<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
	<channel>
		<title><![CDATA[Minang Forum - Hobi Lainnya]]></title>
		<link>http://www.minangforum.com/</link>
		<description><![CDATA[Minang Forum - http://www.minangforum.com]]></description>
		<pubDate>Wed, 19 Jun 2013 05:40:54 +0000</pubDate>
		<generator>MyBB</generator>
		<item>
			<title><![CDATA[4 Hari 3 Malam Keliling Sumatera Barat]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-4-Hari-3-Malam-Keliling-Sumatera-Barat</link>
			<pubDate>Wed, 12 Dec 2012 03:25:43 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-4-Hari-3-Malam-Keliling-Sumatera-Barat</guid>
			<description><![CDATA[<a href="http://1.bp.blogspot.com/-tiUYpZhQ5HA/ULdvB0Xs8rI/AAAAAAAAA9Y/fhZfu38HGVk/s1600/P1060652.JPG" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://1.bp.blogspot.com/-tiUYpZhQ5HA/ULdvB0Xs8rI/AAAAAAAAA9Y/fhZfu38HGVk/s400/P1060652.JPG" border="0" alt="[Image: P1060652.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
Jam Gadang, Simbol Bukit Tinggi<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Sumatera Barat? Apa yang terpikirkan mendengar propinsi ini? Pasti <br />
kebanyakan orang akan mengasosiasikan dengan ibukotanya, yaitu Padang. <br />
Tapi, Sumatera Barat tidak hanya Padang lho, dan pengalaman saya <br />
mengelilingi berbagai daerah di Sumatera Barat membuka mata saya lebih <br />
lebar akan indahnya propinsi ini. 4 hari 3 malam saya rasa cukup <br />
memuaskan mata saya akan keindahan alam propinsi ini.<br />
<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Hari pertama</span><br />
<br />
<br />
Pesawat yang membawa saya take off jam 6 pagi dari Bandara Soekarno <br />
Hatta tiba di Bandara Internasional Minangkabau sekitar pukul setengah 8<br />
pagi. Agar lebih leluasa keliling Sumbar, lebih enak menyewa mobil <br />
saja, sewanya pun tidak terlalu mahal. Satu hari plus supir hanya 350 <br />
ribu rupiah (tanpa bensin).<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<a href="http://4.bp.blogspot.com/-OOQ17a2XgW4/ULdehIjZ48I/AAAAAAAAA7M/BnT3nrBi5A0/s1600/P1060603.JPG" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://4.bp.blogspot.com/-OOQ17a2XgW4/ULdehIjZ48I/AAAAAAAAA7M/BnT3nrBi5A0/s400/P1060603.JPG" border="0" alt="[Image: P1060603.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
Lembah Anai<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Keluar bandara, kita akan disambut oleh hijaunya Bukit Barisan. Karena <br />
malam pertama kami akan menginap di Bukit Tinggi, jadi kami akan <br />
mengunjungi tempat wisata yang searah dengan perjalanan ke Bukit <br />
Tinggi. Perjalanan ke Bukit Tinggi sendiri adalah sekitar 2 jam. Tidak <br />
jauh dari Padang, sampailah di daerah <span style="font-weight: bold;">Padang Pariaman</span>. Karena belum makan pagi, kami singgah dulu di <span style="font-weight: bold;">Restoran Lamun Ombak</span>.<br />
Masakan Padang di tempat ini enak, dan yang jelas tidak mahal padahal<br />
kita makan segala macam, very recommended! Kenyang makan pagi, <br />
perjalanan dilanjutkan ke <span style="font-weight: bold;">Lembah Anai</span>. Air terjun ini <br />
terletak di pinggir jalan dan kalau kita akan ke Bukit Tinggi dari <br />
Padang, pasti akan melalui tempat ini. Walaupun tidak terlalu tinggi, <br />
tapi air terjun ini selalu menjadi tujuan wisata para wisatawan jika <br />
berkunjung ke Sumbar.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<a href="http://4.bp.blogspot.com/-BQfCNoemolo/ULdfhqYqaAI/AAAAAAAAA7U/rwHeOEqgf1Q/s1600/P1060617.JPG" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://4.bp.blogspot.com/-BQfCNoemolo/ULdfhqYqaAI/AAAAAAAAA7U/rwHeOEqgf1Q/s400/P1060617.JPG" border="0" alt="[Image: P1060617.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
Sate Mak Sukur<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Dari Lembah Anai, kita melewati <span style="font-weight: bold;">Sate Mak Sukur</span> di <br />
Padang Panjang. Belum ke Sumbar kalau belum makan sate ini. Sebenarnya <br />
di Jakarta juga sudah ada, tapi pastinya rasanya beda. Jauh lebih enak.<br />
Kalau di Jakarta biasanya sate langsung dihidangkan dengan dicampur <br />
kuahnya. Disini kuahnya dipisah. Dan satenya besar-besar, mantepp! <br />
Walaupun sebenarnya belum lapar, dipaksa makan saja, daripada nyesel <br />
nanti hehe.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<a href="http://2.bp.blogspot.com/-vMlTOCOWmO4/ULdhUghhieI/AAAAAAAAA7s/mxtbuu2UcOk/s1600/P1060634.JPG" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-vMlTOCOWmO4/ULdhUghhieI/AAAAAAAAA7s/mxtbuu2UcOk/s400/P1060634.JPG" border="0" alt="[Image: P1060634.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
Danau Maninjau<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Perjalanan dilanjutkan. Sebelum ke Danau Maninjau, kami mengunjungi <span style="font-weight: bold;">Pandai Sikek</span>,<br />
yaitu pusat kerajinan kain khas diantaranya songket. Letaknya sekitar <br />
10 km dari kota Bukit Tinggi. Harga satu songket bisa jutaan, wooww <br />
mahal yaa..tapi masuk akal karena proses pembuatannya juga tidak mudah.<br />
Setelah membeli beberapa titipan orang rumah, kami menuju <span style="font-weight: bold;">Danau Maninjau</span>.<br />
Untuk menuju danau Maninjau, kita melewati kelok ampek-ampek. Kenapa <br />
disebut begitu? Karena ada 44 tikungan yang akan kita lewati sebelum <br />
akhirnya sampai di danau. Tapi sayangnya karena sudah sore, kabut <br />
semakin turun jadi kami tidak bisa melihat danau dari ketinggian. Ketika<br />
akhirnya sampai di bawah pun, cuaca mendung sehingga tidak bisa <br />
melihat terlalu jelas. Saat itu seharian memang turun hujan. Sebentar <br />
berhenti, kemudian hujan lagi. Yah, maklum sudah musim hujan. Kalau <br />
lain kali cuaca bagus, kami akan menyempatkan diri ke <span style="font-weight: bold;">Puncak Lawang</span> untuk melihat Danau Maninjau dari atas.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Dari Danau Maninjau, kami menuju Bukit Tinggi untuk bermalam. Ternyata,<br />
ada jalan pintas yang lebih cepat yaitu melewati Matur, Sungai Jariang<br />
kemudian Jambak. Setelah berkunjung sebentar ke rumah kerabat dan <br />
membeli karakaliang (rasa karakaliang disini beda dengan yang dibeli di <br />
tempat lain, lebih top!!). Kita juga akan melewati <span style="font-weight: bold;">Ngarai Sianok</span>. Disini, ada satu tempat makan yang sangat terkenal, yaitu <span style="font-weight: bold;">Itiak Lado Ijo</span>.<br />
Dan benar saja, itiaknya maknyuss! Selain itiak juga banyak masakan <br />
padang lainnya, bahkan ada pete dan jengkol juga hehe. Sekitar 30 menit,<br />
sampailah kami di Bukit Tinggi dan langsung check in di <span style="font-weight: bold;">Hotel Galeri</span> yang terletak tidak jauh dari Jam Gadang. Malam harinya, setelah mandi dan istirahat, waktunya untuk melihat <span style="font-weight: bold;">Jam Gadang</span>.<br />
Sekarang kawasan jam gadang sudah lebih bagus dan lebih rapi. Di <br />
alun-alun sekitar jam gadang ini cukup ramai dan meriah pada malam <br />
hari.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<a href="http://2.bp.blogspot.com/-f2e8wUHUdtY/ULdi2MUvAyI/AAAAAAAAA70/LzhAm5aZF6o/s1600/P1060650.JPG" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-f2e8wUHUdtY/ULdi2MUvAyI/AAAAAAAAA70/LzhAm5aZF6o/s400/P1060650.JPG" border="0" alt="[Image: P1060650.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
Masakan di warung Itiak Lado Hijau<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Hari kedua</span><br />
<br />
<br />
Hari ini kami akan menuju Batu Sangkar karena akan bermalam disana. <br />
Pagi-pagi setelah sarapan sedikit di hotel, kami langsung check out. <br />
Sengaja tidak sarapan terlau banyak karena kami akan makan di tempat <br />
yang tidak boleh dilewatkan jika berkunjung ke Bukit Tinggi yaitu <span style="font-weight: bold;">Pecal Ayang</span>.<br />
Letaknya persis di jalan keluar Ngarai. Yang terkenal disini adalah <br />
bubur kampiunnya, tapi lontong sayur dan pecelnya juga enak banget. Dan <br />
yang pasti, dari pagi hari warung makan ini tidak pernah sepi dari <br />
pengunjung.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<a href="http://3.bp.blogspot.com/-3MYP6wuYAwo/ULdkxO56veI/AAAAAAAAA8I/OWDQ1HJ16jQ/s1600/P1060669.JPG" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://3.bp.blogspot.com/-3MYP6wuYAwo/ULdkxO56veI/AAAAAAAAA8I/OWDQ1HJ16jQ/s400/P1060669.JPG" border="0" alt="[Image: P1060669.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
Pecal Ayang<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Setelah makan, kami ke <span style="font-weight: bold;">Taman Panorama</span>, masih di Bukit <br />
Tinggi. Dari taman ini, kita bisa mengagumi keindahan Ngarai Sianok <br />
dari atas. Beruntungnya Indonesia diberikan keindahan alam seperti ini.<br />
Di Taman Panorama ini juga terdapat <span style="font-weight: bold;">Lubang Jepang</span>. <br />
Tiket masuknya 5000 rupiah saja. Kita bisa masuk ke dalam tanpa guide, <br />
karena dalam goa ini terdapat lampu-lampu sehingga kita tidak perlu <br />
takut tersesat. Tapi jika mau ditemani pun, ada guide yang bisa memandu <br />
kita masuk ke goa. Untuk masuk ke goa, kita akan menuruni ratusan anak<br />
tangga. Jadi, siapkan fisik yang cukup yaa, terutama ketika akan <br />
kembali naik ke atas. Lubang Jepang ini buka jam 7.30 pagi hingga 17.30 <br />
sore.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<a href="http://2.bp.blogspot.com/-fJvT83CJPiM/ULdlx6JXP7I/AAAAAAAAA8Q/gcc1LaKavbg/s1600/P1060671.JPG" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-fJvT83CJPiM/ULdlx6JXP7I/AAAAAAAAA8Q/gcc1LaKavbg/s400/P1060671.JPG" border="0" alt="[Image: P1060671.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
Ngarai Sianok<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Karena sudah lama tidak makan masakan <span style="font-weight: bold;">Uni Lis</span>, kami <br />
menyempatkan diri ke Pasar Bawah. Kalau Pasar Atas yang dijual adalah <br />
berbagai macam barang diantaranya baju, di Pasar Bawah adalah tempat <br />
dijualnya berbagai macam makanan, yang bisa dibawa untuk oleh-oleh. <br />
Berbagai keripik hingga kerupuk kulit ada disini, dan yang membuat saya<br />
senang saya menemukan orang yang menjual kacang tojin, kacang paling <br />
enak di dunia (menurut saya hehe). Kalau dipikir-pikir parah juga, <br />
setelah makan di hotel dan Ngarai, kami masih makan juga di Uni Lis. <br />
Tapi kapan lagi ya menikmati masakan Padang yang benar-benar asli. <br />
Masakan di sini memang beda dengan di Jawa, lebih terasa bumbunya.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<a href="http://4.bp.blogspot.com/-Uacxss06b1M/ULdmnDI1NWI/AAAAAAAAA8Y/mjHAbVvmfEo/s1600/P1060736.JPG" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://4.bp.blogspot.com/-Uacxss06b1M/ULdmnDI1NWI/AAAAAAAAA8Y/mjHAbVvmfEo/s400/P1060736.JPG" border="0" alt="[Image: P1060736.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
Lembah Harau dari kejauhan<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Lembah Harau</span> adalah tujuan kami berikutnya. Jaraknya <br />
sekitar 1 jam dari Bukit Tinggi. Pemandangan menuju Lembah Harau ini <br />
sangat cantik. Di kanan kiri dihiasi oleh tebing-tebing tinggi dan <br />
sawah yang hijau. Dari kejauhan, air terjun yang cukup tinggi ini sudah<br />
terlihat dengan indahnya. Saat itu hari Senin, jadi ketika kami sampai<br />
disana air terjun ini tidak terlalu ramai pengunjung. Tapi jadi enak <br />
karena kami bebas berfoto-foto. Lembah ini juga terletak di pinggir <br />
jalan. Dan betapa beruntungnya kami karena saat itu kami bisa melihat <br />
pelangi di air terjun ini <img src="http://www.minangforum.com/images/yahoo/1.gif" />. Disini banyak anak-anak yang berjualan, <br />
tapi selain itu mereka juga bisa membantu untuk mengambil gambar. <br />
Karena cukup sulit mengambil gambar agar seluruh air terjun ini bisa <br />
masuk ke dalam foto. Karena merasa terbantu walaupun tidak membeli <br />
barang dagangannya, kami memberikan sedikit uang kepada mereka.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<a href="http://4.bp.blogspot.com/-85q4u2iMacQ/ULdnplK14EI/AAAAAAAAA8g/ok7Jaih_Chk/s1600/P1060793.JPG" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://4.bp.blogspot.com/-85q4u2iMacQ/ULdnplK14EI/AAAAAAAAA8g/ok7Jaih_Chk/s400/P1060793.JPG" border="0" alt="[Image: P1060793.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
Batu Menangis di Ngalau Indah<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Sepanjang perjalanan, hujan turun dan berhenti, terus seperti itu. Di <br />
perjalanan balik dari Lembah Harau menuju Batu Sangkar, ada satu tempat<br />
yang menurut saya juga tidak boleh dilewatkan yaitu <span style="font-weight: bold;">Ngalau Indah</span>,<br />
yaitu sebuah goa yang terletak di Payakumbuh. Goa yang tidak terlalu <br />
luas ini memiliki stalaktit dan stalakmit dengan bentuk yang unik-unik <br />
dengan warnanya yang menakjubkan. Bagus banget, dan banyak bebatuan <br />
disini yang didominasi warna hijau! Di dalam goa ini juga terdapat batu<br />
yang cukup terkenal di sana, yaitu batu menangis, batunya berbentuk <br />
kepala orang yang menurut mitos bisa menangis saat-saat tertentu. <br />
Menurut saya, ini adalah salah satu goa terindah yang Indonesia miliki.<br />
<br />
<br />
Hari menjelang malam, dan sudah waktunya istirahat. Kami bermalam di <span style="font-weight: bold;">Hotel Pagaruyung 2</span>, hotel yang cukup bagus, dengan fasilitas yang juga ok di daerah Batu Sangkar. Harganya pun standar, tidak terlalu mahal.<br />
<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Hari ketiga</span><br />
<br />
<br />
Pagi-pagi setelah sarapan di hotel (menu sarapannya lontong sayur, enuaaak !!), kami pergi ke <span style="font-weight: bold;">Batu Angkek-angkek</span>,<br />
yang jaraknya hanya sekitar 10 menit dari Hotel Pagaruyung 2 ini. <br />
Mitosnya, jika kita mengucapkan basmalah, kemudian mengucapkan <br />
keinginan dalam hati, jika berhasil mengangkat batu tersebut, keinginan <br />
kita akan terkabul.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<a href="http://4.bp.blogspot.com/-m7Own0agFAo/ULdo0XLlipI/AAAAAAAAA8s/4gPjqMBxXE4/s1600/P1060812.JPG" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://4.bp.blogspot.com/-m7Own0agFAo/ULdo0XLlipI/AAAAAAAAA8s/4gPjqMBxXE4/s400/P1060812.JPG" border="0" alt="[Image: P1060812.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
Batu Angkek-angkek<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Dari sana, tujuan selanjutnya adalah <span style="font-weight: bold;">Istana Pagaruyung</span>.<br />
Saat itu masih jam 10 pagi jadi masih sepi. Ternyata istananya belum <br />
dibuka karena masih dalam tahap renovasi setelah terbakar. Tapi di <br />
bagian bawah, masih terdapat tempat penyewaan baju minang. Kita tidak <br />
dilarang untuk menggunakan kamera sendiri walaupun mereka juga akan <br />
menawarkan untuk mencetak foto dari kamera mereka. Dan memang hasilnya <br />
lebih bagus. Jadi berfotolah kami di di sekitar Istana Pagaruyung.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<a href="http://2.bp.blogspot.com/-sc-t7UVSxBk/ULdpq0nGk7I/AAAAAAAAA80/huHHQ49nz8o/s1600/P1060822.JPG" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-sc-t7UVSxBk/ULdpq0nGk7I/AAAAAAAAA80/huHHQ49nz8o/s400/P1060822.JPG" border="0" alt="[Image: P1060822.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
Istana Pagaruyung setelah renovasi<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Danau Singkarak</span> adalah danau terbesar di Sumbar, dan <br />
terkenal dengan ikan bilihnya. Rasanya emang enak. Lagi-lagi cuaca <br />
kurang mendukung karena mendung, jadinya kami tidak berlama-lama di <br />
danau ini untuk menuju tujuan selanjutnya, yaitu <span style="font-weight: bold;">Danau Atas dan Danau Bawah</span>.<br />
Tempat wisata ini memang kelihatannya tidak banyak yang berkunjung. <br />
Retribusi masuk tempat ini juga tidak dikelola dengan baik, malah <br />
sepertinya hanya masuk ke kantong orang-orang disana. Memasuki kawasan <br />
ini, udara sangat dingin, apalagi ketika sampai di Danau Atas yang <br />
letaknya malah lebih bawah. Dari Danau Atas, kemudian dilanjutkan ke <br />
Danau Bawah. Terlihat jelas tidak terawatnya tempat ini walaupun <br />
sebenarnya potensinya sangat besar, karena pemandangan dari atas sini, <br />
indah sekali!!<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<a href="http://4.bp.blogspot.com/-Kgkw1c6xgGs/ULdqwNPasUI/AAAAAAAAA88/eDObTFjSN3Q/s1600/P1060926.JPG" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://4.bp.blogspot.com/-Kgkw1c6xgGs/ULdqwNPasUI/AAAAAAAAA88/eDObTFjSN3Q/s400/P1060926.JPG" border="0" alt="[Image: P1060926.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
Danau Di Atas<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Malam ini kami bermalam di Padang, di <span style="font-weight: bold;">Hotel Sriwijaya</span>. Sebelum masuk hotel, kami makan di Soto Padang terenak yang pernah saya coba yaitu di <span style="font-weight: bold;">Simpang Karya</span> dan makan es duren <span style="font-weight: bold;">Ganti Nan Lamo</span> yang tidak kalah topnya.<br />
<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Hari keempat</span><br />
<br />
<br />
Hari ini keempat kami pergi ke Pantai Carocok, jaraknya cukup jauh dari<br />
Padang, sekitar 1,5 jam. Arahnya ke Painan dan tidak mudah <br />
mencapainya. Akhirnya sampai juga di Pantai Carocok, Tapi karena tidak <br />
punya waktu terlalu banyak, kami langsung menuju <span style="font-weight: bold;">Bukit Langkisau</span>.<br />
Menuju bukit ini, jalannya menanjak dan kecil, jadi perlu <br />
berhati-hati. Dari yang banyak saya baca, pemandangan dari Bukit <br />
Langkisau ini bagus sekali. Dan memang benar, pemandangan dari bukit <br />
ini luar biasa indahnya. Di bukit ini juga biasa dijadikan tempat untuk<br />
start paralayang.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<a href="http://3.bp.blogspot.com/-QMCMjIjMQKc/ULdr31o04DI/AAAAAAAAA9E/KW_OZDQvNuQ/s1600/P1060960.JPG" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://3.bp.blogspot.com/-QMCMjIjMQKc/ULdr31o04DI/AAAAAAAAA9E/KW_OZDQvNuQ/s400/P1060960.JPG" border="0" alt="[Image: P1060960.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
Pemandangan dari Bukit Langkisau<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Masih ada waktu, kembali ke Padang kami mampir dulu di <span style="font-weight: bold;">Pantai Air Manis</span><br />
yang terkenal dengan legenda Malin Kundang. Disini bisa kita temukan <br />
patung Malin Kundang dan bekas kapalnya. Tapi sayang sekali, tempat <br />
wisata ini benar-benar tidak diurus, jembatannya saja sudah tidak layak.<br />
Padahal para pengunjung dikenakan tiket masuk lima ribu rupiah. Saya <br />
harap Pemerintah Sumatera Barat akan lebih memperhatikan pariwisata <br />
daerah ini.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<a href="http://2.bp.blogspot.com/-sSrfDIsLfHg/ULds7TG3FYI/AAAAAAAAA9Q/384Qa31WrQ8/s1600/P1070004.JPG" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-sSrfDIsLfHg/ULds7TG3FYI/AAAAAAAAA9Q/384Qa31WrQ8/s400/P1070004.JPG" border="0" alt="[Image: P1070004.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
Pantai Air Manis<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Dari Pantai Air Manis, tiba waktunya untuk menuju airport untuk pulang.<br />
Perjalanan selama 4 hari ini cukup bagi saya untuk menikmati sebagian <br />
dari keindahan Sumatera Barat. Lain kali, insya Allah ingin berkunjung <br />
ke Pulau Sikuai yang sayangnya saat ini masih ditutup akibat sengketa.(kompasiana)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://1.bp.blogspot.com/-tiUYpZhQ5HA/ULdvB0Xs8rI/AAAAAAAAA9Y/fhZfu38HGVk/s1600/P1060652.JPG" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://1.bp.blogspot.com/-tiUYpZhQ5HA/ULdvB0Xs8rI/AAAAAAAAA9Y/fhZfu38HGVk/s400/P1060652.JPG" border="0" alt="[Image: P1060652.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
Jam Gadang, Simbol Bukit Tinggi<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Sumatera Barat? Apa yang terpikirkan mendengar propinsi ini? Pasti <br />
kebanyakan orang akan mengasosiasikan dengan ibukotanya, yaitu Padang. <br />
Tapi, Sumatera Barat tidak hanya Padang lho, dan pengalaman saya <br />
mengelilingi berbagai daerah di Sumatera Barat membuka mata saya lebih <br />
lebar akan indahnya propinsi ini. 4 hari 3 malam saya rasa cukup <br />
memuaskan mata saya akan keindahan alam propinsi ini.<br />
<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Hari pertama</span><br />
<br />
<br />
Pesawat yang membawa saya take off jam 6 pagi dari Bandara Soekarno <br />
Hatta tiba di Bandara Internasional Minangkabau sekitar pukul setengah 8<br />
pagi. Agar lebih leluasa keliling Sumbar, lebih enak menyewa mobil <br />
saja, sewanya pun tidak terlalu mahal. Satu hari plus supir hanya 350 <br />
ribu rupiah (tanpa bensin).<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<a href="http://4.bp.blogspot.com/-OOQ17a2XgW4/ULdehIjZ48I/AAAAAAAAA7M/BnT3nrBi5A0/s1600/P1060603.JPG" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://4.bp.blogspot.com/-OOQ17a2XgW4/ULdehIjZ48I/AAAAAAAAA7M/BnT3nrBi5A0/s400/P1060603.JPG" border="0" alt="[Image: P1060603.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
Lembah Anai<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Keluar bandara, kita akan disambut oleh hijaunya Bukit Barisan. Karena <br />
malam pertama kami akan menginap di Bukit Tinggi, jadi kami akan <br />
mengunjungi tempat wisata yang searah dengan perjalanan ke Bukit <br />
Tinggi. Perjalanan ke Bukit Tinggi sendiri adalah sekitar 2 jam. Tidak <br />
jauh dari Padang, sampailah di daerah <span style="font-weight: bold;">Padang Pariaman</span>. Karena belum makan pagi, kami singgah dulu di <span style="font-weight: bold;">Restoran Lamun Ombak</span>.<br />
Masakan Padang di tempat ini enak, dan yang jelas tidak mahal padahal<br />
kita makan segala macam, very recommended! Kenyang makan pagi, <br />
perjalanan dilanjutkan ke <span style="font-weight: bold;">Lembah Anai</span>. Air terjun ini <br />
terletak di pinggir jalan dan kalau kita akan ke Bukit Tinggi dari <br />
Padang, pasti akan melalui tempat ini. Walaupun tidak terlalu tinggi, <br />
tapi air terjun ini selalu menjadi tujuan wisata para wisatawan jika <br />
berkunjung ke Sumbar.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<a href="http://4.bp.blogspot.com/-BQfCNoemolo/ULdfhqYqaAI/AAAAAAAAA7U/rwHeOEqgf1Q/s1600/P1060617.JPG" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://4.bp.blogspot.com/-BQfCNoemolo/ULdfhqYqaAI/AAAAAAAAA7U/rwHeOEqgf1Q/s400/P1060617.JPG" border="0" alt="[Image: P1060617.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
Sate Mak Sukur<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Dari Lembah Anai, kita melewati <span style="font-weight: bold;">Sate Mak Sukur</span> di <br />
Padang Panjang. Belum ke Sumbar kalau belum makan sate ini. Sebenarnya <br />
di Jakarta juga sudah ada, tapi pastinya rasanya beda. Jauh lebih enak.<br />
Kalau di Jakarta biasanya sate langsung dihidangkan dengan dicampur <br />
kuahnya. Disini kuahnya dipisah. Dan satenya besar-besar, mantepp! <br />
Walaupun sebenarnya belum lapar, dipaksa makan saja, daripada nyesel <br />
nanti hehe.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<a href="http://2.bp.blogspot.com/-vMlTOCOWmO4/ULdhUghhieI/AAAAAAAAA7s/mxtbuu2UcOk/s1600/P1060634.JPG" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-vMlTOCOWmO4/ULdhUghhieI/AAAAAAAAA7s/mxtbuu2UcOk/s400/P1060634.JPG" border="0" alt="[Image: P1060634.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
Danau Maninjau<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Perjalanan dilanjutkan. Sebelum ke Danau Maninjau, kami mengunjungi <span style="font-weight: bold;">Pandai Sikek</span>,<br />
yaitu pusat kerajinan kain khas diantaranya songket. Letaknya sekitar <br />
10 km dari kota Bukit Tinggi. Harga satu songket bisa jutaan, wooww <br />
mahal yaa..tapi masuk akal karena proses pembuatannya juga tidak mudah.<br />
Setelah membeli beberapa titipan orang rumah, kami menuju <span style="font-weight: bold;">Danau Maninjau</span>.<br />
Untuk menuju danau Maninjau, kita melewati kelok ampek-ampek. Kenapa <br />
disebut begitu? Karena ada 44 tikungan yang akan kita lewati sebelum <br />
akhirnya sampai di danau. Tapi sayangnya karena sudah sore, kabut <br />
semakin turun jadi kami tidak bisa melihat danau dari ketinggian. Ketika<br />
akhirnya sampai di bawah pun, cuaca mendung sehingga tidak bisa <br />
melihat terlalu jelas. Saat itu seharian memang turun hujan. Sebentar <br />
berhenti, kemudian hujan lagi. Yah, maklum sudah musim hujan. Kalau <br />
lain kali cuaca bagus, kami akan menyempatkan diri ke <span style="font-weight: bold;">Puncak Lawang</span> untuk melihat Danau Maninjau dari atas.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Dari Danau Maninjau, kami menuju Bukit Tinggi untuk bermalam. Ternyata,<br />
ada jalan pintas yang lebih cepat yaitu melewati Matur, Sungai Jariang<br />
kemudian Jambak. Setelah berkunjung sebentar ke rumah kerabat dan <br />
membeli karakaliang (rasa karakaliang disini beda dengan yang dibeli di <br />
tempat lain, lebih top!!). Kita juga akan melewati <span style="font-weight: bold;">Ngarai Sianok</span>. Disini, ada satu tempat makan yang sangat terkenal, yaitu <span style="font-weight: bold;">Itiak Lado Ijo</span>.<br />
Dan benar saja, itiaknya maknyuss! Selain itiak juga banyak masakan <br />
padang lainnya, bahkan ada pete dan jengkol juga hehe. Sekitar 30 menit,<br />
sampailah kami di Bukit Tinggi dan langsung check in di <span style="font-weight: bold;">Hotel Galeri</span> yang terletak tidak jauh dari Jam Gadang. Malam harinya, setelah mandi dan istirahat, waktunya untuk melihat <span style="font-weight: bold;">Jam Gadang</span>.<br />
Sekarang kawasan jam gadang sudah lebih bagus dan lebih rapi. Di <br />
alun-alun sekitar jam gadang ini cukup ramai dan meriah pada malam <br />
hari.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<a href="http://2.bp.blogspot.com/-f2e8wUHUdtY/ULdi2MUvAyI/AAAAAAAAA70/LzhAm5aZF6o/s1600/P1060650.JPG" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-f2e8wUHUdtY/ULdi2MUvAyI/AAAAAAAAA70/LzhAm5aZF6o/s400/P1060650.JPG" border="0" alt="[Image: P1060650.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
