<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
	<channel>
		<title><![CDATA[Minang Forum - The Lounge]]></title>
		<link>http://www.minangforum.com/</link>
		<description><![CDATA[Minang Forum - http://www.minangforum.com]]></description>
		<pubDate>Tue, 18 Jun 2013 06:33:21 +0000</pubDate>
		<generator>MyBB</generator>
		<item>
			<title><![CDATA[Pakan Alek Nagari Segera Dimulai]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Pakan-Alek-Nagari-Segera-Dimulai</link>
			<pubDate>Sun, 16 Jun 2013 16:12:58 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Pakan-Alek-Nagari-Segera-Dimulai</guid>
			<description><![CDATA[&lt;img src="http://inioke.com//foto/berita/pakan%20anak%20nagari.jpg" align="left" width="300" /&gt;<br />
<br />
Menciptakan<br />
budaya kreatif dengan mengembangkan imajinasi untuk menciptakan sesuatu yang<br />
baru dan membentuk gaya hidup menikmati produk budaya dan kreativitas lokal<br />
dengan mengembangkan pasar yang dapat menyerap produk kreatif merupakan upaya<br />
menumbuhkan ekonomi kreatif. Taman Budaya merupakan salah satu wadah untuk<br />
merealisasikan maksud tersebut melalui pragram "Aktivasi Taman<br />
Budaya".<br />
<br />
<br />
Pada tahun<br />
2013 ini ada 14 Taman Budaya di Indonesia yang mendapat dukungan Aktivasi. Satu<br />
di antaranya adalah Taman Budaya Provinsi Sumatera Barat. Aktivasi Taman Budaya<br />
Sumbar yang direalisasikan melalui kegiatan "Pakan Anak Nagari" ini<br />
dilaksanakan pada bulan Juni sampai November 2013 bertema "Mengoptimalkan<br />
Seni Budaya sebagai Motor Penggerak Ekonomi Kreatif", dengan konten<br />
kegiatan sebagai berikut:<br />
<br />
<br />
-<br />
Pertunjukan Seni Tradisional<br />
<br />
<br />
- Pameran,<br />
Bazar, Demo Kuliner Tradisional<br />
<br />
<br />
- Pameran<br />
Seni Rupa dan Fotografi<br />
<br />
<br />
- Rekaman<br />
Musik (Audio Visual) Penerbitan Literatur Seni Budaya<br />
<br />
<br />
- Permainan<br />
Anak Nagari (Sarasehan, Pelatihan, Festival dan Lomba)<br />
<br />
<br />
- Modifikasi<br />
dan Kreatif Pakaian Tradisi (Sarasehan, Pelatihan dan Peragaan)<br />
<br />
<br />
Kegiatan<br />
seni pertunjukan tradisional, pameran kuliner dan demo kuliner akan diikuti<br />
oleh para pelaku seni dan industri kreatif dari 12 kabupaten dan 7 kota di<br />
Sumatera Barat. Pembukaan acara akan dilaksanakan pada hari Senin (17/06/13) di<br />
Taman Budaya Sumbar, pukul 14.00 WIB sampai selesai.Secara resmi, acara akan<br />
dibuka dengan Samputan Direktur Jenderal Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan<br />
Budaya, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI sekaligus pemukulan Gandag<br />
oleh Prof. Dr. H. Ahman Sya, dilanjutkan dengan Gandang Tabuik.<br />
<br />
<br />
Saat jumpa<br />
pers tadi pagi (14/6), Kepala UPTD Taman Budaya Sumatera Barat, Drs. H. Muasri<br />
mengharapkan kegiatan ini dapat menjadikan kesenian menjadi sesuatu yang<br />
memiliki nilai tambah secara budaya, sosial dan ekonomi.(Inioke.com)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[&lt;img src="http://inioke.com//foto/berita/pakan%20anak%20nagari.jpg" align="left" width="300" /&gt;<br />
<br />
Menciptakan<br />
budaya kreatif dengan mengembangkan imajinasi untuk menciptakan sesuatu yang<br />
baru dan membentuk gaya hidup menikmati produk budaya dan kreativitas lokal<br />
dengan mengembangkan pasar yang dapat menyerap produk kreatif merupakan upaya<br />
menumbuhkan ekonomi kreatif. Taman Budaya merupakan salah satu wadah untuk<br />
merealisasikan maksud tersebut melalui pragram "Aktivasi Taman<br />
Budaya".<br />
<br />
<br />
Pada tahun<br />
2013 ini ada 14 Taman Budaya di Indonesia yang mendapat dukungan Aktivasi. Satu<br />
di antaranya adalah Taman Budaya Provinsi Sumatera Barat. Aktivasi Taman Budaya<br />
Sumbar yang direalisasikan melalui kegiatan "Pakan Anak Nagari" ini<br />
dilaksanakan pada bulan Juni sampai November 2013 bertema "Mengoptimalkan<br />
Seni Budaya sebagai Motor Penggerak Ekonomi Kreatif", dengan konten<br />
kegiatan sebagai berikut:<br />
<br />
<br />
-<br />
Pertunjukan Seni Tradisional<br />
<br />
<br />
- Pameran,<br />
Bazar, Demo Kuliner Tradisional<br />
<br />
<br />
- Pameran<br />
Seni Rupa dan Fotografi<br />
<br />
<br />
- Rekaman<br />
Musik (Audio Visual) Penerbitan Literatur Seni Budaya<br />
<br />
<br />
- Permainan<br />
Anak Nagari (Sarasehan, Pelatihan, Festival dan Lomba)<br />
<br />
<br />
- Modifikasi<br />
dan Kreatif Pakaian Tradisi (Sarasehan, Pelatihan dan Peragaan)<br />
<br />
<br />
Kegiatan<br />
seni pertunjukan tradisional, pameran kuliner dan demo kuliner akan diikuti<br />
oleh para pelaku seni dan industri kreatif dari 12 kabupaten dan 7 kota di<br />
Sumatera Barat. Pembukaan acara akan dilaksanakan pada hari Senin (17/06/13) di<br />
Taman Budaya Sumbar, pukul 14.00 WIB sampai selesai.Secara resmi, acara akan<br />
dibuka dengan Samputan Direktur Jenderal Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan<br />
Budaya, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI sekaligus pemukulan Gandag<br />
oleh Prof. Dr. H. Ahman Sya, dilanjutkan dengan Gandang Tabuik.<br />
<br />
<br />
Saat jumpa<br />
pers tadi pagi (14/6), Kepala UPTD Taman Budaya Sumatera Barat, Drs. H. Muasri<br />
mengharapkan kegiatan ini dapat menjadikan kesenian menjadi sesuatu yang<br />
memiliki nilai tambah secara budaya, sosial dan ekonomi.(Inioke.com)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Musim Durian Landa Lubuk Basung ]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Musim-Durian-Landa-Lubuk-Basung</link>
			<pubDate>Thu, 13 Jun 2013 10:47:29 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Musim-Durian-Landa-Lubuk-Basung</guid>
			<description><![CDATA[<span style="font-weight: bold;">&lt;img src="http://harianhaluan.com/images/stories/Berita10/130613/durian.jpg" align="left" height="121" width="163" /&gt;M</span><span style="font-weight: bold;">endengar</span><br />
kata buah durian, seseorang akan teringat akan kelezatan dan kenikmatan<br />
isi buah yang berduri tersebut. Apalagi jika buah durian tersebut <br />
dimakan dengan nasilamak ketan (nasi pulut), atau lamang. Seakan kita <br />
akan melayang akan cita rasa kelezatan yang tiada tandingan.<br />
<br />
Jangan heran jika musim durian tiba, para pedagang durian dan pemilik<br />
kebun durian ibarat mendapat durian runtuh ( mendapat untung). Ini <br />
dikarenakan selain buah durian yang dijual pedagang laris manis, para <br />
pemilik kebun durianpun juga kebanjiran order dari para toke durian, <br />
kerena para tauke datang langsung mencari durian ke kebun milik warga <br />
untuk mendapatkannya.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Seperti halnya di Nagari Lubuk Basung Kabupaten Agam, yang saat ini <br />
musim durian mulai melanda nagari tersebut. Buah durian dengan mudah <br />
bisa didapati oleh pembeli dan penggila durian karena banyaknya para <br />
pedagang durian ditemukan di pinggiran jalan raya di nagari itu.<br />
<br />
Selain lezat, durian juga memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi. <br />
Setiap 100 g salut biji mengandung 67 g air, 28,3 g karbohidrat, 2,5 g <br />
lemak, 2,5 g protein, 1,4 g serat; serta memiliki nilai energi sebesar <br />
520 kJ. Durian juga banyak mengandung vitamin B1, vitamin B2, dan <br />
vitamin C; serta kalium, kalsium dan fosfor.<br />
<br />
Durian adalah jenis tumbuhan tropis yang berasal dari wilayah Asia <br />
Tenggara, sekaligus nama buahnya yang bisa dimakan. Nama ini diambil <br />
dari ciri khas kulit buahnya yang keras dan berlekuk-lekuk tajam <br />
sehingga menyerupai duri. Sebutan populernya adalah “raja dari segala <br />
buah” (<span style="font-style: italic;">King of Fruit</span>). Durian adalah buah yang kontroversial, <br />
meskipun banyak orang yang menyukainya, namun sebagian yang lain malah <br />
muak dengan aromanya<br />
<br />
Durian yang dijual masyarakat tidak saja di warung-warung milik warga<br />
maupun dionggok di ping­giran jalan, namun banyak juga dari sebagian <br />
masyarakat yang dengan sengaja membangun pondok-­pondok kecil dari kayu <br />
dan bambu beratapkan terpal plastik untuk menjual buah musiman itu.<br />
<br />
Ada yang unik pada kehidupan para remaja atau pemuda di Lubuk Basung <br />
ketika di kampung atau daerah mereka lagi musim durian. Pada malam hari <br />
sebagian dari mereka lebih memilih pergi kubuang (menunggu durian) <br />
semalaman ke kebun durian atau ke rumpun durian.<br />
<br />
Zal laweh salah seorang toke durian saat ditemui <span style="font-style: italic;">Haluan</span> di <br />
Lubuk Basung mengatakan, sudah menjadi kebiasaan baginya mencari durian <br />
ke kampong-kampung dengan mendatangi langsung kebun durian milik warga.<br />
<br />
Untuk mendapatkan durian, dia selalu mendatangi kebun durian milik <br />
warga pagi hari, karena siang, bisa dipastikan dia tidak akan kebagian <br />
durian lagi, karena kalah cepat dari tauke durian lain. “Biasanya pagi <br />
hari durian sudah banyak terkumpul oleh yang punya durian, setelah <br />
menunggu durian yang jatuh semalaman,” ungkap Zal.<br />
<br />
Durian yang dibeli langsung ke rumpun, harganya lebih murah dari pada<br />
membeli ke pedagang di pinggir jalan. Di kebun durian, Zal mendapatkan <br />
harga yang bervariasi tergantung dari besar dan kecil durian. Bahkan ada<br />
yang dibelinya dengan harga <span style="font-style: italic;">batongkong</span> (berong­gok).<br />
<br />
“Kalau kualitas bagus Rp5.000 hingga Rp10.000 per buah. Jika beli <span style="font-style: italic;">batongkong</span><br />
harganya dipatok atas kesepakatan antara pembeli dan penjual,” katanya<br />
sembari menjelas­kan durian itu akan dijualnya ke daerah lain, seperti <br />
Bukittinggi, Pariaman, Payakumbuh dan Padang.<br />
<br />
Inim, salah seorang pedagang durian di Lubuk Basung juga menyebutkan <br />
bahwa saat ini musim durian mulai melanda nagarinya. Bila musim durian <br />
tiba dia juga tidak ketinggalan untuk menjual durian di depan rumahnya.<br />
<br />
Harga durian yang dijualnya itu bervariasi tergantung besar dan <br />
kecilnya, untuk yang besar Rp20.000 sampai Rp25.000 per buah, untuk <br />
ukuran menengah Rp15.000 dan ukuran kecil Rp5.000 sampai Rp 10.000.<br />
<br />
“Walau harga durian yang kita jual terbilang mahal, namun tetap <br />
laris manis, dan harga yang kita tawar kepada pembeli bisa berta­han. <br />
ini dikarenakan tingginya minat pembeli untuk mendapatkan buah durian <br />
yang musimnya sekali setahun,” jelas Inim.<br />
<br />
Pantauan <span style="font-style: italic;">Haluan</span> di Lubuk Basung, terlihat banyak pedagang <br />
durian di pinggiran jalan raya yang menyediakan buah tersebut. <br />
Harga­nyapun bervariasi, terkadang harganyapun lebih mahal dari harga <br />
yang dijual di pasar. Bagi pedagang durian musiman ini, terkadang <br />
mematok harga tergantung siapa calon pembelinya. Bila calon pembeli yang<br />
datang mengendarai mobil mewah, harga durianpun bisa terjual lebih <br />
mahal<span style="font-weight: bold;">. (haluan/cw-tot)</span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span style="font-weight: bold;">&lt;img src="http://harianhaluan.com/images/stories/Berita10/130613/durian.jpg" align="left" height="121" width="163" /&gt;M</span><span style="font-weight: bold;">endengar</span><br />
kata buah durian, seseorang akan teringat akan kelezatan dan kenikmatan<br />
isi buah yang berduri tersebut. Apalagi jika buah durian tersebut <br />
dimakan dengan nasilamak ketan (nasi pulut), atau lamang. Seakan kita <br />
akan melayang akan cita rasa kelezatan yang tiada tandingan.<br />
<br />
Jangan heran jika musim durian tiba, para pedagang durian dan pemilik<br />
kebun durian ibarat mendapat durian runtuh ( mendapat untung). Ini <br />
dikarenakan selain buah durian yang dijual pedagang laris manis, para <br />
pemilik kebun durianpun juga kebanjiran order dari para toke durian, <br />
kerena para tauke datang langsung mencari durian ke kebun milik warga <br />
untuk mendapatkannya.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Seperti halnya di Nagari Lubuk Basung Kabupaten Agam, yang saat ini <br />
musim durian mulai melanda nagari tersebut. Buah durian dengan mudah <br />
bisa didapati oleh pembeli dan penggila durian karena banyaknya para <br />
pedagang durian ditemukan di pinggiran jalan raya di nagari itu.<br />
<br />
Selain lezat, durian juga memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi. <br />
Setiap 100 g salut biji mengandung 67 g air, 28,3 g karbohidrat, 2,5 g <br />
lemak, 2,5 g protein, 1,4 g serat; serta memiliki nilai energi sebesar <br />
520 kJ. Durian juga banyak mengandung vitamin B1, vitamin B2, dan <br />
vitamin C; serta kalium, kalsium dan fosfor.<br />
<br />
Durian adalah jenis tumbuhan tropis yang berasal dari wilayah Asia <br />
Tenggara, sekaligus nama buahnya yang bisa dimakan. Nama ini diambil <br />
dari ciri khas kulit buahnya yang keras dan berlekuk-lekuk tajam <br />
sehingga menyerupai duri. Sebutan populernya adalah “raja dari segala <br />
buah” (<span style="font-style: italic;">King of Fruit</span>). Durian adalah buah yang kontroversial, <br />
meskipun banyak orang yang menyukainya, namun sebagian yang lain malah <br />
muak dengan aromanya<br />
<br />
Durian yang dijual masyarakat tidak saja di warung-warung milik warga<br />
maupun dionggok di ping­giran jalan, namun banyak juga dari sebagian <br />
masyarakat yang dengan sengaja membangun pondok-­pondok kecil dari kayu <br />
dan bambu beratapkan terpal plastik untuk menjual buah musiman itu.<br />
<br />
Ada yang unik pada kehidupan para remaja atau pemuda di Lubuk Basung <br />
ketika di kampung atau daerah mereka lagi musim durian. Pada malam hari <br />
sebagian dari mereka lebih memilih pergi kubuang (menunggu durian) <br />
semalaman ke kebun durian atau ke rumpun durian.<br />
<br />
Zal laweh salah seorang toke durian saat ditemui <span style="font-style: italic;">Haluan</span> di <br />
Lubuk Basung mengatakan, sudah menjadi kebiasaan baginya mencari durian <br />
ke kampong-kampung dengan mendatangi langsung kebun durian milik warga.<br />
<br />
Untuk mendapatkan durian, dia selalu mendatangi kebun durian milik <br />
warga pagi hari, karena siang, bisa dipastikan dia tidak akan kebagian <br />
durian lagi, karena kalah cepat dari tauke durian lain. “Biasanya pagi <br />
hari durian sudah banyak terkumpul oleh yang punya durian, setelah <br />
menunggu durian yang jatuh semalaman,” ungkap Zal.<br />
<br />
Durian yang dibeli langsung ke rumpun, harganya lebih murah dari pada<br />
membeli ke pedagang di pinggir jalan. Di kebun durian, Zal mendapatkan <br />
harga yang bervariasi tergantung dari besar dan kecil durian. Bahkan ada<br />
yang dibelinya dengan harga <span style="font-style: italic;">batongkong</span> (berong­gok).<br />
<br />
“Kalau kualitas bagus Rp5.000 hingga Rp10.000 per buah. Jika beli <span style="font-style: italic;">batongkong</span><br />
harganya dipatok atas kesepakatan antara pembeli dan penjual,” katanya<br />
sembari menjelas­kan durian itu akan dijualnya ke daerah lain, seperti <br />
Bukittinggi, Pariaman, Payakumbuh dan Padang.<br />
<br />
Inim, salah seorang pedagang durian di Lubuk Basung juga menyebutkan <br />
bahwa saat ini musim durian mulai melanda nagarinya. Bila musim durian <br />
tiba dia juga tidak ketinggalan untuk menjual durian di depan rumahnya.<br />
<br />
Harga durian yang dijualnya itu bervariasi tergantung besar dan <br />
kecilnya, untuk yang besar Rp20.000 sampai Rp25.000 per buah, untuk <br />
ukuran menengah Rp15.000 dan ukuran kecil Rp5.000 sampai Rp 10.000.<br />
<br />
“Walau harga durian yang kita jual terbilang mahal, namun tetap <br />
laris manis, dan harga yang kita tawar kepada pembeli bisa berta­han. <br />
ini dikarenakan tingginya minat pembeli untuk mendapatkan buah durian <br />
yang musimnya sekali setahun,” jelas Inim.<br />
<br />
Pantauan <span style="font-style: italic;">Haluan</span> di Lubuk Basung, terlihat banyak pedagang <br />
durian di pinggiran jalan raya yang menyediakan buah tersebut. <br />
Harga­nyapun bervariasi, terkadang harganyapun lebih mahal dari harga <br />
yang dijual di pasar. Bagi pedagang durian musiman ini, terkadang <br />
mematok harga tergantung siapa calon pembelinya. Bila calon pembeli yang<br />
datang mengendarai mobil mewah, harga durianpun bisa terjual lebih <br />
mahal<span style="font-weight: bold;">. (haluan/cw-tot)</span>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Penemuan Alien Menghebohkan Warga Cina ]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Penemuan-Alien-Menghebohkan-Warga-Cina</link>
			<pubDate>Wed, 12 Jun 2013 05:49:15 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Penemuan-Alien-Menghebohkan-Warga-Cina</guid>
			<description><![CDATA[<img src="http://l1.yimg.com/bt/api/res/1.2/9XL091YWY_6xgjNGDBvU1g--/YXBwaWQ9eW5ld3M7Zmk9aW5zZXQ7aD0yMjk7cT04NTt3PTQwMA--/http://media.zenfs.com/id-ID/News/tempo/31258.jpg" border="0" alt="[Image: 31258.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/> <br />
<br />
<span style="color: #666666;">TEMPO.CO</span>, Shanding Binzhou – Seorang pria Cina telah memposting foto-foto bersama sebuah benda yang ia klaim sebagai alien. Menurutnya, alien ini telah terperangkap di bumi karena sebuah kecelakaan <a href="http://www.tempo.co/read/news/2011/01/24/095308420/Ini-Ciri-Jejak-UFO-Asli" rel="nofollow" target="_blank">UFO</a>. Memang, foto-foto yang dipostingnya menampilkan gambar dirinya tengah berdiri di samping benda agak kasar yang tampaknya dari luar angkasa. Tentu saja, ini membuat heboh jejaring sosial di Cina.<br />
<br />
»Li, pengunggah foto itu, mengklaim ia melihat formasi UFO berdengung di langit malam di sepanjang Sungai Kuning, Provinsi Shangdong Binzhou, Cina,” tulis <a href="http://www.dailymail.co.uk/news/article-2338952/Chinese-man-reveals-pictures-alien-freezer-claiming-witnessed-UFO-crash-land-near-house.html" rel="nofollow" target="_blank">Daily Mail</a>, Senin, 10 Juni 2013. Tiba-tiba salah satu benda menyerupai piring itu tersentak jatuh ke bumi. Dan, saat itulah Li menemukan tubuh salah satu ‘pengunjung’ yang tertinggal.<br />
<br />
Li menegaskan, kejadian itu berlangsung pada bulan Maret 2013. Ia mengawetkan <a href="http://www.tempo.co/read/news/2013/04/25/061475885/Jasad-Alien-Kerdil-di-Cile-Ternyata-Manusia" rel="nofollow" target="_blank">alien </a>itu di dalam freezer. Namun, polisi setempat menyangkal pernyataan Li. Dari pernyataan polisi, tidak ditemukan tanda-tanda kehidupan di dalam benda itu. Malah, polisi menyatakan bahwa benda itu hanyalah karet dengan kualitas tinggi sehingga mampu terbentuk sedemikian rupa mirip alien.<br />
<br />
»Alien yang diakui disetrum hingga mati dan diawetkan dalam freezer adalah imitasi kualitas tinggi,” begitu pernyataan kepolisian setempat melalui situs resminya. Seakan tidak peduli dengan tanggapan polisi, para blogger di Cina tetap meyakini bahwa alien yang ditemukan Li masih berhubungan dengan jejak asing berbentuk tapak UFO yang terlihat di Provinsi Hubei.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<img src="http://l1.yimg.com/bt/api/res/1.2/9XL091YWY_6xgjNGDBvU1g--/YXBwaWQ9eW5ld3M7Zmk9aW5zZXQ7aD0yMjk7cT04NTt3PTQwMA--/http://media.zenfs.com/id-ID/News/tempo/31258.jpg" border="0" alt="[Image: 31258.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/> <br />
<br />
<span style="color: #666666;">TEMPO.CO</span>, Shanding Binzhou – Seorang pria Cina telah memposting foto-foto bersama sebuah benda yang ia klaim sebagai alien. Menurutnya, alien ini telah terperangkap di bumi karena sebuah kecelakaan <a href="http://www.tempo.co/read/news/2011/01/24/095308420/Ini-Ciri-Jejak-UFO-Asli" rel="nofollow" target="_blank">UFO</a>. Memang, foto-foto yang dipostingnya menampilkan gambar dirinya tengah berdiri di samping benda agak kasar yang tampaknya dari luar angkasa. Tentu saja, ini membuat heboh jejaring sosial di Cina.<br />
<br />
»Li, pengunggah foto itu, mengklaim ia melihat formasi UFO berdengung di langit malam di sepanjang Sungai Kuning, Provinsi Shangdong Binzhou, Cina,” tulis <a href="http://www.dailymail.co.uk/news/article-2338952/Chinese-man-reveals-pictures-alien-freezer-claiming-witnessed-UFO-crash-land-near-house.html" rel="nofollow" target="_blank">Daily Mail</a>, Senin, 10 Juni 2013. Tiba-tiba salah satu benda menyerupai piring itu tersentak jatuh ke bumi. Dan, saat itulah Li menemukan tubuh salah satu ‘pengunjung’ yang tertinggal.<br />
<br />
Li menegaskan, kejadian itu berlangsung pada bulan Maret 2013. Ia mengawetkan <a href="http://www.tempo.co/read/news/2013/04/25/061475885/Jasad-Alien-Kerdil-di-Cile-Ternyata-Manusia" rel="nofollow" target="_blank">alien </a>itu di dalam freezer. Namun, polisi setempat menyangkal pernyataan Li. Dari pernyataan polisi, tidak ditemukan tanda-tanda kehidupan di dalam benda itu. Malah, polisi menyatakan bahwa benda itu hanyalah karet dengan kualitas tinggi sehingga mampu terbentuk sedemikian rupa mirip alien.<br />
<br />
»Alien yang diakui disetrum hingga mati dan diawetkan dalam freezer adalah imitasi kualitas tinggi,” begitu pernyataan kepolisian setempat melalui situs resminya. Seakan tidak peduli dengan tanggapan polisi, para blogger di Cina tetap meyakini bahwa alien yang ditemukan Li masih berhubungan dengan jejak asing berbentuk tapak UFO yang terlihat di Provinsi Hubei.]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Asal Usul Nama Google dan Fakta Unik Lainnya]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Asal-Usul-Nama-Google-dan-Fakta-Unik-Lainnya</link>
			<pubDate>Sat, 08 Jun 2013 06:35:05 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Asal-Usul-Nama-Google-dan-Fakta-Unik-Lainnya</guid>
			<description><![CDATA[<img src="http://assets.kompas.com/data/photo/2013/05/28/0948547620X310.jpg?1370609986078" border="0" alt="[Image: 0948547620X310.jpg?1370609986078]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/> <br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">KOMPAS.com </span>— Ada banyak cerita dan pemberitaan media yang menarik seputar Google. Namun ternyata, masih ada fakta-fakta unik yang belum diketahui oleh banyak orang tentang perusahaan tersebut. Fakta-fakta tersebut ditampilkan dalam <a href="http://www.quora.com/Google/What-are-some-mind-blowing-facts-about-Google" rel="nofollow" target="_blank">situs tanya jawab Quora</a>. Berikut beberapa fakta unik yang menarik.<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Nama Google lahir karena "kecelakaan"</span>. Sejarah Google dimulai dari proyek yang dikerjakan oleh Larry Page dan Sergey Brin pada 1996. Saat itu, kedua mahasiswa pascasarjana di Stanford University itu berkolaborasi mengembangkan mesin pencari bernama BackRub, yang dioperasikan menggunakan server di kampus mereka. <br />
<br />
Pada 1997, Larry dan Sergey mengganti nama BackRub menjadi Googol. "Googol" merupakan istilah matematika untuk angka 1 yang diikuti oleh 100 angka nol. Nama ini diambil untuk menjelaskan misi Google sebagai gudang informasi tak terbatas di internet. <br />
<br />
Akan tetapi, para investor rupanya salah mengeja nama Googol menjadi Google, dan telanjur menuliskannya dalam cek. Hal itu membuat Brin dan Page akhirnya "mentok" menggunakan nama Google untuk mesin pencari mereka.<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Google merupakan salah satu perusahaan digital yang gencar mengakuisisi <span style="font-style: italic;">startup </span>yang berpotensi</span>. Di antaranya, YouTube, Android, Motorola Mobility, Pyra Labs yang mengembangkan Blogger, serta Keyhole Inc yang melahirkan layanan Google Maps dan Google Earth. <br />
<br />
Hingga kini, sudah ada ratusan <span style="font-style: italic;">startup </span>(perusahaan rintisan) yang diakuisisi oleh Google. Sejak 2010, jika dirata-rata, maka Google telah mengakuisisi lebih dari satu perusahaan setiap minggu.<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Halaman muka Google tampil bersih sejak kali </span><span style="font-weight: bold;">pertama </span><span style="font-weight: bold;">beroperasi karena dulu kedua pendirinya tidak menguasai HTML</span>. Page dan Brin juga menginginkan mesin pencari dengan antarmuka yang ringkas. Karena itu, pencarian melalui Google dibuat sederhana. Pengguna cukup menekan tombol Enter setelah memasukkan kata kunci pencariannya. <br />
<br />
Hingga kini, tampilan <span style="font-style: italic;">homepage</span> Google yang bersih, hanya menampilkan logo dan kotak pencarian, tetap dipertahankan.<br />
<br />
Masih ada fakta-fakta menarik lainnya. Indeks pencarian Google memiliki ukuran raksasa, yakni lebih dari 100 juta <span style="font-style: italic;">gigabyte</span>. Dengan kata lain, butuh lebih dari 100.000 <span style="font-style: italic;">hard disk </span>personal berukuran 1<span style="font-style: italic;">terabyte</span> untuk menyimpan indeks pencarian itu. <br />
<br />
Untuk menampilkan informasi pada aplikasi Street View yang merupakan bagian dari Google Maps, jika ditotal, maka Google telah memotret jalan sepanjang 5 juta mil atau 8,046 juta km. <br />
<br />
Pada tahun 2012, Google telah menemukan lebih dari 30 triliun URL unik di <span style="font-style: italic;">web</span>. Coba bandingkan dengan jumlah URL unik pada tahun 2008, yang hanya berjumlah 1 triliun! <br />
<br />
Satu lagi fakta unik tentang Google. Perusahaan ini dikenal sebagai perusahaan digital paling besar dan paling penting di dunia. Namun ternyata, masih ada kesalahan kode di halaman muka Google. Kalau tidak percaya, sila cek <a href="http://validator.w3.org/check?uri=http%3A%2F%2Fwww.google.com" rel="nofollow" target="_blank">tautan ini</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<img src="http://assets.kompas.com/data/photo/2013/05/28/0948547620X310.jpg?1370609986078" border="0" alt="[Image: 0948547620X310.jpg?1370609986078]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/> <br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">KOMPAS.com </span>— Ada banyak cerita dan pemberitaan media yang menarik seputar Google. Namun ternyata, masih ada fakta-fakta unik yang belum diketahui oleh banyak orang tentang perusahaan tersebut. Fakta-fakta tersebut ditampilkan dalam <a href="http://www.quora.com/Google/What-are-some-mind-blowing-facts-about-Google" rel="nofollow" target="_blank">situs tanya jawab Quora</a>. Berikut beberapa fakta unik yang menarik.<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Nama Google lahir karena "kecelakaan"</span>. Sejarah Google dimulai dari proyek yang dikerjakan oleh Larry Page dan Sergey Brin pada 1996. Saat itu, kedua mahasiswa pascasarjana di Stanford University itu berkolaborasi mengembangkan mesin pencari bernama BackRub, yang dioperasikan menggunakan server di kampus mereka. <br />
<br />
Pada 1997, Larry dan Sergey mengganti nama BackRub menjadi Googol. "Googol" merupakan istilah matematika untuk angka 1 yang diikuti oleh 100 angka nol. Nama ini diambil untuk menjelaskan misi Google sebagai gudang informasi tak terbatas di internet. <br />
<br />
Akan tetapi, para investor rupanya salah mengeja nama Googol menjadi Google, dan telanjur menuliskannya dalam cek. Hal itu membuat Brin dan Page akhirnya "mentok" menggunakan nama Google untuk mesin pencari mereka.<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Google merupakan salah satu perusahaan digital yang gencar mengakuisisi <span style="font-style: italic;">startup </span>yang berpotensi</span>. Di antaranya, YouTube, Android, Motorola Mobility, Pyra Labs yang mengembangkan Blogger, serta Keyhole Inc yang melahirkan layanan Google Maps dan Google Earth. <br />
<br />
Hingga kini, sudah ada ratusan <span style="font-style: italic;">startup </span>(perusahaan rintisan) yang diakuisisi oleh Google. Sejak 2010, jika dirata-rata, maka Google telah mengakuisisi lebih dari satu perusahaan setiap minggu.<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Halaman muka Google tampil bersih sejak kali </span><span style="font-weight: bold;">pertama </span><span style="font-weight: bold;">beroperasi karena dulu kedua pendirinya tidak menguasai HTML</span>. Page dan Brin juga menginginkan mesin pencari dengan antarmuka yang ringkas. Karena itu, pencarian melalui Google dibuat sederhana. Pengguna cukup menekan tombol Enter setelah memasukkan kata kunci pencariannya. <br />
<br />
Hingga kini, tampilan <span style="font-style: italic;">homepage</span> Google yang bersih, hanya menampilkan logo dan kotak pencarian, tetap dipertahankan.<br />
<br />
Masih ada fakta-fakta menarik lainnya. Indeks pencarian Google memiliki ukuran raksasa, yakni lebih dari 100 juta <span style="font-style: italic;">gigabyte</span>. Dengan kata lain, butuh lebih dari 100.000 <span style="font-style: italic;">hard disk </span>personal berukuran 1<span style="font-style: italic;">terabyte</span> untuk menyimpan indeks pencarian itu. <br />
<br />
Untuk menampilkan informasi pada aplikasi Street View yang merupakan bagian dari Google Maps, jika ditotal, maka Google telah memotret jalan sepanjang 5 juta mil atau 8,046 juta km. <br />
<br />
Pada tahun 2012, Google telah menemukan lebih dari 30 triliun URL unik di <span style="font-style: italic;">web</span>. Coba bandingkan dengan jumlah URL unik pada tahun 2008, yang hanya berjumlah 1 triliun! <br />
<br />
Satu lagi fakta unik tentang Google. Perusahaan ini dikenal sebagai perusahaan digital paling besar dan paling penting di dunia. Namun ternyata, masih ada kesalahan kode di halaman muka Google. Kalau tidak percaya, sila cek <a href="http://validator.w3.org/check?uri=http%3A%2F%2Fwww.google.com" rel="nofollow" target="_blank">tautan ini</a>.]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Nama Nagari]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Nama-Nagari</link>
			<pubDate>Thu, 27 Dec 2012 09:12:18 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Nama-Nagari</guid>
			<description><![CDATA[<div align="justify">SAYA benar-benar takzim membaca teks <br />
foto utama halaman satu “wawancara” Singgalang Sabtu, 22 Desember 2012. <br />
Ini bunyi teks itu: Pemimpin Redaksi tvOne, Karni Ilyas, mewawancarai <br />
pelajar SMPN 1 Lubuak Aluang, setelah peresmian sekolah yang dibangun <br />
kembali atas prakarsa televisi tersebut, Jumat (21/12). Judul dan isi <br />
berita di halaman A-2 pun membuat saya takzim: Di Lubuak Aluang SMPN 1 <br />
Bantuan TvOne Diresmikan. Pada teks foto ada penjelasan pemotret <br />
(darmansyah), di akhir berita ada kode (213).<br />
<br />
Mengapa takzim? (Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia tertera, takzim <br />
bermakna amat hormat dan sopan, memuliakan.) Setidaknya kata Lubuak <br />
Aluang (dengan huruf tebal, DM) pada teks dan lima kata yang sama pada <br />
berita ditulis persis: Lubuak Aluang. Hanya pada alinea kedua akhir <br />
tertera kata Lubuk Alung (salah ketik?). Saya tidak hendak mengomentari <br />
Negari Lubuak Aluang secara komprehensif. Benarkah itu berasal dari <br />
permainan kata: lubuak alu ang? Di mana lubuak alu den? Dalam berita ada<br />
nama-nama Padang Sago, Ulakan, Tuo Barangan, VII (Tujuah) Koto Sungai <br />
Sariak, Sicincin, 2 x 11 (Duo Kali Sabaleh) Anam (bukan Enam) Lingkuang.<br />
Menurut pengamatan saya, penulis teks dan berita, Redaktur Pelaksana, <br />
Pemimpin Redaksi, sudah berupaya maksimal untuk kembali menamakan negari<br />
(atau, dalam bahasa Minangkabau, nagari) di Minangkabau sesuai asli.<br />
<br />
Sesungguhnya ternyata bukan hanya Singgalang yang sudah berupaya <br />
menggunakan nama-nama negari sesuai nama-nama awal. Padang Ekspres, <br />
Haluan, dan Posmetro Padang pun berupaya. Sesekali Kompas dan Republika,<br />
saat menyajikan berita tentang Provinsi Sumatra Barat dan/atau <br />
Minangkabau, pun berbuat serupa. Keenam harian itu saya langgankan dan <br />
