<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
	<channel>
		<title><![CDATA[Minang Forum - Gossip]]></title>
		<link>http://www.minangforum.com/</link>
		<description><![CDATA[Minang Forum - http://www.minangforum.com]]></description>
		<pubDate>Wed, 19 Jun 2013 13:08:02 +0000</pubDate>
		<generator>MyBB</generator>
		<item>
			<title><![CDATA[Saat Lady Gaga Jadi Pengiring Pengantin]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Saat-Lady-Gaga-Jadi-Pengiring-Pengantin</link>
			<pubDate>Wed, 12 Jun 2013 05:52:14 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Saat-Lady-Gaga-Jadi-Pengiring-Pengantin</guid>
			<description><![CDATA[<img src="http://l.yimg.com/bt/api/res/1.2/4VQg.ulZDDky2oaX2FiHqg--/YXBwaWQ9eW5ld3M7cT04NTt3PTMwMA--/http://media.zenfs.com/en-US/blogs/omgcelebnews/0ac450cc-0e45-430b-b81a-144657045c60_300_LadyGaga1_061013.jpg" border="0" alt="[Image: 0ac450cc-0e45-430b-b81a-144657045c60_300...061013.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/> <img src="http://l3.yimg.com/bt/api/res/1.2/tGYXhZGmY3gVil6V0CVvIg--/YXBwaWQ9eW5ld3M7cT04NTt3PTMwMA--/http://media.zenfs.com/en-US/blogs/omgcelebnews/5afdccf5-25e9-48e1-9ae5-33eb90483ea5_300_LadyGaga2_061013.jpg" border="0" alt="[Image: 5afdccf5-25e9-48e1-9ae5-33eb90483ea5_300...061013.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/> <br />
<br />
Tak bisa dipungkiri bahwa Lady Gaga selalu jadi pusat perhatian baik di panggung maupun di tempat umum. Namun hari itu, sang penyanyi harus menyerahkan posisi sorotan utama kepada sahabat baiknya yang sedang jadi pengantin.<br />
<br />
Artis 27 tahun ini terbang ke Cabo San Lucas, Meksiko, minggu lalu untuk menghadiri pernikahan sahabatnya Bo O'Connor, sebagai pengiring pengantin.<br />
<br />
Mengenakan gaun berleher halter dengan warna dusty pink, penyanyi ini menggerai rambutnya yang dicat pirang, sementara wajahnya berhias makeup cantik dengan fokus di bibir merah dan makeup mata yang shimmery. Sekuntum bunga berukuran besar menghiasi rambutnya. Tak ada aksesori aneh dan ekstravaganza yang biasa melekat pada seorang Gaga.<br />
<br />
Ternyata meski ia seorang diva, ia rela "berdandan biasa-biasa aja" supaya tak mencuri perhatian dari ratu hari itu, sang pengantin.<br />
<br />
Meski datang sendirian tanpa ditemani sang kekasih aktor Taylor Kinney, Gaga terlihat bahagia dan penuh senyum sepanjang acara. <br />
<br />
Beberapa bulan terakhir, sang Mother Monster diharuskan beristirahat setelah menjalani operasi panggul. Album keempatnya "Artpop" dijadwalkan rilis akhir tahun ini, sementara debutnya di film layar lebar akan dimulai pada 31 Juli saat film perdananya "Machete Kills" diputar di bioskop.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<img src="http://l.yimg.com/bt/api/res/1.2/4VQg.ulZDDky2oaX2FiHqg--/YXBwaWQ9eW5ld3M7cT04NTt3PTMwMA--/http://media.zenfs.com/en-US/blogs/omgcelebnews/0ac450cc-0e45-430b-b81a-144657045c60_300_LadyGaga1_061013.jpg" border="0" alt="[Image: 0ac450cc-0e45-430b-b81a-144657045c60_300...061013.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/> <img src="http://l3.yimg.com/bt/api/res/1.2/tGYXhZGmY3gVil6V0CVvIg--/YXBwaWQ9eW5ld3M7cT04NTt3PTMwMA--/http://media.zenfs.com/en-US/blogs/omgcelebnews/5afdccf5-25e9-48e1-9ae5-33eb90483ea5_300_LadyGaga2_061013.jpg" border="0" alt="[Image: 5afdccf5-25e9-48e1-9ae5-33eb90483ea5_300...061013.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/> <br />
<br />
Tak bisa dipungkiri bahwa Lady Gaga selalu jadi pusat perhatian baik di panggung maupun di tempat umum. Namun hari itu, sang penyanyi harus menyerahkan posisi sorotan utama kepada sahabat baiknya yang sedang jadi pengantin.<br />
<br />
Artis 27 tahun ini terbang ke Cabo San Lucas, Meksiko, minggu lalu untuk menghadiri pernikahan sahabatnya Bo O'Connor, sebagai pengiring pengantin.<br />
<br />
Mengenakan gaun berleher halter dengan warna dusty pink, penyanyi ini menggerai rambutnya yang dicat pirang, sementara wajahnya berhias makeup cantik dengan fokus di bibir merah dan makeup mata yang shimmery. Sekuntum bunga berukuran besar menghiasi rambutnya. Tak ada aksesori aneh dan ekstravaganza yang biasa melekat pada seorang Gaga.<br />
<br />
Ternyata meski ia seorang diva, ia rela "berdandan biasa-biasa aja" supaya tak mencuri perhatian dari ratu hari itu, sang pengantin.<br />
<br />
Meski datang sendirian tanpa ditemani sang kekasih aktor Taylor Kinney, Gaga terlihat bahagia dan penuh senyum sepanjang acara. <br />
<br />
Beberapa bulan terakhir, sang Mother Monster diharuskan beristirahat setelah menjalani operasi panggul. Album keempatnya "Artpop" dijadwalkan rilis akhir tahun ini, sementara debutnya di film layar lebar akan dimulai pada 31 Juli saat film perdananya "Machete Kills" diputar di bioskop.]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[MENGAPA TIDAK ADA ‘KAMPUNG MINANG’?]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-MENGAPA-TIDAK-ADA-%E2%80%98KAMPUNG-MINANG%E2%80%99</link>
			<pubDate>Thu, 06 Dec 2012 04:32:40 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-MENGAPA-TIDAK-ADA-%E2%80%98KAMPUNG-MINANG%E2%80%99</guid>
			<description><![CDATA[Menarik membaca artikel Mathias Pandoe, “Minangkabau Boulevart” (<span style="font-style: italic;">sic</span>) yang dimuat <span style="font-style: italic;">Padang</span> <span style="font-style: italic;">Ekspres</span><br />
(Jumat, 24 Oktober 2008). Artikel itu mendiskusikan mengapa perantau <br />
Minangkabau di banyak daerah di luar Sumatera Barat, termasuk luar <br />
negeri, tidak hidup dalam sebuah <span style="font-style: italic;">enclave</span> seperti beberapa etnis lainnya?<br />
<br />
<br />
<br />
Kalau di banyak kota ditemukan Kampung Cina, Kampung Keling, Kampung <br />
Nias, Kampung Bali, Kampung Bugis, dan Kampung Ambon, misalnya, mengapa <br />
tidak ada Kampung Minang? Mathias menjelaskan bahwa hal itu disebabkan <br />
“orang Minang merantau tidak mengelompok di satu kawasan, tapi menyebar <br />
dengan jarak agak jauh satu sama lain”. Tetapi mengapa sifat seperti itu<br />
muncul pada orang Minang?<br />
<br />
Yang menarik sebenarnya penjelasan historis penulis mengenai hal ini <br />
yang, sayangnya, hanya disinggung sedikit saja dalam artikel itu. <br />
Tulisan ini ingin menokok-tambah sedikit penjelasan historis Mathias <br />
yang sepintas lalu itu. Analisis dan interpretasi saya didasarkan atas <br />
refleksi terhadap sumber-sumber pertama sejarah yang telah saya baca.<br />
<br />
Seperti dikatakan dalam artikel Mathias Pandoe, Kampung Ambon, <br />
Kampung Cina, dan banyak kampung yang lain itu sudah terbentuk di <br />
kota-kota pantai di Nusantara jauh pada zaman lampau. Ada indikasi bahwa<br />
beberapa kampung seperti itu sudah muncul sebelum orang Eropa datang ke<br />
Nusantara. Tapi kebanyakan kampung seperti itu terbentuk setelah Orang <br />
Eropa, khususnya Belanda, mulai bercokol di Nusantara.<br />
<br />
Konsolidasi penjajahan Belanda di Kepulauan Nusantara melalui serikat dagang VOC (<span style="font-style: italic;">Verenigde Oost Indische Compagnie</span>)<br />
sejak awal abad ke-17 telah ikut mempengaruhi struktur demografi <br />
kependudukan wilayah kepulauan ini. Banyak kelompok etnis melakukan <br />
penghijarahan dari daerah asalnya ke daerah lain, khususnya ke kota-kota<br />
pelabuhan. Migrasi itu ada yang dilakukan karena terpaksa (biasanya hal<br />
ini terkait dengan tugas militer dan perbudakan) dan ada yang dilakukan<br />
secara sukarela (biasanya karena motif ekonomi).<br />
<br />
Orang-orang yang melakukan penghijrahan itulah yang membuat <br />
kampung-kampung sendiri di tempat mereka yang baru. Dapat dibayangkan <br />
bahwa pada waktu itu (abad ke 16-awal abad ke-20) masing-masing etnis <br />
yang berpindah tempat itu, atau dengan paksa dipindahkan, sangat merasa <br />
asing di daerah mereka yang baru tempat mereka tinggal. Mereka umumnya <br />
tidak bisa berbahasa Melayu, oleh karenanya tidak bisa berkomunikasi <br />
dengan kelompok dari suku lain yang juga berimigrasi ke tempat yang <br />
sama. Hal ini berlaku juga bagi ras-ras asing yang datang ke Nusantara, <br />
seperti orang India (Keling), Arab, dan Cina. Salah satu cara, dan ini <br />
semacam naluri makhluk hidup pada umumnya, adalah tinggal berkelompok di<br />
wilayah yang sama di tempat yang baru itu.<br />
<br />
Cukup dapat dipastikan bahwa awal terbentuknya kampung-kampung <br />
beberapa kelompok etnis dari Indonesia timur di kota-kota Jawa (seperti <br />
Batavia dan Surabaya)seperti Kampung Bali, Kampung Ambon, dan Kampung <br />
Bugisdisebabkan oleh pendatangan dan pengiriman budak-budak dari daerah <br />
itu ke Jawa. Paling tidak ada tiga tipe budak dari wilayah itu:<br />
<br />
1) yang diperdagangkan;<br />
<br />
2) yang dibawa paksa oleh Belanda ke Batavia sebagai tenaga kerja;<br />
<br />
3) yang dihadiahkan sebagai ‘kado’ oleh raja-raja lokal setempat kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia.<br />
<br />
Masyarakat etnis yang hidup di Indonesia Timur umumnya mengenal kasta<br />
sosial paling rendah, yaitu budak. Mereka boleh diperdagangkan dan <br />
dihadiahkan. Bila raja-raja mereka mengirim surat kepada Gubernur <br />
Jenderal Hindia Belanda dan Raad van India-nya di Batavia, maka setiap <br />
surat yang dikirim diiringi dengan ‘buah tangan’ berupa ternak, hasil <br />
bumi setempat, dan budak (biasanya disebut <span style="font-style: italic;">abdi</span>, <span style="font-style: italic;">lasykar</span>, <span style="font-style: italic;">bingkisan</span>, dan <span style="font-style: italic;">kiriman</span>).<br />
<br />
Simak kutipan kalimat penutup Surat Sultan Bima ke-9, Abdul Hamid <br />
Muhamad Syah (1773-1817), kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda <br />
berikut ini (garis bawah oleh Suryadi): “<span style="font-style: italic;">Satupun tiada alamat al-hayat hanyalah pada siang dan malam serta keadaan <span style="text-decoration: underline;">enam orang</span> <span style="text-decoration: underline;">abdi</span> <span style="text-decoration: underline;">laki2</span> <span style="text-decoration: underline;">yang tiada</span> <span style="text-decoration: underline;">sepertinya</span>. Maka yang seperti kuda itu telah sediakan oleh Paduka Raja Bima, mau dikirimkan kepada Tuan <span style="font-weight: bold;">Gurnadur</span> <span style="font-weight: bold;">Jenderal</span> dengan segala Rat van [i]ndia yang sebagaimana yang telah sudah dibiasakan kepada tahun2 dahulu2</span>.” (Naskah Leiden Or.2240-Ia.2).<br />
<br />
Dan di bawah ini kutipan dari kalimat penutup surat Raja Buton ke-26, Muhyiuddin Abdul Gafur (1791-1799): “<span style="font-style: italic;">Apalah kiranya tanda alamat al-hayat pada akhir al-satarnya hanya <span style="text-decoration: underline;">dua lapan orang</span> <span style="text-decoration: underline;">bingkisan</span> kepada Kompeni dan <span style="text-decoration: underline;">dua</span> <span style="text-decoration: underline;">orang</span> <span style="text-decoration: underline;">kiriman</span> kepada Tuan Heer Gurnadur Jenderal, demikianlah adanya</span>.” (Naskah Leiden Or.2240-Ia.44).<br />
<br />
Banyak sekali budak ‘buah tangan’ itu yang diterima (petinggi) <br />
Kompeni Belanda. Bayangkan saja: setiap surat dibarengi dengan hadiah <br />
beberapa orang budak (ada yang sampai 28 orang). Sepanjang abad ke-17, <br />
18, dan 19 ada ribuan surat seperti itu yang dikirim oleh raja-raja <br />
lokal di Nusantara kepada Gubernur Jenderal Hindua Belanda di Batavia. <br />
Bayangkan jumlah budak yang menyertainya.<br />
<br />
Minggu lalu saya membaca surat-surat Raja Bali (Buleleng dan <br />
Karangasem) yang tersimpan di Universiteitsbibliotheek Leiden. Rupanya <br />
raja-raja Bali juga royal mengirimkan hadiah budak kepada Gubernur <br />
Jenderal Hindia Belanda di Batavia.<br />
<br />
F. de Haan dalam buku <span style="font-style: italic;">laborious</span>-nya, <span style="font-style: italic;">Oud</span> <span style="font-style: italic;">Batavia</span><br />
(1935) mencatat bahwa beberapa nama kampung di Batavia pada awalnya <br />
dibangun dan dihuni oleh budak-budak yang dimerdekakan. Misalnya, <br />
kawasan Maggarai di Jakarta sekarang dulunya dibangun oleh budak-budak <br />
yang berasal dari daerah Manggarai, Flores Barat. Demikian pula halnya <br />
Kampung Bali yang dulunya dibangun oleh budak-budak yang dibawa dari <br />
Pulau Bali.<br />
<br />
Kasta budak tidak ada dalam struktur sosial kelompok-kelompok etnis <br />
yang hidup di Indonesia barat. Kalaupun ada kelas rendah, itu biasanya <br />
didasarkan atas kategori kepemilikan harta. Etnis Minangkabau apalagi: <br />
jangankan jadi budak, diperintah saja mereka sulit. Bukankah mereka <br />
cenderung memilih jadi pedagang K5 yang menjual beberapa pasang kaus <br />
kaki ketimbang jadi tukang becak?<br />
<br />
Raja-raja atau penghulu Minang dulu kalau mengirim surat kepada <br />
Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia menyertai emas sebagai buah <br />
tangan, bukan budak. Simak kutipan kalimat penutup surat Panglima Raja <br />
di Hilir, Penghulu Kepala kota Padang di bawah ini (garis bawah oleh <br />
Suryadi): “<span style="font-style: italic;">Syahdan maka adalah dipesertakan dengan burhan al-wujud sezarahini tuhfah haluan daripada yang diperhamba Panglima serta penghulu2 yang dua belas serta istiadat yang dibiasakan keadaannya <span style="text-decoration: underline;">lima</span> <span style="text-decoration: underline;">belas</span> <span style="text-decoration: underline;">tahil</span> <span style="text-decoration: underline;">mas</span> <span style="text-decoration: underline;">kepala</span>, serta kami mintaselamat sekalian jenis kebajikan dan kesentosaan Tuan Gurnadur Jenderal dan sekalian Tuan Raden van India</span>” (Naskah Leiden Or.2241-IIb 1; 13 Maret 1792).<br />
<br />
Danhe he, tanda si Padang pelit (<span style="font-style: italic;">cimpilik</span> <span style="font-style: italic;">kariang</span>?)Panglima<br />
Raja di Hilir seringkali hanya bilang “dengan hati putih” saja, tanpa <br />
dibarengi ‘kado’ lagi, seperti dapat dikesan dalam kutipan suratnya di <br />
bawah ini (garis bawah oleh Suryadi): “<span style="font-style: italic;">Sekarang</span> <span style="font-style: italic;"><span style="text-decoration: underline;">suatupun</span> <span style="text-decoration: underline;">belum</span> <span style="text-decoration: underline;">apa2</span> <span style="text-decoration: underline;">persembahan</span> <span style="text-decoration: underline;">daripada</span> <span style="text-decoration: underline;">kami</span> <span style="text-decoration: underline;">melainkan</span> <span style="text-decoration: underline;">hanya</span> <span style="text-decoration: underline;">hati putih</span> selamat dengan segala jenis kebajikan Tuan Gurnadur Jenderal dan segala Tuan orang besar</span> [<span style="font-style: italic;">Raad</span>] <span style="font-style: italic;">van India serta sekalian umur panjang jua adanya</span>.”(Naskah Leiden Or.2241-IIb 4; 28 Maret 1794).<br />
<br />
Umumnya penghijrahan orang Minang dilakukan secara spontansatu ciri <br />
merantau orang Minang yang khas (Naim 1979). Satu keuntungan lagi: orang<br />
Minang rata-rata bisa berbahasa Melayu, yang di zaman lampau disebut <br />
sebagai “<span style="font-style: italic;">bicaro</span> <span style="font-style: italic;">gaduang</span>“. Oleh sebab itu para perantau<br />
Minang tidak sulit berkomunikasi dengan kelompok-kelompok etnis yang <br />
sudah lebih dulu bermastautin di bandar-bandar Nusantara yang memang <br />
sudah menjadikan bahasa Melayu sebagai <span style="font-style: italic;">lingua</span> <span style="font-style: italic;">franca</span> <br />
dalam komunikasi antaraetnis. Sifat independen nagari-nagari di <br />
Minangkabau juga ikut mempengaruhi kohesi sosial antara sesama orang <br />
Minang di rantau.<br />
<br />
Faktor-faktor di atassifat-sifat internal kebudayaan Minangkabau <br />
sendiri dan juga faktor kebahasaantidak saja mempengaruhi jenis <br />
pekerjaan yang disukai orang Minang di rantau, tetapi juga mempengaruhi <br />
cara mereka hidup dengan sesamanya dan dengan orang-orang dari kelompok <br />
etnis lain.<br />
<br />
Suryadi, dosen dan peneliti pada Opleiding Talen en Culturen van Indonesi, Universiteit Leiden, Belanda<br />
<br />
Dimuat di <span style="font-style: italic;">Padang</span> <span style="font-style: italic;">Ekspres</span> 28 Oktober 2008 (Teras Utama)<br />
[/i]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Menarik membaca artikel Mathias Pandoe, “Minangkabau Boulevart” (<span style="font-style: italic;">sic</span>) yang dimuat <span style="font-style: italic;">Padang</span> <span style="font-style: italic;">Ekspres</span><br />
(Jumat, 24 Oktober 2008). Artikel itu mendiskusikan mengapa perantau <br />
Minangkabau di banyak daerah di luar Sumatera Barat, termasuk luar <br />
negeri, tidak hidup dalam sebuah <span style="font-style: italic;">enclave</span> seperti beberapa etnis lainnya?<br />
<br />
<br />
<br />
Kalau di banyak kota ditemukan Kampung Cina, Kampung Keling, Kampung <br />
Nias, Kampung Bali, Kampung Bugis, dan Kampung Ambon, misalnya, mengapa <br />
tidak ada Kampung Minang? Mathias menjelaskan bahwa hal itu disebabkan <br />
“orang Minang merantau tidak mengelompok di satu kawasan, tapi menyebar <br />
dengan jarak agak jauh satu sama lain”. Tetapi mengapa sifat seperti itu<br />
muncul pada orang Minang?<br />
<br />
Yang menarik sebenarnya penjelasan historis penulis mengenai hal ini <br />
yang, sayangnya, hanya disinggung sedikit saja dalam artikel itu. <br />
Tulisan ini ingin menokok-tambah sedikit penjelasan historis Mathias <br />
yang sepintas lalu itu. Analisis dan interpretasi saya didasarkan atas <br />
refleksi terhadap sumber-sumber pertama sejarah yang telah saya baca.<br />
<br />
Seperti dikatakan dalam artikel Mathias Pandoe, Kampung Ambon, <br />
Kampung Cina, dan banyak kampung yang lain itu sudah terbentuk di <br />
kota-kota pantai di Nusantara jauh pada zaman lampau. Ada indikasi bahwa<br />
beberapa kampung seperti itu sudah muncul sebelum orang Eropa datang ke<br />
Nusantara. Tapi kebanyakan kampung seperti itu terbentuk setelah Orang <br />
Eropa, khususnya Belanda, mulai bercokol di Nusantara.<br />
<br />
Konsolidasi penjajahan Belanda di Kepulauan Nusantara melalui serikat dagang VOC (<span style="font-style: italic;">Verenigde Oost Indische Compagnie</span>)<br />
sejak awal abad ke-17 telah ikut mempengaruhi struktur demografi <br />
kependudukan wilayah kepulauan ini. Banyak kelompok etnis melakukan <br />
penghijarahan dari daerah asalnya ke daerah lain, khususnya ke kota-kota<br />
pelabuhan. Migrasi itu ada yang dilakukan karena terpaksa (biasanya hal<br />
ini terkait dengan tugas militer dan perbudakan) dan ada yang dilakukan<br />
secara sukarela (biasanya karena motif ekonomi).<br />
<br />
Orang-orang yang melakukan penghijrahan itulah yang membuat <br />
kampung-kampung sendiri di tempat mereka yang baru. Dapat dibayangkan <br />
bahwa pada waktu itu (abad ke 16-awal abad ke-20) masing-masing etnis <br />
yang berpindah tempat itu, atau dengan paksa dipindahkan, sangat merasa <br />
asing di daerah mereka yang baru tempat mereka tinggal. Mereka umumnya <br />
tidak bisa berbahasa Melayu, oleh karenanya tidak bisa berkomunikasi <br />
dengan kelompok dari suku lain yang juga berimigrasi ke tempat yang <br />
sama. Hal ini berlaku juga bagi ras-ras asing yang datang ke Nusantara, <br />
seperti orang India (Keling), Arab, dan Cina. Salah satu cara, dan ini <br />
semacam naluri makhluk hidup pada umumnya, adalah tinggal berkelompok di<br />
wilayah yang sama di tempat yang baru itu.<br />
<br />
Cukup dapat dipastikan bahwa awal terbentuknya kampung-kampung <br />
beberapa kelompok etnis dari Indonesia timur di kota-kota Jawa (seperti <br />
Batavia dan Surabaya)seperti Kampung Bali, Kampung Ambon, dan Kampung <br />
Bugisdisebabkan oleh pendatangan dan pengiriman budak-budak dari daerah <br />
itu ke Jawa. Paling tidak ada tiga tipe budak dari wilayah itu:<br />
<br />
1) yang diperdagangkan;<br />
<br />
2) yang dibawa paksa oleh Belanda ke Batavia sebagai tenaga kerja;<br />
<br />
3) yang dihadiahkan sebagai ‘kado’ oleh raja-raja lokal setempat kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia.<br />
<br />
Masyarakat etnis yang hidup di Indonesia Timur umumnya mengenal kasta<br />
sosial paling rendah, yaitu budak. Mereka boleh diperdagangkan dan <br />
dihadiahkan. Bila raja-raja mereka mengirim surat kepada Gubernur <br />
Jenderal Hindia Belanda dan Raad van India-nya di Batavia, maka setiap <br />
surat yang dikirim diiringi dengan ‘buah tangan’ berupa ternak, hasil <br />
bumi setempat, dan budak (biasanya disebut <span style="font-style: italic;">abdi</span>, <span style="font-style: italic;">lasykar</span>, <span style="font-style: italic;">bingkisan</span>, dan <span style="font-style: italic;">kiriman</span>).<br />
<br />
Simak kutipan kalimat penutup Surat Sultan Bima ke-9, Abdul Hamid <br />
Muhamad Syah (1773-1817), kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda <br />
berikut ini (garis bawah oleh Suryadi): “<span style="font-style: italic;">Satupun tiada alamat al-hayat hanyalah pada siang dan malam serta keadaan <span style="text-decoration: underline;">enam orang</span> <span style="text-decoration: underline;">abdi</span> <span style="text-decoration: underline;">laki2</span> <span style="text-decoration: underline;">yang tiada</span> <span style="text-decoration: underline;">sepertinya</span>. Maka yang seperti kuda itu telah sediakan oleh Paduka Raja Bima, mau dikirimkan kepada Tuan <span style="font-weight: bold;">Gurnadur</span> <span style="font-weight: bold;">Jenderal</span> dengan segala Rat van [i]ndia yang sebagaimana yang telah sudah dibiasakan kepada tahun2 dahulu2</span>.” (Naskah Leiden Or.2240-Ia.2).<br />
<br />
Dan di bawah ini kutipan dari kalimat penutup surat Raja Buton ke-26, Muhyiuddin Abdul Gafur (1791-1799): “<span style="font-style: italic;">Apalah kiranya tanda alamat al-hayat pada akhir al-satarnya hanya <span style="text-decoration: underline;">dua lapan orang</span> <span style="text-decoration: underline;">bingkisan</span> kepada Kompeni dan <span style="text-decoration: underline;">dua</span> <span style="text-decoration: underline;">orang</span> <span style="text-decoration: underline;">kiriman</span> kepada Tuan Heer Gurnadur Jenderal, demikianlah adanya</span>.” (Naskah Leiden Or.2240-Ia.44).<br />
