Sehari
setelah lebaran Idul Fitri, umat muslim pada umumnya lebih cendrung
mengunjungi tempat-tempat rekreasi bersama keluarganya.Namun berbeda
dengan masyarakat Gauang, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok.Sehari
setelah lebaran Masyarakat setempat tak satu pun pergi berwisata,
melainkan mendatangi tempat pemakaman leluhur yang mereka sebut, Tradisi
Rayo Katampek.
Tradisi Rayo Katampek, dimulai sejak
hari ke dua lebaran, masyarakat disini melakukannya selama enam hari
yakni membersihkan pandan pekuburan yang ada dinagari ini, mereka
melaksanakan doa bersama dan makan bersama.
Dinagari ini, juga tumbuh keyakinan,
jika masyarakat Gaung yang mengunjungi tempat wisata selama tradisi ini
berlangsung akan ditimpa musibah. Didalam menjalankan tradisi ini,
setiap orang mendapatkan tugas masing-masing, bagi kaum lelaki mereka
membawa peralatan kebersihan, seperti cangkul, parang dan sabit,
sementara bagi kaum perempuan membawa makanan seperti nasi serta makanan
ringan lainnya.
Setelah pandam pekuburan dibersihkan, tradisi ini dilanjutkan dengan doa bersama dan diakhiri dengan makan bersama.
Anton, salah satu masyarakat setempat kepada
www.padang-today.com ,
mengatakan, tradisi Rayo Katampek tidak hanya sekedar membersihkan
kuburan, berdoa dan makan bersama. Akan tetapi lebih dari itu, Rayo
Katampek bagi generasi tua terdahulu lebih banyak digunakan sebagai
ajang menjalin silaturahmi antara anak dengan kemenakan, bako dengan
anak pisang antara adik dengan kakak.
“Kalau hanya sekedar membersihkan
kuburan,doa bersama dan makan bersama tidak perlu sampai enam hari,
cukup dua atau tiga jam saja,"ujar Anton.