Masakan di warung Itiak Lado Hijau<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Hari kedua</span><br />
<br />
<br />
Hari ini kami akan menuju Batu Sangkar karena akan bermalam disana. <br />
Pagi-pagi setelah sarapan sedikit di hotel, kami langsung check out. <br />
Sengaja tidak sarapan terlau banyak karena kami akan makan di tempat <br />
yang tidak boleh dilewatkan jika berkunjung ke Bukit Tinggi yaitu <span style="font-weight: bold;">Pecal Ayang</span>.<br />
Letaknya persis di jalan keluar Ngarai. Yang terkenal disini adalah <br />
bubur kampiunnya, tapi lontong sayur dan pecelnya juga enak banget. Dan <br />
yang pasti, dari pagi hari warung makan ini tidak pernah sepi dari <br />
pengunjung.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<a href="http://3.bp.blogspot.com/-3MYP6wuYAwo/ULdkxO56veI/AAAAAAAAA8I/OWDQ1HJ16jQ/s1600/P1060669.JPG" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://3.bp.blogspot.com/-3MYP6wuYAwo/ULdkxO56veI/AAAAAAAAA8I/OWDQ1HJ16jQ/s400/P1060669.JPG" border="0" alt="[Image: P1060669.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
Pecal Ayang<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Setelah makan, kami ke <span style="font-weight: bold;">Taman Panorama</span>, masih di Bukit <br />
Tinggi. Dari taman ini, kita bisa mengagumi keindahan Ngarai Sianok <br />
dari atas. Beruntungnya Indonesia diberikan keindahan alam seperti ini.<br />
Di Taman Panorama ini juga terdapat <span style="font-weight: bold;">Lubang Jepang</span>. <br />
Tiket masuknya 5000 rupiah saja. Kita bisa masuk ke dalam tanpa guide, <br />
karena dalam goa ini terdapat lampu-lampu sehingga kita tidak perlu <br />
takut tersesat. Tapi jika mau ditemani pun, ada guide yang bisa memandu <br />
kita masuk ke goa. Untuk masuk ke goa, kita akan menuruni ratusan anak<br />
tangga. Jadi, siapkan fisik yang cukup yaa, terutama ketika akan <br />
kembali naik ke atas. Lubang Jepang ini buka jam 7.30 pagi hingga 17.30 <br />
sore.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<a href="http://2.bp.blogspot.com/-fJvT83CJPiM/ULdlx6JXP7I/AAAAAAAAA8Q/gcc1LaKavbg/s1600/P1060671.JPG" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-fJvT83CJPiM/ULdlx6JXP7I/AAAAAAAAA8Q/gcc1LaKavbg/s400/P1060671.JPG" border="0" alt="[Image: P1060671.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
Ngarai Sianok<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Karena sudah lama tidak makan masakan <span style="font-weight: bold;">Uni Lis</span>, kami <br />
menyempatkan diri ke Pasar Bawah. Kalau Pasar Atas yang dijual adalah <br />
berbagai macam barang diantaranya baju, di Pasar Bawah adalah tempat <br />
dijualnya berbagai macam makanan, yang bisa dibawa untuk oleh-oleh. <br />
Berbagai keripik hingga kerupuk kulit ada disini, dan yang membuat saya<br />
senang saya menemukan orang yang menjual kacang tojin, kacang paling <br />
enak di dunia (menurut saya hehe). Kalau dipikir-pikir parah juga, <br />
setelah makan di hotel dan Ngarai, kami masih makan juga di Uni Lis. <br />
Tapi kapan lagi ya menikmati masakan Padang yang benar-benar asli. <br />
Masakan di sini memang beda dengan di Jawa, lebih terasa bumbunya.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<a href="http://4.bp.blogspot.com/-Uacxss06b1M/ULdmnDI1NWI/AAAAAAAAA8Y/mjHAbVvmfEo/s1600/P1060736.JPG" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://4.bp.blogspot.com/-Uacxss06b1M/ULdmnDI1NWI/AAAAAAAAA8Y/mjHAbVvmfEo/s400/P1060736.JPG" border="0" alt="[Image: P1060736.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
Lembah Harau dari kejauhan<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Lembah Harau</span> adalah tujuan kami berikutnya. Jaraknya <br />
sekitar 1 jam dari Bukit Tinggi. Pemandangan menuju Lembah Harau ini <br />
sangat cantik. Di kanan kiri dihiasi oleh tebing-tebing tinggi dan <br />
sawah yang hijau. Dari kejauhan, air terjun yang cukup tinggi ini sudah<br />
terlihat dengan indahnya. Saat itu hari Senin, jadi ketika kami sampai<br />
disana air terjun ini tidak terlalu ramai pengunjung. Tapi jadi enak <br />
karena kami bebas berfoto-foto. Lembah ini juga terletak di pinggir <br />
jalan. Dan betapa beruntungnya kami karena saat itu kami bisa melihat <br />
pelangi di air terjun ini <img src="http://www.minangforum.com/images/yahoo/1.gif" />. Disini banyak anak-anak yang berjualan, <br />
tapi selain itu mereka juga bisa membantu untuk mengambil gambar. <br />
Karena cukup sulit mengambil gambar agar seluruh air terjun ini bisa <br />
masuk ke dalam foto. Karena merasa terbantu walaupun tidak membeli <br />
barang dagangannya, kami memberikan sedikit uang kepada mereka.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<a href="http://4.bp.blogspot.com/-85q4u2iMacQ/ULdnplK14EI/AAAAAAAAA8g/ok7Jaih_Chk/s1600/P1060793.JPG" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://4.bp.blogspot.com/-85q4u2iMacQ/ULdnplK14EI/AAAAAAAAA8g/ok7Jaih_Chk/s400/P1060793.JPG" border="0" alt="[Image: P1060793.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
Batu Menangis di Ngalau Indah<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Sepanjang perjalanan, hujan turun dan berhenti, terus seperti itu. Di <br />
perjalanan balik dari Lembah Harau menuju Batu Sangkar, ada satu tempat<br />
yang menurut saya juga tidak boleh dilewatkan yaitu <span style="font-weight: bold;">Ngalau Indah</span>,<br />
yaitu sebuah goa yang terletak di Payakumbuh. Goa yang tidak terlalu <br />
luas ini memiliki stalaktit dan stalakmit dengan bentuk yang unik-unik <br />
dengan warnanya yang menakjubkan. Bagus banget, dan banyak bebatuan <br />
disini yang didominasi warna hijau! Di dalam goa ini juga terdapat batu<br />
yang cukup terkenal di sana, yaitu batu menangis, batunya berbentuk <br />
kepala orang yang menurut mitos bisa menangis saat-saat tertentu. <br />
Menurut saya, ini adalah salah satu goa terindah yang Indonesia miliki.<br />
<br />
<br />
Hari menjelang malam, dan sudah waktunya istirahat. Kami bermalam di <span style="font-weight: bold;">Hotel Pagaruyung 2</span>, hotel yang cukup bagus, dengan fasilitas yang juga ok di daerah Batu Sangkar. Harganya pun standar, tidak terlalu mahal.<br />
<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Hari ketiga</span><br />
<br />
<br />
Pagi-pagi setelah sarapan di hotel (menu sarapannya lontong sayur, enuaaak !!), kami pergi ke <span style="font-weight: bold;">Batu Angkek-angkek</span>,<br />
yang jaraknya hanya sekitar 10 menit dari Hotel Pagaruyung 2 ini. <br />
Mitosnya, jika kita mengucapkan basmalah, kemudian mengucapkan <br />
keinginan dalam hati, jika berhasil mengangkat batu tersebut, keinginan <br />
kita akan terkabul.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<a href="http://4.bp.blogspot.com/-m7Own0agFAo/ULdo0XLlipI/AAAAAAAAA8s/4gPjqMBxXE4/s1600/P1060812.JPG" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://4.bp.blogspot.com/-m7Own0agFAo/ULdo0XLlipI/AAAAAAAAA8s/4gPjqMBxXE4/s400/P1060812.JPG" border="0" alt="[Image: P1060812.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
Batu Angkek-angkek<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Dari sana, tujuan selanjutnya adalah <span style="font-weight: bold;">Istana Pagaruyung</span>.<br />
Saat itu masih jam 10 pagi jadi masih sepi. Ternyata istananya belum <br />
dibuka karena masih dalam tahap renovasi setelah terbakar. Tapi di <br />
bagian bawah, masih terdapat tempat penyewaan baju minang. Kita tidak <br />
dilarang untuk menggunakan kamera sendiri walaupun mereka juga akan <br />
menawarkan untuk mencetak foto dari kamera mereka. Dan memang hasilnya <br />
lebih bagus. Jadi berfotolah kami di di sekitar Istana Pagaruyung.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<a href="http://2.bp.blogspot.com/-sc-t7UVSxBk/ULdpq0nGk7I/AAAAAAAAA80/huHHQ49nz8o/s1600/P1060822.JPG" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-sc-t7UVSxBk/ULdpq0nGk7I/AAAAAAAAA80/huHHQ49nz8o/s400/P1060822.JPG" border="0" alt="[Image: P1060822.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
Istana Pagaruyung setelah renovasi<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Danau Singkarak</span> adalah danau terbesar di Sumbar, dan <br />
terkenal dengan ikan bilihnya. Rasanya emang enak. Lagi-lagi cuaca <br />
kurang mendukung karena mendung, jadinya kami tidak berlama-lama di <br />
danau ini untuk menuju tujuan selanjutnya, yaitu <span style="font-weight: bold;">Danau Atas dan Danau Bawah</span>.<br />
Tempat wisata ini memang kelihatannya tidak banyak yang berkunjung. <br />
Retribusi masuk tempat ini juga tidak dikelola dengan baik, malah <br />
sepertinya hanya masuk ke kantong orang-orang disana. Memasuki kawasan <br />
ini, udara sangat dingin, apalagi ketika sampai di Danau Atas yang <br />
letaknya malah lebih bawah. Dari Danau Atas, kemudian dilanjutkan ke <br />
Danau Bawah. Terlihat jelas tidak terawatnya tempat ini walaupun <br />
sebenarnya potensinya sangat besar, karena pemandangan dari atas sini, <br />
indah sekali!!<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<a href="http://4.bp.blogspot.com/-Kgkw1c6xgGs/ULdqwNPasUI/AAAAAAAAA88/eDObTFjSN3Q/s1600/P1060926.JPG" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://4.bp.blogspot.com/-Kgkw1c6xgGs/ULdqwNPasUI/AAAAAAAAA88/eDObTFjSN3Q/s400/P1060926.JPG" border="0" alt="[Image: P1060926.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
Danau Di Atas<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Malam ini kami bermalam di Padang, di <span style="font-weight: bold;">Hotel Sriwijaya</span>. Sebelum masuk hotel, kami makan di Soto Padang terenak yang pernah saya coba yaitu di <span style="font-weight: bold;">Simpang Karya</span> dan makan es duren <span style="font-weight: bold;">Ganti Nan Lamo</span> yang tidak kalah topnya.<br />
<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Hari keempat</span><br />
<br />
<br />
Hari ini keempat kami pergi ke Pantai Carocok, jaraknya cukup jauh dari<br />
Padang, sekitar 1,5 jam. Arahnya ke Painan dan tidak mudah <br />
mencapainya. Akhirnya sampai juga di Pantai Carocok, Tapi karena tidak <br />
punya waktu terlalu banyak, kami langsung menuju <span style="font-weight: bold;">Bukit Langkisau</span>.<br />
Menuju bukit ini, jalannya menanjak dan kecil, jadi perlu <br />
berhati-hati. Dari yang banyak saya baca, pemandangan dari Bukit <br />
Langkisau ini bagus sekali. Dan memang benar, pemandangan dari bukit <br />
ini luar biasa indahnya. Di bukit ini juga biasa dijadikan tempat untuk<br />
start paralayang.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<a href="http://3.bp.blogspot.com/-QMCMjIjMQKc/ULdr31o04DI/AAAAAAAAA9E/KW_OZDQvNuQ/s1600/P1060960.JPG" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://3.bp.blogspot.com/-QMCMjIjMQKc/ULdr31o04DI/AAAAAAAAA9E/KW_OZDQvNuQ/s400/P1060960.JPG" border="0" alt="[Image: P1060960.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
Pemandangan dari Bukit Langkisau<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Masih ada waktu, kembali ke Padang kami mampir dulu di <span style="font-weight: bold;">Pantai Air Manis</span><br />
yang terkenal dengan legenda Malin Kundang. Disini bisa kita temukan <br />
patung Malin Kundang dan bekas kapalnya. Tapi sayang sekali, tempat <br />
wisata ini benar-benar tidak diurus, jembatannya saja sudah tidak layak.<br />
Padahal para pengunjung dikenakan tiket masuk lima ribu rupiah. Saya <br />
harap Pemerintah Sumatera Barat akan lebih memperhatikan pariwisata <br />
daerah ini.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<a href="http://2.bp.blogspot.com/-sSrfDIsLfHg/ULds7TG3FYI/AAAAAAAAA9Q/384Qa31WrQ8/s1600/P1070004.JPG" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-sSrfDIsLfHg/ULds7TG3FYI/AAAAAAAAA9Q/384Qa31WrQ8/s400/P1070004.JPG" border="0" alt="[Image: P1070004.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
Pantai Air Manis<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Dari Pantai Air Manis, tiba waktunya untuk menuju airport untuk pulang.<br />
Perjalanan selama 4 hari ini cukup bagi saya untuk menikmati sebagian <br />
dari keindahan Sumatera Barat. Lain kali, insya Allah ingin berkunjung <br />
ke Pulau Sikuai yang sayangnya saat ini masih ditutup akibat sengketa.(kompasiana)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Tempat Berburu Kain Tenun di Bukittinggi ]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Tempat-Berburu-Kain-Tenun-di-Bukittinggi</link>
			<pubDate>Fri, 30 Nov 2012 07:07:19 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Tempat-Berburu-Kain-Tenun-di-Bukittinggi</guid>
			<description><![CDATA[<img src="http://image.tempointeraktif.com/?id=151604&amp;width=640" border="0" alt="[Image: ?id=151604&amp;amp;width=640]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<br />
<br />
TEMPO.CO Bagi<br />
pecinta kain-kain tradisional buatan tangan seperti kain tenun dan kain<br />
dengan hiasan bordir, jangan lupa ke Bukittinggi. Ada berbagai songket <br />
yang ditenun dari helai demi helai benang yang layak dikoleksi. Begitu <br />
juga kain-kain dengan hiasan bordir cantik yang siap dijadikan gaun atau<br />
kebaya.<br />
<br />
Di Bukittinggi tempat untuk mencari kain songket atau <br />
bordir ini biasanya di Pasar Atas di depan Jam Gadang. Namun, bagi <br />
sebagian orang tempat ini terlalu melelahkan untuk berdebat menawar <br />
harga dengan pedagang. Apalagi harga yang dipatok juga kadang-kadang <br />
terlalu tinggi yang membuat pembeli keder duluan.<br />
<br />
Lebih baik <br />
membeli kain tenun atau kain bordir di tempat pembuatannya. Meski agak <br />
jauh dari Bukittinggi, dengan menggunakan mobil sewaan, di tempat <br />
pembuatannya ini belanja menjadi lebih memuaskan. Di samping banyak <br />
pilihan, juga dapat langsung melihat proses pembuatannya.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Untuk harga, juga biasanya tidak perlu tawar-menawar lagi. Harga akan<br />
sesuai dengan kualitas barang. Berikut beberapa tempat pilihan berburu <br />
kain.<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Rumah Tenun Pusako di Pandaisikek</span><br />
<br />
<br />
Di sini tempat membeli songket atau kain tenun Pandaisikek. Nagari <br />
Pandaisikek berjarak sekitar 10 kilometer dari Kota Bukittinggi bila <br />
perjalanan dari Padang. Letak kampung tenun ini di kaki Gunung <br />
Singgalang. Selain membeli, Anda juga bisa melihat langsung proses <br />
pembuatan tenunan yang masih menggunakan alat tenun tradisional dan <br />
usaha ini dilakukan di rumah-rumah.<br />
<br />
Di sini puluhan rumah <br />
tenunan songket menjual songket buatan tangan itu. Satu di antaranya <br />
adalah Rumah Tenun Pusako yang berbentuk rumah gadang milik Hajah <br />
Sanuar. Ibu Sanuar adalah orang yang menghidupkan kembali tenun di <br />
Pandaisikek setelah terhenti lama karena perang dengan Jepang dan zaman <br />
pergolakan.<br />
<br />
Tenunan Pandai Sikek sangat indah dengan beragam <br />
motif dan warna. Warna songket tak jarang mengikuti trend mode seperti <br />
merah menyala, biru, krem, dan kecokelatan. Harga songket mulai Rp1,5 <br />
juta sampai Rp10 juta per set, terdiri dari kain songket dan selendang.<br />
<br />
Harga lebih ditentukan kerumitan pengerjaan motif yang banyak menggali motif lama serta tergantung pada kain.<br />
<br />
<br />
Menurut Adyan Anwar, pemilik usaha songket Rumah Tenun Pusako, songket <br />
paling mahal terbuat dari sutra asli dengan motif kuno Minangkabau, <br />
pengerjaannya lebih rumit karena di atas kain sutra, tapi lebih ringan <br />
dikenakan.<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;"> Rumah Tenun Pusako</span><br />
Pandai Sikek, Padang Panjang, Sumatra Barat<br />
Telp: 0752-498193]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<img src="http://image.tempointeraktif.com/?id=151604&amp;width=640" border="0" alt="[Image: ?id=151604&amp;amp;width=640]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<br />
<br />
TEMPO.CO Bagi<br />
pecinta kain-kain tradisional buatan tangan seperti kain tenun dan kain<br />
dengan hiasan bordir, jangan lupa ke Bukittinggi. Ada berbagai songket <br />
yang ditenun dari helai demi helai benang yang layak dikoleksi. Begitu <br />
juga kain-kain dengan hiasan bordir cantik yang siap dijadikan gaun atau<br />
kebaya.<br />
<br />
Di Bukittinggi tempat untuk mencari kain songket atau <br />
bordir ini biasanya di Pasar Atas di depan Jam Gadang. Namun, bagi <br />
sebagian orang tempat ini terlalu melelahkan untuk berdebat menawar <br />
harga dengan pedagang. Apalagi harga yang dipatok juga kadang-kadang <br />
terlalu tinggi yang membuat pembeli keder duluan.<br />
<br />
Lebih baik <br />
membeli kain tenun atau kain bordir di tempat pembuatannya. Meski agak <br />
jauh dari Bukittinggi, dengan menggunakan mobil sewaan, di tempat <br />
pembuatannya ini belanja menjadi lebih memuaskan. Di samping banyak <br />
pilihan, juga dapat langsung melihat proses pembuatannya.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Untuk harga, juga biasanya tidak perlu tawar-menawar lagi. Harga akan<br />
sesuai dengan kualitas barang. Berikut beberapa tempat pilihan berburu <br />
kain.<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Rumah Tenun Pusako di Pandaisikek</span><br />
<br />
<br />
Di sini tempat membeli songket atau kain tenun Pandaisikek. Nagari <br />
Pandaisikek berjarak sekitar 10 kilometer dari Kota Bukittinggi bila <br />
perjalanan dari Padang. Letak kampung tenun ini di kaki Gunung <br />
Singgalang. Selain membeli, Anda juga bisa melihat langsung proses <br />
pembuatan tenunan yang masih menggunakan alat tenun tradisional dan <br />
usaha ini dilakukan di rumah-rumah.<br />
<br />
Di sini puluhan rumah <br />
tenunan songket menjual songket buatan tangan itu. Satu di antaranya <br />
adalah Rumah Tenun Pusako yang berbentuk rumah gadang milik Hajah <br />
Sanuar. Ibu Sanuar adalah orang yang menghidupkan kembali tenun di <br />
Pandaisikek setelah terhenti lama karena perang dengan Jepang dan zaman <br />
pergolakan.<br />
<br />
Tenunan Pandai Sikek sangat indah dengan beragam <br />
motif dan warna. Warna songket tak jarang mengikuti trend mode seperti <br />
merah menyala, biru, krem, dan kecokelatan. Harga songket mulai Rp1,5 <br />
juta sampai Rp10 juta per set, terdiri dari kain songket dan selendang.<br />
<br />
Harga lebih ditentukan kerumitan pengerjaan motif yang banyak menggali motif lama serta tergantung pada kain.<br />
<br />
<br />
Menurut Adyan Anwar, pemilik usaha songket Rumah Tenun Pusako, songket <br />
paling mahal terbuat dari sutra asli dengan motif kuno Minangkabau, <br />
pengerjaannya lebih rumit karena di atas kain sutra, tapi lebih ringan <br />
dikenakan.<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;"> Rumah Tenun Pusako</span><br />
Pandai Sikek, Padang Panjang, Sumatra Barat<br />
Telp: 0752-498193]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Batik Tanah Liek, Khas Minangkabau yang Liat]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Batik-Tanah-Liek-Khas-Minangkabau-yang-Liat</link>
			<pubDate>Sat, 10 Nov 2012 03:13:40 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Batik-Tanah-Liek-Khas-Minangkabau-yang-Liat</guid>
			<description><![CDATA[<img src="http://assets.kompas.com/data/photo/2012/09/25/1442148620X310.jpg" border="0" alt="[Image: 1442148620X310.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
KOMPAS/INGKI RINALDI<br />
Seorang perajin di Kota Padang, Sumatera Barat, Rabu (15/8/2012), <br />
memperlihatkan batik tanah liek khas Minangkabau. Batik tersebut <br />
menggunakan teknik pewarnaan dasar kain dengan perendaman di dalam <br />
larutan cairan tanah liat.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">WARNA</span> dasar kain yang <br />
tidak biasa, teduh dan memancarkan aura elegan, menjadi daya tarik utama<br />
batik tanah liek (liat) khas Minangkabau. Warna dasar yang cenderung <br />
krem atau coklat muda itu diperoleh dari hasil perendaman kain di dalam <br />
larutan cairan tanah liat.<br />
Di atasnya beragam motif Minang dilukis<br />
dengan ketelitian tinggi yang tampak hidup dengan pewarna alami. <br />
Motif-motif tersebut biasanya diambil dari beragam jenis ukiran yang <br />
terdapat di rumah-rumah gadang.<br />
Sebutlah, misalnya, motif itiak <br />
pulang patang, kaluak paku, atau gambar yang merujuk pada ikon Sumatera <br />
Barat seperti Jam Gadang di Bukittinggi dan Rumah Gadang dengan atap <br />
bagonjong. Motif-motif Minang yang dilukis pada kain itu punya makna <br />
filosofis tertentu.<br />
Di antaranya motif kaluak paku kacang <br />
belimbing, anak dipangku kemenakan dibimbing, yang berarti keharusan <br />
agar orangtua menunaikan kewajibannya kepada anak dan keponakan <br />
sekaligus. Motif-motif tersebut dicanting atau diaplikasikan di atas <br />
kain dengan lilin (malam) yang didatangkan dari Pulau Jawa.<br />
Prosesnya<br />
dimulai dengan perendaman kain dalam larutan cairan tanah liat selama <br />
dua hari. Dua hari berikutnya adalah proses canting dengan lilin atau <br />
malam. Selanjutnya diberikan pewarna alami dari getah beberapa jenis <br />
tanaman.<br />
Misalnya saja yang terdapat di kulit rambutan dan kulit <br />
jengkol untuk warna hitam dan coklat, gambir untuk warna oranye, manggis<br />
untuk warna ungu, dan kunyit untuk warna kuning. Langkah terakhir, kain<br />
batik tanah liek lantas dikeringkan sebelum dipasarkan.<br />
<span style="font-weight: bold;">Baru populer</span><br />
Namun,<br />
batik tanah liek relatif baru saja populer sebagai salah satu kekhasan <br />
dari Minangkabau dalam beberapa tahun terakhir. Pasalnya, hingga sekitar<br />
18 tahun lalu batik tanah liek belum diketahui masyarakat umum.<br />
Wirda<br />
Hanim, pemilik usaha batik tanah liek Citra Monalisa di Kota Padang, <br />
mengawali upaya memproduksi kembali batik tanah liek yang saat itu sudah<br />
mulai langka. Wirda ketika itu kerap mengikuti upacara adat di Sumanik,<br />
Kabupaten Tanah Datar, Sumbar.<br />
Kini usaha Wirda telah membuahkan <br />
hasil. Dengan batik tanah liek yang dipasarkan seharga Rp 600.000 hingga<br />
Rp 1,4 juta per helai menembus pasar dengan meyakinkan.<br />
Usaha <br />
batik tanah liek yang diupayakannya pun telah menyebar hingga ke <br />
sejumlah daerah di Sumbar. Salah seorang yang sempat mempelajari cara <br />
pembuatan batik tanah liek itu ialah Fitra Lusia.<br />
Kini, dengan <br />
bendera usaha Rumah Kain Ayesha dan Batik Tanah Liek Inaaya, Fitra <br />
mempekerjakan 30 tenaga kerja. Sebagian besar perajin batik tanah liek <br />
itu merupakan ibu rumah tangga.<br />
”Rata-rata setiap orang perajin bisa mendapat uang mulai dari Rp 1,2 juta hingga Rp 1,5 juta per bulan,” kata Fitra.<br />
Yang<br />
menarik, pengerjaan kain-kain batik tanah liek itu dilakukan di rumah <br />
masing-masing. Perajin tinggal mengambil kain dan lilin lalu melakukan <br />
pembatikan di rumah sembari melakukan sejumlah pekerjaan domestik. <span style="font-weight: bold;"> (Ingki Rinaldi/kompas)</span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<img src="http://assets.kompas.com/data/photo/2012/09/25/1442148620X310.jpg" border="0" alt="[Image: 1442148620X310.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
KOMPAS/INGKI RINALDI<br />
Seorang perajin di Kota Padang, Sumatera Barat, Rabu (15/8/2012), <br />
memperlihatkan batik tanah liek khas Minangkabau. Batik tersebut <br />
menggunakan teknik pewarnaan dasar kain dengan perendaman di dalam <br />
larutan cairan tanah liat.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">WARNA</span> dasar kain yang <br />
tidak biasa, teduh dan memancarkan aura elegan, menjadi daya tarik utama<br />
batik tanah liek (liat) khas Minangkabau. Warna dasar yang cenderung <br />
krem atau coklat muda itu diperoleh dari hasil perendaman kain di dalam <br />
larutan cairan tanah liat.<br />
Di atasnya beragam motif Minang dilukis<br />
dengan ketelitian tinggi yang tampak hidup dengan pewarna alami. <br />
Motif-motif tersebut biasanya diambil dari beragam jenis ukiran yang <br />
terdapat di rumah-rumah gadang.<br />
Sebutlah, misalnya, motif itiak <br />
pulang patang, kaluak paku, atau gambar yang merujuk pada ikon Sumatera <br />
Barat seperti Jam Gadang di Bukittinggi dan Rumah Gadang dengan atap <br />
bagonjong. Motif-motif Minang yang dilukis pada kain itu punya makna <br />
filosofis tertentu.<br />
Di antaranya motif kaluak paku kacang <br />
belimbing, anak dipangku kemenakan dibimbing, yang berarti keharusan <br />
agar orangtua menunaikan kewajibannya kepada anak dan keponakan <br />
sekaligus. Motif-motif tersebut dicanting atau diaplikasikan di atas <br />
kain dengan lilin (malam) yang didatangkan dari Pulau Jawa.<br />
Prosesnya<br />
dimulai dengan perendaman kain dalam larutan cairan tanah liat selama <br />
dua hari. Dua hari berikutnya adalah proses canting dengan lilin atau <br />
malam. Selanjutnya diberikan pewarna alami dari getah beberapa jenis <br />
tanaman.<br />
Misalnya saja yang terdapat di kulit rambutan dan kulit <br />
jengkol untuk warna hitam dan coklat, gambir untuk warna oranye, manggis<br />
untuk warna ungu, dan kunyit untuk warna kuning. Langkah terakhir, kain<br />
batik tanah liek lantas dikeringkan sebelum dipasarkan.<br />
<span style="font-weight: bold;">Baru populer</span><br />
Namun,<br />
batik tanah liek relatif baru saja populer sebagai salah satu kekhasan <br />
dari Minangkabau dalam beberapa tahun terakhir. Pasalnya, hingga sekitar<br />
18 tahun lalu batik tanah liek belum diketahui masyarakat umum.<br />
Wirda<br />
Hanim, pemilik usaha batik tanah liek Citra Monalisa di Kota Padang, <br />
mengawali upaya memproduksi kembali batik tanah liek yang saat itu sudah<br />
mulai langka. Wirda ketika itu kerap mengikuti upacara adat di Sumanik,<br />
Kabupaten Tanah Datar, Sumbar.<br />
Kini usaha Wirda telah membuahkan <br />
hasil. Dengan batik tanah liek yang dipasarkan seharga Rp 600.000 hingga<br />
Rp 1,4 juta per helai menembus pasar dengan meyakinkan.<br />
Usaha <br />
batik tanah liek yang diupayakannya pun telah menyebar hingga ke <br />