<br />
Banyak sekali budak ‘buah tangan’ itu yang diterima (petinggi) <br />
Kompeni Belanda. Bayangkan saja: setiap surat dibarengi dengan hadiah <br />
beberapa orang budak (ada yang sampai 28 orang). Sepanjang abad ke-17, <br />
18, dan 19 ada ribuan surat seperti itu yang dikirim oleh raja-raja <br />
lokal di Nusantara kepada Gubernur Jenderal Hindua Belanda di Batavia. <br />
Bayangkan jumlah budak yang menyertainya.<br />
<br />
Minggu lalu saya membaca surat-surat Raja Bali (Buleleng dan <br />
Karangasem) yang tersimpan di Universiteitsbibliotheek Leiden. Rupanya <br />
raja-raja Bali juga royal mengirimkan hadiah budak kepada Gubernur <br />
Jenderal Hindia Belanda di Batavia.<br />
<br />
F. de Haan dalam buku <span style="font-style: italic;">laborious</span>-nya, <span style="font-style: italic;">Oud</span> <span style="font-style: italic;">Batavia</span><br />
(1935) mencatat bahwa beberapa nama kampung di Batavia pada awalnya <br />
dibangun dan dihuni oleh budak-budak yang dimerdekakan. Misalnya, <br />
kawasan Maggarai di Jakarta sekarang dulunya dibangun oleh budak-budak <br />
yang berasal dari daerah Manggarai, Flores Barat. Demikian pula halnya <br />
Kampung Bali yang dulunya dibangun oleh budak-budak yang dibawa dari <br />
Pulau Bali.<br />
<br />
Kasta budak tidak ada dalam struktur sosial kelompok-kelompok etnis <br />
yang hidup di Indonesia barat. Kalaupun ada kelas rendah, itu biasanya <br />
didasarkan atas kategori kepemilikan harta. Etnis Minangkabau apalagi: <br />
jangankan jadi budak, diperintah saja mereka sulit. Bukankah mereka <br />
cenderung memilih jadi pedagang K5 yang menjual beberapa pasang kaus <br />
kaki ketimbang jadi tukang becak?<br />
<br />
Raja-raja atau penghulu Minang dulu kalau mengirim surat kepada <br />
Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia menyertai emas sebagai buah <br />
tangan, bukan budak. Simak kutipan kalimat penutup surat Panglima Raja <br />
di Hilir, Penghulu Kepala kota Padang di bawah ini (garis bawah oleh <br />
Suryadi): “<span style="font-style: italic;">Syahdan maka adalah dipesertakan dengan burhan al-wujud sezarahini tuhfah haluan daripada yang diperhamba Panglima serta penghulu2 yang dua belas serta istiadat yang dibiasakan keadaannya <span style="text-decoration: underline;">lima</span> <span style="text-decoration: underline;">belas</span> <span style="text-decoration: underline;">tahil</span> <span style="text-decoration: underline;">mas</span> <span style="text-decoration: underline;">kepala</span>, serta kami mintaselamat sekalian jenis kebajikan dan kesentosaan Tuan Gurnadur Jenderal dan sekalian Tuan Raden van India</span>” (Naskah Leiden Or.2241-IIb 1; 13 Maret 1792).<br />
<br />
Danhe he, tanda si Padang pelit (<span style="font-style: italic;">cimpilik</span> <span style="font-style: italic;">kariang</span>?)Panglima<br />
Raja di Hilir seringkali hanya bilang “dengan hati putih” saja, tanpa <br />
dibarengi ‘kado’ lagi, seperti dapat dikesan dalam kutipan suratnya di <br />
bawah ini (garis bawah oleh Suryadi): “<span style="font-style: italic;">Sekarang</span> <span style="font-style: italic;"><span style="text-decoration: underline;">suatupun</span> <span style="text-decoration: underline;">belum</span> <span style="text-decoration: underline;">apa2</span> <span style="text-decoration: underline;">persembahan</span> <span style="text-decoration: underline;">daripada</span> <span style="text-decoration: underline;">kami</span> <span style="text-decoration: underline;">melainkan</span> <span style="text-decoration: underline;">hanya</span> <span style="text-decoration: underline;">hati putih</span> selamat dengan segala jenis kebajikan Tuan Gurnadur Jenderal dan segala Tuan orang besar</span> [<span style="font-style: italic;">Raad</span>] <span style="font-style: italic;">van India serta sekalian umur panjang jua adanya</span>.”(Naskah Leiden Or.2241-IIb 4; 28 Maret 1794).<br />
<br />
Umumnya penghijrahan orang Minang dilakukan secara spontansatu ciri <br />
merantau orang Minang yang khas (Naim 1979). Satu keuntungan lagi: orang<br />
Minang rata-rata bisa berbahasa Melayu, yang di zaman lampau disebut <br />
sebagai “<span style="font-style: italic;">bicaro</span> <span style="font-style: italic;">gaduang</span>“. Oleh sebab itu para perantau<br />
Minang tidak sulit berkomunikasi dengan kelompok-kelompok etnis yang <br />
sudah lebih dulu bermastautin di bandar-bandar Nusantara yang memang <br />
sudah menjadikan bahasa Melayu sebagai <span style="font-style: italic;">lingua</span> <span style="font-style: italic;">franca</span> <br />
dalam komunikasi antaraetnis. Sifat independen nagari-nagari di <br />
Minangkabau juga ikut mempengaruhi kohesi sosial antara sesama orang <br />
Minang di rantau.<br />
<br />
Faktor-faktor di atassifat-sifat internal kebudayaan Minangkabau <br />
sendiri dan juga faktor kebahasaantidak saja mempengaruhi jenis <br />
pekerjaan yang disukai orang Minang di rantau, tetapi juga mempengaruhi <br />
cara mereka hidup dengan sesamanya dan dengan orang-orang dari kelompok <br />
etnis lain.<br />
<br />
Suryadi, dosen dan peneliti pada Opleiding Talen en Culturen van Indonesi, Universiteit Leiden, Belanda<br />
<br />
Dimuat di <span style="font-style: italic;">Padang</span> <span style="font-style: italic;">Ekspres</span> 28 Oktober 2008 (Teras Utama)<br />
[/i]]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Berjudi, 4 "Induak-Induak" Ditangkap Polisi]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Berjudi-4-Induak-Induak-Ditangkap-Polisi</link>
			<pubDate>Tue, 06 Nov 2012 22:21:25 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Berjudi-4-Induak-Induak-Ditangkap-Polisi</guid>
			<description><![CDATA[<span style="font-weight: bold;">Uang Rp 60 Ribu Serta Batu Domino Diamankan</span><br />
<br />
Entah karena suntuk dengan rutinitas hariannya atau ingin menambah belanja dapur, empat orang "induak-induak" di Kabupaten Lima Puluh Kota nekad mengadu nasib dengan cara berjudi. Keempat perempuan ini ditangkap berjudi pada Selasa (6/11) sekitar jam 13.30 Wib di Jorong Tanjung Pati, Koto Tuo, di rumah mertua salah satu perempuan tersebut.<br />
<br />
Keempatnya adalah TR (53), seorang petani beralamat di Jorong Tanjung Pati Koto Tuo, MD (30), seorang Ibu Rumah Tangga warga Jorong Tanjung Pati Koto Tuo, ML (27), seorang Ibu Rumah Tangga Warga Jorong Tanjung Pati Koto Tuo dan MR (34), seorang Ibu Rumah Tangga Warga Jorong Tanjung Pati Koto Tuo.<br />
<br />
"Iya benar tadi sore anggota kita melakukan penangkapan terhadap empat orang perempuan yang tengah bermain judi jenis domino, dari tangan perempuan ini kita amankan sejumlah barang bukti. Untuk penyelidikan lebih lanjut, keempatnya kita bawa ke Mapolres Payakumbuh. Mereka saat<br />
bermain judi juga membawa anak-anak mereka," ungkap AKP. Anita Indah Setyaningrum, Kapolsek Harau.<br />
<br />
Penangkapan keempat perempuan ini berawal dari laporan dari warga sekitar yang resah dengan aktivitas perjudian yang dilakukan. Setelah menerima laporan dari warga, Polisi bergerak cepat dengan melakukan penangkapan. Saat ditangkap, keempat induak-induak ini tampak pasrah. Uang sejumlah 60 ribu beserta batu domino diamankan petugas.<br />
<br />
Atas perbuatannya, keempat perempuan yang seharusnya berada di tengah-tengah keluarga ini terancam hukuman lima tahun penjara, karena melanggar pasal 303 ayat 1 dan 3 serta pasal 303 ayat 1 KUHP tentang perjudian.<br />
<br />
Untuk pemeriksaan lebih lanjut, saat ini keempat tersangka masih ditahan di Mapolsek Harau<br />
<br />
(padangroday)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span style="font-weight: bold;">Uang Rp 60 Ribu Serta Batu Domino Diamankan</span><br />
<br />
Entah karena suntuk dengan rutinitas hariannya atau ingin menambah belanja dapur, empat orang "induak-induak" di Kabupaten Lima Puluh Kota nekad mengadu nasib dengan cara berjudi. Keempat perempuan ini ditangkap berjudi pada Selasa (6/11) sekitar jam 13.30 Wib di Jorong Tanjung Pati, Koto Tuo, di rumah mertua salah satu perempuan tersebut.<br />
<br />
Keempatnya adalah TR (53), seorang petani beralamat di Jorong Tanjung Pati Koto Tuo, MD (30), seorang Ibu Rumah Tangga warga Jorong Tanjung Pati Koto Tuo, ML (27), seorang Ibu Rumah Tangga Warga Jorong Tanjung Pati Koto Tuo dan MR (34), seorang Ibu Rumah Tangga Warga Jorong Tanjung Pati Koto Tuo.<br />
<br />
"Iya benar tadi sore anggota kita melakukan penangkapan terhadap empat orang perempuan yang tengah bermain judi jenis domino, dari tangan perempuan ini kita amankan sejumlah barang bukti. Untuk penyelidikan lebih lanjut, keempatnya kita bawa ke Mapolres Payakumbuh. Mereka saat<br />
bermain judi juga membawa anak-anak mereka," ungkap AKP. Anita Indah Setyaningrum, Kapolsek Harau.<br />
<br />
Penangkapan keempat perempuan ini berawal dari laporan dari warga sekitar yang resah dengan aktivitas perjudian yang dilakukan. Setelah menerima laporan dari warga, Polisi bergerak cepat dengan melakukan penangkapan. Saat ditangkap, keempat induak-induak ini tampak pasrah. Uang sejumlah 60 ribu beserta batu domino diamankan petugas.<br />
<br />
Atas perbuatannya, keempat perempuan yang seharusnya berada di tengah-tengah keluarga ini terancam hukuman lima tahun penjara, karena melanggar pasal 303 ayat 1 dan 3 serta pasal 303 ayat 1 KUHP tentang perjudian.<br />
<br />
Untuk pemeriksaan lebih lanjut, saat ini keempat tersangka masih ditahan di Mapolsek Harau<br />
<br />
(padangroday)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Wartawan Medan yang Sempat Buat Heboh Malaysia]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Wartawan-Medan-yang-Sempat-Buat-Heboh-Malaysia</link>
			<pubDate>Thu, 01 Nov 2012 07:02:02 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Wartawan-Medan-yang-Sempat-Buat-Heboh-Malaysia</guid>
			<description><![CDATA[Oleh : Rizal R Surya. SUMATERA Utara sejak dulu dikenal sebagai daerah penghasil wartawan hebat. Dari provinsi yang awalnya bernama Sumatera Timur ini lahir tokoh-tokoh pers kaliber nasional.<br />
Para wartawan pasti mengenal Parada Harahap, yang kini namanya diabadikan sebagai Gedung Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Sumut. Siapa tak kenal dengan H Adam Malik ‘Siantarmen’ yang kemudian menjadi Wakil Presiden RI.<br />
<br />
Kemudian ada Adinegoro meski tidak lahir dan besar di Medan namun karirnya sebagai wartawan menanjak di daerah ini. Di samping itu ada Mohammad Said (pendiri Harian Waspada), Tuan MH Manullang dan sebagainya.<br />
<br />
Di samping itu, provinsi ini juga ternyata memiliki wartawan dari generasi yang lebih muda namun kiprahnya atau lebih tepat tulisannya--sempat menghebohkan negara tetangga Malaysia.<br />
<br />
Meski namanya tidak setenar wartawan ‘top’ di atas namun Ali Soekardi--atau kami di Harian Analisa lebih familiar memanggilnya Pak Ali--sempat ikut memanaskan konfrontasi Indonesia-Malaysia saat itu.<br />
<br />
Melalui ‘berita bohong’ yang ditulisnya di Mimbar Teruna Medan terbitan 18 Maret 1963, Pak Ali membuat Perdana Menteri (PM) Persekutuan Tanah Malayu (sekarang Malaysia) Tengku Abdul Rahman, marah.<br />
<br />
Dalam berita itu Pak Ali menulis Tengku Abdul Rahman mengondol Saloma, isteri dari bintang film terkenal P Ramlee yang juga bintang film ternama saat itu. Tengku Abdul Rahman dikabarkan pernah bertemu dengan Saloma kemudian jatuh cinta dan kemudian memeliharanya sebagai gundik.<br />
<br />
Atas berita itu Tengku Abdul Rahman merasa perlu untuk mengambil tindakan-tindakan diplomatik. Tengku Abdul Rahman menjelaskan, ia hanya sekali ketemu dengan Saloma saat pengangkatan suaminya (P Ramlee) sebagai Ahli Mangku Negara tahun 1962.<br />
<br />
Berita bohong<br />
<br />
Mengapa berita bohong? Kenapa Pak Ali berani menulis berita bohong? Bercerita pada penulis pekan lalu, Pak Ali yang sekarang merupakan Wakil Pemimpin Redaksi (Wapemred) Harian Analisa mengakui bahwa berita itu memang bohong semata. Pak Ali menjelaskan, saat itu (tahun 1963) sedang panas-panasnya konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia. Bahkan saat itu Presiden Soekarno menggelorakan semangat rakyat Indonesia untuk melawan Malaysia dengan semboyan ‘Ganyang Malaysia’.<br />
<br />
"Saat itu saya Wapemred Mimbar Teruna. Saya diperintah oleh Pemred Amir Hasan Lubis atau lebih dikenal dengan nama ‘Buyung Gandrung’ untuk ikut dalam berpartisipasi pada konfrontasi tersebut," ungkapnya.<br />
<br />
Menurut Pak Ali saat itu, Buyung Gandrung akan berangkat ke Jakarta untuk meliput acara Games of the New Emerging Forces (Ganefo) yaitu ajang olahraga tandingan ciptaan Soekarno.<br />
<br />
"Sebelum berangkat ia berpesan pada saya untuk ikut berpartisipasi dalam konfrontasi itu. Sudah tentu caranya melalui media. Karena dengan cara-cara politik pasti tidak bisa. Maka saya buatlah berita itu," ujarnya<br />
<br />
Pak Ali sendiri tak menyangka berita bohong yang ditulisnya membuat heboh negara tetangga tersebut. "Saya tidak menyangka berita itu bisa membuat marah PM Tengku Abdul Rahman," katanya.<br />
<br />
Menurut Pak Ali, Mimbar Teruna koran lokal di Medan yang tidak mungkin dibaca di Malaysia. Tapi ternyata berita itu dikutip kantor berita Prancis AFP yang kemudian dibaca di Malaysia.<br />
<br />
Pak Ali mengakui memang seharusnya tidak boleh membuat berita bohong seperti itu. Tapi karena kondisi negara saat itu dan ia tidak menyangka berita itu bisa membuat heboh Malaysia sehingga sampai membuat PM Tengku Abdul Rahman menempuh tindakan-tindakan diplomatik ke pemerintah RI.<br />
<br />
"Saya sudah minta maaf secara langsung kepada P Ramlee ketika bertemu beberapa tahun kemudian. Saya jelaskan kenapa saya menulis berita itu. Ia bisa memahaminya dan memakluminya," ujar Pak Ali.<br />
<br />
Atas pengalaman ini, Pak Ali berpesan pada wartawan untuk tidak menulis berita bohong seperti yang pernah dilakukannya. "Saat itu keadaan dan kondisi negara khususnya hubungan dengan Malaysia sedang dalam keadaan tidak kondusif," ujarnya.<br />
<br />
<a href="http://kitaheboh.blogspot.com" rel="nofollow" target="_blank">Sumber</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Oleh : Rizal R Surya. SUMATERA Utara sejak dulu dikenal sebagai daerah penghasil wartawan hebat. Dari provinsi yang awalnya bernama Sumatera Timur ini lahir tokoh-tokoh pers kaliber nasional.<br />
Para wartawan pasti mengenal Parada Harahap, yang kini namanya diabadikan sebagai Gedung Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Sumut. Siapa tak kenal dengan H Adam Malik ‘Siantarmen’ yang kemudian menjadi Wakil Presiden RI.<br />
<br />
Kemudian ada Adinegoro meski tidak lahir dan besar di Medan namun karirnya sebagai wartawan menanjak di daerah ini. Di samping itu ada Mohammad Said (pendiri Harian Waspada), Tuan MH Manullang dan sebagainya.<br />
<br />
Di samping itu, provinsi ini juga ternyata memiliki wartawan dari generasi yang lebih muda namun kiprahnya atau lebih tepat tulisannya--sempat menghebohkan negara tetangga Malaysia.<br />
<br />
Meski namanya tidak setenar wartawan ‘top’ di atas namun Ali Soekardi--atau kami di Harian Analisa lebih familiar memanggilnya Pak Ali--sempat ikut memanaskan konfrontasi Indonesia-Malaysia saat itu.<br />
<br />
Melalui ‘berita bohong’ yang ditulisnya di Mimbar Teruna Medan terbitan 18 Maret 1963, Pak Ali membuat Perdana Menteri (PM) Persekutuan Tanah Malayu (sekarang Malaysia) Tengku Abdul Rahman, marah.<br />
<br />
Dalam berita itu Pak Ali menulis Tengku Abdul Rahman mengondol Saloma, isteri dari bintang film terkenal P Ramlee yang juga bintang film ternama saat itu. Tengku Abdul Rahman dikabarkan pernah bertemu dengan Saloma kemudian jatuh cinta dan kemudian memeliharanya sebagai gundik.<br />
<br />
Atas berita itu Tengku Abdul Rahman merasa perlu untuk mengambil tindakan-tindakan diplomatik. Tengku Abdul Rahman menjelaskan, ia hanya sekali ketemu dengan Saloma saat pengangkatan suaminya (P Ramlee) sebagai Ahli Mangku Negara tahun 1962.<br />
<br />
Berita bohong<br />
<br />
Mengapa berita bohong? Kenapa Pak Ali berani menulis berita bohong? Bercerita pada penulis pekan lalu, Pak Ali yang sekarang merupakan Wakil Pemimpin Redaksi (Wapemred) Harian Analisa mengakui bahwa berita itu memang bohong semata. Pak Ali menjelaskan, saat itu (tahun 1963) sedang panas-panasnya konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia. Bahkan saat itu Presiden Soekarno menggelorakan semangat rakyat Indonesia untuk melawan Malaysia dengan semboyan ‘Ganyang Malaysia’.<br />
<br />
"Saat itu saya Wapemred Mimbar Teruna. Saya diperintah oleh Pemred Amir Hasan Lubis atau lebih dikenal dengan nama ‘Buyung Gandrung’ untuk ikut dalam berpartisipasi pada konfrontasi tersebut," ungkapnya.<br />
<br />
Menurut Pak Ali saat itu, Buyung Gandrung akan berangkat ke Jakarta untuk meliput acara Games of the New Emerging Forces (Ganefo) yaitu ajang olahraga tandingan ciptaan Soekarno.<br />
<br />
"Sebelum berangkat ia berpesan pada saya untuk ikut berpartisipasi dalam konfrontasi itu. Sudah tentu caranya melalui media. Karena dengan cara-cara politik pasti tidak bisa. Maka saya buatlah berita itu," ujarnya<br />
<br />
Pak Ali sendiri tak menyangka berita bohong yang ditulisnya membuat heboh negara tetangga tersebut. "Saya tidak menyangka berita itu bisa membuat marah PM Tengku Abdul Rahman," katanya.<br />
<br />
Menurut Pak Ali, Mimbar Teruna koran lokal di Medan yang tidak mungkin dibaca di Malaysia. Tapi ternyata berita itu dikutip kantor berita Prancis AFP yang kemudian dibaca di Malaysia.<br />
<br />
Pak Ali mengakui memang seharusnya tidak boleh membuat berita bohong seperti itu. Tapi karena kondisi negara saat itu dan ia tidak menyangka berita itu bisa membuat heboh Malaysia sehingga sampai membuat PM Tengku Abdul Rahman menempuh tindakan-tindakan diplomatik ke pemerintah RI.<br />
<br />
"Saya sudah minta maaf secara langsung kepada P Ramlee ketika bertemu beberapa tahun kemudian. Saya jelaskan kenapa saya menulis berita itu. Ia bisa memahaminya dan memakluminya," ujar Pak Ali.<br />
<br />
Atas pengalaman ini, Pak Ali berpesan pada wartawan untuk tidak menulis berita bohong seperti yang pernah dilakukannya. "Saat itu keadaan dan kondisi negara khususnya hubungan dengan Malaysia sedang dalam keadaan tidak kondusif," ujarnya.<br />
<br />
<a href="http://kitaheboh.blogspot.com" rel="nofollow" target="_blank">Sumber</a>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Pemimpin Bertelinga Satu ]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Pemimpin-Bertelinga-Satu</link>
			<pubDate>Wed, 24 Oct 2012 04:31:56 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Pemimpin-Bertelinga-Satu</guid>
			<description><![CDATA[Pemimpin adalah motor, mulai sebagai perencana, penggerak, pe­ngen­dali dan pengambil keputusan, mulai dari pemimpin terendah di rumah tangga, RT, lurah, camat, Kepala SKPD, bupati/wako, gubernur, menteri dan presiden. Semua kita pasti dan rindu dan mendambakan sosok pemimpin yang bijak santun (bukan arogan, mau menang sendiri), mau mendengar, peka (bukan pekak dan tuli).  Alangkah indah dan nyamannya sebuah rumah tangga, kampung dan negeri ini jika memperoleh pemimpin seperti ciri ciri diatas. Kata-katanya pasti didengar anak-anak, pegawai dan rakyatnya. Karena dia patut didengar, diikuti, dipatuhi, sebab ucapannya penuh energi kebaikan, sikap dan prilakunya selalu selaras antara ucapan dan per­buatan penuh budi. dia akan hadir dan dirindui dimana dan kapan saja untuk ditauladani.<br />
<br />
  Kriteria kepemimpinan diatas tidaklah muncul sendiri, faktor do­minan yaitu adalah bakat ke­pe­mim­pi­nan telah ada yang dibawa sejak lahir, sementara itu banyak faktor eksternal yang mempengaruhinya, mulai faktor agama, rumah tangga, lingkungan (teman dekat), guru, pendidikaan formal dan karir (jabatan).<br />
<br />
 <br />
<br />
Dalam perjalanan waktu, selalu kita lihat bahwa yang lahir saat ini banyak tpikal kepemimpinan (raja-raja kecil) yang tidak bijak, peka, santun, mau mendengar. Pemimpin yang dipak­sa­kan oleh partai-partai politik dengan me­nggenggam segala komitmen ke­par­taiannya, sementara pemimpin ter­se­but tidak bisa melepaskan jubah ke­par­taiannya selama dia memegang ama­nah kepemimpinan yang di­san­dang­nya, karena  disitu ada kepentingan, hal ini tentu sangat ironis. Pada saat dia dilantik dan diambil sumpahnya, sepatutnyalah terpatri dari lubuk hati yang dalam diikuti dengan sikap dan prilaku bahwa dia bukanlah milik partai lagi sepenuhnya tetapi adalah milik rakyat yang dipimpinnya. Tetapi apa yang terjadi dalam perjalanan kepemimpinannya? Sang pemimpin lebih banyak mendengar suara-suara dari kepartaian yang membesarkannya, lupa dengan segala janjinya, menga­bai­kan suara rakyat kecil yang dipim­pin­nya. Contoh janji dan slogan “ Padang Kota Tercinta, Kujaga dan Kubela  hanyalah pepesan kosong. Kota Padang semakin semrawut (Ibukota provinsi yang tidak punya terminal), kri­mi­na­litas meningkat (penodongan, pe­mer­kosaan balita 5 tahun baru terjadi, pemerasan (oknum Pol P.P Kota Padang memeras, menipu warga di Teluk Bayur), pemerasan di areal parkir dan obyek wisata, tenda biru remang-remang pinggir Pantai Padang mera­ja­l­ela, togel tetap hidup via SMS, pub, cafe dengan minuman keras, narkoba tetap marak. Begitu juga dengan slogan  Kami Hadir Menuju Perubahan Lebih Baik,  janji itu hanya retorika. Bagaiamana bisa membawa perubahan lebih baik, jika para pemimpinnya berseteru, perang dingin, masing-masing jalan sendiri, tidak saling membutuhkan, melengkapi dan meng­har­gai serta tidak punya wibawa di­mata para  kepala daerah kabupaten/kota. Hal ini tercermin pada saat rakor kabupaten/kota tanggal 26 September yang lalu di Inna Muara Hotel. Yang hadir hanya 6 kepala daerah dan 1 wakil kepala daerah, sehingga sang pemim­pin dipermalukan oleh salah satu kepala daerah dihadapan kepala daerah kab/kota yang hadir, sementara sang pemimpin sempat-sempatnya mem­be­la diri dengan menyalahkan bawa­han­nya sehingga rakor tersebut  tidak melahirkan sebuah keputusan menuju perubahan lebih baik. Sementara uang negara hilang mubazir tanpa ada manfaatnya. Diperburuk lagi dengan tidak koordinasinya protokoler pemim­pin dengan permerintah Kabupaten Limapuluh Kota pada saat meresmikan Jembatan dan Pasar di Mangilang Kecamatan Pangkalan Kotobaru, dima­na Bupati Limapuluh Kota sebagai penguasa daerah tidak diberitahu dan ha­dir pada saat pemimpin meres­mi­kannya. Betapa jelek dan am­bu­ra­dul­nya tim work orang-orang di sekeliling sang pemimpin. Belum lagi sistem administrasi yang jelek, dimana surat, nota dinas, telaahan staf yang ber­ming­gu bahkan berbulan baru turun. Syu­kur-syukur turun, bahkan terkadang hilang tanpa jejak dan sedikitpun tidak ada rasa penyesalan dari penyelenggara administrasi tersebut, ditutup dengan kata-kata Mohon Maaf  kami ya pak.<br />
