<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
	<channel>
		<title><![CDATA[Minang Forum - Heart to Heart]]></title>
		<link>http://www.minangforum.com/</link>
		<description><![CDATA[Minang Forum - http://www.minangforum.com]]></description>
		<pubDate>Sun, 26 May 2013 03:31:25 +0000</pubDate>
		<generator>MyBB</generator>
		<item>
			<title><![CDATA[”Aku bukan Padang Bengkok”]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-%E2%80%9DAku-bukan-Padang-Bengkok%E2%80%9D</link>
			<pubDate>Mon, 10 Dec 2012 03:32:10 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-%E2%80%9DAku-bukan-Padang-Bengkok%E2%80%9D</guid>
			<description><![CDATA[Stevan Buana, Perupa Minang yang Menasional<br />
&lt;img src="http://padangekspres.co.id/up/berita/08122012124607boks2.jpg" alt="Stevan Buana bersama karyanya ”Aku Bukan Padang Bengkok”" title="klik untuk memperbesar" align="left" width="280" /&gt;<br />
<div align="justify"><span style="font-weight: bold;">Puluhan<br />
karya lukis menghiasi galery pameran Sumatera Binneale Self-Discovering<br />
2012 di Taman Budaya Padang. Salah satu lukisan paling menarik, <br />
tergantung di ruang tengah galery. Itulah karya Stevan Buana, salah <br />
seorang seniman Ranah Minang yang telah melalang buana di pentas seni <br />
rupa internasional.</span></div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify"><span style="font-weight: bold;">BAGI </span>orang awam, boleh jadi lu­kisan karya Stevan Buana berjudul <span style="font-style: italic;">Aku bu­kan Padang Bengkok </span>itu,<br />
tidak ber­ni­lai. Hasil karya alumni Sekolah Me­ne­ngah Seni Rupa <br />
(Sekarang SMK Ne­geri 4 Padang) tahun 1992 itu, hanya berupa celana <br />
randai kusam yang digantung dengan kawat berkarat.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Namun setelah diresapi lebih dalam, <br />
karya seni berukuran 100 x 150 cm itu, menyampaikan beribu pesan. Pesan <br />
itu dirangkum dalam pantun yang mengisahkan sejarah panjang Pemerintahan<br />
Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Bahasa pantun yang ditulis <br />
dengan tinta emas dan perak itu, menyindir rezim Soekarno. Pantun itu <br />
berbunyi:</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify"><span style="font-style: italic;">“PRRI ada bukan ingin lepas dari NKRI, tapi karena Soekarno ingkar janji</span>.</div>
<div align="justify"><span style="font-style: italic;">Kami tahu PRRI membuat Soe­kar­no panas, tapi jangan membuat hatinya menangis</span>.</div>
<div align="justify"><span style="font-style: italic;">Ini sejarah keberanian putra Andalas akan selalu kutulis dengan tinta emas.”</span></div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify"><span style="font-style: italic;">Aku bukan Padang Bengkok</span>, kata <br />
Stevan Buana, bentuk protesnya terhadap sejarah Minang yang dipelintir <br />
penguasa. Karya ini, juga bentuk sakit hati Stevan sebagai orang Minang,<br />
dan ketidakmengertian kenapa stigma ini ada.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Keinginan orang Minang melalui PRRI, <br />
kata Stevan, disikapi Soekarno dengan menciptakan imej bahwa orang <br />
Minang ingin melepaskan diri dari NKRI alias pemberontak. “Jadi, atas <br />
dasar inilah saya menciptakan karya <span style="font-style: italic;">Aku bukan</span> <span style="font-style: italic;">Padang Bengkok</span>,” kata Steven saat ditemui <span style="font-style: italic;">Padang Ekspres</span> di sela-sela Binneale Self-Discovering 2012 di Taman Budaya Padang, yang berlangsung 5-15 Desember mendatang.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Deskripsi karya Stevan benar-benar unik.<br />
Celana randai, sebagai cermin orang Minang identik dengan keberanian. <br />
Kemudian gantungan celana terbuat dari kawat berduri berkarat, sebagai <br />
simbol tiga dari empat pendiri bangsa Indonesia berasal dari Minang. <br />
Yakni Bung Hatta, Tan Malaka dan Sutan Sjahrir.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Simbol lain dari gantungan kawat berduri<br />
berkarat, adalah gambaran sebelum negeri ini berdiri, orang Minang <br />
sangat harmonis. Tapi setelah negara ini merdeka, atau saat meletusnya <br />
PRRI, orang Minang seolah dipunggungi. “Artinya, tidak merasa <br />
diorangkan,” kata Stevan.</div>
<div align="justify"><span style="font-weight: bold;"> </span></div>
<div align="justify"><span style="font-weight: bold;">Anak Tentara</span></div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Stevan Buana adalah anak ketujuh dari <br />
delapan bersaudara pasangan Kapten (Mar) Purn Sjahminan (alm) dan <br />
Halimah, 65. Pria yang memiliki tato di badan hingga lengan ini, <br />
dilahirkan di Silaiang Bawah, Kecamatan Padangpanjang Barat, Kota <br />
Padangpanjang pada 17 Februari 1971.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Bakat melukisnya sudah dimulai ketika <br />
berusia lima tahun. Saat itu, ayahnya yang seorang Marinir mengajaknya <br />
ke sebuah pelabuhan di Kepulauan Riau. Di pelabuhan itu, ia menyaksikan <br />
ayahnya membuat sketsa kapal. Melihat ayah melukis, ia mulai mencoba <br />
belajar melukis. Setamat SMP, ia pun masuk ke SMSR Padang.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Stevan Buana kecil sama sekali tidak <br />
ingin memiliki cita-cita sebagai pelukis. Bahkan, dari kecil ia sangat <br />
berminat sekali ingin menjadi TNI. Namun, cita-cita itu ditolak <br />
mentah-mentah oleh sang ibu, Halimah, karena sudah banyak kerabatnya <br />
menjadi TNI .</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Stevan kecil harus mengikuti langkah <br />
sang ayah yang berpindah-pindah tugas. Untuk SD saja, Stevan Buana <br />
mencoba tiga sekolah. Pertama tahun 1976, SD Inpres di Pulau Belalang, <br />
Provinsi Kepulauan Riau. Tidak sampai dua tahun di SD itu, ia pindah ke <br />
kampunganya dan mendaftarkan diri di SD Negeri 2, Kabun Sikolos <br />
Padangpanjang, karena orangtuanya sudah pensiun dari TNI AL.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Tidak berapa lama di SD Negeri 2, dia <br />
diajak pamannya tinggal di Palembang. Stevan kecil pun terpaksa <br />
melanjutkan sekolahnya di SD Persit (Persatuan Istri Prajurit) di <br />
Palembang, sampai akhirnya tamat di SD tersebut. Setamat di SD Persit <br />
tahun 1995, dia kembali ke Padangpanjang dan masuk SMP Negeri 1 <br />
Padangpanjang. “Di SMP Negeri 1 Padangpanjang inilah saya menemukan <br />
sesosok guru yang mengarahkan saya, sehingga terjun di dunia seni rupa. <br />
Ibu Tutik namanya. Beliau menyarankan saya masuk SMSR. Lukisan jeruk <br />
saya buat saat mata pelajaran menggambar, dipuji belay karena sangat <br />
mirip dengan aslinya,” kenang Stevan.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Setamat SMSR 1992, dia hijrah ke Jakarta<br />
dan pindah ke Bali. “Sejak saya tamat SMSR hingga sekarang, saya tidak <br />
pernah ketemu Ibu Tutik. Saya berusaha mencari beliau, tapi beliau tidak<br />
pernah saya temukan,” ujar Stevan.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Hampir setahun di Bali, Stevan mendapat <br />
kabar bahwa teman-teman semasa SMSR Padang banyak kuliah di Akademi Seni<br />
Rupa Indonesia (sekarang ISI Yogyakarta). Dia pun tidak mau kalah. <br />
Bermodalkan uang belasan ribu, dia berangkat ke Yogyakarta kuliah di <br />
ASRI Yogyakarta.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">“Ketika saya di Yogya, saya langsung <br />
menghubungi orangtua agar mengirimkan uang untuk biaya masuk kuliah. <br />
Ternyata, keinginan saya dikabulkan, saya pun kuliah semester I tahun <br />
1993 dengan jurusan seni rupa,” kenangnya.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Selama kuliah, dia tidak ingin membebani<br />
orangtuanya. Sepulang kuliah, dia melukis di Jalan Malioboro. Hasil <br />
lukisannya dijual mulai Rp 100 ribu sampai jutaan. Berkat kegigihannya, <br />
akhirnya Stevan berhasil menamatkan kuliahnya setelah 10 tahun. Pria <br />
dikarunia sepasang anak kembar ini, lulus ASRI Yogyakarta tanpa <br />
mengikuti acara seremonial wisuda. “Saya lulus, tapi tidak mengikuti <br />
wisuda karena saya kesal. Sebab, hampir semua dosen mempersulit saya <br />
lulus di ASRI,” ungkapnya.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify"><span style="font-weight: bold;">Seperti Jalan Tol</span></div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Semasa kuliah, Stevan terus memantapkan <br />
karirnya menjadi seorang pelukis. Bahkan, banyak dari karyanya <br />
diikutsertakan dalam pameran. Ketika di semester IV, dua karyanya meraih<br />
penghargaan terbaik di kompetisi Refleksi Zaman dan Kompetisi Dies <br />
Natalis. Untuk kompetisi refleksi, hasil karyanya berbahan arang dan <br />
kanvas berjudul <span style="font-style: italic;">Wajah Negeriku Kini. </span>Untukkompetisi Dies Natalis dengan bahan sama, karyanya berjudul <span style="font-style: italic;">Guratan Nasib Bangsaku Kini, </span>juga<br />
terbaik dalam kompetisi tersebut. “Saya juga pernah mengikuti Beppu <br />
Binneale di Jepang 2001. Kompetisi Indofood, Kompetisi Jakarta Aword, <br />
Kompetisi Baca Bandung, dan Kompetisi Flip Morris dan banyak lagi,” <br />
ujarnya.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Untuk menjadi terbaik, dirinya harus <br />
mengikuti berbagai kompetisi lukis. Dia mengibaratkan kompetisi itu sama<br />
dengan jalan tol. “Jika ingin kita dikenal melalui seni lukis, ya kita <br />
harus menempuh berbagai kompetisi. Kompetisi satu-satunya jalan paling <br />
cepat menjadi terkenal. Sama halnya dengan jalan tol. Jika tidak ingin <br />
terjebak macet di jalan, kita harus lewat jalan tol,” katanya <br />
berseloroh.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Stevan berpesan bahwa seni rupa, tidak <br />
hanya terdiri dari kanvas dan cat. Media apa pun bisa djadikan karya <br />
seni, tergantung konsepnya. Karya seni <span style="font-style: italic;">Aku bukan Padang Bengkok</span><br />
, adalah salah satu karya seni bukan berasal dari kanvas. Untuk itu, <br />
dia tetap menyerukan agar perupa Minang bisa bangkit dan bangun kembali <br />
Ranah Minang melalui karya seni.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Kini, Stevan hidup bahagia dengan adik <br />
tingkatnya sewaktu kuliah di ASRI Yogyakarta. Sehari-hari, Stevan <br />
disibukkan dengan aktivitasnya di Barak Seni Stevan di Yogyakarta, <br />
sanggar yang didirikannya beberapa tahun lalu. <span style="font-weight: bold;">(padangekspres)</span></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Stevan Buana, Perupa Minang yang Menasional<br />
&lt;img src="http://padangekspres.co.id/up/berita/08122012124607boks2.jpg" alt="Stevan Buana bersama karyanya ”Aku Bukan Padang Bengkok”" title="klik untuk memperbesar" align="left" width="280" /&gt;<br />
<div align="justify"><span style="font-weight: bold;">Puluhan<br />
karya lukis menghiasi galery pameran Sumatera Binneale Self-Discovering<br />
2012 di Taman Budaya Padang. Salah satu lukisan paling menarik, <br />
tergantung di ruang tengah galery. Itulah karya Stevan Buana, salah <br />
seorang seniman Ranah Minang yang telah melalang buana di pentas seni <br />
rupa internasional.</span></div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify"><span style="font-weight: bold;">BAGI </span>orang awam, boleh jadi lu­kisan karya Stevan Buana berjudul <span style="font-style: italic;">Aku bu­kan Padang Bengkok </span>itu,<br />
tidak ber­ni­lai. Hasil karya alumni Sekolah Me­ne­ngah Seni Rupa <br />
(Sekarang SMK Ne­geri 4 Padang) tahun 1992 itu, hanya berupa celana <br />
randai kusam yang digantung dengan kawat berkarat.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Namun setelah diresapi lebih dalam, <br />
karya seni berukuran 100 x 150 cm itu, menyampaikan beribu pesan. Pesan <br />
itu dirangkum dalam pantun yang mengisahkan sejarah panjang Pemerintahan<br />
Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Bahasa pantun yang ditulis <br />
dengan tinta emas dan perak itu, menyindir rezim Soekarno. Pantun itu <br />
berbunyi:</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify"><span style="font-style: italic;">“PRRI ada bukan ingin lepas dari NKRI, tapi karena Soekarno ingkar janji</span>.</div>
<div align="justify"><span style="font-style: italic;">Kami tahu PRRI membuat Soe­kar­no panas, tapi jangan membuat hatinya menangis</span>.</div>
<div align="justify"><span style="font-style: italic;">Ini sejarah keberanian putra Andalas akan selalu kutulis dengan tinta emas.”</span></div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify"><span style="font-style: italic;">Aku bukan Padang Bengkok</span>, kata <br />
Stevan Buana, bentuk protesnya terhadap sejarah Minang yang dipelintir <br />
penguasa. Karya ini, juga bentuk sakit hati Stevan sebagai orang Minang,<br />
dan ketidakmengertian kenapa stigma ini ada.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Keinginan orang Minang melalui PRRI, <br />
kata Stevan, disikapi Soekarno dengan menciptakan imej bahwa orang <br />
Minang ingin melepaskan diri dari NKRI alias pemberontak. “Jadi, atas <br />
dasar inilah saya menciptakan karya <span style="font-style: italic;">Aku bukan</span> <span style="font-style: italic;">Padang Bengkok</span>,” kata Steven saat ditemui <span style="font-style: italic;">Padang Ekspres</span> di sela-sela Binneale Self-Discovering 2012 di Taman Budaya Padang, yang berlangsung 5-15 Desember mendatang.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Deskripsi karya Stevan benar-benar unik.<br />
Celana randai, sebagai cermin orang Minang identik dengan keberanian. <br />
Kemudian gantungan celana terbuat dari kawat berduri berkarat, sebagai <br />
simbol tiga dari empat pendiri bangsa Indonesia berasal dari Minang. <br />
Yakni Bung Hatta, Tan Malaka dan Sutan Sjahrir.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Simbol lain dari gantungan kawat berduri<br />
berkarat, adalah gambaran sebelum negeri ini berdiri, orang Minang <br />
sangat harmonis. Tapi setelah negara ini merdeka, atau saat meletusnya <br />
PRRI, orang Minang seolah dipunggungi. “Artinya, tidak merasa <br />
diorangkan,” kata Stevan.</div>
<div align="justify"><span style="font-weight: bold;"> </span></div>
<div align="justify"><span style="font-weight: bold;">Anak Tentara</span></div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Stevan Buana adalah anak ketujuh dari <br />
delapan bersaudara pasangan Kapten (Mar) Purn Sjahminan (alm) dan <br />
Halimah, 65. Pria yang memiliki tato di badan hingga lengan ini, <br />
dilahirkan di Silaiang Bawah, Kecamatan Padangpanjang Barat, Kota <br />
Padangpanjang pada 17 Februari 1971.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Bakat melukisnya sudah dimulai ketika <br />
berusia lima tahun. Saat itu, ayahnya yang seorang Marinir mengajaknya <br />
ke sebuah pelabuhan di Kepulauan Riau. Di pelabuhan itu, ia menyaksikan <br />
ayahnya membuat sketsa kapal. Melihat ayah melukis, ia mulai mencoba <br />
belajar melukis. Setamat SMP, ia pun masuk ke SMSR Padang.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Stevan Buana kecil sama sekali tidak <br />
ingin memiliki cita-cita sebagai pelukis. Bahkan, dari kecil ia sangat <br />
berminat sekali ingin menjadi TNI. Namun, cita-cita itu ditolak <br />
mentah-mentah oleh sang ibu, Halimah, karena sudah banyak kerabatnya <br />
menjadi TNI .</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Stevan kecil harus mengikuti langkah <br />
sang ayah yang berpindah-pindah tugas. Untuk SD saja, Stevan Buana <br />
mencoba tiga sekolah. Pertama tahun 1976, SD Inpres di Pulau Belalang, <br />
Provinsi Kepulauan Riau. Tidak sampai dua tahun di SD itu, ia pindah ke <br />
kampunganya dan mendaftarkan diri di SD Negeri 2, Kabun Sikolos <br />
Padangpanjang, karena orangtuanya sudah pensiun dari TNI AL.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Tidak berapa lama di SD Negeri 2, dia <br />
diajak pamannya tinggal di Palembang. Stevan kecil pun terpaksa <br />
melanjutkan sekolahnya di SD Persit (Persatuan Istri Prajurit) di <br />
Palembang, sampai akhirnya tamat di SD tersebut. Setamat di SD Persit <br />
tahun 1995, dia kembali ke Padangpanjang dan masuk SMP Negeri 1 <br />
Padangpanjang. “Di SMP Negeri 1 Padangpanjang inilah saya menemukan <br />
sesosok guru yang mengarahkan saya, sehingga terjun di dunia seni rupa. <br />
Ibu Tutik namanya. Beliau menyarankan saya masuk SMSR. Lukisan jeruk <br />
saya buat saat mata pelajaran menggambar, dipuji belay karena sangat <br />
mirip dengan aslinya,” kenang Stevan.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Setamat SMSR 1992, dia hijrah ke Jakarta<br />
dan pindah ke Bali. “Sejak saya tamat SMSR hingga sekarang, saya tidak <br />
pernah ketemu Ibu Tutik. Saya berusaha mencari beliau, tapi beliau tidak<br />
pernah saya temukan,” ujar Stevan.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Hampir setahun di Bali, Stevan mendapat <br />
kabar bahwa teman-teman semasa SMSR Padang banyak kuliah di Akademi Seni<br />
Rupa Indonesia (sekarang ISI Yogyakarta). Dia pun tidak mau kalah. <br />
Bermodalkan uang belasan ribu, dia berangkat ke Yogyakarta kuliah di <br />
ASRI Yogyakarta.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">“Ketika saya di Yogya, saya langsung <br />
menghubungi orangtua agar mengirimkan uang untuk biaya masuk kuliah. <br />
Ternyata, keinginan saya dikabulkan, saya pun kuliah semester I tahun <br />
1993 dengan jurusan seni rupa,” kenangnya.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Selama kuliah, dia tidak ingin membebani<br />
orangtuanya. Sepulang kuliah, dia melukis di Jalan Malioboro. Hasil <br />
lukisannya dijual mulai Rp 100 ribu sampai jutaan. Berkat kegigihannya, <br />
akhirnya Stevan berhasil menamatkan kuliahnya setelah 10 tahun. Pria <br />
dikarunia sepasang anak kembar ini, lulus ASRI Yogyakarta tanpa <br />
mengikuti acara seremonial wisuda. “Saya lulus, tapi tidak mengikuti <br />
wisuda karena saya kesal. Sebab, hampir semua dosen mempersulit saya <br />
lulus di ASRI,” ungkapnya.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify"><span style="font-weight: bold;">Seperti Jalan Tol</span></div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Semasa kuliah, Stevan terus memantapkan <br />
karirnya menjadi seorang pelukis. Bahkan, banyak dari karyanya <br />
diikutsertakan dalam pameran. Ketika di semester IV, dua karyanya meraih<br />
penghargaan terbaik di kompetisi Refleksi Zaman dan Kompetisi Dies <br />
Natalis. Untuk kompetisi refleksi, hasil karyanya berbahan arang dan <br />
kanvas berjudul <span style="font-style: italic;">Wajah Negeriku Kini. </span>Untukkompetisi Dies Natalis dengan bahan sama, karyanya berjudul <span style="font-style: italic;">Guratan Nasib Bangsaku Kini, </span>juga<br />
terbaik dalam kompetisi tersebut. “Saya juga pernah mengikuti Beppu <br />
Binneale di Jepang 2001. Kompetisi Indofood, Kompetisi Jakarta Aword, <br />
Kompetisi Baca Bandung, dan Kompetisi Flip Morris dan banyak lagi,” <br />
ujarnya.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Untuk menjadi terbaik, dirinya harus <br />
mengikuti berbagai kompetisi lukis. Dia mengibaratkan kompetisi itu sama<br />
dengan jalan tol. “Jika ingin kita dikenal melalui seni lukis, ya kita <br />
harus menempuh berbagai kompetisi. Kompetisi satu-satunya jalan paling <br />
cepat menjadi terkenal. Sama halnya dengan jalan tol. Jika tidak ingin <br />
terjebak macet di jalan, kita harus lewat jalan tol,” katanya <br />
berseloroh.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Stevan berpesan bahwa seni rupa, tidak <br />
hanya terdiri dari kanvas dan cat. Media apa pun bisa djadikan karya <br />
seni, tergantung konsepnya. Karya seni <span style="font-style: italic;">Aku bukan Padang Bengkok</span><br />
, adalah salah satu karya seni bukan berasal dari kanvas. Untuk itu, <br />
dia tetap menyerukan agar perupa Minang bisa bangkit dan bangun kembali <br />
Ranah Minang melalui karya seni.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Kini, Stevan hidup bahagia dengan adik <br />
tingkatnya sewaktu kuliah di ASRI Yogyakarta. Sehari-hari, Stevan <br />
disibukkan dengan aktivitasnya di Barak Seni Stevan di Yogyakarta, <br />
sanggar yang didirikannya beberapa tahun lalu. <span style="font-weight: bold;">(padangekspres)</span></div>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[KURIKULUM 2013 : Tak Perlu Lagi Beli Buku]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-KURIKULUM-2013-Tak-Perlu-Lagi-Beli-Buku</link>
			<pubDate>Sat, 08 Dec 2012 02:46:43 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-KURIKULUM-2013-Tak-Perlu-Lagi-Beli-Buku</guid>
			<description><![CDATA[<div align="justify">PADANG – Jika kurikulum baru atau <br />
kurikulum 2013 diberlakukan, orangtua murid tidak perlu dipusingkan lagi<br />
dengan beli buku tiap tahun. Apalagi siswa tak perlu lagi beli lembaran<br />
kerja siswa (LKS). <br />
<br />
Di kurikulum tersebut bukunya disediakan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dari masuk sekolah hingga tamat.<br />
<br />
“Jadi orang tua tidak perlu pusing lagi dengan beli buku baru tiap <br />
tahun. Karena kita sudah sediakan master bukunya, tiap tahun hanya <br />
master itu saja digunakan. Penerbit juga harus mengacu pada master <br />
tersebut,” terang staf ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nasional <br />
bidang Organisasi dan Manajemen Abdullah Alkaff saat uji publik <br />
kurikulum 2013 di Hotel Rocky, Jumat (7/12).<br />
<br />
Diterangkannya, setiap murid akan mendapatkan buku saat masuk sekolah. <br />
Dalam buku tersebut akan lengkap semuanya, mulai tugas hingga materi <br />
pela jaran. Buku tersebut juga sekaligus porto folio siswa. Begitu <br />
seterusnya sampai tamat SMA.<br />
<br />
Dijelaskannya, perubahan kurikulum tersebut karena yang sekarang ini <br />
sudah tidak cocok lagi. Dijelaskan, Alkaf, kurikulum sekarang itu <br />
ibaratnya kemampuannya hanya sampai tingkat tiga. Sementara negara lain <br />
sudah sampai tingkat enam. Pintar sekalipun, anak didik karena <br />
kurikulumnya hanya bisa menuntun sampai tingkat tiga, kemampuan anak <br />
juga sampai situ saja.<br />
<br />
“Makanya kita buat ‘pondasi’ kurikulum yang mampu menciptakan anak didik sampai tingkat enam pula,” sebut Alkaf menjelaskan.<br />
<br />
Buku pelajaran itu akan diberikan kepada siswa dan guru. Untuk guru <br />
berisikan banyak penjelasan, sementara pada buku pelajaran siswa yang <br />
berbentuk portolio, diarahkan siswa untuk lebih banyak mencari tahu.<br />
<br />
Uji publik kurikulum 2013 tersebut tokoh masyarakat menyambut baik <br />
penambahan jam mata pelajaran agama di SD menjadi 4 jam. Namun <br />
disayangkan tidak adanya penambahan jam mata pelajaran agama untuk <br />
tingkat SMP dan SMA. Penambahan jam agama tersebut dipertanyakan mantan <br />
Kepala Dinas Pendidikan Padang, Nur Amin.<br />
<br />
“Jadi, manusia yang beriman dan bertakwa berada dalam urutan pertama <br />
tujuan pendidikan. Kenapa pemerintah tidak berani mengambil tindakan <br />
mengubah kurikulum yang berlandasakan ajaran agama,” tanya Nur Amin.<br />
<br />
Hal serupa juga dikatakan Dewan Pendidikan Sumatra barat, Bagindo M. <br />
Letter. Dirinya juga menanyakan kenapa banyak orang mempersoalkan bahasa<br />
Inggris yang tidak masuk dalam mata pelajaran wajib di SD. Seharusnya <br />
pendidikan yang mementingkan akhlak, moral anak bangsa yang harus <br />
dipertimbangkan.<br />
<br />
Dalam uji publik kali ini, peserta juga mempertanyakan ketersedian buku <br />
pelajaran saat kurikulum ini diterapkan. Karena menurut kebiasaan, buku <br />
pelajaran cendrung terlambat keluar daripada kurikulum itu dan berbeda <br />
dengan kurikulum yang diterapkan.<br />
<br />
Menjawab beberapa per tanyaan di atas, Alkaff mengatakan, tidak adanya <br />
pe nambahan mata pelajaran agama untuk SMP dan SMA, bukan berarti <br />
pendidikan agama tidak penting. Katanya, menjadikan peserta didik yang <br />
bertaqwa dan beriman pada urutan pertama dalam tujuan pendidikan, <br />
mengisyaratkan bahwa semua elemen mata pelajaran menerapkan pendidikan <br />
agama tersebut.<br />
<br />
Kesiapan guru<br />
<br />
Untuk mempersiapkan guru menghadapi kurikulum baru ini, sudah <br />
direncanakan guru-guru akan mendapatkan pelatihan. Pelatihan ini <br />
diberikan guru terbaik dari hasil UKG, kepala sekolah, pengawas, Tim <br />
Pengembang Kurikulum (TPK), dan lainnya.<br />
<br />
