1937M. Antara mata pelajaran yang diasuh oleh beliau ialah hadis, <br />
fikih Shafi’i, <span style="font-style: italic;">usul al-fiqh, qawa</span>’<span style="font-style: italic;">id fiqhiyyah, </span>nahu, <br />
sharaf, balag­hah dan ilmu falak (Mar’ashli, 2005). Kiprahnya di dunia <br />
akademik kian rancak se­hingga dilantik menjadi wakil mudir, sejak <br />
1359H/1940M hingga 1384H/1964M. Setelah kepulangan Syeikh Ahmad Mansur <br />
ke Tanah Melayu, tahun 1384H/1964M, beliau menggantikan posisi gurunya <br />
itu sebagai mudir Madrasah Dar al-‘Ulum hingga ke akhir hayatnya. Syeikh<br />
Fadani juga terlibat dalam pembangunan Madrasah al-Banat <br />
al-Ibti­da’iyah yang diresmikan pada Rabi’ al-Awwal 1362H/Maret 1943M. <br />
Institusi ini meru­pakan sekolah perempuan kedua dalam Kerajaan Arab <br />
Saudi. Beliau juga membangun Ma’had al-Mu’allimat al-Ahliyyah, sekolah <br />
bagi calon guru yang didirikan pada Rabi’ al-Akhir 1377H/Oktober 1957M. <br />
Ilmu yang diajarkan di sini diantaranya ilmu psikologi pendidikan dan <br />
ilmu metodologi pengajaran, dan lain-lain.<br />
<br />
Di samping itu, beliau juga mengajar di Masjid al-Haram dan di <br />
rumahnya. Bahkan, tradisi ilmu di rumahnya masih diteruskan hingga kini <br />
oleh murid-murid beliau. Tidak heran, jika beliau melahirkan anak didik <br />
yang teramat sukar untuk diper­kirakan bilangan pastinya (Mamduh, 1983).<br />
Antara yang terkemuka ialah Dato’ Syeikh Abdul Halim Abd Kadir, KH. <br />
Abdul Hamid Abd Halim, KH. Dr. Abdul Muhith, Prof. Dr. Abdul Wahhab <br />
Ibrahim, Syeikh Dr. Ali Jum’ah, KH. Dr. Ahmad Sahal Mahfuz, Tan Sri <br />
Hasan Azhari, KH. Dr. Maghfur Usman, KH. Maimun Zubair, Syeikh Dr. <br />
Mahmud Sa’id Mamduh, Syeikh Nur al-Din Banjari, Prof. Dr. Said Agil <br />
Husin al-Munawar, KH. Syafi’i Hadzami, Syeikh Dr. Yusuf al-Mar’ashli, <br />
KH. Zak­wan Abd Hamid, dan ramai lagi.<br />
<br />
Syeikh Fadani wafat di Mekah pada hari Jum’at, 28 Zulhijjah 1410H/21 <br />
Juli 1990M. Allahyarham disalat­kan selepas Jum’at di Masjid al-Haram <br />
dan dikebumikan di Tanah Pekuburan Ma’la. Beliau meninggalkan satu orang<br />
isteri dengan empat orang putera yaitu Muham­mad Nur ‘Arafah, Fahd, <br />
Ridha dan Nizar. <span style="font-style: italic;">Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un!</span><br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Karya Tulis dan Keilmuan </span><br />
<br />
Syeikh Fadani amat pro­duk­tif dalam menulis karya. Selain kitab <br />
hadis, yang menjadi keahliannya, beliau juga menyusun buku sejarah <br />
ulama, fikih dan <span style="font-style: italic;">usul al-fiqh</span>, ilmu falak, ilmu tafsir dan <br />
bahasa. Menurut kajian penu­lis (2010), telah lahir khazanah keilmuan <br />
Islam lebih dari 100 judul dari ujung penanya. Namun sayang, agak sukar <br />
menjumpai karya-karya ter­sebut di tanah air. Karya beliau lebih banyak <br />
dicetak di Beirut dan Syiria. Sele­bihnya masih tersimpan dalam bentuk <span style="font-style: italic;">makhtutat</span> di pustaka peribadi almarhum. Bahkan, karyanya yang fun­damental dalam bidang hadis, <span style="font-style: italic;">Fath al-‘Allam </span>dan<span style="font-style: italic;"> al-Durr al-Mandud</span> masih dalam bentuk manuskrip.<br />
<br />
Sebatas upaya dha’if pe­nulis, inilah karya Syeikh Fadani yang baru <br />
dapat diko­leksi. Judulnya sengaja ditulis ringkas dengan tahun terbit <br />
dan berdasarkan huruf abjad: <span style="font-style: italic;">al-Arba’un al-Bul­daniyyah </span>(1407H/1987M); <span style="font-style: italic;">al-Arba’un Hadithan </span>(1429H/2008M); <span style="font-style: italic;">al-Asanid al-Mak­kiyyah </span>(1409H/1989M); <span style="font-style: italic;">As­anid al-Faqih al-Haytami </span>(1429H/2008M); <span style="font-style: italic;">al-Awa’il al-Sunbuliyah wa Dhay­luha </span>(1427H/2006M); <span style="font-style: italic;">Bulghah al-Mushtaq </span>([t.th]); <span style="font-style: italic;">Fayd al-Khabir wa Khulasah al-Taqrir </span>([t.th]; <span style="font-style: italic;">Fayd al-Mabdi bi Ijazah al-Zabidi </span>(1429H/2008M); <span style="font-style: italic;">al-Fawa’id al-Ja­niyyah </span>(1417H/1996M); <span style="font-style: italic;">al-Fayd al-Rahmani bi Ijazah al-‘Uthmani </span>(1406H/1986M); <span style="font-style: italic;">Husn al-Siyaghah Sharh Durus al-Balaghah </span>([t.th.]); <span style="font-style: italic;">Husn al-Wafa li Ikhwan al-Safa </span>([t.th]); <span style="font-style: italic;">Ittihaf al-Bara­rah </span>(1403H/1983M); <span style="font-style: italic;">Ittihaf al-Ikhwan </span>(1406H/1986M); <span style="font-style: italic;">Ta’liqat ‘ala Kifayah al-Mustafid </span>([t.th]); <span style="font-style: italic;">Ta’liqat ‘ala Madkhal al-Wusul ila ‘Ilm al-Usul </span>([t.th]); <span style="font-style: italic;">al-Maslak al-Jali </span>(1408H/1988M); <span style="font-style: italic;">al-Nafhah al-Hasaniyyah </span>(1396 H/1976M); <span style="font-style: italic;">al-Rawd al-Fa’ih wa Bughyah al-Ghadi wa al-Ra’ih </span>(1426H/2005M); <span style="font-style: italic;">Sadd al-Arab min ‘Ulum al-Isnad wa al-Adab </span>([t.th]); <span style="font-style: italic;">Tanwir al-Basirah </span>(1403H/1983M); <span style="font-style: italic;">Thabt al-Kazbari </span>(1403H/1983M); <span style="font-style: italic;">al-‘Ujalah fi al-Ahadith al-Musal­salah </span>(1405 H/1985M); <span style="font-style: italic;">al-Wafi bi Dhayl Tidhkar al-Masafi </span>(1429H/2008M); dan <span style="font-style: italic;">Waraqat fi Majmu’ah al-Musalsalat </span>(14 06H/1986M).<br />
<br />
Meskipun kabarnya Syeikh Fadani mampu bertutur da­lam bahasa Melayu <br />
(Halim, 2010), namun beliau menulis seluruh karyanya dalam ba­hasa Arab.<br />
Karena itu, hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi cerdik pandai <br />
semasa untuk menterjemahkan, meng­kaji dan memetakan gagasan pemikiran <br />
beliau dalam aneka sudut pandang keilmuan Islam. Di samping tentunya <br />
usaha dalam penerbitan kar­ya-karyanya di tanah air. Adalah itu pantas, <br />
sebagai salah satu wujud kebanggaan muslim Nusantara terhadap beliau, <br />
apalagi ramai murid­nya yang berasal dari kawasan ini.<br />
<br />
Terkait karya ulama yang juga ahli fikih ini, ada bebe­rapa perkara yang menarik. <span style="font-style: italic;">Pertama</span>, Syeikh Fadani ter­nyata pernah menulis empat kitab <span style="font-style: italic;">arba’in </span>(hadis 40) seka­ligus. Kitab hadis 40 yang telah mencuri perhatian kaum muslimin selama ber­abad-abad ialah<span style="font-style: italic;"> Arba’in Nawawi </span>karya Imam Nawawi (w. 676H/1278M). Sudah sela­yaknya juga, Syeikh Fadani yang menulis 4 versi kitab <span style="font-style: italic;">arba’in </span>mendapat apre­siasi yang sama dalam arti yang luas di kalangan umat Islam. Antara kitab <span style="font-style: italic;">Arba’in Fadani</span> yaitu <span style="font-style: italic;">al-Arba</span>’<span style="font-style: italic;">un al-Bul­da­niyah, al-Arba</span>’<span style="font-style: italic;">un Ha­dithan, Sharh al-Jawhar al-Thamin fi Arba</span>’<span style="font-style: italic;">in Hadithan</span> dan <span style="font-style: italic;">al-Arba</span>’<span style="font-style: italic;">un Hadithan Musalsalah.</span><br />
<br />
<span style="font-style: italic;">Kedua</span>, karya Syeikh Fa­dani didominasi oleh kitab sanad yang<br />
ditulis dengan sangat teliti. Hampir di­pastikan, setiap ilmu yang <br />
beliau tuntut ada susur ga­lurnya hingga ke sumber pertama. Hal ini, <br />
setidaknya menyiratkan nilai ketekunan (<span style="font-style: italic;">telaten</span>), ketulenan <br />
(otoritatif), dan keberkahan ilmu. Dengan ketekunan memelihara sil­silah<br />
keilmuan itulah agaknya ramai tokoh kontemporer menyebut beliau sebagai<br />
<span style="font-style: italic;">musnid al-dunya</span> (pemegang sanad di dunia) atau <span style="font-style: italic;">musnid al-‘asr</span> (pakar sanad zaman ini).<br />
<br />
Lihat misalnya Syeikh ‘Abdullah al-Ghumari, sebagai diceritakan oleh Syeikh Sa’id Mamduh: <span style="font-style: italic;">“Dalam<br />
suatu kesem­patan berkumpul dengan Syeikh Sayyid ‘Abdullah Siddiq <br />
al-Ghumari pada musim haji tahun 1401H/1991M, beliau berkata kepada <br />
sekumpulan jama’ah. Kita, sebelum ini telah mengakui Syeikh Sayyid Rafi’<br />
al-Tahtawi sebagai musnid al-‘asr. Namun sekarang, keta­huilah bahwa <br />
Syeikh Yasin al-Fadani adalah sebagai musnid al-‘asr, tanpa diragukan <br />
lagi”</span>. Suatu pengakuan yang tulus dari seorang pakar Islam yang <br />
kritis. Oleh itu, patut kiranya perjalanan hidup tokoh besar keturunan <br />
“sekeping tanah syurga” ini dijadikan iktibar. Semoga!<br />
<br />
 <br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">JANNATUL H ANUAR, MA</span><br />
(Mengikuti Program Ph.D di SOAS Centre for Islamic Studies, Universiti Brunei Darussalam)<br />
sumber : haluan]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Padang “Kota Berantakan” di Mata Kolonel Nahuijs]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Padang-%E2%80%9CKota-Berantakan%E2%80%9D-di-Mata-Kolonel-Nahuijs</link>
			<pubDate>Thu, 04 Oct 2012 07:55:42 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Padang-%E2%80%9CKota-Berantakan%E2%80%9D-di-Mata-Kolonel-Nahuijs</guid>
			<description><![CDATA[&lt;img src="http://inioke.com//foto/berita/padang%20kantor%20wako.jpg" align="left" width="300" /&gt;IKantor Wali Kota Padang Tempo Doeloe (Sumber <a href="http://mradaz.blogspot.com" rel="nofollow" target="_blank">http://mradaz.blogspot.com</a>)Pada<br />
tahun 1824, seorang kolonial berkebangsaan Belanda melakukan tur. <br />
Kolonel Nahuijs, begitu namanya disebut, melintasi Sumatera bagian <br />
tengah, dari pinggir barat melintang hingga ke pesisir timur. Dari <br />
Bengkulu, Padang, menaiki dataran tinggi Minangkabau, mengilir-ilir ke <br />
Riau, lalu menyeberang ke Singapura dan Pulau Pinang.<br />
<br />
Tiga tahun setelah tur itu, sebuah buku terbit di negeri Belanda. <span style="font-style: italic;">Brieven over Bencoolen, Padang, Het Rijk van Minangkabau, Rhiou, Singapoera en Poelo-Pinang</span>, begitu judulnya, berisi catatan dan laporan perjalanan sang kolonel.<br />
<br />
Apa gambaran Nahuijs tentang Padang?<br />
<br />
Kolonel Nahuijs yang mengunjungi Padang pada tahun 1824. Dia <br />
mencatatkan dalam catatannya bahwa Padang adalah sebuah kota kecil tidak<br />
penting di pesisir barat pada masa itu.<br />
<br />
Padang adalah kota yang berantakan. Padang, dalam pandangan Eropanya,<br />
hanyalah sebuah tempat kecil hunian bangsa Eropa yang paling tidak <br />
berarti dan tidak teratur di antara hunian bangsa Eropa lainnya yang <br />
pernah dikunjunginya di Hindia. Nahuijs menulis: “... dan saya bisa <br />
mengatakannya kepada Anda bahwa saya belum pernah melihat tiga buah <br />
rumah yang terawat baik di seluruh Padang.”<br />
<br />
Sementara itu, kondisi rumah-rumah pribumi di Padang, kata Nahuijs lagi, hanya berupa rumah-rumah kecil yang terbuat dari bambu.<br />
<br />
Pada kunjungannya itu, Nahuijs selanjutnya juga mencatatkan, bahwa di Padang sangat sedikit tukang kayu (<span style="font-style: italic;">de timmerlieden</span>) dan tukang batu (<span style="font-style: italic;">metselaars</span>). Sementara pemerintah Belanda harus segera membikin begitu banyak bangunan publik.<br />
<br />
Di bawah pemerintahan Letnan Kolonel Raaff, kata Nahuijs, Padang <br />
membutuhkan banyak bangunan publik yang harus segera dibikin. Nahuijs <br />
mencatatkan kondisi bangunan publik di Padang sangat tidak memadai. Dia <br />
memberi contok kondisi penjara atau rumah tahanan. Rumah-penjara <br />
pemerintah di Padang sangat kecil (<span style="font-style: italic;">het gouvernements gevangan-huis zoo weinig</span>) <br />
untuk tempat menahan para penjahat, katanya. Akibatnya, ketika malam <br />
para penjahat harus dirantai sebagai jaminan agar tidak melarikan diri. <br />
Penjara ini juga harus dijaga oleh beberapa orang polisi—dijaga dengan <br />
ketat.<br />
<br />
Di awal-awal kehadirannnya kembali di Padang sejak 1817, Belanda <br />
telah disibukkan oleh keikut-sertaannya dalam perang padri di pedalamam <br />
Minangkabau. Padang hampir-hampir terabaikan dan belum tersentuh <br />
perbaikan sejak diserahkan ke tangan Belanda kembali dari kekuasaan <br />
Inggris. Letnan Kolonel Raaff, penguasa Padang masa itu, dengan giat dan<br />
penuh ambisi tengah sibuk-sibuknya menggempur benteng-benteng padri di <br />
darek Minangkabau. Seluruh tenaga dikerahkan untuk menaklukan darek.<br />
<br />
Dalam kondisi serupa itu, Nahuijs menilai, Kolonel Raaff nyaris tidak<br />
mampu memberikan perubahan yang berarti bagi wajah kota ini. (inioke)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[&lt;img src="http://inioke.com//foto/berita/padang%20kantor%20wako.jpg" align="left" width="300" /&gt;IKantor Wali Kota Padang Tempo Doeloe (Sumber <a href="http://mradaz.blogspot.com" rel="nofollow" target="_blank">http://mradaz.blogspot.com</a>)Pada<br />
tahun 1824, seorang kolonial berkebangsaan Belanda melakukan tur. <br />
Kolonel Nahuijs, begitu namanya disebut, melintasi Sumatera bagian <br />
tengah, dari pinggir barat melintang hingga ke pesisir timur. Dari <br />
Bengkulu, Padang, menaiki dataran tinggi Minangkabau, mengilir-ilir ke <br />
Riau, lalu menyeberang ke Singapura dan Pulau Pinang.<br />
<br />
Tiga tahun setelah tur itu, sebuah buku terbit di negeri Belanda. <span style="font-style: italic;">Brieven over Bencoolen, Padang, Het Rijk van Minangkabau, Rhiou, Singapoera en Poelo-Pinang</span>, begitu judulnya, berisi catatan dan laporan perjalanan sang kolonel.<br />
<br />
Apa gambaran Nahuijs tentang Padang?<br />
<br />
Kolonel Nahuijs yang mengunjungi Padang pada tahun 1824. Dia <br />
mencatatkan dalam catatannya bahwa Padang adalah sebuah kota kecil tidak<br />
penting di pesisir barat pada masa itu.<br />
<br />
Padang adalah kota yang berantakan. Padang, dalam pandangan Eropanya,<br />
hanyalah sebuah tempat kecil hunian bangsa Eropa yang paling tidak <br />
berarti dan tidak teratur di antara hunian bangsa Eropa lainnya yang <br />
pernah dikunjunginya di Hindia. Nahuijs menulis: “... dan saya bisa <br />
mengatakannya kepada Anda bahwa saya belum pernah melihat tiga buah <br />
rumah yang terawat baik di seluruh Padang.”<br />
<br />
Sementara itu, kondisi rumah-rumah pribumi di Padang, kata Nahuijs lagi, hanya berupa rumah-rumah kecil yang terbuat dari bambu.<br />
<br />
Pada kunjungannya itu, Nahuijs selanjutnya juga mencatatkan, bahwa di Padang sangat sedikit tukang kayu (<span style="font-style: italic;">de timmerlieden</span>) dan tukang batu (<span style="font-style: italic;">metselaars</span>). Sementara pemerintah Belanda harus segera membikin begitu banyak bangunan publik.<br />
<br />
Di bawah pemerintahan Letnan Kolonel Raaff, kata Nahuijs, Padang <br />
membutuhkan banyak bangunan publik yang harus segera dibikin. Nahuijs <br />
mencatatkan kondisi bangunan publik di Padang sangat tidak memadai. Dia <br />
memberi contok kondisi penjara atau rumah tahanan. Rumah-penjara <br />
pemerintah di Padang sangat kecil (<span style="font-style: italic;">het gouvernements gevangan-huis zoo weinig</span>) <br />
untuk tempat menahan para penjahat, katanya. Akibatnya, ketika malam <br />
para penjahat harus dirantai sebagai jaminan agar tidak melarikan diri. <br />
Penjara ini juga harus dijaga oleh beberapa orang polisi—dijaga dengan <br />
ketat.<br />
<br />
Di awal-awal kehadirannnya kembali di Padang sejak 1817, Belanda <br />
telah disibukkan oleh keikut-sertaannya dalam perang padri di pedalamam <br />
Minangkabau. Padang hampir-hampir terabaikan dan belum tersentuh <br />
perbaikan sejak diserahkan ke tangan Belanda kembali dari kekuasaan <br />
Inggris. Letnan Kolonel Raaff, penguasa Padang masa itu, dengan giat dan<br />
penuh ambisi tengah sibuk-sibuknya menggempur benteng-benteng padri di <br />
darek Minangkabau. Seluruh tenaga dikerahkan untuk menaklukan darek.<br />
<br />
Dalam kondisi serupa itu, Nahuijs menilai, Kolonel Raaff nyaris tidak<br />
mampu memberikan perubahan yang berarti bagi wajah kota ini. (inioke)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Monumen Pemberontakan Batipuh (1920)]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Monumen-Pemberontakan-Batipuh-1920</link>
			<pubDate>Thu, 04 Oct 2012 03:02:45 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Monumen-Pemberontakan-Batipuh-1920</guid>
			<description><![CDATA[<a href="http://3.bp.blogspot.com/-dc_AlQHSz5o/ThvmBruzIMI/AAAAAAAAAKE/HGqYIWV1Xc0/s1600/tugu%2Bbatipuh.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://3.bp.blogspot.com/-dc_AlQHSz5o/ThvmBruzIMI/AAAAAAAAAKE/HGqYIWV1Xc0/s400/tugu%2Bbatipuh.jpg" border="0" alt="[Image: tugu%2Bbatipuh.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
Untuk<br />
memperingati gugurnya beberapa serdadu Belanda akibat pemberontakan <br />
yang meletus di Batipuh (dekat Padang Panjang) pada tanggal 24 Februari <br />
1841 , didirikanlah sebuah monumen seperti terlihat di atas. <br />
Pemberontak<br />
menyerang tangsi Belanda di Guguk Malintang yang dipimpin oleh Letnan <br />
JB. Banzer. Dalam tangsi itu sendiri terdapat 2 perwira (termasuk <br />
Banzer), 10 prajurit Eropa, 35 prajurit pribumi tak berpangkat serta 44 <br />
wanita dan anak-anak pribumi.<br />
<br />
Pada tanggal 25 Februari <br />
Prajurit F. Marien, Sosemito, dan SerMa J.C. Schelling terluka parah. <br />
Banzer lalu mengirim surat ke tangsi terdekat untuk meminta bantuan <br />
namun duta tersebut, prajurit Suroto dari Madura, dibunuh dan dimutilasi<br />
secara mengerikan dan mayatnya ditemukan di permukiman yang berada di <br />
depan tangsi. <br />
Pada tanggal 27 Februari Banzer memutuskan untuk <br />
menyelinap keluar benteng saat hari gelap dengan meninggalkan 3 prajurit<br />
yang terluka, atas persetujuan mereka. Di luar tangsi, para prajurit, <br />
wanita, dan anak-anak melarikan diri selama 2 hari 2 malam, dan akhirnya<br />