baca setiap hari. Pada waktu tertentu saya juga membaca mingguan dan <br />
tabloid yang terbit di daerah ini. Televisi-televisi dan radio-radio <br />
yang siar di Kota Padang, Bukittinggi, dan kota-kota lain pun berbuat <br />
sama. Biarpun televisi dan radio sering gaduh dengan kata dan kalimat <br />
berdialek Jakarta.</div>
Saya dan banyak urang awak barangkali <br />
sependapat, bahwa penamaan negari (taratak, dusun, jorong, kampung) di <br />
Minangkabau dikembalikan ke nama asli. Dan ini bukan pendapat baru, dan <br />
bukan pula pendapat saya pribadi. Sejak beberapa dekade, paling tidak, <br />
sejak Gubernur Harun Zain mengembalikan dan berupaya menaikkan harga <br />
diri orang Minangkabau, upaya itu mulai dilakukan. Sawahlunta <br />
dikembalikan ke nama asli Sawahlunto. Kemudian, beberapa skolar sebutlah<br />
Prof. Dr. Chaidir Anwar, M.A., Prof. Dr. Azis Saleh, M.A., Prof. Dr. <br />
Mursal Esten, dan banyak yang lain juga berupaya mengembalikan pinang ka<br />
tampuak, siriah ka gagang (ke tempat/nama semula).<br />
<br />
Selama dua puluh tahun terakhir, saya memang termasuk yang amat getol <br />
mengusulkan agar nama-nama negari ini dikembalikan ke yang asli. Saya <br />
sudah berkali-kali menulis kolom, berbicara di seminar dan diskusi, <br />
berwawancara di televisi dan radio, tentang pengembalian nama ini. Aneh <br />
atau lucu dan bahkan menyesatkan bila nama-nama itu diindonesiakan. <br />
Sebutlah Aie Cama di Kota Padang, diubah menjadi Air Camar. Apakah makna<br />
cama dalam bahasa Minangkabau. Cangok, rakus, bukan? Apakah makna camar<br />
dalam bahasa Indonesia? Bukankah camar nama burung? Tidakkah dengan <br />
demikian, dengan pengubahan itu, terjadi penyesatan dan penyalahan <br />
makna? Begitu juga nama Ikua atau Ikue Koto, mengapa disebut Ikur Koto? <br />
Apakah arti ikur?<br />
<br />
Saya tak hendak menyinggung “sejarah” penggantian dan pengubahan <br />
nama-nama negari yang diindonesia-indonesiakan. Sudahlah! Saya hanya <br />
merindukan, kembali merindukan, agar nama-nama negari di seantero <br />
Minangkabau dikembalikan ke nama asli, ke nama semula. Biarpun tidak <br />
mungkin dipaksakan, tetapi pekerjaan ini juga tidak sulit-sulit amat. <br />
Bertanya saja ke tetua, tokoh-tokoh dan para intelektual di negari <br />
masing-masing. Tanyakan, sebagai contoh, apakah negari ini memang sejak <br />
seisuk, sejak dunia terkembang, benama Sulik Aie? Lalu, mengapa harus <br />
diubah menjadi Sulit Air? Mengapa seterusnya tidak digunakan Sulik Aie <br />
saja?<br />
<br />
Dengan demikian, akan berkibar kembali nama-nama indah, hebat, penuh <br />
makna bahkan bermartabat di tiap kampung dan negari. Ada Nagari Baruah <br />
Gunuang, Joroang Banda Raik, Gunuang Omeh, Talago Guguak, Batu Basa, <br />
Supayang, Simabua, Situmbuak, Salimpauang, Aie Angek, Sawah Tangah, <br />
Katapiang, Sigaluik, Bayua, Ambun Pagi (nama yang juga digunakan secara <br />
mengena untuk ruang rawat inap berkelas oleh RSUP Dokter M. Djamil), <br />
Matua, Batipuah Baruah, Kubu Karambie, Batu Banyak, Andaleh. Ada <br />
nama-nama Parak Gadang, Pasa Mudiak, Parak Laweh Pulau Aie Nan Duo <br />
Puluah, Subarang Padang, Pasie Nan Tigo, Koto Marapak, Balai Salasa, <br />
Garabak Data, Karang Sadah, Lintau Buo, Lubuak Jantan, Lubuak Basuang, <br />
Lubuak Minturun, Lubuak Buayo, Lubuak Situka Banang, Malalo, untuk <br />
menyebut beberapa nama. Dan alangkah indah, merdu, musikal dan berwibawa<br />
nama-nama kawasan ini: Rimbo Kaluang, Palinggam, dan Balanti di Kota <br />
Padang. Itu bukan Rimba Kalong, Pelinggam atau Belanti.<br />
<br />
Selain terhadap kru media-massa sebagai pemakai bahasa paling aktif, <br />
baik tulis maupun lisan, rasa hormat juga harus disampaikan kepada <br />
pejabat pemerintah yang telah mengambil kebijakan untuk mengembalikan <br />
penamaan sebagaimana mestinya. Setahu saya, (Pak) Bupati Baharauddin R.,<br />
melalui legislatif, sudah menetapkan, membuat peraturan daerah (perda),<br />
bahwa Simpang Ampek di Pasaman itu ya Simpang Ampek. Semua penamaan <br />
negari dan tempat di kabupaten itu dikembalikan ke asli. Hebat dan <br />
salut!<br />
<br />
Mengapa pejabat pemda kota, kabupaten lain, dan provinsi belum mengambil<br />
kebijakan yang sama? Mengapa legislatif tidak tanggap ketika usulan <br />
dari masyarakat nyaring terdengar? Betapa lagi, berminang-minang, <br />
Gubernur dan Wakil Gubernur Sumbar adalah dua orang datuk, dua orang <br />
ninik-mamak terpandang? Dan mengapa organisasi keminangan seperti LKAAM <br />
dan Bundo Kanduang berdiam diri, diam semilyar bahasa?<br />
<br />
Ayolah, kita kembalikan nama-nama itu ke yang asli.<br />
<br />
Kemudian, mengubah kop surat, stempel, pelang-pelang nama (kantor, <br />
jalan), kartu nama dan beberapa perubahan lain tidak makan biaya besar. <br />
Tak perlu pengembalian nama “didarahi” dengan upacara seremonial. Saya <br />
memang rindu, sangat rindu, nama-nama taratak, dusun, jorong, negari di <br />
Minangkabau kembali ke asli. Batavia memang berubah jadi Jayakarta dan <br />
kemudian Jakarta tetapi setahu saya nama-nama dukuh, desa, di Jawa, tak <br />
mengalami perubahan. Begitu juga di etnik-etnik lain.(darmanmunir/singgalang)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">SAYA benar-benar takzim membaca teks <br />
foto utama halaman satu “wawancara” Singgalang Sabtu, 22 Desember 2012. <br />
Ini bunyi teks itu: Pemimpin Redaksi tvOne, Karni Ilyas, mewawancarai <br />
pelajar SMPN 1 Lubuak Aluang, setelah peresmian sekolah yang dibangun <br />
kembali atas prakarsa televisi tersebut, Jumat (21/12). Judul dan isi <br />
berita di halaman A-2 pun membuat saya takzim: Di Lubuak Aluang SMPN 1 <br />
Bantuan TvOne Diresmikan. Pada teks foto ada penjelasan pemotret <br />
(darmansyah), di akhir berita ada kode (213).<br />
<br />
Mengapa takzim? (Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia tertera, takzim <br />
bermakna amat hormat dan sopan, memuliakan.) Setidaknya kata Lubuak <br />
Aluang (dengan huruf tebal, DM) pada teks dan lima kata yang sama pada <br />
berita ditulis persis: Lubuak Aluang. Hanya pada alinea kedua akhir <br />
tertera kata Lubuk Alung (salah ketik?). Saya tidak hendak mengomentari <br />
Negari Lubuak Aluang secara komprehensif. Benarkah itu berasal dari <br />
permainan kata: lubuak alu ang? Di mana lubuak alu den? Dalam berita ada<br />
nama-nama Padang Sago, Ulakan, Tuo Barangan, VII (Tujuah) Koto Sungai <br />
Sariak, Sicincin, 2 x 11 (Duo Kali Sabaleh) Anam (bukan Enam) Lingkuang.<br />
Menurut pengamatan saya, penulis teks dan berita, Redaktur Pelaksana, <br />
Pemimpin Redaksi, sudah berupaya maksimal untuk kembali menamakan negari<br />
(atau, dalam bahasa Minangkabau, nagari) di Minangkabau sesuai asli.<br />
<br />
Sesungguhnya ternyata bukan hanya Singgalang yang sudah berupaya <br />
menggunakan nama-nama negari sesuai nama-nama awal. Padang Ekspres, <br />
Haluan, dan Posmetro Padang pun berupaya. Sesekali Kompas dan Republika,<br />
saat menyajikan berita tentang Provinsi Sumatra Barat dan/atau <br />
Minangkabau, pun berbuat serupa. Keenam harian itu saya langgankan dan <br />
baca setiap hari. Pada waktu tertentu saya juga membaca mingguan dan <br />
tabloid yang terbit di daerah ini. Televisi-televisi dan radio-radio <br />
yang siar di Kota Padang, Bukittinggi, dan kota-kota lain pun berbuat <br />
sama. Biarpun televisi dan radio sering gaduh dengan kata dan kalimat <br />
berdialek Jakarta.</div>
Saya dan banyak urang awak barangkali <br />
sependapat, bahwa penamaan negari (taratak, dusun, jorong, kampung) di <br />
Minangkabau dikembalikan ke nama asli. Dan ini bukan pendapat baru, dan <br />
bukan pula pendapat saya pribadi. Sejak beberapa dekade, paling tidak, <br />
sejak Gubernur Harun Zain mengembalikan dan berupaya menaikkan harga <br />
diri orang Minangkabau, upaya itu mulai dilakukan. Sawahlunta <br />
dikembalikan ke nama asli Sawahlunto. Kemudian, beberapa skolar sebutlah<br />
Prof. Dr. Chaidir Anwar, M.A., Prof. Dr. Azis Saleh, M.A., Prof. Dr. <br />
Mursal Esten, dan banyak yang lain juga berupaya mengembalikan pinang ka<br />
tampuak, siriah ka gagang (ke tempat/nama semula).<br />
<br />
Selama dua puluh tahun terakhir, saya memang termasuk yang amat getol <br />
mengusulkan agar nama-nama negari ini dikembalikan ke yang asli. Saya <br />
sudah berkali-kali menulis kolom, berbicara di seminar dan diskusi, <br />
berwawancara di televisi dan radio, tentang pengembalian nama ini. Aneh <br />
atau lucu dan bahkan menyesatkan bila nama-nama itu diindonesiakan. <br />
Sebutlah Aie Cama di Kota Padang, diubah menjadi Air Camar. Apakah makna<br />
cama dalam bahasa Minangkabau. Cangok, rakus, bukan? Apakah makna camar<br />
dalam bahasa Indonesia? Bukankah camar nama burung? Tidakkah dengan <br />
demikian, dengan pengubahan itu, terjadi penyesatan dan penyalahan <br />
makna? Begitu juga nama Ikua atau Ikue Koto, mengapa disebut Ikur Koto? <br />
Apakah arti ikur?<br />
<br />
Saya tak hendak menyinggung “sejarah” penggantian dan pengubahan <br />
nama-nama negari yang diindonesia-indonesiakan. Sudahlah! Saya hanya <br />
merindukan, kembali merindukan, agar nama-nama negari di seantero <br />
Minangkabau dikembalikan ke nama asli, ke nama semula. Biarpun tidak <br />
mungkin dipaksakan, tetapi pekerjaan ini juga tidak sulit-sulit amat. <br />
Bertanya saja ke tetua, tokoh-tokoh dan para intelektual di negari <br />
masing-masing. Tanyakan, sebagai contoh, apakah negari ini memang sejak <br />
seisuk, sejak dunia terkembang, benama Sulik Aie? Lalu, mengapa harus <br />
diubah menjadi Sulit Air? Mengapa seterusnya tidak digunakan Sulik Aie <br />
saja?<br />
<br />
Dengan demikian, akan berkibar kembali nama-nama indah, hebat, penuh <br />
makna bahkan bermartabat di tiap kampung dan negari. Ada Nagari Baruah <br />
Gunuang, Joroang Banda Raik, Gunuang Omeh, Talago Guguak, Batu Basa, <br />
Supayang, Simabua, Situmbuak, Salimpauang, Aie Angek, Sawah Tangah, <br />
Katapiang, Sigaluik, Bayua, Ambun Pagi (nama yang juga digunakan secara <br />
mengena untuk ruang rawat inap berkelas oleh RSUP Dokter M. Djamil), <br />
Matua, Batipuah Baruah, Kubu Karambie, Batu Banyak, Andaleh. Ada <br />
nama-nama Parak Gadang, Pasa Mudiak, Parak Laweh Pulau Aie Nan Duo <br />
Puluah, Subarang Padang, Pasie Nan Tigo, Koto Marapak, Balai Salasa, <br />
Garabak Data, Karang Sadah, Lintau Buo, Lubuak Jantan, Lubuak Basuang, <br />
Lubuak Minturun, Lubuak Buayo, Lubuak Situka Banang, Malalo, untuk <br />
menyebut beberapa nama. Dan alangkah indah, merdu, musikal dan berwibawa<br />
nama-nama kawasan ini: Rimbo Kaluang, Palinggam, dan Balanti di Kota <br />
Padang. Itu bukan Rimba Kalong, Pelinggam atau Belanti.<br />
<br />
Selain terhadap kru media-massa sebagai pemakai bahasa paling aktif, <br />
baik tulis maupun lisan, rasa hormat juga harus disampaikan kepada <br />
pejabat pemerintah yang telah mengambil kebijakan untuk mengembalikan <br />
penamaan sebagaimana mestinya. Setahu saya, (Pak) Bupati Baharauddin R.,<br />
melalui legislatif, sudah menetapkan, membuat peraturan daerah (perda),<br />
bahwa Simpang Ampek di Pasaman itu ya Simpang Ampek. Semua penamaan <br />
negari dan tempat di kabupaten itu dikembalikan ke asli. Hebat dan <br />
salut!<br />
<br />
Mengapa pejabat pemda kota, kabupaten lain, dan provinsi belum mengambil<br />
kebijakan yang sama? Mengapa legislatif tidak tanggap ketika usulan <br />
dari masyarakat nyaring terdengar? Betapa lagi, berminang-minang, <br />
Gubernur dan Wakil Gubernur Sumbar adalah dua orang datuk, dua orang <br />
ninik-mamak terpandang? Dan mengapa organisasi keminangan seperti LKAAM <br />
dan Bundo Kanduang berdiam diri, diam semilyar bahasa?<br />
<br />
Ayolah, kita kembalikan nama-nama itu ke yang asli.<br />
<br />
Kemudian, mengubah kop surat, stempel, pelang-pelang nama (kantor, <br />
jalan), kartu nama dan beberapa perubahan lain tidak makan biaya besar. <br />
Tak perlu pengembalian nama “didarahi” dengan upacara seremonial. Saya <br />
memang rindu, sangat rindu, nama-nama taratak, dusun, jorong, negari di <br />
Minangkabau kembali ke asli. Batavia memang berubah jadi Jayakarta dan <br />
kemudian Jakarta tetapi setahu saya nama-nama dukuh, desa, di Jawa, tak <br />
mengalami perubahan. Begitu juga di etnik-etnik lain.(darmanmunir/singgalang)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Dua malam di ranah Minang]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Dua-malam-di-ranah-Minang</link>
			<pubDate>Thu, 13 Dec 2012 03:40:11 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Dua-malam-di-ranah-Minang</guid>
			<description><![CDATA[<a href="http://www.wego.co.id/berita/wp-content/uploads/2012/12/Mandala.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://www.wego.co.id/berita/wp-content/uploads/2012/12/Mandala.jpg" border="0" alt="[Image: Mandala.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
Mandala Airlines mengundang media dari <br />
Jakarta dan Singapura ke Padang dalam rangka merayakan dua rute baru <br />
mereka, Jakarta-Padang dan Singapura-Padang PP.<br />
<br />
Rute baru yang menghubungkan Padang dengan dua kota internasional, Jakarta <br />
dan Singapura, resmi beroperasi sejak 1 Desember 2012. <a href="http://www.wego.co.id" rel="nofollow" target="_blank">Wego Indonesia</a> menjadi salah satu media yang diundang dan berkesempatan mengikuti <span style="font-style: italic;">road trip </span>tersebut. [/align]Selama dua hari, rombongan<span style="font-style: italic;"> </span>mengunjungi beberapa objek wisata di Batusangkar, Bukittinggi, dan Sawahlunto.<br />
Hari pertama rombongan menyusuri jalan<br />
lintas Sumatera di jalur Padang-Bukittinggi dan singgah sebentar di Air <br />
Terjun Anai. Air terjun yang terletak di pinggi jalan ini <a href="http://www.wego.co.id/deals/indonesia" rel="nofollow" target="_blank">menarik banyak wisatawan lokal</a>.<br />
Perjalanan kemudian berlanjut dengan mengunjungi objek wisata <br />
bersejarah, diantaranya Lubang Mbah Soero yang menyimpan cerita kelam <br />
akan pekerja tambang batubara yang juga dikenal sebagai manusia rantai, <br />
dan Museum Goedang Ransum tempat mengolah makanan untuk para pekerja <br />
tambang. Danau Singkarak menjadi pemberhentian terakhir, sekaligus <br />
tempat menikmati matahari terbenam sambil mencicipi camilan ikan bilih <br />
khas daerah sini.<br />
<a href="http://www.wego.co.id/berita/wp-content/uploads/2012/12/air-terjun.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://www.wego.co.id/berita/wp-content/uploads/2012/12/air-terjun.jpg" border="0" alt="[Image: air-terjun.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a>Pemandangan alam yang memanjakan mata di kawasan hutan lindung Lembah Harau.<br />
<br />
Di hari kedua, bus wisata yang membawa <br />
rombongan media bergerak menuju Lembah Harau. Kawasan hutan lindung ini <br />
memiliki pemandangan alam yang mempesona dengan tebing-tebing tinggi dan<br />
sembilan air terjun yang terdapat di dalamnya. Namun, hanya dua air <br />
terjun (<span style="font-style: italic;">sarasah</span>) yang sempat disambangi, Sarasah Bunta dan Sarasah Murai, karena keterbatasan waktu. Kabar baiknya, kami sempat mencicipi kopi <span style="font-style: italic;">Urang Awak </span>khas Sumatera Barat yang aromanya harum. Tingkat keasaman dan kepekatannya pas, sehingga nikmat diminum dengan kudapan favorit.<br />
Di tengah perjalanan, <a href="http://www.wego.co.id/berita/wajah-baru-mandala-airlines/" rel="nofollow" target="_blank">Direktur Komersial Mandala Airlines, Brata Rafly</a> menyatakan<br />
bahwa tujuan kunjungan ini adalah agar masyarakat lebih mengetahui <br />
potensi wisata yang dimiliki kota Padang. “Mandala membuka dua rute baru<br />
Jakarta-Padang dan Singapura-Padang PP agar Padang lebih mudah diakses <br />
oleh wisatawan dari kedua kota internasional tersebut.” ujarnya.<br />
<a href="http://www.wego.co.id/berita/wp-content/uploads/2012/12/sanjai2.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://www.wego.co.id/berita/wp-content/uploads/2012/12/sanjai2.jpg" border="0" alt="[Image: sanjai2.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a>Desa Sanjai yang tersohor berkat keripik singkong balado yang banyak diproduksi oleh warga.<br />
<br />
Menjelang makan siang, rombongan <br />
bergerak menunju Desa Sanjai. Sesampainya di sana kami disambut oleh <br />
pertunjukan silat khas Minangkabau yang diperagakan oleh beberapa orang <br />
pemuda. Selain silat, mereka juga memperlihatkan aksi semacam <br />
debus, dengan melompati rintangan yang dipenuhi nyala api. Atraksi ini <br />
semakin meriah dengan iringan tetabuhan khas Sumatera Barat.<br />
<br />
Untuk<br />
menuju ke dalam, kami semua menumpang delman yang telah disediakan oleh<br />
pemda setempat. Seru rasanya naik delman menyusuri daerah persawahan <br />
yang hijau, dan pemandangan Gunung Singgalang yang menjulang.<br />
<br />
Setelah itu, kami diajak melihat <br />
langsung proses pembuatan kripik balado Sanjai yang populer. Salah <br />
satunya adalah keripik Sanjai Limpapeh. Industri rumahan ini seharinya <br />
mampu memproduksi 300 Kg keripik singkong. Jika sedang banyak pesanan, <br />
mereka bahkan mampu memproduksi hingga lebih dari 500 Kg.<br />
<a href="http://www.wego.co.id/berita/wp-content/uploads/2012/12/bajambaaa.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://www.wego.co.id/berita/wp-content/uploads/2012/12/bajambaaa-1024x351.jpg" border="0" alt="[Image: bajambaaa-1024x351.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a>Makan bajamba dengan pemandangan hamparan sawah dan Gunung Singgalang.<br />
<br />
Rombongan dijamu makan siang oleh <a href="http://www.bukittinggikota.go.id" rel="nofollow" target="_blank">Walikota Bukittinggi, Ismet Amzis</a>, bersama warga Desa Sanjai, dalam acara makan <span style="font-style: italic;">bajamba </span>khas Minangkabau. Makan <span style="font-style: italic;">bajamba </span>atau yang juga disebut makan <span style="font-style: italic;">barapak </span>adalah<br />
tradisi makan bersama di suatu tempat yang telah ditentukan, dan <br />
biasanya berlangsung pada momen-momen spesial seperti upacara adat, <br />
pesta adat, atau panen raya.[/align]<br />
<div align="justify">Usai bersantap, Ismet memaparkan rencana<br />
pemerintah daerah Bukittinggi yang akan mengembangkan Desa Sanjai <br />
sebagai desa wisata. Saat ini orang-orang hanya mengenal Desa Sanjai <br />
berkat keripik singkongnya, namun menurutnya, desa ini memiliki potensi <br />
yang lebih dari itu.<br />
[align=justify]Ke depannya, ia juga akan memaksimalkan <br />
lokasi persawahan di desa ini menjadi sebuah atraksi wisata tersendiri. <br />
Wisatawan dapat mencoba menuai padi secara tradisional. Tak hanya itu, <br />
mereka juga dapat membawa pulang beras yang telah mereka tuai. Kerajinan<br />
bordir <span style="font-style: italic;">kerancang </span>khas Bukittinggi akan turut dikembangkan sebagai bagian dari promosi Sanjai sebagai desa wisata.</div>
<a href="http://www.wego.co.id/berita/wp-content/uploads/2012/12/jam-gadang.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://www.wego.co.id/berita/wp-content/uploads/2012/12/jam-gadang.jpg" border="0" alt="[Image: jam-gadang.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a>Jam Gadang, ikon kota Bukittinggi.<br />
<br />
Sebelum beranjak ke bandara dan bersiap kembali ke ibukota, kami menyempatkan diri untuk <a href="http://www.wego.co.id/hotel/indonesia/bukittinggi" rel="nofollow" target="_blank">berfoto di <span style="font-style: italic;">landmark</span> kota Bukittinggi, Jam Gadang</a>.<br />
Jam yang kerap disebut-sebut sebagai Big Ben-nya Indonesia ini unik, <br />
sebab angka 4-nya menggunakan IIII, dan bukannya IV seperti numerikal <br />
Romawi pada umumnya.<br />
[align=justify]Kunjungan media dalam rangka <a href="http://www.mandalaair.com/" rel="nofollow" target="_blank">rute penerbangan baru Mandala Airlines</a><br />
ini membawa misi memperkenalkan Sumatera Barat kepada wisatawan, baik <br />
lokal maupun mancanegara, sebagai destinasi wisata potensial yang sayang<br />
untuk dilewatkan. Sebelum berpisah dengan rombongan media dari Jakarta <br />
yang akan pulang, Brata sekali lagi menegaskan bahwa Sumatera Barat <br />
dapat dikondisikan seperti Bali yang menjadi tujuan wisata terpopuler, <br />
untuk Indonesia bagian barat, jika ditunjang dengan promosi wisata yang <br />
tepat.<br />
<br />
sumber : <a href="http://www.wego.co.id/berita/dua-malam-di-ranah-minang/" rel="nofollow" target="_blank">http://www.wego.co.id/berita/dua-malam-di-ranah-minang/</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://www.wego.co.id/berita/wp-content/uploads/2012/12/Mandala.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://www.wego.co.id/berita/wp-content/uploads/2012/12/Mandala.jpg" border="0" alt="[Image: Mandala.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
Mandala Airlines mengundang media dari <br />
Jakarta dan Singapura ke Padang dalam rangka merayakan dua rute baru <br />
mereka, Jakarta-Padang dan Singapura-Padang PP.<br />
<br />
Rute baru yang menghubungkan Padang dengan dua kota internasional, Jakarta <br />
dan Singapura, resmi beroperasi sejak 1 Desember 2012. <a href="http://www.wego.co.id" rel="nofollow" target="_blank">Wego Indonesia</a> menjadi salah satu media yang diundang dan berkesempatan mengikuti <span style="font-style: italic;">road trip </span>tersebut. [/align]Selama dua hari, rombongan<span style="font-style: italic;"> </span>mengunjungi beberapa objek wisata di Batusangkar, Bukittinggi, dan Sawahlunto.<br />
Hari pertama rombongan menyusuri jalan<br />
lintas Sumatera di jalur Padang-Bukittinggi dan singgah sebentar di Air <br />
Terjun Anai. Air terjun yang terletak di pinggi jalan ini <a href="http://www.wego.co.id/deals/indonesia" rel="nofollow" target="_blank">menarik banyak wisatawan lokal</a>.<br />
Perjalanan kemudian berlanjut dengan mengunjungi objek wisata <br />
bersejarah, diantaranya Lubang Mbah Soero yang menyimpan cerita kelam <br />
akan pekerja tambang batubara yang juga dikenal sebagai manusia rantai, <br />
dan Museum Goedang Ransum tempat mengolah makanan untuk para pekerja <br />
tambang. Danau Singkarak menjadi pemberhentian terakhir, sekaligus <br />
tempat menikmati matahari terbenam sambil mencicipi camilan ikan bilih <br />
khas daerah sini.<br />
<a href="http://www.wego.co.id/berita/wp-content/uploads/2012/12/air-terjun.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://www.wego.co.id/berita/wp-content/uploads/2012/12/air-terjun.jpg" border="0" alt="[Image: air-terjun.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a>Pemandangan alam yang memanjakan mata di kawasan hutan lindung Lembah Harau.<br />
<br />
Di hari kedua, bus wisata yang membawa <br />
rombongan media bergerak menuju Lembah Harau. Kawasan hutan lindung ini <br />
memiliki pemandangan alam yang mempesona dengan tebing-tebing tinggi dan<br />
sembilan air terjun yang terdapat di dalamnya. Namun, hanya dua air <br />
terjun (<span style="font-style: italic;">sarasah</span>) yang sempat disambangi, Sarasah Bunta dan Sarasah Murai, karena keterbatasan waktu. Kabar baiknya, kami sempat mencicipi kopi <span style="font-style: italic;">Urang Awak </span>khas Sumatera Barat yang aromanya harum. Tingkat keasaman dan kepekatannya pas, sehingga nikmat diminum dengan kudapan favorit.<br />
Di tengah perjalanan, <a href="http://www.wego.co.id/berita/wajah-baru-mandala-airlines/" rel="nofollow" target="_blank">Direktur Komersial Mandala Airlines, Brata Rafly</a> menyatakan<br />
bahwa tujuan kunjungan ini adalah agar masyarakat lebih mengetahui <br />
potensi wisata yang dimiliki kota Padang. “Mandala membuka dua rute baru<br />
Jakarta-Padang dan Singapura-Padang PP agar Padang lebih mudah diakses <br />
oleh wisatawan dari kedua kota internasional tersebut.” ujarnya.<br />
<a href="http://www.wego.co.id/berita/wp-content/uploads/2012/12/sanjai2.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://www.wego.co.id/berita/wp-content/uploads/2012/12/sanjai2.jpg" border="0" alt="[Image: sanjai2.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a>Desa Sanjai yang tersohor berkat keripik singkong balado yang banyak diproduksi oleh warga.<br />
<br />
Menjelang makan siang, rombongan <br />
bergerak menunju Desa Sanjai. Sesampainya di sana kami disambut oleh <br />
pertunjukan silat khas Minangkabau yang diperagakan oleh beberapa orang <br />
pemuda. Selain silat, mereka juga memperlihatkan aksi semacam <br />
debus, dengan melompati rintangan yang dipenuhi nyala api. Atraksi ini <br />
semakin meriah dengan iringan tetabuhan khas Sumatera Barat.<br />
<br />
Untuk<br />
menuju ke dalam, kami semua menumpang delman yang telah disediakan oleh<br />
pemda setempat. Seru rasanya naik delman menyusuri daerah persawahan <br />
yang hijau, dan pemandangan Gunung Singgalang yang menjulang.<br />
<br />
Setelah itu, kami diajak melihat <br />
langsung proses pembuatan kripik balado Sanjai yang populer. Salah <br />
satunya adalah keripik Sanjai Limpapeh. Industri rumahan ini seharinya <br />
mampu memproduksi 300 Kg keripik singkong. Jika sedang banyak pesanan, <br />
mereka bahkan mampu memproduksi hingga lebih dari 500 Kg.<br />
<a href="http://www.wego.co.id/berita/wp-content/uploads/2012/12/bajambaaa.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://www.wego.co.id/berita/wp-content/uploads/2012/12/bajambaaa-1024x351.jpg" border="0" alt="[Image: bajambaaa-1024x351.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a>Makan bajamba dengan pemandangan hamparan sawah dan Gunung Singgalang.<br />
<br />
Rombongan dijamu makan siang oleh <a href="http://www.bukittinggikota.go.id" rel="nofollow" target="_blank">Walikota Bukittinggi, Ismet Amzis</a>, bersama warga Desa Sanjai, dalam acara makan <span style="font-style: italic;">bajamba </span>khas Minangkabau. Makan <span style="font-style: italic;">bajamba </span>atau yang juga disebut makan <span style="font-style: italic;">barapak </span>adalah<br />
tradisi makan bersama di suatu tempat yang telah ditentukan, dan <br />
biasanya berlangsung pada momen-momen spesial seperti upacara adat, <br />
pesta adat, atau panen raya.[/align]<br />
<div align="justify">Usai bersantap, Ismet memaparkan rencana<br />
pemerintah daerah Bukittinggi yang akan mengembangkan Desa Sanjai <br />
sebagai desa wisata. Saat ini orang-orang hanya mengenal Desa Sanjai <br />
berkat keripik singkongnya, namun menurutnya, desa ini memiliki potensi <br />
yang lebih dari itu.<br />
[align=justify]Ke depannya, ia juga akan memaksimalkan <br />
lokasi persawahan di desa ini menjadi sebuah atraksi wisata tersendiri. <br />
Wisatawan dapat mencoba menuai padi secara tradisional. Tak hanya itu, <br />
mereka juga dapat membawa pulang beras yang telah mereka tuai. Kerajinan<br />
bordir <span style="font-style: italic;">kerancang </span>khas Bukittinggi akan turut dikembangkan sebagai bagian dari promosi Sanjai sebagai desa wisata.</div>
<a href="http://www.wego.co.id/berita/wp-content/uploads/2012/12/jam-gadang.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://www.wego.co.id/berita/wp-content/uploads/2012/12/jam-gadang.jpg" border="0" alt="[Image: jam-gadang.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a>Jam Gadang, ikon kota Bukittinggi.<br />
<br />
Sebelum beranjak ke bandara dan bersiap kembali ke ibukota, kami menyempatkan diri untuk <a href="http://www.wego.co.id/hotel/indonesia/bukittinggi" rel="nofollow" target="_blank">berfoto di <span style="font-style: italic;">landmark</span> kota Bukittinggi, Jam Gadang</a>.<br />
Jam yang kerap disebut-sebut sebagai Big Ben-nya Indonesia ini unik, <br />
sebab angka 4-nya menggunakan IIII, dan bukannya IV seperti numerikal <br />
Romawi pada umumnya.<br />
[align=justify]Kunjungan media dalam rangka <a href="http://www.mandalaair.com/" rel="nofollow" target="_blank">rute penerbangan baru Mandala Airlines</a><br />
ini membawa misi memperkenalkan Sumatera Barat kepada wisatawan, baik <br />
lokal maupun mancanegara, sebagai destinasi wisata potensial yang sayang<br />
untuk dilewatkan. Sebelum berpisah dengan rombongan media dari Jakarta <br />
yang akan pulang, Brata sekali lagi menegaskan bahwa Sumatera Barat <br />
dapat dikondisikan seperti Bali yang menjadi tujuan wisata terpopuler, <br />
untuk Indonesia bagian barat, jika ditunjang dengan promosi wisata yang <br />
tepat.<br />
<br />
sumber : <a href="http://www.wego.co.id/berita/dua-malam-di-ranah-minang/" rel="nofollow" target="_blank">http://www.wego.co.id/berita/dua-malam-di-ranah-minang/</a>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Berebut Agenda di 12-12-12]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Berebut-Agenda-di-12-12-12</link>
			<pubDate>Wed, 12 Dec 2012 02:22:36 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Berebut-Agenda-di-12-12-12</guid>
			<description><![CDATA[<div align="justify">PADANG – Inilah hari yang <br />
ditunggu-tunggu, 12 Desember 2012. Angka 12 yang berturut pada tanggal, <br />
bulan dan tahun membuatnya menjadi hari dengan angka ‘cantik’. <br />
<br />
Orang-orang pun berebutan menggelar berbagai acara pada hari ini. Dari <br />
pernikahan sampai operasi melahirkan. Seolah hari itu bersejarah.<br />
<br />
Di beberapa Kantor Urusan Agama (KUA) terbukti 12-12-12 diburu untuk <br />
momen pernikahan. Ada KUA yang bahkan terpaksa menolak pasangan yang <br />
ingin menikah hari itu karena terlalu banyak pasangan yang lebih dulu <br />
mendaftar.<br />
<br />
“Awalnya maunya menikah 12-12-12. Tapi terlambat daftar. KUA menolak, <br />
jadinya dimajukan jadi tanggal 10,” kata Rahmayanti, warga Marapalam, <br />
Selasa (11/12).<br />
<br />
Alasan Rahmayanti ingin menikah pada hari ini, sama dengan argumentasi <br />
kebanyakan pasangan lainnya. Apalagi kalau bukan pengulangan angka 12 <br />
yang memberikan kesan cantik, spesial dan tak biasa.<br />
<br />
Kata Rahmayanti, pernikahan momen spesial yang akan menjadi lebih <br />
spesial lagi jika tanggal pelaksanaannya juga spesial. Soal tanggal <br />
cantik hari pernikahan sebenarnya sudah berulang kali. Tahun lalu, 11 <br />
November 2011 juga menjadi incaran. Pengulangan angka 11 membuat para <br />
calon pasangan pengantin berebutan ingin menikah pada hari itu agar <br />
terasa lebih spesial.<br />
<br />
“Sebenarnya saat 11 November tahun lalu lebih terasa euforia para calon <br />
pasangan berebut menikah karena jatuhnya pada hari Jumat. Sekarang 12 <br />
Desember 2012 kan Rabu, jadi tak seramai dulu. Tapi tetap lebih ramai <br />
ketimbang hari biasa,” kata staf KUA Padang Timur, Syufrendi.<br />
<br />
Pada beberapa KUA di Padang, ada yang menikahkan belasan pasangan hari <br />
ini. Ada juga yang hanya menikahkan tiga sampai lima pasangan. Jika <br />
dibandingkan dengan 11 November 2011 jauh lebih sedikit. Waktu itu di <br />
KUA koto Tangah menikahkan 60 pasangan.<br />
<br />
Bukan cuma pernikahan, tanggal cantik ini dianggap spesial para ibu <br />
hamil yang akan melahirkan melalui operasi caesar. Di Rumah Sakit <br />
Bersalin (RSB) Bunda tiga ibu hamil mendaftar untuk dioperasi hari itu.<br />
<br />
“Ada yang sengaja mengundur operasi, ada yang sengaja memajukan. Seorang<br />
ibu hamil malah rela menunggu dua hari, seharusnya sudah bisa dioperasi<br />
tanggal 10 tapi memaksa dioperasi tanggal 12,” kata, dokter di RSB <br />
Bunda, Suheimi.<br />
<br />
(septri lediana/singgalang)</div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">PADANG – Inilah hari yang <br />
ditunggu-tunggu, 12 Desember 2012. Angka 12 yang berturut pada tanggal, <br />
bulan dan tahun membuatnya menjadi hari dengan angka ‘cantik’. <br />
<br />
Orang-orang pun berebutan menggelar berbagai acara pada hari ini. Dari <br />