“Setidaknya nanti akan ada 40 ribu orang sebagai master teacher di <br />
Indonesia. Satu orang master teacher akan membina sekitar 30 orang <br />
guru,” katanya.<br />
<br />
Kepala Dinas Pendidikan Sumbar Syamsulrizal, mengatakan untuk pelatihan <br />
yang melibatkan pengawas dan TPK di tingkat kabupaten dan kota, <br />
masing-masing harus meningkatkan kompetensi. Karena pada perubahan <br />
kurikulum mendatang, TPK akan diberdayakan 100 persen. (401/singgalang)</div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">PADANG – Jika kurikulum baru atau <br />
kurikulum 2013 diberlakukan, orangtua murid tidak perlu dipusingkan lagi<br />
dengan beli buku tiap tahun. Apalagi siswa tak perlu lagi beli lembaran<br />
kerja siswa (LKS). <br />
<br />
Di kurikulum tersebut bukunya disediakan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dari masuk sekolah hingga tamat.<br />
<br />
“Jadi orang tua tidak perlu pusing lagi dengan beli buku baru tiap <br />
tahun. Karena kita sudah sediakan master bukunya, tiap tahun hanya <br />
master itu saja digunakan. Penerbit juga harus mengacu pada master <br />
tersebut,” terang staf ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nasional <br />
bidang Organisasi dan Manajemen Abdullah Alkaff saat uji publik <br />
kurikulum 2013 di Hotel Rocky, Jumat (7/12).<br />
<br />
Diterangkannya, setiap murid akan mendapatkan buku saat masuk sekolah. <br />
Dalam buku tersebut akan lengkap semuanya, mulai tugas hingga materi <br />
pela jaran. Buku tersebut juga sekaligus porto folio siswa. Begitu <br />
seterusnya sampai tamat SMA.<br />
<br />
Dijelaskannya, perubahan kurikulum tersebut karena yang sekarang ini <br />
sudah tidak cocok lagi. Dijelaskan, Alkaf, kurikulum sekarang itu <br />
ibaratnya kemampuannya hanya sampai tingkat tiga. Sementara negara lain <br />
sudah sampai tingkat enam. Pintar sekalipun, anak didik karena <br />
kurikulumnya hanya bisa menuntun sampai tingkat tiga, kemampuan anak <br />
juga sampai situ saja.<br />
<br />
“Makanya kita buat ‘pondasi’ kurikulum yang mampu menciptakan anak didik sampai tingkat enam pula,” sebut Alkaf menjelaskan.<br />
<br />
Buku pelajaran itu akan diberikan kepada siswa dan guru. Untuk guru <br />
berisikan banyak penjelasan, sementara pada buku pelajaran siswa yang <br />
berbentuk portolio, diarahkan siswa untuk lebih banyak mencari tahu.<br />
<br />
Uji publik kurikulum 2013 tersebut tokoh masyarakat menyambut baik <br />
penambahan jam mata pelajaran agama di SD menjadi 4 jam. Namun <br />
disayangkan tidak adanya penambahan jam mata pelajaran agama untuk <br />
tingkat SMP dan SMA. Penambahan jam agama tersebut dipertanyakan mantan <br />
Kepala Dinas Pendidikan Padang, Nur Amin.<br />
<br />
“Jadi, manusia yang beriman dan bertakwa berada dalam urutan pertama <br />
tujuan pendidikan. Kenapa pemerintah tidak berani mengambil tindakan <br />
mengubah kurikulum yang berlandasakan ajaran agama,” tanya Nur Amin.<br />
<br />
Hal serupa juga dikatakan Dewan Pendidikan Sumatra barat, Bagindo M. <br />
Letter. Dirinya juga menanyakan kenapa banyak orang mempersoalkan bahasa<br />
Inggris yang tidak masuk dalam mata pelajaran wajib di SD. Seharusnya <br />
pendidikan yang mementingkan akhlak, moral anak bangsa yang harus <br />
dipertimbangkan.<br />
<br />
Dalam uji publik kali ini, peserta juga mempertanyakan ketersedian buku <br />
pelajaran saat kurikulum ini diterapkan. Karena menurut kebiasaan, buku <br />
pelajaran cendrung terlambat keluar daripada kurikulum itu dan berbeda <br />
dengan kurikulum yang diterapkan.<br />
<br />
Menjawab beberapa per tanyaan di atas, Alkaff mengatakan, tidak adanya <br />
pe nambahan mata pelajaran agama untuk SMP dan SMA, bukan berarti <br />
pendidikan agama tidak penting. Katanya, menjadikan peserta didik yang <br />
bertaqwa dan beriman pada urutan pertama dalam tujuan pendidikan, <br />
mengisyaratkan bahwa semua elemen mata pelajaran menerapkan pendidikan <br />
agama tersebut.<br />
<br />
Kesiapan guru<br />
<br />
Untuk mempersiapkan guru menghadapi kurikulum baru ini, sudah <br />
direncanakan guru-guru akan mendapatkan pelatihan. Pelatihan ini <br />
diberikan guru terbaik dari hasil UKG, kepala sekolah, pengawas, Tim <br />
Pengembang Kurikulum (TPK), dan lainnya.<br />
<br />
“Setidaknya nanti akan ada 40 ribu orang sebagai master teacher di <br />
Indonesia. Satu orang master teacher akan membina sekitar 30 orang <br />
guru,” katanya.<br />
<br />
Kepala Dinas Pendidikan Sumbar Syamsulrizal, mengatakan untuk pelatihan <br />
yang melibatkan pengawas dan TPK di tingkat kabupaten dan kota, <br />
masing-masing harus meningkatkan kompetensi. Karena pada perubahan <br />
kurikulum mendatang, TPK akan diberdayakan 100 persen. (401/singgalang)</div>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Nan Sabinjek ]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Nan-Sabinjek</link>
			<pubDate>Thu, 06 Dec 2012 03:57:56 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Nan-Sabinjek</guid>
			<description><![CDATA[<span style="font-weight: bold;">KALIMAT </span><span style="font-style: italic;">nan sabinjek </span>sering kita dengar di dalam kosa kata masyarakat Minangkabau. <span style="font-style: italic;">Nan sabinjek </span>paling sering didengar saat anak nagari belajar silat di sasaran-sasaran tradisional.<br />
<br />
Pada saat akan memutus kaji atau silat, sang guru selalu berpetuah pada muridnya.<br />
<br />
Petuahnya kira-kira begini:<br />
<br />
“Pada suatu saat kalau kamu akan mengajarkan silat kepada orang lain nan sabinjek jan diagiahkan.”<br />
<br />
Makna <span style="font-style: italic;">nan sabinjek </span>tersebut dipahami dengan menyimpan <br />
beberapa jurus pamungkas yang tidak boleh diturunkan pada murid. Alasan <br />
menyimpan itu untuk antisipasi jika suatu kelak murid melawan guru <br />
bersilat dan “satu jurus” atau sabinjek masih dipegang guru.<br />
<br />
<br />
<br />
Jika demikian artinya, tidak semua ilmu yang dimiliki sang guru diturunkan pada si murid. Ilmu <span style="font-style: italic;">nan sabinjek </span>tersebut<br />
disimpan oleh sang guru sampai batas waktu tak terbatas. Konsekuensi <br />
sabinjek yang tak diturunkan guru itu berakibat putusnya satu ilmu. Dan <br />
lamakelamaan makin habis karena guru membawa mati ilmu tersebut. <br />
Rentetan dan hokum alamnya, setiap guru melakukan hal yang sama. Dan <br />
seseorang yang sebelumnya murid, kelak menjadi guru silat, juga <br />
melakukan hal yang sama kepada muridnya. <span style="font-style: italic;">Nan sabinjek </span>tetap tak diturunkan. Akhirnya <span style="font-style: italic;">sabinjek </span>demi <span style="font-style: italic;">sabinjek </span>ilmu<br />
atau kepandaian yang disimpan menjadi tidak utuh tersampaikan dan habis<br />
atau punah. Maka kini yang ilmu silat yang diterima hanya tinggal <br />
bagian kulitkulitnya saja. Dan ini sudah berlangsung ratusan tahun.<br />
<br />
Jika falsafah nan sabinjek memang menjadi pakaian bagi orang Minang <br />
dalam proses belajar dan mengajar, tentu saja hal ini menjadi kontra <br />
produktif untuk sebuah pengembangan ilmu di ranah ini, lama kelamaan <br />
semua ajaran yang ada tidak akan berkembang sebagai mana mestinya baik <br />
ajaran adat, agama, silat dan pengetahuan lain semakin jadi dangkal.<br />
<br />
Kenyataan hari ini, tidak banyak lagi kita temukan anakanak kita yang<br />
menaruh hormat pada orangtua, sanak saudara, mamak, guru dan <br />
lingkungan. Di sekolah-sekolah para murid tidak lagi mengenal gurunya <br />
kecuali yang masuk ke kelasnya saja. Di rumah, anak-anak tidak lagi <br />
mengenal mamak, datuk dan inyiaknya. Para inyiak, mamak, datuk dan para <br />
orangtua juga tidak lagi mengenalkan hubungan relasi antar sanak <br />
familinya pada anak-anak mereka. Mereka juga telah kehilangan kearifan. <br />
Karena <span style="font-style: italic;">nan sabinjek </span>tetap menjadi rahasia yang tidak lagi diketahui oleh para pewarisnya.<br />
<br />
Menurut pendapat penulis, <span style="font-style: italic;">nan sabinjek </span>mengandung pengertian<br />
yang hakiki dalam kedirian manusia yakni harga diri. Karena harga diri <br />
tidak boleh dijual maupun terjual. Harga diri atau <span style="font-style: italic;">nan sabinjek </span>adalah<br />
ilmu pamungkas yang harus dipertahankan. Jika demikian adanya, tentu <br />
sudah benar kearifan yang diwariskan oleh budaya Minangkabau yang <br />
menyatakan <span style="font-style: italic;">nan sabinjek nambek diagiahkan</span>.<br />
<br />
Padahal ungkapan <span style="font-style: italic;">nan sabinjek </span>dalam falsafah adat <br />
Minangkabau merupakan sesuatu yang dekat dengan kedirian, sesuatu yang <br />
sifatnya sangat personal, yakni harga diri. Puncak pencarian dari segala<br />
pengetahuan gunanya untuk membentuk harga diri, sehingga tercipta <br />
karakter manusia yang kuat.<br />
<br />
Jika kita, bangsa ini sudah kehilangan harga diri, tidak penting <br />
apakah dia seorang guru, pejabat, walikota, anggota dewan, gubernur <br />
sampai presiden, maka berarti mereka sudah kehilangan <span style="font-style: italic;">nan sabinjek</span>.<br />
<br />
<span style="font-style: italic;"> </span><br />
<br />
<span style="font-style: italic;">Nan sabinjek </span>bagi orang Minangkabau adalah <span style="font-style: italic;">nan kuriak kundi </span>dan <span style="font-style: italic;">merah sago</span>, <span style="font-style: italic;">nan baiak budi nan indah baso</span>. Pertanyaanya, dalam kondisi saat ini, masihkah <span style="font-style: italic;">nan sabinjek </span>itu, ada bertahan dalam diri kita, dalam diri orang Minangkabau.<br />
sumber :http://minangkabauku.wordpress.com/2011/01/12/nan-sabinjek/]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span style="font-weight: bold;">KALIMAT </span><span style="font-style: italic;">nan sabinjek </span>sering kita dengar di dalam kosa kata masyarakat Minangkabau. <span style="font-style: italic;">Nan sabinjek </span>paling sering didengar saat anak nagari belajar silat di sasaran-sasaran tradisional.<br />
<br />
Pada saat akan memutus kaji atau silat, sang guru selalu berpetuah pada muridnya.<br />
<br />
Petuahnya kira-kira begini:<br />
<br />
“Pada suatu saat kalau kamu akan mengajarkan silat kepada orang lain nan sabinjek jan diagiahkan.”<br />
<br />
Makna <span style="font-style: italic;">nan sabinjek </span>tersebut dipahami dengan menyimpan <br />
beberapa jurus pamungkas yang tidak boleh diturunkan pada murid. Alasan <br />
menyimpan itu untuk antisipasi jika suatu kelak murid melawan guru <br />
bersilat dan “satu jurus” atau sabinjek masih dipegang guru.<br />
<br />
<br />
<br />
Jika demikian artinya, tidak semua ilmu yang dimiliki sang guru diturunkan pada si murid. Ilmu <span style="font-style: italic;">nan sabinjek </span>tersebut<br />
disimpan oleh sang guru sampai batas waktu tak terbatas. Konsekuensi <br />
sabinjek yang tak diturunkan guru itu berakibat putusnya satu ilmu. Dan <br />
lamakelamaan makin habis karena guru membawa mati ilmu tersebut. <br />
Rentetan dan hokum alamnya, setiap guru melakukan hal yang sama. Dan <br />
seseorang yang sebelumnya murid, kelak menjadi guru silat, juga <br />
melakukan hal yang sama kepada muridnya. <span style="font-style: italic;">Nan sabinjek </span>tetap tak diturunkan. Akhirnya <span style="font-style: italic;">sabinjek </span>demi <span style="font-style: italic;">sabinjek </span>ilmu<br />
atau kepandaian yang disimpan menjadi tidak utuh tersampaikan dan habis<br />
atau punah. Maka kini yang ilmu silat yang diterima hanya tinggal <br />
bagian kulitkulitnya saja. Dan ini sudah berlangsung ratusan tahun.<br />
<br />
Jika falsafah nan sabinjek memang menjadi pakaian bagi orang Minang <br />
dalam proses belajar dan mengajar, tentu saja hal ini menjadi kontra <br />
produktif untuk sebuah pengembangan ilmu di ranah ini, lama kelamaan <br />
semua ajaran yang ada tidak akan berkembang sebagai mana mestinya baik <br />
ajaran adat, agama, silat dan pengetahuan lain semakin jadi dangkal.<br />
<br />
Kenyataan hari ini, tidak banyak lagi kita temukan anakanak kita yang<br />
menaruh hormat pada orangtua, sanak saudara, mamak, guru dan <br />
lingkungan. Di sekolah-sekolah para murid tidak lagi mengenal gurunya <br />
kecuali yang masuk ke kelasnya saja. Di rumah, anak-anak tidak lagi <br />
mengenal mamak, datuk dan inyiaknya. Para inyiak, mamak, datuk dan para <br />
orangtua juga tidak lagi mengenalkan hubungan relasi antar sanak <br />
familinya pada anak-anak mereka. Mereka juga telah kehilangan kearifan. <br />
Karena <span style="font-style: italic;">nan sabinjek </span>tetap menjadi rahasia yang tidak lagi diketahui oleh para pewarisnya.<br />
<br />
Menurut pendapat penulis, <span style="font-style: italic;">nan sabinjek </span>mengandung pengertian<br />
yang hakiki dalam kedirian manusia yakni harga diri. Karena harga diri <br />
tidak boleh dijual maupun terjual. Harga diri atau <span style="font-style: italic;">nan sabinjek </span>adalah<br />
ilmu pamungkas yang harus dipertahankan. Jika demikian adanya, tentu <br />
sudah benar kearifan yang diwariskan oleh budaya Minangkabau yang <br />
menyatakan <span style="font-style: italic;">nan sabinjek nambek diagiahkan</span>.<br />
<br />
Padahal ungkapan <span style="font-style: italic;">nan sabinjek </span>dalam falsafah adat <br />
Minangkabau merupakan sesuatu yang dekat dengan kedirian, sesuatu yang <br />
sifatnya sangat personal, yakni harga diri. Puncak pencarian dari segala<br />
pengetahuan gunanya untuk membentuk harga diri, sehingga tercipta <br />
karakter manusia yang kuat.<br />
<br />
Jika kita, bangsa ini sudah kehilangan harga diri, tidak penting <br />
apakah dia seorang guru, pejabat, walikota, anggota dewan, gubernur <br />
sampai presiden, maka berarti mereka sudah kehilangan <span style="font-style: italic;">nan sabinjek</span>.<br />
<br />
<span style="font-style: italic;"> </span><br />
<br />
<span style="font-style: italic;">Nan sabinjek </span>bagi orang Minangkabau adalah <span style="font-style: italic;">nan kuriak kundi </span>dan <span style="font-style: italic;">merah sago</span>, <span style="font-style: italic;">nan baiak budi nan indah baso</span>. Pertanyaanya, dalam kondisi saat ini, masihkah <span style="font-style: italic;">nan sabinjek </span>itu, ada bertahan dalam diri kita, dalam diri orang Minangkabau.<br />
sumber :http://minangkabauku.wordpress.com/2011/01/12/nan-sabinjek/]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Tiket Murah, Gairahkan Pariwisata-Perdagangan Sumbar]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Tiket-Murah-Gairahkan-Pariwisata-Perdagangan-Sumbar</link>
			<pubDate>Thu, 06 Dec 2012 01:30:01 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Tiket-Murah-Gairahkan-Pariwisata-Perdagangan-Sumbar</guid>
			<description><![CDATA[Penerbangan Perdana Mandala Airlines Rute Padang-Singapura <br />
&lt;img src="http://padangekspres.co.id/up/berita/03122012122400sanny.jpg" alt="Paul Rombeek, Brata Rafly, Irwan Prayitno dan Ny Nevi Irwan hadir langsung saat " title="klik untuk memperbesar" align="left" width="280" /&gt;<br />
<br />
Penerbangan perdana Mandala Airlines rute baru Padang-Singapura, Sabtu (1/12) pagi, berjalan sukses. Penerbangan dengan menggu­nakan pesawat baru Airbus A 320 dengan nomor penerba­ngan RI 892 ini mendarat mulus di Bandara Changi Airport Singapore, pukul 8.55 atau 09.55 waktu setempat. Pesawat mendarat setelah menempuh 50 menit perjala­nan dari Bandara International Minangkabau (BIM), pukul 07.55. Bagaimana ceritanya?<br />
<br />
 <br />
<br />
Penerbangan dihadiri Gubernur Sumbar, Irwan Pra­yitno bersama istri, President Director Mandala Airlines, Paul Rombeek dan Direktur Komer­sial Brata Rafly. Sebanyak123 dari 180 kursi terisi. 17 wartawan dari media cetak, elektronik dan online diajak dalam peliputan sekaligus berwisata ke Pulau Sentosa, Singapura (one day trip). Maskapai yang sempat berhenti beroperasi pada awal 2011 ini, memberikan kejutan berupa lucky draw kepada tiga penumpang selama perjalanan. Penumpang yang beruntung mendapatkan tiket gratis PP Padang-Singapura dari Mandala Airlines.<br />
<br />
 <br />
<br />
“Ini kejutan dari kami, de­ngan tujuan memanjakan pe­num­pang dalam penerbangan perdana ini,” kata Direktur Komersial Mandala Airlines, Brata Rafly. Tak cuma itu, pe­num­pang juga disediakan ma­kanan ringan dan minuman gra­tis. “Ini khusus untuk pener­bangan perdana saja, Pak. Kare­na pesawat kami menerapkan manajemen biaya rendah untuk tiket penerbangan (low cost). Namun demikian, maskapai juga menjual makanan dan minuman ketika mengudara (in-flight),” tambah Brata.<br />
<br />
 <br />
<br />
Penerbangan perdana ini dipiloti Kapt Dito Arya, dengan ketinggian terbang 33 ribu feet. Cuaca saat penerbangan, sedikit berawan. “Alhamdulillah, saya puas dan merasa nyaman,” kata Rio, pegawai swasta, salah seo­rang penumpang saat mendarat di Changi Airport. Kepada Pa­dang Ekspres, Rio mengaku ingin berlibur bersama keluarga. “Cuma semalam saja di Singa­pura, Pak. Besok (Minggu ma­lam, red) udah balik lagi. Mum­pung ada Mandala, tiket murah Rp329 ribu,” tuturnya.  Selain rute Padang–Singapura, Man­dala juga membuka rute baru in­ternasional lainnya, Denpasar–Si­nga­pura. Sementara untuk ru­te baru domestik; Jakarta–Pa­dang dan Denpasar–Su­ra­baya.<br />
<br />
 <br />
<br />
President Director Mandala Airlines, Paul Rombeek menga­ku bangga pihaknya bisa men­jadi maskapai pertama yang membuka rute baru Padang-Singapura. “Kami melihat, per­tum­buhan ekonomi di Padang sudah bagus. Kami yakin, pener­bangan ini akan mengun­tung­kan, sekaligus menjadi jembatan penghubung di kedua kota dan negara,” ulas Paul.<br />
<br />
 <br />
<br />
Brata menambahkan, de­ngan 33 persen saham dimiliki oleh Tiger Airways, maka Man­dala Airlines akan memiliki standar keselamatan yang sama dengan Singapore Airlines, yang juga berstandar internasional, dan on time performance 91,1 persen. Meski demikian, kepe­milikan saham Mandala tetap lebih banyak oleh dalam negeri. “Ke depan, kami berkomitmen untuk menghubungkan pro­vinsi-provinsi di Indonesia me­lalui pembukaan rute-rute baru dengan harga relatif murah dan nyaman dengan pesawat baru. Adanya rute langsung ini, men­jawab mimpi kita selama ini, bagaimana masyarakat bisa terbang langsung ke Singapura,” ulasnya didampingi Konsultan Publik Mandala Airlines, Arya Ayuta dan Dian Wulan.<br />
<br />
 <br />
<br />
Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengatakan kehadiran rute Padang-Singapura, sudah lama dinanti-nantikan pemprov. Ini bertujuan untuk membuka akses Sumbar ke dunia inter­nasional. “Pasar wisata dan perdagangan Sumbar, jelas akan kian dilirik oleh dunia inter­nasional, apalagi Changi Airport merupakan hub-port (bandara perhubung taraf international),” kata Irwan.  (padek)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Penerbangan Perdana Mandala Airlines Rute Padang-Singapura <br />
&lt;img src="http://padangekspres.co.id/up/berita/03122012122400sanny.jpg" alt="Paul Rombeek, Brata Rafly, Irwan Prayitno dan Ny Nevi Irwan hadir langsung saat " title="klik untuk memperbesar" align="left" width="280" /&gt;<br />
<br />
Penerbangan perdana Mandala Airlines rute baru Padang-Singapura, Sabtu (1/12) pagi, berjalan sukses. Penerbangan dengan menggu­nakan pesawat baru Airbus A 320 dengan nomor penerba­ngan RI 892 ini mendarat mulus di Bandara Changi Airport Singapore, pukul 8.55 atau 09.55 waktu setempat. Pesawat mendarat setelah menempuh 50 menit perjala­nan dari Bandara International Minangkabau (BIM), pukul 07.55. Bagaimana ceritanya?<br />
<br />
 <br />
<br />
Penerbangan dihadiri Gubernur Sumbar, Irwan Pra­yitno bersama istri, President Director Mandala Airlines, Paul Rombeek dan Direktur Komer­sial Brata Rafly. Sebanyak123 dari 180 kursi terisi. 17 wartawan dari media cetak, elektronik dan online diajak dalam peliputan sekaligus berwisata ke Pulau Sentosa, Singapura (one day trip). Maskapai yang sempat berhenti beroperasi pada awal 2011 ini, memberikan kejutan berupa lucky draw kepada tiga penumpang selama perjalanan. Penumpang yang beruntung mendapatkan tiket gratis PP Padang-Singapura dari Mandala Airlines.<br />
<br />
 <br />
<br />
“Ini kejutan dari kami, de­ngan tujuan memanjakan pe­num­pang dalam penerbangan perdana ini,” kata Direktur Komersial Mandala Airlines, Brata Rafly. Tak cuma itu, pe­num­pang juga disediakan ma­kanan ringan dan minuman gra­tis. “Ini khusus untuk pener­bangan perdana saja, Pak. Kare­na pesawat kami menerapkan manajemen biaya rendah untuk tiket penerbangan (low cost). Namun demikian, maskapai juga menjual makanan dan minuman ketika mengudara (in-flight),” tambah Brata.<br />
<br />
 <br />
<br />
Penerbangan perdana ini dipiloti Kapt Dito Arya, dengan ketinggian terbang 33 ribu feet. Cuaca saat penerbangan, sedikit berawan. “Alhamdulillah, saya puas dan merasa nyaman,” kata Rio, pegawai swasta, salah seo­rang penumpang saat mendarat di Changi Airport. Kepada Pa­dang Ekspres, Rio mengaku ingin berlibur bersama keluarga. “Cuma semalam saja di Singa­pura, Pak. Besok (Minggu ma­lam, red) udah balik lagi. Mum­pung ada Mandala, tiket murah Rp329 ribu,” tuturnya.  Selain rute Padang–Singapura, Man­dala juga membuka rute baru in­ternasional lainnya, Denpasar–Si­nga­pura. Sementara untuk ru­te baru domestik; Jakarta–Pa­dang dan Denpasar–Su­ra­baya.<br />
<br />
 <br />
<br />
President Director Mandala Airlines, Paul Rombeek menga­ku bangga pihaknya bisa men­jadi maskapai pertama yang membuka rute baru Padang-Singapura. “Kami melihat, per­tum­buhan ekonomi di Padang sudah bagus. Kami yakin, pener­bangan ini akan mengun­tung­kan, sekaligus menjadi jembatan penghubung di kedua kota dan negara,” ulas Paul.<br />
<br />
 <br />
<br />
Brata menambahkan, de­ngan 33 persen saham dimiliki oleh Tiger Airways, maka Man­dala Airlines akan memiliki standar keselamatan yang sama dengan Singapore Airlines, yang juga berstandar internasional, dan on time performance 91,1 persen. Meski demikian, kepe­milikan saham Mandala tetap lebih banyak oleh dalam negeri. “Ke depan, kami berkomitmen untuk menghubungkan pro­vinsi-provinsi di Indonesia me­lalui pembukaan rute-rute baru dengan harga relatif murah dan nyaman dengan pesawat baru. Adanya rute langsung ini, men­jawab mimpi kita selama ini, bagaimana masyarakat bisa terbang langsung ke Singapura,” ulasnya didampingi Konsultan Publik Mandala Airlines, Arya Ayuta dan Dian Wulan.<br />
<br />
 <br />
<br />
Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengatakan kehadiran rute Padang-Singapura, sudah lama dinanti-nantikan pemprov. Ini bertujuan untuk membuka akses Sumbar ke dunia inter­nasional. “Pasar wisata dan perdagangan Sumbar, jelas akan kian dilirik oleh dunia inter­nasional, apalagi Changi Airport merupakan hub-port (bandara perhubung taraf international),” kata Irwan.  (padek)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Ketika Piaman Tak Laweh Lagi ]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Ketika-Piaman-Tak-Laweh-Lagi</link>
			<pubDate>Tue, 04 Dec 2012 07:22:28 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Ketika-Piaman-Tak-Laweh-Lagi</guid>
			<description><![CDATA[<a href="http://4.bp.blogspot.com/-1BQqvFOT5hU/ULWHeuQ0zrI/AAAAAAAAHEc/sWLNWBjVHbU/s1600/0000002.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://4.bp.blogspot.com/-1BQqvFOT5hU/ULWHeuQ0zrI/AAAAAAAAHEc/sWLNWBjVHbU/s320/0000002.jpg" border="0" alt="[Image: 0000002.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
<span style="font-family: Georgia;"><span style="font-size: large;">Menggali<br />
sejarah Piaman untuk dipublikasikan kepada generasi yang akan datang <br />
wajib hukumnya bagi saya. Kenapa ada Pameo Piaman Laweh terjawab sudah <br />
barusan di Palanta Anih samping BPD.saya yang dibesarkan di Rantau <br />
memang cupu dalam hal ini. bertanya adalah kata yang tepat untuk <br />
memperoleh Informasi,dan Informasi yang mengacu kepada fakta dan <br />
kebenaran sangat penting di Publikasikan . Kecamatan Lubuk Begalung, <br />
Koto Tangah,dan Pauh dibawah pemerintahan Kabupaten Padang Pariaman <br />
sebelumnya.<br />
<br />
"Semen Padang, Bandara Udara Tabiang dan Teluk Bayur <br />
masuk wilayah pemerintahan Kab Padang Pariaman." Ujar A Latih tokoh <br />
masyarakat Pariaman." Piaman dimasa kepemimpinan Bupati M Zen (sebelum <br />
Anas Malik) sangat disayangkan melepas sebagian dari wilayah kita , dan <br />