diselamatkan oleh barisan yang dipimpin secara pribadi oleh Andreas <br />
Victor Michiels <a href="http://minanglamo.blogspot.com/2011/05/pernahkah-dunsanak-membayangkan-bahwa.html" rel="nofollow" target="_blank"><span style="font-style: italic;"><span style="font-weight: bold;"><span style="font-size: 20pt;">(klik disini)</span></span></span></a>, yang kemudian maju ke wilayah yang bergolak itu.<br />
<br />
Untuk mereka yang terluka dan gugur itulah akhirnya Belanda mendirikan monumen ini pada tahun 1920.<br />
<a href="http://3.bp.blogspot.com/-2QxLs0eBSTE/ThvmBg_TaTI/AAAAAAAAAKM/Frea90d4D6E/s1600/batipuh.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://3.bp.blogspot.com/-2QxLs0eBSTE/ThvmBg_TaTI/AAAAAAAAAKM/Frea90d4D6E/s400/batipuh.jpg" border="0" alt="[Image: batipuh.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
Foto-foto<br />
selanjutnya adalah rekaman dari upacara peringatan terhadap peristiwa <br />
di atas yang dilakukan di bawah monumen pada tahun 1930. Ambo belum <br />
mendapatkan informasi apakah peringatan ini dilakukan setiap tahun atau <br />
karena bertepatan dengan 10 tahun berdirinya monumen tersebut.<br />
<br />
Terlihat<br />
banyak orang berkumpul di kaki monumen, yang sebagian berdatangan <br />
dengan mobil. Terlihat juga barisan serdadu dan barisan pejabat dan <br />
warga sipil. Para wanita terlihat mengenakan topi, khas Eropa tempo <br />
doeloe. Satu lagi, monumennya terlihat basah, mungkin karena Padang <br />
Panjang sering hujan. <img src="http://www.minangforum.com/images/yahoo/1.gif" /><br />
Terus, bagaimana kondisi monumen ini sekarang, bung? Sama seperti monumen kolonial lainnya. Hilang ditelan zaman.....<br />
<br />
<br />
<a href="http://4.bp.blogspot.com/-IInoWVq3v1Y/ThvmCEQOkcI/AAAAAAAAAKc/cJcPjnrvURc/s1600/batipuh-3.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://4.bp.blogspot.com/-IInoWVq3v1Y/ThvmCEQOkcI/AAAAAAAAAKc/cJcPjnrvURc/s400/batipuh-3.jpg" border="0" alt="[Image: batipuh-3.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<a href="http://2.bp.blogspot.com/-ka7HQCpnvIA/ThvmBwMZFRI/AAAAAAAAAKU/DHhlUzT0Xwo/s1600/batipuh-2.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-ka7HQCpnvIA/ThvmBwMZFRI/AAAAAAAAAKU/DHhlUzT0Xwo/s400/batipuh-2.jpg" border="0" alt="[Image: batipuh-2.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<span style="font-style: italic;"><br />
(sumber : kitlv.nl; wikipedia)<br />
<br />
disadur : <a href="http://minanglamo.blogspot.com/2011_07_01_archive.html" rel="nofollow" target="_blank">http://minanglamo.blogspot.com/2011_07_01_archive.html</a><br />
</span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://3.bp.blogspot.com/-dc_AlQHSz5o/ThvmBruzIMI/AAAAAAAAAKE/HGqYIWV1Xc0/s1600/tugu%2Bbatipuh.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://3.bp.blogspot.com/-dc_AlQHSz5o/ThvmBruzIMI/AAAAAAAAAKE/HGqYIWV1Xc0/s400/tugu%2Bbatipuh.jpg" border="0" alt="[Image: tugu%2Bbatipuh.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
Untuk<br />
memperingati gugurnya beberapa serdadu Belanda akibat pemberontakan <br />
yang meletus di Batipuh (dekat Padang Panjang) pada tanggal 24 Februari <br />
1841 , didirikanlah sebuah monumen seperti terlihat di atas. <br />
Pemberontak<br />
menyerang tangsi Belanda di Guguk Malintang yang dipimpin oleh Letnan <br />
JB. Banzer. Dalam tangsi itu sendiri terdapat 2 perwira (termasuk <br />
Banzer), 10 prajurit Eropa, 35 prajurit pribumi tak berpangkat serta 44 <br />
wanita dan anak-anak pribumi.<br />
<br />
Pada tanggal 25 Februari <br />
Prajurit F. Marien, Sosemito, dan SerMa J.C. Schelling terluka parah. <br />
Banzer lalu mengirim surat ke tangsi terdekat untuk meminta bantuan <br />
namun duta tersebut, prajurit Suroto dari Madura, dibunuh dan dimutilasi<br />
secara mengerikan dan mayatnya ditemukan di permukiman yang berada di <br />
depan tangsi. <br />
Pada tanggal 27 Februari Banzer memutuskan untuk <br />
menyelinap keluar benteng saat hari gelap dengan meninggalkan 3 prajurit<br />
yang terluka, atas persetujuan mereka. Di luar tangsi, para prajurit, <br />
wanita, dan anak-anak melarikan diri selama 2 hari 2 malam, dan akhirnya<br />
diselamatkan oleh barisan yang dipimpin secara pribadi oleh Andreas <br />
Victor Michiels <a href="http://minanglamo.blogspot.com/2011/05/pernahkah-dunsanak-membayangkan-bahwa.html" rel="nofollow" target="_blank"><span style="font-style: italic;"><span style="font-weight: bold;"><span style="font-size: 20pt;">(klik disini)</span></span></span></a>, yang kemudian maju ke wilayah yang bergolak itu.<br />
<br />
Untuk mereka yang terluka dan gugur itulah akhirnya Belanda mendirikan monumen ini pada tahun 1920.<br />
<a href="http://3.bp.blogspot.com/-2QxLs0eBSTE/ThvmBg_TaTI/AAAAAAAAAKM/Frea90d4D6E/s1600/batipuh.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://3.bp.blogspot.com/-2QxLs0eBSTE/ThvmBg_TaTI/AAAAAAAAAKM/Frea90d4D6E/s400/batipuh.jpg" border="0" alt="[Image: batipuh.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
Foto-foto<br />
selanjutnya adalah rekaman dari upacara peringatan terhadap peristiwa <br />
di atas yang dilakukan di bawah monumen pada tahun 1930. Ambo belum <br />
mendapatkan informasi apakah peringatan ini dilakukan setiap tahun atau <br />
karena bertepatan dengan 10 tahun berdirinya monumen tersebut.<br />
<br />
Terlihat<br />
banyak orang berkumpul di kaki monumen, yang sebagian berdatangan <br />
dengan mobil. Terlihat juga barisan serdadu dan barisan pejabat dan <br />
warga sipil. Para wanita terlihat mengenakan topi, khas Eropa tempo <br />
doeloe. Satu lagi, monumennya terlihat basah, mungkin karena Padang <br />
Panjang sering hujan. <img src="http://www.minangforum.com/images/yahoo/1.gif" /><br />
Terus, bagaimana kondisi monumen ini sekarang, bung? Sama seperti monumen kolonial lainnya. Hilang ditelan zaman.....<br />
<br />
<br />
<a href="http://4.bp.blogspot.com/-IInoWVq3v1Y/ThvmCEQOkcI/AAAAAAAAAKc/cJcPjnrvURc/s1600/batipuh-3.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://4.bp.blogspot.com/-IInoWVq3v1Y/ThvmCEQOkcI/AAAAAAAAAKc/cJcPjnrvURc/s400/batipuh-3.jpg" border="0" alt="[Image: batipuh-3.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<a href="http://2.bp.blogspot.com/-ka7HQCpnvIA/ThvmBwMZFRI/AAAAAAAAAKU/DHhlUzT0Xwo/s1600/batipuh-2.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-ka7HQCpnvIA/ThvmBwMZFRI/AAAAAAAAAKU/DHhlUzT0Xwo/s400/batipuh-2.jpg" border="0" alt="[Image: batipuh-2.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<span style="font-style: italic;"><br />
(sumber : kitlv.nl; wikipedia)<br />
<br />
disadur : <a href="http://minanglamo.blogspot.com/2011_07_01_archive.html" rel="nofollow" target="_blank">http://minanglamo.blogspot.com/2011_07_01_archive.html</a><br />
</span>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Mengingat Kembali Sejarah Penyerangan Pasar Bandar Buat]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Mengingat-Kembali-Sejarah-Penyerangan-Pasar-Bandar-Buat</link>
			<pubDate>Fri, 21 Sep 2012 07:57:11 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Mengingat-Kembali-Sejarah-Penyerangan-Pasar-Bandar-Buat</guid>
			<description><![CDATA[&lt;img src="http://www.padangmedia.com//foto/berita/tugu%20pasar%20bandar%20buat.jpg" align="left" width="250" /&gt;Tugu Peringatan Penyerangan Pasar Bandar Buat.  <br />
<br />
<br />
PADANG - Pada 67 tahun lalu, sekitar dua bulan setelah diproklamasikannya Republik Indonesia di Jakarta tanggal 17 Agustus 1945, pasukan sekutu yang dipimpin Mayor Anderson tiba di Emma Haven, Teluk Bayur. Mereka kemudian menduduki gedung-gedung, gudang dan barak bekas Jepang di Padang.<br />
Bersama sekutu itu, membonceng pula NICA (Nedelandsch Indie Civil Administratie), yakni pemerintahan Sipil Hindia Belanda. Tujuannya tak lain mencengkeramkan kukunya kembali setelah tiga setengah tahun lamanya hengkang dari Indonesia karena keok oleh Jepang. Waktu Jepang takluk dalam perang dunia kedua karena dibombardir sekutu, gantian Belanda tergiur lagi hendak masuk ke Indonesia.<br />
<br />
Janji Belanda kepada sekutu waktu masuk ke Sumatera dan tempat lainnya di Indonesia adalah untuk membebaskan tawanan perang , memulangkan Jepang ke negerinya dan ikut serta menjaga keamanan dan ketertiban umum hingga pemerintahan peralihan berfungsi kembali. Belanda tidak diperkenankan oleh Komando Sekutu Asia Tenggara yang disebut SEAC untuk campur tangan dalam urusan pemerintahan Republik, baik sipil maupun militer.<br />
<br />
Demikian cerita Zulwadi Datuk Bagindo Kalih, Ketua III Dewan Harian Daerah (DHD) '45 Sumatera Barat, mengutip buku Sejarah Perjuangan Kemerdekaan 1945 - 1949 di Kota Padang dan sekitarnya yang disusun Dr Mestika Zed, MA dan kawan - kawan, tahun 2002.<br />
<br />
Waktu ditemui di Gedoeng Joeang, jalan Samudera, Padang, ia menceritakan catatan-catatan sejarah perjuangan Kota Padang tempo dulu yang dirangkum dari berbagai sumber.<br />
<br />
Merinding juga bulu roma ketika diceritakan tentang perlawanan rakyat Padang hingga peristiwa Indarung dan Bandar Buat dibombardir Belanda dari udara.<br />
<br />
Sejak sekutu menyerahkan kembali Indonesia ke tangan Belanda, meskipun dengan perjanjian tidak akan turut campur dalam urusan Republik, namun kurenah Belanda yang terkenal "cerdik buruk" itu malah ingin menguasai kembali Indonesia sepenuhnya. Belanda melancarkan agresi dimana-mana di wilayah Republik. <br />
<br />
Tanggal 8 Januari 1947, pabrik semen di Indarung yang didirikan Belanda tahun 1910 dengan nama NV NIPCM (NV Nederlandsch Indische Portland Cement Maatschappij ditembaki dari udara oleh beberapa pesawat Mustang Belanda.<br />
<br />
"Masyarakat Indarung dan Padang sekitarnya waktu itu mencari perlindungan dengan membuat lubang atau lari ke perbukitan sekitar Solok dan Pesisir Selatan. Mereka terdiri dari orang tua, wanita dan anak-anak, ada yang lari ke pegunungan dan hutan-hutan," ujar pria yang lahir sekitar tahun 1940-an itu.<br />
<br />
Veteran yang masih fokus memperjuangkan idealisme kebangsaan ini seperti menerawang sejenak. Lalu, katanya, tanggal 18 Januari 1947 atau 10 hari setelah pemboman Indarung, Belanda datang kembali dengan pesawat Mustang dan melancarkan serangan udaranya di Pasar Bandar Buat.<br />
<br />
Saat itu hari Minggu, merupakan hari pasar di daerah itu. Meskipun ada versi yang mengatakan serangan itu terjadi sekitar pukul 15.00 WIB, tapi ada pula catatan Angku Darwis yang dibuat tahun 1994 mengatakan itu terjadi pada pukul 10:00 WIB.<br />
"Yang ini mungkin lebih mendekati, karena melihat faktanya yang meninggal mencapai ratusan jiwa. Pada jam itu, keadaan di pasar memang pas puncaknya keramaian orang yang datang dari berbagai penjuru sekitar Padang, Solok, Pariaman dan Pesisir Selatan," ujarnya.<br />
<br />
"Yang bersangkutan (Angku Darwis) saat diwawancarai untuk membuat sebuah buku tahun 1994 itu sedang sakit dan dalam perawatan dokter. Namun, berkenaan dengan perisitiwa itu ia masih sanggup mengingat dan menceritakan tentang perisitiwa Bandar Buat," sela Zulwadi.<br />
<br />
Ada pula Angku Munir yang menjadi saksi mata, lanjutnya Hingga sorenya, Angku Munir dan beberapa orang temannya bekerja keras mengumpulkan ratusan korban yang luka parah serta mayat - mayat yang tak tahu pasti jumlahnya.<br />
"Mungkin ratusan," Zulwadi memperkirakan.<br />
<br />
Para korban dibawa dengan pedati, alat transportasi populer masa itu. Mereka di bawa ke Lapangan Kabun, sekitar setengah kilometer dari Pasar Bandar Buat. Di tempat itu, yang luka parah segera ditangani oleh Palang Merah.<br />
<br />
Pemandangan memiriskan waktu itu sudah dapat dibayangkan. Sebagian besar korban adalah wanita dan anak-anak. Konon, saksi mata Angku Munir melihat banyak wanita meregang nyawa sambil mendekap anaknya yang masih bayi. Ada pula beberapa pedati yang ditarik sapi atau kerbau berjalan sendiri karena tukang pedatinya telah tewas. <br />
<br />
"Takut akan serangan berikutnya. Setelah mengumpulkan para jenazah ke satu tempat bersama teman-temannya, Angku Munir lari ke hutan sekitar Indarung. Benar saja, pesawat Belanda kembali meraung-raung mencari sasaran bergerak di bawahnya. Rentetan tembakan terdengar lagi mulai dari Indarung, Bandar Buat dan Lubuk Begalung," tutur Datuk Bagindo Kalih dalam nada agak emosional.<br />
<br />
Setelah beberapa hari keadaan dirasakan cukup kondusif, Angku Munir Cs tadi baru keluar dari persembunyian dan menemukan jenazah-jenazah yang tadi ditinggal sudah agak mengurai sehingga segera mereka kuburkan dalam satu lubang. Puluhan jenazah dikuburkan dalam satu lubang.<br />
<br />
"Rupanya setelah selesai menguburkan puluhan mayat masih terdapat sekitar 40 mayat lagi yang belum dikubur menurut yang diceritakan Angku Munir dan Angku Kamar dalam catatan yang dibukukan oleh Mestika Z dan kawan - kawan," ucap Zulwadi.<br />
<br />
Ya, itu baru satu peristiwa di Pasar Bundar Buat, belum lagi di Kamang, di Situjuh, dan Cupak serta beberapa tempat lainnya. Perlawanan rakyat dipatahkan Belanda dengan cara keji dan membabibuta. Anak - anak dan wanita menjadi korban.<br />
"Ini adalah kejahatan perang yang dilakukan Belanda terhadap Bangsa Indonesia," ujarnya.<br />
<br />
Mengingat sejarah itu, para korban rakyat sipil Indonesia terutama pada masa Agresi I dan Agresi II, Belanda harus meminta maaf yang diucapkan oleh Pemerintah Belanda kepada segenap Rakyat Indonesia. Perjuangan agar Belanda mau mengakui tindakan pengrusakan, perampokan, dan penindasan yang dilakukan olehnya sehingga membuat penderitaan yang amat sangat pada rakyat Indonesia. <br />
<br />
Belanda harus kembali meringankan penderitaan mereka. Tuntutan dan perjuangan itu dilakukan terus oleh sebuah yayasan yang didirikan tanggal 4 April 2007 di Belanda dengan nama Stichting Comite Nederlandse Eresculden atau Foundation Commitee of Dutch of Honour atau dalam nama Indonesia KUKB (Komite Utang Kehormatan Belanda) yang diketuai Dhr. JM Podaag.<br />
<br />
Yayasan ini melakukan pengumpulan data dan fakta seputar peristiwa dan korban yang terjadi masa agresi Belanda tersebut. Kepada ahli waris korban atau yang bisa dikenali sebagai keluarga korban berdasarkan verifikasi yayasan KUKB, maka berhak menerima santunan dari pemerintah Belanda melalui yayasan KUKB ini. Besaran nilai santunan yang disebutkan oleh Diki dari yayasan yang bertugas di DHD, jika dirupiahkan sekitar Rp150 juta. <br />
<br />
<br />
(derius/padangmedia)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[&lt;img src="http://www.padangmedia.com//foto/berita/tugu%20pasar%20bandar%20buat.jpg" align="left" width="250" /&gt;Tugu Peringatan Penyerangan Pasar Bandar Buat.  <br />
<br />
<br />
PADANG - Pada 67 tahun lalu, sekitar dua bulan setelah diproklamasikannya Republik Indonesia di Jakarta tanggal 17 Agustus 1945, pasukan sekutu yang dipimpin Mayor Anderson tiba di Emma Haven, Teluk Bayur. Mereka kemudian menduduki gedung-gedung, gudang dan barak bekas Jepang di Padang.<br />
Bersama sekutu itu, membonceng pula NICA (Nedelandsch Indie Civil Administratie), yakni pemerintahan Sipil Hindia Belanda. Tujuannya tak lain mencengkeramkan kukunya kembali setelah tiga setengah tahun lamanya hengkang dari Indonesia karena keok oleh Jepang. Waktu Jepang takluk dalam perang dunia kedua karena dibombardir sekutu, gantian Belanda tergiur lagi hendak masuk ke Indonesia.<br />
<br />
Janji Belanda kepada sekutu waktu masuk ke Sumatera dan tempat lainnya di Indonesia adalah untuk membebaskan tawanan perang , memulangkan Jepang ke negerinya dan ikut serta menjaga keamanan dan ketertiban umum hingga pemerintahan peralihan berfungsi kembali. Belanda tidak diperkenankan oleh Komando Sekutu Asia Tenggara yang disebut SEAC untuk campur tangan dalam urusan pemerintahan Republik, baik sipil maupun militer.<br />
<br />
Demikian cerita Zulwadi Datuk Bagindo Kalih, Ketua III Dewan Harian Daerah (DHD) '45 Sumatera Barat, mengutip buku Sejarah Perjuangan Kemerdekaan 1945 - 1949 di Kota Padang dan sekitarnya yang disusun Dr Mestika Zed, MA dan kawan - kawan, tahun 2002.<br />
<br />
Waktu ditemui di Gedoeng Joeang, jalan Samudera, Padang, ia menceritakan catatan-catatan sejarah perjuangan Kota Padang tempo dulu yang dirangkum dari berbagai sumber.<br />
<br />
Merinding juga bulu roma ketika diceritakan tentang perlawanan rakyat Padang hingga peristiwa Indarung dan Bandar Buat dibombardir Belanda dari udara.<br />
<br />
Sejak sekutu menyerahkan kembali Indonesia ke tangan Belanda, meskipun dengan perjanjian tidak akan turut campur dalam urusan Republik, namun kurenah Belanda yang terkenal "cerdik buruk" itu malah ingin menguasai kembali Indonesia sepenuhnya. Belanda melancarkan agresi dimana-mana di wilayah Republik. <br />
<br />
Tanggal 8 Januari 1947, pabrik semen di Indarung yang didirikan Belanda tahun 1910 dengan nama NV NIPCM (NV Nederlandsch Indische Portland Cement Maatschappij ditembaki dari udara oleh beberapa pesawat Mustang Belanda.<br />
<br />
"Masyarakat Indarung dan Padang sekitarnya waktu itu mencari perlindungan dengan membuat lubang atau lari ke perbukitan sekitar Solok dan Pesisir Selatan. Mereka terdiri dari orang tua, wanita dan anak-anak, ada yang lari ke pegunungan dan hutan-hutan," ujar pria yang lahir sekitar tahun 1940-an itu.<br />
<br />
Veteran yang masih fokus memperjuangkan idealisme kebangsaan ini seperti menerawang sejenak. Lalu, katanya, tanggal 18 Januari 1947 atau 10 hari setelah pemboman Indarung, Belanda datang kembali dengan pesawat Mustang dan melancarkan serangan udaranya di Pasar Bandar Buat.<br />
<br />
Saat itu hari Minggu, merupakan hari pasar di daerah itu. Meskipun ada versi yang mengatakan serangan itu terjadi sekitar pukul 15.00 WIB, tapi ada pula catatan Angku Darwis yang dibuat tahun 1994 mengatakan itu terjadi pada pukul 10:00 WIB.<br />
"Yang ini mungkin lebih mendekati, karena melihat faktanya yang meninggal mencapai ratusan jiwa. Pada jam itu, keadaan di pasar memang pas puncaknya keramaian orang yang datang dari berbagai penjuru sekitar Padang, Solok, Pariaman dan Pesisir Selatan," ujarnya.<br />
<br />
