<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
	<channel>
		<title><![CDATA[Minang Forum - Legenda / Cerita Rakyat Minangkabau]]></title>
		<link>http://www.minangforum.com/</link>
		<description><![CDATA[Minang Forum - http://www.minangforum.com]]></description>
		<pubDate>Thu, 20 Jun 2013 02:47:56 +0000</pubDate>
		<generator>MyBB</generator>
		<item>
			<title><![CDATA[@@@Asal Usul Danau Maninjau@@@]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Asal-Usul-Danau-Maninjau</link>
			<pubDate>Fri, 14 Sep 2012 07:29:31 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Asal-Usul-Danau-Maninjau</guid>
			<description><![CDATA[<div align="justify"><a href="http://kampuangkubang.files.wordpress.com/2012/02/maninjau_l.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://kampuangkubang.files.wordpress.com/2012/02/maninjau_l.jpg?w=614" border="0" alt="[Image: maninjau_l.jpg?w=614]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a></div>
<div align="justify"><span style="font-weight: bold;">Asal Usul Danau Maninjau</span></div>
<div align="justify">Kisah di sebuah daerah di Sumatra Barat <br />
ada sebuah gunung berapi yang amat tinggi bernama Gunung Tinjau. Di <br />
puncaknya terdapat sebuah kawah yang luas, dan di kakinya terdapat <br />
beberapa perkampungan. Penduduknya hidup makmur dan sejahtera, karena <br />
mereka sangat rajin bertani. Di samping itu, tanah yang ada di sekitar <br />
Gunung Tinjau amat subur, karena sering mendapat pupuk alami berupa abu<br />
gunung.</div>
Di salah satu perkampungan di kaki Gunung Tinjau itu tinggal sepuluh<br />
orang bersaudara yang terdiri dari sembilan lelaki dan seorang <br />
perempuan. Penduduk sekitar biasa memanggil mereka Bujang Sembilan. <br />
Kesepuluh orang bersaudara tersebut adalah Kukuban, Kudun, Bayua, <br />
Malintang, Galapuang, Balok, Batang, Bayang, dan lelaki termuda bernama<br />
Kaciak. Sementara adik mereka yang paling bungsu adalah seorang <br />
perempuan bernama Siti Rasani, akrab dipanggil Sani. Kedua orangtua <br />
mereka sudah lama meninggal, sehingga Kukuban sebagai anak sulung <br />
menjadi kepala rumah tangga. Semua keputusan ada di tangannya.<br />
<br />
Kesepuluh bersaudara tersebut tinggal di sebuah rumah peninggalan <br />
kedua orangtua mereka. Untuk memenuhi kebutuhannya, mereka menggarap <br />
lahan pertanian yang cukup luas warisan kedua orangtua mereka. Mereka <br />
sangat terampil bertani, karena mereka rajin membantu ayah dan ibunya <br />
ketika keduanya masih hidup. Di samping itu, mereka juga dibimbing oleh<br />
paman mereka yang bernama Datuk Limbatang, yang akrab mereka panggil <br />
Engku.<br />
<br />
Datuk Limbatang adalah seorang mamak di kampung itu dan mempunyai <br />
seorang putra yang bernama Giran. Sebagai mamak, Datuk Limbatang <br />
memiliki tanggungjawab besar untuk mendidik dan memerhatikan kehidupan <br />
warganya, termasuk kesepuluh orang kemenakannya tersebut. Untuk itu, <br />
setiap dua hari sekali, ia berkunjung ke rumah Kukuban bersaudara untuk<br />
mengajari mereka keterampilan bertani dan berbagai tata cara adat <br />
daerah itu. Tak jarang pula Datuk Limbatang mengajak istri dan putranya<br />
ikut serta bersamanya.<br />
<br />
Pada suatu hari, ketika Datuk Limbatang bersama istri dan Giran <br />
berkunjung ke rumah Bujang Sembilan, secara tidak sengaja Sani saling <br />
berpandangan dengan Giran. Rupanya, kedua pemuda dan gadis itu <br />
sama-sama menaruh hati. Giran pun mengajak Sani untuk bertemu di sebuah<br />
ladang di pinggir sungai. Dengan hati berdebar, Giran pun <br />
mengungkapkan perasaannya kepada Sani.<br />
<br />
<div align="justify">“Sudah lama merendam selasih<br />
<br />
Barulah kini mau mengembang<br />
<br />
Sudah lama kupendam kasih<br />
<br />
Barulah kini bertemu pandang”</div>
“Telah lama orang menekat<br />
<br />
Membuat baju kebaya lebar<br />
<br />
Sudah lama abang terpikat<br />
<br />
Hendak bertemu dada berdebar”<br />
<br />
“Rupa elok perangaipun cantik<br />
<br />
Hidupnya suka berbuat baik<br />
<br />
Orang memuji hilir dan mudik<br />
<br />
Siapa melihat hati tertarik”<br />
<br />
<div align="justify">“Dik, Sani! Wajahmu cantik nan elok, perangai baik nan berhati lembut. Maukah engkau menjadi kekasih Abang?” tanya Giran.</div>
Pertanyaan itu membuat jantung Sani berdetak kencang. Dalam hatinya,<br />
ia juga suka kepada Giran. Maka ia pun membalasnya dengan untaian <br />
pantun.<br />
<br />
“Buah nangka dari seberang<br />
<br />
Sedap sekali dibuat sayur<br />
<br />
Sudah lama ku nanti abang<br />
<br />
Barulah kini dapat menegur”<br />
<br />
“Jika roboh kota Melaka<br />
<br />
Papan di Jawa saya tegakkan<br />
<br />
Jika sungguh Kanda berkata<br />
<br />
Badan dan nyawa saya serahkan”<br />
<br />
Alangkah senang hati Giran mendengar jawaban dari Sani. Ia benar-benar merasa bahagia karena cintahnya bersambut.<br />
<br />
<div align="justify">Maka sejak itu, Giran dan Sani menjalin <br />
hubungan kasih. Pada mulanya, keduanya berniat untuk menyembunyikan <br />
hubungan mereka. Namun karena khawatir akan menimbulkan fitnah, <br />
akhirnya keduanya pun berterus terang kepada keluarga mereka <br />
masing-masing. Mengetahui hal itu, keluarga Giran dan Sani pun merasa <br />
senang dan bahagia, karena hal tersebut dapat mempererat hubungan <br />
kekeluargaan mereka. Sejak menjalin hubungan dengan Sani, Giran <br />
seringkali berkunjung ke rumah Bujang Sembilan. Bahkan, ia sering <br />
membantu Bujang Sembilan bekerja di sawah.</div>
Ketika musim panen tiba, semua penduduk kampung memperoleh hasil <br />
yang melimpah. Untuk merayakan keberhasilan tersebut, para pemuka adat <br />
dan seluruh penduduk bersepakat untuk mengadakan gelanggang perhelatan,<br />
yaitu adu ketangkasan bermain silat. Para pemuda kampung menyambut <br />
gembira acara tersebut. Dengan semangat berapi-api, mereka segera <br />
mendaftarkan diri kepada panitia acara. Tidak ketinggalan pula Kukuban <br />
dan Giran turut ambil bagian dalam acara tersebut.<br />
<br />
Pada hari yang telah ditentukan, seluruh peserta berkumpul di sebuah<br />
tanah lapang. Sorak sorai penonton pun terdengar mendukung jagoannya <br />
masing-masing. Beberapa saat kemudian, panitia segera memukul gong <br />
pertanda acara dimulai. Rupanya, Kukuban mendapat giliran pertama <br />
tampil bersama seorang lawannya dari dusun tetangga. Tampak keduanya <br />
saling berhadap-hadapan di tengah arena untuk saling adu ketangkasan. <br />
Siapa pun yang menang dalam pertarungan itu, maka dia akan melawan <br />
peserta berikutnya. Ternyata, Kukuban berhasil mengalahkan lawannya. <br />
Setelah itu, peserta berikutnya satu per satu masuk ke arena gelanggang<br />
perhelatan untuk melawan Kukuban, namun belum seorang pun yang mampu <br />
mengalahkannya. Masih tersisa satu peserta lagi yang belum maju, yakni <br />
si Giran. Kini, Kukuban menghadapi lawan yang seimbang.<br />
<br />
“Hai, Giran! Majulah kalau berani!” tantang Kukuban.<br />
<br />
“Baiklah, Bang! Bersiap-siaplah menerima seranganku!” jawab Giran dan langsung menyerang Kukuban.<br />
<br />
Maka terjadilah pertarungan sengit antara Giran dan Kukuban. <br />
Mulanya, Giran melakukan serangan secara bertubi-tubi ke arah Kububan, <br />
namun semua serangannya mampu dielakkan oleh Kukubun. Beberapa saat <br />
kemudian, keadaan jadi terbalik. Kukuban yang balik menyerang. Ia terus<br />
menyerang Giran dengan jurus-jurus andalannya secara bertubi-tubi. <br />
Giran pun terdesak dan kesulitan menghindari serangannya. Pada saat <br />
yang tepat, Kukuban melayangkan sebuah tendangan keras kaki kirinya ke <br />
arah Giran. Giran yang tidak mampu lagi menghindar, terpaksa <br />
menangkisnya dengan kedua tangannya.<br />
<br />
“Aduh, sakit…! Kakiku patah!” pekik Kukuban dan langsung berguling di tanah sambil menjerit kesakitan.<br />
<br />
Rupanya, tangkisan Giran itu membuat kaki kirinya patah. Ia pun <br />
tidak mampu lagi melanjutkan pertandingan dan dinyatakan kalah dalam <br />
gelanggang tersebut. Sejak itu, Kukuban merasa kesal dan dendam <br />
terhadap Giran karena merasa telah dipermalukan di depan umum. Namun, <br />
dendam tersebut dipendamnya dalam hati.<br />
<br />
Beberapa bulan kemudian, dendam Kukuban yang dipendam dalam hati itu<br />
akhirnya terungkap juga. Hal itu bermula ketika suatu malam, yakni <br />
ketika cahaya purnama menerangi perkampungan sekitar Gunung Tinjau, <br />
Datuk Limbatang bersama istrinya berkunjung ke rumah Bujang Sembilan. <br />
Kedatangan orangtua Giran tersebut bukan untuk mengajari mereka cara <br />
bercocok tanam atau tata cara adat, melainkan ingin menyampaikan <br />
pinangan Giran kepada Sani.<br />
<br />
“Maaf, Bujang Sembilan! Maksud kedatangan kami kemari ingin lebih <br />
mempererat hubungan kekeluargaan kita,” ungkap Datuk Limbatang.<br />
<br />
“Apa maksud, Engku?” tanya si Kudun bingung.<br />
<br />
“Iya, Engku! Bukankah hubungan kekeluargaan kita selama ini baik-baik saja?” sambung Kaciak.<br />
<br />
“Memang benar yang kamu katakan itu, Anakku,” jawab Datuk Limbatang <br />
yang sudah menganggap Bujang Sembilan seperti anaknya sendiri.<br />
<br />
“Begini, Anak-anakku! Untuk semakin mengeratkan hubungan keluarga <br />
kita, kami bermaksud menikahkan Giran dengan adik bungsu kalian, Siti <br />
Rasani,” ungkap Datuk Limbatang.<br />
<br />
“Pada dasarnya, kami juga merasakan hal yang sama, Engku! Kami <br />
merasa senang jika Giran menikah dengan adik kami. Giran adalah pemuda <br />
yang baik dan rajin,” sambut si Kudun.<br />
<br />
Namun, baru saja kalimat itu lepas dari mulut si Kudun, tiba-tiba terdengar suara bentakan yang sangat keras dari Kukuban.<br />
<br />
“Tidak! Aku tidak setuju dengan pernikahan mereka! Aku tahu siapa Giran,” seru Kukuban dengan wajah memerah.<br />
<br />
“Dia pemuda sombong, tidak tahu sopan santun dan kurang ajar. Dia tidak pantas menjadi suami Sani,” tambahnya.<br />
<br />
“Mengapa kamu berkata begitu, Anakku? Adakah perkataan atau <br />
perilakunya yang pernah menyinggung perasaanmu?” tanya Datuk Limbatang <br />
dengan tenang.<br />
<br />
“Ada, Engku! Masih ingatkah tindakan Giran terhadapku di gelanggang <br />
perhelatan beberapa bulan yang lalu? Dia telah mematahkan kaki kiriku <br />
dan sampai sekarang masih ada bekasnya,” jawab Kukuban sambil <br />
menyingsingkan celana panjangnya untuk memperlihatkan bekas kakinya <br />
yang patah.<br />
<br />
“Oooh, itu!” jawab Datuk Limbatang singkat sambil tersenyum.<br />
<br />
“Soal kaki terkilir dan kaki patah, kalah ataupun menang dalam <br />
gelanggan itu hal biasa. Memang begitu kalau bertarung,” ujar Datuk <br />
Limbatang.<br />
<br />
“Tapi, Engku! Anak Engku telah mempermalukanku di depan orang banyak,” sambut Kukuban.<br />
<br />
“Aku kira Giran tidak bermaksud mempermalukan saudaranya sendiri,” kata Datuk Limbatang.<br />
<br />
“Ah, itu kata Engku, karena ingin membela anak sendiri! Di mana <br />
keadilan Engku sebagai pemimpin adat?” bantah Kukuban sambil <br />
menghempaskan tangannya ke lantai.<br />
<br />
Semua yang ada dalam pertemuan itu terdiam. Kedelapan saudaranya tak<br />
satu pun yang berani angkat bicara. Suasana pun menjadi hening dan <br />
tegang. Kecuali Datuk Limbatang, yang terlihat tenang.<br />
<br />
“Maaf, Anakku! Aku tidak membela siapa pun. Aku hanya mengatakan <br />
kebenaran. Keadilan harus didasarkan pada kebenaran,” ujar Datuk <br />
Limbatang.<br />
<br />
“Kebenaran apalagi yang Engku maksud. Bukankah Giran telah nyata-nyata mencoreng mukaku di tengah keramaian?”<br />
<br />
“Ketahuilah, Anakku! Menurut kesaksian banyak orang yang melihat <br />
peristiwa itu, kamu sendiri yang menyerang Giran yang terdesak dengan <br />
sebuah tendangan keras, lalu ditangkis oleh Giran. Tangkisan itulah <br />
yang membuat kakimu patah. Apakah menurutmu menangkis serangan itu <br />
perbuatan curang dan salah?” tanya Datuk Limbatang.<br />
<br />
Kukuban hanya terdiam mendengar pertanyaan itu. Walaupun dalam <br />
hatinya mengakui bahwa apa yang dikatakan Datuk Limbatang adalah benar,<br />
tetapi karena hatinya sudah diselimuti perasaan dendam, ia tetap tidak<br />
mau menerimanya.<br />
<br />
“Terserah Engku kalau tetap mau membela anak sendiri. Tapi, Sani <br />
adalah adik kami. Aku tidak akan menikahkan Sani dengan anak Engku,” <br />
kata Kukuban dengan ketus.<br />
<br />
“Baiklah, Anakku! Aku juga tidak akan memaksamu. Tapi, kami berharap<br />
semoga suatu hari nanti keputusan ini dapat berubah,” kata Datuk <br />
Limbatang seraya berpamitan pulang ke rumah bersama istrinya.<br />
<br />
Rupanya, Siti Rasani yang berada di dalam kamar mendengar semua <br />
pembicaraan mereka. Ia sangat bersedih mendengar putusan kakak <br />
sulungnya itu. Baginya, Giran adalah calon suami yang ia idam-idamkan <br />
selama ini. Sejak kejadian itu, Sani selalu terlihat murung. Hampir <br />
setiap hari ia duduk termenung memikirkan jalah keluar bagi masalah <br />
yang dihadapinya. Begitupula si Giran, memikirkan hal yang sama. <br />
Berhari-hari kedua pasangan kekasih itu berpikir, namun belum juga <br />
menemukan jalan keluar. Akhirnya, keduanya pun sepakat bertemu di <br />
tempat biasanya, yakni di sebuah ladang di tepi sungai, untuk <br />
merundingkan masalah yang sedang mereka hadapi.<br />
<br />
“Apa yang harus kita lakukan, Dik?” tanya Giran.<br />
<br />
“Entahlah, Bang! Adik juga tidak tahu harus berbuat apa. Semua <br />
keputusan dalam keluarga Adik ada di tangan Bang Kukuban. Sementara dia<br />
sangat benci dan dendam kepada Abang,” jawab Sani sambil menghela <br />
nafas panjang.<br />
<br />
Beberapa lama mereka berunding di tepi sungai itu, namun belum juga <br />
menemukan jalan keluar. Dengan perasaan kalut, Sani beranjak dari <br />
tempat duduknya. Tiba-tiba sepotong ranting berduri tersangkut pada <br />
sarungnya.<br />
<br />
“Aduh, sarungku sobek!” teriak Sani kaget.<br />
<br />
“Wah, sepertinya pahamu tergores duri. Duduklah Adik, Abang akan mengobati lukamu itu!” ujar Giran.<br />
<br />
Giran pun segera mencari daun obat-obatan di sekitarnya dan <br />
meramunya. Setelah itu, ia membersihkan darah yang keluar dari paha <br />
Sani, lalu mengobati lukanya. Pada saat itulah, tiba-tiba puluhan orang<br />
keluar dari balik pepohonan dan segera mengurung keduanya. Mereka <br />
adalah Bujang Sembilan bersama beberapa warga lainnya.<br />
<br />
“Hei, rupanya kalian di sini!” seru Kukuban.<br />
<br />
Giran dan Sani pun tidak tahu harus berbuat apa. Keduanya <br />
benar-benar tidak menyangka jika ada puluhan orang sedang mengintai <br />
gerak-gerik mereka.<br />
<br />
“Tangkap mereka! Kita bawa mereka ke sidang adat!” perintah Kukuban.<br />
<br />
“Ampun, Bang! Kami tidak melakukan apa-apa. Saya hanya mengobati luka Sani yang terkena duri,” kata Giran.<br />
<br />
“Dasar pembohong! Aku melihat sendiri kamu mengusap-usap paha adikku!” bentak Kukuban.<br />
<br />
“Iya benar! Kalian telah melakukan perbuatan terlarang. Kalian harus<br />
dibawa ke sidang adat untuk dihukum,” sambung seorang warga.<br />
<br />
Akhirnya, Giran dan Sani digiring ke kampung menuju ke ruang <br />
persidangan. Kukuban bersama kedelapan saudaranya dan beberapa warga <br />
lainnya memberi kesaksian bahwa mereka melihat sendiri perbuatan <br />
terlarang yang dilakukan oleh Giran dan Sani. Meskipun Giran dan Sani <br />
telah melakukan pembelaan dan dibantu oleh Datuk Limbatang, namun <br />
persidangan memutuskan bahwa keduanya bersalah telah melanggar adat <br />
yang berlaku di kampung itu. Perbuatan mereka sangat memalukan dan <br />
dapat membawa sial. Maka sebagai hukumannya, keduanya harus dibuang ke <br />
kawah Gunung Tinjau agar kampung tersebut terhindar dari malapetaka.<br />
<br />
Keputusan itu pun diumumkan ke seluruh penjuru kampung di sekitar <br />
Gunung Tinjau. Setelah itu, Giran dan Sani diarak menuju ke puncak <br />
Gunung Tinjau dengan tangan terikat di belakang. Sesampainya di pinggir<br />
kawah, mata mereka ditutup dengan kain hitam. Sebelum hukuman <br />
dilaksanakan, mereka diberi kesempatan untuk berbicara.<br />
<br />
“Wahai kalian semua, ketahuilah! Kami tidak melakukan perbuatan <br />
terlarang apa pun. Karena itu, kami yakin tidak bersalah,” ucap Giran.<br />
<br />
Setelah itu, Giran menengadahkan kedua tanganya ke langit sambil berdoa.<br />
<br />
“Ya Tuhan! Mohon dengar dan kabulkan doa kami. Jika kami memang <br />
benar-benar bersalah, hancurkanlah tubuh kami di dalam air kawah gunung<br />
yang panas ini. Akan tetapi, jika kami tidak bersalah, letuskanlah <br />
gunung ini dan kutuk Bujang Sembilan menjadi ikan!”<br />
<br />
Usai memanjatkan doa, Giran dan Sani segera melompat ke dalam kawah.<br />
Keduanya pun tenggelam di dalam air kawah. Sebagian orang yang <br />
menyaksikan peristiwa itu diliputi oleh rasa tegang dan cemas. Jika <br />
Giran benar-benar tidak bersalah dan doanya dikabulkan, maka mereka <br />
semua akan binasa. Ternyata benar. Permohonan Giran dikabulkan oleh <br />
Tuhan. Beberapa saat berselang, gunung itu tiba-tiba bergetar dan <br />
diikuti letusan yang sangat keras. Lahar panas pun menyembur keluar <br />
dari dalam kawah, mengalir menuju ke perkampungan dan menghancurkan <br />
semua yang dilewatinya. Semua orang berusaha untuk menyelamatkan diri. <br />
Namun, naas nasib mereka. Letusan Gunung Tinjau semakin dahsyat hingga <br />
gunung itu luluh lantak. Tak seorang pun yang selamat. Bujang Sembilan <br />
pun menjelma menjadi ikan.<br />
<br />
Demikian cerita Asal Usul Danau Maninjau dari Agam, Sumatra Barat, <br />
Indonesia. Konon, letusan Gunung Tinjau itu menyisakan kawah yang luas <br />
dan lama-kelamaan berubah menjadi danau. Oleh masyarakat sekitar, nama <br />
gunung itu kemudian diabadikan menjadi nama danau, yakni Danau Maninjau<br />
sumber : <a href="http://kampuangkubang.wordpress.com/asal-usul-danau-maninjau/" rel="nofollow" target="_blank">http://kampuangkubang.wordpress.com/asal...-maninjau/</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="justify"><a href="http://kampuangkubang.files.wordpress.com/2012/02/maninjau_l.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://kampuangkubang.files.wordpress.com/2012/02/maninjau_l.jpg?w=614" border="0" alt="[Image: maninjau_l.jpg?w=614]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a></div>
<div align="justify"><span style="font-weight: bold;">Asal Usul Danau Maninjau</span></div>
<div align="justify">Kisah di sebuah daerah di Sumatra Barat <br />
ada sebuah gunung berapi yang amat tinggi bernama Gunung Tinjau. Di <br />
puncaknya terdapat sebuah kawah yang luas, dan di kakinya terdapat <br />
beberapa perkampungan. Penduduknya hidup makmur dan sejahtera, karena <br />
mereka sangat rajin bertani. Di samping itu, tanah yang ada di sekitar <br />
Gunung Tinjau amat subur, karena sering mendapat pupuk alami berupa abu<br />
gunung.</div>
Di salah satu perkampungan di kaki Gunung Tinjau itu tinggal sepuluh<br />
orang bersaudara yang terdiri dari sembilan lelaki dan seorang <br />
perempuan. Penduduk sekitar biasa memanggil mereka Bujang Sembilan. <br />
Kesepuluh orang bersaudara tersebut adalah Kukuban, Kudun, Bayua, <br />
Malintang, Galapuang, Balok, Batang, Bayang, dan lelaki termuda bernama<br />
Kaciak. Sementara adik mereka yang paling bungsu adalah seorang <br />
perempuan bernama Siti Rasani, akrab dipanggil Sani. Kedua orangtua <br />
mereka sudah lama meninggal, sehingga Kukuban sebagai anak sulung <br />
menjadi kepala rumah tangga. Semua keputusan ada di tangannya.<br />
<br />
Kesepuluh bersaudara tersebut tinggal di sebuah rumah peninggalan <br />
kedua orangtua mereka. Untuk memenuhi kebutuhannya, mereka menggarap <br />
lahan pertanian yang cukup luas warisan kedua orangtua mereka. Mereka <br />
sangat terampil bertani, karena mereka rajin membantu ayah dan ibunya <br />
ketika keduanya masih hidup. Di samping itu, mereka juga dibimbing oleh<br />
paman mereka yang bernama Datuk Limbatang, yang akrab mereka panggil <br />
Engku.<br />
<br />
Datuk Limbatang adalah seorang mamak di kampung itu dan mempunyai <br />
seorang putra yang bernama Giran. Sebagai mamak, Datuk Limbatang <br />
memiliki tanggungjawab besar untuk mendidik dan memerhatikan kehidupan <br />
warganya, termasuk kesepuluh orang kemenakannya tersebut. Untuk itu, <br />
setiap dua hari sekali, ia berkunjung ke rumah Kukuban bersaudara untuk<br />
mengajari mereka keterampilan bertani dan berbagai tata cara adat <br />
daerah itu. Tak jarang pula Datuk Limbatang mengajak istri dan putranya<br />
ikut serta bersamanya.<br />
<br />
Pada suatu hari, ketika Datuk Limbatang bersama istri dan Giran <br />
berkunjung ke rumah Bujang Sembilan, secara tidak sengaja Sani saling <br />
berpandangan dengan Giran. Rupanya, kedua pemuda dan gadis itu <br />
sama-sama menaruh hati. Giran pun mengajak Sani untuk bertemu di sebuah<br />
ladang di pinggir sungai. Dengan hati berdebar, Giran pun <br />
mengungkapkan perasaannya kepada Sani.<br />
<br />
<div align="justify">“Sudah lama merendam selasih<br />
<br />
Barulah kini mau mengembang<br />
<br />
Sudah lama kupendam kasih<br />
<br />
Barulah kini bertemu pandang”</div>
“Telah lama orang menekat<br />
<br />
Membuat baju kebaya lebar<br />
<br />
Sudah lama abang terpikat<br />
<br />
Hendak bertemu dada berdebar”<br />
<br />
“Rupa elok perangaipun cantik<br />
<br />
Hidupnya suka berbuat baik<br />
<br />
Orang memuji hilir dan mudik<br />
<br />
Siapa melihat hati tertarik”<br />
<br />
<div align="justify">“Dik, Sani! Wajahmu cantik nan elok, perangai baik nan berhati lembut. Maukah engkau menjadi kekasih Abang?” tanya Giran.</div>
Pertanyaan itu membuat jantung Sani berdetak kencang. Dalam hatinya,<br />
ia juga suka kepada Giran. Maka ia pun membalasnya dengan untaian <br />
pantun.<br />
<br />
“Buah nangka dari seberang<br />
<br />
Sedap sekali dibuat sayur<br />
<br />
Sudah lama ku nanti abang<br />
<br />
Barulah kini dapat menegur”<br />
<br />
“Jika roboh kota Melaka<br />
<br />
Papan di Jawa saya tegakkan<br />
<br />
Jika sungguh Kanda berkata<br />
<br />
Badan dan nyawa saya serahkan”<br />
<br />
Alangkah senang hati Giran mendengar jawaban dari Sani. Ia benar-benar merasa bahagia karena cintahnya bersambut.<br />
<br />
<div align="justify">Maka sejak itu, Giran dan Sani menjalin <br />
hubungan kasih. Pada mulanya, keduanya berniat untuk menyembunyikan <br />
hubungan mereka. Namun karena khawatir akan menimbulkan fitnah, <br />
akhirnya keduanya pun berterus terang kepada keluarga mereka <br />
masing-masing. Mengetahui hal itu, keluarga Giran dan Sani pun merasa <br />
senang dan bahagia, karena hal tersebut dapat mempererat hubungan <br />
kekeluargaan mereka. Sejak menjalin hubungan dengan Sani, Giran <br />
seringkali berkunjung ke rumah Bujang Sembilan. Bahkan, ia sering <br />
membantu Bujang Sembilan bekerja di sawah.</div>
Ketika musim panen tiba, semua penduduk kampung memperoleh hasil <br />
yang melimpah. Untuk merayakan keberhasilan tersebut, para pemuka adat <br />
dan seluruh penduduk bersepakat untuk mengadakan gelanggang perhelatan,<br />
yaitu adu ketangkasan bermain silat. Para pemuda kampung menyambut <br />
gembira acara tersebut. Dengan semangat berapi-api, mereka segera <br />
mendaftarkan diri kepada panitia acara. Tidak ketinggalan pula Kukuban <br />
dan Giran turut ambil bagian dalam acara tersebut.<br />
<br />
Pada hari yang telah ditentukan, seluruh peserta berkumpul di sebuah<br />
tanah lapang. Sorak sorai penonton pun terdengar mendukung jagoannya <br />
masing-masing. Beberapa saat kemudian, panitia segera memukul gong <br />
pertanda acara dimulai. Rupanya, Kukuban mendapat giliran pertama <br />
tampil bersama seorang lawannya dari dusun tetangga. Tampak keduanya <br />
saling berhadap-hadapan di tengah arena untuk saling adu ketangkasan. <br />
Siapa pun yang menang dalam pertarungan itu, maka dia akan melawan <br />
peserta berikutnya. Ternyata, Kukuban berhasil mengalahkan lawannya. <br />
Setelah itu, peserta berikutnya satu per satu masuk ke arena gelanggang<br />
perhelatan untuk melawan Kukuban, namun belum seorang pun yang mampu <br />
mengalahkannya. Masih tersisa satu peserta lagi yang belum maju, yakni <br />
si Giran. Kini, Kukuban menghadapi lawan yang seimbang.<br />
<br />
“Hai, Giran! Majulah kalau berani!” tantang Kukuban.<br />
<br />
“Baiklah, Bang! Bersiap-siaplah menerima seranganku!” jawab Giran dan langsung menyerang Kukuban.<br />
<br />
Maka terjadilah pertarungan sengit antara Giran dan Kukuban. <br />
Mulanya, Giran melakukan serangan secara bertubi-tubi ke arah Kububan, <br />
namun semua serangannya mampu dielakkan oleh Kukubun. Beberapa saat <br />
kemudian, keadaan jadi terbalik. Kukuban yang balik menyerang. Ia terus<br />
menyerang Giran dengan jurus-jurus andalannya secara bertubi-tubi. <br />
Giran pun terdesak dan kesulitan menghindari serangannya. Pada saat <br />
yang tepat, Kukuban melayangkan sebuah tendangan keras kaki kirinya ke <br />
arah Giran. Giran yang tidak mampu lagi menghindar, terpaksa <br />
menangkisnya dengan kedua tangannya.<br />
<br />
“Aduh, sakit…! Kakiku patah!” pekik Kukuban dan langsung berguling di tanah sambil menjerit kesakitan.<br />
<br />
Rupanya, tangkisan Giran itu membuat kaki kirinya patah. Ia pun <br />
tidak mampu lagi melanjutkan pertandingan dan dinyatakan kalah dalam <br />
gelanggang tersebut. Sejak itu, Kukuban merasa kesal dan dendam <br />
terhadap Giran karena merasa telah dipermalukan di depan umum. Namun, <br />
dendam tersebut dipendamnya dalam hati.<br />
<br />
Beberapa bulan kemudian, dendam Kukuban yang dipendam dalam hati itu<br />
akhirnya terungkap juga. Hal itu bermula ketika suatu malam, yakni <br />
ketika cahaya purnama menerangi perkampungan sekitar Gunung Tinjau, <br />
Datuk Limbatang bersama istrinya berkunjung ke rumah Bujang Sembilan. <br />
Kedatangan orangtua Giran tersebut bukan untuk mengajari mereka cara <br />
bercocok tanam atau tata cara adat, melainkan ingin menyampaikan <br />
pinangan Giran kepada Sani.<br />
<br />
“Maaf, Bujang Sembilan! Maksud kedatangan kami kemari ingin lebih <br />
mempererat hubungan kekeluargaan kita,” ungkap Datuk Limbatang.<br />
<br />
“Apa maksud, Engku?” tanya si Kudun bingung.<br />
<br />
“Iya, Engku! Bukankah hubungan kekeluargaan kita selama ini baik-baik saja?” sambung Kaciak.<br />
<br />
“Memang benar yang kamu katakan itu, Anakku,” jawab Datuk Limbatang <br />
yang sudah menganggap Bujang Sembilan seperti anaknya sendiri.<br />
<br />
“Begini, Anak-anakku! Untuk semakin mengeratkan hubungan keluarga <br />
kita, kami bermaksud menikahkan Giran dengan adik bungsu kalian, Siti <br />
Rasani,” ungkap Datuk Limbatang.<br />
<br />
“Pada dasarnya, kami juga merasakan hal yang sama, Engku! Kami <br />
merasa senang jika Giran menikah dengan adik kami. Giran adalah pemuda <br />
yang baik dan rajin,” sambut si Kudun.<br />
<br />
Namun, baru saja kalimat itu lepas dari mulut si Kudun, tiba-tiba terdengar suara bentakan yang sangat keras dari Kukuban.<br />
<br />
“Tidak! Aku tidak setuju dengan pernikahan mereka! Aku tahu siapa Giran,” seru Kukuban dengan wajah memerah.<br />
<br />
“Dia pemuda sombong, tidak tahu sopan santun dan kurang ajar. Dia tidak pantas menjadi suami Sani,” tambahnya.<br />
<br />
“Mengapa kamu berkata begitu, Anakku? Adakah perkataan atau <br />
perilakunya yang pernah menyinggung perasaanmu?” tanya Datuk Limbatang <br />
dengan tenang.<br />
<br />
“Ada, Engku! Masih ingatkah tindakan Giran terhadapku di gelanggang <br />
perhelatan beberapa bulan yang lalu? Dia telah mematahkan kaki kiriku <br />
dan sampai sekarang masih ada bekasnya,” jawab Kukuban sambil <br />
menyingsingkan celana panjangnya untuk memperlihatkan bekas kakinya <br />
yang patah.<br />
<br />
“Oooh, itu!” jawab Datuk Limbatang singkat sambil tersenyum.<br />
<br />
“Soal kaki terkilir dan kaki patah, kalah ataupun menang dalam <br />
gelanggan itu hal biasa. Memang begitu kalau bertarung,” ujar Datuk <br />
Limbatang.<br />
<br />
“Tapi, Engku! Anak Engku telah mempermalukanku di depan orang banyak,” sambut Kukuban.<br />
<br />
“Aku kira Giran tidak bermaksud mempermalukan saudaranya sendiri,” kata Datuk Limbatang.<br />
<br />
“Ah, itu kata Engku, karena ingin membela anak sendiri! Di mana <br />
keadilan Engku sebagai pemimpin adat?” bantah Kukuban sambil <br />
menghempaskan tangannya ke lantai.<br />
<br />
Semua yang ada dalam pertemuan itu terdiam. Kedelapan saudaranya tak<br />
satu pun yang berani angkat bicara. Suasana pun menjadi hening dan <br />
tegang. Kecuali Datuk Limbatang, yang terlihat tenang.<br />
<br />
“Maaf, Anakku! Aku tidak membela siapa pun. Aku hanya mengatakan <br />
kebenaran. Keadilan harus didasarkan pada kebenaran,” ujar Datuk <br />
Limbatang.<br />
<br />
“Kebenaran apalagi yang Engku maksud. Bukankah Giran telah nyata-nyata mencoreng mukaku di tengah keramaian?”<br />
<br />
“Ketahuilah, Anakku! Menurut kesaksian banyak orang yang melihat <br />
peristiwa itu, kamu sendiri yang menyerang Giran yang terdesak dengan <br />
sebuah tendangan keras, lalu ditangkis oleh Giran. Tangkisan itulah <br />
yang membuat kakimu patah. Apakah menurutmu menangkis serangan itu <br />
perbuatan curang dan salah?” tanya Datuk Limbatang.<br />
<br />
Kukuban hanya terdiam mendengar pertanyaan itu. Walaupun dalam <br />
hatinya mengakui bahwa apa yang dikatakan Datuk Limbatang adalah benar,<br />
tetapi karena hatinya sudah diselimuti perasaan dendam, ia tetap tidak<br />
mau menerimanya.<br />
<br />
“Terserah Engku kalau tetap mau membela anak sendiri. Tapi, Sani <br />
adalah adik kami. Aku tidak akan menikahkan Sani dengan anak Engku,” <br />
kata Kukuban dengan ketus.<br />
<br />
“Baiklah, Anakku! Aku juga tidak akan memaksamu. Tapi, kami berharap<br />
semoga suatu hari nanti keputusan ini dapat berubah,” kata Datuk <br />
Limbatang seraya berpamitan pulang ke rumah bersama istrinya.<br />
<br />
Rupanya, Siti Rasani yang berada di dalam kamar mendengar semua <br />
pembicaraan mereka. Ia sangat bersedih mendengar putusan kakak <br />
sulungnya itu. Baginya, Giran adalah calon suami yang ia idam-idamkan <br />
selama ini. Sejak kejadian itu, Sani selalu terlihat murung. Hampir <br />
setiap hari ia duduk termenung memikirkan jalah keluar bagi masalah <br />
yang dihadapinya. Begitupula si Giran, memikirkan hal yang sama. <br />
Berhari-hari kedua pasangan kekasih itu berpikir, namun belum juga <br />
menemukan jalan keluar. Akhirnya, keduanya pun sepakat bertemu di <br />
tempat biasanya, yakni di sebuah ladang di tepi sungai, untuk <br />
merundingkan masalah yang sedang mereka hadapi.<br />
<br />
“Apa yang harus kita lakukan, Dik?” tanya Giran.<br />
<br />
“Entahlah, Bang! Adik juga tidak tahu harus berbuat apa. Semua <br />
keputusan dalam keluarga Adik ada di tangan Bang Kukuban. Sementara dia<br />
sangat benci dan dendam kepada Abang,” jawab Sani sambil menghela <br />
nafas panjang.<br />
<br />
Beberapa lama mereka berunding di tepi sungai itu, namun belum juga <br />
menemukan jalan keluar. Dengan perasaan kalut, Sani beranjak dari <br />
tempat duduknya. Tiba-tiba sepotong ranting berduri tersangkut pada <br />
sarungnya.<br />
<br />
“Aduh, sarungku sobek!” teriak Sani kaget.<br />
<br />
“Wah, sepertinya pahamu tergores duri. Duduklah Adik, Abang akan mengobati lukamu itu!” ujar Giran.<br />
<br />
Giran pun segera mencari daun obat-obatan di sekitarnya dan <br />
meramunya. Setelah itu, ia membersihkan darah yang keluar dari paha <br />
Sani, lalu mengobati lukanya. Pada saat itulah, tiba-tiba puluhan orang<br />
keluar dari balik pepohonan dan segera mengurung keduanya. Mereka <br />
adalah Bujang Sembilan bersama beberapa warga lainnya.<br />
<br />
“Hei, rupanya kalian di sini!” seru Kukuban.<br />
<br />
Giran dan Sani pun tidak tahu harus berbuat apa. Keduanya <br />
benar-benar tidak menyangka jika ada puluhan orang sedang mengintai <br />
gerak-gerik mereka.<br />
<br />
“Tangkap mereka! Kita bawa mereka ke sidang adat!” perintah Kukuban.<br />
<br />
“Ampun, Bang! Kami tidak melakukan apa-apa. Saya hanya mengobati luka Sani yang terkena duri,” kata Giran.<br />
<br />
“Dasar pembohong! Aku melihat sendiri kamu mengusap-usap paha adikku!” bentak Kukuban.<br />
<br />
“Iya benar! Kalian telah melakukan perbuatan terlarang. Kalian harus<br />
dibawa ke sidang adat untuk dihukum,” sambung seorang warga.<br />
<br />
Akhirnya, Giran dan Sani digiring ke kampung menuju ke ruang <br />
persidangan. Kukuban bersama kedelapan saudaranya dan beberapa warga <br />
lainnya memberi kesaksian bahwa mereka melihat sendiri perbuatan <br />
terlarang yang dilakukan oleh Giran dan Sani. Meskipun Giran dan Sani <br />
telah melakukan pembelaan dan dibantu oleh Datuk Limbatang, namun <br />
persidangan memutuskan bahwa keduanya bersalah telah melanggar adat <br />
yang berlaku di kampung itu. Perbuatan mereka sangat memalukan dan <br />
dapat membawa sial. Maka sebagai hukumannya, keduanya harus dibuang ke <br />
kawah Gunung Tinjau agar kampung tersebut terhindar dari malapetaka.<br />
<br />
Keputusan itu pun diumumkan ke seluruh penjuru kampung di sekitar <br />
Gunung Tinjau. Setelah itu, Giran dan Sani diarak menuju ke puncak <br />
Gunung Tinjau dengan tangan terikat di belakang. Sesampainya di pinggir<br />
kawah, mata mereka ditutup dengan kain hitam. Sebelum hukuman <br />
dilaksanakan, mereka diberi kesempatan untuk berbicara.<br />
<br />
“Wahai kalian semua, ketahuilah! Kami tidak melakukan perbuatan <br />
terlarang apa pun. Karena itu, kami yakin tidak bersalah,” ucap Giran.<br />
<br />
Setelah itu, Giran menengadahkan kedua tanganya ke langit sambil berdoa.<br />
<br />
“Ya Tuhan! Mohon dengar dan kabulkan doa kami. Jika kami memang <br />
benar-benar bersalah, hancurkanlah tubuh kami di dalam air kawah gunung<br />
yang panas ini. Akan tetapi, jika kami tidak bersalah, letuskanlah <br />
gunung ini dan kutuk Bujang Sembilan menjadi ikan!”<br />
<br />
Usai memanjatkan doa, Giran dan Sani segera melompat ke dalam kawah.<br />
Keduanya pun tenggelam di dalam air kawah. Sebagian orang yang <br />
menyaksikan peristiwa itu diliputi oleh rasa tegang dan cemas. Jika <br />
Giran benar-benar tidak bersalah dan doanya dikabulkan, maka mereka <br />
semua akan binasa. Ternyata benar. Permohonan Giran dikabulkan oleh <br />
Tuhan. Beberapa saat berselang, gunung itu tiba-tiba bergetar dan <br />
diikuti letusan yang sangat keras. Lahar panas pun menyembur keluar <br />
dari dalam kawah, mengalir menuju ke perkampungan dan menghancurkan <br />
semua yang dilewatinya. Semua orang berusaha untuk menyelamatkan diri. <br />
Namun, naas nasib mereka. Letusan Gunung Tinjau semakin dahsyat hingga <br />
gunung itu luluh lantak. Tak seorang pun yang selamat. Bujang Sembilan <br />
pun menjelma menjadi ikan.<br />
<br />
Demikian cerita Asal Usul Danau Maninjau dari Agam, Sumatra Barat, <br />
Indonesia. Konon, letusan Gunung Tinjau itu menyisakan kawah yang luas <br />
dan lama-kelamaan berubah menjadi danau. Oleh masyarakat sekitar, nama <br />
gunung itu kemudian diabadikan menjadi nama danau, yakni Danau Maninjau<br />
sumber : <a href="http://kampuangkubang.wordpress.com/asal-usul-danau-maninjau/" rel="nofollow" target="_blank">http://kampuangkubang.wordpress.com/asal...-maninjau/</a>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[LEGENDA  ASAL MUASAL NAMA NAGARI TAK BONCAH ]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-LEGENDA-ASAL-MUASAL-NAMA-NAGARI-TAK-BONCAH</link>
			<pubDate>Wed, 12 Sep 2012 08:17:53 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-LEGENDA-ASAL-MUASAL-NAMA-NAGARI-TAK-BONCAH</guid>
			<description><![CDATA[LEGENDA <br />
ASAL MUASAL NAMA NAGARI TAK BONCAH [1]:<br />