Anas Malik telah berupaya mencoba mengembalikannya diawal <br />
Kepemimpinannya, Anas Malik mengamuk ketika diawal ia memerintah PP nya <br />
sudah turun, dan celakanya Anas Malik Pula yang Menandatangani. apa daya<br />
nasi sudah jadi bubur. terlontarlah kalimat dari Anas Malik 'Mulai <br />
sekarang Harus orang Piaman yang memimpin daerah ini'." kata A Latif.<br />
<br />
Latif<br />
Menukuk " bukan bermaksud Rasis, M Zen dalah orang Pasaman. dulu Pajak <br />
dan Setoran masuk ke Kas Kab Pd Pariaman semacam Bandara Tabiang, <br />
Pelabuhan teluk Bayur, Semen Padang dan banyak lagi" tukuk Latif.<br />
<br />
"Pariaman<br />
dulunya meliputi Kepulauan Mentawai, sebagian Wilayah Kota Padang dan <br />
berbatasan langsung dengan Kab Solok serta Pesisir Selatan. Wilayah <br />
Indaruang, Bunguih, Tabiang hingga Hotel Basko sekarang adalah Wilayah <br />
Kab Pd Pariaman, batasnya jembatan disamping Hotel tersebut." ujar <br />
Latif.<br />
<br />
"Anas Malik dulu mengamuk diawal kepemimpinannya,' Kalian <br />
Jua Kampuang den' ujarnya dimasa itu. sudah berbagai upaya dilakukan <br />
Anas Malik untuk merebut kembali, namun karena kalah dalam berbagai <br />
aturan baku terpaksa ia tandatangani. itu terjadi diawal <br />
Kepemimpinannya." ujar Latif.<br />
<br />
Seandainya wilayah tersebut masih <br />
milik kita sekarang ini dimasa Otonomi daerah tentu sangat menguntungkan<br />
sekali. Semen Padang tentu serapan PAD nya untuk Pemkab Pd Pariaman, <br />
belum lagi pelabuhan Teluk Bayur dan Bunguih tempat bongkar muat hasil <br />
tangkapan Ikan terbesar di Sumbar.<br />
<br />
Acap kita dengar Bandara BIM <br />
sekarang ini disalah persepsikan terletak diwilayah Kota Padang, ini <br />
musti diluruskan." Setiap Pesawat Landing di BIM , Pilot berujar pada <br />
penumpang bahwa kita telah sampai dibandara BIM Padang. ini kekeliruan <br />
terbesar ! BIM Terletak di Kab Pd Pariaman bukan kota Padang." ujar <br />
Latif yang disepakati tokoh masyarakat lainnya semacam Sudirman Palo dan<br />
Artagnan. BIM terletak di Kanagarian Katapiang Kab Padang <br />
Pariaman.pasti.<br />
<br />
Apapaun keadaannya sekarang ini memang tidak <br />
perlu kita sesali, namun sejarah mustilah diakui dan punya Arsip yang <br />
jelas. orang acap mendengar Piaman Laweh namun tak tau selaweh apa <br />
kabupatennya. "Pariaman dizaman belanda bernama Kabupaten Samudera, <br />
wilayahnya sangat luas, kota Padang itu dulu sangat kecil sekali sebab <br />
bagian Kota Padang sekarang sebagian besar adalah Piaman, Tiku juga <br />
demikian. Kabupaten Samudera adalah cikal bakal Kab Padang Pariaman ." <br />
ujar Artagnan, mantan PNS yang juga sejarawan.<br />
<br />
Kini Pariaman <br />
sudah terpecah-pecah secara Administrasi. Kota Pariaman telah ber Otonom<br />
dengan 4 Kecamatan begitu pula Kepulauan Mentawai. Wilayah Pariaman <br />
Utara saya dengar juga ingin Ber Otonomi sendiri menjadi Kabupaten baru.<br />
wilayah tersebut meliputi S.Limau,S.Geringging,Aur <br />
Malintang,KP.Dalam,Gasan dll. hal tersebut dikarenakan terlalu sulit dan<br />
jauhnya Kantor Bupati yang terletak di Rimbo Baliak Parit Malintang <br />
dari daerah mereka.Jika Hal itu terealisasi, julukan Piaman laweh <br />
tinggal pameo dan dendang Rabab jua pada Akhirnya, namun Jika Pemekaran <br />
adalah Jalan terbaik dikarenakan berbagai alasan dan atas aspirasi <br />
Masyarakat , didukung pula oleh tokoh perantauan sangat sah-sah saja, <br />
namun meskipun terpisah pada akhirnya secara administrasi,semuanya akan <br />
tetap terpaut dalam satu budaya, yaitu Budaya Piaman..<br />
<br />
sumber : <a href="http://www.pariamantoday.com/2012/11/ketika-piaman-tak-laweh-lagi.html" rel="nofollow" target="_blank">http://www.pariamantoday.com/2012/11/ket...-lagi.html</a><br />
</span></span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://4.bp.blogspot.com/-1BQqvFOT5hU/ULWHeuQ0zrI/AAAAAAAAHEc/sWLNWBjVHbU/s1600/0000002.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://4.bp.blogspot.com/-1BQqvFOT5hU/ULWHeuQ0zrI/AAAAAAAAHEc/sWLNWBjVHbU/s320/0000002.jpg" border="0" alt="[Image: 0000002.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
<span style="font-family: Georgia;"><span style="font-size: large;">Menggali<br />
sejarah Piaman untuk dipublikasikan kepada generasi yang akan datang <br />
wajib hukumnya bagi saya. Kenapa ada Pameo Piaman Laweh terjawab sudah <br />
barusan di Palanta Anih samping BPD.saya yang dibesarkan di Rantau <br />
memang cupu dalam hal ini. bertanya adalah kata yang tepat untuk <br />
memperoleh Informasi,dan Informasi yang mengacu kepada fakta dan <br />
kebenaran sangat penting di Publikasikan . Kecamatan Lubuk Begalung, <br />
Koto Tangah,dan Pauh dibawah pemerintahan Kabupaten Padang Pariaman <br />
sebelumnya.<br />
<br />
"Semen Padang, Bandara Udara Tabiang dan Teluk Bayur <br />
masuk wilayah pemerintahan Kab Padang Pariaman." Ujar A Latih tokoh <br />
masyarakat Pariaman." Piaman dimasa kepemimpinan Bupati M Zen (sebelum <br />
Anas Malik) sangat disayangkan melepas sebagian dari wilayah kita , dan <br />
Anas Malik telah berupaya mencoba mengembalikannya diawal <br />
Kepemimpinannya, Anas Malik mengamuk ketika diawal ia memerintah PP nya <br />
sudah turun, dan celakanya Anas Malik Pula yang Menandatangani. apa daya<br />
nasi sudah jadi bubur. terlontarlah kalimat dari Anas Malik 'Mulai <br />
sekarang Harus orang Piaman yang memimpin daerah ini'." kata A Latif.<br />
<br />
Latif<br />
Menukuk " bukan bermaksud Rasis, M Zen dalah orang Pasaman. dulu Pajak <br />
dan Setoran masuk ke Kas Kab Pd Pariaman semacam Bandara Tabiang, <br />
Pelabuhan teluk Bayur, Semen Padang dan banyak lagi" tukuk Latif.<br />
<br />
"Pariaman<br />
dulunya meliputi Kepulauan Mentawai, sebagian Wilayah Kota Padang dan <br />
berbatasan langsung dengan Kab Solok serta Pesisir Selatan. Wilayah <br />
Indaruang, Bunguih, Tabiang hingga Hotel Basko sekarang adalah Wilayah <br />
Kab Pd Pariaman, batasnya jembatan disamping Hotel tersebut." ujar <br />
Latif.<br />
<br />
"Anas Malik dulu mengamuk diawal kepemimpinannya,' Kalian <br />
Jua Kampuang den' ujarnya dimasa itu. sudah berbagai upaya dilakukan <br />
Anas Malik untuk merebut kembali, namun karena kalah dalam berbagai <br />
aturan baku terpaksa ia tandatangani. itu terjadi diawal <br />
Kepemimpinannya." ujar Latif.<br />
<br />
Seandainya wilayah tersebut masih <br />
milik kita sekarang ini dimasa Otonomi daerah tentu sangat menguntungkan<br />
sekali. Semen Padang tentu serapan PAD nya untuk Pemkab Pd Pariaman, <br />
belum lagi pelabuhan Teluk Bayur dan Bunguih tempat bongkar muat hasil <br />
tangkapan Ikan terbesar di Sumbar.<br />
<br />
Acap kita dengar Bandara BIM <br />
sekarang ini disalah persepsikan terletak diwilayah Kota Padang, ini <br />
musti diluruskan." Setiap Pesawat Landing di BIM , Pilot berujar pada <br />
penumpang bahwa kita telah sampai dibandara BIM Padang. ini kekeliruan <br />
terbesar ! BIM Terletak di Kab Pd Pariaman bukan kota Padang." ujar <br />
Latif yang disepakati tokoh masyarakat lainnya semacam Sudirman Palo dan<br />
Artagnan. BIM terletak di Kanagarian Katapiang Kab Padang <br />
Pariaman.pasti.<br />
<br />
Apapaun keadaannya sekarang ini memang tidak <br />
perlu kita sesali, namun sejarah mustilah diakui dan punya Arsip yang <br />
jelas. orang acap mendengar Piaman Laweh namun tak tau selaweh apa <br />
kabupatennya. "Pariaman dizaman belanda bernama Kabupaten Samudera, <br />
wilayahnya sangat luas, kota Padang itu dulu sangat kecil sekali sebab <br />
bagian Kota Padang sekarang sebagian besar adalah Piaman, Tiku juga <br />
demikian. Kabupaten Samudera adalah cikal bakal Kab Padang Pariaman ." <br />
ujar Artagnan, mantan PNS yang juga sejarawan.<br />
<br />
Kini Pariaman <br />
sudah terpecah-pecah secara Administrasi. Kota Pariaman telah ber Otonom<br />
dengan 4 Kecamatan begitu pula Kepulauan Mentawai. Wilayah Pariaman <br />
Utara saya dengar juga ingin Ber Otonomi sendiri menjadi Kabupaten baru.<br />
wilayah tersebut meliputi S.Limau,S.Geringging,Aur <br />
Malintang,KP.Dalam,Gasan dll. hal tersebut dikarenakan terlalu sulit dan<br />
jauhnya Kantor Bupati yang terletak di Rimbo Baliak Parit Malintang <br />
dari daerah mereka.Jika Hal itu terealisasi, julukan Piaman laweh <br />
tinggal pameo dan dendang Rabab jua pada Akhirnya, namun Jika Pemekaran <br />
adalah Jalan terbaik dikarenakan berbagai alasan dan atas aspirasi <br />
Masyarakat , didukung pula oleh tokoh perantauan sangat sah-sah saja, <br />
namun meskipun terpisah pada akhirnya secara administrasi,semuanya akan <br />
tetap terpaut dalam satu budaya, yaitu Budaya Piaman..<br />
<br />
sumber : <a href="http://www.pariamantoday.com/2012/11/ketika-piaman-tak-laweh-lagi.html" rel="nofollow" target="_blank">http://www.pariamantoday.com/2012/11/ket...-lagi.html</a><br />
</span></span>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[membeli laki-laki]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-membeli-laki-laki</link>
			<pubDate>Mon, 03 Dec 2012 07:02:10 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-membeli-laki-laki</guid>
			<description><![CDATA[<a href="http://2.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TH3U077H7KI/AAAAAAAAACw/CbyiSNzj4QE/s1600/membeli+laki+laki.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://2.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TH3U077H7KI/AAAAAAAAACw/CbyiSNzj4QE/s400/membeli+laki+laki.jpg" border="0" alt="[Image: membeli+laki+laki.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
Perasaanku<br />
campur aduk menjadi satu. Antara marah, juga malu. Meski Mande sangat <br />
senang karena Apaknya (adik lelaki Abak)berhasil mencarikan calon <br />
untukku. Marah, kenapa sih nasibku harus berakhir seperti ini? Malu, <br />
disaat usiaku sudah melewati kepala tiga, belum juga ada lelaki yang <br />
bersedia menikah denganku. <br />
<br />
“Sudahlah, Pik. Apak kira, Mandemu bermaksud baik. Dia hanya khawatir anak padusinya hidup melajang terus.”<br />
<br />
<br />
“Tapi Apak, tidak dengan cara seperti ini! Memangnya, Upik tidak bisa <br />
mencari sendiri sampai harus dijodoh-jodohkan? Sekarang kan, bukan lagi <br />
jaman Siti Nurbaya!”<br />
<br />
“Kamu belum melihat calonnya Pik! Selain <br />
lulusan sarjana, dia juga seorang yang baik dan taat beragama. Meski <br />
sifatnya agak pendiam. Tapi Apak yakin, kamu bisa mengimbanginya setelah<br />
menjadi istrinya kelak.”<br />
<br />
“Upik tetap akan mencari sendiri lelaki pilihan Upik, tanpa perlu dijodohkan seperti ini. Upik gengsi Apak!”<br />
<br />
<br />
“Kamu tak perlu gengsi Pik. Ini baru tahap perkenalan saja. Bila hati <br />
Upik tak jua tertawan padanya saat dipertemukan nanti, yah tidak akan <br />
dipaksa.”<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Aku hanya diam terpaku mendengar <br />
jawaban diplomatis dari Apak. Walaupun hatiku berontak karena merasa <br />
Apak terlalu jauh ikut campur dalam urusan pribadiku. Bukankah hati tak <br />
bisa dipaksakan? Tapi mengingat Apak sudah bersusah payah mencarikan <br />
lelaki yang pantas untuk menjadi pendamping hidupku, aku akhirnya <br />
menurut juga.<br />
<br />
Aku sadar, bila aku tak segera menikah, Mande akan<br />
berkecil hati. Mengingat sudah lama Mande ingin menimang cucu dari anak<br />
semata wayangnya ini. Apalagi selama ini, Mande harus berjuang seorang <br />
diri dalam membesarkanku, hingga aku berhasil menjadi guru di sebuah <br />
Madrasah Aliyah Negeri di Jakarta. <br />
<br />
“Tugas Mande sebagai seorang ibu rasanya belum sempurna sebelum melihat kamu menikah Nak,” begitu selalu ucap Mande padaku. <br />
<br />
Bukannya Aku tak pernah menjalin hubungan dengan seorang lelaki. Sebagai anak yang berbakti, dulu aku tak ingin menentang Abak. <br />
<br />
“Abak hanya ingin melihat anak padusi Abak satu-satunya menikah dengan Urang Awak juo.”<br />
<br />
“Kenapa<br />
harus dengan Urang Awak Bak? Lelaki yang bukan satu suku sama kita juga<br />
banyak yang berkualitas. Baik dari segi kepribadiannya, juga <br />
ibadahnya,” Aku mencoba mendebat Abak.<br />
<br />
“Masalahnya tidak <br />
sesederhana itu Pik. Kalau kamu nanti menikah dengan lelaki yang bukan <br />
urang awak, maka kebanggaanmu sebagai anak padusi disuku kita akan <br />
musnah. Kamu kan tahu, orang padang pariaman menganut aliran matrilineal<br />
yang kuat.”<br />
<br />
“Maksud Abak apa?”<br />
<br />
<br />
“Dalam suku kita, anak padusilah yang dominan kedudukannya. Tak hanya menerima warisan lebih banyak dari anak laki-laki, juga…”<br />
<br />
“Punya kuasa membeli laki-laki. Iya kan Bak?”<br />
<br />
“Bukan membeli, hanya membayar uang lamaran karena pihak padusilah yang melamar.”jawab Abak tersenyum bijak.<br />
<br />
Sungguh!<br />
Aku tak bisa lupa kata-kata Abak itu. Meski dihati kecilku, aku tak <br />
suka kalau dalam melamar pria pilihan hati, harus disesuaikan harga <br />
pinangannya dengan tingginya pendidikan dan jabatannya. Seperti sebuah <br />
barang saja, yang bisa ditawar-tawar. Tapi tradisi membeli laki-laki <br />
(membayar uang lamaran dari pihak wanita) masih berlaku sampai sekarang <br />
di suku Pariaman. <br />
<br />
Suatu hari, ada urang awak yang senang <br />
padaku. Dan akupun tertarik padanya, karena pribadinya yang ramah dan <br />
supel. Tapi nasib baik tak berpihak padaku. Lelaki yang kukira serius <br />
menjalin hubungan denganku itu, ternyata tak bersedia untuk diajak <br />
berumah tangga, dengan alasan belum siap. <br />
<br />
Aku pikir, dia hanya <br />
ingin bersenang-senang saja denganku. Setelah hampir dua tahun kami <br />
bersama, tak jua ada kepastian darinya untuk mengikat hubungan kami <br />
dalam sebuah lembaga yang bernama pernikahan. Akhirnya, kutinggalkan <br />
lelaki yang tak memiliki komitmen itu.<br />
<br />
Tak lama kemudian, akupun <br />
berkenalan dengan seorang lelaki yang benar-benar memenuhi kriteria <br />
dimataku, juga dimata Abak. Selain pintar, tampan, dan tekun beribadah, <br />
dia masih keturunan urang awak juga. Kepribadiannya juga baik dan <br />
menarik. Dan yang terpenting, dia serius untuk menjadikanku sebagai <br />
istrinya. <br />
<br />
<br />
<br />
Namun, siapa yang bisa melawan takdir! Satu <br />
bulan sebelum pernikahan, lelaki yang kuharapkan bisa menjadi imamku <br />
itu, dipanggil Tuhan dengan cara yang sangat mengenaskan. Mati tertabrak<br />
mobil saat pulang dari kampung halamannya. Ketika ingin meminta restu <br />
dari kedua orang tuanya. <br />
<br />
Abak pun menghibur hatiku dengan <br />
mengatakan mungkin dia bukanlah jodohku.Hingga Aku bisa kembali <br />
menjalani hari-hariku dengan hati yang lapang. Setelah sebelumnya tak <br />
bisa menerima kenyataan, akibat rasa terpukul yang amat dalam. Tapi <br />
sekarang, Abak tak lagi bisa menghibur hatiku yang sangat kesepian, <br />
karena masih sendirian diusiaku yang sudah sangat matang untuk menikah.<br />
<br />
Pagi<br />
ini aku harus bersiap-siap untuk mengikuti Mande ke rumah calon <br />
suamiku. Tak ada salahnya aku mengikuti ajakan Mande, demi menyenangkan <br />
hatinya. Soal aku bersedia atau tidak, itu perkara nanti. Yang penting, <br />
aku bisa melihat lagi rona bahagia diwajah Mande. Setelah sekian lama <br />
tak aku dapati keceriaan diwajah keriputnya. <br />
<br />
Dalam hati, aku <br />
merasa sangat bersalah bila kali ini tak bisa memenuhi harapannya. <br />
Sebagaimana aku juga menantikannya. Masalahnya, aku tak mudah untuk <br />
berbagi cinta dengan seorang pria. Siapa sih yang tak ingin hidup <br />
berbahagia sampai kakek-nenek dengan orang yang ia sayangi?<br />
<br />
“Upik! Udah belum dandannya? Nanti kita kesiangan sampai dirumah Bagindo Sulaiman,”ucap Mande dari luar kamar. <br />
<br />
“Sebentar Mande. Upik lagi membenarin kerudung,”jawabku sambil menarik nafas yang dalam.<br />
<br />
Tampaknya,<br />
Mande sudah tak sabar ingin segera bertemu calon mantunya. Semoga Allah<br />
mengabulkan doa-doa Mande agar aku segera mendapatkan pendamping. <br />
Walaupun dengan cara seperti ini. Terus terang, aku sendiri tak lagi <br />
mempermasalahkan kesendirianku. Bagiku, jodoh sudah ada yang mengatur. <br />
Mau nikah di usia kepala empat <br />
sekalipun, tak menjadi soal bagiku. <br />
Namun, Mandelah yang menjadi beban pikiranku. Aku tak ingin lagi <br />
mengecewakan hatinya yang lembut dan penuh kasih itu. <br />
<br />
Dengan <br />
tergesa-gesa aku keluar dari kamar, saat Apak ikut memanggilku. Dia juga<br />
tengah menungguku diluar. Rencananya, kami akan pergi naik mobil kijang<br />
miliknya. Begitu sudah berada didalam mobil, Mande tak pernah berhenti <br />
menatapku dengan wajah sumringah..<br />
<br />
“Begitu mengenal Zainal, <br />
kamu pasti jatuh hati Pik,” ucap Mande sambil melirikku. “Dia anak yang <br />
sopan dan hormat sama orang tua.”<br />
<br />
Aku hanya diam membisu. Entah <br />
mengapa, tiba-tiba saja aku kehilangan kata-kata. Mungkin aku kelewat <br />
nervous. Jantungku masih berdegup kencang meski aku telah berusaha <br />
sekuat tenaga menetralisir perasaan gugupku. Ketika mobil Apak sudah <br />
memasuki halaman rumah Uda Zainal, jantungku semakin bertambah kuat <br />
degupnya. <br />
<br />
Ya Tuhan…hilangkanlah kepanikan didalam diriku. Panik,<br />
kalau-kalau perjodohan ini tak berjalan seperti yang aku dan Mande <br />
harapkan.<br />
<br />
“Pik…kamu tak perlu cemas. Semuanya akan berjalan <br />
dengan baik,” Apak berkata setelah kami turun dari mobil. Seolah <br />
mengerti apa yang tengah kurasakan.<br />
<br />
“Iya Apak. Upik tahu apa <br />
yang terbaik buat hidup Upik.” Akupun kembali tersenyum sambil menggamit<br />
tangan Mande untuk segera mendekati rumah bercat biru laut didepanku. <br />
Begitu sampai di depan pintu, Mande mengucapkan salam. Tak lama <br />
kemudian, keluarlah seorang wanita yang kutaksir umurnya tak jauh beda <br />
dengan Mande. <br />
<br />
“Ini si Upiak?” Amboi, Rancak bana Wa-ang! Anak Ambo pastilah tertarik.” <br />
<br />
Aku<br />
hanya tersipu-sipu malu mendengarnya. Dengan ramah, wanita tua <br />
dihadapanku mempersilahkan kami masuk. Dengan sedikit enggan, aku <br />
mengikuti Mande duduk di kursi ruang tamu. Tanganku rasanya dingin <br />
semua. Bagaikan seorang terdakwa yang duduk di kursi persidangan. <br />
Menunggu nasib hidupku selanjutnya, yang sebentar lagi akan diputuskan. <br />
<br />
Lalu,<br />
menit-menit berikutnya kami menunggu seorang pria yang sebentar lagi <br />
akan keluar menemui aku, Mande dan Apak diruangan ini. Sedangkan wanita <br />
ramah tadi masuk kedalam. Mungkin segera memanggil anak lelakinya. Tak <br />
lama kemudian,<br />
<br />
“Iko Zainal anak Ambo yang paling tuo.” Laki-laki <br />
didepanku tersenyum manis kearahku, sebelum akhirnya duduk berhadapan <br />
denganku. Tak kuduga, wajahnya sangat tampan! Mirip bintang film KCB 2, <br />
dengan janggut tipis didagunya. Dalam hati, aku bersorak penuh <br />
kegirangan. Apak memang jempolan dalam mencarikan calon untukku. Selera <br />
Apak benar-benar tinggi! Tapi, apa dia juga suka denganku. Akh…kita <br />
lihat saja nanti, ucap suara didalam batinku.<br />
<br />
“Memangnya, Uda <br />
belum pernah punya kekasih sebelumnya? hingga diusia 35 tahun belum <br />
menikah,” tanyaku saat kami sedang ngobrol berdua saja. Sementara Mande <br />
dan yang lainnya pergi keruangan lain. Mungkin sengaja, agar kami bisa <br />
saling mengenal lebih dekat lagi.<br />
<br />
“Yah, begitulah! Bukannnya <br />
tidak ada yang mau hanya saja, Uda kelewat sibuk bekerja, hingga tak <br />
punya waktu buat pedekate dengan seorang gadis,” jawabnya serius. <br />
<br />
“Upik sendiri bagaimana?” tanyanya lagi dengan hati-hati. <br />
<br />
<br />
“Terus terang, Upik pernah beberapa kali menjalin hubungan dengan <br />
seorang pria. Tapi semuanya tak pernah sampai ke pelaminan.” Aku pun <br />
menceritakan pengalaman pahitku padanya. “Mungkin belum berjodoh Da,” <br />
aku mengakhiri ceritaku dengan perasaan sendu.<br />
<br />
“Mudah-mudahan <br />
kita berjodoh ya, Pik,” ucap Uda Zainal spontan. Aku yang mendengarnya <br />
tak urung menjadi malu. Wajahku pun bersemu merah, karena <br />
berbunga-bunga. Amin…doaku didalam hati. Tak terasa, hampir dua jam Aku <br />
dan Uda berbincang-bincang. Kami pun segera pamit pulang. <br />
<br />
Ternyata,<br />
Uda Zainal asyik diajak bicara, meski orangnya serius dan agak pendiam.<br />
Dan aku berusaha untuk terus memancing pembicaraan, agar suasana tidak <br />
bertambah kaku. Dan hari-hari berikutnya kami saling ngobrol lewat <br />
telepon genggam. Sebab Uda Zainal orang yang sangat sibuk. Hatinya pun <br />
semakin tertawan dengan Uda Zainal. Begitu juga sebaliknya. Uda Zainal <br />
mengaku serius berhubungan dengannya.<br />
<br />
Hingga disuatu hari yang cerah, aku mendekati Mande. “Jadi, kapan kita membeli Uda Zainal Mande,” tanyaku tak sabar.<br />
<br />
“Apa maksud Upik?”<br />
<br />
“Memang,<br />
Mande belum menanyakan berapa harga pinangan yang harus kita bayar <br />
untuk melamar Uda Zainal?” tanyaku sekali lagi dengan penasaran. <br />
<br />
“Itulah masalahnya Pik! Mereka tidak mau menerima uang lamaran yang Mande ajukan,” jawab Mande dengan serius.<br />
<br />
“Masak<br />
hanya gara-gara tak cocok harga mereka menolak kita Mande! Upik tak mau<br />
patah hati lagi, karena urung menikah untuk yang ketiga kalinya,” tanpa<br />
dikomando, akupun menangis sambil menutup wajahku dengan kedua telapak <br />
tanganku. Herannya lagi, Mande bukannya menghiburku, malah tertawa <br />
tergelak-gelak.<br />
<br />
“Pik, Pik… Mande kan belum selesai bicara, kok <br />
kamu langsung tersurut begitu. Zainal itu memang orang padang, tapi <br />
bukan padang pariaman. Jadi, merekalah yang melamar kamu, bukan kita. <br />
Dan besok, akan datang iring-iringan pelamar dari keluarga si Zainal. <br />
Kamu siap-siap aja.”<br />
<br />
Duh! Betapa malunya aku. Karena begitu <br />
inginnya menjadi istri Uda Zainal, sampai-sampai menyuruh Mande agar <br />
segera membelinya. Bagaikan benda yang sangat berharga. Dan benda <br />
berharga itu adalah cinta Uda Zainal padaku.<br />
<br />
Catatan :<br />
Mande : Ibu<br />
Abak : Ayah<br />
Padusi : anak perempuan<br />
Uda : abang<br />
Urang awak : suku kita<br />
Rancak bana wa-ang : cantik sekali kamu<br />
Ambo : Aku<br />
Iko : ini<br />
Paling Tuo : anak pertama/sulung<br />
<br />
dimuat di annida-online]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://2.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TH3U077H7KI/AAAAAAAAACw/CbyiSNzj4QE/s1600/membeli+laki+laki.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://2.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TH3U077H7KI/AAAAAAAAACw/CbyiSNzj4QE/s400/membeli+laki+laki.jpg" border="0" alt="[Image: membeli+laki+laki.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
Perasaanku<br />
campur aduk menjadi satu. Antara marah, juga malu. Meski Mande sangat <br />
senang karena Apaknya (adik lelaki Abak)berhasil mencarikan calon <br />
untukku. Marah, kenapa sih nasibku harus berakhir seperti ini? Malu, <br />
disaat usiaku sudah melewati kepala tiga, belum juga ada lelaki yang <br />
bersedia menikah denganku. <br />
<br />
“Sudahlah, Pik. Apak kira, Mandemu bermaksud baik. Dia hanya khawatir anak padusinya hidup melajang terus.”<br />
<br />
<br />
“Tapi Apak, tidak dengan cara seperti ini! Memangnya, Upik tidak bisa <br />
mencari sendiri sampai harus dijodoh-jodohkan? Sekarang kan, bukan lagi <br />
jaman Siti Nurbaya!”<br />
<br />
“Kamu belum melihat calonnya Pik! Selain <br />
lulusan sarjana, dia juga seorang yang baik dan taat beragama. Meski <br />
sifatnya agak pendiam. Tapi Apak yakin, kamu bisa mengimbanginya setelah<br />
menjadi istrinya kelak.”<br />
<br />
“Upik tetap akan mencari sendiri lelaki pilihan Upik, tanpa perlu dijodohkan seperti ini. Upik gengsi Apak!”<br />
<br />
<br />
“Kamu tak perlu gengsi Pik. Ini baru tahap perkenalan saja. Bila hati <br />
Upik tak jua tertawan padanya saat dipertemukan nanti, yah tidak akan <br />
dipaksa.”<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Aku hanya diam terpaku mendengar <br />
jawaban diplomatis dari Apak. Walaupun hatiku berontak karena merasa <br />
Apak terlalu jauh ikut campur dalam urusan pribadiku. Bukankah hati tak <br />
bisa dipaksakan? Tapi mengingat Apak sudah bersusah payah mencarikan <br />
lelaki yang pantas untuk menjadi pendamping hidupku, aku akhirnya <br />
menurut juga.<br />
<br />
Aku sadar, bila aku tak segera menikah, Mande akan<br />