"Yang bersangkutan (Angku Darwis) saat diwawancarai untuk membuat sebuah buku tahun 1994 itu sedang sakit dan dalam perawatan dokter. Namun, berkenaan dengan perisitiwa itu ia masih sanggup mengingat dan menceritakan tentang perisitiwa Bandar Buat," sela Zulwadi.<br />
<br />
Ada pula Angku Munir yang menjadi saksi mata, lanjutnya Hingga sorenya, Angku Munir dan beberapa orang temannya bekerja keras mengumpulkan ratusan korban yang luka parah serta mayat - mayat yang tak tahu pasti jumlahnya.<br />
"Mungkin ratusan," Zulwadi memperkirakan.<br />
<br />
Para korban dibawa dengan pedati, alat transportasi populer masa itu. Mereka di bawa ke Lapangan Kabun, sekitar setengah kilometer dari Pasar Bandar Buat. Di tempat itu, yang luka parah segera ditangani oleh Palang Merah.<br />
<br />
Pemandangan memiriskan waktu itu sudah dapat dibayangkan. Sebagian besar korban adalah wanita dan anak-anak. Konon, saksi mata Angku Munir melihat banyak wanita meregang nyawa sambil mendekap anaknya yang masih bayi. Ada pula beberapa pedati yang ditarik sapi atau kerbau berjalan sendiri karena tukang pedatinya telah tewas. <br />
<br />
"Takut akan serangan berikutnya. Setelah mengumpulkan para jenazah ke satu tempat bersama teman-temannya, Angku Munir lari ke hutan sekitar Indarung. Benar saja, pesawat Belanda kembali meraung-raung mencari sasaran bergerak di bawahnya. Rentetan tembakan terdengar lagi mulai dari Indarung, Bandar Buat dan Lubuk Begalung," tutur Datuk Bagindo Kalih dalam nada agak emosional.<br />
<br />
Setelah beberapa hari keadaan dirasakan cukup kondusif, Angku Munir Cs tadi baru keluar dari persembunyian dan menemukan jenazah-jenazah yang tadi ditinggal sudah agak mengurai sehingga segera mereka kuburkan dalam satu lubang. Puluhan jenazah dikuburkan dalam satu lubang.<br />
<br />
"Rupanya setelah selesai menguburkan puluhan mayat masih terdapat sekitar 40 mayat lagi yang belum dikubur menurut yang diceritakan Angku Munir dan Angku Kamar dalam catatan yang dibukukan oleh Mestika Z dan kawan - kawan," ucap Zulwadi.<br />
<br />
Ya, itu baru satu peristiwa di Pasar Bundar Buat, belum lagi di Kamang, di Situjuh, dan Cupak serta beberapa tempat lainnya. Perlawanan rakyat dipatahkan Belanda dengan cara keji dan membabibuta. Anak - anak dan wanita menjadi korban.<br />
"Ini adalah kejahatan perang yang dilakukan Belanda terhadap Bangsa Indonesia," ujarnya.<br />
<br />
Mengingat sejarah itu, para korban rakyat sipil Indonesia terutama pada masa Agresi I dan Agresi II, Belanda harus meminta maaf yang diucapkan oleh Pemerintah Belanda kepada segenap Rakyat Indonesia. Perjuangan agar Belanda mau mengakui tindakan pengrusakan, perampokan, dan penindasan yang dilakukan olehnya sehingga membuat penderitaan yang amat sangat pada rakyat Indonesia. <br />
<br />
Belanda harus kembali meringankan penderitaan mereka. Tuntutan dan perjuangan itu dilakukan terus oleh sebuah yayasan yang didirikan tanggal 4 April 2007 di Belanda dengan nama Stichting Comite Nederlandse Eresculden atau Foundation Commitee of Dutch of Honour atau dalam nama Indonesia KUKB (Komite Utang Kehormatan Belanda) yang diketuai Dhr. JM Podaag.<br />
<br />
Yayasan ini melakukan pengumpulan data dan fakta seputar peristiwa dan korban yang terjadi masa agresi Belanda tersebut. Kepada ahli waris korban atau yang bisa dikenali sebagai keluarga korban berdasarkan verifikasi yayasan KUKB, maka berhak menerima santunan dari pemerintah Belanda melalui yayasan KUKB ini. Besaran nilai santunan yang disebutkan oleh Diki dari yayasan yang bertugas di DHD, jika dirupiahkan sekitar Rp150 juta. <br />
<br />
<br />
(derius/padangmedia)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Rusli Amran, Penyelamat Sejarah Ranah Minang (1922-1996)]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Rusli-Amran-Penyelamat-Sejarah-Ranah-Minang-1922-1996</link>
			<pubDate>Thu, 13 Sep 2012 22:20:50 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Rusli-Amran-Penyelamat-Sejarah-Ranah-Minang-1922-1996</guid>
			<description><![CDATA[<div align="justify">
<a href="http://4.bp.blogspot.com/-eb41dWNAX7U/T0pED0o0ElI/AAAAAAAAARA/oIXm4LMkg0E/s1600/rusli+amran.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://4.bp.blogspot.com/-eb41dWNAX7U/T0pED0o0ElI/AAAAAAAAARA/oIXm4LMkg0E/s1600/rusli+amran.jpg" border="0" alt="[Image: rusli+amran.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a>Jika<br />
kita membaca sebuah tulisan tentang sejarah Ranah Minang, terutama pada<br />
jaman kolonial, maka tidak bisa tidak tulisan itu kalau dirunut <br />
sumbernya hampir pasti akan sampai ke salah satu karya pak Rusli Amran. <br />
Tak peduli apakah tulisan itu ditulis oleh seorang profesor ataukah oleh<br />
seorang <span style="font-style: italic;">rakyat badarai</span>. Begitu hebatnya pengaruh sosok ini dalam sejarah per-Minang-an.</div>
<br />
<div align="justify">
Namun demikian, tidak banyak yang mengetahui siapa sebenarnya Rusli <br />
Amran. Sebagian orang menganggapnya sejarawan, tapi sebenarnya dia <br />
bukanlah "orang sejarah".</div>
<br />
<div align="justify">
Berawal dari sebuah buku "ajaib" nan kontroversial terbitan tahun 1963 (sekarang sudah dicetak ulang) berjudul “<span style="font-style: italic;">Tuanku Rao: Teror Agama Islam Hambali di Tanah<br />
Batak (1816-1833)</span>” karya Mangaradja Onggang<br />
Parlindungan yang menulis:</div>
<br />
<div align="justify">
<span style="font-style: italic;">“Brothers from Minang sangat parah handicapped, karena<br />
kepertjajaan mereka akan mythos2 tanpa angka2 tahunan. Mythos Iskandar<br />
Zulkarnain Dynasty, Mythos Menang Kerbau, Mythos Bundo Kanduang, Tambo<br />
Minangkabau, dlsb., semuanya 100% ditelan oleh Brothers from Minang. Tanpa<br />
mereka sanggup selecting-out 2% facta2 sejarah dan kicking-out 98% mythologic<br />
ornamentations dari mythos2 itu. Tanpa mereka sedikit pun usaha, mentjarikan<br />
angka2 tahunan untuk menghentikan big confusions” (679)</span>."</div>
<br />
<div align="justify">
Dengan segala gaya penulisannya yang unik dan sedikit aneh (menurut saya<br />
malah itu yang membuat buku ini menarik, terlepas dari kebenaran <br />
isinya), harus diakui bahwa yang ditulis M.O. Parlindungan itu <br />
mengandung kebenaran. Kekurangan orang Minang yang selama ini tidak<br />
berorientasi ke belakang, tidak acuh dengan sejarah lamanya, dan tidak <br />
pula<br />
memiliki aksara sendiri, telah menyebabkan bukan saja sejarah yang <br />
dulu-dulu<br />
tertimbun oleh masa, sejarah yang kemarin saja pun sudah kabur. Coba <br />
saja, keluarga Minang mana yang punya ranji lengkap sampai ke nama nenek<br />
moyangnya? Barangkali cuma sampai kakek atau ayah dari kakek.</div>
<br />
<div align="justify">
<span style="font-style: italic;">Brothers from Minang</span> pun bereaksi atas buku tersebut. Dimulai pada 1970, terbit buku "<span style="font-style: italic;">Sedjarah Minangkabau</span>"<br />
yang diusahakan oleh M.D. Mansoer (et al), dalam rangka menyongsong <br />
Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau yang diadakan di Batusangkar.<br />
Buku ini memuat tanggal-tanggal dan data-data referensi yang otentik, <br />
serta mitos dan sejarah politik Sumatera Barat. Uniknya, buku tersebut <br />
juga berisi ucapan selamat dari Parlindungan sendiri sebagai kata <br />
pengantarnya. Selanjutnya tahun 1974 HAMKA menantang langsung buku <br />
Parlindungan dengan menerbitkan buku berjudul "<span style="font-style: italic;">Tuanku Rao: Antara Khayal dan Fakta</span>".</div>
<br />
<div align="justify">
<a href="http://1.bp.blogspot.com/-gWJdfEQxl7g/T0pD7IfVd_I/AAAAAAAAAQo/42z5f5ULnNE/s1600/hingga+plakat+panjang+1981.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://1.bp.blogspot.com/-gWJdfEQxl7g/T0pD7IfVd_I/AAAAAAAAAQo/42z5f5ULnNE/s200/hingga+plakat+panjang+1981.jpg" border="0" alt="[Image: hingga+plakat+panjang+1981.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a>Tapi dari semuanya tak ada yang melebihi sebuah buku karya pertama dari seseorang yang bernama Rusli Amran berjudul "<span style="font-style: italic;">Sumatera Barat hingga Plakat Panjang</span>"<br />
yang diterbitkan oleh Sinar Harapan pada tahun 1981. Buku ini <br />
merupakan hasil Rusli Amran menghabiskan banyak waktu antara tahun <br />
1970-1980 untuk<br />
menggali data dan nara sumber di Belanda dan Indonesia, dengan <br />
memfokuskan<br />
perhatian pada laporan dan penelitian yang tersedia pada Jurnal Kolonial<br />
Belanda pada abad ke 19. Buku ini merupakan sejarah lengkap termasuk <br />
juga<br />
laporan arkeologis pada abad ke 13. Rusli Amran menitikberatkan<br />
pada interaksi Minangkabau dengan Inggris dan Belanda, sampai pada <br />
perang Padri<br />
dan Plakat Panjang yang merupakan awal dari pendudukan Belanda di <br />
Sumatera<br />
Barat. Buku ini ditulis dengan sangat cermat dalam melakukan penelitian <br />
akan<br />
tetapi dengan gaya penulisannya yang tidak formal. Contohnya bab tentang<br />
masuknya bangsa Eropa diberi judul " Masuknya si Bule". Karenanya tidak <br />
heran jika buku dengan hampir 700 halaman lengkap dengan referensi <br />
sumber, reproduksi dari<br />
arsip dan dokumen yang terkait beserta sumber asli ini, di kemudian hari<br />
menjadi referensi utama para penulis sejarah Ranah Minang.</div>
<br />
<div align="justify">
Kembali ke pertanyaan awal: Siapa Rusli Amran?</div>
<br />
<div align="justify">
Rusli Amran bukanlah seorang yang berlatar belakang pendidikan sejarah. <br />
Ia adalah seorang pensiunan diplomat dan wartawan. Lahir di Padang tahun<br />
1922 dan sempat mengenyam<br />
sistem pendidikan Belanda, Jepang dan Indonesia. Setamat AMS Sastra <br />
Barat di Jogjakarta sebelum Perang Dunia II, ia melanjutkan ke perguruan<br />
tinggi di Jakarta, Amsterdam dan terakhir di Praha. Selama masa <br />
revolusi pemuda Rusli<br />
Amran bersama Sidi Muhammad Sjaaf dan Suraedi Tahsin menerbitkan surat <br />
kabar Berita Indonesia pada 6 September 1945 dan merupakan koran pertama<br />
setelah Indonesia merdeka. Pada awal tahun 1950<br />
ia bergabung dalam birokrasi pemerintah, pertama pada Departemen <br />
Pertahanan dan<br />
kemudian Departemen Keuangan hingga akhirnya pada Departemen Luar <br />
Negeri.<br />
Selama puluhan tahun Rusli Amran mewakili Republik Indonesia di Moskow <br />
dan<br />
Paris.<br />
Ketika Rusli Amran pensiun ditahun 1972, ia mendedikasikan dirinya pada <br />
proyek<br />
sejarah berskala besar yaitu menulis sejarah Sumatera Barat dalam bentuk<br />
yang<br />
bisa dimengerti dan dijangkau oleh para pelajar Indonesia.</div>
<br />
<div align="justify">
Rusli Amran menghasilkan lima buah buku. Dengan kehadiran buku-buku ini makin tersibaklah awan gelap yang<br />
menyelubungi sejarah Sumatera Barat.<br />
Dalam kaitan ini, makin terasa betapa upaya yang dilakukan Rusli selama<br />
bertahun-tahun, dan dengan semangat akademis yang tinggi, menjalin kembali<br />
untaian sejarah yang telah lepas-lepas itu, patut kita hargai. Terlebih lagi,<br />
buku-bukunya tidaklah ditulis dengan bahasa yang kering dan membosankan, tapi<br />
sebaliknya, bahkan kocak. Memang, sebagaimana dimaksudkan Rusli, seri buku ini<br />
tidak dimaksudkan sebagai buku teks dalam artian yang konvensional, tapi sebuah<br />
buku sejarah yang ditulis secara populer, dengan gaya bercerita, agar dapat<br />
dibaca kalangan luas, terutama oleh generasi muda. Latar belakang Rusli sebagai<br />
"orang lama", yang menguasai betul bahasa sumber (bahasa Belanda),<br />
sangat membantu. Selain itu, ketajaman pena Rusli, pendiri dan<br />
pemimpin harian Berita Indonesia, sebagai wartawan di awal Kemerdekaan,<br />
ditambah lagi dengan kejelian matanya sebagai diplomat dalam melihat sesuatu di<br />
balik yang tersirat, sehingga ia bukan saja berusaha membeberkan cerita sejarah<br />
dengan cara yang hidup dan mengasyikkan, tapi sekaligus juga memberi arti<br />
plot-plot sejarah itu secara berkesinambungan. Cara Rusli melihat<br />
peristiwa-peristiwa sejarah itu adalah dengan kaca mata bangsa sendiri, walau<br />
bahan yang dipakai hampir seluruhnya diramu dari sumber-sumber Belanda.</div>
<br />
<div align="justify">
<a href="http://2.bp.blogspot.com/-2se1ttrlLEQ/T0pEBkGKleI/AAAAAAAAAQ4/o21fGIruyRc/s1600/plakat+panjang+1985.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-2se1ttrlLEQ/T0pEBkGKleI/AAAAAAAAAQ4/o21fGIruyRc/s200/plakat+panjang+1985.jpg" border="0" alt="[Image: plakat+panjang+1985.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a>Buku keduanya adalah "<span style="font-style: italic;">Sumatera Barat Plakat Panjang</span>"<br />
adalah buku lanjutan dari buku yang pertama yang disertai juga dengan <br />
terjemahan dari sumber-sumber Belanda yang diambil dari jurnal Belanda <br />
dan muncul dalam apendik. Kedua buku ini membuat sumber-sumber dalam <br />
bahasa Belanda yang secara bahasa dan tempat sulit terjangkau menjadi <br />
mudah terjangkau bagi para pelajar Indonesia yang berminat mempelajari <br />
Sejarah Sumatera Barat.</div>
<br />
<div align="justify">
<a href="http://3.bp.blogspot.com/-PR9z3De0bzg/T0pD-LcNX9I/AAAAAAAAAQw/3D7VSvz09Nk/s1600/pdg+riwayatmu+dulu+1988.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://3.bp.blogspot.com/-PR9z3De0bzg/T0pD-LcNX9I/AAAAAAAAAQw/3D7VSvz09Nk/s200/pdg+riwayatmu+dulu+1988.jpg" border="0" alt="[Image: pdg+riwayatmu+dulu+1988.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a>Buku ketiga dari Rusli Amran adalah "<span style="font-style: italic;">Sumatera Barat: Pemberontakan Anti Pajak tahun 1908</span>"<br />
yang menjelaskan mengenai sistem tanam paksa kopi, eksploitasi kolonial<br />
pada abad ke 19 dengan penelaahan mengenai reaksi atas pajak. </div>
<br />
<div align="justify">
Buku ke empat "Padang Riwayatmu Dulu" didedikasikan pada kota <br />
kelahirannya Padang yang ditulis masih dengan gaya informal dan berisi <br />
campuran antara arsip-arsip dan kejadian-kejadian yang bersifat pribadi <br />
pada komunitas Eropa dan Jawa. Rusli Amran juga memasukan <br />
koleksi-koleksi foto reproduksi yang mengesankan .<br />
<br />
</div>
<div align="justify">
<a href="http://1.bp.blogspot.com/-5-xKGFZ0tUE/T0pD3bLMmqI/AAAAAAAAAQg/Zzpuf5lR8pU/s1600/cerita+lama.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://1.bp.blogspot.com/-5-xKGFZ0tUE/T0pD3bLMmqI/AAAAAAAAAQg/Zzpuf5lR8pU/s200/cerita+lama.jpg" border="0" alt="[Image: cerita+lama.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a></div>
<div align="justify">
Buku terakhir dari Rusli Amran diterbitkan setelah beliau wafat pada tahun 1996 dalam bentuk kumpulan esai yang berjudul "<span style="font-style: italic;">Cerita Lama dalam Lembaran Sejarah</span>".<br />
Kumpulan esai ini merupakan penemuan yang menakjubkan pada tokoh-tokoh <br />
dan momen yang tidak biasa di Sumatera Barat yang menyenangkan untuk <br />
dibaca santai.</div>
<br />
<div align="justify">
Istri beliau selanjutnya mendirikan Yayasan Rusli Amran di Jakarta <br />
sebagai tempat belajar dan pusat dokumentasi koleksi dan arsip beliau.</div>
<br />
<div align="justify">
Namun menurut Jeffrey Hadler, Profesor di <span style="font-style: italic;">Departmen of South and South East Asian Studies University of California Berkeley</span>,<br />
yang lebih penting dari tulisan Rusli Amran adalah kebaikan hati beliau<br />
selama melakukan penelitian terhadap arsip-arsip tersebut dimana beliau<br />
menggandakan setiap artikel dan manuskrip yang ada mengenai Sumatera <br />
Barat yang sangat banyak jumlahnya. Rusli Amran menggandakan <br />
dokumen-dokumen tersebut dan menyimpannya dalam tiga lokasi yang berbeda<br />
di Sumatera Barat yaitu: Perpustakaan Bagian Literatur Universitas <br />
Andalas di Limau Manis, Ruang Baca Gedung Abdullah Kamil di Padang dan <br />
Pusat Dokumentasi dan Inventori Budaya Minangkabau di Padang Panjang. <br />
Melalui usaha Rusli Amran ini pelajar yang berminat pada sejarah <br />
Sumatera Barat dapat menjangkau buku yang menyediakan gambaran yang <br />
jelasi dan tanpa pretensi mengenai masa kolonial. Terlebih lagi mereka <br />
dapat menjangkau sumber yang asli tanpa harus pergi ke Belanda maupun <br />
Jakarta.</div>
<br />
<div align="justify">
Untuk yang terakhir ini <span style="font-style: italic;">iyo ambo</span> terperangah. Ternyata semua <br />
dokumen itu ada di Sumatera Barat dalam bentuk fotocopian! Tidak begitu <br />
jelas apakah dokumen-dokumen itu sudah dirubah ke format digital apa <br />
tidak pada saat ini. Karena secara lazimnya, dokumen fotocopian tidak <br />
akan bertahan lama. Kalau belum, sudah saatnya para sejarawan -terutama <br />
dari Unand karena punya akses langsung- mengambil tindakan cepat untuk <br />
menyelamatkan dokumen-dokumen berharga tersebut dengan cara <br />
mendigitalisasinya.</div>
<br />
<div align="justify">
Selanjutnya kita berharap ada penerbit yang bersedia menerbitkan kembali<br />
buku-buku karya Rusli Amran ini. Membaca buku-buku Rusli Amran dapat <br />
menimbulkan kebanggaan tersendiri terhadap identitas ke-Minang-an kita. <br />
Anda penerbit, tidak usah takut bukunya ndak laku. Paling tidak para <br />
peminat sejarah yang menjadi pembaca blog ini akan antri membeli buku <br />
anda. <span style="font-style: italic;">Ambo</span> langsung pre-order kelimanya...hehehe...</div>
<br />
<span style="font-style: italic;"><span style="font-size: x-small;">(Sumber: goodreads.com, kyotoreview.cseas.kyoto-u.ac.jp, tempointeraktif.com)</span></span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">
<a href="http://4.bp.blogspot.com/-eb41dWNAX7U/T0pED0o0ElI/AAAAAAAAARA/oIXm4LMkg0E/s1600/rusli+amran.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://4.bp.blogspot.com/-eb41dWNAX7U/T0pED0o0ElI/AAAAAAAAARA/oIXm4LMkg0E/s1600/rusli+amran.jpg" border="0" alt="[Image: rusli+amran.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a>Jika<br />
kita membaca sebuah tulisan tentang sejarah Ranah Minang, terutama pada<br />
jaman kolonial, maka tidak bisa tidak tulisan itu kalau dirunut <br />
sumbernya hampir pasti akan sampai ke salah satu karya pak Rusli Amran. <br />
Tak peduli apakah tulisan itu ditulis oleh seorang profesor ataukah oleh<br />