sejumlah daerah di Sumbar. Salah seorang yang sempat mempelajari cara <br />
pembuatan batik tanah liek itu ialah Fitra Lusia.<br />
Kini, dengan <br />
bendera usaha Rumah Kain Ayesha dan Batik Tanah Liek Inaaya, Fitra <br />
mempekerjakan 30 tenaga kerja. Sebagian besar perajin batik tanah liek <br />
itu merupakan ibu rumah tangga.<br />
”Rata-rata setiap orang perajin bisa mendapat uang mulai dari Rp 1,2 juta hingga Rp 1,5 juta per bulan,” kata Fitra.<br />
Yang<br />
menarik, pengerjaan kain-kain batik tanah liek itu dilakukan di rumah <br />
masing-masing. Perajin tinggal mengambil kain dan lilin lalu melakukan <br />
pembatikan di rumah sembari melakukan sejumlah pekerjaan domestik. <span style="font-weight: bold;"> (Ingki Rinaldi/kompas)</span>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Menyigi Silek Tuo di Pekanbaru]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Menyigi-Silek-Tuo-di-Pekanbaru</link>
			<pubDate>Mon, 05 Nov 2012 06:04:20 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Menyigi-Silek-Tuo-di-Pekanbaru</guid>
			<description><![CDATA[Malam<br />
itu, Sabtu, Awal Oktober 2012, Hujan mengguyur Kota Pekanbaru mulai <br />
reda, langkah pasti sang guru dan murid perguruan silat Rahmat Suci <br />
Tikam Tuo Asal Kubang Putih, Banu Hampu Bukit Tinggi terlihat tegap dan <br />
pasti menuju sasaran latihan di halaman komplek SD Negeri 19 , kelurahan<br />
padang bulan Kecamatan senaplan Pekanbaru. Berbeda mungkin dengan <br />
perguruan silat tuo asal Minangkabau lain nya yang berlatih ditengah <br />
lebatnya rimba hutan raya ataupun pedesaan terpencil dan terkesan <br />
angker, Perguruan Silat Rahmat Suci Tikam Tuo yang didirikan sejak tahun<br />
1989 oleh sang guru bernama Zulakhar (50) mencoba tetap melestarikan <br />
tradisi seni beladiri tradisional asal Minangkabau, Sumatera Barat <br />
ditengah pesatnya perkembangan, pertumbuhan penduduk dan modernisasi <br />
Kota Pekan Baru yang kian hari kian pesat, tak perduli dengan hiruk <br />
pikuknya suasana kota, yang ada dalam benak sang guru hanya semata agar <br />
apa yang sudah menjadi tradisi serta icon sumatera barat dalam seni <br />
tradisi silat tuo tak pupus seiring dengan kemajuan zaman. Tak ada <br />
rotan, ranting pun jadi, begitulah kira-kira ungkapan untuk perguruan <br />
silat Rahmat Suci Tikam Tuo Asal Kubang Putih ini, tak ada tempat sunyi <br />
untuk berlatih, pekarangan komplek SD Negeri pun menjadi pilihan, apa <br />
boleh buat, yang penting niat serta makna silat itu sendiri dapat <br />
dipahami oleh sang murid.<br />
<br />
Perguruan Silat Rahmat Suci Tikam Tuo <br />
Asal Kubang Putih, awalnya berkembang pesat di Kota Padang pada tahun <br />
1989 dengan jumlah murid saat itu sekitar 300 orang, namun seiring <br />
berpindahnya sang guru ke kota pekanbaru perguruan silat Rahmat Suci <br />
Tikam Tuo Asal Kubang Putih saat ini vakum, melihat hal tersebut, sang <br />
guru tak patah arang, dengan modal niat, pengetahuan, serta ilmu yang <br />
didapati sejak umur 15 tahun, Zulakhar pun kembali membuka sasaran <br />
dikota pekanbaru sejak 4 bulan lalu dengan jumlah murid saat ini masih <br />
sekitar 6 orang, namun demikian Zulakhar yakin bahwasanya perkembangan <br />
silat tuo asal minang ini ditengah pengaruh kuat arus globalisasi suatu <br />
waktu akan terus berkembang dan banyak melahirkan murid-murid yang <br />
memiliki kemampuan serta pemahaman yang lebih baik.<br />
<br />
Sejarah Singkat Silat Rahmat Suci Tikam Tuo Asal Kubang Putih, <br />
<br />
Diceritakan<br />
sang guru, Zulakhar, awalnya Perguruan yang ia dirikan tahun 1980 <br />
diberi nama Silat Tuo Tikam, namun ketia ia diskusikan kembali kepada <br />
sang guru di Kubang Putih, nama tersebut diganti menjadi Silat Rahmat <br />
Suci Tikam Tuo Asal Kubang Putih, yang mana dari nama tersebut terbagi <br />
menjadi dua arti, Rahmat Suci difokuskan kepada soal ilmu kanuragan atau<br />
kebatinan, sedangkan Tikam Tuo hanya untuk bunga dari tarian silat, <br />
walau demikian semua itu dapat dikuasai oleh sang murid apabila dapat <br />
menekuni semua pembelajaran yang diturunkan,"Pemberian nama untuk <br />
perguruan tak segampang apa yang kita pikirkan, untuk itu kita harus <br />
berdiskusi dengan sang guru agar nama yang akan dipakai baik dalam <br />
konteks kalimat dan arti,"kata Zulakhar. Tak butuh waktu lama bagi <br />
sang murid untuk menguasai semua ilmu yang diturunkan, apabila benar <br />
yakin dan serius dengan niat mulia maka dalam kurun waktu enam bulan <br />
sang murid sudah dikatakan mahir dan menguasai silat tuo yang diajarkan <br />
seperti halnya pepatah minang yang disampaikan sang guru "diputa bisa <br />
singkek, diuruik bisa panjang", namun untuk melewati tahapan itu murid <br />
akan mengalami beberapa fase diantaranya fase Dasar, memahami dasar dari<br />
silat, sejarah serta gerakan, Mangka, sang murid sudah sedikit bisa <br />
menguasai gerakan yang diajarkan, kontrol emosi, karena pada fase Mangka<br />
sang murid akan banyak mengalami cobaan baik dari dalam diri sendiri <br />
maupun dari lingkungan sekitar, akan banyak cobaan untuk mencoba ilmu <br />
yang sudah didapati kepada orang lain, maka dari itu untuk menjadi <br />
seorang murid yang baik harus dapat melewati fase ini dan mengontrol <br />
emosi yang setiap saat bisa saja terjadi, dan terakhir adalah fase <br />
Diasik atau reflek, dalam fase ini sang murid sudah dapat mengontrol <br />
emosi dari dalam diri. Dalam fase ini tanpa murid sadari semua gerakan <br />
silat yang diajarkan akan hilang dan lupa dengan sendirinya, namun <br />
demikian jika terjadi hal yang tidak dinginkan atau mendapat serangan <br />
dari lawan maka sang murid dengan reflek yang dimiliki akan dapat <br />
menghindar seketika dari bentuk serangan apapun. Jika fase ini sudah <br />
dapat dilewati maka sudah dapat dikatakan sang murid lulus dalam semua <br />
ujian, walau masih banyak lagi tahapan yang harus dilalui termasuk soal <br />
kanuragan, dan pemahaman agama, karena silat asal minangkabau sendiri <br />
tak luput dari hal keagamaan dan Alquran sebagai kitab yang memiliki <br />
segala sumber ilmu pengetahuan. <br />
<br />
Sedangkan untuk perkembangan <br />
Silat Rahmat Suci Tikam Tuo Asal Kubang Putih di Kota Pekanbaru sendiri,<br />
saat ini sang guru masih mencoba mensosialisasikan kepada generasi <br />
penerus terutama perantau asal minang, agar kebudayaan serta makna silat<br />
Tuo sendiri tak pupus seiring perkembangan zaman dan canggih nya <br />
tekhnologi. Sang guru Zulakhar juga menyampaikan bahwa dengan berdiri <br />
lagi perguruan Silat Rahmat Suci Tikam Tuo Asal Kubang Putih di kota <br />
Pekanbaru setidaknya dapat membawa nilai positif terutama generasi muda,<br />
waktu luang mereka secara otomatis dapat terisi dengan kegiatan yang <br />
bermanfaat, untuk kedepannya, Zulakhar akan terus komitmen mengembangkan<br />
seni tradisi silat minang diranah rantau agar selalu tetap lestari.(padangtoday)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Malam<br />
itu, Sabtu, Awal Oktober 2012, Hujan mengguyur Kota Pekanbaru mulai <br />
reda, langkah pasti sang guru dan murid perguruan silat Rahmat Suci <br />
Tikam Tuo Asal Kubang Putih, Banu Hampu Bukit Tinggi terlihat tegap dan <br />
pasti menuju sasaran latihan di halaman komplek SD Negeri 19 , kelurahan<br />
padang bulan Kecamatan senaplan Pekanbaru. Berbeda mungkin dengan <br />
perguruan silat tuo asal Minangkabau lain nya yang berlatih ditengah <br />
lebatnya rimba hutan raya ataupun pedesaan terpencil dan terkesan <br />
angker, Perguruan Silat Rahmat Suci Tikam Tuo yang didirikan sejak tahun<br />
1989 oleh sang guru bernama Zulakhar (50) mencoba tetap melestarikan <br />
tradisi seni beladiri tradisional asal Minangkabau, Sumatera Barat <br />
ditengah pesatnya perkembangan, pertumbuhan penduduk dan modernisasi <br />
Kota Pekan Baru yang kian hari kian pesat, tak perduli dengan hiruk <br />
pikuknya suasana kota, yang ada dalam benak sang guru hanya semata agar <br />
apa yang sudah menjadi tradisi serta icon sumatera barat dalam seni <br />
tradisi silat tuo tak pupus seiring dengan kemajuan zaman. Tak ada <br />
rotan, ranting pun jadi, begitulah kira-kira ungkapan untuk perguruan <br />
silat Rahmat Suci Tikam Tuo Asal Kubang Putih ini, tak ada tempat sunyi <br />
untuk berlatih, pekarangan komplek SD Negeri pun menjadi pilihan, apa <br />
boleh buat, yang penting niat serta makna silat itu sendiri dapat <br />
dipahami oleh sang murid.<br />
<br />
Perguruan Silat Rahmat Suci Tikam Tuo <br />
Asal Kubang Putih, awalnya berkembang pesat di Kota Padang pada tahun <br />
1989 dengan jumlah murid saat itu sekitar 300 orang, namun seiring <br />
berpindahnya sang guru ke kota pekanbaru perguruan silat Rahmat Suci <br />
Tikam Tuo Asal Kubang Putih saat ini vakum, melihat hal tersebut, sang <br />
guru tak patah arang, dengan modal niat, pengetahuan, serta ilmu yang <br />
didapati sejak umur 15 tahun, Zulakhar pun kembali membuka sasaran <br />
dikota pekanbaru sejak 4 bulan lalu dengan jumlah murid saat ini masih <br />
sekitar 6 orang, namun demikian Zulakhar yakin bahwasanya perkembangan <br />
silat tuo asal minang ini ditengah pengaruh kuat arus globalisasi suatu <br />
waktu akan terus berkembang dan banyak melahirkan murid-murid yang <br />
memiliki kemampuan serta pemahaman yang lebih baik.<br />
<br />
Sejarah Singkat Silat Rahmat Suci Tikam Tuo Asal Kubang Putih, <br />
<br />
Diceritakan<br />
sang guru, Zulakhar, awalnya Perguruan yang ia dirikan tahun 1980 <br />
diberi nama Silat Tuo Tikam, namun ketia ia diskusikan kembali kepada <br />
sang guru di Kubang Putih, nama tersebut diganti menjadi Silat Rahmat <br />
Suci Tikam Tuo Asal Kubang Putih, yang mana dari nama tersebut terbagi <br />
menjadi dua arti, Rahmat Suci difokuskan kepada soal ilmu kanuragan atau<br />
kebatinan, sedangkan Tikam Tuo hanya untuk bunga dari tarian silat, <br />
walau demikian semua itu dapat dikuasai oleh sang murid apabila dapat <br />
menekuni semua pembelajaran yang diturunkan,"Pemberian nama untuk <br />
perguruan tak segampang apa yang kita pikirkan, untuk itu kita harus <br />
berdiskusi dengan sang guru agar nama yang akan dipakai baik dalam <br />
konteks kalimat dan arti,"kata Zulakhar. Tak butuh waktu lama bagi <br />
sang murid untuk menguasai semua ilmu yang diturunkan, apabila benar <br />
yakin dan serius dengan niat mulia maka dalam kurun waktu enam bulan <br />
sang murid sudah dikatakan mahir dan menguasai silat tuo yang diajarkan <br />
seperti halnya pepatah minang yang disampaikan sang guru "diputa bisa <br />
singkek, diuruik bisa panjang", namun untuk melewati tahapan itu murid <br />
akan mengalami beberapa fase diantaranya fase Dasar, memahami dasar dari<br />
silat, sejarah serta gerakan, Mangka, sang murid sudah sedikit bisa <br />
menguasai gerakan yang diajarkan, kontrol emosi, karena pada fase Mangka<br />
sang murid akan banyak mengalami cobaan baik dari dalam diri sendiri <br />
maupun dari lingkungan sekitar, akan banyak cobaan untuk mencoba ilmu <br />
yang sudah didapati kepada orang lain, maka dari itu untuk menjadi <br />
seorang murid yang baik harus dapat melewati fase ini dan mengontrol <br />
emosi yang setiap saat bisa saja terjadi, dan terakhir adalah fase <br />
Diasik atau reflek, dalam fase ini sang murid sudah dapat mengontrol <br />
emosi dari dalam diri. Dalam fase ini tanpa murid sadari semua gerakan <br />
silat yang diajarkan akan hilang dan lupa dengan sendirinya, namun <br />
demikian jika terjadi hal yang tidak dinginkan atau mendapat serangan <br />
dari lawan maka sang murid dengan reflek yang dimiliki akan dapat <br />
menghindar seketika dari bentuk serangan apapun. Jika fase ini sudah <br />
dapat dilewati maka sudah dapat dikatakan sang murid lulus dalam semua <br />
ujian, walau masih banyak lagi tahapan yang harus dilalui termasuk soal <br />
kanuragan, dan pemahaman agama, karena silat asal minangkabau sendiri <br />
tak luput dari hal keagamaan dan Alquran sebagai kitab yang memiliki <br />
segala sumber ilmu pengetahuan. <br />
<br />
Sedangkan untuk perkembangan <br />
Silat Rahmat Suci Tikam Tuo Asal Kubang Putih di Kota Pekanbaru sendiri,<br />
saat ini sang guru masih mencoba mensosialisasikan kepada generasi <br />
penerus terutama perantau asal minang, agar kebudayaan serta makna silat<br />
Tuo sendiri tak pupus seiring perkembangan zaman dan canggih nya <br />
tekhnologi. Sang guru Zulakhar juga menyampaikan bahwa dengan berdiri <br />
lagi perguruan Silat Rahmat Suci Tikam Tuo Asal Kubang Putih di kota <br />
Pekanbaru setidaknya dapat membawa nilai positif terutama generasi muda,<br />
waktu luang mereka secara otomatis dapat terisi dengan kegiatan yang <br />
bermanfaat, untuk kedepannya, Zulakhar akan terus komitmen mengembangkan<br />
seni tradisi silat minang diranah rantau agar selalu tetap lestari.(padangtoday)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Permainan Anak Nagari Di Minangkabau Versus Game Online ]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Permainan-Anak-Nagari-Di-Minangkabau-Versus-Game-Online--17685</link>
			<pubDate>Wed, 12 Sep 2012 08:21:08 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Permainan-Anak-Nagari-Di-Minangkabau-Versus-Game-Online--17685</guid>
			<description><![CDATA[<a href="http://2.bp.blogspot.com/-5fmBItK2GzA/TZrNVo6S0UI/AAAAAAAAAPo/tb4b8Cwcl3A/s1600/images.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-5fmBItK2GzA/TZrNVo6S0UI/AAAAAAAAAPo/tb4b8Cwcl3A/s1600/images.jpg" border="0" alt="[Image: images.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<span style="color: blue;">Ilustrasi Gambar</span><br />
<br />
Bagi generasi lama suku bangsa Minangkabau, mereka tentu ingat berbagai pamenan (permainan) yang pernah mereka mainkan, lihat dan ketahui. Coba kita simak beberapa puluh permainan berikut; Sipak Rago, Ulu Ambek, Alang-alang (Darek dan Pasisia), Randai (Silek), Buru Babi, Pacu Jawi, Adu Kabau, Pacu Itiak, Pacu Kudo, Basijobang, Salawat Dulang, Bagurau (Saluang), Batombe, Adu Ayam, Lukah Gilo, Adu Baruak, Palabak, Gandang-gandang, Main Congkak, Mamanjek Batang Pinang, Adu Balam, Adu Jawi, Patok Lele, Slaju Sampan, Tumbuak Lasuang, Dabuih,  Barabuik-rabuik<br />
karambia 5 buah, Antak-antak aia, Ratik tabajuah/ratik sabatang mambantai, Mariam batuang, Simancik, Mambuek dan main oto-otoan dari batuang dan dari potongan palapah karambia mudo, Maluncua jo palapah karambia atau pelepah pinang dari kelandaian bukik, Gasiang, Mancari lundi, Cak bur, Main kelereng, Main kajai, Main Dama, Tikuak anam, Barabab, Basaluang, Manciang, Sepak tekong, Main galah, Main suruk-surukan/ Cirik Mancik, Semba lakon, Kudo kepang,  Engrang, Tamtam Tabuku, Gasiang dari tutuik limun/boto, Pacu anjiang dan sebagainya.<br />
<br />
Permainan tersebut tersebar diberbagai tempat di ranah Minangkabau. Barangkali jumlahnya ratusan, tapi beberapa puluh permainan seperti yang teridentifikasi diatas barangkali ada yang sama bentuk memainkannya tapi beda penyebutan nama dari satu tempat ke tempat lainnya.<br />
<br />
Timbul sebuah  tanda tanya; apakah berbagai permainan itu masih didukung dan dimainkan atau dilakoni oleh generasi hari ini? Masihkan parintang-rintang hari (mengisi waktu senggang) diwarnai dengan berbagai permainan tradisional. Meskipun ada, tapi sudah jarang tampak. Adapun hanya pada waktu dan event tertentu yang sifatnya digerakkan atau dimobilisasi. Atau hanya menjadi sebuah rangkaian pada perhelatan tdak lagi mandiri. Padahal pamenan (permainan) tradisional anak nagari itu dahulu dimainkan dan dilakoni secara spontan.<br />
<br />
Bukankah permainan-permainan tradisional itu sarat filosofi hidup. Ragam pesan dan ajaran budi pekerti, moral dan perilaku. Kalau kita simak satu persatu dari sekian puluh permainan tradisional itu menuntut berbagai hal. Ada diantaranya yang menuntut ketangkasan, kekuatan fisik, kecerdasan dan kecerdikan, kecepatan dan ketepatan, kreatifitas dan imajinatif, keberanian, kepemimpinan dan tanggungjawab.<br />
<br />
Sipak rago misalnya sebagai contoh.Sepintas permainan sipak rago ini tidak beda dengan olah raga takraw. Sama-sama bernuansa olah raga, memainkan bola dengan keahlian sedemikian rupa. Sedikit perbedaan jika sepak takraw dimainkan dalam posisi berhadapan (perlawanan). Berusaha mengalahkan dan mematikan bola di daerah kompetitor. Artinya ada yang dikalahkan dan ada yang menang.<br />
<br />
Lain halnya dengan Sipak Rago. Permainan sipak rago diawali mulai dengan mencaari bahan rotan secara bersama-sama. Setelah diperoleh, rotan dibersihkan dan diolah hingga didapat kulit rotan yang baik. Kulit rotan olahan kemudian secara bersama-sama dianyam sedmikian rupa hingga membentuk bola layaknya bola takraw. anyaman diusahakan serapi dan sekuat mungkin agar tidak mudah buyar waktu disepak dari satu kaki pemain ke kaki pemain lainnya. Apa artinya disini? Semangat kegotong royongan, kebersamaan dan kebulatan tekad untuk melalukan dan mencapai sesuatu usaha yang baik tentunya.<br />
<br />
Bola sipak rago dari rotan dimainkan dalam posisi berbentuk lingkaran, dibentuk dari pemain 5, 6 atau sampai 10 orang. Waktu pelaksanaan permainan biasanya pada sore hari kala waktu senggang usai melaksanakan tugas dan usaha utama seperti bertani, berdagang atau sepulang dari usaha dan tugas lainnya. Bola rotan dimainkan dengan disepak menggunakan kaki dan berusaha bola melambung keatas dan tidak boleh jatuh menyentuh tanah. Setelah melalui olahan, artinya bola dikontrol untuk memberikan operan yang baik kearah pemain lainnya. Begitupun satu pemain ke pemain lainnya.<br />
<br />
Betapun namanya bola yang berbentuk bundar, apalgi dari bahan rotan yang dianyam. Tentulah permukaannya tidak rata. Pergerakkan liar bola kadang tak dapat dihindari. Tapi itulah tugas pemain yang sedang memgang atau menerima bola, berusaha menjinakkan bola sebelum dioper ke pemain lain. Kalau operan dalam keadaan bola liar, permainan akan menjadi tidak baik.<br />
<br />
Nah..... usaha mengontrol bola lia (liar) dan memberikan operan bola jinak (jinak/terkontrol) bukan tidak memiliki arti dan makna yang dapat dijadikan pembelajaran dalam bertindak dan berperilaku dalam kehidupan terlebih dalam pergaulan sosial kemasyarakatan. Nilai moral yang dapat kita petik adalah jika seseorang memberikan sesutu yang membahayakan dan mencelakakan (bola lia/liar) tidak harus dikembalikan atau dibalas dengan kondisi yang sama. Tindakan yang harus dilakukan adalah memanajemen sesuatu yang membahayakan tadi sebaik-baiknya sehingga giliran mengembalikan/mengarahkan pada yang memberikan atau pada orang/pemain lain bola dalam keadaan baik (bola jinak).<br />
<br />
Secara tidak langsung dalam permainan sipak rago mengajarkan bahwa perlakuan buruk dari orang lain kepada kita agar tidak dibalas dengan perlakuan yang buruk pula. Tapi membalas keburukan dengan kebaikan.<br />
<br />
Pesan dan nilai-nilai moral seperti ini juga kaya dalam berbagai permainan lainnya. Kala lampau, ketika surau, lapau,dangau eksis menjadi bagian pranata sosial penting di ranah Minangkabau, nilai dan pesan moral yang tersirat  beredar disini. Disampaikan secara lisan secara turun temurun dari generasi ke generasi.<br />
Ada pun permainan dimainkan, sekarang sudah tidak banyak diketahui nilai dan falsafah yang terkandung didalam. Jadilah permainan kehilangan roh  dan sebatas permainan. Kalau dikata istilahkan putiak ndak lai ditampuaknyo, buruang ndak lai disarangnyo (putik/buah tidak lagi ditampuknya, burung tidak lagi disarangnya). Makna secara sederhana kita bahwa segala sesuatu sudah tidak lagi pada tempat semestinya. Semua sudah berpindah tempat dan berlaih fungsi.<br />
Begitulah fakta dan kenyataan hari ini. Pamenan (permainan) tradisional anak nagari nan membangun jiwa, mengajarkan sikap mental positif dalam mengarungi kehidupan makin tampak samar. Tergantikan oleh permainan-permainan dengan sentuhan teknologi. Apalagi yang namanya GAME ONLINE. Anak-anak, remaja, dewasa bahkan orang tua sekalipun lebih senang berdiam seorang diri didepan sebuah layar komputer atau notebook terhubung jaringan internet sedang asyik sampai lupa waktu memainkan tawaran berbagai game. Apa yang didapat ? renungan dan jawaban kembali pada kita semua.<br />
<br />
sumber : <a href="http://teraszaman.blogspot.com/2011/03/permainan-anak-nagari-di-minangkabau.html" rel="nofollow" target="_blank">http://teraszaman.blogspot.com/2011/03/p...kabau.html</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://2.bp.blogspot.com/-5fmBItK2GzA/TZrNVo6S0UI/AAAAAAAAAPo/tb4b8Cwcl3A/s1600/images.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-5fmBItK2GzA/TZrNVo6S0UI/AAAAAAAAAPo/tb4b8Cwcl3A/s1600/images.jpg" border="0" alt="[Image: images.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<span style="color: blue;">Ilustrasi Gambar</span><br />
<br />
Bagi generasi lama suku bangsa Minangkabau, mereka tentu ingat berbagai pamenan (permainan) yang pernah mereka mainkan, lihat dan ketahui. Coba kita simak beberapa puluh permainan berikut; Sipak Rago, Ulu Ambek, Alang-alang (Darek dan Pasisia), Randai (Silek), Buru Babi, Pacu Jawi, Adu Kabau, Pacu Itiak, Pacu Kudo, Basijobang, Salawat Dulang, Bagurau (Saluang), Batombe, Adu Ayam, Lukah Gilo, Adu Baruak, Palabak, Gandang-gandang, Main Congkak, Mamanjek Batang Pinang, Adu Balam, Adu Jawi, Patok Lele, Slaju Sampan, Tumbuak Lasuang, Dabuih,  Barabuik-rabuik<br />
karambia 5 buah, Antak-antak aia, Ratik tabajuah/ratik sabatang mambantai, Mariam batuang, Simancik, Mambuek dan main oto-otoan dari batuang dan dari potongan palapah karambia mudo, Maluncua jo palapah karambia atau pelepah pinang dari kelandaian bukik, Gasiang, Mancari lundi, Cak bur, Main kelereng, Main kajai, Main Dama, Tikuak anam, Barabab, Basaluang, Manciang, Sepak tekong, Main galah, Main suruk-surukan/ Cirik Mancik, Semba lakon, Kudo kepang,  Engrang, Tamtam Tabuku, Gasiang dari tutuik limun/boto, Pacu anjiang dan sebagainya.<br />
<br />
Permainan tersebut tersebar diberbagai tempat di ranah Minangkabau. Barangkali jumlahnya ratusan, tapi beberapa puluh permainan seperti yang teridentifikasi diatas barangkali ada yang sama bentuk memainkannya tapi beda penyebutan nama dari satu tempat ke tempat lainnya.<br />
<br />
Timbul sebuah  tanda tanya; apakah berbagai permainan itu masih didukung dan dimainkan atau dilakoni oleh generasi hari ini? Masihkan parintang-rintang hari (mengisi waktu senggang) diwarnai dengan berbagai permainan tradisional. Meskipun ada, tapi sudah jarang tampak. Adapun hanya pada waktu dan event tertentu yang sifatnya digerakkan atau dimobilisasi. Atau hanya menjadi sebuah rangkaian pada perhelatan tdak lagi mandiri. Padahal pamenan (permainan) tradisional anak nagari itu dahulu dimainkan dan dilakoni secara spontan.<br />
<br />
Bukankah permainan-permainan tradisional itu sarat filosofi hidup. Ragam pesan dan ajaran budi pekerti, moral dan perilaku. Kalau kita simak satu persatu dari sekian puluh permainan tradisional itu menuntut berbagai hal. Ada diantaranya yang menuntut ketangkasan, kekuatan fisik, kecerdasan dan kecerdikan, kecepatan dan ketepatan, kreatifitas dan imajinatif, keberanian, kepemimpinan dan tanggungjawab.<br />
<br />
Sipak rago misalnya sebagai contoh.Sepintas permainan sipak rago ini tidak beda dengan olah raga takraw. Sama-sama bernuansa olah raga, memainkan bola dengan keahlian sedemikian rupa. Sedikit perbedaan jika sepak takraw dimainkan dalam posisi berhadapan (perlawanan). Berusaha mengalahkan dan mematikan bola di daerah kompetitor. Artinya ada yang dikalahkan dan ada yang menang.<br />
<br />
Lain halnya dengan Sipak Rago. Permainan sipak rago diawali mulai dengan mencaari bahan rotan secara bersama-sama. Setelah diperoleh, rotan dibersihkan dan diolah hingga didapat kulit rotan yang baik. Kulit rotan olahan kemudian secara bersama-sama dianyam sedmikian rupa hingga membentuk bola layaknya bola takraw. anyaman diusahakan serapi dan sekuat mungkin agar tidak mudah buyar waktu disepak dari satu kaki pemain ke kaki pemain lainnya. Apa artinya disini? Semangat kegotong royongan, kebersamaan dan kebulatan tekad untuk melalukan dan mencapai sesuatu usaha yang baik tentunya.<br />
<br />
Bola sipak rago dari rotan dimainkan dalam posisi berbentuk lingkaran, dibentuk dari pemain 5, 6 atau sampai 10 orang. Waktu pelaksanaan permainan biasanya pada sore hari kala waktu senggang usai melaksanakan tugas dan usaha utama seperti bertani, berdagang atau sepulang dari usaha dan tugas lainnya. Bola rotan dimainkan dengan disepak menggunakan kaki dan berusaha bola melambung keatas dan tidak boleh jatuh menyentuh tanah. Setelah melalui olahan, artinya bola dikontrol untuk memberikan operan yang baik kearah pemain lainnya. Begitupun satu pemain ke pemain lainnya.<br />
<br />
Betapun namanya bola yang berbentuk bundar, apalgi dari bahan rotan yang dianyam. Tentulah permukaannya tidak rata. Pergerakkan liar bola kadang tak dapat dihindari. Tapi itulah tugas pemain yang sedang memgang atau menerima bola, berusaha menjinakkan bola sebelum dioper ke pemain lain. Kalau operan dalam keadaan bola liar, permainan akan menjadi tidak baik.<br />
<br />
Nah..... usaha mengontrol bola lia (liar) dan memberikan operan bola jinak (jinak/terkontrol) bukan tidak memiliki arti dan makna yang dapat dijadikan pembelajaran dalam bertindak dan berperilaku dalam kehidupan terlebih dalam pergaulan sosial kemasyarakatan. Nilai moral yang dapat kita petik adalah jika seseorang memberikan sesutu yang membahayakan dan mencelakakan (bola lia/liar) tidak harus dikembalikan atau dibalas dengan kondisi yang sama. Tindakan yang harus dilakukan adalah memanajemen sesuatu yang membahayakan tadi sebaik-baiknya sehingga giliran mengembalikan/mengarahkan pada yang memberikan atau pada orang/pemain lain bola dalam keadaan baik (bola jinak).<br />
<br />
Secara tidak langsung dalam permainan sipak rago mengajarkan bahwa perlakuan buruk dari orang lain kepada kita agar tidak dibalas dengan perlakuan yang buruk pula. Tapi membalas keburukan dengan kebaikan.<br />
<br />
Pesan dan nilai-nilai moral seperti ini juga kaya dalam berbagai permainan lainnya. Kala lampau, ketika surau, lapau,dangau eksis menjadi bagian pranata sosial penting di ranah Minangkabau, nilai dan pesan moral yang tersirat  beredar disini. Disampaikan secara lisan secara turun temurun dari generasi ke generasi.<br />