berkecil hati. Mengingat sudah lama Mande ingin menimang cucu dari anak<br />
semata wayangnya ini. Apalagi selama ini, Mande harus berjuang seorang <br />
diri dalam membesarkanku, hingga aku berhasil menjadi guru di sebuah <br />
Madrasah Aliyah Negeri di Jakarta. <br />
<br />
“Tugas Mande sebagai seorang ibu rasanya belum sempurna sebelum melihat kamu menikah Nak,” begitu selalu ucap Mande padaku. <br />
<br />
Bukannya Aku tak pernah menjalin hubungan dengan seorang lelaki. Sebagai anak yang berbakti, dulu aku tak ingin menentang Abak. <br />
<br />
“Abak hanya ingin melihat anak padusi Abak satu-satunya menikah dengan Urang Awak juo.”<br />
<br />
“Kenapa<br />
harus dengan Urang Awak Bak? Lelaki yang bukan satu suku sama kita juga<br />
banyak yang berkualitas. Baik dari segi kepribadiannya, juga <br />
ibadahnya,” Aku mencoba mendebat Abak.<br />
<br />
“Masalahnya tidak <br />
sesederhana itu Pik. Kalau kamu nanti menikah dengan lelaki yang bukan <br />
urang awak, maka kebanggaanmu sebagai anak padusi disuku kita akan <br />
musnah. Kamu kan tahu, orang padang pariaman menganut aliran matrilineal<br />
yang kuat.”<br />
<br />
“Maksud Abak apa?”<br />
<br />
<br />
“Dalam suku kita, anak padusilah yang dominan kedudukannya. Tak hanya menerima warisan lebih banyak dari anak laki-laki, juga…”<br />
<br />
“Punya kuasa membeli laki-laki. Iya kan Bak?”<br />
<br />
“Bukan membeli, hanya membayar uang lamaran karena pihak padusilah yang melamar.”jawab Abak tersenyum bijak.<br />
<br />
Sungguh!<br />
Aku tak bisa lupa kata-kata Abak itu. Meski dihati kecilku, aku tak <br />
suka kalau dalam melamar pria pilihan hati, harus disesuaikan harga <br />
pinangannya dengan tingginya pendidikan dan jabatannya. Seperti sebuah <br />
barang saja, yang bisa ditawar-tawar. Tapi tradisi membeli laki-laki <br />
(membayar uang lamaran dari pihak wanita) masih berlaku sampai sekarang <br />
di suku Pariaman. <br />
<br />
Suatu hari, ada urang awak yang senang <br />
padaku. Dan akupun tertarik padanya, karena pribadinya yang ramah dan <br />
supel. Tapi nasib baik tak berpihak padaku. Lelaki yang kukira serius <br />
menjalin hubungan denganku itu, ternyata tak bersedia untuk diajak <br />
berumah tangga, dengan alasan belum siap. <br />
<br />
Aku pikir, dia hanya <br />
ingin bersenang-senang saja denganku. Setelah hampir dua tahun kami <br />
bersama, tak jua ada kepastian darinya untuk mengikat hubungan kami <br />
dalam sebuah lembaga yang bernama pernikahan. Akhirnya, kutinggalkan <br />
lelaki yang tak memiliki komitmen itu.<br />
<br />
Tak lama kemudian, akupun <br />
berkenalan dengan seorang lelaki yang benar-benar memenuhi kriteria <br />
dimataku, juga dimata Abak. Selain pintar, tampan, dan tekun beribadah, <br />
dia masih keturunan urang awak juga. Kepribadiannya juga baik dan <br />
menarik. Dan yang terpenting, dia serius untuk menjadikanku sebagai <br />
istrinya. <br />
<br />
<br />
<br />
Namun, siapa yang bisa melawan takdir! Satu <br />
bulan sebelum pernikahan, lelaki yang kuharapkan bisa menjadi imamku <br />
itu, dipanggil Tuhan dengan cara yang sangat mengenaskan. Mati tertabrak<br />
mobil saat pulang dari kampung halamannya. Ketika ingin meminta restu <br />
dari kedua orang tuanya. <br />
<br />
Abak pun menghibur hatiku dengan <br />
mengatakan mungkin dia bukanlah jodohku.Hingga Aku bisa kembali <br />
menjalani hari-hariku dengan hati yang lapang. Setelah sebelumnya tak <br />
bisa menerima kenyataan, akibat rasa terpukul yang amat dalam. Tapi <br />
sekarang, Abak tak lagi bisa menghibur hatiku yang sangat kesepian, <br />
karena masih sendirian diusiaku yang sudah sangat matang untuk menikah.<br />
<br />
Pagi<br />
ini aku harus bersiap-siap untuk mengikuti Mande ke rumah calon <br />
suamiku. Tak ada salahnya aku mengikuti ajakan Mande, demi menyenangkan <br />
hatinya. Soal aku bersedia atau tidak, itu perkara nanti. Yang penting, <br />
aku bisa melihat lagi rona bahagia diwajah Mande. Setelah sekian lama <br />
tak aku dapati keceriaan diwajah keriputnya. <br />
<br />
Dalam hati, aku <br />
merasa sangat bersalah bila kali ini tak bisa memenuhi harapannya. <br />
Sebagaimana aku juga menantikannya. Masalahnya, aku tak mudah untuk <br />
berbagi cinta dengan seorang pria. Siapa sih yang tak ingin hidup <br />
berbahagia sampai kakek-nenek dengan orang yang ia sayangi?<br />
<br />
“Upik! Udah belum dandannya? Nanti kita kesiangan sampai dirumah Bagindo Sulaiman,”ucap Mande dari luar kamar. <br />
<br />
“Sebentar Mande. Upik lagi membenarin kerudung,”jawabku sambil menarik nafas yang dalam.<br />
<br />
Tampaknya,<br />
Mande sudah tak sabar ingin segera bertemu calon mantunya. Semoga Allah<br />
mengabulkan doa-doa Mande agar aku segera mendapatkan pendamping. <br />
Walaupun dengan cara seperti ini. Terus terang, aku sendiri tak lagi <br />
mempermasalahkan kesendirianku. Bagiku, jodoh sudah ada yang mengatur. <br />
Mau nikah di usia kepala empat <br />
sekalipun, tak menjadi soal bagiku. <br />
Namun, Mandelah yang menjadi beban pikiranku. Aku tak ingin lagi <br />
mengecewakan hatinya yang lembut dan penuh kasih itu. <br />
<br />
Dengan <br />
tergesa-gesa aku keluar dari kamar, saat Apak ikut memanggilku. Dia juga<br />
tengah menungguku diluar. Rencananya, kami akan pergi naik mobil kijang<br />
miliknya. Begitu sudah berada didalam mobil, Mande tak pernah berhenti <br />
menatapku dengan wajah sumringah..<br />
<br />
“Begitu mengenal Zainal, <br />
kamu pasti jatuh hati Pik,” ucap Mande sambil melirikku. “Dia anak yang <br />
sopan dan hormat sama orang tua.”<br />
<br />
Aku hanya diam membisu. Entah <br />
mengapa, tiba-tiba saja aku kehilangan kata-kata. Mungkin aku kelewat <br />
nervous. Jantungku masih berdegup kencang meski aku telah berusaha <br />
sekuat tenaga menetralisir perasaan gugupku. Ketika mobil Apak sudah <br />
memasuki halaman rumah Uda Zainal, jantungku semakin bertambah kuat <br />
degupnya. <br />
<br />
Ya Tuhan…hilangkanlah kepanikan didalam diriku. Panik,<br />
kalau-kalau perjodohan ini tak berjalan seperti yang aku dan Mande <br />
harapkan.<br />
<br />
“Pik…kamu tak perlu cemas. Semuanya akan berjalan <br />
dengan baik,” Apak berkata setelah kami turun dari mobil. Seolah <br />
mengerti apa yang tengah kurasakan.<br />
<br />
“Iya Apak. Upik tahu apa <br />
yang terbaik buat hidup Upik.” Akupun kembali tersenyum sambil menggamit<br />
tangan Mande untuk segera mendekati rumah bercat biru laut didepanku. <br />
Begitu sampai di depan pintu, Mande mengucapkan salam. Tak lama <br />
kemudian, keluarlah seorang wanita yang kutaksir umurnya tak jauh beda <br />
dengan Mande. <br />
<br />
“Ini si Upiak?” Amboi, Rancak bana Wa-ang! Anak Ambo pastilah tertarik.” <br />
<br />
Aku<br />
hanya tersipu-sipu malu mendengarnya. Dengan ramah, wanita tua <br />
dihadapanku mempersilahkan kami masuk. Dengan sedikit enggan, aku <br />
mengikuti Mande duduk di kursi ruang tamu. Tanganku rasanya dingin <br />
semua. Bagaikan seorang terdakwa yang duduk di kursi persidangan. <br />
Menunggu nasib hidupku selanjutnya, yang sebentar lagi akan diputuskan. <br />
<br />
Lalu,<br />
menit-menit berikutnya kami menunggu seorang pria yang sebentar lagi <br />
akan keluar menemui aku, Mande dan Apak diruangan ini. Sedangkan wanita <br />
ramah tadi masuk kedalam. Mungkin segera memanggil anak lelakinya. Tak <br />
lama kemudian,<br />
<br />
“Iko Zainal anak Ambo yang paling tuo.” Laki-laki <br />
didepanku tersenyum manis kearahku, sebelum akhirnya duduk berhadapan <br />
denganku. Tak kuduga, wajahnya sangat tampan! Mirip bintang film KCB 2, <br />
dengan janggut tipis didagunya. Dalam hati, aku bersorak penuh <br />
kegirangan. Apak memang jempolan dalam mencarikan calon untukku. Selera <br />
Apak benar-benar tinggi! Tapi, apa dia juga suka denganku. Akh…kita <br />
lihat saja nanti, ucap suara didalam batinku.<br />
<br />
“Memangnya, Uda <br />
belum pernah punya kekasih sebelumnya? hingga diusia 35 tahun belum <br />
menikah,” tanyaku saat kami sedang ngobrol berdua saja. Sementara Mande <br />
dan yang lainnya pergi keruangan lain. Mungkin sengaja, agar kami bisa <br />
saling mengenal lebih dekat lagi.<br />
<br />
“Yah, begitulah! Bukannnya <br />
tidak ada yang mau hanya saja, Uda kelewat sibuk bekerja, hingga tak <br />
punya waktu buat pedekate dengan seorang gadis,” jawabnya serius. <br />
<br />
“Upik sendiri bagaimana?” tanyanya lagi dengan hati-hati. <br />
<br />
<br />
“Terus terang, Upik pernah beberapa kali menjalin hubungan dengan <br />
seorang pria. Tapi semuanya tak pernah sampai ke pelaminan.” Aku pun <br />
menceritakan pengalaman pahitku padanya. “Mungkin belum berjodoh Da,” <br />
aku mengakhiri ceritaku dengan perasaan sendu.<br />
<br />
“Mudah-mudahan <br />
kita berjodoh ya, Pik,” ucap Uda Zainal spontan. Aku yang mendengarnya <br />
tak urung menjadi malu. Wajahku pun bersemu merah, karena <br />
berbunga-bunga. Amin…doaku didalam hati. Tak terasa, hampir dua jam Aku <br />
dan Uda berbincang-bincang. Kami pun segera pamit pulang. <br />
<br />
Ternyata,<br />
Uda Zainal asyik diajak bicara, meski orangnya serius dan agak pendiam.<br />
Dan aku berusaha untuk terus memancing pembicaraan, agar suasana tidak <br />
bertambah kaku. Dan hari-hari berikutnya kami saling ngobrol lewat <br />
telepon genggam. Sebab Uda Zainal orang yang sangat sibuk. Hatinya pun <br />
semakin tertawan dengan Uda Zainal. Begitu juga sebaliknya. Uda Zainal <br />
mengaku serius berhubungan dengannya.<br />
<br />
Hingga disuatu hari yang cerah, aku mendekati Mande. “Jadi, kapan kita membeli Uda Zainal Mande,” tanyaku tak sabar.<br />
<br />
“Apa maksud Upik?”<br />
<br />
“Memang,<br />
Mande belum menanyakan berapa harga pinangan yang harus kita bayar <br />
untuk melamar Uda Zainal?” tanyaku sekali lagi dengan penasaran. <br />
<br />
“Itulah masalahnya Pik! Mereka tidak mau menerima uang lamaran yang Mande ajukan,” jawab Mande dengan serius.<br />
<br />
“Masak<br />
hanya gara-gara tak cocok harga mereka menolak kita Mande! Upik tak mau<br />
patah hati lagi, karena urung menikah untuk yang ketiga kalinya,” tanpa<br />
dikomando, akupun menangis sambil menutup wajahku dengan kedua telapak <br />
tanganku. Herannya lagi, Mande bukannya menghiburku, malah tertawa <br />
tergelak-gelak.<br />
<br />
“Pik, Pik… Mande kan belum selesai bicara, kok <br />
kamu langsung tersurut begitu. Zainal itu memang orang padang, tapi <br />
bukan padang pariaman. Jadi, merekalah yang melamar kamu, bukan kita. <br />
Dan besok, akan datang iring-iringan pelamar dari keluarga si Zainal. <br />
Kamu siap-siap aja.”<br />
<br />
Duh! Betapa malunya aku. Karena begitu <br />
inginnya menjadi istri Uda Zainal, sampai-sampai menyuruh Mande agar <br />
segera membelinya. Bagaikan benda yang sangat berharga. Dan benda <br />
berharga itu adalah cinta Uda Zainal padaku.<br />
<br />
Catatan :<br />
Mande : Ibu<br />
Abak : Ayah<br />
Padusi : anak perempuan<br />
Uda : abang<br />
Urang awak : suku kita<br />
Rancak bana wa-ang : cantik sekali kamu<br />
Ambo : Aku<br />
Iko : ini<br />
Paling Tuo : anak pertama/sulung<br />
<br />
dimuat di annida-online]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Terbang Perdana Mandala ke Singapura, Peluang untuk Sumbar]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Terbang-Perdana-Mandala-ke-Singapura-Peluang-untuk-Sumbar</link>
			<pubDate>Sun, 02 Dec 2012 22:18:03 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Terbang-Perdana-Mandala-ke-Singapura-Peluang-untuk-Sumbar</guid>
			<description><![CDATA[<a href="http://kliksumbar.com/foto_berita/49cangi.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><br />
&lt;img alt="" src="http://kliksumbar.com/foto_berita/medium_49cangi.jpg" align="middle" width="205" /&gt;</a><br />
<span style="font-weight: bold;">Gubernur Irwan Prayitno dan kru Mandala Airlines</span><br />
<br />
<span style="font-weight: bold;"><span style="color: black;">Padang, </span></span><span style="font-weight: bold;"><span style="color: darkblue;">Klik</span></span><span style="font-weight: bold;"><span style="color: red;">Sumbar</span></span> <br />
<br />
<br />
Pesawat baru, tiket harga murah dan tanpa fiskal. Itulah yang didapat <br />
warga Sumbar yang terbang langsung ke Singapura dari BIM (Bandara <br />
Internasional Minangkabau), mulai Sabtu (1/12).<br />
<br />
<br />
<br />
Direktur Komersial Mandala Airlines, Brata Rafly, mengajak masyarakat Sumbar gunakan Mandala Airlines ke Singapura. "Penerbangan<br />
perdana Padang-Singapura yang dimulai tanggal 1 Desember sangat ditunggu masyarakat Sumbar," ujar Brata, saat mendarat kembali <br />
di BIM, Sabtu malam.<br />
<br />
<br />
<br />
Terbukti saat terbang pukul 07.55 WIB, Sabtu 1 Desember, maskapai <br />
Mandala Airlines yang menggandeng Tigers Air, kursi pesawat terisi 120 <br />
dari 180 <span style="font-style: italic;">seat</span> yang ada di pesawat Airbus baru buatan Perancis ini. "Bahkan rute Jakarta-Padang yang juga mulai terbang Sabtu, semua <span style="font-style: italic;">seat</span> terisi penuh," ujarnya.<br />
<br />
<br />
<br />
Menurut Brata Rafly, konsep <span style="font-style: italic;">low cost</span> tapi <span style="font-style: italic;">full service</span><br />
jadi magnit orang terbang dengan Mandala. "Soal harga tiket ke depan <br />
sangat tergantung pada peminat, tapi Mandala tetap mempertahankan harga <br />
tiket murah," ujarnya.<br />
<br />
<br />
<br />
Banyaknya<br />
penumpang yang terbang perdana ke Singapura dan kembali ke Padang <br />
pada malam harinya, karena ingin merasakan sensasi Mandala. "<span style="font-style: italic;">Take off</span> dan <span style="font-style: italic;">landing</span> sangat <span style="font-style: italic;">soft</span> sekali tidak ada <br />
getaran," ujar Anto, penumpang di terbang perdana tersebut.<br />
<br />
<br />
<br />
Pada 27 Januari tahun depan, Mandala juga akan membuka rute <br />
Jakarta-Pekanbaru dan Jakarta-Australia. Bersamaan dengan itu, Mandala <br />
juga menambah jumlah pesawatnya menjadi 25 buah pesawat baru.<br />
<br />
<br />
<br />
Masyarakat Sumbar juga sudah bisa dengan Mandala ke ke Hongkong dari <br />
Padang. "Hanya satu tiket, dari Padang transit di Singapura dilanjutkan <br />
dengan Tigers<br />
Air ke Hongkong tanpa beli tiket baru lagi," ujarnya.<br />
<br />
<br />
<br />
Satu lagi yang menjadi <span style="font-style: italic;">brand image</span> Mandala Airlines yakni komitmen terbang <span style="font-style: italic;">on schedule</span>. "Dan<br />
saat terbang perdana sudah terbukti, 07.55 WIB dari Padang dan kembali <br />
ke Padang pada 07.55 WIB malamnya, semenit pun tak lewat," ujar Brata.<br />
<br />
<br />
<br />
Banyak<br />
pihak berharap segala kelebihan Mandala Airline pada terbang perdana <br />
tetap dipertahankan. "Dan tidak mustahil lagi, warga Sumbar terbang pagi ke <br />
Singapura dan malam harinya sudah berada lagi di Padang," sebut Anto.<br />
<br />
<br />
<br />
Padang - Singapura ditempuh hanya 50 menit. Gubernur Sumbar Irwan <br />
Prayitno yang juga<br />
ikut dalam penerbangan perdana ini mengaku sangat senang adanya terbang <br />
langsung ini. "Terbang langsung ini sangat sangat bernilai untuk memacu <br />
kemajuan ekonomi dan pariwisata Sumbar," kata Irwan Prayitno.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://kliksumbar.com/foto_berita/49cangi.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><br />
&lt;img alt="" src="http://kliksumbar.com/foto_berita/medium_49cangi.jpg" align="middle" width="205" /&gt;</a><br />
<span style="font-weight: bold;">Gubernur Irwan Prayitno dan kru Mandala Airlines</span><br />
<br />
<span style="font-weight: bold;"><span style="color: black;">Padang, </span></span><span style="font-weight: bold;"><span style="color: darkblue;">Klik</span></span><span style="font-weight: bold;"><span style="color: red;">Sumbar</span></span> <br />
<br />
<br />
Pesawat baru, tiket harga murah dan tanpa fiskal. Itulah yang didapat <br />
warga Sumbar yang terbang langsung ke Singapura dari BIM (Bandara <br />
Internasional Minangkabau), mulai Sabtu (1/12).<br />
<br />
<br />
<br />
Direktur Komersial Mandala Airlines, Brata Rafly, mengajak masyarakat Sumbar gunakan Mandala Airlines ke Singapura. "Penerbangan<br />
perdana Padang-Singapura yang dimulai tanggal 1 Desember sangat ditunggu masyarakat Sumbar," ujar Brata, saat mendarat kembali <br />
di BIM, Sabtu malam.<br />
<br />
<br />
<br />
Terbukti saat terbang pukul 07.55 WIB, Sabtu 1 Desember, maskapai <br />
Mandala Airlines yang menggandeng Tigers Air, kursi pesawat terisi 120 <br />
dari 180 <span style="font-style: italic;">seat</span> yang ada di pesawat Airbus baru buatan Perancis ini. "Bahkan rute Jakarta-Padang yang juga mulai terbang Sabtu, semua <span style="font-style: italic;">seat</span> terisi penuh," ujarnya.<br />
<br />
<br />
<br />
Menurut Brata Rafly, konsep <span style="font-style: italic;">low cost</span> tapi <span style="font-style: italic;">full service</span><br />
jadi magnit orang terbang dengan Mandala. "Soal harga tiket ke depan <br />
sangat tergantung pada peminat, tapi Mandala tetap mempertahankan harga <br />
tiket murah," ujarnya.<br />
<br />
<br />
<br />
Banyaknya<br />
penumpang yang terbang perdana ke Singapura dan kembali ke Padang <br />
pada malam harinya, karena ingin merasakan sensasi Mandala. "<span style="font-style: italic;">Take off</span> dan <span style="font-style: italic;">landing</span> sangat <span style="font-style: italic;">soft</span> sekali tidak ada <br />
getaran," ujar Anto, penumpang di terbang perdana tersebut.<br />
<br />
<br />
<br />
Pada 27 Januari tahun depan, Mandala juga akan membuka rute <br />
Jakarta-Pekanbaru dan Jakarta-Australia. Bersamaan dengan itu, Mandala <br />
juga menambah jumlah pesawatnya menjadi 25 buah pesawat baru.<br />
<br />
<br />
<br />
Masyarakat Sumbar juga sudah bisa dengan Mandala ke ke Hongkong dari <br />
Padang. "Hanya satu tiket, dari Padang transit di Singapura dilanjutkan <br />
dengan Tigers<br />
Air ke Hongkong tanpa beli tiket baru lagi," ujarnya.<br />
<br />
<br />
<br />
Satu lagi yang menjadi <span style="font-style: italic;">brand image</span> Mandala Airlines yakni komitmen terbang <span style="font-style: italic;">on schedule</span>. "Dan<br />
saat terbang perdana sudah terbukti, 07.55 WIB dari Padang dan kembali <br />
ke Padang pada 07.55 WIB malamnya, semenit pun tak lewat," ujar Brata.<br />
<br />
<br />
<br />
Banyak<br />
pihak berharap segala kelebihan Mandala Airline pada terbang perdana <br />
tetap dipertahankan. "Dan tidak mustahil lagi, warga Sumbar terbang pagi ke <br />
Singapura dan malam harinya sudah berada lagi di Padang," sebut Anto.<br />
<br />
<br />
<br />
Padang - Singapura ditempuh hanya 50 menit. Gubernur Sumbar Irwan <br />
Prayitno yang juga<br />
ikut dalam penerbangan perdana ini mengaku sangat senang adanya terbang <br />
langsung ini. "Terbang langsung ini sangat sangat bernilai untuk memacu <br />
kemajuan ekonomi dan pariwisata Sumbar," kata Irwan Prayitno.]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Tabuik Mini Piaman Laris Manis]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Tabuik-Mini-Piaman-Laris-Manis</link>
			<pubDate>Sat, 01 Dec 2012 04:52:25 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Tabuik-Mini-Piaman-Laris-Manis</guid>
			<description><![CDATA[<img src="http://www.sumbaronline.com/foto_berita/medium_86tabuik-mini111.jpg" border="0" alt="[Image: medium_86tabuik-mini111.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<span style="font-family: arial;"><span style="font-size: small;"><span style="font-weight: bold;">PARIAMAN, SO</span>--Tabuik<br />
yang dibuat sebagai cinderamata ternyata banyak diminati orang. Tidak <br />
hanya disukai para perantau tapi juga mereka yang datang ke Pariaman. <br />
<br />
Saat<br />
hari puncak Tabuik Piaman 2012 (25/11) lalu misalnya, Adek (29) seorang<br />
pengrajin kreatif pembuat tabuik mini, ketiban rezeki. Semua tabuik <br />
yang disiapkannya sebelum acara pesta budaya tabuik, telah habis <br />
terjual, sampai dia merasa tidak tega melihat peminat banyak balik kanan<br />
dengan kecewa.<br />
<br />
“Hasilnya lumayanlah..,” aku Adek atas penjualan <br />
puluhan cinderamata tabuik hasil karyanya. Cinderamata tabuik sudah <br />
dikerjakannya sejak tahun 2005 bersama 2 orang temannya. Sekarang hanya <br />
dia sendiri yang meneruskan, dengan memiliki counter di Taratak, jalan <br />
Muhammad Yamin, Kota Pariaman.<br />
<br />
“Umumnya yang datang membeli, <br />
adalah mereka yang datang dari luar. Mayoritas bukan orang Pariaman,” <br />
cerita Adek tentang konsumennya.<br />
Cinderamata tabuik Adek dalam <br />
beberapa tahun terakhir ini sudah dikenal di Pariaman. Tabuik mini <br />
buatannya kerap dijadikan sebagai tropi hadiah berbagai perlombaan dan <br />
pertandingan. Nyaris ia tak pernah sepi dengan pesanan.<br />
<br />
Sementara<br />
sehari-hari ia tetap mengupayakan di counter yang sekaligus menjadi <br />
studio kerjanya, selalu menyediakan tabuik mini meskipun tidak dalam <br />
kegiatan pesta tabuik sekalipun.<br />
<br />
“Saya tetap belajar dan belajar,<br />
agar tabuik-tabuik yang saya buat dari hari ke hari lebih rapi dan <br />
indah. Saya yakin simbol budaya tradisi masyarakat Pariaman ini akan <br />
selalu diminati oleh orang luar, karena memang bentuk dan hiasannya <br />
unik,” ungkap Adek yang selalu rajin datang ke tempat pembuatan tabuik <br />
gadang di awal ramadhan setiap tahun.<br />
<br />
Bukan hanya Adek saja yang <br />
menikmati rezeki, Edi Inggi (38) pembuat cinderamata tabuik dari jln. <br />
Bgd. Aziz Chan, Kampuang Perak, Kota Pariaman, juga meraup keuntungan.<br />
<br />
“Kalau<br />
hari biasanya, memang ada saja pembeli tapi saat pesta tabuik, <br />
jumlahnya banyak. Ada saja yang datang ke rumah untuk beli,” ujar Edi <br />
Inggi bercerita bahwa kini ia tengah menyelesaikan lima buah tabuik mini<br />
pesanan yang akan dibawa ke Malaysia.<br />
<br />
Azwar dan Amaik di hari <br />
senggang warga jalan Tabuik, Pasia, Kota Pariaman, kerap membuat tabuik <br />
mini cinderamata selain membuat Tabuik Gadang, juga melepas sejumlah <br />
koleksinya untuk perantau yang ingin membawa Tabuik Piaman dalam ukuran <br />
mini, seusai pesta tabuik berakhir.<br />
<br />
Yusrizal, SE, salah seorang <br />
penggerak Sanggar Paris dan anggota DPRD Kota Pariaman berpendapat bahwa<br />
kecintaan tabuik tak pernah luntur. Ia beberapakali 3 tahun lalu telah <br />
melakukan pelatihan untuk banyak keluarga nelayan di Pasia Baru Nareh, <br />
dan kecamatan Pariaman Utara membuat tabuik mini yang bisa dijadikan <br />
cinderamata. “Membuat tabuik mini, untuk peningkatan ekonomi mereka.”</span></span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<img src="http://www.sumbaronline.com/foto_berita/medium_86tabuik-mini111.jpg" border="0" alt="[Image: medium_86tabuik-mini111.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<span style="font-family: arial;"><span style="font-size: small;"><span style="font-weight: bold;">PARIAMAN, SO</span>--Tabuik<br />
yang dibuat sebagai cinderamata ternyata banyak diminati orang. Tidak <br />
hanya disukai para perantau tapi juga mereka yang datang ke Pariaman. <br />
<br />
Saat<br />
hari puncak Tabuik Piaman 2012 (25/11) lalu misalnya, Adek (29) seorang<br />
pengrajin kreatif pembuat tabuik mini, ketiban rezeki. Semua tabuik <br />
yang disiapkannya sebelum acara pesta budaya tabuik, telah habis <br />
terjual, sampai dia merasa tidak tega melihat peminat banyak balik kanan<br />
dengan kecewa.<br />
<br />
“Hasilnya lumayanlah..,” aku Adek atas penjualan <br />
puluhan cinderamata tabuik hasil karyanya. Cinderamata tabuik sudah <br />
dikerjakannya sejak tahun 2005 bersama 2 orang temannya. Sekarang hanya <br />
dia sendiri yang meneruskan, dengan memiliki counter di Taratak, jalan <br />
Muhammad Yamin, Kota Pariaman.<br />
<br />
“Umumnya yang datang membeli, <br />
adalah mereka yang datang dari luar. Mayoritas bukan orang Pariaman,” <br />
cerita Adek tentang konsumennya.<br />
Cinderamata tabuik Adek dalam <br />
beberapa tahun terakhir ini sudah dikenal di Pariaman. Tabuik mini <br />
buatannya kerap dijadikan sebagai tropi hadiah berbagai perlombaan dan <br />
pertandingan. Nyaris ia tak pernah sepi dengan pesanan.<br />
<br />
Sementara<br />
sehari-hari ia tetap mengupayakan di counter yang sekaligus menjadi <br />