seorang <span style="font-style: italic;">rakyat badarai</span>. Begitu hebatnya pengaruh sosok ini dalam sejarah per-Minang-an.</div>
<br />
<div align="justify">
Namun demikian, tidak banyak yang mengetahui siapa sebenarnya Rusli <br />
Amran. Sebagian orang menganggapnya sejarawan, tapi sebenarnya dia <br />
bukanlah "orang sejarah".</div>
<br />
<div align="justify">
Berawal dari sebuah buku "ajaib" nan kontroversial terbitan tahun 1963 (sekarang sudah dicetak ulang) berjudul “<span style="font-style: italic;">Tuanku Rao: Teror Agama Islam Hambali di Tanah<br />
Batak (1816-1833)</span>” karya Mangaradja Onggang<br />
Parlindungan yang menulis:</div>
<br />
<div align="justify">
<span style="font-style: italic;">“Brothers from Minang sangat parah handicapped, karena<br />
kepertjajaan mereka akan mythos2 tanpa angka2 tahunan. Mythos Iskandar<br />
Zulkarnain Dynasty, Mythos Menang Kerbau, Mythos Bundo Kanduang, Tambo<br />
Minangkabau, dlsb., semuanya 100% ditelan oleh Brothers from Minang. Tanpa<br />
mereka sanggup selecting-out 2% facta2 sejarah dan kicking-out 98% mythologic<br />
ornamentations dari mythos2 itu. Tanpa mereka sedikit pun usaha, mentjarikan<br />
angka2 tahunan untuk menghentikan big confusions” (679)</span>."</div>
<br />
<div align="justify">
Dengan segala gaya penulisannya yang unik dan sedikit aneh (menurut saya<br />
malah itu yang membuat buku ini menarik, terlepas dari kebenaran <br />
isinya), harus diakui bahwa yang ditulis M.O. Parlindungan itu <br />
mengandung kebenaran. Kekurangan orang Minang yang selama ini tidak<br />
berorientasi ke belakang, tidak acuh dengan sejarah lamanya, dan tidak <br />
pula<br />
memiliki aksara sendiri, telah menyebabkan bukan saja sejarah yang <br />
dulu-dulu<br />
tertimbun oleh masa, sejarah yang kemarin saja pun sudah kabur. Coba <br />
saja, keluarga Minang mana yang punya ranji lengkap sampai ke nama nenek<br />
moyangnya? Barangkali cuma sampai kakek atau ayah dari kakek.</div>
<br />
<div align="justify">
<span style="font-style: italic;">Brothers from Minang</span> pun bereaksi atas buku tersebut. Dimulai pada 1970, terbit buku "<span style="font-style: italic;">Sedjarah Minangkabau</span>"<br />
yang diusahakan oleh M.D. Mansoer (et al), dalam rangka menyongsong <br />
Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau yang diadakan di Batusangkar.<br />
Buku ini memuat tanggal-tanggal dan data-data referensi yang otentik, <br />
serta mitos dan sejarah politik Sumatera Barat. Uniknya, buku tersebut <br />
juga berisi ucapan selamat dari Parlindungan sendiri sebagai kata <br />
pengantarnya. Selanjutnya tahun 1974 HAMKA menantang langsung buku <br />
Parlindungan dengan menerbitkan buku berjudul "<span style="font-style: italic;">Tuanku Rao: Antara Khayal dan Fakta</span>".</div>
<br />
<div align="justify">
<a href="http://1.bp.blogspot.com/-gWJdfEQxl7g/T0pD7IfVd_I/AAAAAAAAAQo/42z5f5ULnNE/s1600/hingga+plakat+panjang+1981.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://1.bp.blogspot.com/-gWJdfEQxl7g/T0pD7IfVd_I/AAAAAAAAAQo/42z5f5ULnNE/s200/hingga+plakat+panjang+1981.jpg" border="0" alt="[Image: hingga+plakat+panjang+1981.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a>Tapi dari semuanya tak ada yang melebihi sebuah buku karya pertama dari seseorang yang bernama Rusli Amran berjudul "<span style="font-style: italic;">Sumatera Barat hingga Plakat Panjang</span>"<br />
yang diterbitkan oleh Sinar Harapan pada tahun 1981. Buku ini <br />
merupakan hasil Rusli Amran menghabiskan banyak waktu antara tahun <br />
1970-1980 untuk<br />
menggali data dan nara sumber di Belanda dan Indonesia, dengan <br />
memfokuskan<br />
perhatian pada laporan dan penelitian yang tersedia pada Jurnal Kolonial<br />
Belanda pada abad ke 19. Buku ini merupakan sejarah lengkap termasuk <br />
juga<br />
laporan arkeologis pada abad ke 13. Rusli Amran menitikberatkan<br />
pada interaksi Minangkabau dengan Inggris dan Belanda, sampai pada <br />
perang Padri<br />
dan Plakat Panjang yang merupakan awal dari pendudukan Belanda di <br />
Sumatera<br />
Barat. Buku ini ditulis dengan sangat cermat dalam melakukan penelitian <br />
akan<br />
tetapi dengan gaya penulisannya yang tidak formal. Contohnya bab tentang<br />
masuknya bangsa Eropa diberi judul " Masuknya si Bule". Karenanya tidak <br />
heran jika buku dengan hampir 700 halaman lengkap dengan referensi <br />
sumber, reproduksi dari<br />
arsip dan dokumen yang terkait beserta sumber asli ini, di kemudian hari<br />
menjadi referensi utama para penulis sejarah Ranah Minang.</div>
<br />
<div align="justify">
Kembali ke pertanyaan awal: Siapa Rusli Amran?</div>
<br />
<div align="justify">
Rusli Amran bukanlah seorang yang berlatar belakang pendidikan sejarah. <br />
Ia adalah seorang pensiunan diplomat dan wartawan. Lahir di Padang tahun<br />
1922 dan sempat mengenyam<br />
sistem pendidikan Belanda, Jepang dan Indonesia. Setamat AMS Sastra <br />
Barat di Jogjakarta sebelum Perang Dunia II, ia melanjutkan ke perguruan<br />
tinggi di Jakarta, Amsterdam dan terakhir di Praha. Selama masa <br />
revolusi pemuda Rusli<br />
Amran bersama Sidi Muhammad Sjaaf dan Suraedi Tahsin menerbitkan surat <br />
kabar Berita Indonesia pada 6 September 1945 dan merupakan koran pertama<br />
setelah Indonesia merdeka. Pada awal tahun 1950<br />
ia bergabung dalam birokrasi pemerintah, pertama pada Departemen <br />
Pertahanan dan<br />
kemudian Departemen Keuangan hingga akhirnya pada Departemen Luar <br />
Negeri.<br />
Selama puluhan tahun Rusli Amran mewakili Republik Indonesia di Moskow <br />
dan<br />
Paris.<br />
Ketika Rusli Amran pensiun ditahun 1972, ia mendedikasikan dirinya pada <br />
proyek<br />
sejarah berskala besar yaitu menulis sejarah Sumatera Barat dalam bentuk<br />
yang<br />
bisa dimengerti dan dijangkau oleh para pelajar Indonesia.</div>
<br />
<div align="justify">
Rusli Amran menghasilkan lima buah buku. Dengan kehadiran buku-buku ini makin tersibaklah awan gelap yang<br />
menyelubungi sejarah Sumatera Barat.<br />
Dalam kaitan ini, makin terasa betapa upaya yang dilakukan Rusli selama<br />
bertahun-tahun, dan dengan semangat akademis yang tinggi, menjalin kembali<br />
untaian sejarah yang telah lepas-lepas itu, patut kita hargai. Terlebih lagi,<br />
buku-bukunya tidaklah ditulis dengan bahasa yang kering dan membosankan, tapi<br />
sebaliknya, bahkan kocak. Memang, sebagaimana dimaksudkan Rusli, seri buku ini<br />
tidak dimaksudkan sebagai buku teks dalam artian yang konvensional, tapi sebuah<br />
buku sejarah yang ditulis secara populer, dengan gaya bercerita, agar dapat<br />
dibaca kalangan luas, terutama oleh generasi muda. Latar belakang Rusli sebagai<br />
"orang lama", yang menguasai betul bahasa sumber (bahasa Belanda),<br />
sangat membantu. Selain itu, ketajaman pena Rusli, pendiri dan<br />
pemimpin harian Berita Indonesia, sebagai wartawan di awal Kemerdekaan,<br />
ditambah lagi dengan kejelian matanya sebagai diplomat dalam melihat sesuatu di<br />
balik yang tersirat, sehingga ia bukan saja berusaha membeberkan cerita sejarah<br />
dengan cara yang hidup dan mengasyikkan, tapi sekaligus juga memberi arti<br />
plot-plot sejarah itu secara berkesinambungan. Cara Rusli melihat<br />
peristiwa-peristiwa sejarah itu adalah dengan kaca mata bangsa sendiri, walau<br />
bahan yang dipakai hampir seluruhnya diramu dari sumber-sumber Belanda.</div>
<br />
<div align="justify">
<a href="http://2.bp.blogspot.com/-2se1ttrlLEQ/T0pEBkGKleI/AAAAAAAAAQ4/o21fGIruyRc/s1600/plakat+panjang+1985.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-2se1ttrlLEQ/T0pEBkGKleI/AAAAAAAAAQ4/o21fGIruyRc/s200/plakat+panjang+1985.jpg" border="0" alt="[Image: plakat+panjang+1985.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a>Buku keduanya adalah "<span style="font-style: italic;">Sumatera Barat Plakat Panjang</span>"<br />
adalah buku lanjutan dari buku yang pertama yang disertai juga dengan <br />
terjemahan dari sumber-sumber Belanda yang diambil dari jurnal Belanda <br />
dan muncul dalam apendik. Kedua buku ini membuat sumber-sumber dalam <br />
bahasa Belanda yang secara bahasa dan tempat sulit terjangkau menjadi <br />
mudah terjangkau bagi para pelajar Indonesia yang berminat mempelajari <br />
Sejarah Sumatera Barat.</div>
<br />
<div align="justify">
<a href="http://3.bp.blogspot.com/-PR9z3De0bzg/T0pD-LcNX9I/AAAAAAAAAQw/3D7VSvz09Nk/s1600/pdg+riwayatmu+dulu+1988.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://3.bp.blogspot.com/-PR9z3De0bzg/T0pD-LcNX9I/AAAAAAAAAQw/3D7VSvz09Nk/s200/pdg+riwayatmu+dulu+1988.jpg" border="0" alt="[Image: pdg+riwayatmu+dulu+1988.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a>Buku ketiga dari Rusli Amran adalah "<span style="font-style: italic;">Sumatera Barat: Pemberontakan Anti Pajak tahun 1908</span>"<br />
yang menjelaskan mengenai sistem tanam paksa kopi, eksploitasi kolonial<br />
pada abad ke 19 dengan penelaahan mengenai reaksi atas pajak. </div>
<br />
<div align="justify">
Buku ke empat "Padang Riwayatmu Dulu" didedikasikan pada kota <br />
kelahirannya Padang yang ditulis masih dengan gaya informal dan berisi <br />
campuran antara arsip-arsip dan kejadian-kejadian yang bersifat pribadi <br />
pada komunitas Eropa dan Jawa. Rusli Amran juga memasukan <br />
koleksi-koleksi foto reproduksi yang mengesankan .<br />
<br />
</div>
<div align="justify">
<a href="http://1.bp.blogspot.com/-5-xKGFZ0tUE/T0pD3bLMmqI/AAAAAAAAAQg/Zzpuf5lR8pU/s1600/cerita+lama.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://1.bp.blogspot.com/-5-xKGFZ0tUE/T0pD3bLMmqI/AAAAAAAAAQg/Zzpuf5lR8pU/s200/cerita+lama.jpg" border="0" alt="[Image: cerita+lama.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a></div>
<div align="justify">
Buku terakhir dari Rusli Amran diterbitkan setelah beliau wafat pada tahun 1996 dalam bentuk kumpulan esai yang berjudul "<span style="font-style: italic;">Cerita Lama dalam Lembaran Sejarah</span>".<br />
Kumpulan esai ini merupakan penemuan yang menakjubkan pada tokoh-tokoh <br />
dan momen yang tidak biasa di Sumatera Barat yang menyenangkan untuk <br />
dibaca santai.</div>
<br />
<div align="justify">
Istri beliau selanjutnya mendirikan Yayasan Rusli Amran di Jakarta <br />
sebagai tempat belajar dan pusat dokumentasi koleksi dan arsip beliau.</div>
<br />
<div align="justify">
Namun menurut Jeffrey Hadler, Profesor di <span style="font-style: italic;">Departmen of South and South East Asian Studies University of California Berkeley</span>,<br />
yang lebih penting dari tulisan Rusli Amran adalah kebaikan hati beliau<br />
selama melakukan penelitian terhadap arsip-arsip tersebut dimana beliau<br />
menggandakan setiap artikel dan manuskrip yang ada mengenai Sumatera <br />
Barat yang sangat banyak jumlahnya. Rusli Amran menggandakan <br />
dokumen-dokumen tersebut dan menyimpannya dalam tiga lokasi yang berbeda<br />
di Sumatera Barat yaitu: Perpustakaan Bagian Literatur Universitas <br />
Andalas di Limau Manis, Ruang Baca Gedung Abdullah Kamil di Padang dan <br />
Pusat Dokumentasi dan Inventori Budaya Minangkabau di Padang Panjang. <br />
Melalui usaha Rusli Amran ini pelajar yang berminat pada sejarah <br />
Sumatera Barat dapat menjangkau buku yang menyediakan gambaran yang <br />
jelasi dan tanpa pretensi mengenai masa kolonial. Terlebih lagi mereka <br />
dapat menjangkau sumber yang asli tanpa harus pergi ke Belanda maupun <br />
Jakarta.</div>
<br />
<div align="justify">
Untuk yang terakhir ini <span style="font-style: italic;">iyo ambo</span> terperangah. Ternyata semua <br />
dokumen itu ada di Sumatera Barat dalam bentuk fotocopian! Tidak begitu <br />
jelas apakah dokumen-dokumen itu sudah dirubah ke format digital apa <br />
tidak pada saat ini. Karena secara lazimnya, dokumen fotocopian tidak <br />
akan bertahan lama. Kalau belum, sudah saatnya para sejarawan -terutama <br />
dari Unand karena punya akses langsung- mengambil tindakan cepat untuk <br />
menyelamatkan dokumen-dokumen berharga tersebut dengan cara <br />
mendigitalisasinya.</div>
<br />
<div align="justify">
Selanjutnya kita berharap ada penerbit yang bersedia menerbitkan kembali<br />
buku-buku karya Rusli Amran ini. Membaca buku-buku Rusli Amran dapat <br />
menimbulkan kebanggaan tersendiri terhadap identitas ke-Minang-an kita. <br />
Anda penerbit, tidak usah takut bukunya ndak laku. Paling tidak para <br />
peminat sejarah yang menjadi pembaca blog ini akan antri membeli buku <br />
anda. <span style="font-style: italic;">Ambo</span> langsung pre-order kelimanya...hehehe...</div>
<br />
<span style="font-style: italic;"><span style="font-size: x-small;">(Sumber: goodreads.com, kyotoreview.cseas.kyoto-u.ac.jp, tempointeraktif.com)</span></span>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Anai Mengamuk (1892)]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Anai-Mengamuk-1892</link>
			<pubDate>Wed, 12 Sep 2012 07:47:52 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Anai-Mengamuk-1892</guid>
			<description><![CDATA[Dunsanak semua,<br />
Karena jadwal yang padat maka minggu ini <br />
kegiatan penterjemahan buku Van Batavia Naar Atjeh terpaksa tertunda <br />
dulu. Namun untuk menggantinya, ambo akan menampilkan sesuatu yang tidak<br />
kalah menariknya. <br />
Sebagaimana dimuat dalam buku tersebut <br />
diceritakan bahwa setahun setelah dibuka, rel dan jembatan kereta api <br />
yang berada di kawasan lembah Anai rusak dihantam banjir. Foto-fotonya <br />
dikatakan begitu "menakutkan bagi tiap insinyur Eropa" (untuk membacanya<br />
<span style="font-weight: bold;"><span style="font-style: italic;"><span style="color: #ff0000;"><span style="font-size: 20pt;"><a href="http://minanglamo.blogspot.com/2011/05/van-batavia-naar-atjeh-1904-bagian-i.html" rel="nofollow" target="_blank">klik disini</a></span></span></span></span>). Namun disebutkan juga bahwa perbaikan segera dilakukan dengan biaya 600 ribu gulden.<br />
Nah,<br />
ambo coba membongkar arsip Tropen Museum dan menemukan foto-foto ini, <br />
yang merupakan foto kerusakan akibat banjir tersebut, dan bertanggal <br />
tahun 1892. Silakan dinilai, semenakutkan apa kejadian itu. Bahkan <br />
banjir besar di lokasi yang sama tahun lalu mungkin tidaklah sedahsyat <br />
ini, karena tidak sampai menghanyutkan jembatan Kereta Api.<br />
<br />
<a href="http://1.bp.blogspot.com/-wtg_lYEbQtA/Te0EILDhs_I/AAAAAAAAAIM/dh4Vg4QENRU/s1600/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Riviergezicht_met_ijzeren_spoorbrug_in_aanbouw_ter_vervan&#8203;ging_van_een_noodbrug_Anai-kloof_Batoe_Bedoekoeng_TMnr_60027377.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://1.bp.blogspot.com/-wtg_lYEbQtA/Te0EILDhs_I/AAAAAAAAAIM/dh4Vg4QENRU/s400/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Riviergezicht_met_ijzeren_spoorbrug_in_aanbouw_ter_vervan&#8203;ging_van_een_noodbrug_Anai-kloof_Batoe_Bedoekoeng_TMnr_60027377.jpg" border="0" alt="[Image: COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Riviergezicht_met...027377.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<div align="center">(Gambar : Jalan Kereta Api terputus akibat tertimbun tanah longsor)</div><a href="http://2.bp.blogspot.com/-1LutBMin8XA/Te0EHgxcQ0I/AAAAAAAAAIE/wvAbYrBXnFw/s1600/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_IJzeren_spoorbruggen_na_een_verwoestende_rivieroverstromi&#8203;ng_%2528banjir%2529_Anai-kloof_TMnr_60054632.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-1LutBMin8XA/Te0EHgxcQ0I/AAAAAAAAAIE/wvAbYrBXnFw/s400/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_IJzeren_spoorbruggen_na_een_verwoestende_rivieroverstromi&#8203;ng_%2528banjir%2529_Anai-kloof_TMnr_60054632.jpg" border="0" alt="[Image: COLLECTIE_TROPENMUSEUM_IJzeren_spoorbrug...054632.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<div align="center">(Gambar : Jembatan Kereta Api terputus dan "terduduk" di dalam Sungai Batang Anai)</div><a href="http://3.bp.blogspot.com/-bDKnUI2v5AI/Te0EDLAH-JI/AAAAAAAAAH8/kSN6ELkSQIc/s1600/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_IJzeren_spoorbruggen_na_een_verwoestende_rivieroverstromi&#8203;ng_%2528banjir%2529_Anai-kloof_TMnr_60054629.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://3.bp.blogspot.com/-bDKnUI2v5AI/Te0EDLAH-JI/AAAAAAAAAH8/kSN6ELkSQIc/s400/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_IJzeren_spoorbruggen_na_een_verwoestende_rivieroverstromi&#8203;ng_%2528banjir%2529_Anai-kloof_TMnr_60054629.jpg" border="0" alt="[Image: COLLECTIE_TROPENMUSEUM_IJzeren_spoorbrug...054629.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<div align="center">(Gambar : Jembatan Kereta Api bengkok dan lepas akibat dorongan banjir)</div><a href="http://1.bp.blogspot.com/-W2JiAEKhAx4/Te0EIg7H2AI/AAAAAAAAAIc/TXlGi12fJTM/s1600/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Spoorweg_na_een_verwoestende_rivieroverstroming_%2528banj&#8203;ir%2529_Anai-kloof_TMnr_60054631.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://1.bp.blogspot.com/-W2JiAEKhAx4/Te0EIg7H2AI/AAAAAAAAAIc/TXlGi12fJTM/s400/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Spoorweg_na_een_verwoestende_rivieroverstroming_%2528banj&#8203;ir%2529_Anai-kloof_TMnr_60054631.jpg" border="0" alt="[Image: COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Spoorweg_na_een_v...054631.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<div align="center"><span style="font-style: italic;">(Gambar : Tanah dan bantalan rel Kereta Api hanyut, tinggallah rel besi menggantung)</span></div>
<a href="http://3.bp.blogspot.com/-naPgn73r0RA/Te0C9Xd6zqI/AAAAAAAAAHk/AXV16PTLkOc/s1600/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Een_spoorlijn_en_een_brug_bij_Ajer_Mantjoer_in_de_West-Sumatra_zijn_vermoedelijk_door_een_overstroming_%2528bandjir%2529_verwoest_TMnr_&#8203;10004411.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://3.bp.blogspot.com/-naPgn73r0RA/Te0C9Xd6zqI/AAAAAAAAAHk/AXV16PTLkOc/s400/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Een_spoorlijn_en_een_brug_bij_Ajer_Mantjoer_in_de_West-Sumatra_zijn_vermoedelijk_door_een_overstroming_%2528bandjir%2529_verwoest_TMnr_&#8203;10004411.jpg" border="0" alt="[Image: COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Een_spoorlijn_en_...004411.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<div align="center"><span style="font-style: italic;">(Gambar : Rel Kereta Api terdorong dan tergeletak ke dalam sungai)</span><br />