Ada pun permainan dimainkan, sekarang sudah tidak banyak diketahui nilai dan falsafah yang terkandung didalam. Jadilah permainan kehilangan roh  dan sebatas permainan. Kalau dikata istilahkan putiak ndak lai ditampuaknyo, buruang ndak lai disarangnyo (putik/buah tidak lagi ditampuknya, burung tidak lagi disarangnya). Makna secara sederhana kita bahwa segala sesuatu sudah tidak lagi pada tempat semestinya. Semua sudah berpindah tempat dan berlaih fungsi.<br />
Begitulah fakta dan kenyataan hari ini. Pamenan (permainan) tradisional anak nagari nan membangun jiwa, mengajarkan sikap mental positif dalam mengarungi kehidupan makin tampak samar. Tergantikan oleh permainan-permainan dengan sentuhan teknologi. Apalagi yang namanya GAME ONLINE. Anak-anak, remaja, dewasa bahkan orang tua sekalipun lebih senang berdiam seorang diri didepan sebuah layar komputer atau notebook terhubung jaringan internet sedang asyik sampai lupa waktu memainkan tawaran berbagai game. Apa yang didapat ? renungan dan jawaban kembali pada kita semua.<br />
<br />
sumber : <a href="http://teraszaman.blogspot.com/2011/03/permainan-anak-nagari-di-minangkabau.html" rel="nofollow" target="_blank">http://teraszaman.blogspot.com/2011/03/p...kabau.html</a>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Bongko, Makanan Khas Buka Puasa]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Bongko-Makanan-Khas-Buka-Puasa</link>
			<pubDate>Thu, 09 Aug 2012 09:15:40 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Bongko-Makanan-Khas-Buka-Puasa</guid>
			<description><![CDATA[&lt;img src="http://www.inioke.com//foto/berita/250720123552.jpg" align="left" width="350" /&gt;<br />
<br />
<br />
Menjajal makanan untuk buka puasa di pasar pabukoan (pasar yang menyuguhkan berbagai macam makanan untuk buka puasa) adalah sesuatu yang menyenangkan. Selain mata kita dimanjakan oleh pilihan makanan-makanan yang menggugah selera, kita juga akan dibuat bingung untuk memilih makanan mana yang akan kita beli.<br />
<br />
Ada banyak menu khas bulan puasa, baik makanan maupun minuman. Hampir setiap daerah memiliki makanan/minuman buka puasa yang khas. Contonya di Sicincin, ada bongko. Makanan tradisional ini terbuat dari tepung beras dan bebas pengawet serta MSG, bentuknya seperti bubur dua lapis, kenyal dan lunak. Lapisan bawah, rasanya manis dan berwarna coklat karena dicampur dengan gula merah, sedangkan lapisan atasnya berwarna hijau, warna dari daun pandan dan rasanya agak tawar. Pelengkap yang menambah citarasanya adalah kuah berwarna coklat, yang juga terbuat dari gula merah.<br />
<br />
Makanan yang hanya ada di bulan puasa ini, bagi warga Sicincin biasanya disantap sesaat setelah beduk buka puasa berbunyi, sebelum menyantap menu yang lain. "Kita dianjurkan untuk berbuka dengan yang manis, bongko adalah makanan yang manis dan enak, yang selalu dinanti setiap bulan puasa," kata Putri, mahasiswa STAIN Batusangkar.<br />
<br />
Makanan ini dapat diperoleh tanpa harus pergi ke pasar pabukoan, karena ada orang yang menjajakannya pada siang hari. Tinggal ditunggu di rumah, ketika terdengar suara orang tersebut, kita bisa langsung panggil dan beli.<br />
<br />
Nah, bagi kamu yang ingin mencoba makanan alami dan sehat ini, mampirlah ke Sicincin. Selamat berbuka puasa.<br />
(inioke)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[&lt;img src="http://www.inioke.com//foto/berita/250720123552.jpg" align="left" width="350" /&gt;<br />
<br />
<br />
Menjajal makanan untuk buka puasa di pasar pabukoan (pasar yang menyuguhkan berbagai macam makanan untuk buka puasa) adalah sesuatu yang menyenangkan. Selain mata kita dimanjakan oleh pilihan makanan-makanan yang menggugah selera, kita juga akan dibuat bingung untuk memilih makanan mana yang akan kita beli.<br />
<br />
Ada banyak menu khas bulan puasa, baik makanan maupun minuman. Hampir setiap daerah memiliki makanan/minuman buka puasa yang khas. Contonya di Sicincin, ada bongko. Makanan tradisional ini terbuat dari tepung beras dan bebas pengawet serta MSG, bentuknya seperti bubur dua lapis, kenyal dan lunak. Lapisan bawah, rasanya manis dan berwarna coklat karena dicampur dengan gula merah, sedangkan lapisan atasnya berwarna hijau, warna dari daun pandan dan rasanya agak tawar. Pelengkap yang menambah citarasanya adalah kuah berwarna coklat, yang juga terbuat dari gula merah.<br />
<br />
Makanan yang hanya ada di bulan puasa ini, bagi warga Sicincin biasanya disantap sesaat setelah beduk buka puasa berbunyi, sebelum menyantap menu yang lain. "Kita dianjurkan untuk berbuka dengan yang manis, bongko adalah makanan yang manis dan enak, yang selalu dinanti setiap bulan puasa," kata Putri, mahasiswa STAIN Batusangkar.<br />
<br />
Makanan ini dapat diperoleh tanpa harus pergi ke pasar pabukoan, karena ada orang yang menjajakannya pada siang hari. Tinggal ditunggu di rumah, ketika terdengar suara orang tersebut, kita bisa langsung panggil dan beli.<br />
<br />
Nah, bagi kamu yang ingin mencoba makanan alami dan sehat ini, mampirlah ke Sicincin. Selamat berbuka puasa.<br />
(inioke)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Buat yang Rindu Ramadan di Tanah Minang]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Buat-yang-Rindu-Ramadan-di-Tanah-Minang</link>
			<pubDate>Wed, 08 Aug 2012 06:54:14 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Buat-yang-Rindu-Ramadan-di-Tanah-Minang</guid>
			<description><![CDATA[<img src="http://surabaya.tribunnews.com/foto/bank/images/08elamangtapai.jpg" border="0" alt="[Image: 08elamangtapai.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<br />
surya/aji bramastra<br />
Lamang Tapai <br />
<br />
Tidak perlu heran bila orang Minang terkenal akan warisan kuliner mereka yang luar biasa kaya. Semua juga tahu kalau rumah makan Padang ada di mana-mana dan menjadi menu yang bisa diterima oleh siapapun. Tapi, apa sebenarnya kuliner khas orang Minang di bulan Ramadan?<br />
<br />
Lamang Tapai adalah salah satunya. Lamang adalah beras ketan yang dimasak dengan santan dalam bambu muda. Bahan utamanya, beras ketan putih, santan kelapa, daun pandan, dan sedikit garam. Bagi penulis yang wong Suroboyo nothok, lamang mirip seperti lemper, hanya saja, tanpa isian (stuffed) ayam atau daging.<br />
<br />
Untuk membuat lamang, seseorang memerlukan sebilah ruas bambu muda. Setelah beras ketan dicuci, lalu dimasukkan ke ruas bambu muda, yang bagian dalamnya terlebih dahulu dilapisi daun pisang. <br />
<br />
Kemudian, dituangkan santan ke dalamnya, lalu dibakar. Membakarnya mesti hati-hati, sehingga tidak sampai ruas bambu terbakar. Sementara tapai, adalah tape. Dalam urusan lamang tapai, tape yang dimaksud adalah tape ketan hitam, lengkap dengan kuahnya. <br />
<br />
Di Bukittinggi, juga di beberapa daerah di Sumatera Barat, lamang tapai marak dijumpai di sejumlah pasar tradisional. Makanan ini memang khas Minang.<br />
<br />
Di Tanah Minang, makanan ini kerap menjadi menu wajib di sejumlah pesta rakyat, seperti resepsi pernikahan, atau khitanan. Tapi, beberapa orang Minang yang ditemui penulis tidak membantah, lamang tapai juga identik sebagai makanan khas di bulan Ramadan.<br />
<br />
Bagi orang Minang, lamang tapai adalah menu yang pas sebagai takjil saat berbuka puasa. Lamak Bana (enak sekali), begitu kira-kira kata orang Minang. Nah, di Surabaya, cukup sulit menemukan rumah makan Padang yang menjual menu satu ini. Tapi, menu ini ternyata dijual di pasar kaget Masjid Al Akbar Surabaya (MAS). Anda yang penasaran bisa mendapatkannya di kios Lamang Tapai Kamang Maimbau, di sisi barat MAS. <br />
<br />
Tak perlu sungkan, karena penjualnya, Uda Iwan Manuroza (42), akan melayani dengan ramah dan akan memberitahu bagaimana cara membuat sebuah lamang tapai.<br />
<br />
Saat saya mencobanya, rasa lamang tapai memang unik. Padanan beras ketan yang manis nan gurih, berpadu dengan tape ketan hitam yang masam. “Lamang ini tidak hanya di Minang, di Aceh dan Medan juga ada. Yang membedakan pelengkapnya,” ujar Uda Iwan.<br />
<br />
Seporsi lamang tapai Kamang Maimbau dihargai Rp 10.000. Tapi, yang ingin mencicipi lamang saja (tanpa tapai), cukup Rp 6.000. <br />
<br />
"Kami jual hanya setiap ada Bazaar Ramadan di Masjid Agung saja. Sehari-hari kami tidak jualan, tapi kerap terima pesanan dari orang perantauan Minang yang mau punya hajatan,” tambah warga Jl Bebekan RT XIII ini.<br />
<br />
sumber : <a href="http://surabaya.tribunnews.com/2012/08/08/buat-yang-rindu-ramadan-di-tanah-minang" rel="nofollow" target="_blank">http://surabaya.tribunnews.com/2012/08/0...nah-minang</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<img src="http://surabaya.tribunnews.com/foto/bank/images/08elamangtapai.jpg" border="0" alt="[Image: 08elamangtapai.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<br />
surya/aji bramastra<br />
Lamang Tapai <br />
<br />
Tidak perlu heran bila orang Minang terkenal akan warisan kuliner mereka yang luar biasa kaya. Semua juga tahu kalau rumah makan Padang ada di mana-mana dan menjadi menu yang bisa diterima oleh siapapun. Tapi, apa sebenarnya kuliner khas orang Minang di bulan Ramadan?<br />
<br />
Lamang Tapai adalah salah satunya. Lamang adalah beras ketan yang dimasak dengan santan dalam bambu muda. Bahan utamanya, beras ketan putih, santan kelapa, daun pandan, dan sedikit garam. Bagi penulis yang wong Suroboyo nothok, lamang mirip seperti lemper, hanya saja, tanpa isian (stuffed) ayam atau daging.<br />
<br />
Untuk membuat lamang, seseorang memerlukan sebilah ruas bambu muda. Setelah beras ketan dicuci, lalu dimasukkan ke ruas bambu muda, yang bagian dalamnya terlebih dahulu dilapisi daun pisang. <br />
<br />
Kemudian, dituangkan santan ke dalamnya, lalu dibakar. Membakarnya mesti hati-hati, sehingga tidak sampai ruas bambu terbakar. Sementara tapai, adalah tape. Dalam urusan lamang tapai, tape yang dimaksud adalah tape ketan hitam, lengkap dengan kuahnya. <br />
<br />
Di Bukittinggi, juga di beberapa daerah di Sumatera Barat, lamang tapai marak dijumpai di sejumlah pasar tradisional. Makanan ini memang khas Minang.<br />
<br />
Di Tanah Minang, makanan ini kerap menjadi menu wajib di sejumlah pesta rakyat, seperti resepsi pernikahan, atau khitanan. Tapi, beberapa orang Minang yang ditemui penulis tidak membantah, lamang tapai juga identik sebagai makanan khas di bulan Ramadan.<br />
<br />
Bagi orang Minang, lamang tapai adalah menu yang pas sebagai takjil saat berbuka puasa. Lamak Bana (enak sekali), begitu kira-kira kata orang Minang. Nah, di Surabaya, cukup sulit menemukan rumah makan Padang yang menjual menu satu ini. Tapi, menu ini ternyata dijual di pasar kaget Masjid Al Akbar Surabaya (MAS). Anda yang penasaran bisa mendapatkannya di kios Lamang Tapai Kamang Maimbau, di sisi barat MAS. <br />
<br />
Tak perlu sungkan, karena penjualnya, Uda Iwan Manuroza (42), akan melayani dengan ramah dan akan memberitahu bagaimana cara membuat sebuah lamang tapai.<br />
<br />
Saat saya mencobanya, rasa lamang tapai memang unik. Padanan beras ketan yang manis nan gurih, berpadu dengan tape ketan hitam yang masam. “Lamang ini tidak hanya di Minang, di Aceh dan Medan juga ada. Yang membedakan pelengkapnya,” ujar Uda Iwan.<br />
<br />
Seporsi lamang tapai Kamang Maimbau dihargai Rp 10.000. Tapi, yang ingin mencicipi lamang saja (tanpa tapai), cukup Rp 6.000. <br />
<br />
"Kami jual hanya setiap ada Bazaar Ramadan di Masjid Agung saja. Sehari-hari kami tidak jualan, tapi kerap terima pesanan dari orang perantauan Minang yang mau punya hajatan,” tambah warga Jl Bebekan RT XIII ini.<br />
<br />
sumber : <a href="http://surabaya.tribunnews.com/2012/08/08/buat-yang-rindu-ramadan-di-tanah-minang" rel="nofollow" target="_blank">http://surabaya.tribunnews.com/2012/08/0...nah-minang</a>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Ikan Zebra Aneh dari Mata Air Batang Tabik]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Ikan-Zebra-Aneh-dari-Mata-Air-Batang-Tabik</link>
			<pubDate>Sat, 04 Aug 2012 06:35:33 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Ikan-Zebra-Aneh-dari-Mata-Air-Batang-Tabik</guid>
			<description><![CDATA[<img src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/03/1331033915629609453.jpg" border="0" alt="[Image: 1331033915629609453.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
ikan zebra jantan lebih kurang seperti itu <br />
<br />
<br />
<div align="justify">Batang Tabik adalah <br />
nama sebuah jorong di Kenagarian Sei Kamuyang Kecamatan Luak Kabupaten <br />
50 Kota, Sumatera Barat. Nama jorong ini diberikan karena sesuai dengan <br />
apa yang ada disana. Yakni sebuah batang tabik. Atau mata air yang <br />
keluar dari tanah. Kata orang-orang tua mata air itu berasal dari danau <br />
Singkarak. Benar atau tidaknya belum diketahui secara pasti. Yang jelas <br />
mata air ini mengalir terus tanpa henti. Tidak melihat apakah itu musim <br />
kemarau/panas. Tetap jumlah airnya tak berkurang. Mengalir sangat <br />
banyak. Kata orang-orang tua dahulu ketika mata air itu menyembur dari <br />
tanah, lubang mata air itu dimasukkan sebuah batu yang amat besar <br />
ukurannya. Guna mengurangi debit air yang keluar. Bisa dibayangkan <br />
seperti apa besarnya. Jika dulunya tidak ditutupi dengan batu besar itu <br />
kemungkinan saat ini daerah yang disebut Batang Tabik itu telah berubah <br />
menjadi sebuah danau barangkali.</div>
<div align="justify">Nama Batang Tabik ini <br />
sangat terkenal di kalangan masyarakat Payakumbuh, Kabupaten 50 Kota dan<br />
sekitarnya. Karena air dari Batang Tabik ini digunakan PDAM untuk <br />
menyupai kebutuhan warga kota Payakumbuh khusunya.</div>
<img src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/03/13310340211937773766_300x200.4.jpg" border="0" alt="[Image: 13310340211937773766_300x200.4.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
pemandian batang tabik dilihat dari sudut jalan<br />
<br />
<br />
<br />
Batang Tabik juga merupakan objek wisata. Yakni dibuat pemandian umum. <br />
Dan dibuka setiap hari. Ada tiga buah kolam disana. Kolam untuk <br />
anak-anak, dewasa dan kolam ibu. Kolam anak-anak dan dewasa terpisah <br />
dengan kolam ibu. Kolam ibu langsung dialiri oleh mata air tersebut. <br />
Kemudian dialirkan ke parit yang fungsi parit itu juga sebagai aliran <br />
irigasi. Kolam ibu disini hanya sekedar sebutan. Terserah yang mau <br />
berenang disana.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Airnya sungguh-sungguh sangat bersih dan bening. Khususnya di kolam ibu.<br />
Kolam ini seperti kolam alami. Tidak pernah dibersihkan dikarenakan air<br />
dari mata air itu langsung masuk ke kolam ini. Jadi airnya terus <br />
mengalir. Dengar begitu air kolam ini sangat bersih. Apa saja yang ada <br />
didasar kolam yang tanpa semen itu bisa langsung terlihat dari atas. <br />
Sungguh bening. Sumpah!!<br />
<br />
<div align="justify">Di kolam ibu itu <br />
ternyata juga dihuni oleh beberapa ikan. Ikan itu dilarang untuk <br />
ditangkap. Tapi tidak untuk ikan yang oleh warga sekitar disebut ikan <br />
zebra. Tidak tahu darimana ikan ini berasal. Pertama kali ikan ini <br />
dtemukan oleh pengurus pemandian dikolam ikan miliknya. Yang airnya <br />
berasal dari aliran mata air batang tabik. Ikan itu seperti ikan nila <br />
atau mujair yang pada bagian punggungnya terdapat duri. Ukuran <br />
maksimalnya seukuran dua jari (telunjuk dan tengah) orang dewasa. Namun <br />
jenis ikan ini belum pernah ada sebelumnya. Lalu yang menjadi pertanyaan<br />
dari mana asalnya?</div>
<div align="justify">Apakah ikan zebra ini <br />
awalnya hidup di danau Singkarak? Seperti perkiraan awal karena banyak <br />
yang berpendapat bahwa mata air ini berasal dari danau itu. Kemungkinan <br />
saja hal ini bisa terjadi. Tapi apakah ikan ini berenang langsung dari <br />
danau Singkarak lalu keluar dari mata air itu? Atau dalam bentuk telur <br />
ikan yang sudah dibuahi? Lalu terseret oleh pusaran mata air didasar <br />
danau Singkarak dan menetas di pemandian Batang Tabik?</div>
<div align="justify">Jika mulanya sudah <br />
berbentuk ikan yang berenang dari danau Singkarak sampai keluar dimata <br />
air itu sungguh ikan ini bisa dibilang perenang yang hebat yang bisa <br />
bertahan hidup cukup lama. Namun anehnya tidak demikian. Ikan zebra ini <br />
tergolong ikan yang kurang bisa bertahan hidup cukup lama. Jika <br />
kekurangan oksigen ikan ini akan lemas lalu mati.</div>
<div align="justify">Saat ini ikan zebra <br />
sudah bisa ditemukan di kolam-kolam milik warga setempat. Ikan ini tidak<br />
dimasukkan ke kolam dengan sengaja. Ternyata ikan zebra ini mudah <br />
berkembang biak. Jika kolam ikan itu airnya berasal dari aliran mata air<br />
Batang Tabik maka kemungkinan besar ikan itu bisa ditemukan dikolamnya.<br />
Dikarenakan telur-telur ikan zebra ini terbawa aliran air dan sudah <br />
tentu masuk ke dalam kolam ikan milik warga.</div>
<div align="justify">Selain aneh ikan ini <br />
juga unik. Ikan zebra betina berbeda dengan yang jantan. Ikan zebra <br />
betina lebih cantik. Siripnya yang seperi zebra (hitam –putih) dihiasi <br />
oleh sirip berwarna seperti warna pelangi. Bergaris-garis secara <br />
vertikal. Jika terkena sinar sirip yang berwarna warni itu akan terlihat<br />
bercahaya. Berbeda dengan yang jantan. Ikan zebra jantan siripnya polos<br />
(hitam-putih saja).</div>
<div align="justify">Ikan ini suka makan <br />
lumut-lumut dibebetuan. Dan ikan ini tergolong ikan yang tidak suka ke <br />
permukaan. Suka main di dasar. Dan satu lagi ikan ini agak agresif. <br />
Tidak suka ada ikan lain memasuki daerah kekuasaannya. Walau pun <br />
ukurannya kecil tapi karena gerakannya lincah membuat ikan disekitarnya <br />
menjauh. Seekor induk ikan zebra sangat menyayangi <br />
anak-anaknya yang masih dalam tahap pengasuhan. Salut deh sama ikan yang<br />
satu ini yang sayang sama anak-anaknya…</div>
<img src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/03/13310362741461106859.jpg" border="0" alt="[Image: 13310362741461106859.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
lebih kurang yang betina seperti itu. tapi tidak persis dengan yang sebenarnya. nanti akan saya ganti dengan yang sebenarnya. ok<br />
<br />
<br />
<div align="justify">Karena keanehan plus <br />
keunikan dari ikan ini maka banyak yang tertarik padanya. Ikan ini ada <br />
yang melirik untuk mempercantik aquarium. Namun ikan ini belum diperjual<br />
belikan. Dikarenakan masalah yang tadi. Factor kerentanannya cukup <br />
besar . jadi bagi mereka yang ingin mempercantik aquariumnya dirumah, <br />
ikan ini ditangkap dulu di kolam.</div>
<div align="justify">Bagi anda yang suatu <br />
saat datang ke Pemandian Batang Tabik untuk berenang. Jangan lupa untuk <br />
melihat ikan ini. Tanyakan saja kepada petugas ikan zebra ini seperti <br />
apa. Jika petugas itu tahu maka ia akan menunjukkan keberadaannya di <br />
kolam ikan di lokasi pemandian itu.</div>
<br />
<br />
sumber : <a href="http://unik.kompasiana.com/2012/03/06/ikan-zebra-aneh-dari-mata-air-batang-tabik/" rel="nofollow" target="_blank">http://unik.kompasiana.com/2012/03/06/ik...ang-tabik/</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<img src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/03/1331033915629609453.jpg" border="0" alt="[Image: 1331033915629609453.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
ikan zebra jantan lebih kurang seperti itu <br />
<br />
<br />
<div align="justify">Batang Tabik adalah <br />
nama sebuah jorong di Kenagarian Sei Kamuyang Kecamatan Luak Kabupaten <br />
50 Kota, Sumatera Barat. Nama jorong ini diberikan karena sesuai dengan <br />
apa yang ada disana. Yakni sebuah batang tabik. Atau mata air yang <br />
keluar dari tanah. Kata orang-orang tua mata air itu berasal dari danau <br />
Singkarak. Benar atau tidaknya belum diketahui secara pasti. Yang jelas <br />
mata air ini mengalir terus tanpa henti. Tidak melihat apakah itu musim <br />
kemarau/panas. Tetap jumlah airnya tak berkurang. Mengalir sangat <br />
banyak. Kata orang-orang tua dahulu ketika mata air itu menyembur dari <br />
tanah, lubang mata air itu dimasukkan sebuah batu yang amat besar <br />
ukurannya. Guna mengurangi debit air yang keluar. Bisa dibayangkan <br />
seperti apa besarnya. Jika dulunya tidak ditutupi dengan batu besar itu <br />
kemungkinan saat ini daerah yang disebut Batang Tabik itu telah berubah <br />
menjadi sebuah danau barangkali.</div>
<div align="justify">Nama Batang Tabik ini <br />
sangat terkenal di kalangan masyarakat Payakumbuh, Kabupaten 50 Kota dan<br />
sekitarnya. Karena air dari Batang Tabik ini digunakan PDAM untuk <br />
menyupai kebutuhan warga kota Payakumbuh khusunya.</div>
<img src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/03/13310340211937773766_300x200.4.jpg" border="0" alt="[Image: 13310340211937773766_300x200.4.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
pemandian batang tabik dilihat dari sudut jalan<br />
<br />
<br />
<br />
Batang Tabik juga merupakan objek wisata. Yakni dibuat pemandian umum. <br />
Dan dibuka setiap hari. Ada tiga buah kolam disana. Kolam untuk <br />
anak-anak, dewasa dan kolam ibu. Kolam anak-anak dan dewasa terpisah <br />
dengan kolam ibu. Kolam ibu langsung dialiri oleh mata air tersebut. <br />
Kemudian dialirkan ke parit yang fungsi parit itu juga sebagai aliran <br />
irigasi. Kolam ibu disini hanya sekedar sebutan. Terserah yang mau <br />
berenang disana.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Airnya sungguh-sungguh sangat bersih dan bening. Khususnya di kolam ibu.<br />
Kolam ini seperti kolam alami. Tidak pernah dibersihkan dikarenakan air<br />
dari mata air itu langsung masuk ke kolam ini. Jadi airnya terus <br />
mengalir. Dengar begitu air kolam ini sangat bersih. Apa saja yang ada <br />
didasar kolam yang tanpa semen itu bisa langsung terlihat dari atas. <br />
Sungguh bening. Sumpah!!<br />
<br />
<div align="justify">Di kolam ibu itu <br />
ternyata juga dihuni oleh beberapa ikan. Ikan itu dilarang untuk <br />
ditangkap. Tapi tidak untuk ikan yang oleh warga sekitar disebut ikan <br />
zebra. Tidak tahu darimana ikan ini berasal. Pertama kali ikan ini <br />
dtemukan oleh pengurus pemandian dikolam ikan miliknya. Yang airnya <br />
berasal dari aliran mata air batang tabik. Ikan itu seperti ikan nila <br />
atau mujair yang pada bagian punggungnya terdapat duri. Ukuran <br />
maksimalnya seukuran dua jari (telunjuk dan tengah) orang dewasa. Namun <br />
jenis ikan ini belum pernah ada sebelumnya. Lalu yang menjadi pertanyaan<br />
dari mana asalnya?</div>
<div align="justify">Apakah ikan zebra ini <br />
awalnya hidup di danau Singkarak? Seperti perkiraan awal karena banyak <br />
yang berpendapat bahwa mata air ini berasal dari danau itu. Kemungkinan <br />
saja hal ini bisa terjadi. Tapi apakah ikan ini berenang langsung dari <br />
danau Singkarak lalu keluar dari mata air itu? Atau dalam bentuk telur <br />
ikan yang sudah dibuahi? Lalu terseret oleh pusaran mata air didasar <br />
danau Singkarak dan menetas di pemandian Batang Tabik?</div>
<div align="justify">Jika mulanya sudah <br />
berbentuk ikan yang berenang dari danau Singkarak sampai keluar dimata <br />
air itu sungguh ikan ini bisa dibilang perenang yang hebat yang bisa <br />
bertahan hidup cukup lama. Namun anehnya tidak demikian. Ikan zebra ini <br />
tergolong ikan yang kurang bisa bertahan hidup cukup lama. Jika <br />
kekurangan oksigen ikan ini akan lemas lalu mati.</div>
<div align="justify">Saat ini ikan zebra <br />
sudah bisa ditemukan di kolam-kolam milik warga setempat. Ikan ini tidak<br />
dimasukkan ke kolam dengan sengaja. Ternyata ikan zebra ini mudah <br />
berkembang biak. Jika kolam ikan itu airnya berasal dari aliran mata air<br />
Batang Tabik maka kemungkinan besar ikan itu bisa ditemukan dikolamnya.<br />
Dikarenakan telur-telur ikan zebra ini terbawa aliran air dan sudah <br />
tentu masuk ke dalam kolam ikan milik warga.</div>
<div align="justify">Selain aneh ikan ini <br />
juga unik. Ikan zebra betina berbeda dengan yang jantan. Ikan zebra <br />
betina lebih cantik. Siripnya yang seperi zebra (hitam –putih) dihiasi <br />
oleh sirip berwarna seperti warna pelangi. Bergaris-garis secara <br />
vertikal. Jika terkena sinar sirip yang berwarna warni itu akan terlihat<br />
bercahaya. Berbeda dengan yang jantan. Ikan zebra jantan siripnya polos<br />
(hitam-putih saja).</div>
<div align="justify">Ikan ini suka makan <br />
lumut-lumut dibebetuan. Dan ikan ini tergolong ikan yang tidak suka ke <br />
permukaan. Suka main di dasar. Dan satu lagi ikan ini agak agresif. <br />
Tidak suka ada ikan lain memasuki daerah kekuasaannya. Walau pun <br />
ukurannya kecil tapi karena gerakannya lincah membuat ikan disekitarnya <br />
menjauh. Seekor induk ikan zebra sangat menyayangi <br />
anak-anaknya yang masih dalam tahap pengasuhan. Salut deh sama ikan yang<br />
satu ini yang sayang sama anak-anaknya…</div>
<img src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/03/13310362741461106859.jpg" border="0" alt="[Image: 13310362741461106859.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
lebih kurang yang betina seperti itu. tapi tidak persis dengan yang sebenarnya. nanti akan saya ganti dengan yang sebenarnya. ok<br />
<br />
<br />
<div align="justify">Karena keanehan plus <br />
keunikan dari ikan ini maka banyak yang tertarik padanya. Ikan ini ada <br />
yang melirik untuk mempercantik aquarium. Namun ikan ini belum diperjual<br />
belikan. Dikarenakan masalah yang tadi. Factor kerentanannya cukup <br />
besar . jadi bagi mereka yang ingin mempercantik aquariumnya dirumah, <br />
ikan ini ditangkap dulu di kolam.</div>
<div align="justify">Bagi anda yang suatu <br />
saat datang ke Pemandian Batang Tabik untuk berenang. Jangan lupa untuk <br />
melihat ikan ini. Tanyakan saja kepada petugas ikan zebra ini seperti <br />
apa. Jika petugas itu tahu maka ia akan menunjukkan keberadaannya di <br />
kolam ikan di lokasi pemandian itu.</div>
<br />
<br />
sumber : <a href="http://unik.kompasiana.com/2012/03/06/ikan-zebra-aneh-dari-mata-air-batang-tabik/" rel="nofollow" target="_blank">http://unik.kompasiana.com/2012/03/06/ik...ang-tabik/</a>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Silek – Seni Beladiri Minangkabau]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Silek-%E2%80%93-Seni-Beladiri-Minangkabau</link>
