Thread Rating:
  • 0 Votes - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
+ Reply to Thread
08-29-2011 12:04 AM
langkisau Offline
*

  • Feb 2009
  • 629 posts
  • reputations
  • 7 thanks
    Given 28 thank(s) in 27 post(s)
Post: #1
Ternyata, Ada Lokalisasi di Balai Tiku
Pada tulisan terdahulu (Warga Tiku Menantang Azab) telah dijabarkan tentang hal ihwal pembiaran terhadap kemaksiatan—dosa besar dengan berbuka tanpa alasan di siang Ramadan—secara massal dan terangan-terangan pada saat Membantai Akbar sehari sebelum Idul Fitri di Tiku. Pelanggaran terhadap syariat Allah ini terjadi dari tahun ke tahun. Fakta ini hanya menunjukkan bahwa hingga saat ini belum adanya kesadaran dari masyarakat Tiku sendiri bahwa apa yang tengah berlaku di negeri mereka merupakan suatu dosa besar yang sangat dimurkai Allah. Sehingga belum pula terlihat adanya usaha-usaha ke arah perubahan sebagaimana yang telah ditekankan pada penutup tulisan terdahulu.

Layaknya suatu kekeliruan, kesalahan, dan kejahatan yang telah atau tengah berlangsung selalu saja dapat segera dihentikan, diperbaiki, dan dicarikan jalan keluarnya. Harapan ini dapat bermula dari si pelaku itu sendiri. Tentu saja hal ini akan menjadi mustahil jika si pelaku belum atau bahkan tidak mempunyai kesadaran diri bahwa yang dilakukannya itu adalah sesuatu yang tidak benar. Hal ini akan menjadi lebih rumit manakala si pelaku tadi mencari-cari pihak lain selain dirinya sendiri untuk dapat dijadikan sebagai kambing hitam atas keadaan dirinya yang bersalah. Apalagi jika sudah menjadi keyakinan pula bagi si pelaku ini kalau bukan dia pelakunya, tetapi pihak lain.

Hal inilah yang tampaknya terjadi di Tiku atas dosa besar yang dipertontonkan kepada khalayak di saat Membantai Akbar. Semua masyarakat Tiku adalah muslim sehingga berbuka tanpa alasan di siang Ramadan masih diakui sebagai dosa besar, sangat bertentangan dengan kandungan Alquran, dan menodai kesucian bulan Ramadan dimana puasa merupakan kewajiban di dalamnya. Akan tetapi, entah mungkin karena dosa besar ini dilakukan secara beramai-ramai dan berulang setiap tahunnya sehingga fenomena kemaksiatan ini menjadi suatu yang lumrah dan konvensional.

Anehnya, ada segelintir pihak yang mengatasnamakan diri sebagai masyarakat Tiku yang berasumsi bahwa orang-orang yang sengaja tidak berpuasa pada saat Membantai Akbar itu bukanlah orang Tiku. Pelaku dosa besar ini bukan putra dan putri Tiku, bukan lantak Tiku—masyarakat Tiku menamakan penduduk asli Tiku dengan sebutan lantak Tiku. Tetapi mereka yang tak berpuasa itu adalah pendatang. Pendatang yang menjadi jagal hewan saat Membantai Akbar. Pendatang yang singgah di Tiku untuk sekadar berbelanja beberapa keperluan harian menjelang Lebaran, daging utamanya. Masyarakat Tiku tidaklah seperti para pendatang itu. Orang Tiku semuanya saleh, taat, dan kuat beragama. Tidak mungkin mereka sengaja berbuka di siang Ramadan secara terang-terangan. Kalaupun ada orang Tiku yang begitu, mereka hanyalah beberapa orang saja yang cuma berbilang jari.

Asumsi segelintir pihak di atas benar-benar sangat tidak lucu, apalagi jika ditimbang dari segi rasionalitas, lebih-lebih pula bila dibandingkan dengan fakta di lapangan. Sangat tidak lucu karena fenomena kemaksiatn ini bukanlah lawakan untuk bahan tertawaan atau ejekan. Kemaksiatan ini harus segera dirubah secepat mungkin, jika tidak azab pasti membinasakan pelaku maksiat dan orang-orang yang membiarkannya. Sangat tidak rasional sebab tidak dapat diterima akal sehat bila suatu komunitas masyarakat yang saleh, taat, dan kuat beragama namun membiarkan sesuatu yang bertentangan dengan religiositas mereka. Kelompok masyarakat religius seperti ini pasti dengan segera dan serta-merta akan menumpas segala tindakan-tindakan yang bertentangan dengan keyakinan mereka, apalagi yang dilanggar merupakan pilar keagamaan.

Asumsi itu juga sangat bertentangan dengan fakta di lapangan lantaran kenyataan yang terjadi saat Membantai Akbar memang seperti itu bahwa dosa besar sengaja tidak puasa di Siang Ramadan dilakukan dengan lancang dan terang-terangan. Tak perlu berdomisili sekian puluh tahun di Tiku, atau haruslah menjadi putra-putri Tiku alias lantak Tiku untuk tahu dan yakin bahwa kemaksiatan ini benar-benar terjadi di Tiku. Semua itu sama sekali tidak perlu. Data bisa saja dipolitisasi namun fakta tetap akan bersuara mengabarkan peristiwa dan kejadian sebenarnya.