<br />
<a href="http://3.bp.blogspot.com/-J1IQTzwel_E/Te0C-CuTyPI/AAAAAAAAAH0/LNApPrvpUGY/s1600/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_IJzeren_spoorbruggen_na_een_verwoestende_rivieroverstromi&#8203;ng_%2528banjir%2529_Anai-kloof_TMnr_60001338.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://3.bp.blogspot.com/-J1IQTzwel_E/Te0C-CuTyPI/AAAAAAAAAH0/LNApPrvpUGY/s400/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_IJzeren_spoorbruggen_na_een_verwoestende_rivieroverstromi&#8203;ng_%2528banjir%2529_Anai-kloof_TMnr_60001338.jpg" border="0" alt="[Image: COLLECTIE_TROPENMUSEUM_IJzeren_spoorbrug...001338.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a></div><div align="center"><span style="font-style: italic;">(Gambar : Pandangan dari sisi lain)</span></div>
<a href="http://4.bp.blogspot.com/-U2tvASiOFos/Te0EoxI1bvI/AAAAAAAAAIs/qYBVuRBpTwM/s1600/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_herstelde_spoorbaan_door_de_Anei_kloof_na_de_verwoesti&#8203;ng_door_bandjir_in_1892_TMnr_10021899.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://4.bp.blogspot.com/-U2tvASiOFos/Te0EoxI1bvI/AAAAAAAAAIs/qYBVuRBpTwM/s400/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_herstelde_spoorbaan_door_de_Anei_kloof_na_de_verwoesti&#8203;ng_door_bandjir_in_1892_TMnr_10021899.jpg" border="0" alt="[Image: COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_herstelde_spoo...021899.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<div align="center"><span style="font-style: italic;">(Gambar<br />
: Rel Kereta Api dan tembok penahan tebing setelah diperbaiki. Di dalam<br />
sungai masih terlihat sisa-sisa beton dan besi lama)</span></div><a href="http://3.bp.blogspot.com/-U_2lfo263I4/Te0EoszJ8oI/AAAAAAAAAIk/5gJ3veRH0ag/s1600/668px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Een_noodspoorbrug_in_de_herstelde_spoorbaan_in_de_Anei_kl&#8203;oof_in_1892_TMnr_10021898.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://3.bp.blogspot.com/-U_2lfo263I4/Te0EoszJ8oI/AAAAAAAAAIk/5gJ3veRH0ag/s400/668px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Een_noodspoorbrug_in_de_herstelde_spoorbaan_in_de_Anei_kl&#8203;oof_in_1892_TMnr_10021898.jpg" border="0" alt="[Image: 668px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Een_noodspo...021898.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<div align="center"><span style="font-style: italic;">(Gambar : Jembatan Kereta Api darurat terbuat dari kayu)</span></div>
<a href="http://3.bp.blogspot.com/-PRZDj_rYDuQ/Te0EpSAOgpI/AAAAAAAAAI0/Jy9sJWYBxSM/s1600/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Herstel_van_de_ijzeren_spoorbruggen_na_een_verwoestende_r&#8203;ivieroverstroming_%2528banjir%2529_Anai-kloof_TMnr_60054628.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://3.bp.blogspot.com/-PRZDj_rYDuQ/Te0EpSAOgpI/AAAAAAAAAI0/Jy9sJWYBxSM/s400/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Herstel_van_de_ijzeren_spoorbruggen_na_een_verwoestende_r&#8203;ivieroverstroming_%2528banjir%2529_Anai-kloof_TMnr_60054628.jpg" border="0" alt="[Image: COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Herstel_van_de_ij...054628.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<div align="center"><span style="font-style: italic;">(Gambar : Jembatan Kereta Api darurat terbuat dari kayu)</span></div><span style="font-style: italic;"><span style="font-size: 20pt;">(Sumber : Tropen Museum)</span></span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Dunsanak semua,<br />
Karena jadwal yang padat maka minggu ini <br />
kegiatan penterjemahan buku Van Batavia Naar Atjeh terpaksa tertunda <br />
dulu. Namun untuk menggantinya, ambo akan menampilkan sesuatu yang tidak<br />
kalah menariknya. <br />
Sebagaimana dimuat dalam buku tersebut <br />
diceritakan bahwa setahun setelah dibuka, rel dan jembatan kereta api <br />
yang berada di kawasan lembah Anai rusak dihantam banjir. Foto-fotonya <br />
dikatakan begitu "menakutkan bagi tiap insinyur Eropa" (untuk membacanya<br />
<span style="font-weight: bold;"><span style="font-style: italic;"><span style="color: #ff0000;"><span style="font-size: 20pt;"><a href="http://minanglamo.blogspot.com/2011/05/van-batavia-naar-atjeh-1904-bagian-i.html" rel="nofollow" target="_blank">klik disini</a></span></span></span></span>). Namun disebutkan juga bahwa perbaikan segera dilakukan dengan biaya 600 ribu gulden.<br />
Nah,<br />
ambo coba membongkar arsip Tropen Museum dan menemukan foto-foto ini, <br />
yang merupakan foto kerusakan akibat banjir tersebut, dan bertanggal <br />
tahun 1892. Silakan dinilai, semenakutkan apa kejadian itu. Bahkan <br />
banjir besar di lokasi yang sama tahun lalu mungkin tidaklah sedahsyat <br />
ini, karena tidak sampai menghanyutkan jembatan Kereta Api.<br />
<br />
<a href="http://1.bp.blogspot.com/-wtg_lYEbQtA/Te0EILDhs_I/AAAAAAAAAIM/dh4Vg4QENRU/s1600/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Riviergezicht_met_ijzeren_spoorbrug_in_aanbouw_ter_vervan&#8203;ging_van_een_noodbrug_Anai-kloof_Batoe_Bedoekoeng_TMnr_60027377.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://1.bp.blogspot.com/-wtg_lYEbQtA/Te0EILDhs_I/AAAAAAAAAIM/dh4Vg4QENRU/s400/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Riviergezicht_met_ijzeren_spoorbrug_in_aanbouw_ter_vervan&#8203;ging_van_een_noodbrug_Anai-kloof_Batoe_Bedoekoeng_TMnr_60027377.jpg" border="0" alt="[Image: COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Riviergezicht_met...027377.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<div align="center">(Gambar : Jalan Kereta Api terputus akibat tertimbun tanah longsor)</div><a href="http://2.bp.blogspot.com/-1LutBMin8XA/Te0EHgxcQ0I/AAAAAAAAAIE/wvAbYrBXnFw/s1600/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_IJzeren_spoorbruggen_na_een_verwoestende_rivieroverstromi&#8203;ng_%2528banjir%2529_Anai-kloof_TMnr_60054632.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-1LutBMin8XA/Te0EHgxcQ0I/AAAAAAAAAIE/wvAbYrBXnFw/s400/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_IJzeren_spoorbruggen_na_een_verwoestende_rivieroverstromi&#8203;ng_%2528banjir%2529_Anai-kloof_TMnr_60054632.jpg" border="0" alt="[Image: COLLECTIE_TROPENMUSEUM_IJzeren_spoorbrug...054632.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<div align="center">(Gambar : Jembatan Kereta Api terputus dan "terduduk" di dalam Sungai Batang Anai)</div><a href="http://3.bp.blogspot.com/-bDKnUI2v5AI/Te0EDLAH-JI/AAAAAAAAAH8/kSN6ELkSQIc/s1600/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_IJzeren_spoorbruggen_na_een_verwoestende_rivieroverstromi&#8203;ng_%2528banjir%2529_Anai-kloof_TMnr_60054629.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://3.bp.blogspot.com/-bDKnUI2v5AI/Te0EDLAH-JI/AAAAAAAAAH8/kSN6ELkSQIc/s400/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_IJzeren_spoorbruggen_na_een_verwoestende_rivieroverstromi&#8203;ng_%2528banjir%2529_Anai-kloof_TMnr_60054629.jpg" border="0" alt="[Image: COLLECTIE_TROPENMUSEUM_IJzeren_spoorbrug...054629.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<div align="center">(Gambar : Jembatan Kereta Api bengkok dan lepas akibat dorongan banjir)</div><a href="http://1.bp.blogspot.com/-W2JiAEKhAx4/Te0EIg7H2AI/AAAAAAAAAIc/TXlGi12fJTM/s1600/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Spoorweg_na_een_verwoestende_rivieroverstroming_%2528banj&#8203;ir%2529_Anai-kloof_TMnr_60054631.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://1.bp.blogspot.com/-W2JiAEKhAx4/Te0EIg7H2AI/AAAAAAAAAIc/TXlGi12fJTM/s400/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Spoorweg_na_een_verwoestende_rivieroverstroming_%2528banj&#8203;ir%2529_Anai-kloof_TMnr_60054631.jpg" border="0" alt="[Image: COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Spoorweg_na_een_v...054631.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<div align="center"><span style="font-style: italic;">(Gambar : Tanah dan bantalan rel Kereta Api hanyut, tinggallah rel besi menggantung)</span></div>
<a href="http://3.bp.blogspot.com/-naPgn73r0RA/Te0C9Xd6zqI/AAAAAAAAAHk/AXV16PTLkOc/s1600/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Een_spoorlijn_en_een_brug_bij_Ajer_Mantjoer_in_de_West-Sumatra_zijn_vermoedelijk_door_een_overstroming_%2528bandjir%2529_verwoest_TMnr_&#8203;10004411.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://3.bp.blogspot.com/-naPgn73r0RA/Te0C9Xd6zqI/AAAAAAAAAHk/AXV16PTLkOc/s400/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Een_spoorlijn_en_een_brug_bij_Ajer_Mantjoer_in_de_West-Sumatra_zijn_vermoedelijk_door_een_overstroming_%2528bandjir%2529_verwoest_TMnr_&#8203;10004411.jpg" border="0" alt="[Image: COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Een_spoorlijn_en_...004411.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<div align="center"><span style="font-style: italic;">(Gambar : Rel Kereta Api terdorong dan tergeletak ke dalam sungai)</span><br />
<br />
<a href="http://3.bp.blogspot.com/-J1IQTzwel_E/Te0C-CuTyPI/AAAAAAAAAH0/LNApPrvpUGY/s1600/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_IJzeren_spoorbruggen_na_een_verwoestende_rivieroverstromi&#8203;ng_%2528banjir%2529_Anai-kloof_TMnr_60001338.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://3.bp.blogspot.com/-J1IQTzwel_E/Te0C-CuTyPI/AAAAAAAAAH0/LNApPrvpUGY/s400/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_IJzeren_spoorbruggen_na_een_verwoestende_rivieroverstromi&#8203;ng_%2528banjir%2529_Anai-kloof_TMnr_60001338.jpg" border="0" alt="[Image: COLLECTIE_TROPENMUSEUM_IJzeren_spoorbrug...001338.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a></div><div align="center"><span style="font-style: italic;">(Gambar : Pandangan dari sisi lain)</span></div>
<a href="http://4.bp.blogspot.com/-U2tvASiOFos/Te0EoxI1bvI/AAAAAAAAAIs/qYBVuRBpTwM/s1600/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_herstelde_spoorbaan_door_de_Anei_kloof_na_de_verwoesti&#8203;ng_door_bandjir_in_1892_TMnr_10021899.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://4.bp.blogspot.com/-U2tvASiOFos/Te0EoxI1bvI/AAAAAAAAAIs/qYBVuRBpTwM/s400/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_herstelde_spoorbaan_door_de_Anei_kloof_na_de_verwoesti&#8203;ng_door_bandjir_in_1892_TMnr_10021899.jpg" border="0" alt="[Image: COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_herstelde_spoo...021899.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<div align="center"><span style="font-style: italic;">(Gambar<br />
: Rel Kereta Api dan tembok penahan tebing setelah diperbaiki. Di dalam<br />
sungai masih terlihat sisa-sisa beton dan besi lama)</span></div><a href="http://3.bp.blogspot.com/-U_2lfo263I4/Te0EoszJ8oI/AAAAAAAAAIk/5gJ3veRH0ag/s1600/668px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Een_noodspoorbrug_in_de_herstelde_spoorbaan_in_de_Anei_kl&#8203;oof_in_1892_TMnr_10021898.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://3.bp.blogspot.com/-U_2lfo263I4/Te0EoszJ8oI/AAAAAAAAAIk/5gJ3veRH0ag/s400/668px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Een_noodspoorbrug_in_de_herstelde_spoorbaan_in_de_Anei_kl&#8203;oof_in_1892_TMnr_10021898.jpg" border="0" alt="[Image: 668px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Een_noodspo...021898.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<div align="center"><span style="font-style: italic;">(Gambar : Jembatan Kereta Api darurat terbuat dari kayu)</span></div>
<a href="http://3.bp.blogspot.com/-PRZDj_rYDuQ/Te0EpSAOgpI/AAAAAAAAAI0/Jy9sJWYBxSM/s1600/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Herstel_van_de_ijzeren_spoorbruggen_na_een_verwoestende_r&#8203;ivieroverstroming_%2528banjir%2529_Anai-kloof_TMnr_60054628.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://3.bp.blogspot.com/-PRZDj_rYDuQ/Te0EpSAOgpI/AAAAAAAAAI0/Jy9sJWYBxSM/s400/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Herstel_van_de_ijzeren_spoorbruggen_na_een_verwoestende_r&#8203;ivieroverstroming_%2528banjir%2529_Anai-kloof_TMnr_60054628.jpg" border="0" alt="[Image: COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Herstel_van_de_ij...054628.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<div align="center"><span style="font-style: italic;">(Gambar : Jembatan Kereta Api darurat terbuat dari kayu)</span></div><span style="font-style: italic;"><span style="font-size: 20pt;">(Sumber : Tropen Museum)</span></span>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Seabad Kelok 9 (1910 dan 2010)]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Seabad-Kelok-9-1910-dan-2010</link>
			<pubDate>Mon, 10 Sep 2012 03:13:29 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Seabad-Kelok-9-1910-dan-2010</guid>
			<description><![CDATA[<a href="http://2.bp.blogspot.com/-2bfbO_VEkMc/Ta0LQ6abtYI/AAAAAAAAABQ/0nFgOMxjwXg/s1600/kelok%2B9%2B1910.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-2bfbO_VEkMc/Ta0LQ6abtYI/AAAAAAAAABQ/0nFgOMxjwXg/s400/kelok%2B9%2B1910.jpg" border="0" alt="[Image: kelok%2B9%2B1910.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<a href="http://4.bp.blogspot.com/-mNiNuMQ9gkg/Ta0LRHZEYAI/AAAAAAAAABY/K15cr7yG_dM/s1600/kelok-9-subkiskeigoblogspotcom.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://4.bp.blogspot.com/-mNiNuMQ9gkg/Ta0LRHZEYAI/AAAAAAAAABY/K15cr7yG_dM/s400/kelok-9-subkiskeigoblogspotcom.jpg" border="0" alt="[Image: kelok-9-subkiskeigoblogspotcom.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
 <span style="font-style: italic;"> Atas</span> : Tahun 1910 <span style="font-size: 20pt;">(Sumber : Koleksi KITLV, Leiden)</span><br />
<span style="font-size: 20pt;"> <span style="font-style: italic;">Bawah</span> : Tahun 2010 </span><span style="font-size: 20pt;">(Sumber : subkiskeigoblogspot.com)<br />
</span><br />
Kedua foto ini mengambil lokasi dan <span style="font-style: italic;">angle </span>yang<br />
sama, tapi dipisahkan jarak waktu seratus tahun. Lokasi yang dipilih <br />
adalah Kelok Sembilan, sebuah lokasi berjarak kira-kira 70 km dari <br />
Bukittinggi arah ke Pekanbaru.<br />
<br />
Sesuai namanya, Kelok Sembilan <br />
mempunyai 9 buah kelok (bahasa Minang yang berarti tikungan) dengan <br />
sudut putar 180 derjat. Sebuah cara yang dibuat oleh Belanda dalam <br />
menyiasati beda tinggi yang mencolok antara jalan bagian bawah dan <br />
bagian atas. Cara ini efektif untuk memperpendek jarak tempuh karena <br />
tidak perlu memutar mengelilingi bukit. Selain disini, kelok yang banyak<br />
juga terdapat di Kelok 44 (Maninjau) dan Sitinjau Laut (Padang-Solok). <br />
Lain waktu kita jalan-jalan ke sana.<br />
Kelok 9 dibangun Belanda pada<br />
tahun 1908 - 1910. Pada foto pertama, sepertinya dipotret pada saat <br />
jalan itu baru selesai dibangun tahun 1910. Ini terlihat dari lingkungan<br />
yang bersih dari tanaman-tanaman besar. Bahkan ada yang masih <br />
bertumbangan. Dalam foto juga terlihat sebuah mobil menuruni kelok <br />
sembilan dan di kejauhan sana terlihat jalan mengular menuju kepekatan <br />
rimba raya, ke arah kota Pajakoemboeh alias Payakumbuh. Terbayang waktu<br />
itu, apa yang ada dalam pikiran para penumpang mobil ketika berjalan <br />
dalam naungan batang kayu raksasa di kiri-kanan jalan. Alangkah <br />
beraninya!<br />
Foto kedua, seratus tahun kemudian. 2010. Perbedaan <br />
yang mencolok adalah jalan sudah dilapisi aspal mululus lus. Kemudian <br />
kepekatan hutan terlihat berkurang dan tidak seseram foto seratus tahun <br />
sebelumnya. Yang pasti masih sama adalah konstruksi dinding penahan <br />
tanahnya. Dari kedua foto dapat dipastikan dinding itu adalah dinding <br />
yang sama. Dilihat dari bentuk dan alur-alur yang ada di permukaan <br />
dinding. Seratus tahun menantang panas dan hujan tidak membuat dinding <br />
itu lapuk dimakan usia. Jangankan rubuh, sompel pun tidak! Hanya ada <br />
penambahan dinding di sebelah kiri arah jurang. Mungkin untuk pencegahan<br />
karena sudah banyak pembalap jalanan yang terjun ke dalam sana.<br />
Terakhir,<br />
ternyata kedua foto ini memperlihatkan bahwa lebar jalan di sana tidak <br />
berubah selama 100 tahun. Padahal kendaraan yang lewat sudah berbeda <br />
jauh ukurannya. Pantas saja sering macet....<br />
sumber : <a href="http://minanglamo.blogspot.com/2011/04/seabad-kelok-9-1910-dan-2010.html" rel="nofollow" target="_blank">http://minanglamo.blogspot.com/2011/04/s...-2010.html</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://2.bp.blogspot.com/-2bfbO_VEkMc/Ta0LQ6abtYI/AAAAAAAAABQ/0nFgOMxjwXg/s1600/kelok%2B9%2B1910.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-2bfbO_VEkMc/Ta0LQ6abtYI/AAAAAAAAABQ/0nFgOMxjwXg/s400/kelok%2B9%2B1910.jpg" border="0" alt="[Image: kelok%2B9%2B1910.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<a href="http://4.bp.blogspot.com/-mNiNuMQ9gkg/Ta0LRHZEYAI/AAAAAAAAABY/K15cr7yG_dM/s1600/kelok-9-subkiskeigoblogspotcom.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://4.bp.blogspot.com/-mNiNuMQ9gkg/Ta0LRHZEYAI/AAAAAAAAABY/K15cr7yG_dM/s400/kelok-9-subkiskeigoblogspotcom.jpg" border="0" alt="[Image: kelok-9-subkiskeigoblogspotcom.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
 <span style="font-style: italic;"> Atas</span> : Tahun 1910 <span style="font-size: 20pt;">(Sumber : Koleksi KITLV, Leiden)</span><br />
<span style="font-size: 20pt;"> <span style="font-style: italic;">Bawah</span> : Tahun 2010 </span><span style="font-size: 20pt;">(Sumber : subkiskeigoblogspot.com)<br />
</span><br />
Kedua foto ini mengambil lokasi dan <span style="font-style: italic;">angle </span>yang<br />
sama, tapi dipisahkan jarak waktu seratus tahun. Lokasi yang dipilih <br />
adalah Kelok Sembilan, sebuah lokasi berjarak kira-kira 70 km dari <br />
Bukittinggi arah ke Pekanbaru.<br />
<br />
Sesuai namanya, Kelok Sembilan <br />