			<pubDate>Thu, 19 Jul 2012 09:33:07 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Silek-%E2%80%93-Seni-Beladiri-Minangkabau</guid>
			<description><![CDATA[Silek adalah nama Minangkabau buat seni beladiri yang ditempat <br />
lain dikenal dengan Silat. Sistem matrilineal yang dianut membuat anak <br />
laki-laki setelah akil balik harus tinggal di surau dan silat adalah <br />
salah satu dasar pendidikan penting yang harus dipelajari oleh anak <br />
laki-laki disamping pendidikan agama islam. Silek merupakan unsur <br />
penting dalam tradisi dan adat masyarakat Minangkabau yang merupakan <br />
ekspersi etnis Minang.<br />
<br />
<div align="center"><img src="http://buchyar.pelaminanminang.com/image/adat/pendekar_silek_sitaralak.jpg" border="0" alt="[Image: pendekar_silek_sitaralak.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<br />
(Gambar 1.1 Pendekar silek aliran Sitaralak dalam posisi kudo-kudo)</div>
Silek sudah merasuk dalam setiap kehidupan sehari-hari dan muncul <br />
sebagai unsur penting dalam cerita rakyat, legenda, pepatah dan tradisi <br />
lisan di Minangkabau. Ada banyak jenis aliran beladiri silek di Sumatera<br />
Barat dan dapat dikatagorikan dalam sebelas aliran silek yang berhasil <br />
didata antara lain:<br />
<ul>
<li>Silek Kumanggo</li>
<li>Silek Lintau</li>
<li>Silek Tuo</li>
<li>Silek Sitaralak</li>
<li>Silek Harimau</li>
<li>Silek Pauh</li>
<li>Silek Sungai Patai</li>
<li>Silek Luncua</li>
<li>Silek Gulo Gulo Tareh</li>
<li>Silek Baru</li>
<li>Silek Ulu Ambek</li></ul>
Menurut Hiltrud Cordes hanya sepuluh pertama saja yang dapat <br />
digolongkan sebagai aliran beladiri silek tetapi silek Ulu Ambek banyak <br />
terdapat pada pesisir Pariaman.<br />
<br />
Jenis beladiri silek diatas ditemukan dibanyak tempat di Sumatera <br />
Barat meskipun banyak jenis lain yang lebih lokal bahkan ada yang hanya <br />
terdapat dalam suatu kampung saja dan untuk yang terakhir ini lebih <br />
tepat rasanya untuk disebut perguruan silek daripada aliran yang <br />
sebagian besar menamakan aliran sileknya dengan nama kampung asal aliran<br />
silek itu berasal dan tidak mengasosiasikan diri mereka dengan salah <br />
satu aliran diatas, malah beberapa menamakan diri dengan nama yang unik <br />
seperti Harimau Lalok, Gajah Badorong, Kuciang Bagaluik atau Puti Mandi.<br />
<br />
Metoda Latihan Silek<br />
<br />
Silek biasanya dilakukan ditempat yang disebut sasaran, sebuah tempat<br />
terbuka atau kosong dan luas yang dekat dengan rumah guru silek. <br />
Latihan beladiri silek dilaksanakan pada saat menjelang malam setelah <br />
sholat magrib dan berlangsung selama 2-3 jam meskipun kadang sampai <br />
tengah malam. Latihan beladiri silek juga dilakukan dengan pencahayaan <br />
seadanya seperti cahaya bulan, obor atau lampu minyak tanah. Hal ini <br />
dilakukan untuk melatih ketajaman penglihatan dan juga sebagai latihan <br />
intuisi. Kadang-kadang latihan silek ini juga dihadiri oleh penghulu <br />
desa dan diiringi oleh nyanyian, talempong ataupun saluang. Pakaian <br />
silek adalah galembong (celana hitam), taluak balango dan destar.<br />
<br />
<div align="center"><img src="http://buchyar.pelaminanminang.com/image/adat/murid_silek_latihan.jpg" border="0" alt="[Image: murid_silek_latihan.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<br />
(Gambar 1.2 Murid dari perguruan silek sedang berlatih dimalam hari)</div>
Latihan beladiri silek tidak dilakukan pemanasan seperti aliran <br />
beladiri di asia pada umumnya. Dua orang dengan ukuran fisik dan <br />
kemampuan tehnik yang sama bermain silek dalam sasaran dengan pengawasan<br />
yang ketat dari sang guru dan disaksikan oleh murid-murid yang lain. <br />
Permainan silek (demikian sebutan untuk sesi latihan) berlangsung <br />
setelah peserta memberi hormat pada guru dan kemudian pada lawan <br />
mainnya, setelah permainan usai penghormatan berlangsung sebaliknya. <br />
Suasana latihan biasanya santai dan jauh dari kesan formal dimana <br />
latihan fisik yang keras bukan prioritas tertinggi.<br />
<br />
Waktu rata-rata yang diperlukan untuk menamatkan pendidikan dasar <br />
silek adalah 6-8 bulan dan untuk memiliki dasar silek yang baik seorang <br />
murid harus belajar secara teratur selama 2-3 tahun. Sedangkan untuk <br />
dapat menjadi master atau pendekar dalam beladiri silek diperlukan <br />
latihan selama 15 tahun.<br />
<br />
Dalam latihan beladiri silek, murid berbaris ataupun membentuk <br />
lingkaran dan meniru gerakan dari guru ataupun murid senior. Guru <br />
biasanya memberi aba-aba dengan suara atau tepukan tangan untuk <br />
menandakan perubahan gerakan yang disebut tapuak. Setelah cukup mahir <br />
dengan tehnik dasar, murid disarankan untuk berlatih dengan murid lain <br />
yang berbeda ukuran fisik hingga mampu beradaptasi dengan berbagai <br />
postur, gerakan dan tingkatan tehnik.<br />
<br />
Strategi dasar dari silek ini adalah garak-garik yang dapat diartikan<br />
sebagai aksi dan reaksi yang seimbang. Garak-garik dapat dianalogikan <br />
seperti permainan catur dimana masing-masing memiliki beberapa pilihan <br />
jurus dan harus memilih jurus yang paling efektif untuk dilaksanakan. <br />
Masing-masing harus mengantisipasi semua kemungkinan gerakan dari lawan <br />
dan mampu memanipulasi lawan untuk mengambil langkah sehingga lawan <br />
memiliki lebih sedikit pilihan jurus dan pada akhirnya tidak memiliki <br />
jurus lagi untuk dilancarkan. Tetapi tidak seperti catur, dalam beladiri<br />
silek waktu adalah hal yang penting, setiap langkah dan jurus harus <br />
dilancarkan secara cepat, tepat dan penuh kejutan sehingga lawan gagal <br />
mengantisipasinya. Semakin ahli para pemain semakin lama permainan ini <br />
berakhir.<br />
<br />
Apabila seorang murid telah cukup mahir dalam tehnik maupun fisik <br />
serta mampu mendapat kepercayaan dari sang guru maka ia akan mendapat <br />
latihan pribadi khusus dari sang guru. Dalam proses mengajarkan <br />
pengetahuan khusus ini, murid disumpah untuk menggunakan ilmu beladiri <br />
ini untuk kebaikan.<br />
<br />
Latihan tingkat lanjut lain berupa mengirim murid kedalam hutan untuk<br />
meditasi, menaklukkan rasa takut dan bertahan hidup selama beberapa <br />
hari dihutan. Latihan yang kurang berbahaya adalah dengan mengirim murid<br />
untuk latih tanding dengan perguruan silat lain.<br />
<br />
Aspek Seni dari Silek<br />
<br />
Beberapa karakter dari silek membuatnya dapat dilaksanakan seperti <br />
tarian karena itu silek sering diiringi oleh musik dan lagu dimana para <br />
pemain musik mencocokkan irama musik dengan gerakan para pendekar silek.<br />
<br />
<div align="center"><img src="http://buchyar.pelaminanminang.com/image/adat/latihan_silek.jpg" border="0" alt="[Image: latihan_silek.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<br />
(Gambar 1.3 Suasana latihan silek di Minangkabau dalam formasi yang <br />
disebut galombang diperagakan oleh murid silek tingkat dasar)</div>
Sebuah karakter unik dari silek adalah barisan melingkar (galombang) <br />
yang dipakai saat latihan pada beberapa aliran silek. Setiap peserta <br />
latihan melaksanakan gerakan secara simultan sehingga memberikan kesan <br />
seperti tarian. Maka tidaklah mengherankan bila seni beladiri silek <br />
merupakan asal dari banyak seni tari dan seni teater di Minangkabau <br />
seperti randai, tari ratak, tari persembahan dan tari tanduk (tari <br />
tanduak).<br />
<br />
<div align="center"><img src="http://buchyar.pelaminanminang.com/image/adat/tarian_ratak.jpg" border="0" alt="[Image: tarian_ratak.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<br />
(Gambar 1.4 Tarian ratak yang banyak mengambil gerakan silek diperagakan oleh kaum wanita juga)</div><div align="center">sumber : <a href="http://thomy265.wordpress.com/2011/08/12/silek-seni-beladiri-minangkabau/" rel="nofollow" target="_blank">http://thomy265.wordpress.com/2011/08/12...nangkabau/</a></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Silek adalah nama Minangkabau buat seni beladiri yang ditempat <br />
lain dikenal dengan Silat. Sistem matrilineal yang dianut membuat anak <br />
laki-laki setelah akil balik harus tinggal di surau dan silat adalah <br />
salah satu dasar pendidikan penting yang harus dipelajari oleh anak <br />
laki-laki disamping pendidikan agama islam. Silek merupakan unsur <br />
penting dalam tradisi dan adat masyarakat Minangkabau yang merupakan <br />
ekspersi etnis Minang.<br />
<br />
<div align="center"><img src="http://buchyar.pelaminanminang.com/image/adat/pendekar_silek_sitaralak.jpg" border="0" alt="[Image: pendekar_silek_sitaralak.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<br />
(Gambar 1.1 Pendekar silek aliran Sitaralak dalam posisi kudo-kudo)</div>
Silek sudah merasuk dalam setiap kehidupan sehari-hari dan muncul <br />
sebagai unsur penting dalam cerita rakyat, legenda, pepatah dan tradisi <br />
lisan di Minangkabau. Ada banyak jenis aliran beladiri silek di Sumatera<br />
Barat dan dapat dikatagorikan dalam sebelas aliran silek yang berhasil <br />
didata antara lain:<br />
<ul>
<li>Silek Kumanggo</li>
<li>Silek Lintau</li>
<li>Silek Tuo</li>
<li>Silek Sitaralak</li>
<li>Silek Harimau</li>
<li>Silek Pauh</li>
<li>Silek Sungai Patai</li>
<li>Silek Luncua</li>
<li>Silek Gulo Gulo Tareh</li>
<li>Silek Baru</li>
<li>Silek Ulu Ambek</li></ul>
Menurut Hiltrud Cordes hanya sepuluh pertama saja yang dapat <br />
digolongkan sebagai aliran beladiri silek tetapi silek Ulu Ambek banyak <br />
terdapat pada pesisir Pariaman.<br />
<br />
Jenis beladiri silek diatas ditemukan dibanyak tempat di Sumatera <br />
Barat meskipun banyak jenis lain yang lebih lokal bahkan ada yang hanya <br />
terdapat dalam suatu kampung saja dan untuk yang terakhir ini lebih <br />
tepat rasanya untuk disebut perguruan silek daripada aliran yang <br />
sebagian besar menamakan aliran sileknya dengan nama kampung asal aliran<br />
silek itu berasal dan tidak mengasosiasikan diri mereka dengan salah <br />
satu aliran diatas, malah beberapa menamakan diri dengan nama yang unik <br />
seperti Harimau Lalok, Gajah Badorong, Kuciang Bagaluik atau Puti Mandi.<br />
<br />
Metoda Latihan Silek<br />
<br />
Silek biasanya dilakukan ditempat yang disebut sasaran, sebuah tempat<br />
terbuka atau kosong dan luas yang dekat dengan rumah guru silek. <br />
Latihan beladiri silek dilaksanakan pada saat menjelang malam setelah <br />
sholat magrib dan berlangsung selama 2-3 jam meskipun kadang sampai <br />
tengah malam. Latihan beladiri silek juga dilakukan dengan pencahayaan <br />
seadanya seperti cahaya bulan, obor atau lampu minyak tanah. Hal ini <br />
dilakukan untuk melatih ketajaman penglihatan dan juga sebagai latihan <br />
intuisi. Kadang-kadang latihan silek ini juga dihadiri oleh penghulu <br />
desa dan diiringi oleh nyanyian, talempong ataupun saluang. Pakaian <br />
silek adalah galembong (celana hitam), taluak balango dan destar.<br />
<br />
<div align="center"><img src="http://buchyar.pelaminanminang.com/image/adat/murid_silek_latihan.jpg" border="0" alt="[Image: murid_silek_latihan.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<br />
(Gambar 1.2 Murid dari perguruan silek sedang berlatih dimalam hari)</div>
Latihan beladiri silek tidak dilakukan pemanasan seperti aliran <br />
beladiri di asia pada umumnya. Dua orang dengan ukuran fisik dan <br />
kemampuan tehnik yang sama bermain silek dalam sasaran dengan pengawasan<br />
yang ketat dari sang guru dan disaksikan oleh murid-murid yang lain. <br />
Permainan silek (demikian sebutan untuk sesi latihan) berlangsung <br />
setelah peserta memberi hormat pada guru dan kemudian pada lawan <br />
mainnya, setelah permainan usai penghormatan berlangsung sebaliknya. <br />
Suasana latihan biasanya santai dan jauh dari kesan formal dimana <br />
latihan fisik yang keras bukan prioritas tertinggi.<br />
<br />
Waktu rata-rata yang diperlukan untuk menamatkan pendidikan dasar <br />
silek adalah 6-8 bulan dan untuk memiliki dasar silek yang baik seorang <br />
murid harus belajar secara teratur selama 2-3 tahun. Sedangkan untuk <br />
dapat menjadi master atau pendekar dalam beladiri silek diperlukan <br />
latihan selama 15 tahun.<br />
<br />
Dalam latihan beladiri silek, murid berbaris ataupun membentuk <br />
lingkaran dan meniru gerakan dari guru ataupun murid senior. Guru <br />
biasanya memberi aba-aba dengan suara atau tepukan tangan untuk <br />
menandakan perubahan gerakan yang disebut tapuak. Setelah cukup mahir <br />
dengan tehnik dasar, murid disarankan untuk berlatih dengan murid lain <br />
yang berbeda ukuran fisik hingga mampu beradaptasi dengan berbagai <br />
postur, gerakan dan tingkatan tehnik.<br />
<br />
Strategi dasar dari silek ini adalah garak-garik yang dapat diartikan<br />
sebagai aksi dan reaksi yang seimbang. Garak-garik dapat dianalogikan <br />
seperti permainan catur dimana masing-masing memiliki beberapa pilihan <br />
jurus dan harus memilih jurus yang paling efektif untuk dilaksanakan. <br />
Masing-masing harus mengantisipasi semua kemungkinan gerakan dari lawan <br />
dan mampu memanipulasi lawan untuk mengambil langkah sehingga lawan <br />
memiliki lebih sedikit pilihan jurus dan pada akhirnya tidak memiliki <br />
jurus lagi untuk dilancarkan. Tetapi tidak seperti catur, dalam beladiri<br />
silek waktu adalah hal yang penting, setiap langkah dan jurus harus <br />
dilancarkan secara cepat, tepat dan penuh kejutan sehingga lawan gagal <br />
mengantisipasinya. Semakin ahli para pemain semakin lama permainan ini <br />
berakhir.<br />
<br />
Apabila seorang murid telah cukup mahir dalam tehnik maupun fisik <br />
serta mampu mendapat kepercayaan dari sang guru maka ia akan mendapat <br />
latihan pribadi khusus dari sang guru. Dalam proses mengajarkan <br />
pengetahuan khusus ini, murid disumpah untuk menggunakan ilmu beladiri <br />
ini untuk kebaikan.<br />
<br />
Latihan tingkat lanjut lain berupa mengirim murid kedalam hutan untuk<br />
meditasi, menaklukkan rasa takut dan bertahan hidup selama beberapa <br />
hari dihutan. Latihan yang kurang berbahaya adalah dengan mengirim murid<br />
untuk latih tanding dengan perguruan silat lain.<br />
<br />
Aspek Seni dari Silek<br />
<br />
Beberapa karakter dari silek membuatnya dapat dilaksanakan seperti <br />
tarian karena itu silek sering diiringi oleh musik dan lagu dimana para <br />
pemain musik mencocokkan irama musik dengan gerakan para pendekar silek.<br />
<br />
<div align="center"><img src="http://buchyar.pelaminanminang.com/image/adat/latihan_silek.jpg" border="0" alt="[Image: latihan_silek.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<br />
(Gambar 1.3 Suasana latihan silek di Minangkabau dalam formasi yang <br />
disebut galombang diperagakan oleh murid silek tingkat dasar)</div>
Sebuah karakter unik dari silek adalah barisan melingkar (galombang) <br />
yang dipakai saat latihan pada beberapa aliran silek. Setiap peserta <br />
latihan melaksanakan gerakan secara simultan sehingga memberikan kesan <br />
seperti tarian. Maka tidaklah mengherankan bila seni beladiri silek <br />
merupakan asal dari banyak seni tari dan seni teater di Minangkabau <br />
seperti randai, tari ratak, tari persembahan dan tari tanduk (tari <br />
tanduak).<br />
<br />
<div align="center"><img src="http://buchyar.pelaminanminang.com/image/adat/tarian_ratak.jpg" border="0" alt="[Image: tarian_ratak.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<br />
(Gambar 1.4 Tarian ratak yang banyak mengambil gerakan silek diperagakan oleh kaum wanita juga)</div><div align="center">sumber : <a href="http://thomy265.wordpress.com/2011/08/12/silek-seni-beladiri-minangkabau/" rel="nofollow" target="_blank">http://thomy265.wordpress.com/2011/08/12...nangkabau/</a></div>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Rendang Traveler, Menelusur Jejak Bertuah Kuliner Rendang]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Rendang-Traveler-Menelusur-Jejak-Bertuah-Kuliner-Rendang</link>
			<pubDate>Wed, 18 Jul 2012 08:37:03 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Rendang-Traveler-Menelusur-Jejak-Bertuah-Kuliner-Rendang</guid>
			<description><![CDATA[Siapa tak kenal rendang? Kuliner asli Indonesia dari daerah Sumatera Barat ini popularitasnya sudah mendunia, terlebih sejak dinobatkan sebagai salah makanan terenak versi CNN.go. Namun tentu tak semua orang tahu asal muasal, aneka seluk beluk rendang dan keotentikannya.<br />
<br />
Menyusuri jejak orisinalitas rendang dari daerah asalnya inilah yang coba dipaparkan dalam buku Rendang Traveler ini. Menjadi istimewa, kala Reno Andam Suri sang penulis, menorehkan pengalamannya berkeliling Sumatera Barat, dalam sebuah reportase perjalanan budaya. Reno mereportase perjalanannya menguak heritage makanan khas Indonesia ini, langsung dari daerah asalnya. Kebetulan saya diundang penulisnya untuk menghadiri launching bukunya.<br />
<img src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/06/13390386942087036908.jpg" border="0" alt="[Image: 13390386942087036908.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
inilah buku sebagai debut pertama sang penulis Reno Andam Suri<br />
<br />
<br />
<a href="http://ekonomi.kompasiana.com/wirausaha/2011/09/27/ketika-usaha-rendang-sahabat-saya-berkibar-dan-menjadi-headline-di-harian-kompas-minggu/" rel="nofollow" target="_blank"> di sini.</a> <br />
<br />
Reno bukan baru sekarang mengenal rendang. Ia memang perempuan asli minang, yang kebetulan juga menekuni usaha penjualan rendang online. Usahanya yang sudah berjalan 8 tahun lumayan berkibar. Tak heran ia akrab dengan dunia rendang. Harian Kompas Minggu pun pernah meliput usahanya, seperti yang pernah saya tulis di sini. Kebetulan lagi tulisan saya itu di hybrid di kompas.com dan berkesempatan masuk freez kompas cetak edisi 1 Oktober 2011.<br />
<br />
Tak seperti buku yang mengulas kuliner pada umumnya, dalam buku ini anda takkan menjumpai resep masakan rendang, karena memang bukan itu yang ingin dituangkan penulis. Kalau resep masakan mungkin sudah banyak aneka buku membahasnya. Penulis mengatakan, tak ada resep paling benar dan paling unggul dari setiap masakan. Semua memiliki kekhasan masing-masing.<br />
<br />
Buku setebal 200 halaman ini ini lengkap  berkisah tentang perjalanan Reno menguak tentang hal ihwal mengenai filosofi rendang, dan aneka jenis rendang dari setiap daerah yang dikunjunginya. Di mulai dengan bagaimana ia menemukan ide menulis tema ini, mengungkap aneka cara mengolah cabai, bumbu dan cara memasak yang unik dan sangat tradisional, sampai kekhasan rendang di setiap sudut kota-kota di pelosok Sumatra Barat ini. Dilengkapi pula dengan reportase perjalanan wisata dan budaya asli ranah minang.<br />
<br />
Ternyata rendang tak melulu berbahan baku daging. Di beberapa daerah penulis menjumpai aneka rendang yang mungkin jarang kita temui. Semisal rendang belut, rendang lokan (kerang air tawar), rendang ubi kayu, rendang telur, rendang cubadak (nangka) yang mirip olahan gudeg jogja. Ada juga rendang yang cocok untuk vegetarian, semisal rendang rendang ubikayu dan rendang sapuluik itam. Rendang sapuluik itam, terbuat dari tepung ketan hitam yang dicampur telur, dicetak, dikukus, kemudian hasil jadinya adonan ini menjadi kotak-kotak dan dimasak menjadi rendang. Saat matang rendang sapuluik itam ini rasanya sangat mirip seperti rendang hati sapi lho<br />
<img src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/06/1339039070255517446.jpg" border="0" alt="[Image: 1339039070255517446.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
rendang daging yang umum kita kenal<br />
<br />
<br />
<br />
<img src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/06/13390392631149565788.jpg" border="0" alt="[Image: 13390392631149565788.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
Rendang belut, olahan kreatif lain dari rendang<br />
<br />
Cerita seputar bagaimana rendang diolah menjadi bagian paling menarik dari buku ini. Sejak dari pemilihan bahan-bahan, seperti kelapa yang untuk memetiknya menggunakan jasa baruak (monyet) yang dilatih sepintar manusia dalam memilih kelapa, kemudian bagaimana kelapa ini dibuat menjadi santan dengan alat-alat tradional yang sangat menarik. Penggilingan cabai yang menggunakan batu lado asli padang, memilih bumbu-bumbu, hingga memasaknya menggunakan tungku kayu bakar dengan wadah kancah (penggorengan) yang cukup besar.<br />
<img src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/06/13390394951251347127.jpg" border="0" alt="[Image: 13390394951251347127.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
penulis mencoba langsung mengaduk rendang dari kancah super besar diatas tungku kayu<br />
<br />
<br />
Selain itu, Reno juga menuliskan perjalanannya menyusuri jejak budaya asli minang yang masih dipertahankan di banyak pelosok di wilayah Sumatra Barat ini. Mulai dari wilayah pesisir (laut) seperti Painan, Pariaman, sampai ke daerah darek (gunung), seperti Payakumbuh, Batusangkar, Bukit tinggi. Menjumpai perempuan-perempuan minang asli, yang masih sangat melestarikan keotentikan budaya kuliner disana terutama rendangnya. Menjelajah dan melihat langsung bagaimana dapur asli mereka yang berdiri di atas rumah panggung bagonjong khas minang. Mendatangi situs-situs budaya seperti istana pagaruyung.<br />
<br />
Membaca buku ini, kita serasa dibawa pada pengalaman bertualang ala back packer. Hingga tak terasa saya hanya perlu waktu 2 jam saja untuk menyelesaikan membacanya. Buku ini full berisi gambar-gambar apik keindahan dan keunikan aneka budaya Minang. Dan gambar-gambar yang tersaji, sesungguhnya sudah cukup bercerita, mengenai seting dimana penulis berada dan segala hal yang ditemuinya.<br />
<img src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/06/1339211782386095712.jpg" border="0" alt="[Image: 1339211782386095712.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
bersama penulis dalam launching buku di Gramedia Grand Indonesia]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Siapa tak kenal rendang? Kuliner asli Indonesia dari daerah Sumatera Barat ini popularitasnya sudah mendunia, terlebih sejak dinobatkan sebagai salah makanan terenak versi CNN.go. Namun tentu tak semua orang tahu asal muasal, aneka seluk beluk rendang dan keotentikannya.<br />
<br />
Menyusuri jejak orisinalitas rendang dari daerah asalnya inilah yang coba dipaparkan dalam buku Rendang Traveler ini. Menjadi istimewa, kala Reno Andam Suri sang penulis, menorehkan pengalamannya berkeliling Sumatera Barat, dalam sebuah reportase perjalanan budaya. Reno mereportase perjalanannya menguak heritage makanan khas Indonesia ini, langsung dari daerah asalnya. Kebetulan saya diundang penulisnya untuk menghadiri launching bukunya.<br />
<img src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/06/13390386942087036908.jpg" border="0" alt="[Image: 13390386942087036908.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
inilah buku sebagai debut pertama sang penulis Reno Andam Suri<br />
<br />
<br />
<a href="http://ekonomi.kompasiana.com/wirausaha/2011/09/27/ketika-usaha-rendang-sahabat-saya-berkibar-dan-menjadi-headline-di-harian-kompas-minggu/" rel="nofollow" target="_blank"> di sini.</a> <br />
<br />
Reno bukan baru sekarang mengenal rendang. Ia memang perempuan asli minang, yang kebetulan juga menekuni usaha penjualan rendang online. Usahanya yang sudah berjalan 8 tahun lumayan berkibar. Tak heran ia akrab dengan dunia rendang. Harian Kompas Minggu pun pernah meliput usahanya, seperti yang pernah saya tulis di sini. Kebetulan lagi tulisan saya itu di hybrid di kompas.com dan berkesempatan masuk freez kompas cetak edisi 1 Oktober 2011.<br />
<br />
Tak seperti buku yang mengulas kuliner pada umumnya, dalam buku ini anda takkan menjumpai resep masakan rendang, karena memang bukan itu yang ingin dituangkan penulis. Kalau resep masakan mungkin sudah banyak aneka buku membahasnya. Penulis mengatakan, tak ada resep paling benar dan paling unggul dari setiap masakan. Semua memiliki kekhasan masing-masing.<br />
<br />
Buku setebal 200 halaman ini ini lengkap  berkisah tentang perjalanan Reno menguak tentang hal ihwal mengenai filosofi rendang, dan aneka jenis rendang dari setiap daerah yang dikunjunginya. Di mulai dengan bagaimana ia menemukan ide menulis tema ini, mengungkap aneka cara mengolah cabai, bumbu dan cara memasak yang unik dan sangat tradisional, sampai kekhasan rendang di setiap sudut kota-kota di pelosok Sumatra Barat ini. Dilengkapi pula dengan reportase perjalanan wisata dan budaya asli ranah minang.<br />
<br />
Ternyata rendang tak melulu berbahan baku daging. Di beberapa daerah penulis menjumpai aneka rendang yang mungkin jarang kita temui. Semisal rendang belut, rendang lokan (kerang air tawar), rendang ubi kayu, rendang telur, rendang cubadak (nangka) yang mirip olahan gudeg jogja. Ada juga rendang yang cocok untuk vegetarian, semisal rendang rendang ubikayu dan rendang sapuluik itam. Rendang sapuluik itam, terbuat dari tepung ketan hitam yang dicampur telur, dicetak, dikukus, kemudian hasil jadinya adonan ini menjadi kotak-kotak dan dimasak menjadi rendang. Saat matang rendang sapuluik itam ini rasanya sangat mirip seperti rendang hati sapi lho<br />
<img src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/06/1339039070255517446.jpg" border="0" alt="[Image: 1339039070255517446.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
rendang daging yang umum kita kenal<br />
<br />
<br />
<br />
<img src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/06/13390392631149565788.jpg" border="0" alt="[Image: 13390392631149565788.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
Rendang belut, olahan kreatif lain dari rendang<br />
<br />
Cerita seputar bagaimana rendang diolah menjadi bagian paling menarik dari buku ini. Sejak dari pemilihan bahan-bahan, seperti kelapa yang untuk memetiknya menggunakan jasa baruak (monyet) yang dilatih sepintar manusia dalam memilih kelapa, kemudian bagaimana kelapa ini dibuat menjadi santan dengan alat-alat tradional yang sangat menarik. Penggilingan cabai yang menggunakan batu lado asli padang, memilih bumbu-bumbu, hingga memasaknya menggunakan tungku kayu bakar dengan wadah kancah (penggorengan) yang cukup besar.<br />