<br />
 <br />
<br />
 Ironisnya. Para wakil rakyatnya di gedung bundar  diam seribu bahasa, tanpa suara. Apakah mereka semua tertidur lelap diatas kursi empuk, ruangan yang berAC nya, atau bisa dikatakan tidak peka atau ambil peduli, bisa jadi mereka ikut gembira dan menikmati perseteruan itu. Tidak bereaksi sedikitpun  akan kondisi diatas. Padahal sebagai sebuah lem­ba­ga pengawasan, mereka punya kewa­ji­ban menanyakan mengapa hal itu sam­pai terjadi, serta meminta pertang­gu­ngjawaban dan komitmen agar tidak terulang lagi pada rakor-rakor yang akan datang.<br />
<br />
 <br />
<br />
Respon positif dari kondisi itu, bermunculan kritikan, ulasan dari LSM, para mantan pamong senior, mereka berbicara apa adanya sesuai dengan pengalaman mereka selama berada sebagai pamong senior di rumah gonjong. Semoga pemikiran yang muncul tersebut bisa didengar dengan kedua telinganya oleh sang pemimpin dan jajarannya, bukan hanya dengan satu telinga.<br />
<br />
 <br />
<br />
Ego kepemimpinannya muncul tanpa disadari, karena sedang merasa diatas, merasa lebih dan paling pintar di­sebabkan gelar akademis yang dimi­li­kinya cukup banyak, merasa lebih berpunya, lebih terhormat dari rak­yat­nya ditambah lagi dengan provokasi dari lingkaran orang-orang pengambil muka, bersikap ABS SBK (Asal Bapak Senang. Supaya Bapak Kenyang ), maaf bukan ABS SBK  (Adat Basyandi Syara’  Syara’ Basandi Kitabullah) demi mempertahankan jabatannya. Se­hing­ga sang pemimpin hanyut, larut. ter­ni­na bobokan oleh mereka yang punya kepentingan. Terjadi pergeseran nilai-nilai positif yang ada dalam diri sang pemimpin, dimana sang pemimpin, dia punya hati tapi tidak merasa menzolimi rakyatnya, punya mata tapi tidak melihat penderitaan rakyat yang mem­butuhkan perhatiannya dan punya telinga tapi tidak mendengar rintihan mereka yang tertindas. Mungkin men­dengar tapi hanya dengan satu telinga, sehingga yang didengar hanyalah hasutan-hasutan syaitan dari mereka yang manghalalkan segala cara. Alergi dengan kritikan. mereka yang berani mengkritik dianggap lawan politiknya, padahal sahabat yang baik adalah mengingatkan sahabatnya yang salah. sebagaimana dalam alquran agar nasehat menasehatilah kamu supaya mentaati kebenaran dan penuh kesa­ba­ran. Tidak memberi kesempatan te­linga yang satu lagi berfungsi dengan baik untuk menerima saran dan men­ja­diakannya filter demi perbaikan ke­depan kepemimpinannya, serta mem­beri kesempatan kepada rakyat dan mereka yang teraniaya membela diri, hal ini tentulah tidak adil dan bijak. <br />
<br />
 <br />
<br />
Ditambah lagi munculnya sifat jelek sang pemimpin  yang hatinya Mem­batu, tidak bisa dimasukkan nilai-nilai kebenaran, hatinya terkunci, sempit dan sesak jika diajak untuk membuka diri terhadap nilai-nilai positif/kebe­naran yang harus dikedepankan. Sang pemimpin akan diam membisu, mem­batu, masa bodoh. Karena dihatinya ada keangkuhan dan kesombongan. Didalam Al-Quran Allah berfirman “ Fi Qulubihim Maradun Fazja Dahu­mullohu Maradha (didalam hati itu ada penyakit, maka aku tambah pe­nya­kitnya). Bahkan terkadang nasehat-nasehat kebenaran itu datang dari orang-orang terdekatnya, seperti anak, isteri, orang tua, kakek, semuanya nasehat itu hanya singgah bagaikan angin lalu. Bahkan dalam sejarah perjuangan Rasulullah Muhammad SAW, beliau dengan air mata dan tangis menasehati pamannya “Abu Thalib” untuk bisa menerima  Islam  dan mau mengakui  Allah  sebagai Tuhannya, tetapi karena bibit keangkuhan dan kesombongan telah ada, Abu Thalib menjawab ajakan keponakannya  Mu­hammad dengan senyum, wahai Mu­hammad, berdakwalah terus dengan ajaran dan keyakinanmu, aku (pa­man­mu) akan berada digaris depan jika ada yang mengganggu dakwahmu, nyawa ku taruhannya. Dari kisah diatas, jelaslah hati yang membatu, terkunci itu dalam genggaman allah. Allah lah yang mampu membuka dan mengunci hati seseorang. Bagi hati yang membatu dan terkunci, dia akan marah, ter­singgung dan sesak dadanya jika dimasukkan saran-saran kebaikan kepadanya, seolah-olah dia sedang mendaki bukit yang tinggi.<br />
<br />
 <br />
<br />
 Itulah yang terjadi kondisi saat ini, pemimpin yang muncul mentah pe­nga­laman birokrasi, dipaksakan muncul karena pesan pesan politik, ambisi yang membabi buta, tanpa mengukur diri pantas dan patut, hal ini tentu sangat mencederai nurani rakyat yang me­milih dan mempercayai janji-janji po­litiknya pada saat berkampanye dulu. Dia tidak sadar bahwa setiap kata, janji dan sumpahnya tercatat rapi dalam catatan malaikat-malaikat Allah, pasti nanti akan dimintakan pertanggung jawabannya pada sidang allah, dimana seluruh panca indera, lidah, tangan, ma­ta, syahwat, kaki dan telinga akan men­jadi saksi,  astaqfirullah hal aaziim....<br />
<br />
 <br />
<br />
 Oh para pemimpin, janganlah mendengar dengan satu telinga, karena informasi yang masuk pastilah berat sebelah dan tidak seimbang, belajarlah mau mendengar. sekalipun dari seorang anak kecil yang baru pandai barjalan dan berkata-kata. Pada saat kita berada sebagai pemimpin, harus siap untuk dikritik bahkan dicaci, seperti kata pepatah Minang­kabau , kok paik (kritikan, cacian) jaan dimuntahan, antah ka jadi ubek, kok manih (pujian) jaan capek diluluah antah kak jadi racun. Semakin tinggi pohon, pastilah anginnya semakin kencang. Yang akan menarung kita bukanlah batu besar, tetapi krikil kecil, maka jadikanlah kritikan dan cacian akan membuat kita semakin matang, lebih berhati-hati dalam bertutur kata dan bersikap, Insya Allah...<br />
<br />
 <br />
<br />
Kita warga Kota Padang dan ma­sya­rakat Sumatera Barat sedang bermimpi dan berdoa kapankah hadir Ke­pe­mim­pinan seperti Jokowi, yang ikhlas (gajinya tidak diambil, diberikannya pada kaum fakir), memimpin dengan tidak membawa “kepentingan”, baik kepentingan pribadi dan kelompoknya, peka dengan suara rakyatnya, santun dan berbudi dalam bertutur kata, tidak merasa pintar sendiri, terkendali emosionalnya dan mau mendengar dengan kedua telinganya. Semoga mimpi dan doa itu segera hadir pada negeri ini, lahir Jokowi-Jokowi di era kepemimpinan  di masa yang akan datang. Amin...<br />
<span style="font-weight: bold;">(padangekspres)</span><br />
<br />
Oleh : Adi Saputra<br />
(Pemerhati Birokrasi dan Kebijakan Publik)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Pemimpin adalah motor, mulai sebagai perencana, penggerak, pe­ngen­dali dan pengambil keputusan, mulai dari pemimpin terendah di rumah tangga, RT, lurah, camat, Kepala SKPD, bupati/wako, gubernur, menteri dan presiden. Semua kita pasti dan rindu dan mendambakan sosok pemimpin yang bijak santun (bukan arogan, mau menang sendiri), mau mendengar, peka (bukan pekak dan tuli).  Alangkah indah dan nyamannya sebuah rumah tangga, kampung dan negeri ini jika memperoleh pemimpin seperti ciri ciri diatas. Kata-katanya pasti didengar anak-anak, pegawai dan rakyatnya. Karena dia patut didengar, diikuti, dipatuhi, sebab ucapannya penuh energi kebaikan, sikap dan prilakunya selalu selaras antara ucapan dan per­buatan penuh budi. dia akan hadir dan dirindui dimana dan kapan saja untuk ditauladani.<br />
<br />
  Kriteria kepemimpinan diatas tidaklah muncul sendiri, faktor do­minan yaitu adalah bakat ke­pe­mim­pi­nan telah ada yang dibawa sejak lahir, sementara itu banyak faktor eksternal yang mempengaruhinya, mulai faktor agama, rumah tangga, lingkungan (teman dekat), guru, pendidikaan formal dan karir (jabatan).<br />
<br />
 <br />
<br />
Dalam perjalanan waktu, selalu kita lihat bahwa yang lahir saat ini banyak tpikal kepemimpinan (raja-raja kecil) yang tidak bijak, peka, santun, mau mendengar. Pemimpin yang dipak­sa­kan oleh partai-partai politik dengan me­nggenggam segala komitmen ke­par­taiannya, sementara pemimpin ter­se­but tidak bisa melepaskan jubah ke­par­taiannya selama dia memegang ama­nah kepemimpinan yang di­san­dang­nya, karena  disitu ada kepentingan, hal ini tentu sangat ironis. Pada saat dia dilantik dan diambil sumpahnya, sepatutnyalah terpatri dari lubuk hati yang dalam diikuti dengan sikap dan prilaku bahwa dia bukanlah milik partai lagi sepenuhnya tetapi adalah milik rakyat yang dipimpinnya. Tetapi apa yang terjadi dalam perjalanan kepemimpinannya? Sang pemimpin lebih banyak mendengar suara-suara dari kepartaian yang membesarkannya, lupa dengan segala janjinya, menga­bai­kan suara rakyat kecil yang dipim­pin­nya. Contoh janji dan slogan “ Padang Kota Tercinta, Kujaga dan Kubela  hanyalah pepesan kosong. Kota Padang semakin semrawut (Ibukota provinsi yang tidak punya terminal), kri­mi­na­litas meningkat (penodongan, pe­mer­kosaan balita 5 tahun baru terjadi, pemerasan (oknum Pol P.P Kota Padang memeras, menipu warga di Teluk Bayur), pemerasan di areal parkir dan obyek wisata, tenda biru remang-remang pinggir Pantai Padang mera­ja­l­ela, togel tetap hidup via SMS, pub, cafe dengan minuman keras, narkoba tetap marak. Begitu juga dengan slogan  Kami Hadir Menuju Perubahan Lebih Baik,  janji itu hanya retorika. Bagaiamana bisa membawa perubahan lebih baik, jika para pemimpinnya berseteru, perang dingin, masing-masing jalan sendiri, tidak saling membutuhkan, melengkapi dan meng­har­gai serta tidak punya wibawa di­mata para  kepala daerah kabupaten/kota. Hal ini tercermin pada saat rakor kabupaten/kota tanggal 26 September yang lalu di Inna Muara Hotel. Yang hadir hanya 6 kepala daerah dan 1 wakil kepala daerah, sehingga sang pemim­pin dipermalukan oleh salah satu kepala daerah dihadapan kepala daerah kab/kota yang hadir, sementara sang pemimpin sempat-sempatnya mem­be­la diri dengan menyalahkan bawa­han­nya sehingga rakor tersebut  tidak melahirkan sebuah keputusan menuju perubahan lebih baik. Sementara uang negara hilang mubazir tanpa ada manfaatnya. Diperburuk lagi dengan tidak koordinasinya protokoler pemim­pin dengan permerintah Kabupaten Limapuluh Kota pada saat meresmikan Jembatan dan Pasar di Mangilang Kecamatan Pangkalan Kotobaru, dima­na Bupati Limapuluh Kota sebagai penguasa daerah tidak diberitahu dan ha­dir pada saat pemimpin meres­mi­kannya. Betapa jelek dan am­bu­ra­dul­nya tim work orang-orang di sekeliling sang pemimpin. Belum lagi sistem administrasi yang jelek, dimana surat, nota dinas, telaahan staf yang ber­ming­gu bahkan berbulan baru turun. Syu­kur-syukur turun, bahkan terkadang hilang tanpa jejak dan sedikitpun tidak ada rasa penyesalan dari penyelenggara administrasi tersebut, ditutup dengan kata-kata Mohon Maaf  kami ya pak.<br />
<br />
 <br />
<br />
 Ironisnya. Para wakil rakyatnya di gedung bundar  diam seribu bahasa, tanpa suara. Apakah mereka semua tertidur lelap diatas kursi empuk, ruangan yang berAC nya, atau bisa dikatakan tidak peka atau ambil peduli, bisa jadi mereka ikut gembira dan menikmati perseteruan itu. Tidak bereaksi sedikitpun  akan kondisi diatas. Padahal sebagai sebuah lem­ba­ga pengawasan, mereka punya kewa­ji­ban menanyakan mengapa hal itu sam­pai terjadi, serta meminta pertang­gu­ngjawaban dan komitmen agar tidak terulang lagi pada rakor-rakor yang akan datang.<br />
<br />
 <br />
<br />
Respon positif dari kondisi itu, bermunculan kritikan, ulasan dari LSM, para mantan pamong senior, mereka berbicara apa adanya sesuai dengan pengalaman mereka selama berada sebagai pamong senior di rumah gonjong. Semoga pemikiran yang muncul tersebut bisa didengar dengan kedua telinganya oleh sang pemimpin dan jajarannya, bukan hanya dengan satu telinga.<br />
<br />
 <br />
<br />
Ego kepemimpinannya muncul tanpa disadari, karena sedang merasa diatas, merasa lebih dan paling pintar di­sebabkan gelar akademis yang dimi­li­kinya cukup banyak, merasa lebih berpunya, lebih terhormat dari rak­yat­nya ditambah lagi dengan provokasi dari lingkaran orang-orang pengambil muka, bersikap ABS SBK (Asal Bapak Senang. Supaya Bapak Kenyang ), maaf bukan ABS SBK  (Adat Basyandi Syara’  Syara’ Basandi Kitabullah) demi mempertahankan jabatannya. Se­hing­ga sang pemimpin hanyut, larut. ter­ni­na bobokan oleh mereka yang punya kepentingan. Terjadi pergeseran nilai-nilai positif yang ada dalam diri sang pemimpin, dimana sang pemimpin, dia punya hati tapi tidak merasa menzolimi rakyatnya, punya mata tapi tidak melihat penderitaan rakyat yang mem­butuhkan perhatiannya dan punya telinga tapi tidak mendengar rintihan mereka yang tertindas. Mungkin men­dengar tapi hanya dengan satu telinga, sehingga yang didengar hanyalah hasutan-hasutan syaitan dari mereka yang manghalalkan segala cara. Alergi dengan kritikan. mereka yang berani mengkritik dianggap lawan politiknya, padahal sahabat yang baik adalah mengingatkan sahabatnya yang salah. sebagaimana dalam alquran agar nasehat menasehatilah kamu supaya mentaati kebenaran dan penuh kesa­ba­ran. Tidak memberi kesempatan te­linga yang satu lagi berfungsi dengan baik untuk menerima saran dan men­ja­diakannya filter demi perbaikan ke­depan kepemimpinannya, serta mem­beri kesempatan kepada rakyat dan mereka yang teraniaya membela diri, hal ini tentulah tidak adil dan bijak. <br />
<br />
 <br />
<br />
Ditambah lagi munculnya sifat jelek sang pemimpin  yang hatinya Mem­batu, tidak bisa dimasukkan nilai-nilai kebenaran, hatinya terkunci, sempit dan sesak jika diajak untuk membuka diri terhadap nilai-nilai positif/kebe­naran yang harus dikedepankan. Sang pemimpin akan diam membisu, mem­batu, masa bodoh. Karena dihatinya ada keangkuhan dan kesombongan. Didalam Al-Quran Allah berfirman “ Fi Qulubihim Maradun Fazja Dahu­mullohu Maradha (didalam hati itu ada penyakit, maka aku tambah pe­nya­kitnya). Bahkan terkadang nasehat-nasehat kebenaran itu datang dari orang-orang terdekatnya, seperti anak, isteri, orang tua, kakek, semuanya nasehat itu hanya singgah bagaikan angin lalu. Bahkan dalam sejarah perjuangan Rasulullah Muhammad SAW, beliau dengan air mata dan tangis menasehati pamannya “Abu Thalib” untuk bisa menerima  Islam  dan mau mengakui  Allah  sebagai Tuhannya, tetapi karena bibit keangkuhan dan kesombongan telah ada, Abu Thalib menjawab ajakan keponakannya  Mu­hammad dengan senyum, wahai Mu­hammad, berdakwalah terus dengan ajaran dan keyakinanmu, aku (pa­man­mu) akan berada digaris depan jika ada yang mengganggu dakwahmu, nyawa ku taruhannya. Dari kisah diatas, jelaslah hati yang membatu, terkunci itu dalam genggaman allah. Allah lah yang mampu membuka dan mengunci hati seseorang. Bagi hati yang membatu dan terkunci, dia akan marah, ter­singgung dan sesak dadanya jika dimasukkan saran-saran kebaikan kepadanya, seolah-olah dia sedang mendaki bukit yang tinggi.<br />
<br />
 <br />
<br />
 Itulah yang terjadi kondisi saat ini, pemimpin yang muncul mentah pe­nga­laman birokrasi, dipaksakan muncul karena pesan pesan politik, ambisi yang membabi buta, tanpa mengukur diri pantas dan patut, hal ini tentu sangat mencederai nurani rakyat yang me­milih dan mempercayai janji-janji po­litiknya pada saat berkampanye dulu. Dia tidak sadar bahwa setiap kata, janji dan sumpahnya tercatat rapi dalam catatan malaikat-malaikat Allah, pasti nanti akan dimintakan pertanggung jawabannya pada sidang allah, dimana seluruh panca indera, lidah, tangan, ma­ta, syahwat, kaki dan telinga akan men­jadi saksi,  astaqfirullah hal aaziim....<br />
<br />
 <br />
<br />
 Oh para pemimpin, janganlah mendengar dengan satu telinga, karena informasi yang masuk pastilah berat sebelah dan tidak seimbang, belajarlah mau mendengar. sekalipun dari seorang anak kecil yang baru pandai barjalan dan berkata-kata. Pada saat kita berada sebagai pemimpin, harus siap untuk dikritik bahkan dicaci, seperti kata pepatah Minang­kabau , kok paik (kritikan, cacian) jaan dimuntahan, antah ka jadi ubek, kok manih (pujian) jaan capek diluluah antah kak jadi racun. Semakin tinggi pohon, pastilah anginnya semakin kencang. Yang akan menarung kita bukanlah batu besar, tetapi krikil kecil, maka jadikanlah kritikan dan cacian akan membuat kita semakin matang, lebih berhati-hati dalam bertutur kata dan bersikap, Insya Allah...<br />
<br />
 <br />
<br />
Kita warga Kota Padang dan ma­sya­rakat Sumatera Barat sedang bermimpi dan berdoa kapankah hadir Ke­pe­mim­pinan seperti Jokowi, yang ikhlas (gajinya tidak diambil, diberikannya pada kaum fakir), memimpin dengan tidak membawa “kepentingan”, baik kepentingan pribadi dan kelompoknya, peka dengan suara rakyatnya, santun dan berbudi dalam bertutur kata, tidak merasa pintar sendiri, terkendali emosionalnya dan mau mendengar dengan kedua telinganya. Semoga mimpi dan doa itu segera hadir pada negeri ini, lahir Jokowi-Jokowi di era kepemimpinan  di masa yang akan datang. Amin...<br />
<span style="font-weight: bold;">(padangekspres)</span><br />
<br />
Oleh : Adi Saputra<br />
(Pemerhati Birokrasi dan Kebijakan Publik)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Ha, Lah Sasek Lo Kapatabang Liak…]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Ha-Lah-Sasek-Lo-Kapatabang-Liak%E2%80%A6</link>
			<pubDate>Mon, 15 Oct 2012 05:47:17 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Ha-Lah-Sasek-Lo-Kapatabang-Liak%E2%80%A6</guid>
			<description><![CDATA[<div align="justify">PADANG – Pesawat Sriwijaya Air <br />
dengan nomor penerbangan SJ 0021 mendarat di Bandara Tabing, Sabtu <br />
(13/10) sore. Pesawat tersebut sudah terbang kembali ke Jakarta, Minggu <br />
(14/10) pukul 10.25 WIB dengan kru baru.<br />
<br />
Pesawat sasek mendarat itu, menurut Kadinas Perhubungan Sumbar Mudrika, <br />
sedang diselidiki KNKT. “Pukul 09.00 WIB sudah dipindahkan ke BIM, pukul<br />
10.25 WIB terbang ke Jakarta membawa penumpang dengan kru baru,” kata <br />
Mudrika, kemarin. Mudrika menyatakan ia ikut rapat dengan KNKT, tapi <br />
hasilnya belum didapat.<br />
<br />
“Kami menyerahkan sepenuhnya masalah ini pada KNKT,” kata Humas Sriwijaya, Agus Suyono.<br />
<br />
Saat ini kasus salah mendarat itu sedang diinvestigasi Komite Nasional <br />
Keselamatan Transportasi (KNKT). Flight Data Recorder dan Cockpit Voice <br />
Recorder sudah dipegang KNKT,” ujar Kepala Puskom Publik Kemenhub, <br />
Bambang S Ervan, kemarin<br />
<br />
Data-data itu akan menjadi acuan KNKT untuk memastikan siapa yang harus <br />
bertanggung jawab dalam insiden ini. Bambang juga berharap semua menahan<br />
diri untuk berspekulasi mengenai kejadian itu.<br />
<br />
Berebut senja<br />
<br />
Berebut senja Sabtu, sebuah pesawat terlihat mendekat ke Lanud Tabing. <br />
Karena sudah lama pula tak melihat pesawat mendarat, warga sekitar <br />
menengadah ke langit. Benar saja, sebuah pesawat dari arah selatan kian <br />
mendekat ke Tabing.<br />
<br />
Padahal Bandara Tabing sudah lama tidak dioperasionalkan untuk <br />
penerbangan komersil, karena keberadaannya sudah digantikan Bandara <br />
Internasional Minangkabau (BIM) di Ketaping.<br />
<br />
Masyarakat di sekitar Bandara Tabing kaget dengan kehadiran pesawat <br />
berpenumpang 96 orang tersebut. Mereka tidak menyangka untuk kesekian <br />
kalinya, pascaditinggal pindah, bandara itu kembali disambangi pesawat <br />
komersil. “Ha, lah sasek lo kapatabang baliak (ha, udah nyasar pula <br />
pesawat ke sini),” kata Ujang, seorang warga saat melihat pesawat itu <br />
mendarat di bandara milik TNI AU.<br />
<br />
“Lai ndak kalam landasan? Wak liak lah,” kata sejumlah pemuda di depan Lanud Tabing.<br />
<br />
Benar saja, pesawat itupun mendarat. Sriwijaya Air rupanya. Lantas <br />
bagaimana caranya penumpang turun? Bagaimana pula para penjemput yang <br />
sudah menunggu di BIM?<br />
<br />
“Ancau kabirau, wak mananti di BIM, pesawat mendarat di Tabiang,” kata seorang sopir Mardi.<br />
<br />
Catatan Singgalang, setelah pindah ke BIM, pesawat komersil memang <br />
pernah nyasar ke bandara tersebut. Kejadian pesawat nyasar pertama kali <br />
terjadi September 2005 atau dua bulan setelah kepindahan ke BIM, Juli <br />
2005. Pesawat itu, Wings Air dengan nomor penerbangan IW 87030 dengan <br />
penumpang 130 orang.</div>
<div align="justify">Beberapa penumpang Sriwijaya Air 0021 <br />
menyebutkan, sebelum melakukan pendaratan, pesawat sempat berputar-putar<br />
di atas Kota Padang selama 10 menit. Saat mendarat di landasan yang <br />
terlihat sepi, penumpang sempat khawatir. Namun setelah ditenangkan, <br />
penumpang baru merasa nyaman kembali. Mereka juga tidak mempersoalkan <br />
salah mendarat, karena pendaratan dengan mulus merupakan sesuatu yang <br />
patut disyukuri.<br />
<br />
Pihak KNKT, langsung turun guna mengecek penyebab terjadinya salah <br />
mendarat yang dilakukan pilot pesawat tersebut. Rekaman percakapan di <br />
kokpit pesawat serta data penerbangan sudah dipegang KNKT. “Saat ini <br />
sedang diinvestigasi KNKT. Flight Data Recorder dan Cockpit Voice <br />
Recorder sudah dipegang KNKT,” ujar Kepala Puskom Publik Kemenhub, <br />
Bambang S. Ervan, saat dihubungi, Minggu (14/10)<br />
<br />
General Manager PT Angkasa Pura II BIM, H. Agus Kemal Pramayudha juga <br />
menyebutkan demikian. “KNKT sudah mengambil data penerbangannya, <br />
melakukan interview awal dengan pilot dan juga dengan petugas ATC kami,”<br />
jelasnya.<br />
<br />
Sejauh ini ditegaskannya, tidak ada persoalan teknis terutama peralatan <br />
komunikasi di BIM. “Masalah teknis tidak ada, tidak tahu menurut KNKT, <br />
karena ini masih diinvestigasi KNKT. Hasilnya belum tahu kapan <br />
diketahui, karena sangat tergantung dengan masalah yang timbul, mungkin <br />
bisa satu minggu atau bahkan sebulan,” sebutnya.<br />
<br />
Agus menyebutkan, siapa pun yang menjadi pilot sebuah pesawat sepanjang <br />
mengacu pada aturan maka diyakininya tidak akan nyasar ke bandara lain. <br />
Apalagi, BIM merupakan bandara internasional yang kehadirannya sudah <br />
disampaikan ke publik internasional dan bandara ini mengacu pada aturan <br />
yang ditetapkan yang telah ditetapkan International Civil Aviation <br />
Organization/ICAO atau organisasi penerbangan sipil internasional.<br />
<br />