Lebih aneh lagi, segelintir pihak ini terlalu memaksakan diri untuk mencari pembenaran kepada kekeliruan-kekeliruan yang dilakukan oleh orang yang (terlanjur) dianggap sebagai salah seorang tokoh agama di Tiku. Sebagaimana maklum, masyarakat Tiku kadang mengikut amaran pemerintah atau organisasi kemasyarakatan tertentu (baca Muhammadiyah) tentang awal dan akhir puasa Ramadan. Tokoh agama dimaksud selalu mendahului masyarakat Tiku berpuasa satu hari sebelumnya sehingga pada saat Membantai Akbar sang tokoh tadi dalam keadaan tidak berpuasa pula. Tiba-tiba saja kekeliruan sang tokoh ini dijadikan dalih atas dosa besar berbuka tanpa uzur di siang Ramadan yang berlangsung selama Membantai Akbar.

Pertanyaannya, apakah para pelaku dosa besar yang sengaja tidak berpuasa itu merupakan pengikut sang tokoh? Ternyata bukan, karena pada kenyataan tak ada orang lain selain sang tokoh sendiri yang melakukan kekeliruan ini dengan selalu berpuasa satu hari sebelum masyarakat Tiku berpuasa. Pun tak ada pula yang sudi disebut-sebut sebagai pengikut sang tokoh. Ataukah sang tokoh mengeluarkan fatwa tentang ini sehingga diikuti oleh para pelanggar syariat saat Membantai Akbar? Lagi-lagi bukan, di samping sang tokoh tak memenuhi syarat mujtahid yang boleh berfatwa, kekeliruan ini hanyalah pendapat pribadinya tanpa ada usaha untuk menyebarkan kepada khlayak.

Terlalu dibuat-buat dan sangat tolol bila segelintir pihak itu mengatakan kalau di Tiku juga ada kelompok Islam seperti Tarekat Naqsabandiyah yang berpuasa dan berlebaran lebih. Padahal seperti diberitakan oleh Harian Haluan hari ini (29/08/2011) Buya Syafri Malin Mudo sebagai Guru Besar Tarekat Naqsabandiyah mengatakan bahwa Jemaah Naqsabandiyah untuk Sumatera Barat tersebar di Kota Padang, Solok Selatan, Kabupaten Pesisir Selatan, dan Kabupaten Solok. Terang sekali di Tiku tidak ada tarekat ini atau yang semisalnya karena Tiku merupakan bagian dari Kabupaten Agam.

Begitu pula dengan apa yang disebut-sebut oleh segelintir pihak itu bahwa banyak lagi kelompok lain di Sungai Nibung—salah satu jorong di Nagari Tiku Selatan—dan lain-lain yang sudah berlebaran saat Membantai Akbar. Ini jelas-jelas kebohongan dan fitnah terhadap fakta keberagamaan di Tiku. Sedangkan yang ada itu hanyalah masyarakat Sungai Nibung yang memang biasanya telat memulai puasa Ramadan dan berlebaran beberapa hari dibanding masyarakat Tiku lainnya. Jelas sekali mereka tidak seperti Tarekat Naqsabandiyah yang selalu lebih dulu berpuasa dan berlebaran. Kalaupun yang melatarbelakangi tindakan masyarakat Sungai Nibung ini adalah suatu kelompok tertentu, kelompok itu sangat sedikit dan tidaklah populer dalam tatanan kemasyarakatan di Tiku.

Semua hal ini semakin nyata menjelaskan bahwa segelintir pihak itu telah kehabisan akal untuk mencoba menutup-nutupi dan mencari pembenaran atas kemaksiatan yang telah, sedang, dan akan berlangsung di Tiku. Padahal semestinya yang mereka perlu lakukan hanyalah mengakui dengan jujur bahwa demikianlah adanya dosa besar berbuka tanpa alasan di siang Ramadan sama sekali tidak dapat dinafikan menjadi fenomena di Tiku dari tahun ke tahun. Seakan sudah menjadi tradisi. Akan tetapi kesombongan telah mengelicirkan segelintir orang ini untuk membutakan mata, menulikan telinga, dan mendustakan hati nurani terhadap fakta peristiwa dari kejadian di Tiku.