pernikahan sampai operasi melahirkan. Seolah hari itu bersejarah.<br />
<br />
Di beberapa Kantor Urusan Agama (KUA) terbukti 12-12-12 diburu untuk <br />
momen pernikahan. Ada KUA yang bahkan terpaksa menolak pasangan yang <br />
ingin menikah hari itu karena terlalu banyak pasangan yang lebih dulu <br />
mendaftar.<br />
<br />
“Awalnya maunya menikah 12-12-12. Tapi terlambat daftar. KUA menolak, <br />
jadinya dimajukan jadi tanggal 10,” kata Rahmayanti, warga Marapalam, <br />
Selasa (11/12).<br />
<br />
Alasan Rahmayanti ingin menikah pada hari ini, sama dengan argumentasi <br />
kebanyakan pasangan lainnya. Apalagi kalau bukan pengulangan angka 12 <br />
yang memberikan kesan cantik, spesial dan tak biasa.<br />
<br />
Kata Rahmayanti, pernikahan momen spesial yang akan menjadi lebih <br />
spesial lagi jika tanggal pelaksanaannya juga spesial. Soal tanggal <br />
cantik hari pernikahan sebenarnya sudah berulang kali. Tahun lalu, 11 <br />
November 2011 juga menjadi incaran. Pengulangan angka 11 membuat para <br />
calon pasangan pengantin berebutan ingin menikah pada hari itu agar <br />
terasa lebih spesial.<br />
<br />
“Sebenarnya saat 11 November tahun lalu lebih terasa euforia para calon <br />
pasangan berebut menikah karena jatuhnya pada hari Jumat. Sekarang 12 <br />
Desember 2012 kan Rabu, jadi tak seramai dulu. Tapi tetap lebih ramai <br />
ketimbang hari biasa,” kata staf KUA Padang Timur, Syufrendi.<br />
<br />
Pada beberapa KUA di Padang, ada yang menikahkan belasan pasangan hari <br />
ini. Ada juga yang hanya menikahkan tiga sampai lima pasangan. Jika <br />
dibandingkan dengan 11 November 2011 jauh lebih sedikit. Waktu itu di <br />
KUA koto Tangah menikahkan 60 pasangan.<br />
<br />
Bukan cuma pernikahan, tanggal cantik ini dianggap spesial para ibu <br />
hamil yang akan melahirkan melalui operasi caesar. Di Rumah Sakit <br />
Bersalin (RSB) Bunda tiga ibu hamil mendaftar untuk dioperasi hari itu.<br />
<br />
“Ada yang sengaja mengundur operasi, ada yang sengaja memajukan. Seorang<br />
ibu hamil malah rela menunggu dua hari, seharusnya sudah bisa dioperasi<br />
tanggal 10 tapi memaksa dioperasi tanggal 12,” kata, dokter di RSB <br />
Bunda, Suheimi.<br />
<br />
(septri lediana/singgalang)</div>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Rumah Pendiri Kompas, Kini Jadi Play Grup]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Rumah-Pendiri-Kompas-Kini-Jadi-Play-Grup</link>
			<pubDate>Tue, 11 Dec 2012 02:20:08 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Rumah-Pendiri-Kompas-Kini-Jadi-Play-Grup</guid>
			<description><![CDATA[<div align="justify">Siapa yang tidak kenal dengan PK <br />
Ojong. Warga keturunan Tionghoa yang tutup usia 31 Mei 1980, adalah <br />
salah satu pendiri Kelompok Kompas Gramedia. Tidak banyak yang <br />
mengetahui, jika hari ini rumah dan tanah tempat Auwjong Peng Koen <br />
dibesarkan itu, masih berdiri gagah di kampung Lundang, Payakumbuh.</div>
<a href="http://hariansinggalang.co.id/wp-content/uploads/2012/12/OJONG1.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://hariansinggalang.co.id/wp-content/uploads/2012/12/OJONG1-300x200.jpg" border="0" alt="[Image: OJONG1-300x200.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a>RUMAH PK OJONG<br />
<br />
<div align="justify">Kendati terletak di jantung kota, namun <br />
tidaklah gampang mencari rumah PK Ojong. Hanya segelintir masyarakat <br />
yang mengetahui, kalau pendiri Kompas itu pernah sekolah dan besar di <br />
Payakumbuh. Tapi, mereka sudah tidak ingat, lokasi persis bangunan <br />
tempat PK Ojong berlari, bermain dan menghabiskan masa kanak-kanaknya di<br />
daerah berjulukan Kota Biru tersebut.<br />
<br />
Dari 600-an warga etnis Tionghoa yang tinggal di Payakumbuh, hanya <br />
secuil di antaranya yang masih ingat cerita PK Ojong. Salah satunya <br />
adalah Liem Ceng Kie (94). Generasi tertua yang akrab disapa Jangguik <br />
itu, tahu persis dimana rumah peninggalan keluarga PK Ojong. Agar dapat <br />
masuk ke bangunan berarsitektur kuno tersebut, Singgalang beberapa hari <br />
lalu ditemani Ciaeng (42), alias Sabri Chandra. “Di sinilah, PK Ojong <br />
pernah tinggal,” tunjuk Ciaeng ke sebuah play grup, tempat anak-anak <br />
belajar dan bermain.</div>
<div align="justify">Tidak hanya menjadi play grup, rumah <br />
peninggalan keluarga PK Ojong yang kini bernomor bangunan 66, sebelumnya<br />
di samping plang nomor itu juga ada dua nomor bangunan lain yakni 46 <br />
dan 21, juga difungsikan menjadi Gereja Bethel Indonesia Cabang <br />
Payakumbuh. “Sekali seminggu, jemaah Kristen Bethani ramai ke sini. Jika<br />
hari biasa, rumah PK Ojong dijadikan play grup. Jumlah muridnya juga <br />
banyak,” sambung Sabri Chandra, sembari membuka pintu pagar bangunan.<br />
<br />
Di dalam rumah PK Ojong, ditemukan sederet pajangan foto dinding. Foto <br />
tersebut, bergambarkan PK Ojong dan keluarga besarnya. Di sana, juga ada<br />
foto orang tua PK Ojong, Auw Jong Pauw. “Pemilik rumah dan keluarga PK <br />
Ojong yang masih hidup, sudah tidak ada lagi di Payakumbuh. Kalau tidak <br />
salah, ada di antara mereka yang menetap di Jakarta. Makanya, rumah ini <br />
dimanfaatkan untuk play grup dan Gereja Bethel,” terang Sabri Chandra, <br />
di hadapan sejumlah pekerja yang tengah mengecat dinding rumah.<br />
<br />
Tidak jauh dari kediaman PK Ojong, tegak menjulang atap Gedung Olahraga <br />
(GOR) basket ball. Namanya GOR Lundang. Dahulunya, di areal GOR <br />
tersebut, berdiri gagah Hollandsch Chineesche School (HCS) yang <br />
merupakan sekolah dasar khusus warga Tionghoa asal Cina dan Belanda. <br />
Adapun dengan PK Ojong kecil, juga menimbah ilmu di sana.<br />
<br />
“Tahun 1965-an, saat G-30 S PKI, HCS ditutup,” kata Lim Guek Tjien alias<br />
Elisa Halim, dan Koe Djin Sui (70), warga Tionghoa yang pernah menjadi <br />
guru di HCS.<br />
<br />
Sekitar 1980-an, Pemerintah Kota Payakumbuh membangun GOR di areal HCS <br />
tersebut. Hingga sekarang, GOR itu dikenal dengan sebutan Hall <br />
Hollandsch Chineesche School. Jika sore tiba, banyak anak-anak dan <br />
pemain basket di sana. “Nama PK Ojong bagi banyak orang masih asing. <br />
Tapi, bagi saya hafal betul. Saya juga ingat dengan wajah PK Ojong itu,”<br />
kata Mak Kancia, warga Payakumbuh yang merupakan MC kondang pacu kuda, <br />
iven tradisional masyarakat Minangkabau yang masih bertahan hingga <br />
sekarang.</div>
<div align="justify">Mobil As Lundang<br />
<br />
Menurut Mak Kancia, orang tua PK Ojong, Auw Jong Pauw merupakan pedagang<br />
tembakau. Dia membeli tembakau hingga ke kaki Gunung Sago di Situjuah, <br />
Kecamatan Situjuah Limo Nagari. Petani tembakau di zaman itu, kenal <br />
dengan Auw Jong Pauw lantaran memiliki mobil yang sewaktu-waktu <br />
dijadikan angkutan kota dengan merek ‘As Lundang’.<br />
<br />
“Mobil itu berjenis Chevrolet. Saya ingat dari cerita banyak orang,” kata Mak Kancia. (Muhammad Bayu Vesky/singgalang)</div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">Siapa yang tidak kenal dengan PK <br />
Ojong. Warga keturunan Tionghoa yang tutup usia 31 Mei 1980, adalah <br />
salah satu pendiri Kelompok Kompas Gramedia. Tidak banyak yang <br />
mengetahui, jika hari ini rumah dan tanah tempat Auwjong Peng Koen <br />
dibesarkan itu, masih berdiri gagah di kampung Lundang, Payakumbuh.</div>
<a href="http://hariansinggalang.co.id/wp-content/uploads/2012/12/OJONG1.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://hariansinggalang.co.id/wp-content/uploads/2012/12/OJONG1-300x200.jpg" border="0" alt="[Image: OJONG1-300x200.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a>RUMAH PK OJONG<br />
<br />
<div align="justify">Kendati terletak di jantung kota, namun <br />
tidaklah gampang mencari rumah PK Ojong. Hanya segelintir masyarakat <br />
yang mengetahui, kalau pendiri Kompas itu pernah sekolah dan besar di <br />
Payakumbuh. Tapi, mereka sudah tidak ingat, lokasi persis bangunan <br />
tempat PK Ojong berlari, bermain dan menghabiskan masa kanak-kanaknya di<br />
daerah berjulukan Kota Biru tersebut.<br />
<br />
Dari 600-an warga etnis Tionghoa yang tinggal di Payakumbuh, hanya <br />
secuil di antaranya yang masih ingat cerita PK Ojong. Salah satunya <br />
adalah Liem Ceng Kie (94). Generasi tertua yang akrab disapa Jangguik <br />
itu, tahu persis dimana rumah peninggalan keluarga PK Ojong. Agar dapat <br />
masuk ke bangunan berarsitektur kuno tersebut, Singgalang beberapa hari <br />
lalu ditemani Ciaeng (42), alias Sabri Chandra. “Di sinilah, PK Ojong <br />
pernah tinggal,” tunjuk Ciaeng ke sebuah play grup, tempat anak-anak <br />
belajar dan bermain.</div>
<div align="justify">Tidak hanya menjadi play grup, rumah <br />
peninggalan keluarga PK Ojong yang kini bernomor bangunan 66, sebelumnya<br />
di samping plang nomor itu juga ada dua nomor bangunan lain yakni 46 <br />
dan 21, juga difungsikan menjadi Gereja Bethel Indonesia Cabang <br />
Payakumbuh. “Sekali seminggu, jemaah Kristen Bethani ramai ke sini. Jika<br />
hari biasa, rumah PK Ojong dijadikan play grup. Jumlah muridnya juga <br />
banyak,” sambung Sabri Chandra, sembari membuka pintu pagar bangunan.<br />
<br />
Di dalam rumah PK Ojong, ditemukan sederet pajangan foto dinding. Foto <br />
tersebut, bergambarkan PK Ojong dan keluarga besarnya. Di sana, juga ada<br />
foto orang tua PK Ojong, Auw Jong Pauw. “Pemilik rumah dan keluarga PK <br />
Ojong yang masih hidup, sudah tidak ada lagi di Payakumbuh. Kalau tidak <br />
salah, ada di antara mereka yang menetap di Jakarta. Makanya, rumah ini <br />
dimanfaatkan untuk play grup dan Gereja Bethel,” terang Sabri Chandra, <br />
di hadapan sejumlah pekerja yang tengah mengecat dinding rumah.<br />
<br />
Tidak jauh dari kediaman PK Ojong, tegak menjulang atap Gedung Olahraga <br />
(GOR) basket ball. Namanya GOR Lundang. Dahulunya, di areal GOR <br />
tersebut, berdiri gagah Hollandsch Chineesche School (HCS) yang <br />
merupakan sekolah dasar khusus warga Tionghoa asal Cina dan Belanda. <br />
Adapun dengan PK Ojong kecil, juga menimbah ilmu di sana.<br />
<br />
“Tahun 1965-an, saat G-30 S PKI, HCS ditutup,” kata Lim Guek Tjien alias<br />
Elisa Halim, dan Koe Djin Sui (70), warga Tionghoa yang pernah menjadi <br />
guru di HCS.<br />
<br />
Sekitar 1980-an, Pemerintah Kota Payakumbuh membangun GOR di areal HCS <br />
tersebut. Hingga sekarang, GOR itu dikenal dengan sebutan Hall <br />
Hollandsch Chineesche School. Jika sore tiba, banyak anak-anak dan <br />
pemain basket di sana. “Nama PK Ojong bagi banyak orang masih asing. <br />
Tapi, bagi saya hafal betul. Saya juga ingat dengan wajah PK Ojong itu,”<br />
kata Mak Kancia, warga Payakumbuh yang merupakan MC kondang pacu kuda, <br />
iven tradisional masyarakat Minangkabau yang masih bertahan hingga <br />
sekarang.</div>
<div align="justify">Mobil As Lundang<br />
<br />
Menurut Mak Kancia, orang tua PK Ojong, Auw Jong Pauw merupakan pedagang<br />
tembakau. Dia membeli tembakau hingga ke kaki Gunung Sago di Situjuah, <br />
Kecamatan Situjuah Limo Nagari. Petani tembakau di zaman itu, kenal <br />
dengan Auw Jong Pauw lantaran memiliki mobil yang sewaktu-waktu <br />
dijadikan angkutan kota dengan merek ‘As Lundang’.<br />
<br />
“Mobil itu berjenis Chevrolet. Saya ingat dari cerita banyak orang,” kata Mak Kancia. (Muhammad Bayu Vesky/singgalang)</div>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Uang Sen Muncul lagi]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Uang-Sen-Muncul-lagi</link>
			<pubDate>Mon, 10 Dec 2012 03:41:20 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Uang-Sen-Muncul-lagi</guid>
			<description><![CDATA[Rupiah Redenominasi Bakal Terwujud<br />
<br />
Jakarta, Padek—Rencana pe­merintah menyed­erhanakan ni­lai mata uang (re­deno­min­a­si) rupiah bakal sege­ra ter­wu­jud. Mulai Desember 2012, Bank Indonesia (BI) mulai me­lakukan sosialisasi sembari me­nanti pengesahan RUU Re­denominasi oleh DPR yang di­harapkan direalisasikan pada 2013.<br />
<br />
 <br />
<br />
Direktur Direktorat Hubu­ngan Masyarakat BI Difi A. Jo­hansyah mengatakan pem­e­rin­tah dan BI telah mem­ben­tuk sebuah tim di bawah Se­kre­­tariat Wakil Presiden (Se­t­wa­pres) dengan diketuai Men­teri Keuangan. ”Kami sudah ke DPR dan diminta sosialisasi,” ung­kap Difi di gedung BI, ke­marin (7/12). Pihaknya mela­ku­kan sosialisasi yang bersifat umum lantaran masih me­nunggu pengesahan RUU Re­denominasi.<br />
<br />
 <br />
<br />
Jika legislator bisa meram­pung­kan RUU Redenominasi de­ngan cepat, Indonesia sege­ra masuk masa transisi. Pada fa­se tersebut, masyarakat ba­kal memakai dua mata uang. Ya­k­ni mata uang lama (dengan pe­cahan maksimal Rp 100.000) dan mata uang baru ha­sil redenominasi (pecahan mak­simal Rp 100).<br />
<br />
 <br />
<br />
Selama masa transisi, se­mua yang terlibat dalam tran­saksi jual beli diwajibkan mem­banderol produknya de­ngan dua nominal mata uang. Dia mencontohkan, jika harga sua­tu produk Rp 20 ribu maka pem­bayarannya meng­guna­kan pecahan yang sama. ”Ka­lau produk itu harganya Rp 20, bayarnya pakai uang Rp 20,” jelasnya.<br />
<br />
 <br />
<br />
Berdasar hasil riset, kurs ru­piah yang mencapai Rp 9.000-Rp 10.000 per USD 1 me­rupakan yang paling besar. ”Ham­pir sama dengan Vietnam,” tambah Difi. Kon­se­kuen­si dari redenominasi itu, ni­lai rupiah yang berupa sen ba­kal muncul lagi. Awalnya, pa­da masa krisis 1950an, USD 1 setara Rp 48. Angka tersebut naik menjadi Rp 200 hingga Rp 1.000. Lantaran krisis ber­ke­­panjangan yang memicu ting­­ginya inflasi, terus me­ne­rus terjadi pengaturan ter­ha­dap pecahan mata uang. ”Hing­­ga sen hilang dan diganti pe­cahan Rp 100 dan Rp 200,” tan­dasnya. (gal/oki/jpnn)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Rupiah Redenominasi Bakal Terwujud<br />
<br />
Jakarta, Padek—Rencana pe­merintah menyed­erhanakan ni­lai mata uang (re­deno­min­a­si) rupiah bakal sege­ra ter­wu­jud. Mulai Desember 2012, Bank Indonesia (BI) mulai me­lakukan sosialisasi sembari me­nanti pengesahan RUU Re­denominasi oleh DPR yang di­harapkan direalisasikan pada 2013.<br />
<br />
 <br />
<br />
Direktur Direktorat Hubu­ngan Masyarakat BI Difi A. Jo­hansyah mengatakan pem­e­rin­tah dan BI telah mem­ben­tuk sebuah tim di bawah Se­kre­­tariat Wakil Presiden (Se­t­wa­pres) dengan diketuai Men­teri Keuangan. ”Kami sudah ke DPR dan diminta sosialisasi,” ung­kap Difi di gedung BI, ke­marin (7/12). Pihaknya mela­ku­kan sosialisasi yang bersifat umum lantaran masih me­nunggu pengesahan RUU Re­denominasi.<br />
<br />
 <br />
<br />
Jika legislator bisa meram­pung­kan RUU Redenominasi de­ngan cepat, Indonesia sege­ra masuk masa transisi. Pada fa­se tersebut, masyarakat ba­kal memakai dua mata uang. Ya­k­ni mata uang lama (dengan pe­cahan maksimal Rp 100.000) dan mata uang baru ha­sil redenominasi (pecahan mak­simal Rp 100).<br />
<br />
 <br />
<br />
Selama masa transisi, se­mua yang terlibat dalam tran­saksi jual beli diwajibkan mem­banderol produknya de­ngan dua nominal mata uang. Dia mencontohkan, jika harga sua­tu produk Rp 20 ribu maka pem­bayarannya meng­guna­kan pecahan yang sama. ”Ka­lau produk itu harganya Rp 20, bayarnya pakai uang Rp 20,” jelasnya.<br />
<br />
 <br />
<br />
Berdasar hasil riset, kurs ru­piah yang mencapai Rp 9.000-Rp 10.000 per USD 1 me­rupakan yang paling besar. ”Ham­pir sama dengan Vietnam,” tambah Difi. Kon­se­kuen­si dari redenominasi itu, ni­lai rupiah yang berupa sen ba­kal muncul lagi. Awalnya, pa­da masa krisis 1950an, USD 1 setara Rp 48. Angka tersebut naik menjadi Rp 200 hingga Rp 1.000. Lantaran krisis ber­ke­­panjangan yang memicu ting­­ginya inflasi, terus me­ne­rus terjadi pengaturan ter­ha­dap pecahan mata uang. ”Hing­­ga sen hilang dan diganti pe­cahan Rp 100 dan Rp 200,” tan­dasnya. (gal/oki/jpnn)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Ungkapan-Ungkapan Larangan di Kanagarian Padang Alai Kecamatan V Koto Kampung Dalam, ]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Ungkapan-Ungkapan-Larangan-di-Kanagarian-Padang-Alai-Kecamatan-V-Koto-Kampung-Dalam</link>
			<pubDate>Thu, 06 Dec 2012 04:49:32 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Ungkapan-Ungkapan-Larangan-di-Kanagarian-Padang-Alai-Kecamatan-V-Koto-Kampung-Dalam</guid>
			<description><![CDATA[<span style="font-weight: bold;"> Pendahuluan </span><br />
Indonesia adalah negeri yang kaya akan kebudayaan. Setiap daerah di <br />
Indonesia mempunyai keunikan sendiri dengan kebudayaan mereka <br />
masing-masing. Kebudayaan tersebut apabila tidak dilestarikan, maka akan<br />
punah. Oleh sebab itu, perlu adanya pelestarian kebudayaan tradisional <br />
asli Indonesia.<br />
<br />
Salah satu bentuk dari kebudayaan <br />
tradisional tersebut adalah folklor. Menurut Brunvand (dalam Danandjaya,<br />
1991:2), folklor adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif, yang <br />
tersebar dan diwariskan turun temurun, di antara kolektif macam apa <br />
saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk <br />
lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat <br />
pembantu pengingat. Fungsi folklor tersebut sendiri, menurut William R. <br />
Bascom (dalam Danandjaya, 1991:19) yaitu sebagai sistem proyeksi, <br />
sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan, <br />
sebagai alat pendidikan anak, serta sebagai alat pemaksa dan pengawas <br />
agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi oleh anggota <br />
kolektifnya.<br />
<br />
Brunvand (dalam Danandjaya, 1991:21), menggolongkan folklor ke dalam <br />
beberapa bagian, yaitu: folklor lisan, folklor sebagian lisan, dan <br />
folklor bukan lisan. Selanjutnya, folklor lisan dibagi kembali menjadi <br />
bahasa rakyat, ungkapan tradisional, pertanyaan tradisional, puisi <br />
rakyat, cerita prosa rakyat, dan nyanyian rakyat. Folklor sebagian lisan<br />
dibagi atas kepercayaan rakyat, permainan rakyat, teater rakyat, tari <br />
rakyat, adat-istiadat, upacara rakyat, dan pesta rakyat. Terakhir, <br />
folklor bukan lisan digolongkan menjadi dua katgori besar, yaitu <br />
material (arsitektur rakyat, kerajinan tangan rakyat, masakan dan <br />
minuman rakyat, serta obat-obatan rakyat) dan nonmaterial (gerak isyarat<br />
tradisional, bunyi isyarat untuk komunikasi rakyat, dan musik rakyat).<br />
<br />
Pada laporan penelitian ini, penulis lebih memfokuskan kepada <br />
ungkapan larangan, yang termasuk ke dalam ungkapan tradisional dalam <br />
folklor lisan. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi <br />
ungkapan-ungkapan larangan yang terdapat di Kanagarian Gunung Padang <br />
Alai, kemudian mengelompokkan ungkapan-ungkapan larangan tersebut ke <br />
dalam kelompok masing-masing sesuai dengan teori yang dipelajari.<br />
<br />
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan mengumpulkan <br />
teori dan data dari informan. Kemudian, data tersebut diklasifikasikan <br />
sesuai dengan teori yang ada. Teknik yang dipakai dalam penelitian ini <br />
adalah teknik observasi dan teknik wawancara. Teknik observasi penulis <br />
gunakan pada saat mengamati keadaan masyarakat maupun seseorang ketika <br />
ungkapan larangan digunakan. Teknik wawancara penulis gunakan untuk <br />
mengumpulkan data ungkapan larangan dari para informan. Sumber data <br />
penelitian ini penulis dapatkan dari para informan yang mengetahui <br />
ungkapan-ungkapan larangan di Kanagarian Gunung Padang Alai dan beberapa<br />
buku sumber maupun bahan dari internet.<br />
<br />
<br />
<br />
<div align="center"></div>
Pada bab ini akan dibahas pengelompokan ungkapan-ungkapan larangan di<br />
Kanagarian Padang Alai Kecamatan V Koto Kampung Dalam, Kabupaten <br />
Padang Pariaman.<br />
<br />
<ol type="1">
<li><span style="font-weight: bold;">A. </span><span style="font-weight: bold;">Pengklasifikasian ungkapan larangan</span></li></ol>
<br />
Ungkapan tradisional adalah perkataan atau sekelompok kata yang <br />
khusus digunakan untuk menyatakan suatu maksud dengan kiasan atau <br />
lambang (Poerwadarminta, 1976:1129). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia <br />
(1976:2005), ungkapan adalah gabungan kata yang maknanya tidak sama <br />
dengan makna anggota-anggotanya. Senada dengan hal tersebut, Carventers <br />
(dalam Danandjaja, 1991:28) berpendapat bahwa ungkapan adalah kalimat <br />
pendek yang disarikan dari kalimat yang panjang. Jadi, ungkapan <br />
tradisonal adalah perkataan yang menyatakan makna atau suatu maksud <br />
tertentu dengan bahasa kias yang mengandung nilai-nilai luhur yang ada <br />
dalam masyarakat dan diwariskan secara turun temurun.<br />
<br />
Ungkapan tradisional digolongkan ke dalam beberapa bagian, yaitu: <br />
peribahasa, pepatah, pameo, dan ungkapan larangan. Pada penelitian ini, <br />
penulis lebih memfokuskan kajian pada ungkapan larangan.<br />
<br />
Di Kenagarian Gunung Padang Alai, terdapat ungkapan-ungkapan larangan<br />
yang mempunyai beberapa kesamaan. Untuk mempermudah dalam <br />
mengklasifikasikan ungkapan-ungkapan larangan tersebut, maka penulis <br />
mengelompokkan ungkapan-ungkapan larangan tersebut dengan dua cara, <br />
yaitu: pengelompokan berdasarkan informan dan pengelompokan berdasarkan <br />
teori.<br />
<br />
<div align="center"></div>
<ol type="1">
<li><span style="font-weight: bold;">1. </span><span style="font-weight: bold;">Pengelompokan Berdasarkan Informan</span></li></ol>
<br />
Pada bagian ini, penulis hanya mengelompokkan ungkapan-ungkapan <br />
larangan di Kanagarian Gunung Padang Alai berdasarkan data-data dari <br />
informan yang didapat. Ungkapan-ungkapan larangan tersebut <br />
diklasifikasikan sesuai dengan dari siapa ungkapan larangan tersebut <br />
diperoleh. Apabila ada kesamaan ungkapan larangan yang diperoleh, maka <br />
ungkapan larangan tersebut hanya ditulis sekali dan diberi tanda centang<br />
pada informan yang sama. Berikut pengklasifikasian ungkapan-ungkapan <br />
larangan di Kanagarian Gunung Padang Alai Pada bagian ini, penulis mengklasifikasikan ungkapan-ungkapan <br />
larangan di Kanagarian Gunung Padang Alai berdasarkan teori yang <br />
digunakan. Akan tetapi, dikarenakan teori yang mengklasifikasikan <br />
ungkapan larangan secara khusus belum ada, maka penulis berusaha <br />
mengklasifikasikan ungkapan larangan tersebut ke dalam beberapa kelompok<br />
besar, yaitu: ungkapan larangan untuk orang hamil, ungkapan larangan <br />
untuk bercocok tanam, serta ungkapan larangan secara umum.<br />
<br />
v <span style="font-weight: bold;">Ungkapan Larangan untuk Orang Hamil</span><br />
<br />
<ol type="1">
<li><span style="font-style: italic;">1. </span><span style="font-style: italic;">Kalau wak hamil, ndak buliah pinggang wak dilongkahan urang, beko anak sela.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">2. </span><span style="font-style: italic;">Kalau wak hamil dak buliah duduak di pintu, beko lambek anak kalua.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">3. </span><span style="font-style: italic;">Kalau wak hamil, indak buliah kumuah-kumuah, beko anak indak barasiah lo.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">4. </span><span style="font-style: italic;">Kalau wak hamil, indak buliah mangubak tabu sungsang, beko anak sungsang.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">5. </span><span style="font-style: italic;">Kalau wak hamil, indak buliah duduak di simin, lakek kakak e beko.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">6. </span><span style="font-style: italic;">Kalau wak hamil, indak buliah makan karupuak jangek, beko lakek kakak.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">7. </span><span style="font-style: italic;">Kalau awak manganduang, indak buliah malilik an kain di lihia, beko anak lahia talilik tali pusek.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">8. </span><span style="font-style: italic;">Kalau wak mandi sadang mnganduang, kain tuka an<br />
baju wak harus satu tampaik, indak buliah baserak, bia anak kalua e <br />
satu tampaik lo.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">9. </span><span style="font-style: italic;">Kalau wak sadang manganduang, indak buliah mangubiak padi, beko gadang mato anak.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">10. </span><span style="font-style: italic;">Kalau wak sadang manganduang, indak buliah mangarunduik, beko kalau anaknyo lahia laki-laki, gadang buah-buah anak tu.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">11. </span><span style="font-style: italic;">Kalau wak sadang manganduang, indak buliah baujan-ujan, tatagua beko.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">12. </span><span style="font-style: italic;">Kalau wak sadang manganduang, indak buliah kalua sanjo, tatagua beko.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">13. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah duduak di ateh batu kok wak sadang manganduang, kareh anak beko.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">14. </span><span style="font-style: italic;">Urang hamil indak buliah bajalan malam, beko dituruik an dek harimau.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">15. </span><span style="font-style: italic;">Laki urang manganduang indak buliah mambunuah binatang, beko kalakuan anaknyo samo jo kalakuan binatang tu.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">16. </span><span style="font-style: italic;">Urang manganduang indak buliah manahan salero, beko meteh aie salero anaknyo.</span></li></ol>
<br />
<br />
<br />
Ungkapan-ungkapan larangan tersebut biasa disampaikan oleh para orang<br />
tua kepada anak mereka yang sedang hamil. Maksud dari ungkapan-ungkapan<br />
larangan tersebut biasanya adalah untuk menjaga diri si ibu hamil <br />
beserta bayinya dari hal-hal yang tidak diinginkan.<br />
<br />
v <span style="font-weight: bold;">Ungkapan larangan saat bercocok tanam atau pantangan saat menanam tanaman</span><br />
<br />
<ol type="1">
<li><span style="font-style: italic;">1. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah mananam sipuluik sabalah ateh, beko berang hantu.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">2. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah mananam pisang dari suok kakida, beko dikaja hantu.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">3. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah mananam baniah padi punyo anak dek induak, beko berang hantu.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">4. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah maasakkan tanaman dari muko ka balakang, beko berang hantu.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">5. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah anak manjadian sawah sabalah ateh, induak sabalah bawah, beko berang hantu.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">6. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah mananam padi sipuluik sabalah ateh, padi picarai di bawah, beko berang hantu.</span></li></ol>
<br />
<br />
<br />
Ungkapan-ungkapan larangan tersebut merupakan pantangan pada saat <br />
bercocok tanam. Beberapa informan percaya, apabila pantangan tersebut <br />
dilanggar, maka orang tersebut akan mengalami musibah. Mereka <br />
berpendapat demikian berdasarkan pengalaman yang mereka peroleh. Apabila<br />
ada orang yang melanggar pantangan, maka orang tersebut akan meninggal <br />
atau pun mendapat suatu penyakit. Mereka percaya, hal tersebut terjadi <br />
dikarenakan orang tersebut melanggar pantang, yang mengakibatkan hantu <br />
atau pun roh nenek moyang mereka marah.<br />
<br />
v <span style="font-weight: bold;">Ungkapan larangan untuk masyarakat umum</span><br />
<br />
<ol type="1">
<li><span style="font-style: italic;">1. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah rumah indak bapintu balakang, beko berang hantu.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">2. </span><span style="font-style: italic;">Kok rumah bapaelokan, indak buliah nan muko <br />
dipindah ka balakang, nan balakang dipindah ka muko, beko berang hantu, <br />
tibo urang hitam.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">3. </span><span style="font-style: italic;">Kalau buek rumah, indak buliah kamar anak dimuko, harus kamar urang tuo dimuko, kok indak mati salah surang.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">4. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah mandi sanjo, beko di picik e dek hantu.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">5. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah mandi babaju, beko mati bungkuih.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">6. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah mangarek kuku tangah malam, beko dikaja harimau.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">7. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah mambunyian pupik tangah malam di temah, beko naiak ula.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">8. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah tidua manungkuik, beko mati induak.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">9. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah mangincah-incah kapalo aia, beko tatagua atau tasapo wak.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">10. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah duduak di pintu, berang harimau.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">11. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah mangkacimpuang, beko mati induak.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">12. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah manyorongan puntuang api jo kaki, kamatian anak beko.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">13. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah kasua induak dipakai anak, beko berang hantu.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">14. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah duduak di janjang, beko berang harimau.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">15. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah lalok tasingkok kaki, beko tataruang sadang bajalan.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">16. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah manjaik di sanjo ari, beko rabun wak dek e.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">17. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah malala tangah ari, beko tatampuah ubilih, damam wak.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">18. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah baujan-ujan, beko ditembak patuih.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">19. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah kalua ujan-ujan indak batarompa, beko disentrumnyo wak kalau patuih.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">20. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah mangacau kasiak, beko bakada tangan.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">21. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah mandi ka aia dareh, tibo lidah aia, anyuik wak beko.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">22. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah manyumpahan anak, beko tajadi sumpah wak tu.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">23. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah malacuik atau malapia anak salain di kaki, beko rusak badan anak.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">24. </span><span style="font-style: italic;">Anak gadih indak buliah basah ambuik sanjo rayo, beko dapek laki gaek.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">25. </span><span style="font-style: italic;">Anak gadih indak buliah duduak di muko pintu, beko taambek razaki</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">26. </span><span style="font-style: italic;">Anak gadih indak buliah mamanjek di jandela, beko lambek balaki.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">27. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah kalua sanjo rayo, beko tapijak anak setan.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">28. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah minum dari muluik teko, beko lalu muncuang urang ka awak.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">29. </span><span style="font-style: italic;">Untuak urang manggaleh, indak buliah urang mautang di pagi ari, beko indak laku jaganyo do.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">30. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah manjaik kanciang baju sadang baju talakek, beko indak salamaik di jalan.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">31. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah mamotong kuku malam hari, beko tahambek razaki.</span></li></ol>