By: Yonni Saputra<br />
<br />
<img src="http://3.bp.blogspot.com/-w3gKdHO0bFY/TZBNesx4Y3I/AAAAAAAAAPI/QQRBi98rNsg/s320/tak+bancah+edit2.jpg" border="0" alt="[Image: tak+bancah+edit2.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
Tak Boncah merupakan sebuah Nagari yang terletak di Kecamatan Silungkang Kota Sawahlunto. Daerah ini berjarak sekitar ±19 Km dari pusat kota Sawahlunto. Untuk mencapai daerah ini kita akan melalui jalan mendaki dan penurunan yang terjal. Wajar demikian karena letaknya yang berada di dataran tinggi jajaran Bukit Barisan. Daerah ini masih cukup alami dengan ‘aroma’ kental kehidupan tradisonal. Semakin terasa rasanya aroma kehidupan tradisonal itu kala kita ketahui bahwa daerah ini belum tersentuh aliran listrik secara keseluruhan. Kalau pun ada hanya penerangan dari mesin diesel yang hanya dinyalakan pada waktu terbatas. Kala malam.<br />
Nagari Tak Boncah memiliki 3 dusun yaitu; dusun Limo Kambiang, Balai-Balai dan Koto Tingga serta daerah kecil didalamnya.Masyarkat nagari ini tediri dari 4 suku yakni; Melayu, Caniago, Payo Bada dan Dalimo. Asal muasal penduduk, seperti halnya derah lain di<br />
Minangkabau, hampir merata mengkaitkan nenek moyang mereka datang dari kerajaan Pagaruyung di Batusangkar. Perpindahan dan penyebaran penduduk dari Pagaruyung tentu dilandaskan pada berbagai alasan. Mulai dari pemekaran dan pencarian daerah baru hingga ke persoalan politik dan konflik, seperti halnya kerajaan Sitimbago di Sawahlunto.<br />
Nama Tak Boncah tidaklah muncul dan ada begitu saja. Tak Boncah diyakini masyarakat setempat berasal dari sebuah fenomena. Tatkala nenek moyang mereka baru memasuki dan menepati daerah baru ini. Rombongan menemukan sebutir telor yang terjepit diantara bebatuan. Anehnya telur tersebut tidak pecah meskipun diapit bebatuan. Keberadaan telor yang terjepi bebatuan itupun menjadi pusat perhatian dan tanda tanya. Kenapa bisa telor yang biasanya sedemikian rapuh menjadi tahan akan tekanan bebatuan yang menjepitnya? Diantara rombongan ada yang berkomentar, ‘tak boncah’. Tak boncah yang diungkapkan itu dalam bahasa masyarakat disana mengandung arti; tak= tidak, boncah= Pecah. Jadi Tak Boncah yang dimaksud adalah telor yang terjepit antara bebatuan itu tidak menjadi pecah karenanya. Peristiwa tidak pecahnya (tak boncah) telor itu kemudian dilekatkan pada daerah yang baru mereka tempati (teruka) tersebut.<br />
Tak Boncah kemudian tidak menjadi sekedar nama tempat masyarakat bermukim, berladang dan bertani. Masyarakat disana juga memaknai Tak Boncah sebagai sebuah filosofi dan prinsip bahwa segala permasalahan yang terjadi dalam daerah tersebut cukup diselesaikan di dalam komunitas masyarakat Tak Boncah. Masalah itu tidak perlu sampai menyebar luas ke luar daerah. Terlebih kalau barangok kalua badan (bernafas keluar badan) yang kalau diartikan meminta bantuan pihak luar yang belum tentu memahami duduk masalahnya. Apalagi dapat memberikan penyelesaian. Malah bisa-bisa membuat keruh atau runyam masalah. Demikian sebuah kepercayaan diri dan spirit yang termaknai dari sebuah nama Tak Boncah dari masyarakatnya. Memecahkan dan menyelesaikan segala permasalahan dari dalam diupayakan semaksimal mungkin.<br />
<br />
[1] Ditutur dan dikisahkan oleh Bapak Bidul di Tak Boncah Kota Sawahlunto Sumatera Barat. Kisah atau cerita rakyat, legenda dan folklor Sawahlunto ini dalam upaya dihimpun dan dituliskan untuk dibukukan dan diterbitkan sebagai kumpulan cerita rakyat, legenda (folklor) Sawahlunto.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[LEGENDA <br />
ASAL MUASAL NAMA NAGARI TAK BONCAH [1]:<br />
By: Yonni Saputra<br />
<br />
<img src="http://3.bp.blogspot.com/-w3gKdHO0bFY/TZBNesx4Y3I/AAAAAAAAAPI/QQRBi98rNsg/s320/tak+bancah+edit2.jpg" border="0" alt="[Image: tak+bancah+edit2.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
Tak Boncah merupakan sebuah Nagari yang terletak di Kecamatan Silungkang Kota Sawahlunto. Daerah ini berjarak sekitar ±19 Km dari pusat kota Sawahlunto. Untuk mencapai daerah ini kita akan melalui jalan mendaki dan penurunan yang terjal. Wajar demikian karena letaknya yang berada di dataran tinggi jajaran Bukit Barisan. Daerah ini masih cukup alami dengan ‘aroma’ kental kehidupan tradisonal. Semakin terasa rasanya aroma kehidupan tradisonal itu kala kita ketahui bahwa daerah ini belum tersentuh aliran listrik secara keseluruhan. Kalau pun ada hanya penerangan dari mesin diesel yang hanya dinyalakan pada waktu terbatas. Kala malam.<br />
Nagari Tak Boncah memiliki 3 dusun yaitu; dusun Limo Kambiang, Balai-Balai dan Koto Tingga serta daerah kecil didalamnya.Masyarkat nagari ini tediri dari 4 suku yakni; Melayu, Caniago, Payo Bada dan Dalimo. Asal muasal penduduk, seperti halnya derah lain di<br />
Minangkabau, hampir merata mengkaitkan nenek moyang mereka datang dari kerajaan Pagaruyung di Batusangkar. Perpindahan dan penyebaran penduduk dari Pagaruyung tentu dilandaskan pada berbagai alasan. Mulai dari pemekaran dan pencarian daerah baru hingga ke persoalan politik dan konflik, seperti halnya kerajaan Sitimbago di Sawahlunto.<br />
Nama Tak Boncah tidaklah muncul dan ada begitu saja. Tak Boncah diyakini masyarakat setempat berasal dari sebuah fenomena. Tatkala nenek moyang mereka baru memasuki dan menepati daerah baru ini. Rombongan menemukan sebutir telor yang terjepit diantara bebatuan. Anehnya telur tersebut tidak pecah meskipun diapit bebatuan. Keberadaan telor yang terjepi bebatuan itupun menjadi pusat perhatian dan tanda tanya. Kenapa bisa telor yang biasanya sedemikian rapuh menjadi tahan akan tekanan bebatuan yang menjepitnya? Diantara rombongan ada yang berkomentar, ‘tak boncah’. Tak boncah yang diungkapkan itu dalam bahasa masyarakat disana mengandung arti; tak= tidak, boncah= Pecah. Jadi Tak Boncah yang dimaksud adalah telor yang terjepit antara bebatuan itu tidak menjadi pecah karenanya. Peristiwa tidak pecahnya (tak boncah) telor itu kemudian dilekatkan pada daerah yang baru mereka tempati (teruka) tersebut.<br />
Tak Boncah kemudian tidak menjadi sekedar nama tempat masyarakat bermukim, berladang dan bertani. Masyarakat disana juga memaknai Tak Boncah sebagai sebuah filosofi dan prinsip bahwa segala permasalahan yang terjadi dalam daerah tersebut cukup diselesaikan di dalam komunitas masyarakat Tak Boncah. Masalah itu tidak perlu sampai menyebar luas ke luar daerah. Terlebih kalau barangok kalua badan (bernafas keluar badan) yang kalau diartikan meminta bantuan pihak luar yang belum tentu memahami duduk masalahnya. Apalagi dapat memberikan penyelesaian. Malah bisa-bisa membuat keruh atau runyam masalah. Demikian sebuah kepercayaan diri dan spirit yang termaknai dari sebuah nama Tak Boncah dari masyarakatnya. Memecahkan dan menyelesaikan segala permasalahan dari dalam diupayakan semaksimal mungkin.<br />
<br />
[1] Ditutur dan dikisahkan oleh Bapak Bidul di Tak Boncah Kota Sawahlunto Sumatera Barat. Kisah atau cerita rakyat, legenda dan folklor Sawahlunto ini dalam upaya dihimpun dan dituliskan untuk dibukukan dan diterbitkan sebagai kumpulan cerita rakyat, legenda (folklor) Sawahlunto.]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Legenda Unik Jadi Objek Wisata Bumi Minangkabau ]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Legenda-Unik-Jadi-Objek-Wisata-Bumi-Minangkabau</link>
			<pubDate>Tue, 14 Aug 2012 04:09:30 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Legenda-Unik-Jadi-Objek-Wisata-Bumi-Minangkabau</guid>
			<description><![CDATA[<img src="http://img.okeinfo.net//content/2012/05/16/408/630444/gfeMNQgZCz.jpg" border="0" alt="[Image: gfeMNQgZCz.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
Pemandangan dari Taman Siti Nurbaya (Foto: rinaldimunir.wordpress)<br />
<br />
<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">SUMATRA </span>Barat ternyata menyimpan banyak ksiah <br />
sejarah dan legenda menarik yang menjadikannya salah satu destinasi <br />
wisata terbaik di Indonesia. Apa saja kawasan wisata legenda yang ada di<br />
Bumi Minangkabau ini?<br />
<br />
Simak ulasannya berikut ini, seperti dikutip buku<span style="font-style: italic;"> Informasi Pariwisata Nusantara</span> dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia:<br />
<span style="font-weight: bold;"><br />
Batu Basurek</span><br />
<br />
Batu<br />
Basurek atau batu tulis merupakan prasasti peninggalan Kerajaan <br />
Pagaruyung semasa pemerintahan Raja Adityawarman. Batu Basurek ini <br />
terdapat, antara lain di daerah Kubu Rajo Nagari Lima Kecamatan Lima <br />
Kaum serta di daerah Koto Tangah Nagari Pagaruyung Kecamatan Tanjung <br />
Emas.<br />
<br />
Prasasti ini ditulis menggunakan huruf Jawa kuno dalam <br />
bahasa Sanskerta. Isinya bercerita tentang Raja Adityawarman sebagai <br />
penguasa negeri emas yang murah hati dan penuh belas kasih. Diperkirakan<br />
prasasti ini ditulis pada 1300-an Masehi.<br />
<span style="font-weight: bold;"><br />
Ikan Larangan</span><br />
<br />
Ikan<br />
Larangan adalah sebuah sungai yang sangat indah pemandangannya dan <br />
menarik. Di Sungai Ikan Larangan ini terdapat ikan yang tidak boleh <br />
dipancing bahkan dimakan karena diyakini akan menimbulkan sakit yang <br />
tidak bisa diobati, bahkan mengakibatkan kematian. Obyek wisata ini <br />
terletak di Kabupaten Padang Pariaman.<br />
<span style="font-weight: bold;"><br />
Masjid Ganting</span><br />
<br />
Masjid<br />
Raya Ganting adalah salah satu masjid tertua di Indonesia yang terletak<br />
di Kota Padang, Sumatera Barat. Masjid ini didirikan pada 1805 dan <br />
selesai pada 1810, sehingga menjadi masjid tertua di Kota Padang. Masjid<br />
Raya Ganting termasuk bangunan yang selamat dari hantaman gelombang <br />
tsunami akibat gempa bumi Sumatera pada 1833. <br />
<br />
Arsitektur Masjid <br />
Raya Ganting merupakan perpaduan dari berbagai corak arsitektur sebab <br />
pengerjaannya melibatkan beragam etnik, seperti Persia, Timur Tengah, <br />
China, dan Minangkabau. Saat ini, selain digunakan sebagai aktivitas <br />
ibadah umat Islam, masjid satu lantai ini juga digunakan sebagai sarana <br />
pendidikan agama dan pesantren kilat bagi pelajar. Bahkan telah menjadi <br />
salah satu daya tarik wisata yang terkenal di Kota Padang. <br />
<span style="font-weight: bold;"><br />
Taman Siti Nurbaya<br />
</span><br />
Taman<br />
ini merupakan salah satu kawasan wisata yang terletak di sebelah barat <br />
Kota Padang yang dapat dicapai dengan menempuh perjalanan sekira 30 <br />
menit dari Kota Padang. Taman Siti Nurbaya merupakan puncak bukit yang <br />
disebut Gunung Padang. Sesampainya di sini, Anda bisa menikmati <br />
pemandangan Kota Padang dengan lanskap pemandangan laut yang membentang.<br />
<br />
<br />
Di taman ini Anda juga dapat melihat Makam Siti Nurbaya yang <br />
terletak di balik bebatuan besar dengan diameter sekitar tiga meter yang<br />
membentuk celah kecil sebagai pintu masuk. Sesampainya di kawasan makam<br />
ini, pengunjung dilarang berfoto-foto atau mengabadikan bentuk makam. <br />
Konon katanya, aktivitas tersebut dapat berakibat buruk bagi si <br />
pengunjung. Menurut keterangan masyarakat setempat, konon sekitar 10 <br />
meter di tebing di bawah makam Siti Nurbaya terletak makam Samsul Bahri.<br />
Selain berziarah ke makam Siti Nurbaya, Anda juga dapat menikmati <br />
sebuah taman yang sangat indah dengan pepohonan yang rindang dan bangku <br />
dari semen yang terdapat di pintu keluar pemakaman.(okezone)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<img src="http://img.okeinfo.net//content/2012/05/16/408/630444/gfeMNQgZCz.jpg" border="0" alt="[Image: gfeMNQgZCz.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
Pemandangan dari Taman Siti Nurbaya (Foto: rinaldimunir.wordpress)<br />
<br />
<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">SUMATRA </span>Barat ternyata menyimpan banyak ksiah <br />
sejarah dan legenda menarik yang menjadikannya salah satu destinasi <br />
wisata terbaik di Indonesia. Apa saja kawasan wisata legenda yang ada di<br />
Bumi Minangkabau ini?<br />
<br />
Simak ulasannya berikut ini, seperti dikutip buku<span style="font-style: italic;"> Informasi Pariwisata Nusantara</span> dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia:<br />
<span style="font-weight: bold;"><br />
Batu Basurek</span><br />
<br />
Batu<br />
Basurek atau batu tulis merupakan prasasti peninggalan Kerajaan <br />
Pagaruyung semasa pemerintahan Raja Adityawarman. Batu Basurek ini <br />
terdapat, antara lain di daerah Kubu Rajo Nagari Lima Kecamatan Lima <br />
Kaum serta di daerah Koto Tangah Nagari Pagaruyung Kecamatan Tanjung <br />
Emas.<br />
<br />
Prasasti ini ditulis menggunakan huruf Jawa kuno dalam <br />
bahasa Sanskerta. Isinya bercerita tentang Raja Adityawarman sebagai <br />
penguasa negeri emas yang murah hati dan penuh belas kasih. Diperkirakan<br />
prasasti ini ditulis pada 1300-an Masehi.<br />
<span style="font-weight: bold;"><br />
Ikan Larangan</span><br />
<br />
Ikan<br />
Larangan adalah sebuah sungai yang sangat indah pemandangannya dan <br />
menarik. Di Sungai Ikan Larangan ini terdapat ikan yang tidak boleh <br />
dipancing bahkan dimakan karena diyakini akan menimbulkan sakit yang <br />
tidak bisa diobati, bahkan mengakibatkan kematian. Obyek wisata ini <br />
terletak di Kabupaten Padang Pariaman.<br />
<span style="font-weight: bold;"><br />
Masjid Ganting</span><br />
<br />
Masjid<br />
Raya Ganting adalah salah satu masjid tertua di Indonesia yang terletak<br />
di Kota Padang, Sumatera Barat. Masjid ini didirikan pada 1805 dan <br />
selesai pada 1810, sehingga menjadi masjid tertua di Kota Padang. Masjid<br />
Raya Ganting termasuk bangunan yang selamat dari hantaman gelombang <br />
tsunami akibat gempa bumi Sumatera pada 1833. <br />
<br />
Arsitektur Masjid <br />
Raya Ganting merupakan perpaduan dari berbagai corak arsitektur sebab <br />
pengerjaannya melibatkan beragam etnik, seperti Persia, Timur Tengah, <br />
China, dan Minangkabau. Saat ini, selain digunakan sebagai aktivitas <br />
ibadah umat Islam, masjid satu lantai ini juga digunakan sebagai sarana <br />
pendidikan agama dan pesantren kilat bagi pelajar. Bahkan telah menjadi <br />
salah satu daya tarik wisata yang terkenal di Kota Padang. <br />
<span style="font-weight: bold;"><br />
Taman Siti Nurbaya<br />
</span><br />
Taman<br />
ini merupakan salah satu kawasan wisata yang terletak di sebelah barat <br />
Kota Padang yang dapat dicapai dengan menempuh perjalanan sekira 30 <br />
menit dari Kota Padang. Taman Siti Nurbaya merupakan puncak bukit yang <br />
disebut Gunung Padang. Sesampainya di sini, Anda bisa menikmati <br />
pemandangan Kota Padang dengan lanskap pemandangan laut yang membentang.<br />
<br />
<br />
Di taman ini Anda juga dapat melihat Makam Siti Nurbaya yang <br />
terletak di balik bebatuan besar dengan diameter sekitar tiga meter yang<br />
membentuk celah kecil sebagai pintu masuk. Sesampainya di kawasan makam<br />
ini, pengunjung dilarang berfoto-foto atau mengabadikan bentuk makam. <br />
Konon katanya, aktivitas tersebut dapat berakibat buruk bagi si <br />
pengunjung. Menurut keterangan masyarakat setempat, konon sekitar 10 <br />
meter di tebing di bawah makam Siti Nurbaya terletak makam Samsul Bahri.<br />
Selain berziarah ke makam Siti Nurbaya, Anda juga dapat menikmati <br />
sebuah taman yang sangat indah dengan pepohonan yang rindang dan bangku <br />
dari semen yang terdapat di pintu keluar pemakaman.(okezone)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Mitos Daerah Sumatera Barat – Minang Kabau]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Mitos-Daerah-Sumatera-Barat-%E2%80%93-Minang-Kabau</link>
			<pubDate>Wed, 04 Jul 2012 05:51:32 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Mitos-Daerah-Sumatera-Barat-%E2%80%93-Minang-Kabau</guid>
			<description><![CDATA[1. Pengertian Mitos<br />
<br />
Mitos adalah satu cerita, pendapat atau anggapan dalam sebuah kebudayaan<br />
yang dianggap mempunyai kebenaran mengenai suatu perkara yang pernah <br />
berlaku pada suatu masa dahulu, yang kebenarannya belum tentu benar <br />
adanya (Harry Lubis, 2009). Mitos, mungkin sama tuanya dengan bahasa itu<br />
sendiri. Beberapa mitos dapat bertahan karena memberikan nasehat yang <br />
sesuai dengan pengalaman sehari-hari. Namun, banyak mitos, yang meluas <br />
salah satunya adalah mitos sekitar kehamilan dan melahirkan, yang <br />
terbukti salah atau tidak efektif sesuai dengan kemajuan kedokteran dan <br />
teknologi. <br />
<br />
2. Mitos Daerah Sumatera Barat – Minangkabau<br />
<br />
Palasik, Bagian dari Kekayaan Mitos dan Mistis di Minangkabau<br />
<br />
Apakah anda pernah mendengar istilah ” Palasik ” ? Bagi anda yang <br />
berasal dari daerah Sumatera Barat tentu sudah akrab dengan istilah ini.<br />
Tapi bagi anda yang bukan berasal dari Minangkabau, palasik merupakan <br />
istilah yang mungkin asing bagi anda.<br />
<br />
Diantara kisah-kisah mistis di Minangkabau seperti gasiang tangkurak, <br />
cindaku, sijundai, urang bunian dan lain lain, palasik adalah mitos dan <br />
mistis yang masih top sampai sekarang. Menurut cerita yang berkembang <br />
secara turun temurun di Minangkabau, palasik adalah orang yang memiliki <br />
ilmu hitam tingkat tinggi dan dengan ilmunya ini palasik dipercaya dapat<br />
menghisap darah anak-anak, balita bahkan janin yang berada di dalam <br />
kandungan. Makanya banyak ibu-ibu di Minangkabau yang merasa takut untuk<br />
membawa keluar rumah bayi atau balitanya dan jika memang mendesak <br />
biasanya ibu-ibu memasang jimat penangkal pada salah satu bagian tubuh <br />
anaknya.<br />
<br />
Saya terinspirasi menulis tentang palasik ini adalah karena selama saya <br />
berada di kampung ( Padang dan Bukittinggi ), orang-orang tua selalu <br />
mengingatkan saya agar hati-hati jika ingin membawa anak saya yang <br />
berumur 14 bulan untuk keluar rumah. Jika ingin membawa ke tempat <br />
keramaian seperti pasar atau pusat perbelanjaan, acara resepsi <br />
pernikahan,hendak lah membawa sambua. Sambua adalah istilah untuk jimat <br />
penangkal dan biasanya sambua di dapat dari orang pintar. Menurut para <br />
orang tua, bisa jadi palasik ada di antara orang-orang banyak ini. Saya <br />
sebagai anak hanya menuruti nasehat mereka saja. Jujur saja, sebetulnya <br />
saya percaya tidak percaya dengan keberadaan palasik ini.<br />
<br />
Ilmu palasik diyakini sebagai ilmu yang menurun dalam sebuah <br />
keluarga. Jika orang tuanya palasik, maka otomatis anaknya juga palasik <br />
dengan syarat harus menjalankan sebuah ritual terlebih dahulu. Konon <br />
menurut cerita, di masa lampau orang yang memiliki ilmu palasik harus <br />
menikah dengan palasik juga, dan mereka terasing hidup dalam komunitas <br />
tersendiri. Tapi pada masa sekarang palasik sukar untuk dikenali <br />
sehingga mereka bebas hidup dalam masyarakat.<br />
<br />
Terdapat 3 spesialisasi jenis palasik. Pertama, palasik spesialis <br />
ibu-ibu hamil, palasik ini memakan bayi yang masih berada di dalam <br />
kandungan sehingga bayi yang lahir tanpa ubun-ubun bahkan meninggal <br />
dunia. Kedua, palasik spesialis bayi dan anak anak balita, palasik ini <br />
menghisap darah bayi dan anak-anak. Jika tidak segera tahu dan segera di<br />
obati maka si bayi akan sakit-sakitan bahkan sampai meninggal dunia. <br />
Ketiga, palasik spesialis makan bayi yang sudah di kubur. Ada juga <br />
istilah palasik kuduang, palasik yang memutus kepala dari badannya dalam<br />
mempraktekkan ilmu hitamnya. Kuduang dalam bahasa minang berarti potong<br />
atau putus.<br />
<br />
Cara palasik mengaplikasikan ilmunya adalah dengan menghisap darah <br />
melalui ujung jempol kaki mangsanya, menyapa mangsa atau dapat juga <br />
dengan menatap dalam-dalam mangsanya. Jika seorang palasik berhasil <br />
melakukan aksinya, maka si anak yang jadi mangsanya akan mengalami panas<br />
tinggi, kejang-kejang, muntah, diare yang berkepanjangan dan mata yang <br />
selalu mengeluarkan kotoran. Apabila tidak segera di obati ke orang <br />
pintar maka bisa berakibat fatal, si anak bisa meninggal dunia.<br />
<br />
Tak dapat dipungkiri masyarakat Minangkabau meyakini adanya <br />
keberadaan palasik. Sehingga kebanyakan ibu-ibu hamil, bayi yang baru <br />
lahir dan balita selalu menyertakan jimat penangkal di tubuh mereka agar<br />
terhindar dari bahaya palasik.<br />
<br />
Nyata atau tidak palasik merupakan bagian dari kekayaan mitos dan mistis<br />
yang dimiliki negeri kita ini. Berserah diri dan berlindung kepada-Nya <br />
merupakan jalan terbaik agar terhindar dari segala marabahaya.<br />
<br />
Sumber :<br />
<br />
1.	<a href="http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/456/jbptunikompp-gdl-dwiayuagus-22780-2-unikom_d-i.pdf" rel="nofollow" target="_blank">http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/456...om_d-i.pdf</a><br />
<br />
2.	: <a href="http://sosbud.kompasiana.com/2011/09/16/palasik-bagian-dari-kekayaan-mitos-dan-mistis-di-minangkabau/" rel="nofollow" target="_blank">http://sosbud.kompasiana.com/2011/09/16/...nangkabau/</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[1. Pengertian Mitos<br />
<br />
Mitos adalah satu cerita, pendapat atau anggapan dalam sebuah kebudayaan<br />
yang dianggap mempunyai kebenaran mengenai suatu perkara yang pernah <br />
berlaku pada suatu masa dahulu, yang kebenarannya belum tentu benar <br />
adanya (Harry Lubis, 2009). Mitos, mungkin sama tuanya dengan bahasa itu<br />
sendiri. Beberapa mitos dapat bertahan karena memberikan nasehat yang <br />
sesuai dengan pengalaman sehari-hari. Namun, banyak mitos, yang meluas <br />
salah satunya adalah mitos sekitar kehamilan dan melahirkan, yang <br />
terbukti salah atau tidak efektif sesuai dengan kemajuan kedokteran dan <br />
teknologi. <br />
<br />
2. Mitos Daerah Sumatera Barat – Minangkabau<br />
<br />
Palasik, Bagian dari Kekayaan Mitos dan Mistis di Minangkabau<br />
<br />
Apakah anda pernah mendengar istilah ” Palasik ” ? Bagi anda yang <br />
berasal dari daerah Sumatera Barat tentu sudah akrab dengan istilah ini.<br />
Tapi bagi anda yang bukan berasal dari Minangkabau, palasik merupakan <br />
istilah yang mungkin asing bagi anda.<br />
<br />
Diantara kisah-kisah mistis di Minangkabau seperti gasiang tangkurak, <br />
cindaku, sijundai, urang bunian dan lain lain, palasik adalah mitos dan <br />
mistis yang masih top sampai sekarang. Menurut cerita yang berkembang <br />
secara turun temurun di Minangkabau, palasik adalah orang yang memiliki <br />
ilmu hitam tingkat tinggi dan dengan ilmunya ini palasik dipercaya dapat<br />
menghisap darah anak-anak, balita bahkan janin yang berada di dalam <br />
kandungan. Makanya banyak ibu-ibu di Minangkabau yang merasa takut untuk<br />
membawa keluar rumah bayi atau balitanya dan jika memang mendesak <br />
biasanya ibu-ibu memasang jimat penangkal pada salah satu bagian tubuh <br />
anaknya.<br />
<br />
Saya terinspirasi menulis tentang palasik ini adalah karena selama saya <br />
berada di kampung ( Padang dan Bukittinggi ), orang-orang tua selalu <br />
mengingatkan saya agar hati-hati jika ingin membawa anak saya yang <br />
berumur 14 bulan untuk keluar rumah. Jika ingin membawa ke tempat <br />
keramaian seperti pasar atau pusat perbelanjaan, acara resepsi <br />
pernikahan,hendak lah membawa sambua. Sambua adalah istilah untuk jimat <br />
penangkal dan biasanya sambua di dapat dari orang pintar. Menurut para <br />
orang tua, bisa jadi palasik ada di antara orang-orang banyak ini. Saya <br />
sebagai anak hanya menuruti nasehat mereka saja. Jujur saja, sebetulnya <br />
saya percaya tidak percaya dengan keberadaan palasik ini.<br />
<br />
Ilmu palasik diyakini sebagai ilmu yang menurun dalam sebuah <br />
keluarga. Jika orang tuanya palasik, maka otomatis anaknya juga palasik <br />
dengan syarat harus menjalankan sebuah ritual terlebih dahulu. Konon <br />
menurut cerita, di masa lampau orang yang memiliki ilmu palasik harus <br />
menikah dengan palasik juga, dan mereka terasing hidup dalam komunitas <br />
tersendiri. Tapi pada masa sekarang palasik sukar untuk dikenali <br />
sehingga mereka bebas hidup dalam masyarakat.<br />
<br />
Terdapat 3 spesialisasi jenis palasik. Pertama, palasik spesialis <br />
ibu-ibu hamil, palasik ini memakan bayi yang masih berada di dalam <br />
kandungan sehingga bayi yang lahir tanpa ubun-ubun bahkan meninggal <br />
dunia. Kedua, palasik spesialis bayi dan anak anak balita, palasik ini <br />
menghisap darah bayi dan anak-anak. Jika tidak segera tahu dan segera di<br />
obati maka si bayi akan sakit-sakitan bahkan sampai meninggal dunia. <br />
Ketiga, palasik spesialis makan bayi yang sudah di kubur. Ada juga <br />
istilah palasik kuduang, palasik yang memutus kepala dari badannya dalam<br />
mempraktekkan ilmu hitamnya. Kuduang dalam bahasa minang berarti potong<br />
atau putus.<br />
<br />
Cara palasik mengaplikasikan ilmunya adalah dengan menghisap darah <br />
melalui ujung jempol kaki mangsanya, menyapa mangsa atau dapat juga <br />
dengan menatap dalam-dalam mangsanya. Jika seorang palasik berhasil <br />
melakukan aksinya, maka si anak yang jadi mangsanya akan mengalami panas<br />
tinggi, kejang-kejang, muntah, diare yang berkepanjangan dan mata yang <br />
selalu mengeluarkan kotoran. Apabila tidak segera di obati ke orang <br />
pintar maka bisa berakibat fatal, si anak bisa meninggal dunia.<br />
<br />
Tak dapat dipungkiri masyarakat Minangkabau meyakini adanya <br />
keberadaan palasik. Sehingga kebanyakan ibu-ibu hamil, bayi yang baru <br />
lahir dan balita selalu menyertakan jimat penangkal di tubuh mereka agar<br />
terhindar dari bahaya palasik.<br />
<br />
Nyata atau tidak palasik merupakan bagian dari kekayaan mitos dan mistis<br />
yang dimiliki negeri kita ini. Berserah diri dan berlindung kepada-Nya <br />
merupakan jalan terbaik agar terhindar dari segala marabahaya.<br />
<br />
Sumber :<br />
<br />
1.	<a href="http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/456/jbptunikompp-gdl-dwiayuagus-22780-2-unikom_d-i.pdf" rel="nofollow" target="_blank">http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/456...om_d-i.pdf</a><br />
<br />
2.	: <a href="http://sosbud.kompasiana.com/2011/09/16/palasik-bagian-dari-kekayaan-mitos-dan-mistis-di-minangkabau/" rel="nofollow" target="_blank">http://sosbud.kompasiana.com/2011/09/16/...nangkabau/</a>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Legenda Siti Nurbaya ]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Legenda-Siti-Nurbaya</link>
			<pubDate>Sun, 01 Jul 2012 06:04:05 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Legenda-Siti-Nurbaya</guid>
			<description><![CDATA[<span style="font-weight: bold;">&lt;img src="http://www.harianhaluan.com/images/stories/Berita7/010712/gunung1.jpg" height="147" width="222" align="left" /&gt;</span><br />
<br />
<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Objek</span> wisata Gunung Padang terletak di Seberang <br />
Pabayan, Padang Selatan, Kota Padang, yang di tempuh sekitar enam <br />
kilometer dari pusat kota. Pengunjung bisa melewati jembatan yang <br />
ternama di Kota Padang yaitu Jembatan Siti Nurbaya .<br />
<br />
Gunung Padang dikenal dengan cerita rakyat, Siti Nurabaya. Untuk mencapai puncak gunung, anda akan berjalan melewati tangga. <br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Tapi jangan kwatir, jika penat tersedia sejumlah pondok untuk <br />
beristirahat sejenak, sambil melihat deburan ombak dan kapal-kapal yang <br />
memasuki dermaga. Sebelum sampai di puncak anda bisa melayangkan <br />
pandangan ke bawah batu besar yang mengelilingi tangga. Terdapat satu <br />
buah makam yang konon itu merupakan makam Siti Nurbaya.<br />
<br />
<div align="left">Sampai di atas anda bisa menghirup udara segar dari <br />
puncak. Pulau-pulau kecil ter­lihat berjejer di tengah laut nan biru. <br />
Bagi pengunjung yang haus, para pedagang juga siap me­layani, Tersedia <br />
juga toilet di puncak gunung yang menambah ke­nyaman pengunjung.<span style="font-weight: bold;">(RIVO SEPTI ANDRIES/haluan)</span></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span style="font-weight: bold;">&lt;img src="http://www.harianhaluan.com/images/stories/Berita7/010712/gunung1.jpg" height="147" width="222" align="left" /&gt;</span><br />
<br />
<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Objek</span> wisata Gunung Padang terletak di Seberang <br />
Pabayan, Padang Selatan, Kota Padang, yang di tempuh sekitar enam <br />
kilometer dari pusat kota. Pengunjung bisa melewati jembatan yang <br />
ternama di Kota Padang yaitu Jembatan Siti Nurbaya .<br />
<br />
Gunung Padang dikenal dengan cerita rakyat, Siti Nurabaya. Untuk mencapai puncak gunung, anda akan berjalan melewati tangga. <br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Tapi jangan kwatir, jika penat tersedia sejumlah pondok untuk <br />
beristirahat sejenak, sambil melihat deburan ombak dan kapal-kapal yang <br />
memasuki dermaga. Sebelum sampai di puncak anda bisa melayangkan <br />
pandangan ke bawah batu besar yang mengelilingi tangga. Terdapat satu <br />
buah makam yang konon itu merupakan makam Siti Nurbaya.<br />
<br />
<div align="left">Sampai di atas anda bisa menghirup udara segar dari <br />
puncak. Pulau-pulau kecil ter­lihat berjejer di tengah laut nan biru. <br />
Bagi pengunjung yang haus, para pedagang juga siap me­layani, Tersedia <br />
juga toilet di puncak gunung yang menambah ke­nyaman pengunjung.<span style="font-weight: bold;">(RIVO SEPTI ANDRIES/haluan)</span></div>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[KISAH URANG BUNIAN ]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-KISAH-URANG-BUNIAN</link>
			<pubDate>Wed, 13 Jun 2012 05:28:56 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-KISAH-URANG-BUNIAN</guid>
			<description><![CDATA[Urang<br />
Bunian artinya orang yang bersembunyi. Mereka adalah semacam makhluk <br />
manusia rimba dan suka bersembunyi dan tidak mau kelihatan sama orang, <br />
dipercaya tinggal dihutan-hutan di kaki Gunung Tandikek di Sumatera <br />
Barat.<br />
<br />
Keberadaan mereka oleh orang tua-tua dahulu sekitar tahun enampuluhan <br />
dipercaya memang ada. Tapi belum pernah ada yang bertemu. Mereka suka <br />
dijadikan untuk pertakut kepada anak kecil.<br />
<br />
Tahun enempuluhan dulu kampung kami di Kandang Ampek masih lengang. <br />
Kendaraan bermotor atau oto disebutnya tidak seramai sekarang. Hanya <br />
satu-satu bus dan parahoto lewat di jalan raya. Saya ingat mereknya <br />
Chevrolet, dan menghidupkannya searang sitokar atau keneknya menggunakan<br />
sebatang besi yang ujungnya bengkok, dan dimasukkan kecelah yang ada <br />
didepan grill mobil. Disebut dengan engkol. Si kenek mobil mengengkol <br />
beberapa kali sampai mobil berbunyi menderum, dan barulah mesinnya <br />
hidup. Kalau mati lagi, akan diengkol ulang oleh sitokar. Kasihan <br />
sitokar ini, kalau hari panas dia akan bermandi keringat mengengkol <br />
mobil berulang kali. Kalau hari hujan terpaksa ia berbasah-basah <br />
mengengkol mobil.<br />
<br />
<br />
Pada<br />
waktu itu listerik belum masuk kedesa. Penerangan memakai lampu minyak <br />
tanah atau dibuat dari sebatang bambu sariak yang diberi sumbu dari ijuk<br />
atau sabut kelapa yang disebut colok.<br />
Kalau<br />
mau tidur, lampu colok ini dimatikan. Kalau dibiarkan hidup, selain <br />
memboroskan minyak tanah, ia juga menghasilkan abu atau jelaga yang <br />
membuat lubang hidung menjadi hitam pada pagi harinya.<br />
*<br />
Anak kecil tidak boleh main jauh dari rumah. Takut diculik oleh orang Bunian kata nenek.<br />
<br />
« Siapa urang Bunian itu nek », tanya saya.<br />
<br />
”Urang Bunian yang berumah ditengah hutan diatas sebatang pohon, dia <br />
suka dengan anak kecil. Kalau ketemu anak kecil akan diculiknya dan <br />
dijadikan budak untuk pengusir ayam dan pengayak beras”, kata nenek saya<br />
menakuti saya.<br />
Biasanya<br />
kami langsung ciut kalau mendengar cerita nenek ini. Tidak berani lagi <br />
pergi ke hutan atau ke Batang Anai untuk menangkap burung atau ikan.<br />
<br />
Tapi kadang kami acuhkan saja. Dan memang kami tidak pernah diculik oleh<br />
Urang Bunian, karena kami belum pernah berjumpa dengan mereka <br />
sekalipun.<br />
Nenek saya lalu menceritakan kisah Urang Bunian yang menculik Nenek Timah di Subarang.<br />
Subarang<br />
adalah sebuah kampung dibalik Batang Anai yang terletak di pinggir <br />
hutan dan kaki bukit. Penduduknya jarang, tapi disana banyak sawah dan <br />
luas sekali piringnya. Saya suka ke sana karena ada Anduang saya yang <br />
ibu dari ayah saya tinggal di Subarang. Nenek ada saya dua, satu saya <br />
panggil Mak Angih, yaitu ibu dari ibu saya. Mak Angih yang memelihara <br />
saya sejak kecil karena ibu masih mengikuti ayah saya yang seorang <br />
tentara yang tinggal dan suka berpindah-pindah di daerah Riau Kepulauan.<br />
Nenek saya dari pihak ayah yaitu yang saya panggil Anduang. Anduanglah <br />
yang menceritakan kisah ini.<br />
Kembali ke cerita penculikan nenek Timah.<br />
<br />
Sambil memperbaiki letak suginya atau tembakau isap, Anduang menghirup kopinya sehabis shalat maghrib.<br />
<br />
Saya dan seorang teman saya si Amir yang suka tidur di rumah saya <br />
mendengar kisah yang sering diceritakan Anduang. Saya pergi ke Subarang <br />
dari Kandang Ampek bersama ayah saya dan Amir yang ikut. Kebetulan besok<br />
hari minggu kami tidak sekolah. Saya menginap di rumah Anduang.<br />
<br />
Begini kisahnya.<br />
<br />
Suatu hari nenek Timah sakit. Ia terbaring lemah di rumahnya di pinggir<br />
sawah di Subarang. Nenek Timah hidup hanya berdua dengan cucunya yang <br />
masih sekolah dasar. Ibu si anak atau anak dari nenek Timah sudah <br />
meninggal dunia.<br />
<br />
Pada saat tengah hari tepat, kira-kira jam duabelas, matahari bersinar <br />
dengan teriknya. Nenek Timah masih mengerang sakit karena badannya <br />
panas.<br />
<br />
Tiba-tiba pintu rumahnya terbuka. Ia biarkan saja. Ia sangka cucunya si Nur yang pulang dari sekolah.<br />
<br />
Tapi rupanya bukan si Nur yang datang. Tetapi seorang anak muda <br />
berpakaian serba hitam dengan sebuah destar hitam menutupi kepalanya. <br />
Anak muda yang tampan itu tersenyum kepada nenek Timah.<br />
<br />
Dengan lemah nenek Trimah menegur si pemuda.<br />
<br />
”Ada apa anak datang kemari?<br />
<br />
“Assalamualaikum nek, saya Bujang Selamat datang kesini disuruh raja <br />
Dang Putera untuk mengundang nenek ke istananya. Raja mau menikahkan <br />
putrinya dengan putra raja dari Jambi. Ia mau minta tolong nenek untuk <br />
menghias pengantin”, jelas sang pemuda.<br />
<br />
Memang nenek Timah adalah seorang perias penganten di Subarang dan juga <br />
sering diundang ke Kandang Ampek kalau ada orang baralek.<br />
<br />
“Tapi nenek sedang sakit, tidak mungkinlah nenek meninggalkan rumah, <br />
badan nenek masih lemah dan kepala sangat terasa sakit”, kata nenek <br />
Timah.<br />
<br />
“Tidak usah kawatir nek, saya membawa obat untuk nenek”, katanya sambil <br />
menyerahkan sebotol kecil yang berisi cairan bewarna cokelat kepada si <br />
nenek. Minumlah air itu niscaya sebentar sakit nenek akan hilang dan <br />
badan terasa segar”, kata si pemuda menjelaskan.<br />
<br />
“Baiklah, nenek minum”, kata nenek Timah sambil ia membuka tutup botol <br />
dan meminum isinya. Rasanya pahit-pahit manis. Rupanya obat itu terbuat <br />
dari remasan daun sicerek yang dicampur dengan madu dan pinang sinawa.<br />
<br />
Si nenek lalau duduk. Ia merasa heran. Badannya agak terasa enakan. <br />
Kemudian si pemuda memberikan sebuah bungkusan kecil buat nenek Timah.<br />