<img src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/06/13390394951251347127.jpg" border="0" alt="[Image: 13390394951251347127.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
penulis mencoba langsung mengaduk rendang dari kancah super besar diatas tungku kayu<br />
<br />
<br />
Selain itu, Reno juga menuliskan perjalanannya menyusuri jejak budaya asli minang yang masih dipertahankan di banyak pelosok di wilayah Sumatra Barat ini. Mulai dari wilayah pesisir (laut) seperti Painan, Pariaman, sampai ke daerah darek (gunung), seperti Payakumbuh, Batusangkar, Bukit tinggi. Menjumpai perempuan-perempuan minang asli, yang masih sangat melestarikan keotentikan budaya kuliner disana terutama rendangnya. Menjelajah dan melihat langsung bagaimana dapur asli mereka yang berdiri di atas rumah panggung bagonjong khas minang. Mendatangi situs-situs budaya seperti istana pagaruyung.<br />
<br />
Membaca buku ini, kita serasa dibawa pada pengalaman bertualang ala back packer. Hingga tak terasa saya hanya perlu waktu 2 jam saja untuk menyelesaikan membacanya. Buku ini full berisi gambar-gambar apik keindahan dan keunikan aneka budaya Minang. Dan gambar-gambar yang tersaji, sesungguhnya sudah cukup bercerita, mengenai seting dimana penulis berada dan segala hal yang ditemuinya.<br />
<img src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/06/1339211782386095712.jpg" border="0" alt="[Image: 1339211782386095712.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
bersama penulis dalam launching buku di Gramedia Grand Indonesia]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Silek Taduang Bangkeh Yayasan Annur Abdul Rahman Batipuh dapat Penghargaan ]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Silek-Taduang-Bangkeh-Yayasan-Annur-Abdul-Rahman-Batipuh-dapat-Penghargaan</link>
			<pubDate>Fri, 06 Jul 2012 06:35:10 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Silek-Taduang-Bangkeh-Yayasan-Annur-Abdul-Rahman-Batipuh-dapat-Penghargaan</guid>
			<description><![CDATA[Batusangkar,----Dinas Kebudayaan,Pariwisata,Pemuda dan Olahraga Erizal berikan penghargaan kepada Silek Taduang Bangkeh Yayasan Annur Abdul Rahman batipuh yang telah menampilkan atraksinya dalam   Lomba Seni Budaya Tingkat Kabupaten tanahdatar.<br />
     Penyerahan penghargaan tersebut langsung diberikan Kepala Dinas Kebudayaan,Pariwisata,Pemuda dan Olahraga Tanahdatar Erizal Ramli SH kepada Guru Silek Taduang Bangkeh Yayasan Annur Abdul Rahman Batipuh M Dt Bagindo dan juga didampingi Ketua Yayasan Annur Abdul Rahman Batipuh Mustafa akmal Dt Sidi Ali SH MH dalam acara bagurau Saluang samalam suntuk yang diadakan oleh Yayasan Annur Abdul Rahman Batipuh dilapangan Badminton Ladang laweh sedangkan dendang saluang berasal dari Payakumbuh, Agam dan Kabupaten Tanahdatar.<br />
    Penghargaan yang diberikan oleh Pemerintah Daerah sebagai bentuk aspreasiasinya kepada Yayasan Annur Abdul Rahman Batipuh yang telah mengembangkan Pondok Alquran,adat dan Budaya sehingga melalui wadah yayasan tersebut disamping anak anak berlajar pondok alquran, berlajar silat, juga telah didirikan pula Randai Intan Korong dan Kelompok Tani dan pola yang dikembangkan itu sebagai bentuk upaya kita menumbuhkan dan menanamkan nilai nilai budaya didaerah kita sehingga tidak tergilas dengan perkembangan Zaman.   <br />
   “ Kita tentu berharap melalui pengembangan silat tradisi dan pengembangan budaya dan salah satunya randai mampu membangkitkan kembali rasa keikut sertaan masyarakat terhadap tradisi anak nagari yang berlaku didaerah dan melalui silek mereka bisa tampil dalam berbagai kegiatan baik ditingkat Tanahdatar, sumbar bahkan bila perlu ketingkat Nasional apalagi silek makin diminati diluar Negeri. <br />
     Sementara itu Wali Jorong Ladang laweh Syaiful Anwar mengaku kehadiran Yayasan Annur Abdul Rahman Batipuh telah mampu mendorong dan membangkitkan minat generasi muda di daerah ini untuk berlajar agama, dan juga berlajar silek tradisi dan silek tradisi yang dikembangkan saat ini diladang Laweh saat ini sudah lama tidak bangkit.dan tidak itu saja juga telah dibentuk pula kegiatan randai dan dia optimis kegiatan yang dikembangkan diladang laweh ini akan menjadi contoh bagi daerah lain apalagi berbagai kegiatan selalu diadakan oleh Yayasan dan juga mendorong pemuda dan anak nagari ikut  mendukung dan dukungan itu diperlihatkan dalam acara bagurau saluang samalam suntuk (MDT/kaba luhak nan tuo)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Batusangkar,----Dinas Kebudayaan,Pariwisata,Pemuda dan Olahraga Erizal berikan penghargaan kepada Silek Taduang Bangkeh Yayasan Annur Abdul Rahman batipuh yang telah menampilkan atraksinya dalam   Lomba Seni Budaya Tingkat Kabupaten tanahdatar.<br />
     Penyerahan penghargaan tersebut langsung diberikan Kepala Dinas Kebudayaan,Pariwisata,Pemuda dan Olahraga Tanahdatar Erizal Ramli SH kepada Guru Silek Taduang Bangkeh Yayasan Annur Abdul Rahman Batipuh M Dt Bagindo dan juga didampingi Ketua Yayasan Annur Abdul Rahman Batipuh Mustafa akmal Dt Sidi Ali SH MH dalam acara bagurau Saluang samalam suntuk yang diadakan oleh Yayasan Annur Abdul Rahman Batipuh dilapangan Badminton Ladang laweh sedangkan dendang saluang berasal dari Payakumbuh, Agam dan Kabupaten Tanahdatar.<br />
    Penghargaan yang diberikan oleh Pemerintah Daerah sebagai bentuk aspreasiasinya kepada Yayasan Annur Abdul Rahman Batipuh yang telah mengembangkan Pondok Alquran,adat dan Budaya sehingga melalui wadah yayasan tersebut disamping anak anak berlajar pondok alquran, berlajar silat, juga telah didirikan pula Randai Intan Korong dan Kelompok Tani dan pola yang dikembangkan itu sebagai bentuk upaya kita menumbuhkan dan menanamkan nilai nilai budaya didaerah kita sehingga tidak tergilas dengan perkembangan Zaman.   <br />
   “ Kita tentu berharap melalui pengembangan silat tradisi dan pengembangan budaya dan salah satunya randai mampu membangkitkan kembali rasa keikut sertaan masyarakat terhadap tradisi anak nagari yang berlaku didaerah dan melalui silek mereka bisa tampil dalam berbagai kegiatan baik ditingkat Tanahdatar, sumbar bahkan bila perlu ketingkat Nasional apalagi silek makin diminati diluar Negeri. <br />
     Sementara itu Wali Jorong Ladang laweh Syaiful Anwar mengaku kehadiran Yayasan Annur Abdul Rahman Batipuh telah mampu mendorong dan membangkitkan minat generasi muda di daerah ini untuk berlajar agama, dan juga berlajar silek tradisi dan silek tradisi yang dikembangkan saat ini diladang Laweh saat ini sudah lama tidak bangkit.dan tidak itu saja juga telah dibentuk pula kegiatan randai dan dia optimis kegiatan yang dikembangkan diladang laweh ini akan menjadi contoh bagi daerah lain apalagi berbagai kegiatan selalu diadakan oleh Yayasan dan juga mendorong pemuda dan anak nagari ikut  mendukung dan dukungan itu diperlihatkan dalam acara bagurau saluang samalam suntuk (MDT/kaba luhak nan tuo)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Melintas 13 Negara dengan Vespa Butut ]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Melintas-13-Negara-dengan-Vespa-Butut</link>
			<pubDate>Fri, 15 Jun 2012 00:44:52 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Melintas-13-Negara-dengan-Vespa-Butut</guid>
			<description><![CDATA[<span style="font-weight: bold;">&lt;img src="http://www.harianhaluan.com/images/stories/Berita6/150612/andy.jpg" height="122" width="183" align="left" /&gt;Touring </span>seorang<br />
diri dari Indonesia ke Italia dengan menggunakan vespa butut, mungkin <br />
dianggap “gila” oleh bagi masyarakat banyak. Namun beranjak dari hobi <br />
dengan niat yang kuat, Andy Leeano (37) ingin membuktikan bahwa dia <br />
sanggup melaksanakan ide gila itu, dengan melintasi 13 negara selain <br />
Indonesia.<br />
<br />
Untuk ke Italia, Andy hanya menggunakan vespa Piaggio tahun produksi <br />
1961, dengan nomor polisi AB 6229 KA. Pada sisi kiri dan kanan bagian <br />
belakang dipenuhi oleh bendera negara-negara yang akan dilintasi, <br />
seperti Malaysia, Thailand, China, Bangladesh, Nepal dan negara lainnya,<br />
tak terkecuali bendera Indonesia.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Vespa itu juga telah dimodi­fikasi oleh mekanik handal dan dilengkapi<br />
dengan berbagai kebutu­han selama di perjalanan. Seperti tambahan <br />
tangki minyak dengan kapasitas 29 liter. Artinya, Andi hanya melakukan <br />
pengisian minyak setiap menempuh jarak 1.000 kilometer.<br />
<br />
Berbagai perlengkapan pendu­kung juga diboyong, seperti ban serap, <br />
P3K, alat navigasi dan internet dengan jaringan satelit, megafon untuk <br />
mengusir bintang buas jika bertemu dalam perja­lanan, <span style="font-style: italic;">sleeping bag</span> sebagai tempat tidur darurat, kompor gas mini untuk memasak, oli mesin, pakaian ganti serta kebutuhan pribadi lainnya.<br />
<br />
Andy Leeano yang bernama asli Andy Irfiandi merupakan warga Wirosaban<br />
Yogyakarta yang ber­profesi sebagai pengusaha vespa di Yogyakarta, duta<br />
wisata, enter­tainer dan narasumber berbagai acara. Dalam melaksanakan <br />
misi perjalanan Indonesia-Italia dengan menggunakan jalur darat, putra <br />
bungsu kelahiran Batusangkar-Sumbar itu akan menempuh per­jala­nan <br />
sejauh 27.000 kilometer.<br />
<br />
Target awalnya perjalanan itu akan tuntas selama 180 hari. Namun <br />
karena berbagai faktor di berbagai negara yang dilintasi, seperti <br />
konflik antar negara serta peraturan suatu negara yang ketat, membuat <br />
target perjalanan itu berubah menjadi satu tahun kalen­der, terhitung <br />
sejak awal perjalanan dari Yogyakarta pada 1 Juni 2012 lalu.<br />
<br />
Andy sendiri baru tiba di Sumbar pada Senin (11/6) pukul 01.00 WIB <br />
dinihari, dan melan­jutkan perjalanan dari kawasan Hotel Campago <br />
Bukittinggi menuju Dumai Riau pada Rabu (13/6) kemarin sekitar pukul <br />
10.10 WIB. Ibunda dan dua saudara Andy ikut menemani pelepasan <br />
perjalanan Andy di Bukittinggi.<br />
<br />
Meski saat touring Andy hanya melakukan seorang diri, namun secara <br />
umum ia dibantu sekitar 60 anggota tim, yang siap membe­rikan bantuan <br />
dari jarak jauh.<br />
<br />
Kepada <span style="font-style: italic;">Haluan</span>, Andy mengaku, rencana gila itu telah ada <br />
dibe­naknya semenjak lima tahun lalu. Dan baru saat ini bisa <br />
dilak­sanakannya. Selama setahun ia mempersiapkan segala kebutuhan dalam<br />
perjalanan, baik surat-surat dan perlengkapan lainnya. Menurut Andy, Ia<br />
telah menghabiskan biaya sekitar Rp80 juta, hanya untuk persiapan <br />
hingga awal kebe­rang­katan.<br />
<br />
Sedangkan untuk biaya total yang akan dikeluarkan, Andy mengaku <br />
membutuhkan biaya sebesar Rp980 juta untuk melaksa­nakan ide gilanya <br />
itu, yang telah Ia dapatkan dari berbagai sumber, baik dari <br />
pemerintahan, sponsor, teman dekat dan donatur lainnya.<br />
<br />
“Saya sering bepergian ke Eropa semenjak tahun 2006 lalu. Dan sejak <br />
itu juga saya terus menga­mati jalan darat dari pesawat. Ketika <br />
mengetahui ada tim fortuner yang ke Eropa dari Indonesia, saya mulai <br />
berpikir untuk melakukan perjalanan darat dari Indonesia ke Italia. Jika<br />
dia bisa, kenapa saya tidak?” ujar Andy. <span style="font-weight: bold;">(Laporan Haswandi/haluan)</span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span style="font-weight: bold;">&lt;img src="http://www.harianhaluan.com/images/stories/Berita6/150612/andy.jpg" height="122" width="183" align="left" /&gt;Touring </span>seorang<br />
diri dari Indonesia ke Italia dengan menggunakan vespa butut, mungkin <br />
dianggap “gila” oleh bagi masyarakat banyak. Namun beranjak dari hobi <br />
dengan niat yang kuat, Andy Leeano (37) ingin membuktikan bahwa dia <br />
sanggup melaksanakan ide gila itu, dengan melintasi 13 negara selain <br />
Indonesia.<br />
<br />
Untuk ke Italia, Andy hanya menggunakan vespa Piaggio tahun produksi <br />
1961, dengan nomor polisi AB 6229 KA. Pada sisi kiri dan kanan bagian <br />
belakang dipenuhi oleh bendera negara-negara yang akan dilintasi, <br />
seperti Malaysia, Thailand, China, Bangladesh, Nepal dan negara lainnya,<br />
tak terkecuali bendera Indonesia.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Vespa itu juga telah dimodi­fikasi oleh mekanik handal dan dilengkapi<br />
dengan berbagai kebutu­han selama di perjalanan. Seperti tambahan <br />
tangki minyak dengan kapasitas 29 liter. Artinya, Andi hanya melakukan <br />
pengisian minyak setiap menempuh jarak 1.000 kilometer.<br />
<br />
Berbagai perlengkapan pendu­kung juga diboyong, seperti ban serap, <br />
P3K, alat navigasi dan internet dengan jaringan satelit, megafon untuk <br />
mengusir bintang buas jika bertemu dalam perja­lanan, <span style="font-style: italic;">sleeping bag</span> sebagai tempat tidur darurat, kompor gas mini untuk memasak, oli mesin, pakaian ganti serta kebutuhan pribadi lainnya.<br />
<br />
Andy Leeano yang bernama asli Andy Irfiandi merupakan warga Wirosaban<br />
Yogyakarta yang ber­profesi sebagai pengusaha vespa di Yogyakarta, duta<br />
wisata, enter­tainer dan narasumber berbagai acara. Dalam melaksanakan <br />
misi perjalanan Indonesia-Italia dengan menggunakan jalur darat, putra <br />
bungsu kelahiran Batusangkar-Sumbar itu akan menempuh per­jala­nan <br />
sejauh 27.000 kilometer.<br />
<br />
Target awalnya perjalanan itu akan tuntas selama 180 hari. Namun <br />
karena berbagai faktor di berbagai negara yang dilintasi, seperti <br />
konflik antar negara serta peraturan suatu negara yang ketat, membuat <br />
target perjalanan itu berubah menjadi satu tahun kalen­der, terhitung <br />
sejak awal perjalanan dari Yogyakarta pada 1 Juni 2012 lalu.<br />
<br />
Andy sendiri baru tiba di Sumbar pada Senin (11/6) pukul 01.00 WIB <br />
dinihari, dan melan­jutkan perjalanan dari kawasan Hotel Campago <br />
Bukittinggi menuju Dumai Riau pada Rabu (13/6) kemarin sekitar pukul <br />
10.10 WIB. Ibunda dan dua saudara Andy ikut menemani pelepasan <br />
perjalanan Andy di Bukittinggi.<br />
<br />
Meski saat touring Andy hanya melakukan seorang diri, namun secara <br />
umum ia dibantu sekitar 60 anggota tim, yang siap membe­rikan bantuan <br />
dari jarak jauh.<br />
<br />
Kepada <span style="font-style: italic;">Haluan</span>, Andy mengaku, rencana gila itu telah ada <br />
dibe­naknya semenjak lima tahun lalu. Dan baru saat ini bisa <br />
dilak­sanakannya. Selama setahun ia mempersiapkan segala kebutuhan dalam<br />
perjalanan, baik surat-surat dan perlengkapan lainnya. Menurut Andy, Ia<br />
telah menghabiskan biaya sekitar Rp80 juta, hanya untuk persiapan <br />
hingga awal kebe­rang­katan.<br />
<br />
Sedangkan untuk biaya total yang akan dikeluarkan, Andy mengaku <br />
membutuhkan biaya sebesar Rp980 juta untuk melaksa­nakan ide gilanya <br />
itu, yang telah Ia dapatkan dari berbagai sumber, baik dari <br />
pemerintahan, sponsor, teman dekat dan donatur lainnya.<br />
<br />
“Saya sering bepergian ke Eropa semenjak tahun 2006 lalu. Dan sejak <br />
itu juga saya terus menga­mati jalan darat dari pesawat. Ketika <br />
mengetahui ada tim fortuner yang ke Eropa dari Indonesia, saya mulai <br />
berpikir untuk melakukan perjalanan darat dari Indonesia ke Italia. Jika<br />
dia bisa, kenapa saya tidak?” ujar Andy. <span style="font-weight: bold;">(Laporan Haswandi/haluan)</span>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Pelepas Lelah Sehabis Bekerja, Pererat Silaturahim]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Pelepas-Lelah-Sehabis-Bekerja-Pererat-Silaturahim</link>
			<pubDate>Thu, 14 Jun 2012 03:38:06 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Pelepas-Lelah-Sehabis-Bekerja-Pererat-Silaturahim</guid>
			<description><![CDATA[<span style="font-weight: bold;">Layangan, Permainan Anak Nagari yang masih Lestari</span><br />
&lt;img src="http://padangekspres.co.id/up/berita/13062012133114layangan-jelang-pertandingan.jpg" alt="Permainan Anak Nagari" title="klik untuk memperbesar" align="left" width="280" /&gt;<br />
<div align="justify"><span style="font-weight: bold;">Bermain<br />
layang-layang memiliki keasyikan tersendiri. Bagi sebagian masyarakat <br />
di Limapuluh Kota, permainan rakyat itu merupakan hiburan saat melepas <br />
lelah setelah seharian bekerja, dan juga dimanfaatkan untuk menjalin <br />
silaturahim.</span></div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify"><span style="font-weight: bold;">WARNA-warni </span>layangan<br />
meng hiasi la­ngit senja di sebuah lapangan bola kaki di Jorong Ra­geh,<br />
Nagari Sungai Kamuyang, Kecamatan Luak. Ratusan pecinta permainan <br />
layangan unjuk ke­bolehan di lapangan bermain bersama kemam­puan <br />
layangan ciptaan masing-masing.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Warna-warna mencolok <br />
layangan sangat pen­ting untuk menentukan penilaian. Sebab dari <br />
ke­tinggian sekitar 100 meter, sangat sulit me­nentukan pemenang bagi <br />
juri jika warna laya­ngan menyerupai warna langit. Dengan uang <br />
pen­daftaran Rp 10 ribu rupiah, pecinta layang-la­yang paling unggul <br />
akan bisa mendapatkan ha­diah yang cukup menggiurkan.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Permainan layang-layang yang<br />
disebut “olang-olang” tidak memandang usia. Tua, muda bahkan anak-anak <br />
ikut mengumbar benang mener­bang­kan layangan. Peredaran angin saat ini <br />
yang ka­dang ekstrem dimanfaatkan oleh para pecinta la­yangan.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Setiap sore di salah satu <br />
lapangan terbuka di Jorong Rageh, Nagari Sungai Kamuyang, Kecama­tan <br />
Luak ramai di datangi pecinta permainan la­yang-layang dari sejumlah <br />
daerah di dua ke­ca­matan di Limapuluh Kota tersebut.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Berbagai ukuran layangan dan<br />
warna-warni layangan menghiasi langit setiap sore di daerah itu sejak <br />
beberapa minggu terakhir. Ternyata tidak hanya sekadar bermain, disana <br />
terjadi kompetisi layangan terbaik. Bahkan ada panitia kecil yang <br />
di­bentuk untuk mengurus permainan dan ada pu­lu juri yang akan <br />
memberikan penilaian.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Seni membingkai <br />
layangan yang terbuat dari bam­bu tersebut merupakan sebuah keahlian <br />
khu­sus. Sebab ada orang-orang tertentu yang mem­produksi layangan <br />
terbaik dengan kemam­puan terbang dan keindahan layangannya.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Meski permainan layang juga <br />
banyak terdapat di daerah lainnya di Sumatera Barat dan Indonesia yang <br />
umumnya dimainkan di pinggir pantai, sangat berbeda dengan layangan di <br />
tempat ini. Dari segi model layangan, biasanya cenderung berbentuk elips<br />
dengan dilengkapi layar penutup bingkai yang disebut “tukuk” layangan.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Dua bingkai bambu membentuk <br />
elips dengan diameter sekitar 0,5 meter dan panjangnya sekitar 2 meter, <br />
di tengah-tengah lingkaran di lengkapi sebuah tiang dan memiliki buritan<br />
segitiga dilengkapi ekor yang panjang sebagai pelengkap hiasan <br />
sekaligus penyeimbang layangan.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Semua pecinta mainan <br />
layangan tradisional ini se­cara tidak sadar telah membentuk komunitas <br />
yang selalu bersosialisasi ditempat ini. ”Ada ke­pua­san tersendiri bagi<br />
pecinta layangan ketika layangannya mampu terbang dengan baik dan <br />
mengungguli layangan lainnya,” ungkap salah seorang pecinta layangan <br />
asal, Nagari Sungai Kamuyang, Arif, 28.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Tidak itu saja, ternyata di <br />
tempat bermain ber­sama tersebut antar pemain juga mengguna­kan­nya <br />
untuk bersilaturahim dan mengenal kerabat jauh dari suku yang sama dari <br />
masyarakat Li­ma­puluh Kota yang mayoritas etnis Minang­kabau.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">”<span style="font-style: italic;">Disiko </span>bisa <span style="font-style: italic;">mancari dunsanak jo basila­tura­him </span>atau sekadar <span style="font-style: italic;">galak-galak sajo </span>mang­hi­lang­kan stres,” ungkap, Rusianto, 30, pecinta la­ya­ngan lain­nya dari nagari Halaban, Kecamatan Luak.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Tampak juga dalam kerumunan <br />
masyarakat pecinta layangan, anggota DPRD Kabupaten Limapuluh Kota, <br />
Yakubis, sedang asyik melihat laya­ngan yang sedang bertanding sambil <br />
menik­mati secangkir kopi di salah satu lapak sederhana di pinggir <br />
lapangan bermain. ”Kita mensuport ke­giatan bermain layangan yang <br />
digelar masya­ra­kat sejak satu bulan terakhir. Disini masyarakat bisa <br />
saling mempererat hubungan sosialnya dan ber­silaturahim satu sama <br />
lainnya. Sehingga hu­bungan antar nagari bisa lebih baik,” ucap Yakubis <br />
di sela pertandingan layangan.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Meski tidak memiliki <br />
layangan, namun Ya­kubis menjadikan media permainan yang di­ge­mari <br />
banyak orang itu untuk menampung aspirasi dan opini yang berkembang di <br />
tengah-tengah mas­yarakat. ”Secara tidak langsung cerita yang <br />
ber­kembang di masyarakat dengan cepat bisa kita serap,” pungkasnnya. <span style="font-weight: bold;">(padangekspres)</span></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span style="font-weight: bold;">Layangan, Permainan Anak Nagari yang masih Lestari</span><br />
&lt;img src="http://padangekspres.co.id/up/berita/13062012133114layangan-jelang-pertandingan.jpg" alt="Permainan Anak Nagari" title="klik untuk memperbesar" align="left" width="280" /&gt;<br />
<div align="justify"><span style="font-weight: bold;">Bermain<br />
layang-layang memiliki keasyikan tersendiri. Bagi sebagian masyarakat <br />
di Limapuluh Kota, permainan rakyat itu merupakan hiburan saat melepas <br />
lelah setelah seharian bekerja, dan juga dimanfaatkan untuk menjalin <br />
silaturahim.</span></div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify"><span style="font-weight: bold;">WARNA-warni </span>layangan<br />
meng hiasi la­ngit senja di sebuah lapangan bola kaki di Jorong Ra­geh,<br />
Nagari Sungai Kamuyang, Kecamatan Luak. Ratusan pecinta permainan <br />
layangan unjuk ke­bolehan di lapangan bermain bersama kemam­puan <br />
layangan ciptaan masing-masing.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Warna-warna mencolok <br />
layangan sangat pen­ting untuk menentukan penilaian. Sebab dari <br />
ke­tinggian sekitar 100 meter, sangat sulit me­nentukan pemenang bagi <br />
juri jika warna laya­ngan menyerupai warna langit. Dengan uang <br />
pen­daftaran Rp 10 ribu rupiah, pecinta layang-la­yang paling unggul <br />
akan bisa mendapatkan ha­diah yang cukup menggiurkan.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Permainan layang-layang yang<br />
disebut “olang-olang” tidak memandang usia. Tua, muda bahkan anak-anak <br />
ikut mengumbar benang mener­bang­kan layangan. Peredaran angin saat ini <br />
yang ka­dang ekstrem dimanfaatkan oleh para pecinta la­yangan.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Setiap sore di salah satu <br />
lapangan terbuka di Jorong Rageh, Nagari Sungai Kamuyang, Kecama­tan <br />
Luak ramai di datangi pecinta permainan la­yang-layang dari sejumlah <br />
daerah di dua ke­ca­matan di Limapuluh Kota tersebut.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Berbagai ukuran layangan dan<br />
warna-warni layangan menghiasi langit setiap sore di daerah itu sejak <br />
beberapa minggu terakhir. Ternyata tidak hanya sekadar bermain, disana <br />
terjadi kompetisi layangan terbaik. Bahkan ada panitia kecil yang <br />
di­bentuk untuk mengurus permainan dan ada pu­lu juri yang akan <br />
memberikan penilaian.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Seni membingkai <br />
layangan yang terbuat dari bam­bu tersebut merupakan sebuah keahlian <br />
khu­sus. Sebab ada orang-orang tertentu yang mem­produksi layangan <br />
terbaik dengan kemam­puan terbang dan keindahan layangannya.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Meski permainan layang juga <br />
banyak terdapat di daerah lainnya di Sumatera Barat dan Indonesia yang <br />
umumnya dimainkan di pinggir pantai, sangat berbeda dengan layangan di <br />
tempat ini. Dari segi model layangan, biasanya cenderung berbentuk elips<br />
dengan dilengkapi layar penutup bingkai yang disebut “tukuk” layangan.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Dua bingkai bambu membentuk <br />
elips dengan diameter sekitar 0,5 meter dan panjangnya sekitar 2 meter, <br />
di tengah-tengah lingkaran di lengkapi sebuah tiang dan memiliki buritan<br />
segitiga dilengkapi ekor yang panjang sebagai pelengkap hiasan <br />
sekaligus penyeimbang layangan.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Semua pecinta mainan <br />
layangan tradisional ini se­cara tidak sadar telah membentuk komunitas <br />
yang selalu bersosialisasi ditempat ini. ”Ada ke­pua­san tersendiri bagi<br />
pecinta layangan ketika layangannya mampu terbang dengan baik dan <br />
mengungguli layangan lainnya,” ungkap salah seorang pecinta layangan <br />
asal, Nagari Sungai Kamuyang, Arif, 28.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Tidak itu saja, ternyata di <br />
tempat bermain ber­sama tersebut antar pemain juga mengguna­kan­nya <br />
untuk bersilaturahim dan mengenal kerabat jauh dari suku yang sama dari <br />
masyarakat Li­ma­puluh Kota yang mayoritas etnis Minang­kabau.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">”<span style="font-style: italic;">Disiko </span>bisa <span style="font-style: italic;">mancari dunsanak jo basila­tura­him </span>atau sekadar <span style="font-style: italic;">galak-galak sajo </span>mang­hi­lang­kan stres,” ungkap, Rusianto, 30, pecinta la­ya­ngan lain­nya dari nagari Halaban, Kecamatan Luak.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Tampak juga dalam kerumunan <br />
masyarakat pecinta layangan, anggota DPRD Kabupaten Limapuluh Kota, <br />
Yakubis, sedang asyik melihat laya­ngan yang sedang bertanding sambil <br />
menik­mati secangkir kopi di salah satu lapak sederhana di pinggir <br />