<br />
Ungkapan-ungkapan larangan tersebut merupakan ungkapan larangan yang <br />
biasa dilontarkan secara umum oleh masyarakat setempat. Mereka <br />
menggunakan ungkapan larangan tersebut tidak hanya pada kesempatan <br />
tertentu. Ungkapan larangan tersebut biasanya mereka tuturkan kepada <br />
anak-anak merekam, hal ini dengan tujuan anak mereka tidak mengalami <br />
suatu musibah di kemudian hari, maupun dengan tujuan sebagai sarana <br />
pendidikan bagi si anak. Melalui ungkapan larangan tersebut, para orang <br />
tua ingin anak mereka mematuhi mereka. Karenanya, ungkapan-ungkapan <br />
larangan tersebut pun mereka tuturkan kepada anak-anak mereka.<br />
<br />
Beberapa informan mengatakan, meskipun mereka tidak percaya dengan <br />
beberapa ungkapan larangan yang dituturkan orang tua mereka, namun <br />
mereka percaya ada maksud baik di balik ungkapan larangan yang <br />
dituturkan oleh orang tua mereka. Sebagai contoh, ungkapan larangan yang<br />
tidak memperbolehkan mereka memotong kuku pada petang hari (<span style="font-style: italic;">indak buliah mangarek kuku sanjo haro, beko tibo harimau</span>).<br />
Mereka percaya, maksud dari ungkapan larangan tersebut adalah agar si <br />
anak tidak luka pada saat memotong kukunya pada petang hari, karena pada<br />
zaman dahulu belum ada listrik sehingga penerangan belum seperti <br />
sekarang.<br />
<br />
sumber : <a href="http://catatannyasulung.wordpress.com/2011/06/05/ungkapan-ungkapan-larangan-di-kanagarian-padang-alai-kecamatan-v-koto-kampung-dalam-kabupaten-padang-pariaman/" rel="nofollow" target="_blank">http://catatannyasulung.wordpress.com/20...-pariaman/</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span style="font-weight: bold;"> Pendahuluan </span><br />
Indonesia adalah negeri yang kaya akan kebudayaan. Setiap daerah di <br />
Indonesia mempunyai keunikan sendiri dengan kebudayaan mereka <br />
masing-masing. Kebudayaan tersebut apabila tidak dilestarikan, maka akan<br />
punah. Oleh sebab itu, perlu adanya pelestarian kebudayaan tradisional <br />
asli Indonesia.<br />
<br />
Salah satu bentuk dari kebudayaan <br />
tradisional tersebut adalah folklor. Menurut Brunvand (dalam Danandjaya,<br />
1991:2), folklor adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif, yang <br />
tersebar dan diwariskan turun temurun, di antara kolektif macam apa <br />
saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk <br />
lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat <br />
pembantu pengingat. Fungsi folklor tersebut sendiri, menurut William R. <br />
Bascom (dalam Danandjaya, 1991:19) yaitu sebagai sistem proyeksi, <br />
sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan, <br />
sebagai alat pendidikan anak, serta sebagai alat pemaksa dan pengawas <br />
agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi oleh anggota <br />
kolektifnya.<br />
<br />
Brunvand (dalam Danandjaya, 1991:21), menggolongkan folklor ke dalam <br />
beberapa bagian, yaitu: folklor lisan, folklor sebagian lisan, dan <br />
folklor bukan lisan. Selanjutnya, folklor lisan dibagi kembali menjadi <br />
bahasa rakyat, ungkapan tradisional, pertanyaan tradisional, puisi <br />
rakyat, cerita prosa rakyat, dan nyanyian rakyat. Folklor sebagian lisan<br />
dibagi atas kepercayaan rakyat, permainan rakyat, teater rakyat, tari <br />
rakyat, adat-istiadat, upacara rakyat, dan pesta rakyat. Terakhir, <br />
folklor bukan lisan digolongkan menjadi dua katgori besar, yaitu <br />
material (arsitektur rakyat, kerajinan tangan rakyat, masakan dan <br />
minuman rakyat, serta obat-obatan rakyat) dan nonmaterial (gerak isyarat<br />
tradisional, bunyi isyarat untuk komunikasi rakyat, dan musik rakyat).<br />
<br />
Pada laporan penelitian ini, penulis lebih memfokuskan kepada <br />
ungkapan larangan, yang termasuk ke dalam ungkapan tradisional dalam <br />
folklor lisan. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi <br />
ungkapan-ungkapan larangan yang terdapat di Kanagarian Gunung Padang <br />
Alai, kemudian mengelompokkan ungkapan-ungkapan larangan tersebut ke <br />
dalam kelompok masing-masing sesuai dengan teori yang dipelajari.<br />
<br />
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan mengumpulkan <br />
teori dan data dari informan. Kemudian, data tersebut diklasifikasikan <br />
sesuai dengan teori yang ada. Teknik yang dipakai dalam penelitian ini <br />
adalah teknik observasi dan teknik wawancara. Teknik observasi penulis <br />
gunakan pada saat mengamati keadaan masyarakat maupun seseorang ketika <br />
ungkapan larangan digunakan. Teknik wawancara penulis gunakan untuk <br />
mengumpulkan data ungkapan larangan dari para informan. Sumber data <br />
penelitian ini penulis dapatkan dari para informan yang mengetahui <br />
ungkapan-ungkapan larangan di Kanagarian Gunung Padang Alai dan beberapa<br />
buku sumber maupun bahan dari internet.<br />
<br />
<br />
<br />
<div align="center"></div>
Pada bab ini akan dibahas pengelompokan ungkapan-ungkapan larangan di<br />
Kanagarian Padang Alai Kecamatan V Koto Kampung Dalam, Kabupaten <br />
Padang Pariaman.<br />
<br />
<ol type="1">
<li><span style="font-weight: bold;">A. </span><span style="font-weight: bold;">Pengklasifikasian ungkapan larangan</span></li></ol>
<br />
Ungkapan tradisional adalah perkataan atau sekelompok kata yang <br />
khusus digunakan untuk menyatakan suatu maksud dengan kiasan atau <br />
lambang (Poerwadarminta, 1976:1129). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia <br />
(1976:2005), ungkapan adalah gabungan kata yang maknanya tidak sama <br />
dengan makna anggota-anggotanya. Senada dengan hal tersebut, Carventers <br />
(dalam Danandjaja, 1991:28) berpendapat bahwa ungkapan adalah kalimat <br />
pendek yang disarikan dari kalimat yang panjang. Jadi, ungkapan <br />
tradisonal adalah perkataan yang menyatakan makna atau suatu maksud <br />
tertentu dengan bahasa kias yang mengandung nilai-nilai luhur yang ada <br />
dalam masyarakat dan diwariskan secara turun temurun.<br />
<br />
Ungkapan tradisional digolongkan ke dalam beberapa bagian, yaitu: <br />
peribahasa, pepatah, pameo, dan ungkapan larangan. Pada penelitian ini, <br />
penulis lebih memfokuskan kajian pada ungkapan larangan.<br />
<br />
Di Kenagarian Gunung Padang Alai, terdapat ungkapan-ungkapan larangan<br />
yang mempunyai beberapa kesamaan. Untuk mempermudah dalam <br />
mengklasifikasikan ungkapan-ungkapan larangan tersebut, maka penulis <br />
mengelompokkan ungkapan-ungkapan larangan tersebut dengan dua cara, <br />
yaitu: pengelompokan berdasarkan informan dan pengelompokan berdasarkan <br />
teori.<br />
<br />
<div align="center"></div>
<ol type="1">
<li><span style="font-weight: bold;">1. </span><span style="font-weight: bold;">Pengelompokan Berdasarkan Informan</span></li></ol>
<br />
Pada bagian ini, penulis hanya mengelompokkan ungkapan-ungkapan <br />
larangan di Kanagarian Gunung Padang Alai berdasarkan data-data dari <br />
informan yang didapat. Ungkapan-ungkapan larangan tersebut <br />
diklasifikasikan sesuai dengan dari siapa ungkapan larangan tersebut <br />
diperoleh. Apabila ada kesamaan ungkapan larangan yang diperoleh, maka <br />
ungkapan larangan tersebut hanya ditulis sekali dan diberi tanda centang<br />
pada informan yang sama. Berikut pengklasifikasian ungkapan-ungkapan <br />
larangan di Kanagarian Gunung Padang Alai Pada bagian ini, penulis mengklasifikasikan ungkapan-ungkapan <br />
larangan di Kanagarian Gunung Padang Alai berdasarkan teori yang <br />
digunakan. Akan tetapi, dikarenakan teori yang mengklasifikasikan <br />
ungkapan larangan secara khusus belum ada, maka penulis berusaha <br />
mengklasifikasikan ungkapan larangan tersebut ke dalam beberapa kelompok<br />
besar, yaitu: ungkapan larangan untuk orang hamil, ungkapan larangan <br />
untuk bercocok tanam, serta ungkapan larangan secara umum.<br />
<br />
v <span style="font-weight: bold;">Ungkapan Larangan untuk Orang Hamil</span><br />
<br />
<ol type="1">
<li><span style="font-style: italic;">1. </span><span style="font-style: italic;">Kalau wak hamil, ndak buliah pinggang wak dilongkahan urang, beko anak sela.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">2. </span><span style="font-style: italic;">Kalau wak hamil dak buliah duduak di pintu, beko lambek anak kalua.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">3. </span><span style="font-style: italic;">Kalau wak hamil, indak buliah kumuah-kumuah, beko anak indak barasiah lo.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">4. </span><span style="font-style: italic;">Kalau wak hamil, indak buliah mangubak tabu sungsang, beko anak sungsang.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">5. </span><span style="font-style: italic;">Kalau wak hamil, indak buliah duduak di simin, lakek kakak e beko.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">6. </span><span style="font-style: italic;">Kalau wak hamil, indak buliah makan karupuak jangek, beko lakek kakak.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">7. </span><span style="font-style: italic;">Kalau awak manganduang, indak buliah malilik an kain di lihia, beko anak lahia talilik tali pusek.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">8. </span><span style="font-style: italic;">Kalau wak mandi sadang mnganduang, kain tuka an<br />
baju wak harus satu tampaik, indak buliah baserak, bia anak kalua e <br />
satu tampaik lo.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">9. </span><span style="font-style: italic;">Kalau wak sadang manganduang, indak buliah mangubiak padi, beko gadang mato anak.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">10. </span><span style="font-style: italic;">Kalau wak sadang manganduang, indak buliah mangarunduik, beko kalau anaknyo lahia laki-laki, gadang buah-buah anak tu.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">11. </span><span style="font-style: italic;">Kalau wak sadang manganduang, indak buliah baujan-ujan, tatagua beko.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">12. </span><span style="font-style: italic;">Kalau wak sadang manganduang, indak buliah kalua sanjo, tatagua beko.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">13. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah duduak di ateh batu kok wak sadang manganduang, kareh anak beko.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">14. </span><span style="font-style: italic;">Urang hamil indak buliah bajalan malam, beko dituruik an dek harimau.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">15. </span><span style="font-style: italic;">Laki urang manganduang indak buliah mambunuah binatang, beko kalakuan anaknyo samo jo kalakuan binatang tu.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">16. </span><span style="font-style: italic;">Urang manganduang indak buliah manahan salero, beko meteh aie salero anaknyo.</span></li></ol>
<br />
<br />
<br />
Ungkapan-ungkapan larangan tersebut biasa disampaikan oleh para orang<br />
tua kepada anak mereka yang sedang hamil. Maksud dari ungkapan-ungkapan<br />
larangan tersebut biasanya adalah untuk menjaga diri si ibu hamil <br />
beserta bayinya dari hal-hal yang tidak diinginkan.<br />
<br />
v <span style="font-weight: bold;">Ungkapan larangan saat bercocok tanam atau pantangan saat menanam tanaman</span><br />
<br />
<ol type="1">
<li><span style="font-style: italic;">1. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah mananam sipuluik sabalah ateh, beko berang hantu.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">2. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah mananam pisang dari suok kakida, beko dikaja hantu.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">3. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah mananam baniah padi punyo anak dek induak, beko berang hantu.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">4. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah maasakkan tanaman dari muko ka balakang, beko berang hantu.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">5. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah anak manjadian sawah sabalah ateh, induak sabalah bawah, beko berang hantu.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">6. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah mananam padi sipuluik sabalah ateh, padi picarai di bawah, beko berang hantu.</span></li></ol>
<br />
<br />
<br />
Ungkapan-ungkapan larangan tersebut merupakan pantangan pada saat <br />
bercocok tanam. Beberapa informan percaya, apabila pantangan tersebut <br />
dilanggar, maka orang tersebut akan mengalami musibah. Mereka <br />
berpendapat demikian berdasarkan pengalaman yang mereka peroleh. Apabila<br />
ada orang yang melanggar pantangan, maka orang tersebut akan meninggal <br />
atau pun mendapat suatu penyakit. Mereka percaya, hal tersebut terjadi <br />
dikarenakan orang tersebut melanggar pantang, yang mengakibatkan hantu <br />
atau pun roh nenek moyang mereka marah.<br />
<br />
v <span style="font-weight: bold;">Ungkapan larangan untuk masyarakat umum</span><br />
<br />
<ol type="1">
<li><span style="font-style: italic;">1. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah rumah indak bapintu balakang, beko berang hantu.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">2. </span><span style="font-style: italic;">Kok rumah bapaelokan, indak buliah nan muko <br />
dipindah ka balakang, nan balakang dipindah ka muko, beko berang hantu, <br />
tibo urang hitam.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">3. </span><span style="font-style: italic;">Kalau buek rumah, indak buliah kamar anak dimuko, harus kamar urang tuo dimuko, kok indak mati salah surang.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">4. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah mandi sanjo, beko di picik e dek hantu.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">5. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah mandi babaju, beko mati bungkuih.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">6. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah mangarek kuku tangah malam, beko dikaja harimau.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">7. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah mambunyian pupik tangah malam di temah, beko naiak ula.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">8. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah tidua manungkuik, beko mati induak.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">9. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah mangincah-incah kapalo aia, beko tatagua atau tasapo wak.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">10. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah duduak di pintu, berang harimau.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">11. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah mangkacimpuang, beko mati induak.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">12. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah manyorongan puntuang api jo kaki, kamatian anak beko.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">13. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah kasua induak dipakai anak, beko berang hantu.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">14. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah duduak di janjang, beko berang harimau.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">15. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah lalok tasingkok kaki, beko tataruang sadang bajalan.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">16. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah manjaik di sanjo ari, beko rabun wak dek e.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">17. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah malala tangah ari, beko tatampuah ubilih, damam wak.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">18. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah baujan-ujan, beko ditembak patuih.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">19. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah kalua ujan-ujan indak batarompa, beko disentrumnyo wak kalau patuih.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">20. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah mangacau kasiak, beko bakada tangan.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">21. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah mandi ka aia dareh, tibo lidah aia, anyuik wak beko.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">22. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah manyumpahan anak, beko tajadi sumpah wak tu.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">23. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah malacuik atau malapia anak salain di kaki, beko rusak badan anak.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">24. </span><span style="font-style: italic;">Anak gadih indak buliah basah ambuik sanjo rayo, beko dapek laki gaek.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">25. </span><span style="font-style: italic;">Anak gadih indak buliah duduak di muko pintu, beko taambek razaki</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">26. </span><span style="font-style: italic;">Anak gadih indak buliah mamanjek di jandela, beko lambek balaki.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">27. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah kalua sanjo rayo, beko tapijak anak setan.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">28. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah minum dari muluik teko, beko lalu muncuang urang ka awak.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">29. </span><span style="font-style: italic;">Untuak urang manggaleh, indak buliah urang mautang di pagi ari, beko indak laku jaganyo do.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">30. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah manjaik kanciang baju sadang baju talakek, beko indak salamaik di jalan.</span></li>
<li><span style="font-style: italic;">31. </span><span style="font-style: italic;">Indak buliah mamotong kuku malam hari, beko tahambek razaki.</span></li></ol>
<br />
Ungkapan-ungkapan larangan tersebut merupakan ungkapan larangan yang <br />
biasa dilontarkan secara umum oleh masyarakat setempat. Mereka <br />
menggunakan ungkapan larangan tersebut tidak hanya pada kesempatan <br />
tertentu. Ungkapan larangan tersebut biasanya mereka tuturkan kepada <br />
anak-anak merekam, hal ini dengan tujuan anak mereka tidak mengalami <br />
suatu musibah di kemudian hari, maupun dengan tujuan sebagai sarana <br />
pendidikan bagi si anak. Melalui ungkapan larangan tersebut, para orang <br />
tua ingin anak mereka mematuhi mereka. Karenanya, ungkapan-ungkapan <br />
larangan tersebut pun mereka tuturkan kepada anak-anak mereka.<br />
<br />
Beberapa informan mengatakan, meskipun mereka tidak percaya dengan <br />
beberapa ungkapan larangan yang dituturkan orang tua mereka, namun <br />
mereka percaya ada maksud baik di balik ungkapan larangan yang <br />
dituturkan oleh orang tua mereka. Sebagai contoh, ungkapan larangan yang<br />
tidak memperbolehkan mereka memotong kuku pada petang hari (<span style="font-style: italic;">indak buliah mangarek kuku sanjo haro, beko tibo harimau</span>).<br />
Mereka percaya, maksud dari ungkapan larangan tersebut adalah agar si <br />
anak tidak luka pada saat memotong kukunya pada petang hari, karena pada<br />
zaman dahulu belum ada listrik sehingga penerangan belum seperti <br />
sekarang.<br />
<br />
sumber : <a href="http://catatannyasulung.wordpress.com/2011/06/05/ungkapan-ungkapan-larangan-di-kanagarian-padang-alai-kecamatan-v-koto-kampung-dalam-kabupaten-padang-pariaman/" rel="nofollow" target="_blank">http://catatannyasulung.wordpress.com/20...-pariaman/</a>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Sosok Perempuan Minangkabau]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Sosok-Perempuan-Minangkabau</link>
			<pubDate>Thu, 06 Dec 2012 04:17:30 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Sosok-Perempuan-Minangkabau</guid>
			<description><![CDATA[<span style="font-size: 20pt;">D</span> <br />
<br />
<div align="justify"><a href="http://2.bp.blogspot.com/-YnLn6rcy5Sk/Tezqrk290GI/AAAAAAAAAFk/3gyU4c0VynI/s1600/wanita-minang.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-YnLn6rcy5Sk/Tezqrk290GI/AAAAAAAAAFk/3gyU4c0VynI/s1600/wanita-minang.jpg" border="0" alt="[Image: wanita-minang.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a>alam<br />
tulisan yang normatif, sosok perempuan Minangkabau digambar merupakan <br />
perempuan yang lemah lembut, penurut dan penuh pengertian, tapi juga <br />
tegar, dia jarang turun dari rumah kecuali sekali se-Jumat. Kasih sayang<br />
pada anaknya, <span style="font-style: italic;">sepanjang jalan</span> (tak pernah habis-habis sepanjang hayatnya). Postur kecantikannya dilukiskan sebagai berikut: “<span style="font-style: italic;">Wajah<br />
bagai bulan purnama empat belas, bibirnya asam seulas, dagunya bak <br />
labah hinggok, bulu matanya semut beriring, pinggangnya ramping bak <br />
ketiding ,langannyo bak lilin dituang, betisnya bak paruik padi, <br />
tumitnya bak telur burung. Jika ia berjalan bagai itik pulang patang, <br />
lebih surut dari maju”</span> Demikianlah sosok ideal kecantikan perempuan Minangkabau.</div><div align="justify"> Bersangkutan<br />
dengan prototipe tersebut, secara harfiah kecantikan perempuan <br />
Minangkabau, sungguh-sungguh menarik dipandang mata. Dan menjadi dambaan<br />
bagi setiap lelaki untuk menyunting. Barangkali itulah yang membuat <br />
orang luar banyak mempersunting gadis Minang sejak dahulu sampai <br />
sekarang.</div><div align="justify"> Ukuran kecantikan seorang perempuan selalu bergeser dari zaman ke zaman. Dulu perempuan yang disebut <span style="font-style: italic;">rancak</span> (cantik) di ranah ini, adalah perempuan yang berwajah bulat bagi bulan purnama, bertubuh sintal (<span style="font-style: italic;">gapuak punai</span>), pinggul lebar, kalau berjalan bergoyang-goyang ( <span style="font-style: italic;">ciek untuk uda, ciek untuk ambo), </span>berpayudara<br />
besar, gigi berlapis emas atau platina. Kulit kuning langsat, walaupun <br />
pada kenyataan perempuan Minang itu berkulit sawo matang. Dan tinggi <br />
rata-rata perempuan Minang itu, hanya berkisar 150 Cm.</div><div align="justify"> Sekitar<br />
tahun 70 an ukuran postur dan kecantikan perempuan mulai bergeser. <br />
Pergeseran tersebut dimulai dari munculnya seorang gadis <span style="font-style: italic;">Twiggy</span> <br />
di belahan barat sana. Tubuh gadis tersebut kurus kerempeng, setipis <br />
papan triplek. Payudara hanya sekadar bergantung di badan saja. Imbas <br />
pergeseran kecantikan ideal tersebut pun sampai ke Indonesia, dan ranah <br />
Minangkabau tentunya. Di samping itu ukuran ideal kecantikan pun <br />
menyangkut tinggi badan. Tinggi badan tidak lagi 150 Cm tapi 160-170 Cm.<br />
Itulah menurut ukuran bangsa Eropa dan Amerika. Kesan ukuran kecantikan<br />
tersebut, membuat bangsa Indonesia, tidak pernah menang dalam kontes <br />
Miss Kecantikan Dunia, yang jurinya dari negera barat. Demikian juga <br />
dengan pemenang Uni Sumatra Barat, ketika dikirim mengikuti Putri <br />
Indonesia ke tingkat nasional, kalah melulu. Padahal untuk melaksanakan <br />
kontes Uni dan Uda tersebut menelan biaya sekitar 200 juta. </div><div align="justify"> Oleh<br />
karena tren kecantikan berubah, termasuk di Sumatra Barat <br />
(Minangkabau), maka perempuan Minangkabau pun berusaha pula mempercantik<br />
dirinya. Mempercantik diri menurut ukuran internasional (pandangan <br />
dunia barat). Kulit perempuan Minangkabau yang rata-rata sawo matang, <br />
kini tampak putih dioles krem pemutih. Sekarang dipasaran beredar <br />
kosmetik berbagai merek untuk memutihkan kulit. Tentu saja produk <br />
kosmetik pemutih banyak dicari kaum perempuan, agar mereka pun memiliki <br />
kulit putih, seputih pualam atau mirip kulit orang Barat sana (tidak <br />
peduli pada efek sampingannya). Bulu mata yang dulu <span style="font-style: italic;">semut beriring </span>pun<br />
dicukur diganti dengan calak. Lalu badannya yang dulu semok sintal, <br />
tidak pula enak terasa, maka harus dirubah pula menjadi kurus langsing <br />
(setipis papan triplek tak apalah), agar bisa memakai pakaian ketat dan <br />
celana jin, sehingga paha mereka kelihatan seperti sepasang pinsil.</div><div align="justify"> Perempuan<br />
memang cenderung menghias diri, disamping untuk menarik lawan jenisnya <br />
tapi juga membuat ia lebih percaya diri. Bermacam-macam kiat untuk <br />
mencapai tubuh ideal (kerempeng), bisa dengan senam, ajojing, minum obat<br />
pelangsing dan seterusnya. Sementara itu, para pedagang pun melihat <br />
peluang. Iklan televisi, mass media cetak dan elektronik selalu sarat <br />
dengan produk-produk untuk mempercantik diri. Ditayangkan beragam produk<br />
dan berbagai merek. Lalu ditampilkan pula wajah-wajah cantik bertampang<br />
Indo untuk menarik konsumen. Pokoknya ukuran cantik di zaman sekarang <br />
adalah, berwajah Indo, langsing, sehat seperti yang ditampilkan oleh <br />
selebritis Indonesia. Kendati pun ada usulan bahwa yang lebih baik itu <br />
adalah kecantikan yang memancar dari dalam atau <span style="font-style: italic;">inner beauty</span>. Tapi itu hanyalah sekadar wacana, dan sekadar mengingat saja.</div><div align="justify"> Lalu<br />
apakah kita menggugat perempuan Minangkabau karena perubahan pikiran <br />
dan prilakunya dalam penampilannya? Tidaklah adil rasanya. Zaman telah <br />
berubah. Pada filsafat Alam Minangkabau sudah dipesankan: <span style="font-style: italic;">Sakali aia gadang, sakali tapian barubah</span>. Bahkan dalam suatu tulisan Puti Reno Raudha Thaib menyatakan bahwa perempuan Minangkabau tidak menolak perubahan.</div><div align="justify"> Perubahan terus bergulir di tengah-tengah masyarakat Minangkabau. Sementara itu ada diantara kita masih bicara, “<span style="font-style: italic;">sangkek daulu…sangkek daulu…”</span><br />
(Masa dulu…masa dulu) Ucapan tersebut muaranya adalah nostalgia masa <br />
lalu. Masa kejayaan Minangkabau. Padahal kita jarang sekali menunjukkan <br />
secara kongkrit tentang jayanya masa lalu Minangkabau. Sebab catatan <br />
sejarah tidak pernah memberi informasi tentang masa jaya itu. Zaman <br />
Melayu Tua-kah, zaman Pagaruyung-kah, zaman Islam-kah, zaman VOC-kah, <br />
zaman PRRI-kah, zaman Orde Lama atau zaman Orde Barukah? </div><div align="justify"> Sekarang<br />
muncul tren pakaian Muslimah, yang diterjemahkan memakai jilbab. Dan <br />
kini kita melihat di tengah-tengah masyarakat Minang, <br />
perempuan-perempuan memakai jilbab. Bahkan kanak-kanak pun berjilbab. <br />
Namun jilbab yang dipakai sekarang lebih modern dari aslinya (seperti <br />
Arab sana). Jilbab dipadukan dengan pakaian ketat dan jin sempit <br />
sehingga mencetak bentuk tubuh yang ideal. Hal ini mengundang polemik, <br />
kritik dari masyarakat, terutama ulama Islam. Tapi para pemakainya <span style="font-style: italic;">cuek-cuek </span>saja menerima kritikan tersebut. Apalagi kalau kacamata yang mereka pasang, <span style="font-style: italic;">daulu ka daulu</span>.<br />
Padahal perempuan Minangkabau itu juga manusia biasa. Dia bisa saja <br />
hadir di majalis taklim, bisa shalat berjamaah di masjid, berpakaian <br />
muslimah, memberi nasehat kepada orang tentang nilai baik dan buruk. <br />
Hafal <span style="font-style: italic;">Asmaul-as Husna, </span>suaranya merdu membaca al-Quran. Namun <br />
dalam keseharian setiap orang bisa terpeleset. Perempuan Minangkabau <br />
memang bukan dewi yang datang dari langit. </div><div align="justify"> Wilayah<br />
Minangkabau merupakan wilayah kebudayaan. Sumatra Barat adalah wilayah <br />
Minangkabau secara teritorial tapi secara kebudayaan Minangkabau itu <br />
melintasi jauh sampai ke daerah Rantau. Kalau kita lihat sekarang, <br />
masyarakat Minangkabau bukan saja pribumi Minangkabau tapi sudah <br />
bercampur baur dengan suku bangsa lain, seperti suku Jawa, Nias, Aceh, <br />
Sunda, Makasar, Ambon, Cina, Mentawai, Batak, dan sebagainya. Terutama <br />
di perkotaan. Walaupun terdapat penduduk yang berasal dari berbagai <br />
etnis, suku bangsa Minangkabau tetap menjadi warga terbesar di ranah <br />
ini. Akan tetapi sulit-sulit mudah membedakan antara perempuan <br />
Minangkabau dengan perempuan etnis lainnya. Mungkin bisa lewat bahasa, <br />
kita bisa menduga dia adalah perempuan Minangkabau. </div><div align="justify"> Sebelum<br />
saya menulis naskah ini, saya sempat bertanya pada beberapa orang <br />
perempuan Minangkabau mengenai perbedaan antara mereka dengan perempuan <br />
etnis lainnya. Kebanyakan menjawab, “tidak tahu” atau tersenyum. Tapi <br />
dari mereka berpengetahuan lebih tinggi, cenderung menjawab dengan <br />
normatif, dan sosok perempuan Minangkabau bukan tentang pisik, namun <br />
lebih menjurus kepada yang berlaku umum. Misalnya tentang prilaku, <br />
sopan-santun, pola pikir, cara berpakaian dan seterusnya.</div><div align="justify"> Bagaimanakah<br />
sebenarnya sosok perempuan Minangkabau? Baik secara pisik maupun <br />
prilaku, pola pikir, dan cara dia berpakaiannya. Sudahkah sosok itu <br />
mencerminkan perempuan Minangkabau, sesuai koridor nilai-nilai Adat dan <br />
budaya Minangkabau itu sendiri. Mereka bisa berubah karena dalam <br />
pergaulan hidup juga bertemu dengan etnis lain. Di permukiman kota, <br />
mereka kebanyakan tinggal di kompleks “real estate” yang dibangun oleh <br />
developer. Dan pergaulan di perumahan kompleks memang berbeda dengan <br />
Nagari asalnya. Malah generasi sekarang (berusia sekitar 30 sampai 35 <br />
tahun) jarang “memikirkan” tentang norma-norma Adat. Walaupun pada <br />
dasarnya mereka tahu, orang Minangkabau itu adalah mereka. Apalagi bagi <br />
mereka yang berada di luar Minangkabau.</div><div align="justify"> Jadi<br />
sosok perempuan Minangkabau itu tak ada bedanya dengan perempuan etnis <br />
lain. Kulit mereka bukan lagi sawo matang tapi ada juga yang putih. <br />
Tidak selalu pakai jilbab, ada juga yang menggeraikan rambut dengan <br />
aroma semerbak. Bibir pun dipoles gincu. Parfumnya <span style="font-style: italic;">mangkapusak, </span>membangkitkan birahi. Jika dia masih dalam usia ABG (Anak Baru Gede). Bahasanya bukan lagi bahasa Minang tapi sudah “<span style="font-style: italic;">Lu </span>dan <span style="font-style: italic;">Gue</span>” </div>
Di<br />
sisi lain, dia punya harga diri. Kadang lebih tahan menderita dari kaum<br />
lelaki. Ia mampu mendidik anaknya, walaupun tanpa suami-entah karena <br />
bercerai hidup maupun bercerai mati- Anak baginya adalah segala-galanya.<br />