“Kehadiran BIM ini sudah diinformasikan kepada publik internasional. <br />
Keberadaannya pada lintang berapa, derajat berapa, termasuk juga <br />
frekuensinya. Yang pasti lagi, posisinya di dekat laut, berbeda dengan <br />
Tabing yang jauh dari laut. Sebelum pendaratan di runway 33 BIM, petugas<br />
ATC akan menginformasikan hal-hal itu, termasuk juga adanya bandara <br />
lain sebelum sampai di BIM,” ulasnya. (104/singgalang)</div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">PADANG – Pesawat Sriwijaya Air <br />
dengan nomor penerbangan SJ 0021 mendarat di Bandara Tabing, Sabtu <br />
(13/10) sore. Pesawat tersebut sudah terbang kembali ke Jakarta, Minggu <br />
(14/10) pukul 10.25 WIB dengan kru baru.<br />
<br />
Pesawat sasek mendarat itu, menurut Kadinas Perhubungan Sumbar Mudrika, <br />
sedang diselidiki KNKT. “Pukul 09.00 WIB sudah dipindahkan ke BIM, pukul<br />
10.25 WIB terbang ke Jakarta membawa penumpang dengan kru baru,” kata <br />
Mudrika, kemarin. Mudrika menyatakan ia ikut rapat dengan KNKT, tapi <br />
hasilnya belum didapat.<br />
<br />
“Kami menyerahkan sepenuhnya masalah ini pada KNKT,” kata Humas Sriwijaya, Agus Suyono.<br />
<br />
Saat ini kasus salah mendarat itu sedang diinvestigasi Komite Nasional <br />
Keselamatan Transportasi (KNKT). Flight Data Recorder dan Cockpit Voice <br />
Recorder sudah dipegang KNKT,” ujar Kepala Puskom Publik Kemenhub, <br />
Bambang S Ervan, kemarin<br />
<br />
Data-data itu akan menjadi acuan KNKT untuk memastikan siapa yang harus <br />
bertanggung jawab dalam insiden ini. Bambang juga berharap semua menahan<br />
diri untuk berspekulasi mengenai kejadian itu.<br />
<br />
Berebut senja<br />
<br />
Berebut senja Sabtu, sebuah pesawat terlihat mendekat ke Lanud Tabing. <br />
Karena sudah lama pula tak melihat pesawat mendarat, warga sekitar <br />
menengadah ke langit. Benar saja, sebuah pesawat dari arah selatan kian <br />
mendekat ke Tabing.<br />
<br />
Padahal Bandara Tabing sudah lama tidak dioperasionalkan untuk <br />
penerbangan komersil, karena keberadaannya sudah digantikan Bandara <br />
Internasional Minangkabau (BIM) di Ketaping.<br />
<br />
Masyarakat di sekitar Bandara Tabing kaget dengan kehadiran pesawat <br />
berpenumpang 96 orang tersebut. Mereka tidak menyangka untuk kesekian <br />
kalinya, pascaditinggal pindah, bandara itu kembali disambangi pesawat <br />
komersil. “Ha, lah sasek lo kapatabang baliak (ha, udah nyasar pula <br />
pesawat ke sini),” kata Ujang, seorang warga saat melihat pesawat itu <br />
mendarat di bandara milik TNI AU.<br />
<br />
“Lai ndak kalam landasan? Wak liak lah,” kata sejumlah pemuda di depan Lanud Tabing.<br />
<br />
Benar saja, pesawat itupun mendarat. Sriwijaya Air rupanya. Lantas <br />
bagaimana caranya penumpang turun? Bagaimana pula para penjemput yang <br />
sudah menunggu di BIM?<br />
<br />
“Ancau kabirau, wak mananti di BIM, pesawat mendarat di Tabiang,” kata seorang sopir Mardi.<br />
<br />
Catatan Singgalang, setelah pindah ke BIM, pesawat komersil memang <br />
pernah nyasar ke bandara tersebut. Kejadian pesawat nyasar pertama kali <br />
terjadi September 2005 atau dua bulan setelah kepindahan ke BIM, Juli <br />
2005. Pesawat itu, Wings Air dengan nomor penerbangan IW 87030 dengan <br />
penumpang 130 orang.</div>
<div align="justify">Beberapa penumpang Sriwijaya Air 0021 <br />
menyebutkan, sebelum melakukan pendaratan, pesawat sempat berputar-putar<br />
di atas Kota Padang selama 10 menit. Saat mendarat di landasan yang <br />
terlihat sepi, penumpang sempat khawatir. Namun setelah ditenangkan, <br />
penumpang baru merasa nyaman kembali. Mereka juga tidak mempersoalkan <br />
salah mendarat, karena pendaratan dengan mulus merupakan sesuatu yang <br />
patut disyukuri.<br />
<br />
Pihak KNKT, langsung turun guna mengecek penyebab terjadinya salah <br />
mendarat yang dilakukan pilot pesawat tersebut. Rekaman percakapan di <br />
kokpit pesawat serta data penerbangan sudah dipegang KNKT. “Saat ini <br />
sedang diinvestigasi KNKT. Flight Data Recorder dan Cockpit Voice <br />
Recorder sudah dipegang KNKT,” ujar Kepala Puskom Publik Kemenhub, <br />
Bambang S. Ervan, saat dihubungi, Minggu (14/10)<br />
<br />
General Manager PT Angkasa Pura II BIM, H. Agus Kemal Pramayudha juga <br />
menyebutkan demikian. “KNKT sudah mengambil data penerbangannya, <br />
melakukan interview awal dengan pilot dan juga dengan petugas ATC kami,”<br />
jelasnya.<br />
<br />
Sejauh ini ditegaskannya, tidak ada persoalan teknis terutama peralatan <br />
komunikasi di BIM. “Masalah teknis tidak ada, tidak tahu menurut KNKT, <br />
karena ini masih diinvestigasi KNKT. Hasilnya belum tahu kapan <br />
diketahui, karena sangat tergantung dengan masalah yang timbul, mungkin <br />
bisa satu minggu atau bahkan sebulan,” sebutnya.<br />
<br />
Agus menyebutkan, siapa pun yang menjadi pilot sebuah pesawat sepanjang <br />
mengacu pada aturan maka diyakininya tidak akan nyasar ke bandara lain. <br />
Apalagi, BIM merupakan bandara internasional yang kehadirannya sudah <br />
disampaikan ke publik internasional dan bandara ini mengacu pada aturan <br />
yang ditetapkan yang telah ditetapkan International Civil Aviation <br />
Organization/ICAO atau organisasi penerbangan sipil internasional.<br />
<br />
“Kehadiran BIM ini sudah diinformasikan kepada publik internasional. <br />
Keberadaannya pada lintang berapa, derajat berapa, termasuk juga <br />
frekuensinya. Yang pasti lagi, posisinya di dekat laut, berbeda dengan <br />
Tabing yang jauh dari laut. Sebelum pendaratan di runway 33 BIM, petugas<br />
ATC akan menginformasikan hal-hal itu, termasuk juga adanya bandara <br />
lain sebelum sampai di BIM,” ulasnya. (104/singgalang)</div>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Lima ‘Amak-amak’ Tertangkap Sedang Berjudi di Kasang]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Lima-%E2%80%98Amak-amak%E2%80%99-Tertangkap-Sedang-Berjudi-di-Kasang</link>
			<pubDate>Wed, 03 Oct 2012 06:17:00 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Lima-%E2%80%98Amak-amak%E2%80%99-Tertangkap-Sedang-Berjudi-di-Kasang</guid>
			<description><![CDATA[<div align="justify">KASANG – Dunia sudah semakin tua. <br />
Kalau laki-laki yang tertangkap sedang berjudi, nyaris sudah jadi <br />
peristiwa biasa. Tapi di Kenagarian Kasang, Kecamatan Batang Anai, <br />
Kabupaten Padang Pariaman, yang tertangkap sadang ba-ampok justru <br />
induak-induak. Herannya, salah seorang dari ‘amak-amak’ itu sedang hamil<br />
sembilan bulan.</div>
<a href="http://hariansinggalang.co.id/wp-content/uploads/2012/10/amak-amak-gilo.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://hariansinggalang.co.id/wp-content/uploads/2012/10/amak-amak-gilo-300x216.jpg" border="0" alt="[Image: amak-amak-gilo-300x216.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a>PEJUDI<br />
<br />
Begitulah yang terjadi di Korong Jambak,<br />
Kenagarian Kasang, Senin (1/10). Berawal dari laporan masyarakat, <br />
Kapolsek Batang Anai, IPTU Indra Syahputra memerintahkan Kanit Reskrim <br />
untuk menindaklanjuti laporan masyarakat tersebut.<br />
<br />
Unit Reskrim Polsek Batang Anai dibawah komando Kanit Reskrim, IPTU <br />
Anton Luther Rompas mendatangi TKP sesuai laporan masyarakat tersebut. <br />
Hasilnya cukup mencengangkan karena petugas mendapati ‘amak-amak’ sadang<br />
asik ba-ampok. Mereka ditangkap beserta barang bukti sejumlah uang dan <br />
kartu remi.<br />
<br />
Yang cukup mencengangkan, selain pelakunya adalah ibu-ibu rumahtangga, <br />
salah satu diantaranya sedang hamil 9 bulan atau tinggal menunggu hari <br />
melahirkan anaknya. Namun demikian, semua pelaku tetap digelandang ke <br />
Polsek Batang Anai.<br />
<br />
Mendengar ada ‘amak-amak’ yang tertangkap sedang berjudi, saat itu juga <br />
Nagari Kasang nyaris kalibuik tunja dibuatnya. Berbagai komentar negatif<br />
bermunculan.<br />
<br />
Ada yang menyebut para pelaku sudah keterlaluan. Sebab, uang pambali <br />
samba dari suami masing-masing diadu di meja judi. Diantara mereka tentu<br />
ada yang mempertaruhkan uang pambali minyak, lauak (ikan) dan uang <br />
pambali lado jo garam serta belanja anaknya ke sekolah.<br />
<br />
Kapolsek Batang Anai, IPTU Indra Syahputra ketika dikonfirmasi <br />
Singgalang, membenarkan peristiwa penangkapan yang dilakukan anggotanya <br />
itu. “Lima orang pelaku berjenis kelamin perempuan beserta barang bukti <br />
kartu remi dan sejumlah uang, berhasil di amankan. Saat ditangkap, <br />
kelima ‘amak-amak’ itu sedang asik bermain judi menggunakan kartu remi <br />
dan taruhan uang,” kata Kapolsek yang ramah itu.<br />
<br />
“Kita akan proses sesuai hukum yang berlaku. Kita sangat menyesali, <br />
karena para pelaku tersebut adalah ibu-ibu rumah tangga. Mereka adalah S<br />
(46), FY (36) Y (39), DW (32), ENS (22). Seorang diantaranya tengah <br />
hamil 9 bulan,” imbuh Kapolsek yang juga mahasiswa pada program Magister<br />
Management UNP ini.<br />
<br />
Sementara Kapolres Padang Pariaman, AKBP Amirjan, SIK juga membenarkan <br />
kejadian penangkapan judi tersebut. “Saya sudah dapat laporan dari Senin<br />
sore, dan sungguh kita menyesalkan karena pelakunya para ibu-ibu. Namun<br />
hukum juga kita harus tegakkan, karena judi merupakan salah satu dari <br />
permasalahan yang menjadi atensi pimpinan,” katanya.<br />
<br />
Apalagi, tambah Kapolres, penangkapan ini adalah laporan dari masyarakat<br />
sendiri yang sudah gerah terhadap kelakuan mereka. Polri tidak <br />
henti-hentinya memberantas pekat tersebut hingga lapisan masyarakat <br />
terbawah,” tegas Amirjan.<br />
<br />
Memalukan<br />
<br />
Sementara Walinagari Kasang, M.Tasir Koto yang dimintai komentarnya <br />
mengaku sangat sedih atas tertangkapnya warga Nagari Kasang sedang <br />
berjudi. Apalagi semuanya adalah ‘amak-amak’.<br />
<br />
“Ini sangat memalukan. Peristiwa serupa jangan sampai terulang lagi,” ujar M. Tasir.<br />
<br />
Sekaitan dengan itu, walinagari yang dekat dengan warganya itu mengimbau<br />
seluruh masyarakat Nagari Kasang untuk menghindari penyakit masyarakat <br />
(pekat) tersebut. Itu perbuatan tercela yang sangat memalukan. Peristiwa<br />
kali ini harus jadi pelajaran ke depannya.<br />
<br />
Khusus pada induak-induak diingatkan, sayangilah suami yang sudah <br />
bersusah payah mencari uang untuk nafkah keluarga. Uang pemberian suami <br />
tersebut, jangan pula diadu di meja judi. Malu awak.<br />
<br />
Menurut informasi yang diperoleh Singgalang, tiga dari amak-amak yang <br />
berjudi itu ‘sadang marando’, dua masih bersuami. “Mungkin ndak talok <br />
dek lakinyo lai ma-atur, sahinggo lakinyo ndak pulang-pulang,” kata <br />
seorang warga.<br />
<br />
Kepada jajaran kepolisian, M.Tasir juga memohon agar mengikis habis semua jenis pekat, termasuk di Nagari Kasang.(singgalang)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">KASANG – Dunia sudah semakin tua. <br />
Kalau laki-laki yang tertangkap sedang berjudi, nyaris sudah jadi <br />
peristiwa biasa. Tapi di Kenagarian Kasang, Kecamatan Batang Anai, <br />
Kabupaten Padang Pariaman, yang tertangkap sadang ba-ampok justru <br />
induak-induak. Herannya, salah seorang dari ‘amak-amak’ itu sedang hamil<br />
sembilan bulan.</div>
<a href="http://hariansinggalang.co.id/wp-content/uploads/2012/10/amak-amak-gilo.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://hariansinggalang.co.id/wp-content/uploads/2012/10/amak-amak-gilo-300x216.jpg" border="0" alt="[Image: amak-amak-gilo-300x216.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a>PEJUDI<br />
<br />
Begitulah yang terjadi di Korong Jambak,<br />
Kenagarian Kasang, Senin (1/10). Berawal dari laporan masyarakat, <br />
Kapolsek Batang Anai, IPTU Indra Syahputra memerintahkan Kanit Reskrim <br />
untuk menindaklanjuti laporan masyarakat tersebut.<br />
<br />
Unit Reskrim Polsek Batang Anai dibawah komando Kanit Reskrim, IPTU <br />
Anton Luther Rompas mendatangi TKP sesuai laporan masyarakat tersebut. <br />
Hasilnya cukup mencengangkan karena petugas mendapati ‘amak-amak’ sadang<br />
asik ba-ampok. Mereka ditangkap beserta barang bukti sejumlah uang dan <br />
kartu remi.<br />
<br />
Yang cukup mencengangkan, selain pelakunya adalah ibu-ibu rumahtangga, <br />
salah satu diantaranya sedang hamil 9 bulan atau tinggal menunggu hari <br />
melahirkan anaknya. Namun demikian, semua pelaku tetap digelandang ke <br />
Polsek Batang Anai.<br />
<br />
Mendengar ada ‘amak-amak’ yang tertangkap sedang berjudi, saat itu juga <br />
Nagari Kasang nyaris kalibuik tunja dibuatnya. Berbagai komentar negatif<br />
bermunculan.<br />
<br />
Ada yang menyebut para pelaku sudah keterlaluan. Sebab, uang pambali <br />
samba dari suami masing-masing diadu di meja judi. Diantara mereka tentu<br />
ada yang mempertaruhkan uang pambali minyak, lauak (ikan) dan uang <br />
pambali lado jo garam serta belanja anaknya ke sekolah.<br />
<br />
Kapolsek Batang Anai, IPTU Indra Syahputra ketika dikonfirmasi <br />
Singgalang, membenarkan peristiwa penangkapan yang dilakukan anggotanya <br />
itu. “Lima orang pelaku berjenis kelamin perempuan beserta barang bukti <br />
kartu remi dan sejumlah uang, berhasil di amankan. Saat ditangkap, <br />
kelima ‘amak-amak’ itu sedang asik bermain judi menggunakan kartu remi <br />
dan taruhan uang,” kata Kapolsek yang ramah itu.<br />
<br />
“Kita akan proses sesuai hukum yang berlaku. Kita sangat menyesali, <br />
karena para pelaku tersebut adalah ibu-ibu rumah tangga. Mereka adalah S<br />
(46), FY (36) Y (39), DW (32), ENS (22). Seorang diantaranya tengah <br />
hamil 9 bulan,” imbuh Kapolsek yang juga mahasiswa pada program Magister<br />
Management UNP ini.<br />
<br />
Sementara Kapolres Padang Pariaman, AKBP Amirjan, SIK juga membenarkan <br />
kejadian penangkapan judi tersebut. “Saya sudah dapat laporan dari Senin<br />
sore, dan sungguh kita menyesalkan karena pelakunya para ibu-ibu. Namun<br />
hukum juga kita harus tegakkan, karena judi merupakan salah satu dari <br />
permasalahan yang menjadi atensi pimpinan,” katanya.<br />
<br />
Apalagi, tambah Kapolres, penangkapan ini adalah laporan dari masyarakat<br />
sendiri yang sudah gerah terhadap kelakuan mereka. Polri tidak <br />
henti-hentinya memberantas pekat tersebut hingga lapisan masyarakat <br />
terbawah,” tegas Amirjan.<br />
<br />
Memalukan<br />
<br />
Sementara Walinagari Kasang, M.Tasir Koto yang dimintai komentarnya <br />
mengaku sangat sedih atas tertangkapnya warga Nagari Kasang sedang <br />
berjudi. Apalagi semuanya adalah ‘amak-amak’.<br />
<br />
“Ini sangat memalukan. Peristiwa serupa jangan sampai terulang lagi,” ujar M. Tasir.<br />
<br />
Sekaitan dengan itu, walinagari yang dekat dengan warganya itu mengimbau<br />
seluruh masyarakat Nagari Kasang untuk menghindari penyakit masyarakat <br />
(pekat) tersebut. Itu perbuatan tercela yang sangat memalukan. Peristiwa<br />
kali ini harus jadi pelajaran ke depannya.<br />
<br />
Khusus pada induak-induak diingatkan, sayangilah suami yang sudah <br />
bersusah payah mencari uang untuk nafkah keluarga. Uang pemberian suami <br />
tersebut, jangan pula diadu di meja judi. Malu awak.<br />
<br />
Menurut informasi yang diperoleh Singgalang, tiga dari amak-amak yang <br />
berjudi itu ‘sadang marando’, dua masih bersuami. “Mungkin ndak talok <br />
dek lakinyo lai ma-atur, sahinggo lakinyo ndak pulang-pulang,” kata <br />
seorang warga.<br />
<br />
Kepada jajaran kepolisian, M.Tasir juga memohon agar mengikis habis semua jenis pekat, termasuk di Nagari Kasang.(singgalang)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Urang Minang Jaman Kini ]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Urang-Minang-Jaman-Kini</link>
			<pubDate>Wed, 12 Sep 2012 08:04:00 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Urang-Minang-Jaman-Kini</guid>
			<description><![CDATA[Sakarek kopi sabatang rokok jo duo buah goreang pisang,alah cukuik<br />
<br />
untuak kakawan untuak manulihan apo nan taraso nan mangganja di<br />
<br />
hatiko....<br />
<br />
<br />
<br />
kalau ambo paratian satiok hari urang padang ko iyo alah jauah barubah<br />
<br />
buliah di katoan alah bakiblat kabarat budayanyo antah dek padang ko<br />
<br />
talatak di sumatera barat mako capek bana budaya barat nyo<br />
<br />
ambiaknyo,sadangkan budaya minang alah mulai baransua hilang "adat<br />
<br />
basandi sarak sarak basandi kitabulah" mungkin batua kecek-kecek urang<br />
<br />
cadiak pandai nan babunyi minang kabau,minang lah abih tingga se<br />
<br />
kabaunyo lai dek karano apo? Dek budaya barat alah masuak ka nagari ko<br />
<br />
lewat nan mudo-mudo,contoh nyo anak mudo kini indak ado raso malu lai<br />
<br />
doh,kok baitu ?contohnyo alah banyak nan ambo liek kini...<br />
<br />
<br />
<br />
1.anak mudo bapacaran di muko umum santai se nyoh,bapaluakan di ateh<br />
<br />
honda mantuak lari hondanyo 150 km/jam sadangkan larinyo se 50 km/jam.<br />
<br />
<br />
<br />
2.banyak pulo ambo liek anak gadih kini pakai jilbab tapi baju jo<br />
<br />
sarawa e ketat banampakan bana balah katupek nyo mambuek urang nan<br />
<br />
maliek iyo sabana indak amuah lapeh mato e doh dari paja tu...di ateh<br />
<br />
musajik di bawah e diskotik...ambo pulo tagak mantagi di bueknyo<br />
<br />
maklum ambo juo laki2 indak munafik pulo ambo doh...<br />
<br />
<br />
<br />
3.film porno mudah bana dapek dek anak mudo2 tu banyak kini nan tajadi<br />
<br />
kawin dek kecelakaan kecek nan mudo2 tu sabab apo? sabab nyo bak<br />
<br />
kecek2 katubah alm pak haji zainuddin mz...partamo mandanga sasudah tu<br />
<br />
ingin maliek dek penasaran,sudah tu ingin mancubo kiro e lamak<br />
<br />
bataruihan akhirnyo kabablasan...<br />
<br />
<br />
<br />
4.adat istiadat,sopan santun iyo alah bakurang drastis kini.biasonyo<br />
<br />
di jaman 2000 kabawah laki2 batamu katampek padusi paliang lambek jam<br />
<br />
9 harus pulang kalau indak kanai gunda dek pemuda kampuang si padusi<br />
<br />
tadi,kini jam bara se buliah batamu iyo tagantuang dek pemuda kampuang<br />
<br />
masiang2 se lai tu nyoh.kok dakek laki2 nan katampek paja padusi tu jo<br />
<br />
pemuda kampuang tu,,,haa....lai bisa pulang agak malam2.<br />
<br />
<br />
<br />
5.porno aksi iyo lah banyak sangaik kini mah indak dikota se doh di<br />
<br />
kampuang takah itu pulo contoh nyo acara orgen kalau indak hot artis e<br />
<br />
indak laku orgen e doh,,,musik e taripiang bakawan jo minuman<br />
<br />
baalkohol atau apolah namo e pokoknyo masih babau2 narkoba nan mambuek<br />
<br />
urang ilang kasadaran.<br />
<br />
Dan masih banyak nan lain nan indak bisa ambo sabuikan ciek per ciek doh......<br />
<br />
<br />
<br />
KoK hari iyolah laruik malam bisuak lah mulai pulo bakureh,lalok lah<br />
<br />
ambo ciek dulu,lah mangantuak mato ambo parmisi ambo dulu yo....!!!<br />
<br />
sumber : <a href="http://blogminang.blogspot.com/2012/05/urang-minang-jaman-kini.html" rel="nofollow" target="_blank">http://blogminang.blogspot.com/2012/05/u...-kini.html</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Sakarek kopi sabatang rokok jo duo buah goreang pisang,alah cukuik<br />
<br />
untuak kakawan untuak manulihan apo nan taraso nan mangganja di<br />
<br />
hatiko....<br />
<br />
<br />
<br />
kalau ambo paratian satiok hari urang padang ko iyo alah jauah barubah<br />
<br />
buliah di katoan alah bakiblat kabarat budayanyo antah dek padang ko<br />
<br />
talatak di sumatera barat mako capek bana budaya barat nyo<br />
<br />
ambiaknyo,sadangkan budaya minang alah mulai baransua hilang "adat<br />
<br />
basandi sarak sarak basandi kitabulah" mungkin batua kecek-kecek urang<br />
<br />
cadiak pandai nan babunyi minang kabau,minang lah abih tingga se<br />
<br />
kabaunyo lai dek karano apo? Dek budaya barat alah masuak ka nagari ko<br />
<br />
lewat nan mudo-mudo,contoh nyo anak mudo kini indak ado raso malu lai<br />
<br />
doh,kok baitu ?contohnyo alah banyak nan ambo liek kini...<br />
<br />
<br />
<br />
1.anak mudo bapacaran di muko umum santai se nyoh,bapaluakan di ateh<br />
<br />
honda mantuak lari hondanyo 150 km/jam sadangkan larinyo se 50 km/jam.<br />
<br />
<br />
<br />
2.banyak pulo ambo liek anak gadih kini pakai jilbab tapi baju jo<br />
<br />
sarawa e ketat banampakan bana balah katupek nyo mambuek urang nan<br />
<br />
maliek iyo sabana indak amuah lapeh mato e doh dari paja tu...di ateh<br />
<br />
musajik di bawah e diskotik...ambo pulo tagak mantagi di bueknyo<br />
<br />
maklum ambo juo laki2 indak munafik pulo ambo doh...<br />
<br />
<br />
<br />
3.film porno mudah bana dapek dek anak mudo2 tu banyak kini nan tajadi<br />
<br />
kawin dek kecelakaan kecek nan mudo2 tu sabab apo? sabab nyo bak<br />
<br />
kecek2 katubah alm pak haji zainuddin mz...partamo mandanga sasudah tu<br />
<br />
ingin maliek dek penasaran,sudah tu ingin mancubo kiro e lamak<br />
<br />
bataruihan akhirnyo kabablasan...<br />
<br />
<br />
<br />
4.adat istiadat,sopan santun iyo alah bakurang drastis kini.biasonyo<br />
<br />
di jaman 2000 kabawah laki2 batamu katampek padusi paliang lambek jam<br />
<br />
9 harus pulang kalau indak kanai gunda dek pemuda kampuang si padusi<br />
<br />
tadi,kini jam bara se buliah batamu iyo tagantuang dek pemuda kampuang<br />
<br />
masiang2 se lai tu nyoh.kok dakek laki2 nan katampek paja padusi tu jo<br />
<br />
pemuda kampuang tu,,,haa....lai bisa pulang agak malam2.<br />
<br />
<br />
<br />
5.porno aksi iyo lah banyak sangaik kini mah indak dikota se doh di<br />
<br />
kampuang takah itu pulo contoh nyo acara orgen kalau indak hot artis e<br />
<br />
indak laku orgen e doh,,,musik e taripiang bakawan jo minuman<br />
<br />
baalkohol atau apolah namo e pokoknyo masih babau2 narkoba nan mambuek<br />
<br />
urang ilang kasadaran.<br />
<br />
Dan masih banyak nan lain nan indak bisa ambo sabuikan ciek per ciek doh......<br />
<br />
<br />
<br />
KoK hari iyolah laruik malam bisuak lah mulai pulo bakureh,lalok lah<br />
<br />
ambo ciek dulu,lah mangantuak mato ambo parmisi ambo dulu yo....!!!<br />
<br />
sumber : <a href="http://blogminang.blogspot.com/2012/05/urang-minang-jaman-kini.html" rel="nofollow" target="_blank">http://blogminang.blogspot.com/2012/05/u...-kini.html</a>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Pelajar Padang Cakak Banyak]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Pelajar-Padang-Cakak-Banyak</link>