mempunyai 9 buah kelok (bahasa Minang yang berarti tikungan) dengan <br />
sudut putar 180 derjat. Sebuah cara yang dibuat oleh Belanda dalam <br />
menyiasati beda tinggi yang mencolok antara jalan bagian bawah dan <br />
bagian atas. Cara ini efektif untuk memperpendek jarak tempuh karena <br />
tidak perlu memutar mengelilingi bukit. Selain disini, kelok yang banyak<br />
juga terdapat di Kelok 44 (Maninjau) dan Sitinjau Laut (Padang-Solok). <br />
Lain waktu kita jalan-jalan ke sana.<br />
Kelok 9 dibangun Belanda pada<br />
tahun 1908 - 1910. Pada foto pertama, sepertinya dipotret pada saat <br />
jalan itu baru selesai dibangun tahun 1910. Ini terlihat dari lingkungan<br />
yang bersih dari tanaman-tanaman besar. Bahkan ada yang masih <br />
bertumbangan. Dalam foto juga terlihat sebuah mobil menuruni kelok <br />
sembilan dan di kejauhan sana terlihat jalan mengular menuju kepekatan <br />
rimba raya, ke arah kota Pajakoemboeh alias Payakumbuh. Terbayang waktu<br />
itu, apa yang ada dalam pikiran para penumpang mobil ketika berjalan <br />
dalam naungan batang kayu raksasa di kiri-kanan jalan. Alangkah <br />
beraninya!<br />
Foto kedua, seratus tahun kemudian. 2010. Perbedaan <br />
yang mencolok adalah jalan sudah dilapisi aspal mululus lus. Kemudian <br />
kepekatan hutan terlihat berkurang dan tidak seseram foto seratus tahun <br />
sebelumnya. Yang pasti masih sama adalah konstruksi dinding penahan <br />
tanahnya. Dari kedua foto dapat dipastikan dinding itu adalah dinding <br />
yang sama. Dilihat dari bentuk dan alur-alur yang ada di permukaan <br />
dinding. Seratus tahun menantang panas dan hujan tidak membuat dinding <br />
itu lapuk dimakan usia. Jangankan rubuh, sompel pun tidak! Hanya ada <br />
penambahan dinding di sebelah kiri arah jurang. Mungkin untuk pencegahan<br />
karena sudah banyak pembalap jalanan yang terjun ke dalam sana.<br />
Terakhir,<br />
ternyata kedua foto ini memperlihatkan bahwa lebar jalan di sana tidak <br />
berubah selama 100 tahun. Padahal kendaraan yang lewat sudah berbeda <br />
jauh ukurannya. Pantas saja sering macet....<br />
sumber : <a href="http://minanglamo.blogspot.com/2011/04/seabad-kelok-9-1910-dan-2010.html" rel="nofollow" target="_blank">http://minanglamo.blogspot.com/2011/04/s...-2010.html</a>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[ Koto Gadang : tempat lahir Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabau dan Haji Agus Salim.]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Koto-Gadang-tempat-lahir-Syaikh-Ahmad-Khatib-Al-Minangkabau-dan-Haji-Agus-Salim</link>
			<pubDate>Thu, 06 Sep 2012 04:37:37 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Koto-Gadang-tempat-lahir-Syaikh-Ahmad-Khatib-Al-Minangkabau-dan-Haji-Agus-Salim</guid>
			<description><![CDATA[<a href="http://majalah.hidayatullah.com/wp-content/uploads/2010/05/alun-alun-padang1.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://majalah.hidayatullah.com/wp-content/uploads/2010/05/alun-alun-padang1-201x300.jpg" border="0" alt="[Image: alun-alun-padang1-201x300.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a>FOTO: Ladangkata<br />
Koto<br />
Gadang, artinya kampung besar. Entah karena berkah dari nama <br />
kampungnya, dari nagarai (desa) ini lahir orang-orang besar. Atau <br />
sebaliknya, karena melahirkan orang-orang besar, kampung ini kemudian <br />
diberi nama Koto Gadang.<br />
Yang pasti, kampung yang tak jauh dari Kota Padang, Sumatera Barat <br />
ini memang telah melahirkan orang-orang besar. Mereka, di antaranya <br />
adalah Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabau, imam tetap Masjidil Haram di <br />
Makkah; Haji Agus Salim, cendekiawan dan politisi yang namanya <br />
melegenda; Sutan Sjahrir, mantan Perdana Menteri Indonesia; dan Ruhana <br />
Khudus, tokoh pers perempuan pertama.<br />
<br />
Sejarah mencatat, Syaikh Ahmad Khatib yang dilahirkan di Koto Gadang <br />
pada Senin, 6 Zulhijjah 1276 H atau 6 Juni 1860 M adalah ulama <br />
non-Arab yang menjadi imam tetap Masjidil Haram. Dia terpilih karena <br />
kedalaman ilmu dan kealimannya. <br />
<br />
Buya Hamka menyebut Ahmad Khatib sebagai ‘Bintang Masjidil Haram’ <br />
yang bersinar cemerlang, karena begitu banyak orang Arab dan luar Arab<br />
yang berguru padanya. <br />
<br />
Pendiri Muhammadiya KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari pendiri <br />
NU, termasuk murid Ahmad Khatib. Demikian pula para ulama pembaharu <br />
seperti Abdul Karim Amrullah (ayah Buya Hamka), Muhammad Jamil Djambek <br />
dan Haji Abdullah Ahmad. <br />
<br />
Di Sumatera Barat, Ahmad Khatib dikenal sebagai penentang keras hukum<br />
adat pra Paderi, seperti hukum waris dan keturunan menurut garis <br />
ibu. Begitu pula terhadap aliran-aliran keislaman yang menurutnya <br />
perlu diluruskan. Perlawanan Ahmad Khatib tidak dilakukan secara <br />
langsung, tetapi melalui kitab dan tulisannya. Juga dengan <br />
menggembleng sejumlah murid asal Minang di Makkah, yang kemudian <br />
dikirim kembali untuk berdakwah di negeri ini. Sayang sekali, di Koto <br />
Gadang tidak dapat ditemukan rumah peninggalan dari keturunan generasi <br />
terakhir kaum Paderi tersebut. Mungkin itu karena Ahmad Khatib menetap<br />
dan wafat di Makkah. Menurut Nusyirwan, salah satu tokoh di Koto <br />
Gadang, pada awal 80-an pernah datang orang Arab untuk mencari <br />
keturunan dan rumah peninggalan ulama besar itu. Tapi hasilnya nihil.<br />
<br />
Yang masih bersisa hanya rumahnya Haji Agus Salim. Namun, rumah tua <br />
yang berada di pinggir kampung itu hanya dirawat oleh keluarga jauh. <br />
Tak ada adik, anak atau keturunan langsung Agus Salim yang menetap di <br />
kampung untuk berbagi cerita. <br />
<br />
Agus Salim juga tidak punya harta dan benda peninggalan apa pun. <br />
Padahal, Agus Salim tokoh besar. Dia intelektual brilian dan <br />
diplomat ulung yang menguasai lima bahasa dunia.<br />
<br />
Orang besar dan pahlawan Nasional ini waktu kecil bernama Masyhudul Haq, lahir pada 8 Oktober 1884 di Koto Gadang. <br />
<br />
Menurut Nusyirwan, ada rencana menghimpun semua peninggalan Agus <br />
Salim untuk dikumpulkan di rumah tua itu, sekaligus difungsikan <br />
sebagai museum. “Tapi inilah kesulitan kita, dari sisi materi, beliau <br />
nyaris tidak meninggalkan apa pun sehingga tidak ada yang dapat kita <br />
‘museumkan’,” jelas Nusyirwan.<br />
<br />
Kehidupan tokoh Sarekat Islam itu dikenal sangat sederhana, bahkan <br />
terkesan melarat. “Saya pernah mendapat cerita, di Jakarta beliau <br />
tinggal di rumah kontrakan yang becek dan sumpek. Meski beralamat di <br />
Jalan Listrik, di rumah itu tidak ada penerangan lampu lisrik,” tutur <br />
Nusyirwan. Sungguh berbeda dengan kehidupan para pejabat sekarang. <br />
<br />
Untuk mencapai Koto Gadang, tidaklah sulit. Ada dua rute yang dapat <br />
ditempuh. Pertama, dari kota Padang, lurus saja ke Padang Lua, kemudian <br />
berbelok ke kiri menempuh jalan poros Bukittinggi-Ambun Pagi, lalu <br />
berbelok lagi ke kanan. Jarak Padang Lua-Koto Gadang hanya sekitar 15 <br />
km, jalannya pun beraspal mulus. Rute lainnya adalah dari kota Padang <br />
langsung ke Bukittinggi, kemudian dilanjutkan sekitar 10 km lagi dengan <br />
melintasi Ngarai Sianok. <br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Panorama Alam yang Indah</span><br />
<br />
Selain jalan yang sudah beraspal mulus, panorama alam sepanjang <br />
perjalanan ke Koto Gadang juga cukup indah. Di sepanjang perjalanan <br />
kita disuguhi pemandangan persawahan berjenjang-jenajang bagaikan <br />
permadani kuning yang terhampar luas. Nun di puncak Gunung Singgalang, <br />
kabut putih tampak bergelayut seperti gumpalan kapas. Demikian pula <br />
ketika melintasi Ngarai Sianok yang terkenal itu, panoramanya membuat <br />
takjub atas ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT). <br />
<br />
Secara pemerintahan, Koto Gadang masuk dalam wilayah Kecamatan Ampek <br />
Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Kendati bernama Koto Gadang yang <br />
berarti “Kampung Besar”, luas wilayah administrasinya cuma 640 hektare <br />
saja. <br />
<br />
Ada tradisi menarik di sini, yakni makan tanpa sendok. Bahkan, <br />
tradisi ini menjadi kebiasaan mayoritas orang Minang, di mana pun <br />
berada. Termasuk Agus Salim, sekalipun banyak bergaul dengan orang-orang<br />
Eropa, dia tetap tak bisa meninggalkan kebiasaannya ini. Suatu kali dia<br />
dicibir tentang kebiasaannya itu. Tapi, dia menjawab dengan cerdas, <br />
”Saya menyuap dengan tangan sendiri untuk masuk ke mulut sendiri. <br />
Sedangkan sendok yang tuan-tuan pakai, pernah masuk ke mulut banyak <br />
orang.” <br />
<br />
“Awalnya,” kata Nusyirwan, “tradisi makan bajamba (makan pakai <br />
tangan) diadopsi dari kebiasan cara makan kaum Paderi yang pernah <br />
berkuasa di ranah Minang, akhirnya ditetapkan sebagai tatacara makan <br />
yang digariskan aturan adat sehingga disebut Makan Beradat.”<br />
<br />
Selain memendam sejarah kebesaran tokoh-tokoh Islam, dengan <br />
menelusuri Koto Gadang kita juga akan menemukan irama kehidupan yang <br />
sarat dengan nuansa keislaman. Di setiap jalan kampung yang kita tapaki<br />
akan berpapasan dengan anak-anak berbaju koko dan gadis-gadis kecil <br />
berjilbab. Mereka putra-putri Koto Gadang dari Taman Pendidikan <br />
Al-Qur’an (TPA) yang ada di setiap surau.<br />
<br />
Koto Gadang juga terkenal sebagai pusat kerajinan perak dan sulaman. <br />
Kerajinan sulaman merupakan hasil tangan-tangan terampil kaum ibu dan <br />
remaja putri. Sulaman dengan khas jahitan suji, kapalo samek dan <br />
terawang, dibuat dalam bentuk selendang, baju, jilbab dan berbarbagai <br />
asesoris. Semua dikerjakan dengan sulaman tangan.<br />
<br />
Semangat kemandirian perempuan Koto Gadang telah dikobarkan dengan <br />
pembentukan perkumpulan Kerajinan Amai Setia (KAS) sejak 11 Februari <br />
1911. Perkumpulan atau organisasi perempuan pertama di ranah Minang ini <br />
dipimpin oleh Ruhana Khudus, seorang wartawati pertama Indonesia yang <br />
menerbitkan surat kabar “Soenting Melajoe”. Yayasan Kerajinan Amai Setia<br />
Koto Gadang kini telah membuka cabang di Jakarta, Medan, dan Pekanbaru.<br />
<br />
<br />
Bila Allah SWT memberi Anda kesempatan, tak rugi bertandang ke Koto <br />
Gadang. Sambil napaktilas jejak ulama dan tokoh terkenal, kampung kecil <br />
di bibir Ngarai Sianok ini juga menyajikan panorama alam yang <br />
menakjubkan, plus dengan gulai itik balado mudo (bebek muda). *Dodi <br />
Nurja/Suara Hidayatullah MEI 2009.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://majalah.hidayatullah.com/wp-content/uploads/2010/05/alun-alun-padang1.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://majalah.hidayatullah.com/wp-content/uploads/2010/05/alun-alun-padang1-201x300.jpg" border="0" alt="[Image: alun-alun-padang1-201x300.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a>FOTO: Ladangkata<br />
Koto<br />
Gadang, artinya kampung besar. Entah karena berkah dari nama <br />
kampungnya, dari nagarai (desa) ini lahir orang-orang besar. Atau <br />
sebaliknya, karena melahirkan orang-orang besar, kampung ini kemudian <br />
diberi nama Koto Gadang.<br />
Yang pasti, kampung yang tak jauh dari Kota Padang, Sumatera Barat <br />
ini memang telah melahirkan orang-orang besar. Mereka, di antaranya <br />
adalah Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabau, imam tetap Masjidil Haram di <br />
Makkah; Haji Agus Salim, cendekiawan dan politisi yang namanya <br />
melegenda; Sutan Sjahrir, mantan Perdana Menteri Indonesia; dan Ruhana <br />
Khudus, tokoh pers perempuan pertama.<br />
<br />
Sejarah mencatat, Syaikh Ahmad Khatib yang dilahirkan di Koto Gadang <br />
pada Senin, 6 Zulhijjah 1276 H atau 6 Juni 1860 M adalah ulama <br />
non-Arab yang menjadi imam tetap Masjidil Haram. Dia terpilih karena <br />
kedalaman ilmu dan kealimannya. <br />
<br />
Buya Hamka menyebut Ahmad Khatib sebagai ‘Bintang Masjidil Haram’ <br />
yang bersinar cemerlang, karena begitu banyak orang Arab dan luar Arab<br />
yang berguru padanya. <br />
<br />
Pendiri Muhammadiya KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari pendiri <br />
NU, termasuk murid Ahmad Khatib. Demikian pula para ulama pembaharu <br />
seperti Abdul Karim Amrullah (ayah Buya Hamka), Muhammad Jamil Djambek <br />
dan Haji Abdullah Ahmad. <br />
<br />
Di Sumatera Barat, Ahmad Khatib dikenal sebagai penentang keras hukum<br />
adat pra Paderi, seperti hukum waris dan keturunan menurut garis <br />
ibu. Begitu pula terhadap aliran-aliran keislaman yang menurutnya <br />
perlu diluruskan. Perlawanan Ahmad Khatib tidak dilakukan secara <br />
langsung, tetapi melalui kitab dan tulisannya. Juga dengan <br />
menggembleng sejumlah murid asal Minang di Makkah, yang kemudian <br />
dikirim kembali untuk berdakwah di negeri ini. Sayang sekali, di Koto <br />
Gadang tidak dapat ditemukan rumah peninggalan dari keturunan generasi <br />
terakhir kaum Paderi tersebut. Mungkin itu karena Ahmad Khatib menetap<br />
dan wafat di Makkah. Menurut Nusyirwan, salah satu tokoh di Koto <br />
Gadang, pada awal 80-an pernah datang orang Arab untuk mencari <br />
keturunan dan rumah peninggalan ulama besar itu. Tapi hasilnya nihil.<br />
<br />
Yang masih bersisa hanya rumahnya Haji Agus Salim. Namun, rumah tua <br />
yang berada di pinggir kampung itu hanya dirawat oleh keluarga jauh. <br />
Tak ada adik, anak atau keturunan langsung Agus Salim yang menetap di <br />
kampung untuk berbagi cerita. <br />
<br />
Agus Salim juga tidak punya harta dan benda peninggalan apa pun. <br />
Padahal, Agus Salim tokoh besar. Dia intelektual brilian dan <br />
diplomat ulung yang menguasai lima bahasa dunia.<br />
<br />
Orang besar dan pahlawan Nasional ini waktu kecil bernama Masyhudul Haq, lahir pada 8 Oktober 1884 di Koto Gadang. <br />
<br />
Menurut Nusyirwan, ada rencana menghimpun semua peninggalan Agus <br />
Salim untuk dikumpulkan di rumah tua itu, sekaligus difungsikan <br />
sebagai museum. “Tapi inilah kesulitan kita, dari sisi materi, beliau <br />
nyaris tidak meninggalkan apa pun sehingga tidak ada yang dapat kita <br />
‘museumkan’,” jelas Nusyirwan.<br />
<br />
Kehidupan tokoh Sarekat Islam itu dikenal sangat sederhana, bahkan <br />
terkesan melarat. “Saya pernah mendapat cerita, di Jakarta beliau <br />
tinggal di rumah kontrakan yang becek dan sumpek. Meski beralamat di <br />
Jalan Listrik, di rumah itu tidak ada penerangan lampu lisrik,” tutur <br />
Nusyirwan. Sungguh berbeda dengan kehidupan para pejabat sekarang. <br />
<br />
Untuk mencapai Koto Gadang, tidaklah sulit. Ada dua rute yang dapat <br />
ditempuh. Pertama, dari kota Padang, lurus saja ke Padang Lua, kemudian <br />
berbelok ke kiri menempuh jalan poros Bukittinggi-Ambun Pagi, lalu <br />
berbelok lagi ke kanan. Jarak Padang Lua-Koto Gadang hanya sekitar 15 <br />
km, jalannya pun beraspal mulus. Rute lainnya adalah dari kota Padang <br />
langsung ke Bukittinggi, kemudian dilanjutkan sekitar 10 km lagi dengan <br />
melintasi Ngarai Sianok. <br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Panorama Alam yang Indah</span><br />
<br />
Selain jalan yang sudah beraspal mulus, panorama alam sepanjang <br />
perjalanan ke Koto Gadang juga cukup indah. Di sepanjang perjalanan <br />
kita disuguhi pemandangan persawahan berjenjang-jenajang bagaikan <br />
permadani kuning yang terhampar luas. Nun di puncak Gunung Singgalang, <br />
kabut putih tampak bergelayut seperti gumpalan kapas. Demikian pula <br />
ketika melintasi Ngarai Sianok yang terkenal itu, panoramanya membuat <br />
takjub atas ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT). <br />
<br />
Secara pemerintahan, Koto Gadang masuk dalam wilayah Kecamatan Ampek <br />
Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Kendati bernama Koto Gadang yang <br />
berarti “Kampung Besar”, luas wilayah administrasinya cuma 640 hektare <br />
saja. <br />
<br />
Ada tradisi menarik di sini, yakni makan tanpa sendok. Bahkan, <br />
tradisi ini menjadi kebiasaan mayoritas orang Minang, di mana pun <br />
berada. Termasuk Agus Salim, sekalipun banyak bergaul dengan orang-orang<br />
Eropa, dia tetap tak bisa meninggalkan kebiasaannya ini. Suatu kali dia<br />
dicibir tentang kebiasaannya itu. Tapi, dia menjawab dengan cerdas, <br />
”Saya menyuap dengan tangan sendiri untuk masuk ke mulut sendiri. <br />
Sedangkan sendok yang tuan-tuan pakai, pernah masuk ke mulut banyak <br />
orang.” <br />
<br />
“Awalnya,” kata Nusyirwan, “tradisi makan bajamba (makan pakai <br />
tangan) diadopsi dari kebiasan cara makan kaum Paderi yang pernah <br />
berkuasa di ranah Minang, akhirnya ditetapkan sebagai tatacara makan <br />
yang digariskan aturan adat sehingga disebut Makan Beradat.”<br />
<br />
Selain memendam sejarah kebesaran tokoh-tokoh Islam, dengan <br />
menelusuri Koto Gadang kita juga akan menemukan irama kehidupan yang <br />
sarat dengan nuansa keislaman. Di setiap jalan kampung yang kita tapaki<br />
akan berpapasan dengan anak-anak berbaju koko dan gadis-gadis kecil <br />
berjilbab. Mereka putra-putri Koto Gadang dari Taman Pendidikan <br />
Al-Qur’an (TPA) yang ada di setiap surau.<br />
<br />
Koto Gadang juga terkenal sebagai pusat kerajinan perak dan sulaman. <br />
Kerajinan sulaman merupakan hasil tangan-tangan terampil kaum ibu dan <br />
remaja putri. Sulaman dengan khas jahitan suji, kapalo samek dan <br />
terawang, dibuat dalam bentuk selendang, baju, jilbab dan berbarbagai <br />
asesoris. Semua dikerjakan dengan sulaman tangan.<br />
<br />
Semangat kemandirian perempuan Koto Gadang telah dikobarkan dengan <br />
pembentukan perkumpulan Kerajinan Amai Setia (KAS) sejak 11 Februari <br />
1911. Perkumpulan atau organisasi perempuan pertama di ranah Minang ini <br />
dipimpin oleh Ruhana Khudus, seorang wartawati pertama Indonesia yang <br />
menerbitkan surat kabar “Soenting Melajoe”. Yayasan Kerajinan Amai Setia<br />
Koto Gadang kini telah membuka cabang di Jakarta, Medan, dan Pekanbaru.<br />
<br />