<br />
“Makanlah beras itu buat penguat tubuh nenek supaya siap untuk berangkat”, kata si pemuda lagi.<br />
<br />
Nenek Timah menerima bungkusan itu dan ia membuka isinya. Tapi nenek <br />
Timah heran melihat butiran beras yang halus dan mengkilat putih bersih.<br />
Ini bukan beras kata hatinya, tapi ini adalah telur semut.<br />
<br />
Dengan ragu nenek meletakkan bungkusan itu diatas meja.<br />
<br />
“Makanlah nek jangan ragu, itu adalah beras penguat tubuh”, kata Bujang Selamat lagi.<br />
<br />
Akhirnya beras itu dimakan juga oleh nenek Timah. Rasanya manis dan enak serta gurih di lidah.<br />
<br />
Benar juga, setelah beras yang telur semut itu masuk perut, sebentar <br />
kemudian tubuh terasa kuat dan nenek bisa turn dengan enteng dari tempat<br />
tidurnya.<br />
<br />
“Mari kita berangkat nek”, kata Bujang Selamat.<br />
<br />
“Tapi bagaimana dengan cucu saya yang segera pulang sekolah”, kata nenek.<br />
<br />
“Tinggalkan saja dia barang sebentar, nanti sebelum maghrib kita juga <br />
sudah kembali kesini. Nanti nenek akan saya antar dengan kereta kuda <br />
lagi”, jelas Bujang Selamat.<br />
<br />
Kereta kuda? Pikir si nenek. Anak muda ini kesini naik bendi? Kenapa tidakkedengaran ringkik kudanya pikir si nenek lagi.<br />
<br />
”Sebenarnya anak siapa ya?, tanya nenek Timah lagi. Ia merasa ragu <br />
dengan tampilan si anak muda itu. Belum pernah ia melihat orang muda dan<br />
sebaik anak ini di Subarang.<br />
<br />
“Saya utusan raja nek”, jelas Bujang Selamat.<br />
<br />
“Raja? Raja dimana? Apa raja dari Pagarruyung?, pikiran si nenek mulai dikacaukan mendengar penjelasan si anak muda.<br />
<br />
”Bukan raja Pagarruyung, tapi raja negeri kami di kerajaan Beringin Keramat namanya”, kata si anak muda lagi.<br />
<br />
”Kerajaan Beringin Keramat?, belum pernah saya mendengar nama kerajaan seperti itu, heran si nenek.<br />
<br />
”Iya nek, kerajaan kami ada di atas angin dibalik awan limbubu di puncak<br />
sebuah beringin rimbun dan yang paling tinggi di kaki Gunung Tandikek”,<br />
jelas si anak muda.<br />
<br />
”Nenek tidak mengerti dimana daerahnya itu”, kembali nenek bertanya dengan heran.<br />
<br />
”Sekarang memang nenek belum tahu, karena kan belum pernah kesana. Nanti<br />
juga nenek akan tahu dan nenek akan menjadi tamu istimewa raja Dang <br />
Putera dengan isterinya Dewi Kayangan di istana Beringin nan Indah itu”,<br />
jelas si pemuda.<br />
<br />
”Baiklah kata nenek Timah, mari kita berangkat”.<br />
<br />
Nenek Timah mengambil bungkusan peragatnya untuk menghias penganten yang<br />
selalu ia bawa. Ia juga membawa sebuah peti yang berisi alat-alat <br />
suntiang dan kembang goyang lengkap dengan inai dan gincu untuk <br />
mempercantik seorang penganten.<br />
<br />
Ia juga membawa sirih tanya-tanya untuk membantu ia membaca jampi-jampi agar si penganten kelihatan sangat cantik waktu ia hias.<br />
Setelah<br />
mengunci pintu, ia dan Bujang Selamat naik kesebuah bendi yang rupanya <br />
telah disiapkan di bawah pohon durian di depan rumah.<br />
<br />
Bendinya dihias dengan cantik sekali. Kepala kuda yang putih bersih <br />
dihias dengan jambul yang terbuat dari benang tujuh ragam. Pegangan kuda<br />
dari kayu jati yang mengkilat dengan gagang dari emas. Rumah bendi <br />
terbuat dari kayu yang berukir indah sekali. Tempat duduknya dari kapas <br />
tebal yang dibungkus kain beledru bewarna biru dan kelihatan masih baru.<br />
Nenek Timah naik ke bendi itu. Peragatnya di letakkan di lantai bendi. <br />
Bendi itu tercium harum sekali, seperti bau kesturi bercampur kayu <br />
kenanga.<br />
<br />
Nenek Timah heran. Belum pernah ia melihat bendi demikian indah. Kalau <br />
ia ke Padangpanjang, ia juga naik bendi ke pasar. Tapi bendi di <br />
Padangpanjang kelihatan kotor dan jorok. Selalu tercium bau ciik kuda. <br />
Ini beda sekali. Bendi indah dan harum milik siapa ya? Pikir nenek Timah<br />
tidak habis mengerti.<br />
<br />
”Nek, kita akan berangkat, tolong nenek duduk yang tenang, karena <br />
perjalanan kita cukup jauh, dan bendi ini akan terbang sekali-sekali <br />
untuk mempercepat sampai”, kata Bujang Selamat.<br />
<br />
Nenek Timah makin bingung mendengar perkataan anak muda itu. Ia hanya <br />
diam saja. Bendi akan terbang? Bendi apa pula ini pikirnya. Bagaimana <br />
caranya kuda bisa terbang bersama bendinya, tidak mungkinlah. Memang, <br />
dulu pernah ia mendengar cerita tentang kuda terbang, atau semacam <br />
binatang yang bersayap dan bisa terbang. Burak namanya. Kabarnya burak <br />
inilah kendaraan nabi Muhammad sewaktu beliau isra’ dan mi’raj. <br />
Terbangnya secepat angin. Apa kuda ini keturunan burak?, pikir nenek <br />
Timah. Tapi kelihatannya ia tidak punya sayap. Ia kuda biasa. Tapi <br />
memang badannya tegap dan ramping, kepalanya tegak dan pandangan lurus <br />
kedepan.<br />
<br />
Ah, terserahlah, yang penting aku akan lihat kemana bendi ini berjalan ke kerajaan Beringin Keramat itu.<br />
<br />
”Hua...huaa..ayo berangkat Gumarang, kita harus cepat sampai”, kata Bujang Selamat ke kuda putih itu.<br />
<br />
”Hiik..hiik..hiik”, kata kuda itu tiga kali.<br />
Bendi<br />
terangkat. Nenek Timah terkejut dan ia berpegang erat-erat ke tonggak <br />
dibelakang tempat duduknya. Kuda Gumarang itu melompat dan ia melewati <br />
pohon durian dengan mudah, dan hup..ia melompati tabek di belakang pohon<br />
durian dan melewati sawah dengan kencangnya.<br />
<br />
Benar juga bendi ini bukan berjalan di jalan biasa. Tapi bendi ini terbang dan melayang diatas persawahan dan ladang.<br />
<br />
Pelan-pelan dan samar-samar Nenek Timah melihat dua sayap muncul dari <br />
sebelah kiri-kanan pinggang kuda itu. Ini dia burak itu. Atau ini <br />
mungkin cucunya burak itu, pikirnya.<br />
<br />
Tidak lama mereka telah berada diatas batang Anai. Samar-samar kelihatan<br />
airnya yang memutih dibawah sana. Oh ya itu dia jembatan gadang di <br />
dekat bukik pekuburan Pasar Kerambil. Kuda dan bendi itu melayang <br />
terbang ke arah mudik mengikuti alur batang Anai. Tak lama kelihatan <br />
Bukik Rambai yang juga merupakan pandam pekuburan orang Kampung Apa dan <br />
Kandang Ampek. Kemudian kuda itu terbang melintasi batang Anai dan <br />
melewati stasiun kereta api Kandang Ampek terus ke barat menuju bekas <br />
perkebunan Belanda Bern.<br />
<br />
Di bawah kelihatan lubuk jernih mata air Bulakan yang memancarkan air <br />
dari celah batu yang berasal dari perut Gunung Tandikek. Mata air ini <br />
adalah sumber air bagi orang Kandang Ampek, Kampung Apa, Pasa Kerambil, <br />
Guguak, Pasar Surau, Pasar Jua dan terus ke Kayutanam. Airnya jernih <br />
sekali. Ia mengairi sawah, tabek, dan mengalir melalui Batang Tarok dan <br />
Banda Gadang.<br />
<br />
Airnya bisa langsung di minum.<br />
Tidak lama kuda terbang ini telah melewati hutan lebat di kaki gunung Tandikek.<br />
<br />
“Nek, siap-siaplah, sebentar lagi kita akan sampai”, kata Bujang Selamat lagi.<br />
<br />
Kuda dan bendi itu terbang agak meninggi sekarang. Mereka memasuki awan <br />
putih seperti kapas. Udara terasa makin dingin. Nenek Timah memasang <br />
baju hangatnya dan melilitkan selendangnya kelehernya. Ia terbatuk-batuk<br />
sekarang.<br />
Kemudian<br />
kuda itu menukik turun. Dibawah kelihatan samar-samar banyak <br />
rumah-rumah yang cantik-cantik. Tapi, modelnya aneh. Semuanya seperti <br />
bulat telur. Rumah siapa ini?, pikir nenek Timah.<br />
Tak<br />
lama kemudian mereka telah berada di atas tanah lapang dengan rumput <br />
hijau dan indah sekali. Kuda dan bendi itu berjalan pelan sekarang. Di <br />
kiri kanan kelihatan berjejer tanaman puding segala macam warna. Ada <br />
puding gerai dengan warna daunnya kuning campur merah yang cantik <br />
sekali. Ada puding gadang dengan warna daun lebar cokelat dan hitam <br />
diselingi warna ungu yang kelihatan anggun. Disana bermain kupu-kupu <br />
yang sedang mengisap madu dari bunga ros merah, kuning, jingga, ungu, <br />
putih yang berkelompok ditanam sesuai dengan warna. Ada juga bougenville<br />
yang bewarna merah darah dan bewarna ungu yang sanagt cantik. Semua <br />
ditanam di halaman sebuah istana yang dicat putih bersih, di belakang <br />
sebuah pohon beringin raksasa dengan daun yang lebat sekali. Ada dua <br />
buah pohon beringin ini, dikiri kanan seakan ditanam sebagai tiang <br />
gapura pintu masuk ke istana itu.<br />
”Nenek turun di sini, nanti akan dijemput oleh dayang-dayang istana”, kata Bujang Selamat.<br />
<br />
Memang, kemudian kelihatan dua orang putri dayang-dayang dengan pakaian sulaman yang indah datang menghampiri.<br />
<br />
Nenek Timah turun dari bendi. Peragatnya di berikan oleh Bujang Selamat ke salah seorang dayang –dayang.<br />
<br />
“Nenek Timah, mari masuk ke istana. Putri Mayang Taurai telah menunggu”, kata salah satu dayang-dayang.<br />
<br />
Dengan dibimbing kiri kanan oleh dua dayang-dayang itu nenek Timah <br />
berjalan memasuki istana melalui karpet merah menyala. Serambi istana <br />
telah dihiasi dengan umbul-umbul pucuk kelapa dan pucuk enau. Sesampai <br />
di serambi ia dibimbing memasuki sebuah pintu di samping kiri.<br />
<br />
“Nek, kita ke kamar ganti dulu”, kata seorang dayang-dayang.<br />
<br />
Di dalam kamar ganti itu banyak sekali bergantungan baju-baju yang <br />
indah-indah. Ada baju kurung, ada baju adat berenda-renda. Ada bermacam <br />
selendang beraneka warna.<br />
<br />
Nenek Timah di pakaikan sebuah baju kurung dari sutera bewarna kuning <br />
gading dengan bunga-bunga suplir melingkar. Cantik sekali. Rambutnya <br />
disisirkan oleh dayang-dayang tadi. Badannya disemproti dengan minyak <br />
parfum dari Arab yang harum sekali. Kepalanya ditutupi dengan sebuah <br />
selendang panjang dengan warna yang sama. Dia dipakaikan sebuah terompah<br />
dari beledru dengan warna kuning yang sama. Di lehernya digantungkan <br />
kalung-kalung emas bercampur batu akik yang dirangkai indah sekali. Juga<br />
dipakaikan gelang-gelang keroncong dari emas yang kalau tangannya <br />
digerakkan akan berbunyi gemerincing.<br />
<br />
Nenek Timah menjelma menjadi seorang wanita yang cantik anggun. <br />
Sebenarnya nenek Timah belum tua amat. Umurnya baru empat puluh lima <br />
tahun. Namun karena kemiskinan dan turun kesawah tiap hari serta mencari<br />
kayu bakar buat memasak, badannya jadi kurus kering dan kelihatan <br />
sangat tua.<br />
<br />
“Nek, sekarang kita akan memasuki kamar ganti Tuan Putri Mayan Taurai”, kata seorang dayang-dayang.<br />
<br />
Melalui sebuah lorong dibalik kamar itu, mereka keluar dan belok ke <br />
kiri. Disana ada ruangan yang luas sekali. Ada banyak wanita disana. <br />
Mereka merangkai bunga dan menggunting kain paco untuk hiasan kamar <br />
penganten putri. Semuanya berpakaian baju kurung warna putih seragam. <br />
Belum pernah nenek Timah menyaksikan persiapan perkawinan semeriah ini. <br />
Ia membathin, benar-benar raja yang kaya yang sedang bermenantu. Pantas <br />
semeriah ini.<br />
<br />
Seorang dayang membuka sebuah pintu berukir yang indah sekali. Mereka <br />
memasuki sebuah kamar yang luas yang penuh dengan hiasan bergelantungan.<br />
Lampu kristal besar kelihatan menggantung persis di tengah ruangan. <br />
Mepet ke dinding belakang menempel sebuah tempat tidur besar dari kayu <br />
jati dengan ukiran kepala naga dan ular yang sedang berkejaran. <br />
Pinggir-pinggir tempat tidur telah ditempeli kain beledru warna pink dan<br />
biru selang seling warna hijau lembut. Kasurnya kelihatan tebal sekali <br />
dengan bantal-bantal besar dn kecil berselang seling diatus diatas <br />
kasur. Rupanya ini kamar pengantenya. Pikir nenek Timah.<br />
<br />
Di sebelah kanan menempel lemari besar dan juga dari kayu jati berukir.<br />
Diatas<br />
sehelai permadani Persia yang mahal dan indah duduklah seorang putri <br />
cantik yang sedang ditemani oleh lima orang dayang-dayang yang sedang <br />
mengipasi dan membersihkan kuku-kuku kaki si putri.<br />
Melihat nenek Timah datang, sang putri menoleh.<br />
“Selamat datang nek di kerajaan, nenek sudah lama saya tunggu”, suara lembut merdu sekali.<br />
<br />
“Perkenalkan saya Putri Mayang Taurai, anak raja Dang Putera dan putri Ibunda Dewi Kayangan”, kembali sang putri memperkenalkan.<br />
<br />
“Ijinkan hamba yang jelek ini memasuki istana tuan putri. Kalau hamba <br />
lancang tolong dimaafkan, maklum hamba hanya orang kampung Subarang yang<br />
miskin.<br />
<br />
”Nek, kami sudah tahu siapa nenek, dan kami telah menganggap nenek keluarga kami juga”, jelas sang putri.<br />
<br />
Supaya nenek tidak canggung akan saya terangkan pada nenek sebuah <br />
peristiwa dimana sejak itu nenek masuk orang yang harus diperhatikan <br />
oleh ayahanda hamba Raja Dang Putera.<br />
Nenek<br />
mungkin ingat, sewaktu suami nenek masih hidup, pak Haji Ahmad yang <br />
guru ngaji di Subarang, dia pernah tidak pulang satu hari. Dan kemudian <br />
satu bulan setelah itu ia jatuh sakit, dan Tuhan memanggilnya.<br />
<br />
Sewaktu beliau hilang satu hari, sebenarnya beliau kami undang kemari <br />
atas perintah ayahanda. Saya waktu itu masih kecil. Juga Pangeran Dang <br />
Kelana kakak saya masih remaja. Kakak saya punya peliharaan seekor murai<br />
yang pandai bicara. Sewaktu kami main-main ke negeri bawah angin, <br />
begitu kami menyebut kampung nenek, terjadi sebuah kecelakaan kecil. <br />
Karne asyiknya saya main-main di lubuk jernih dipinggir ladang nenek, <br />
dan pangeran dang Kelana sedang asyik berburu seekor anak kancil, burung<br />
murainya juga terbang bermain-main. Rupanya seorang anak kampung sedang<br />
mencari burung dengan katapelnya. Dan ia membedik murai kami. Kenalah <br />
sayapnya dan patah.<br />
<br />
Pengeran marah sekali. Untung saya bisa menyabarkan.<br />
<br />
Saya bilang kita tarok murai ini diatas batu dipinggir lubuk. Sebentar <br />
lagi haji Ahmad akan datang dan ia akan mengambil udhuk di sini. Kami <br />
bersembunyi dibalik pohon langsat disamping lubuk.<br />
Benar,<br />
pak haji Ahmad suami nenek datang. Ia melihat seekor burung murai batu <br />
terletak sakit sayapnya patah diatas sebuah batu. Ia nampaknya kasihan. <br />
Ia bersihkan luka sayap burung kami. Kemudian ia beri obat daun singkong<br />
yang ia kunyah dan dibalutnya dengan sobekan serban hajinya sayap <br />
burung itu.<br />
<br />
Perbuatannya tidak lepas dari pandangan kami berdua.<br />
Tidak<br />
lama setalah pak haji selesai berwudhuk, burung kami siuman dan <br />
melompat kebalik pohon. Lalu kami ambil. Kami melihat pak haji tersenyum<br />
puas dan ia pulang kerumah nenek.<br />
Kami<br />
kembali ke kerajaan dan melapor kepada ayahanda. Ayahanda kelihatannya <br />
simpati dengan perbuatan haji Ahmad dan menyuruh pesuruh istana datang <br />
ke rumah nenek untuk mengundang pak haji ke istana.<br />
<br />
Nah, setelah Pak Haji kami jamu di istana, dan ayahanda berpesan supaya <br />
Pak Haji jangan menceritakan pengalamannya di kerajaan kami. Mungkin <br />
nenek melihat setelah pulang kembali kerumah, Pak Haji berubah jadi <br />
pendiam.<br />
Namun,<br />
kami juga turut sedih setelah kemudian Pak Haji meninggal. Nenek <br />
mungkin tidak menyadari bahwa pada hari Pak Haji meninggal sebenarnya <br />
saya dan kakak saya datang kerumah nenek. Kami membawa bunga tanda <br />
dukacita. Namun kehadiran kami pasti tidak terlihat oleh orang kampung <br />
Subarang. Karena memang demikianlah takdir kita masing-masing.<br />
Demikian<br />
sebagai pembuka pembicaraan sang Putri Mayang Taurai menceritakan <br />
beberapa kejadian yang tidak disadari oleh Nenek Timah selama ini.<br />
<br />
”Jadi nak Putri ini dari suku mana ya”, tanya nenek Timah.<br />
<br />
”Nek, ceritanya panjang sekali”, kata Putri. Dulu kami ini adalah <br />
keluarga kerajaan Pagarruyung yang pertama. Karena sesuatu yang tidak <br />
terelakkan, karena sudah menjadi nasib pula, maka jadilah kami kaum yang<br />
terbuang. Dan karena sumpah kerajaan oleh Raja Pagarruyung yang pertama<br />
Dang Tuanku, maka anak keturunan dari nenek kami ”diminta supaya tidak <br />
terlihat” oleh semua rakyat Pagarruyung.<br />
<br />
”Kenapa demikian tuan Putri”, tanya nenek Timah pula.<br />
<br />
”Nenek kami dulunya adalah seorang selir raja Pagarruyung, yang tidak <br />
diakui oleh istana. Karena nenek kami adalah seorang dayang-dayang yang <br />
diambil dari tanah jajahan kerajaan diseberang sana, dari sebuah pulau <br />
di kerajaan Melayu.<br />
<br />
Karena kecantikan dayang-dayang itu, diam-diam raja menaruh hati. Dan <br />
raja lalu menjadikannya selirnya, tanpa diketahui oleh Bundokanduang <br />
sang permaisuri raja.<br />
<br />
Ketika diketahui bahwa sang selir hamil, maka ributlah Bundokanduang. Ia<br />
menyuruh untuk mengusir si selir. Rajapun cepat mengambil sikap. Ia <br />
segera menikahkan sang dayang-dayang yang telah ia peristeri dengan <br />
seorang bujang perawat kuda istana, Pandeka Kilek namanya.<br />
<br />
Pandeka Kilek dan Sang dayang-dayang diungsikan ke sebuah hutan <br />
laranganan di kaki Gunung Tandikek. Dan karena kesaktian sang raja yang <br />
bersumpah supaya anaknya yang dikandung oleh si selir diselamatkan, ia <br />
menyumpah keturunannya itu tersembunyi dari penglihatan orang banyak.<br />
<br />
Suatu saat si selir mau melahirkan, dan terjadilah patuih tungga di siang hari.<br />
<br />
Gelegar petir mengagetkan orang semua. Karena hari panas betinting, <br />
tidak ada setetes pun hujan, tapi petir tengah hari itu keras luar <br />
biasa. Sebatang pohon kelapa sampai hangus terbakar.<br />
Lahirlah<br />
seorang putri yang cantik sekali. Dan sejak itu keturunan kami <br />
tersembunyi di tengah hutan dan tidak terlihat oleh orang banyak.<br />
Jadilah<br />
kami Orang Bunian. Keturunan kami bermukim disini. Dan kami juga sering<br />
menjemput orang kampung yang kami nilai baik, namun sering dikucilkan <br />
oleh masyarakat karena kemiskinannya. Kami bawa mereka kemari dan kami <br />
beri penghidupan di kerajaan Beringin ini. Tapi, mereka segera menjadi <br />
orang Bunian juga.<br />
Demikianlah<br />
nek, kerajaan ini berkembang. Kami juga sering datang kepasar ke tempat<br />
orang biasa berdagang. Kami juga sering ke Malalak, ke Kayutanam, ke <br />
Kandang Ampek, ke Padangpanjang, ke Silaing, ke Batipuh, dan ke Sungai <br />
Limau dan ke Singkarak.<br />
Cuma<br />
kaum kami tidak boleh ke tanah Agam. Karena tanah Agam adalah tanah <br />
sakti dan mulia. Ilmu Bunian akan tertolak disini. Kalau ada yang berani<br />
keluar dan memijak tanah Agam, maka dirinya akan terlihat dan ia akan <br />
mengalami malapetaka.<br />
Dan<br />
itu pernah kejadian, seorang pemuda kami memburu kijang sampai ke <br />
batas Sungai Buluah, dan rupanya ia terpikat seorang gadis cantik yang <br />
sedang menyiang sawah disana. Ia mendekati si gadis, tanpa ia ketahui <br />
bahwa dirinya telah nyata, dan ia ditangkap orang kampung, karena <br />
penampilannya berbeda. Untunglah ia diselamatkan oleh orang tua si <br />
gadis, dan ia akhirnya menikah dengan gadis itu dan tidak pernah balik <br />
lagi ke Beringin.<br />
”Nek,<br />
mari hiaslah diri saya, karena nanti sore calon suami saya akan datang <br />
dari tanah Jambi”, sang Putri raja meminta nek Timah untuk menghias <br />
dirinya.<br />
<br />
”Baiklah”, kata nenek Timah.<br />
<br />
Sang Putri Mayang Taurai di dandani oleh nenek Timah dengan eloknya. <br />
Mukanya yang cantik dan putah itu diberi pupur dari bedak beras halus <br />
yang dicampur dengan bungatanjung sehingga harum dan membuat muka si <br />
putri raja makin bercahaya. Pipinya dimerahi dengan halusan bunga <br />
kesumba dicampur dedak beras pulut yang dihaluskan. Bahan ini diracik <br />
oleh nenek Timah sendiri. Itulah kelebihan nenek Timah dalam merias <br />
penganten. Ia selalu dicari orang. Bibir sang putri diberi gincu, yang <br />
dibeli oleh ayahnya di Persia sewaktu beliau menunaikan ibadah haji.<br />
<br />
Jadilah Putri Mayang Taurai seperti seorang dewi yang baru turun dari kayangan.<br />
<br />
Ia adalah Putri Raja Urang Bunian.<br />
Demikianlah<br />
nenek Timah menghias putri raja Bunian di kerajaan Beringin di kaki <br />
Gunung Tandikek, yang segera melangsungkan perkawinannya dengan seorang <br />
anak Raja dari Jambi yang juga keturuan dari orang Bunian yang mendiami <br />
hutan keramat Bukit Dua Belas.<br />
Sorenya<br />
menjelang maghrib ia kembali diantar oleh kuda terbang dan Bujang <br />
Selamat kembali ke rumahnya di Subarang. Nenek Timah di hadiahi kalung <br />
dan gelang emas buat cucunya oleh sang Putri Raja.<br />
Pagi-pagi sekali si Upik cucu nenek Timah terkejut melihat neneknya teridur di depan tangga rumah.<br />
<br />
Ia bangunkan neneknya.<br />
<br />
”Nek, bangun hari sudah shubuh. Kenapa nenek tidur di luar”, tanya Upik.<br />
<br />
Nek Timah bangun, ia ke pancuran. Ia diam saja. Kemaren ia dipesankan <br />
oleh Putri Mayang Taurai, supaya tidak menceritakan kerajaan Bunian itu.<br />
Cerita Nek Timah tetap tersimpan rapat sampai ia menghembuskan napas terakhirnya, dan cucunya Upik tetap menyimpan rahasia ini. <br />
<br />
Hidup Upik kini telah berubah, dan setelah ia menikah dengan Udin petani<br />
teman sekampung di Subarang. Perhiasan hadiah kerajaan Bunian yang ia <br />
simpan selama ini setelah neneknya meninggal, kemudian ia jual. Dan <br />
uangnya mereka pakai untuk modal dagang dan mereka pindah ke Pekanbaru. <br />
Disinilah Upik hidup bersama suaminya. Cerita tentang neneknya yang <br />
hilang seharian tetap ia simpan, karena ia tidak tahu sampai sekarang <br />
kemana neneknya pergi dan dari mana nenek dapat perhiasan itu. Itu tetap<br />
jadi teka teki sampai sekarang.<br />
Oleh: DASRIEL<br />
<br />
di kutip: https://groups.google.com/forum/#!msg/rantaunet/ABiOXHCVeFk/9hrt9GI6g1QJ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Urang<br />
Bunian artinya orang yang bersembunyi. Mereka adalah semacam makhluk <br />
manusia rimba dan suka bersembunyi dan tidak mau kelihatan sama orang, <br />
dipercaya tinggal dihutan-hutan di kaki Gunung Tandikek di Sumatera <br />
Barat.<br />
<br />
Keberadaan mereka oleh orang tua-tua dahulu sekitar tahun enampuluhan <br />
dipercaya memang ada. Tapi belum pernah ada yang bertemu. Mereka suka <br />
dijadikan untuk pertakut kepada anak kecil.<br />
<br />
Tahun enempuluhan dulu kampung kami di Kandang Ampek masih lengang. <br />
Kendaraan bermotor atau oto disebutnya tidak seramai sekarang. Hanya <br />
satu-satu bus dan parahoto lewat di jalan raya. Saya ingat mereknya <br />
Chevrolet, dan menghidupkannya searang sitokar atau keneknya menggunakan<br />
sebatang besi yang ujungnya bengkok, dan dimasukkan kecelah yang ada <br />
didepan grill mobil. Disebut dengan engkol. Si kenek mobil mengengkol <br />
beberapa kali sampai mobil berbunyi menderum, dan barulah mesinnya <br />
hidup. Kalau mati lagi, akan diengkol ulang oleh sitokar. Kasihan <br />
sitokar ini, kalau hari panas dia akan bermandi keringat mengengkol <br />
mobil berulang kali. Kalau hari hujan terpaksa ia berbasah-basah <br />
mengengkol mobil.<br />
<br />
<br />
Pada<br />
waktu itu listerik belum masuk kedesa. Penerangan memakai lampu minyak <br />
tanah atau dibuat dari sebatang bambu sariak yang diberi sumbu dari ijuk<br />
atau sabut kelapa yang disebut colok.<br />
Kalau<br />
mau tidur, lampu colok ini dimatikan. Kalau dibiarkan hidup, selain <br />
memboroskan minyak tanah, ia juga menghasilkan abu atau jelaga yang <br />
membuat lubang hidung menjadi hitam pada pagi harinya.<br />
*<br />
Anak kecil tidak boleh main jauh dari rumah. Takut diculik oleh orang Bunian kata nenek.<br />
<br />
« Siapa urang Bunian itu nek », tanya saya.<br />
<br />
”Urang Bunian yang berumah ditengah hutan diatas sebatang pohon, dia <br />
suka dengan anak kecil. Kalau ketemu anak kecil akan diculiknya dan <br />
dijadikan budak untuk pengusir ayam dan pengayak beras”, kata nenek saya<br />
menakuti saya.<br />
Biasanya<br />
kami langsung ciut kalau mendengar cerita nenek ini. Tidak berani lagi <br />
pergi ke hutan atau ke Batang Anai untuk menangkap burung atau ikan.<br />
<br />
Tapi kadang kami acuhkan saja. Dan memang kami tidak pernah diculik oleh<br />
Urang Bunian, karena kami belum pernah berjumpa dengan mereka <br />
sekalipun.<br />
Nenek saya lalu menceritakan kisah Urang Bunian yang menculik Nenek Timah di Subarang.<br />
Subarang<br />
adalah sebuah kampung dibalik Batang Anai yang terletak di pinggir <br />
hutan dan kaki bukit. Penduduknya jarang, tapi disana banyak sawah dan <br />
luas sekali piringnya. Saya suka ke sana karena ada Anduang saya yang <br />
ibu dari ayah saya tinggal di Subarang. Nenek ada saya dua, satu saya <br />
panggil Mak Angih, yaitu ibu dari ibu saya. Mak Angih yang memelihara <br />
saya sejak kecil karena ibu masih mengikuti ayah saya yang seorang <br />
tentara yang tinggal dan suka berpindah-pindah di daerah Riau Kepulauan.<br />
Nenek saya dari pihak ayah yaitu yang saya panggil Anduang. Anduanglah <br />
yang menceritakan kisah ini.<br />
Kembali ke cerita penculikan nenek Timah.<br />
<br />
Sambil memperbaiki letak suginya atau tembakau isap, Anduang menghirup kopinya sehabis shalat maghrib.<br />
<br />
Saya dan seorang teman saya si Amir yang suka tidur di rumah saya <br />
mendengar kisah yang sering diceritakan Anduang. Saya pergi ke Subarang <br />
dari Kandang Ampek bersama ayah saya dan Amir yang ikut. Kebetulan besok<br />
hari minggu kami tidak sekolah. Saya menginap di rumah Anduang.<br />
<br />
Begini kisahnya.<br />
<br />
Suatu hari nenek Timah sakit. Ia terbaring lemah di rumahnya di pinggir<br />
sawah di Subarang. Nenek Timah hidup hanya berdua dengan cucunya yang <br />
masih sekolah dasar. Ibu si anak atau anak dari nenek Timah sudah <br />
meninggal dunia.<br />
<br />
Pada saat tengah hari tepat, kira-kira jam duabelas, matahari bersinar <br />
dengan teriknya. Nenek Timah masih mengerang sakit karena badannya <br />
panas.<br />
<br />
Tiba-tiba pintu rumahnya terbuka. Ia biarkan saja. Ia sangka cucunya si Nur yang pulang dari sekolah.<br />
<br />
Tapi rupanya bukan si Nur yang datang. Tetapi seorang anak muda <br />
berpakaian serba hitam dengan sebuah destar hitam menutupi kepalanya. <br />
Anak muda yang tampan itu tersenyum kepada nenek Timah.<br />
<br />
Dengan lemah nenek Trimah menegur si pemuda.<br />
<br />
”Ada apa anak datang kemari?<br />
<br />
“Assalamualaikum nek, saya Bujang Selamat datang kesini disuruh raja <br />
Dang Putera untuk mengundang nenek ke istananya. Raja mau menikahkan <br />
putrinya dengan putra raja dari Jambi. Ia mau minta tolong nenek untuk <br />
menghias pengantin”, jelas sang pemuda.<br />
<br />
Memang nenek Timah adalah seorang perias penganten di Subarang dan juga <br />
sering diundang ke Kandang Ampek kalau ada orang baralek.<br />
<br />
“Tapi nenek sedang sakit, tidak mungkinlah nenek meninggalkan rumah, <br />
badan nenek masih lemah dan kepala sangat terasa sakit”, kata nenek <br />
Timah.<br />
<br />
“Tidak usah kawatir nek, saya membawa obat untuk nenek”, katanya sambil <br />
menyerahkan sebotol kecil yang berisi cairan bewarna cokelat kepada si <br />
nenek. Minumlah air itu niscaya sebentar sakit nenek akan hilang dan <br />
badan terasa segar”, kata si pemuda menjelaskan.<br />
<br />
“Baiklah, nenek minum”, kata nenek Timah sambil ia membuka tutup botol <br />
dan meminum isinya. Rasanya pahit-pahit manis. Rupanya obat itu terbuat <br />
dari remasan daun sicerek yang dicampur dengan madu dan pinang sinawa.<br />
<br />
Si nenek lalau duduk. Ia merasa heran. Badannya agak terasa enakan. <br />
Kemudian si pemuda memberikan sebuah bungkusan kecil buat nenek Timah.<br />
<br />
“Makanlah beras itu buat penguat tubuh nenek supaya siap untuk berangkat”, kata si pemuda lagi.<br />
<br />
Nenek Timah menerima bungkusan itu dan ia membuka isinya. Tapi nenek <br />
Timah heran melihat butiran beras yang halus dan mengkilat putih bersih.<br />
Ini bukan beras kata hatinya, tapi ini adalah telur semut.<br />
<br />
Dengan ragu nenek meletakkan bungkusan itu diatas meja.<br />
<br />
“Makanlah nek jangan ragu, itu adalah beras penguat tubuh”, kata Bujang Selamat lagi.<br />
<br />
Akhirnya beras itu dimakan juga oleh nenek Timah. Rasanya manis dan enak serta gurih di lidah.<br />
<br />
Benar juga, setelah beras yang telur semut itu masuk perut, sebentar <br />
kemudian tubuh terasa kuat dan nenek bisa turn dengan enteng dari tempat<br />
tidurnya.<br />
<br />
“Mari kita berangkat nek”, kata Bujang Selamat.<br />
<br />
“Tapi bagaimana dengan cucu saya yang segera pulang sekolah”, kata nenek.<br />
<br />
“Tinggalkan saja dia barang sebentar, nanti sebelum maghrib kita juga <br />
sudah kembali kesini. Nanti nenek akan saya antar dengan kereta kuda <br />
lagi”, jelas Bujang Selamat.<br />
<br />
Kereta kuda? Pikir si nenek. Anak muda ini kesini naik bendi? Kenapa tidakkedengaran ringkik kudanya pikir si nenek lagi.<br />
<br />
”Sebenarnya anak siapa ya?, tanya nenek Timah lagi. Ia merasa ragu <br />
dengan tampilan si anak muda itu. Belum pernah ia melihat orang muda dan<br />
sebaik anak ini di Subarang.<br />
<br />
“Saya utusan raja nek”, jelas Bujang Selamat.<br />
<br />
“Raja? Raja dimana? Apa raja dari Pagarruyung?, pikiran si nenek mulai dikacaukan mendengar penjelasan si anak muda.<br />
<br />
”Bukan raja Pagarruyung, tapi raja negeri kami di kerajaan Beringin Keramat namanya”, kata si anak muda lagi.<br />
<br />
”Kerajaan Beringin Keramat?, belum pernah saya mendengar nama kerajaan seperti itu, heran si nenek.<br />
<br />
”Iya nek, kerajaan kami ada di atas angin dibalik awan limbubu di puncak<br />
sebuah beringin rimbun dan yang paling tinggi di kaki Gunung Tandikek”,<br />
jelas si anak muda.<br />
<br />
”Nenek tidak mengerti dimana daerahnya itu”, kembali nenek bertanya dengan heran.<br />
<br />
”Sekarang memang nenek belum tahu, karena kan belum pernah kesana. Nanti<br />
juga nenek akan tahu dan nenek akan menjadi tamu istimewa raja Dang <br />
Putera dengan isterinya Dewi Kayangan di istana Beringin nan Indah itu”,<br />
jelas si pemuda.<br />
<br />
”Baiklah kata nenek Timah, mari kita berangkat”.<br />
<br />
Nenek Timah mengambil bungkusan peragatnya untuk menghias penganten yang<br />
selalu ia bawa. Ia juga membawa sebuah peti yang berisi alat-alat <br />
suntiang dan kembang goyang lengkap dengan inai dan gincu untuk <br />
mempercantik seorang penganten.<br />
<br />
Ia juga membawa sirih tanya-tanya untuk membantu ia membaca jampi-jampi agar si penganten kelihatan sangat cantik waktu ia hias.<br />
Setelah<br />
mengunci pintu, ia dan Bujang Selamat naik kesebuah bendi yang rupanya <br />
telah disiapkan di bawah pohon durian di depan rumah.<br />
<br />
Bendinya dihias dengan cantik sekali. Kepala kuda yang putih bersih <br />
dihias dengan jambul yang terbuat dari benang tujuh ragam. Pegangan kuda<br />
dari kayu jati yang mengkilat dengan gagang dari emas. Rumah bendi <br />
terbuat dari kayu yang berukir indah sekali. Tempat duduknya dari kapas <br />
tebal yang dibungkus kain beledru bewarna biru dan kelihatan masih baru.<br />
Nenek Timah naik ke bendi itu. Peragatnya di letakkan di lantai bendi. <br />
Bendi itu tercium harum sekali, seperti bau kesturi bercampur kayu <br />
kenanga.<br />
<br />
Nenek Timah heran. Belum pernah ia melihat bendi demikian indah. Kalau <br />
ia ke Padangpanjang, ia juga naik bendi ke pasar. Tapi bendi di <br />
Padangpanjang kelihatan kotor dan jorok. Selalu tercium bau ciik kuda. <br />
Ini beda sekali. Bendi indah dan harum milik siapa ya? Pikir nenek Timah<br />
tidak habis mengerti.<br />
<br />
”Nek, kita akan berangkat, tolong nenek duduk yang tenang, karena <br />
perjalanan kita cukup jauh, dan bendi ini akan terbang sekali-sekali <br />
untuk mempercepat sampai”, kata Bujang Selamat.<br />
<br />
Nenek Timah makin bingung mendengar perkataan anak muda itu. Ia hanya <br />
diam saja. Bendi akan terbang? Bendi apa pula ini pikirnya. Bagaimana <br />
caranya kuda bisa terbang bersama bendinya, tidak mungkinlah. Memang, <br />
dulu pernah ia mendengar cerita tentang kuda terbang, atau semacam <br />
binatang yang bersayap dan bisa terbang. Burak namanya. Kabarnya burak <br />
inilah kendaraan nabi Muhammad sewaktu beliau isra’ dan mi’raj. <br />
Terbangnya secepat angin. Apa kuda ini keturunan burak?, pikir nenek <br />
Timah. Tapi kelihatannya ia tidak punya sayap. Ia kuda biasa. Tapi <br />
memang badannya tegap dan ramping, kepalanya tegak dan pandangan lurus <br />
kedepan.<br />
<br />
Ah, terserahlah, yang penting aku akan lihat kemana bendi ini berjalan ke kerajaan Beringin Keramat itu.<br />
<br />
”Hua...huaa..ayo berangkat Gumarang, kita harus cepat sampai”, kata Bujang Selamat ke kuda putih itu.<br />
<br />
”Hiik..hiik..hiik”, kata kuda itu tiga kali.<br />
Bendi<br />
terangkat. Nenek Timah terkejut dan ia berpegang erat-erat ke tonggak <br />
dibelakang tempat duduknya. Kuda Gumarang itu melompat dan ia melewati <br />
pohon durian dengan mudah, dan hup..ia melompati tabek di belakang pohon<br />
durian dan melewati sawah dengan kencangnya.<br />
<br />
Benar juga bendi ini bukan berjalan di jalan biasa. Tapi bendi ini terbang dan melayang diatas persawahan dan ladang.<br />
<br />
Pelan-pelan dan samar-samar Nenek Timah melihat dua sayap muncul dari <br />
sebelah kiri-kanan pinggang kuda itu. Ini dia burak itu. Atau ini <br />
mungkin cucunya burak itu, pikirnya.<br />
<br />
Tidak lama mereka telah berada diatas batang Anai. Samar-samar kelihatan<br />
airnya yang memutih dibawah sana. Oh ya itu dia jembatan gadang di <br />
dekat bukik pekuburan Pasar Kerambil. Kuda dan bendi itu melayang <br />
terbang ke arah mudik mengikuti alur batang Anai. Tak lama kelihatan <br />
Bukik Rambai yang juga merupakan pandam pekuburan orang Kampung Apa dan <br />
Kandang Ampek. Kemudian kuda itu terbang melintasi batang Anai dan <br />
melewati stasiun kereta api Kandang Ampek terus ke barat menuju bekas <br />
perkebunan Belanda Bern.<br />
<br />
Di bawah kelihatan lubuk jernih mata air Bulakan yang memancarkan air <br />
dari celah batu yang berasal dari perut Gunung Tandikek. Mata air ini <br />
adalah sumber air bagi orang Kandang Ampek, Kampung Apa, Pasa Kerambil, <br />
Guguak, Pasar Surau, Pasar Jua dan terus ke Kayutanam. Airnya jernih <br />
sekali. Ia mengairi sawah, tabek, dan mengalir melalui Batang Tarok dan <br />
Banda Gadang.<br />
<br />
Airnya bisa langsung di minum.<br />
Tidak lama kuda terbang ini telah melewati hutan lebat di kaki gunung Tandikek.<br />
<br />
“Nek, siap-siaplah, sebentar lagi kita akan sampai”, kata Bujang Selamat lagi.<br />
<br />
Kuda dan bendi itu terbang agak meninggi sekarang. Mereka memasuki awan <br />
putih seperti kapas. Udara terasa makin dingin. Nenek Timah memasang <br />
baju hangatnya dan melilitkan selendangnya kelehernya. Ia terbatuk-batuk<br />
sekarang.<br />
Kemudian<br />
kuda itu menukik turun. Dibawah kelihatan samar-samar banyak <br />
rumah-rumah yang cantik-cantik. Tapi, modelnya aneh. Semuanya seperti <br />
bulat telur. Rumah siapa ini?, pikir nenek Timah.<br />
Tak<br />
lama kemudian mereka telah berada di atas tanah lapang dengan rumput <br />
hijau dan indah sekali. Kuda dan bendi itu berjalan pelan sekarang. Di <br />
kiri kanan kelihatan berjejer tanaman puding segala macam warna. Ada <br />
puding gerai dengan warna daunnya kuning campur merah yang cantik <br />
sekali. Ada puding gadang dengan warna daun lebar cokelat dan hitam <br />
diselingi warna ungu yang kelihatan anggun. Disana bermain kupu-kupu <br />
yang sedang mengisap madu dari bunga ros merah, kuning, jingga, ungu, <br />