Bila teraniaya, ia bisa meredam pada batas-batas tertentu. Jika ia <br />
tidak tahan maka ia pun membalas keteraniayaan itu dengan bercerai, baik<br />
bercerai dari suaminya maupun bercerai dengan nyawanya sendiri atawa <br />
bunuh diri (baca cerita klasik Minangkabau: Siti Baheram). Atau bisa <br />
juga mengibaskan pedang seperti Siti Manggopoh. Kecerdasannya pun tak <br />
kalah dari lelaki. <br />
Kalau<br />
bicara dahulu, maka kita memang tidak menemukan perempuan Minangkabau <br />
yang melacurkan diri (terang-terangan). Tapi sekarang, boleh anda <br />
jalan-jalan ke kota-kota besar, tak usah ke Jakarta tapi cukup di <br />
Padang, Malam hari mereka menjajakan diri, di pinggir jalan, atau <br />
menunggu di atas taksi menunggu hidung belang. <span style="font-style: italic;">Nauzubillah</span>! Jenguklah Panti Andam Dewi Kayu Aro, perempuan lacur yang terjaring razia itu ada di sana. Dalam istilah Minang disebut <span style="font-style: italic;">jangak</span>, <span style="font-style: italic;">pinang sirah ikue</span> atau lebih vulgar lagi, yaitu <span style="font-style: italic;">lonte</span> atawa <span style="font-style: italic;">poyok.</span><br />
Sebagian kecil di antara mereka tergoda dan tipis iman, disebabkan <br />
beratnya beban hidup, dan terperangkap oleh gaya hidup konsumtif, mereka<br />
rela menggadaikan diri kepada si hidung belang. Jelaslah fenomena <br />
seperti itu hanyalah “kasus” Masih banyak perempuan Minangkabau yang <br />
mampu bertahan dalam deraan penderitaan. Mereka mau bekerja keras, <br />
menerima upah bercocok tanam di sawah, menjadi pemulung sampah, menerima<br />
upah cuci di sekitar perumahan. Semua itu mencerminkan kekentalan <br />
mereka dalam memelihara Adat dan harga diri, baik sebagai perempuan <br />
Minangkabau, maupun sebagai perempuan Islam.<br />
Itulah sosok perempuan Minangkabau dengan segala kelebihan dan kekurangan.<br />
<br />
sumber :]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span style="font-size: 20pt;">D</span> <br />
<br />
<div align="justify"><a href="http://2.bp.blogspot.com/-YnLn6rcy5Sk/Tezqrk290GI/AAAAAAAAAFk/3gyU4c0VynI/s1600/wanita-minang.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-YnLn6rcy5Sk/Tezqrk290GI/AAAAAAAAAFk/3gyU4c0VynI/s1600/wanita-minang.jpg" border="0" alt="[Image: wanita-minang.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a>alam<br />
tulisan yang normatif, sosok perempuan Minangkabau digambar merupakan <br />
perempuan yang lemah lembut, penurut dan penuh pengertian, tapi juga <br />
tegar, dia jarang turun dari rumah kecuali sekali se-Jumat. Kasih sayang<br />
pada anaknya, <span style="font-style: italic;">sepanjang jalan</span> (tak pernah habis-habis sepanjang hayatnya). Postur kecantikannya dilukiskan sebagai berikut: “<span style="font-style: italic;">Wajah<br />
bagai bulan purnama empat belas, bibirnya asam seulas, dagunya bak <br />
labah hinggok, bulu matanya semut beriring, pinggangnya ramping bak <br />
ketiding ,langannyo bak lilin dituang, betisnya bak paruik padi, <br />
tumitnya bak telur burung. Jika ia berjalan bagai itik pulang patang, <br />
lebih surut dari maju”</span> Demikianlah sosok ideal kecantikan perempuan Minangkabau.</div><div align="justify"> Bersangkutan<br />
dengan prototipe tersebut, secara harfiah kecantikan perempuan <br />
Minangkabau, sungguh-sungguh menarik dipandang mata. Dan menjadi dambaan<br />
bagi setiap lelaki untuk menyunting. Barangkali itulah yang membuat <br />
orang luar banyak mempersunting gadis Minang sejak dahulu sampai <br />
sekarang.</div><div align="justify"> Ukuran kecantikan seorang perempuan selalu bergeser dari zaman ke zaman. Dulu perempuan yang disebut <span style="font-style: italic;">rancak</span> (cantik) di ranah ini, adalah perempuan yang berwajah bulat bagi bulan purnama, bertubuh sintal (<span style="font-style: italic;">gapuak punai</span>), pinggul lebar, kalau berjalan bergoyang-goyang ( <span style="font-style: italic;">ciek untuk uda, ciek untuk ambo), </span>berpayudara<br />
besar, gigi berlapis emas atau platina. Kulit kuning langsat, walaupun <br />
pada kenyataan perempuan Minang itu berkulit sawo matang. Dan tinggi <br />
rata-rata perempuan Minang itu, hanya berkisar 150 Cm.</div><div align="justify"> Sekitar<br />
tahun 70 an ukuran postur dan kecantikan perempuan mulai bergeser. <br />
Pergeseran tersebut dimulai dari munculnya seorang gadis <span style="font-style: italic;">Twiggy</span> <br />
di belahan barat sana. Tubuh gadis tersebut kurus kerempeng, setipis <br />
papan triplek. Payudara hanya sekadar bergantung di badan saja. Imbas <br />
pergeseran kecantikan ideal tersebut pun sampai ke Indonesia, dan ranah <br />
Minangkabau tentunya. Di samping itu ukuran ideal kecantikan pun <br />
menyangkut tinggi badan. Tinggi badan tidak lagi 150 Cm tapi 160-170 Cm.<br />
Itulah menurut ukuran bangsa Eropa dan Amerika. Kesan ukuran kecantikan<br />
tersebut, membuat bangsa Indonesia, tidak pernah menang dalam kontes <br />
Miss Kecantikan Dunia, yang jurinya dari negera barat. Demikian juga <br />
dengan pemenang Uni Sumatra Barat, ketika dikirim mengikuti Putri <br />
Indonesia ke tingkat nasional, kalah melulu. Padahal untuk melaksanakan <br />
kontes Uni dan Uda tersebut menelan biaya sekitar 200 juta. </div><div align="justify"> Oleh<br />
karena tren kecantikan berubah, termasuk di Sumatra Barat <br />
(Minangkabau), maka perempuan Minangkabau pun berusaha pula mempercantik<br />
dirinya. Mempercantik diri menurut ukuran internasional (pandangan <br />
dunia barat). Kulit perempuan Minangkabau yang rata-rata sawo matang, <br />
kini tampak putih dioles krem pemutih. Sekarang dipasaran beredar <br />
kosmetik berbagai merek untuk memutihkan kulit. Tentu saja produk <br />
kosmetik pemutih banyak dicari kaum perempuan, agar mereka pun memiliki <br />
kulit putih, seputih pualam atau mirip kulit orang Barat sana (tidak <br />
peduli pada efek sampingannya). Bulu mata yang dulu <span style="font-style: italic;">semut beriring </span>pun<br />
dicukur diganti dengan calak. Lalu badannya yang dulu semok sintal, <br />
tidak pula enak terasa, maka harus dirubah pula menjadi kurus langsing <br />
(setipis papan triplek tak apalah), agar bisa memakai pakaian ketat dan <br />
celana jin, sehingga paha mereka kelihatan seperti sepasang pinsil.</div><div align="justify"> Perempuan<br />
memang cenderung menghias diri, disamping untuk menarik lawan jenisnya <br />
tapi juga membuat ia lebih percaya diri. Bermacam-macam kiat untuk <br />
mencapai tubuh ideal (kerempeng), bisa dengan senam, ajojing, minum obat<br />
pelangsing dan seterusnya. Sementara itu, para pedagang pun melihat <br />
peluang. Iklan televisi, mass media cetak dan elektronik selalu sarat <br />
dengan produk-produk untuk mempercantik diri. Ditayangkan beragam produk<br />
dan berbagai merek. Lalu ditampilkan pula wajah-wajah cantik bertampang<br />
Indo untuk menarik konsumen. Pokoknya ukuran cantik di zaman sekarang <br />
adalah, berwajah Indo, langsing, sehat seperti yang ditampilkan oleh <br />
selebritis Indonesia. Kendati pun ada usulan bahwa yang lebih baik itu <br />
adalah kecantikan yang memancar dari dalam atau <span style="font-style: italic;">inner beauty</span>. Tapi itu hanyalah sekadar wacana, dan sekadar mengingat saja.</div><div align="justify"> Lalu<br />
apakah kita menggugat perempuan Minangkabau karena perubahan pikiran <br />
dan prilakunya dalam penampilannya? Tidaklah adil rasanya. Zaman telah <br />
berubah. Pada filsafat Alam Minangkabau sudah dipesankan: <span style="font-style: italic;">Sakali aia gadang, sakali tapian barubah</span>. Bahkan dalam suatu tulisan Puti Reno Raudha Thaib menyatakan bahwa perempuan Minangkabau tidak menolak perubahan.</div><div align="justify"> Perubahan terus bergulir di tengah-tengah masyarakat Minangkabau. Sementara itu ada diantara kita masih bicara, “<span style="font-style: italic;">sangkek daulu…sangkek daulu…”</span><br />
(Masa dulu…masa dulu) Ucapan tersebut muaranya adalah nostalgia masa <br />
lalu. Masa kejayaan Minangkabau. Padahal kita jarang sekali menunjukkan <br />
secara kongkrit tentang jayanya masa lalu Minangkabau. Sebab catatan <br />
sejarah tidak pernah memberi informasi tentang masa jaya itu. Zaman <br />
Melayu Tua-kah, zaman Pagaruyung-kah, zaman Islam-kah, zaman VOC-kah, <br />
zaman PRRI-kah, zaman Orde Lama atau zaman Orde Barukah? </div><div align="justify"> Sekarang<br />
muncul tren pakaian Muslimah, yang diterjemahkan memakai jilbab. Dan <br />
kini kita melihat di tengah-tengah masyarakat Minang, <br />
perempuan-perempuan memakai jilbab. Bahkan kanak-kanak pun berjilbab. <br />
Namun jilbab yang dipakai sekarang lebih modern dari aslinya (seperti <br />
Arab sana). Jilbab dipadukan dengan pakaian ketat dan jin sempit <br />
sehingga mencetak bentuk tubuh yang ideal. Hal ini mengundang polemik, <br />
kritik dari masyarakat, terutama ulama Islam. Tapi para pemakainya <span style="font-style: italic;">cuek-cuek </span>saja menerima kritikan tersebut. Apalagi kalau kacamata yang mereka pasang, <span style="font-style: italic;">daulu ka daulu</span>.<br />
Padahal perempuan Minangkabau itu juga manusia biasa. Dia bisa saja <br />
hadir di majalis taklim, bisa shalat berjamaah di masjid, berpakaian <br />
muslimah, memberi nasehat kepada orang tentang nilai baik dan buruk. <br />
Hafal <span style="font-style: italic;">Asmaul-as Husna, </span>suaranya merdu membaca al-Quran. Namun <br />
dalam keseharian setiap orang bisa terpeleset. Perempuan Minangkabau <br />
memang bukan dewi yang datang dari langit. </div><div align="justify"> Wilayah<br />
Minangkabau merupakan wilayah kebudayaan. Sumatra Barat adalah wilayah <br />
Minangkabau secara teritorial tapi secara kebudayaan Minangkabau itu <br />
melintasi jauh sampai ke daerah Rantau. Kalau kita lihat sekarang, <br />
masyarakat Minangkabau bukan saja pribumi Minangkabau tapi sudah <br />
bercampur baur dengan suku bangsa lain, seperti suku Jawa, Nias, Aceh, <br />
Sunda, Makasar, Ambon, Cina, Mentawai, Batak, dan sebagainya. Terutama <br />
di perkotaan. Walaupun terdapat penduduk yang berasal dari berbagai <br />
etnis, suku bangsa Minangkabau tetap menjadi warga terbesar di ranah <br />
ini. Akan tetapi sulit-sulit mudah membedakan antara perempuan <br />
Minangkabau dengan perempuan etnis lainnya. Mungkin bisa lewat bahasa, <br />
kita bisa menduga dia adalah perempuan Minangkabau. </div><div align="justify"> Sebelum<br />
saya menulis naskah ini, saya sempat bertanya pada beberapa orang <br />
perempuan Minangkabau mengenai perbedaan antara mereka dengan perempuan <br />
etnis lainnya. Kebanyakan menjawab, “tidak tahu” atau tersenyum. Tapi <br />
dari mereka berpengetahuan lebih tinggi, cenderung menjawab dengan <br />
normatif, dan sosok perempuan Minangkabau bukan tentang pisik, namun <br />
lebih menjurus kepada yang berlaku umum. Misalnya tentang prilaku, <br />
sopan-santun, pola pikir, cara berpakaian dan seterusnya.</div><div align="justify"> Bagaimanakah<br />
sebenarnya sosok perempuan Minangkabau? Baik secara pisik maupun <br />
prilaku, pola pikir, dan cara dia berpakaiannya. Sudahkah sosok itu <br />
mencerminkan perempuan Minangkabau, sesuai koridor nilai-nilai Adat dan <br />
budaya Minangkabau itu sendiri. Mereka bisa berubah karena dalam <br />
pergaulan hidup juga bertemu dengan etnis lain. Di permukiman kota, <br />
mereka kebanyakan tinggal di kompleks “real estate” yang dibangun oleh <br />
developer. Dan pergaulan di perumahan kompleks memang berbeda dengan <br />
Nagari asalnya. Malah generasi sekarang (berusia sekitar 30 sampai 35 <br />
tahun) jarang “memikirkan” tentang norma-norma Adat. Walaupun pada <br />
dasarnya mereka tahu, orang Minangkabau itu adalah mereka. Apalagi bagi <br />
mereka yang berada di luar Minangkabau.</div><div align="justify"> Jadi<br />
sosok perempuan Minangkabau itu tak ada bedanya dengan perempuan etnis <br />
lain. Kulit mereka bukan lagi sawo matang tapi ada juga yang putih. <br />
Tidak selalu pakai jilbab, ada juga yang menggeraikan rambut dengan <br />
aroma semerbak. Bibir pun dipoles gincu. Parfumnya <span style="font-style: italic;">mangkapusak, </span>membangkitkan birahi. Jika dia masih dalam usia ABG (Anak Baru Gede). Bahasanya bukan lagi bahasa Minang tapi sudah “<span style="font-style: italic;">Lu </span>dan <span style="font-style: italic;">Gue</span>” </div>
Di<br />
sisi lain, dia punya harga diri. Kadang lebih tahan menderita dari kaum<br />
lelaki. Ia mampu mendidik anaknya, walaupun tanpa suami-entah karena <br />
bercerai hidup maupun bercerai mati- Anak baginya adalah segala-galanya.<br />
Bila teraniaya, ia bisa meredam pada batas-batas tertentu. Jika ia <br />
tidak tahan maka ia pun membalas keteraniayaan itu dengan bercerai, baik<br />
bercerai dari suaminya maupun bercerai dengan nyawanya sendiri atawa <br />
bunuh diri (baca cerita klasik Minangkabau: Siti Baheram). Atau bisa <br />
juga mengibaskan pedang seperti Siti Manggopoh. Kecerdasannya pun tak <br />
kalah dari lelaki. <br />
Kalau<br />
bicara dahulu, maka kita memang tidak menemukan perempuan Minangkabau <br />
yang melacurkan diri (terang-terangan). Tapi sekarang, boleh anda <br />
jalan-jalan ke kota-kota besar, tak usah ke Jakarta tapi cukup di <br />
Padang, Malam hari mereka menjajakan diri, di pinggir jalan, atau <br />
menunggu di atas taksi menunggu hidung belang. <span style="font-style: italic;">Nauzubillah</span>! Jenguklah Panti Andam Dewi Kayu Aro, perempuan lacur yang terjaring razia itu ada di sana. Dalam istilah Minang disebut <span style="font-style: italic;">jangak</span>, <span style="font-style: italic;">pinang sirah ikue</span> atau lebih vulgar lagi, yaitu <span style="font-style: italic;">lonte</span> atawa <span style="font-style: italic;">poyok.</span><br />
Sebagian kecil di antara mereka tergoda dan tipis iman, disebabkan <br />
beratnya beban hidup, dan terperangkap oleh gaya hidup konsumtif, mereka<br />
rela menggadaikan diri kepada si hidung belang. Jelaslah fenomena <br />
seperti itu hanyalah “kasus” Masih banyak perempuan Minangkabau yang <br />
mampu bertahan dalam deraan penderitaan. Mereka mau bekerja keras, <br />
menerima upah bercocok tanam di sawah, menjadi pemulung sampah, menerima<br />
upah cuci di sekitar perumahan. Semua itu mencerminkan kekentalan <br />
mereka dalam memelihara Adat dan harga diri, baik sebagai perempuan <br />
Minangkabau, maupun sebagai perempuan Islam.<br />
Itulah sosok perempuan Minangkabau dengan segala kelebihan dan kekurangan.<br />
<br />
sumber :]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Jembatan Layang Kelok Sembilan, Karya Monumental Anak Bangsa]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Jembatan-Layang-Kelok-Sembilan-Karya-Monumental-Anak-Bangsa</link>
			<pubDate>Wed, 05 Dec 2012 03:01:38 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Jembatan-Layang-Kelok-Sembilan-Karya-Monumental-Anak-Bangsa</guid>
			<description><![CDATA[<a href="http://kliksumbar.com/foto_berita/99fly.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><br />
&lt;img alt="" src="http://kliksumbar.com/foto_berita/medium_99fly.jpg" align="middle" width="205" /&gt;</a><br />
<span style="font-weight: bold;">Fly over Kelok Sembilan</span><br />
<br />
<span style="font-weight: bold;"><span style="color: black;">50 Kota, </span></span><span style="font-weight: bold;"><span style="color: darkblue;">Klik</span></span><span style="font-weight: bold;"><span style="color: red;">Sumbar</span></span> <br />
<br />
<br />
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Sumbar mengadakan <br />
sosialisasi dan penyuluhan Kawasan Kelok Sembilan di Kantor Bupati 50 <br />
Kota di Sarilamak, Sumatera Barat. Ini terkait dengan hampir rampungnya <br />
pembangunan tahap dua Fly Over (jembatan layang, Red) Kelok Sembilan.<br />
<br />
<br />
<br />
Pembangunan jembatan layang Kelok Sembilan ini merupakan proyek besar <br />
karya anak bangsa, menuangkan ide cemerlangnya dalam merancang <br />
konstruksi dan mengerjakan jembatan layang ini. Tak ada campur tangan <br />
asing dalam pembangunan proyek yang menghabiskan biaya sebesar Rp540 <br />
miliar lebih ini.<br />
<br />
<br />
<br />
Proyek Fly Over Kelok Sembilan ini baru selesai tahap I dan telah <br />
menelan anggaran senilai Rp350 miliar dan pengerjaan tahap II sedang <br />
berjalan dan diharapkan dapat diresmikan 2013 mendatang. Sejak 15 <br />
Agustus 2012 lalu Jembatan Layang Kelok Sembilan tahap I sudah dapat <br />
dimanfaatkan untuk mengurai kemacetan arus mudik dan balik pada Idul <br />
Fitri 1433 H di jalur tersebut.<br />
<br />
<br />
<br />
Dalam sosialisasi Kawasan Kelok Sembilan ini, Kepala Disprasjal Sumatera<br />
Barat, Suprapto mengatakan, secara teknis jalan layang Kelok Sembilan <br />
sudah aman dilintasi. Rambu-rambu lalu lintas untuk keselamatan <br />
pengendara telah dipasang di sejumlah titik. Rambu-rambu pun telah <br />
dipasang seperti larangan berhenti bagi pengendara di jalan layang itu <br />
untuk mencegah dijadikannnya lokasi itu sebagai objek wisata.<br />
<br />
<br />
<br />
Jalan lama Kelok Sembilan itu sendiri dibangun pemerintah kolonial <br />
Belanda tahun 1932 dan memiliki pesona tersendiri dengan posisinya yang <br />
berada di ketinggian 1000 meter diatas permukaan laut. Pembangunan Fly <br />
Over Kelok Sembilan tanpa menghilangkan jalan lama yang penuh pesona <br />
itu.<br />
<br />
<br />
<br />
Fly Over Kelok Sembilan dikerjakan oleh tiga kontraktor raksasa, yaitu <br />
PT. Waskita Karya, Adhi Karya dan Hutama Joint Operation (WAH Jo). <br />
"Ketiga perusahaan ini sudah bertaraf internasional dan sudah <br />
memperlihatkan kinerja yang profesional," ujar Ir. Sahdin Zunaidi, <br />
M.Si., Kepala BKSDA Sumbar yang didampingi Plt. Asisten Perekonomian dan<br />
Pembangunan Pemkab 50 Kota Ir. Deswan Putra.<br />
<br />
<br />
<br />
Dulu banyak pihak beranggapan pembangunan jalan dan jembatan Kelok <br />
Sembilan akan menghilangkan nilai sejarah yang menjadi kebanggaan <br />
Sumbar, tetapi ternyata tidak. Kelok Sembilan yang lama tetap bisa <br />
dinikmati sebagai keindahan wisata.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://kliksumbar.com/foto_berita/99fly.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><br />
&lt;img alt="" src="http://kliksumbar.com/foto_berita/medium_99fly.jpg" align="middle" width="205" /&gt;</a><br />
<span style="font-weight: bold;">Fly over Kelok Sembilan</span><br />
<br />
<span style="font-weight: bold;"><span style="color: black;">50 Kota, </span></span><span style="font-weight: bold;"><span style="color: darkblue;">Klik</span></span><span style="font-weight: bold;"><span style="color: red;">Sumbar</span></span> <br />
<br />
<br />
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Sumbar mengadakan <br />
sosialisasi dan penyuluhan Kawasan Kelok Sembilan di Kantor Bupati 50 <br />
Kota di Sarilamak, Sumatera Barat. Ini terkait dengan hampir rampungnya <br />
pembangunan tahap dua Fly Over (jembatan layang, Red) Kelok Sembilan.<br />
<br />
<br />
<br />
Pembangunan jembatan layang Kelok Sembilan ini merupakan proyek besar <br />
karya anak bangsa, menuangkan ide cemerlangnya dalam merancang <br />
konstruksi dan mengerjakan jembatan layang ini. Tak ada campur tangan <br />
asing dalam pembangunan proyek yang menghabiskan biaya sebesar Rp540 <br />
miliar lebih ini.<br />
<br />
<br />
<br />
Proyek Fly Over Kelok Sembilan ini baru selesai tahap I dan telah <br />
menelan anggaran senilai Rp350 miliar dan pengerjaan tahap II sedang <br />
berjalan dan diharapkan dapat diresmikan 2013 mendatang. Sejak 15 <br />
Agustus 2012 lalu Jembatan Layang Kelok Sembilan tahap I sudah dapat <br />
dimanfaatkan untuk mengurai kemacetan arus mudik dan balik pada Idul <br />
Fitri 1433 H di jalur tersebut.<br />
<br />
<br />
<br />
Dalam sosialisasi Kawasan Kelok Sembilan ini, Kepala Disprasjal Sumatera<br />
Barat, Suprapto mengatakan, secara teknis jalan layang Kelok Sembilan <br />
sudah aman dilintasi. Rambu-rambu lalu lintas untuk keselamatan <br />
pengendara telah dipasang di sejumlah titik. Rambu-rambu pun telah <br />
dipasang seperti larangan berhenti bagi pengendara di jalan layang itu <br />
untuk mencegah dijadikannnya lokasi itu sebagai objek wisata.<br />
<br />
<br />
<br />
Jalan lama Kelok Sembilan itu sendiri dibangun pemerintah kolonial <br />
Belanda tahun 1932 dan memiliki pesona tersendiri dengan posisinya yang <br />
berada di ketinggian 1000 meter diatas permukaan laut. Pembangunan Fly <br />
Over Kelok Sembilan tanpa menghilangkan jalan lama yang penuh pesona <br />
itu.<br />
<br />
<br />
<br />
Fly Over Kelok Sembilan dikerjakan oleh tiga kontraktor raksasa, yaitu <br />
PT. Waskita Karya, Adhi Karya dan Hutama Joint Operation (WAH Jo). <br />
"Ketiga perusahaan ini sudah bertaraf internasional dan sudah <br />
memperlihatkan kinerja yang profesional," ujar Ir. Sahdin Zunaidi, <br />
M.Si., Kepala BKSDA Sumbar yang didampingi Plt. Asisten Perekonomian dan<br />
Pembangunan Pemkab 50 Kota Ir. Deswan Putra.<br />
<br />
<br />
<br />
Dulu banyak pihak beranggapan pembangunan jalan dan jembatan Kelok <br />
Sembilan akan menghilangkan nilai sejarah yang menjadi kebanggaan <br />
Sumbar, tetapi ternyata tidak. Kelok Sembilan yang lama tetap bisa <br />
dinikmati sebagai keindahan wisata.]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Pesona Ranah Lansek Manih nan Memikat]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Pesona-Ranah-Lansek-Manih-nan-Memikat</link>
			<pubDate>Mon, 03 Dec 2012 07:05:52 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Pesona-Ranah-Lansek-Manih-nan-Memikat</guid>
			<description><![CDATA[<a href="http://1.bp.blogspot.com/-sn0JdUJmITE/UJT6TXs44KI/AAAAAAAAIUc/RHuys8IQXqw/s1600/4702_1092184704847_1233407830_30257993_2717319_n.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://1.bp.blogspot.com/-sn0JdUJmITE/UJT6TXs44KI/AAAAAAAAIUc/RHuys8IQXqw/s400/4702_1092184704847_1233407830_30257993_2717319_n.jpg" border="0" alt="[Image: 4702_1092184704847_1233407830_30257993_2717319_n.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
Kabupaten SIJUNJUNG, Pesona Ranah Lansek Manih nan Memikat<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Kalau<br />
bicara tempat wisata baik alam, sejarah, petualangan dan budaya <br />
datanglah ke Sijunjung, Kabupaten Sijunjung memiliki segudang tempat <br />
wisata yang menarik untuk di kunjungi. Anda akan disuguhi oleh panorama <br />
alam yang indah yang tidak ada ditempat lain, anda akan merasa ingin <br />
berlama-lama berada disini, mungkin juga anda akan merasa beban yang <br />
menyesak dikepala keluar begitu ketika berwisata di Sijunjung ini. Kali <br />
ini kita akan turing menuju tempat-tempat wisata di daerah MUSIDUGA ( <br />
Muaro Silokek Durian Gadang ).<br />
<br />
<br />
<br />
Bagi anda yang berasal dari luar Kabupaten Sijunjung anda dapat <br />
menuju Muaro Sijunjung dari tiga pintu masuk, pertama dari selatan <br />
(Jambi, Teluk Kuantan, Dharmasraya) anda masuk dari Simpang Tanah <br />
Badantung menempuh + 10 KM untuk sampai ke Muaro Sijunjung, kedua dari <br />
arah Barat (Padang, Solok, Sawahlunto) anda masuk dari Simpang Muaro <br />
Bodi menempuh jarak + 8 KM menuju kota ini, dan dari arah utara <br />
(Batusangkar, Bukittinggi, Payakumbuh, Pekanbaru) anda harus menempuh <br />
jalur Jalan Negara Lintau Setangkai menuju Tanjung Ampalu dan + 7 KM <br />
anda akan sampai di Muaro Sijunjung.<br />
<br />
<br />
<br />
Jika ingin menginap di kota kecil nan asri dan damai ini ada tiga <br />
Penginapan mulai dari kelas hotel bintang tiga sampai kelas melati, <br />
yakni Hotel Bukit Gadang, Wisma Anggrek dan Penginapan Muaro Indah. <br />
Dengan tarif bervariasi mulai dari Rp.250.000 s/d Rp.75.000,- anda <br />
dapat tidur dengan nyaman dan bermimpi indah dikeheningan malam kota <br />
ini.<br />
<br />
<br />
<a href="http://1.bp.blogspot.com/-KBvUpsEsqHk/UJN5GEJxqYI/AAAAAAAAILg/k4-p6XmsJGA/s1600/bgq.JPG" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://1.bp.blogspot.com/-KBvUpsEsqHk/UJN5GEJxqYI/AAAAAAAAILg/k4-p6XmsJGA/s400/bgq.JPG" border="0" alt="[Image: bgq.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<a href="http://hotel%20batu%20gadang/" rel="nofollow" target="_blank">Hotel Batu Gadang</a><br />
<br />
<br />
Perjalanan menuju kawasan Musiduga dimulai dengan melewati jembatan <br />
Ombilin dengan sepanjang +100 m, melewati jalanan kecil yang menurun <br />
mendaki dan berliku dibalut oleh hutan dan perbukitan batu terjal <br />
menelusuri ke hilir Daerah Aliran Sungai Batang Kuantan nan indah, <br />
jalur ini merupakan bekas Jalan kereta api yang dibuat semasa <br />
penjajahan jepang dengan sistem kerja paksa atau lebih dikenal denga <br />
romusha. Aliran sungai yang deras sangat bagus untuk olahraga petualang<br />
Arum Jeram, untuk Arum Jeram Pemerintah Daerah Kabupaten Sijunjung <br />
telah menyediakan dua unit perahu karet yang dapat digunakan dengan <br />
menghubungi pihak terkait, + 4 KM atau 15 Menit perjalanan mobil anda <br />
akan menemui sebuah ngalau atau gua ditepi jalan.<br />
<br />
<br />
<br />
Ngalau Muko-muko atau dikenal juga dengan Ngalau Basurek. Di areal <br />
ngalau ini terdapat dua gazebo yang dapat digunakan sebagai tempat <br />
rehat menikmati sejuknya alam. Memasuki ngalau ini dapat dilakukan <br />
dengan mengunakan senter, lampu petromak dan obor yang telah disediakan<br />
oleh pedagang kaki lima yang selalu ada disetiap hari libur tepat di <br />
mulut ngalau tersebut, menelusuri ngalau yang dialiri Sungai kecil <br />
didalamnya membuat adrenalin anda teruji, hawa dingin dan gelap akan <br />
menemani anda disertai lalu lalang kelelawar dan burung walet. <br />
Gemericik air yang jatuh dari stalaktit membawa zat kapur membentuk <br />
stalakmit nan indah menawan akan membuat terpesona dan menghilangkan <br />
kesan seram ketika anda memasuki ngalau tersebut dan mungkin akan <br />
membuat anda penasaran dan ingin masuk lebih dalam lagi. Namun anda <br />
tetap harus hati-hati karena jalanan licin dan batuan dapat membuat <br />
jiwa anda terancam.<br />
<br />
<br />
<br />
Kepuasan anda tidak hanya sampai disitu saja, berlalu dari gua anda <br />
akan disuguhi oleh tebing batu yang curam di kiri kanan aliran sungai. <br />
Jika anda mendongkak keatas akan terlihat lagi ngalau mengantung di <br />
dinding bukit batu tersebut. Areal bukit ini juga sering digunakan <br />
untuk olah raga caving/panjat tebing. Jika anda memiliki kegemaran olah<br />
raga ini, anda dapat mencobanya. Anda tak perlu susah payah lagi <br />
mencari jalurnya karena beberapa jalur pemanjatan telah dirintis oleh <br />
Kelompok Pecinta Alam.<br />
<br />
<br />
<br />
<a href="http://4.bp.blogspot.com/-rcERun2QPgI/UJU2oMEhB2I/AAAAAAAAIVs/LnslGgQFDQo/s1600/Pasir+Putih+di+Silokek.JPG" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://4.bp.blogspot.com/-rcERun2QPgI/UJU2oMEhB2I/AAAAAAAAIVs/LnslGgQFDQo/s400/Pasir+Putih+di+Silokek.JPG" border="0" alt="[Image: Pasir+Putih+di+Silokek.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
Lima menit perjalanan dari Ngalau Muko-muko anda akan bersua dengan <br />
hamparan Pasir indah nan putih dan halus, meski tidak berada di tepi <br />
lautan namun ini menjadi satu-satunya Pasir ( Pasia : orang Padang <br />
menyebutnya untuk daerah pantai/tepi laut) dikabupaten ini, walau <br />
berada di tepi sungai, putih dan halusnya pasir ini tak kalah dengan <br />
yang ditepi laut. Pasir Putih nama yang pantas untuk dijuluki pada <br />
hamparan ini, disini anda dapat bercamping ria dengan mendirikan tenda <br />
dan bagi yang gemar memancing anda cukup melemparkan kail dari tenda <br />
anda ke aliran Sungai Kuantan. Sungguh nikmat memandangi kekuasaan <br />
Tuhan yang tak ternilai harganya ini, lebatnya hutan di perbukitan <br />
cadas dan indahnya relief-relief batu yang di ukir oleh alam serta <br />
liukan burung walet dan kelelawar yang keluar dari Ngalau yang <br />
ternganga pada tebing bukit tepat diseberang sungai membuat anda akan <br />
betah berlama-lama menikmati pesona ini. Sebaiknya anda tidak <br />
melakukannya di musim hujan karena Pasitr Putih ini akan digenangi air <br />
sungai Kuantan yang meluap sekaligus akan meratakan dan menghaluskan <br />
pasir ini lagi.<br />
<br />
<br />
<br />
Berlalu dari pasir putih anda akan melewati Koto Nagari Silokek nan <br />
damai. Kira-kira 3 KM berjalan memasuki nagari Duarian Gadang anda akan<br />
tergoda dengan kehadiran sebuah Air Terjun. Jika anda membawa <br />
kendaraan anda harus memarkir kendaraan di tepi jalan, dengan tarif Rp.<br />
1.000 s/d 2.000 per kendaraan yang di kelola oleh Pemuda setempat. <br />
Kendaraan anda akan aman untuk ditinggalkan. Menuju Air Terjun ini anda<br />
harus ekstra energi dan hati-hati, jalan setapak nan curam dengan <br />
kemiringan 60 derjat membuat nafas anda ngos-ngosan, namun semua itu <br />
akan terbayar ketika anda memasuki kawasan air terjun ini, hempasan air<br />
dari ketinggian 40 M ini membuat embun yang tak henti-henti menyejukan<br />
dan peluh yang keluar sebelumnya akan bersenyawa dengan embun air nan <br />
dingin dan sejuk ini membuat suasana semakin segar. Amboy-amboy <br />
indahnya ciptaan-Mu ini ya Tuhan. Jika sudah sampai disini rugi kalau <br />
anda tidak meyeburkan diri ke air, hempasan air terjun ke badan akan <br />
terasa seperti terapi alkupuntur membuat rasa capek dan penat akan <br />
hilang.<br />
<br />
<br />
<br />
Setelah puas bermain dengan sejuknya air terjun terus menelusuri <br />
hilir batang kantan nan indah anda akan bertemu dengan seonggok besi <br />
tua, sebuah benda cagar budaya peninggalan Penjajah Jepang yang <br />
terletak di pinggir jalan Durian Gadang Silukah, kurang lebih 1,5 KM <br />
dari Pasar Durian Gadang. Lokomotif Uap nan kokoh masin bertengger <br />
memutarkan pikiran kita akan kejam penjajahan jepang dahulu kalanya <br />
memperlakukan bangsa kita secara paksa untuk membangun jalan kereta api<br />
menuju Logas Propinsi Riau.<br />
<br />
<br />
<br />
+ 1 KM dari situs ini anda akan menemukan situs yang lebih tua lagi,<br />
yakni dua bongkah batu yang dikenal oleh masyarakat setempat sebagai <br />
Batu Basurek dan Batu Tempat duduk denga posisi menelungkup, konon <br />
menurut penduduk setempat seperti yang di utarakan pak Syafri batu ini <br />
berasal dari Negeri jiran Malaysia tepatnya Negeri Sembilan yang <br />
mengirimkan utusannya membawa beberapa batu menuju Sumpur Kudus, namun <br />
karena tidak sanggup lagi membawanya dua batu ini ditinggalkan begitu <br />
saja di Silukah ini. Sedangkan satu batu lagi berhasil sampai di Sumpur <br />
Kudus yakni Batu Lesung. Pada batu ini terdapat tulisan yang di ukir <br />
seperti Cap kuno dengan alas bergambar bunga teratai. Konon batu <br />
seukuran dengan helm Standar ini akan terasa berat diangkat jika kita <br />
takabur. Jaman dahulu daerah ini merupakan rute jalan kuda dari Rengat <br />
Riau menuju Sumpur Kudus dimana bermukimnya Raja Abadi pada masa itu.<br />
<br />
<br />
<br />
Berjalan 1.5 KM dari tempat tersebut anda akan melewati jembatan <br />
gantung melintasi Batang kuantan yang beraliran deras. Di sisi kanan <br />
jembatan tersebut terdapat sebuah gua nan indah yang di aliri oleh air <br />
nan jernih, namun untuk memasukinya anda harus membawa perlengkapan <br />
sendiri, karena pada ngalau yang diberi nama ngalau Silukah ini tidak <br />
tersedia obor sewaan seperti pada ngalau Muko-muko sebelumnya.<br />
<br />
<img src="https://fbcdn-photos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/409075_443740842338994_1059923939_a.jpg" border="0" alt="[Image: 409075_443740842338994_1059923939_a.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<br />