studio kerjanya, selalu menyediakan tabuik mini meskipun tidak dalam <br />
kegiatan pesta tabuik sekalipun.<br />
<br />
“Saya tetap belajar dan belajar,<br />
agar tabuik-tabuik yang saya buat dari hari ke hari lebih rapi dan <br />
indah. Saya yakin simbol budaya tradisi masyarakat Pariaman ini akan <br />
selalu diminati oleh orang luar, karena memang bentuk dan hiasannya <br />
unik,” ungkap Adek yang selalu rajin datang ke tempat pembuatan tabuik <br />
gadang di awal ramadhan setiap tahun.<br />
<br />
Bukan hanya Adek saja yang <br />
menikmati rezeki, Edi Inggi (38) pembuat cinderamata tabuik dari jln. <br />
Bgd. Aziz Chan, Kampuang Perak, Kota Pariaman, juga meraup keuntungan.<br />
<br />
“Kalau<br />
hari biasanya, memang ada saja pembeli tapi saat pesta tabuik, <br />
jumlahnya banyak. Ada saja yang datang ke rumah untuk beli,” ujar Edi <br />
Inggi bercerita bahwa kini ia tengah menyelesaikan lima buah tabuik mini<br />
pesanan yang akan dibawa ke Malaysia.<br />
<br />
Azwar dan Amaik di hari <br />
senggang warga jalan Tabuik, Pasia, Kota Pariaman, kerap membuat tabuik <br />
mini cinderamata selain membuat Tabuik Gadang, juga melepas sejumlah <br />
koleksinya untuk perantau yang ingin membawa Tabuik Piaman dalam ukuran <br />
mini, seusai pesta tabuik berakhir.<br />
<br />
Yusrizal, SE, salah seorang <br />
penggerak Sanggar Paris dan anggota DPRD Kota Pariaman berpendapat bahwa<br />
kecintaan tabuik tak pernah luntur. Ia beberapakali 3 tahun lalu telah <br />
melakukan pelatihan untuk banyak keluarga nelayan di Pasia Baru Nareh, <br />
dan kecamatan Pariaman Utara membuat tabuik mini yang bisa dijadikan <br />
cinderamata. “Membuat tabuik mini, untuk peningkatan ekonomi mereka.”</span></span>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Empat Makam Keramat Beri Isyarat Bencana]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Empat-Makam-Keramat-Beri-Isyarat-Bencana</link>
			<pubDate>Fri, 30 Nov 2012 03:17:46 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Empat-Makam-Keramat-Beri-Isyarat-Bencana</guid>
			<description><![CDATA[<div align="justify">TANAH DATAR – Nagari Sumaniak <br />
memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Beragam potensi kesejahteraan <br />
tersebar di segenap pelosok nagari. Menariknya, di nagari ini juga <br />
terdapat empat makam keramat yang diyakini bisa memberi isyarat bila <br />
akan tiba bencana.</div>
<a href="http://hariansinggalang.co.id/wp-content/uploads/2012/11/bening.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://hariansinggalang.co.id/wp-content/uploads/2012/11/bening-300x225.jpg" border="0" alt="[Image: bening-300x225.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a>LANGSUNG DI MINUM<br />
<br />
<div align="justify">
“Masyarakat meyakini, bila muncul suara manggaga (bahasa Sumaniaknya <br />
manggogo) dari salah satu makam keramat itu, lalu disahut pula oleh <br />
makam keramat yang lain. Itu merupakan isyarat akan ada bencana, <br />
misalnya kebakaran, galodo, gempa bumi dan bencana alam lainnya. Orang <br />
yang mendengar suara manggaga itu pun tidak tetap,” terang Walinagari <br />
Sumaniak, Mulyazen, didampingi sejumlah perangkat pemerintahan nagari, <br />
kepada Singgalang kemarin, di ruangan kerjanya.<br />
<br />
Kendati keyakinan itu berbau tahyul, namun menurutnya, dari beberapa <br />
kali peristiwa bencana alam, sejumlah warga melaporkan memang mendengar <br />
suara manggaga yang saling bersahutan dari satu makam keramat ke makam <br />
keramat lain yang letaknya terpisah. Makam keramat itu terdapat di Bukik<br />
Selo, Bukik Kociak dan kuburan keramat Datuak Sitapuang.<br />
<br />
Selain empat makam keramat, di Nagari Sumaniak juga terdapat potensi <br />
cagar budaya lain, di antaranya makam Haji Sumaniak, seorang ulama <br />
terkenal di zaman Padri. Di Sumaniak juga terdapat makam Makhudumsyah <br />
yang dikenal sebagai men- teri keuangan Pagaruyung.<br />
<br />
“Sebenarnya ada banyak potensi nagari ini yang belum digali dan <br />
dipandang sangat potensial untuk dikembangkan, baik untuk kepentingan <br />
pariwisata maupun objek kajian sejarah dan khazanah kebudayaan bangsa. <br />
Sebutlah misalnya soal rumah gadang, di nagari ini semuanya membujur <br />
dari Timur ke Barat,” sebut walinagari.<br />
<br />
Bila dilihat dari udara, tambahnya, rumah gadang itu terlihat tersusun <br />
rapi laksana manik-manik. Menurut legenda, jelas wali nagari, rumah <br />
gadang yang tersusun bagai manik-manik itulah yang menjadi asal mula <br />
nagari tersebut dinamai Sumaniak.<br />
<br />
Potensi wisata lain yang perlu digali adalah batu manangih, seni anak <br />
nagari yang mencakup randai, saluang, tari-tarian, dan silat. Begitu <br />
pula dengan prosesi upacara adat seperti batagak pangulu, turun mandi, <br />
sunatan dan alek atau upacara perkawinan.<br />
<br />
Akan semakin lengkap bila disebut pula khazanah kuliner khas Sumaniak, <br />
yakni randang belut dan sambalado tulang yang sudah kenal luas sampai ke<br />
mancanegara.<br />
<br />
Nagari Sumaniak dihuni sekitar 4.325 jiwa warga. Perantau Sumaniak <br />
dikenal sukses di berbagai kota di Indonesia. Jumlahnya jauh melebihi <br />
penduduk yang ada di kampung halaman. Khusus untuk yang bermukim di <br />
kampung, mata pencaharian utama mereka adalah bertani dan berkebun.<br />
<br />
Sumaniak memiliki luas sekitar 2.000 hektare yang terbagi ke dalam tujuh<br />
jorong, yaitu Piliang Laweh, Mandailiang, Piliang Sani, Koto Piliang, <br />
Guguak Tinggi, Guguak Manih dan Guguak Panjang. Visi nagari adalah <br />
mambangkik batang tarandam dengan asas syarak mangato adat mamakai <br />
dengan aplikasi adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah yang <br />
disikapi urang awak di kampuang awak untuak urang awak.<br />
<br />
“Misi utama nagari ini adalah membangun nagari secara fisik, spritual, <br />
dan budaya dengan memberdayakan tigo tungku sajarangan serta tokoh <br />
masyarakat untuk mencapai makmur, cerdas, agamis, serta berbudaya dan <br />
bersatu untuk bersama secara lahir,” sebut walinagari. (211/singgalang)</div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">TANAH DATAR – Nagari Sumaniak <br />
memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Beragam potensi kesejahteraan <br />
tersebar di segenap pelosok nagari. Menariknya, di nagari ini juga <br />
terdapat empat makam keramat yang diyakini bisa memberi isyarat bila <br />
akan tiba bencana.</div>
<a href="http://hariansinggalang.co.id/wp-content/uploads/2012/11/bening.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://hariansinggalang.co.id/wp-content/uploads/2012/11/bening-300x225.jpg" border="0" alt="[Image: bening-300x225.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a>LANGSUNG DI MINUM<br />
<br />
<div align="justify">
“Masyarakat meyakini, bila muncul suara manggaga (bahasa Sumaniaknya <br />
manggogo) dari salah satu makam keramat itu, lalu disahut pula oleh <br />
makam keramat yang lain. Itu merupakan isyarat akan ada bencana, <br />
misalnya kebakaran, galodo, gempa bumi dan bencana alam lainnya. Orang <br />
yang mendengar suara manggaga itu pun tidak tetap,” terang Walinagari <br />
Sumaniak, Mulyazen, didampingi sejumlah perangkat pemerintahan nagari, <br />
kepada Singgalang kemarin, di ruangan kerjanya.<br />
<br />
Kendati keyakinan itu berbau tahyul, namun menurutnya, dari beberapa <br />
kali peristiwa bencana alam, sejumlah warga melaporkan memang mendengar <br />
suara manggaga yang saling bersahutan dari satu makam keramat ke makam <br />
keramat lain yang letaknya terpisah. Makam keramat itu terdapat di Bukik<br />
Selo, Bukik Kociak dan kuburan keramat Datuak Sitapuang.<br />
<br />
Selain empat makam keramat, di Nagari Sumaniak juga terdapat potensi <br />
cagar budaya lain, di antaranya makam Haji Sumaniak, seorang ulama <br />
terkenal di zaman Padri. Di Sumaniak juga terdapat makam Makhudumsyah <br />
yang dikenal sebagai men- teri keuangan Pagaruyung.<br />
<br />
“Sebenarnya ada banyak potensi nagari ini yang belum digali dan <br />
dipandang sangat potensial untuk dikembangkan, baik untuk kepentingan <br />
pariwisata maupun objek kajian sejarah dan khazanah kebudayaan bangsa. <br />
Sebutlah misalnya soal rumah gadang, di nagari ini semuanya membujur <br />
dari Timur ke Barat,” sebut walinagari.<br />
<br />
Bila dilihat dari udara, tambahnya, rumah gadang itu terlihat tersusun <br />
rapi laksana manik-manik. Menurut legenda, jelas wali nagari, rumah <br />
gadang yang tersusun bagai manik-manik itulah yang menjadi asal mula <br />
nagari tersebut dinamai Sumaniak.<br />
<br />
Potensi wisata lain yang perlu digali adalah batu manangih, seni anak <br />
nagari yang mencakup randai, saluang, tari-tarian, dan silat. Begitu <br />
pula dengan prosesi upacara adat seperti batagak pangulu, turun mandi, <br />
sunatan dan alek atau upacara perkawinan.<br />
<br />
Akan semakin lengkap bila disebut pula khazanah kuliner khas Sumaniak, <br />
yakni randang belut dan sambalado tulang yang sudah kenal luas sampai ke<br />
mancanegara.<br />
<br />
Nagari Sumaniak dihuni sekitar 4.325 jiwa warga. Perantau Sumaniak <br />
dikenal sukses di berbagai kota di Indonesia. Jumlahnya jauh melebihi <br />
penduduk yang ada di kampung halaman. Khusus untuk yang bermukim di <br />
kampung, mata pencaharian utama mereka adalah bertani dan berkebun.<br />
<br />
Sumaniak memiliki luas sekitar 2.000 hektare yang terbagi ke dalam tujuh<br />
jorong, yaitu Piliang Laweh, Mandailiang, Piliang Sani, Koto Piliang, <br />
Guguak Tinggi, Guguak Manih dan Guguak Panjang. Visi nagari adalah <br />
mambangkik batang tarandam dengan asas syarak mangato adat mamakai <br />
dengan aplikasi adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah yang <br />
disikapi urang awak di kampuang awak untuak urang awak.<br />
<br />
“Misi utama nagari ini adalah membangun nagari secara fisik, spritual, <br />
dan budaya dengan memberdayakan tigo tungku sajarangan serta tokoh <br />
masyarakat untuk mencapai makmur, cerdas, agamis, serta berbudaya dan <br />
bersatu untuk bersama secara lahir,” sebut walinagari. (211/singgalang)</div>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Jangan Nikahi Wanita Mnang]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Jangan-Nikahi-Wanita-Mnang</link>
			<pubDate>Thu, 29 Nov 2012 03:24:43 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Jangan-Nikahi-Wanita-Mnang</guid>
			<description><![CDATA[”Jangan nikahi wanita dari suku Minang!” Itulah <br />
petuah atau nasehat pertama yang aku dapatkan waktu pertama kali <br />
menginjakkan kaki di ranah Minangkabau. Nasehat yang aku dapatkan 4 <br />
tahun yang lalu. Nasehat dari orang tua yang juga sama-sama sebagai <br />
perantau di ranah Minangkabau. Orang tua itu melanjutkan nasehatnya <br />
”jika kamu menikahi wanita Minang, andai terjadi perceraian bisa-bisa <br />
kamu hanya membawa kolor saja!” (maksudnya kita tidak mendapat hak <br />
kepemilikan harta sedikitpun). Kadung termakan cinta, Nasehat orang <br />
tua itu saya anggap angin lalu. Sayapun akhirnya menikahi wanita Minang.<br />
Lagian saya menikahinya bukan karena harta, tapi karena cinta. <br />
(@apabila istri saya membaca ini, biar dia tambah sayang!heehe ). <br />
Walaupun dikesempatan yang lain orang tua itu menambahkan contoh kasus: <br />
Si pria perantau yang bercerai dengan wanita Minang hanya pulang ke <br />
rumah orangtuanya dengan kolor doang, uph! Maaf maksud saya hanya <br />
membawa pekaian 1 tas besar, sedangkan tanah, rumah dan kebun serta <br />
tetek bengek harta keluarga sepenuhnya dimiliki oleh keluarga istrinya. <br />
Kok bisa ya? Nasehat itu juga banyak diiyakan oleh teman-teman <br />
seperjuangan saya sesama perantau. Tapi tentu juga ada banyak yang <br />
menolaknya. Singkat cerita, selelah saya berkeluarga, dan banyak bergaul<br />
dengan masyarakat Minang yang terkenal dengan sistem matrileniernya, <br />
yaitu sistem kekerabatan yang mengambil garis keturunan dari ibu. Serta <br />
pergaulan saya dengan sesama perantau lainnya di ranah Minangkabau ini.<br />
Akhirnya saya berkesimpulan jika nasehat si orangtua itu dulu ada <br />
benarnya, atau tidak salah sepenuhnya. Tentunya apabila kasusnya <br />
memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang saya maksud adalah:<br />
1. Anda menikahi wanita Minang dari keluarga kaya raya. Dalam <br />
kelanjutan rumahtangga anda, semua kebutuhan ekonomi keluarga dipenuhi <br />
dari pihak istri. Dari tempat tinggal, biaya hidup, dsb. Jika anda <br />
membuka usaha, semua modal usaha dari keluarga istri. Bukan dipinjami <br />
modal, tapi dimodali ! Maka jika terjadi perceraiaan anda bisa diusir <br />
dengan mudahnya. sulosinya: Kalau ngibet menikahi wanita Minang kaya <br />
raya, berusahalah untuk tetap bekerja juga. Kalau membuka usaha dengan <br />
dimodali mertua atau istri jangan mau. Tapi berhutang modal oke! 2. <br />
Menikahi wanita Minang, tetapi istri yang mencari nafkah keluarga, <br />
sedangkan anda sebagai suami cuma diam dirumah. Mengurus anak atau cuma <br />
bekerja sekedarnya saja. Yang mana hasil pekerjaan anda untuk membeli <br />
rokok saja tidak cukup. Siap-siaplah andai terjadi perceraian. Anda akan<br />
dicampakkan. Karena harta gono-gini anda semuanya dibeli dari hasil <br />
kerja istri anda. Apalagi anda mempunyai anak perempuan, tentulah ninik <br />
mamaknya (saudara lelaki istri anda) tak akan membiarkan anda <br />
mendapatkan hak harta dari keringat istri anda. Solusinya: jadilah <br />
pemberi nafkah keluarga. Atau mempunyai penghasilan minimal sama dengan <br />
penghasilan istri anda. Sehingga harta yang keluarga anda punya banyak <br />
jenisnya , dan tentunya menjadi milik bersama. 3. Menikahi wanita <br />
Minang, tetapi anak-anak kita banyak yang perempuan. Sedangkan harta <br />
keluarga kita cuma sebuah rumah dan pakarangannya saja. Maka andai <br />
terjadi perceraian, rumah kita sebagai harta satu-satunya adalah hak <br />
anak2 kita). Tentunya anak kita tinggal sama ibunya. Dan kita pergi mau <br />
membawa apa? Wong, harta cuma seupil rumah! Sulosinya: bekerja keraslah,<br />
dan punyailah harta lebih, bukan hanya rumah saja. Tapi juga punya <br />
kebun, ruko, tabungan,dll. **Kesimpulan: Jadi apabila salah satu syarat<br />
di atas terpenuhi dalam kehidupan rumahtangga lelaki perantau dan gadis<br />
Minang di ranah Minangkabau, maka apa yang dikatakan orang tua pemberi <br />
nasehat saya itu dulu betul adanya. O, ya. Selain 3 sulosi atas 3 kasus<br />
di atas ada sulosi jitu, walaupun rada aneh. Tapi manjur! yaitu: <br />
banyak-banyaklah bikin anak! Alasannya, sebagai orang tua kita bisa <br />
menggantungkan hidup ke anak-anak kita. (Masa anak tega melantarkan <br />
ayahnya?) WARNING!!! Jika anda lelaki pemalas dan mandul, jangan <br />
sekali-kali menikahi wanita Minang. Andai terjadi perceraian, <br />
siap-siaplah jadi pengemis! Catatan— Maaf, Tulisan ini tidak bermaksud <br />
menjelek-jelekkan suku Minang, tetapi saya berusaha memaparkan sedikit <br />
realita pandangan negatif sebagian perantau non Minang terhadap orang <br />
Minang di ranah Minangkabau. Atau pikiran negatif. Tapi dari sudut <br />
pandang positif. Salam GL 10…(kompasiana)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[”Jangan nikahi wanita dari suku Minang!” Itulah <br />
petuah atau nasehat pertama yang aku dapatkan waktu pertama kali <br />
menginjakkan kaki di ranah Minangkabau. Nasehat yang aku dapatkan 4 <br />
tahun yang lalu. Nasehat dari orang tua yang juga sama-sama sebagai <br />
perantau di ranah Minangkabau. Orang tua itu melanjutkan nasehatnya <br />
”jika kamu menikahi wanita Minang, andai terjadi perceraian bisa-bisa <br />
kamu hanya membawa kolor saja!” (maksudnya kita tidak mendapat hak <br />
kepemilikan harta sedikitpun). Kadung termakan cinta, Nasehat orang <br />
tua itu saya anggap angin lalu. Sayapun akhirnya menikahi wanita Minang.<br />
Lagian saya menikahinya bukan karena harta, tapi karena cinta. <br />
(@apabila istri saya membaca ini, biar dia tambah sayang!heehe ). <br />
Walaupun dikesempatan yang lain orang tua itu menambahkan contoh kasus: <br />
Si pria perantau yang bercerai dengan wanita Minang hanya pulang ke <br />
rumah orangtuanya dengan kolor doang, uph! Maaf maksud saya hanya <br />
membawa pekaian 1 tas besar, sedangkan tanah, rumah dan kebun serta <br />
tetek bengek harta keluarga sepenuhnya dimiliki oleh keluarga istrinya. <br />
Kok bisa ya? Nasehat itu juga banyak diiyakan oleh teman-teman <br />
seperjuangan saya sesama perantau. Tapi tentu juga ada banyak yang <br />
menolaknya. Singkat cerita, selelah saya berkeluarga, dan banyak bergaul<br />
dengan masyarakat Minang yang terkenal dengan sistem matrileniernya, <br />
yaitu sistem kekerabatan yang mengambil garis keturunan dari ibu. Serta <br />
pergaulan saya dengan sesama perantau lainnya di ranah Minangkabau ini.<br />
Akhirnya saya berkesimpulan jika nasehat si orangtua itu dulu ada <br />
benarnya, atau tidak salah sepenuhnya. Tentunya apabila kasusnya <br />
memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang saya maksud adalah:<br />
1. Anda menikahi wanita Minang dari keluarga kaya raya. Dalam <br />
kelanjutan rumahtangga anda, semua kebutuhan ekonomi keluarga dipenuhi <br />
dari pihak istri. Dari tempat tinggal, biaya hidup, dsb. Jika anda <br />
membuka usaha, semua modal usaha dari keluarga istri. Bukan dipinjami <br />
modal, tapi dimodali ! Maka jika terjadi perceraiaan anda bisa diusir <br />
dengan mudahnya. sulosinya: Kalau ngibet menikahi wanita Minang kaya <br />
raya, berusahalah untuk tetap bekerja juga. Kalau membuka usaha dengan <br />
dimodali mertua atau istri jangan mau. Tapi berhutang modal oke! 2. <br />
Menikahi wanita Minang, tetapi istri yang mencari nafkah keluarga, <br />
sedangkan anda sebagai suami cuma diam dirumah. Mengurus anak atau cuma <br />
bekerja sekedarnya saja. Yang mana hasil pekerjaan anda untuk membeli <br />
rokok saja tidak cukup. Siap-siaplah andai terjadi perceraian. Anda akan<br />
dicampakkan. Karena harta gono-gini anda semuanya dibeli dari hasil <br />
kerja istri anda. Apalagi anda mempunyai anak perempuan, tentulah ninik <br />
mamaknya (saudara lelaki istri anda) tak akan membiarkan anda <br />
mendapatkan hak harta dari keringat istri anda. Solusinya: jadilah <br />
pemberi nafkah keluarga. Atau mempunyai penghasilan minimal sama dengan <br />
penghasilan istri anda. Sehingga harta yang keluarga anda punya banyak <br />
jenisnya , dan tentunya menjadi milik bersama. 3. Menikahi wanita <br />
Minang, tetapi anak-anak kita banyak yang perempuan. Sedangkan harta <br />
keluarga kita cuma sebuah rumah dan pakarangannya saja. Maka andai <br />
terjadi perceraian, rumah kita sebagai harta satu-satunya adalah hak <br />
anak2 kita). Tentunya anak kita tinggal sama ibunya. Dan kita pergi mau <br />
membawa apa? Wong, harta cuma seupil rumah! Sulosinya: bekerja keraslah,<br />
dan punyailah harta lebih, bukan hanya rumah saja. Tapi juga punya <br />
kebun, ruko, tabungan,dll. **Kesimpulan: Jadi apabila salah satu syarat<br />
di atas terpenuhi dalam kehidupan rumahtangga lelaki perantau dan gadis<br />
Minang di ranah Minangkabau, maka apa yang dikatakan orang tua pemberi <br />
nasehat saya itu dulu betul adanya. O, ya. Selain 3 sulosi atas 3 kasus<br />
di atas ada sulosi jitu, walaupun rada aneh. Tapi manjur! yaitu: <br />
banyak-banyaklah bikin anak! Alasannya, sebagai orang tua kita bisa <br />
menggantungkan hidup ke anak-anak kita. (Masa anak tega melantarkan <br />
ayahnya?) WARNING!!! Jika anda lelaki pemalas dan mandul, jangan <br />
sekali-kali menikahi wanita Minang. Andai terjadi perceraian, <br />
siap-siaplah jadi pengemis! Catatan— Maaf, Tulisan ini tidak bermaksud <br />
menjelek-jelekkan suku Minang, tetapi saya berusaha memaparkan sedikit <br />
realita pandangan negatif sebagian perantau non Minang terhadap orang <br />
Minang di ranah Minangkabau. Atau pikiran negatif. Tapi dari sudut <br />
pandang positif. Salam GL 10…(kompasiana)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Baju Kuruang Basiba: Sebuah Ikon Minangkabau]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Baju-Kuruang-Basiba-Sebuah-Ikon-Minangkabau</link>
			<pubDate>Wed, 28 Nov 2012 05:29:13 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Baju-Kuruang-Basiba-Sebuah-Ikon-Minangkabau</guid>
			<description><![CDATA[Setiap suku bangsa mempunyaitradisi<br />
dan budaya, tak terkecuali dengan minangkabau salah satu suku bangsa <br />
yang terkenal dengan “adat basandi syara’, syara’ basandi <br />
kitabullah-nya” ungkapan ini menegaskan bahwa setiap orang berdarah <br />
minang adalah muslim yang taat dan patuh kepada al-quran dan bertuhankan<br />
kepada allah. Disamping semua itu minangkabau dikenal dengan keelokan <br />
bahasa, pakaian, adat-istiadat dan ditambah dengan bentang alam nun <br />
hijau sejauh mata memandang. <br />
<br />
<div align="justify">Banyak<br />
hal lain yang bisa menggambarkan seperti apa itu minangkabau, salah <br />
satunya adalah Baju Kuruang Basiba. Baju Kuruang adalah baju yang <br />
dipakai oleh Gadih (Gadis) Minang dan Bundo Kanduang dimasa lalu. Dari <br />
referensi yang ada baju kuruang itu sendiri adalah sebuah baju yang <br />
longgar dan dalam sehingga menutupi seluruh aurat wanita, karna isnlam <br />
menyuruh umatnya untuk menutupi auratnya sehingga tidak memancing nafsu <br />
orang yang melihatnya dan baju kuruang dirasa tepat untuk mencerminkan <br />
hal itu. selanjutnya “basiba” berasal dari tiga tanda jahitan yang <br />
berawal dari ujung ketiak wanita yang diberi pita yang sewarna dengan <br />
baju dan ditambha lipatan yang indah pada rok sebagai bagian dari <br />
pasangan baju itu. Inilah yang menampah keelokan wanita minangkabau.</div>
<div align="justify">Bagaimana pada hari ini? Hari ini baju kuruang basiba mulai luntur hilang ditinggalkan oleh masyarakat minangkabau karnaditelan<br />
kemajuan zaman, ditambah parah oleh kurangnya kesadaran dari berbagai <br />
pihak untuk berusaha melestarikannya, kalaupun ada maka tidak banyak <br />
yang berusaha melestarikannya. Orientasi sekarang cendrung mengikuti <br />
budaya luar yang sangat timpang dengan budaya minangkabau, sejatinya <br />
setiap perempuan minang itu memakai pakaian yang menutup aurat tetapi <br />
yang terjadi hari ini adalah sebaliknya pakaian ketat “yu can see” <br />
rambut yang terurai sehingga mengundang hawa nafsu orang yang <br />
melihatnya, sungguh menyedihkan bagi minangkabau sendiri.</div>
<div align="justify">Esensi<br />
“adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah” itu sudah hilang <br />
bersih diterpa angin. Supaya hal ini tidak terus berkelanjutan <br />
diperlukan kesadaran pada diri untuk terus melestarikan setiap aspek <br />
dari kebudayaan. Yang berlalu biarkan berlalu, memang benar tapi apakah <br />
akan terus berkelanjutan seperti ini ? tidakkah ada pelajaran yang dapat<br />
dipetik, bukankah hal yang sudah terjadi harus dipahami dan dimaknai <br />
secara mendalam.(kompasiana)</div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Setiap suku bangsa mempunyaitradisi<br />
dan budaya, tak terkecuali dengan minangkabau salah satu suku bangsa <br />
yang terkenal dengan “adat basandi syara’, syara’ basandi <br />
kitabullah-nya” ungkapan ini menegaskan bahwa setiap orang berdarah <br />
minang adalah muslim yang taat dan patuh kepada al-quran dan bertuhankan<br />
kepada allah. Disamping semua itu minangkabau dikenal dengan keelokan <br />
bahasa, pakaian, adat-istiadat dan ditambah dengan bentang alam nun <br />
hijau sejauh mata memandang. <br />
<br />
<div align="justify">Banyak<br />
hal lain yang bisa menggambarkan seperti apa itu minangkabau, salah <br />
satunya adalah Baju Kuruang Basiba. Baju Kuruang adalah baju yang <br />
dipakai oleh Gadih (Gadis) Minang dan Bundo Kanduang dimasa lalu. Dari <br />
referensi yang ada baju kuruang itu sendiri adalah sebuah baju yang <br />
longgar dan dalam sehingga menutupi seluruh aurat wanita, karna isnlam <br />
menyuruh umatnya untuk menutupi auratnya sehingga tidak memancing nafsu <br />
orang yang melihatnya dan baju kuruang dirasa tepat untuk mencerminkan <br />
hal itu. selanjutnya “basiba” berasal dari tiga tanda jahitan yang <br />
berawal dari ujung ketiak wanita yang diberi pita yang sewarna dengan <br />
baju dan ditambha lipatan yang indah pada rok sebagai bagian dari <br />