<br />
Bila Allah SWT memberi Anda kesempatan, tak rugi bertandang ke Koto <br />
Gadang. Sambil napaktilas jejak ulama dan tokoh terkenal, kampung kecil <br />
di bibir Ngarai Sianok ini juga menyajikan panorama alam yang <br />
menakjubkan, plus dengan gulai itik balado mudo (bebek muda). *Dodi <br />
Nurja/Suara Hidayatullah MEI 2009.]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Haji Mislin Tokoh PADERI Dari Pandaisikek ]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Haji-Mislin-Tokoh-PADERI-Dari-Pandaisikek</link>
			<pubDate>Tue, 04 Sep 2012 04:07:38 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Haji-Mislin-Tokoh-PADERI-Dari-Pandaisikek</guid>
			<description><![CDATA[Bagi seseorang yang berasal dari Nagari Pandai Sikek tentu tak ada yang tidak pernah mendengar nama Haji Miskin yang telah melekat sebagai nama Mesjid dan nama Mushalla, namun setelah ditanyakan  latar belakang sejarahnya banyak yang tidak mengetahuinya siapakah tokoh legendaris Haji Miskin tersebut.<br />
<br />
Haji Miskin setelah pulang dari naik haji pada tahun 1803  . Dimana selama di Mekah dia melihat perkembangan paham wahabi yang selalu kembali kesyariat islam “ dan dia bertekat setelah sampai di Minangkabau akan mengembangkan paham wahabi ini.<br />
<br />
Haji Miskin selalu menganjurkan dalam setiap pertemuan melarang anak negeri mengadu ayam, kerbau, dan sapi serta mengisap madat karena hal tersebut dilarang olah agama Islam. Kampanye Haji Miskin tersebut selalu dilakukan disekitar pasar Baruah, karena pasar Baruah Pandai Sikek adalah salah satu pasar terbesar di VI Koto karena berada pada persimpangan strategis antara daratan minangkabau pedalaman dengan pantai padang yang yang merupakan tempat menghimpun hasil bumi akasia dan kopi untuk diperdagangkan pada zaman awal abad ke-19. Untuk menuju ke Padang dari Luak Agam harus melewati Pandai Sikek- Singgalang dan turun ke Kayu Tanam Pariaman. Sehingga Pandai Sikek disebut juga “ ujuang darek kapalo rantau “.<br />
<br />
Untuk menertibkan perdagangan di  pasar Baruah Pandai Sikek Haji Miskin dibantu oleh seorang penghulu Datuak Batuah dengan inisiatifnya mencoba pembaharuan supaya perdagangan di Pandai Sikek yang sedang berkembang dapat ditertipkan.<br />
<br />
Di Pasar ini uang mengalir masuk kepada masyarakat dan langsung dihambur-hamburkan dalam gelanggang adu jago, adu kerbau, adu sapi dan minum tuak serta menghisap candu, semuanya ini mengobarkan nafsu dan mengoyahkan pendirian pada akhir keseibukan pasar, nafsu dengan mudah meletus dengan perkelahian, perampokan dan bahkan pembunuhan.<br />
<br />
Haji Miskin bersama Datuah Batuah selalu tak henti-hentinya berkotbah terhadap larangan nan salapan (8) yaitu : dilarang berbuat dago-dagi, sumbang salah, samun saka , umbuak umbi , curi maliang , tikam bunuah , sia baka ,dan  melakukan upeh racun .<br />
<br />
Rupanya Pandai Sikek terlalu berat untuk mendengarkan seruannya. Akhirnya, untuk menunjukkan bahwa ia betul-betul serius dalam usahanya, ia membakar Balai Adat Pandai Sikek pada tahun 1804, yang merupakan kebanggaan dan kejayaan nagari, dan kemudian melarikan diri ke Koto Laweh.<br />
<br />
Pada Tahap ini Haji Miskin rupanya berfikir bahwa kegagalannya di Pandai Sikek adalah karena kurangnya guru-guru agama yang menonjol yang bisa memberi bobot pada usahanya. Koto Laweh berbeda dari Pandai Sikek, adalah pusat upaya Syattariyah lama. Disini bersama Jalaluddin bergelar Faqih Saghir  dan Tuanku Mansiangan memulai seruannya “ kembali ke syariat Islam”. Paham wahabi mulai dikembangkan dengan dukungan Tuanku Mansiangan. Setiap masyarakat harus menganut Islam yang murni, kalau semuanya gagal, kekerasan harus dipakai untuk mengubah negara menjadi Islam. Tuanku Mansiangan menjadi pelindung Haji Miskin, yang lambat laut memperoleh pengikut di Koto Laweh. Namun, dia juga mendapat perlawanan di Koto Laweh pecah menjadi dua kubu disusul dengan perkelahian. Dalam suatu perkel;ahian yang sangat seru Haji Miskin kalah dan terpaksa mencari perlindungan di Bukit Kamang.<br />
<br />
Perlindung Haji Miskin yang baru di daerah pegunungan Bukik Kamang  adalah Tuanku Nan Rinceh. Dengan kemunculan Haji Miskin di Bansa pada kira-kira tahun 1805, tujuan perjungan Tuanku Nan Rinceh tampak lebih beraspek militan untuk mengajak daerah Luak Agam dan sekitarnya kembali ke syariat Islam, nagari-nagari yang membangkang diperangi. Semua gelanggang tempat judi dihancurkan.<br />
<br />
Gerakan Paderi yang merupakan gerakan yang tujuan utamanya adalah memaksakan hukum Islam disetiap nagari. Perkenalan dengan sistem hukum Islam memang tujuan Paderi, dan administrasi nagari diubah mengikuti jalur pembaharuan yang dilakukan kaum Wahhabi di Arab. Namun, di Minangkabau sistem suku sudah terlalu kukuh sehingga inovasi ini mendapat tantangan dengan dewan penghulu. Tetapi pada nagari yang telah ditundukkan oleh kaum Paderi diwajibkan mengangkat seorang Kadi yang berfungsi mendampingi dewan nagari  yang bertugas dalam hal yang  berkaitan dengan Islam,upacara dan kewajibannya dialah hakim agungnya, dan setiap nagari harus mempunyai imam yang bertugas menguraikan secara rinci ayat-ayat suci dan melaksanakan upacara-upacara keagamaan. Selain itu, juga diangkat pengawas untuk mengawasi orang-orang yang tidak hadir pada waktu sembahyang, atau hanya membiarkan lututnya tidak tertutup. Sehingga berperan orang nan ampek jinih untuk kelompok adat (penghulu,malin, manti dan dubalang ) dan orang jinih nan ampek untuk kelompok Paderi ( kadi, imam, katik dan bilal ) sehingga hal ini dilukiskan ddalam adat yang disebutkan “ syarak mangato, adaik mamakai “.<br />
<br />
Setelah syariat Islam berkembang di Luak Agam yang dikembangkan bersama Tuanku Nan Rinceh dan Harimau Nan Salapan . Pada tahun 1811, Haji Miskin meninggalkan Bukik Kamang pergi ke Limapuluh Koto untuk menyebarkan ajarannya. Dia menetap di Aie Tabik di lereng Gunung Sago yang kaya dengan kopi, dan menjadi terkenal karena ajarannya dan cara hidupnya yang saleh dan sederhana dengan banyak larangan bagi dirinya sendiri. Di Aie Tabik, ia mendapat dukungan  berbagai orang yang berpengaruh, baik penghulu maupun penguasa adat, meskipun mula-mula ada tantangan dari nagari, akhirnya dewan nagari menyetujui dengan suuara bulat untuk mengikuti ajaran Quran secara lebih cermat. Nagari-nagari di Limapuluhkota segera menyatakan niatnya untuk melakukan hal yang sama, baik karena keyakinan maupun karena takut serbuan dari Agam kalau mereka tidak mengikuti ajaran baru ini.<br />
<br />
Ketika Belanda pertamakali masuk pada tahun 1833 ke Limapuluhkoto, mereka mendapatkan bahwa pengikut Paderi dengan penuh semangat bekerja untuk memperbaiki prospek dagangnya; jalan dan jembatan terawat baik, rumah-rumah besar dan menarik, dan dipasar tidak terdengar pertengkaran, masing-masing menanyakan harga dan membayarnya kalau sesuai dengan keinginan mereka, tanpa tawar-tawar menawar.<br />
<br />
Haji Miskin bersama Jalaluddin bergelar Faqih Saghir  membangun Nagari Aie Tabik di Kaki Gunung Sago. Dan dibantu oleh Tuanku Nan Pahit yang bergelar Malin Putiah dari Sarilamak. Tiga trio ini membangun sebuah benteng yang diberi nama “Benteng Bukik Qawiy” yang artinya benteng yang kuat.<br />
<br />
Selanjutnya marilah kita simak tambo yang dimiliki oleh datuak Rajo Makhudum , suku Bendang, aie tabik . Diceritakan bahwa, pada tahun 1237 H atau pada serkitar tahun 1816 M. Berjalanlah Haji Miskin, Haji Jalaluddin bergelar Pakih Saghir dan Tuanku Nan Pahit bergelar Malin Putiah menuju Gadut Tebing Tinggi : mambao baka saganoknyo, manjunjuang buntie dibahunyo, barisi lado jo bareh, bawang jo garam, ditambah oleh uncu ganti ameh kabaka dijalan, lapek bareh tak basaka, daun pambukuihnyo dibuang supayo lapek tahan bahari-hari, indak rasan dan indak basi.<br />
<br />
Pai kama katigonyo ? Pai jauah arah ka Halaban, taruih ka Lintau dari sinan ka Puncak Pato, Batu Bulek. Disinan urang “marapekkan alam”. Urang adat jo malin ugamo, langkok urang cadiak candokio, supayo nak maju agamo kito, ugamo Islam, supayo jan taturuik urang kapie Nasrani jo Yahudi. Adaik jo syarak nak basatu, sandinyo kitab Allah Ta’ala.<br />
<br />
Alun sabelok tigo sarangkai tuanku pulang dari Bukik Pato marapekkan alam. Tajadi gaduah basosoh, mambao kalewang jo gadubang, umban tali bagai, mako pulang syahidlah H.Miskin, parang dijalan Allah, dikubuakan di Bukik Gadang, indak jauah dari Bukik Qawiy. Harato Allah pulang ka Allah, urang nan punyo datang manjapuik. Ado tahalie, sapakan lamonyo simusajik Sungai Landai, Aie tabik.<br />
<br />
Yang menarik dari catatan ini adalah Pertama : Sumpah Satie Bukik Marapalam dilaksanakan pada tahun 1816 M dimana dalam catatan disebutkan. Adaik jo syarak nak basatu, sandinyo kitab Allah Ta’ala. Bolehlah kita rumuskan filosofi Minagkabau sekarang “Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”. Penganti pedoman hidup yang lama“ syarak mangato, adat mamakai, atau  adat basandi syarak, syarak basandi adat “.<br />
<br />
Kedua adalah Haji Miskin gugur di bukik Qawiy Nagari Aie Tabik Payakumbuh, dan dimakamkan di kaki Bukik Gadang,tidak jauh dari benteng Bukik Qawiy. Dan timbul pertanyaan Siapakah yang berkubur di Guguak Sigandang Pandai Sikek ???? (Saifulguci,3 Februari 2012). Dikutip dari Sumber :<br />
<br />
1.    Christine Dobbin (1980) Islamic Revitalism in a Changing Peasant Economy Central Sumatra,1784-1847.<br />
<br />
2.    H.Kamardi Rais Dt.P.Simulie (2005) Mesin Ketik Tua<br />
<br />
3.    Muhamad Rajab (1964) Perang Paderi di Sumatera Barat]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Bagi seseorang yang berasal dari Nagari Pandai Sikek tentu tak ada yang tidak pernah mendengar nama Haji Miskin yang telah melekat sebagai nama Mesjid dan nama Mushalla, namun setelah ditanyakan  latar belakang sejarahnya banyak yang tidak mengetahuinya siapakah tokoh legendaris Haji Miskin tersebut.<br />
<br />
Haji Miskin setelah pulang dari naik haji pada tahun 1803  . Dimana selama di Mekah dia melihat perkembangan paham wahabi yang selalu kembali kesyariat islam “ dan dia bertekat setelah sampai di Minangkabau akan mengembangkan paham wahabi ini.<br />
<br />
Haji Miskin selalu menganjurkan dalam setiap pertemuan melarang anak negeri mengadu ayam, kerbau, dan sapi serta mengisap madat karena hal tersebut dilarang olah agama Islam. Kampanye Haji Miskin tersebut selalu dilakukan disekitar pasar Baruah, karena pasar Baruah Pandai Sikek adalah salah satu pasar terbesar di VI Koto karena berada pada persimpangan strategis antara daratan minangkabau pedalaman dengan pantai padang yang yang merupakan tempat menghimpun hasil bumi akasia dan kopi untuk diperdagangkan pada zaman awal abad ke-19. Untuk menuju ke Padang dari Luak Agam harus melewati Pandai Sikek- Singgalang dan turun ke Kayu Tanam Pariaman. Sehingga Pandai Sikek disebut juga “ ujuang darek kapalo rantau “.<br />
<br />
Untuk menertibkan perdagangan di  pasar Baruah Pandai Sikek Haji Miskin dibantu oleh seorang penghulu Datuak Batuah dengan inisiatifnya mencoba pembaharuan supaya perdagangan di Pandai Sikek yang sedang berkembang dapat ditertipkan.<br />
<br />
Di Pasar ini uang mengalir masuk kepada masyarakat dan langsung dihambur-hamburkan dalam gelanggang adu jago, adu kerbau, adu sapi dan minum tuak serta menghisap candu, semuanya ini mengobarkan nafsu dan mengoyahkan pendirian pada akhir keseibukan pasar, nafsu dengan mudah meletus dengan perkelahian, perampokan dan bahkan pembunuhan.<br />
<br />
Haji Miskin bersama Datuah Batuah selalu tak henti-hentinya berkotbah terhadap larangan nan salapan (8) yaitu : dilarang berbuat dago-dagi, sumbang salah, samun saka , umbuak umbi , curi maliang , tikam bunuah , sia baka ,dan  melakukan upeh racun .<br />
<br />
Rupanya Pandai Sikek terlalu berat untuk mendengarkan seruannya. Akhirnya, untuk menunjukkan bahwa ia betul-betul serius dalam usahanya, ia membakar Balai Adat Pandai Sikek pada tahun 1804, yang merupakan kebanggaan dan kejayaan nagari, dan kemudian melarikan diri ke Koto Laweh.<br />
<br />
Pada Tahap ini Haji Miskin rupanya berfikir bahwa kegagalannya di Pandai Sikek adalah karena kurangnya guru-guru agama yang menonjol yang bisa memberi bobot pada usahanya. Koto Laweh berbeda dari Pandai Sikek, adalah pusat upaya Syattariyah lama. Disini bersama Jalaluddin bergelar Faqih Saghir  dan Tuanku Mansiangan memulai seruannya “ kembali ke syariat Islam”. Paham wahabi mulai dikembangkan dengan dukungan Tuanku Mansiangan. Setiap masyarakat harus menganut Islam yang murni, kalau semuanya gagal, kekerasan harus dipakai untuk mengubah negara menjadi Islam. Tuanku Mansiangan menjadi pelindung Haji Miskin, yang lambat laut memperoleh pengikut di Koto Laweh. Namun, dia juga mendapat perlawanan di Koto Laweh pecah menjadi dua kubu disusul dengan perkelahian. Dalam suatu perkel;ahian yang sangat seru Haji Miskin kalah dan terpaksa mencari perlindungan di Bukit Kamang.<br />
<br />
Perlindung Haji Miskin yang baru di daerah pegunungan Bukik Kamang  adalah Tuanku Nan Rinceh. Dengan kemunculan Haji Miskin di Bansa pada kira-kira tahun 1805, tujuan perjungan Tuanku Nan Rinceh tampak lebih beraspek militan untuk mengajak daerah Luak Agam dan sekitarnya kembali ke syariat Islam, nagari-nagari yang membangkang diperangi. Semua gelanggang tempat judi dihancurkan.<br />
<br />
Gerakan Paderi yang merupakan gerakan yang tujuan utamanya adalah memaksakan hukum Islam disetiap nagari. Perkenalan dengan sistem hukum Islam memang tujuan Paderi, dan administrasi nagari diubah mengikuti jalur pembaharuan yang dilakukan kaum Wahhabi di Arab. Namun, di Minangkabau sistem suku sudah terlalu kukuh sehingga inovasi ini mendapat tantangan dengan dewan penghulu. Tetapi pada nagari yang telah ditundukkan oleh kaum Paderi diwajibkan mengangkat seorang Kadi yang berfungsi mendampingi dewan nagari  yang bertugas dalam hal yang  berkaitan dengan Islam,upacara dan kewajibannya dialah hakim agungnya, dan setiap nagari harus mempunyai imam yang bertugas menguraikan secara rinci ayat-ayat suci dan melaksanakan upacara-upacara keagamaan. Selain itu, juga diangkat pengawas untuk mengawasi orang-orang yang tidak hadir pada waktu sembahyang, atau hanya membiarkan lututnya tidak tertutup. Sehingga berperan orang nan ampek jinih untuk kelompok adat (penghulu,malin, manti dan dubalang ) dan orang jinih nan ampek untuk kelompok Paderi ( kadi, imam, katik dan bilal ) sehingga hal ini dilukiskan ddalam adat yang disebutkan “ syarak mangato, adaik mamakai “.<br />
<br />
Setelah syariat Islam berkembang di Luak Agam yang dikembangkan bersama Tuanku Nan Rinceh dan Harimau Nan Salapan . Pada tahun 1811, Haji Miskin meninggalkan Bukik Kamang pergi ke Limapuluh Koto untuk menyebarkan ajarannya. Dia menetap di Aie Tabik di lereng Gunung Sago yang kaya dengan kopi, dan menjadi terkenal karena ajarannya dan cara hidupnya yang saleh dan sederhana dengan banyak larangan bagi dirinya sendiri. Di Aie Tabik, ia mendapat dukungan  berbagai orang yang berpengaruh, baik penghulu maupun penguasa adat, meskipun mula-mula ada tantangan dari nagari, akhirnya dewan nagari menyetujui dengan suuara bulat untuk mengikuti ajaran Quran secara lebih cermat. Nagari-nagari di Limapuluhkota segera menyatakan niatnya untuk melakukan hal yang sama, baik karena keyakinan maupun karena takut serbuan dari Agam kalau mereka tidak mengikuti ajaran baru ini.<br />
<br />
Ketika Belanda pertamakali masuk pada tahun 1833 ke Limapuluhkoto, mereka mendapatkan bahwa pengikut Paderi dengan penuh semangat bekerja untuk memperbaiki prospek dagangnya; jalan dan jembatan terawat baik, rumah-rumah besar dan menarik, dan dipasar tidak terdengar pertengkaran, masing-masing menanyakan harga dan membayarnya kalau sesuai dengan keinginan mereka, tanpa tawar-tawar menawar.<br />
<br />
Haji Miskin bersama Jalaluddin bergelar Faqih Saghir  membangun Nagari Aie Tabik di Kaki Gunung Sago. Dan dibantu oleh Tuanku Nan Pahit yang bergelar Malin Putiah dari Sarilamak. Tiga trio ini membangun sebuah benteng yang diberi nama “Benteng Bukik Qawiy” yang artinya benteng yang kuat.<br />
<br />
Selanjutnya marilah kita simak tambo yang dimiliki oleh datuak Rajo Makhudum , suku Bendang, aie tabik . Diceritakan bahwa, pada tahun 1237 H atau pada serkitar tahun 1816 M. Berjalanlah Haji Miskin, Haji Jalaluddin bergelar Pakih Saghir dan Tuanku Nan Pahit bergelar Malin Putiah menuju Gadut Tebing Tinggi : mambao baka saganoknyo, manjunjuang buntie dibahunyo, barisi lado jo bareh, bawang jo garam, ditambah oleh uncu ganti ameh kabaka dijalan, lapek bareh tak basaka, daun pambukuihnyo dibuang supayo lapek tahan bahari-hari, indak rasan dan indak basi.<br />
<br />
Pai kama katigonyo ? Pai jauah arah ka Halaban, taruih ka Lintau dari sinan ka Puncak Pato, Batu Bulek. Disinan urang “marapekkan alam”. Urang adat jo malin ugamo, langkok urang cadiak candokio, supayo nak maju agamo kito, ugamo Islam, supayo jan taturuik urang kapie Nasrani jo Yahudi. Adaik jo syarak nak basatu, sandinyo kitab Allah Ta’ala.<br />
<br />
Alun sabelok tigo sarangkai tuanku pulang dari Bukik Pato marapekkan alam. Tajadi gaduah basosoh, mambao kalewang jo gadubang, umban tali bagai, mako pulang syahidlah H.Miskin, parang dijalan Allah, dikubuakan di Bukik Gadang, indak jauah dari Bukik Qawiy. Harato Allah pulang ka Allah, urang nan punyo datang manjapuik. Ado tahalie, sapakan lamonyo simusajik Sungai Landai, Aie tabik.<br />
<br />
Yang menarik dari catatan ini adalah Pertama : Sumpah Satie Bukik Marapalam dilaksanakan pada tahun 1816 M dimana dalam catatan disebutkan. Adaik jo syarak nak basatu, sandinyo kitab Allah Ta’ala. Bolehlah kita rumuskan filosofi Minagkabau sekarang “Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”. Penganti pedoman hidup yang lama“ syarak mangato, adat mamakai, atau  adat basandi syarak, syarak basandi adat “.<br />
<br />
Kedua adalah Haji Miskin gugur di bukik Qawiy Nagari Aie Tabik Payakumbuh, dan dimakamkan di kaki Bukik Gadang,tidak jauh dari benteng Bukik Qawiy. Dan timbul pertanyaan Siapakah yang berkubur di Guguak Sigandang Pandai Sikek ???? (Saifulguci,3 Februari 2012). Dikutip dari Sumber :<br />
<br />