putih yang berkelompok ditanam sesuai dengan warna. Ada juga bougenville<br />
yang bewarna merah darah dan bewarna ungu yang sanagt cantik. Semua <br />
ditanam di halaman sebuah istana yang dicat putih bersih, di belakang <br />
sebuah pohon beringin raksasa dengan daun yang lebat sekali. Ada dua <br />
buah pohon beringin ini, dikiri kanan seakan ditanam sebagai tiang <br />
gapura pintu masuk ke istana itu.<br />
”Nenek turun di sini, nanti akan dijemput oleh dayang-dayang istana”, kata Bujang Selamat.<br />
<br />
Memang, kemudian kelihatan dua orang putri dayang-dayang dengan pakaian sulaman yang indah datang menghampiri.<br />
<br />
Nenek Timah turun dari bendi. Peragatnya di berikan oleh Bujang Selamat ke salah seorang dayang –dayang.<br />
<br />
“Nenek Timah, mari masuk ke istana. Putri Mayang Taurai telah menunggu”, kata salah satu dayang-dayang.<br />
<br />
Dengan dibimbing kiri kanan oleh dua dayang-dayang itu nenek Timah <br />
berjalan memasuki istana melalui karpet merah menyala. Serambi istana <br />
telah dihiasi dengan umbul-umbul pucuk kelapa dan pucuk enau. Sesampai <br />
di serambi ia dibimbing memasuki sebuah pintu di samping kiri.<br />
<br />
“Nek, kita ke kamar ganti dulu”, kata seorang dayang-dayang.<br />
<br />
Di dalam kamar ganti itu banyak sekali bergantungan baju-baju yang <br />
indah-indah. Ada baju kurung, ada baju adat berenda-renda. Ada bermacam <br />
selendang beraneka warna.<br />
<br />
Nenek Timah di pakaikan sebuah baju kurung dari sutera bewarna kuning <br />
gading dengan bunga-bunga suplir melingkar. Cantik sekali. Rambutnya <br />
disisirkan oleh dayang-dayang tadi. Badannya disemproti dengan minyak <br />
parfum dari Arab yang harum sekali. Kepalanya ditutupi dengan sebuah <br />
selendang panjang dengan warna yang sama. Dia dipakaikan sebuah terompah<br />
dari beledru dengan warna kuning yang sama. Di lehernya digantungkan <br />
kalung-kalung emas bercampur batu akik yang dirangkai indah sekali. Juga<br />
dipakaikan gelang-gelang keroncong dari emas yang kalau tangannya <br />
digerakkan akan berbunyi gemerincing.<br />
<br />
Nenek Timah menjelma menjadi seorang wanita yang cantik anggun. <br />
Sebenarnya nenek Timah belum tua amat. Umurnya baru empat puluh lima <br />
tahun. Namun karena kemiskinan dan turun kesawah tiap hari serta mencari<br />
kayu bakar buat memasak, badannya jadi kurus kering dan kelihatan <br />
sangat tua.<br />
<br />
“Nek, sekarang kita akan memasuki kamar ganti Tuan Putri Mayan Taurai”, kata seorang dayang-dayang.<br />
<br />
Melalui sebuah lorong dibalik kamar itu, mereka keluar dan belok ke <br />
kiri. Disana ada ruangan yang luas sekali. Ada banyak wanita disana. <br />
Mereka merangkai bunga dan menggunting kain paco untuk hiasan kamar <br />
penganten putri. Semuanya berpakaian baju kurung warna putih seragam. <br />
Belum pernah nenek Timah menyaksikan persiapan perkawinan semeriah ini. <br />
Ia membathin, benar-benar raja yang kaya yang sedang bermenantu. Pantas <br />
semeriah ini.<br />
<br />
Seorang dayang membuka sebuah pintu berukir yang indah sekali. Mereka <br />
memasuki sebuah kamar yang luas yang penuh dengan hiasan bergelantungan.<br />
Lampu kristal besar kelihatan menggantung persis di tengah ruangan. <br />
Mepet ke dinding belakang menempel sebuah tempat tidur besar dari kayu <br />
jati dengan ukiran kepala naga dan ular yang sedang berkejaran. <br />
Pinggir-pinggir tempat tidur telah ditempeli kain beledru warna pink dan<br />
biru selang seling warna hijau lembut. Kasurnya kelihatan tebal sekali <br />
dengan bantal-bantal besar dn kecil berselang seling diatus diatas <br />
kasur. Rupanya ini kamar pengantenya. Pikir nenek Timah.<br />
<br />
Di sebelah kanan menempel lemari besar dan juga dari kayu jati berukir.<br />
Diatas<br />
sehelai permadani Persia yang mahal dan indah duduklah seorang putri <br />
cantik yang sedang ditemani oleh lima orang dayang-dayang yang sedang <br />
mengipasi dan membersihkan kuku-kuku kaki si putri.<br />
Melihat nenek Timah datang, sang putri menoleh.<br />
“Selamat datang nek di kerajaan, nenek sudah lama saya tunggu”, suara lembut merdu sekali.<br />
<br />
“Perkenalkan saya Putri Mayang Taurai, anak raja Dang Putera dan putri Ibunda Dewi Kayangan”, kembali sang putri memperkenalkan.<br />
<br />
“Ijinkan hamba yang jelek ini memasuki istana tuan putri. Kalau hamba <br />
lancang tolong dimaafkan, maklum hamba hanya orang kampung Subarang yang<br />
miskin.<br />
<br />
”Nek, kami sudah tahu siapa nenek, dan kami telah menganggap nenek keluarga kami juga”, jelas sang putri.<br />
<br />
Supaya nenek tidak canggung akan saya terangkan pada nenek sebuah <br />
peristiwa dimana sejak itu nenek masuk orang yang harus diperhatikan <br />
oleh ayahanda hamba Raja Dang Putera.<br />
Nenek<br />
mungkin ingat, sewaktu suami nenek masih hidup, pak Haji Ahmad yang <br />
guru ngaji di Subarang, dia pernah tidak pulang satu hari. Dan kemudian <br />
satu bulan setelah itu ia jatuh sakit, dan Tuhan memanggilnya.<br />
<br />
Sewaktu beliau hilang satu hari, sebenarnya beliau kami undang kemari <br />
atas perintah ayahanda. Saya waktu itu masih kecil. Juga Pangeran Dang <br />
Kelana kakak saya masih remaja. Kakak saya punya peliharaan seekor murai<br />
yang pandai bicara. Sewaktu kami main-main ke negeri bawah angin, <br />
begitu kami menyebut kampung nenek, terjadi sebuah kecelakaan kecil. <br />
Karne asyiknya saya main-main di lubuk jernih dipinggir ladang nenek, <br />
dan pangeran dang Kelana sedang asyik berburu seekor anak kancil, burung<br />
murainya juga terbang bermain-main. Rupanya seorang anak kampung sedang<br />
mencari burung dengan katapelnya. Dan ia membedik murai kami. Kenalah <br />
sayapnya dan patah.<br />
<br />
Pengeran marah sekali. Untung saya bisa menyabarkan.<br />
<br />
Saya bilang kita tarok murai ini diatas batu dipinggir lubuk. Sebentar <br />
lagi haji Ahmad akan datang dan ia akan mengambil udhuk di sini. Kami <br />
bersembunyi dibalik pohon langsat disamping lubuk.<br />
Benar,<br />
pak haji Ahmad suami nenek datang. Ia melihat seekor burung murai batu <br />
terletak sakit sayapnya patah diatas sebuah batu. Ia nampaknya kasihan. <br />
Ia bersihkan luka sayap burung kami. Kemudian ia beri obat daun singkong<br />
yang ia kunyah dan dibalutnya dengan sobekan serban hajinya sayap <br />
burung itu.<br />
<br />
Perbuatannya tidak lepas dari pandangan kami berdua.<br />
Tidak<br />
lama setalah pak haji selesai berwudhuk, burung kami siuman dan <br />
melompat kebalik pohon. Lalu kami ambil. Kami melihat pak haji tersenyum<br />
puas dan ia pulang kerumah nenek.<br />
Kami<br />
kembali ke kerajaan dan melapor kepada ayahanda. Ayahanda kelihatannya <br />
simpati dengan perbuatan haji Ahmad dan menyuruh pesuruh istana datang <br />
ke rumah nenek untuk mengundang pak haji ke istana.<br />
<br />
Nah, setelah Pak Haji kami jamu di istana, dan ayahanda berpesan supaya <br />
Pak Haji jangan menceritakan pengalamannya di kerajaan kami. Mungkin <br />
nenek melihat setelah pulang kembali kerumah, Pak Haji berubah jadi <br />
pendiam.<br />
Namun,<br />
kami juga turut sedih setelah kemudian Pak Haji meninggal. Nenek <br />
mungkin tidak menyadari bahwa pada hari Pak Haji meninggal sebenarnya <br />
saya dan kakak saya datang kerumah nenek. Kami membawa bunga tanda <br />
dukacita. Namun kehadiran kami pasti tidak terlihat oleh orang kampung <br />
Subarang. Karena memang demikianlah takdir kita masing-masing.<br />
Demikian<br />
sebagai pembuka pembicaraan sang Putri Mayang Taurai menceritakan <br />
beberapa kejadian yang tidak disadari oleh Nenek Timah selama ini.<br />
<br />
”Jadi nak Putri ini dari suku mana ya”, tanya nenek Timah.<br />
<br />
”Nek, ceritanya panjang sekali”, kata Putri. Dulu kami ini adalah <br />
keluarga kerajaan Pagarruyung yang pertama. Karena sesuatu yang tidak <br />
terelakkan, karena sudah menjadi nasib pula, maka jadilah kami kaum yang<br />
terbuang. Dan karena sumpah kerajaan oleh Raja Pagarruyung yang pertama<br />
Dang Tuanku, maka anak keturunan dari nenek kami ”diminta supaya tidak <br />
terlihat” oleh semua rakyat Pagarruyung.<br />
<br />
”Kenapa demikian tuan Putri”, tanya nenek Timah pula.<br />
<br />
”Nenek kami dulunya adalah seorang selir raja Pagarruyung, yang tidak <br />
diakui oleh istana. Karena nenek kami adalah seorang dayang-dayang yang <br />
diambil dari tanah jajahan kerajaan diseberang sana, dari sebuah pulau <br />
di kerajaan Melayu.<br />
<br />
Karena kecantikan dayang-dayang itu, diam-diam raja menaruh hati. Dan <br />
raja lalu menjadikannya selirnya, tanpa diketahui oleh Bundokanduang <br />
sang permaisuri raja.<br />
<br />
Ketika diketahui bahwa sang selir hamil, maka ributlah Bundokanduang. Ia<br />
menyuruh untuk mengusir si selir. Rajapun cepat mengambil sikap. Ia <br />
segera menikahkan sang dayang-dayang yang telah ia peristeri dengan <br />
seorang bujang perawat kuda istana, Pandeka Kilek namanya.<br />
<br />
Pandeka Kilek dan Sang dayang-dayang diungsikan ke sebuah hutan <br />
laranganan di kaki Gunung Tandikek. Dan karena kesaktian sang raja yang <br />
bersumpah supaya anaknya yang dikandung oleh si selir diselamatkan, ia <br />
menyumpah keturunannya itu tersembunyi dari penglihatan orang banyak.<br />
<br />
Suatu saat si selir mau melahirkan, dan terjadilah patuih tungga di siang hari.<br />
<br />
Gelegar petir mengagetkan orang semua. Karena hari panas betinting, <br />
tidak ada setetes pun hujan, tapi petir tengah hari itu keras luar <br />
biasa. Sebatang pohon kelapa sampai hangus terbakar.<br />
Lahirlah<br />
seorang putri yang cantik sekali. Dan sejak itu keturunan kami <br />
tersembunyi di tengah hutan dan tidak terlihat oleh orang banyak.<br />
Jadilah<br />
kami Orang Bunian. Keturunan kami bermukim disini. Dan kami juga sering<br />
menjemput orang kampung yang kami nilai baik, namun sering dikucilkan <br />
oleh masyarakat karena kemiskinannya. Kami bawa mereka kemari dan kami <br />
beri penghidupan di kerajaan Beringin ini. Tapi, mereka segera menjadi <br />
orang Bunian juga.<br />
Demikianlah<br />
nek, kerajaan ini berkembang. Kami juga sering datang kepasar ke tempat<br />
orang biasa berdagang. Kami juga sering ke Malalak, ke Kayutanam, ke <br />
Kandang Ampek, ke Padangpanjang, ke Silaing, ke Batipuh, dan ke Sungai <br />
Limau dan ke Singkarak.<br />
Cuma<br />
kaum kami tidak boleh ke tanah Agam. Karena tanah Agam adalah tanah <br />
sakti dan mulia. Ilmu Bunian akan tertolak disini. Kalau ada yang berani<br />
keluar dan memijak tanah Agam, maka dirinya akan terlihat dan ia akan <br />
mengalami malapetaka.<br />
Dan<br />
itu pernah kejadian, seorang pemuda kami memburu kijang sampai ke <br />
batas Sungai Buluah, dan rupanya ia terpikat seorang gadis cantik yang <br />
sedang menyiang sawah disana. Ia mendekati si gadis, tanpa ia ketahui <br />
bahwa dirinya telah nyata, dan ia ditangkap orang kampung, karena <br />
penampilannya berbeda. Untunglah ia diselamatkan oleh orang tua si <br />
gadis, dan ia akhirnya menikah dengan gadis itu dan tidak pernah balik <br />
lagi ke Beringin.<br />
”Nek,<br />
mari hiaslah diri saya, karena nanti sore calon suami saya akan datang <br />
dari tanah Jambi”, sang Putri raja meminta nek Timah untuk menghias <br />
dirinya.<br />
<br />
”Baiklah”, kata nenek Timah.<br />
<br />
Sang Putri Mayang Taurai di dandani oleh nenek Timah dengan eloknya. <br />
Mukanya yang cantik dan putah itu diberi pupur dari bedak beras halus <br />
yang dicampur dengan bungatanjung sehingga harum dan membuat muka si <br />
putri raja makin bercahaya. Pipinya dimerahi dengan halusan bunga <br />
kesumba dicampur dedak beras pulut yang dihaluskan. Bahan ini diracik <br />
oleh nenek Timah sendiri. Itulah kelebihan nenek Timah dalam merias <br />
penganten. Ia selalu dicari orang. Bibir sang putri diberi gincu, yang <br />
dibeli oleh ayahnya di Persia sewaktu beliau menunaikan ibadah haji.<br />
<br />
Jadilah Putri Mayang Taurai seperti seorang dewi yang baru turun dari kayangan.<br />
<br />
Ia adalah Putri Raja Urang Bunian.<br />
Demikianlah<br />
nenek Timah menghias putri raja Bunian di kerajaan Beringin di kaki <br />
Gunung Tandikek, yang segera melangsungkan perkawinannya dengan seorang <br />
anak Raja dari Jambi yang juga keturuan dari orang Bunian yang mendiami <br />
hutan keramat Bukit Dua Belas.<br />
Sorenya<br />
menjelang maghrib ia kembali diantar oleh kuda terbang dan Bujang <br />
Selamat kembali ke rumahnya di Subarang. Nenek Timah di hadiahi kalung <br />
dan gelang emas buat cucunya oleh sang Putri Raja.<br />
Pagi-pagi sekali si Upik cucu nenek Timah terkejut melihat neneknya teridur di depan tangga rumah.<br />
<br />
Ia bangunkan neneknya.<br />
<br />
”Nek, bangun hari sudah shubuh. Kenapa nenek tidur di luar”, tanya Upik.<br />
<br />
Nek Timah bangun, ia ke pancuran. Ia diam saja. Kemaren ia dipesankan <br />
oleh Putri Mayang Taurai, supaya tidak menceritakan kerajaan Bunian itu.<br />
Cerita Nek Timah tetap tersimpan rapat sampai ia menghembuskan napas terakhirnya, dan cucunya Upik tetap menyimpan rahasia ini. <br />
<br />
Hidup Upik kini telah berubah, dan setelah ia menikah dengan Udin petani<br />
teman sekampung di Subarang. Perhiasan hadiah kerajaan Bunian yang ia <br />
simpan selama ini setelah neneknya meninggal, kemudian ia jual. Dan <br />
uangnya mereka pakai untuk modal dagang dan mereka pindah ke Pekanbaru. <br />
Disinilah Upik hidup bersama suaminya. Cerita tentang neneknya yang <br />
hilang seharian tetap ia simpan, karena ia tidak tahu sampai sekarang <br />
kemana neneknya pergi dan dari mana nenek dapat perhiasan itu. Itu tetap<br />
jadi teka teki sampai sekarang.<br />
Oleh: DASRIEL<br />
<br />
di kutip: https://groups.google.com/forum/#!msg/rantaunet/ABiOXHCVeFk/9hrt9GI6g1QJ]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Malin Sampono]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Malin-Sampono--16409</link>
			<pubDate>Mon, 11 Jun 2012 05:33:14 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Malin-Sampono--16409</guid>
			<description><![CDATA[Ambo perna mandanga lagu ttg magek manandin,sahinggo jadi penasaran ingin tau kisah lengkapnyo,klo ado nan tau tolong diterbitkan di forum awak ko. Tarimokasi dari ambo.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Ambo perna mandanga lagu ttg magek manandin,sahinggo jadi penasaran ingin tau kisah lengkapnyo,klo ado nan tau tolong diterbitkan di forum awak ko. Tarimokasi dari ambo.]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Kuburan rajo matoari]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Kuburan-rajo-matoari</link>
			<pubDate>Thu, 07 Jun 2012 01:29:29 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Kuburan-rajo-matoari</guid>
			<description><![CDATA[ambo ka batanyo...ado ndak dunsanak disiko nan tau tantang sajarah kuburan RAJO MATOHARI di daerah simabua Batusangka...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[ambo ka batanyo...ado ndak dunsanak disiko nan tau tantang sajarah kuburan RAJO MATOHARI di daerah simabua Batusangka...]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Lembah Anai Sumatera Barat dalam Legenda]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Lembah-Anai-Sumatera-Barat-dalam-Legenda</link>
			<pubDate>Mon, 04 Jun 2012 02:40:48 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Lembah-Anai-Sumatera-Barat-dalam-Legenda</guid>
			<description><![CDATA[<a href="http://hendrypb.files.wordpress.com/2009/11/ka-wisata.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://hendrypb.files.wordpress.com/2009/11/ka-wisata.jpg?w=300&#x26;h=209" border="0" alt="[Image: ka-wisata.jpg?w=300&amp;h=209]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a>Benar<br />
juga kata orang, bahwa Lembah Anai adalah lokasi ajaib. Tempat yang <br />
tidak akan “melepaskan” seorangpun yang pernah melewatinya. Siapa saja <br />
yang pernah mengalami perjalanan antar tebing dan jurang di jalur <br />
sepanjang 4 kilometer itu pasti punya kenangan tersendiri.<br />
<br />
Bila kenangan itu muncul, mungkin ada baiknya bila kita <br />
memanfaatkannya untuk kembali mereview perjalanan hidup, menghitung <br />
segalanya dari pangkal. Rehatlah disana agak sebentar, lalu biarkan alam<br />
menjadi peredam segala rasa kecewa, sedih, dan kelu hati.<br />
<br />
Betapa kuat sensasi yang saya rasakan saya sengaja berhenti di sana <br />
(lembah Anai, red). Memang ini bukan pertama kali saya melewati Silaing.<br />
Namun, rasanya udah terlalu lama saya tidak berhenti sekedar menghela <br />
nafas dan melepaskan lelah.<br />
<br />
Ketika menatap hijau bebukitan sembari <br />
menghisap udara dingin yang sedikit melembabkan pernafasan, saya seakan <br />
sadar bahwa telah begitu lama saya tidak menjadi bagian dari alam yang <br />
sesungguhnya. Saya–mungkin seperti jugap para pesinggah lainnya– selama <br />
ini hanyalah aktor-aktor kecil yang dipermainkan liku labirin hidup yang<br />
berdinding beton dan kaca.<br />
<br />
Motor saya tepikan di sebuah tikungan. terdapat bagian yang diperluas<br />
sehingga memungkinkan untuk kendaraan berhenti dengan aman. Sementara <br />
mobil dan truk terus menghujam udara dengan semprotan karbon dioksida, <br />
wangi daun Thitonia justru menjadi aroma therapy yang tak pernah <br />
terkalahkan oleh asap sehitam apapun.<br />
<br />
Dari lokasi itu, terlihat jelas jurang yang perlahan ditinggalkan <br />
kabut. Saya tiba-tiba tidak sabar untuk melihat jembatan kereta api <br />
peninggalan nenek moyang-sama sekali, rel panjang itu bukan ciptaan <br />
Belanda, tapi kakek dan nenek kita.<br />
<br />
Ketika udara mulai cerah, di bawah sana sang legenda menampakkan <br />
kecantikannya. Tapi Ia yang sekarang, berbeda dengan Ia yang dulu. <br />
Lembah Anai yang dulunya saya kenal serba hijau molek oleh duan-daun <br />
belukar subur, kini sedikit terluka. Gempa Sumatera (30/9), telah <br />
menciptakan goresan-goresan di wajah lembah itu. Tebing-tebing penuh <br />
lekuk tampak terkelupas. Agaknya selapis humus subur sudah turun menjadi<br />
material longsor, hingga meninggalkan relief bebatuan bercampur tanah.<br />
Tapi alangkah luar biasanya rencana tuhan.<br />
<br />
Sama sekali, luka itu bukan memperburuk penampilan Lembah Anai. Ia <br />
kini semakin cantik dengan “kulit” barunya. Di empat titik, relief <br />
batu-batu mineral menghias dengan sempurna. Mungkin tinggal menunggu <br />
lelumutan melapisi, maka bebatuan itu akan membuat orang lupa akan <br />
wisata lembah sekelas Grand Canyon sekalipun.<br />
<br />
Ya, sang legenda kini semakin menghipnotis. ternyata luka-luka itu <br />
begitu cantiknya. Apalagi bagi mereka yang menyukai fotografi. Sebagai <br />
Background, atau objek utama, relief batu Silaing memang tak ada duanya.<br />
<br />
Pantas saja Buya Hamka pernah menjadikan lokasi ini sebagai salah <br />
satu setting romannya. Dalam “Dibawah Lindungan Ka’bah” buya seakan <br />
memastikan bahwa Lembah Anai dan Padang Panjang adalah sorga romantisme <br />
yang tiada pudarnya.<br />
<br />
Turun sedikit ke arah padang, terdapat lagi keindahan yang lain. <br />
batas kota dengan jembatan melintang diatasnya membuat kenangan-kenangan<br />
masa kecil berhamburan dari pikiran saya. masih teringat ibu, bibi, dan<br />
nenek mengajak saya yang ketika itu masih belia berjalan-jalan. Sebelum<br />
berangkat kala itu, mereka berjanji bahwa tempat yang akan kami <br />
kunjungi adalah lokasi wisata yang sangat indah.<br />
<br />
Dengan sederhana saya ketika itu memahami bahwa mereka akan mengajak <br />
saya ke Stanza (wisata permainan modern di tahun 80-an). ternyata saya <br />
salah, mereka mengajak saya ke sebuah spektrum sorga, begitu cantik, <br />
sampai saya sebagai anak kecil waktu itu merengek-rengek meminta ibu <br />
membangun sebuah rumah disalah satu tebingnya.<br />
<br />
Semakin sore, awan hitam berarak dari balik tebing. Gerimis mulai <br />
mempengaruhi minat sebagian pengunjung untuk berlama-lama ditengah <br />
kungungan udara dingin. Satu persatu mereka beranjak. Sangat mungkin <br />
pula, sebagian diantara mereka justru takut longsor akan kembali <br />
terjadi, sehingga kendaraan mereka kebut menuju arah keluar lembah.<br />
<br />
Namun bagi saya, hujan di Silaing adalah waktu yang tepat untuk <br />
menggerus kecantikan lembah ini. Di balik tirai-tirai air Lembah Anai <br />
bak anak gadis yang sedang memeras rambut basahnya. Semakin lebat hujan,<br />
semakin cantik ia.<br />
sumber : <a href="http://hendrypb.wordpress.com/2009/11/17/lembah-anai-sumatera-barat-dalam-legenda/" rel="nofollow" target="_blank">http://hendrypb.wordpress.com/2009/11/17...m-legenda/</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://hendrypb.files.wordpress.com/2009/11/ka-wisata.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://hendrypb.files.wordpress.com/2009/11/ka-wisata.jpg?w=300&h=209" border="0" alt="[Image: ka-wisata.jpg?w=300&amp;h=209]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a>Benar<br />
juga kata orang, bahwa Lembah Anai adalah lokasi ajaib. Tempat yang <br />
tidak akan “melepaskan” seorangpun yang pernah melewatinya. Siapa saja <br />
yang pernah mengalami perjalanan antar tebing dan jurang di jalur <br />
sepanjang 4 kilometer itu pasti punya kenangan tersendiri.<br />
<br />
Bila kenangan itu muncul, mungkin ada baiknya bila kita <br />
memanfaatkannya untuk kembali mereview perjalanan hidup, menghitung <br />
segalanya dari pangkal. Rehatlah disana agak sebentar, lalu biarkan alam<br />
menjadi peredam segala rasa kecewa, sedih, dan kelu hati.<br />
<br />
Betapa kuat sensasi yang saya rasakan saya sengaja berhenti di sana <br />
(lembah Anai, red). Memang ini bukan pertama kali saya melewati Silaing.<br />
Namun, rasanya udah terlalu lama saya tidak berhenti sekedar menghela <br />
nafas dan melepaskan lelah.<br />
<br />
Ketika menatap hijau bebukitan sembari <br />
menghisap udara dingin yang sedikit melembabkan pernafasan, saya seakan <br />
sadar bahwa telah begitu lama saya tidak menjadi bagian dari alam yang <br />
sesungguhnya. Saya–mungkin seperti jugap para pesinggah lainnya– selama <br />
ini hanyalah aktor-aktor kecil yang dipermainkan liku labirin hidup yang<br />
berdinding beton dan kaca.<br />
<br />
Motor saya tepikan di sebuah tikungan. terdapat bagian yang diperluas<br />
sehingga memungkinkan untuk kendaraan berhenti dengan aman. Sementara <br />
mobil dan truk terus menghujam udara dengan semprotan karbon dioksida, <br />
wangi daun Thitonia justru menjadi aroma therapy yang tak pernah <br />
terkalahkan oleh asap sehitam apapun.<br />
<br />
Dari lokasi itu, terlihat jelas jurang yang perlahan ditinggalkan <br />
kabut. Saya tiba-tiba tidak sabar untuk melihat jembatan kereta api <br />
peninggalan nenek moyang-sama sekali, rel panjang itu bukan ciptaan <br />
Belanda, tapi kakek dan nenek kita.<br />
<br />
Ketika udara mulai cerah, di bawah sana sang legenda menampakkan <br />
kecantikannya. Tapi Ia yang sekarang, berbeda dengan Ia yang dulu. <br />
Lembah Anai yang dulunya saya kenal serba hijau molek oleh duan-daun <br />
belukar subur, kini sedikit terluka. Gempa Sumatera (30/9), telah <br />
menciptakan goresan-goresan di wajah lembah itu. Tebing-tebing penuh <br />
lekuk tampak terkelupas. Agaknya selapis humus subur sudah turun menjadi<br />
material longsor, hingga meninggalkan relief bebatuan bercampur tanah.<br />
Tapi alangkah luar biasanya rencana tuhan.<br />
<br />
Sama sekali, luka itu bukan memperburuk penampilan Lembah Anai. Ia <br />
kini semakin cantik dengan “kulit” barunya. Di empat titik, relief <br />
batu-batu mineral menghias dengan sempurna. Mungkin tinggal menunggu <br />
lelumutan melapisi, maka bebatuan itu akan membuat orang lupa akan <br />
wisata lembah sekelas Grand Canyon sekalipun.<br />
<br />
Ya, sang legenda kini semakin menghipnotis. ternyata luka-luka itu <br />
begitu cantiknya. Apalagi bagi mereka yang menyukai fotografi. Sebagai <br />
Background, atau objek utama, relief batu Silaing memang tak ada duanya.<br />
<br />
Pantas saja Buya Hamka pernah menjadikan lokasi ini sebagai salah <br />
satu setting romannya. Dalam “Dibawah Lindungan Ka’bah” buya seakan <br />
memastikan bahwa Lembah Anai dan Padang Panjang adalah sorga romantisme <br />
yang tiada pudarnya.<br />
<br />
Turun sedikit ke arah padang, terdapat lagi keindahan yang lain. <br />
batas kota dengan jembatan melintang diatasnya membuat kenangan-kenangan<br />
masa kecil berhamburan dari pikiran saya. masih teringat ibu, bibi, dan<br />
nenek mengajak saya yang ketika itu masih belia berjalan-jalan. Sebelum<br />
berangkat kala itu, mereka berjanji bahwa tempat yang akan kami <br />
kunjungi adalah lokasi wisata yang sangat indah.<br />
<br />
Dengan sederhana saya ketika itu memahami bahwa mereka akan mengajak <br />
saya ke Stanza (wisata permainan modern di tahun 80-an). ternyata saya <br />
salah, mereka mengajak saya ke sebuah spektrum sorga, begitu cantik, <br />
sampai saya sebagai anak kecil waktu itu merengek-rengek meminta ibu <br />
membangun sebuah rumah disalah satu tebingnya.<br />
<br />
Semakin sore, awan hitam berarak dari balik tebing. Gerimis mulai <br />
mempengaruhi minat sebagian pengunjung untuk berlama-lama ditengah <br />
kungungan udara dingin. Satu persatu mereka beranjak. Sangat mungkin <br />
pula, sebagian diantara mereka justru takut longsor akan kembali <br />
terjadi, sehingga kendaraan mereka kebut menuju arah keluar lembah.<br />
<br />
Namun bagi saya, hujan di Silaing adalah waktu yang tepat untuk <br />
menggerus kecantikan lembah ini. Di balik tirai-tirai air Lembah Anai <br />
bak anak gadis yang sedang memeras rambut basahnya. Semakin lebat hujan,<br />
semakin cantik ia.<br />
sumber : <a href="http://hendrypb.wordpress.com/2009/11/17/lembah-anai-sumatera-barat-dalam-legenda/" rel="nofollow" target="_blank">http://hendrypb.wordpress.com/2009/11/17...m-legenda/</a>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[palasik menurut cerita legenda atau kepercayaan orang minangkabau]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-palasik-menurut-cerita-legenda-atau-kepercayaan-orang-minangkabau</link>
			<pubDate>Wed, 23 May 2012 05:36:17 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-palasik-menurut-cerita-legenda-atau-kepercayaan-orang-minangkabau</guid>
			<description><![CDATA[<div align="justify"><img src="http://ts1.mm.bing.net/images/thumbnail.aspx?q=5047463297484032&amp;id=54e7d59bae638b567eaddebc7fc100f6" border="0" alt="[Image: thumbnail.aspx?q=5047463297484032&amp;am...bc7fc100f6]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<br />
Palasik sangat tenar di masyarakat Minang Kabau, Sumatera Barat. Palasik<br />
menurut cerita, legenda atau kepercayaan orang Minangkabau adalah <br />
sejenis makhluk gaib. Menurut kepercayaan Minangkabau palasik bukanlah <br />
hantu tetapi manusia yang memiliki ilmu hitam tingkat tinggi. <br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Palasik</span><br />
sangat ditakuti oleh ibu-ibu di di Minangkabau yang memiliki balita <br />
karena makanan palasik adalah anak bayi/balita, baik yang masih dalam <br />
kandungan ataupun yang sudah mati (dikubur), tergantung dari jenis <br />
palasik tersebut.<br />
<br />
I<span style="font-weight: bold;">lmu palasik dipercayai sifatnya turun-temurun.</span><br />
Apabila orang tuanya adalah seorang palasik maka anaknya pun akan jadi <br />
palasik. Pada umumnya palasik bekerja dengan melepaskan kepalanya. Ada <br />
yang badan nya yang berjalan mencari makan dan ada pula yang kepala.<br />
<br />
Menurut<br />
kepercayaan masyarakat, jika seorang wanita yang sedang menggendong <br />
bayi bertemu dengan palasik, sebaiknya jangan dijauhi, malah sebaliknya,<br />
ambil tangan palasik dan katakan "Ini cucumu atau ini anakmu". Dan ciri<br />
umum palasik, tak memiliki parit di atas bibirnya.<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Jenis palasik ada bermacam-macam. Menurut jenis makanannya palasik dapat dibagi sebagai berikut</span>:<br />
<br />
* Yang memakan bayi dalam kandungan sehingga bayi tersebut lahir tanpa ubun-ubun / mati dalam kandungan<br />
<br />
* Yang memakan bayi yang masih rapuh sehingga bayi tersebut sering sakit-sakitan / meninggal<br />
<br />
* Yang memakan mayat bayi yang sudah dikubur<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Palasik</span><br />
yang lepas kepalanya disebut Palasik Kuduang. Kuduang artinya terpotong<br />
atau buntung. Buntung dalam bahas Minang adalah "kuduang".</div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="justify"><img src="http://ts1.mm.bing.net/images/thumbnail.aspx?q=5047463297484032&amp;id=54e7d59bae638b567eaddebc7fc100f6" border="0" alt="[Image: thumbnail.aspx?q=5047463297484032&amp;am...bc7fc100f6]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<br />
Palasik sangat tenar di masyarakat Minang Kabau, Sumatera Barat. Palasik<br />
menurut cerita, legenda atau kepercayaan orang Minangkabau adalah <br />
sejenis makhluk gaib. Menurut kepercayaan Minangkabau palasik bukanlah <br />
hantu tetapi manusia yang memiliki ilmu hitam tingkat tinggi. <br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Palasik</span><br />
sangat ditakuti oleh ibu-ibu di di Minangkabau yang memiliki balita <br />
karena makanan palasik adalah anak bayi/balita, baik yang masih dalam <br />
kandungan ataupun yang sudah mati (dikubur), tergantung dari jenis <br />
palasik tersebut.<br />
<br />
I<span style="font-weight: bold;">lmu palasik dipercayai sifatnya turun-temurun.</span><br />
Apabila orang tuanya adalah seorang palasik maka anaknya pun akan jadi <br />
palasik. Pada umumnya palasik bekerja dengan melepaskan kepalanya. Ada <br />
yang badan nya yang berjalan mencari makan dan ada pula yang kepala.<br />
<br />
Menurut<br />
kepercayaan masyarakat, jika seorang wanita yang sedang menggendong <br />
bayi bertemu dengan palasik, sebaiknya jangan dijauhi, malah sebaliknya,<br />
ambil tangan palasik dan katakan "Ini cucumu atau ini anakmu". Dan ciri<br />
umum palasik, tak memiliki parit di atas bibirnya.<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Jenis palasik ada bermacam-macam. Menurut jenis makanannya palasik dapat dibagi sebagai berikut</span>:<br />
<br />
* Yang memakan bayi dalam kandungan sehingga bayi tersebut lahir tanpa ubun-ubun / mati dalam kandungan<br />
<br />
* Yang memakan bayi yang masih rapuh sehingga bayi tersebut sering sakit-sakitan / meninggal<br />
<br />
* Yang memakan mayat bayi yang sudah dikubur<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Palasik</span><br />
yang lepas kepalanya disebut Palasik Kuduang. Kuduang artinya terpotong<br />
atau buntung. Buntung dalam bahas Minang adalah "kuduang".</div>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Sajikan Cerita Malin Kundang Versi Baru]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Sajikan-Cerita-Malin-Kundang-Versi-Baru</link>
			<pubDate>Tue, 24 Apr 2012 02:57:22 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Sajikan-Cerita-Malin-Kundang-Versi-Baru</guid>
			<description><![CDATA[<span style="font-weight: bold;">Pementasan Wayang Golek Minang di Rumah Budaya</span><br />
<br />
<br />
Bagaimana jadinya kalau cerita legenda Minangkabau Malin Kundang dipentaskan menggunakan wadah wayang golek? Inilah terjadi di Rumah Budaya Fadli Zon di Nagari Aiaangek Tanahdatar, Sabtu (21/4). Bagaimana ceritanya?<br />
<br />
<br />
Pementasan Malin Kundang versi wayang golek yang ditujukan memperkaya khasanah seni pertunjukan kebudayaan Minangkabau ini, menghadirkan suasana berbeda ketimbang pementasan wayang biasanya. Tak ada lakon Hanoman, Gatot Kaca, Semar dan lainnya. Semuanya berganti dengan nuansa Minang.<br />
<br />
<br />
Tak hanya lakon, pakaian, musik dan wayang yang ditampilkan bernuansa Minang. Alat musik seperti gamelan diganti talempong dan saluang. Suasananya makin menarik, ketika ki dalang Tizar Purbaya berkolaborasi dengan Pak Katik membawakan cerita Malin Kundang. Tizar Purbaya sendiri memang bukan orang baru dalam dunia wayang golek, ia dikenal sebagai dalang sekaligus kreator wayang golek Betawi.<br />
<br />
<br />
Tak ayal pertunjukkan juga dihadiri beberapa tokoh ini seperti Wali Kota Padangpanjang Syuir Syam dan Bupati Dharmasraya Adi Gunawan ini mampu menghipnotis penonton. Bahkan, penonton itu larut dengan cerita dibawakan ki dalang.<br />
<br />
<br />
Fadli Zon menyebutkan, pementasan wayang golek ini merupakan langkah awal dan inovatif kesenian Sumbar. Apalagi kesenian wayang golek sudah terdapat di banyak negara. Berangkat kenyataan inilah Fadli Zon menggandeng Tizar Purbaya untuk membuat wayang Minang.<br />
<br />
<br />
”Jadi, kita tidak hanya melestarikan kebudayaan. Namun, juga melahirkan tradisi-tradisi dan kebudayaan baru di Minang,” ungkap Fadli Zon. Ia juga berharap akan ada pementasan wayang golek dalam legenda Minang lainnya dalam bahasa Minang juga.<br />
<br />
<br />
Sementara budayawan Taufiq Ismail mengatakan, pertunjukan wayang golek Minang merupakan sebuah bentuk karya seni oleh sutradara, aktor dan seniman besar Tizar Purbaya. Pertunjukan di Rumah Budaya Fadli Zon tersebut, menurut Taufiq, merupakan titik penting dalam perkembangan kesenian di Sumbar.<br />
<br />
<br />
”Wayang golek Minang sangat berbeda dengan wayang golek yang telah dibawa keliling ke beberapa negara oleh Tizar. Wayang golek Minang, selain mempunyai kemampuan mengeluarkan lidah, juga dapat menggerakkan mata,” cerita Taufiq kepada wartawan.<br />
<br />
<br />
Wayang golek sendiri, imbuhnya, saat ini lebih dominan sebagai seni pertunjukan rakyat yang memiliki fungsi relevan dengan kebutuhan masyarakat lingkungannya, baik kebutuhan spiritual maupun material. Wayang golek digelar biasanya ketika ada perayaan, baik hajatan dalam rangka khitanan, pernikahan, atau kegiatan lain.<br />
<br />
<br />
Selain wayang golek Minang, Rumah Budaya Fadli Zon juga menampilkan kepiawaian maestro biola Idris Sardi yang berhasil memukau penonton. Lebih kurang 45 menit, Idris Sardi menggugah kekaguman ratusan orang yang memandati lantai II Rumah Budaya.<br />
<br />
<br />
Berkolaborasi dengan seniman ISI Padangpanjang, Idris Sardi memainkan sedikitnya lima lagu, di antaranya Selalu Ada (Once), RA Kartini, Sujud Kepada Allah (Opic) dan Sindai. ”Penampilan saya tadi karena Allah dan untuk Allah. Saya sebetulnya tidak ada apa-apanya, sehingga hingga saat ini belum ada kontribusi terhadap negeri ini. Makanya, saat tepuk tangan penonton tadi, saya bilang berikan itu kepada yang di atas,” jelas Idris Sardi. (padangekspres)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span style="font-weight: bold;">Pementasan Wayang Golek Minang di Rumah Budaya</span><br />
<br />
<br />
Bagaimana jadinya kalau cerita legenda Minangkabau Malin Kundang dipentaskan menggunakan wadah wayang golek? Inilah terjadi di Rumah Budaya Fadli Zon di Nagari Aiaangek Tanahdatar, Sabtu (21/4). Bagaimana ceritanya?<br />
<br />
<br />
Pementasan Malin Kundang versi wayang golek yang ditujukan memperkaya khasanah seni pertunjukan kebudayaan Minangkabau ini, menghadirkan suasana berbeda ketimbang pementasan wayang biasanya. Tak ada lakon Hanoman, Gatot Kaca, Semar dan lainnya. Semuanya berganti dengan nuansa Minang.<br />
<br />
<br />
Tak hanya lakon, pakaian, musik dan wayang yang ditampilkan bernuansa Minang. Alat musik seperti gamelan diganti talempong dan saluang. Suasananya makin menarik, ketika ki dalang Tizar Purbaya berkolaborasi dengan Pak Katik membawakan cerita Malin Kundang. Tizar Purbaya sendiri memang bukan orang baru dalam dunia wayang golek, ia dikenal sebagai dalang sekaligus kreator wayang golek Betawi.<br />
<br />
<br />