Berwisata ke Musiduga anda tidak akan puas-puasnya karena masih <br />
banyak tempat yang belum begitu dikenal oleh khalayak umum, kehadiran <br />
tempat wisata di daerah ini meski didukung sepenuhnya, semisal dengan <br />
peningkatan sarana dan prasarana pada tempat-tempat tersebut, seperti <br />
Rambu-rambu jalan, pemberian plang nama, memperbaiki jalan kendaraan <br />
maupun orang dan manajemen pengelolaan yang lebih baik. Semoga <br />
Kabupaten Sijunjung lebih dikenal dengan kehadiran tempat wisata ini.<br />
<br />
<br />
<br />
Rahma Andalia, <a href="http://komppas%20%5Bkomunitas%20pencinta%20pariwisata%20sumatera%20barat" rel="nofollow" target="_blank">/]KOMPPAS [Komunitas Pencinta Pariwisata Sumatera Barat]</a><br />
<br />
<a href="http://rahma%20andalia/" rel="nofollow" target="_blank">Rahma Andalia</a><br />
<br />
sumber : <a href="http://padangschebovenlanden01.blogspot.com/2012/11/ranah-minang-pesona-ranah-lansek-manih.html" rel="nofollow" target="_blank">http://padangschebovenlanden01.blogspot....manih.html</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://1.bp.blogspot.com/-sn0JdUJmITE/UJT6TXs44KI/AAAAAAAAIUc/RHuys8IQXqw/s1600/4702_1092184704847_1233407830_30257993_2717319_n.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://1.bp.blogspot.com/-sn0JdUJmITE/UJT6TXs44KI/AAAAAAAAIUc/RHuys8IQXqw/s400/4702_1092184704847_1233407830_30257993_2717319_n.jpg" border="0" alt="[Image: 4702_1092184704847_1233407830_30257993_2717319_n.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
Kabupaten SIJUNJUNG, Pesona Ranah Lansek Manih nan Memikat<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Kalau<br />
bicara tempat wisata baik alam, sejarah, petualangan dan budaya <br />
datanglah ke Sijunjung, Kabupaten Sijunjung memiliki segudang tempat <br />
wisata yang menarik untuk di kunjungi. Anda akan disuguhi oleh panorama <br />
alam yang indah yang tidak ada ditempat lain, anda akan merasa ingin <br />
berlama-lama berada disini, mungkin juga anda akan merasa beban yang <br />
menyesak dikepala keluar begitu ketika berwisata di Sijunjung ini. Kali <br />
ini kita akan turing menuju tempat-tempat wisata di daerah MUSIDUGA ( <br />
Muaro Silokek Durian Gadang ).<br />
<br />
<br />
<br />
Bagi anda yang berasal dari luar Kabupaten Sijunjung anda dapat <br />
menuju Muaro Sijunjung dari tiga pintu masuk, pertama dari selatan <br />
(Jambi, Teluk Kuantan, Dharmasraya) anda masuk dari Simpang Tanah <br />
Badantung menempuh + 10 KM untuk sampai ke Muaro Sijunjung, kedua dari <br />
arah Barat (Padang, Solok, Sawahlunto) anda masuk dari Simpang Muaro <br />
Bodi menempuh jarak + 8 KM menuju kota ini, dan dari arah utara <br />
(Batusangkar, Bukittinggi, Payakumbuh, Pekanbaru) anda harus menempuh <br />
jalur Jalan Negara Lintau Setangkai menuju Tanjung Ampalu dan + 7 KM <br />
anda akan sampai di Muaro Sijunjung.<br />
<br />
<br />
<br />
Jika ingin menginap di kota kecil nan asri dan damai ini ada tiga <br />
Penginapan mulai dari kelas hotel bintang tiga sampai kelas melati, <br />
yakni Hotel Bukit Gadang, Wisma Anggrek dan Penginapan Muaro Indah. <br />
Dengan tarif bervariasi mulai dari Rp.250.000 s/d Rp.75.000,- anda <br />
dapat tidur dengan nyaman dan bermimpi indah dikeheningan malam kota <br />
ini.<br />
<br />
<br />
<a href="http://1.bp.blogspot.com/-KBvUpsEsqHk/UJN5GEJxqYI/AAAAAAAAILg/k4-p6XmsJGA/s1600/bgq.JPG" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://1.bp.blogspot.com/-KBvUpsEsqHk/UJN5GEJxqYI/AAAAAAAAILg/k4-p6XmsJGA/s400/bgq.JPG" border="0" alt="[Image: bgq.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<a href="http://hotel%20batu%20gadang/" rel="nofollow" target="_blank">Hotel Batu Gadang</a><br />
<br />
<br />
Perjalanan menuju kawasan Musiduga dimulai dengan melewati jembatan <br />
Ombilin dengan sepanjang +100 m, melewati jalanan kecil yang menurun <br />
mendaki dan berliku dibalut oleh hutan dan perbukitan batu terjal <br />
menelusuri ke hilir Daerah Aliran Sungai Batang Kuantan nan indah, <br />
jalur ini merupakan bekas Jalan kereta api yang dibuat semasa <br />
penjajahan jepang dengan sistem kerja paksa atau lebih dikenal denga <br />
romusha. Aliran sungai yang deras sangat bagus untuk olahraga petualang<br />
Arum Jeram, untuk Arum Jeram Pemerintah Daerah Kabupaten Sijunjung <br />
telah menyediakan dua unit perahu karet yang dapat digunakan dengan <br />
menghubungi pihak terkait, + 4 KM atau 15 Menit perjalanan mobil anda <br />
akan menemui sebuah ngalau atau gua ditepi jalan.<br />
<br />
<br />
<br />
Ngalau Muko-muko atau dikenal juga dengan Ngalau Basurek. Di areal <br />
ngalau ini terdapat dua gazebo yang dapat digunakan sebagai tempat <br />
rehat menikmati sejuknya alam. Memasuki ngalau ini dapat dilakukan <br />
dengan mengunakan senter, lampu petromak dan obor yang telah disediakan<br />
oleh pedagang kaki lima yang selalu ada disetiap hari libur tepat di <br />
mulut ngalau tersebut, menelusuri ngalau yang dialiri Sungai kecil <br />
didalamnya membuat adrenalin anda teruji, hawa dingin dan gelap akan <br />
menemani anda disertai lalu lalang kelelawar dan burung walet. <br />
Gemericik air yang jatuh dari stalaktit membawa zat kapur membentuk <br />
stalakmit nan indah menawan akan membuat terpesona dan menghilangkan <br />
kesan seram ketika anda memasuki ngalau tersebut dan mungkin akan <br />
membuat anda penasaran dan ingin masuk lebih dalam lagi. Namun anda <br />
tetap harus hati-hati karena jalanan licin dan batuan dapat membuat <br />
jiwa anda terancam.<br />
<br />
<br />
<br />
Kepuasan anda tidak hanya sampai disitu saja, berlalu dari gua anda <br />
akan disuguhi oleh tebing batu yang curam di kiri kanan aliran sungai. <br />
Jika anda mendongkak keatas akan terlihat lagi ngalau mengantung di <br />
dinding bukit batu tersebut. Areal bukit ini juga sering digunakan <br />
untuk olah raga caving/panjat tebing. Jika anda memiliki kegemaran olah<br />
raga ini, anda dapat mencobanya. Anda tak perlu susah payah lagi <br />
mencari jalurnya karena beberapa jalur pemanjatan telah dirintis oleh <br />
Kelompok Pecinta Alam.<br />
<br />
<br />
<br />
<a href="http://4.bp.blogspot.com/-rcERun2QPgI/UJU2oMEhB2I/AAAAAAAAIVs/LnslGgQFDQo/s1600/Pasir+Putih+di+Silokek.JPG" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://4.bp.blogspot.com/-rcERun2QPgI/UJU2oMEhB2I/AAAAAAAAIVs/LnslGgQFDQo/s400/Pasir+Putih+di+Silokek.JPG" border="0" alt="[Image: Pasir+Putih+di+Silokek.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a><br />
<br />
<br />
Lima menit perjalanan dari Ngalau Muko-muko anda akan bersua dengan <br />
hamparan Pasir indah nan putih dan halus, meski tidak berada di tepi <br />
lautan namun ini menjadi satu-satunya Pasir ( Pasia : orang Padang <br />
menyebutnya untuk daerah pantai/tepi laut) dikabupaten ini, walau <br />
berada di tepi sungai, putih dan halusnya pasir ini tak kalah dengan <br />
yang ditepi laut. Pasir Putih nama yang pantas untuk dijuluki pada <br />
hamparan ini, disini anda dapat bercamping ria dengan mendirikan tenda <br />
dan bagi yang gemar memancing anda cukup melemparkan kail dari tenda <br />
anda ke aliran Sungai Kuantan. Sungguh nikmat memandangi kekuasaan <br />
Tuhan yang tak ternilai harganya ini, lebatnya hutan di perbukitan <br />
cadas dan indahnya relief-relief batu yang di ukir oleh alam serta <br />
liukan burung walet dan kelelawar yang keluar dari Ngalau yang <br />
ternganga pada tebing bukit tepat diseberang sungai membuat anda akan <br />
betah berlama-lama menikmati pesona ini. Sebaiknya anda tidak <br />
melakukannya di musim hujan karena Pasitr Putih ini akan digenangi air <br />
sungai Kuantan yang meluap sekaligus akan meratakan dan menghaluskan <br />
pasir ini lagi.<br />
<br />
<br />
<br />
Berlalu dari pasir putih anda akan melewati Koto Nagari Silokek nan <br />
damai. Kira-kira 3 KM berjalan memasuki nagari Duarian Gadang anda akan<br />
tergoda dengan kehadiran sebuah Air Terjun. Jika anda membawa <br />
kendaraan anda harus memarkir kendaraan di tepi jalan, dengan tarif Rp.<br />
1.000 s/d 2.000 per kendaraan yang di kelola oleh Pemuda setempat. <br />
Kendaraan anda akan aman untuk ditinggalkan. Menuju Air Terjun ini anda<br />
harus ekstra energi dan hati-hati, jalan setapak nan curam dengan <br />
kemiringan 60 derjat membuat nafas anda ngos-ngosan, namun semua itu <br />
akan terbayar ketika anda memasuki kawasan air terjun ini, hempasan air<br />
dari ketinggian 40 M ini membuat embun yang tak henti-henti menyejukan<br />
dan peluh yang keluar sebelumnya akan bersenyawa dengan embun air nan <br />
dingin dan sejuk ini membuat suasana semakin segar. Amboy-amboy <br />
indahnya ciptaan-Mu ini ya Tuhan. Jika sudah sampai disini rugi kalau <br />
anda tidak meyeburkan diri ke air, hempasan air terjun ke badan akan <br />
terasa seperti terapi alkupuntur membuat rasa capek dan penat akan <br />
hilang.<br />
<br />
<br />
<br />
Setelah puas bermain dengan sejuknya air terjun terus menelusuri <br />
hilir batang kantan nan indah anda akan bertemu dengan seonggok besi <br />
tua, sebuah benda cagar budaya peninggalan Penjajah Jepang yang <br />
terletak di pinggir jalan Durian Gadang Silukah, kurang lebih 1,5 KM <br />
dari Pasar Durian Gadang. Lokomotif Uap nan kokoh masin bertengger <br />
memutarkan pikiran kita akan kejam penjajahan jepang dahulu kalanya <br />
memperlakukan bangsa kita secara paksa untuk membangun jalan kereta api<br />
menuju Logas Propinsi Riau.<br />
<br />
<br />
<br />
+ 1 KM dari situs ini anda akan menemukan situs yang lebih tua lagi,<br />
yakni dua bongkah batu yang dikenal oleh masyarakat setempat sebagai <br />
Batu Basurek dan Batu Tempat duduk denga posisi menelungkup, konon <br />
menurut penduduk setempat seperti yang di utarakan pak Syafri batu ini <br />
berasal dari Negeri jiran Malaysia tepatnya Negeri Sembilan yang <br />
mengirimkan utusannya membawa beberapa batu menuju Sumpur Kudus, namun <br />
karena tidak sanggup lagi membawanya dua batu ini ditinggalkan begitu <br />
saja di Silukah ini. Sedangkan satu batu lagi berhasil sampai di Sumpur <br />
Kudus yakni Batu Lesung. Pada batu ini terdapat tulisan yang di ukir <br />
seperti Cap kuno dengan alas bergambar bunga teratai. Konon batu <br />
seukuran dengan helm Standar ini akan terasa berat diangkat jika kita <br />
takabur. Jaman dahulu daerah ini merupakan rute jalan kuda dari Rengat <br />
Riau menuju Sumpur Kudus dimana bermukimnya Raja Abadi pada masa itu.<br />
<br />
<br />
<br />
Berjalan 1.5 KM dari tempat tersebut anda akan melewati jembatan <br />
gantung melintasi Batang kuantan yang beraliran deras. Di sisi kanan <br />
jembatan tersebut terdapat sebuah gua nan indah yang di aliri oleh air <br />
nan jernih, namun untuk memasukinya anda harus membawa perlengkapan <br />
sendiri, karena pada ngalau yang diberi nama ngalau Silukah ini tidak <br />
tersedia obor sewaan seperti pada ngalau Muko-muko sebelumnya.<br />
<br />
<img src="https://fbcdn-photos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/409075_443740842338994_1059923939_a.jpg" border="0" alt="[Image: 409075_443740842338994_1059923939_a.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/><br />
<br />
Berwisata ke Musiduga anda tidak akan puas-puasnya karena masih <br />
banyak tempat yang belum begitu dikenal oleh khalayak umum, kehadiran <br />
tempat wisata di daerah ini meski didukung sepenuhnya, semisal dengan <br />
peningkatan sarana dan prasarana pada tempat-tempat tersebut, seperti <br />
Rambu-rambu jalan, pemberian plang nama, memperbaiki jalan kendaraan <br />
maupun orang dan manajemen pengelolaan yang lebih baik. Semoga <br />
Kabupaten Sijunjung lebih dikenal dengan kehadiran tempat wisata ini.<br />
<br />
<br />
<br />
Rahma Andalia, <a href="http://komppas%20%5Bkomunitas%20pencinta%20pariwisata%20sumatera%20barat" rel="nofollow" target="_blank">/]KOMPPAS [Komunitas Pencinta Pariwisata Sumatera Barat]</a><br />
<br />
<a href="http://rahma%20andalia/" rel="nofollow" target="_blank">Rahma Andalia</a><br />
<br />
sumber : <a href="http://padangschebovenlanden01.blogspot.com/2012/11/ranah-minang-pesona-ranah-lansek-manih.html" rel="nofollow" target="_blank">http://padangschebovenlanden01.blogspot....manih.html</a>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[LKAAM Sumbar Kecam Penghinaan Terhadap Indonesia]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-LKAAM-Sumbar-Kecam-Penghinaan-Terhadap-Indonesia</link>
			<pubDate>Fri, 30 Nov 2012 03:40:32 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-LKAAM-Sumbar-Kecam-Penghinaan-Terhadap-Indonesia</guid>
			<description><![CDATA[Padang, (ANTARA) - Lembaga Kerapatan Adat Alam<br />
Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat mengecam terhadap ulah suporter <br />
Malaysia dalam piala AFF yang telah menghina nama Indonesia.<br />
<br />
<br />
Ketua LKAAM Sumbar Sayuti Dt Rajo Pangulu di Padang, Jumat <br />
menyatakan, tindakan suporter Malaysia yang menghina Indonesia tersebut <br />
harus diusut, dan pihak pemerintah harus menyurati pemerintah Malaysia <br />
untuk melakukan pengusutan tersebut.<br />
<br />
'Kita dari LKAAM <br />
melihat video tersebut, dan mengecam atas tindakan yang dilakukan <br />
suporter itu, namun kita juga yakin tindakan tersebut ada yang <br />
menyusupi, sebab itu harus ada tindak lanjut dari pemerintah kita, untuk<br />
meminta pihak pemerintah Malaysia melakukan pengusutan kasusu itu,' <br />
kata Sayuti.<br />
<br />
Dia menambahkan, masyarakat Malaysia dan <br />
Minangkabau itu sebenarnya bersaudara, namun dengan penghinaan terhadap <br />
negara ini, yang dilakukan oleh sekelompok orang dapat memperuncing <br />
hubungan saudara antara masyarakat Minangkangkabau dan Indonsesia secara<br />
umum dengan Malaysia.<br />
<br />
Hal tersebut dinyatakan ketua <br />
LKAAM Sumbar tersebut terkait video yang ada di jejaring sosial Youtube,<br />
dimana terlihat adanya suporter menyanyikan lagu yang menghina nama <br />
Indonesia, yang diunduh pada 27 November 2012, berdurasi satu menit 48 <br />
detik, dan video tersebut hingga saat ini telah dilihat oleh 104,530 <br />
orang.<br />
<br />
'Sikap tersebut sepatutnya tidak perlu dilakukan,<br />
sebab sebagai bangsa serumpun dan tetangga seharusnya saling <br />
menghargai,' ujarnya.<br />
<br />
Ia menjelaskan, sebagai bangsa <br />
kita patut tersinggung atas peristiwa penghinaan ini, sebab itu <br />
pemerintah Indonesia perlu membuat nota protes terhadapa pemerintah <br />
Malaysia atas penghinaan tersebut.<br />
<br />
Terkait penghinaan <br />
tersebut, Sayuti juga menjelaskan, seharusnya ivent olahraga yang <br />
menjunjung tinggi sportivitas, tidak dirusak dengan hal yang mencederai <br />
semangat kebersamaan dan persatuan.<br />
<br />
Sehubungan dengan <br />
itu, terkait akan adanya pertemuan antara tim sepakbola Inonesia <br />
menghadapi Malaysia di penyisihan grup Piala AFF, ia juga mengimbau agar<br />
suporter Indonesia memiliki semangat anti kekerasan dan anti rasisme.<br />
<br />
<br />
'Pendukung timnas Indonesia di Malaysia, semoga tetap tenang dan jangan<br />
terpancing karena kasus ini, WNI harus tetap menjaga nama baik bangsa <br />
dan negara di mana pun mereka berada, kita serahkan sepenuhnya pada <br />
pihak yang berwenang di negara itu, untuk pengusutannya, untuk menjaga <br />
hubungan baik kita bertetangga,' jelasnya. (antarasumbar.com)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Padang, (ANTARA) - Lembaga Kerapatan Adat Alam<br />
Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat mengecam terhadap ulah suporter <br />
Malaysia dalam piala AFF yang telah menghina nama Indonesia.<br />
<br />
<br />
Ketua LKAAM Sumbar Sayuti Dt Rajo Pangulu di Padang, Jumat <br />
menyatakan, tindakan suporter Malaysia yang menghina Indonesia tersebut <br />
harus diusut, dan pihak pemerintah harus menyurati pemerintah Malaysia <br />
untuk melakukan pengusutan tersebut.<br />
<br />
'Kita dari LKAAM <br />
melihat video tersebut, dan mengecam atas tindakan yang dilakukan <br />
suporter itu, namun kita juga yakin tindakan tersebut ada yang <br />
menyusupi, sebab itu harus ada tindak lanjut dari pemerintah kita, untuk<br />
meminta pihak pemerintah Malaysia melakukan pengusutan kasusu itu,' <br />
kata Sayuti.<br />
<br />
Dia menambahkan, masyarakat Malaysia dan <br />
Minangkabau itu sebenarnya bersaudara, namun dengan penghinaan terhadap <br />
negara ini, yang dilakukan oleh sekelompok orang dapat memperuncing <br />
hubungan saudara antara masyarakat Minangkangkabau dan Indonsesia secara<br />
umum dengan Malaysia.<br />
<br />
Hal tersebut dinyatakan ketua <br />
LKAAM Sumbar tersebut terkait video yang ada di jejaring sosial Youtube,<br />
dimana terlihat adanya suporter menyanyikan lagu yang menghina nama <br />
Indonesia, yang diunduh pada 27 November 2012, berdurasi satu menit 48 <br />
detik, dan video tersebut hingga saat ini telah dilihat oleh 104,530 <br />
orang.<br />
<br />
'Sikap tersebut sepatutnya tidak perlu dilakukan,<br />
sebab sebagai bangsa serumpun dan tetangga seharusnya saling <br />
menghargai,' ujarnya.<br />
<br />
Ia menjelaskan, sebagai bangsa <br />
kita patut tersinggung atas peristiwa penghinaan ini, sebab itu <br />
pemerintah Indonesia perlu membuat nota protes terhadapa pemerintah <br />
Malaysia atas penghinaan tersebut.<br />
<br />
Terkait penghinaan <br />
tersebut, Sayuti juga menjelaskan, seharusnya ivent olahraga yang <br />
menjunjung tinggi sportivitas, tidak dirusak dengan hal yang mencederai <br />
semangat kebersamaan dan persatuan.<br />
<br />
Sehubungan dengan <br />
itu, terkait akan adanya pertemuan antara tim sepakbola Inonesia <br />
menghadapi Malaysia di penyisihan grup Piala AFF, ia juga mengimbau agar<br />
suporter Indonesia memiliki semangat anti kekerasan dan anti rasisme.<br />
<br />
<br />
'Pendukung timnas Indonesia di Malaysia, semoga tetap tenang dan jangan<br />
terpancing karena kasus ini, WNI harus tetap menjaga nama baik bangsa <br />
dan negara di mana pun mereka berada, kita serahkan sepenuhnya pada <br />
pihak yang berwenang di negara itu, untuk pengusutannya, untuk menjaga <br />
hubungan baik kita bertetangga,' jelasnya. (antarasumbar.com)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Versailles dan Minangkabau]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Versailles-dan-Minangkabau</link>
			<pubDate>Thu, 22 Nov 2012 09:46:36 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Versailles-dan-Minangkabau</guid>
			<description><![CDATA[<div align="justify">DARLIS SYOFYAN</div>
<div align="justify">ROMBONGAN pelanggan Isuzu Indonesia, <br />
berakhir pekan Jumat lalu di Istana Versailles Paris, Perancis. Istana <br />
itu, dari pusat kota Paris hanya 18 kilometer. Arah barat daya, kota <br />
mode itu. Kami ke sana dengan bus mewah. Pelancong lainnya juga bisa <br />
dengan kereta antar kota, dengan lama tempuh 45 menit.</div>
<a href="http://hariansinggalang.co.id/wp-content/uploads/2012/11/sidar.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://hariansinggalang.co.id/wp-content/uploads/2012/11/sidar-300x224.jpg" border="0" alt="[Image: sidar-300x224.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a>ISTANA VERSAILLES<br />
<br />
<div align="justify">
Karena akhir pekan kami masuk ke istana antri. Namun tak seperti <br />
pengunjung lainnya, yang sebelumnya antri membeli tiket 13,50 Euro atau <br />
sekitar Rp200 ribu.<br />
<br />
Tiket masuk kami sudah diatur sebelumnya oleh Luckytours Jakarta. Ribuan<br />
orang masuk istana itu setiap hari. Pengunjung dari berbagai negara. <br />
Waktu bersama rombongan kami, yang banyak turis dari Jepang dan Cina.<br />
<br />
Istana ini sangat terkenal. Di Indonesia, sudah kita kenal semenjak <br />
pelajaran sejarah di SMA dulu. Mulai dibangun tahun 1624 oleh Louis <br />
XVIII sebagai istana peristirahatan untuk berburu. Kemudian tahun 1661, <br />
oleh Louis XIV dijadikan tempat kediaman resmi raja Perancis. <br />
Pembangunan istana ini memakan waktu 40 tahun, di bawah pimpinan arsitek<br />
Le Van (1612-1670).<br />
<br />
Waktu kami berkunjung hanya beberapa ruang yang dibuka. Kami <br />
menyaksikan antara lain Drawing Room of Plenty, Venus Drawing Room, <br />
Diana Drawing Room, Mars Drawing Room, Mercury Drawing Room, Apollo <br />
Drawing Room, War Drawing Room. Setelah itu masuk pada Hall Of Mirrors <br />
yang besar sekali dengan lampu-lampu kristal bergantungan di <br />
langit-langit.<br />
<br />
Keluar dari Istana Versailles, kami juga menikmati taman seluas 800 <br />
hektar di belakang istana. Dari bagian belakang Versailles, Dr.Rayendra <br />
Sp.Pd bersama rombongan nampak terkatup kagum, melihat hamparan hutan <br />
tempat raja berburu, kolam-kolam istana dan Grand Canal, sebuah kanal <br />
buatan sepanjang 1,5 kilometer.<br />
<br />
Begitu menyebut Versailles dari pelajaran sejarah kita ingat dua <br />
peristiwa penting dan berdampak ke sejarah dunia. Pertama Revolusi <br />
Perancis (1789-1799) dan Traktat Versailles (1919).<br />
<br />
Revolusi Perancis pecah akibat kemarahan rakyat terhadap kebijakan <br />
monarki Perancis yang tidak menyejahterakan rakyat. Dipicu oleh rencana <br />
kenaikan pajak, kekecewaan rakyat yang sudah menumpuk sekian lama <br />
akhirnya membuncah dalam bentuk kekerasan bersenjata.<br />
<br />
Berawal dari keinginan Louis XVI untuk mendapat dukungan kebijakan pajak<br />
baru, ia mengundang pertemuan parlemen negara. Anggota parlemen <br />
merupakan perwakilan kelompok keagamaan (pendeta), kelompok bangsawan, <br />
dan kelompok rakyat jelata. Pertemuan itu berlangsung pada 5 Mei 1789 di<br />
Istana Versailles.<br />
<br />
Kini semua itu menjadi kenangan dan tertancap di otak orang orang <br />
berduit di dunia. Sungguh ini sudah menjadi daya tarik para turis di <br />
seantero ini.<br />
<br />
Sejarah dan peninggalan budaya lama yang menjadi komoditi, juga ada di <br />
Indonesia. Lihatlah Candi Borobudur, Prambanan dan sebagainya. Sumatera <br />
Barat tidak terkecuali. Sejarah itu ada di perpustakaan negara negara <br />
Eropa, terutama Belanda dan Inggeris maupun Jepang yang pernah menjajah <br />
Indonesia.<br />
<br />
Bukti-bukti sejarah itu memang tidak sedahsyat yang dikunjungi di <br />
negara-negara Eropa. Contohnya di Sumatera Barat. Ada Pagaruyung. <br />
Buktinya ada Istano dan banyak prasasti di Batusangkar. Usianya cukup <br />
tua, sekitar tiga abad lebih dulu dari Istana Versailles. Manuskrip <br />
yang dipahat pada bagian belakang Arca Amoghapasa disebutkan dibuat pada<br />
1347.<br />
<br />
Dari prasasti Suruaso yang beraksara Melayu menyebutkan rajanya waktu <br />
itu Adityawarman menyelesaikan pembangunan selokan untuk mengairi taman <br />
Nandana Sri Surawasa yang senantiasa kaya akan padi, yang sebelumnya <br />
dibuat oleh pamannya, Akarendrawarman yang menjadi raja sebelumnya, <br />
sehingga dapat dipastikan sesuai dengan adat Minangkabau, pewarisan dari<br />
mamak (paman) kepada kamanakan (kemenakan) telah terjadi pada masa <br />
tersebut.<br />
<br />
Suatu sejarah yang unik yang bisa dijual ke para turis. Banyak lagi <br />
peninggalan sejarah di Sumatera Barat yang akan bisa jadi komoditi.<br />
<br />
Ada kerajaan Dharmasyara, Indrapura serta objek wisata yang hijau, ada <br />
laut, danau dan gunung, yang tidak dipunyai oleh negara-negara di Eropa.<br />
Tetapi timbul pertanyaan, kenapa kita tidak bisa menjualnya? Ini <br />
tentunya terpulang kepada kita semua, terutama pemerintah kita. (singgalang)</div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">DARLIS SYOFYAN</div>
<div align="justify">ROMBONGAN pelanggan Isuzu Indonesia, <br />
berakhir pekan Jumat lalu di Istana Versailles Paris, Perancis. Istana <br />
itu, dari pusat kota Paris hanya 18 kilometer. Arah barat daya, kota <br />
mode itu. Kami ke sana dengan bus mewah. Pelancong lainnya juga bisa <br />
dengan kereta antar kota, dengan lama tempuh 45 menit.</div>
<a href="http://hariansinggalang.co.id/wp-content/uploads/2012/11/sidar.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://hariansinggalang.co.id/wp-content/uploads/2012/11/sidar-300x224.jpg" border="0" alt="[Image: sidar-300x224.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a>ISTANA VERSAILLES<br />
<br />
<div align="justify">
Karena akhir pekan kami masuk ke istana antri. Namun tak seperti <br />
pengunjung lainnya, yang sebelumnya antri membeli tiket 13,50 Euro atau <br />
sekitar Rp200 ribu.<br />
<br />
Tiket masuk kami sudah diatur sebelumnya oleh Luckytours Jakarta. Ribuan<br />
orang masuk istana itu setiap hari. Pengunjung dari berbagai negara. <br />
Waktu bersama rombongan kami, yang banyak turis dari Jepang dan Cina.<br />
<br />
Istana ini sangat terkenal. Di Indonesia, sudah kita kenal semenjak <br />
pelajaran sejarah di SMA dulu. Mulai dibangun tahun 1624 oleh Louis <br />
XVIII sebagai istana peristirahatan untuk berburu. Kemudian tahun 1661, <br />
oleh Louis XIV dijadikan tempat kediaman resmi raja Perancis. <br />
Pembangunan istana ini memakan waktu 40 tahun, di bawah pimpinan arsitek<br />
Le Van (1612-1670).<br />
<br />
Waktu kami berkunjung hanya beberapa ruang yang dibuka. Kami <br />
menyaksikan antara lain Drawing Room of Plenty, Venus Drawing Room, <br />
Diana Drawing Room, Mars Drawing Room, Mercury Drawing Room, Apollo <br />
Drawing Room, War Drawing Room. Setelah itu masuk pada Hall Of Mirrors <br />
yang besar sekali dengan lampu-lampu kristal bergantungan di <br />
langit-langit.<br />
<br />
Keluar dari Istana Versailles, kami juga menikmati taman seluas 800 <br />
hektar di belakang istana. Dari bagian belakang Versailles, Dr.Rayendra <br />
Sp.Pd bersama rombongan nampak terkatup kagum, melihat hamparan hutan <br />
tempat raja berburu, kolam-kolam istana dan Grand Canal, sebuah kanal <br />
buatan sepanjang 1,5 kilometer.<br />
<br />
Begitu menyebut Versailles dari pelajaran sejarah kita ingat dua <br />
peristiwa penting dan berdampak ke sejarah dunia. Pertama Revolusi <br />
Perancis (1789-1799) dan Traktat Versailles (1919).<br />
<br />
Revolusi Perancis pecah akibat kemarahan rakyat terhadap kebijakan <br />
monarki Perancis yang tidak menyejahterakan rakyat. Dipicu oleh rencana <br />
kenaikan pajak, kekecewaan rakyat yang sudah menumpuk sekian lama <br />
akhirnya membuncah dalam bentuk kekerasan bersenjata.<br />
<br />
Berawal dari keinginan Louis XVI untuk mendapat dukungan kebijakan pajak<br />
baru, ia mengundang pertemuan parlemen negara. Anggota parlemen <br />
merupakan perwakilan kelompok keagamaan (pendeta), kelompok bangsawan, <br />
dan kelompok rakyat jelata. Pertemuan itu berlangsung pada 5 Mei 1789 di<br />
Istana Versailles.<br />
<br />
Kini semua itu menjadi kenangan dan tertancap di otak orang orang <br />
berduit di dunia. Sungguh ini sudah menjadi daya tarik para turis di <br />
seantero ini.<br />
<br />
Sejarah dan peninggalan budaya lama yang menjadi komoditi, juga ada di <br />
Indonesia. Lihatlah Candi Borobudur, Prambanan dan sebagainya. Sumatera <br />
Barat tidak terkecuali. Sejarah itu ada di perpustakaan negara negara <br />
Eropa, terutama Belanda dan Inggeris maupun Jepang yang pernah menjajah <br />
Indonesia.<br />
<br />
Bukti-bukti sejarah itu memang tidak sedahsyat yang dikunjungi di <br />
negara-negara Eropa. Contohnya di Sumatera Barat. Ada Pagaruyung. <br />
Buktinya ada Istano dan banyak prasasti di Batusangkar. Usianya cukup <br />
tua, sekitar tiga abad lebih dulu dari Istana Versailles. Manuskrip <br />
yang dipahat pada bagian belakang Arca Amoghapasa disebutkan dibuat pada<br />
1347.<br />
<br />
Dari prasasti Suruaso yang beraksara Melayu menyebutkan rajanya waktu <br />
itu Adityawarman menyelesaikan pembangunan selokan untuk mengairi taman <br />
Nandana Sri Surawasa yang senantiasa kaya akan padi, yang sebelumnya <br />
dibuat oleh pamannya, Akarendrawarman yang menjadi raja sebelumnya, <br />
sehingga dapat dipastikan sesuai dengan adat Minangkabau, pewarisan dari<br />
mamak (paman) kepada kamanakan (kemenakan) telah terjadi pada masa <br />
tersebut.<br />
<br />
Suatu sejarah yang unik yang bisa dijual ke para turis. Banyak lagi <br />
peninggalan sejarah di Sumatera Barat yang akan bisa jadi komoditi.<br />
<br />
Ada kerajaan Dharmasyara, Indrapura serta objek wisata yang hijau, ada <br />
laut, danau dan gunung, yang tidak dipunyai oleh negara-negara di Eropa.<br />
Tetapi timbul pertanyaan, kenapa kita tidak bisa menjualnya? Ini <br />
tentunya terpulang kepada kita semua, terutama pemerintah kita. (singgalang)</div>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Kereta Api Mogok]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Kereta-Api-Mogok</link>
			<pubDate>Sat, 17 Nov 2012 04:20:26 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Kereta-Api-Mogok</guid>
			<description><![CDATA[<div align="left"><span style="font-weight: bold;">&lt;img src="http://harianhaluan.com/images/stories/Berita8/171112/kereta.jpg" align="left" height="146" width="220" /&gt;PADANG, HALUAN —</span><br />
Kereta api kelas ekonomi jurusan Pariaman-Padang mogok tepat di depan <br />
gerbang Lanud Tabing Padang, Jumat (16/11) sekitar pukul 17.30 WIB. <br />
Lebih kurang satu jam kemudian keretapi itu baru bisa jalan kembali.</div>
<div align="left">Salah seorang petugas kereta api itu mengatakan, <br />
mogoknya angkutan ini disebabkan umur kereta yang sudah sa­ngat tua, <br />
sehingga penam­pung air radiator kereta api bocor dan mengalami <br />
kehabisan sebelum sampai ke stasiun kereta, Jl. Stasiun No. 1 Simpang <br />
Haru, Padang Timur, Padang. Akibatnya, ratusan penum­pang kereta <br />
terlantar, dan mengeluh.<br />
<br />
<br />
</div>
<div align="left">Pantauan <span style="font-style: italic;">Haluan</span>, sejumlah petugas kereta api <br />
melakukan perbaikan dan pengisian ulang air radioator kereta. Hari mulai<br />
gelap, tapi seluruh lampu kereta mati, sehingga penumpang harus gelap <br />
gulita di dalam kereta.</div>
<div align="left">Salah seorang penumpang kereta tujuan Padang Miswar (46)<br />
menge­luh, dan sempat emosi dengan kondisi kereta api tersebut. Karena,<br />
setelah kereta api mogok, tidak satu pun petugas kereta yang <br />
menso­sialisasikan kepada penumpang bahwa ada kerusakan kereta.</div>
<div align="left">“Seperti tidak ada kejadian saja dengan kereta ini, <br />
kalau memang kerena sudah tua, kenapa tidak diganti. Saya jadi terlambat<br />
untuk menghadiri pesta perkawinan kemenekan saya,” katanya.</div>
<div align="left">Begitu juga dengan Andi Marta (31) mengatakan, terpaksa <br />
me­ngurungkan niatnya untuk berlibur dengan keluarga yang dibawanya dari<br />
Kota Pariaman. Ia terpaksa harus menunggu kereta tersebut diperbaiki, <br />
karena barang-barang yang dibawanya pun cukup banyak dan tidak bisa <br />
dibawa dengan menggunakan angkutan umum.</div>
“Kalau kami naik angkutan umum, mereka tidak akan mau membawa kami, karena akan mengganggu penumpang lain,” ulasnya. <span style="font-weight: bold;">(h/cw-wis)</span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="left"><span style="font-weight: bold;">&lt;img src="http://harianhaluan.com/images/stories/Berita8/171112/kereta.jpg" align="left" height="146" width="220" /&gt;PADANG, HALUAN —</span><br />
Kereta api kelas ekonomi jurusan Pariaman-Padang mogok tepat di depan <br />
gerbang Lanud Tabing Padang, Jumat (16/11) sekitar pukul 17.30 WIB. <br />
Lebih kurang satu jam kemudian keretapi itu baru bisa jalan kembali.</div>
<div align="left">Salah seorang petugas kereta api itu mengatakan, <br />
mogoknya angkutan ini disebabkan umur kereta yang sudah sa­ngat tua, <br />
sehingga penam­pung air radiator kereta api bocor dan mengalami <br />
kehabisan sebelum sampai ke stasiun kereta, Jl. Stasiun No. 1 Simpang <br />
Haru, Padang Timur, Padang. Akibatnya, ratusan penum­pang kereta <br />
terlantar, dan mengeluh.<br />
<br />