1.    Christine Dobbin (1980) Islamic Revitalism in a Changing Peasant Economy Central Sumatra,1784-1847.<br />
<br />
2.    H.Kamardi Rais Dt.P.Simulie (2005) Mesin Ketik Tua<br />
<br />
3.    Muhamad Rajab (1964) Perang Paderi di Sumatera Barat]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Sejarah Suku Minang]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Sejarah-Suku-Minang</link>
			<pubDate>Sun, 02 Sep 2012 15:37:24 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Sejarah-Suku-Minang</guid>
			<description><![CDATA[Suatu siang di sebuah kawasan di Ranah Minang. Puluhan warga memadati arena pertandingan. Di tengah lapangan, dua ekor kerbau kekar saling berhadapan. Mereka akan diadu untuk ditetapkan sebagai sang juara. Itulah sepintas adu kerbau yang menjadi budaya turun-temurun masyarakat Minangkabau, Sumatra Barat. Budaya warisan leluhur yang telah berlangsung ratusan tahun itu sampai kini masih dijaga dengan baik oleh masyarakat Minang.<br />
<br />
<br />
Minangkabau. Suku besar di wilayah Sumatra Barat ini kaya akan warisan sejarah dan minangkabau2.jpgbudaya. Minangkabau diambil dari kata minang yang berarti kemenangan dan kabau yang berarti kerbau. Dengan kata lain Minangkabau berarti “Kerbau yang Menang”. Penamaan ini berhubungan erat dengan sejarah terbentuknya Minangkabau yang diawali kemenangan dalam suatu pertandingan adu kerbau untuk mengakhiri peperangan melawan kerajaan besar dari Pulau Jawa.<br />
<br />
Suku Minangkabau memang mempunyai keterkaitan yang sangat erat dengan hewan ternak berkaki empat yang disebut kerbau. Itu antara lain terlihat pada berbagai identitas budaya Minang, seperti atap rumah tradisional mereka (Rumah Bogonjong). Rumah adat yang kerap disebut juga Rumah Gadang itu berbentuk seperti tanduk kerbau. Begitu pula pada pakaian wanitanya (Baju Tanduak Kabau).<br />
<br />
Sudah beratus-ratus tahun lamanya kerbau menjadi salah satu hewan terfavorit di Provinsi Sumbar. Badan kerbau yang besar dan kekar dianggap mampu membantu berbagai macam pekerjaan manusia. Salah satu pekerjaan kuno yang dikerjakan dengan bantuan tenaga kerbau adalah menggiling tebu. Dengan alat sederhana, sang kerbau diikat di sebilah bambu yang terhubung pada alat pemeras tebu tradisional. Selama delapan jam bekerja, sang kerbau terus-menerus berputar mengelilingi alat pemeras. Uniknya, agar sang kerbau tidak pusing kepala, mata hewan itu ditutup dengan dua buah batok kelapa yang dilapisi kain.<br />
<br />
Air tebu hasil perasan sang kerbau itulah yang kemudian menjadi cikal bakal pembuatan gula merah tradisional. Masyarakat Minang percaya gula merah hasil kerja keras sang kerbau lebih gurih ketimbang dari alat modern.<br />
<br />
Dari sisi sejarah, hewan kerbau bagi suku besar di Sumbar ini telah mengantarkan kejayaan mereka di masa silam. Konon, dahulu kala karena bantuan kerbau-lah masyarakat di Sumbar menang perang melawan suku Jawa. Akhirnya sampai sekarang mereka menamakan dirinya sebagai suku Minangkabau. “Jadi perang tak berakhir juga, jadi kami usulkan untuk adu saja kerbau. Oleh pihak penyerang dicarilah kerbau yang terbesar di daerahnya ditempatkan di tengah ladang. Orang sini hanya anak kerbau yang sedang menyusu. Karena kerbau yang sudah dua hari tak minum susu, dia lari mengejar susu ibunya. Jadi perut kerbau besar itu robek dan dia lari,” kisah Datuk Bandaro Panjang, pemuka adat.<br />
<br />
Kisah sang kerbau ternyata tak hanya menjadi legenda semata. Hingga kini pasar ternak di Sumbar pun lebih banyak menjual kerbau ketimbang sapi. Sistem penjualan ternak orang Minang pun cukup unik. Berbeda dengan pasar sayur tradisional di pasar ternak ini tidak akan terdengar sepatah kata pun antara sang penjual dan pembeli. Transaksi yang berlaku hanya menggunakan tangan. Jari-jari tangan dipakai sebagai alat perhitungan harga jual ternak yang akan dibeli.<br />
<br />
Badan padat, kaki kekar dan mata tajam. Itulah ciri khas Si Borgol, kerbau kesayangan Kati Sutan, petani Ranah Minang. Bagi Kati Sutan, memiliki kerbau seperti Borgol ibarat memiliki harta yang sangat berharga dan juga kehormatan. Borgol bukanlah sembarang kerbau. Ia seekor kerbau aduan yang sudah menang lima kali pertandingan. Karena kehebatan itulah, hewan tersebut kemudian mendapat gelar borgol yang berarti kuat mengunci lawan.<br />
<br />
Tak hanya untuk hobi semata, kesenangan Kati Sutan mengikuti adu kerbau juga untuk meneruskan tradisi budaya Minangkabau. Ketangguhan Si Borgol yang sudah lima kali memenangkan pertandingan itu membuat Kati Sutan terkenal di kampungnya. Setelah berumur dua tahun, kerbau yang memiliki potensi sebagai aduan biasanya mulai dilatih oleh pemiliknya. Kali ini, Borgol pun akan dilatih untuk mempersiapkan kekuatan fisiknya menjelang pertandingan. Calon lawan tanding latihan harus sesuai berat tubuh Si Borgol. Sebab jika tidak imbang, latihan tarung itu akan percuma.<br />
<br />
Latihan tarung kerbau paling lama dilakukan selama satu jam. Setelah yakin akan kekuatan Borgol, latihan tarung dihentikan. Kati Sutan sangat yakin kerbaunya akan menang kembali. Dalam adu kerbau tak hanya kekuatan kerbau yang menjadi andalan. Pemilik kerbau juga harus meminta jampi-jampi kepada dukun kerbau agar menang dalam pertandingan.<br />
<br />
Seusai latihan tarung, Kati Sutan pun meminta seorang dukun kerbau untuk menjampi-jampi Si Borgol. Seperti pertandingan sebelumnya, Kati Sutan meminta bantuan Sutan Marajo, dukun adu kerbau yang terkenal di kampungnya. Sang dukun membawa sejumlah bahan-bahan alam untuk membuat jamu andalan bagi Si Borgol.<br />
<br />
Bahan-bahan alam yang terdiri dari jahe, temulawak, lada dan daun-daunan alam lainnya mulai diracik. Di atas api besar, jamu-jamuan itu disangrai hingga gosong. Sementara keluarga Kati Sutan pun ikut membantu. Bahan lain untuk campuran jamu, seperti telur bebek, air jeruk nipis, minuman suplemen dan satu botol bir hitam turut disiapkan.<br />
<br />
Setelah semua bahan siap, Sutan Marajo pun mulai membacakan mantera dan membakar kemenyan. Ia berdoa agar kerbau yang dijampinya dapat memenangkan pertandingan. Jampi-jampi pun dicampur ramuan. Setelah itu, ramuan kemudian ditempatkan di selembar daun yang keesokan harinya akan diberikan kepada Si Borgol. Keluarga Kati Sutan pun lantas mempersiapkan Borgol sang jagoan untuk diadu keesokan harinya.<br />
<br />
Hari pertandingan pun tiba. Kati Sutan mulai bersiap-siap. Namun sebelum berangkat ke arena pertandingan masih ada sejumlah ritual yang harus dilakukan sang dukun, yakni meruncingkan tanduk milik Si Borgol. Tanduk merupakan salah satu bagian tubuh kerbau yang paling mudah untuk melukai lawan. Karenanya harus dibuat setajam mungkin. Dengan sebilah pisau Sutan Marajo menajamkan tanduk Si Borgol. Kini tanduk sang kerbau telah tajam laksana pedang.<br />
<br />
Ritual pun dilanjutkan. Seperti layaknya manusia, Borgol harus mandi dahulu sebelum maju ke arena pertarungan. Sambil membalurkan air ke tubuh Borgol, Sutan Marajo merapalkan jampi-jampi ajiannya agar jagoan Kati Sutan ini kuat melawan musuh. Sesudah acara mandi selesai, sang dukun memberikan ramuan jampi-jampinya yang dibuat kemarin sore. Tanpa melawan Borgol pun kemudian memakan ramuan sang dukun dengan lahapnya. Tak lupa tubuh tegap Borgol pun dibaluri lumpur dan jelaga agar terlihat gagah. Kini seluruh persiapan telah usai dilaksanakan. Borgol sang jagoan sudah tak sabar bertemu lawan tandingan.<br />
<br />
Siang itu di bawah sinar matahari, Borgol dilepas dari kandangnya. Bak seorang jagoan, dengan gagahnya Borgol berjalan keliling kampung menuju arena pertandingan. Letak arena pertandingan sekitar tujuh kilometer dari desa Kati Sutan. Namun ditemani sang dukun Sutan Marajo, Borgol tak gentar berjalan. Bahkan sesekali, kerbau kekar itu mulai berlari seakan tak sabar untuk bertemu sang penantang.<br />
<br />
Akhirnya sampai juga Borgol di lokasi pertandingan. Rupanya sang lawan telah menunggu di pojok arena. Lawan tangguh Borgol tersebut berasal dari desa tetangga. Berbeda dengan Borgol yang sudah ikut lima kali pertandingan, lawannya justru baru kali ini maju ke arena adu kerbau.<br />
<br />
Satu per satu penonton mulai berdatangan ke arena. Dengan tarif sebesar Rp 3.000, penonton dapat memilih tempat yang paling nyaman di sekeliling gelanggang. Awalnya adu kerbau dilakukan untuk mempertahankan tradisi suku Minangkabau. Sayang belakangan acara adu kerbau justru dimanfaatkan para penontonnya untuk bertaruh atau berjudi. Begitu pula dalam pertandingan Borgol. Dan Borgol-lah yang dijagokan. Hampir seluruh penonton bertaruh Borgol sang jagoan akan memenangkan pertandingan.<br />
<br />
Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Dua kerbau aduan dibawa ke tengah lapangan. Dan tanpa menunggu aba-aba lagi, kedua kerbau langsung saling mengejar. Tak disangka, Borgol yang dijagokan justru lari terbirit-birit menghindari lawan. Adu kerbau kali ini ternyata tak berjalan lama. Hanya dalam sekejap, Borgol menyerah kalah dan lari tunggang langgang ke luar arena. Para penonton pun pulang dengan penuh kekecewaan. Borgol sang jagoan ternyata tak mampu mempertahankan gelarnya. Rona kecewa juga terpancar di wajah Kati Sutan. Kekalahan Borgol seakan kehilangan kehormatan bagi keluarga Kati Sutan.(DEN/Lita Hariyani dan Binsar Rahadian)<br />
Sumber :liputan6.com]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Suatu siang di sebuah kawasan di Ranah Minang. Puluhan warga memadati arena pertandingan. Di tengah lapangan, dua ekor kerbau kekar saling berhadapan. Mereka akan diadu untuk ditetapkan sebagai sang juara. Itulah sepintas adu kerbau yang menjadi budaya turun-temurun masyarakat Minangkabau, Sumatra Barat. Budaya warisan leluhur yang telah berlangsung ratusan tahun itu sampai kini masih dijaga dengan baik oleh masyarakat Minang.<br />
<br />
<br />
Minangkabau. Suku besar di wilayah Sumatra Barat ini kaya akan warisan sejarah dan minangkabau2.jpgbudaya. Minangkabau diambil dari kata minang yang berarti kemenangan dan kabau yang berarti kerbau. Dengan kata lain Minangkabau berarti “Kerbau yang Menang”. Penamaan ini berhubungan erat dengan sejarah terbentuknya Minangkabau yang diawali kemenangan dalam suatu pertandingan adu kerbau untuk mengakhiri peperangan melawan kerajaan besar dari Pulau Jawa.<br />
<br />
Suku Minangkabau memang mempunyai keterkaitan yang sangat erat dengan hewan ternak berkaki empat yang disebut kerbau. Itu antara lain terlihat pada berbagai identitas budaya Minang, seperti atap rumah tradisional mereka (Rumah Bogonjong). Rumah adat yang kerap disebut juga Rumah Gadang itu berbentuk seperti tanduk kerbau. Begitu pula pada pakaian wanitanya (Baju Tanduak Kabau).<br />
<br />
Sudah beratus-ratus tahun lamanya kerbau menjadi salah satu hewan terfavorit di Provinsi Sumbar. Badan kerbau yang besar dan kekar dianggap mampu membantu berbagai macam pekerjaan manusia. Salah satu pekerjaan kuno yang dikerjakan dengan bantuan tenaga kerbau adalah menggiling tebu. Dengan alat sederhana, sang kerbau diikat di sebilah bambu yang terhubung pada alat pemeras tebu tradisional. Selama delapan jam bekerja, sang kerbau terus-menerus berputar mengelilingi alat pemeras. Uniknya, agar sang kerbau tidak pusing kepala, mata hewan itu ditutup dengan dua buah batok kelapa yang dilapisi kain.<br />
<br />
Air tebu hasil perasan sang kerbau itulah yang kemudian menjadi cikal bakal pembuatan gula merah tradisional. Masyarakat Minang percaya gula merah hasil kerja keras sang kerbau lebih gurih ketimbang dari alat modern.<br />
<br />
Dari sisi sejarah, hewan kerbau bagi suku besar di Sumbar ini telah mengantarkan kejayaan mereka di masa silam. Konon, dahulu kala karena bantuan kerbau-lah masyarakat di Sumbar menang perang melawan suku Jawa. Akhirnya sampai sekarang mereka menamakan dirinya sebagai suku Minangkabau. “Jadi perang tak berakhir juga, jadi kami usulkan untuk adu saja kerbau. Oleh pihak penyerang dicarilah kerbau yang terbesar di daerahnya ditempatkan di tengah ladang. Orang sini hanya anak kerbau yang sedang menyusu. Karena kerbau yang sudah dua hari tak minum susu, dia lari mengejar susu ibunya. Jadi perut kerbau besar itu robek dan dia lari,” kisah Datuk Bandaro Panjang, pemuka adat.<br />
<br />
Kisah sang kerbau ternyata tak hanya menjadi legenda semata. Hingga kini pasar ternak di Sumbar pun lebih banyak menjual kerbau ketimbang sapi. Sistem penjualan ternak orang Minang pun cukup unik. Berbeda dengan pasar sayur tradisional di pasar ternak ini tidak akan terdengar sepatah kata pun antara sang penjual dan pembeli. Transaksi yang berlaku hanya menggunakan tangan. Jari-jari tangan dipakai sebagai alat perhitungan harga jual ternak yang akan dibeli.<br />
<br />
Badan padat, kaki kekar dan mata tajam. Itulah ciri khas Si Borgol, kerbau kesayangan Kati Sutan, petani Ranah Minang. Bagi Kati Sutan, memiliki kerbau seperti Borgol ibarat memiliki harta yang sangat berharga dan juga kehormatan. Borgol bukanlah sembarang kerbau. Ia seekor kerbau aduan yang sudah menang lima kali pertandingan. Karena kehebatan itulah, hewan tersebut kemudian mendapat gelar borgol yang berarti kuat mengunci lawan.<br />
<br />
Tak hanya untuk hobi semata, kesenangan Kati Sutan mengikuti adu kerbau juga untuk meneruskan tradisi budaya Minangkabau. Ketangguhan Si Borgol yang sudah lima kali memenangkan pertandingan itu membuat Kati Sutan terkenal di kampungnya. Setelah berumur dua tahun, kerbau yang memiliki potensi sebagai aduan biasanya mulai dilatih oleh pemiliknya. Kali ini, Borgol pun akan dilatih untuk mempersiapkan kekuatan fisiknya menjelang pertandingan. Calon lawan tanding latihan harus sesuai berat tubuh Si Borgol. Sebab jika tidak imbang, latihan tarung itu akan percuma.<br />
<br />
Latihan tarung kerbau paling lama dilakukan selama satu jam. Setelah yakin akan kekuatan Borgol, latihan tarung dihentikan. Kati Sutan sangat yakin kerbaunya akan menang kembali. Dalam adu kerbau tak hanya kekuatan kerbau yang menjadi andalan. Pemilik kerbau juga harus meminta jampi-jampi kepada dukun kerbau agar menang dalam pertandingan.<br />
<br />
Seusai latihan tarung, Kati Sutan pun meminta seorang dukun kerbau untuk menjampi-jampi Si Borgol. Seperti pertandingan sebelumnya, Kati Sutan meminta bantuan Sutan Marajo, dukun adu kerbau yang terkenal di kampungnya. Sang dukun membawa sejumlah bahan-bahan alam untuk membuat jamu andalan bagi Si Borgol.<br />
<br />
Bahan-bahan alam yang terdiri dari jahe, temulawak, lada dan daun-daunan alam lainnya mulai diracik. Di atas api besar, jamu-jamuan itu disangrai hingga gosong. Sementara keluarga Kati Sutan pun ikut membantu. Bahan lain untuk campuran jamu, seperti telur bebek, air jeruk nipis, minuman suplemen dan satu botol bir hitam turut disiapkan.<br />
<br />
Setelah semua bahan siap, Sutan Marajo pun mulai membacakan mantera dan membakar kemenyan. Ia berdoa agar kerbau yang dijampinya dapat memenangkan pertandingan. Jampi-jampi pun dicampur ramuan. Setelah itu, ramuan kemudian ditempatkan di selembar daun yang keesokan harinya akan diberikan kepada Si Borgol. Keluarga Kati Sutan pun lantas mempersiapkan Borgol sang jagoan untuk diadu keesokan harinya.<br />
<br />
Hari pertandingan pun tiba. Kati Sutan mulai bersiap-siap. Namun sebelum berangkat ke arena pertandingan masih ada sejumlah ritual yang harus dilakukan sang dukun, yakni meruncingkan tanduk milik Si Borgol. Tanduk merupakan salah satu bagian tubuh kerbau yang paling mudah untuk melukai lawan. Karenanya harus dibuat setajam mungkin. Dengan sebilah pisau Sutan Marajo menajamkan tanduk Si Borgol. Kini tanduk sang kerbau telah tajam laksana pedang.<br />
<br />
Ritual pun dilanjutkan. Seperti layaknya manusia, Borgol harus mandi dahulu sebelum maju ke arena pertarungan. Sambil membalurkan air ke tubuh Borgol, Sutan Marajo merapalkan jampi-jampi ajiannya agar jagoan Kati Sutan ini kuat melawan musuh. Sesudah acara mandi selesai, sang dukun memberikan ramuan jampi-jampinya yang dibuat kemarin sore. Tanpa melawan Borgol pun kemudian memakan ramuan sang dukun dengan lahapnya. Tak lupa tubuh tegap Borgol pun dibaluri lumpur dan jelaga agar terlihat gagah. Kini seluruh persiapan telah usai dilaksanakan. Borgol sang jagoan sudah tak sabar bertemu lawan tandingan.<br />
<br />
Siang itu di bawah sinar matahari, Borgol dilepas dari kandangnya. Bak seorang jagoan, dengan gagahnya Borgol berjalan keliling kampung menuju arena pertandingan. Letak arena pertandingan sekitar tujuh kilometer dari desa Kati Sutan. Namun ditemani sang dukun Sutan Marajo, Borgol tak gentar berjalan. Bahkan sesekali, kerbau kekar itu mulai berlari seakan tak sabar untuk bertemu sang penantang.<br />
<br />
Akhirnya sampai juga Borgol di lokasi pertandingan. Rupanya sang lawan telah menunggu di pojok arena. Lawan tangguh Borgol tersebut berasal dari desa tetangga. Berbeda dengan Borgol yang sudah ikut lima kali pertandingan, lawannya justru baru kali ini maju ke arena adu kerbau.<br />
<br />
Satu per satu penonton mulai berdatangan ke arena. Dengan tarif sebesar Rp 3.000, penonton dapat memilih tempat yang paling nyaman di sekeliling gelanggang. Awalnya adu kerbau dilakukan untuk mempertahankan tradisi suku Minangkabau. Sayang belakangan acara adu kerbau justru dimanfaatkan para penontonnya untuk bertaruh atau berjudi. Begitu pula dalam pertandingan Borgol. Dan Borgol-lah yang dijagokan. Hampir seluruh penonton bertaruh Borgol sang jagoan akan memenangkan pertandingan.<br />
<br />
Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Dua kerbau aduan dibawa ke tengah lapangan. Dan tanpa menunggu aba-aba lagi, kedua kerbau langsung saling mengejar. Tak disangka, Borgol yang dijagokan justru lari terbirit-birit menghindari lawan. Adu kerbau kali ini ternyata tak berjalan lama. Hanya dalam sekejap, Borgol menyerah kalah dan lari tunggang langgang ke luar arena. Para penonton pun pulang dengan penuh kekecewaan. Borgol sang jagoan ternyata tak mampu mempertahankan gelarnya. Rona kecewa juga terpancar di wajah Kati Sutan. Kekalahan Borgol seakan kehilangan kehormatan bagi keluarga Kati Sutan.(DEN/Lita Hariyani dan Binsar Rahadian)<br />
Sumber :liputan6.com]]></content:encoded>
		</item>
	</channel>
</rss>