Tak ayal pertunjukkan juga dihadiri beberapa tokoh ini seperti Wali Kota Padangpanjang Syuir Syam dan Bupati Dharmasraya Adi Gunawan ini mampu menghipnotis penonton. Bahkan, penonton itu larut dengan cerita dibawakan ki dalang.<br />
<br />
<br />
Fadli Zon menyebutkan, pementasan wayang golek ini merupakan langkah awal dan inovatif kesenian Sumbar. Apalagi kesenian wayang golek sudah terdapat di banyak negara. Berangkat kenyataan inilah Fadli Zon menggandeng Tizar Purbaya untuk membuat wayang Minang.<br />
<br />
<br />
”Jadi, kita tidak hanya melestarikan kebudayaan. Namun, juga melahirkan tradisi-tradisi dan kebudayaan baru di Minang,” ungkap Fadli Zon. Ia juga berharap akan ada pementasan wayang golek dalam legenda Minang lainnya dalam bahasa Minang juga.<br />
<br />
<br />
Sementara budayawan Taufiq Ismail mengatakan, pertunjukan wayang golek Minang merupakan sebuah bentuk karya seni oleh sutradara, aktor dan seniman besar Tizar Purbaya. Pertunjukan di Rumah Budaya Fadli Zon tersebut, menurut Taufiq, merupakan titik penting dalam perkembangan kesenian di Sumbar.<br />
<br />
<br />
”Wayang golek Minang sangat berbeda dengan wayang golek yang telah dibawa keliling ke beberapa negara oleh Tizar. Wayang golek Minang, selain mempunyai kemampuan mengeluarkan lidah, juga dapat menggerakkan mata,” cerita Taufiq kepada wartawan.<br />
<br />
<br />
Wayang golek sendiri, imbuhnya, saat ini lebih dominan sebagai seni pertunjukan rakyat yang memiliki fungsi relevan dengan kebutuhan masyarakat lingkungannya, baik kebutuhan spiritual maupun material. Wayang golek digelar biasanya ketika ada perayaan, baik hajatan dalam rangka khitanan, pernikahan, atau kegiatan lain.<br />
<br />
<br />
Selain wayang golek Minang, Rumah Budaya Fadli Zon juga menampilkan kepiawaian maestro biola Idris Sardi yang berhasil memukau penonton. Lebih kurang 45 menit, Idris Sardi menggugah kekaguman ratusan orang yang memandati lantai II Rumah Budaya.<br />
<br />
<br />
Berkolaborasi dengan seniman ISI Padangpanjang, Idris Sardi memainkan sedikitnya lima lagu, di antaranya Selalu Ada (Once), RA Kartini, Sujud Kepada Allah (Opic) dan Sindai. ”Penampilan saya tadi karena Allah dan untuk Allah. Saya sebetulnya tidak ada apa-apanya, sehingga hingga saat ini belum ada kontribusi terhadap negeri ini. Makanya, saat tepuk tangan penonton tadi, saya bilang berikan itu kepada yang di atas,” jelas Idris Sardi. (padangekspres)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Dongeng Ibu tentang Minangkabau….]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Dongeng-Ibu-tentang-Minangkabau%E2%80%A6</link>
			<pubDate>Fri, 13 Apr 2012 04:47:22 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Dongeng-Ibu-tentang-Minangkabau%E2%80%A6</guid>
			<description><![CDATA[<span style="font-size: medium;">Dongeng Adu Kerbau Versi Ibu dari  Budiman Hakim</span><br />
<br />
Belakangan ini saya suka kangen sama almarhum ibu saya. Ga tau kenapa.<br />
<br />
Ibu saya bukan tipe ibu yang suka memanjakan anak, bukan juga tipe ibu yang ekspresif menyatakan kasih sayangnya. Bukan! Sebaliknya dia adalah tipe perempuan keras yang bisa dibandingkan dengan Madeleine Albright. Kalo ngomong suka nyelekit. Kalo marah nyeremin banget. Kalo nampar kenceng banget! Tapi di situlah kehebatannya. Bukannya dibenci malahan ibu saya dicintai banyak orang dan saudara2nya. Padahal hampir semua pernah kena semprot.<br />
<br />
Walaupun jarang mendongeng, ibu saya adalah seorang pencerita yang hebat. Dia asli orang minangkabau. Saya pernah tanya sama dia, “kenapa sih orang2 di sumatera barat dinamai suku ‘Minangkabau?”<br />
<br />
Mulanya dia cuma bilang, “Nanti kalo ada waktu Mama ceritain.”<br />
<br />
“Kenapa ga sekarang?” desak saya.<br />
<br />
“Soalnya ceritanya lumayan panjang…” kilahnya.<br />
<br />
Akhirnya penantian panjang berbuah juga. Ketika kebetulan kami sedang berdua saja di rumah, ibu saya menceritakan riwayat minangkabau. Sambil berbaring di tempat tidur, ibu saya memulai kisahnya. Ceritanya menarik. Mau denger ga? Kalo mau saya ceritain pake versi saya gapapa kan? Begini ceritanya:<br />
<br />
Alkisah kerajaan di Padang berseteru dengan kerajaan di Jawa. Ibu saya ga menyebutkan nama kerajaannya, jadi cuma dibilang kerajaan di Padang dan di jawa. Jadi ga jelas juga sebenernya kerajaan apa. Saya cari peperangan ini di Wikipedia juga ga ada soalnya.<br />
<br />
Nah karena hubungan semakin memanas pecahlah perang antara kedua kerajaan itu. Peperangan tentunya bukan kayak jaman sekarang tapi saling berhadapan dengan senjata seperti pedang, keris, tombak dan semacamnya.<br />
<br />
Saya ngebayanginnya kayak perang barata Yudha. Di mana laskar pandawa berperang malawan laskar Kurawa di sebuah lapangan luas yang disebut dengan Kurusetra. Mereka berperang dari matahari terbit dan selesai pada saat matahari terbenam. Malamnya semua tidur di tenda2 seperti tenda haji yang memang disediakan untuk para perajurit beristirahat.<br />
<br />
Perang berlangsung lama sekali. Kedua belah pihak sama2 menderita kerugian, baik dari segi ekonomi, politik dan kesejahteraan sosial. Udah ga keitung korban nyawa yang jatuh. Banyak perempuan2 yang mendadak jadi janda. Dan lembaga statistik menyatakan bahwa angka anak yatim tiba2 melonjak dengan tajam.<br />
<br />
Kedua raja sangat gundah dengan keadaan tersebut. Mereka miris melihat ribuan korban berjatuhan dan mati sia-sia.Karena itu mereka berunding. Intinya perang harus dihentikan. Tapi namanya juga pejabat, pastinya sok kuasa dan ga mau kalah kan? Keduanya sepakat untuk menghentikan perang tapi pemenang perang tetap harus ditentukan.<br />
<br />
“Sampeyan setuju kalo perang harus dihentikan?” kata Raja Jawa.<br />
<br />
“Ambo setuju! Perang ini mempunyai dampak sistemik terhadap perekonomian kita.” sahut Raja Padang.<br />
<br />
“Wah? Omongan sampeyan kok kayak Sri Mulyani?” tanya Raja Jawa keheranan.<br />
<br />
“Inda ba’a lah. Sri Mulyani kan urang awak juo.” sahut Raja Padang sok tau. Padahal kan Sri Mulyani bukan orang Padang. Dia orang lampung apa orang semarang ya?<br />
<br />
Setelah melalui diskusi panjang, Raja Jawa melemparkan ide cemerlang. Dia menawarkan untuk menentukan pemenangnya dengan adu kerbau saja. Pemenang perang akan ditentukan oleh kerbau yang berhasil mengalahkan lawannya.<br />
<br />
Kenapa raja Jawa berani menawarkan taruhan tersebut? Rupanya Raja Jawa memiliki kerbau yang biasa tampil adu kerbau. Ukuran kerbaunya besar, kuat dengan tanduk yang sangat panjang. Kerbau itu konon masih titisan dewa, karena itu dinamai Kyai Gentong Pamungkas. Disebut begitu karena ukurannya besar seperti gentong dan mempunyai aji pamungkas untuk mengalahkan lawan. Dalam sejarah karirnya sebagai petarung belom pernah Kyai Gentong Pamungkas dikalahkan dalam adu kerbau.<br />
<br />
Raja Padang bingung doooong? Seumur hidup mereka ga pernah bikin acara adu kerbau. Biasanya mah kerbau di sana cuma dipotong buat jadi gule atau dimasak jadi rendang. Tapi namanya juga Padang, suku yang terkenal suka ngeyel, sang raja akhirnya menerima tantangan tersebut. Bahkan dengan songongnya sang raja Padang menambahkan taruhannya.<br />
<br />
“Ambo minta yang kalah harus memakai baju perempuan seumur hidup sampai ke seluruh turunannya. Gimana wa’ang sepakat sama ambo indak?”<br />
<br />
“AKUR!” Karena sangat yakin bakalan menang tentu saja Raja Jawa setuju. Bahkan dia langsung mengulurkan tangannya untuk mengajak lawannya Tos sambil berkata, “Give me five man, give me five!”<br />
<br />
TOSS!!! Kedua raja besar itu saling menepukkan telapak tangannya satu sama lain.<br />
<br />
Pertempuran adu kerbau itu disepakati akan diadakan minggu depan. Raja Jawa membutuhkan waktu untuk mengadakan acara ritualnya terhadap Kyai Gentong Pamungkas. Kerbau tersebut akan dimandikan dengan air kembang 7 rupa, lalu dimantrai oleh seorang Mpu sakti yang biasa membuat keris khusus untuk keluarga kerajaan. Ritual itu diadakan dalam kubangan kerbau yang dibangun di samping keputren di belakang keraton. (<span style="font-style: italic;">Kebayang ga tuh baunya?)</span><br />
<br />
Sementara Raja Padang bingung banget. Beberapa hari ini dia ga bisa tidur dan ga napsu makan. Pikirannya cuma fokus memikirkan adu kerbau tersebut. Chef de cuisine istana pun kelimpungan. Gulai otak, sayur daon singkong, ayam pop, teri balado dan krupuk kulit yang udah disiram kuah gulai ayam pun tidak juga bisa membangkitkan selera sang baginda.<br />
<br />
Rapat paripurna diadakan secara marathon. Untungnya ada seorang penasihat istana yang terkenal sangat pintar. Namanya Sutan Bagindo Maringkiak Macam Kudo. Dia selalu mempunyai ide dan strategi yang jenius dalam setiap masalah. Raja selalu mengandalkan keenceran otak penasihatnya ini. Setelah mendengar usulan penasihatnya, Sang Raja setuju untuk memakai taktik sang penasihat.<br />
<br />
Dan hari yang dinantikan pun datang. Gelanggang adu kerbau telah dibangun tepat di tengah lapangan pertempuran. Gelanggang tesebut dikelilingi oleh pagar yang konon dibangun dengan menelan biaya Rp 22,1 Milyar. Ck…ck…ck…boros amat yak? Para penonton dari kedua kerajaan berebutan tempat paling depan di sekitar gelanggang untuk menyaksikan pertandingan dari dekat. Master of Ceremony tampil di tengah gelanggang lalu mengumumkan spesifikasi dan rekor masing2 kerbau sebagai petarung.<br />
<br />
TENG! Lonceng telah dibunyikan. Sebuah pintu di kubu Raja Jawa dibuka dan ke luarlah seekor kerbau yang luarbiasa besar. Yak itulah Kyai Gentong Pamungkas. Dengan garang dia berlari dan mendengus-dengus berkeliling seakan ga sabar mencari musuhnya. Para prajurit dari jawa bersorak menyambut keangkeran kerbau andalannya.<br />
<br />
Kali ini pintu di kubu kerajaan padang dibuka. Semua penonton menahan napas kepengen tau seperti apa kerbau yang akan muncul. Tapi setelah menunggu beberapa puluh menit belom juga kerbau dari padang ke luar.<br />
<br />
“Huuuuuuu……!!! Suara cemooh membahana dari kubu kerajaan jawa.<br />
<br />
Setelah menunggu sekian lama tiba-tiba sebuah benda kecil melesat ke dalam gelanggang. Ketika benda itu berhenti, telihatlah seekor anak kerbau yang masih sangat kecil berjalan sambil mengais-ngais tanah. Di kepala anak kebau itu diikat pisau belati seperti tanduk. Maklumlah anak kerbau kan belom punya tanduk jadi sebagai gantinya dipakailah dua bilah belati kecil.<br />
<br />
Para penonton tertawa terbahak-bahak melihat jagoan dari negeri padang. Mana mungkin bisa menang anak kerbau masih menyusu melawan Kyai Gentong Pamungkas? Begitu pikir mereka. Sebaliknya penonton dari kerajaan padang juga kecewa ngeliat petarung yang dipilih oleh rajanya. Habislah sudah harapan mereka.<br />
<br />
Bukan hanya penonton, Kyai Gentong Pamungkas pun kecewa dan merasa terhina ngeliat calon lawannya. Dia tentu saja berharap mendapat lawan yang setimpal. Dia membatin, ‘Dasar padang pelit banget! Masa ngasih lawan buat gue kok kecil amat ukurannya?’<br />
<br />
Anak kerbau ini memang tampak menyedihkan. Sejak pagi tadi dia merasa haus banget karena ga dikasih susu. Hal ini sengaja dilakukan atas perintah Sutan Bagindo Maringkiak Macam Kudo. Anak kerbau ini terus berlari ke sana kemari lalu mengendus-ngendus tanah lagi seperti kerbau bodoh. (<span style="font-style: italic;">eh Emang kerbau ada yang pinter?)</span><br />
<br />
Saking kesal ngeliat  lawannya yang blo’on itu, Kyai Gentong Pamungkas mengeluarkan suara hinaan dengan cara mendengus mengeluarkan suara yang keras.<br />
<br />
Mendengar dengusan Kyai Gentong, si anak kerbau menoleh. Tiba-tiba wajah si anak kerbau berubah parasnya jadi kegirangan. Dengan kecepatan luar biasa dia berlari menghampiri Kyai Gentong pamungkas sambil memekik, “Mami! Mamiiii!!! Mamiiiii!!!!”<br />
Kyai Gentong bingung bukan main. ‘Kok gue dipanggil mami sih? Gue macho begini dikira perempuan? Diamput nih anak kebo. Kalo gue ngondek boleh deh lo panggil mami. Kurang ajar!!!!’<br />
<br />
Rupanya saking kehausan si anak kebo pandangannya udah nanar, jadi ga bisa lagi beda’in mana kebo cowo dan mana kebo cewe. Bagaikan kilat tau2 dia udah berada di bawah badan Kyai Gentong. Kyai Gentong mulai panik tapi keadaan semakin ga baik untuknya.<br />
<br />
“Mimik Mami!!! Mimik Mami. Haus nih dari pagi belom nyusu. Mimiiiiik!!!” kata si anak kebo sambil mengangkat kepalanya setinggi mungkin ke arah perut Kyai Gentong. Hal itu dilakukannya untuk mencari puting susu dari kerbau yang dikira ibunya.<br />
<br />
Dan fatallah akibatnya! Pisau di kepala anak kerbau yang berfungsi sebagai tanduk tentu saja menikam perut Kyai Gentong Pamungkas.<br />
<br />
Aarrrrrrrggghhhhh!!!!! Jago dari jawa meraung kesakitan kenceng banget membuat penonton terkejut bukan main.<br />
<br />
Tapi penderitaan si Kyai tidak berhenti sampai di sini. Karena si anak kerbau ga berhasil mencari tetek ‘ibu’nya, dia terus saja melompat-lompat yang akibatnya kedua belati terus menerus menusuk perutnya. Darah berhamburan ke segala arah…<span style="font-style: italic;">(Kalo dibikin marus lumayan banget tuh).</span><br />
<br />
Kena cipratan darah, si anak kebo kaget dan menyingkir dari bawah perut Kyai Gentong. Sementara petarung dari jawa ini bengong. Matanya makin berawan, suara-suara terdengar semakin jauh, di kejauhan dia ngeliat beberapa dewa dateng menjemputnya.<br />
<br />
BRUK! Dengan suara keras rubuhlah Kyai Gentong Pamungkas meregang nyawa.<br />
<br />
Yeaaaaahhhh!!!!! Suara pekik kemenangan membahana dari kubu kerajaan padang.<br />
<br />
Luarbiasa! Ini hasil pemikiran dari penasihat istana, Sutan Bagindo Maringkiak Macam Kudo. Dengan keenceran otaknya yang brilyan, anak kerbau kehausan bisa mengalahkan Kyai Gentong Pamungkas yang udah dimandiin kembang 7 rupa dan dimantrai seorang empu yang sakti. Hebat bukan main!<br />
<br />
Raja padang masuk ke tengah gelanggang. Semua prajurit mengelu-elukannya. Raja melambai ke seluruh sudut gelanggang sampai akhirnya matanya tertumbuk pada raja jawa yang juga sedang menatap matanya. Mereka berpandang2an. Kamera cut to cut dari wajah raja jawa pindah ke wajah raja padang lalu ke raja jawa lagi begitu seterusnya. Yah kayak film2 india kan suka gitu….<br />
<br />
Tiba2 Raja Jawa bangkit dari podium. Dengan gerak perlahan dia juga melangkahkan kakinya ke arah Raja Padang. Mendadak semua orang terdiam. Suasana sangat tegang. Kalo kaleng minyak terjatuh pun mungkin juga ga akan kedengeran saking tegangnya.<br />
<br />
Perlahan tapi pasti Raja Jawa telah berdiri di hadapan Raja Padang dengan jarak kira2 dua meter. Keduanya saling tatap dengan tajam namun masih terdiam. Sang Raja Jawa menghela napas panjang. Dengan gerakan sangat perlahan dia mencabut keris yang ada di pinggangnya. Sejenak dia menatap keris kerajaan itu lalu melemparkannya ke tanah sebagai tanda menyerah.<br />
<br />
YEAAAAHHH…!!!!! Meledaklah tempat itu dengan sorak sorai suka cita dari penonton. Perang yang melelahkan itu akhirnya selesai dengan kemenangan Kerajaan Padang.<br />
<br />
Raja Jawa membalikkan tubuhnya lalu berjalan dengan langkah gontai untuk meninggalkan tempat itu.<br />
<br />
Namun tiba2 raja padang berkata, “Mas, pisaunya ketinggalan tuh.”<br />
<br />
Raja Jawa tidak menyahut dan tidak membalikkan tubuhnya. Dia hanya mengibaskan tangannya memberi syarat bahwa dia tidak menginginkan kerisnya lagi.<br />
<br />
Raja Padang memungut keris Sang Raja. Dia menghunus keris tersebut dan memperhatikannya dengan seksama. Dia keheranan dan berkata dalam hati, “Onde mande! Ini pisau kok banyak lekuk-lekuknya sih? Buat potong dagiang pasti indak enak tu.”<br />
<br />
Merasa keris itu kurang fungsional untuknya, sang raja padang kembali menyusul Raja Jawa sambil berteriak, “Mas iko kerisnya diambil sajo. Ambo indak perlu.”<br />
<br />
Tapi sekali lagi Si Raja Jawa mengibaskan tangannya tanda menolak. Bukan padang dong kalo ga ngotot. Si Raja Padang terus memaksa dan karena Raja Jawa nolak terus, akhirnya Raja Padang menyelipkan keris tersebut di sabuk bagian belakang Raja Jawa. Dan konon itulah asal muasal kenapa orang jawa selalu menaruh keris di belakang. Bukan dipinggang depan.<br />
<br />
Dan sebagaimana raja2 umumnya di jawa, mereka selalu menepati janji yang sudah diucapkannya. Sejak itu pula raja-raja jawa selalu mengenakan kain sebagai tanda mereka kalah taruhan dan harus selalu memakai kain tesebut sampai turunan2nya.<br />
<br />
“Oh begitu ceritanya ya Ma?” tanya saya pada ibu saya.<br />
<br />
“Iya begitu. Dan itu sebabnya orang padang disebut suku minangkabau yang artinya ‘Menang Kerbau.’ kata ibu saya lagi.<br />
<br />
“Dan makanya atap2 rumah adat selalu pake tanduk ya?” kata saya lagi mulai menangkap sesuatu sambil meneruskan, “Itu juga kenapa pakean adat minangkabau pake tanduk ya?”<br />
<br />
Ibu saya cuma tersenyum lalu membalikkan tubuhnya untuk pergi tidur.<br />
<br />
I loved you Mom!<br />
<br />
......................... <br />
<span style="font-weight: bold;">Courtesy of Kompasiana.com</span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span style="font-size: medium;">Dongeng Adu Kerbau Versi Ibu dari  Budiman Hakim</span><br />
<br />
Belakangan ini saya suka kangen sama almarhum ibu saya. Ga tau kenapa.<br />
<br />
Ibu saya bukan tipe ibu yang suka memanjakan anak, bukan juga tipe ibu yang ekspresif menyatakan kasih sayangnya. Bukan! Sebaliknya dia adalah tipe perempuan keras yang bisa dibandingkan dengan Madeleine Albright. Kalo ngomong suka nyelekit. Kalo marah nyeremin banget. Kalo nampar kenceng banget! Tapi di situlah kehebatannya. Bukannya dibenci malahan ibu saya dicintai banyak orang dan saudara2nya. Padahal hampir semua pernah kena semprot.<br />
<br />
Walaupun jarang mendongeng, ibu saya adalah seorang pencerita yang hebat. Dia asli orang minangkabau. Saya pernah tanya sama dia, “kenapa sih orang2 di sumatera barat dinamai suku ‘Minangkabau?”<br />
<br />
Mulanya dia cuma bilang, “Nanti kalo ada waktu Mama ceritain.”<br />
<br />
“Kenapa ga sekarang?” desak saya.<br />
<br />
“Soalnya ceritanya lumayan panjang…” kilahnya.<br />
<br />
Akhirnya penantian panjang berbuah juga. Ketika kebetulan kami sedang berdua saja di rumah, ibu saya menceritakan riwayat minangkabau. Sambil berbaring di tempat tidur, ibu saya memulai kisahnya. Ceritanya menarik. Mau denger ga? Kalo mau saya ceritain pake versi saya gapapa kan? Begini ceritanya:<br />
<br />
Alkisah kerajaan di Padang berseteru dengan kerajaan di Jawa. Ibu saya ga menyebutkan nama kerajaannya, jadi cuma dibilang kerajaan di Padang dan di jawa. Jadi ga jelas juga sebenernya kerajaan apa. Saya cari peperangan ini di Wikipedia juga ga ada soalnya.<br />
<br />
Nah karena hubungan semakin memanas pecahlah perang antara kedua kerajaan itu. Peperangan tentunya bukan kayak jaman sekarang tapi saling berhadapan dengan senjata seperti pedang, keris, tombak dan semacamnya.<br />
<br />
Saya ngebayanginnya kayak perang barata Yudha. Di mana laskar pandawa berperang malawan laskar Kurawa di sebuah lapangan luas yang disebut dengan Kurusetra. Mereka berperang dari matahari terbit dan selesai pada saat matahari terbenam. Malamnya semua tidur di tenda2 seperti tenda haji yang memang disediakan untuk para perajurit beristirahat.<br />
<br />
Perang berlangsung lama sekali. Kedua belah pihak sama2 menderita kerugian, baik dari segi ekonomi, politik dan kesejahteraan sosial. Udah ga keitung korban nyawa yang jatuh. Banyak perempuan2 yang mendadak jadi janda. Dan lembaga statistik menyatakan bahwa angka anak yatim tiba2 melonjak dengan tajam.<br />
<br />
Kedua raja sangat gundah dengan keadaan tersebut. Mereka miris melihat ribuan korban berjatuhan dan mati sia-sia.Karena itu mereka berunding. Intinya perang harus dihentikan. Tapi namanya juga pejabat, pastinya sok kuasa dan ga mau kalah kan? Keduanya sepakat untuk menghentikan perang tapi pemenang perang tetap harus ditentukan.<br />
<br />
“Sampeyan setuju kalo perang harus dihentikan?” kata Raja Jawa.<br />
<br />
“Ambo setuju! Perang ini mempunyai dampak sistemik terhadap perekonomian kita.” sahut Raja Padang.<br />
<br />
“Wah? Omongan sampeyan kok kayak Sri Mulyani?” tanya Raja Jawa keheranan.<br />
<br />
“Inda ba’a lah. Sri Mulyani kan urang awak juo.” sahut Raja Padang sok tau. Padahal kan Sri Mulyani bukan orang Padang. Dia orang lampung apa orang semarang ya?<br />
<br />
Setelah melalui diskusi panjang, Raja Jawa melemparkan ide cemerlang. Dia menawarkan untuk menentukan pemenangnya dengan adu kerbau saja. Pemenang perang akan ditentukan oleh kerbau yang berhasil mengalahkan lawannya.<br />
<br />
Kenapa raja Jawa berani menawarkan taruhan tersebut? Rupanya Raja Jawa memiliki kerbau yang biasa tampil adu kerbau. Ukuran kerbaunya besar, kuat dengan tanduk yang sangat panjang. Kerbau itu konon masih titisan dewa, karena itu dinamai Kyai Gentong Pamungkas. Disebut begitu karena ukurannya besar seperti gentong dan mempunyai aji pamungkas untuk mengalahkan lawan. Dalam sejarah karirnya sebagai petarung belom pernah Kyai Gentong Pamungkas dikalahkan dalam adu kerbau.<br />
<br />
Raja Padang bingung doooong? Seumur hidup mereka ga pernah bikin acara adu kerbau. Biasanya mah kerbau di sana cuma dipotong buat jadi gule atau dimasak jadi rendang. Tapi namanya juga Padang, suku yang terkenal suka ngeyel, sang raja akhirnya menerima tantangan tersebut. Bahkan dengan songongnya sang raja Padang menambahkan taruhannya.<br />
<br />
“Ambo minta yang kalah harus memakai baju perempuan seumur hidup sampai ke seluruh turunannya. Gimana wa’ang sepakat sama ambo indak?”<br />
<br />
“AKUR!” Karena sangat yakin bakalan menang tentu saja Raja Jawa setuju. Bahkan dia langsung mengulurkan tangannya untuk mengajak lawannya Tos sambil berkata, “Give me five man, give me five!”<br />
<br />
TOSS!!! Kedua raja besar itu saling menepukkan telapak tangannya satu sama lain.<br />
<br />
Pertempuran adu kerbau itu disepakati akan diadakan minggu depan. Raja Jawa membutuhkan waktu untuk mengadakan acara ritualnya terhadap Kyai Gentong Pamungkas. Kerbau tersebut akan dimandikan dengan air kembang 7 rupa, lalu dimantrai oleh seorang Mpu sakti yang biasa membuat keris khusus untuk keluarga kerajaan. Ritual itu diadakan dalam kubangan kerbau yang dibangun di samping keputren di belakang keraton. (<span style="font-style: italic;">Kebayang ga tuh baunya?)</span><br />
<br />
Sementara Raja Padang bingung banget. Beberapa hari ini dia ga bisa tidur dan ga napsu makan. Pikirannya cuma fokus memikirkan adu kerbau tersebut. Chef de cuisine istana pun kelimpungan. Gulai otak, sayur daon singkong, ayam pop, teri balado dan krupuk kulit yang udah disiram kuah gulai ayam pun tidak juga bisa membangkitkan selera sang baginda.<br />
<br />
Rapat paripurna diadakan secara marathon. Untungnya ada seorang penasihat istana yang terkenal sangat pintar. Namanya Sutan Bagindo Maringkiak Macam Kudo. Dia selalu mempunyai ide dan strategi yang jenius dalam setiap masalah. Raja selalu mengandalkan keenceran otak penasihatnya ini. Setelah mendengar usulan penasihatnya, Sang Raja setuju untuk memakai taktik sang penasihat.<br />
<br />
Dan hari yang dinantikan pun datang. Gelanggang adu kerbau telah dibangun tepat di tengah lapangan pertempuran. Gelanggang tesebut dikelilingi oleh pagar yang konon dibangun dengan menelan biaya Rp 22,1 Milyar. Ck…ck…ck…boros amat yak? Para penonton dari kedua kerajaan berebutan tempat paling depan di sekitar gelanggang untuk menyaksikan pertandingan dari dekat. Master of Ceremony tampil di tengah gelanggang lalu mengumumkan spesifikasi dan rekor masing2 kerbau sebagai petarung.<br />
<br />
TENG! Lonceng telah dibunyikan. Sebuah pintu di kubu Raja Jawa dibuka dan ke luarlah seekor kerbau yang luarbiasa besar. Yak itulah Kyai Gentong Pamungkas. Dengan garang dia berlari dan mendengus-dengus berkeliling seakan ga sabar mencari musuhnya. Para prajurit dari jawa bersorak menyambut keangkeran kerbau andalannya.<br />
<br />
Kali ini pintu di kubu kerajaan padang dibuka. Semua penonton menahan napas kepengen tau seperti apa kerbau yang akan muncul. Tapi setelah menunggu beberapa puluh menit belom juga kerbau dari padang ke luar.<br />
<br />
“Huuuuuuu……!!! Suara cemooh membahana dari kubu kerajaan jawa.<br />
<br />
Setelah menunggu sekian lama tiba-tiba sebuah benda kecil melesat ke dalam gelanggang. Ketika benda itu berhenti, telihatlah seekor anak kerbau yang masih sangat kecil berjalan sambil mengais-ngais tanah. Di kepala anak kebau itu diikat pisau belati seperti tanduk. Maklumlah anak kerbau kan belom punya tanduk jadi sebagai gantinya dipakailah dua bilah belati kecil.<br />
<br />
Para penonton tertawa terbahak-bahak melihat jagoan dari negeri padang. Mana mungkin bisa menang anak kerbau masih menyusu melawan Kyai Gentong Pamungkas? Begitu pikir mereka. Sebaliknya penonton dari kerajaan padang juga kecewa ngeliat petarung yang dipilih oleh rajanya. Habislah sudah harapan mereka.<br />
<br />
Bukan hanya penonton, Kyai Gentong Pamungkas pun kecewa dan merasa terhina ngeliat calon lawannya. Dia tentu saja berharap mendapat lawan yang setimpal. Dia membatin, ‘Dasar padang pelit banget! Masa ngasih lawan buat gue kok kecil amat ukurannya?’<br />
<br />
Anak kerbau ini memang tampak menyedihkan. Sejak pagi tadi dia merasa haus banget karena ga dikasih susu. Hal ini sengaja dilakukan atas perintah Sutan Bagindo Maringkiak Macam Kudo. Anak kerbau ini terus berlari ke sana kemari lalu mengendus-ngendus tanah lagi seperti kerbau bodoh. (<span style="font-style: italic;">eh Emang kerbau ada yang pinter?)</span><br />
<br />
Saking kesal ngeliat  lawannya yang blo’on itu, Kyai Gentong Pamungkas mengeluarkan suara hinaan dengan cara mendengus mengeluarkan suara yang keras.<br />
<br />
Mendengar dengusan Kyai Gentong, si anak kerbau menoleh. Tiba-tiba wajah si anak kerbau berubah parasnya jadi kegirangan. Dengan kecepatan luar biasa dia berlari menghampiri Kyai Gentong pamungkas sambil memekik, “Mami! Mamiiii!!! Mamiiiii!!!!”<br />
Kyai Gentong bingung bukan main. ‘Kok gue dipanggil mami sih? Gue macho begini dikira perempuan? Diamput nih anak kebo. Kalo gue ngondek boleh deh lo panggil mami. Kurang ajar!!!!’<br />
<br />
Rupanya saking kehausan si anak kebo pandangannya udah nanar, jadi ga bisa lagi beda’in mana kebo cowo dan mana kebo cewe. Bagaikan kilat tau2 dia udah berada di bawah badan Kyai Gentong. Kyai Gentong mulai panik tapi keadaan semakin ga baik untuknya.<br />
<br />
“Mimik Mami!!! Mimik Mami. Haus nih dari pagi belom nyusu. Mimiiiiik!!!” kata si anak kebo sambil mengangkat kepalanya setinggi mungkin ke arah perut Kyai Gentong. Hal itu dilakukannya untuk mencari puting susu dari kerbau yang dikira ibunya.<br />
<br />
Dan fatallah akibatnya! Pisau di kepala anak kerbau yang berfungsi sebagai tanduk tentu saja menikam perut Kyai Gentong Pamungkas.<br />
<br />
Aarrrrrrrggghhhhh!!!!! Jago dari jawa meraung kesakitan kenceng banget membuat penonton terkejut bukan main.<br />
<br />
Tapi penderitaan si Kyai tidak berhenti sampai di sini. Karena si anak kerbau ga berhasil mencari tetek ‘ibu’nya, dia terus saja melompat-lompat yang akibatnya kedua belati terus menerus menusuk perutnya. Darah berhamburan ke segala arah…<span style="font-style: italic;">(Kalo dibikin marus lumayan banget tuh).</span><br />
<br />
Kena cipratan darah, si anak kebo kaget dan menyingkir dari bawah perut Kyai Gentong. Sementara petarung dari jawa ini bengong. Matanya makin berawan, suara-suara terdengar semakin jauh, di kejauhan dia ngeliat beberapa dewa dateng menjemputnya.<br />
<br />
BRUK! Dengan suara keras rubuhlah Kyai Gentong Pamungkas meregang nyawa.<br />
<br />
Yeaaaaahhhh!!!!! Suara pekik kemenangan membahana dari kubu kerajaan padang.<br />
<br />
Luarbiasa! Ini hasil pemikiran dari penasihat istana, Sutan Bagindo Maringkiak Macam Kudo. Dengan keenceran otaknya yang brilyan, anak kerbau kehausan bisa mengalahkan Kyai Gentong Pamungkas yang udah dimandiin kembang 7 rupa dan dimantrai seorang empu yang sakti. Hebat bukan main!<br />
<br />
Raja padang masuk ke tengah gelanggang. Semua prajurit mengelu-elukannya. Raja melambai ke seluruh sudut gelanggang sampai akhirnya matanya tertumbuk pada raja jawa yang juga sedang menatap matanya. Mereka berpandang2an. Kamera cut to cut dari wajah raja jawa pindah ke wajah raja padang lalu ke raja jawa lagi begitu seterusnya. Yah kayak film2 india kan suka gitu….<br />
<br />
Tiba2 Raja Jawa bangkit dari podium. Dengan gerak perlahan dia juga melangkahkan kakinya ke arah Raja Padang. Mendadak semua orang terdiam. Suasana sangat tegang. Kalo kaleng minyak terjatuh pun mungkin juga ga akan kedengeran saking tegangnya.<br />
<br />
Perlahan tapi pasti Raja Jawa telah berdiri di hadapan Raja Padang dengan jarak kira2 dua meter. Keduanya saling tatap dengan tajam namun masih terdiam. Sang Raja Jawa menghela napas panjang. Dengan gerakan sangat perlahan dia mencabut keris yang ada di pinggangnya. Sejenak dia menatap keris kerajaan itu lalu melemparkannya ke tanah sebagai tanda menyerah.<br />
<br />
YEAAAAHHH…!!!!! Meledaklah tempat itu dengan sorak sorai suka cita dari penonton. Perang yang melelahkan itu akhirnya selesai dengan kemenangan Kerajaan Padang.<br />
<br />
Raja Jawa membalikkan tubuhnya lalu berjalan dengan langkah gontai untuk meninggalkan tempat itu.<br />
<br />
Namun tiba2 raja padang berkata, “Mas, pisaunya ketinggalan tuh.”<br />
<br />
Raja Jawa tidak menyahut dan tidak membalikkan tubuhnya. Dia hanya mengibaskan tangannya memberi syarat bahwa dia tidak menginginkan kerisnya lagi.<br />
<br />
Raja Padang memungut keris Sang Raja. Dia menghunus keris tersebut dan memperhatikannya dengan seksama. Dia keheranan dan berkata dalam hati, “Onde mande! Ini pisau kok banyak lekuk-lekuknya sih? Buat potong dagiang pasti indak enak tu.”<br />
<br />
Merasa keris itu kurang fungsional untuknya, sang raja padang kembali menyusul Raja Jawa sambil berteriak, “Mas iko kerisnya diambil sajo. Ambo indak perlu.”<br />
<br />
Tapi sekali lagi Si Raja Jawa mengibaskan tangannya tanda menolak. Bukan padang dong kalo ga ngotot. Si Raja Padang terus memaksa dan karena Raja Jawa nolak terus, akhirnya Raja Padang menyelipkan keris tersebut di sabuk bagian belakang Raja Jawa. Dan konon itulah asal muasal kenapa orang jawa selalu menaruh keris di belakang. Bukan dipinggang depan.<br />
<br />
Dan sebagaimana raja2 umumnya di jawa, mereka selalu menepati janji yang sudah diucapkannya. Sejak itu pula raja-raja jawa selalu mengenakan kain sebagai tanda mereka kalah taruhan dan harus selalu memakai kain tesebut sampai turunan2nya.<br />
<br />
“Oh begitu ceritanya ya Ma?” tanya saya pada ibu saya.<br />
<br />
“Iya begitu. Dan itu sebabnya orang padang disebut suku minangkabau yang artinya ‘Menang Kerbau.’ kata ibu saya lagi.<br />
<br />
“Dan makanya atap2 rumah adat selalu pake tanduk ya?” kata saya lagi mulai menangkap sesuatu sambil meneruskan, “Itu juga kenapa pakean adat minangkabau pake tanduk ya?”<br />
<br />
Ibu saya cuma tersenyum lalu membalikkan tubuhnya untuk pergi tidur.<br />
<br />
I loved you Mom!<br />
<br />
......................... <br />
<span style="font-weight: bold;">Courtesy of Kompasiana.com</span>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Urang Bunian]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Urang-Bunian</link>
			<pubDate>Thu, 05 Apr 2012 01:31:21 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Urang-Bunian</guid>
			<description><![CDATA[Urang Bunian<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Defenisi</span><br />
Orang bunian adalah sejenis makhluk halus yang dikenal di wilayah Minangkabau, Sumatera Barat. Bentuknya menyerupai manusia, tinggal di tempat-tempat sepi, di rumah-rumah kosong yang telah ditinggal penghuninya.<br />
<br />
Istilah ini dikenal di wilayah Istilah orang bunian juga terkadang dikaitkan dengan istilah dewa di Minangkabau, pengertian dewa dalam hal ini sedikit berbeda dengan pengertian dewa dalam agama-agama Hindu maupun Buddha.<br />
<br />
Dewa dalam istilah Minangkabau berarti sebangsa makhluk halus yang tinggal di hutan atau di rimba, di pinggir bukit, di dekat pekuburan.<br />
<br />
Biasanya bila hari menjelang maghrib di pinggir bukit akan tercium sebuah aroma yang biasa dikenal dengan nama masakan dewa atau samba dewa. Aromanya mirip bau kentang goreng. Hal ini boleh ditanyakan langsung kepada masyarakat Minangkabau.<br />
<br />
Satu hal lagi, dewa lebih dikonotasikan bergender perempuan, yang cantik rupawan, bukan laki-laki seperti persepsi yang umum di agama lain. Selain itu, masyarakat juga meyakini bahwa ada peristiwa orang hilang disembunyikan dewa; ada juga istilah orang dipelihara dewa, yang semenjak bayi sudah dilarikan oleh dewa. cerita ini masih masyhur sampai sekarang.<br />
<br />
Ada juga yang meyakini bahwa orang bunian ini adalah penunggu Telaga Dewi yang terdapat di puncak Gunung Singgalang. Beredar cerita di kalangan masyarakat bahwa pernah ada orang atau pendaki gunung yang berfoto dengan background Telaga Dewi, namun setelah dicetak dalam foto Nampak latar belakang sebuah Rumah Gadang, tempat menumbuk padi dan perempuan-perempuan yang tengah melakukan aktivitas menumbuk padi.<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Kasus Urang Bunian masih ada di Pasaman</span><br />
Sewaktu masih kecil saya dipanggil oleh nenek saya. Katanya jangan dekat-dekat sama lurah di pinggir sungai tersebut kalau senja telah tiba, karena disana ada "urang bunian" yakni semacam makluk halus yang menyerupai manusia. Bedanya, urang bunian ini bisa terlihat dan bisa pula tidak. kata nenek saya, dulunya pak leman pernah menghilang sebulan setelah mendatangi lurah tersebut. Akan tetapi saat kembali ke masyarakat, pak Leman pikirannya sudah ngaur. Dia sering bicara sendiri, bahkan mengaku punya anak dengan wanita baru yang disebutkan rambutnya panjang hingga pinggang. Orang kampung di daerah saya tak ada rambutnya yang sampai ke pinggang. Dari cerita nenek itu saya baru paham apa itu urang bunian.Belum lama ini di derah Pasaman, tepatnya di Aia Manggih Lubuk Sikaping cerita menghebohkan itu muncul lagi. Kali ini urang bunian melarikan seorang ibu muda yang baru melahirkan bayi. sayangnya walau sang ibu akhirnya berhasil kembali ke rumah, namun bayinya yang berumur 9 hari tewas. Dalam beberapa tahun terakhir ini tercatat telah empat kasus orang yang dilarikan urang bunian di Pasaman. Saat saya masih duduk di bangku SMP di Kumpulan, saya mengetahui benar kalau seorng orang kampung saya dibawa makluk halus tersebut. Setelah enam bulan menghilang dalam rimba, lelaki yang disebut dibawa urang bunian itu kembali ke kampung, tetapi jiwanya telah sakit. Hingga kini yang bersangkutan masih hidup, tetapi dia terlihat bagaikan orang sakit jiwa. Kalau naik menumpang sepeda motor dia duduk sambil lihat ke belakang. Bahkan dia tak pernah pakai baju, kecuali celana pendek saja. Panggilannya Bj". Hingga kini rupanya urang bunian masih belum punah.Nah... saudara-saudara...demikian sekilas info tentang urang bunian.<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Carito versi bahaso minang</span><br />
Dunsanak, mungkin iko curito lamo, tapi bia supayo indak panasaran<br />
diangkek saketek curitotu,<br />
Di kampuang kami, maklum lingkungan kampuang awak sakitarnyo takana jo hutan jo rimbonyo nan sangaik badagok, pepohonan gadang2 batangnyo. Kalau kulik manih nan gadang tasabuik jo namo madang.<br />