pasangan baju itu. Inilah yang menampah keelokan wanita minangkabau.</div>
<div align="justify">Bagaimana pada hari ini? Hari ini baju kuruang basiba mulai luntur hilang ditinggalkan oleh masyarakat minangkabau karnaditelan<br />
kemajuan zaman, ditambah parah oleh kurangnya kesadaran dari berbagai <br />
pihak untuk berusaha melestarikannya, kalaupun ada maka tidak banyak <br />
yang berusaha melestarikannya. Orientasi sekarang cendrung mengikuti <br />
budaya luar yang sangat timpang dengan budaya minangkabau, sejatinya <br />
setiap perempuan minang itu memakai pakaian yang menutup aurat tetapi <br />
yang terjadi hari ini adalah sebaliknya pakaian ketat “yu can see” <br />
rambut yang terurai sehingga mengundang hawa nafsu orang yang <br />
melihatnya, sungguh menyedihkan bagi minangkabau sendiri.</div>
<div align="justify">Esensi<br />
“adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah” itu sudah hilang <br />
bersih diterpa angin. Supaya hal ini tidak terus berkelanjutan <br />
diperlukan kesadaran pada diri untuk terus melestarikan setiap aspek <br />
dari kebudayaan. Yang berlalu biarkan berlalu, memang benar tapi apakah <br />
akan terus berkelanjutan seperti ini ? tidakkah ada pelajaran yang dapat<br />
dipetik, bukankah hal yang sudah terjadi harus dipahami dan dimaknai <br />
secara mendalam.(kompasiana)</div>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Tabuik dan Kekayaan Budaya Minangkabau]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Tabuik-dan-Kekayaan-Budaya-Minangkabau</link>
			<pubDate>Tue, 27 Nov 2012 03:43:05 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Tabuik-dan-Kekayaan-Budaya-Minangkabau</guid>
			<description><![CDATA[<div align="justify">Pesta Tabuik Piaman merupakan perayaan <br />
lokal dalam rangka memperingati hari Asyura (10 Muharam). Festival ini <br />
merupakan core event pariwisata nasional dan merupakan satu kekayaan <br />
budaya Minangkabau.<br />
<br />
Tidak ada catatan tertulis sejak kapan tabuik (Bengkulu: tabot) mulai <br />
dikenal di Indonesia. Namun, catatan dari Snouck Hrgronje, seorang <br />
peneliti pranata Islam di masyarakat pribumi Hindia-Belanda (sekarang <br />
Indonesia) memiliki derajat kesahihan yang paling tinggi jika <br />
dibandingkan dengan berbagai versi cerita mengenai asal-usul tabuik di <br />
Pariaman.<br />
<br />
Tradisi unik yang diadakan tiap tahun pada sepuluh hari pertama bulan <br />
Muharram ini dibawa oleh para tukang yang membangun Benteng Marlborought<br />
(1718-1719) di Bengkulu. Mereka, didatangkan oleh Inggris dari Madras <br />
dan Bengali di bagian selatan India.<br />
<br />
Jauh berbeda dengan eforia (senang berlebihan) perayaan tabuik yang <br />
identik dengan keramaian, pawai, dan berbagai atraksi tari-musik, <br />
ternyata perayaan tabuik hakikatnya sebuah ritual keagamaan penganut <br />
syiah.<br />
<br />
Bertujuan memperingati peristiwa wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW yang <br />
dibantai. Ketika Hassan bin Ali yang wafat diracun dan Husein bin Ali <br />
yang gugur dalam peperangan dengan pasukan Ubaidillah bin Zaid di padang<br />
Karbala, Iraq tanggal 10 Muharam 61 Hijrah (681 Masehi).<br />
<br />
Tubuh Husain bin Ali yang sudah wafat dirusak dengan tidak wajar.<br />
<br />
Inti dari upacara tabuik adalah untuk mengenang upaya pemimpin Syi’ah <br />
dan kaumnya ketika mengumpulkan potongan tubuh Husein bin Ali. Penganut <br />
syiah percaya, jenazah Husain bin Ali diusung ke langit menggunakan <br />
Bouraq dengan peti jenazah yang disebut tabuik di kala itu.<br />
<br />
Kendaraan Bouraq yang disimbolkan dengan wujud kuda gemuk berkepala wanita cantik (bagian utama bangunan tabuik).<br />
<br />
Seiring berkembangnya waktu, kebiasaan itu akhirnya mengalami asimilasi <br />
dan akulturasi dengan budaya setempat, dan kemudian diwariskan dan <br />
dilembagakan menjadi apa yang kemudian dikenal dengan pesta tabuik di <br />
Pariaman dan festival tabot di Bengkulu.<br />
<br />
Jika awalnya upacara tabuik digunakan orang-orang Madras dan Bengali <br />
yang berpaham syiah untuk mengenang gugurnya Husein bin Ali bin Abi <br />
Thalib, maka setelah terjadi pembauran budaya dengan masyarakat <br />
setempat, maka ritual berkabung itu berubah fungsi menjadi festival <br />
budaya lokal yang penuh dengan keceriaan.<br />
<br />
Diselenggarakan tidak hanya oleh garis keturunan orang-orang Madras dan Bengali. Tetapi oleh seluruh unsur masyarat sekitar.<br />
<br />
Dua minggu menjelang pelaksanaan upacara tabuik, warga Pariaman sudah sibuk melakukan berbagai persiapan.<br />
<br />
Mereka membuat aneka makanan seperti kue-kue khas Pariaman. Menurut <br />
Halimah dalam situsnya uun-halimah.blogspot.com, prosesi panjang tabuik <br />
diawali dengan membuat tabuik di dua tempat, di pasar (tabuik pasa) dan <br />
subarang (tabuik subarang).<br />
<br />
Masing-masing terdiri dari dua bagian (atas dan bawah) yang tingginya <br />
dapat mencapai 12 meter. Bagian atas mewakili keranda berbentuk menara <br />
yang dihiasi dengan bunga dan kain beludru berwarna-warni. Sedangkan, <br />
bagian bawah berbentuk tubuh kuda, bersayap, berekor dan berkepala <br />
manusia.<br />
<br />
Bagian bawah itu mewakili bentuk burung Buraq yang dipercaya membawa <br />
Husein bin Ali ke langit menghadap Yang Kuasa. Kedua bagian ini kemudian<br />
disatukan. Caranya, bagian atas diusung secara beramai-ramai untuk <br />
disatukan dengan bagian bawah. Setelah itu, berturut-turut dipasang <br />
sayap, ekor, bunga-bunga salapan dan terakhir kepala.<br />
<br />
Guna menambah semangat para pengusung tabuik biasanya diiringi dengan <br />
musik gendang tasa. Penyatuan dua bagian tabuik (atas dan bawah) <br />
biasanya usai menjelang waktu shalat dzuhur tiba. Kedua tabuik tadi <br />
dipajang berhadap-hadapan dan merupakan personifikasi dari dua pasukan <br />
yang akan berperang.<br />
<br />
Ba’da Ashar, kedua tabuik diarak keliling kota Pariaman. Masing-masing <br />
tabuik dibopong oleh delapan orang pria. Arak-arakan berlanjut hingga ke<br />
Pantai Gandoriah.<br />
<br />
Di tempat ini kedua tabuik diadu, untuk menggambarkan situasi perang di <br />
PadangKarbala. Usai diadu, kedua tabuik dibuang ke laut. Prosesi <br />
membuang tabuik ke laut ini melambangkan dibuangnya segala silang <br />
sengketa di masyarakat. Sekaligus, melambangkan terbangnya burung Buraq <br />
membawa jasad Husein ra ke Surga.<br />
<br />
Upacara ritual tabuik sebagai seluruh produk kebudayaan tentunya <br />
menambah keunikan kebudayaan Minangkabau. Bertitik tolak pada <br />
interpretasi dari kenyataan-kenyataan sejarah tabuik dan hubungannya <br />
dengan kondisi obyektif masyarakat Minang, pesta tabuik akhirnya menjadi<br />
satu bentuk kesenian daerah yang punya keunikan tersendiri bagi <br />
kekayaan budaya bangsa.<br />
<br />
Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai kebudayaannya <br />
sendiri. Oleh karena itu, disarankan kepada pihak-pihak yang berkompeten<br />
dalam pembinaan kebudayaan, termasuk dalam hal ini Pemerintah Daerah di<br />
masyarakat Pariaman betul-betul menampakkan tabuik Piaman, agar <br />
meningkatkan usaha-usaha pelestarian kesenian, termasuk mengintensifkan <br />
segi-segi promosi dan publikasi.<br />
<br />
Hal yang sederhana seperti mengusahakan miniatur bangunan tabuik untuk <br />
souvenir dan mempromosikan makanan-makanan khas (setidak-tidaknya selama<br />
musim tabuik). </div><div align="justify">Rangga Sudarma (Dosen Universitas Bung Hatta)</div><div align="justify">sumber : singgalang</div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">Pesta Tabuik Piaman merupakan perayaan <br />
lokal dalam rangka memperingati hari Asyura (10 Muharam). Festival ini <br />
merupakan core event pariwisata nasional dan merupakan satu kekayaan <br />
budaya Minangkabau.<br />
<br />
Tidak ada catatan tertulis sejak kapan tabuik (Bengkulu: tabot) mulai <br />
dikenal di Indonesia. Namun, catatan dari Snouck Hrgronje, seorang <br />
peneliti pranata Islam di masyarakat pribumi Hindia-Belanda (sekarang <br />
Indonesia) memiliki derajat kesahihan yang paling tinggi jika <br />
dibandingkan dengan berbagai versi cerita mengenai asal-usul tabuik di <br />
Pariaman.<br />
<br />
Tradisi unik yang diadakan tiap tahun pada sepuluh hari pertama bulan <br />
Muharram ini dibawa oleh para tukang yang membangun Benteng Marlborought<br />
(1718-1719) di Bengkulu. Mereka, didatangkan oleh Inggris dari Madras <br />
dan Bengali di bagian selatan India.<br />
<br />
Jauh berbeda dengan eforia (senang berlebihan) perayaan tabuik yang <br />
identik dengan keramaian, pawai, dan berbagai atraksi tari-musik, <br />
ternyata perayaan tabuik hakikatnya sebuah ritual keagamaan penganut <br />
syiah.<br />
<br />
Bertujuan memperingati peristiwa wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW yang <br />
dibantai. Ketika Hassan bin Ali yang wafat diracun dan Husein bin Ali <br />
yang gugur dalam peperangan dengan pasukan Ubaidillah bin Zaid di padang<br />
Karbala, Iraq tanggal 10 Muharam 61 Hijrah (681 Masehi).<br />
<br />
Tubuh Husain bin Ali yang sudah wafat dirusak dengan tidak wajar.<br />
<br />
Inti dari upacara tabuik adalah untuk mengenang upaya pemimpin Syi’ah <br />
dan kaumnya ketika mengumpulkan potongan tubuh Husein bin Ali. Penganut <br />
syiah percaya, jenazah Husain bin Ali diusung ke langit menggunakan <br />
Bouraq dengan peti jenazah yang disebut tabuik di kala itu.<br />
<br />
Kendaraan Bouraq yang disimbolkan dengan wujud kuda gemuk berkepala wanita cantik (bagian utama bangunan tabuik).<br />
<br />
Seiring berkembangnya waktu, kebiasaan itu akhirnya mengalami asimilasi <br />
dan akulturasi dengan budaya setempat, dan kemudian diwariskan dan <br />
dilembagakan menjadi apa yang kemudian dikenal dengan pesta tabuik di <br />
Pariaman dan festival tabot di Bengkulu.<br />
<br />
Jika awalnya upacara tabuik digunakan orang-orang Madras dan Bengali <br />
yang berpaham syiah untuk mengenang gugurnya Husein bin Ali bin Abi <br />
Thalib, maka setelah terjadi pembauran budaya dengan masyarakat <br />
setempat, maka ritual berkabung itu berubah fungsi menjadi festival <br />
budaya lokal yang penuh dengan keceriaan.<br />
<br />
Diselenggarakan tidak hanya oleh garis keturunan orang-orang Madras dan Bengali. Tetapi oleh seluruh unsur masyarat sekitar.<br />
<br />
Dua minggu menjelang pelaksanaan upacara tabuik, warga Pariaman sudah sibuk melakukan berbagai persiapan.<br />
<br />
Mereka membuat aneka makanan seperti kue-kue khas Pariaman. Menurut <br />
Halimah dalam situsnya uun-halimah.blogspot.com, prosesi panjang tabuik <br />
diawali dengan membuat tabuik di dua tempat, di pasar (tabuik pasa) dan <br />
subarang (tabuik subarang).<br />
<br />
Masing-masing terdiri dari dua bagian (atas dan bawah) yang tingginya <br />
dapat mencapai 12 meter. Bagian atas mewakili keranda berbentuk menara <br />
yang dihiasi dengan bunga dan kain beludru berwarna-warni. Sedangkan, <br />
bagian bawah berbentuk tubuh kuda, bersayap, berekor dan berkepala <br />
manusia.<br />
<br />
Bagian bawah itu mewakili bentuk burung Buraq yang dipercaya membawa <br />
Husein bin Ali ke langit menghadap Yang Kuasa. Kedua bagian ini kemudian<br />
disatukan. Caranya, bagian atas diusung secara beramai-ramai untuk <br />
disatukan dengan bagian bawah. Setelah itu, berturut-turut dipasang <br />
sayap, ekor, bunga-bunga salapan dan terakhir kepala.<br />
<br />
Guna menambah semangat para pengusung tabuik biasanya diiringi dengan <br />
musik gendang tasa. Penyatuan dua bagian tabuik (atas dan bawah) <br />
biasanya usai menjelang waktu shalat dzuhur tiba. Kedua tabuik tadi <br />
dipajang berhadap-hadapan dan merupakan personifikasi dari dua pasukan <br />
yang akan berperang.<br />
<br />
Ba’da Ashar, kedua tabuik diarak keliling kota Pariaman. Masing-masing <br />
tabuik dibopong oleh delapan orang pria. Arak-arakan berlanjut hingga ke<br />
Pantai Gandoriah.<br />
<br />
Di tempat ini kedua tabuik diadu, untuk menggambarkan situasi perang di <br />
PadangKarbala. Usai diadu, kedua tabuik dibuang ke laut. Prosesi <br />
membuang tabuik ke laut ini melambangkan dibuangnya segala silang <br />
sengketa di masyarakat. Sekaligus, melambangkan terbangnya burung Buraq <br />
membawa jasad Husein ra ke Surga.<br />
<br />
Upacara ritual tabuik sebagai seluruh produk kebudayaan tentunya <br />
menambah keunikan kebudayaan Minangkabau. Bertitik tolak pada <br />
interpretasi dari kenyataan-kenyataan sejarah tabuik dan hubungannya <br />
dengan kondisi obyektif masyarakat Minang, pesta tabuik akhirnya menjadi<br />
satu bentuk kesenian daerah yang punya keunikan tersendiri bagi <br />
kekayaan budaya bangsa.<br />
<br />
Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai kebudayaannya <br />
sendiri. Oleh karena itu, disarankan kepada pihak-pihak yang berkompeten<br />
dalam pembinaan kebudayaan, termasuk dalam hal ini Pemerintah Daerah di<br />
masyarakat Pariaman betul-betul menampakkan tabuik Piaman, agar <br />
meningkatkan usaha-usaha pelestarian kesenian, termasuk mengintensifkan <br />
segi-segi promosi dan publikasi.<br />
<br />
Hal yang sederhana seperti mengusahakan miniatur bangunan tabuik untuk <br />
souvenir dan mempromosikan makanan-makanan khas (setidak-tidaknya selama<br />
musim tabuik). </div><div align="justify">Rangga Sudarma (Dosen Universitas Bung Hatta)</div><div align="justify">sumber : singgalang</div>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Pengunjung Ramai Melihat Pembuatan Tabuik]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Pengunjung-Ramai-Melihat-Pembuatan-Tabuik</link>
			<pubDate>Sat, 24 Nov 2012 22:40:55 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Pengunjung-Ramai-Melihat-Pembuatan-Tabuik</guid>
			<description><![CDATA[<img src="http://www.sumbaronline.com/foto_berita/medium_35arkhi1.jpg" border="0" alt="[Image: medium_35arkhi1.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<span style="font-family: arial;"><span style="font-size: small;"><span style="font-weight: bold;">PARIAMAN, SO</span>--Malam<br />
Minggu ini (24/11), sejak maghrib sampai berita ini diturunkan, <br />
mendadak pengunjung silih berganti berdatangan ke tempat pembuatan <br />
Tabuik Pasa, di belakang Kantor Dinas Pariwisata Kota Pariaman. <br />
Jumlahnya diperkirakan ratusan. Terdiri dari anak-anak sampai dewasa. <br />
<br />
Mereka<br />
memenuhi lokasi pengerjaan di pondok bouraq, bagian bawah tabuik, <br />
maupun bagian puncak tabuik, kedua sayap buraq dan bungo puncak yang <br />
tengah dikerjakan dan harus siap menjelang dinihari ini.<br />
<br />
Kedatangan<br />
pengunjung dari berbagai lapisan malam ini, ingin melihat penyiapan <br />
tabuik secara langsung sebenarnya hal biasa dari tahun ke tahun. “Tetapi<br />
malam ini berbeda dengan hari biasa sejak dipindahkan ke Karan Aua <br />
tempat pembuatan Tabuik Pasa, dari tempat biasanya dari Kampuang Perak <br />
dan Pasia. Baik siang atau pun malam nyaris tak ada kunjungan beberapa <br />
hari ini. <br />
<br />
"Kami rasa dikucilkan. Namun malam ini mendadak saja <br />
menjadi ramai,” aku Azwar, pembuat Tabuik Pasa yang terpaksa harus sibuk<br />
mengawasi tingkah polah pengunjung, yang bebas saja mendekat ke <br />
bagian-bagian yang tengah dikerjakannya dan anggotanya.<br />
<br />
Di bagian<br />
depan lokasi pembuatan Tabuik Pasa, sejumlah anak-anak dimotivasi oleh <br />
Firman Zuhri, Ketua Tabuik Pasa 2012, untuk beratraksi gandang tasa. <br />
Meskipun tanpa penerangan sekitar tiang bendera, telah membuat suasana <br />
menjadi semarak, karena anak-anak ini tidak terbilang lagi dalam taraf <br />
belajar. Sudah mampu memainkan sejumlah komposisi bunyi dari alat <br />
tradisionil khas masyarakat Pariaman.<br />
<br />
Pengunjung yang memadati <br />
tempat anggota Azwar dalam mengerjakan tabuik, mayoritas datang untuk <br />
berfoto dengan bagian-bagian tabuik yang sudah siap. Nyaris mereka tidak<br />
puas hanya sekadar melihat, spontan mereka menyentuhnya. <br />
<br />
Meskipun<br />
tidak ada larangan, Azwar dan kawan-kawan tetap memberikan kebebasan <br />
walau ada bagian-bagian yang rusak di bagian tabuik, yang ditekan oleh <br />
pengunjung atau hiasan menjadi copot.<br />
<br />
“Namanya juga awak sedang <br />
baralek (pesta)” komentar Azwar, “Lagi pula bukankah Tabuik ini bukan <br />
milik awak saja tapi milik bersama,”<br />
Diakui oleh Azwar, meningkatnya kunjungan ke tempat pembuatan tabuik malam ini disebabkan juga bertepatan dengan malam minggu. <br />
<br />
Orang<br />
banyak keluar dari rumah. Kebetulan kota ada kegiatan tabuik yang akan <br />
dihoyak besok sampai petang hari. Sementara waktu yang sama di pusat <br />
kota dekat pasar, juga diselenggarakan acara penampilan seni di panggung<br />
utama, di simpang Kampuang Cino ada pentas hiburan dan di terminal Jati<br />
ada kegiatan pasar malam.<br />
<br />
Keramaian Kota Pariaman malam ini <br />
didukung juga oleh kondisi cuaca cukup bagus. Lalu lintas ramai tapi <br />
tidak terjadi kemacetan. Di berbagai persimpangan jalan, petugas <br />
kepolisian dan dinas perhubungan terlihat berjaga-jaga.<br />
<br />
“Sayang <br />
promosi yang jelas tidak diberikan penyelenggara yang mudah dipahami <br />
masyarakat. Titik penyelenggaraan acara sering membingungkan karena <br />
berada di tempat yang terpisah dan berjauhan,” komentar satu keluarga <br />
yang datang ke tempat pembuatan Tabuik Pasa, menyesalkan minimnya <br />
penerangan yang disediakan di lokasi, hingga terkesan gelap dan <br />
tersuruk. </span></span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<img src="http://www.sumbaronline.com/foto_berita/medium_35arkhi1.jpg" border="0" alt="[Image: medium_35arkhi1.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<span style="font-family: arial;"><span style="font-size: small;"><span style="font-weight: bold;">PARIAMAN, SO</span>--Malam<br />
Minggu ini (24/11), sejak maghrib sampai berita ini diturunkan, <br />
mendadak pengunjung silih berganti berdatangan ke tempat pembuatan <br />
Tabuik Pasa, di belakang Kantor Dinas Pariwisata Kota Pariaman. <br />
Jumlahnya diperkirakan ratusan. Terdiri dari anak-anak sampai dewasa. <br />
<br />
Mereka<br />
memenuhi lokasi pengerjaan di pondok bouraq, bagian bawah tabuik, <br />
maupun bagian puncak tabuik, kedua sayap buraq dan bungo puncak yang <br />
tengah dikerjakan dan harus siap menjelang dinihari ini.<br />
<br />
Kedatangan<br />
pengunjung dari berbagai lapisan malam ini, ingin melihat penyiapan <br />
tabuik secara langsung sebenarnya hal biasa dari tahun ke tahun. “Tetapi<br />
malam ini berbeda dengan hari biasa sejak dipindahkan ke Karan Aua <br />
tempat pembuatan Tabuik Pasa, dari tempat biasanya dari Kampuang Perak <br />
dan Pasia. Baik siang atau pun malam nyaris tak ada kunjungan beberapa <br />
hari ini. <br />
<br />
"Kami rasa dikucilkan. Namun malam ini mendadak saja <br />
menjadi ramai,” aku Azwar, pembuat Tabuik Pasa yang terpaksa harus sibuk<br />
mengawasi tingkah polah pengunjung, yang bebas saja mendekat ke <br />
bagian-bagian yang tengah dikerjakannya dan anggotanya.<br />
<br />
Di bagian<br />
depan lokasi pembuatan Tabuik Pasa, sejumlah anak-anak dimotivasi oleh <br />
Firman Zuhri, Ketua Tabuik Pasa 2012, untuk beratraksi gandang tasa. <br />
Meskipun tanpa penerangan sekitar tiang bendera, telah membuat suasana <br />
menjadi semarak, karena anak-anak ini tidak terbilang lagi dalam taraf <br />
belajar. Sudah mampu memainkan sejumlah komposisi bunyi dari alat <br />
tradisionil khas masyarakat Pariaman.<br />
<br />
Pengunjung yang memadati <br />
tempat anggota Azwar dalam mengerjakan tabuik, mayoritas datang untuk <br />
berfoto dengan bagian-bagian tabuik yang sudah siap. Nyaris mereka tidak<br />
puas hanya sekadar melihat, spontan mereka menyentuhnya. <br />
<br />
Meskipun<br />
tidak ada larangan, Azwar dan kawan-kawan tetap memberikan kebebasan <br />
walau ada bagian-bagian yang rusak di bagian tabuik, yang ditekan oleh <br />
pengunjung atau hiasan menjadi copot.<br />
<br />
“Namanya juga awak sedang <br />
baralek (pesta)” komentar Azwar, “Lagi pula bukankah Tabuik ini bukan <br />
milik awak saja tapi milik bersama,”<br />
Diakui oleh Azwar, meningkatnya kunjungan ke tempat pembuatan tabuik malam ini disebabkan juga bertepatan dengan malam minggu. <br />
<br />
Orang<br />
banyak keluar dari rumah. Kebetulan kota ada kegiatan tabuik yang akan <br />
dihoyak besok sampai petang hari. Sementara waktu yang sama di pusat <br />
kota dekat pasar, juga diselenggarakan acara penampilan seni di panggung<br />
utama, di simpang Kampuang Cino ada pentas hiburan dan di terminal Jati<br />
ada kegiatan pasar malam.<br />
<br />
Keramaian Kota Pariaman malam ini <br />
didukung juga oleh kondisi cuaca cukup bagus. Lalu lintas ramai tapi <br />
tidak terjadi kemacetan. Di berbagai persimpangan jalan, petugas <br />
kepolisian dan dinas perhubungan terlihat berjaga-jaga.<br />
<br />
“Sayang <br />
promosi yang jelas tidak diberikan penyelenggara yang mudah dipahami <br />
masyarakat. Titik penyelenggaraan acara sering membingungkan karena <br />
berada di tempat yang terpisah dan berjauhan,” komentar satu keluarga <br />
yang datang ke tempat pembuatan Tabuik Pasa, menyesalkan minimnya <br />
penerangan yang disediakan di lokasi, hingga terkesan gelap dan <br />
tersuruk. </span></span>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Tol dan Shelter di Sumbar]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Tol-dan-Shelter-di-Sumbar</link>
			<pubDate>Tue, 20 Nov 2012 06:49:53 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Tol-dan-Shelter-di-Sumbar</guid>
			<description><![CDATA[<div align="justify">Beberapa hari belakangan, terkesan<br />
akan ada proyek besar di Sumatra Barat. Proyek itu berupa jalan tol dan<br />
shelter. Diberitakan sebelumnya, pemerintah pusat menganggarkan Rp1 <br />
triliun untuk pembangunan shelter.<br />
<br />
Kedua, pembangunan jalan tol. Diberitakan kemarin, Dewan Perwakilan <br />
Rakyat Daerah (DPRD) Sumbar setuju dengan rencana pemprov bangun jalan <br />
tol. DPRD meminta rencana itu dipersiapkan dengan matang, jangan sampai <br />
pekerjaan terbengkalai.<br />
<br />
Gubernur Irwan Prayitno menyebutkan, pembangunan jalan tol di akan <br />
dikebut dalam waktu empat tahun. Proyek pembangunan jalan tol dibutuhkan<br />
sharing dana dari Sumbar sebesar Rp700 miliar.<br />
<br />
Pembebasan lahan Rp300 miliar dan Rp400 miliar untuk pembelian kawasan ekonomi di sepanjang ruas jalan tol.<br />
<br />
Dengan modal Rp700 miliar, Sumbar dapat mengaet investasi Rp10 trliun dari Jasa Marga. Pemprov berharap dukungan DPRD.<br />
<br />
Ia menyebutkan jalan tol sebagai alternatif prasarana transportasi darat<br />
dalam upaya mengurangi kepadatan lalu lintas. Jalan tol berfungsi <br />
meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelayanan jasa distribusi produk <br />
kegiatan ekonomi dari pusat pengolahan ke pusat pemasaran melalui <br />
koridor Sumatra dan sebaliknya menuju Sumbar, khususnya Telukbayur.<br />
<br />
Namun, satu hal yang unik, tak jelas kapan kedua kedua proyek itu <br />
dimulai. Artinya, sebatas wacana yang entah kapan direaliasikan. Paling <br />
tidak, ini kita apresiasi dulu. Setidaknya, pemerintah kita masih bisa <br />
berangan-angan.<br />
<br />
Pembangunan shelter tentuk kebutuhan. Pembangunan jalan tol, juga <br />
penting. Oleh karena kedua proyek itu menelan dana besar, paling tidak <br />
pemerintah fokus dulu menyelesaikan satu proyek. Jangan terlalu ambisius<br />
membuat pekerjaan yang tak mungkin didanai sendiri.<br />
<br />
Kita mesti realistis dengan keadaan. Kita harus mengutamakan hal yang <br />
penting. Dalam kondisi sekarang, jelas shelter yang dibutuhkan <br />
masyarakat. Sebab, masyarakat di sepanjang pesisir Barat Sumbar tengah <br />
gelisah menyusul kabar simpang siur tentang tsunami.<br />
<br />
Soal jalan tol, nantilah. Lebih baik kita selamatkan dulu nyawa yang terancam juka musibah terjadi.<br />
<br />
Pemerintah jangan terlalu banyak wacana yang hanya akan mendatangkan <br />
cibiran dari masyarakat. Akan lebih baik, kita punya rencana kecil, tapi<br />
mampu dilaksanakan. Bukan rencana besar, tapi sebatas angan. (singgalang)</div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">Beberapa hari belakangan, terkesan<br />
akan ada proyek besar di Sumatra Barat. Proyek itu berupa jalan tol dan<br />