lapangan bermain. ”Kita mensuport ke­giatan bermain layangan yang <br />
digelar masya­ra­kat sejak satu bulan terakhir. Disini masyarakat bisa <br />
saling mempererat hubungan sosialnya dan ber­silaturahim satu sama <br />
lainnya. Sehingga hu­bungan antar nagari bisa lebih baik,” ucap Yakubis <br />
di sela pertandingan layangan.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Meski tidak memiliki <br />
layangan, namun Ya­kubis menjadikan media permainan yang di­ge­mari <br />
banyak orang itu untuk menampung aspirasi dan opini yang berkembang di <br />
tengah-tengah mas­yarakat. ”Secara tidak langsung cerita yang <br />
ber­kembang di masyarakat dengan cepat bisa kita serap,” pungkasnnya. <span style="font-weight: bold;">(padangekspres)</span></div>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Cara Mudah Belajar Bahasa Minang]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Cara-Mudah-Belajar-Bahasa-Minang</link>
			<pubDate>Mon, 04 Jun 2012 03:08:12 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Cara-Mudah-Belajar-Bahasa-Minang</guid>
			<description><![CDATA[<img src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/01/13257691572040536494.jpg" border="0" alt="[Image: 13257691572040536494.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Apakah kamu punya teman etnis minang, punya pacar orang minang, atau suka dengar lagu minang tapi kurang atau tidak mengerti apa maksudnya?. Bahasa minang sangat mudah dipahami. Walaupun bahasa yang satu ini agak berbeda dengan bahasa melayu lainnya di pulau sumatera serta memiliki banyak kosakata yang terdengar susah dipahami, namun jika anda mengerti dan paham rumus-rumusnya maka anda tidak akan kesulitan dalam memahaminya. Dibawah ini ada beberapa rumus yang mudah dipahami:<br />
<br />
1. Akhiran O<br />
<br />
Rumus ini paling mudah dipahami. Kata-kata dalam bahasa indonesia yang berakhiran A diganti saja dengan O. Contohnya; bunga=bungo, cinta=cinto, suka=suko, gula=gulo, mata=mato, telinga=talingo, kepala-kapalo, dada=dado, ada=ado, luka=luko, dll.<br />
<br />
2. “ing” menjadi “iang”<br />
<br />
Contohnya; kucing=kuciang, kambing=kambiang, pening=paniang, burung=buruang, dll.<br />
<br />
3. “ur” menjadi “ua”<br />
<br />
Contohnya; kubur=kubua, cukur=cukua, ukur=ukua, kasur=kasua, hancur=ancua, dll.<br />
<br />
4. “us” menjadi “uih”<br />
<br />
Contohnya; hangus=anguih, lurus=luruih, dll.<br />
<br />
5. “ut” menjadi “uik”<br />
<br />
Contohnya; cabut=cabuik, kusut=kusuik, angkut=angkuik, lutut=lutuik, belut=baluik, takut=takuik, kabut=kabuik, mulut=muluik, semut=samuik, perut=paruik, dll.<br />
<br />
6. “uh” menjadi “uah”<br />
<br />
Contohnya; bunuh=bunuah, penuh=panuah, tuduh=tuduah, rusuh=rusuah, basuh=basuah, dll.<br />
<br />
7. “ung” menjadi “uang”<br />
<br />
Contohnya; hidung=iduang, mancung=mancuang, dukung=dukuang, gunung=gunuang, tudung=tuduang, dll.<br />
<br />
8. Jika ada kata seperti bakar maka huruf terakhir dibuang.<br />
<br />
Seperti; bakar=bakar, kasar=kasa, tukar=tuka, datar=data, pagar=paga, putar=puta, dll.<br />
<br />
9. “it” menjadi “ik”<br />
<br />
Contohnya; bukit=bukik, tumit=tumik, sakit=sakik, bangkit=bangkik, ungkit=ungkik, dll.<br />
<br />
10. “at” menjadi “ek”<br />
<br />
Contohnya; silat=silek, angkat=angkek, bulat=bulek, dekat=dakek, pekat=pakek, penat=panek, surat=surek, pusat=pusek, padat=padek, pucat=pucek, lebat=labek, sikat=sikek, panjat=panjek, ketupat=katupek, dll.<br />
<br />
Selain rumus diatas perlu juga diperhatikan kata-kata baru dibawah ini:<br />
<br />
Tidak=indak<br />
	<br />
<br />
Juga= juo<br />
<br />
	<br />
<br />
Lapar= litak<br />
<br />
	<br />
<br />
Laki-laki= jantan<br />
<br />
Sudah/ telah= alah<br />
<br />
	<br />
<br />
Sudah= alah<br />
<br />
	<br />
<br />
Kalung= dukuah<br />
<br />
	<br />
<br />
Perempuan= padusi<br />
<br />
Besar= gadang<br />
<br />
	<br />
<br />
Belum= alun<br />
<br />
	<br />
<br />
Anting= subang<br />
<br />
	<br />
<br />
- Kenduri/ kondangan= baralek<br />
<br />
Sedikit= saketek<br />
<br />
	<br />
<br />
Marah= berang/ bangih<br />
<br />
	<br />
<br />
Jorok= lakuah<br />
<br />
	<br />
<br />
Pasir= kasiak<br />
<br />
Kecil= ketek<br />
<br />
	<br />
<br />
Tertawa= galak<br />
<br />
	<br />
<br />
Tahi= cirik<br />
<br />
	<br />
<br />
Kemaren= patang<br />
<br />
Dan= jo<br />
<br />
	<br />
<br />
Berani= bagak<br />
<br />
	<br />
<br />
Enak= lamak<br />
<br />
	<br />
<br />
Gelap= kalam<br />
<br />
Yang= nan<br />
<br />
	<br />
<br />
Ingin= taragak/ nio<br />
<br />
	<br />
<br />
Bagus/ indah= rancak<br />
<br />
	<br />
<br />
- Dan banyak lagi yang lainnya…<br />
<br />
Kata-kata panggilan kepada orang:<br />
<br />
# saya= awak/ ambo/ denai/ aden (aden {den} digunakan ketika berbicara kepada teman sebaya).<br />
<br />
# ibu= bundo/ amak.<br />
<br />
# ayah= apak/ abah.<br />
<br />
# kamu ‘perempuan= kau (dibaca kaw).<br />
<br />
# kamu ‘laki-laki= ang/ waang.<br />
<br />
# nenek= mak gaek<br />
<br />
# kakek= pak gaek/ atuak.<br />
<br />
# kakak laki-laki= uda<br />
<br />
# kakak perempuan= uni.<br />
<br />
# dia= inyo.<br />
<br />
Dll.<br />
<br />
Dari uraian yang telah disebutkan diatas diharapkan teman-teman dapat memahaminya dengan mudah. Jangan takut mencoba, mempraktekkan ataupun takut salah… saya rasa jika anda sudah paham lalu mempraktekkannya dan kemudian mendapati kesalahan, kesalahan yang banyak ditemui palingan dalam segi pengucapan atau logat. Untuk lebih mudahnya akan saya contohnya dalam bentuk kalimat;<br />
<br />
“andi adalah anak yang rajin. Setelah pulang sekolah dia langsung membantu pekerjaan orang tuanya dirumah. Dia tidak pernah menyusahkan orang tuanya. Selain membantu pekerjaan orang tuanya, dia juga tidak lupa untuk belajar karena dia ingin menjadi anak yang pintar agar bisa menggapai cita-citanya”<br />
<br />
Jika di-minang-kan menjadi,<br />
<br />
“andi adolah anak nan rajin. Lah pulang sakolah inyo langsuang manolong karajo urang tuonyo dirumah. Inyo indak pernah manyusahan urang tuonyo. Salain manolong karajo urang tuonyo, inyo juo indak lupo untuak baraja karano inyo nio jadi anak nan cadiak supayo dapek manggapai cito-citonyo”.<br />
<br />
Akibat mudahnya bahasa minang dipahami membuat bahasa minang terjaga keeksistensiannya. Bahasa minang juga banyak dituturkan oleh masyarakat di Sumatera Utara bagian selatan, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu dan sedikit wilayah di Sumatera Selatan dan mungkin masih dituturkan di Negeri Sembilan. Apalagi ditambah oleh faktor banyaknya masyarakat minang yang merantau ke daerah lain otomatis membuat bahasa minang semakin tersebar luas.<br />
<br />
Jadi… intinya mari kita lestarikan bahasa daerah… jangan sampai punah!!! Karena beragam bahasa daerah termasuk bagian dari kekayaan indonesia.<br />
<br />
sumber : kompasiana]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<img src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/01/13257691572040536494.jpg" border="0" alt="[Image: 13257691572040536494.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Apakah kamu punya teman etnis minang, punya pacar orang minang, atau suka dengar lagu minang tapi kurang atau tidak mengerti apa maksudnya?. Bahasa minang sangat mudah dipahami. Walaupun bahasa yang satu ini agak berbeda dengan bahasa melayu lainnya di pulau sumatera serta memiliki banyak kosakata yang terdengar susah dipahami, namun jika anda mengerti dan paham rumus-rumusnya maka anda tidak akan kesulitan dalam memahaminya. Dibawah ini ada beberapa rumus yang mudah dipahami:<br />
<br />
1. Akhiran O<br />
<br />
Rumus ini paling mudah dipahami. Kata-kata dalam bahasa indonesia yang berakhiran A diganti saja dengan O. Contohnya; bunga=bungo, cinta=cinto, suka=suko, gula=gulo, mata=mato, telinga=talingo, kepala-kapalo, dada=dado, ada=ado, luka=luko, dll.<br />
<br />
2. “ing” menjadi “iang”<br />
<br />
Contohnya; kucing=kuciang, kambing=kambiang, pening=paniang, burung=buruang, dll.<br />
<br />
3. “ur” menjadi “ua”<br />
<br />
Contohnya; kubur=kubua, cukur=cukua, ukur=ukua, kasur=kasua, hancur=ancua, dll.<br />
<br />
4. “us” menjadi “uih”<br />
<br />
Contohnya; hangus=anguih, lurus=luruih, dll.<br />
<br />
5. “ut” menjadi “uik”<br />
<br />
Contohnya; cabut=cabuik, kusut=kusuik, angkut=angkuik, lutut=lutuik, belut=baluik, takut=takuik, kabut=kabuik, mulut=muluik, semut=samuik, perut=paruik, dll.<br />
<br />
6. “uh” menjadi “uah”<br />
<br />
Contohnya; bunuh=bunuah, penuh=panuah, tuduh=tuduah, rusuh=rusuah, basuh=basuah, dll.<br />
<br />
7. “ung” menjadi “uang”<br />
<br />
Contohnya; hidung=iduang, mancung=mancuang, dukung=dukuang, gunung=gunuang, tudung=tuduang, dll.<br />
<br />
8. Jika ada kata seperti bakar maka huruf terakhir dibuang.<br />
<br />
Seperti; bakar=bakar, kasar=kasa, tukar=tuka, datar=data, pagar=paga, putar=puta, dll.<br />
<br />
9. “it” menjadi “ik”<br />
<br />
Contohnya; bukit=bukik, tumit=tumik, sakit=sakik, bangkit=bangkik, ungkit=ungkik, dll.<br />
<br />
10. “at” menjadi “ek”<br />
<br />
Contohnya; silat=silek, angkat=angkek, bulat=bulek, dekat=dakek, pekat=pakek, penat=panek, surat=surek, pusat=pusek, padat=padek, pucat=pucek, lebat=labek, sikat=sikek, panjat=panjek, ketupat=katupek, dll.<br />
<br />
Selain rumus diatas perlu juga diperhatikan kata-kata baru dibawah ini:<br />
<br />
Tidak=indak<br />
	<br />
<br />
Juga= juo<br />
<br />
	<br />
<br />
Lapar= litak<br />
<br />
	<br />
<br />
Laki-laki= jantan<br />
<br />
Sudah/ telah= alah<br />
<br />
	<br />
<br />
Sudah= alah<br />
<br />
	<br />
<br />
Kalung= dukuah<br />
<br />
	<br />
<br />
Perempuan= padusi<br />
<br />
Besar= gadang<br />
<br />
	<br />
<br />
Belum= alun<br />
<br />
	<br />
<br />
Anting= subang<br />
<br />
	<br />
<br />
- Kenduri/ kondangan= baralek<br />
<br />
Sedikit= saketek<br />
<br />
	<br />
<br />
Marah= berang/ bangih<br />
<br />
	<br />
<br />
Jorok= lakuah<br />
<br />
	<br />
<br />
Pasir= kasiak<br />
<br />
Kecil= ketek<br />
<br />
	<br />
<br />
Tertawa= galak<br />
<br />
	<br />
<br />
Tahi= cirik<br />
<br />
	<br />
<br />
Kemaren= patang<br />
<br />
Dan= jo<br />
<br />
	<br />
<br />
Berani= bagak<br />
<br />
	<br />
<br />
Enak= lamak<br />
<br />
	<br />
<br />
Gelap= kalam<br />
<br />
Yang= nan<br />
<br />
	<br />
<br />
Ingin= taragak/ nio<br />
<br />
	<br />
<br />
Bagus/ indah= rancak<br />
<br />
	<br />
<br />
- Dan banyak lagi yang lainnya…<br />
<br />
Kata-kata panggilan kepada orang:<br />
<br />
# saya= awak/ ambo/ denai/ aden (aden {den} digunakan ketika berbicara kepada teman sebaya).<br />
<br />
# ibu= bundo/ amak.<br />
<br />
# ayah= apak/ abah.<br />
<br />
# kamu ‘perempuan= kau (dibaca kaw).<br />
<br />
# kamu ‘laki-laki= ang/ waang.<br />
<br />
# nenek= mak gaek<br />
<br />
# kakek= pak gaek/ atuak.<br />
<br />
# kakak laki-laki= uda<br />
<br />
# kakak perempuan= uni.<br />
<br />
# dia= inyo.<br />
<br />
Dll.<br />
<br />
Dari uraian yang telah disebutkan diatas diharapkan teman-teman dapat memahaminya dengan mudah. Jangan takut mencoba, mempraktekkan ataupun takut salah… saya rasa jika anda sudah paham lalu mempraktekkannya dan kemudian mendapati kesalahan, kesalahan yang banyak ditemui palingan dalam segi pengucapan atau logat. Untuk lebih mudahnya akan saya contohnya dalam bentuk kalimat;<br />
<br />
“andi adalah anak yang rajin. Setelah pulang sekolah dia langsung membantu pekerjaan orang tuanya dirumah. Dia tidak pernah menyusahkan orang tuanya. Selain membantu pekerjaan orang tuanya, dia juga tidak lupa untuk belajar karena dia ingin menjadi anak yang pintar agar bisa menggapai cita-citanya”<br />
<br />
Jika di-minang-kan menjadi,<br />
<br />
“andi adolah anak nan rajin. Lah pulang sakolah inyo langsuang manolong karajo urang tuonyo dirumah. Inyo indak pernah manyusahan urang tuonyo. Salain manolong karajo urang tuonyo, inyo juo indak lupo untuak baraja karano inyo nio jadi anak nan cadiak supayo dapek manggapai cito-citonyo”.<br />
<br />
Akibat mudahnya bahasa minang dipahami membuat bahasa minang terjaga keeksistensiannya. Bahasa minang juga banyak dituturkan oleh masyarakat di Sumatera Utara bagian selatan, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu dan sedikit wilayah di Sumatera Selatan dan mungkin masih dituturkan di Negeri Sembilan. Apalagi ditambah oleh faktor banyaknya masyarakat minang yang merantau ke daerah lain otomatis membuat bahasa minang semakin tersebar luas.<br />
<br />
Jadi… intinya mari kita lestarikan bahasa daerah… jangan sampai punah!!! Karena beragam bahasa daerah termasuk bagian dari kekayaan indonesia.<br />
<br />
sumber : kompasiana]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Tuo Silek peragaan jurusnya di Tabek Patah Kecamatan Salimpaung]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Tuo-Silek-peragaan-jurusnya-di-Tabek-Patah-Kecamatan-Salimpaung</link>
			<pubDate>Mon, 28 May 2012 04:44:34 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Tuo-Silek-peragaan-jurusnya-di-Tabek-Patah-Kecamatan-Salimpaung</guid>
			<description><![CDATA[<span style="font-size: large;"><span style="color: black;"><img src="http://i2.lulzimg.com/c00c8e1e21.jpg" border="0" alt="[Image: c00c8e1e21.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
</span></span><br />
<br />
<span style="font-size: large;"><span style="color: black;">Batusangkar,----Atraksi<br />
silek yang diperagakan oleh tuo silek Kumango, Tabek Patah Nagari Tabek<br />
Patah Kecamatan Salimpaung, Nagari Pasir Laweh Sungai Tarab dan Tuo <br />
Silek taduang bangkeh Yayasan Annur Abdul Rahman Batipuh ikut <br />
memeriahkan acara peresmian Sasaran Silek Pusako Tabek Patah Kecamatan <br />
Salimpuang. </span></span><br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<span style="font-size: large;"><span style="color: black;"> Penampilan<br />
atraksi silek tersebut juga disaksikan sekitar seratus orang murid <br />
Pusako yang terkenal dengan silek Kumangonya dibawah asuhan Ar Dt <br />
Pangulu Sutan juga Ketua IPSI Kabupaten tanahdatar beserta guru tuo tuo <br />
silek yang ada di Tanahdatar dalam upaya membangkitkan kembali silek <br />
tradisi dari berbagai aliran silat dan peresmian sasaran silek tersebut <br />
juga dihadiri oleh Camat Salimpaung Drs Riswandi, Camat Tanjung Baru <br />
Suhardi SH, wali nagari se Kecamatan Salimpaung dan tokoh masyarakat <br />
dalam Kenegarian Tabek Patah. Ketua IPSI Kecamatan Salimpaung <br />
Mawardi,Ketua Yayasan Annur Abdul Rahman b Batipuh Mustafa akmal Dt Sidi<br />
Ali.SH.MH </span></span><br />
<br />
<span style="font-size: large;"><span style="color: black;"> <br />
Dalam sambutan Tuo Silek Pusako AR Dt Pangulu Sutan menyampaikan <br />
aspresiasinya atas dibukanya cabang silek Pusako di tabek Patah karena <br />
kita juga berharap dengan dibukanya cabang silek Pusako di Tabek Patah <br />
dan memiliki tempat sasaran Silek yang refresentatif diharapkan akan <br />
mampu membangkit dan menumbuhkan kembali keinginan generasi kita untuk <br />
bisa mempelajari ilmu bela diri khususnya silat karena saat ini <br />
perkembangan silat trasidi maupun silat laga sangat besar dalam <br />
mengembangkan kreativitas putra putra kita dan dalam berapa tahun ini <br />
sudah banyak putrea terbaik tanahdatar kita tampil mewakili Tanahdatar <br />
dalam berbagai kejuaraan silat termasuk wakil Sumatera Barat untuk ikut <br />
PON di RIAU berasal dari Kabupaten tanahdatar.</span></span><br />
<br />
<span style="font-size: large;"><span style="color: black;"> <br />
Sementara itu Camat Salimpaung Drs Riswandi menyampaikan rasa bangganya<br />
dengan dibukanya cabang Perguruan Silat Pusako pimpinan Ar DT Pangulu <br />
Sutan di Tabek Patah apalagi kebesaran perguruan Pusako dengan aliran <br />
Silek Kumango tersebut tidak saja diperhitungkan di Tanahdatar tapi juga<br />
ditingkat Sumatera Barat dan Nasional bahkan silek kumango ini juga <br />
telah dikembangkan diberbagai belahan dunia seperti Eropah,jerman dan <br />
Australia dan itu menunjukan keinginan orang asing mempelajari ilmu bela<br />
diri silek kumangi cukup besar dan tinggal lagi bagaimana komitmen dan <br />
dukungan para orang tua, pemuka masyarakat termasuk walinagari sendiri <br />
untuk bisa memberikan motivasi kepada anak anaknya berlajar diperguruan <br />
Pusako tersebut.(kabaluhaknantuo)<br />
</span></span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span style="font-size: large;"><span style="color: black;"><img src="http://i2.lulzimg.com/c00c8e1e21.jpg" border="0" alt="[Image: c00c8e1e21.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
</span></span><br />
<br />
<span style="font-size: large;"><span style="color: black;">Batusangkar,----Atraksi<br />
silek yang diperagakan oleh tuo silek Kumango, Tabek Patah Nagari Tabek<br />
Patah Kecamatan Salimpaung, Nagari Pasir Laweh Sungai Tarab dan Tuo <br />
Silek taduang bangkeh Yayasan Annur Abdul Rahman Batipuh ikut <br />
memeriahkan acara peresmian Sasaran Silek Pusako Tabek Patah Kecamatan <br />
Salimpuang. </span></span><br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<span style="font-size: large;"><span style="color: black;"> Penampilan<br />
atraksi silek tersebut juga disaksikan sekitar seratus orang murid <br />
Pusako yang terkenal dengan silek Kumangonya dibawah asuhan Ar Dt <br />
Pangulu Sutan juga Ketua IPSI Kabupaten tanahdatar beserta guru tuo tuo <br />
silek yang ada di Tanahdatar dalam upaya membangkitkan kembali silek <br />
tradisi dari berbagai aliran silat dan peresmian sasaran silek tersebut <br />
juga dihadiri oleh Camat Salimpaung Drs Riswandi, Camat Tanjung Baru <br />
Suhardi SH, wali nagari se Kecamatan Salimpaung dan tokoh masyarakat <br />
dalam Kenegarian Tabek Patah. Ketua IPSI Kecamatan Salimpaung <br />
Mawardi,Ketua Yayasan Annur Abdul Rahman b Batipuh Mustafa akmal Dt Sidi<br />
Ali.SH.MH </span></span><br />
<br />
<span style="font-size: large;"><span style="color: black;"> <br />
Dalam sambutan Tuo Silek Pusako AR Dt Pangulu Sutan menyampaikan <br />
aspresiasinya atas dibukanya cabang silek Pusako di tabek Patah karena <br />
kita juga berharap dengan dibukanya cabang silek Pusako di Tabek Patah <br />
dan memiliki tempat sasaran Silek yang refresentatif diharapkan akan <br />
mampu membangkit dan menumbuhkan kembali keinginan generasi kita untuk <br />
bisa mempelajari ilmu bela diri khususnya silat karena saat ini <br />
perkembangan silat trasidi maupun silat laga sangat besar dalam <br />
mengembangkan kreativitas putra putra kita dan dalam berapa tahun ini <br />
sudah banyak putrea terbaik tanahdatar kita tampil mewakili Tanahdatar <br />
dalam berbagai kejuaraan silat termasuk wakil Sumatera Barat untuk ikut <br />
PON di RIAU berasal dari Kabupaten tanahdatar.</span></span><br />
<br />
<span style="font-size: large;"><span style="color: black;"> <br />
Sementara itu Camat Salimpaung Drs Riswandi menyampaikan rasa bangganya<br />
dengan dibukanya cabang Perguruan Silat Pusako pimpinan Ar DT Pangulu <br />
Sutan di Tabek Patah apalagi kebesaran perguruan Pusako dengan aliran <br />
Silek Kumango tersebut tidak saja diperhitungkan di Tanahdatar tapi juga<br />
ditingkat Sumatera Barat dan Nasional bahkan silek kumango ini juga <br />
telah dikembangkan diberbagai belahan dunia seperti Eropah,jerman dan <br />
Australia dan itu menunjukan keinginan orang asing mempelajari ilmu bela<br />
diri silek kumangi cukup besar dan tinggal lagi bagaimana komitmen dan <br />
dukungan para orang tua, pemuka masyarakat termasuk walinagari sendiri <br />
untuk bisa memberikan motivasi kepada anak anaknya berlajar diperguruan <br />
Pusako tersebut.(kabaluhaknantuo)<br />
</span></span>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Atraksi Silek Taduang Bangkeh  pada pagelaran Seni Tingkat Kabupaten Tanah Datar  ]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Atraksi-Silek-Taduang-Bangkeh-pada-pagelaran-Seni-Tingkat-Kabupaten-Tanah-Datar</link>
			<pubDate>Mon, 21 May 2012 08:36:11 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Atraksi-Silek-Taduang-Bangkeh-pada-pagelaran-Seni-Tingkat-Kabupaten-Tanah-Datar</guid>
			<description><![CDATA[<img src="http://i47.tinypic.com/a2zmrm.jpg" border="0" alt="[Image: a2zmrm.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<br />
<br />
Batusangkar,------Silek Taduang bangkeh Yayasan Annur Abdul Rahman batipuh tampilkan silek tradisi dalam acara pembukaan Lomba Seni Budaya Tingkat Kabupaten tanahdatar yang digelar di Benteng Van Der Cappelen Batusangkar<br />
<br />
Tampilnya Pesilat dari Silek Taduang Bangkeh Yayasan Annur Abdul Rahman batipuh tersebut sebagai aspresiasi Dinas Kebudayaan, pariwisata,Pemuda dan Olahraga Tanahdatar terhadap perkembangan silek tradisi di Kabupaten Tanahdatar. dan penampilan tersebut juga dihadiri oleh Bupati Tanah Datar, Pimpinan SKPD dilingkungan Pemda tanah Datar, Camat dan wali Nagari se Kabupaten Tanahdatar dan seluruh group randai dan saluang.<br />
<br />
Sementara Lomba seni Budaya tersebut dibuka oleh Bupati Tanahdatar yang diwakili Staf Ahli Bupati Tanahdatar Irsal Veri Idrus dan juga dihadiri oleh Unsur Muspida, Pimpinan Dinas terkait, Camat se Kabupaten Tanahdatar termasuk utusan dari dari peserta Lomba randai dari 14 Kecamatan se Kabupaten Tanahdatar.<br />
<br />
Dalam sambutanya Staf Ahli Bupati Tanahdatar Irsal Veri Idrus menyampaikan aspresiasinya atas kegiatan yang dilakukan Dinas Kebudayaan Pariwisata,Pemuda dan Olahraga Kabupaten Tanahdatar karena kegiatan ini sebagai bentuk pembinaan dan aktualisasi seni Budaya anak nagari Sebagai langkah antisipasi terhadap perkembangan informasi dan tekhnologi yang dapat menyentuh sendi sendi Dasar Kehidupan masyarakat.<br />
<br />
Apalagi Tanahdatar sangat kaya dengan potensi seni budaya dan permainan anak nagarinyua sesuai dengan keberadaan luhak nan Tuo maka Tanahdatar diharapkan bisa berdiri paling depan dalam rangka pembinaan dan pelestarian Budaya Minangkabau dan banyak atraksi seni budaya yang berkembang didaerah ini karena masih banyak seni budaya yang belum tergarap sama sekali sehingga perlu terus digali dan ditumbuhkembangkan melalui kegiatan seni budaya apalagi banyak sekali pengaruh budaya asing yang masuk kedaerah kita melalui berbagai media yang memang harus terus menerus diantisipasi dan kita ingin menjadi masyarakat maju dan Modren ujar Irsal Veri Idrus tapi kita tidak ingin tercabut dari akar budaya yang telah kita jalani bertahun tahun maka kita akan menyelaraskan kemajuan tekhnologo dengan pelestarian adat dan budaya.<br />
<br />
Sementara itu Kepala Dinas kebudayaan,Pariwisata,Pemuda dan Olahraga tanahdatar yang diwakili Kabid Kebudayaan Drs kamaruzaman menyampaikan kegiatan seni budaya yang dilaksanakan itu akan berlangsung sampai kamis besok dengan kegiatan lomba randai antar Kecamatan se Kabupaten Tanahdatar dan lomba salwat dulang dan dua lomba yang diadakan tersebut karena kita ingin melestarikan nilai nilai budaya yang telah mengakar didaerah kita sehingga bisa tumbuh dan berkembang sesuai dengan jati diri yang mereka miliki karena kedua seni tersebut sangat digemari oleh masyarakat tanahdatar baik dikampung dan perantau tanahdatar yang selalu mengundang kedua seni budaya ini dalam berbagai acara mereka]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<img src="http://i47.tinypic.com/a2zmrm.jpg" border="0" alt="[Image: a2zmrm.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<br />
<br />
Batusangkar,------Silek Taduang bangkeh Yayasan Annur Abdul Rahman batipuh tampilkan silek tradisi dalam acara pembukaan Lomba Seni Budaya Tingkat Kabupaten tanahdatar yang digelar di Benteng Van Der Cappelen Batusangkar<br />
<br />
Tampilnya Pesilat dari Silek Taduang Bangkeh Yayasan Annur Abdul Rahman batipuh tersebut sebagai aspresiasi Dinas Kebudayaan, pariwisata,Pemuda dan Olahraga Tanahdatar terhadap perkembangan silek tradisi di Kabupaten Tanahdatar. dan penampilan tersebut juga dihadiri oleh Bupati Tanah Datar, Pimpinan SKPD dilingkungan Pemda tanah Datar, Camat dan wali Nagari se Kabupaten Tanahdatar dan seluruh group randai dan saluang.<br />
<br />
Sementara Lomba seni Budaya tersebut dibuka oleh Bupati Tanahdatar yang diwakili Staf Ahli Bupati Tanahdatar Irsal Veri Idrus dan juga dihadiri oleh Unsur Muspida, Pimpinan Dinas terkait, Camat se Kabupaten Tanahdatar termasuk utusan dari dari peserta Lomba randai dari 14 Kecamatan se Kabupaten Tanahdatar.<br />
<br />
Dalam sambutanya Staf Ahli Bupati Tanahdatar Irsal Veri Idrus menyampaikan aspresiasinya atas kegiatan yang dilakukan Dinas Kebudayaan Pariwisata,Pemuda dan Olahraga Kabupaten Tanahdatar karena kegiatan ini sebagai bentuk pembinaan dan aktualisasi seni Budaya anak nagari Sebagai langkah antisipasi terhadap perkembangan informasi dan tekhnologi yang dapat menyentuh sendi sendi Dasar Kehidupan masyarakat.<br />
<br />
Apalagi Tanahdatar sangat kaya dengan potensi seni budaya dan permainan anak nagarinyua sesuai dengan keberadaan luhak nan Tuo maka Tanahdatar diharapkan bisa berdiri paling depan dalam rangka pembinaan dan pelestarian Budaya Minangkabau dan banyak atraksi seni budaya yang berkembang didaerah ini karena masih banyak seni budaya yang belum tergarap sama sekali sehingga perlu terus digali dan ditumbuhkembangkan melalui kegiatan seni budaya apalagi banyak sekali pengaruh budaya asing yang masuk kedaerah kita melalui berbagai media yang memang harus terus menerus diantisipasi dan kita ingin menjadi masyarakat maju dan Modren ujar Irsal Veri Idrus tapi kita tidak ingin tercabut dari akar budaya yang telah kita jalani bertahun tahun maka kita akan menyelaraskan kemajuan tekhnologo dengan pelestarian adat dan budaya.<br />
<br />
Sementara itu Kepala Dinas kebudayaan,Pariwisata,Pemuda dan Olahraga tanahdatar yang diwakili Kabid Kebudayaan Drs kamaruzaman menyampaikan kegiatan seni budaya yang dilaksanakan itu akan berlangsung sampai kamis besok dengan kegiatan lomba randai antar Kecamatan se Kabupaten Tanahdatar dan lomba salwat dulang dan dua lomba yang diadakan tersebut karena kita ingin melestarikan nilai nilai budaya yang telah mengakar didaerah kita sehingga bisa tumbuh dan berkembang sesuai dengan jati diri yang mereka miliki karena kedua seni tersebut sangat digemari oleh masyarakat tanahdatar baik dikampung dan perantau tanahdatar yang selalu mengundang kedua seni budaya ini dalam berbagai acara mereka]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Abdullah, Naik Turun Pohon Enau Ratusan Kali Sehari ]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Abdullah-Naik-Turun-Pohon-Enau-Ratusan-Kali-Sehari</link>