Salain bamato pancaharian batani, masyarakaik kampuang dulunyo banyak nan bakarajo "maarik kayu" (manggargaji pohon kayu untuak dijadikan papan, kini alaik2 mamotong kayu lah mamakai senso, yaitu masin potong nan capek mamotong kayu). Wakatu sabalun taun tujuahpuluahan apak2 nan maarik kayutu mamakai gargaji nan barami-rami mamotong jo mambalahnyo.. Paliang saketek baduo mambalah kayu ka dijadikan papan. Satalah pohon tapotong, lalu dilakukan mambalah manjadi papan. Dibueklah lubang nan gadang, atau dibantangkan kayu tu ujuang kaujuang. Lalu dibalahlah kayu tu jo jalan manggargajinyo jo gargaji basi nan gadang. Manggargaji dilakukan jo caro surang barado di ateh nan saurang lai barado di bawah. Gesek pun tajadi. Biasonyo para paarik kayutu babulan-bulan di hutan. Tau ndak sia nan maagiah makan apak-apak tu? Bayangkan salamo bulan-bulan di hutan. Nah, biasonyo ... manuruik kaba lah banyak tajadi pabauran antaro masyarakaik awak jo kaum "urang haluih" tu. Antah bantuak apo anak-anaknyo sasudah itu, tantu "mereka-mereka"lah nan labiah tau. Apak-apaktu pulang sabanta ka kampuang aslinyo, kudian baliak ka hutan ka rumah anak bininyo. Ado suatu kekhasan, biasonyo, bilo pasa (pakan) di suatu kampuang kalihatan rami jo bisiang, itu patando bahaso "rang haluih tu (baco: urang bunian)" lah masuak ka pasatu (Allahualam)..<br />
Banyak hal nan kadang2 bulu kuduak marindiang dibueknyo. Kalau lah magrib, jaan padia anak2 bamain, bisa-bisa dibao dek urang bunian tu. Kadang-kadang indak masuak diaka, tapi banyak curito nan bana-bana tajadi kutikotu.. Masih banyak curito nan lain. Kasadonyo babaliak ka awak. Manusia jo jihin milik Allah. (beberapa sumber)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Urang Bunian<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Defenisi</span><br />
Orang bunian adalah sejenis makhluk halus yang dikenal di wilayah Minangkabau, Sumatera Barat. Bentuknya menyerupai manusia, tinggal di tempat-tempat sepi, di rumah-rumah kosong yang telah ditinggal penghuninya.<br />
<br />
Istilah ini dikenal di wilayah Istilah orang bunian juga terkadang dikaitkan dengan istilah dewa di Minangkabau, pengertian dewa dalam hal ini sedikit berbeda dengan pengertian dewa dalam agama-agama Hindu maupun Buddha.<br />
<br />
Dewa dalam istilah Minangkabau berarti sebangsa makhluk halus yang tinggal di hutan atau di rimba, di pinggir bukit, di dekat pekuburan.<br />
<br />
Biasanya bila hari menjelang maghrib di pinggir bukit akan tercium sebuah aroma yang biasa dikenal dengan nama masakan dewa atau samba dewa. Aromanya mirip bau kentang goreng. Hal ini boleh ditanyakan langsung kepada masyarakat Minangkabau.<br />
<br />
Satu hal lagi, dewa lebih dikonotasikan bergender perempuan, yang cantik rupawan, bukan laki-laki seperti persepsi yang umum di agama lain. Selain itu, masyarakat juga meyakini bahwa ada peristiwa orang hilang disembunyikan dewa; ada juga istilah orang dipelihara dewa, yang semenjak bayi sudah dilarikan oleh dewa. cerita ini masih masyhur sampai sekarang.<br />
<br />
Ada juga yang meyakini bahwa orang bunian ini adalah penunggu Telaga Dewi yang terdapat di puncak Gunung Singgalang. Beredar cerita di kalangan masyarakat bahwa pernah ada orang atau pendaki gunung yang berfoto dengan background Telaga Dewi, namun setelah dicetak dalam foto Nampak latar belakang sebuah Rumah Gadang, tempat menumbuk padi dan perempuan-perempuan yang tengah melakukan aktivitas menumbuk padi.<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Kasus Urang Bunian masih ada di Pasaman</span><br />
Sewaktu masih kecil saya dipanggil oleh nenek saya. Katanya jangan dekat-dekat sama lurah di pinggir sungai tersebut kalau senja telah tiba, karena disana ada "urang bunian" yakni semacam makluk halus yang menyerupai manusia. Bedanya, urang bunian ini bisa terlihat dan bisa pula tidak. kata nenek saya, dulunya pak leman pernah menghilang sebulan setelah mendatangi lurah tersebut. Akan tetapi saat kembali ke masyarakat, pak Leman pikirannya sudah ngaur. Dia sering bicara sendiri, bahkan mengaku punya anak dengan wanita baru yang disebutkan rambutnya panjang hingga pinggang. Orang kampung di daerah saya tak ada rambutnya yang sampai ke pinggang. Dari cerita nenek itu saya baru paham apa itu urang bunian.Belum lama ini di derah Pasaman, tepatnya di Aia Manggih Lubuk Sikaping cerita menghebohkan itu muncul lagi. Kali ini urang bunian melarikan seorang ibu muda yang baru melahirkan bayi. sayangnya walau sang ibu akhirnya berhasil kembali ke rumah, namun bayinya yang berumur 9 hari tewas. Dalam beberapa tahun terakhir ini tercatat telah empat kasus orang yang dilarikan urang bunian di Pasaman. Saat saya masih duduk di bangku SMP di Kumpulan, saya mengetahui benar kalau seorng orang kampung saya dibawa makluk halus tersebut. Setelah enam bulan menghilang dalam rimba, lelaki yang disebut dibawa urang bunian itu kembali ke kampung, tetapi jiwanya telah sakit. Hingga kini yang bersangkutan masih hidup, tetapi dia terlihat bagaikan orang sakit jiwa. Kalau naik menumpang sepeda motor dia duduk sambil lihat ke belakang. Bahkan dia tak pernah pakai baju, kecuali celana pendek saja. Panggilannya Bj". Hingga kini rupanya urang bunian masih belum punah.Nah... saudara-saudara...demikian sekilas info tentang urang bunian.<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Carito versi bahaso minang</span><br />
Dunsanak, mungkin iko curito lamo, tapi bia supayo indak panasaran<br />
diangkek saketek curitotu,<br />
Di kampuang kami, maklum lingkungan kampuang awak sakitarnyo takana jo hutan jo rimbonyo nan sangaik badagok, pepohonan gadang2 batangnyo. Kalau kulik manih nan gadang tasabuik jo namo madang.<br />
Salain bamato pancaharian batani, masyarakaik kampuang dulunyo banyak nan bakarajo "maarik kayu" (manggargaji pohon kayu untuak dijadikan papan, kini alaik2 mamotong kayu lah mamakai senso, yaitu masin potong nan capek mamotong kayu). Wakatu sabalun taun tujuahpuluahan apak2 nan maarik kayutu mamakai gargaji nan barami-rami mamotong jo mambalahnyo.. Paliang saketek baduo mambalah kayu ka dijadikan papan. Satalah pohon tapotong, lalu dilakukan mambalah manjadi papan. Dibueklah lubang nan gadang, atau dibantangkan kayu tu ujuang kaujuang. Lalu dibalahlah kayu tu jo jalan manggargajinyo jo gargaji basi nan gadang. Manggargaji dilakukan jo caro surang barado di ateh nan saurang lai barado di bawah. Gesek pun tajadi. Biasonyo para paarik kayutu babulan-bulan di hutan. Tau ndak sia nan maagiah makan apak-apak tu? Bayangkan salamo bulan-bulan di hutan. Nah, biasonyo ... manuruik kaba lah banyak tajadi pabauran antaro masyarakaik awak jo kaum "urang haluih" tu. Antah bantuak apo anak-anaknyo sasudah itu, tantu "mereka-mereka"lah nan labiah tau. Apak-apaktu pulang sabanta ka kampuang aslinyo, kudian baliak ka hutan ka rumah anak bininyo. Ado suatu kekhasan, biasonyo, bilo pasa (pakan) di suatu kampuang kalihatan rami jo bisiang, itu patando bahaso "rang haluih tu (baco: urang bunian)" lah masuak ka pasatu (Allahualam)..<br />
Banyak hal nan kadang2 bulu kuduak marindiang dibueknyo. Kalau lah magrib, jaan padia anak2 bamain, bisa-bisa dibao dek urang bunian tu. Kadang-kadang indak masuak diaka, tapi banyak curito nan bana-bana tajadi kutikotu.. Masih banyak curito nan lain. Kasadonyo babaliak ka awak. Manusia jo jihin milik Allah. (beberapa sumber)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[ASAL MULA NAMA SARILAMAK]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-ASAL-MULA-NAMA-SARILAMAK</link>
			<pubDate>Mon, 02 Apr 2012 16:41:46 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-ASAL-MULA-NAMA-SARILAMAK</guid>
			<description><![CDATA[Sarilamak adalan sebuah desa kecil yang terletak di Kecamatan Harau Kabupaten Lima Puluh Kota. Letaknya sekitar 10 km dari Payakumbuh. (Catatan : Pada saat ini Sari Lamak adalah ibukota Kabupaten 50 Kota)<br />
<br />
Konon kabarnya kata “Sarilamak” itu berasal dari sairih dan lamak.. Menurut cerita orang tua-tua, dahulu di desa ini tinggallah seorang anak dan ibunya. Hidup mereka yang pas—pasan tidak membuat mereka putus asa. Anak itu bernama Amat dan ibunya yang biasa dipanggil Nur. Mereka mempertahankan hidup hanya dengan memanfaatkan isi alam.misalnya mereka mengambil hasil-hasil alam yang bisa dimakan.<br />
Pagi yang indah, Aman dan ibunya berniat mencari apa yang akan mereka makan hari ini. Mereka berniat mencari siput di sawah para penduduk desa lainnya yang juga mengerti akan keadaan mereka.<br />
Mereka mencari siput di sawah yang diminta oleh pemiliknya. Karena itu juga membantu si punya sawah terhindar dari seringnya itik ke sawahnya untuk mencari siput. Amat dan ibunya sangat berterima kasih kepada penduduk setempat yang sekali-sekali membantu mereka, baik itu moril maupun materil.<br />
Saat Amat sedang asik mencari, dia melihat seekor binatang yang menyerupai ular. Dia mengambil sebuah ranting, yang awalnya berniat untuk mengusir binatang itu. Tapi setelah dilihatnya lagi binatang itu tidak berusaha melawan ataupun menggigitnya.Amatpun menangkapnya dan memasukkan binatang itu ke keranjang yang telah disediakan untuk meletakkan siput yang telah dia tangkap. Dia segera berlari sambil berteriak memanggil ibunya dengan girangnya yang pada saat itu jauh darinya. Sambil nafasnya yang masih teregah-engah, Amat berkata pada ibunya tentang apa yang telah didapatnya tadi. Ibunya hanya tersenyum melihat anaknya yang sangat senang, seolah mendapat barang berharga.<br />
Nur pun melihat apa yang didapat oleh anaknya, dia sedikit terkejut. Tapi setelah kembali mendengar penjelasan anaknya dan langsung meraba binatang itu. Pikirannya mulai mencerna dan berpikir binatang apa itu, binatang seperti ular dan licin itu hanya berusaha melepaskan diri dari tangannya. Nur memberi tahu anaknya untuk segera pulang, dan berencana memasak dan memakan binatang itu.<br />
Amat sangat senang atas apa yang telah didapatnya hari ini. Dia melihat ibunya, mulai dari cara membersihkan binatang itu sampai cara memasaknya. Setelah masakan itu matang, dia dan ibunya segera mencicipi masakan itu. Setiap kali merasakan daging binatang itu terlontar lah dari mulutnya kata-kata “lamak” (enak). Mendengar perkataan itu tetangganya beramai-ramai datang untuk mencicipinya sambil berkata “mintak sairrih”(minta sepotong). Ternyata setiap tetangganya yang mencicipi makanan itu mengatakan “Lamak”. Lama-kelamaan kata “sairih Lamak” berubah menjadi Sarilamak.Menurut cerita diataslah asal nama Kenagarian Sarilamak. <br />
<br />
Source:  Blog Bahasa Indoneia //  <a href="http://www.yulimarustam.blogspot.com" rel="nofollow" target="_blank">http://www.yulimarustam.blogspot.com</a>[/b]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Sarilamak adalan sebuah desa kecil yang terletak di Kecamatan Harau Kabupaten Lima Puluh Kota. Letaknya sekitar 10 km dari Payakumbuh. (Catatan : Pada saat ini Sari Lamak adalah ibukota Kabupaten 50 Kota)<br />
<br />
Konon kabarnya kata “Sarilamak” itu berasal dari sairih dan lamak.. Menurut cerita orang tua-tua, dahulu di desa ini tinggallah seorang anak dan ibunya. Hidup mereka yang pas—pasan tidak membuat mereka putus asa. Anak itu bernama Amat dan ibunya yang biasa dipanggil Nur. Mereka mempertahankan hidup hanya dengan memanfaatkan isi alam.misalnya mereka mengambil hasil-hasil alam yang bisa dimakan.<br />
Pagi yang indah, Aman dan ibunya berniat mencari apa yang akan mereka makan hari ini. Mereka berniat mencari siput di sawah para penduduk desa lainnya yang juga mengerti akan keadaan mereka.<br />
Mereka mencari siput di sawah yang diminta oleh pemiliknya. Karena itu juga membantu si punya sawah terhindar dari seringnya itik ke sawahnya untuk mencari siput. Amat dan ibunya sangat berterima kasih kepada penduduk setempat yang sekali-sekali membantu mereka, baik itu moril maupun materil.<br />
Saat Amat sedang asik mencari, dia melihat seekor binatang yang menyerupai ular. Dia mengambil sebuah ranting, yang awalnya berniat untuk mengusir binatang itu. Tapi setelah dilihatnya lagi binatang itu tidak berusaha melawan ataupun menggigitnya.Amatpun menangkapnya dan memasukkan binatang itu ke keranjang yang telah disediakan untuk meletakkan siput yang telah dia tangkap. Dia segera berlari sambil berteriak memanggil ibunya dengan girangnya yang pada saat itu jauh darinya. Sambil nafasnya yang masih teregah-engah, Amat berkata pada ibunya tentang apa yang telah didapatnya tadi. Ibunya hanya tersenyum melihat anaknya yang sangat senang, seolah mendapat barang berharga.<br />
Nur pun melihat apa yang didapat oleh anaknya, dia sedikit terkejut. Tapi setelah kembali mendengar penjelasan anaknya dan langsung meraba binatang itu. Pikirannya mulai mencerna dan berpikir binatang apa itu, binatang seperti ular dan licin itu hanya berusaha melepaskan diri dari tangannya. Nur memberi tahu anaknya untuk segera pulang, dan berencana memasak dan memakan binatang itu.<br />
Amat sangat senang atas apa yang telah didapatnya hari ini. Dia melihat ibunya, mulai dari cara membersihkan binatang itu sampai cara memasaknya. Setelah masakan itu matang, dia dan ibunya segera mencicipi masakan itu. Setiap kali merasakan daging binatang itu terlontar lah dari mulutnya kata-kata “lamak” (enak). Mendengar perkataan itu tetangganya beramai-ramai datang untuk mencicipinya sambil berkata “mintak sairrih”(minta sepotong). Ternyata setiap tetangganya yang mencicipi makanan itu mengatakan “Lamak”. Lama-kelamaan kata “sairih Lamak” berubah menjadi Sarilamak.Menurut cerita diataslah asal nama Kenagarian Sarilamak. <br />
<br />
Source:  Blog Bahasa Indoneia //  <a href="http://www.yulimarustam.blogspot.com" rel="nofollow" target="_blank">http://www.yulimarustam.blogspot.com</a>[/b]]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[legenda nagari Pandai Sikek]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-legenda-nagari-Pandai-Sikek</link>
			<pubDate>Thu, 22 Mar 2012 06:11:48 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-legenda-nagari-Pandai-Sikek</guid>
			<description><![CDATA[Menurut legenda, Nagari Pandaisikek sudah lama sekali, bahkan ada yang mengatakan sudah berumur lebih dari seribu tahun. Tapi itu sulit diterima karena tidak ada bukti sejarah yang pasti.Menurut tambo (catatan sejarah Minang Kabau), Daerah yang pertama kali dihuni oleh masyarakat Minang Kabau adalah taratak-taratak (suatu pemukiman yang penduduknya lebih kecil dari dusun) yang terletak di lereng gunung merapi dan gunung singgalang. Taratak merupakan ladang  yang dikerjakan oleh para pendatang dari berbagai tempat dan sekaligus merupakan tempat tinggal mereka (tempat bermalam). Jadi belum lagi disebut sebagai kampung. Yang dimaksud ladang disini adalah bertani atau bercocok tanam, yang mana tanamannyaÂ  berupaÂ  tanaman berumur pendek sehingga hasil panen  langsung dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga  (Misal padi gogo), dan masih menggunakan peralatan sederhana seperti cangkul, kampak, parang dan sebagainya , belum lagi menggunakan peralatan modern dan berteknologi tinggi seperti yang kita jumpai saat in.<br />
<br />
Akan tetetapi bukan  berarti mereka manusia purba yang menggunakan kampak dari batu dan tinggal diatas pohon-pohon atau gua. Kejadian ini berlangsung terus-menerus, dan ini adalah suatu proses alami yang menyangkut integritas manusia dengan alam sesuai perkembangan populasi manusia.<br />
<br />
Dalam Buku Budaya Alam Minang Kabau dijelaskan bahwa masyarakat taratak masih terkait dengan Nagari yang menjadi induknya. Akan tetapi mungkin saja tidak demikian, sebab taratak merupakan cikal bakal terbentuknya sebuah nagari. Begitu juga halnya dengan Nagari Pandaisikek, kalau ditanya mana yang kebih dulu jorong Baruah dengan jorong Tanjuang, sebagian akan mengatakan bahwa jorong Baruah lah yang lebih dahulu, dengan alasan pusat pemerintahan Nagari Pandaisikek dahulunya terletak di Jorong Baruah. Akan tetapi kita tidak pernah menjumpai adanya taratak di Jorong Baruah, justru kita menjumpaiÂ  taratak  di Jorong Tanjuang, ini dibuktikan dengan adanya sebuah pemukiman yang bernama taratak yang terletak di Jorong tersebut. Akan tetapi sebenarnya taratak-taratak tersebut tersebar disepanjang lereng gunung singgalang seperti : di jorong Kototinggi bagian utara, jorong Tanjuang bagian utara dan  di Jorong Pagu-pagu utara sampai selatan.<br />
<br />
Alasan lain adalah dimana kalau kita tinjau dari nama masing-masing jororng yang ada di Nagari Pandaisikek. Baruah misalnya, kata baruah berarti bawah atau lebih rendah, kata Baruah tidak mungkin disebut pertama kali oleh masyarakat Baruah itu sendiri. melainkan pasti disebut oleh masyarakat yang pemukimannya lebih tinggi seperti Tanjuang, Kototinggi dan Pagu-pagu. Begitu juga sebaiknya, tidak mungkin nama Kototinggi disebut oleh masyaratat yang tinggal di Kototinggi untuk pertama kalinya, melainkan disebut dan dinamaiÂ  oleh masyarakat yang tinggalnya lebih rendah dari Kototinggi, begitu juga dengan nama Jorong yang lainnya seperti Tanjuang dan Pagu-pagu.<br />
<br />
Masa Mendidirkan Kampung<br />
<br />
Di taratak-taratak, penduduknya tinggal di rumah-rumah kecil (pondok) yang didirikan di tengah ladang atau di pinggir-pinggir ladang, yang manaÂ  jarak antara pondok satu ke pondok yang lain relatif berjauhan. Sehingga kontak dan komuniksasi antar penghuni taratak sangat kurang, dengan arti kata belum lagi hidup bermasyarakat. Kondisi seperti ini menimbulkan ide dari penghuni tararak untuk mendirikan  suatu pemukiman tetap yang jarak antara satu rumah ke rumah yang lain relatif berdekatan. Sehingga dengan demikian lahirlah suatu pemukiman atau kampung yang penduduknya hidup bermasayarakt. berdampingan dan saling tolong menolong satu sama lain. Lokasi yang dipilih untuk perkampungan ini biasanya terletak di punggung bukit, tanahnya keras dan kering serta tidak dipakai untuk ladang atau persawahan. Perkampungan sepertiÂ  inilah yang kemudian disebut dengan Istilah Dusun<br />
<br />
Perkampungan yang pertama kali didirikan adalah di Guguak Lagundi dan di Jarek. Kemudian didirikan lagi perkampungan lain yang letaknya lebih baik yaitu di Tanjuang, yang akhirnya semua pendududk Guguak Lagundi dan Jarek pindah ke Tanjuang. Sekarang tidak lagi ditemukan perkampungan di Guguak Lagundi dan Jarek, akan tetapi di Jarek saat ini masih ada sebuah tempat yang disebut Rumah Baukie.<br />
<br />
Cara mendirikan perkampungan  ini tergolong unik. Dimana penghuni taratak-taratak  tersebut terdiri dari berbagai macam suku dan datangnya dari berbagai tempat yang berjauhan. Sudah pasti pendirian kampung tersebut adalah dengan melalui musyawarah kesepakatan. Tanjuang misalnya, tempat tersebut telahÂ  dikapling-kapling untuk suku Sikumbang, Koto, Guci dan sebagainya. Kaplingan tersebut saling berdekatan,  seolah-olah  satu suku  satu kaplingan. Dalam berbagai sumber dikatakan bahwa kaplingan persukuan inilah yang lebih populer disebut dengan istilah Sasok Jarami. Pada perkembangan selanjutnya persukuan yang memiliki tanah kaplingan lebih dari kebutuhan tempat tinggal dan ladang. Persukuan tersebut akan menjadikan kaplingan tersebut sebagai tanah kuburan Persukuan. Dan inilah yang disebut dengan Pandam Pakuburan.<br />
<br />
Catatan : Hal ini tidak bisa kita pungkiri, yang mana bukti sejarah tersebut sampai sekarang masih ada. Kita bisa melihat deretan tanah sawah atau ladang tebu yang berjejer dari utara keselatan  dimiliki oleh suatu persukuan tertentu dan kemudian berbatasan dengan deretan tanah sawah atau ladang milik persukuan lain.<br />
<br />
Kemungkinan lain, dimana yang pertama kali mendirikan suatu perkampungan cuma satu persukuan saja. Misalnyo di Guguak Lagundi, sampai sekarang masih ada sebuah tempat yang disebut Kampung Sikumbang atau di Kototinggi ada suatu pemukiman atau dusun yang mana semua penduduknya bersuku koto. Namun akhirnya dusun tersebut disisip oleh penduduk dari persukuan lain. kejadian ini mungkin saja tanah tersebut dijual atau diberikan begitu saja (misal : agiah dari bako). Suatu Persukuan mendirikan kampung atau pemukiman tentu memilih tempat yang cukup luas. Karena disamping mereka membangun rumah untuk masing-masing keluarga, mereka juga membuat satu rumah besar untuk kebutuhan Persukuan (Rumah gadang). Di Rumah Gadang inilah diadakan pesta-pesta atau alek yang bersifat persukuan, seperti mengangkat kepala suku (Batagak Pangulu).<br />
<br />
Antara satu perkampungan dengan perkampungan lain dihubungkan dengan jalan yang lebih besar yang disebut Labuah nan Golong. Sedangkan antara rumah-rumah berdekatan tetapi dimiliki oleh suku yang berlainan disebut dengan singok bagisie alaman salalu. Kalau dalam satu persukuan disebut dengan Sapaimbauan. Gabungan kampung persukuan inilah yang kemudian berubah menjadi Kampuang Tanjuang, Kampuang Kototinggi, Kampuang Pagu-pagu dan Kampuang Baruah.<br />
<br />
Pada saat itulah mulai disusun hidup bermasyarakat yang teratur, diangkat Kepala Persukuan (pangulu), adanya sesepuh atau tetua kampung, dibangun sawah dan irigasi (Tali Banda), dibangun jalan yang lebih besar sebagai penghubung antara kampung dengan kampung yang lainnya (Labuah nan Golong). Semua pekerjaan ini dilaksanakan dengan cara bergotong royong dengan melibatkan semua penduduk kampung tanpa memandang Persukuan.<br />
<br />
Pada perkembangan selanjutnya, kepemilikan tanah sawah atau ladang tidak dibatasi oleh kampung persukuan yang ada. Penduduk  suku Guci di Kototinggi bisa saja memiliki tanah sawah atau ladang di kampung Tanjuang atau Baruah. Sebaliknya, Penduduk suku Koto di Baruah juga bisa saja memiliki tanah sawah atau ladang di Kampung Tanjuang atau Pagu-pagu. Keakuran dan keteraturan  penduduk dari empat kampung tersebut (Baruah, Tanjuang, Kototinggi dan Pagu-pagu) membentuk suatu kesatuan. Sehingga Berdirilah  sebuah Nagari yang disebut Nagari PANDAISIKEK (Pandai Saikek).<br />
<br />
Sangatlah rancu kiranya jika kata PANDAISIKEK di bahasa Indonesiakan, sebab akan merubah menjadi kata PANDAISIKAT. Tentu ini akan merubah arti dan penafsiran  asal muasal dari kata Pandaisikek. Jadi janganlah  gunakan kata Pandaisikat, sekali PANDAISIKEK TETAP PANDAISIKEK. karena itulah jati diri,  sabagai Masyarakat PANDAISIKEK.<br />
<br />
Catatan : Jika terjadi perpindahan penduduk dari suatu pemukiman ke pemukiman lain, biasanya semua barang-barang ikut dibawa. Contoh, Ketika nenek Haji Daniah pindah ke perumahan barunya di Tanjuang, dia membawa Lesung dari pemukiman semula. Lesung dari batu ini dibawa secara bergotong royong dan memakan waktu berhari-hari. Setelah lesung ini ditanamkan pada tempat yang diinginkan kemudian diadakan pesta (alek) secara besar-besaran (konon kabarnya pesta tersebut dilangsungkan selama tujuh hari tujuh malam).<br />
<br />
<br />
sumber : pandaisikek.net]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Menurut legenda, Nagari Pandaisikek sudah lama sekali, bahkan ada yang mengatakan sudah berumur lebih dari seribu tahun. Tapi itu sulit diterima karena tidak ada bukti sejarah yang pasti.Menurut tambo (catatan sejarah Minang Kabau), Daerah yang pertama kali dihuni oleh masyarakat Minang Kabau adalah taratak-taratak (suatu pemukiman yang penduduknya lebih kecil dari dusun) yang terletak di lereng gunung merapi dan gunung singgalang. Taratak merupakan ladang  yang dikerjakan oleh para pendatang dari berbagai tempat dan sekaligus merupakan tempat tinggal mereka (tempat bermalam). Jadi belum lagi disebut sebagai kampung. Yang dimaksud ladang disini adalah bertani atau bercocok tanam, yang mana tanamannyaÂ  berupaÂ  tanaman berumur pendek sehingga hasil panen  langsung dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga  (Misal padi gogo), dan masih menggunakan peralatan sederhana seperti cangkul, kampak, parang dan sebagainya , belum lagi menggunakan peralatan modern dan berteknologi tinggi seperti yang kita jumpai saat in.<br />
<br />
Akan tetetapi bukan  berarti mereka manusia purba yang menggunakan kampak dari batu dan tinggal diatas pohon-pohon atau gua. Kejadian ini berlangsung terus-menerus, dan ini adalah suatu proses alami yang menyangkut integritas manusia dengan alam sesuai perkembangan populasi manusia.<br />
<br />
Dalam Buku Budaya Alam Minang Kabau dijelaskan bahwa masyarakat taratak masih terkait dengan Nagari yang menjadi induknya. Akan tetapi mungkin saja tidak demikian, sebab taratak merupakan cikal bakal terbentuknya sebuah nagari. Begitu juga halnya dengan Nagari Pandaisikek, kalau ditanya mana yang kebih dulu jorong Baruah dengan jorong Tanjuang, sebagian akan mengatakan bahwa jorong Baruah lah yang lebih dahulu, dengan alasan pusat pemerintahan Nagari Pandaisikek dahulunya terletak di Jorong Baruah. Akan tetapi kita tidak pernah menjumpai adanya taratak di Jorong Baruah, justru kita menjumpaiÂ  taratak  di Jorong Tanjuang, ini dibuktikan dengan adanya sebuah pemukiman yang bernama taratak yang terletak di Jorong tersebut. Akan tetapi sebenarnya taratak-taratak tersebut tersebar disepanjang lereng gunung singgalang seperti : di jorong Kototinggi bagian utara, jorong Tanjuang bagian utara dan  di Jorong Pagu-pagu utara sampai selatan.<br />
<br />
Alasan lain adalah dimana kalau kita tinjau dari nama masing-masing jororng yang ada di Nagari Pandaisikek. Baruah misalnya, kata baruah berarti bawah atau lebih rendah, kata Baruah tidak mungkin disebut pertama kali oleh masyarakat Baruah itu sendiri. melainkan pasti disebut oleh masyarakat yang pemukimannya lebih tinggi seperti Tanjuang, Kototinggi dan Pagu-pagu. Begitu juga sebaiknya, tidak mungkin nama Kototinggi disebut oleh masyaratat yang tinggal di Kototinggi untuk pertama kalinya, melainkan disebut dan dinamaiÂ  oleh masyarakat yang tinggalnya lebih rendah dari Kototinggi, begitu juga dengan nama Jorong yang lainnya seperti Tanjuang dan Pagu-pagu.<br />
<br />
Masa Mendidirkan Kampung<br />
<br />
Di taratak-taratak, penduduknya tinggal di rumah-rumah kecil (pondok) yang didirikan di tengah ladang atau di pinggir-pinggir ladang, yang manaÂ  jarak antara pondok satu ke pondok yang lain relatif berjauhan. Sehingga kontak dan komuniksasi antar penghuni taratak sangat kurang, dengan arti kata belum lagi hidup bermasyarakat. Kondisi seperti ini menimbulkan ide dari penghuni tararak untuk mendirikan  suatu pemukiman tetap yang jarak antara satu rumah ke rumah yang lain relatif berdekatan. Sehingga dengan demikian lahirlah suatu pemukiman atau kampung yang penduduknya hidup bermasayarakt. berdampingan dan saling tolong menolong satu sama lain. Lokasi yang dipilih untuk perkampungan ini biasanya terletak di punggung bukit, tanahnya keras dan kering serta tidak dipakai untuk ladang atau persawahan. Perkampungan sepertiÂ  inilah yang kemudian disebut dengan Istilah Dusun<br />
<br />
Perkampungan yang pertama kali didirikan adalah di Guguak Lagundi dan di Jarek. Kemudian didirikan lagi perkampungan lain yang letaknya lebih baik yaitu di Tanjuang, yang akhirnya semua pendududk Guguak Lagundi dan Jarek pindah ke Tanjuang. Sekarang tidak lagi ditemukan perkampungan di Guguak Lagundi dan Jarek, akan tetapi di Jarek saat ini masih ada sebuah tempat yang disebut Rumah Baukie.<br />
<br />
Cara mendirikan perkampungan  ini tergolong unik. Dimana penghuni taratak-taratak  tersebut terdiri dari berbagai macam suku dan datangnya dari berbagai tempat yang berjauhan. Sudah pasti pendirian kampung tersebut adalah dengan melalui musyawarah kesepakatan. Tanjuang misalnya, tempat tersebut telahÂ  dikapling-kapling untuk suku Sikumbang, Koto, Guci dan sebagainya. Kaplingan tersebut saling berdekatan,  seolah-olah  satu suku  satu kaplingan. Dalam berbagai sumber dikatakan bahwa kaplingan persukuan inilah yang lebih populer disebut dengan istilah Sasok Jarami. Pada perkembangan selanjutnya persukuan yang memiliki tanah kaplingan lebih dari kebutuhan tempat tinggal dan ladang. Persukuan tersebut akan menjadikan kaplingan tersebut sebagai tanah kuburan Persukuan. Dan inilah yang disebut dengan Pandam Pakuburan.<br />
<br />
Catatan : Hal ini tidak bisa kita pungkiri, yang mana bukti sejarah tersebut sampai sekarang masih ada. Kita bisa melihat deretan tanah sawah atau ladang tebu yang berjejer dari utara keselatan  dimiliki oleh suatu persukuan tertentu dan kemudian berbatasan dengan deretan tanah sawah atau ladang milik persukuan lain.<br />
<br />
Kemungkinan lain, dimana yang pertama kali mendirikan suatu perkampungan cuma satu persukuan saja. Misalnyo di Guguak Lagundi, sampai sekarang masih ada sebuah tempat yang disebut Kampung Sikumbang atau di Kototinggi ada suatu pemukiman atau dusun yang mana semua penduduknya bersuku koto. Namun akhirnya dusun tersebut disisip oleh penduduk dari persukuan lain. kejadian ini mungkin saja tanah tersebut dijual atau diberikan begitu saja (misal : agiah dari bako). Suatu Persukuan mendirikan kampung atau pemukiman tentu memilih tempat yang cukup luas. Karena disamping mereka membangun rumah untuk masing-masing keluarga, mereka juga membuat satu rumah besar untuk kebutuhan Persukuan (Rumah gadang). Di Rumah Gadang inilah diadakan pesta-pesta atau alek yang bersifat persukuan, seperti mengangkat kepala suku (Batagak Pangulu).<br />
<br />
Antara satu perkampungan dengan perkampungan lain dihubungkan dengan jalan yang lebih besar yang disebut Labuah nan Golong. Sedangkan antara rumah-rumah berdekatan tetapi dimiliki oleh suku yang berlainan disebut dengan singok bagisie alaman salalu. Kalau dalam satu persukuan disebut dengan Sapaimbauan. Gabungan kampung persukuan inilah yang kemudian berubah menjadi Kampuang Tanjuang, Kampuang Kototinggi, Kampuang Pagu-pagu dan Kampuang Baruah.<br />
<br />
Pada saat itulah mulai disusun hidup bermasyarakat yang teratur, diangkat Kepala Persukuan (pangulu), adanya sesepuh atau tetua kampung, dibangun sawah dan irigasi (Tali Banda), dibangun jalan yang lebih besar sebagai penghubung antara kampung dengan kampung yang lainnya (Labuah nan Golong). Semua pekerjaan ini dilaksanakan dengan cara bergotong royong dengan melibatkan semua penduduk kampung tanpa memandang Persukuan.<br />
<br />
Pada perkembangan selanjutnya, kepemilikan tanah sawah atau ladang tidak dibatasi oleh kampung persukuan yang ada. Penduduk  suku Guci di Kototinggi bisa saja memiliki tanah sawah atau ladang di kampung Tanjuang atau Baruah. Sebaliknya, Penduduk suku Koto di Baruah juga bisa saja memiliki tanah sawah atau ladang di Kampung Tanjuang atau Pagu-pagu. Keakuran dan keteraturan  penduduk dari empat kampung tersebut (Baruah, Tanjuang, Kototinggi dan Pagu-pagu) membentuk suatu kesatuan. Sehingga Berdirilah  sebuah Nagari yang disebut Nagari PANDAISIKEK (Pandai Saikek).<br />
<br />
Sangatlah rancu kiranya jika kata PANDAISIKEK di bahasa Indonesiakan, sebab akan merubah menjadi kata PANDAISIKAT. Tentu ini akan merubah arti dan penafsiran  asal muasal dari kata Pandaisikek. Jadi janganlah  gunakan kata Pandaisikat, sekali PANDAISIKEK TETAP PANDAISIKEK. karena itulah jati diri,  sabagai Masyarakat PANDAISIKEK.<br />
<br />
Catatan : Jika terjadi perpindahan penduduk dari suatu pemukiman ke pemukiman lain, biasanya semua barang-barang ikut dibawa. Contoh, Ketika nenek Haji Daniah pindah ke perumahan barunya di Tanjuang, dia membawa Lesung dari pemukiman semula. Lesung dari batu ini dibawa secara bergotong royong dan memakan waktu berhari-hari. Setelah lesung ini ditanamkan pada tempat yang diinginkan kemudian diadakan pesta (alek) secara besar-besaran (konon kabarnya pesta tersebut dilangsungkan selama tujuh hari tujuh malam).<br />
<br />
<br />
sumber : pandaisikek.net]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Asal Usul Nama Gunung Pangilun Yang Berada Di Kota Padang Sumatera Barat]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Asal-Usul-Nama-Gunung-Pangilun-Yang-Berada-Di-Kota-Padang-Sumatera-Barat</link>
			<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 01:13:03 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Asal-Usul-Nama-Gunung-Pangilun-Yang-Berada-Di-Kota-Padang-Sumatera-Barat</guid>
			<description><![CDATA[<img src="http://i41.tinypic.com/rmtw1k.jpg" border="0" alt="[Image: rmtw1k.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<br />
Berita Sumbar Post | Dari dahulu, legenda tentang asal-usul nama daerah sangat menarik untuk diteliti. Dibutuhkan kemampuan menggali layaknya wartawan untuk mendapatkan banyak informasi dari informan yang dipercaya. selain itu juga dipelukan bukti setidaknya bukti penglihatan yang menguatkan informasi informan. Pada tulisan ini akan diceritakan asal-usul nama Gunung Pangilun yang hingga saat ini hanya sedikit orang yang mengetahui.<br />
<br />
Banyak yang tidak mengetahui tentang asal usul dari nama Gunung Pangilun. Dari sebuah penelitian kecil-kecil dengan 2 orang informan yang dipercaya didapat sebuah cerita tentang asal-usul nama Gunung pangilun. Informan sendiri mendapat sebagian cerita dari orang-orang tua saat ia masih kecil. Itulah ciri khas sastra lisan, sumbernya tidak tertulis tetapi didapat dari mulut ke mulut. Berikut kesimpulan dari cerita legenda ini.<br />
<br />
Dahulu kala disebuah daerah hiduplah seorang pria tua yang bernama Angku Pangilun. Angku Pangilun tinggal di lereng sebuah perbukitan bersama beberapa anjing peliharaannya. Angku Pangilun ini adalah orang yang sangat dihormati dan disegani di desa karena kesaktiannya. Kesaktian Angku Pangilun tidak hanya menjadi buah bibir di desa saja, tetapi juga di berbagai daerah. Banyak penduduk desa dan penduduk dari daerah lain yang berguru kepadanya atau sekedar meminta pertolongan kepadanya.<br />
<br />
Kesaktian yang dimiliki oleh Angku Pangilun sangat banyak. Orang-orang dari berbagai pelosok daerah sering meminta bantuannya untuk berbagai keperluan. Kebanyakan dari mereka pergi menemui Angku Pangilun untuk berobat. Mereka percaya bahwa paureh (ramuan) yang telah dimantrai oleh Angku Pangilun berkhasiat mengobati penyakit. Selain itu, Angku Pangilun juga sering dipanggil untuk menjadi pawang binatang buas yang sering menyerang desa. Tak jarang pula ia dimintai untuk membuatkan Paureh Padi (Ramuan Padi). Paureh Padi ini adalah ramuan yang dibuat agar padi yang ditanam  tumbuh subur dan terhindar dari hama.<br />
<br />
Di akhir hayatnya Angku Pangilun masih mendapatkan penghargaan yang tinggi dari masyarakat. Penduduk desa dan orang-orang yang menghormatinya sepakat untuk menguburkan jasadnya di puncak tertinggi dari bukit tempat ia tinggal. Puncak tersebut kemudian terkenal dengan nama “Puncak Tampat” atau Puncak Keramat. Untuk menghormati dan mengenang jasa Angku Pangilun yang telah banyak menolong, penduduk desa lalu menamai bukit itu dengan nama “Gunung Pangilun”, dan daerah sekitar juga dikenal dengan nama yang sama.<br />
<br />
Di ceritakan informan, sewaktu ia masih kecil banyak orang berziarah ke kuburan Angku Pangilun. Tujuan mereka berziarah anatara lain untuk berdoa agar tanaman padi mereka terhindar dari hama penyakit. Bahan-bahan yang mereka bawa ke Puncak Tampat adalah Paureh Padi yang terdiri atas air sumur yang di dalamnya ditambahkan bunga tujuh rupa dan beberapa potong asam kapeh. Selain membawa paureh padi,  mereka juga membawa semacam sesaji berupa 2 gengggam beras, lapek, dan abu tungku rang marando. Lapek  adalah makanan ringan yang dibungkus daun pisang, lapek ini ada berbagai macam, ada lapek pisang, lapek sagu, lapek sagan, lapek parancih,dll. Sedangkan abu tungku rang marando adalah abu tungku yang berasal dari rumah yang di dalamnya tinggal seorang janda.<br />
<br />
Diceritakan lagi oleh informan, bahwa pada zaman penjajahan Jepang dulu pernah terjadi peristiwa gaib di Puncak Tampat (Kuburan Angku Pangilun). Pada suatu hari ada sebuah pesawat Jepang yang oleng dan hampir jatuh tepat di atas kuburan Angku Pangilun. Karena keramatnya, pesawat yang seharusnya jatuh menimpa kuburan justru malantiang atau menyimpang jauh arah jatuhnya sehingga kuburan tersebut aman.<br />
<br />
Hingga kini, cerita ini menjadi legenda karena dipercaya oleh sebagian orang. Umumnya pihak yang percaya adalah orang-orang tua yang tahu dengan cerita Angku Pangilun. Selain mendapat cerita dari mulut ke mulut, di puncak bukit  (puncak Tampat) memang terdapat bukti berupa kuburan yang panjangnya kira-kira 3 meter. yang menurut informan adalah ,akam Angku Pangilun walaupun belum jelas keasliannya. berita telah diarsipkan sumbarpost.com]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<img src="http://i41.tinypic.com/rmtw1k.jpg" border="0" alt="[Image: rmtw1k.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<br />