			<pubDate>Thu, 06 Sep 2012 02:50:08 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Pelajar-Padang-Cakak-Banyak</guid>
			<description><![CDATA[PADANG – Ruang Terbuka Hijau (RTH) Imam Bonjol, Padang kembali <br />
menjadi arena tawuran pelajar. Cakak banyak itu melibatkan SMK 5, SMA <br />
Tamsis, SMK Adzkia dan SMA PGRI 6. Mereka adu fisik dengan siswa <br />
Muhammadiyah, Rabu (5/9) sore.<br />
<br />
Puluhan siswa saling serang dan saling pukul menggunakan kayu dan batu. <br />
Aparat kepolisian yang melihat kejadian langsung mengambil tindakan <br />
untuk membubarkan perkelahian pelajar tersebut dan berhasil menangkap <br />
tiga siswa yang diduga kuat terlibat dalam tawuran.<br />
<br />
Ketiga siswa yang diamankan berasal dari sekolah berbeda dan salah <br />
satunya merupakan siswa SMP yang ikut-ikutan dalam aksi tawuran <br />
tersebut.<br />
<br />
Maskur Arief, pelajar kelas II SMK Adzkia Padang awalnya mendapat kabar <br />
ada teman satu sekolahnya yang dipukuli siswa SMK Muhammadiyah sekitar <br />
pukul 08.30 WIB di RTH Imam Bonjol. Sehingga ia dan rekan yang lain <br />
mengajak beberapa siswa dari sekolah lain untuk menuntut balas atas aksi<br />
siswa dari SMK Muhammadiyah tersebut.<br />
<br />
Sekitar 30 siswa yang berasal dari SMK 5, SMK Adzkia, SMA Taman <br />
Siswa, dan SMA PGRI 6 Padang mendatangi RTH Imam Bonjol sepulang sekolah<br />
dan mensweeping beberapa pelajar yang berada di lokasi.<br />
<br />
Di saat sweeping tersebut, tanpa diduga dari arah kantor Telkom lama puluhan siswa Muhammadiyah menyerang.<br />
<br />
“Kami diserang duluan oleh anak-anak SMA Muhammdiyah itu, “ kata Syarief di ruang SPKT Polresta Padang.<br />
<br />
Sementara itu, Diki, siswa SMK 5 Padang yang juga berhasil diamankan <br />
mengaku hanya ikut-ikutan karena diajak oleh temannya sehabis pulang <br />
sekolah.<br />
<br />
“Saya hanya diajak oleh teman untuk datang ke sini. Tapi tanpa diduga <br />
ternyata kedatangan ke Imam Bonjol ini untuk tawuran,” kata Diki.<br />
<br />
Rido, siswa SMP 3 Padang yang juga tertangkap mengaku hanya ikut-ikutan <br />
melempar batu ke arah siswa-siswa SMK Muhammadiyah saat terjadi tawuran.<br />
Saat polisi membubarkan tawuran tersebut, ia lari ke markas Pol PP.<br />
<br />
Kanit II SPKT Polresta Padang Ipda Harmon mengatakan siswa yang <br />
tertangkap akan diamankan sampai dijemput oleh orangtua dan kepala <br />
sekolahnya. (408/101/singgalang)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[PADANG – Ruang Terbuka Hijau (RTH) Imam Bonjol, Padang kembali <br />
menjadi arena tawuran pelajar. Cakak banyak itu melibatkan SMK 5, SMA <br />
Tamsis, SMK Adzkia dan SMA PGRI 6. Mereka adu fisik dengan siswa <br />
Muhammadiyah, Rabu (5/9) sore.<br />
<br />
Puluhan siswa saling serang dan saling pukul menggunakan kayu dan batu. <br />
Aparat kepolisian yang melihat kejadian langsung mengambil tindakan <br />
untuk membubarkan perkelahian pelajar tersebut dan berhasil menangkap <br />
tiga siswa yang diduga kuat terlibat dalam tawuran.<br />
<br />
Ketiga siswa yang diamankan berasal dari sekolah berbeda dan salah <br />
satunya merupakan siswa SMP yang ikut-ikutan dalam aksi tawuran <br />
tersebut.<br />
<br />
Maskur Arief, pelajar kelas II SMK Adzkia Padang awalnya mendapat kabar <br />
ada teman satu sekolahnya yang dipukuli siswa SMK Muhammadiyah sekitar <br />
pukul 08.30 WIB di RTH Imam Bonjol. Sehingga ia dan rekan yang lain <br />
mengajak beberapa siswa dari sekolah lain untuk menuntut balas atas aksi<br />
siswa dari SMK Muhammadiyah tersebut.<br />
<br />
Sekitar 30 siswa yang berasal dari SMK 5, SMK Adzkia, SMA Taman <br />
Siswa, dan SMA PGRI 6 Padang mendatangi RTH Imam Bonjol sepulang sekolah<br />
dan mensweeping beberapa pelajar yang berada di lokasi.<br />
<br />
Di saat sweeping tersebut, tanpa diduga dari arah kantor Telkom lama puluhan siswa Muhammadiyah menyerang.<br />
<br />
“Kami diserang duluan oleh anak-anak SMA Muhammdiyah itu, “ kata Syarief di ruang SPKT Polresta Padang.<br />
<br />
Sementara itu, Diki, siswa SMK 5 Padang yang juga berhasil diamankan <br />
mengaku hanya ikut-ikutan karena diajak oleh temannya sehabis pulang <br />
sekolah.<br />
<br />
“Saya hanya diajak oleh teman untuk datang ke sini. Tapi tanpa diduga <br />
ternyata kedatangan ke Imam Bonjol ini untuk tawuran,” kata Diki.<br />
<br />
Rido, siswa SMP 3 Padang yang juga tertangkap mengaku hanya ikut-ikutan <br />
melempar batu ke arah siswa-siswa SMK Muhammadiyah saat terjadi tawuran.<br />
Saat polisi membubarkan tawuran tersebut, ia lari ke markas Pol PP.<br />
<br />
Kanit II SPKT Polresta Padang Ipda Harmon mengatakan siswa yang <br />
tertangkap akan diamankan sampai dijemput oleh orangtua dan kepala <br />
sekolahnya. (408/101/singgalang)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Gara-gara Air, Warga Bacakak]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Gara-gara-Air-Warga-Bacakak</link>
			<pubDate>Wed, 05 Sep 2012 03:31:41 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Gara-gara-Air-Warga-Bacakak</guid>
			<description><![CDATA[MANINJAU – Dua pemuda Sungai Rangeh Bayur, Agam, luka-luka dalam perkelahian (bacakak) antar warga yang terjadi di Linggai Duo Koto, sekitar pukul 21.00 WIB, Senin (3/9). Keduanya Budi Mulia (28) luka di kepala akibat benturan benda keras dan Syafrial (30) bibir pecah.<br />
Ada tiga warga yang diduga pelaku telah ditahan aparat Polres Agam pada malam itu juga. Ketiganya Joni Sumarto (30) Rahmat Mulai (22) dan Toni Chandra (27).<br />
Sekretaris Kecamatan Tanjung Raya, Rahmat Fajri kepada Singgalang, Selasa (4/9). Menjelaskan perkelahian antar warga berbeda jorong itu diduga dipicu kesalahpahaman saat mengambil air di Surau Gadang Koto Baru Nagari, Duo Koto.<br />
Awalnya warga tersebut memiliki maksud yang sama, yaitu sama-sama mengambil air untuk mengisi kantong plastik ikan. Hanya saja, dua warga Bayur yang sudah lebih awal mengisi air merasa tersinggung atas perlakuan dari warga Linggai, sehingga terjadi perselisihan. Seorang pelaku main tangan dalam menyikapi masalah.<br />
<br />
Sedangkan seorang lainnya menggunakan kayu yang dipukulkan kepada lawannya, yang mengakibatkan korban mengalami luka dan terpaksa dibawa ke rumah sakit di Bukittinggi guna mendapatkan perawatan lebih lanjut. Setelah itu, korban kembali ke kedaiaman masing-masing.<br />
Menyikapi permasalahan tersebut, Kapolres Agam, AKBP.Nootjahyo telah menahan warga yang diduga melakukan pemukulan. Kapolres berharap kepada dua warga beda jorong itu agar dapat menenangkan diri dan tidak terpengaruh atas dengan kondisi yang terjadi.<br />
Usai kejadian malam itu, aparat Polres dan Pemkab Agam turun ke lokasi guna mengantisipasi terjadinya pertikaian lebih jauh.<br />
Bahkan hingga Selasa siang, aparat kepolisian dan lainnya berjaga-jaga di nagari itu guna mengurangi permasalahan baru yang tidak diinginkan nantinya.(singgalang)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[MANINJAU – Dua pemuda Sungai Rangeh Bayur, Agam, luka-luka dalam perkelahian (bacakak) antar warga yang terjadi di Linggai Duo Koto, sekitar pukul 21.00 WIB, Senin (3/9). Keduanya Budi Mulia (28) luka di kepala akibat benturan benda keras dan Syafrial (30) bibir pecah.<br />
Ada tiga warga yang diduga pelaku telah ditahan aparat Polres Agam pada malam itu juga. Ketiganya Joni Sumarto (30) Rahmat Mulai (22) dan Toni Chandra (27).<br />
Sekretaris Kecamatan Tanjung Raya, Rahmat Fajri kepada Singgalang, Selasa (4/9). Menjelaskan perkelahian antar warga berbeda jorong itu diduga dipicu kesalahpahaman saat mengambil air di Surau Gadang Koto Baru Nagari, Duo Koto.<br />
Awalnya warga tersebut memiliki maksud yang sama, yaitu sama-sama mengambil air untuk mengisi kantong plastik ikan. Hanya saja, dua warga Bayur yang sudah lebih awal mengisi air merasa tersinggung atas perlakuan dari warga Linggai, sehingga terjadi perselisihan. Seorang pelaku main tangan dalam menyikapi masalah.<br />
<br />
Sedangkan seorang lainnya menggunakan kayu yang dipukulkan kepada lawannya, yang mengakibatkan korban mengalami luka dan terpaksa dibawa ke rumah sakit di Bukittinggi guna mendapatkan perawatan lebih lanjut. Setelah itu, korban kembali ke kedaiaman masing-masing.<br />
Menyikapi permasalahan tersebut, Kapolres Agam, AKBP.Nootjahyo telah menahan warga yang diduga melakukan pemukulan. Kapolres berharap kepada dua warga beda jorong itu agar dapat menenangkan diri dan tidak terpengaruh atas dengan kondisi yang terjadi.<br />
Usai kejadian malam itu, aparat Polres dan Pemkab Agam turun ke lokasi guna mengantisipasi terjadinya pertikaian lebih jauh.<br />
Bahkan hingga Selasa siang, aparat kepolisian dan lainnya berjaga-jaga di nagari itu guna mengurangi permasalahan baru yang tidak diinginkan nantinya.(singgalang)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Aduh, Pantai Padang jadi Tempat Pacaran]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Aduh-Pantai-Padang-jadi-Tempat-Pacaran</link>
			<pubDate>Sun, 02 Sep 2012 22:07:22 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Aduh-Pantai-Padang-jadi-Tempat-Pacaran</guid>
			<description><![CDATA[<img src="http://www.minangkabaunews.com/foto_berita/medium_73kjlo.jpg" border="0" alt="[Image: medium_73kjlo.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
Padang,<br />
MinangkabauNews -- Pemerintah Kota Padang diminta lebih fokus dalam <br />
mengelola obyek wisata Pantai Padang. Tidak hanya dari sisi penghijauan <br />
dan penyediaan wahana bermain, melainkan juga dari aspek pemanfaatannya.<br />
Permintaan itu disampaikan warga Padang Barat dan sosiolog Kota Padang <br />
menanggapi terjadinya perilaku menyimpang masyarakat di kawasan yang <br />
dulunya perkumiman padat penduduk itu.<br />
<br />
<br />
<br />
Tokoh pemuda Padang, Syarifuddin, menilai perlunya patroli rutin dan <br />
ketat dari aparat untuk mengontrol pemanfaatan Pantai Padang. Selain itu<br />
menurutnya Pemkot tidak bisa lepas tangan mengenai penyediaan fasilitas<br />
penerangan. “Harus ada patroli rutin petugas dan penerangan yang cukup.<br />
Jangan seperti sekarang kondisinya sangat gelap pada malam hari,” <br />
katanya.<br />
<br />
<br />
<br />
Tidak hanya di Pantai Padang, Syariduddin menilai setiap taman atau <br />
ruang publik perlu pengawasan melekat pada malam hari. Jangan sampai <br />
ruang-ruang berkumpul publik seperti RTH Imam Bonjol menjadi surga bagi <br />
pasangan mesum. Pendapat senada disampaikan sosiolog Kota Padang, <br />
Mahendra. Menurutnya salah satu kunci kontrol kawasan adalah <br />
ketersediaan fasilitas penerangan pada malam hari.<br />
<br />
<br />
<br />
Pasangan laki-laki dan perempuan biasanya berbuat tidak senonoh di <br />
tempat yang gelap atau remang-remang. Sedangkan Wakil Ketua DPRD Padang,<br />
Budiman menilai perlunya kontrol sosial untuk menjaga ruang publik dari<br />
perilaku menyimpang. Warga setempat harus digerakkan untuk mengawasi <br />
dan mencegah terjadinya pacaran mesum.<br />
<br />
<br />
<br />
Lebih jauh lagi Budiman menekankan perlunya mengubah pola perilaku <br />
masyarakat. Setiap individu dalam masyarakat harus sadar turut serta <br />
dalam menjaga nilai moralitas dan etika. “Selain karena gelap, perilaku <br />
menyimpang di ruang publik terjadi karena rendahnya kontrol sosial. Hal <br />
ini menunjukkan semakin berkembangnya perilaku hidup bebas,” pungkas <br />
dia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<img src="http://www.minangkabaunews.com/foto_berita/medium_73kjlo.jpg" border="0" alt="[Image: medium_73kjlo.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
Padang,<br />
MinangkabauNews -- Pemerintah Kota Padang diminta lebih fokus dalam <br />
mengelola obyek wisata Pantai Padang. Tidak hanya dari sisi penghijauan <br />
dan penyediaan wahana bermain, melainkan juga dari aspek pemanfaatannya.<br />
Permintaan itu disampaikan warga Padang Barat dan sosiolog Kota Padang <br />
menanggapi terjadinya perilaku menyimpang masyarakat di kawasan yang <br />
dulunya perkumiman padat penduduk itu.<br />
<br />
<br />
<br />
Tokoh pemuda Padang, Syarifuddin, menilai perlunya patroli rutin dan <br />
ketat dari aparat untuk mengontrol pemanfaatan Pantai Padang. Selain itu<br />
menurutnya Pemkot tidak bisa lepas tangan mengenai penyediaan fasilitas<br />
penerangan. “Harus ada patroli rutin petugas dan penerangan yang cukup.<br />
Jangan seperti sekarang kondisinya sangat gelap pada malam hari,” <br />
katanya.<br />
<br />
<br />
<br />
Tidak hanya di Pantai Padang, Syariduddin menilai setiap taman atau <br />
ruang publik perlu pengawasan melekat pada malam hari. Jangan sampai <br />
ruang-ruang berkumpul publik seperti RTH Imam Bonjol menjadi surga bagi <br />
pasangan mesum. Pendapat senada disampaikan sosiolog Kota Padang, <br />
Mahendra. Menurutnya salah satu kunci kontrol kawasan adalah <br />
ketersediaan fasilitas penerangan pada malam hari.<br />
<br />
<br />
<br />
Pasangan laki-laki dan perempuan biasanya berbuat tidak senonoh di <br />
tempat yang gelap atau remang-remang. Sedangkan Wakil Ketua DPRD Padang,<br />
Budiman menilai perlunya kontrol sosial untuk menjaga ruang publik dari<br />
perilaku menyimpang. Warga setempat harus digerakkan untuk mengawasi <br />
dan mencegah terjadinya pacaran mesum.<br />
<br />
<br />
<br />
Lebih jauh lagi Budiman menekankan perlunya mengubah pola perilaku <br />
masyarakat. Setiap individu dalam masyarakat harus sadar turut serta <br />
dalam menjaga nilai moralitas dan etika. “Selain karena gelap, perilaku <br />
menyimpang di ruang publik terjadi karena rendahnya kontrol sosial. Hal <br />
ini menunjukkan semakin berkembangnya perilaku hidup bebas,” pungkas <br />
dia.]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Perjalanan Karir dan profil Nikita Mirzani]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Perjalanan-Karir-dan-profil-Nikita-Mirzani</link>
			<pubDate>Sun, 26 Aug 2012 10:10:03 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Perjalanan-Karir-dan-profil-Nikita-Mirzani</guid>
			<description><![CDATA[Hellow apa kabar agan dan agan wati semuanya ? sebelumnya ane ngucapin met idul fitri dan mohon maaaf lahir batin. <br />
Kembali lagi di tred yang semoga ane yang semoga tidak REPOST ini, okelah gan kali ini ane mau coba sedikit share profil maupun <a href="http://minangforum.com/2012/08/foto-biodata-nikita-mirzani.html" target="_blank">Foto Biodata Nikita Mirzani</a> dan perjalanan karirnya.Langsung saja dibawah ini adalah profil dari Nikita Mirzani<br />
<br />
<blockquote><cite>Quote:</cite><img src="http://klimg.com/kapanlagi.com/g/nikita_mirzani_di_jelambar_jakarta_pusat/p/nikita_mirzani_dilokasi_syuting_film_boleh_lihat_pegang_jangan_produksi_maxima-20100809-013-wawan.jpg" border="0" alt="[Image: nikita_mirzani_dilokasi_syuting_film_bol...-wawan.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<br />
Lahir	17 Maret 1986 (umur 26)<br />
Jakarta, Indonesia<br />
Pekerjaan	aktris<br />
Tahun aktif	2010 - sekarang<br />
Pasangan	Rizki 'The Potter's' (putus)<br />
<br />
<br />
Nikita Mirzani mengawali karir sebagai peserta ajang mencari jodoh TAKE ME OUT yang ditayangkan di Indosiar. Karena wajahnya yang menarik, dia ditarik menjadi model salah satu sampul majalah. Sejak itu, namanya semakin dikenal oleh masyarakat. Nikita juga mulai menerima banyak tawaran menjadi model dalam berbagai bidang.<br />
<br />
Belakangan, nama Nikita semakin menjadi sorotan publik akibat berbagai peristiwa kontroversial yang menyangkut dirinya. Model yang memiliki banyak tato di tubuhnya ini kerap dikabarkan menjalin hubungan dengan para artis papan atas seperti Ricky Harun, Kiky The Potters, dan Andrew Andhika. Nikita bahkan sempat dikabarkan hamil saat kedapatn pergi ke rumah sakit bersalin bersama Ricky Harun. <br />
<br />
Artis berdarah padang ini sempat menghebohkan publik akibat kasus pemukulan yang dituduhkan kepadanya kepada mantan kekasihnya Kiky The Potters. Namun belum sempat masalah ini clear, muncul kabar bahwa Kiky The Potters juga melakukan pemukulan kepadanya. Masalah ini sempat berbuntut panjang sebelum akhirnya bisa diselesaikan.<br />
<br />
Namun demikian, model yang kerap muncul di majalah dewasa ini ternyata belum usai mengukir cerita. Baru padam masalahnya dengan Kiky The Potters, muncul berita meresahkan tentang <a href="http://minangforum.com/2012/08/foto-foto-nikita-mirzani.html" target="_blank">Foto Foto Nikita Mirzani</a> yang mesrah dengan Andrew Andhika. Walaupun awalnya membantah bahwa orang dalam foto itu adaalh mereka, akhirnya keduanya menagku bahwa foto itu adalah gambar mereka. Namun mereka berkilah bahwa foto itu dibuat hanya untuk lucu-lucuan.<br />
<br />
Selain permasalahannya dengan artis lain, Nikita juga sempat menghadapi masalah akibat kecelakaan yang menimpanya sebanyak dua kali berturut-turut. Kecelakaan kedua rupanya membuat Nikita shock karena pengendara sepeda motor yang ditabraknya mengalami luka cukup parah, dan mobil yang dikendarai Nikita sempat penyok di bagian depan.<br />
<br />
Pertengahan tahun 2012, dia terlibat perseteruan dengan Jenny Cortez. Nikita dikabarkan telah memukul Jenny dengan botol. Namun ada beberapa sumber yang menyatakan bahwa pertengkaran keduanya hanya settingan.<br />
<br />
Kini, Nikita dikabarkan dekat dengan mantan drummer kotak yang bernama Posan. Nikita bahkan mengakui bahwa sepertinya Posan memang datang untuknya/<br />
<br />
KARIR<br />
Tahun 2011, nama Nikita Mirzani makin mencuat. Pasalnya, dia seolah menjadi langganan dalam berbagai peran hot. Saking seringnya beradegan mesra, dia sampai mendapat predikat bom seks. Namun hal ini malah membuat Nikita bangga.<br />
<br />
Pada akhirnya sejumlah foto hot Nikita Mirzani pun gencar beredar di dunia maya, salah satunya adalah foto di mana Daus Mini terlihat sedang memegang dadanya. Namun kasus demi kasus yang menimpanya seolah menjadi batu loncatan Nikita untuk lebih terkenal. <br />
Pada akhirnya, Nikita pun harus berhadapan dengan berhadapan dengan FPI terkait pose dan perilakunya yang yang sering menonjolkan aurat. Namun sekali lagi, Nikita tampaknya tak mengindahkan peringatan tersebut. Dia bahkan sempat mengungkapkan pernyataan kontroversial bahwa dia pernah di-booking pejabat tanpa menghiraukan dampak dan <a href="http://minangforum.com/2012/08/google-sandbox-dan-bahayanya.html" target="_blank">Bahayanya</a>.<br />
<br />
Filmografi<br />
Lihat boleh, pegang jangan (2010)<br />
Perempuan-perempuan liar (2011)<br />
Nenek gayung (2012)<br />
<br />
Dikutip dari berbagai sumber</blockquote>
<br />
<br />
Okelah mas dan mbak bro....., mungkin cukup disini dulu tread ane ini, semoga bisa bermanfaat hehehe. Tapi ada yang aneh loh.... ane mencoba buat nyari foto sopan nikita mirzani dengan kata kunci Foto Sopan Nikita Mirzani tetapi yang keluar malah kayak gini gan hahaha, lihat aje dibawah ya.<br />
<br />
<blockquote><cite>Quote:</cite><img src="http://2.bp.blogspot.com/-iwTBikQh4qk/UDneAN5TWEI/AAAAAAAAAzc/K1uU7EDHWeo/s1600/penampakan.png" border="0" alt="[Image: penampakan.png]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></blockquote>
<br />
Yups,,, ane akhiri tread ini, jangan di timpukin,,,, dikasih LIKE and Rate pasti lebih enak hehehehehehe,,,,,]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Hellow apa kabar agan dan agan wati semuanya ? sebelumnya ane ngucapin met idul fitri dan mohon maaaf lahir batin. <br />
Kembali lagi di tred yang semoga ane yang semoga tidak REPOST ini, okelah gan kali ini ane mau coba sedikit share profil maupun <a href="http://minangforum.com/2012/08/foto-biodata-nikita-mirzani.html" target="_blank">Foto Biodata Nikita Mirzani</a> dan perjalanan karirnya.Langsung saja dibawah ini adalah profil dari Nikita Mirzani<br />
<br />
<blockquote><cite>Quote:</cite><img src="http://klimg.com/kapanlagi.com/g/nikita_mirzani_di_jelambar_jakarta_pusat/p/nikita_mirzani_dilokasi_syuting_film_boleh_lihat_pegang_jangan_produksi_maxima-20100809-013-wawan.jpg" border="0" alt="[Image: nikita_mirzani_dilokasi_syuting_film_bol...-wawan.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<br />
Lahir	17 Maret 1986 (umur 26)<br />
Jakarta, Indonesia<br />
Pekerjaan	aktris<br />
Tahun aktif	2010 - sekarang<br />
Pasangan	Rizki 'The Potter's' (putus)<br />
<br />
<br />
Nikita Mirzani mengawali karir sebagai peserta ajang mencari jodoh TAKE ME OUT yang ditayangkan di Indosiar. Karena wajahnya yang menarik, dia ditarik menjadi model salah satu sampul majalah. Sejak itu, namanya semakin dikenal oleh masyarakat. Nikita juga mulai menerima banyak tawaran menjadi model dalam berbagai bidang.<br />
<br />
Belakangan, nama Nikita semakin menjadi sorotan publik akibat berbagai peristiwa kontroversial yang menyangkut dirinya. Model yang memiliki banyak tato di tubuhnya ini kerap dikabarkan menjalin hubungan dengan para artis papan atas seperti Ricky Harun, Kiky The Potters, dan Andrew Andhika. Nikita bahkan sempat dikabarkan hamil saat kedapatn pergi ke rumah sakit bersalin bersama Ricky Harun. <br />
<br />
Artis berdarah padang ini sempat menghebohkan publik akibat kasus pemukulan yang dituduhkan kepadanya kepada mantan kekasihnya Kiky The Potters. Namun belum sempat masalah ini clear, muncul kabar bahwa Kiky The Potters juga melakukan pemukulan kepadanya. Masalah ini sempat berbuntut panjang sebelum akhirnya bisa diselesaikan.<br />
<br />
Namun demikian, model yang kerap muncul di majalah dewasa ini ternyata belum usai mengukir cerita. Baru padam masalahnya dengan Kiky The Potters, muncul berita meresahkan tentang <a href="http://minangforum.com/2012/08/foto-foto-nikita-mirzani.html" target="_blank">Foto Foto Nikita Mirzani</a> yang mesrah dengan Andrew Andhika. Walaupun awalnya membantah bahwa orang dalam foto itu adaalh mereka, akhirnya keduanya menagku bahwa foto itu adalah gambar mereka. Namun mereka berkilah bahwa foto itu dibuat hanya untuk lucu-lucuan.<br />
<br />
Selain permasalahannya dengan artis lain, Nikita juga sempat menghadapi masalah akibat kecelakaan yang menimpanya sebanyak dua kali berturut-turut. Kecelakaan kedua rupanya membuat Nikita shock karena pengendara sepeda motor yang ditabraknya mengalami luka cukup parah, dan mobil yang dikendarai Nikita sempat penyok di bagian depan.<br />
<br />