shelter. Diberitakan sebelumnya, pemerintah pusat menganggarkan Rp1 <br />
triliun untuk pembangunan shelter.<br />
<br />
Kedua, pembangunan jalan tol. Diberitakan kemarin, Dewan Perwakilan <br />
Rakyat Daerah (DPRD) Sumbar setuju dengan rencana pemprov bangun jalan <br />
tol. DPRD meminta rencana itu dipersiapkan dengan matang, jangan sampai <br />
pekerjaan terbengkalai.<br />
<br />
Gubernur Irwan Prayitno menyebutkan, pembangunan jalan tol di akan <br />
dikebut dalam waktu empat tahun. Proyek pembangunan jalan tol dibutuhkan<br />
sharing dana dari Sumbar sebesar Rp700 miliar.<br />
<br />
Pembebasan lahan Rp300 miliar dan Rp400 miliar untuk pembelian kawasan ekonomi di sepanjang ruas jalan tol.<br />
<br />
Dengan modal Rp700 miliar, Sumbar dapat mengaet investasi Rp10 trliun dari Jasa Marga. Pemprov berharap dukungan DPRD.<br />
<br />
Ia menyebutkan jalan tol sebagai alternatif prasarana transportasi darat<br />
dalam upaya mengurangi kepadatan lalu lintas. Jalan tol berfungsi <br />
meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelayanan jasa distribusi produk <br />
kegiatan ekonomi dari pusat pengolahan ke pusat pemasaran melalui <br />
koridor Sumatra dan sebaliknya menuju Sumbar, khususnya Telukbayur.<br />
<br />
Namun, satu hal yang unik, tak jelas kapan kedua kedua proyek itu <br />
dimulai. Artinya, sebatas wacana yang entah kapan direaliasikan. Paling <br />
tidak, ini kita apresiasi dulu. Setidaknya, pemerintah kita masih bisa <br />
berangan-angan.<br />
<br />
Pembangunan shelter tentuk kebutuhan. Pembangunan jalan tol, juga <br />
penting. Oleh karena kedua proyek itu menelan dana besar, paling tidak <br />
pemerintah fokus dulu menyelesaikan satu proyek. Jangan terlalu ambisius<br />
membuat pekerjaan yang tak mungkin didanai sendiri.<br />
<br />
Kita mesti realistis dengan keadaan. Kita harus mengutamakan hal yang <br />
penting. Dalam kondisi sekarang, jelas shelter yang dibutuhkan <br />
masyarakat. Sebab, masyarakat di sepanjang pesisir Barat Sumbar tengah <br />
gelisah menyusul kabar simpang siur tentang tsunami.<br />
<br />
Soal jalan tol, nantilah. Lebih baik kita selamatkan dulu nyawa yang terancam juka musibah terjadi.<br />
<br />
Pemerintah jangan terlalu banyak wacana yang hanya akan mendatangkan <br />
cibiran dari masyarakat. Akan lebih baik, kita punya rencana kecil, tapi<br />
mampu dilaksanakan. Bukan rencana besar, tapi sebatas angan. (singgalang)</div>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Banyak Generasi Muda Indonesia Tak Tahu PDRI ]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Banyak-Generasi-Muda-Indonesia-Tak-Tahu-PDRI</link>
			<pubDate>Mon, 19 Nov 2012 03:53:00 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Banyak-Generasi-Muda-Indonesia-Tak-Tahu-PDRI</guid>
			<description><![CDATA[<a href="http://www.sitinjaunews.com/images/stories/Nasional/bendera-indonesia.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://www.sitinjaunews.com/plugins/content/imagesresizecache/d7891d8db42cb98bf335068ab7e3ab4b.jpeg" border="0" alt="[Image: d7891d8db42cb98bf335068ab7e3ab4b.jpeg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a>PDRI mempertahan merah putih<br />
<span style="font-weight: bold;">Padang, Sitinjaunews -</span>Pemerintahan<br />
Darurat Republik Indonesia (PDRI) merupakan peristiwa perjuangan yang <br />
sangat menentukan dalam perjalanan Negara Kesatuan Republik Indonesia <br />
(NKRI). Walaupun penting peran PDRI, kenyataannya PDRI jarang disebut <br />
dalam kancah sejarah bangsa.<br />
<br />
Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Kementerian <br />
Pendidikan dan Kebudayaan Drs. Surya Helmi, mengungkapkan hal itu pada <br />
pembukaan seminar nasional Bela Negara, Selasa (13/11/2012) <br />
<br />
<br />
<br />
di Padang. Seminar dibuka Gubernur Sumbar diwakili staf ahli Rosman <br />
Efendi. Seminar dihadiri utusan organisasi kepemudaan, ormas, instansi <br />
terkait lainnya di Sumatera Barat.<br />
<br />
Menurut Surya Helmi, begitu pentingnya peran PDRI, sehingga <br />
pemerintahan Indonesia tetap eksis di kancah perjuangan dan di mata <br />
dunia. Sekalipun Presiden RI Soekarno dan Wakilnya Mohammad Hatta di <br />
Yogyakarta sudah ditahan oleh Belanda. “Jika PDRI tidak ada, tentu <br />
bangsa Indonesia tidak akan seperti saat ini,” kata Surya Helmi.<br />
<br />
Surya Helmi juga menyatakan keprihatinannya banyak generasi muda <br />
tidak tahu lagi tentang PDRI. Selain minimnya informasi tentang PDRI <br />
yang diperoleh, juga disebabkan dalam buku-buku sejarah di <br />
sekolah-sekolah eksistensi PDRI nyaris tidak ada. “Kita bergembira <br />
dengan ditetapkan Hari Bela Negara yang mengambil momen PDRI, akan <br />
selalu mengingatkan perjuangan PDRI tersebut,” katanya.<br />
<br />
Untuk itu, kita harus selalu membicarakan PDRI. Karena jika tidak <br />
dibicarakan, seperti melalui seminar, diskusi, maupun bentuk kegiatan <br />
lainnya, maka generasi muda tak akan pernah tahu lagi dengan PDRI. <br />
Tokoh-tokoh Minang di Jakarta pun mendukung pendirian monument PDRI di <br />
Koto Tinggi Kabupaten 50 Kota.<br />
<br />
Dikatakan, saat ini sudah tersedia 50 hektar lahan untuk pembangunan <br />
monumen PDRI di Koto Tinggi. Pembangunan fisiknya akan dimulai tahun <br />
2013 mendatang. “Dengan pembangunan monument tersebut, akan menunjukkan <br />
bahwa di ranah Minang ini ada sejarah penting dalam mempertahankan NKRI <br />
pada masa perjuangan pergerakan kemerdekaan RI periode 1945-1950,” <br />
tambahnya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://www.sitinjaunews.com/images/stories/Nasional/bendera-indonesia.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://www.sitinjaunews.com/plugins/content/imagesresizecache/d7891d8db42cb98bf335068ab7e3ab4b.jpeg" border="0" alt="[Image: d7891d8db42cb98bf335068ab7e3ab4b.jpeg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a>PDRI mempertahan merah putih<br />
<span style="font-weight: bold;">Padang, Sitinjaunews -</span>Pemerintahan<br />
Darurat Republik Indonesia (PDRI) merupakan peristiwa perjuangan yang <br />
sangat menentukan dalam perjalanan Negara Kesatuan Republik Indonesia <br />
(NKRI). Walaupun penting peran PDRI, kenyataannya PDRI jarang disebut <br />
dalam kancah sejarah bangsa.<br />
<br />
Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Kementerian <br />
Pendidikan dan Kebudayaan Drs. Surya Helmi, mengungkapkan hal itu pada <br />
pembukaan seminar nasional Bela Negara, Selasa (13/11/2012) <br />
<br />
<br />
<br />
di Padang. Seminar dibuka Gubernur Sumbar diwakili staf ahli Rosman <br />
Efendi. Seminar dihadiri utusan organisasi kepemudaan, ormas, instansi <br />
terkait lainnya di Sumatera Barat.<br />
<br />
Menurut Surya Helmi, begitu pentingnya peran PDRI, sehingga <br />
pemerintahan Indonesia tetap eksis di kancah perjuangan dan di mata <br />
dunia. Sekalipun Presiden RI Soekarno dan Wakilnya Mohammad Hatta di <br />
Yogyakarta sudah ditahan oleh Belanda. “Jika PDRI tidak ada, tentu <br />
bangsa Indonesia tidak akan seperti saat ini,” kata Surya Helmi.<br />
<br />
Surya Helmi juga menyatakan keprihatinannya banyak generasi muda <br />
tidak tahu lagi tentang PDRI. Selain minimnya informasi tentang PDRI <br />
yang diperoleh, juga disebabkan dalam buku-buku sejarah di <br />
sekolah-sekolah eksistensi PDRI nyaris tidak ada. “Kita bergembira <br />
dengan ditetapkan Hari Bela Negara yang mengambil momen PDRI, akan <br />
selalu mengingatkan perjuangan PDRI tersebut,” katanya.<br />
<br />
Untuk itu, kita harus selalu membicarakan PDRI. Karena jika tidak <br />
dibicarakan, seperti melalui seminar, diskusi, maupun bentuk kegiatan <br />
lainnya, maka generasi muda tak akan pernah tahu lagi dengan PDRI. <br />
Tokoh-tokoh Minang di Jakarta pun mendukung pendirian monument PDRI di <br />
Koto Tinggi Kabupaten 50 Kota.<br />
<br />
Dikatakan, saat ini sudah tersedia 50 hektar lahan untuk pembangunan <br />
monumen PDRI di Koto Tinggi. Pembangunan fisiknya akan dimulai tahun <br />
2013 mendatang. “Dengan pembangunan monument tersebut, akan menunjukkan <br />
bahwa di ranah Minang ini ada sejarah penting dalam mempertahankan NKRI <br />
pada masa perjuangan pergerakan kemerdekaan RI periode 1945-1950,” <br />
tambahnya.]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Negeri Ini Rusak Karena Orang Brengsek]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Negeri-Ini-Rusak-Karena-Orang-Brengsek</link>
			<pubDate>Mon, 12 Nov 2012 19:23:26 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Negeri-Ini-Rusak-Karena-Orang-Brengsek</guid>
			<description><![CDATA[PADANG – Melorotnya rasa cinta tanah air dewasa ini terjadi <br />
karena rasa kebangsaan kian menipis. Akibatnya muncul orang-orang dengan<br />
prilaku ‘brengsek’. Mereka itulah yang menghancurkan negara. <br />
<br />
<a href="http://hariansinggalang.co.id/wp-content/uploads/2012/11/amak.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://hariansinggalang.co.id/wp-content/uploads/2012/11/amak-300x199.jpg" border="0" alt="[Image: amak-300x199.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a>HARI PAHLAWAN<br />
<br />
Demikian diungkapkan Jenderal Polisi (Purn) Prof. Awaloeddin Djamin <br />
di hadapan ratusan veteran, Gubernur Irwan Prayitno, Walikota Fauzi <br />
Bahar, para petinggi TNI/Polri dan undangan lainnya dalam silaturrahmi <br />
purnawirawan TNI/Polri DHD 45 dan LVRI dalam rangka peringatan Hari <br />
Pahlawan, Sabtu (10/11).<br />
<br />
“Prilaku orang-orang brengsek inilah yang menjadikan negara melorot <br />
dalam berbagai bidang. Akibatnya muncul beragam prilaku yang tidak <br />
semestinya terjadi,” kata Awaloeddin.<br />
<br />
Munculnya prilaku brengsek itu mengakibatkan seseorang melakukan apa <br />
saja yang dianggapnya benar. Seperti tawuran yang menyebabkan korban <br />
jiwa, perampokan, korupsi, gembong narkotika. Prilaku itu memunculkan <br />
sifat saparatisme. Ujung-ujungnya mengarah pada perpecahan suku dan <br />
agama.<br />
<br />
“Nilai sejarah bagi generasi penerus sekarang melemah. Buktinya, <br />
mereka bukan memberi pada negara ini, tapi malah mencurinya. Dengan <br />
korupsi besar, yang merugikan masyarakat dan negara. Mestinya mereka <br />
belajar pada sejarah, bagaimana para pahlawan dulunya membela dan <br />
mempertahankan negara ini dari penjajah,” ujar Awaloeddin.<br />
<br />
Dijelaskannya, saat ini generasi muda mestinya tidak mempertanyakan apa <br />
yang sudah diberikan negara pada mereka, tapi harusnya mereka berpikir, <br />
apa yang sudah mereka berikan pada negara ini. Bagi Awaloeddin hakikat <br />
‘Hari Pahlawan’ adalah dengan mengetahui pahlawan-pahlawan di daerah <br />
ini.<br />
<br />
Lain lagi pendapat Marsda TNI (Purn) Sjaiful Karti Munaf, tentang <br />
kondisi di negara saat ini. Menurutnya, hati remaja dewasa ini <br />
diselimuti kebosanan, akibatnya apa yang dicita-citakan tidak tercapai.<br />
<br />
Gubenur Sumbar, Irwan Prayitno mengatakan tanpa pahlawan, generasi saat <br />
ini tidak akan pernah menikmati kebebasan. Karena itu pahlawan patut <br />
dijadikan tauladan dalam kehidupan sehari-hari.<br />
<br />
Wakil Gubernur, Muslim Kasim menyebutkan, kehadiran para purnawirawan <br />
tersebut baru bisa terwujud, padahal sudah lama direncanakan. Mereka <br />
diharapkan memberikan motivasi kepada generasi muda, dalam meneruskan <br />
nilai-nilai perjuangan para pahlawan. Pahlawan masa sekarang dalam <br />
pandangan wagub adalah orang yang mampu memerangi kemiskinan dan <br />
memberikan kesejahteraan bagi orang banyak.<br />
<br />
Walikota Padang, Fauzi Bahar, mengatakan para pahlawan memiliki jati <br />
diri tinggi. Tujuan para veteran dan DHD 45 itu dikumpulkan untuk <br />
menghibur mereka dan membangkitkan rasa nasionalisme generasi muda dalam<br />
mempertahankan NKRI di masa sekarang.<br />
<br />
Sementara, jumlah pejuang asal Sumbar yang sudah menjadi pahlawan <br />
nasional 19 orang. Mereka adalah Tuanku Imam Bonjol, M. Natsir, Ilyas <br />
Yacoub, H. Agus Salim, Adnan K. Gani, M. Hatta, Sutan Sjahrir, M. Yamin,<br />
Abdul Muis, Tan Malaka, Ahmad Husein, Wak Ketok, Rohanas Kudus, Siti <br />
Manggopoh. Dr. M. Djamil, Bagindo Aziz Chan, Buya Hamka, Rasuna Said dan<br />
Hazairin. (107/singgalang)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[PADANG – Melorotnya rasa cinta tanah air dewasa ini terjadi <br />
karena rasa kebangsaan kian menipis. Akibatnya muncul orang-orang dengan<br />
prilaku ‘brengsek’. Mereka itulah yang menghancurkan negara. <br />
<br />
<a href="http://hariansinggalang.co.id/wp-content/uploads/2012/11/amak.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://hariansinggalang.co.id/wp-content/uploads/2012/11/amak-300x199.jpg" border="0" alt="[Image: amak-300x199.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a>HARI PAHLAWAN<br />
<br />
Demikian diungkapkan Jenderal Polisi (Purn) Prof. Awaloeddin Djamin <br />
di hadapan ratusan veteran, Gubernur Irwan Prayitno, Walikota Fauzi <br />
Bahar, para petinggi TNI/Polri dan undangan lainnya dalam silaturrahmi <br />
purnawirawan TNI/Polri DHD 45 dan LVRI dalam rangka peringatan Hari <br />
Pahlawan, Sabtu (10/11).<br />
<br />
“Prilaku orang-orang brengsek inilah yang menjadikan negara melorot <br />
dalam berbagai bidang. Akibatnya muncul beragam prilaku yang tidak <br />
semestinya terjadi,” kata Awaloeddin.<br />
<br />
Munculnya prilaku brengsek itu mengakibatkan seseorang melakukan apa <br />
saja yang dianggapnya benar. Seperti tawuran yang menyebabkan korban <br />
jiwa, perampokan, korupsi, gembong narkotika. Prilaku itu memunculkan <br />
sifat saparatisme. Ujung-ujungnya mengarah pada perpecahan suku dan <br />
agama.<br />
<br />
“Nilai sejarah bagi generasi penerus sekarang melemah. Buktinya, <br />
mereka bukan memberi pada negara ini, tapi malah mencurinya. Dengan <br />
korupsi besar, yang merugikan masyarakat dan negara. Mestinya mereka <br />
belajar pada sejarah, bagaimana para pahlawan dulunya membela dan <br />
mempertahankan negara ini dari penjajah,” ujar Awaloeddin.<br />
<br />
Dijelaskannya, saat ini generasi muda mestinya tidak mempertanyakan apa <br />
yang sudah diberikan negara pada mereka, tapi harusnya mereka berpikir, <br />
apa yang sudah mereka berikan pada negara ini. Bagi Awaloeddin hakikat <br />
‘Hari Pahlawan’ adalah dengan mengetahui pahlawan-pahlawan di daerah <br />
ini.<br />
<br />
Lain lagi pendapat Marsda TNI (Purn) Sjaiful Karti Munaf, tentang <br />
kondisi di negara saat ini. Menurutnya, hati remaja dewasa ini <br />
diselimuti kebosanan, akibatnya apa yang dicita-citakan tidak tercapai.<br />
<br />
Gubenur Sumbar, Irwan Prayitno mengatakan tanpa pahlawan, generasi saat <br />
ini tidak akan pernah menikmati kebebasan. Karena itu pahlawan patut <br />
dijadikan tauladan dalam kehidupan sehari-hari.<br />
<br />
Wakil Gubernur, Muslim Kasim menyebutkan, kehadiran para purnawirawan <br />
tersebut baru bisa terwujud, padahal sudah lama direncanakan. Mereka <br />
diharapkan memberikan motivasi kepada generasi muda, dalam meneruskan <br />
nilai-nilai perjuangan para pahlawan. Pahlawan masa sekarang dalam <br />
pandangan wagub adalah orang yang mampu memerangi kemiskinan dan <br />
memberikan kesejahteraan bagi orang banyak.<br />
<br />
Walikota Padang, Fauzi Bahar, mengatakan para pahlawan memiliki jati <br />
diri tinggi. Tujuan para veteran dan DHD 45 itu dikumpulkan untuk <br />
menghibur mereka dan membangkitkan rasa nasionalisme generasi muda dalam<br />
mempertahankan NKRI di masa sekarang.<br />
<br />
Sementara, jumlah pejuang asal Sumbar yang sudah menjadi pahlawan <br />
nasional 19 orang. Mereka adalah Tuanku Imam Bonjol, M. Natsir, Ilyas <br />
Yacoub, H. Agus Salim, Adnan K. Gani, M. Hatta, Sutan Sjahrir, M. Yamin,<br />
Abdul Muis, Tan Malaka, Ahmad Husein, Wak Ketok, Rohanas Kudus, Siti <br />
Manggopoh. Dr. M. Djamil, Bagindo Aziz Chan, Buya Hamka, Rasuna Said dan<br />
Hazairin. (107/singgalang)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Siti Nurbaya adalah Satire Terpedih untuk Adat Minangkabau]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Siti-Nurbaya-adalah-Satire-Terpedih-untuk-Adat-Minangkabau</link>
			<pubDate>Sun, 11 Nov 2012 09:42:18 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Siti-Nurbaya-adalah-Satire-Terpedih-untuk-Adat-Minangkabau</guid>
			<description><![CDATA[Betapa tidak? <br />
Seorang lelaki Minang harus merelakan anak perempuannya menikahi <br />
seorang tua bangka tukang kawin hanya karena terjerat hutang, <br />
sebaliknya seorang gadis Minang terpaksa berkorban untuk membayar hutang<br />
ayahnya, di mana kaumnya? Di mana pusako tingginya? Di mana niniak <br />
mamaknya? Ini benar-benar kacau.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Kenapa? Karena adat telah salah diartikan dan ditafsirkan sesuka hati. <br />
Harta pusaka dibengkokkan menjadi soal kepemilikan dan pemiliknya <br />
katanya perempuan, lelaki tak punya hak apapun, padahal adat tidak <br />
mengatur demikian. Adat mengatur utamakan perempuan. Jadi kan perempuan<br />
itu bendahara karena harta akan lebih aman di bawah pengawasan dan <br />
pengelolaannya, lagipula perempuan—menurut adat–tempatnya di rumah di <br />
sektor domestik, bukan di sektor publik.Duluuuuu.<br />
<br />
<br />
Lelaki diharapkan menambah isi puro harta pusaka, tapi tuntutan itu <br />
dengan penuntutnya yakni dibekali atau dimodali dengan harta pusaka <br />
pula, baru kamanakan bisa minta ini itu, kalau tidak ya tak ada <br />
kewajibannya, hanya karena lelaki Minang rata-rata gentle–dan angkuh <br />
saja–makanya mereka masih peduli, kalau tidak, entahlah.<br />
<br />
<br />
Tak ada frase hak milik dalam harta pusaka, yang ada hanyalah hak <br />
pemanfaatan, dan lelaki–kalau hidupnya susah–juga berhak memanfaatkan <br />
harta pusaka tersebut, apalagi kalau anak-anaknya–anak pisang <br />
kaum–terlantar karena dia meninggal ataui tak mampu menafkahi. Makanya <br />
harta pusaka tinggi tidak boleh diperjualbelikan atau dibagi-bagi <br />
seperti hak milik.<br />
<br />
<br />
Sekarang–dan ternyata–sejak zaman Siti Nurbaya ditulis salah kaprah ini<br />
sudah berlangsung, dan terus berkembang dan menjadi-jadi sampai <br />
sekarang, tak heran kalau sekarang banyak perempuan Minang jadi Siti <br />
Nurbaya, bahkan jadi pelacur pula–karena harta pusaka tak dimanfaatkan <br />
untuk menjaga kemuliaan dan menjaga martabat mereka–sementara kaumnya <br />
tak peduli saja, malah berebut ingin mensertifikatkan tanah segala.<br />
<br />
<br />
Dan mereka masih dengan bangga mengaku orang Minang. Kacau.(kompas)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Betapa tidak? <br />
Seorang lelaki Minang harus merelakan anak perempuannya menikahi <br />
seorang tua bangka tukang kawin hanya karena terjerat hutang, <br />
sebaliknya seorang gadis Minang terpaksa berkorban untuk membayar hutang<br />
ayahnya, di mana kaumnya? Di mana pusako tingginya? Di mana niniak <br />
mamaknya? Ini benar-benar kacau.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Kenapa? Karena adat telah salah diartikan dan ditafsirkan sesuka hati. <br />
Harta pusaka dibengkokkan menjadi soal kepemilikan dan pemiliknya <br />
katanya perempuan, lelaki tak punya hak apapun, padahal adat tidak <br />
mengatur demikian. Adat mengatur utamakan perempuan. Jadi kan perempuan<br />
itu bendahara karena harta akan lebih aman di bawah pengawasan dan <br />
pengelolaannya, lagipula perempuan—menurut adat–tempatnya di rumah di <br />
sektor domestik, bukan di sektor publik.Duluuuuu.<br />
<br />
<br />
Lelaki diharapkan menambah isi puro harta pusaka, tapi tuntutan itu <br />
dengan penuntutnya yakni dibekali atau dimodali dengan harta pusaka <br />
pula, baru kamanakan bisa minta ini itu, kalau tidak ya tak ada <br />
kewajibannya, hanya karena lelaki Minang rata-rata gentle–dan angkuh <br />
saja–makanya mereka masih peduli, kalau tidak, entahlah.<br />
<br />
<br />
Tak ada frase hak milik dalam harta pusaka, yang ada hanyalah hak <br />
pemanfaatan, dan lelaki–kalau hidupnya susah–juga berhak memanfaatkan <br />
harta pusaka tersebut, apalagi kalau anak-anaknya–anak pisang <br />
kaum–terlantar karena dia meninggal ataui tak mampu menafkahi. Makanya <br />
harta pusaka tinggi tidak boleh diperjualbelikan atau dibagi-bagi <br />
seperti hak milik.<br />
<br />
<br />
Sekarang–dan ternyata–sejak zaman Siti Nurbaya ditulis salah kaprah ini<br />
sudah berlangsung, dan terus berkembang dan menjadi-jadi sampai <br />
sekarang, tak heran kalau sekarang banyak perempuan Minang jadi Siti <br />
Nurbaya, bahkan jadi pelacur pula–karena harta pusaka tak dimanfaatkan <br />
untuk menjaga kemuliaan dan menjaga martabat mereka–sementara kaumnya <br />
tak peduli saja, malah berebut ingin mensertifikatkan tanah segala.<br />
<br />
<br />
Dan mereka masih dengan bangga mengaku orang Minang. Kacau.(kompas)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Ketika Guru Rabun Membaca, Pincang Menulis]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Ketika-Guru-Rabun-Membaca-Pincang-Menulis</link>
			<pubDate>Sat, 10 Nov 2012 02:54:53 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Ketika-Guru-Rabun-Membaca-Pincang-Menulis</guid>
			<description><![CDATA[Saat ini, ada guru di Indonesia yang <br />
menjabat sebagai guru utama golongan IV/e. Inilah jabatan/golongan <br />
tertinggi sebagai PNS. Guru bisa mencapai golongan tertinggi tersebut <br />
tidak terlepas dari kebijakan pemerintah memberlakukan penghitungan <br />
angka kredit untuk kenaikan jabatan/golongan guru. Peluang ini terbuka <br />
bagi seluruh guru PNS di Indonesia. <br />
<div align="justify">
Sekalipun kebijakan ini sudah diberlakukan sejak awal 1990-an, tetapi <br />
hanya segelintir guru yang memanfaatkannya. Karena itu, hingga sekarang <br />
hanya dalam hitungan jari sebelah, jumlah guru atau pengawas sekolah <br />
yang bisa mencapai jabatan tertinggi tersebut.<br />
<br />
Sebagian besar guru tertahan pada jabatan guru madya dengan golongan <br />
IV/a. Untuk bisa mencapai IV/b hingga IV/e guru wajib mengikuti <br />
pengembangan diri, melakukan publikasi ilmiah dan/atau membuat karya <br />
inovatif. Pengembangan diri bisa diikuti oleh setiap guru selama ada <br />
kesempatan karena kegiatan seperti seminar, diklat, KKG atau MGMP <br />
termasuk bagian dari pengembangan diri.<br />
<br />
Sementara publikasi ilmiah menuntut kemampuan guru menulis karya tulis <br />
ilmiah. Inilah persoalan yang selama 20 tahun lebih dibiarkan tanpa <br />
perubahan. Guru pasrah, menyerah, bahkan nyaris putus asa ketika <br />
dihadapkan pada kewajiban menulis karya tulis ilmiah dan melakukan <br />
publikasi ilmiah.<br />
<br />
Tanpa publikasi ilmiah, sulit bagi guru untuk beranjak dari jabatan <br />
sekarang. Karena guru yakin dengan ketidakmampuannya maka tidak ada <br />
usaha untuk mengubah keyakinan tersebut. Guru merasa bahwa keyakinannya <br />
itu sudah tepat. Ketika ditanya kiri-kanan, teman-teman sesama guru <br />
ternyata banyak yang punya keyakinan yang sama, sehingga pada akhirnya <br />
guru merasa semakin kuat dengan keyakinannya tersebut. Karena itulah <br />
selama hampir 20 tahun tidak ada yang berusaha mengubah keyakinan <br />
tersebut.<br />
<br />
Sastrawan Taufiq Ismail berkali-kali menyatakan jika siswa di Indonesia <br />
saat ini rabun membaca, pincang menulis. Bagaimana dengan guru? Ternyata<br />
guru juga rabun membaca, pincang menulis. Guru merasa tidak berdosa <br />
jika ia tidak lagi punya kesempatan untuk membaca.<br />
<br />
Padahal dalam Alquran sudah tertera dengan jelas jika surat dan ayat <br />
yang pertama turun adalah perintah untuk membaca. Namun guru punya <br />
alasan klasik tidak punya waktu lagi untuk mem baca, pekerjaan banyak, <br />
masalah menumpuk, persoalan sulit diselesaikan, guru sibuk luar biasa, <br />
termasuk sibuk mengumpulkan alasan ketidakmampuannya melakukan publikasi<br />
ilmiah. Karena itu membaca terlupakan.<br />
<br />
Ketiadaan waktu untuk membaca ini menjadi salah satu alasan <br />
ketidakmampuan guru dalam menulis. Guru begitu sulit menulis karena <br />
merasa tidak ada yang bisa ditulis. Para penulis sepakat jika membaca <br />
tak ubahnya seperti makan atau asupan gizi bagi tubuh. Jika kita tidak <br />
pernah makan, apa yang akan diolah lambung atau usus dan ampas apa yang <br />
bisa dihasilkan dari pengolahan tersebut, begitu juga dengan membaca.<br />
<br />
Jika seseorang banyak membaca, ia akan memiliki bahan untuk ditulis atau<br />