Berita Sumbar Post | Dari dahulu, legenda tentang asal-usul nama daerah sangat menarik untuk diteliti. Dibutuhkan kemampuan menggali layaknya wartawan untuk mendapatkan banyak informasi dari informan yang dipercaya. selain itu juga dipelukan bukti setidaknya bukti penglihatan yang menguatkan informasi informan. Pada tulisan ini akan diceritakan asal-usul nama Gunung Pangilun yang hingga saat ini hanya sedikit orang yang mengetahui.<br />
<br />
Banyak yang tidak mengetahui tentang asal usul dari nama Gunung Pangilun. Dari sebuah penelitian kecil-kecil dengan 2 orang informan yang dipercaya didapat sebuah cerita tentang asal-usul nama Gunung pangilun. Informan sendiri mendapat sebagian cerita dari orang-orang tua saat ia masih kecil. Itulah ciri khas sastra lisan, sumbernya tidak tertulis tetapi didapat dari mulut ke mulut. Berikut kesimpulan dari cerita legenda ini.<br />
<br />
Dahulu kala disebuah daerah hiduplah seorang pria tua yang bernama Angku Pangilun. Angku Pangilun tinggal di lereng sebuah perbukitan bersama beberapa anjing peliharaannya. Angku Pangilun ini adalah orang yang sangat dihormati dan disegani di desa karena kesaktiannya. Kesaktian Angku Pangilun tidak hanya menjadi buah bibir di desa saja, tetapi juga di berbagai daerah. Banyak penduduk desa dan penduduk dari daerah lain yang berguru kepadanya atau sekedar meminta pertolongan kepadanya.<br />
<br />
Kesaktian yang dimiliki oleh Angku Pangilun sangat banyak. Orang-orang dari berbagai pelosok daerah sering meminta bantuannya untuk berbagai keperluan. Kebanyakan dari mereka pergi menemui Angku Pangilun untuk berobat. Mereka percaya bahwa paureh (ramuan) yang telah dimantrai oleh Angku Pangilun berkhasiat mengobati penyakit. Selain itu, Angku Pangilun juga sering dipanggil untuk menjadi pawang binatang buas yang sering menyerang desa. Tak jarang pula ia dimintai untuk membuatkan Paureh Padi (Ramuan Padi). Paureh Padi ini adalah ramuan yang dibuat agar padi yang ditanam  tumbuh subur dan terhindar dari hama.<br />
<br />
Di akhir hayatnya Angku Pangilun masih mendapatkan penghargaan yang tinggi dari masyarakat. Penduduk desa dan orang-orang yang menghormatinya sepakat untuk menguburkan jasadnya di puncak tertinggi dari bukit tempat ia tinggal. Puncak tersebut kemudian terkenal dengan nama “Puncak Tampat” atau Puncak Keramat. Untuk menghormati dan mengenang jasa Angku Pangilun yang telah banyak menolong, penduduk desa lalu menamai bukit itu dengan nama “Gunung Pangilun”, dan daerah sekitar juga dikenal dengan nama yang sama.<br />
<br />
Di ceritakan informan, sewaktu ia masih kecil banyak orang berziarah ke kuburan Angku Pangilun. Tujuan mereka berziarah anatara lain untuk berdoa agar tanaman padi mereka terhindar dari hama penyakit. Bahan-bahan yang mereka bawa ke Puncak Tampat adalah Paureh Padi yang terdiri atas air sumur yang di dalamnya ditambahkan bunga tujuh rupa dan beberapa potong asam kapeh. Selain membawa paureh padi,  mereka juga membawa semacam sesaji berupa 2 gengggam beras, lapek, dan abu tungku rang marando. Lapek  adalah makanan ringan yang dibungkus daun pisang, lapek ini ada berbagai macam, ada lapek pisang, lapek sagu, lapek sagan, lapek parancih,dll. Sedangkan abu tungku rang marando adalah abu tungku yang berasal dari rumah yang di dalamnya tinggal seorang janda.<br />
<br />
Diceritakan lagi oleh informan, bahwa pada zaman penjajahan Jepang dulu pernah terjadi peristiwa gaib di Puncak Tampat (Kuburan Angku Pangilun). Pada suatu hari ada sebuah pesawat Jepang yang oleng dan hampir jatuh tepat di atas kuburan Angku Pangilun. Karena keramatnya, pesawat yang seharusnya jatuh menimpa kuburan justru malantiang atau menyimpang jauh arah jatuhnya sehingga kuburan tersebut aman.<br />
<br />
Hingga kini, cerita ini menjadi legenda karena dipercaya oleh sebagian orang. Umumnya pihak yang percaya adalah orang-orang tua yang tahu dengan cerita Angku Pangilun. Selain mendapat cerita dari mulut ke mulut, di puncak bukit  (puncak Tampat) memang terdapat bukti berupa kuburan yang panjangnya kira-kira 3 meter. yang menurut informan adalah ,akam Angku Pangilun walaupun belum jelas keasliannya. berita telah diarsipkan sumbarpost.com]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Misteri Orang Pendek Sumatera]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Misteri-Orang-Pendek-Sumatera</link>
			<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 02:27:55 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Misteri-Orang-Pendek-Sumatera</guid>
			<description><![CDATA[<img src="http://i44.tinypic.com/125o088.jpg" border="0" alt="[Image: 125o088.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<br />
Dunia ini Penuh misteri,itulah yang bisa kita ucapkan.jangan kan diluar bumi,di dalam bumi saja masih banyak sekali yang belum diketahui oleh manusia,daratan yang terbentang,hutan yang membentang,lautan yang dalam,serta langit yang tinggi tak mampu di ketahui oleh manusia seluruhnya.Ya,tak lepas juga dari yang namanya kriptozoologi,suatu ilmu yang sangat saya gemari,yang membahas tentang misteri alam bumi kita.Nah bila di luar sana kita mendengar kata Big foot,Yeti dan semacamnya ,ternyata di Indonesia pun kita ada yang mengenal tentang "orang Pendek".<br />
urang pendek,orang pendek kerinci,yang penting share<br />
<br />
Orang pendek adalah makhluk cryptozoology paling termashyur di Indonesia. Konon menurut para saksi ia memiliki tubuh seperti kera, namun berjalan seperti manusia. Berbeda dengan Bigfoot di Amerika, maka Orang Pendek benar-benar sesuai dengan namanya. Makhluk ini hanya memiliki tinggi kurang dari satu meter.<br />
<br />
Orang Pendek adalah makhluk cryptozoology yang dipercaya hidup tersebar di beberapa wilayah Sumatera seperti Bengkulu, Palembang dan Jambi. Nama-nama lain yang sering diasosiasikan dengan Orang Pendek antara lain : Atu Pendek, Ijaoe, Sedabo, Sedapa, Sindai, Uhang Pandak, Orang Letjo dan Orang Gugu. Makhluk ini memiliki tinggi hanya sekitar 70 cm, diselubungi oleh bulu gelap. Namun wajahnya relatif tidak diselimuti bulu. Kadang-kadang para saksi mendengar suara-suara aneh yang keluar dari mulutnya.<br />
<br />
Mulanya banyak peneliti yang menduga bahwa makhluk ini sesungguhnya adalah seekor kera atau siamang. Namun deskripsi para saksi mengenai perilaku dan cara berjalannya tidak sesuai dengan perilaku kera atau siamang. Lagipula, jejak-jejak kaki yang ditemukan menunjukkan bahwa makhluk ini tidak tergolong kedalam primata yang sudah dikenal.<br />
<br />
Ahli Cryptozoology W .Osman Hill percaya bahwa Orang Pendek masih memiliki hubungan dengan Homo Erectus dari jawa. Peneliti lain menghubungkannya dengan hobbit dari Flores. Sedangkan penduduk lokal Sumatera percaya bahwa Orang Pendek adalah makhluk yang ramah, yang hanya menyerang hewan-hewan kecil untuk makanan. Karena itu mereka menerima keberadaan makhluk ini dengan toleransi.<br />
<br />
Legenda Orang pendek mulai terdengar sejak awal abad 20. Pada tanggal 21 Agustus 1915, Edward Jacobson menemukan sekumpulan jejak misterius di tepi danau Bento, di tenggara gunung Kerinci, Propinsi Jambi. Pemandunya yang bernama Mat Getoep mengatakan bahwa jejak sepanjang 5 inci tersebut adalah milik Orang Pendek.<br />
<br />
Pada Desember 1917, seorang manajer perkebunan bernama Oostingh berjumpa dengan Orang Pendek di sebuah hutan dekat Bukit Kaba. Ketika makhluk itu melihatnya, ia bangkit berdiri lalu dengan tenang berjalan beberapa meter dan kemudian naik ke pohon dan menghilang.<br />
<br />
Bukan hanya di Kerinci, penampakan makhluk ini juga sempat dilaporkan di wilayah Palembang. Seorang Belanda yang bernama Van Herwaarden menceritakan bahwa ia melihat Orang Pendek di sebuah pohon di utara Palembang pada Oktober 1923. Pertama, Herwaarden bermaksud menembaknya, namun kemudian ia melihat makhluk itu sangat mirip dengan manusia sehingga ia memutuskan untuk membiarkannya. Pengalamannya dipublikasikan di majalah Tropical Nature no.13 yang terbit tahun 1924.<br />
<br />
Pada tahun 1924 juga, museum nasional Bogor menerima cetakan jejak yang dipercaya sebagai milik orang pendek, namun akhirnya museum berhasil mengidentifikasi bahwa jejak tersebut adalah milik beruang Melayu yang diketahui kadang memang berdiri dengan dua kaki. Para ilmuwan yang skeptis kemudian menulis keraguan mereka akan keberadaan Orang pendek.<br />
<br />
Beberapa tahun kemudian, Museum kembali menerima bangkai yang dipercaya sebagai Orang Pendek. Penemuan ini sempat menjadi headline selama 2 hari karena adanya hadiah yang ditawarkan untuk penemuan bangkai Orang Pendek. Namun kemudian ketahuan ternyata bangkai tersebut adalah milik seekor kera yang dimodifikasi oleh penduduk lokal yang ingin mendapat hadiah.<br />
<br />
urang pendek,orang pendek kerinci,yang penting share<br />
Namun makhluk ini kembali mulai mendapat status internasionalnya pada tahun 1989 ketika seorang penulis Inggris bernama Deborah Martyr menemukan jejak-jejak Orang Pendek di barat daya Sumatera. Jejak-jejak tersebut setara dengan jejak anak kecil berusia 7 tahun. Ia lalu mencetak jejak tersebut dengan gips dan mengirimnya ke badan pemerintahan yang mengurus taman nasional, namun kemudian cetakan itu hilang.<br />
<br />
Setelah 5 tahun meneliti, Martyr akhirnya melihat sendiri Orang Pendek di wilayah gunung Kerinci pada 30 September 1994. Makhluk itu terlihat sedang berjalan dengan tenang dengan dua kakinya. Setelah jarak beberapa puluh meter, makhluk itu berhenti sebentar, menoleh ke Martyr, lalu menghilang ke dalam hutan. Sejak penampakan itu, Martyr masih menjumpai makhluk itu dua kali.<br />
<br />
Luar biasanya, walaupun Orang Pendek umumnya berhabitat di Kerinci, propinsi jambi, namun penampakan makhluk ini terjadi di hampir seluruh Sumatera.Pada tahun 1995 ketika gempa besar melanda Liwa, Lampung, beberapa penduduk lokal menyampaikan kepada para pekerja asing bahwa mereka menyaksikan Orang Pendek keluar dari hutan, mungkin takut akibat gempa besar tersebut.<br />
urang pendek,orang pendek kerinci,yang penting share<br />
<br />
Para peneliti kemudian mulai mendapat kemajuan ketika pada tahun 2001, sekelompok tim ekspedisi amatir dari Inggris yang dipimpin oleh Adam Davies menemukan sekumpulan jejak yang dipercaya milik Orang pendek.<br />
<br />
Cetakan jejak kaki tersebut dikirim ke Cambridge untuk dianalisa dan hasilnya jejak tersebut adalah miliki seekor kera dengan campuran karakter gibon, orangutan, simpanse dan manusia.<br />
<br />
Dengan adanya segudang laporan penampakan dan contoh rambut serta cetakan jejak kaki, pada September 2009 ini, sekelompok tim peneliti dari Inggris yang bernama Centre for Fortean Zoology (CFZ) berangkat menuju Kerinci untuk mencari keberadaan Orang Pendek.<br />
<br />
Tim yang terdiri dari empat orang ini akan dibantu oleh suku pedalaman setempat (suku kubu) untuk mencari keberadaan makhluk ini. Kepala suku dan banyak dari anggota suku ini telah menyaksikan keberadaan Orang Pendek dengan mata kepala mereka sendiri.<br />
urang pendek,orang pendek kerinci,yang penting share<br />
<br />
Tim ini berangkat pada awal September 2009. Pada pertengahan September, mereka melaporkan bahwa mereka telah menemukan jejak kaki yang diyakini sebagai milik Orang Pendek. Bahkan dua anggota tim, Dave Archer dan Sahar Didmus mengaku melihat Orang pendek dengan mata kepala sendiri. Menurut mereka, makhluk itu awalnya bersembunyi di belakang pohon, lalu kemudian tiba-tiba berlari dengan dua kakinya masuk lebih dalam ke hutan. menurut Dave, Orang pendek memang memiliki kemiripan dengan simpanse. Bedanya makhluk ini berjalan dengan dua kaki seperti manusia.<br />
<br />
Tim trans 7 televisi swasta pernah menurunkan tim untuk melacak keberadaan mahluk yang diyakini menjadi missing link terhadap proses evolusi manusia ini dan disiarkan pada acara apa itu saya lupa juga haha.Tapi mereka tidak mampu menemukannya sama sekali.Wallahu alam mungkin itu memang misteri Illahi.(Sumber post dan pict:Enigma ,wikipedia dan google)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<img src="http://i44.tinypic.com/125o088.jpg" border="0" alt="[Image: 125o088.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<br />
Dunia ini Penuh misteri,itulah yang bisa kita ucapkan.jangan kan diluar bumi,di dalam bumi saja masih banyak sekali yang belum diketahui oleh manusia,daratan yang terbentang,hutan yang membentang,lautan yang dalam,serta langit yang tinggi tak mampu di ketahui oleh manusia seluruhnya.Ya,tak lepas juga dari yang namanya kriptozoologi,suatu ilmu yang sangat saya gemari,yang membahas tentang misteri alam bumi kita.Nah bila di luar sana kita mendengar kata Big foot,Yeti dan semacamnya ,ternyata di Indonesia pun kita ada yang mengenal tentang "orang Pendek".<br />
urang pendek,orang pendek kerinci,yang penting share<br />
<br />
Orang pendek adalah makhluk cryptozoology paling termashyur di Indonesia. Konon menurut para saksi ia memiliki tubuh seperti kera, namun berjalan seperti manusia. Berbeda dengan Bigfoot di Amerika, maka Orang Pendek benar-benar sesuai dengan namanya. Makhluk ini hanya memiliki tinggi kurang dari satu meter.<br />
<br />
Orang Pendek adalah makhluk cryptozoology yang dipercaya hidup tersebar di beberapa wilayah Sumatera seperti Bengkulu, Palembang dan Jambi. Nama-nama lain yang sering diasosiasikan dengan Orang Pendek antara lain : Atu Pendek, Ijaoe, Sedabo, Sedapa, Sindai, Uhang Pandak, Orang Letjo dan Orang Gugu. Makhluk ini memiliki tinggi hanya sekitar 70 cm, diselubungi oleh bulu gelap. Namun wajahnya relatif tidak diselimuti bulu. Kadang-kadang para saksi mendengar suara-suara aneh yang keluar dari mulutnya.<br />
<br />
Mulanya banyak peneliti yang menduga bahwa makhluk ini sesungguhnya adalah seekor kera atau siamang. Namun deskripsi para saksi mengenai perilaku dan cara berjalannya tidak sesuai dengan perilaku kera atau siamang. Lagipula, jejak-jejak kaki yang ditemukan menunjukkan bahwa makhluk ini tidak tergolong kedalam primata yang sudah dikenal.<br />
<br />
Ahli Cryptozoology W .Osman Hill percaya bahwa Orang Pendek masih memiliki hubungan dengan Homo Erectus dari jawa. Peneliti lain menghubungkannya dengan hobbit dari Flores. Sedangkan penduduk lokal Sumatera percaya bahwa Orang Pendek adalah makhluk yang ramah, yang hanya menyerang hewan-hewan kecil untuk makanan. Karena itu mereka menerima keberadaan makhluk ini dengan toleransi.<br />
<br />
Legenda Orang pendek mulai terdengar sejak awal abad 20. Pada tanggal 21 Agustus 1915, Edward Jacobson menemukan sekumpulan jejak misterius di tepi danau Bento, di tenggara gunung Kerinci, Propinsi Jambi. Pemandunya yang bernama Mat Getoep mengatakan bahwa jejak sepanjang 5 inci tersebut adalah milik Orang Pendek.<br />
<br />
Pada Desember 1917, seorang manajer perkebunan bernama Oostingh berjumpa dengan Orang Pendek di sebuah hutan dekat Bukit Kaba. Ketika makhluk itu melihatnya, ia bangkit berdiri lalu dengan tenang berjalan beberapa meter dan kemudian naik ke pohon dan menghilang.<br />
<br />
Bukan hanya di Kerinci, penampakan makhluk ini juga sempat dilaporkan di wilayah Palembang. Seorang Belanda yang bernama Van Herwaarden menceritakan bahwa ia melihat Orang Pendek di sebuah pohon di utara Palembang pada Oktober 1923. Pertama, Herwaarden bermaksud menembaknya, namun kemudian ia melihat makhluk itu sangat mirip dengan manusia sehingga ia memutuskan untuk membiarkannya. Pengalamannya dipublikasikan di majalah Tropical Nature no.13 yang terbit tahun 1924.<br />
<br />
Pada tahun 1924 juga, museum nasional Bogor menerima cetakan jejak yang dipercaya sebagai milik orang pendek, namun akhirnya museum berhasil mengidentifikasi bahwa jejak tersebut adalah milik beruang Melayu yang diketahui kadang memang berdiri dengan dua kaki. Para ilmuwan yang skeptis kemudian menulis keraguan mereka akan keberadaan Orang pendek.<br />
<br />
Beberapa tahun kemudian, Museum kembali menerima bangkai yang dipercaya sebagai Orang Pendek. Penemuan ini sempat menjadi headline selama 2 hari karena adanya hadiah yang ditawarkan untuk penemuan bangkai Orang Pendek. Namun kemudian ketahuan ternyata bangkai tersebut adalah milik seekor kera yang dimodifikasi oleh penduduk lokal yang ingin mendapat hadiah.<br />
<br />
urang pendek,orang pendek kerinci,yang penting share<br />
Namun makhluk ini kembali mulai mendapat status internasionalnya pada tahun 1989 ketika seorang penulis Inggris bernama Deborah Martyr menemukan jejak-jejak Orang Pendek di barat daya Sumatera. Jejak-jejak tersebut setara dengan jejak anak kecil berusia 7 tahun. Ia lalu mencetak jejak tersebut dengan gips dan mengirimnya ke badan pemerintahan yang mengurus taman nasional, namun kemudian cetakan itu hilang.<br />
<br />
Setelah 5 tahun meneliti, Martyr akhirnya melihat sendiri Orang Pendek di wilayah gunung Kerinci pada 30 September 1994. Makhluk itu terlihat sedang berjalan dengan tenang dengan dua kakinya. Setelah jarak beberapa puluh meter, makhluk itu berhenti sebentar, menoleh ke Martyr, lalu menghilang ke dalam hutan. Sejak penampakan itu, Martyr masih menjumpai makhluk itu dua kali.<br />
<br />
Luar biasanya, walaupun Orang Pendek umumnya berhabitat di Kerinci, propinsi jambi, namun penampakan makhluk ini terjadi di hampir seluruh Sumatera.Pada tahun 1995 ketika gempa besar melanda Liwa, Lampung, beberapa penduduk lokal menyampaikan kepada para pekerja asing bahwa mereka menyaksikan Orang Pendek keluar dari hutan, mungkin takut akibat gempa besar tersebut.<br />
urang pendek,orang pendek kerinci,yang penting share<br />
<br />
Para peneliti kemudian mulai mendapat kemajuan ketika pada tahun 2001, sekelompok tim ekspedisi amatir dari Inggris yang dipimpin oleh Adam Davies menemukan sekumpulan jejak yang dipercaya milik Orang pendek.<br />
<br />
Cetakan jejak kaki tersebut dikirim ke Cambridge untuk dianalisa dan hasilnya jejak tersebut adalah miliki seekor kera dengan campuran karakter gibon, orangutan, simpanse dan manusia.<br />
<br />
Dengan adanya segudang laporan penampakan dan contoh rambut serta cetakan jejak kaki, pada September 2009 ini, sekelompok tim peneliti dari Inggris yang bernama Centre for Fortean Zoology (CFZ) berangkat menuju Kerinci untuk mencari keberadaan Orang Pendek.<br />
<br />
Tim yang terdiri dari empat orang ini akan dibantu oleh suku pedalaman setempat (suku kubu) untuk mencari keberadaan makhluk ini. Kepala suku dan banyak dari anggota suku ini telah menyaksikan keberadaan Orang Pendek dengan mata kepala mereka sendiri.<br />
urang pendek,orang pendek kerinci,yang penting share<br />
<br />
Tim ini berangkat pada awal September 2009. Pada pertengahan September, mereka melaporkan bahwa mereka telah menemukan jejak kaki yang diyakini sebagai milik Orang Pendek. Bahkan dua anggota tim, Dave Archer dan Sahar Didmus mengaku melihat Orang pendek dengan mata kepala sendiri. Menurut mereka, makhluk itu awalnya bersembunyi di belakang pohon, lalu kemudian tiba-tiba berlari dengan dua kakinya masuk lebih dalam ke hutan. menurut Dave, Orang pendek memang memiliki kemiripan dengan simpanse. Bedanya makhluk ini berjalan dengan dua kaki seperti manusia.<br />
<br />
Tim trans 7 televisi swasta pernah menurunkan tim untuk melacak keberadaan mahluk yang diyakini menjadi missing link terhadap proses evolusi manusia ini dan disiarkan pada acara apa itu saya lupa juga haha.Tapi mereka tidak mampu menemukannya sama sekali.Wallahu alam mungkin itu memang misteri Illahi.(Sumber post dan pict:Enigma ,wikipedia dan google)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Kaba Cindua Mato ]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Kaba-Cindua-Mato--14373</link>
			<pubDate>Tue, 03 Jan 2012 07:14:11 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Kaba-Cindua-Mato--14373</guid>
			<description><![CDATA[Pada zaman dahulu kala hiduplah seorang ratu bernama Bundo Kanduang, yang konon diciptakan bersamaan dengan alam semesta ini (samo tajadi jo alamko). Dia adalah timpalan Raja Rum, Raja Cina dan Raja dari Laut. Suatu hari Bundo Kanduang menyuruh Kembang Bendahari, seorang dayangnya yang setia, untuk membangunkan putranya Dang Tuanku, yang sedang tidur di anjungan istana. Kembang Bendahari menolak, karena Dang Tuanku adalah Raja Alam, orang yang sakti. Bundo Kanduang lalu membangunkan sendiri Dang Tuanku, dan berkata bahwa Bendahara sedang mengadakan gelanggang di nagarinya Sungai Tarab, untuk memilih suami buat putrinya. Karena gelanggang tersebut akan dikunjungi banyak pangeran, marah dan sutan, dan putra-putra orang-orang terpandang, Dang Tuanku dan Cindua Mato seharusnya ikut serta di dalamnya. Bundo Kanduang memerintahkan Dang Tuanku untuk menanyakan apakah Bendahara akan menerima Cindua Mato sebagai suami dari putrinya, Puti Lenggo Geni. Setelah menerima pengajaran tentang adat Minangkabau dari Bundo Kanduang, Dang Tuanku, Cindua Mato dan para pengiringnya berangkat ke Sungai Tarab.<br />
Di Sungai Tarab mereka disambut oleh Bendahara. Dang Tuanku bertanya apakah Bendahara bersedia menerima Cindua Mato yang “bodoh dan miskin” sebagai menantunya. Sebenarnya Cindua Mato adalah calon menantu ideal, dan karena itu lamaran tersebut diterima. Dang Tuanku kemudian berbincang-bincang dengan Bendahara, yang merupakan ahli adat di dalam Basa Ampek Balai, membahas adat Minangkabau dan apakah telah terjadi perubahan dari adat nenek moyang. Menurut Bendahara prinsip-prinsip yang diwariskan dari perumus adat Datuk Ketemanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang tetap tak berubah.<br />
Sementara itu Cindua Mato mendengar pergunjingan di pasar bahwa Puti Bungsu, tunangan Dang Tuanku, akan dinikahkan dengan Imbang Jayo, Raja Sungai Ngiang, sebuah negeri di rantau timur Minangkabau. Menurut kabar itu, di sana tersebar berita bahwa Dang Tuanku diasingkan karena menderita penyakit. Puti Bungsu adalah putri Rajo Mudo, saudara Bundo Kanduang, yang memerintah sebagai wakil Pagaruyung di Ranah Sikalawi, tetangga Sungai Ngiang. Ketika menemukan bahwa cerita ini disebarkan oleh kaki tangan Imbang Jayo, Cindua Mato bergegas mendesak Dang Tuanku untuk meminta permisi pada Bendahara dan kembali ke Pagaruyung. Gunjingan seperti itu adalah hinaan kepada Raja Alam.<br />
Di Pagaruyung Cindua Mato menceritakan Dang Tuanku dan Bundo Kanduang apa yang didengarnya di pasar. Bundo Kanduang naik pitam, namun sebelum bertindak dia mesti berunding dulu dengan Basa Ampek Balai. Dalam rapat-rapat berikutnya para menteri tersebut berusaha menengahi Bundo Kanduang pada satu pihak, yang tak dapat menerima hinaan dari saudaranya, dan Dang Tuanku beserta Cindua Mato pada pihak lain, yang menganjurkan kesabaran. Pertemuan tersebut berakhir dengan kesepakatan bahwa Cindua Mato akan berangkat sebagai utusan Bundo Kanduang dan Dang Tuanku ke Sikalawi, dengan membawa Sibinuang, seekor kerbau sakti, sebagai mas kawin untuk Puti Bungsu.<br />
Dengan menunggang kuda sakti, Si Gumarang, dan ditemani kerbau sakti, Si Binuang, Cindua Mato berjalan menuju Ranah Sikalawi. Di perbatasan sebelah timur, di dekat Bukit Tambun Tulang, dia menemukan tengkorak-tengkorak berserakan. Setelah membacakan jampi-jampi, dan berkat tuah Dang Tuanku, tengkorak-tengkorak tersebut mampu menceritakan kisah mereka. Mereka sebelumnya adalah para pedagang yang bepergian melalui bukit Tambun Tulang dan dibunuh para penyamun. Mereka mendesak Cindua Mato untuk berbalik dan kembali, namun Cindua Mato menolak. Tak lama sesudahnya para penyamun menyerang, namun dengan bantuan Si Binuang, ia berhasil mengalahkan mereka. Para penyamun tersebut mengaku bahwa Imbang Jayo, raja Sungai Ngiang, mempekerjakan mereka tak hanya buat memperkaya dirinya, tetapi juga untuk memutus hubungan antara Pagaruyung dan Rantau Timur, dan dengan demikian melempangkan rencananya untuk mengawini Puti Bungsu.<br />
Kedatangan Cindua Mato menggembirakan keluarga Rajo Mudo, yang berduka mendengar kabar penyakit Dang Tuanku. Kehadiran Cindua Mato dianggap sebagai pertanda restu Bundo Kanduang atas perkawinan yang hendak dilangsungkan.<br />
Dengan berpura-pura kesurupan Cindua Mato berhasil bertemu empat mata dengan Puti Bungsu tanpa memancing kecurigaan keluarga Rajo Mudo. Mereka percaya hanya Puti Bungsu saja yang mampu menenangkannya. Cindua Mato bertutur pada Puti Bungsu bahwa Dang Tuanku mengirimnya untuk membawanya ke Pagaruyung, karena ia sudah ditakdirkan untuk menikah dengan Dang Tuanku. Dalam pesta perkawinan yang berlangsung, saat Imbang Jayo tengah berperan sebagai pengantin pria, Cindua Mato melakukan hal-hal ajaib yang menarik perhatian lain dan menculik Puti Bungsu. Cindua Mato membawanya ke Padang Ganting, tempat Tuan Kadi, anggota Basa Ampek Balai yang mengurus soal-soal keagamaan bersemayam.<br />
Dengan menculik Puti Bungsu Cindua Mato telah melanggar hukum dan melampaui wewenangnya sebagai utusan Pagaruyung. Tuan Kadi lalu memanggil anggota Basa Ampek Balai lainnya untuk membahas pelanggaran yang dilakukan Cindua Mato. Namun pada pertemuan yang diadakan Cindua Mato menolak menjelaskan perbuatannya.<br />
Basa Ampek Balai lalu menceritakan kejadian ini pada Bundo Kanduang, yang murka pada kelakuan Cindua Mato. Namun ia masih tetap menolak menjawab. Keempat menteri ini lalu memutuskan berunding dengan Raja Nan Duo Selo, Raja Adat dan Raja Ibadat. Keduanya, mengetahui latar belakang kejadian tersebut, sambil tersenyum menyuruh keempat menteri tersebut menyerahkan keputusan kepada Dang Tuanku, Raja Alam.<br />
Pada pertemuan berikutnya perdebatan terjadi antara Bundo Kanduang, yang berteguh mempertahankan adat raja-raja, dan Dang Tuanku, yang menganjurkan memeriksa alasan di balik tindakan Cindua Mato. Imbang Jayo telah menghina Dang Tuanku dengan berusaha mengawini tunangannya, dan menceritakan fitnah. Sekarang giliran Imbang Jayo buat dihina. Imbang Jayo juga mempekerjakan penyamun untuk memperkaya dirinya dan memutus hubungan antara Minangkabau dan rantau timurnya. Cindua Mato tak layak dihukum karena dia hanya alat untuk utang malu dibayar malu.<br />
Cindua Mato dilepaskan dari hukuman, dan rapat itu kemudian membahas perkawinan antara Cindua Mato dan Puti Lenggo Geni, dan juga antara Dang Tuanku dan Puti Bungsu. Setelah masa persiapan, perkawinan kerajaan tersebut dilangsungkan di Pagaruyung, dilanjutkan dengan pesta yang dihadiri oleh banyak pangeran dan raja dari segenap penjuru Pulau Perca.<br />
Sementara itu, Imbang Jayo yang merasa dipermalukan oleh Cindua Mato bersiap-siap menyerang Pagaruyung. Dengan senjata pusakanya, Cermin Terus (camin taruih), dia menghancurkan sebagian negeri Pagaruyung. Cermin itu akhirnya dipecahkan oleh panah sakti Cindua Mato. Ketika Imbang Jayo sibuk memperkuat pasukannya Bundo Kanduang dan Dang Tuanku meminta Cindua Mato mengungsi ke Inderapura, negeri di rantau Barat, dan dengan demikian tidak ada alasan lagi buat Imbang Jayo memerangi Pagaruyung.<br />
Geram karena gagal membalas dendam, Imbang Jayo lalu protes pada Rajo Nan Duo Selo. Pada pertemuan yang dipimpin oleh kedua raja tersebut, dan dihadiri oleh keempat menteri, Imbang Jayo mendakwa bahwa seorang anggota keluarga kerajaan telah mempermalukan dirinya, sebuah pelanggaran yang tak termaafkan. Namun raja-raja tersebut bertanya: siapa yang memulai penghinaan tersebut, apa bukti dakwaan Imbang Jayo? Tuduhan terhadap anggota kerajaan tanpa bukti cukup bukan soal main-main. Kedua raja akhirnya memutuskan Imbang Jayo dihukum mati.<br />
Begitu mengetahui anaknya disuruh bunuh oleh Rajo Duo Selo, ayah Imbang Jayo, Tiang Bungkuak, bersiap-siap membalas dendam. Cindua Mato kembali dari Inderapura, dan Dang Tuanku memerintahkannya melawan Tiang Bungkuak. Namun bila Cindua Mato gagal membunuhnya, dia harus bersedia menjadi hamba Tiang Bungkuak, agar Istana Pagaruyung terlepas dari ancaman.<br />
Pada suatu malam, saat menunggu serangan Tiang Bungkuak, Dang Tuanku bermimpi bertemu seorang malaikat dari langit yang berkata dia, Bundo Kanduang dan Puti Bungsu sudah waktunya meninggalkan dunia yang penuh dosa ini. Pagi harinya Dang Tuanku mengisahkan mimpinya pada Bundo Kanduang dan Basa Ampek Balai. Mengetahui waktu mereka sudah dekat, mereka mengangkat Cindua Mato sebagai Raja Muda.<br />
Cindua Mato menunggu Tiang Bungkuak di luar Pagaruyung, namun dalam duel yang berlangsung dia tak mampu membunuh Tiang Bungkuak. Cindua Mato lalu menyerah pada kesatria tua itu, dan mengikutinya ke Sungai Ngiang sebagai budak. Pada saat yang sama sebuah kapal terlihat melayang di udara membawa Dang Tuanku dan anggota keluarga kerajaan lainnya ke langit.<br />
Suatu hari, ketika Tiang Bungkuak sedang tidur siang, Cindua Mato membaca jampi-jampi dan berhasil mengungkap rahasia kekebalan Tiang Bungkuak dari mulutnya sendiri. Ternyata Tiang Bungkuak hanya dapat dibunuh menggunakan keris bungkuk (karih bungkuak) yang disembunyikan di bawah tiang utama rumahnya. Cindua Mato mencuri keris itu lalu memancing Tiang Bungkuak agar berkelahi dengannya. Dalam duel tersebut Cindua Mato berhasil membunuh Tiang Bungkuak dengan keris curiannya.<br />
Setelah kematian Tiang Bungkuak para bangsawan Sungai Ngiang mengangkat Cindua Mato menjadi raja. Kemudian dia juga diangkat sebagai raja Sikalawi, setelah Rajo Mudo turun tahta. Cindua Mato menikahi adik Puti Bungsu, Puti Reno Bulan. Dari hasil pernikahannya ini Cindua Mato memperoleh anak perempuan dan laki-laki yang diberi nama Sutan Lembang Alam.<br />
Setelah beberapa lama menghabiskan waktu di Rantau Timur, Cindua Mato kembali ke Pagaruyung, untuk memerintah sebagai Raja Minangkabau. Dari perkawinannya dengan Puti Lenggo Geni ia mendapatkan anak bernama Sutan Lenggang Alam. <br />
<br />
sumber : <a href="http://nhytu.blogspot.com/2009/05/kaba-cindua-mato.html" rel="nofollow" target="_blank">http://nhytu.blogspot.com/2009/05/kaba-cindua-mato.html</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Pada zaman dahulu kala hiduplah seorang ratu bernama Bundo Kanduang, yang konon diciptakan bersamaan dengan alam semesta ini (samo tajadi jo alamko). Dia adalah timpalan Raja Rum, Raja Cina dan Raja dari Laut. Suatu hari Bundo Kanduang menyuruh Kembang Bendahari, seorang dayangnya yang setia, untuk membangunkan putranya Dang Tuanku, yang sedang tidur di anjungan istana. Kembang Bendahari menolak, karena Dang Tuanku adalah Raja Alam, orang yang sakti. Bundo Kanduang lalu membangunkan sendiri Dang Tuanku, dan berkata bahwa Bendahara sedang mengadakan gelanggang di nagarinya Sungai Tarab, untuk memilih suami buat putrinya. Karena gelanggang tersebut akan dikunjungi banyak pangeran, marah dan sutan, dan putra-putra orang-orang terpandang, Dang Tuanku dan Cindua Mato seharusnya ikut serta di dalamnya. Bundo Kanduang memerintahkan Dang Tuanku untuk menanyakan apakah Bendahara akan menerima Cindua Mato sebagai suami dari putrinya, Puti Lenggo Geni. Setelah menerima pengajaran tentang adat Minangkabau dari Bundo Kanduang, Dang Tuanku, Cindua Mato dan para pengiringnya berangkat ke Sungai Tarab.<br />
Di Sungai Tarab mereka disambut oleh Bendahara. Dang Tuanku bertanya apakah Bendahara bersedia menerima Cindua Mato yang “bodoh dan miskin” sebagai menantunya. Sebenarnya Cindua Mato adalah calon menantu ideal, dan karena itu lamaran tersebut diterima. Dang Tuanku kemudian berbincang-bincang dengan Bendahara, yang merupakan ahli adat di dalam Basa Ampek Balai, membahas adat Minangkabau dan apakah telah terjadi perubahan dari adat nenek moyang. Menurut Bendahara prinsip-prinsip yang diwariskan dari perumus adat Datuk Ketemanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang tetap tak berubah.<br />
Sementara itu Cindua Mato mendengar pergunjingan di pasar bahwa Puti Bungsu, tunangan Dang Tuanku, akan dinikahkan dengan Imbang Jayo, Raja Sungai Ngiang, sebuah negeri di rantau timur Minangkabau. Menurut kabar itu, di sana tersebar berita bahwa Dang Tuanku diasingkan karena menderita penyakit. Puti Bungsu adalah putri Rajo Mudo, saudara Bundo Kanduang, yang memerintah sebagai wakil Pagaruyung di Ranah Sikalawi, tetangga Sungai Ngiang. Ketika menemukan bahwa cerita ini disebarkan oleh kaki tangan Imbang Jayo, Cindua Mato bergegas mendesak Dang Tuanku untuk meminta permisi pada Bendahara dan kembali ke Pagaruyung. Gunjingan seperti itu adalah hinaan kepada Raja Alam.<br />
Di Pagaruyung Cindua Mato menceritakan Dang Tuanku dan Bundo Kanduang apa yang didengarnya di pasar. Bundo Kanduang naik pitam, namun sebelum bertindak dia mesti berunding dulu dengan Basa Ampek Balai. Dalam rapat-rapat berikutnya para menteri tersebut berusaha menengahi Bundo Kanduang pada satu pihak, yang tak dapat menerima hinaan dari saudaranya, dan Dang Tuanku beserta Cindua Mato pada pihak lain, yang menganjurkan kesabaran. Pertemuan tersebut berakhir dengan kesepakatan bahwa Cindua Mato akan berangkat sebagai utusan Bundo Kanduang dan Dang Tuanku ke Sikalawi, dengan membawa Sibinuang, seekor kerbau sakti, sebagai mas kawin untuk Puti Bungsu.<br />
Dengan menunggang kuda sakti, Si Gumarang, dan ditemani kerbau sakti, Si Binuang, Cindua Mato berjalan menuju Ranah Sikalawi. Di perbatasan sebelah timur, di dekat Bukit Tambun Tulang, dia menemukan tengkorak-tengkorak berserakan. Setelah membacakan jampi-jampi, dan berkat tuah Dang Tuanku, tengkorak-tengkorak tersebut mampu menceritakan kisah mereka. Mereka sebelumnya adalah para pedagang yang bepergian melalui bukit Tambun Tulang dan dibunuh para penyamun. Mereka mendesak Cindua Mato untuk berbalik dan kembali, namun Cindua Mato menolak. Tak lama sesudahnya para penyamun menyerang, namun dengan bantuan Si Binuang, ia berhasil mengalahkan mereka. Para penyamun tersebut mengaku bahwa Imbang Jayo, raja Sungai Ngiang, mempekerjakan mereka tak hanya buat memperkaya dirinya, tetapi juga untuk memutus hubungan antara Pagaruyung dan Rantau Timur, dan dengan demikian melempangkan rencananya untuk mengawini Puti Bungsu.<br />
Kedatangan Cindua Mato menggembirakan keluarga Rajo Mudo, yang berduka mendengar kabar penyakit Dang Tuanku. Kehadiran Cindua Mato dianggap sebagai pertanda restu Bundo Kanduang atas perkawinan yang hendak dilangsungkan.<br />
Dengan berpura-pura kesurupan Cindua Mato berhasil bertemu empat mata dengan Puti Bungsu tanpa memancing kecurigaan keluarga Rajo Mudo. Mereka percaya hanya Puti Bungsu saja yang mampu menenangkannya. Cindua Mato bertutur pada Puti Bungsu bahwa Dang Tuanku mengirimnya untuk membawanya ke Pagaruyung, karena ia sudah ditakdirkan untuk menikah dengan Dang Tuanku. Dalam pesta perkawinan yang berlangsung, saat Imbang Jayo tengah berperan sebagai pengantin pria, Cindua Mato melakukan hal-hal ajaib yang menarik perhatian lain dan menculik Puti Bungsu. Cindua Mato membawanya ke Padang Ganting, tempat Tuan Kadi, anggota Basa Ampek Balai yang mengurus soal-soal keagamaan bersemayam.<br />
Dengan menculik Puti Bungsu Cindua Mato telah melanggar hukum dan melampaui wewenangnya sebagai utusan Pagaruyung. Tuan Kadi lalu memanggil anggota Basa Ampek Balai lainnya untuk membahas pelanggaran yang dilakukan Cindua Mato. Namun pada pertemuan yang diadakan Cindua Mato menolak menjelaskan perbuatannya.<br />
Basa Ampek Balai lalu menceritakan kejadian ini pada Bundo Kanduang, yang murka pada kelakuan Cindua Mato. Namun ia masih tetap menolak menjawab. Keempat menteri ini lalu memutuskan berunding dengan Raja Nan Duo Selo, Raja Adat dan Raja Ibadat. Keduanya, mengetahui latar belakang kejadian tersebut, sambil tersenyum menyuruh keempat menteri tersebut menyerahkan keputusan kepada Dang Tuanku, Raja Alam.<br />
Pada pertemuan berikutnya perdebatan terjadi antara Bundo Kanduang, yang berteguh mempertahankan adat raja-raja, dan Dang Tuanku, yang menganjurkan memeriksa alasan di balik tindakan Cindua Mato. Imbang Jayo telah menghina Dang Tuanku dengan berusaha mengawini tunangannya, dan menceritakan fitnah. Sekarang giliran Imbang Jayo buat dihina. Imbang Jayo juga mempekerjakan penyamun untuk memperkaya dirinya dan memutus hubungan antara Minangkabau dan rantau timurnya. Cindua Mato tak layak dihukum karena dia hanya alat untuk utang malu dibayar malu.<br />