Pertengahan tahun 2012, dia terlibat perseteruan dengan Jenny Cortez. Nikita dikabarkan telah memukul Jenny dengan botol. Namun ada beberapa sumber yang menyatakan bahwa pertengkaran keduanya hanya settingan.<br />
<br />
Kini, Nikita dikabarkan dekat dengan mantan drummer kotak yang bernama Posan. Nikita bahkan mengakui bahwa sepertinya Posan memang datang untuknya/<br />
<br />
KARIR<br />
Tahun 2011, nama Nikita Mirzani makin mencuat. Pasalnya, dia seolah menjadi langganan dalam berbagai peran hot. Saking seringnya beradegan mesra, dia sampai mendapat predikat bom seks. Namun hal ini malah membuat Nikita bangga.<br />
<br />
Pada akhirnya sejumlah foto hot Nikita Mirzani pun gencar beredar di dunia maya, salah satunya adalah foto di mana Daus Mini terlihat sedang memegang dadanya. Namun kasus demi kasus yang menimpanya seolah menjadi batu loncatan Nikita untuk lebih terkenal. <br />
Pada akhirnya, Nikita pun harus berhadapan dengan berhadapan dengan FPI terkait pose dan perilakunya yang yang sering menonjolkan aurat. Namun sekali lagi, Nikita tampaknya tak mengindahkan peringatan tersebut. Dia bahkan sempat mengungkapkan pernyataan kontroversial bahwa dia pernah di-booking pejabat tanpa menghiraukan dampak dan <a href="http://minangforum.com/2012/08/google-sandbox-dan-bahayanya.html" target="_blank">Bahayanya</a>.<br />
<br />
Filmografi<br />
Lihat boleh, pegang jangan (2010)<br />
Perempuan-perempuan liar (2011)<br />
Nenek gayung (2012)<br />
<br />
Dikutip dari berbagai sumber</blockquote>
<br />
<br />
Okelah mas dan mbak bro....., mungkin cukup disini dulu tread ane ini, semoga bisa bermanfaat hehehe. Tapi ada yang aneh loh.... ane mencoba buat nyari foto sopan nikita mirzani dengan kata kunci Foto Sopan Nikita Mirzani tetapi yang keluar malah kayak gini gan hahaha, lihat aje dibawah ya.<br />
<br />
<blockquote><cite>Quote:</cite><img src="http://2.bp.blogspot.com/-iwTBikQh4qk/UDneAN5TWEI/AAAAAAAAAzc/K1uU7EDHWeo/s1600/penampakan.png" border="0" alt="[Image: penampakan.png]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></blockquote>
<br />
Yups,,, ane akhiri tread ini, jangan di timpukin,,,, dikasih LIKE and Rate pasti lebih enak hehehehehehe,,,,,]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Pasang Surut Sejarah Parsel di Padang, Berkembang dari Tradisi Warga Tionghoa]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Pasang-Surut-Sejarah-Parsel-di-Padang-Berkembang-dari-Tradisi-Warga-Tionghoa</link>
			<pubDate>Mon, 13 Aug 2012 08:52:49 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Pasang-Surut-Sejarah-Parsel-di-Padang-Berkembang-dari-Tradisi-Warga-Tionghoa</guid>
			<description><![CDATA[&lt;img src="http://padangekspres.co.id/up/berita/1108201212531309-boks-parsel.jpg" alt="Seorang bapak sedang membuat keranjang parcel yang berbahan baku rotan" title="klik untuk memperbesar" align="left" width="280" /&gt;<br />
<br />
Memberi dan menerima parsel sudah menjadi tradisi di tengah-tengah masyarakat golongan menengah ke atas di Indonesia. Tak terkecuali di Padang, tradisi parsel-parselan ini mulai subur pada tahun 1980-an.<br />
<br />
 <br />
<br />
Dari bahan baku rotan, dibuat beragam bentuk keran­jang. Keranjang lalu diisi ber­ma­­­cam makanan dan minu­man ringan yang dihiasi seme­narik mungkin. Parsel menjadi sebuah simbol perekat tali si­laturahmi antara si pemberi dan si penerima. Khususnya pa­­da momen-momen terten­tu, se­perti hari-hari besar ke­agamaan.<br />
<br />
 <br />
<br />
Di Padang, geliat parsel berdenyut di Simpang Enam Pondok, Kelurahan Berok­nipah, Kecamatan Padang Ba­rat. Dari kawasan inilah ber­mula parsel dipopulerkan di Padang sejak  30 tahun lalu, yang notabene tradisi warga ke­turunan Tionghoa. Kebe­tulan pula, di Simpang Enam banyak perajin rotan. Dari awalnya membuat bola ta­kraw, ayunan, mebel, lalu ditawarkan mem­buat ke­ran­jang parsel. Sebe­lum­nya, war­ga pecinan di Pa­dang harus memesan parsel dari Medan.<br />
<br />
 <br />
<br />
“Kira-kira seperti itulah awal mulanya parsel ada dan berkembang di Padang. Dapat dikatakan di kawasan Simpang Enam inilah awalnya,” sebut Arsil, 49, perajin rotan di Jalan Kampungsebelah, Simpang Enam, Kamis (9/8).<br />
<br />
 <br />
<br />
30 tahun silam, di sepan­jang jalan kawasan Simpang Enam dihiasi lapak-lapak pen­jual dan pembuat keranjang parsel. Kalangan muda-mudi terampil membuat keranjang parsel. Tak heran, praktis tak ada pemuda atau pemudi yang menganggur di zaman itu, apalagi jelang Lebaran.<br />
<br />
 <br />
<br />
Menariknya, dua bulan je­lang Lebaran, parsel-parsel tersebut dipesan. Kala itu, Arsil mampu menjual hingga seribu unit keranjang parsel. Kondisi itu ia nikmati hingga datangnya krisis moneter tahun 1998. “Sejak itulah tren parsel di Simpang Enam berangsur su­sut hingga kini,” kenangnya.<br />
<br />
 <br />
<br />
Krisis ekonomi membuat perajin sulit mendapatkan mo­dal. “Konsumen terbesar par­sel itu warga Tionghoa. Me­reka yang banyak membeli ke­ran­jang buatan kami untuk parsel atau dijual lagi. Atau untuk kebutuhan sendiri. Tapi sejak kerusuhan Mei 1998, warga keturunan banyak ekso­dus hingga akhirnya parsel-parsel kami tidak laku.” kata Arsil.<br />
<br />
 <br />
<br />
Lebaran, Natal, tahun baru, atau Imlek adalah momen-mo­men panen besar. Tapi kini, pe­rajin rotan banyak gulung tikar.<br />
<br />
 <br />
<br />
Apa yang dirasakan Arsil tak jauh berbeda dengan Mis­naneni, 28. Usaha orangtuanya Nasrul, 60, dan Misdawati, 55, yang dirintis sejak 30 tahun silam, bangkrut. Selain mulai sepinya pemesan, rotan pun langka sehingga mahal. “Dulu setiap hari selalu ada mena­warkan rotan ke kami, kini sekali seminggu saja belum tentu ada,” ujar Misnaneni.<br />
<br />
 <br />
<br />
Harga rotan melambung tinggi. Dari Rp 500/batang se­panjang 4 meter, menjadi Rp 3.500/batang sepanjang 4 meter.<br />
<br />
 <br />
<br />
Ketua RT 02 RW 05 Kam­pung Sebelah, Syamsul Arifin berpendapat, kebijakan peme­rin­tah melarang aparatur PNS memberi dan menerima parsel juga memberi imbas terhadap perajin. “Ini terjadi kira-kira sejak 10 tahun lalu. Saya pikir ini memberi pengaruh, terha­dap semakin berkurangnya para perajin rotan atau keran­jang parsel di Simpang Enam dari tahun ke tahun,” tuturnya.<br />
<br />
 <br />
<br />
Kini, para perajin dan pe­n­jual keranjang parsel itu hanya tinggal tiga orang atau tiga keluarga. Di saat banyak perajin rotan menyerah, mereka tetap bertahan menjalankan usa­hanya.<br />
<br />
 <br />
<br />
Dengan harga keranjang berkisar Rp 15 ribu-Rp 45 ribu, Arsil mengaku baru bisa men­jual 300 unit, sedangkan Mis­na­nanei sekitar 1.000.  (padek)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[&lt;img src="http://padangekspres.co.id/up/berita/1108201212531309-boks-parsel.jpg" alt="Seorang bapak sedang membuat keranjang parcel yang berbahan baku rotan" title="klik untuk memperbesar" align="left" width="280" /&gt;<br />
<br />
Memberi dan menerima parsel sudah menjadi tradisi di tengah-tengah masyarakat golongan menengah ke atas di Indonesia. Tak terkecuali di Padang, tradisi parsel-parselan ini mulai subur pada tahun 1980-an.<br />
<br />
 <br />
<br />
Dari bahan baku rotan, dibuat beragam bentuk keran­jang. Keranjang lalu diisi ber­ma­­­cam makanan dan minu­man ringan yang dihiasi seme­narik mungkin. Parsel menjadi sebuah simbol perekat tali si­laturahmi antara si pemberi dan si penerima. Khususnya pa­­da momen-momen terten­tu, se­perti hari-hari besar ke­agamaan.<br />
<br />
 <br />
<br />
Di Padang, geliat parsel berdenyut di Simpang Enam Pondok, Kelurahan Berok­nipah, Kecamatan Padang Ba­rat. Dari kawasan inilah ber­mula parsel dipopulerkan di Padang sejak  30 tahun lalu, yang notabene tradisi warga ke­turunan Tionghoa. Kebe­tulan pula, di Simpang Enam banyak perajin rotan. Dari awalnya membuat bola ta­kraw, ayunan, mebel, lalu ditawarkan mem­buat ke­ran­jang parsel. Sebe­lum­nya, war­ga pecinan di Pa­dang harus memesan parsel dari Medan.<br />
<br />
 <br />
<br />
“Kira-kira seperti itulah awal mulanya parsel ada dan berkembang di Padang. Dapat dikatakan di kawasan Simpang Enam inilah awalnya,” sebut Arsil, 49, perajin rotan di Jalan Kampungsebelah, Simpang Enam, Kamis (9/8).<br />
<br />
 <br />
<br />
30 tahun silam, di sepan­jang jalan kawasan Simpang Enam dihiasi lapak-lapak pen­jual dan pembuat keranjang parsel. Kalangan muda-mudi terampil membuat keranjang parsel. Tak heran, praktis tak ada pemuda atau pemudi yang menganggur di zaman itu, apalagi jelang Lebaran.<br />
<br />
 <br />
<br />
Menariknya, dua bulan je­lang Lebaran, parsel-parsel tersebut dipesan. Kala itu, Arsil mampu menjual hingga seribu unit keranjang parsel. Kondisi itu ia nikmati hingga datangnya krisis moneter tahun 1998. “Sejak itulah tren parsel di Simpang Enam berangsur su­sut hingga kini,” kenangnya.<br />
<br />
 <br />
<br />
Krisis ekonomi membuat perajin sulit mendapatkan mo­dal. “Konsumen terbesar par­sel itu warga Tionghoa. Me­reka yang banyak membeli ke­ran­jang buatan kami untuk parsel atau dijual lagi. Atau untuk kebutuhan sendiri. Tapi sejak kerusuhan Mei 1998, warga keturunan banyak ekso­dus hingga akhirnya parsel-parsel kami tidak laku.” kata Arsil.<br />
<br />
 <br />
<br />
Lebaran, Natal, tahun baru, atau Imlek adalah momen-mo­men panen besar. Tapi kini, pe­rajin rotan banyak gulung tikar.<br />
<br />
 <br />
<br />
Apa yang dirasakan Arsil tak jauh berbeda dengan Mis­naneni, 28. Usaha orangtuanya Nasrul, 60, dan Misdawati, 55, yang dirintis sejak 30 tahun silam, bangkrut. Selain mulai sepinya pemesan, rotan pun langka sehingga mahal. “Dulu setiap hari selalu ada mena­warkan rotan ke kami, kini sekali seminggu saja belum tentu ada,” ujar Misnaneni.<br />
<br />
 <br />
<br />
Harga rotan melambung tinggi. Dari Rp 500/batang se­panjang 4 meter, menjadi Rp 3.500/batang sepanjang 4 meter.<br />
<br />
 <br />
<br />
Ketua RT 02 RW 05 Kam­pung Sebelah, Syamsul Arifin berpendapat, kebijakan peme­rin­tah melarang aparatur PNS memberi dan menerima parsel juga memberi imbas terhadap perajin. “Ini terjadi kira-kira sejak 10 tahun lalu. Saya pikir ini memberi pengaruh, terha­dap semakin berkurangnya para perajin rotan atau keran­jang parsel di Simpang Enam dari tahun ke tahun,” tuturnya.<br />
<br />
 <br />
<br />
Kini, para perajin dan pe­n­jual keranjang parsel itu hanya tinggal tiga orang atau tiga keluarga. Di saat banyak perajin rotan menyerah, mereka tetap bertahan menjalankan usa­hanya.<br />
<br />
 <br />
<br />
Dengan harga keranjang berkisar Rp 15 ribu-Rp 45 ribu, Arsil mengaku baru bisa men­jual 300 unit, sedangkan Mis­na­nanei sekitar 1.000.  (padek)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Sarawa Kotok]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Sarawa-Kotok</link>
			<pubDate>Fri, 10 Aug 2012 08:54:46 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Sarawa-Kotok</guid>
			<description><![CDATA[<img src="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTlSiht3QySc7lSUcuyk_VzK0h0EPvuyqZRoBy9P7wf9v2Fn_mMy1R27Kpn" border="0" alt="[Image: images?q=tbn:ANd9GcTlSiht3QySc7lSUcuyk_V...mMy1R27Kpn]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<br />
Sudah lama saya tidak mendengar kata “sarawa kotok”. Baru semalam, dari tweet seseorang di twiter saya kembali mendengar kata-kata itu. Sepenggal kalimat tersebut berbunyi “Lah lambok sarawa kotok” (sudah lembab celana kolor).<br />
<br />
Saya sendiri belum begitu paham apa terjemahan dari kata “kotok”. Kalau sarawa sudah tentu berarti celana. Bila digabungkan akan bermakna celana dalam. Bukan berarti kotok memiliki arti dalam. Melainkan lebih dekat dengan kata “ci*otok” yang berarti zakar. Jadi celana untuk melindungi zakar.<br />
<br />
Dari pada ngelantur kamana-mana, mendingan fokus kembali ke sarawa kotok.<br />
<br />
Sewaktu pertama kali menginjakan kaki di pasar cipulir, jakarta. Persepsi saya tentang sarawa kotok langsung berubah drastis. Bagi orang minang sarawa kotok berarti celana dalam atau celana kolor. Sementara di jakarta sana, sarawa kotok yang diterjemahkan kedalam bahasa indonesia berarti celana kolor. Celana kolor bukan celana dalam. Tapi, celana kolor adalah sejenis celana pendek yang juga dikenal dengan sebutan celana hawai.<br />
<br />
Ketika mau beli celana kolor, pedagangnya malah ngasih celana hawai. Saya pun bingung, pengen beli calana dalam, eh dikasih celana hawai.<br />
<br />
Ternyata oh ternyata. Celana kolor itu memang bukan celana dalam, tapi celana pendek. Semenjak itu barulah saya sadar, jika beli celana dalam maka jangan sekali-kali sebut sarawa kotok (celana kolor)<br />
<br />
Mungkin karena kasus tersebut saya tidak pernah lagi menyebut sarawa kotok. Baru belakangan ini saya kembali mendengarnya. Itu pun di twiter. Parah banget gak sih..<br />
<br />
Lagian kalau beli celana dalam tidak perlu menyebut secara jelas kata sarawa kotok, sebab cukup menyebut kolor saja semua pedagang celana dalam sudah tahu. Dengan catatan hanya untuk pedagang celana dalam yang berada di wilayah sumatra barat saja ya…<br />
<br />
Hal itu semakin menegaskan bahwa sarawa kotok adalah bahasa langka yang jarang diucapkan secara lisan oleh orang minangkabau.<br />
<br />
Ini hanya versi saya. Terserah anda mau berkata apa.!!!<br />
<br />
sumber : <a href="http://garammanis.wordpress.com/2012/02/27/sarawa-kotok/#more-2452" rel="nofollow" target="_blank">http://garammanis.wordpress.com/2012/02/...#more-2452</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<img src="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTlSiht3QySc7lSUcuyk_VzK0h0EPvuyqZRoBy9P7wf9v2Fn_mMy1R27Kpn" border="0" alt="[Image: images?q=tbn:ANd9GcTlSiht3QySc7lSUcuyk_V...mMy1R27Kpn]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<br />
Sudah lama saya tidak mendengar kata “sarawa kotok”. Baru semalam, dari tweet seseorang di twiter saya kembali mendengar kata-kata itu. Sepenggal kalimat tersebut berbunyi “Lah lambok sarawa kotok” (sudah lembab celana kolor).<br />
<br />
Saya sendiri belum begitu paham apa terjemahan dari kata “kotok”. Kalau sarawa sudah tentu berarti celana. Bila digabungkan akan bermakna celana dalam. Bukan berarti kotok memiliki arti dalam. Melainkan lebih dekat dengan kata “ci*otok” yang berarti zakar. Jadi celana untuk melindungi zakar.<br />
<br />
Dari pada ngelantur kamana-mana, mendingan fokus kembali ke sarawa kotok.<br />
<br />
Sewaktu pertama kali menginjakan kaki di pasar cipulir, jakarta. Persepsi saya tentang sarawa kotok langsung berubah drastis. Bagi orang minang sarawa kotok berarti celana dalam atau celana kolor. Sementara di jakarta sana, sarawa kotok yang diterjemahkan kedalam bahasa indonesia berarti celana kolor. Celana kolor bukan celana dalam. Tapi, celana kolor adalah sejenis celana pendek yang juga dikenal dengan sebutan celana hawai.<br />
<br />
Ketika mau beli celana kolor, pedagangnya malah ngasih celana hawai. Saya pun bingung, pengen beli calana dalam, eh dikasih celana hawai.<br />
<br />
Ternyata oh ternyata. Celana kolor itu memang bukan celana dalam, tapi celana pendek. Semenjak itu barulah saya sadar, jika beli celana dalam maka jangan sekali-kali sebut sarawa kotok (celana kolor)<br />
<br />
Mungkin karena kasus tersebut saya tidak pernah lagi menyebut sarawa kotok. Baru belakangan ini saya kembali mendengarnya. Itu pun di twiter. Parah banget gak sih..<br />
<br />
Lagian kalau beli celana dalam tidak perlu menyebut secara jelas kata sarawa kotok, sebab cukup menyebut kolor saja semua pedagang celana dalam sudah tahu. Dengan catatan hanya untuk pedagang celana dalam yang berada di wilayah sumatra barat saja ya…<br />
<br />
Hal itu semakin menegaskan bahwa sarawa kotok adalah bahasa langka yang jarang diucapkan secara lisan oleh orang minangkabau.<br />
<br />
Ini hanya versi saya. Terserah anda mau berkata apa.!!!<br />
<br />
sumber : <a href="http://garammanis.wordpress.com/2012/02/27/sarawa-kotok/#more-2452" rel="nofollow" target="_blank">http://garammanis.wordpress.com/2012/02/...#more-2452</a>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Mengenal Proses Perjodohan di Minangkabau]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Mengenal-Proses-Perjodohan-di-Minangkabau</link>
			<pubDate>Wed, 01 Aug 2012 06:04:27 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Mengenal-Proses-Perjodohan-di-Minangkabau</guid>
			<description><![CDATA[Akhirnya saya tergerak kembali untuk menuliskan perihal tradisi pernikahan dalam adat di minangkabau. Kali ini saya akan membahas tentang adat babaur (berbaur).<br />
<br />
Sebelum membahas lebih jauh, pertama kali saya mencoba untuk menggambarkan bahwa adat pernikahan di minangkabau tidak mesti sama diantara daerah di minangkabau sendiri. Untuk baju pengantennya saja berbeda corak antara satu daerah dengan daerah lainnya. Jadi, perihal berbaur ini tidak selalu ada di setiap daerah di minang. Disini saya coba untuk menjelaskan tradisi berbaur untuk daerah pariaman saja.<br />
<br />
Mungkin para kompasianer pernah mendengar kisah perjodohan siti nurbaya. Setiap membahas soal kawin paksa karena perjodohan, selalu dikaitkan dengan kisah siti nurbaya. Kisah siti nurbaya karya Marah Rusli ini adalah kisah fenomenal yang dikenal oleh rakyat indonesia.<br />
<br />
Kita dapat melihat keterkaitan kisah siti nurbaya dengan kenyataan dalam adat di minangkabau. Orang sudah banyak yang tahu bagaimana perjodohan Siti nurbaya, tapi tidak banyak yang tahu seperti apa proses perjodohan di minangkabau. Tradisi berbaur inilah yang merupakan wadah perjodohan di minangkabau.<br />
<br />
Hingga kini tradisi berbaur ini masih ada. Tetapi tidak seperti tradisi sebelumnya. Dahulu orang cari jodoh ketika prosesi berbaur ini. Artinya, diadakan dulu acara berbaur, baru bisa dapat jodoh. Sekarang terbalik, dapat jodoh dulu baru bisa diadakan acara berbaur.<br />
<br />
Bagi keluarga yang mempunyai anak perempuan dan sudah patut untuk menikah, maka pihak keluarga terlebih dahulu mengadakan acara berbaur. Dalam acara ini pihak keluarga mengundang para ninik mamak, urang sumando (suamiistri dari keluarga besar) alim ulama dan pemuda setempat.<br />
Sebelum perjodohan terjadi, acara berbaur ini dihiasi dengan perang mulut atau istilahnya petatah petitih.<br />
<br />
Kemudian, para undangan dipersilahkan mengajukan masing-masing 5 ayam. Maksud ayam disini adalah mengajukan 5 orang bujangan yang akan di jodohkan dengan anak perempuan. Pihak urang sumando mengajukan 5 ayam, ninik mamak 5 ayam dan 5 ayam dari ketua pemuda setempat.<br />
<br />
Barulah pihak keluarga memilih mana “ayam” yang cocok untuk anaknya. Si perempuan diberikan kebebasan untuk memilih “ayam” dari pihak mana yang akan ia pilih. Setelah ia memilih satu ayam, maka akan ada lagi proses berikut, yaitu manyisiak (menyisir). Dalam manyisiak, mamak dari si perempuan melakukan “jalan malam”. Jalan malam adalah pergi bertamu ke rumah keluarga pihak laki-laki yang telah dipilih oleh kemenakanya.<br />
<br />
Jika si laki-laki setuju dengan perjodohan ini, maka dilanjutkan ke proses berikutnya hingga perkawinan. Jika si laki-laki tidak setuju, maka perempuan tadi dipersilahkan memilih “ayam” lain yang diajukan dalam prosesi berbaur tadi. Begitu seterusnya dari ayam satu ke “ayam” satunya lagi hingga si perempuan menemukan jodohnya.<br />
<br />
Begitu prosesi berbaur yang terjadi pada masa dahulu. Masa sekarang jarang dijumpai acara seperti itu. Prosesi berbaur masih tetap berlangsung dan tetap terjaga, tapi dalam pelaksanaanya tidak lagi seperti proses diatas. Dalam acara berbaur tidak ada lagi ajang cari jodoh. Lagian pihak keluarga perempuan mengadakan acara berbaur setelah anaknya menemukan jodoh.<br />
<br />
Sumber: <a href="http://garammanis.wordpress.com" rel="nofollow" target="_blank">http://garammanis.wordpress.com</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Akhirnya saya tergerak kembali untuk menuliskan perihal tradisi pernikahan dalam adat di minangkabau. Kali ini saya akan membahas tentang adat babaur (berbaur).<br />
<br />
Sebelum membahas lebih jauh, pertama kali saya mencoba untuk menggambarkan bahwa adat pernikahan di minangkabau tidak mesti sama diantara daerah di minangkabau sendiri. Untuk baju pengantennya saja berbeda corak antara satu daerah dengan daerah lainnya. Jadi, perihal berbaur ini tidak selalu ada di setiap daerah di minang. Disini saya coba untuk menjelaskan tradisi berbaur untuk daerah pariaman saja.<br />
<br />
Mungkin para kompasianer pernah mendengar kisah perjodohan siti nurbaya. Setiap membahas soal kawin paksa karena perjodohan, selalu dikaitkan dengan kisah siti nurbaya. Kisah siti nurbaya karya Marah Rusli ini adalah kisah fenomenal yang dikenal oleh rakyat indonesia.<br />
<br />
Kita dapat melihat keterkaitan kisah siti nurbaya dengan kenyataan dalam adat di minangkabau. Orang sudah banyak yang tahu bagaimana perjodohan Siti nurbaya, tapi tidak banyak yang tahu seperti apa proses perjodohan di minangkabau. Tradisi berbaur inilah yang merupakan wadah perjodohan di minangkabau.<br />
<br />
Hingga kini tradisi berbaur ini masih ada. Tetapi tidak seperti tradisi sebelumnya. Dahulu orang cari jodoh ketika prosesi berbaur ini. Artinya, diadakan dulu acara berbaur, baru bisa dapat jodoh. Sekarang terbalik, dapat jodoh dulu baru bisa diadakan acara berbaur.<br />
<br />
Bagi keluarga yang mempunyai anak perempuan dan sudah patut untuk menikah, maka pihak keluarga terlebih dahulu mengadakan acara berbaur. Dalam acara ini pihak keluarga mengundang para ninik mamak, urang sumando (suamiistri dari keluarga besar) alim ulama dan pemuda setempat.<br />
Sebelum perjodohan terjadi, acara berbaur ini dihiasi dengan perang mulut atau istilahnya petatah petitih.<br />
<br />
Kemudian, para undangan dipersilahkan mengajukan masing-masing 5 ayam. Maksud ayam disini adalah mengajukan 5 orang bujangan yang akan di jodohkan dengan anak perempuan. Pihak urang sumando mengajukan 5 ayam, ninik mamak 5 ayam dan 5 ayam dari ketua pemuda setempat.<br />
<br />
Barulah pihak keluarga memilih mana “ayam” yang cocok untuk anaknya. Si perempuan diberikan kebebasan untuk memilih “ayam” dari pihak mana yang akan ia pilih. Setelah ia memilih satu ayam, maka akan ada lagi proses berikut, yaitu manyisiak (menyisir). Dalam manyisiak, mamak dari si perempuan melakukan “jalan malam”. Jalan malam adalah pergi bertamu ke rumah keluarga pihak laki-laki yang telah dipilih oleh kemenakanya.<br />
<br />