Pangkal masalahnya adalah segelintir orang ini—selain karena kesombongan—telah terjangkiti asabiah (fanatisme). Asabiah dapat didefinisikan sebagai segala tindakan yang lahir atas kebanggaan-kebanggaan berlebihan karena selain kebanggaan terhadap Islam. Kebanggaan-kebanggaan itu bisa berupa karena nasab (keturunan), suku, bahasa, negara, bangsa, dan sejenisnya. Asabiah juga bisa muncul dari kebanggaan karena organisasi, yayasan, partai, jamaah, mazhab dan semisalnya. Sederhananya, asabiah adalah paham kekelompokkan.

bu Daud meriwayatkan bahwa Wailah bin Al-Asqa’ pernah bertanya kepada Rasulullah, “Apakah yang disebut asabiah itu?” Maka jawab Nabi, “Yaitu kamu membela golonganmu pada kezaliman (perbuatan dosa).“ Tercelanya asabiah ini karena asabiah pelaku berlaku tidak adil dan zalim. Si pelaku asabiah nantinya akan bersifat sangat subjektif dalam segala hal. Semua pertimbangannya selalu bermuara pada kebanggaan-kebanggaan dari paham kekelompokkan tadi. Tanpa peduli pada pertimbangan benar atau salah, selama ada persamaan kekelompokkan, maka ke sanalah pelaku asabiah akan menggabungkan diri, berteguh hati dalam satu barisan, menghadang, dan menerjang semua pihak yang berseberangan dengannya sekuat daya upaya hingga tetes darah penghabisan.

Muslim meriwayatkan hadis bahwa Nabi bersabda, “Tidak termasuk golongan kami orang yang menyeru kepada asabiah, tidak termasuk golongan kami orang yang membunuh karena asabiah, dan tidak termasuk golongan kami orang yang marah karena asabiah.” Juga riwayat Tirmizi dan Baihaqi, Nabi bersabda saat berkhotbah pada Fathul Makkah, “Sesungguhnya Allah telah menghilangkan dari kalian kebanggaan jahiliah dan kebanggaan karena nenek moyang. Sesungguhnya yang ada hanyalah seorang mukmin yang bertakwa atau pendurhaka yang tercela…”

Kepada mereka yang masih saja berjalan pada alur asabiah, kiranya perlu mewaspadai apa yang disabdakan oleh Nabi, “Siapa yang menyeru dengan seruan jahiliah (asabiah) maka dia menjadi bagian dari gundukan batu Jahannam. Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, walau dia berpuasa dan salat?” Beliau menjawab, “Walau dia berpuasa dan salat serta mengaku dirinya sebagai seorang muslim.”

Akan tetapi yang paling aneh dan sangat berbahaya adalah dalih segelintir pihak ini bahwa Tiku bukanlah seperti Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) atau Arab Saudi yang menerapakan syariat Islam. Sehingga warga Tiku tidak bisa begitu saja melarang orang yang tidak berpuasa. Sungguh pandir sekali orang yang melontarkan dalih menjijikkan ini padahal mereka masih merasa sebagai muslim. Apa orang ini tidak membaca firman Allah, “…Sesiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir.” (Q.S Al-Maidah [5]: 44). Kemudian Allah menyambung pada ayat berikutnya, “…Sesiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang zalim.” (Q.S Al-Maidah [5]: 45). Allah kembali menegaskan pada dua ayat setelahnya, “…Sesiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang fasik.” (Q.S Al-Maidah [5]: 47).

Dalih orang pandir ini sangat kental menyiratkan semangat penolakan terhadap syariat Allah seperti yang diusung oleh kaum sekuler dan liberal yang hakikatnya adalah kaum anti-Tuhan (baca anti-Islam). Mereka bersilat lidah dengan jargon kebebasan manusia tanpa batas sehingga tidak boleh satu aturan apa pun yang boleh membatasi atau melarang keganasan manusia yang cenderung membawa kerusakan di dunia ini. Lihatlah betapa rusaknya dan rancunya pola pikir orang-orang pandir ini ketika mereka sangat memahami aparatur negara boleh mengatur warga negaranya sedangkan di pihak lain mereka sangat menentang jika agama dan nilai-nilainya yang mengatur tata kehidupan pemeluknya. Mereka inilah sebenar-benar orang kafir, walau kebanyakan orang tertipu dan tidak menyadari kebusukan mereka yang berbalut pakaian kemunafikan.

Tiba-tiba saja terbersit suatu ironi di pikiran untuk memahami fenomena kemaksiatan dengan pertunjukkan dosa besar berbuka tanpa uzur di siang Ramadan yang berulang tahun ke tahun ini. Ternyata seperti ada konsensus tidak resmi sehingga menjadi konvensi masyarakat Tiku membiarkan kemungkaran ini berkelanjutan. Membantai Akbar ini telah dilokalisasi. Lokalisasi yang tak akan mungkin ada pihak yang dapat menganggugugat. Tidak oleh warga Tiku, tidak pula oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Agam yang sempat unjuk gigi di awal-awal Ramadan dengan merazia mereka yang mengotot tetap berjualan untuk sungkah orang yang tidak berpuasa. Ya, namanya juga lokalisasi. Uniknya, lokalisasi ini hanya ada sekali setahun. Parahnya, terjadi setiap hari terakhir bulan Ramadan. Lokalisasi itu bertempat di area Membantai Akbar, di Balai Tiku. Ternyata, ada lokalisasi di Balai Tiku.

sumber : kompasiana
Reputation
Thanks given by: b1lly
Comments
 
Possibly Related Threads...
Thread:
  Ternyata, Ngorok Bisa Berujung Kematian
  Ternyata, Minuman Keras Baik untuk Jantung