disampaikan kepada orang lain. Namun, perintah membaca yang pertama <br />
kali diturunkan kepada Rasulullah Muhammad SAW sepertinya dilupakan. <br />
Sekalipun kita tetap mengaku sebagai pengikutnya, tetapi seperti enggan <br />
melakukan apa yang dianjurkannya.<br />
<br />
Ada 1.001 alasan yang bisa digunakan untuk tetap bertahan tidak menulis <br />
karya ilmiah dan tidak melakukan publikasi ilmiah tersebut. Kalau ingin <br />
gagal dan selalu gagal memang harus pintar mencari alasan. Orang bijak <br />
mengatakan, orang gagal kelebihan satu alasan, orang kreatif kelebihan <br />
satu jalan keluar, sementara orang yang selalu gagal adalah orang yang <br />
kreatif mencari alasan.<br />
<br />
Jika guru termasuk orang gagal, maka ia kelebihan satu alasan daripada <br />
orang lain. Sementara guru yang selalu gagal adalah guru yang kreatif <br />
mencari alasan. Jika mau, 1.001 alasan bisa dikemukakan.<br />
<br />
Dalam beberapa kali kesempatan saya meminta guru mengemukakan alasan <br />
ketidakmampuannya menulis dan melakukan publikasi ilmiah. Inilah <br />
sebagian dari alasan yang disampaikan yakni menulis bukan hobinya, sulit<br />
mencari waktu yang tepat, tidak tahu caranya, sulit merangkai kata, <br />
tidak mampu mengubah bahasa lisan menjadi bahasa tulisan, belum pernah <br />
membuatnya sama sekali, tidak biasa menulis, keterbatasan ilmu, harus <br />
meneliti, jarang membaca, tidak ada ide, tidak tahu apa yang akan <br />
ditulis.<br />
<br />
Jika dipaparkan seluruhnya di sini maka masih ada puluhan bahkan ratusan<br />
alasan lainnya. Namun setelah dicermati, ada beberapa alasan yang sama.<br />
<br />
Jika dicermati alasan yang dikemukakan, hampir semuanya termasuk alasan <br />
yang sulit dilogikakan. Artinya alasan tersebut sebenarnya bukanlah <br />
masalah utama kesulitan guru. Ketidakmampuan guru pada dasarnya hanya <br />
disebabkan oleh satu masalah yakni rendahnya rasa percaya diri. Guru <br />
merasa tidak mampu bukan tidak mampu. Perasaan ketidakmampuan tersebut <br />
mengalahkan pikiran rasional.<br />
<br />
Buktinya beberapa guru yang mau memaksa dirinya menulis, akhirnya bisa <br />
menyelesaikan tulisan, seperti artikel, makalah, maupun hasil <br />
penelitian. Itu artinya, guru mampu, tetapi merasa tidak mampu. Ketika <br />
perasaan menguasai pikiran, maka logika hilang mengirap.<br />
<br />
Karena itulah, jika guru ingin menjadi penulis atau menekuni dunia <br />
tulis-menulis maka langkah pertama adalah mengatakan pada diri sendiri <br />
bahwa ia mampu menulis.</div>
<div align="justify">Menunggu sanksi<br />
<br />
Hingga sekarang, guru dan pengawas sekolah tetap merasa nyaman ketika <br />
tidak menulis, tidak meniliti, dan tidak membuat karya inovatif. Namun <br />
jika Peraturan Bersama Menteri Pendidikan Nasional dan Kepala Badan <br />
Kepegawaian Negara Nomor 01/III/PB/2011 dan Nomor 6 Tahun 2011 tentang <br />
Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fung sional Pengawas dan Angka Kreditnya <br />
diberlakukan maka guru yang bertahan padang pangkat/golongan sekarang <br />
akan kena sanksi berat.<br />
<br />
Seperti tertera pada pasal 35 ayat 1-9 Peraturan Bersama tersebut. Pasal<br />
35 ayat 3 menyatakan, Pengawas Sekolah Muda, pangkat penata, golongan <br />
ruang III/c sampai Pengawas Sekolah Madya, pangkat pembina Tingkat I <br />
golongan ruang IV/b dibebaskan sementara dari jabatannya apabila telah 5<br />
(lima) tahun dalam pangkat terakhir tidak dapat mengumpulkan angka <br />
kredit kumulatif untuk kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi bagi <br />
pengawas sekolah yang pernah mendapatkan kenaikan pangkat sejak diangkat<br />
dalam jabatan terakhir.<br />
<br />
Sementara Peraturan Bersama Menteri Pendidikan Nasional dan Kepala Badan<br />
Kepegawaian Negara Nomor 03/V/PB/2010 dan Nomor 14 Tahun 2010 tentang <br />
Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, tidak <br />
mencantumkan sanksi yang tegas kepada guru.<br />
<br />
Yang dituntut kepada guru untuk kenaikan pangkat adalah memenuhi angka <br />
kreditnya dari sub unsur pengembangan diri, publikasi ilmiah dan/atau <br />
karya inovatif. Jika guru tidak mampu mengumpulkan angka kredit <br />
sebagaimana dituntut dalam Peraturan Bersama ini, tidak ada sanksi yang <br />
tegas. Pasal 27 ayat 1 dan 2 memang menjelaskan pembebasan sementara <br />
guru dari jabatannya apabila dijatuhi hukuman disiplin tingkat sedang <br />
atau tingkat berat berupa penurunan pangkat.<br />
<br />
Terlepas dari ada tidaknya sanksi terhadap guru dan pengawas sekolah, <br />
sekarang saatnya untuk bangkit dan memulai melakukan publikiasi ilmiah <br />
dan/atau karya inovatif. (WAITLEM/singgalang)</div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Saat ini, ada guru di Indonesia yang <br />
menjabat sebagai guru utama golongan IV/e. Inilah jabatan/golongan <br />
tertinggi sebagai PNS. Guru bisa mencapai golongan tertinggi tersebut <br />
tidak terlepas dari kebijakan pemerintah memberlakukan penghitungan <br />
angka kredit untuk kenaikan jabatan/golongan guru. Peluang ini terbuka <br />
bagi seluruh guru PNS di Indonesia. <br />
<div align="justify">
Sekalipun kebijakan ini sudah diberlakukan sejak awal 1990-an, tetapi <br />
hanya segelintir guru yang memanfaatkannya. Karena itu, hingga sekarang <br />
hanya dalam hitungan jari sebelah, jumlah guru atau pengawas sekolah <br />
yang bisa mencapai jabatan tertinggi tersebut.<br />
<br />
Sebagian besar guru tertahan pada jabatan guru madya dengan golongan <br />
IV/a. Untuk bisa mencapai IV/b hingga IV/e guru wajib mengikuti <br />
pengembangan diri, melakukan publikasi ilmiah dan/atau membuat karya <br />
inovatif. Pengembangan diri bisa diikuti oleh setiap guru selama ada <br />
kesempatan karena kegiatan seperti seminar, diklat, KKG atau MGMP <br />
termasuk bagian dari pengembangan diri.<br />
<br />
Sementara publikasi ilmiah menuntut kemampuan guru menulis karya tulis <br />
ilmiah. Inilah persoalan yang selama 20 tahun lebih dibiarkan tanpa <br />
perubahan. Guru pasrah, menyerah, bahkan nyaris putus asa ketika <br />
dihadapkan pada kewajiban menulis karya tulis ilmiah dan melakukan <br />
publikasi ilmiah.<br />
<br />
Tanpa publikasi ilmiah, sulit bagi guru untuk beranjak dari jabatan <br />
sekarang. Karena guru yakin dengan ketidakmampuannya maka tidak ada <br />
usaha untuk mengubah keyakinan tersebut. Guru merasa bahwa keyakinannya <br />
itu sudah tepat. Ketika ditanya kiri-kanan, teman-teman sesama guru <br />
ternyata banyak yang punya keyakinan yang sama, sehingga pada akhirnya <br />
guru merasa semakin kuat dengan keyakinannya tersebut. Karena itulah <br />
selama hampir 20 tahun tidak ada yang berusaha mengubah keyakinan <br />
tersebut.<br />
<br />
Sastrawan Taufiq Ismail berkali-kali menyatakan jika siswa di Indonesia <br />
saat ini rabun membaca, pincang menulis. Bagaimana dengan guru? Ternyata<br />
guru juga rabun membaca, pincang menulis. Guru merasa tidak berdosa <br />
jika ia tidak lagi punya kesempatan untuk membaca.<br />
<br />
Padahal dalam Alquran sudah tertera dengan jelas jika surat dan ayat <br />
yang pertama turun adalah perintah untuk membaca. Namun guru punya <br />
alasan klasik tidak punya waktu lagi untuk mem baca, pekerjaan banyak, <br />
masalah menumpuk, persoalan sulit diselesaikan, guru sibuk luar biasa, <br />
termasuk sibuk mengumpulkan alasan ketidakmampuannya melakukan publikasi<br />
ilmiah. Karena itu membaca terlupakan.<br />
<br />
Ketiadaan waktu untuk membaca ini menjadi salah satu alasan <br />
ketidakmampuan guru dalam menulis. Guru begitu sulit menulis karena <br />
merasa tidak ada yang bisa ditulis. Para penulis sepakat jika membaca <br />
tak ubahnya seperti makan atau asupan gizi bagi tubuh. Jika kita tidak <br />
pernah makan, apa yang akan diolah lambung atau usus dan ampas apa yang <br />
bisa dihasilkan dari pengolahan tersebut, begitu juga dengan membaca.<br />
<br />
Jika seseorang banyak membaca, ia akan memiliki bahan untuk ditulis atau<br />
disampaikan kepada orang lain. Namun, perintah membaca yang pertama <br />
kali diturunkan kepada Rasulullah Muhammad SAW sepertinya dilupakan. <br />
Sekalipun kita tetap mengaku sebagai pengikutnya, tetapi seperti enggan <br />
melakukan apa yang dianjurkannya.<br />
<br />
Ada 1.001 alasan yang bisa digunakan untuk tetap bertahan tidak menulis <br />
karya ilmiah dan tidak melakukan publikasi ilmiah tersebut. Kalau ingin <br />
gagal dan selalu gagal memang harus pintar mencari alasan. Orang bijak <br />
mengatakan, orang gagal kelebihan satu alasan, orang kreatif kelebihan <br />
satu jalan keluar, sementara orang yang selalu gagal adalah orang yang <br />
kreatif mencari alasan.<br />
<br />
Jika guru termasuk orang gagal, maka ia kelebihan satu alasan daripada <br />
orang lain. Sementara guru yang selalu gagal adalah guru yang kreatif <br />
mencari alasan. Jika mau, 1.001 alasan bisa dikemukakan.<br />
<br />
Dalam beberapa kali kesempatan saya meminta guru mengemukakan alasan <br />
ketidakmampuannya menulis dan melakukan publikasi ilmiah. Inilah <br />
sebagian dari alasan yang disampaikan yakni menulis bukan hobinya, sulit<br />
mencari waktu yang tepat, tidak tahu caranya, sulit merangkai kata, <br />
tidak mampu mengubah bahasa lisan menjadi bahasa tulisan, belum pernah <br />
membuatnya sama sekali, tidak biasa menulis, keterbatasan ilmu, harus <br />
meneliti, jarang membaca, tidak ada ide, tidak tahu apa yang akan <br />
ditulis.<br />
<br />
Jika dipaparkan seluruhnya di sini maka masih ada puluhan bahkan ratusan<br />
alasan lainnya. Namun setelah dicermati, ada beberapa alasan yang sama.<br />
<br />
Jika dicermati alasan yang dikemukakan, hampir semuanya termasuk alasan <br />
yang sulit dilogikakan. Artinya alasan tersebut sebenarnya bukanlah <br />
masalah utama kesulitan guru. Ketidakmampuan guru pada dasarnya hanya <br />
disebabkan oleh satu masalah yakni rendahnya rasa percaya diri. Guru <br />
merasa tidak mampu bukan tidak mampu. Perasaan ketidakmampuan tersebut <br />
mengalahkan pikiran rasional.<br />
<br />
Buktinya beberapa guru yang mau memaksa dirinya menulis, akhirnya bisa <br />
menyelesaikan tulisan, seperti artikel, makalah, maupun hasil <br />
penelitian. Itu artinya, guru mampu, tetapi merasa tidak mampu. Ketika <br />
perasaan menguasai pikiran, maka logika hilang mengirap.<br />
<br />
Karena itulah, jika guru ingin menjadi penulis atau menekuni dunia <br />
tulis-menulis maka langkah pertama adalah mengatakan pada diri sendiri <br />
bahwa ia mampu menulis.</div>
<div align="justify">Menunggu sanksi<br />
<br />
Hingga sekarang, guru dan pengawas sekolah tetap merasa nyaman ketika <br />
tidak menulis, tidak meniliti, dan tidak membuat karya inovatif. Namun <br />
jika Peraturan Bersama Menteri Pendidikan Nasional dan Kepala Badan <br />
Kepegawaian Negara Nomor 01/III/PB/2011 dan Nomor 6 Tahun 2011 tentang <br />
Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fung sional Pengawas dan Angka Kreditnya <br />
diberlakukan maka guru yang bertahan padang pangkat/golongan sekarang <br />
akan kena sanksi berat.<br />
<br />
Seperti tertera pada pasal 35 ayat 1-9 Peraturan Bersama tersebut. Pasal<br />
35 ayat 3 menyatakan, Pengawas Sekolah Muda, pangkat penata, golongan <br />
ruang III/c sampai Pengawas Sekolah Madya, pangkat pembina Tingkat I <br />
golongan ruang IV/b dibebaskan sementara dari jabatannya apabila telah 5<br />
(lima) tahun dalam pangkat terakhir tidak dapat mengumpulkan angka <br />
kredit kumulatif untuk kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi bagi <br />
pengawas sekolah yang pernah mendapatkan kenaikan pangkat sejak diangkat<br />
dalam jabatan terakhir.<br />
<br />
Sementara Peraturan Bersama Menteri Pendidikan Nasional dan Kepala Badan<br />
Kepegawaian Negara Nomor 03/V/PB/2010 dan Nomor 14 Tahun 2010 tentang <br />
Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, tidak <br />
mencantumkan sanksi yang tegas kepada guru.<br />
<br />
Yang dituntut kepada guru untuk kenaikan pangkat adalah memenuhi angka <br />
kreditnya dari sub unsur pengembangan diri, publikasi ilmiah dan/atau <br />
karya inovatif. Jika guru tidak mampu mengumpulkan angka kredit <br />
sebagaimana dituntut dalam Peraturan Bersama ini, tidak ada sanksi yang <br />
tegas. Pasal 27 ayat 1 dan 2 memang menjelaskan pembebasan sementara <br />
guru dari jabatannya apabila dijatuhi hukuman disiplin tingkat sedang <br />
atau tingkat berat berupa penurunan pangkat.<br />
<br />
Terlepas dari ada tidaknya sanksi terhadap guru dan pengawas sekolah, <br />
sekarang saatnya untuk bangkit dan memulai melakukan publikiasi ilmiah <br />
dan/atau karya inovatif. (WAITLEM/singgalang)</div>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Kasihan pada Nil Maizar]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Kasihan-pada-Nil-Maizar</link>
			<pubDate>Sat, 03 Nov 2012 08:06:11 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Kasihan-pada-Nil-Maizar</guid>
			<description><![CDATA[<div align="justify">Pecinta sepakbola Indonesia <br />
mungkin kasihan pada Nil Maizar, pelatih tim nasional. Satu persatu <br />
pemain meninggalkan pemusatan latihan nasional, serta sejumlah nama yang<br />
dipanggil enggan bergabung.<br />
<br />
Bagaimana tak kasihan, dia hanya pelatih. Bukan pihak yang terlibat <br />
dalam pusaran konflik. Bila kelak hasil yang diperoleh Indonesia <br />
hancur-hancuran, pasti Nil Maizar yang dijadikan sasaran kecaman.<br />
<br />
Padahal, Nil telah memanggil sejumlah nama yang layak masuk tim <br />
nasional, namun dilarang klub masing-masing. Dipastikan, pemain <br />
Indonesia dengan materi pas-pasan ke kejuaraan bergengsi di Asean itu. <br />
Baru-baru ini, giliran kiper Samsidar yang meninggalkan tim nasional <br />
karena dia dikontrak Mitra Kukar.<br />
<br />
Saat Indonesia bergelut dengan kemelut, peserta lain jauh-jauh hari <br />
mempersiapkan diri. Bukan tak mungkin, Indonesia akan jadi lumbung gol. <br />
Konsekuensinya, Nil Maizar pula yang akan bulan-bulanan.<br />
<br />
Aneh memang Indonesia. Olahraga yang sedianya jadi alat pemersatu <br />
bangsa, justru jadi rimba belantara yang kejam. Saling sikut, saling <br />
ejek di antara elite menjadi hal biasa. Imbasnya, pemain jadi korban. Di<br />
dunia ini, tiap pemain pasti ingin masuk skuad tim nasional, di sini <br />
justru dihalangi.<br />
<br />
Nasionalisme di Indonesia tinggal kenangan. Mereka yang berdasi dan <br />
berbatik, lebih mengedepankan ego, ketimbang kesamaan persepsi bagi <br />
kemajuan dan prestasi. Mereka yang terlibat pusaran konflik, tak lagi <br />
punya perasaan. Mereka tak memedulikan banyak orang yang kecewa <br />
gara-gara pertarungan kepentingan yang tanpa ujung.<br />
<br />
Kubu Djohar Arifin di PSSI maupun La Nyala di KPSI, sudah tidak layak <br />
lagi menjadi pengurus sepakbola di negeri ini. Mereka harus <br />
mengikhlaskan ada orang lain yang maju dan mengelola organisasi maupun <br />
sepakbola Indonesia.<br />
<br />
Usai Piala AFF, merupakan momentum yang tepat untuk melakukan reformasi <br />
di PSSI. Sepakbola adalah sepakbola, bukan politik. Di sepakbola, tak <br />
ada istilah kepentingan yang abadi. Beda dengan politik, apa saja <br />
dianggap halal. Sepakbola menjunjung tinggi sportivitas dan menciptakan <br />
persatuan di tengah perbedaan.<br />
<br />
Kita bisa membayangkan betapa beratnya pikiran Nil Maizar. Oleh karena <br />
konflik, masyarakat tak lagi berharap kepada pemain nasional.<br />
<br />
Namun, Nil Maizar pasti ingin berbuat yang terbaik. Namun, langkahnya terhalang tembok berlapis tak bisa dipecahkan.<br />
<br />
Mungkin seharusnya pula ada gerakan massa untuk membuat perubahan di <br />
PSSI. Klub maupun pengurus PSSI di daerah, harus bergerak. Hapuskan <br />
sekat perbedaan, lalu bersatu membuat perubahan. Persoalannya, siapa <br />
yang akan memulai? Sebelum terlalu terperosok ke jurang paling dalam, <br />
memang harus ada gerakan pembaharuan.(singgalang)</div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">Pecinta sepakbola Indonesia <br />
mungkin kasihan pada Nil Maizar, pelatih tim nasional. Satu persatu <br />
pemain meninggalkan pemusatan latihan nasional, serta sejumlah nama yang<br />
dipanggil enggan bergabung.<br />
<br />
Bagaimana tak kasihan, dia hanya pelatih. Bukan pihak yang terlibat <br />
dalam pusaran konflik. Bila kelak hasil yang diperoleh Indonesia <br />
hancur-hancuran, pasti Nil Maizar yang dijadikan sasaran kecaman.<br />
<br />
Padahal, Nil telah memanggil sejumlah nama yang layak masuk tim <br />
nasional, namun dilarang klub masing-masing. Dipastikan, pemain <br />
Indonesia dengan materi pas-pasan ke kejuaraan bergengsi di Asean itu. <br />
Baru-baru ini, giliran kiper Samsidar yang meninggalkan tim nasional <br />
karena dia dikontrak Mitra Kukar.<br />
<br />
Saat Indonesia bergelut dengan kemelut, peserta lain jauh-jauh hari <br />
mempersiapkan diri. Bukan tak mungkin, Indonesia akan jadi lumbung gol. <br />
Konsekuensinya, Nil Maizar pula yang akan bulan-bulanan.<br />
<br />
Aneh memang Indonesia. Olahraga yang sedianya jadi alat pemersatu <br />
bangsa, justru jadi rimba belantara yang kejam. Saling sikut, saling <br />
ejek di antara elite menjadi hal biasa. Imbasnya, pemain jadi korban. Di<br />
dunia ini, tiap pemain pasti ingin masuk skuad tim nasional, di sini <br />
justru dihalangi.<br />
<br />
Nasionalisme di Indonesia tinggal kenangan. Mereka yang berdasi dan <br />
berbatik, lebih mengedepankan ego, ketimbang kesamaan persepsi bagi <br />
kemajuan dan prestasi. Mereka yang terlibat pusaran konflik, tak lagi <br />
punya perasaan. Mereka tak memedulikan banyak orang yang kecewa <br />
gara-gara pertarungan kepentingan yang tanpa ujung.<br />
<br />
Kubu Djohar Arifin di PSSI maupun La Nyala di KPSI, sudah tidak layak <br />
lagi menjadi pengurus sepakbola di negeri ini. Mereka harus <br />
mengikhlaskan ada orang lain yang maju dan mengelola organisasi maupun <br />
sepakbola Indonesia.<br />
<br />
Usai Piala AFF, merupakan momentum yang tepat untuk melakukan reformasi <br />
di PSSI. Sepakbola adalah sepakbola, bukan politik. Di sepakbola, tak <br />
ada istilah kepentingan yang abadi. Beda dengan politik, apa saja <br />
dianggap halal. Sepakbola menjunjung tinggi sportivitas dan menciptakan <br />
persatuan di tengah perbedaan.<br />
<br />
Kita bisa membayangkan betapa beratnya pikiran Nil Maizar. Oleh karena <br />
konflik, masyarakat tak lagi berharap kepada pemain nasional.<br />
<br />
Namun, Nil Maizar pasti ingin berbuat yang terbaik. Namun, langkahnya terhalang tembok berlapis tak bisa dipecahkan.<br />
<br />
Mungkin seharusnya pula ada gerakan massa untuk membuat perubahan di <br />
PSSI. Klub maupun pengurus PSSI di daerah, harus bergerak. Hapuskan <br />
sekat perbedaan, lalu bersatu membuat perubahan. Persoalannya, siapa <br />
yang akan memulai? Sebelum terlalu terperosok ke jurang paling dalam, <br />
memang harus ada gerakan pembaharuan.(singgalang)</div>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Melestarikan budaya dengan teknologi]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Melestarikan-budaya-dengan-teknologi</link>
			<pubDate>Thu, 01 Nov 2012 09:10:11 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Melestarikan-budaya-dengan-teknologi</guid>
			<description><![CDATA[Assalamualaikum dunsanak sadonyo,<br />
<br />
Tulisan ko untuak malampiaskan uneg-uneg mengenai pelestarian budaya Minangkabau.<br />
<br />
Dahulu waktu SD ambo diajak guru jalan-jalan ka Pagaruyuang kiro2 tahun 1990. Alangkah taparangahnyo mancaliak rumah gadang nan megah dikelilingi bukik-bukik terjal cando benteng alam. Takato di rumah gadang tu dulu tasimpan harto pusako dari rajo-rajo nan alah wafat seperti golok sakti nan bisa tabang, karih untuak baparang, lasuang paimbau hujan, peralatan masak rajo dll. Tentunya kesaktian itu alun tantu bana secara ilmiah tapi untuk ukuran nalar SD bisa sajo karano jaman itu sadang rami sandiwara saur sepuh <img src="http://www.minangforum.com/images/yahoo/71.gif" /> .<br />
<br />
Singkat cerita ambo tibolah di Jakarta dan bakarajo didunia engineering dan sempat mancaliak di TV teknologi laser untuak pengawet patuang-patuang jaman batu dan penyelamatan patuang spinx di Mesir oleh UNESCO, teknologi tu diciptakan oleh Univ. di Perancis. Dalam hati ambo bapikia baa kok indak di praktekan untuk istano Basa Pagaruyuang nan alah bacindawan jo balumuik atoknyo tu, dek tahun 1996 ambo baliak ka Pagaruyuang ternyata kondisinyo makin buruak cando dak ta urus. Ambo jo bapikia ba ko dak ado system pelindung kebakaran di rumah nan megah tu kan atoknyo bisa di siram zat kimia anti api+anti cindawan+anti lumut. Sebagai anak daerah tantu ado niat untuak sharing pengetahuan demi manjago peninggalan budaya nenek moyang. Tapi nihilnya akses, informasi, link, jo sarana prasarana mambuek peluang untuak sharing tu jadi hilang dalam sekejap, dan pada akhirnya tahun 2007 istano Basa tabaka <img src="http://www.minangforum.com/images/yahoo/2.gif" /> mungkin dek patuih atau human error. Patuih jaman kini bisa ditankal pakai teknologi, kebakaran bisa diminimalisir dengan teknologi, lumuik jo karak bisa dihilangkan dengan teknologi, intinya dengan teknologi semuanya jadi mudah. <br />
<br />
Inti persoalanyo adalah perlu wadah untuak berbagi informasi antara pemda, pengurus adat, urang perantau nan paham teknologi diduduakan dalam satu meja untuak menjaga peninggalan nenek moyang wak nan sangat bernilai tinggi tu. Dilua tu alah banyak teknologi nan bisa merawat barang-barang sejarah masalah dana tantu bisa diusahokan oleh sponsor <br />
<br />
Mungkin forum ko bisa dijadikan wadah tersebut, tapi sajak join di forum ko dak pernah ado Pemda mencogok atau sharing apo nan tajadi jo kampuang wak kini terutama peninggalan sejarah. Mohon untuak pembaca membagi idenya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Assalamualaikum dunsanak sadonyo,<br />
<br />
Tulisan ko untuak malampiaskan uneg-uneg mengenai pelestarian budaya Minangkabau.<br />
<br />
Dahulu waktu SD ambo diajak guru jalan-jalan ka Pagaruyuang kiro2 tahun 1990. Alangkah taparangahnyo mancaliak rumah gadang nan megah dikelilingi bukik-bukik terjal cando benteng alam. Takato di rumah gadang tu dulu tasimpan harto pusako dari rajo-rajo nan alah wafat seperti golok sakti nan bisa tabang, karih untuak baparang, lasuang paimbau hujan, peralatan masak rajo dll. Tentunya kesaktian itu alun tantu bana secara ilmiah tapi untuk ukuran nalar SD bisa sajo karano jaman itu sadang rami sandiwara saur sepuh <img src="http://www.minangforum.com/images/yahoo/71.gif" /> .<br />
<br />
Singkat cerita ambo tibolah di Jakarta dan bakarajo didunia engineering dan sempat mancaliak di TV teknologi laser untuak pengawet patuang-patuang jaman batu dan penyelamatan patuang spinx di Mesir oleh UNESCO, teknologi tu diciptakan oleh Univ. di Perancis. Dalam hati ambo bapikia baa kok indak di praktekan untuk istano Basa Pagaruyuang nan alah bacindawan jo balumuik atoknyo tu, dek tahun 1996 ambo baliak ka Pagaruyuang ternyata kondisinyo makin buruak cando dak ta urus. Ambo jo bapikia ba ko dak ado system pelindung kebakaran di rumah nan megah tu kan atoknyo bisa di siram zat kimia anti api+anti cindawan+anti lumut. Sebagai anak daerah tantu ado niat untuak sharing pengetahuan demi manjago peninggalan budaya nenek moyang. Tapi nihilnya akses, informasi, link, jo sarana prasarana mambuek peluang untuak sharing tu jadi hilang dalam sekejap, dan pada akhirnya tahun 2007 istano Basa tabaka <img src="http://www.minangforum.com/images/yahoo/2.gif" /> mungkin dek patuih atau human error. Patuih jaman kini bisa ditankal pakai teknologi, kebakaran bisa diminimalisir dengan teknologi, lumuik jo karak bisa dihilangkan dengan teknologi, intinya dengan teknologi semuanya jadi mudah. <br />
<br />
Inti persoalanyo adalah perlu wadah untuak berbagi informasi antara pemda, pengurus adat, urang perantau nan paham teknologi diduduakan dalam satu meja untuak menjaga peninggalan nenek moyang wak nan sangat bernilai tinggi tu. Dilua tu alah banyak teknologi nan bisa merawat barang-barang sejarah masalah dana tantu bisa diusahokan oleh sponsor <br />
<br />
Mungkin forum ko bisa dijadikan wadah tersebut, tapi sajak join di forum ko dak pernah ado Pemda mencogok atau sharing apo nan tajadi jo kampuang wak kini terutama peninggalan sejarah. Mohon untuak pembaca membagi idenya.]]></content:encoded>
		</item>
	</channel>
</rss>