<br />
</div>
<div align="left">Pantauan <span style="font-style: italic;">Haluan</span>, sejumlah petugas kereta api <br />
melakukan perbaikan dan pengisian ulang air radioator kereta. Hari mulai<br />
gelap, tapi seluruh lampu kereta mati, sehingga penumpang harus gelap <br />
gulita di dalam kereta.</div>
<div align="left">Salah seorang penumpang kereta tujuan Padang Miswar (46)<br />
menge­luh, dan sempat emosi dengan kondisi kereta api tersebut. Karena,<br />
setelah kereta api mogok, tidak satu pun petugas kereta yang <br />
menso­sialisasikan kepada penumpang bahwa ada kerusakan kereta.</div>
<div align="left">“Seperti tidak ada kejadian saja dengan kereta ini, <br />
kalau memang kerena sudah tua, kenapa tidak diganti. Saya jadi terlambat<br />
untuk menghadiri pesta perkawinan kemenekan saya,” katanya.</div>
<div align="left">Begitu juga dengan Andi Marta (31) mengatakan, terpaksa <br />
me­ngurungkan niatnya untuk berlibur dengan keluarga yang dibawanya dari<br />
Kota Pariaman. Ia terpaksa harus menunggu kereta tersebut diperbaiki, <br />
karena barang-barang yang dibawanya pun cukup banyak dan tidak bisa <br />
dibawa dengan menggunakan angkutan umum.</div>
“Kalau kami naik angkutan umum, mereka tidak akan mau membawa kami, karena akan mengganggu penumpang lain,” ulasnya. <span style="font-weight: bold;">(h/cw-wis)</span>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Belajar dari Bung Hatta]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Belajar-dari-Bung-Hatta</link>
			<pubDate>Wed, 14 Nov 2012 02:33:23 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Belajar-dari-Bung-Hatta</guid>
			<description><![CDATA[<div align="justify"><span style="font-weight: bold;">Pasti </span>tidak<br />
asing lagi dalam benak kita, sosok proklamator asal Sumatera Barat yang<br />
selalu kita kagumi ini. Dalam sepak terjang kehidupan pahlawan yang <br />
baru saja di tegaskan presiden sebagai pahlawan nasional ini, setidaknya<br />
ada lima posisi strategis yang dijalaninya dalam sejarah Indonesia. <br />
Pertama, beliau pernah aktif dalam <span style="font-style: italic;">Indonesische Vereniging </span>yang<br />
kemudian berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia dan beberapa <br />
periode sempat menjadi ketua. Saat itu perkumpulan yang ditekuni oleh <br />
Bung Hatta ini pernah menerbitkan majalah bernama Indonesia Merdeka <br />
yang menjadi bahan bacaan pemimpin pergerakan di Tanah Air. Bahkan <br />
menurut sejarahwan Asvi Warman, beliau bersama perkumpulannya per­nah <br />
mengeluarkan manifesto politik yang dianggap oleh Prof. Sartono <br />
Kartodirdjo lebih fundamental dan komprehensif dari Sumpah Pemuda 1928. <br />
Manifesto tersebut tidak hanya berisi persatuan tetapi terdiri dari <span style="font-style: italic;">unity, egality </span>dan <span style="font-style: italic;">liberty</span><br />
(persatuan, kesetaraan dan kemerdekaan). Persa­tuan saja tak cukup, <br />
tetapi harus berlangsung dalam suasana kemer­de­kaan. Dan dilengkapi <br />
dengan ke­seta­raan antarwarga (warga suatu negara bah­kan warga dunia).<br />
Begitu apiknya pe­mikiran pahlawan terdahulu yang menembus hakikat <br />
sebuah negara mandiri.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Posisi strategis kedua yakni tanggal 17 <br />
Agustus 1945, dimana Indonesia dikukuhkan sebagai sebuah negara merdeka.<br />
Beliau bersama Soekarno memproklamirkan kemerdekaan Ta­nah Air dan <br />
menandatangani atas nama bangsa Indonesia. Sebetulnya per­nah diusulkan <br />
agar teks Proklamasi itu ditandatangani oleh beberapa tokoh yang hadir <br />
dalam rapat sehari sebelum kemerdekaan di rumah Laksamana Maeda (kini di<br />
jalan Imam Bonjol Jakarta). Dari peristiwa itu, kita me­lihat bahwa <br />
para pahlawan terdahulu begitu kompak dan saling menghargai satu sama <br />
lainnya. Berjuang atas nama ke­pentingan bersama. Bagaimana de­ngan <br />
konteks kekinian?. Kita melihat pa­rodi politikus yang ingin berjuang, <br />
tapi untuk siapa? Tak lebih dari per­jua­ngan kepentingan pribadi dan <br />
kelom­pok. Apakah kita tidak mewarisi cara-ca­ra perjuangan bersama, <br />
egaliter da­lam menatap perbaikan bangsa? Ten­tu tidak, itu muncul <br />
dalam rezim ke­kinian akibat tak dimaknainya lagi per­juangan pahlawan <br />
yang dulu ber­juang.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Adapun posisi ketiga yang tak kalah <br />
strategis ialah esok hari setelah prok­la­masi, Panitia Persiapan <br />
Ke­mer­de­kaan Indonesia (PPKI) mengesahkan UUD 1945 dan Pancasila. <br />
Polemik ketika itu adalah munculnya 7 kata (kewajiban menjalankan <br />
syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya) dalam UUD 1945. Bung Hatta yang <br />
men­de­ngar kabar ancaman dari Indonesia Bagian Timur mengancam akan <br />
keluar dari Indonesia bila kata-kata tersebut tetap bertengger dalam <br />
konstitusi. Beliau berusaha melobi beberapa tokoh Islam agar klausa <br />
tersebut dihilangkan. Upaya itu berhasil. Hatta sebagai seorang yang <br />
taat pada Islam, tetapi ia dapat menenggang perasaan warga sebangsa yang<br />
menganut agama ber­be­da. Dari persitiwa bersejarah ini kita dapat <br />
belajar bagaimana seorang tokoh pahlawan Islam punya pemikiran <br />
pru­larisme, begitu menghargai perbedaan guna persatuan dan perdamaian. <br />
Jika kita membandingkannya dengan rea­litas kehidupan saat ini, <br />
pemikiran ya­ng prularis dan menghargai perbedaan begitu sulit <br />
ditemukan. Ego-ego ke­per­ca­yaan yang mencuat, konflik atas na­ma agama<br />
yang mendiskriminasi go­longan minoritas jamak kita temukan. <br />
Me­lencengnya tujuan bernegara yang telah diwariskan oleh pahlawan, tak <br />
lagi dimaknai, dilupakan dan hanya dija­di­kan momentum serimonial untuk<br />
ber­sorak-sorai.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Setelah bangsa ini berdiri dengan sang <br />
merah putih, posisi strategis beliau yang keempat yakni menerima <br />
penyerahan kedaulatan. Kedaulatan yang diakui di Negeri Belanda bulan <br />
Desember 1949. Republik Indonesia Se­rikat (RIS) terpaksa dibentuk <br />
bebe­ra­pa bulan, kemudian dilebur kembali men­jadi NKRI. Diplomasi dan <br />
metode yang begitu hebat. Bersedia mengalah se­jenak demi tujuan besar <br />
pem­ben­tu­kan NKRI dari sabang hingga Merauke. Ma­sih begitukah posisi <br />
kita dalam pergulatan hubungan Internasional yang kita jalin saat ini?. <br />
Duta dan konsulat kita yang tersebar seakan hanya menjadi formalitas <br />
perdamaian bangsa kita dengan negara lain. Tak ada lagi perjuangan guna <br />
kepentingan bangsa yang terlihat, bahkan negara kita lah yang dimainkan <br />
bagaikan boneka oleh bangsa lain. Mengharap investor asing dengan modal <br />
besar, kita menampikkan posisi, martabat dan kemandirian Indonesia.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Posisi strategis kelima yakni Bung Hatta<br />
yang menjalin Dwi Tunggal kepemimpinan yang tangguh dari tahun 1945 <br />
hingga tahun 1955 bersama Soekarno. Begitu berani dan tangguh hingga <br />
semua orang taat karena me­re­ka berpijak dari kepentingan ma­sya­rakat.<br />
Sebagai contoh, ketika per­de­ba­tan di Komite Nasional Indonesia Pusat<br />
(KN­IP) Februari 1947 perjanjian Lin­g­gar­­jati dikritik keras <br />
kelompok oposisi, pa­dahal kondisi tengah gawat karena Be­­landa <br />
membentuk Negara Indonesia Ti­­mur. Maka Hatta sempat berkata, ka­lau <br />
kebijakan pemerintah tidak di­se­tu­jui, silakan mencari permimpin lain <br />
di luar Soekarno-Hatta. Tahun 1948 juga dilontarkan ucapan senada oleh <br />
Bung Karno, pilih Soekarno-Hatta atau Musso. Ketegasan yang tergam­bar, <br />
bukan otoriter yang menggerus as­pi­rasi rakyat yang kini kita temukan. <br />
Ke­­pemimpinan yang tegas namun men­­damaikan. Pemimpin sekarang <br />
me­­mang harus membolak-balik lagi ba­­caan sejarah pahlawan kita <br />
ter­da­hulu.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Proklamator asal Sumbar yang sempat <br />
memegang jabatan perdana menteri dalam masa RIS ini juga memperlihatkan <br />
martabatnya di peng­hu­jung kepemimpinannya. Beliau men­gundurkan diri <br />
pada tahun 1956 dari wakil presiden untuk memberikan kesempatan pada <br />
Bung Karno men­ja­lankan konsepsinya. Bung Karno me­mim­pin sendirian. <br />
Penentanganpun mencuat dari daerah seperti PRRI/Permesta. Meskipun tidak<br />
sejalan dengan tandemnya, beliau tidak ikut campur dalam PRRI.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Setelah lengser berliau mendirikan <br />
PNI-Baru yakni Pendidikan Nasional Indonesia. Hatta adalah orang yang <br />
taat akan Islam dan hidup dengan norma kebiasaan yang ia junjung tinggi.<br />
Menurut Asvi Warwan (2012) beliau ketika masuk ke kamar anaknya selalu <br />
mengetok pintu. Sosok disiplin dalam menjaga waktu, beliau pernah <br />
menolak orang yang mewawancarainya ketika terlambat. Di dalam sebuah <br />
seminar, Deliar Noer sebagai moderator pernah menyindir beliau ketika <br />
datang terlam­bat. Beliau hanya tersenyum, namun ketika diberi <br />
kesempatan berbicara ia menjelaskan bahwa panitia yang ter­lam­bat <br />
menjemputnya, padahal ia su­dah siap di rumah. Ia juga tidak marah <br />
ketiaka Deliar Noer menyetop pem­bi­caraannya karena waktu yang <br />
dise­dia­kan untuk pembicara sudah habis. Su­ngguh sosok yang menghargai<br />
kepen­ti­ngan bersama, ketimbang ego pribadi semata. Dalam kehidupan <br />
pribadi maupun dalam posisi negarawan, Hatta telah menerapkannya secara <br />
konsisten dari masa muda sampai akhir hayatnya.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Seharusnya momentum hari pah­la­wan ini <br />
dijadikan refleksi bagi setiap pemangku jabatan publik di pelosok <br />
ne­geri. Presiden SBY yang me­ngo­koh­kan Soekarno-Hatta sebagai <br />
Pahlawan Nasional, jangan hanya jadi formalitas yang kemudian tak <br />
berbekas. Wa­lau­pun mereka tak dikukuhkan sebagai Pahlawan nasional, <br />
namun dalam hati kita seharusnya catatan kehidupan Duo-Proklamator <br />
tersebut tetap kita jadikan pembelajaran bersama. Apalagi disaat krisis <br />
kepemimpinan tengah disepakati melanda. Semoga hari pahlawan dijadikan <br />
hari renungan, bukan hari hiburan. <span style="font-weight: bold;">(padangekspres)</span></div>Oleh : Roky Septiari<br />
Wakil Ketua LAM&amp;PK FH UA<br />
<div align="justify"></div><div align="justify"></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="justify"><span style="font-weight: bold;">Pasti </span>tidak<br />
asing lagi dalam benak kita, sosok proklamator asal Sumatera Barat yang<br />
selalu kita kagumi ini. Dalam sepak terjang kehidupan pahlawan yang <br />
baru saja di tegaskan presiden sebagai pahlawan nasional ini, setidaknya<br />
ada lima posisi strategis yang dijalaninya dalam sejarah Indonesia. <br />
Pertama, beliau pernah aktif dalam <span style="font-style: italic;">Indonesische Vereniging </span>yang<br />
kemudian berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia dan beberapa <br />
periode sempat menjadi ketua. Saat itu perkumpulan yang ditekuni oleh <br />
Bung Hatta ini pernah menerbitkan majalah bernama Indonesia Merdeka <br />
yang menjadi bahan bacaan pemimpin pergerakan di Tanah Air. Bahkan <br />
menurut sejarahwan Asvi Warman, beliau bersama perkumpulannya per­nah <br />
mengeluarkan manifesto politik yang dianggap oleh Prof. Sartono <br />
Kartodirdjo lebih fundamental dan komprehensif dari Sumpah Pemuda 1928. <br />
Manifesto tersebut tidak hanya berisi persatuan tetapi terdiri dari <span style="font-style: italic;">unity, egality </span>dan <span style="font-style: italic;">liberty</span><br />
(persatuan, kesetaraan dan kemerdekaan). Persa­tuan saja tak cukup, <br />
tetapi harus berlangsung dalam suasana kemer­de­kaan. Dan dilengkapi <br />
dengan ke­seta­raan antarwarga (warga suatu negara bah­kan warga dunia).<br />
Begitu apiknya pe­mikiran pahlawan terdahulu yang menembus hakikat <br />
sebuah negara mandiri.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Posisi strategis kedua yakni tanggal 17 <br />
Agustus 1945, dimana Indonesia dikukuhkan sebagai sebuah negara merdeka.<br />
Beliau bersama Soekarno memproklamirkan kemerdekaan Ta­nah Air dan <br />
menandatangani atas nama bangsa Indonesia. Sebetulnya per­nah diusulkan <br />
agar teks Proklamasi itu ditandatangani oleh beberapa tokoh yang hadir <br />
dalam rapat sehari sebelum kemerdekaan di rumah Laksamana Maeda (kini di<br />
jalan Imam Bonjol Jakarta). Dari peristiwa itu, kita me­lihat bahwa <br />
para pahlawan terdahulu begitu kompak dan saling menghargai satu sama <br />
lainnya. Berjuang atas nama ke­pentingan bersama. Bagaimana de­ngan <br />
konteks kekinian?. Kita melihat pa­rodi politikus yang ingin berjuang, <br />
tapi untuk siapa? Tak lebih dari per­jua­ngan kepentingan pribadi dan <br />
kelom­pok. Apakah kita tidak mewarisi cara-ca­ra perjuangan bersama, <br />
egaliter da­lam menatap perbaikan bangsa? Ten­tu tidak, itu muncul <br />
dalam rezim ke­kinian akibat tak dimaknainya lagi per­juangan pahlawan <br />
yang dulu ber­juang.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Adapun posisi ketiga yang tak kalah <br />
strategis ialah esok hari setelah prok­la­masi, Panitia Persiapan <br />
Ke­mer­de­kaan Indonesia (PPKI) mengesahkan UUD 1945 dan Pancasila. <br />
Polemik ketika itu adalah munculnya 7 kata (kewajiban menjalankan <br />
syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya) dalam UUD 1945. Bung Hatta yang <br />
men­de­ngar kabar ancaman dari Indonesia Bagian Timur mengancam akan <br />
keluar dari Indonesia bila kata-kata tersebut tetap bertengger dalam <br />
konstitusi. Beliau berusaha melobi beberapa tokoh Islam agar klausa <br />
tersebut dihilangkan. Upaya itu berhasil. Hatta sebagai seorang yang <br />
taat pada Islam, tetapi ia dapat menenggang perasaan warga sebangsa yang<br />
menganut agama ber­be­da. Dari persitiwa bersejarah ini kita dapat <br />
belajar bagaimana seorang tokoh pahlawan Islam punya pemikiran <br />
pru­larisme, begitu menghargai perbedaan guna persatuan dan perdamaian. <br />
Jika kita membandingkannya dengan rea­litas kehidupan saat ini, <br />
pemikiran ya­ng prularis dan menghargai perbedaan begitu sulit <br />
ditemukan. Ego-ego ke­per­ca­yaan yang mencuat, konflik atas na­ma agama<br />
yang mendiskriminasi go­longan minoritas jamak kita temukan. <br />
Me­lencengnya tujuan bernegara yang telah diwariskan oleh pahlawan, tak <br />
lagi dimaknai, dilupakan dan hanya dija­di­kan momentum serimonial untuk<br />
ber­sorak-sorai.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Setelah bangsa ini berdiri dengan sang <br />
merah putih, posisi strategis beliau yang keempat yakni menerima <br />
penyerahan kedaulatan. Kedaulatan yang diakui di Negeri Belanda bulan <br />
Desember 1949. Republik Indonesia Se­rikat (RIS) terpaksa dibentuk <br />
bebe­ra­pa bulan, kemudian dilebur kembali men­jadi NKRI. Diplomasi dan <br />
metode yang begitu hebat. Bersedia mengalah se­jenak demi tujuan besar <br />
pem­ben­tu­kan NKRI dari sabang hingga Merauke. Ma­sih begitukah posisi <br />
kita dalam pergulatan hubungan Internasional yang kita jalin saat ini?. <br />
Duta dan konsulat kita yang tersebar seakan hanya menjadi formalitas <br />
perdamaian bangsa kita dengan negara lain. Tak ada lagi perjuangan guna <br />
kepentingan bangsa yang terlihat, bahkan negara kita lah yang dimainkan <br />
bagaikan boneka oleh bangsa lain. Mengharap investor asing dengan modal <br />
besar, kita menampikkan posisi, martabat dan kemandirian Indonesia.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Posisi strategis kelima yakni Bung Hatta<br />
yang menjalin Dwi Tunggal kepemimpinan yang tangguh dari tahun 1945 <br />
hingga tahun 1955 bersama Soekarno. Begitu berani dan tangguh hingga <br />
semua orang taat karena me­re­ka berpijak dari kepentingan ma­sya­rakat.<br />
Sebagai contoh, ketika per­de­ba­tan di Komite Nasional Indonesia Pusat<br />
(KN­IP) Februari 1947 perjanjian Lin­g­gar­­jati dikritik keras <br />
kelompok oposisi, pa­dahal kondisi tengah gawat karena Be­­landa <br />
membentuk Negara Indonesia Ti­­mur. Maka Hatta sempat berkata, ka­lau <br />
kebijakan pemerintah tidak di­se­tu­jui, silakan mencari permimpin lain <br />
di luar Soekarno-Hatta. Tahun 1948 juga dilontarkan ucapan senada oleh <br />
Bung Karno, pilih Soekarno-Hatta atau Musso. Ketegasan yang tergam­bar, <br />
bukan otoriter yang menggerus as­pi­rasi rakyat yang kini kita temukan. <br />
Ke­­pemimpinan yang tegas namun men­­damaikan. Pemimpin sekarang <br />
me­­mang harus membolak-balik lagi ba­­caan sejarah pahlawan kita <br />
ter­da­hulu.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Proklamator asal Sumbar yang sempat <br />
memegang jabatan perdana menteri dalam masa RIS ini juga memperlihatkan <br />
martabatnya di peng­hu­jung kepemimpinannya. Beliau men­gundurkan diri <br />
pada tahun 1956 dari wakil presiden untuk memberikan kesempatan pada <br />
Bung Karno men­ja­lankan konsepsinya. Bung Karno me­mim­pin sendirian. <br />
Penentanganpun mencuat dari daerah seperti PRRI/Permesta. Meskipun tidak<br />
sejalan dengan tandemnya, beliau tidak ikut campur dalam PRRI.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Setelah lengser berliau mendirikan <br />
PNI-Baru yakni Pendidikan Nasional Indonesia. Hatta adalah orang yang <br />
taat akan Islam dan hidup dengan norma kebiasaan yang ia junjung tinggi.<br />
Menurut Asvi Warwan (2012) beliau ketika masuk ke kamar anaknya selalu <br />
mengetok pintu. Sosok disiplin dalam menjaga waktu, beliau pernah <br />
menolak orang yang mewawancarainya ketika terlambat. Di dalam sebuah <br />
seminar, Deliar Noer sebagai moderator pernah menyindir beliau ketika <br />
datang terlam­bat. Beliau hanya tersenyum, namun ketika diberi <br />
kesempatan berbicara ia menjelaskan bahwa panitia yang ter­lam­bat <br />
menjemputnya, padahal ia su­dah siap di rumah. Ia juga tidak marah <br />
ketiaka Deliar Noer menyetop pem­bi­caraannya karena waktu yang <br />
dise­dia­kan untuk pembicara sudah habis. Su­ngguh sosok yang menghargai<br />
kepen­ti­ngan bersama, ketimbang ego pribadi semata. Dalam kehidupan <br />
pribadi maupun dalam posisi negarawan, Hatta telah menerapkannya secara <br />
konsisten dari masa muda sampai akhir hayatnya.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Seharusnya momentum hari pah­la­wan ini <br />
dijadikan refleksi bagi setiap pemangku jabatan publik di pelosok <br />
ne­geri. Presiden SBY yang me­ngo­koh­kan Soekarno-Hatta sebagai <br />
Pahlawan Nasional, jangan hanya jadi formalitas yang kemudian tak <br />
berbekas. Wa­lau­pun mereka tak dikukuhkan sebagai Pahlawan nasional, <br />
namun dalam hati kita seharusnya catatan kehidupan Duo-Proklamator <br />
tersebut tetap kita jadikan pembelajaran bersama. Apalagi disaat krisis <br />
kepemimpinan tengah disepakati melanda. Semoga hari pahlawan dijadikan <br />
hari renungan, bukan hari hiburan. <span style="font-weight: bold;">(padangekspres)</span></div>Oleh : Roky Septiari<br />
Wakil Ketua LAM&amp;PK FH UA<br />
<div align="justify"></div><div align="justify"></div>]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Bertaruh Nasib pada Kacang Goreng ]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Bertaruh-Nasib-pada-Kacang-Goreng</link>
			<pubDate>Sun, 11 Nov 2012 10:10:28 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Bertaruh-Nasib-pada-Kacang-Goreng</guid>
			<description><![CDATA[&lt;img src="http://inioke.com//foto/berita/DSCF1314.JPG" align="left" width="300" /&gt;<br />
Rusli dan kacang gorengnya di Simpang Terandam Kota Padang.(del/inioke)<br />
<br />
Setelah<br />
bersitungkin dengan pekerjaannya sebagai buruh di Pelabuhan Teluk <br />
Bayur, Rusli (60) kembali mempertaruhkan nasibnya pada kacang goreng <br />
saja. Ia setia dan tetap bertahan di atas batu sepanjang malam di <br />
simpang tiga Jalan Terandam Kota Padang untuk menjajakan kacang goreng.<br />
<br />
Tampak Rusli turun dari ojek tepat di simpang Jalan Terandam selepas <br />
maghrib, dua pekan lalu. Ia bergegas menuju sebuah batu besar dan <br />
menaruh wadah kacang goreng di sana. Udara yang dingin dihalaunya dengan<br />
sepasang kaus kaki. Ia pun duduk di situ seraya menyalakan lampu obor. <br />
Jam tangan di lengan kiri, gelang di tangan kanan, Rusli pun duduk <br />
menunggu pembeli.<br />
<br />
“Dulu, sambil jadi kuli pelabuhan, saya berjalan kaki dari rumah di <br />
Pauh menuju Teluk Bayur untuk jualan kacang goreng,” tutur Rusli saat <br />
ditemui dua pekan lalu, seraya menyulut sebatang rokoknya dan memasang <span style="font-style: italic;">deta</span> (penutup kepala khas Sumatera Barat) di kepalanya.<br />
<br />
Itu dahulu, ketika serangan gestapu meletus, sembari <br />
menjajakan kacang goreng, Rusli juga bekerja mengangkat pupuk dan beras <br />
ke gudang di pelabuhan Teluk Bayur. Tak ada listrik di sepanjang jalan, <br />
selepas maghrib pun Rusli duduk di atas batu di simpang Jalan Terandam. <br />
Kebiasaan menyalakan obor, meski listrik sudah ada, tetap tidak bisa <br />
hilang. Limapuluh tahun sudah ia berdagang kacang goreng.<br />
<br />
“Kalau dulu, kacang bisa diambil di ladang saya di Pauh. Sekarang sepuluh gantang kacang harganya Rp 95ribu,” ungkap Rusli lagi.<br />
<br />
Satu malam, Rusli bisa menghasilkan sekitar Rp 150ribu dari penjualan<br />
2,5 kilogram kacang goreng. Sorenya, sebelum berangkat dari rumahnya <br />
menaiki ojek, Rusli menggoreng kacang tersebut sekitar satu jam di atas <br />
dandang di pondoknya sebelum siap dijual.<br />
<br />
Merendang kacang, tukas Rusli, tidak boleh sampai hangus. Merendang <br />
kacang harus menggunakan kasiak (pasir), lalu kacang yang dimasukkan ke <br />
dalam dandang lekas dikacau sampai berdencus, tidak boleh berhenti <br />
mengacaunya sampai aromanya menguar.<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Dari Pondok ke Pondok</span><br />
<br />
<div align="center"><img src="http://inioke.com/foto/berita/DSCF13275.JPG" border="0" alt="[Image: DSCF13275.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></div>
<div align="center"><span style="font-style: italic;">Rusli asyik berdialog dengan calon pembeli.(del/inioke)</span></div>
Sebelum memiliki pondok sendiri dari hasil penjualan sapi miliknya <br />
seharga Rp 16juta, Rusli menumpang di pondok (tepatnya di kandang ayam) <br />
milik Haji Rasyid. “Berapa umur Apak (Bapak) di KTP ingin saya bikin?” <br />
tutur Rusli menirukan ucapan Haji Rasyid yang juga ketua RT di Ketaping,<br />
tempat tinggal Rasyid.<br />
<br />
Haji Rasyid baik orangnya, tetapi Rusli hanya mau bertahan selama dua<br />
bulan di sana. Rusli sempat pulang ke kampung kemenakannya di Pasaman <br />
Barat. Ia hanya tujuh bulan di sana. Tidak betah berkebun sawit.<br />
<br />
Lalu, tetangga Haji Rasyid, Aman namanya, menawarkan agar Rusli mau <br />
tinggal di pondoknya. Setujulah Rusli akhirnya. Lobang-lobang di pondok <br />
tersebut ia tutupi dengan kertas semen dan kertas almanak. Pondok itu ia<br />
cat. Maka berkemaslah Rusli memindahkan barangnya ke pondok Aman.<br />
<br />
“Istri Aman pernah bilang begini, Apak tinggal saja di sini, nanti mati juga di sini saja,” jelas Rusli menirukan istri Aman.<br />
<br />
Tetapi, kenyataannya tidaklah demikian. Rusli mendapati keluarga Aman<br />
mulutnya pedas-pedas dan sering menyindir, berusaha mengusir Rusli. <br />
Dengan menjual sapinya, Rusli mendirikan pondoknya sendiri. Merendang <br />
kacang di pondoknya itu tanpa perlu kawatir lagi.<br />
<br />
Tanah di pondok yang ia dirikan itu dibelinya murah—semeternya Rp <br />
150ribu. “Saya beli tanah itu seluas 180 meter. Menjelang bulan puasa <br />
tempo hari, saya sudah pindah ke pondok yang baru,” ungkap Rusli.<br />
<br />
Sepuluh tahun Rusli hidup sendiri, ditinggal istri dan anak-anaknya. <br />
“Saya berpisah elok-elok dengan istri saya. Dia membawa delapan anak <br />
saya. Anak-anak dan istri tidak mau terima saya lagi. Apak hanya bisa <br />
bilang, jangan sampai iba hati, kaciak hati (berkecil hati). Apak tegak <br />
di nan satu, jangan tegak di nan sekian,” ungkap Rusli dengan airmuka <br />
berkaca-kaca.<br />
<br />
Dua tahun yang lalu, Rusli sempat didatangi seorang mahasiswa <br />
Universitas Andalas yang ingin memotretnya. Hasil foto mahasiswa <br />
tersebut dipajang Rusli di pondoknya. “Mahasiswa itu juga memberi saya <span style="font-style: italic;">handphone</span>,” Rusli berkata lagi seraya memerlihatkan <span style="font-style: italic;">handphone</span><br />
Nexian miliknya. Benda itu jugalah yang membantu Rusli untuk <br />
menghubungi tukang ojek apabila ia ingin pulang ke pondoknya di malam <br />
hari usai berdagang kacang goreng.<br />
<br />
“Saya tidak pandai mengirim pesan, jadi kalau perlu apa-apa saya telepon saja tukang ojeknya.”<br />
<br />
<span style="font-style: italic;">Handphone</span> Rusli tiba-tiba berdering. Seraya mengangkat satu <br />
kakinya ke atas batu, ia pun asyik bercakap-cakap dengan seseorang yang <br />
entah siapa sedang mengucapkan selamat idul adha kepada Rusli. Tak ada <br />
hari libur, bagi Rusli, setiap hari adalah bekerja. Meski hidup sendiri,<br />
berdagang kacang goreng adalah jalan yang dipilihnya.(del/inioke)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[&lt;img src="http://inioke.com//foto/berita/DSCF1314.JPG" align="left" width="300" /&gt;<br />
Rusli dan kacang gorengnya di Simpang Terandam Kota Padang.(del/inioke)<br />
<br />
Setelah<br />
bersitungkin dengan pekerjaannya sebagai buruh di Pelabuhan Teluk <br />
Bayur, Rusli (60) kembali mempertaruhkan nasibnya pada kacang goreng <br />
saja. Ia setia dan tetap bertahan di atas batu sepanjang malam di <br />
simpang tiga Jalan Terandam Kota Padang untuk menjajakan kacang goreng.<br />
<br />
Tampak Rusli turun dari ojek tepat di simpang Jalan Terandam selepas <br />
maghrib, dua pekan lalu. Ia bergegas menuju sebuah batu besar dan <br />
menaruh wadah kacang goreng di sana. Udara yang dingin dihalaunya dengan<br />
sepasang kaus kaki. Ia pun duduk di situ seraya menyalakan lampu obor. <br />
Jam tangan di lengan kiri, gelang di tangan kanan, Rusli pun duduk <br />
menunggu pembeli.<br />
<br />
“Dulu, sambil jadi kuli pelabuhan, saya berjalan kaki dari rumah di <br />
Pauh menuju Teluk Bayur untuk jualan kacang goreng,” tutur Rusli saat <br />
ditemui dua pekan lalu, seraya menyulut sebatang rokoknya dan memasang <span style="font-style: italic;">deta</span> (penutup kepala khas Sumatera Barat) di kepalanya.<br />
<br />
Itu dahulu, ketika serangan gestapu meletus, sembari <br />
menjajakan kacang goreng, Rusli juga bekerja mengangkat pupuk dan beras <br />
ke gudang di pelabuhan Teluk Bayur. Tak ada listrik di sepanjang jalan, <br />
selepas maghrib pun Rusli duduk di atas batu di simpang Jalan Terandam. <br />
Kebiasaan menyalakan obor, meski listrik sudah ada, tetap tidak bisa <br />
hilang. Limapuluh tahun sudah ia berdagang kacang goreng.<br />
<br />
“Kalau dulu, kacang bisa diambil di ladang saya di Pauh. Sekarang sepuluh gantang kacang harganya Rp 95ribu,” ungkap Rusli lagi.<br />
<br />
Satu malam, Rusli bisa menghasilkan sekitar Rp 150ribu dari penjualan<br />
2,5 kilogram kacang goreng. Sorenya, sebelum berangkat dari rumahnya <br />
menaiki ojek, Rusli menggoreng kacang tersebut sekitar satu jam di atas <br />
dandang di pondoknya sebelum siap dijual.<br />
<br />
Merendang kacang, tukas Rusli, tidak boleh sampai hangus. Merendang <br />
kacang harus menggunakan kasiak (pasir), lalu kacang yang dimasukkan ke <br />
dalam dandang lekas dikacau sampai berdencus, tidak boleh berhenti <br />
mengacaunya sampai aromanya menguar.<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Dari Pondok ke Pondok</span><br />
<br />
<div align="center"><img src="http://inioke.com/foto/berita/DSCF13275.JPG" border="0" alt="[Image: DSCF13275.JPG]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></div>
<div align="center"><span style="font-style: italic;">Rusli asyik berdialog dengan calon pembeli.(del/inioke)</span></div>
Sebelum memiliki pondok sendiri dari hasil penjualan sapi miliknya <br />
seharga Rp 16juta, Rusli menumpang di pondok (tepatnya di kandang ayam) <br />
milik Haji Rasyid. “Berapa umur Apak (Bapak) di KTP ingin saya bikin?” <br />
tutur Rusli menirukan ucapan Haji Rasyid yang juga ketua RT di Ketaping,<br />
tempat tinggal Rasyid.<br />
<br />
Haji Rasyid baik orangnya, tetapi Rusli hanya mau bertahan selama dua<br />
bulan di sana. Rusli sempat pulang ke kampung kemenakannya di Pasaman <br />
Barat. Ia hanya tujuh bulan di sana. Tidak betah berkebun sawit.<br />
<br />
Lalu, tetangga Haji Rasyid, Aman namanya, menawarkan agar Rusli mau <br />
tinggal di pondoknya. Setujulah Rusli akhirnya. Lobang-lobang di pondok <br />
tersebut ia tutupi dengan kertas semen dan kertas almanak. Pondok itu ia<br />
cat. Maka berkemaslah Rusli memindahkan barangnya ke pondok Aman.<br />
<br />
“Istri Aman pernah bilang begini, Apak tinggal saja di sini, nanti mati juga di sini saja,” jelas Rusli menirukan istri Aman.<br />
<br />
Tetapi, kenyataannya tidaklah demikian. Rusli mendapati keluarga Aman<br />
mulutnya pedas-pedas dan sering menyindir, berusaha mengusir Rusli. <br />
Dengan menjual sapinya, Rusli mendirikan pondoknya sendiri. Merendang <br />
kacang di pondoknya itu tanpa perlu kawatir lagi.<br />
<br />
Tanah di pondok yang ia dirikan itu dibelinya murah—semeternya Rp <br />
150ribu. “Saya beli tanah itu seluas 180 meter. Menjelang bulan puasa <br />
tempo hari, saya sudah pindah ke pondok yang baru,” ungkap Rusli.<br />
<br />
Sepuluh tahun Rusli hidup sendiri, ditinggal istri dan anak-anaknya. <br />
“Saya berpisah elok-elok dengan istri saya. Dia membawa delapan anak <br />
saya. Anak-anak dan istri tidak mau terima saya lagi. Apak hanya bisa <br />
bilang, jangan sampai iba hati, kaciak hati (berkecil hati). Apak tegak <br />
di nan satu, jangan tegak di nan sekian,” ungkap Rusli dengan airmuka <br />
berkaca-kaca.<br />
<br />
Dua tahun yang lalu, Rusli sempat didatangi seorang mahasiswa <br />
Universitas Andalas yang ingin memotretnya. Hasil foto mahasiswa <br />
tersebut dipajang Rusli di pondoknya. “Mahasiswa itu juga memberi saya <span style="font-style: italic;">handphone</span>,” Rusli berkata lagi seraya memerlihatkan <span style="font-style: italic;">handphone</span><br />
Nexian miliknya. Benda itu jugalah yang membantu Rusli untuk <br />
menghubungi tukang ojek apabila ia ingin pulang ke pondoknya di malam <br />
hari usai berdagang kacang goreng.<br />
<br />
“Saya tidak pandai mengirim pesan, jadi kalau perlu apa-apa saya telepon saja tukang ojeknya.”<br />
<br />
<span style="font-style: italic;">Handphone</span> Rusli tiba-tiba berdering. Seraya mengangkat satu <br />
kakinya ke atas batu, ia pun asyik bercakap-cakap dengan seseorang yang <br />
entah siapa sedang mengucapkan selamat idul adha kepada Rusli. Tak ada <br />
hari libur, bagi Rusli, setiap hari adalah bekerja. Meski hidup sendiri,<br />
berdagang kacang goreng adalah jalan yang dipilihnya.(del/inioke)]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Imam Masjidil Haram dari Minangkabau ]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Imam-Masjidil-Haram-dari-Minangkabau</link>
			<pubDate>Tue, 06 Nov 2012 22:05:10 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Imam-Masjidil-Haram-dari-Minangkabau</guid>
			<description><![CDATA[Siapa tak kenal Dr Ahmad Kh­atib al- Minang­kabau! Beliau disebut <span style="font-style: italic;">muja­ddid wa al-muj­ta­hid</span><br />
yang namanya bersi­pongang di Indonesia/Minang­kabau. Murid beliau <br />
sanga­tlah banyak dari pelbagai sudut negeri. Sebut saja Abdul Karim <br />
Amrullah, alias Inyiak Rasul/Inyiak Deer/ayah Ham­ka; Muhammad Jamil <br />
Jambek; Abdullah Ahmad; Ibrahim Musa Parabek; H Agoessalim; KH. Ahmad <br />