Jika si laki-laki setuju dengan perjodohan ini, maka dilanjutkan ke proses berikutnya hingga perkawinan. Jika si laki-laki tidak setuju, maka perempuan tadi dipersilahkan memilih “ayam” lain yang diajukan dalam prosesi berbaur tadi. Begitu seterusnya dari ayam satu ke “ayam” satunya lagi hingga si perempuan menemukan jodohnya.<br />
<br />
Begitu prosesi berbaur yang terjadi pada masa dahulu. Masa sekarang jarang dijumpai acara seperti itu. Prosesi berbaur masih tetap berlangsung dan tetap terjaga, tapi dalam pelaksanaanya tidak lagi seperti proses diatas. Dalam acara berbaur tidak ada lagi ajang cari jodoh. Lagian pihak keluarga perempuan mengadakan acara berbaur setelah anaknya menemukan jodoh.<br />
<br />
Sumber: <a href="http://garammanis.wordpress.com" rel="nofollow" target="_blank">http://garammanis.wordpress.com</a>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Ketika “Gadih Gadang” di Minang “Betah” Berstatus Lajang]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Ketika-%E2%80%9CGadih-Gadang%E2%80%9D-di-Minang-%E2%80%9CBetah%E2%80%9D-Berstatus-Lajang</link>
			<pubDate>Tue, 17 Jul 2012 09:29:41 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Ketika-%E2%80%9CGadih-Gadang%E2%80%9D-di-Minang-%E2%80%9CBetah%E2%80%9D-Berstatus-Lajang</guid>
			<description><![CDATA[Di kalangan mahasiswa ada gurauan yang cukup relevan. Kata mereka, gadis-gadis yang baru jadi mahasiswa menganut prinsip “siapa saya” dalam menentukan pilihan. Mereka masih merasa cantik dan memilih-milih. Setelah dua tahun menjadi mahasiswa dan merasa lebih mapan, mereka mengatakan “siapa kamu”. Ketika itu mereka mulai serius memikirkan laki-laki dan menimbang-nimbang masa depan. Ucapan mereka berubah jadi “siapa mau” setelah mau jadi sarjana, namun belum juga beruntung dapat pasangan. Setelah dua tahun jadi sarjana mereka mulai menyerah dan mengatakan “siapa saja”. Suami orang boleh, duda juga boleh, apalagi perjaka!”<br />
<br />
Pameo di atas saya kutip dari catatan kaki tulisan Emeraldy Chatra berjudul “Gadih Gadang Indak Balaki: Pengorbanan Perempuan untuk Ideologi Monogami” yang dimuat dalam SIGAI Jurnal Sosiologi, Vol. 1, No. 2/2000 yang diterbitkan Laboratorium Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas Padang (Mohon izin bang Emeraldy, he-he… Lanjutkan!). Meski sebuah pameo yang hanya gurauan, namun bukan tidak mungkin hal itu terjadi pada perempuan-perempuan di Minangkabau (Sumatera Barat). Dan, “Gadih Gadang Indak Balaki” (gadis tua tidak/belum bersuami atau perawan tua—pen) yang ditulis Emeraldy Chatra ini benar-benar akan menjadi isu kebudayaan pada masa-masa mendatang di Sumatera Barat.<br />
<br />
Belum ditemukan data penelitian berapa banyak kaum perempuan di Sumatera Barat yang berusia di atas 25 tahun (pemerintah menetapkan usia pernikahan ideal untuk perempuan 20 tahun dan laki-laki 25 tahun—pen) namun belum mendapatkan pasangan hidup (suami). Fakta di lapangan sering ditemui bahwa kaum perempuan di Sumatra Barat menikah di atas usia ideal itu sehingga seringkali terungkap kata-kata “terlambat”. Kata “terlambat” ini pula sering diidentikkan sebagai “perawan tua”.<br />
<br />
Jika di masa “saisuak” gadis-gadis Minangkabau dinikahkan pada usia yang sangat muda (antara usia 14 tahun hingga 18 tahun), namun di era modernisasi sekarang ini semua itu berubah 180 derajat. Hal ini terjadi akibat memudarnya peran mamak pada kemenakan. Sairin (1992) menyoroti masalah perawan tua di Minangkabau dalam konteks perubahan eksistensi ”mamak” dengan berubahnya penyebutan menjadi “oom”, “etek” jadi “tante”, “mande” dan “amai” jadi “mami”. Begitupula peran orang tua pada anak-anaknya semakin besar terhadap anak dibanding peran mamak.<br />
<br />
Terjadinya “gadih gadang indak balaki” sekarang ini lebih menonjol akibat faktor ekonomi. Seorang perempuan cenderung memilih pasangan hidup jika pekerjaan calon suaminya mapan (apalagi berstatus PNS) dan berpendidikan tinggi. Faktor lain yang cukup penting, mamak tak lagi berperan kuat dalam menentukan jodoh kemenakannya sehingga mamak sering terkesan merestui saja.<br />
<br />
Dan, “gadih gadang indak balaki” ini pun menjadi kecemasan tersendiri di kalangan kaum perempuan. Tak heran jika sebagian perempuan yang belum bersuami memberanikan diri mengirim surat ke media massa agar niatnya mendapatkan suami dimuat di kolom Biro Jodoh (di Sumatera Barat, di masa lalu, hanya koran Haluan yang masih bertahan dengan kolom Biro Jodohnya—pen). Dan, menunggu jodoh itu datang, kaum perempuan mencoba masuk ke berbagai lapangan pekerjaan; mulai dari guru, dosen, staf perkantoran, perhotelan, pengusaha, pekerja media, hingga pekerjaan-pekerjaan yang biasanya dilakoni kaum lelaki pun mulai dicoba untuk digeluti.<br />
<br />
Terakhir, tulisan ini hanya sebuah refleksi; renungan untuk kita semua. Tidak ada maksud untuk menyudutkan kaum perempuan. Piss, deh! <br />
<br />
(Oleh: <span style="font-weight: bold;">Muhammad Subhan/</span>kompasiana)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Di kalangan mahasiswa ada gurauan yang cukup relevan. Kata mereka, gadis-gadis yang baru jadi mahasiswa menganut prinsip “siapa saya” dalam menentukan pilihan. Mereka masih merasa cantik dan memilih-milih. Setelah dua tahun menjadi mahasiswa dan merasa lebih mapan, mereka mengatakan “siapa kamu”. Ketika itu mereka mulai serius memikirkan laki-laki dan menimbang-nimbang masa depan. Ucapan mereka berubah jadi “siapa mau” setelah mau jadi sarjana, namun belum juga beruntung dapat pasangan. Setelah dua tahun jadi sarjana mereka mulai menyerah dan mengatakan “siapa saja”. Suami orang boleh, duda juga boleh, apalagi perjaka!”<br />
<br />
Pameo di atas saya kutip dari catatan kaki tulisan Emeraldy Chatra berjudul “Gadih Gadang Indak Balaki: Pengorbanan Perempuan untuk Ideologi Monogami” yang dimuat dalam SIGAI Jurnal Sosiologi, Vol. 1, No. 2/2000 yang diterbitkan Laboratorium Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas Padang (Mohon izin bang Emeraldy, he-he… Lanjutkan!). Meski sebuah pameo yang hanya gurauan, namun bukan tidak mungkin hal itu terjadi pada perempuan-perempuan di Minangkabau (Sumatera Barat). Dan, “Gadih Gadang Indak Balaki” (gadis tua tidak/belum bersuami atau perawan tua—pen) yang ditulis Emeraldy Chatra ini benar-benar akan menjadi isu kebudayaan pada masa-masa mendatang di Sumatera Barat.<br />
<br />
Belum ditemukan data penelitian berapa banyak kaum perempuan di Sumatera Barat yang berusia di atas 25 tahun (pemerintah menetapkan usia pernikahan ideal untuk perempuan 20 tahun dan laki-laki 25 tahun—pen) namun belum mendapatkan pasangan hidup (suami). Fakta di lapangan sering ditemui bahwa kaum perempuan di Sumatra Barat menikah di atas usia ideal itu sehingga seringkali terungkap kata-kata “terlambat”. Kata “terlambat” ini pula sering diidentikkan sebagai “perawan tua”.<br />
<br />
Jika di masa “saisuak” gadis-gadis Minangkabau dinikahkan pada usia yang sangat muda (antara usia 14 tahun hingga 18 tahun), namun di era modernisasi sekarang ini semua itu berubah 180 derajat. Hal ini terjadi akibat memudarnya peran mamak pada kemenakan. Sairin (1992) menyoroti masalah perawan tua di Minangkabau dalam konteks perubahan eksistensi ”mamak” dengan berubahnya penyebutan menjadi “oom”, “etek” jadi “tante”, “mande” dan “amai” jadi “mami”. Begitupula peran orang tua pada anak-anaknya semakin besar terhadap anak dibanding peran mamak.<br />
<br />
Terjadinya “gadih gadang indak balaki” sekarang ini lebih menonjol akibat faktor ekonomi. Seorang perempuan cenderung memilih pasangan hidup jika pekerjaan calon suaminya mapan (apalagi berstatus PNS) dan berpendidikan tinggi. Faktor lain yang cukup penting, mamak tak lagi berperan kuat dalam menentukan jodoh kemenakannya sehingga mamak sering terkesan merestui saja.<br />
<br />
Dan, “gadih gadang indak balaki” ini pun menjadi kecemasan tersendiri di kalangan kaum perempuan. Tak heran jika sebagian perempuan yang belum bersuami memberanikan diri mengirim surat ke media massa agar niatnya mendapatkan suami dimuat di kolom Biro Jodoh (di Sumatera Barat, di masa lalu, hanya koran Haluan yang masih bertahan dengan kolom Biro Jodohnya—pen). Dan, menunggu jodoh itu datang, kaum perempuan mencoba masuk ke berbagai lapangan pekerjaan; mulai dari guru, dosen, staf perkantoran, perhotelan, pengusaha, pekerja media, hingga pekerjaan-pekerjaan yang biasanya dilakoni kaum lelaki pun mulai dicoba untuk digeluti.<br />
<br />
Terakhir, tulisan ini hanya sebuah refleksi; renungan untuk kita semua. Tidak ada maksud untuk menyudutkan kaum perempuan. Piss, deh! <br />
<br />
(Oleh: <span style="font-weight: bold;">Muhammad Subhan/</span>kompasiana)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Orang Padang Pelit? ]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Orang-Padang-Pelit</link>
			<pubDate>Tue, 10 Jul 2012 04:54:19 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Orang-Padang-Pelit</guid>
			<description><![CDATA[Menonton Suami-suami Takut Istri di Trans TV hati saya miris. Bukan karena lakonnya yang buruk dan vulgar-meski awal-awalnya menghibur juga—tapi lebih karena stereotype etnis yang digambarkan di sana. Orang Padang digambarkan pelit, orang Betawi besar lagak, sok jagoan, Jawa ngeyel, keras kepala dan Batak tak punya otak, hanya besar di otot.<br />
<br />
Saya miris karena kebiasaan membuat stereotype ini bagi saya adalah kebiasaan bodoh yang dilakukan oleh orang bodoh. Mungkin ada orang Padang yang pelit, tapi bukan tak ada orang Padang yang dermawan. Wesel ke kampung halaman orang Padang itu nilainya ratusan milyar. Pola patron klien bagi para perantau lama dan baru terus berlaku sampai sekarang, mesjid dibangun terus seolah-olah uang tumbuh di pohon, dan tak kunjung cairnya dana bantuan gempa ditunggu denggan tawaqal, tanpa demo-demo atau unjuk rasa anarkhis.<br />
<br />
Apakah itu ciri-ciri orang pelit? Hanya karena satu dua orang Padang tak mau menggunakan uangnya tanpa control, orang Padang sudah dicap pelit. Hendaknya dibedakan antara pelit, hemat dan penuh perantauan. Kami perantau yang melewati beberapa provinsi dan negara agar bisa eksis, kami harus punya disiplin keuangan yang kuat, soal kedermawanan jangan diajari, hanya kami yang punya Gebu Minang, Gerakan Seribu Minang.<br />
<br />
Orang Jawa digambarkan ngeyel, mau benar sendiri, apa benar begitu? Orang Jawalah yang harus menjawab.<br />
<br />
Orang Betawi sok jago? Kalau ini saya punya sedikit pengalaman, selama 13 tahun merantau ke Jakarta hanya beberapa kali saya ketemu orang Betawi tipe ini. Salah satunya seperti yang tergabung dalam FBR (Forum Betawi Rempug). Tapi saya ragu menggolongkan ini sebagai karakter khas Betawi, lebih pas karakter preman tengik, dan itu bisa ditemukan juga di etnis-etnis lainya di Indonesia.<br />
<br />
Mayoritas Betawi yang saya temui adalah ramah, baik hati, suka menolong dan ceplas ceplos. Suka ngutang sih, tapi kayaknya itu sudah budaya mereka yang selau saling tolong-menolong, prinsipnya lu tolong gua, gua tolong lu, akan ada waktunya kita saling membutuhkan. Gitu deh<br />
<br />
Orang Batak dikatakan tak punya otak. Cuma mengandalkan otot yang juga tak seberapa. Aneh, padahal pengacara paling banyak dari Batak. Pengusaha sukses juga tak kurang. Kalau orang model Ruhut Sitompul mungkin bisa dikatakan modal otot dan lidah sekaligus, tapi sayang lidahnya dikhususkan untuk menjilat SBY dan keluarga, seolah-olah SBY akan berkuasa selamanya. Entah mana yang lebih buruk, Ruhut atau Harmoko. Sama-sama penjilat, mungkin yang lebih cocok menilai mereka para pengamat penjilatan, gigolo jangan ikut, soalnya mereka khusus menjilat yang lain.<br />
<br />
Khusus orang Padang, seperti juga etnis lainnya tentu ada yang pelit. Kalau di Padang kami menyebutnya jaguang (jagung). Kiasannya orang seperti itu kalau buang hajatnya jagung, pasti dimakannya lagi, saking pelitnya. Bung Hatta suka menempelkan sabun lama dengan sabun baru agar sabun itu benar-benar terpakai habis, tidak mubazir, pelitkah sikap ini?<br />
<br />
Banyak orang Padang lebih suka menyumbang dengan nama Hamba Allah, sumbangannya sampai milyaran rupiah, apa namanya ini? Pelitkah? Atau tak mau pamer?<br />
<br />
Memang orang Padang (baca Minangkabau) terkenal kareh angok (gigih), karengkang, kareh kapalo<br />
<br />
(kopig, keras kepala, kepala batu, tak mau kalah), egois (suka menang sendiri dan mendahulukan kepentingan sendiri), rancak di labuah (tampaknya saja bagus), jinaha (licik dan licin), tapi apakah etnis lain juga tak begini? Etnis yang punya tradisi merantau sepertinya seperti ini semua, karena sikap-sikap seperti itu sangat dibutuhkan untuk bertahan dan mempertahankan eksistensi di ranah rantau yang keras.<br />
<br />
Mungkin orang yang bertemu orang Padang dan merasakan kepelitannya lalu sesumbar ke mana-mana sampai jadi sterotype dulu itu sedang sangat butuh pinjaman duit, tapi nggak bisa membujuk orang Padang agar memberinya uang. Kalau kaya’ gini belum tentu orang Padang itu yang pelit, tapi dianya aja yang mudah sekali minta-minta (profesinya pengemis kali).<br />
<br />
Dengan demikian stereotype orang Padang pelit ini seharusnya tak perlu lagi dijual sebagai komoditi, begitu juga stereotype untuk etnis-etnis lainnya, karena sudah jelas penggeneralisasian ini adalah pekerjaan bodoh yang hanya dilakukan oleh orang-orang bodoh, sayangnya orang bodoh itu tak pula orang Indonesia, tapi dari pinggiran Sungai Gangga (India). Dengan kerajaan bisnis hiburannya dia menghitamputihkan dan menggoblok-goblokkan orang Indonesia, dan orang Indonesianya diam saja, malah ikut tertawa-tawa.<br />
<br />
Jadi yang bodoh siapa? Kita juga pada akhirnya. Bangunlah kawan, jangan kau biarkan orang menertawakan bangsamu sesukanya!<br />
<br />
sumber : <a href="http://bukanaul.blogspot.com/2010/11/orang-padang-pelit.html" rel="nofollow" target="_blank">http://bukanaul.blogspot.com/2010/11/ora...pelit.html</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Menonton Suami-suami Takut Istri di Trans TV hati saya miris. Bukan karena lakonnya yang buruk dan vulgar-meski awal-awalnya menghibur juga—tapi lebih karena stereotype etnis yang digambarkan di sana. Orang Padang digambarkan pelit, orang Betawi besar lagak, sok jagoan, Jawa ngeyel, keras kepala dan Batak tak punya otak, hanya besar di otot.<br />
<br />
Saya miris karena kebiasaan membuat stereotype ini bagi saya adalah kebiasaan bodoh yang dilakukan oleh orang bodoh. Mungkin ada orang Padang yang pelit, tapi bukan tak ada orang Padang yang dermawan. Wesel ke kampung halaman orang Padang itu nilainya ratusan milyar. Pola patron klien bagi para perantau lama dan baru terus berlaku sampai sekarang, mesjid dibangun terus seolah-olah uang tumbuh di pohon, dan tak kunjung cairnya dana bantuan gempa ditunggu denggan tawaqal, tanpa demo-demo atau unjuk rasa anarkhis.<br />
<br />
Apakah itu ciri-ciri orang pelit? Hanya karena satu dua orang Padang tak mau menggunakan uangnya tanpa control, orang Padang sudah dicap pelit. Hendaknya dibedakan antara pelit, hemat dan penuh perantauan. Kami perantau yang melewati beberapa provinsi dan negara agar bisa eksis, kami harus punya disiplin keuangan yang kuat, soal kedermawanan jangan diajari, hanya kami yang punya Gebu Minang, Gerakan Seribu Minang.<br />
<br />
Orang Jawa digambarkan ngeyel, mau benar sendiri, apa benar begitu? Orang Jawalah yang harus menjawab.<br />
<br />
Orang Betawi sok jago? Kalau ini saya punya sedikit pengalaman, selama 13 tahun merantau ke Jakarta hanya beberapa kali saya ketemu orang Betawi tipe ini. Salah satunya seperti yang tergabung dalam FBR (Forum Betawi Rempug). Tapi saya ragu menggolongkan ini sebagai karakter khas Betawi, lebih pas karakter preman tengik, dan itu bisa ditemukan juga di etnis-etnis lainya di Indonesia.<br />
<br />
Mayoritas Betawi yang saya temui adalah ramah, baik hati, suka menolong dan ceplas ceplos. Suka ngutang sih, tapi kayaknya itu sudah budaya mereka yang selau saling tolong-menolong, prinsipnya lu tolong gua, gua tolong lu, akan ada waktunya kita saling membutuhkan. Gitu deh<br />
<br />
Orang Batak dikatakan tak punya otak. Cuma mengandalkan otot yang juga tak seberapa. Aneh, padahal pengacara paling banyak dari Batak. Pengusaha sukses juga tak kurang. Kalau orang model Ruhut Sitompul mungkin bisa dikatakan modal otot dan lidah sekaligus, tapi sayang lidahnya dikhususkan untuk menjilat SBY dan keluarga, seolah-olah SBY akan berkuasa selamanya. Entah mana yang lebih buruk, Ruhut atau Harmoko. Sama-sama penjilat, mungkin yang lebih cocok menilai mereka para pengamat penjilatan, gigolo jangan ikut, soalnya mereka khusus menjilat yang lain.<br />
<br />
Khusus orang Padang, seperti juga etnis lainnya tentu ada yang pelit. Kalau di Padang kami menyebutnya jaguang (jagung). Kiasannya orang seperti itu kalau buang hajatnya jagung, pasti dimakannya lagi, saking pelitnya. Bung Hatta suka menempelkan sabun lama dengan sabun baru agar sabun itu benar-benar terpakai habis, tidak mubazir, pelitkah sikap ini?<br />
<br />
Banyak orang Padang lebih suka menyumbang dengan nama Hamba Allah, sumbangannya sampai milyaran rupiah, apa namanya ini? Pelitkah? Atau tak mau pamer?<br />
<br />
Memang orang Padang (baca Minangkabau) terkenal kareh angok (gigih), karengkang, kareh kapalo<br />
<br />
(kopig, keras kepala, kepala batu, tak mau kalah), egois (suka menang sendiri dan mendahulukan kepentingan sendiri), rancak di labuah (tampaknya saja bagus), jinaha (licik dan licin), tapi apakah etnis lain juga tak begini? Etnis yang punya tradisi merantau sepertinya seperti ini semua, karena sikap-sikap seperti itu sangat dibutuhkan untuk bertahan dan mempertahankan eksistensi di ranah rantau yang keras.<br />
<br />
Mungkin orang yang bertemu orang Padang dan merasakan kepelitannya lalu sesumbar ke mana-mana sampai jadi sterotype dulu itu sedang sangat butuh pinjaman duit, tapi nggak bisa membujuk orang Padang agar memberinya uang. Kalau kaya’ gini belum tentu orang Padang itu yang pelit, tapi dianya aja yang mudah sekali minta-minta (profesinya pengemis kali).<br />
<br />
Dengan demikian stereotype orang Padang pelit ini seharusnya tak perlu lagi dijual sebagai komoditi, begitu juga stereotype untuk etnis-etnis lainnya, karena sudah jelas penggeneralisasian ini adalah pekerjaan bodoh yang hanya dilakukan oleh orang-orang bodoh, sayangnya orang bodoh itu tak pula orang Indonesia, tapi dari pinggiran Sungai Gangga (India). Dengan kerajaan bisnis hiburannya dia menghitamputihkan dan menggoblok-goblokkan orang Indonesia, dan orang Indonesianya diam saja, malah ikut tertawa-tawa.<br />
<br />
Jadi yang bodoh siapa? Kita juga pada akhirnya. Bangunlah kawan, jangan kau biarkan orang menertawakan bangsamu sesukanya!<br />
<br />
sumber : <a href="http://bukanaul.blogspot.com/2010/11/orang-padang-pelit.html" rel="nofollow" target="_blank">http://bukanaul.blogspot.com/2010/11/ora...pelit.html</a>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Siswi SMA 9 Padang Mesum di dalam Mobil di Tangkap Warga ]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Siswi-SMA-9-Padang-Mesum-di-dalam-Mobil-di-Tangkap-Warga</link>
			<pubDate>Sat, 07 Jul 2012 04:40:48 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Siswi-SMA-9-Padang-Mesum-di-dalam-Mobil-di-Tangkap-Warga</guid>
			<description><![CDATA[<a href="http://4.bp.blogspot.com/-bBWHuK5SUkE/T_RPyRrXifI/AAAAAAAAANs/XSV-qMtSyzw/s1600/mobil+mesum+sma9+padang.JPG" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://4.bp.blogspot.com/-bBWHuK5SUkE/T_RPyRrXifI/AAAAAAAAANs/XSV-qMtSyzw/s320/mobil+mesum+sma9+padang.JPG" border="0" alt="[Image: mobil+mesum+sma9+padang.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
<span style="font-size: xx-small;">mobil yang digunakan mesum oleh siswi SMA 9 Padang </span><br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Klikminang.com-</span> <span style="font-style: italic;"><span style="font-weight: bold;">Siswi SMA 9 Padang mesum </span></span>dalam mobil (sedan <span style="font-weight: bold;">Honda BA 466 UM</span>)<br />
di tangkap warga.(4/07/2012) sekitar jam 11.30 . siswi SMA 9 mesum <br />
dalam mobil di jalur dua kampus Unand, tepatnya di dekat simpang ke <br />
kampung Duri Keplao Koto, Pauh. <br />
<br />
<br />
Menurut sumber yang tidak mau disebutkan, pasangan mesum tersebut yang <br />
perempuan adalah siswi SMA9 Padang dan pasangan laki-lakinya adalah anak<br />
salah satu anggota Dewan(DPRD Kota Padang). pemuda yang sebelumnya <br />
tidak curiga dengan mobil yang berhenti di pinggir jalan, akan tetapi <br />
beberapa lama kemudin, pemuda melihat mobil tersebut bergoyang-goyang. <br />
<br />
melihat hal yang demikian pemuda kampung Duri yang kebetulan sedang <span style="font-style: italic;">kongkow</span> di<br />
pos ronda mendekati mobil yang terparkir di pi9nggir jalan jalur dua <br />
kampus Unand tersebut. setelah di dekati oleh beberapa pemuda Kampung <br />
Duri, ternyat dilihat di dalam terdapat siswi SMA sedang berhubungan <br />
suami istri(<span style="font-style: italic;">mesum</span>). melihat hal tersebut para pemuda lngsung <br />
menggedor pintu mobil. akibatnya kedua ABG SMA 9 yang sedang <br />
berhubungan suami istri kaget. <br />
<br />
<br />
Menurut salah seorang pemuda <br />
kampung Duri, mereka melihat dalam mobil tersebut, yang ternyata di <br />
dalamnya kedua pelajar SMA( tersebut bugil dan sedang melakukan hubungan<br />
suami istri.<br />
<br />
<br />
<a href="http://1.bp.blogspot.com/-cTdjQmk8sU4/T_RVxyfSyBI/AAAAAAAAAOE/3JaCK9pNxJ0/s1600/warga+kpeung+anak+sma+9+mesum+di+dalam+rumah+salah+satu+warga.JPG" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://1.bp.blogspot.com/-cTdjQmk8sU4/T_RVxyfSyBI/AAAAAAAAAOE/3JaCK9pNxJ0/s320/warga+kpeung+anak+sma+9+mesum+di+dalam+rumah+salah+satu+warga.JPG" border="0" alt="[Image: warga+kpeung+anak+sma+9+mesum+di+dalam+r...+warga.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
<span style="font-size: xx-small;">Warga berjubel ingin melihat wajah <br />
siswi mesum, akan tetapi mereka tidak dapat melihat langsung wajah <br />
pasangan mesum tersebut karean telah di amankan ke dalasm rumah.</span><br />
<br />
<br />
<br />
Kemudian pemuda kampung duri tersebut menggiring ke dua pelajar SMA 9 <br />
padang tersebut ke salah satu rumah warga. untuk diamankan. agar <br />
terhindar dari tindak anarkis warga yang lain, yang mulai berdatangan. <br />
warga berjubel setelah mendengar berita adanya siswi SMA 9 ketangkep <br />
Basah sedang mesum di dalam mobil.<br />
<br />
<br />