			<pubDate>Sat, 19 May 2012 06:21:05 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Abdullah-Naik-Turun-Pohon-Enau-Ratusan-Kali-Sehari</guid>
			<description><![CDATA[<span style="font-weight: bold;">&lt;img src="http://www.harianhaluan.com/images/stories/Berita6/190512/khas.jpg" align="left" height="173" width="233" /&gt;Kalau </span>saja<br />
Abdullah dilatih menjadi atlet olahraga panjat tebing, mungkin ia tak <br />
akan banyak mengalami kesulitan. Pasalnya, dalam sehari lebih kurang <br />
ratusan kali melakukan kegiatan memanjat batang enau untuk mengambil air<br />
niranya.<br />
<br />
Enau atau aren (Arenga pinnata, suku Areca­ceae) adalah palma yang <br />
terpenting setelah kelapa (nyiur) karena merupakan tanaman serba guna. <br />
Tumbuhan ini dikenal dengan pelbagai nama seperti nau, hanau, peluluk, <br />
biluluk, kabung, juk atau ijuk (aneka nama lokal di Sumatra dan <br />
Semenanjung Malaya); kawung, taren (Sd.); akol, akel, akere, inru, indu <br />
(bahasa-bahasa di Sulawesi); moka, moke, tuwa, tuwak (di Nusa Tenggara),<br />
dan lain-lain.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Abdullah, lelaki kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur, tahun 1970, sejak <br />
empat tahun lalu memang menetap di daerah Parumpuang, Kenagarian Koto <br />
Baru Simalanggang, Kabupaten Limapuluh Kota, dan bekerja sebagai pembuat<br />
gula enau yang dikenal juga dengan sebutan gula merah.<br />
<br />
Masyarakat di Kota Payakumbuh dan Lima­puluh Kota atau di Sumatera <br />
Barat umumnya, mengenalnya juga dengan sebutan gula aren, karena air <br />
nira yang menjadi bahan baku untuk membuat gula tersebut diambil dari <br />
tangkai buah pohon aren. Gula merah buatannya terse­but dihasilkan <br />
Abdullah bersama istrinya Nur Afifah.<br />
<br />
Kesibukan rutin Abdullah, setiap sore memanjat pohon enau guna <br />
memasang ember-ember plastik untuk menadah titik air dari tangkai buah <br />
pohon aren. Pagi harinya, Abdullah lalu mengambil kembali setiap ember <br />
yang hampir penuh berisi air nira tersebut.<br />
<br />
Setiap hari, tidak kurang 40 buah ember yang harus dipasang dan <br />
kemudian besoknya diturunkan oleh Abdullah. Artinya, laki–laki asal <br />
Banyuwangi Jawa Timur ini, harus naik turun pohon enau setiap hari <br />
sebanyak 160 kali. Dengan kata lain, memanjat dan turun untuk <br />
memasangkan ember di puncak pohon enau dan besok paginya menurunkan <br />
ember yang sudah penuh berisi air nira itu.<br />
<br />
Dari penghasilan mengambil air nira yang berasal dari sekitar 40 <br />
batang pohon enau itu, Abdullah bersama istrinya Nur Afifah yang juga <br />
kelahiran Banyuwangi 3 April 1980, bisa menghasilkan gula merah lebih <br />
kurang satu ton per minggu.<br />
<br />
Gula merah yang dihasilkan pasangan keluarga yang terbilang ulet, <br />
gigih, dan harmonis ini, selanjutnya dikirim ke Kota Padang dan berbagai<br />
kota lainnya di Sumbar dan Pekanbaru, Provinsi Riau.<br />
<br />
Harga gula merah, kata Nur Afi­fah, didampingi Abdullah, dan Handri <br />
Fatra Dt. Rajo Basa, anggota Fraksi PAN (Partai Ama­nat Nasio­nal) DPRD <br />
Kabupaten Limapuluh Kota sebagai pemilik lahan pohon enau, saat ini <br />
sekitar Rp10.000 per kg.<br />
<br />
Sebelum mengolah gula merah di Parumpuang, yang justru lebih dikenal <br />
sebagai daerah penghasil telur, Abdullah dan istrinya Nur Afifah, juga <br />
pernah melakukan kegiatan yang sama di daerah Bengkalis, Riau.<br />
<br />
Ditanya tentang kesan sebagai pekerja pembuat gula merah yang harus <br />
naik dan turun pohon enau sebanyak ratusan kali sehari, menurut Abdullah<br />
justru banyak enaknya.<br />
<br />
“Wah enak juga. Badan menjadi sehat. Kan memanjat termasuk olahraga juga ya Pak?” katanya pada <span style="font-style: italic;">Haluan</span> dengan tekanan lidah logat Jawa Timurnya.<br />
<br />
Bagi petani yang memiliki banyak pohon aren, ia akan berang­kat lebih<br />
awal untuk menyadap air nira. Jika terlambat menyadap air nira akan <br />
berubah menjadi asam cuka dan tuak. Pada pagi hari biasa jauh sebelum <br />
matahari bersinar dan sore hari sebelum matahari terbenam.<br />
<br />
Pohon aren mulai bisa di sadap pada usia 5 tahun dan puncak produksi <br />
antara 10-20 tahun dan subur, bisa menghasilkan 15-20 liter nira aren <br />
tiap hari.<br />
<br />
Menyadap pohon aren memer­lukan keterampilan, kesabaran dan ketekunan yang amat sangat.<br />
<br />
Coba Anda bayangkan jika pada saat menyadap nira di pagi hari masih <br />
gelap dan hujan. Sung­guh semangat yang luar biasa. Anda bisa bayangkan <br />
bagaimana tangguhnya petani-petani aren di negeri ini.<br />
<br />
Nira adalah cairan yang disadap dari bunga jantan pohon aren. Cairan ini mengandung gula antara 10-15%.<br />
<br />
Nira dapat diolah menjadi minuman ringan, maupun beralko­hol, sirup aren, gula aren dan nata de arenga. <span style="font-weight: bold;">(Laporan Syafril Nita/haluan)</span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span style="font-weight: bold;">&lt;img src="http://www.harianhaluan.com/images/stories/Berita6/190512/khas.jpg" align="left" height="173" width="233" /&gt;Kalau </span>saja<br />
Abdullah dilatih menjadi atlet olahraga panjat tebing, mungkin ia tak <br />
akan banyak mengalami kesulitan. Pasalnya, dalam sehari lebih kurang <br />
ratusan kali melakukan kegiatan memanjat batang enau untuk mengambil air<br />
niranya.<br />
<br />
Enau atau aren (Arenga pinnata, suku Areca­ceae) adalah palma yang <br />
terpenting setelah kelapa (nyiur) karena merupakan tanaman serba guna. <br />
Tumbuhan ini dikenal dengan pelbagai nama seperti nau, hanau, peluluk, <br />
biluluk, kabung, juk atau ijuk (aneka nama lokal di Sumatra dan <br />
Semenanjung Malaya); kawung, taren (Sd.); akol, akel, akere, inru, indu <br />
(bahasa-bahasa di Sulawesi); moka, moke, tuwa, tuwak (di Nusa Tenggara),<br />
dan lain-lain.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Abdullah, lelaki kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur, tahun 1970, sejak <br />
empat tahun lalu memang menetap di daerah Parumpuang, Kenagarian Koto <br />
Baru Simalanggang, Kabupaten Limapuluh Kota, dan bekerja sebagai pembuat<br />
gula enau yang dikenal juga dengan sebutan gula merah.<br />
<br />
Masyarakat di Kota Payakumbuh dan Lima­puluh Kota atau di Sumatera <br />
Barat umumnya, mengenalnya juga dengan sebutan gula aren, karena air <br />
nira yang menjadi bahan baku untuk membuat gula tersebut diambil dari <br />
tangkai buah pohon aren. Gula merah buatannya terse­but dihasilkan <br />
Abdullah bersama istrinya Nur Afifah.<br />
<br />
Kesibukan rutin Abdullah, setiap sore memanjat pohon enau guna <br />
memasang ember-ember plastik untuk menadah titik air dari tangkai buah <br />
pohon aren. Pagi harinya, Abdullah lalu mengambil kembali setiap ember <br />
yang hampir penuh berisi air nira tersebut.<br />
<br />
Setiap hari, tidak kurang 40 buah ember yang harus dipasang dan <br />
kemudian besoknya diturunkan oleh Abdullah. Artinya, laki–laki asal <br />
Banyuwangi Jawa Timur ini, harus naik turun pohon enau setiap hari <br />
sebanyak 160 kali. Dengan kata lain, memanjat dan turun untuk <br />
memasangkan ember di puncak pohon enau dan besok paginya menurunkan <br />
ember yang sudah penuh berisi air nira itu.<br />
<br />
Dari penghasilan mengambil air nira yang berasal dari sekitar 40 <br />
batang pohon enau itu, Abdullah bersama istrinya Nur Afifah yang juga <br />
kelahiran Banyuwangi 3 April 1980, bisa menghasilkan gula merah lebih <br />
kurang satu ton per minggu.<br />
<br />
Gula merah yang dihasilkan pasangan keluarga yang terbilang ulet, <br />
gigih, dan harmonis ini, selanjutnya dikirim ke Kota Padang dan berbagai<br />
kota lainnya di Sumbar dan Pekanbaru, Provinsi Riau.<br />
<br />
Harga gula merah, kata Nur Afi­fah, didampingi Abdullah, dan Handri <br />
Fatra Dt. Rajo Basa, anggota Fraksi PAN (Partai Ama­nat Nasio­nal) DPRD <br />
Kabupaten Limapuluh Kota sebagai pemilik lahan pohon enau, saat ini <br />
sekitar Rp10.000 per kg.<br />
<br />
Sebelum mengolah gula merah di Parumpuang, yang justru lebih dikenal <br />
sebagai daerah penghasil telur, Abdullah dan istrinya Nur Afifah, juga <br />
pernah melakukan kegiatan yang sama di daerah Bengkalis, Riau.<br />
<br />
Ditanya tentang kesan sebagai pekerja pembuat gula merah yang harus <br />
naik dan turun pohon enau sebanyak ratusan kali sehari, menurut Abdullah<br />
justru banyak enaknya.<br />
<br />
“Wah enak juga. Badan menjadi sehat. Kan memanjat termasuk olahraga juga ya Pak?” katanya pada <span style="font-style: italic;">Haluan</span> dengan tekanan lidah logat Jawa Timurnya.<br />
<br />
Bagi petani yang memiliki banyak pohon aren, ia akan berang­kat lebih<br />
awal untuk menyadap air nira. Jika terlambat menyadap air nira akan <br />
berubah menjadi asam cuka dan tuak. Pada pagi hari biasa jauh sebelum <br />
matahari bersinar dan sore hari sebelum matahari terbenam.<br />
<br />
Pohon aren mulai bisa di sadap pada usia 5 tahun dan puncak produksi <br />
antara 10-20 tahun dan subur, bisa menghasilkan 15-20 liter nira aren <br />
tiap hari.<br />
<br />
Menyadap pohon aren memer­lukan keterampilan, kesabaran dan ketekunan yang amat sangat.<br />
<br />
Coba Anda bayangkan jika pada saat menyadap nira di pagi hari masih <br />
gelap dan hujan. Sung­guh semangat yang luar biasa. Anda bisa bayangkan <br />
bagaimana tangguhnya petani-petani aren di negeri ini.<br />
<br />
Nira adalah cairan yang disadap dari bunga jantan pohon aren. Cairan ini mengandung gula antara 10-15%.<br />
<br />
Nira dapat diolah menjadi minuman ringan, maupun beralko­hol, sirup aren, gula aren dan nata de arenga. <span style="font-weight: bold;">(Laporan Syafril Nita/haluan)</span>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[ The Raid Menduniakan Pencak Silat]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-The-Raid-Menduniakan-Pencak-Silat</link>
			<pubDate>Thu, 26 Apr 2012 02:22:39 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-The-Raid-Menduniakan-Pencak-Silat</guid>
			<description><![CDATA[<img src="http://i550.photobucket.com/albums/ii410/pituluik/khas.jpg" border="0" alt="[Image: khas.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<br />
<br />
Film bela diri Indonesia telah memecahkan rekor lokal dan kini menjadi film Indonesia pertama yang masuk jajaran box office di Amerika. Seni bela diri pencak silat tradisi, yang menghiasi film tersebut, menjadi mendunia.<br />
<br />
Kini sang sutradara berharap, sukses film berjudul “The Raid: Redemption” itu akan menghi­dupkan kembali pencak silat, seni bela diri asli Indonesia yang kini semakin ditinggalkan dan kurang digemari generasi muda.<br />
<br />
Film aksi ini pertama dirilis pada akhir Maret lalu dan awal April telah berada di urutan nomor 11 film paling laku di Amerika, dengan meraih lebih dari 2 juta penonton. Di Indonesia, film itu sukses meraih lebih dari 1 juta penonton, sebuah angka spketakuler untuk ukuran industri film lokal.<br />
<br />
Promosi Pencak Silat<br />
<br />
“Ini adalah film yang bisa membantu mempromosikan Pencak Silat ke seluruh dunia” kata Gareth Evans yang berasal dari Wales dan menjadi sutradara sekaligus penu­lis naskah film ini.<br />
<br />
“Jadi kalau ada penonton di Amerika, Inggris, Perancis atau di manapun di dunia yang tiba-tiba tertarik belajar Pencak Silat, atau orang-orang tiba-tiba bisa memain­kan Silat, maka artinya kami telah melakukan tugas kami,” kata Evans.<br />
<br />
Pencak Silat memiliki lebih dari 150 variasi atau gaya yang tersebar di seluruh Indonesia. Seni bela diri ini mempergunakan gerakan tangan dan kaki. Evans mengaku terkesan dengan keindahan gerakan dan brutalitas yang ada dalam gerakan serangan pencak silat. Namun popularitas seni bela diri ini semakin berkurang di kalangan anak muda Indonesia.<br />
<br />
Pemeran Utama Juara Silat Indonesia<br />
<br />
Film yang dengan sederhana diberi judul “The Raid” ini berkisah tentang pasukan khusus kepolisian “SWAT” yang dikirim untuk me­nang­kap seorang gembong kriminal yang tinggal di sebuah menara bertingkat.<br />
<br />
Film ini dibintangi ahli Pencak Silat dan bekas juara Iko Uwais yang berperan sebagai kepala polisi serta Yayah Ruhiyan yang biasa menjadi wasit Pencak Silat inter­nasional, berperan sebagai gembong penjahat. Mereka berdua adalah penata gaya dalam adegan per­kelahian film ini.<br />
<br />
Pengambilan gambar berlang­sung tiga bulan dengan anggaran satu juta dollar Amerika. Film ini mendapat pujian dari para kritikus film dunia termasuk penghargaan Midnight Madness dari Festival Film Toronto. Film laga ini juga diputar di Sundance Film Festival, serta di Spanyol, Italia dan Dublin.<br />
<br />
Dipuji Kritikus Film<br />
<br />
Para kritikus memuji aksi non stop serta ketelitian koreografi dalam film itu, meski sang sutra­dara Gareth Evans dan produser Ario Sagantoro mengaku tidak menciptakan inovasi baru dan mengg­unakan gaya yang sama dengan film aksi Hong Kong tahun 1980-an. Hampir 90 persen adegan dalam film ini diambil di dalam ruangan.<br />
<br />
“Satu-satunya keinginan adalah kami ingin membuat film yang memang ingin kami tonton. Jadi kami tidak berpikir, oh baiklah mungkin kami bisa mendapat box office, atau kami bisa menjual film ini ke negara ini dan itu,” kata Evans.<br />
<br />
“Kami menyadari, harus men­j­ual­nya secara internasional, tapi kami tidak tahu bagaimana kami akan menampilkan film ini, kami tidak tahu bagaimana orang akan merespon. Semuanya yang terjadi setelah (Festival Film-red) Toronto adalah sebuah bonus,” tambah Evans.<br />
<br />
Gareth Evans mengenal pencak silat saat pengambilan gambar untuk sebuah film dokumenter lima tahun silam. Ia dan Sagantoro sebelumnya membuat film laga pencak silat berjudul “Merantau” yang cukup terkenal di Indonesia. N (Sumber: <a href="http://www.dw.de/harianhaluan)" rel="nofollow" target="_blank">http://www.dw.de/harianhaluan)</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<img src="http://i550.photobucket.com/albums/ii410/pituluik/khas.jpg" border="0" alt="[Image: khas.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<br />
<br />
Film bela diri Indonesia telah memecahkan rekor lokal dan kini menjadi film Indonesia pertama yang masuk jajaran box office di Amerika. Seni bela diri pencak silat tradisi, yang menghiasi film tersebut, menjadi mendunia.<br />
<br />
Kini sang sutradara berharap, sukses film berjudul “The Raid: Redemption” itu akan menghi­dupkan kembali pencak silat, seni bela diri asli Indonesia yang kini semakin ditinggalkan dan kurang digemari generasi muda.<br />
<br />
Film aksi ini pertama dirilis pada akhir Maret lalu dan awal April telah berada di urutan nomor 11 film paling laku di Amerika, dengan meraih lebih dari 2 juta penonton. Di Indonesia, film itu sukses meraih lebih dari 1 juta penonton, sebuah angka spketakuler untuk ukuran industri film lokal.<br />
<br />
Promosi Pencak Silat<br />
<br />
“Ini adalah film yang bisa membantu mempromosikan Pencak Silat ke seluruh dunia” kata Gareth Evans yang berasal dari Wales dan menjadi sutradara sekaligus penu­lis naskah film ini.<br />
<br />
“Jadi kalau ada penonton di Amerika, Inggris, Perancis atau di manapun di dunia yang tiba-tiba tertarik belajar Pencak Silat, atau orang-orang tiba-tiba bisa memain­kan Silat, maka artinya kami telah melakukan tugas kami,” kata Evans.<br />
<br />
Pencak Silat memiliki lebih dari 150 variasi atau gaya yang tersebar di seluruh Indonesia. Seni bela diri ini mempergunakan gerakan tangan dan kaki. Evans mengaku terkesan dengan keindahan gerakan dan brutalitas yang ada dalam gerakan serangan pencak silat. Namun popularitas seni bela diri ini semakin berkurang di kalangan anak muda Indonesia.<br />
<br />
Pemeran Utama Juara Silat Indonesia<br />
<br />
Film yang dengan sederhana diberi judul “The Raid” ini berkisah tentang pasukan khusus kepolisian “SWAT” yang dikirim untuk me­nang­kap seorang gembong kriminal yang tinggal di sebuah menara bertingkat.<br />
<br />
Film ini dibintangi ahli Pencak Silat dan bekas juara Iko Uwais yang berperan sebagai kepala polisi serta Yayah Ruhiyan yang biasa menjadi wasit Pencak Silat inter­nasional, berperan sebagai gembong penjahat. Mereka berdua adalah penata gaya dalam adegan per­kelahian film ini.<br />
<br />
Pengambilan gambar berlang­sung tiga bulan dengan anggaran satu juta dollar Amerika. Film ini mendapat pujian dari para kritikus film dunia termasuk penghargaan Midnight Madness dari Festival Film Toronto. Film laga ini juga diputar di Sundance Film Festival, serta di Spanyol, Italia dan Dublin.<br />
<br />
Dipuji Kritikus Film<br />
<br />
Para kritikus memuji aksi non stop serta ketelitian koreografi dalam film itu, meski sang sutra­dara Gareth Evans dan produser Ario Sagantoro mengaku tidak menciptakan inovasi baru dan mengg­unakan gaya yang sama dengan film aksi Hong Kong tahun 1980-an. Hampir 90 persen adegan dalam film ini diambil di dalam ruangan.<br />
<br />
“Satu-satunya keinginan adalah kami ingin membuat film yang memang ingin kami tonton. Jadi kami tidak berpikir, oh baiklah mungkin kami bisa mendapat box office, atau kami bisa menjual film ini ke negara ini dan itu,” kata Evans.<br />
<br />
“Kami menyadari, harus men­j­ual­nya secara internasional, tapi kami tidak tahu bagaimana kami akan menampilkan film ini, kami tidak tahu bagaimana orang akan merespon. Semuanya yang terjadi setelah (Festival Film-red) Toronto adalah sebuah bonus,” tambah Evans.<br />
<br />
Gareth Evans mengenal pencak silat saat pengambilan gambar untuk sebuah film dokumenter lima tahun silam. Ia dan Sagantoro sebelumnya membuat film laga pencak silat berjudul “Merantau” yang cukup terkenal di Indonesia. N (Sumber: <a href="http://www.dw.de/harianhaluan)" rel="nofollow" target="_blank">http://www.dw.de/harianhaluan)</a>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Penghobi Ikan Koi Sumbar Adakan Kontes]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Penghobi-Ikan-Koi-Sumbar-Adakan-Kontes</link>
			<pubDate>Mon, 12 Mar 2012 01:25:26 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Penghobi-Ikan-Koi-Sumbar-Adakan-Kontes</guid>
			<description><![CDATA[padangmedia.com - PADANG-Penghobi ikan hias khususnya ikan koi yang tergabung dalam Sakato Koi Club (SKC) Sumatera Barat bekerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP), Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta didukung pula oleh Suzuki melakukan kegiatan Kontes dan Bazaar ikan koi Sumatera Barat. Kontes yang digelar Minggu (11/3) itu bertempat di Gelanggang Silieh Baganti Disbudpar kota Padang..<br />
<br />
Kontes ini dikuti sekitar seratusan peserta dari seluruh penghobi koi se-Sumatera Barat.<br />
<br />
Menurut Rasmi R, S.St.M.Si, selaku ketua panitia penyelenggaraan sekaligus Ketua Asosiasi Peternak dan Pengusaha Ikan Hias (APPHIS) Sumatera Barat, dasar pelaksanaan kegiatan ini adalah menyalurkan para penghobi ikan koi yang ada di Sumatera Barat, memperkenalkan ikan hias sebagai komoditi yang bernilai ekonomi, serta merangsang pertumbuhan komoditi ikan hias di Sumatera Barat.<br />
<br />
"Sebelumnya kita pernah melakukan kegiatan serupa, namun untuk ikan koi ini pertama di Sumatera barat,"katanya.<br />
<br />
Sementara itu Ir. Yevlin Luandri Msi, Kabid Pengolahan dan Pemasaran hasil perikanan DKP Sumbar dalam sambutannya saat membuka acara itu mengatakan, bahwa geliat penghobi ikan hias mulai tampak dengan diadakannya kontes-kontes semacam ini. Sehingga dapat memotivasi tumbuhnya club-club penghobi ikan hias yang ada di Sumatera Barat.<br />
<br />
"Efeknya tentu sangat bagus ke depannya. Dengan berkembangnya ikan hias sebagai komoditi yang menjangkau pasar lebih luas, tentu merangsang produksi lebih baik dan banyak pula. Ini juga membuka peluang-peluang baru,"kata Yeflin.<br />
<br />
Ditambahkannya, ajang ini sekaligus sebagai persiapan untuk iven yang lebih besar lagi, yakni kontes koi yang akan melibatkan setidaknya lima provinsi di Sumatera.Rencananya Iven tersebut akan dilaksanakan di Bukittinggi pada pertengahan September mendatang, pungkas Yevlin.<br />
<br />
Dalam penyelenggaraan acara ini terlihat antusiasme dari pecinta ikan koi. Ketua Asosiasi Pecinta Koi Indonesia (APKI), Budi Widjaya juga hadir dan memberikan sambutan dalam acara ini.<br />
<br />
"Indonesia adalah pangsa pasar terbesar untuk ikan koi setelah Jepang. Sedangkan Sumatera Barat adalah tempat yang potensial untuk pengembangan koi,"ujar Budi.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[padangmedia.com - PADANG-Penghobi ikan hias khususnya ikan koi yang tergabung dalam Sakato Koi Club (SKC) Sumatera Barat bekerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP), Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta didukung pula oleh Suzuki melakukan kegiatan Kontes dan Bazaar ikan koi Sumatera Barat. Kontes yang digelar Minggu (11/3) itu bertempat di Gelanggang Silieh Baganti Disbudpar kota Padang..<br />
<br />
Kontes ini dikuti sekitar seratusan peserta dari seluruh penghobi koi se-Sumatera Barat.<br />
<br />
Menurut Rasmi R, S.St.M.Si, selaku ketua panitia penyelenggaraan sekaligus Ketua Asosiasi Peternak dan Pengusaha Ikan Hias (APPHIS) Sumatera Barat, dasar pelaksanaan kegiatan ini adalah menyalurkan para penghobi ikan koi yang ada di Sumatera Barat, memperkenalkan ikan hias sebagai komoditi yang bernilai ekonomi, serta merangsang pertumbuhan komoditi ikan hias di Sumatera Barat.<br />
<br />
"Sebelumnya kita pernah melakukan kegiatan serupa, namun untuk ikan koi ini pertama di Sumatera barat,"katanya.<br />
<br />
Sementara itu Ir. Yevlin Luandri Msi, Kabid Pengolahan dan Pemasaran hasil perikanan DKP Sumbar dalam sambutannya saat membuka acara itu mengatakan, bahwa geliat penghobi ikan hias mulai tampak dengan diadakannya kontes-kontes semacam ini. Sehingga dapat memotivasi tumbuhnya club-club penghobi ikan hias yang ada di Sumatera Barat.<br />
<br />
"Efeknya tentu sangat bagus ke depannya. Dengan berkembangnya ikan hias sebagai komoditi yang menjangkau pasar lebih luas, tentu merangsang produksi lebih baik dan banyak pula. Ini juga membuka peluang-peluang baru,"kata Yeflin.<br />
<br />
Ditambahkannya, ajang ini sekaligus sebagai persiapan untuk iven yang lebih besar lagi, yakni kontes koi yang akan melibatkan setidaknya lima provinsi di Sumatera.Rencananya Iven tersebut akan dilaksanakan di Bukittinggi pada pertengahan September mendatang, pungkas Yevlin.<br />
<br />
Dalam penyelenggaraan acara ini terlihat antusiasme dari pecinta ikan koi. Ketua Asosiasi Pecinta Koi Indonesia (APKI), Budi Widjaya juga hadir dan memberikan sambutan dalam acara ini.<br />
<br />
"Indonesia adalah pangsa pasar terbesar untuk ikan koi setelah Jepang. Sedangkan Sumatera Barat adalah tempat yang potensial untuk pengembangan koi,"ujar Budi.]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Berburu Tupai di Ringan-Ringan]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Berburu-Tupai-di-Ringan-Ringan</link>
			<pubDate>Sun, 26 Feb 2012 08:01:52 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Berburu-Tupai-di-Ringan-Ringan</guid>
			<description><![CDATA[Komunitas Olahraga Menembak Tepat Senapan Angin (Kombatsena) Provinsi Sumbar, menggelar kegiatan berburu tupai di Korong Ringan-Ringan, Nagari Pakandangan Kecamatan Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman.<br />
<br />
Kegiatan berburu tupai ini melibatkan warga dan anggota Kombatsena Provinsi Sumbar.<br />
<br />
Sekretaris Umum Kombatsena Provinsi Sumbar, Jasril, SH, MM mengatakan, digelarnya acara buru tupai ini upaya untuk membasmi keberadaan hama tupai yang semakin mengganas dan terus mengancam pertanian warga.<br />
<br />
"Terutamanya lahan pertanian kelapa dan lahan kakao petani yang habis dimakan oleh hama tupai tersebut," ucap Jasril, Minggu (26/2) Kepada <a href="http://www.padang-today.com" rel="nofollow" target="_blank">http://www.padang-today.com</a> di lokasi.<br />
<br />
Jasril menyebutkan, kegiatan berburu tupai dalam sehari bisa menghasilkan ratusan tupai yang mati, itu artinya telah menolong petani dalam menjaga lahan kelapa dan lahan kakao mereka.<br />
<br />
Sementara itu Camat Enam Lingkung Kabupaten Padang Pariaman Irsyaf Bujang, menyambut baik acara ini digelar. kegiatan pengentasan hama tupai merupakan kegiatan yang mampu meningkatkan pendapatan para petani.<br />
<br />
"Dan ini merupakan program sangat menyentuh masyarakat. Karena sebagian besar warga Padang Pariaman memiliki kebun kelapa dan kakao," tutupnya.(padangtoday)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Komunitas Olahraga Menembak Tepat Senapan Angin (Kombatsena) Provinsi Sumbar, menggelar kegiatan berburu tupai di Korong Ringan-Ringan, Nagari Pakandangan Kecamatan Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman.<br />
<br />
Kegiatan berburu tupai ini melibatkan warga dan anggota Kombatsena Provinsi Sumbar.<br />
<br />
Sekretaris Umum Kombatsena Provinsi Sumbar, Jasril, SH, MM mengatakan, digelarnya acara buru tupai ini upaya untuk membasmi keberadaan hama tupai yang semakin mengganas dan terus mengancam pertanian warga.<br />
<br />
"Terutamanya lahan pertanian kelapa dan lahan kakao petani yang habis dimakan oleh hama tupai tersebut," ucap Jasril, Minggu (26/2) Kepada <a href="http://www.padang-today.com" rel="nofollow" target="_blank">http://www.padang-today.com</a> di lokasi.<br />
<br />
Jasril menyebutkan, kegiatan berburu tupai dalam sehari bisa menghasilkan ratusan tupai yang mati, itu artinya telah menolong petani dalam menjaga lahan kelapa dan lahan kakao mereka.<br />
<br />
Sementara itu Camat Enam Lingkung Kabupaten Padang Pariaman Irsyaf Bujang, menyambut baik acara ini digelar. kegiatan pengentasan hama tupai merupakan kegiatan yang mampu meningkatkan pendapatan para petani.<br />
<br />
"Dan ini merupakan program sangat menyentuh masyarakat. Karena sebagian besar warga Padang Pariaman memiliki kebun kelapa dan kakao," tutupnya.(padangtoday)]]></content:encoded>
		</item>
	</channel>
</rss>