Dah­lan; dan sederet tokoh Islam lainnya (<span style="font-style: italic;">rijalu adda’wah</span>).<br />
<br />
Kebesaran nama para refosmis dan modernis Islam bersayap <br />
nasionalisme di Jawa dan tanah Minang ini, bagaimanapun tak dapat <br />
direnggangkan dari kiprah seorang tokoh—yang justru banyak menyuguhkan <br />
gagasan-gagasan jitu lagi bernas dari tanah suci Makkah al-Mu­karramah.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Beliau adalah Dr. Ahmad Khatib al-Minang­kabau ulama kharismatik plus<br />
substansialistik berdarah Koto Gadang Luhak Agam. Beliau­lah yang <br />
menjadi guru hampir semua pembaru Islam Tanah Air pada awal abad ke-20 <br />
silam, Ahmad Khatib bersa­ma adik sepupunya Thaher Djalaluddin inilah <br />
yang dikirim oleh petinggi Minang­kabau guna menyauk al-Islam secara <br />
intens lagi menukik ke Mak­kah al-Mukarramah, sekitar tahun 1871 lampau.<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Mukim dan Menyauk ilmu di Makkah </span><br />
<br />
Menelusuri sejarah, Ah­mad Khatib lahir pada 26 Mei 1860 M dari <br />
pasangan Abdul Latief, warga Koto Gadang dan Limbak Urai, asal Koto Tuo <br />
Balai Gurah, Ampek Angkek, Canduang, Bukittinggi. Masih <span style="font-style: italic;">“bujang jolong gadang”</span><br />
(rema­ja/11 tahun), Ahmad Khatib dibawa ayahnya menunaikan rukun Islam <br />
ke-5 ke Makkah. Di tanah Makkah, Ahmad Khatib tidak sekadar menu­naikan<br />
ibadah haji. Tapi, ia mukim dan gigih menggumuli al-Islam secara <br />
mendalam (<span style="font-style: italic;">liyatafaqqahu fi Addin</span>)—baik pendekatan <span style="font-style: italic;">lafzhiyah</span> maupun <span style="font-style: italic;">ma’nawiyah</span>.<br />
Dalam bahasa enak di kuping kaum kon­temporer, itulah yang <br />
diisti­lahkan dengan metodologi kajian literal, tekstual dan <br />
kontekstual.<br />
<br />
Tidak begitu rumit bagi Ahmad Khatib muda melusuhkan diri dengan <br />
kitab-kitab kuning. Sebab, sebelum­nya ia telah akrab dengan bahasa <br />
Arab. Agar mampu menyerap api dan semangat Islam secara <br />
substantif-apli­katif, Ahmad Khatib tidak ketinggalan menggelimangi apa <br />
yang disebut oleh “makh­luk” sekuler “ilmu-ilmu u­mum”. Sebut saja ilmu<br />
falak, ilmu hitung/hisab, aljabar dan lain sebagainya. Lagi-lagi tidak <br />
begitu riskan bagi Ah­mad Khatib mempelajari ilmu penunjang ini. Sebab, <br />
selain berotak brilian serta berlatar-belakang keluarga terdidik—sebelum<br />
menginjak tanah Makkah, ia telah meram­pungkan studinya di <span style="font-style: italic;">kweek­school</span> Bukitinggi.<br />
<br />
Cuma dalam rentang wak­tu 9 tahun (1287 H/1871 M hingga 1296 H/1876 <br />
M), Ahmad Khatib mampu menye­lesaikan pembelajaranya di bawah asuhan <br />
ulama Makkah terkemuka. Misalnya: Sayyid Zayn al- Dahlan, Syekh Bahr <br />
al-Syatta, Syekh Yahya al-Qabli dan lainnya. Harap mafhum! Guru bertaraf<br />
tinggi (<span style="font-style: italic;">faqihun wa al-hakimun</span>) ini tidak hanya sayang pada <br />
Ahmad Khatib, lebih dari itu mereka berdecak-kagum atas kecerdasan plus<br />
keelokan budi sang murid dari jawi (pang­gilan Arab terhadap <br />
Indonesia/Melayu) ini. Bah­kan, sejak Ahmad Khatib menyauk ilmu di tanah<br />
haram itu pula, pameo segelintir Arab yang berkonotasi sinis, mencibir <br />
dan mengejek orang Indonesia/Melayu berangsur redup—yang pada akhirnya <br />
punah. <span style="font-style: italic;">“Jawi ya’kul hanas</span>: orang Melayu makan ular”. Begitu cemooh Arab tradisionalis pada Indo­nesia.<br />
<br />
Simpati yang diraup Ah­mad Khatib tidak hanya dari para ulama <br />
berpikiran maju, Bangsawan Arab: Syekh Sha­lih al-Qurdi malah meminang <br />
Ahmad Khatib sebagai me­nan­tu, dengan mempersunting si sulung-nya <br />
bernama Kha­dijah (1879). Berkat tangan dingin mertua, Ahmad Khatib <br />
disuguhi peluang mentran­sfor­ma­sikan segala kemam­puan­nya di Masjidil<br />
Haram. Malah satu anugerah tidak ternilai, menjelang abad ke-20—si kutu<br />
kitab ini diamanahi menggenggam jabatan khatib dan Imam Besar Masjidil <br />
Haram. Dan, bila sang Imam dari tanah Minang ini, meng­imami salat di <br />
masjid—yang dikunjungi jutaan umat Islam dari pelbagai penjuru dunia <br />
tersebut, meluncurlah suara penuh <span style="font-style: italic;">zauq</span> (getaran) dari mulut beliau. Soalnya, selain amat sangat <span style="font-style: italic;">fashahah</span><br />
(fasih), malah melebihi kefasihan lidah orang Arab sendiri—beliau juga <br />
punya suara mer­du, dan mengusai irama cukup beragam dan <br />
bervariasi—dengan model <span style="font-style: italic;">tartil</span> (membaca cepat, tapi khidmat). Sebut saja irama: <span style="font-style: italic;">bayati, hijaz, tsiqah, shabah, ras, nahwan</span><br />
dan lainnya. Sekali lagi, bila pengagum Ibnu Thaimiyah ini, tampil <br />
mengimami salat, maka ribuan, bahkan jutaan jemaah, benar-benar salat <br />
dengan khusyu’. Bahkan ba­nyak jemaah salat yang bulu kuduknya merinding<br />
dan menangis-terisak. Apalagi andai sang imam membaca ayat-ayat; <br />
kezaliman orang-orang kafir menindas umat Islam. Maklum, ketika itu <br />
sejumlah negara Islam—termasuk Indonesia—yang penduduknya mayoritas <br />
ber­agama Islam (<span style="font-style: italic;">fi’ah katsirah</span>), masih bertekek-lutut di bawah imperialisme negara-negara barat.<br />
<br />
Padahal, tidak sembarang orang hingga kini bisa jadi <span style="font-style: italic;">khatib</span>,<br />
imam apalagi guru di Masjidil Haram—kendati di kampungnya ia seorang <br />
qari bertaraf nasional/internasional. Lagi-lagi ini lantaran <br />
kecer­dasan, keperibadian dan keting­gian ilmu yang bergayut pada diri <br />
seorang Ahmad Khatib.<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Seimbang Dakwah lisan dan Tulisan</span><br />
<br />
Sebagai seo­rang alim, Ahmad Khatib sadar, kalau ilmu tidak hanya <br />
dijuluk dalam batas dimensi ruang dan waktu pendek, dan tidak cuma <br />
terkebat pada konteks wacana dan wicara (<span style="font-style: italic;">taqriru al-lisan</span>) antara <span style="font-style: italic;">‘alim wal mu’allim </span>(guru dan mu­rid). Tapi, lebih jauh dari itu, Ahmad Khatib justru mene­ropong ke ranah <span style="font-style: italic;">al-mad’u</span> (objek da’wah)dalam<br />
jangka yang lebih panjang. Makanya, jangan kaget, selain mengajar, <br />
Ahmad Khatib juga dikenal cukup produktif mencacahkan qalam lewat <br />
karangan ilmiah, bernas lagi mencukam. Bukti konkret, Ahmad Khatib <br />
me­nuang­kan buah pikirannya dalam aspek ilmu seni, fiqih, ushul fiqih, <br />
sejarah, aljabar, ilmu falak, ilmu berhitung, ilmu ukur, kewarisan dan <br />
ihwal adat Minangkabau—dengan jumlah tak kurang dari 49 judul.<br />
<br />
Hanya saja dokumen ber­harga yang ditorehkan Ah­mad Khatib ini, sudah<br />
sulit dite­mukan. Ada memang tersim­pan sebagian kecil di Kutub <br />
Khannah/Per­pus­ta­kaan Buya Hamka, Ma­ninjau. Namun, yang mem­buat dahi<br />
berge­rinyit—wa­risan bertaraf <span style="font-style: italic;">hight cuality</span> (bermutu tinggi) itu, selain kurang dijamah oleh pe­ngunjung—juga digerayangi oleh <span style="font-style: italic;">kapuyuak</span> (lipas). <span style="font-style: italic;">Wal lahu a’lam bish shawab. </span><br />
<br />
 <br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">H. MARJOHAN</span><br />
(Pemerhati Sosial-Keagamaan)/haluan]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Siapa tak kenal Dr Ahmad Kh­atib al- Minang­kabau! Beliau disebut <span style="font-style: italic;">muja­ddid wa al-muj­ta­hid</span><br />
yang namanya bersi­pongang di Indonesia/Minang­kabau. Murid beliau <br />
sanga­tlah banyak dari pelbagai sudut negeri. Sebut saja Abdul Karim <br />
Amrullah, alias Inyiak Rasul/Inyiak Deer/ayah Ham­ka; Muhammad Jamil <br />
Jambek; Abdullah Ahmad; Ibrahim Musa Parabek; H Agoessalim; KH. Ahmad <br />
Dah­lan; dan sederet tokoh Islam lainnya (<span style="font-style: italic;">rijalu adda’wah</span>).<br />
<br />
Kebesaran nama para refosmis dan modernis Islam bersayap <br />
nasionalisme di Jawa dan tanah Minang ini, bagaimanapun tak dapat <br />
direnggangkan dari kiprah seorang tokoh—yang justru banyak menyuguhkan <br />
gagasan-gagasan jitu lagi bernas dari tanah suci Makkah al-Mu­karramah.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Beliau adalah Dr. Ahmad Khatib al-Minang­kabau ulama kharismatik plus<br />
substansialistik berdarah Koto Gadang Luhak Agam. Beliau­lah yang <br />
menjadi guru hampir semua pembaru Islam Tanah Air pada awal abad ke-20 <br />
silam, Ahmad Khatib bersa­ma adik sepupunya Thaher Djalaluddin inilah <br />
yang dikirim oleh petinggi Minang­kabau guna menyauk al-Islam secara <br />
intens lagi menukik ke Mak­kah al-Mukarramah, sekitar tahun 1871 lampau.<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Mukim dan Menyauk ilmu di Makkah </span><br />
<br />
Menelusuri sejarah, Ah­mad Khatib lahir pada 26 Mei 1860 M dari <br />
pasangan Abdul Latief, warga Koto Gadang dan Limbak Urai, asal Koto Tuo <br />
Balai Gurah, Ampek Angkek, Canduang, Bukittinggi. Masih <span style="font-style: italic;">“bujang jolong gadang”</span><br />
(rema­ja/11 tahun), Ahmad Khatib dibawa ayahnya menunaikan rukun Islam <br />
ke-5 ke Makkah. Di tanah Makkah, Ahmad Khatib tidak sekadar menu­naikan<br />
ibadah haji. Tapi, ia mukim dan gigih menggumuli al-Islam secara <br />
mendalam (<span style="font-style: italic;">liyatafaqqahu fi Addin</span>)—baik pendekatan <span style="font-style: italic;">lafzhiyah</span> maupun <span style="font-style: italic;">ma’nawiyah</span>.<br />
Dalam bahasa enak di kuping kaum kon­temporer, itulah yang <br />
diisti­lahkan dengan metodologi kajian literal, tekstual dan <br />
kontekstual.<br />
<br />
Tidak begitu rumit bagi Ahmad Khatib muda melusuhkan diri dengan <br />
kitab-kitab kuning. Sebab, sebelum­nya ia telah akrab dengan bahasa <br />
Arab. Agar mampu menyerap api dan semangat Islam secara <br />
substantif-apli­katif, Ahmad Khatib tidak ketinggalan menggelimangi apa <br />
yang disebut oleh “makh­luk” sekuler “ilmu-ilmu u­mum”. Sebut saja ilmu<br />
falak, ilmu hitung/hisab, aljabar dan lain sebagainya. Lagi-lagi tidak <br />
begitu riskan bagi Ah­mad Khatib mempelajari ilmu penunjang ini. Sebab, <br />
selain berotak brilian serta berlatar-belakang keluarga terdidik—sebelum<br />
menginjak tanah Makkah, ia telah meram­pungkan studinya di <span style="font-style: italic;">kweek­school</span> Bukitinggi.<br />
<br />
Cuma dalam rentang wak­tu 9 tahun (1287 H/1871 M hingga 1296 H/1876 <br />
M), Ahmad Khatib mampu menye­lesaikan pembelajaranya di bawah asuhan <br />
ulama Makkah terkemuka. Misalnya: Sayyid Zayn al- Dahlan, Syekh Bahr <br />
al-Syatta, Syekh Yahya al-Qabli dan lainnya. Harap mafhum! Guru bertaraf<br />
tinggi (<span style="font-style: italic;">faqihun wa al-hakimun</span>) ini tidak hanya sayang pada <br />
Ahmad Khatib, lebih dari itu mereka berdecak-kagum atas kecerdasan plus<br />
keelokan budi sang murid dari jawi (pang­gilan Arab terhadap <br />
Indonesia/Melayu) ini. Bah­kan, sejak Ahmad Khatib menyauk ilmu di tanah<br />
haram itu pula, pameo segelintir Arab yang berkonotasi sinis, mencibir <br />
dan mengejek orang Indonesia/Melayu berangsur redup—yang pada akhirnya <br />
punah. <span style="font-style: italic;">“Jawi ya’kul hanas</span>: orang Melayu makan ular”. Begitu cemooh Arab tradisionalis pada Indo­nesia.<br />
<br />
Simpati yang diraup Ah­mad Khatib tidak hanya dari para ulama <br />
berpikiran maju, Bangsawan Arab: Syekh Sha­lih al-Qurdi malah meminang <br />
Ahmad Khatib sebagai me­nan­tu, dengan mempersunting si sulung-nya <br />
bernama Kha­dijah (1879). Berkat tangan dingin mertua, Ahmad Khatib <br />
disuguhi peluang mentran­sfor­ma­sikan segala kemam­puan­nya di Masjidil<br />
Haram. Malah satu anugerah tidak ternilai, menjelang abad ke-20—si kutu<br />
kitab ini diamanahi menggenggam jabatan khatib dan Imam Besar Masjidil <br />
Haram. Dan, bila sang Imam dari tanah Minang ini, meng­imami salat di <br />
masjid—yang dikunjungi jutaan umat Islam dari pelbagai penjuru dunia <br />
tersebut, meluncurlah suara penuh <span style="font-style: italic;">zauq</span> (getaran) dari mulut beliau. Soalnya, selain amat sangat <span style="font-style: italic;">fashahah</span><br />
(fasih), malah melebihi kefasihan lidah orang Arab sendiri—beliau juga <br />
punya suara mer­du, dan mengusai irama cukup beragam dan <br />
bervariasi—dengan model <span style="font-style: italic;">tartil</span> (membaca cepat, tapi khidmat). Sebut saja irama: <span style="font-style: italic;">bayati, hijaz, tsiqah, shabah, ras, nahwan</span><br />
dan lainnya. Sekali lagi, bila pengagum Ibnu Thaimiyah ini, tampil <br />
mengimami salat, maka ribuan, bahkan jutaan jemaah, benar-benar salat <br />
dengan khusyu’. Bahkan ba­nyak jemaah salat yang bulu kuduknya merinding<br />
dan menangis-terisak. Apalagi andai sang imam membaca ayat-ayat; <br />
kezaliman orang-orang kafir menindas umat Islam. Maklum, ketika itu <br />
sejumlah negara Islam—termasuk Indonesia—yang penduduknya mayoritas <br />
ber­agama Islam (<span style="font-style: italic;">fi’ah katsirah</span>), masih bertekek-lutut di bawah imperialisme negara-negara barat.<br />
<br />
Padahal, tidak sembarang orang hingga kini bisa jadi <span style="font-style: italic;">khatib</span>,<br />
imam apalagi guru di Masjidil Haram—kendati di kampungnya ia seorang <br />
qari bertaraf nasional/internasional. Lagi-lagi ini lantaran <br />
kecer­dasan, keperibadian dan keting­gian ilmu yang bergayut pada diri <br />
seorang Ahmad Khatib.<br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">Seimbang Dakwah lisan dan Tulisan</span><br />
<br />
Sebagai seo­rang alim, Ahmad Khatib sadar, kalau ilmu tidak hanya <br />
dijuluk dalam batas dimensi ruang dan waktu pendek, dan tidak cuma <br />
terkebat pada konteks wacana dan wicara (<span style="font-style: italic;">taqriru al-lisan</span>) antara <span style="font-style: italic;">‘alim wal mu’allim </span>(guru dan mu­rid). Tapi, lebih jauh dari itu, Ahmad Khatib justru mene­ropong ke ranah <span style="font-style: italic;">al-mad’u</span> (objek da’wah)dalam<br />
jangka yang lebih panjang. Makanya, jangan kaget, selain mengajar, <br />
Ahmad Khatib juga dikenal cukup produktif mencacahkan qalam lewat <br />
karangan ilmiah, bernas lagi mencukam. Bukti konkret, Ahmad Khatib <br />
me­nuang­kan buah pikirannya dalam aspek ilmu seni, fiqih, ushul fiqih, <br />
sejarah, aljabar, ilmu falak, ilmu berhitung, ilmu ukur, kewarisan dan <br />
ihwal adat Minangkabau—dengan jumlah tak kurang dari 49 judul.<br />
<br />
Hanya saja dokumen ber­harga yang ditorehkan Ah­mad Khatib ini, sudah<br />
sulit dite­mukan. Ada memang tersim­pan sebagian kecil di Kutub <br />
Khannah/Per­pus­ta­kaan Buya Hamka, Ma­ninjau. Namun, yang mem­buat dahi<br />
berge­rinyit—wa­risan bertaraf <span style="font-style: italic;">hight cuality</span> (bermutu tinggi) itu, selain kurang dijamah oleh pe­ngunjung—juga digerayangi oleh <span style="font-style: italic;">kapuyuak</span> (lipas). <span style="font-style: italic;">Wal lahu a’lam bish shawab. </span><br />
<br />
 <br />
<br />
<span style="font-weight: bold;">H. MARJOHAN</span><br />
(Pemerhati Sosial-Keagamaan)/haluan]]></content:encoded>
		</item>
		<item>
			<title><![CDATA[Miliran Rupiah Uang Beredar Sehari]]></title>
			<link>http://www.minangforum.com/Thread-Miliran-Rupiah-Uang-Beredar-Sehari</link>
			<pubDate>Wed, 31 Oct 2012 22:40:01 +0000</pubDate>
			<guid isPermaLink="false">http://www.minangforum.com/Thread-Miliran-Rupiah-Uang-Beredar-Sehari</guid>
			<description><![CDATA[<div align="justify">Hanya satu kami yang tidak bisa, <br />
nonton televisi,” kata anak tambang ketika pulang untuk berbelanja. <br />
Selebihnya bisa, termasuk membeli pakaian termahal sekalipun. Uang <br />
mengalir di tepian Batang Hari miliran rupiah sehari.</div>
<a href="http://hariansinggalang.co.id/wp-content/uploads/2012/10/omeh33.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://hariansinggalang.co.id/wp-content/uploads/2012/10/omeh33-300x199.jpg" border="0" alt="[Image: omeh33-300x199.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a>SIDAK<br />
<br />
<div align="justify">
Lubuk Ulang Aling, Solsel kini memang berubah. Banyak kisah muncul dari <br />
sana. Dulu karena kayu, kemudian sarang walet dan kini tersebab emas. <br />
Emas memerintah dunia, kata orang Jerman.<br />
<br />
Kemilau emas punya kisah yang amat panjang. Selama ribuan tahun, emas <br />
mengendalikan hasrat manusia. Meratakan bukit, menggali jauh ke dalam <br />
tanah, mengobarkan perang, meruntuhkan kekaisaran dan membunuh <br />
orang-orang tak berdosa.<br />
<br />
Emas, adalah sumber pendapatan yang tinggi. Karena itu, penguasa sipil <br />
atau militer dan pengusaha mengerubunginya. Sejak doeloe begitu.<br />
<br />
Menurut National Geographic sepanjang sejarah hanya 161 ribu ton emas <br />
yang pernah ditambang di dunia, tak cukup memenuhi dua kolam <br />
renang standar olimpiade. Setengahnya ditambang sejak 50 tahun terakhir.<br />
Amerika Serikat menyimpan 8 ribu ton emas senilai kira-kira US&#36;100 <br />
miliar. India merupakan konsumen emas terbesar di dunia. Bagi orang <br />
India emas erat kaitannya dengan budaya dan perkawinan. Juga untuk <br />
investasi.</div>
<div align="justify">Ribuan orang di sana kini terlibat dalam<br />
kerja pendulangan emas. Emas diambil lalu dijual. Sayang, royalti <br />
pengusaha tambang emas, belum memberi kontribusi banyak terhadap <br />
pemasukan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Solok Selatan meskipun sudah <br />
berinvestasi dan beroperasi sejak 2007.<br />
<br />
“Sejak 2008-2012, royalti dari perusahaan penambangan emas di Solok <br />
Selatan, rata-rata hanya Rp100 juta/tahun. Jumlah itu belum sesuai <br />
harapan,” kata Bupati Solok Selatan, Muzni Zakaria saat mendampingi <br />
Wagub Sumbar meninjau lokasi penambangan emas belum lama berselang.<br />
<br />
Padahal, sesuai ketentuan dan kesepakatan royalti dengan pihak <br />
perusahaan penambang emas (geomenic) 3,7 persen dari nilai produksi <br />
setiap tahunnya.<br />
<br />
Kenyataan dalam pelaksanaan bagi hasil itu, apakah pihak perusahaan <br />
telah mengacu kepada kesepakatan yang ada, terkait pemasukan ke PAD <br />
rata-rata Rp100 juta/tahunnya.<br />
<br />
Dari laporan diperoleh hasil emas untuk satu unit alat berat dua <br />
on/harinya, sementara alat berat dioperasikannya lebih 100 unit.<br />
<br />
Artinya, produksi untuk satu alat berat bisa enam kilogram emas setiap <br />
bulannya, dikalikan seratus alat berat sehingga diperkirakan sekitar <br />
Rp500 juta/bulan.<br />
<br />
Bila dikalkulasikan untuk setahun Rp240 miliar/tahunnya dan belum <br />
termasuk dari hasil mesin penyedot air —dompeng— yang dioperasikan <br />
dengan kapal. Sementara hasil yang diperoleh sebagai pemasukan <br />
pendapatan daerah untuk mendukung pembangunan infrastruktur pembangunan <br />
daerah tergolong kecil.<br />
<br />
Pemkab Solok Selatan tak mampu menertibkan aktivitas penambangan emas <br />
itu, makanya membutuhkan dukungan berbagai pihak dari pemerintah <br />
provinsi sehingga ada solusi yang tetap.<br />
<br />
Di lapangan ada aturan yang dilanggar dan hasil diraih hendaknya saling <br />
menguntungkan, baik pengusaha, masyarakat dan pemerintah daerah. Justru <br />
itu, perlu dirumuskan bagaimana dari aktivitas penambangan emas, ada <br />
kemasukan bagi Pendapatan Asil Daerah (PAD), tetapi harus diawasi.<br />
<br />
Aparat kepolisian di daerah itu, perlu berkoordinasi kalau melakukan <br />
razia terhadap penambang emas di daerah itu. Kapolsek Sangir Batang Hari<br />
(SBH), AKP. Benu Alam mengatakan pada prinsipnya pihaknya berpedoman <br />
kepada kebijakan Pemkab Solok Selatan dalam penertiban pertambangan <br />
emas.<br />
<br />
Menurut dia, apa yang menjadi kebijakan Pemkab setempat pihak kepolisian<br />
tetap mendukung dan sepanjang operasi penambang emas sesuai aturan.<br />
<br />
Menyinggung perusahaan milik investor China itu yang sudah melakukan <br />
pengekploitasi di luar kawasan yang diizinkan, ia menanggapi, pihaknya <br />
menunggu kebijakan dari bupati.<br />
<br />
Saat ini pihak perusahaan sedang melakukan pengurusan perizinan <br />
menggunakan alat berat ekskavator menambang emas. Prosesnya pengkajian <br />
sedang dilakukan instansi seperti Dinas Pekerjaan Umum (PU), <br />
Pertambangan dan Badan Lingkungan Hidup, kalau tak masalah izin <br />
lingkungan akan dikeluarkan bupati.<br />
<br />
Wali Nagari Ulang Aling Selatan, Thamrin Dt. Kampuang mengatakan, <br />
kontribusi perusahaan asing terhadap pembangunan, bentuknya memberikan <br />
sumbangan untuk pembangunan infrastruktur rumah ibadah dan balai adat, <br />
serta rumah gadang.<br />
<br />
Namun, jumlah yang ditentukan berdasarkan kesepakatan tertulis memang <br />
belum ada, hanya masih dalam bentu dana Coorporat Social Responsibility <br />
(CSR).<br />
<br />
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar, Yosmeri menilai, pencemaran <br />
air sungai Batang Hari sudah diambang batas, karena setiap hari <br />
penambang menggunakan air raksa/mercuri (logam berat).<br />
<br />
Dampaknya merusak ekosistem sungai dan habitat ikan khas semakin punah, <br />
bahkan buruknya mengancam kesehatan masyarakat yang mengkonsumsi ikan <br />
sungai tersebut.<br />
<br />
Air sungai hingga kini sebagian masyarakat ada yang menjadi kebutuhan, <br />
seperti untuk mandi dan mencuci. Kondisi saat ini, warna air sudah <br />
menguning meski dalam keadaan dangkal.<br />
<br />
Seiring butiran emas dibongkar para penambang setiap hari, begitu pula derasnya air raksa terus mencucur ke dalam sungai itu.</div>
<div align="justify"><span style="font-weight: bold;">Emas adalah uang</span><br />
<br />
Satu kelompok penambang emas di sana bisa menghasilkan 250 gram emas sehari.<br />
<br />
Abi (24), menurut ibunya Teti, tak melanjutkan sekolah putranya ke <br />
perguruan tinggi. Tamat SMA oleh bapaknya, Kamal (55), diajari berdagang<br />
emas. Belum cukup enam bulan berusaha sudah membeli mobil mewah merk <br />
Land Cruiser. “Abi pengin nambah, beli mobil alfart,” katanya.<br />
<br />
Uang banyak, tapi keamanan minim. Betapa perlindungan keamanan warga <br />
masih mahal. Aparat pemerintah belum tampak berupaya menempatkan <br />
personilnya di sentra-sentra ekonomi secara merata, termasuk di <br />
sepanjang aliran Batang Hari yang nilai transaksinya miliaran rupiah <br />
tiap hari.<br />
<br />
Makanya tak heran, meski mahal Rp25 juta sampai Rp50 juta sepucuk pistol<br />
dibeli juga oleh warga setelah segala persyaratan lengkap. Begitulah <br />
penting menjaga keselamat diri.<br />
<br />
Entah oleh alasan keamanan atau pertumbuhan ekonomi sepanjang aliran <br />
Batang Hari menjadi alasan Wakil Gubernur Muslim Kasim berkunjung ke <br />
Solok Selatan.<br />
<br />
Batang Hari kian hari makin memikat. Saat ini penambang asal China saja <br />
jumlahnya puluhan orang termasuk kapal. Yang datang dari Kalimantan, <br />
Tasikmalaya juga tak sedikit.<br />
<br />
Kapal-kapal di situ digerakan mesin diesel untuk mengeruk batu, pasir <br />
dan tanah mendapatkan serpihan emas. Emas itulah yang dibeli kontan oleh<br />
pedagang pengumpul di sepanjang aliran Batang Hari. Pembayarannya chas,<br />
tak dikenal pembayaran transfer maupun cek kontan.<br />
<br />
Suasana ekonomi yang bergerak dahsyat itu luput dari pengawasan pihak <br />
keamanan. Tak tampak patroli polisi di sana. Mungkin, itulah sebabnya <br />
saat polisi lengah, warga dirampok. Duuhh. (SIRI ANTONI/AKMAL DARWIS/singgalang)</div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">Hanya satu kami yang tidak bisa, <br />
nonton televisi,” kata anak tambang ketika pulang untuk berbelanja. <br />
Selebihnya bisa, termasuk membeli pakaian termahal sekalipun. Uang <br />
mengalir di tepian Batang Hari miliran rupiah sehari.</div>
<a href="http://hariansinggalang.co.id/wp-content/uploads/2012/10/omeh33.jpg" rel="nofollow" target="_blank"><img src="http://hariansinggalang.co.id/wp-content/uploads/2012/10/omeh33-300x199.jpg" border="0" alt="[Image: omeh33-300x199.jpg]" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);"/></a>SIDAK<br />
<br />
<div align="justify">
Lubuk Ulang Aling, Solsel kini memang berubah. Banyak kisah muncul dari <br />
sana. Dulu karena kayu, kemudian sarang walet dan kini tersebab emas. <br />
Emas memerintah dunia, kata orang Jerman.<br />
<br />
Kemilau emas punya kisah yang amat panjang. Selama ribuan tahun, emas <br />
mengendalikan hasrat manusia. Meratakan bukit, menggali jauh ke dalam <br />
tanah, mengobarkan perang, meruntuhkan kekaisaran dan membunuh <br />
orang-orang tak berdosa.<br />
<br />
Emas, adalah sumber pendapatan yang tinggi. Karena itu, penguasa sipil <br />
atau militer dan pengusaha mengerubunginya. Sejak doeloe begitu.<br />
<br />
Menurut National Geographic sepanjang sejarah hanya 161 ribu ton emas <br />
yang pernah ditambang di dunia, tak cukup memenuhi dua kolam <br />
renang standar olimpiade. Setengahnya ditambang sejak 50 tahun terakhir.<br />
Amerika Serikat menyimpan 8 ribu ton emas senilai kira-kira US&#36;100 <br />
miliar. India merupakan konsumen emas terbesar di dunia. Bagi orang <br />
India emas erat kaitannya dengan budaya dan perkawinan. Juga untuk <br />
investasi.</div>
<div align="justify">Ribuan orang di sana kini terlibat dalam<br />
kerja pendulangan emas. Emas diambil lalu dijual. Sayang, royalti <br />
pengusaha tambang emas, belum memberi kontribusi banyak terhadap <br />
pemasukan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Solok Selatan meskipun sudah <br />
berinvestasi dan beroperasi sejak 2007.<br />
<br />
“Sejak 2008-2012, royalti dari perusahaan penambangan emas di Solok <br />
Selatan, rata-rata hanya Rp100 juta/tahun. Jumlah itu belum sesuai <br />
harapan,” kata Bupati Solok Selatan, Muzni Zakaria saat mendampingi <br />
Wagub Sumbar meninjau lokasi penambangan emas belum lama berselang.<br />
<br />
Padahal, sesuai ketentuan dan kesepakatan royalti dengan pihak <br />
perusahaan penambang emas (geomenic) 3,7 persen dari nilai produksi <br />
setiap tahunnya.<br />
<br />
Kenyataan dalam pelaksanaan bagi hasil itu, apakah pihak perusahaan <br />
telah mengacu kepada kesepakatan yang ada, terkait pemasukan ke PAD <br />
rata-rata Rp100 juta/tahunnya.<br />
<br />
Dari laporan diperoleh hasil emas untuk satu unit alat berat dua <br />
on/harinya, sementara alat berat dioperasikannya lebih 100 unit.<br />
<br />
Artinya, produksi untuk satu alat berat bisa enam kilogram emas setiap <br />
bulannya, dikalikan seratus alat berat sehingga diperkirakan sekitar <br />
Rp500 juta/bulan.<br />
<br />
Bila dikalkulasikan untuk setahun Rp240 miliar/tahunnya dan belum <br />
termasuk dari hasil mesin penyedot air —dompeng— yang dioperasikan <br />
dengan kapal. Sementara hasil yang diperoleh sebagai pemasukan <br />
pendapatan daerah untuk mendukung pembangunan infrastruktur pembangunan <br />
daerah tergolong kecil.<br />
<br />
Pemkab Solok Selatan tak mampu menertibkan aktivitas penambangan emas <br />
itu, makanya membutuhkan dukungan berbagai pihak dari pemerintah <br />
provinsi sehingga ada solusi yang tetap.<br />
<br />
Di lapangan ada aturan yang dilanggar dan hasil diraih hendaknya saling <br />
menguntungkan, baik pengusaha, masyarakat dan pemerintah daerah. Justru <br />
itu, perlu dirumuskan bagaimana dari aktivitas penambangan emas, ada <br />
kemasukan bagi Pendapatan Asil Daerah (PAD), tetapi harus diawasi.<br />
<br />
Aparat kepolisian di daerah itu, perlu berkoordinasi kalau melakukan <br />
razia terhadap penambang emas di daerah itu. Kapolsek Sangir Batang Hari<br />
(SBH), AKP. Benu Alam mengatakan pada prinsipnya pihaknya berpedoman <br />
kepada kebijakan Pemkab Solok Selatan dalam penertiban pertambangan <br />
emas.<br />
<br />
Menurut dia, apa yang menjadi kebijakan Pemkab setempat pihak kepolisian<br />
tetap mendukung dan sepanjang operasi penambang emas sesuai aturan.<br />
<br />
Menyinggung perusahaan milik investor China itu yang sudah melakukan <br />
pengekploitasi di luar kawasan yang diizinkan, ia menanggapi, pihaknya <br />
menunggu kebijakan dari bupati.<br />
<br />
Saat ini pihak perusahaan sedang melakukan pengurusan perizinan <br />
menggunakan alat berat ekskavator menambang emas. Prosesnya pengkajian <br />
sedang dilakukan instansi seperti Dinas Pekerjaan Umum (PU), <br />
Pertambangan dan Badan Lingkungan Hidup, kalau tak masalah izin <br />
lingkungan akan dikeluarkan bupati.<br />
<br />
Wali Nagari Ulang Aling Selatan, Thamrin Dt. Kampuang mengatakan, <br />
kontribusi perusahaan asing terhadap pembangunan, bentuknya memberikan <br />
sumbangan untuk pembangunan infrastruktur rumah ibadah dan balai adat, <br />
serta rumah gadang.<br />
<br />
Namun, jumlah yang ditentukan berdasarkan kesepakatan tertulis memang <br />
belum ada, hanya masih dalam bentu dana Coorporat Social Responsibility <br />
(CSR).<br />
<br />
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar, Yosmeri menilai, pencemaran <br />
air sungai Batang Hari sudah diambang batas, karena setiap hari <br />
penambang menggunakan air raksa/mercuri (logam berat).<br />
<br />
Dampaknya merusak ekosistem sungai dan habitat ikan khas semakin punah, <br />
bahkan buruknya mengancam kesehatan masyarakat yang mengkonsumsi ikan <br />
sungai tersebut.<br />
<br />
Air sungai hingga kini sebagian masyarakat ada yang menjadi kebutuhan, <br />
seperti untuk mandi dan mencuci. Kondisi saat ini, warna air sudah <br />
menguning meski dalam keadaan dangkal.<br />
<br />
Seiring butiran emas dibongkar para penambang setiap hari, begitu pula derasnya air raksa terus mencucur ke dalam sungai itu.</div>
<div align="justify"><span style="font-weight: bold;">Emas adalah uang</span><br />
<br />
Satu kelompok penambang emas di sana bisa menghasilkan 250 gram emas sehari.<br />
<br />
Abi (24), menurut ibunya Teti, tak melanjutkan sekolah putranya ke <br />
perguruan tinggi. Tamat SMA oleh bapaknya, Kamal (55), diajari berdagang<br />
emas. Belum cukup enam bulan berusaha sudah membeli mobil mewah merk <br />
Land Cruiser. “Abi pengin nambah, beli mobil alfart,” katanya.<br />
<br />
Uang banyak, tapi keamanan minim. Betapa perlindungan keamanan warga <br />
masih mahal. Aparat pemerintah belum tampak berupaya menempatkan <br />
personilnya di sentra-sentra ekonomi secara merata, termasuk di <br />
sepanjang aliran Batang Hari yang nilai transaksinya miliaran rupiah <br />
tiap hari.<br />
<br />
Makanya tak heran, meski mahal Rp25 juta sampai Rp50 juta sepucuk pistol<br />
dibeli juga oleh warga setelah segala persyaratan lengkap. Begitulah <br />
penting menjaga keselamat diri.<br />
<br />
Entah oleh alasan keamanan atau pertumbuhan ekonomi sepanjang aliran <br />
Batang Hari menjadi alasan Wakil Gubernur Muslim Kasim berkunjung ke <br />
Solok Selatan.<br />
<br />
Batang Hari kian hari makin memikat. Saat ini penambang asal China saja <br />
jumlahnya puluhan orang termasuk kapal. Yang datang dari Kalimantan, <br />
Tasikmalaya juga tak sedikit.<br />
<br />
Kapal-kapal di situ digerakan mesin diesel untuk mengeruk batu, pasir <br />
dan tanah mendapatkan serpihan emas. Emas itulah yang dibeli kontan oleh<br />
pedagang pengumpul di sepanjang aliran Batang Hari. Pembayarannya chas,<br />
tak dikenal pembayaran transfer maupun cek kontan.<br />
<br />
Suasana ekonomi yang bergerak dahsyat itu luput dari pengawasan pihak <br />
keamanan. Tak tampak patroli polisi di sana. Mungkin, itulah sebabnya <br />
saat polisi lengah, warga dirampok. Duuhh. (SIRI ANTONI/AKMAL DARWIS/singgalang)</div>]]></content:encoded>
		</item>
	</channel>
</rss>