Cindua Mato dilepaskan dari hukuman, dan rapat itu kemudian membahas perkawinan antara Cindua Mato dan Puti Lenggo Geni, dan juga antara Dang Tuanku dan Puti Bungsu. Setelah masa persiapan, perkawinan kerajaan tersebut dilangsungkan di Pagaruyung, dilanjutkan dengan pesta yang dihadiri oleh banyak pangeran dan raja dari segenap penjuru Pulau Perca.<br />
Sementara itu, Imbang Jayo yang merasa dipermalukan oleh Cindua Mato bersiap-siap menyerang Pagaruyung. Dengan senjata pusakanya, Cermin Terus (camin taruih), dia menghancurkan sebagian negeri Pagaruyung. Cermin itu akhirnya dipecahkan oleh panah sakti Cindua Mato. Ketika Imbang Jayo sibuk memperkuat pasukannya Bundo Kanduang dan Dang Tuanku meminta Cindua Mato mengungsi ke Inderapura, negeri di rantau Barat, dan dengan demikian tidak ada alasan lagi buat Imbang Jayo memerangi Pagaruyung.<br />
Geram karena gagal membalas dendam, Imbang Jayo lalu protes pada Rajo Nan Duo Selo. Pada pertemuan yang dipimpin oleh kedua raja tersebut, dan dihadiri oleh keempat menteri, Imbang Jayo mendakwa bahwa seorang anggota keluarga kerajaan telah mempermalukan dirinya, sebuah pelanggaran yang tak termaafkan. Namun raja-raja tersebut bertanya: siapa yang memulai penghinaan tersebut, apa bukti dakwaan Imbang Jayo? Tuduhan terhadap anggota kerajaan tanpa bukti cukup bukan soal main-main. Kedua raja akhirnya memutuskan Imbang Jayo dihukum mati.<br />
Begitu mengetahui anaknya disuruh bunuh oleh Rajo Duo Selo, ayah Imbang Jayo, Tiang Bungkuak, bersiap-siap membalas dendam. Cindua Mato kembali dari Inderapura, dan Dang Tuanku memerintahkannya melawan Tiang Bungkuak. Namun bila Cindua Mato gagal membunuhnya, dia harus bersedia menjadi hamba Tiang Bungkuak, agar Istana Pagaruyung terlepas dari ancaman.<br />
Pada suatu malam, saat menunggu serangan Tiang Bungkuak, Dang Tuanku bermimpi bertemu seorang malaikat dari langit yang berkata dia, Bundo Kanduang dan Puti Bungsu sudah waktunya meninggalkan dunia yang penuh dosa ini. Pagi harinya Dang Tuanku mengisahkan mimpinya pada Bundo Kanduang dan Basa Ampek Balai. Mengetahui waktu mereka sudah dekat, mereka mengangkat Cindua Mato sebagai Raja Muda.<br />
Cindua Mato menunggu Tiang Bungkuak di luar Pagaruyung, namun dalam duel yang berlangsung dia tak mampu membunuh Tiang Bungkuak. Cindua Mato lalu menyerah pada kesatria tua itu, dan mengikutinya ke Sungai Ngiang sebagai budak. Pada saat yang sama sebuah kapal terlihat melayang di udara membawa Dang Tuanku dan anggota keluarga kerajaan lainnya ke langit.<br />
Suatu hari, ketika Tiang Bungkuak sedang tidur siang, Cindua Mato membaca jampi-jampi dan berhasil mengungkap rahasia kekebalan Tiang Bungkuak dari mulutnya sendiri. Ternyata Tiang Bungkuak hanya dapat dibunuh menggunakan keris bungkuk (karih bungkuak) yang disembunyikan di bawah tiang utama rumahnya. Cindua Mato mencuri keris itu lalu memancing Tiang Bungkuak agar berkelahi dengannya. Dalam duel tersebut Cindua Mato berhasil membunuh Tiang Bungkuak dengan keris curiannya.<br />
Setelah kematian Tiang Bungkuak para bangsawan Sungai Ngiang mengangkat Cindua Mato menjadi raja. Kemudian dia juga diangkat sebagai raja Sikalawi, setelah Rajo Mudo turun tahta. Cindua Mato menikahi adik Puti Bungsu, Puti Reno Bulan. Dari hasil pernikahannya ini Cindua Mato memperoleh anak perempuan dan laki-laki yang diberi nama Sutan Lembang Alam.<br />
Setelah beberapa lama menghabiskan waktu di Rantau Timur, Cindua Mato kembali ke Pagaruyung, untuk memerintah sebagai Raja Minangkabau. Dari perkawinannya dengan Puti Lenggo Geni ia mendapatkan anak bernama Sutan Lenggang Alam. <br />
<br />
sumber : <a href="http://nhytu.blogspot.com/2009/05/kaba-cindua-mato.html" rel="nofollow" target="_blank">http://nhytu.blogspot.com/2009/05/kaba-cindua-mato.html</a>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Asal Mula Sungai Ombilin dan Danau Singkarak]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Asal-Mula-Sungai-Ombilin-dan-Danau-Singkarak</link>
			<pubDate>Thu, 15 Dec 2011 02:32:59 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Asal-Mula-Sungai-Ombilin-dan-Danau-Singkarak</guid>
			<description><![CDATA[Danau Singkarak dengan luas 107,8 m2 merupakan danau terluas kedua setelah Danau Toba di Pulau Sumatra, Indonesia. Danau yang berada di ketinggian 36,5 meter dari permukaan laut ini terletak di dua kabupaten di Provinsi Sumatra Barat, yaitu Kabupaten Solok dan Kabupaten Tanah Datar. Menurut cerita, danau yang juga merupakan hulu Sungai Batang Ombilin ini dahulu memang merupakan lautan luas. Namun karena terjadi sebuah peristiwa yang luar biasa, air laut tersebut menyusut. Peristiwa Apakah yang menyebabkan air laut tersebut menyusut, sehingga lautan itu berubah menjadi danau? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Asal Mula Sungai Ombilin dan Danau Singkarak berikut ini.<br />
<br />
Alkisah, di sebuah kampung di daerah Sumatra Barat, hiduplah keluarga Pak Buyung. Ia tinggal di sebuah gubuk di pinggir laut bersama istri dan seorang anaknya yang masih kecil bernama Indra. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, Pak Buyung bersama istrinya mengumpulkan hasil-hasil hutan dan menangkap ikan di laut. Setiap pagi mereka pergi ke hutan di Bukit Junjung Sirih untuk mencari manau, rotan, dan damar untuk dijual ke pasar. Jika musim ikan tiba, mereka pergi ke laut menangkap ikan dengan menggunakan pancing, bubu ataupun jala.<br />
<br />
Ketika sudah berumur sepuluh tahun, Indra sering membantu kedua orangtuanya ke hutan maupun ke laut. Betapa senang hati Pak Buyung dan istrinya mempunyai anak yang rajin seperti Indra. Namun, ada satu hal yang membuat mereka risau, karena si Indra memiliki suatu keanehan, yaitu selera makannya amatlah berlebihan. Dalam sekali makan, ia dapat menghabiskan nasi setengah bakul dengan lauk beberapa piring.<br />
<br />
Pada suatu ketika, musim paceklik tiba. Baik hasil hutan maupun hasil laut sangat sulit diperoleh. Untuk itu, keluarga Pak Buyung harus berhemat terutama menahan selera makan. Mereka harus makan apa adanya. Jika tidak ada nasi, mereka makan ubi atau pun keladi (talas). Cukup lama musim paceklik berlangsung, sehingga mereka semakin kesulitan mendapatkan makanan. Hal itu rupanya membuat mereka lebih peduli pada diri sendiri daripada terhadap anaknya. Kesulitan mendapatkan makanan itu juga membuat mereka hampir berputus asa. Mereka sering bermalas-malasan pergi mencari rotan ke hutan dan mencari ikan ke laut.<br />
<br />
Sudah beberapa hari keluarga Pak Buyung hanya makan ubi bakar. Tentu hal itu tidak mengenyangkan perut si Indra. Suatu hari, Indra menangis minta makanan kepada kedua orangtuanya.<br />
<br />
“Ayah, carikan saya makanan! Saya sangat lapar,” keluh Indra.<br />
<br />
“Hei, anak malas! Kalau kamu lapar carilah sendiri makanan ke hutan atau ke laut sana!” seru ayahnya dengan nada kesal.<br />
“Pak! Bukankah anak kita masih kecil? Tentu dia belum bisa mencari makanan sendiri,` sahut sang Ibu.<br />
<br />
“Iya, dia memang masih anak-anak. Tapi, dia yang paling banyak makannya,” bantah sang suami.<br />
<br />
Mendengar bantahan suaminya itu, sang Istri pun diam. Ia kemudian membujuk Indra agar berangkat sendiri ke Bukit Junjung Sirih untuk mencari hasil-hasil hutan di Bukit. Indra pun menuruti nasehat ibunya. Sebelum berangkat ke hutan, Indra terlebih dahulu memberi makan seekor ayam piaraannya yang bernama Taduang. Si Taduang adalah seekor ayam yang pandai. Setiap kali tuannya (si Indra) pulang dari hutan, ia selalu berkokok menyambut kedatangan tuannya.<br />
<br />
Menjelang siang, Indra pulang dari hutan tanpa membawa hasil. Keesokan harinya, ayahnya memerintahkannya pergi ke laut untuk memancing ikan. Saat Indra pergi ke laut, ayah dan ibunya hanya tidur-tiduran di gubuk. Tampaknya, mereka benar-benar sudah putus asa menghadapi kesulitan hidup. Keadaan demikian berlangsung selama sebulan, sehingga Indra merasa tubuhnya sangat lelah dan berniat untuk beristirahat beberapa hari.<br />
<br />
Pada suatu hari, sepulang dari laut mencari ikan, Indra berkata kepada ayahnya:<br />
<br />
“Ayah! Badanku terasa sangat letih. Bolehkah saya beristirahat untuk beberapa hari?” pinta Indra.<br />
<br />
“Apa katamu? Dasar anak malas! Kamu tidak boleh beristirahat. Besok kamu harus tetap kembali ke laut mencari ikan,” ujar sang Ayah.<br />
<br />
Oleh karena tidak ingin membatah perintah ayahnya, keesokan harinya Indra pergi ke laut mencari ikan. Ketika Indra berangkat ke laut, secara diam-diam ibunya juga berangkat ke laut. Tapi, ia menuju ke sebuah tanjung, agak jauh dari tempat Indra mencari ikan. Sementara ayahnya pergi ke hutan.<br />
<br />
Menjelang siang, Pak Buyung kembali dari hutan dengan membawa seikat ijuk. Sesampainya di rumah, ia melihat istrinya sedang membersihkan pensi (sejenis kerang berukuran kecil).<br />
<br />
“Sedang apa, Bu?” tanya Pak Buyung kepada istrinya.<br />
<br />
“Sedang membersihkan pensi, Pak! Tadi ketika hendak mencari ikan di laut, aku melihat banyak warga dari kampung tetangga sedang mencari pensi. Akhirnya aku pun ikut mencari pensi bersama mereka,” jawab istrinya.<br />
<br />
“Bagaimana cara memasaknya? Bukankah Ibu belum pernah memasak pensi sebelumnya? ” tanya Pak Buyung.<br />
<br />
“Tenang, Pak! Kata seorang warga dari kampung tetangga, daging pensi enak jika dimasak pangek[1],” jelas istrinya.<br />
<br />
“Wah, kalau begitu, kita makan enak siang ini,” ucap Pak Buyung sambil mengusap-usap perutnya yang sudah keroncongan.<br />
<br />
Setelah membersihkan pensi itu, sang Istri pun segera membuatkan bumbu dan memasaknya. Tak lama kemudian, aroma masakan pangek pun tercium oleh Pak Buyung.<br />
<br />
“Wah, harum sekali aromanya. Istriku memang pintar memasak,” puji Pak Buyung seraya mendekati istrinya yang sedang masak di dapur.<br />
<br />
“Bu, apakah pangek ini cukup kita makan bertiga?” tanya Pak Buyung.<br />
<br />
“Tentu saja cukup,” jawab istrinya.<br />
<br />
“Apakah Ibu sudah lupa kalau si Indra makannya banyak? Pangek ini pasti tidak cukup dia makan sendiri,” kata Pak Buyung.<br />
<br />
`Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan, Pak?” tanya istrinya.<br />
<br />
“Bagaimana kalau kita makan diam-diam, selagi si Indra masih berada di laut,” saran Pak Buyung.<br />
<br />
“Tapi, sebentar lagi dia pulang,” kata istrinya.<br />
<br />
“Kalau dia pulang, pasti akan ketahuan.,” ucap Pak Buyung.<br />
<br />
“Bagaimana Bapak bisa mengetahuinya!” tanya istrinya.<br />
<br />
“Jika si Taduang berkokok, berarti si Indra telah pulang,” jawab Pak Buyung.<br />
<br />
Sang Istri pun mengangguk-angguk mendengar jawaban suaminya. Keduanya pun menyantap pangek itu dengan lahapnya. Namun, baru makan beberapa suap, tiba-tiba ayam peliharaan Indra berkokok. Mendengar kokok ayam itu, kedua suami-istri itu segera mencuci tangan, lalu membereskan makanan dan menyembunyikannya di bawah tempat tidur. Ketika Indra masuk ke gubuk, ia melihat kedua orangtuanya sedang duduk-duduk bersantai. Kedua orangtuanya terlihat tenang, seakan-akan tidak ada sesuatu yang terjadi.<br />
<br />
“Hei, Indra! Mana ikan yang kamu peroleh?” tanya ayahnya.<br />
<br />
“Maaf, Ayah! Hari ini aku tidak memperoleh ikan?” jawab Indra dengan wajah kusut.<br />
<br />
“Kenapa kamu pulang kalau belum memperoleh ikan?” tanya ayahnya.<br />
<br />
“Maaf, Ayah! Saya sangat letih dan lapar,” jawab Indra.<br />
<br />
“Hei, apa yang bisa kamu makan kalau tidak memperoleh ikan?” sang Ayah kembali bertanya.<br />
<br />
“Saya sudah berusaha, Ayah. Tapi belum berhasil,” jawab Indra.<br />
<br />
“Ayah, Ibu! Adakah sesuatu yang bisa saya makan. Sekedar pengganjal perut,” pinta Indra kepada kedua orangtuanya.<br />
<br />
“Tidak! Hari ini tidak ada makanan untuk anak pemalas,” kata ayahnya.<br />
<br />
“Tapi, Ayah! Saya lapar sekali,” keluh Indra sambil memegang perutnya.<br />
<br />
“Baiklah! Kamu boleh makan, tapi kamu harus mencuci ijuk ini sampai bersih,” sahut ibunya sambil menyerahkan ijuk yang tadi dibawa suaminya dari hutan.<br />
<br />
Indra pun segera pergi ke laut mencuci ijuk itu karena ingin mendapatkan makanan dari kedua orangtuanya. Ketika Indra berangkat ke laut, kedua orangtuanya kembali melanjutkan acara makan mereka.<br />
<br />
“Wah, meskipun baru kali ini Ibu memasak pangek pensi, tapi rasanya lezat sekali,” sanjung Pak Buyung kepada istrinya.<br />
<br />
Sang Istri tersenyum mendengar sanjungan suaminya. Kemudian sepasang suami istri itu makan pangek dengan lahapnya. Mereka baru berhenti makan setelah perut mereka benar-benar sudah penuh. Selesai makan, mereka kembali menyembunyikan makanan yang masih tersisa di bawah tempat tidur. Tidak beberapa lama kemudian, si Taduang terdengar berkokok, pertanda tuannya telah kembali dari laut. Ketika masuk ke dalam gubuk, Indra melihat kedua orangtuanya masih sedang duduk bersantai.<br />
<br />
“Bagaimana? Apakah ijuk itu sudah bersih kamu cuci?” tanya ibunya.<br />
<br />
“Sudah, Bu,” jawab Indra sambil meletakkan ijuk itu di depan ibunya.<br />
<br />
“Hah! Kenapa masih hitam begini? Kamu harus mencucinya hingga berwarna putih,” ujar ibunya.<br />
<br />
“Tapi, Bu! Aku sudah berusaha mencucinya berkali-kali, bahkan aku menggosoknya dengan campuran pasir, tapi masih tetap berwarna hitam,” sanggah Indra.<br />
<br />
“Ah, alasan saja! Cuci lagi ijuk itu ke laut!” seru ayahnya.<br />
<br />
Dengan langkah sempoyongan, Indra pun kembali ke laut. Sesampainya di laut, ia terus berusaha mencuci dan menggosok ijuk itu hingga berkali-kali, tetapi tetap saja berwarna hitam. Rupanya Indra yang masih anak-anak tidak mengetahui jika ijuk itu memang pada dasarnya berwarna hitam. Meskipun ijuk itu berkali-kali dicuci dan digosok, tentu tidak akan pernah berwarna putih.<br />
<br />
Menjelang senja, Indra kembali ke gubuknya. Ketika masuk ke ruang tengah gubuknya, ia tidak lagi melihat kedua orangtuanya duduk-duduk. Dengan pelan-pelan, ia melangkah menuju ke ruang dapur. Betapa terkejutnya ia ketika melihat kedua orangtuanya sedang tertidur pulas di ruang dapur. Di sekeliling mereka berserakan piring makan, bakul nasi, dan panci pangek pensi yang telah kosong. Hanya kuah dengan beberapa cuil daging pensi yang tersisa.<br />
<br />
Alangkah sedihnya hati Indra menyaksikan semua itu. Kini ia menyadari bahwa kedua orangtuanya telah menipu dan membohonginya. Namun, sebagai anak yang berbakti, dia tidak ingin marah kepada mereka yang telah melahirkannya. Ia pun berjalan keluar dari gubuknya sambil mengusap air mata yang menetes di pipinya. Saat berada di luar gubuk, ia langsung menangkap ayam kesayangannya, si Taduang. Kemudian ia duduk di atas batu di samping gubuknya sambil mengusab-usap bulu si Taduang.<br />
<br />
“Taduang! Rupanya Ayah dan Ibuku telah menipuku. Untuk apalagi aku tinggal bersama mereka di sini, kalau mereka sudah tidak menyayangiku lagi,” kata Indra kepada ayamnya.<br />
<br />
Mendengar pernyataan Indra, ayam itu pun berkokok berkali-kali, pertanda bahwa ia mengerti perasaan tuannya. Si Taduang kemudian mengepak-ngepakkan sayapnya. Indra pun mengerti bahwa ayam kesayangannya itu akan mengajaknya pergi meninggalkan kampung itu. Dengan cepat, Indra pun segera berpegangan pada kaki si Taduang. Beberapa saat kemudian, si Taduang terbang ke udara, sementara Indra tetap berpegangan pada kakinya. Saat tubuh Indra terangkat, batu tempat Indra duduk itu juga ikut terangkat. Anehnya, semakin tinggi mereka terbang, batu itu semakin membesar. Akhirnya, si Taduang pun sudah tidak kuat lagi membawa terbang si Indra bersama batu besar itu. Melihat hal itu, Indra pun segera menyentakkan kakinya, sehingga batu besar itu melesat menuju ke bumi dan menghantam salah satu bukit yang ada di sekitar lautan. Hantaman batu itu membentuk sebuah lubang memanjang. Dengan cepat, air laut pun mengalir ke arah lubang itu dan menembus bukit, sehingga membentuk aliran sungai.<br />
<br />
Konon, itulah yang menjadi asal mula Sungai Batang Ombilin, yang bermuara ke daerah Riau. Semakin lama air laut itu semakin menyusut, sehingga lautan itu berubah menjadi Danau Singkarak yang hingga kini menjadi kebanggaan masyarakat Solok. Sementara Indra yang diterbangkan oleh ayam kesayangannya, si Taduang, hingga kini tidak diketahui keberadaannya.<br />
<br />
* * *<br />
<br />
Demikian cerita Asal Mula Sungai Ombilin dan Danau Singkarak dari daerah Sumatra Barat, Indonesia. Cerita di atas termasuk kategori legenda yang mengandung pesan-pesan moral. Salah satu pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah akibat buruk dari sifat suka mementingkan diri sendiri. Sifat ini tercermin pada sikap dan perilaku Pak Bujang bersama istrinya yang lebih mementingkan diri mereka sendiri dan melalaikan anak mereka yang sedang kelaparan. Akibatnya, mereka pun ditinggal pergi oleh anaknya ( Sumbaer: dari Berbagai Sumber)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Danau Singkarak dengan luas 107,8 m2 merupakan danau terluas kedua setelah Danau Toba di Pulau Sumatra, Indonesia. Danau yang berada di ketinggian 36,5 meter dari permukaan laut ini terletak di dua kabupaten di Provinsi Sumatra Barat, yaitu Kabupaten Solok dan Kabupaten Tanah Datar. Menurut cerita, danau yang juga merupakan hulu Sungai Batang Ombilin ini dahulu memang merupakan lautan luas. Namun karena terjadi sebuah peristiwa yang luar biasa, air laut tersebut menyusut. Peristiwa Apakah yang menyebabkan air laut tersebut menyusut, sehingga lautan itu berubah menjadi danau? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Asal Mula Sungai Ombilin dan Danau Singkarak berikut ini.<br />
<br />
Alkisah, di sebuah kampung di daerah Sumatra Barat, hiduplah keluarga Pak Buyung. Ia tinggal di sebuah gubuk di pinggir laut bersama istri dan seorang anaknya yang masih kecil bernama Indra. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, Pak Buyung bersama istrinya mengumpulkan hasil-hasil hutan dan menangkap ikan di laut. Setiap pagi mereka pergi ke hutan di Bukit Junjung Sirih untuk mencari manau, rotan, dan damar untuk dijual ke pasar. Jika musim ikan tiba, mereka pergi ke laut menangkap ikan dengan menggunakan pancing, bubu ataupun jala.<br />
<br />
Ketika sudah berumur sepuluh tahun, Indra sering membantu kedua orangtuanya ke hutan maupun ke laut. Betapa senang hati Pak Buyung dan istrinya mempunyai anak yang rajin seperti Indra. Namun, ada satu hal yang membuat mereka risau, karena si Indra memiliki suatu keanehan, yaitu selera makannya amatlah berlebihan. Dalam sekali makan, ia dapat menghabiskan nasi setengah bakul dengan lauk beberapa piring.<br />
<br />
Pada suatu ketika, musim paceklik tiba. Baik hasil hutan maupun hasil laut sangat sulit diperoleh. Untuk itu, keluarga Pak Buyung harus berhemat terutama menahan selera makan. Mereka harus makan apa adanya. Jika tidak ada nasi, mereka makan ubi atau pun keladi (talas). Cukup lama musim paceklik berlangsung, sehingga mereka semakin kesulitan mendapatkan makanan. Hal itu rupanya membuat mereka lebih peduli pada diri sendiri daripada terhadap anaknya. Kesulitan mendapatkan makanan itu juga membuat mereka hampir berputus asa. Mereka sering bermalas-malasan pergi mencari rotan ke hutan dan mencari ikan ke laut.<br />
<br />
Sudah beberapa hari keluarga Pak Buyung hanya makan ubi bakar. Tentu hal itu tidak mengenyangkan perut si Indra. Suatu hari, Indra menangis minta makanan kepada kedua orangtuanya.<br />
<br />
“Ayah, carikan saya makanan! Saya sangat lapar,” keluh Indra.<br />
<br />
“Hei, anak malas! Kalau kamu lapar carilah sendiri makanan ke hutan atau ke laut sana!” seru ayahnya dengan nada kesal.<br />
“Pak! Bukankah anak kita masih kecil? Tentu dia belum bisa mencari makanan sendiri,` sahut sang Ibu.<br />
<br />
“Iya, dia memang masih anak-anak. Tapi, dia yang paling banyak makannya,” bantah sang suami.<br />
<br />
Mendengar bantahan suaminya itu, sang Istri pun diam. Ia kemudian membujuk Indra agar berangkat sendiri ke Bukit Junjung Sirih untuk mencari hasil-hasil hutan di Bukit. Indra pun menuruti nasehat ibunya. Sebelum berangkat ke hutan, Indra terlebih dahulu memberi makan seekor ayam piaraannya yang bernama Taduang. Si Taduang adalah seekor ayam yang pandai. Setiap kali tuannya (si Indra) pulang dari hutan, ia selalu berkokok menyambut kedatangan tuannya.<br />
<br />
Menjelang siang, Indra pulang dari hutan tanpa membawa hasil. Keesokan harinya, ayahnya memerintahkannya pergi ke laut untuk memancing ikan. Saat Indra pergi ke laut, ayah dan ibunya hanya tidur-tiduran di gubuk. Tampaknya, mereka benar-benar sudah putus asa menghadapi kesulitan hidup. Keadaan demikian berlangsung selama sebulan, sehingga Indra merasa tubuhnya sangat lelah dan berniat untuk beristirahat beberapa hari.<br />
<br />
Pada suatu hari, sepulang dari laut mencari ikan, Indra berkata kepada ayahnya:<br />
<br />
“Ayah! Badanku terasa sangat letih. Bolehkah saya beristirahat untuk beberapa hari?” pinta Indra.<br />
<br />
“Apa katamu? Dasar anak malas! Kamu tidak boleh beristirahat. Besok kamu harus tetap kembali ke laut mencari ikan,” ujar sang Ayah.<br />
<br />
Oleh karena tidak ingin membatah perintah ayahnya, keesokan harinya Indra pergi ke laut mencari ikan. Ketika Indra berangkat ke laut, secara diam-diam ibunya juga berangkat ke laut. Tapi, ia menuju ke sebuah tanjung, agak jauh dari tempat Indra mencari ikan. Sementara ayahnya pergi ke hutan.<br />
<br />
Menjelang siang, Pak Buyung kembali dari hutan dengan membawa seikat ijuk. Sesampainya di rumah, ia melihat istrinya sedang membersihkan pensi (sejenis kerang berukuran kecil).<br />
<br />
“Sedang apa, Bu?” tanya Pak Buyung kepada istrinya.<br />
<br />
“Sedang membersihkan pensi, Pak! Tadi ketika hendak mencari ikan di laut, aku melihat banyak warga dari kampung tetangga sedang mencari pensi. Akhirnya aku pun ikut mencari pensi bersama mereka,” jawab istrinya.<br />
<br />
“Bagaimana cara memasaknya? Bukankah Ibu belum pernah memasak pensi sebelumnya? ” tanya Pak Buyung.<br />
<br />
“Tenang, Pak! Kata seorang warga dari kampung tetangga, daging pensi enak jika dimasak pangek[1],” jelas istrinya.<br />
<br />
“Wah, kalau begitu, kita makan enak siang ini,” ucap Pak Buyung sambil mengusap-usap perutnya yang sudah keroncongan.<br />
<br />
Setelah membersihkan pensi itu, sang Istri pun segera membuatkan bumbu dan memasaknya. Tak lama kemudian, aroma masakan pangek pun tercium oleh Pak Buyung.<br />
<br />
“Wah, harum sekali aromanya. Istriku memang pintar memasak,” puji Pak Buyung seraya mendekati istrinya yang sedang masak di dapur.<br />
<br />
“Bu, apakah pangek ini cukup kita makan bertiga?” tanya Pak Buyung.<br />
<br />
“Tentu saja cukup,” jawab istrinya.<br />
<br />
“Apakah Ibu sudah lupa kalau si Indra makannya banyak? Pangek ini pasti tidak cukup dia makan sendiri,” kata Pak Buyung.<br />
<br />
`Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan, Pak?” tanya istrinya.<br />
<br />
“Bagaimana kalau kita makan diam-diam, selagi si Indra masih berada di laut,” saran Pak Buyung.<br />
<br />
“Tapi, sebentar lagi dia pulang,” kata istrinya.<br />
<br />
“Kalau dia pulang, pasti akan ketahuan.,” ucap Pak Buyung.<br />
<br />
“Bagaimana Bapak bisa mengetahuinya!” tanya istrinya.<br />
<br />
“Jika si Taduang berkokok, berarti si Indra telah pulang,” jawab Pak Buyung.<br />
<br />
Sang Istri pun mengangguk-angguk mendengar jawaban suaminya. Keduanya pun menyantap pangek itu dengan lahapnya. Namun, baru makan beberapa suap, tiba-tiba ayam peliharaan Indra berkokok. Mendengar kokok ayam itu, kedua suami-istri itu segera mencuci tangan, lalu membereskan makanan dan menyembunyikannya di bawah tempat tidur. Ketika Indra masuk ke gubuk, ia melihat kedua orangtuanya sedang duduk-duduk bersantai. Kedua orangtuanya terlihat tenang, seakan-akan tidak ada sesuatu yang terjadi.<br />
<br />
“Hei, Indra! Mana ikan yang kamu peroleh?” tanya ayahnya.<br />
<br />
“Maaf, Ayah! Hari ini aku tidak memperoleh ikan?” jawab Indra dengan wajah kusut.<br />
<br />
“Kenapa kamu pulang kalau belum memperoleh ikan?” tanya ayahnya.<br />
<br />
“Maaf, Ayah! Saya sangat letih dan lapar,” jawab Indra.<br />
<br />
“Hei, apa yang bisa kamu makan kalau tidak memperoleh ikan?” sang Ayah kembali bertanya.<br />
<br />
“Saya sudah berusaha, Ayah. Tapi belum berhasil,” jawab Indra.<br />
<br />
“Ayah, Ibu! Adakah sesuatu yang bisa saya makan. Sekedar pengganjal perut,” pinta Indra kepada kedua orangtuanya.<br />
<br />
“Tidak! Hari ini tidak ada makanan untuk anak pemalas,” kata ayahnya.<br />
<br />
“Tapi, Ayah! Saya lapar sekali,” keluh Indra sambil memegang perutnya.<br />
<br />
“Baiklah! Kamu boleh makan, tapi kamu harus mencuci ijuk ini sampai bersih,” sahut ibunya sambil menyerahkan ijuk yang tadi dibawa suaminya dari hutan.<br />
<br />
Indra pun segera pergi ke laut mencuci ijuk itu karena ingin mendapatkan makanan dari kedua orangtuanya. Ketika Indra berangkat ke laut, kedua orangtuanya kembali melanjutkan acara makan mereka.<br />
<br />
“Wah, meskipun baru kali ini Ibu memasak pangek pensi, tapi rasanya lezat sekali,” sanjung Pak Buyung kepada istrinya.<br />
<br />
Sang Istri tersenyum mendengar sanjungan suaminya. Kemudian sepasang suami istri itu makan pangek dengan lahapnya. Mereka baru berhenti makan setelah perut mereka benar-benar sudah penuh. Selesai makan, mereka kembali menyembunyikan makanan yang masih tersisa di bawah tempat tidur. Tidak beberapa lama kemudian, si Taduang terdengar berkokok, pertanda tuannya telah kembali dari laut. Ketika masuk ke dalam gubuk, Indra melihat kedua orangtuanya masih sedang duduk bersantai.<br />
<br />
“Bagaimana? Apakah ijuk itu sudah bersih kamu cuci?” tanya ibunya.<br />
<br />
“Sudah, Bu,” jawab Indra sambil meletakkan ijuk itu di depan ibunya.<br />
<br />
“Hah! Kenapa masih hitam begini? Kamu harus mencucinya hingga berwarna putih,” ujar ibunya.<br />
<br />
“Tapi, Bu! Aku sudah berusaha mencucinya berkali-kali, bahkan aku menggosoknya dengan campuran pasir, tapi masih tetap berwarna hitam,” sanggah Indra.<br />
<br />
“Ah, alasan saja! Cuci lagi ijuk itu ke laut!” seru ayahnya.<br />
<br />
Dengan langkah sempoyongan, Indra pun kembali ke laut. Sesampainya di laut, ia terus berusaha mencuci dan menggosok ijuk itu hingga berkali-kali, tetapi tetap saja berwarna hitam. Rupanya Indra yang masih anak-anak tidak mengetahui jika ijuk itu memang pada dasarnya berwarna hitam. Meskipun ijuk itu berkali-kali dicuci dan digosok, tentu tidak akan pernah berwarna putih.<br />
<br />
Menjelang senja, Indra kembali ke gubuknya. Ketika masuk ke ruang tengah gubuknya, ia tidak lagi melihat kedua orangtuanya duduk-duduk. Dengan pelan-pelan, ia melangkah menuju ke ruang dapur. Betapa terkejutnya ia ketika melihat kedua orangtuanya sedang tertidur pulas di ruang dapur. Di sekeliling mereka berserakan piring makan, bakul nasi, dan panci pangek pensi yang telah kosong. Hanya kuah dengan beberapa cuil daging pensi yang tersisa.<br />
<br />
Alangkah sedihnya hati Indra menyaksikan semua itu. Kini ia menyadari bahwa kedua orangtuanya telah menipu dan membohonginya. Namun, sebagai anak yang berbakti, dia tidak ingin marah kepada mereka yang telah melahirkannya. Ia pun berjalan keluar dari gubuknya sambil mengusap air mata yang menetes di pipinya. Saat berada di luar gubuk, ia langsung menangkap ayam kesayangannya, si Taduang. Kemudian ia duduk di atas batu di samping gubuknya sambil mengusab-usap bulu si Taduang.<br />
<br />
“Taduang! Rupanya Ayah dan Ibuku telah menipuku. Untuk apalagi aku tinggal bersama mereka di sini, kalau mereka sudah tidak menyayangiku lagi,” kata Indra kepada ayamnya.<br />
<br />
Mendengar pernyataan Indra, ayam itu pun berkokok berkali-kali, pertanda bahwa ia mengerti perasaan tuannya. Si Taduang kemudian mengepak-ngepakkan sayapnya. Indra pun mengerti bahwa ayam kesayangannya itu akan mengajaknya pergi meninggalkan kampung itu. Dengan cepat, Indra pun segera berpegangan pada kaki si Taduang. Beberapa saat kemudian, si Taduang terbang ke udara, sementara Indra tetap berpegangan pada kakinya. Saat tubuh Indra terangkat, batu tempat Indra duduk itu juga ikut terangkat. Anehnya, semakin tinggi mereka terbang, batu itu semakin membesar. Akhirnya, si Taduang pun sudah tidak kuat lagi membawa terbang si Indra bersama batu besar itu. Melihat hal itu, Indra pun segera menyentakkan kakinya, sehingga batu besar itu melesat menuju ke bumi dan menghantam salah satu bukit yang ada di sekitar lautan. Hantaman batu itu membentuk sebuah lubang memanjang. Dengan cepat, air laut pun mengalir ke arah lubang itu dan menembus bukit, sehingga membentuk aliran sungai.<br />
<br />
Konon, itulah yang menjadi asal mula Sungai Batang Ombilin, yang bermuara ke daerah Riau. Semakin lama air laut itu semakin menyusut, sehingga lautan itu berubah menjadi Danau Singkarak yang hingga kini menjadi kebanggaan masyarakat Solok. Sementara Indra yang diterbangkan oleh ayam kesayangannya, si Taduang, hingga kini tidak diketahui keberadaannya.<br />
<br />
* * *<br />
<br />
Demikian cerita Asal Mula Sungai Ombilin dan Danau Singkarak dari daerah Sumatra Barat, Indonesia. Cerita di atas termasuk kategori legenda yang mengandung pesan-pesan moral. Salah satu pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah akibat buruk dari sifat suka mementingkan diri sendiri. Sifat ini tercermin pada sikap dan perilaku Pak Bujang bersama istrinya yang lebih mementingkan diri mereka sendiri dan melalaikan anak mereka yang sedang kelaparan. Akibatnya, mereka pun ditinggal pergi oleh anaknya ( Sumbaer: dari Berbagai Sumber)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[CINDAKU (Legenda Manusia Harimau dari Kerinci)]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-CINDAKU-Legenda-Manusia-Harimau-dari-Kerinci</link>
			<pubDate>Thu, 17 Nov 2011 02:58:20 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-CINDAKU-Legenda-Manusia-Harimau-dari-Kerinci</guid>
			<description><![CDATA[<img src="http://i44.tinypic.com/e65zrs.jpg" border="0" alt="[Image: e65zrs.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<br />
Cindaku adalah sebutan untuk manusia harimau yang berasal dari daerah Kerinci, Jambi. Menurut kepercayaan masyarakat Kerinci, manusia memiliki hubungan batin dengan harimau.<br />
<br />
“bahwasanya di bumi sakti ini tumbuh suatu kepercayaan magis spritual tentang hubungan bathin manusia dengan harimau, sehingganya kemudian tidak mengherankan di tengah masyarakat Kerinci ada pula yang berkeyakinan kalau nenek moyang mereka adalah harimau.”<br />
<br />
Kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Kerinci tentang harimau merupakan warisan dari nenek moyang mereka yang konon telah berperan serta dalam melestarikan hutan di wilayah Kerinci yang merupakan habitat asli dari harimau Sumatra. Diceritakan dalam cerpen Cindaku tentang adanya perjanjian yang dilakukan oleh nenek moyang mereka yang disebut Tingkas, dengan harimau yang tinggal di suatu hutan di wilayah Kerinci. Perjanjian tersebut berisi tentang pembagian wilayah, antara wilayah hunian harimau dan wilayah manusia.<br />
<br />
“Ini tidak terlepas dari legenda yang berkembang di mana di sebutkan dahulu Tingkas nenek moyang orang Kerinci telah menjalin hubungan dengan harimau, dan dalam hubungan itulah terbentuk perjanjian yang membatasi dan mengatur hubungan manusia dengan alam terutama hutan rimba. Perjanjian itulah yang mengontrol nafsu masing-masingnya sehingga tidak sampai memakan wilayah satu sama lainnya. Hutan rimba adalah wilayah hunian harimau. Tingkas dan anak cucunya tidak boleh merampas hak itu. Sementara kampung dan kota adalah wilayah manusia, harimau pun tidak akan pernah berani berkuasa atau menunjukkan kebuasannya di sini."<br />
<br />
Perjanjian tersebut merupakan suatu penggambaran sifat manusia yang mau menghargai kehidupan sesama makhluk ciptaan Tuhan. Hal tersebut dapat pula dihubungkan dengan kearifan lokal atau local wisdom, dimana suatu masyarakat mampu menyerap pesan-pesan yang disampaikan oleh para nenek moyang melalui cerita-cerita atau dongeng-dongeng yang bersifat peringatan maupun pendidikan. Dalam kasus ini, pesan yang disampaikan adalah sebuah peringatan tentang adanya pembagian antara wilayah harimau dan wilayah manusia yang harus dihormati keberadaannya. Kearifan lokal itu sampai saat ini masih dipegang teguh oleh masyarakat Kerinci. Selain sebagai suatu penghargaan terhadap nenek moyang, tetap dipegangteguhnya warisan nenek moyang tersebut berhubungan dengan konsekuensi yang berat terhadap orang yang berani melanggarnya. Konsekuensi yang dimaksud dapat berhubungan dengan kematian yang disebabkan oleh serangan harimau, juga dihubungkan dengan kemunculan cindaku yang merupakan pelindung bagi harimau sekaligus penjaga wilayah hunianya.<br />
<br />
Sumber:http://iamisvamvire.blogspot.com/]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<img src="http://i44.tinypic.com/e65zrs.jpg" border="0" alt="[Image: e65zrs.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<br />
Cindaku adalah sebutan untuk manusia harimau yang berasal dari daerah Kerinci, Jambi. Menurut kepercayaan masyarakat Kerinci, manusia memiliki hubungan batin dengan harimau.<br />
<br />
“bahwasanya di bumi sakti ini tumbuh suatu kepercayaan magis spritual tentang hubungan bathin manusia dengan harimau, sehingganya kemudian tidak mengherankan di tengah masyarakat Kerinci ada pula yang berkeyakinan kalau nenek moyang mereka adalah harimau.”<br />
<br />
Kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Kerinci tentang harimau merupakan warisan dari nenek moyang mereka yang konon telah berperan serta dalam melestarikan hutan di wilayah Kerinci yang merupakan habitat asli dari harimau Sumatra. Diceritakan dalam cerpen Cindaku tentang adanya perjanjian yang dilakukan oleh nenek moyang mereka yang disebut Tingkas, dengan harimau yang tinggal di suatu hutan di wilayah Kerinci. Perjanjian tersebut berisi tentang pembagian wilayah, antara wilayah hunian harimau dan wilayah manusia.<br />
<br />
“Ini tidak terlepas dari legenda yang berkembang di mana di sebutkan dahulu Tingkas nenek moyang orang Kerinci telah menjalin hubungan dengan harimau, dan dalam hubungan itulah terbentuk perjanjian yang membatasi dan mengatur hubungan manusia dengan alam terutama hutan rimba. Perjanjian itulah yang mengontrol nafsu masing-masingnya sehingga tidak sampai memakan wilayah satu sama lainnya. Hutan rimba adalah wilayah hunian harimau. Tingkas dan anak cucunya tidak boleh merampas hak itu. Sementara kampung dan kota adalah wilayah manusia, harimau pun tidak akan pernah berani berkuasa atau menunjukkan kebuasannya di sini."<br />
<br />
Perjanjian tersebut merupakan suatu penggambaran sifat manusia yang mau menghargai kehidupan sesama makhluk ciptaan Tuhan. Hal tersebut dapat pula dihubungkan dengan kearifan lokal atau local wisdom, dimana suatu masyarakat mampu menyerap pesan-pesan yang disampaikan oleh para nenek moyang melalui cerita-cerita atau dongeng-dongeng yang bersifat peringatan maupun pendidikan. Dalam kasus ini, pesan yang disampaikan adalah sebuah peringatan tentang adanya pembagian antara wilayah harimau dan wilayah manusia yang harus dihormati keberadaannya. Kearifan lokal itu sampai saat ini masih dipegang teguh oleh masyarakat Kerinci. Selain sebagai suatu penghargaan terhadap nenek moyang, tetap dipegangteguhnya warisan nenek moyang tersebut berhubungan dengan konsekuensi yang berat terhadap orang yang berani melanggarnya. Konsekuensi yang dimaksud dapat berhubungan dengan kematian yang disebabkan oleh serangan harimau, juga dihubungkan dengan kemunculan cindaku yang merupakan pelindung bagi harimau sekaligus penjaga wilayah hunianya.<br />
<br />
Sumber:http://iamisvamvire.blogspot.com/]]></content:encoded>
		</item>
	</channel>
</rss>