<a href="http://2.bp.blogspot.com/-32FN9I-MqUA/T_RSEDqpKBI/AAAAAAAAAN0/Cmfazh9BNHs/s1600/warga+gerebek+anak+sma+9+mesum.JPG" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-32FN9I-MqUA/T_RSEDqpKBI/AAAAAAAAAN0/Cmfazh9BNHs/s320/warga+gerebek+anak+sma+9+mesum.JPG" border="0" alt="[Image: warga+gerebek+anak+sma+9+mesum.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
Dari pengamat <a href="http://padangnews.com/" rel="nofollow" target="_blank">padangnews.com</a> dilapangan,<br />
banyak warga yang berdatangan untuk melihat lebih dekat siapa <br />
sebenarnya dan bagaimana wajah siswi SMA 9 yang sedang mesum tersebut. <br />
akibatnya jalan menuju dan dari kampus Unand macet.<br />
<br />
<br />
beberapa saat kemudian polisi pauh datang untuk mengamnkan keadaan dan<br />
mencegah agar warag tak berbuat anarkis dan main hakim sendiri. <br />
rencananya pemuda bersepakat untuk mengarak siswi SMA 9 dan pasanganya <br />
ke kantor polisi Pauh. mereka tidsak dilepas sampai kedua orang tua yang<br />
bersangkutan datang ke Polsek Pauh. Pemuda Kampung Duri memberi hukuman<br />
adat dengan mengaraknya ek kantor POlisi Pauh, dan denda yang di <br />
sepakati antara pemuda Kampung Duri dan pihak kedua pasangan mesum <br />
tersebut.(Ary/Padangnews.com)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://4.bp.blogspot.com/-bBWHuK5SUkE/T_RPyRrXifI/AAAAAAAAANs/XSV-qMtSyzw/s1600/mobil+mesum+sma9+padang.JPG" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://4.bp.blogspot.com/-bBWHuK5SUkE/T_RPyRrXifI/AAAAAAAAANs/XSV-qMtSyzw/s320/mobil+mesum+sma9+padang.JPG" border="0" alt="[Image: mobil+mesum+sma9+padang.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
<span style="font-size: xx-small;">mobil yang digunakan mesum oleh siswi SMA 9 Padang </span><br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Klikminang.com-</span> <span style="font-style: italic;"><span style="font-weight: bold;">Siswi SMA 9 Padang mesum </span></span>dalam mobil (sedan <span style="font-weight: bold;">Honda BA 466 UM</span>)<br />
di tangkap warga.(4/07/2012) sekitar jam 11.30 . siswi SMA 9 mesum <br />
dalam mobil di jalur dua kampus Unand, tepatnya di dekat simpang ke <br />
kampung Duri Keplao Koto, Pauh. <br />
<br />
<br />
Menurut sumber yang tidak mau disebutkan, pasangan mesum tersebut yang <br />
perempuan adalah siswi SMA9 Padang dan pasangan laki-lakinya adalah anak<br />
salah satu anggota Dewan(DPRD Kota Padang). pemuda yang sebelumnya <br />
tidak curiga dengan mobil yang berhenti di pinggir jalan, akan tetapi <br />
beberapa lama kemudin, pemuda melihat mobil tersebut bergoyang-goyang. <br />
<br />
melihat hal yang demikian pemuda kampung Duri yang kebetulan sedang <span style="font-style: italic;">kongkow</span> di<br />
pos ronda mendekati mobil yang terparkir di pi9nggir jalan jalur dua <br />
kampus Unand tersebut. setelah di dekati oleh beberapa pemuda Kampung <br />
Duri, ternyat dilihat di dalam terdapat siswi SMA sedang berhubungan <br />
suami istri(<span style="font-style: italic;">mesum</span>). melihat hal tersebut para pemuda lngsung <br />
menggedor pintu mobil. akibatnya kedua ABG SMA 9 yang sedang <br />
berhubungan suami istri kaget. <br />
<br />
<br />
Menurut salah seorang pemuda <br />
kampung Duri, mereka melihat dalam mobil tersebut, yang ternyata di <br />
dalamnya kedua pelajar SMA( tersebut bugil dan sedang melakukan hubungan<br />
suami istri.<br />
<br />
<br />
<a href="http://1.bp.blogspot.com/-cTdjQmk8sU4/T_RVxyfSyBI/AAAAAAAAAOE/3JaCK9pNxJ0/s1600/warga+kpeung+anak+sma+9+mesum+di+dalam+rumah+salah+satu+warga.JPG" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://1.bp.blogspot.com/-cTdjQmk8sU4/T_RVxyfSyBI/AAAAAAAAAOE/3JaCK9pNxJ0/s320/warga+kpeung+anak+sma+9+mesum+di+dalam+rumah+salah+satu+warga.JPG" border="0" alt="[Image: warga+kpeung+anak+sma+9+mesum+di+dalam+r...+warga.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
<span style="font-size: xx-small;">Warga berjubel ingin melihat wajah <br />
siswi mesum, akan tetapi mereka tidak dapat melihat langsung wajah <br />
pasangan mesum tersebut karean telah di amankan ke dalasm rumah.</span><br />
<br />
<br />
<br />
Kemudian pemuda kampung duri tersebut menggiring ke dua pelajar SMA 9 <br />
padang tersebut ke salah satu rumah warga. untuk diamankan. agar <br />
terhindar dari tindak anarkis warga yang lain, yang mulai berdatangan. <br />
warga berjubel setelah mendengar berita adanya siswi SMA 9 ketangkep <br />
Basah sedang mesum di dalam mobil.<br />
<br />
<br />
<a href="http://2.bp.blogspot.com/-32FN9I-MqUA/T_RSEDqpKBI/AAAAAAAAAN0/Cmfazh9BNHs/s1600/warga+gerebek+anak+sma+9+mesum.JPG" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-32FN9I-MqUA/T_RSEDqpKBI/AAAAAAAAAN0/Cmfazh9BNHs/s320/warga+gerebek+anak+sma+9+mesum.JPG" border="0" alt="[Image: warga+gerebek+anak+sma+9+mesum.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
Dari pengamat <a href="http://padangnews.com/" rel="nofollow" target="_blank">padangnews.com</a> dilapangan,<br />
banyak warga yang berdatangan untuk melihat lebih dekat siapa <br />
sebenarnya dan bagaimana wajah siswi SMA 9 yang sedang mesum tersebut. <br />
akibatnya jalan menuju dan dari kampus Unand macet.<br />
<br />
<br />
beberapa saat kemudian polisi pauh datang untuk mengamnkan keadaan dan<br />
mencegah agar warag tak berbuat anarkis dan main hakim sendiri. <br />
rencananya pemuda bersepakat untuk mengarak siswi SMA 9 dan pasanganya <br />
ke kantor polisi Pauh. mereka tidsak dilepas sampai kedua orang tua yang<br />
bersangkutan datang ke Polsek Pauh. Pemuda Kampung Duri memberi hukuman<br />
adat dengan mengaraknya ek kantor POlisi Pauh, dan denda yang di <br />
sepakati antara pemuda Kampung Duri dan pihak kedua pasangan mesum <br />
tersebut.(Ary/Padangnews.com)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Pudarnya Bahasa Minang]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Pudarnya-Bahasa-Minang--16598</link>
			<pubDate>Sat, 23 Jun 2012 04:17:26 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Pudarnya-Bahasa-Minang--16598</guid>
			<description><![CDATA[Seperti kita ketahui, Bahasa Minang atau sering di katakan dengan<br />
Bahasa Padang adalah merupakan bahasa resmi yang di pakai sehari-hari <br />
oleh masyarakat Sumatera Barat. Ini adalah merupakan identitas tidak <br />
resmi bagi masyarakat Minang. Kenapa tidak, karena bahas ini mempunyai <br />
ciri khusus dari dialek pengucapannya. Bahkan ketika seseorang orang <br />
Minang ini menuturkan Bahasa Indonesia, acap kali mereka akan ketahuan <br />
kalau mereka ini adalah orang Minang.<br />
<br />
Bahasa Minang secara umum memiki ciri tersendiri dari sekian banyak <br />
bahasa dari berbagai suku bangsa di Nusantara ini. Namun secara <br />
spesifik, sebenarnaya bahasa ini mempunyai beragam kosakata dan dialek <br />
dalam penguucapannya, tergantung daerah dimana seseorang tersebut <br />
tinggal. Seperti, Bahasa Minang, di Kota Bukittinggi (Bahasa Kurai), <br />
Bahasa Minang di Payakumbuh dan Kab. 50 Kota, Bahasa Minang di Kab. <br />
Tanah Datar (Batusangkar), Bahasa Minang pesisir (untuk orang-orang yang<br />
<a href="http://karimudo.files.wordpress.com/2010/12/rumah-adat-rumah-gadang-koto-piliang-sitinjau-lauikragam-luhak0tanah-datar1.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://karimudo.files.wordpress.com/2010/12/rumah-adat-rumah-gadang-koto-piliang-sitinjau-lauikragam-luhak0tanah-datar1.jpg?w=150&#x26;h=100" border="0" alt="[Image: rumah-adat-rumah-gadang-koto-piliang-sit...&amp;h=100]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a> <br />
tinggal di sepanjang pesisir pantai wilayah Sumatera Barat).<br />
<br />
Namun sungguhpun ragam dalam Bahasa Minang tersebut cukup banyak, <br />
akan tetapi setiap orang Minang ini dapat berkomunikasi sesame mereka <br />
dengan menggunakan bahasa mereka sendiri-sendiri. Dan kebanyakan dari <br />
mereka dapat mengetahui daerah asal lawan bicara mereka dari hanya <br />
mendengarkan dialek yang digunakan.<br />
<br />
Namun sayangnya, penggunaan Bahasa Minang ini dapat dirasakan telah <br />
mulai memudar, bukan hanya di luar Sumatera Minang saja bahkan di daerah<br />
asalnya sendiripun. Walaupun sebagian besar dari mereka yang tinggal di<br />
wilayah Sumatera Barat masih fasih ber-Bahasa Minang, namun ciri dari <br />
dialek asal mereka telah mulai berkurang, bahkan sekarang Bahasa Minang <br />
sekarang ini nyaris telah menjadi satu, tanpa ada perbedaan kosakata <br />
maupun dialeknya masing-masing.<br />
<br />
Mungkin beberapa faktor yang mempengaruhi pudarnya Bahasa Minang ini <br />
adalah, banyaknya orang minang yang pergi merantau ke luar dari Sumatera<br />
Barat, seperti, Jakarta, Medan, Surabaya, dan banyak lagi kota-kota <br />
maupun daerah di Nusantara ini, bahkan sampai ke luar negeri. Sehingga <br />
mereka yang telah lama tinggal dan menetap di rantau, telah <br />
terkontaminasi dengan bahasa yang di pergunakan sehari-hari di tempat <br />
mereka tinggal dan menetap tersebut. Dan kebanyakan dari keturunan <br />
mereka ini tidak dapat menuturkan Bahasa Minang ini, walaupun sebagian <br />
dari mereka dapat memahaminya.<br />
<br />
Faktor kedua dapat dipengaruhi dari kebiaasaan ‘orang sekarang’ yang <br />
mengajarkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu dalam kehidupan <br />
sehari-hari kepada anak-anak mereka. Inilah sebenarnya faktor penyebab <br />
yang amat disayangkan sekali, bagaimana tidak, mungkin bagi mereka yang <br />
pergi merantau ke luar daerah, dan tidak lagi fasih dalam menuturkan <br />
Bahasa Minang, masih dapat dimaklumi. Namun bagi mereka yang tinggal di <br />
kampung halaman, yang seharusnya menjaga dan melestarikan budaya <br />
sendiri, justru merekalah yang menyebabkan pudarnya suatu budaya <br />
tersebut.<br />
<br />
Dengan cara mereka mengajarkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu <br />
kepada anak-anaknya, walaupun dengan alas an “toh mereka kelak aan dapat<br />
mempelajarinya dari pergaulan sehari-hari”. Namun apabila di suatu <br />
kawasan hunian telah berbuat hal yang sama, apakah anak-anak mereka ini <br />
masih dapat belajar Bahasa Minang sesuai dengan dialek sebagai ciri khas<br />
asal mereka…????<br />
<br />
Jangankan mereka yang dari kecil yang diajarkan dengan Bahasa <br />
Indonesia sebagai bahasa ibu, sedangkan mereka yang dari kecil diajarkan<br />
dengan ber-Bahasa Minang saja, masih saja beberapa kosakata-kosakata <br />
lama dari Bahasa Minang sangat jarang kita dengarkan. Apalagi mereka <br />
yang dari kecil tidak pernah mengenal Bahasa Minang.<br />
<br />
Ironis memang, namun inilah fakta yang sering kita temui pada ssat <br />
ini, dan ini dapat berpengaruh terhadap unsure-unsur budaya yang lain. <br />
Kenapa tidak, untuk hanya sekedar bahasa saja mereka sudah mulai <br />
melupakan, bagaimana dengan unsure-unsur budaya yang lain…????<br />
<br />
Mungkin seharusnya kita dapat belajar dari suku bangsa lain di <br />
Nusantara ini, bagaimana mereka dapat menjaga eksistensi budaya mereka. <br />
Contohnya seperti orang Batak, sampai saat ini mereka dapat menjaga <br />
kebiasaan budaya mereka, walaupun mereka ini tinggal dan menetap di luar<br />
daerah asal mereka. Bagaimana dengan kita….????<br />
<br />
Wallahu’lam…<br />
<br />
sumber : <a href="http://karimudo.wordpress.com/2010/12/08/pudarnya-bahasa-minang/" rel="nofollow" target="_blank">http://karimudo.wordpress.com/2010/12/08...sa-minang/</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Seperti kita ketahui, Bahasa Minang atau sering di katakan dengan<br />
Bahasa Padang adalah merupakan bahasa resmi yang di pakai sehari-hari <br />
oleh masyarakat Sumatera Barat. Ini adalah merupakan identitas tidak <br />
resmi bagi masyarakat Minang. Kenapa tidak, karena bahas ini mempunyai <br />
ciri khusus dari dialek pengucapannya. Bahkan ketika seseorang orang <br />
Minang ini menuturkan Bahasa Indonesia, acap kali mereka akan ketahuan <br />
kalau mereka ini adalah orang Minang.<br />
<br />
Bahasa Minang secara umum memiki ciri tersendiri dari sekian banyak <br />
bahasa dari berbagai suku bangsa di Nusantara ini. Namun secara <br />
spesifik, sebenarnaya bahasa ini mempunyai beragam kosakata dan dialek <br />
dalam penguucapannya, tergantung daerah dimana seseorang tersebut <br />
tinggal. Seperti, Bahasa Minang, di Kota Bukittinggi (Bahasa Kurai), <br />
Bahasa Minang di Payakumbuh dan Kab. 50 Kota, Bahasa Minang di Kab. <br />
Tanah Datar (Batusangkar), Bahasa Minang pesisir (untuk orang-orang yang<br />
<a href="http://karimudo.files.wordpress.com/2010/12/rumah-adat-rumah-gadang-koto-piliang-sitinjau-lauikragam-luhak0tanah-datar1.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://karimudo.files.wordpress.com/2010/12/rumah-adat-rumah-gadang-koto-piliang-sitinjau-lauikragam-luhak0tanah-datar1.jpg?w=150&h=100" border="0" alt="[Image: rumah-adat-rumah-gadang-koto-piliang-sit...&amp;h=100]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a> <br />
tinggal di sepanjang pesisir pantai wilayah Sumatera Barat).<br />
<br />
Namun sungguhpun ragam dalam Bahasa Minang tersebut cukup banyak, <br />
akan tetapi setiap orang Minang ini dapat berkomunikasi sesame mereka <br />
dengan menggunakan bahasa mereka sendiri-sendiri. Dan kebanyakan dari <br />
mereka dapat mengetahui daerah asal lawan bicara mereka dari hanya <br />
mendengarkan dialek yang digunakan.<br />
<br />
Namun sayangnya, penggunaan Bahasa Minang ini dapat dirasakan telah <br />
mulai memudar, bukan hanya di luar Sumatera Minang saja bahkan di daerah<br />
asalnya sendiripun. Walaupun sebagian besar dari mereka yang tinggal di<br />
wilayah Sumatera Barat masih fasih ber-Bahasa Minang, namun ciri dari <br />
dialek asal mereka telah mulai berkurang, bahkan sekarang Bahasa Minang <br />
sekarang ini nyaris telah menjadi satu, tanpa ada perbedaan kosakata <br />
maupun dialeknya masing-masing.<br />
<br />
Mungkin beberapa faktor yang mempengaruhi pudarnya Bahasa Minang ini <br />
adalah, banyaknya orang minang yang pergi merantau ke luar dari Sumatera<br />
Barat, seperti, Jakarta, Medan, Surabaya, dan banyak lagi kota-kota <br />
maupun daerah di Nusantara ini, bahkan sampai ke luar negeri. Sehingga <br />
mereka yang telah lama tinggal dan menetap di rantau, telah <br />
terkontaminasi dengan bahasa yang di pergunakan sehari-hari di tempat <br />
mereka tinggal dan menetap tersebut. Dan kebanyakan dari keturunan <br />
mereka ini tidak dapat menuturkan Bahasa Minang ini, walaupun sebagian <br />
dari mereka dapat memahaminya.<br />
<br />
Faktor kedua dapat dipengaruhi dari kebiaasaan ‘orang sekarang’ yang <br />
mengajarkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu dalam kehidupan <br />
sehari-hari kepada anak-anak mereka. Inilah sebenarnya faktor penyebab <br />
yang amat disayangkan sekali, bagaimana tidak, mungkin bagi mereka yang <br />
pergi merantau ke luar daerah, dan tidak lagi fasih dalam menuturkan <br />
Bahasa Minang, masih dapat dimaklumi. Namun bagi mereka yang tinggal di <br />
kampung halaman, yang seharusnya menjaga dan melestarikan budaya <br />
sendiri, justru merekalah yang menyebabkan pudarnya suatu budaya <br />
tersebut.<br />
<br />
Dengan cara mereka mengajarkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu <br />
kepada anak-anaknya, walaupun dengan alas an “toh mereka kelak aan dapat<br />
mempelajarinya dari pergaulan sehari-hari”. Namun apabila di suatu <br />
kawasan hunian telah berbuat hal yang sama, apakah anak-anak mereka ini <br />
masih dapat belajar Bahasa Minang sesuai dengan dialek sebagai ciri khas<br />
asal mereka…????<br />
<br />
Jangankan mereka yang dari kecil yang diajarkan dengan Bahasa <br />
Indonesia sebagai bahasa ibu, sedangkan mereka yang dari kecil diajarkan<br />
dengan ber-Bahasa Minang saja, masih saja beberapa kosakata-kosakata <br />
lama dari Bahasa Minang sangat jarang kita dengarkan. Apalagi mereka <br />
yang dari kecil tidak pernah mengenal Bahasa Minang.<br />
<br />
Ironis memang, namun inilah fakta yang sering kita temui pada ssat <br />
ini, dan ini dapat berpengaruh terhadap unsure-unsur budaya yang lain. <br />
Kenapa tidak, untuk hanya sekedar bahasa saja mereka sudah mulai <br />
melupakan, bagaimana dengan unsure-unsur budaya yang lain…????<br />
<br />
Mungkin seharusnya kita dapat belajar dari suku bangsa lain di <br />
Nusantara ini, bagaimana mereka dapat menjaga eksistensi budaya mereka. <br />
Contohnya seperti orang Batak, sampai saat ini mereka dapat menjaga <br />
kebiasaan budaya mereka, walaupun mereka ini tinggal dan menetap di luar<br />
daerah asal mereka. Bagaimana dengan kita….????<br />
<br />
Wallahu’lam…<br />
<br />
sumber : <a href="http://karimudo.wordpress.com/2010/12/08/pudarnya-bahasa-minang/" rel="nofollow" target="_blank">http://karimudo.wordpress.com/2010/12/08...sa-minang/</a>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Kedai Tuak Kian Menjamur]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Kedai-Tuak-Kian-Menjamur</link>
			<pubDate>Mon, 11 Jun 2012 05:27:42 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Kedai-Tuak-Kian-Menjamur</guid>
			<description><![CDATA[<div align="left"><span style="font-weight: bold;">WARGA RESAH</span></div>
<div align="left"><span style="font-weight: bold;">PADANG, HALUAN —</span> Mudahnya mendapatkan <br />
minuman beralkohol atau minuman keras (miras), membut warga semakin <br />
resah. Tuak misalnya, minuman khas batak itu, di Kota Padang semakin <br />
menjamur.</div>
<div align="left">Salah seorang warga Parupuk Tabing, Kecamatan Padang <br />
Utara yang tinggal di sekitar lapau tuak tersebut, Masriani (46) <br />
mengaku, keberadaan lapau tuak yang semakin banyak sangat menggangu <br />
kenyamanan, khususnya pada malam hari.<br />
<br />
<br />
</div>
<div align="left">“Saat malam hari, pengunjung lapau tuak yang ada di <br />
sekitar pantai, masih saja mengganggu pen­dengaran. Mereka sering <br />
menyan­yi dengan suara yang tinggi. Selain itu, mereka sering <span style="font-style: italic;">tenggen </span>dan mengganggu warga yang ada di sekitar lapau,” katanya.</div>
<div align="left">Hal sedana juga disampaikan oleh warga yang tinggal di <br />
pinggiran pantai Purus, Kecamatan Padang Barat, Sandia Wulandari (55). <br />
Ia mengatakan, keberadaan kedai tuak yang semakin banyak, membuat warga <br />
resah. Apabila para pe­minum tuak sudah teler, akan mengganggu warga <br />
yang tinggal di sekitar lapau tersebut.</div>
<div align="left">“Biasanya, kalau mereka sudah teler, mereka akan berbicara keras-keras. Kalau ditegur, nanti takutnya mereka marah,” ujarnya.</div>
<div align="left">Menurut pantauan <span style="font-style: italic;">Haluan</span>, daerah pinggiran <br />
pantai Kota Padang banyak dijumpai kedai tuak. Seperti di daerah Parupuk<br />
Tabing, Lubuk Buaya dan daerah Padang Barat. Kedai-kedai tuak sering <br />
dipenuhi oleh para peminum yang mayoritas bapak-bapak, dan pemuda.</div>
<div align="left">Biasanya, mereka datang ke kedai tuak pada waktu sore <br />
hari, dan kembali dari kedai tuak pada malam hari (hingga larut malam <br />
atau subuh). Untuk menambah daya tarik, pemilik kedai tuak sering juga <br />
menyediakan makanan pelezat (tambul), dan permainan seperti permainan <br />
judi.</div>
<div align="left">Warga berharap, semakin ban­yak­nya berdiri kedai-kedai <br />
tuak tersebut, pemerintah harus segera menertibkannya. Agar kenyamanan <br />
warga yang tinggal di sekitar kedai, bisa merasakan keamanan dan <br />
kenyamanan.</div>
“Kalau dibiarkan, warga kha­watir mereka akan menambah lapau tuak <br />
lagi. Hal itu membuat warga akan semakin terganggu,” ujar Masriani. <span style="font-weight: bold;">(h/cw-wis)</span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="left"><span style="font-weight: bold;">WARGA RESAH</span></div>
<div align="left"><span style="font-weight: bold;">PADANG, HALUAN —</span> Mudahnya mendapatkan <br />
minuman beralkohol atau minuman keras (miras), membut warga semakin <br />
resah. Tuak misalnya, minuman khas batak itu, di Kota Padang semakin <br />
menjamur.</div>
<div align="left">Salah seorang warga Parupuk Tabing, Kecamatan Padang <br />
Utara yang tinggal di sekitar lapau tuak tersebut, Masriani (46) <br />
mengaku, keberadaan lapau tuak yang semakin banyak sangat menggangu <br />
kenyamanan, khususnya pada malam hari.<br />
<br />
<br />
</div>
<div align="left">“Saat malam hari, pengunjung lapau tuak yang ada di <br />
sekitar pantai, masih saja mengganggu pen­dengaran. Mereka sering <br />
menyan­yi dengan suara yang tinggi. Selain itu, mereka sering <span style="font-style: italic;">tenggen </span>dan mengganggu warga yang ada di sekitar lapau,” katanya.</div>
<div align="left">Hal sedana juga disampaikan oleh warga yang tinggal di <br />
pinggiran pantai Purus, Kecamatan Padang Barat, Sandia Wulandari (55). <br />
Ia mengatakan, keberadaan kedai tuak yang semakin banyak, membuat warga <br />
resah. Apabila para pe­minum tuak sudah teler, akan mengganggu warga <br />
yang tinggal di sekitar lapau tersebut.</div>
<div align="left">“Biasanya, kalau mereka sudah teler, mereka akan berbicara keras-keras. Kalau ditegur, nanti takutnya mereka marah,” ujarnya.</div>
<div align="left">Menurut pantauan <span style="font-style: italic;">Haluan</span>, daerah pinggiran <br />
pantai Kota Padang banyak dijumpai kedai tuak. Seperti di daerah Parupuk<br />
Tabing, Lubuk Buaya dan daerah Padang Barat. Kedai-kedai tuak sering <br />
dipenuhi oleh para peminum yang mayoritas bapak-bapak, dan pemuda.</div>
<div align="left">Biasanya, mereka datang ke kedai tuak pada waktu sore <br />
hari, dan kembali dari kedai tuak pada malam hari (hingga larut malam <br />
atau subuh). Untuk menambah daya tarik, pemilik kedai tuak sering juga <br />
menyediakan makanan pelezat (tambul), dan permainan seperti permainan <br />
judi.</div>
<div align="left">Warga berharap, semakin ban­yak­nya berdiri kedai-kedai <br />
tuak tersebut, pemerintah harus segera menertibkannya. Agar kenyamanan <br />
warga yang tinggal di sekitar kedai, bisa merasakan keamanan dan <br />
kenyamanan.</div>
“Kalau dibiarkan, warga kha­watir mereka akan menambah lapau tuak <br />
lagi. Hal itu membuat warga akan semakin terganggu,” ujar Masriani. <span style="font-weight: bold;">(h/cw-wis)</span>]]></content:encoded>
		</item>
	</channel>
</rss>