The following warnings occurred:
Warning [2] file_get_contents(http://graph.facebook.com/?ids=http://www.minangforum.com/Thread-Terkait-hilangnya-pendaki-Gunung-Edy-Syahmian-Saya-Percaya-Anak-Kami-Masih-Hidup): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 403 Forbidden - Line: 806 - File: inc/plugins/fbmeta.php PHP 5.3.28 (Linux)
File Line Function
[PHP]   errorHandler->error
/inc/plugins/fbmeta.php 806 file_get_contents
/showthread.php(1196) : eval()'d code(42) : eval()'d code 1 fb_comment_count
/showthread.php(1196) : eval()'d code 42 eval
/showthread.php 1196 eval
Warning [2] file_get_contents(http://graph.facebook.com/?ids=http://www.minangforum.com/Thread-Terkait-hilangnya-pendaki-Gunung-Edy-Syahmian-Saya-Percaya-Anak-Kami-Masih-Hidup): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 403 Forbidden - Line: 806 - File: inc/plugins/fbmeta.php PHP 5.3.28 (Linux)
File Line Function
[PHP]   errorHandler->error
/inc/plugins/fbmeta.php 806 file_get_contents
/showthread.php(1196) : eval()'d code(131) : eval()'d code 1 fb_comment_count
/showthread.php(1196) : eval()'d code 131 eval
/showthread.php 1196 eval



Perhatian untuk member MinangForum untuk membaca peraturan dahulu agar post anda tidak dihapus
Dapatkan aplikasi MinangForum untuk android anda, Klik Disini untuk mendownload


 
Thread Rating:
  • 0 Votes - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
+ Reply to Thread
06-27-2012 10:01 AM

pinukuik Offline
*

  • Dec 2008
  • 674 posts
  • reputations
  • 6 thanks
    Given 34 thank(s) in 27 post(s)
Post: #1
Terkait hilangnya pendaki Gunung , Edy Syahmian : Saya Percaya, Anak Kami Masih Hidup
[Image: medium_44ortu-havis-0000000.jpg]


AGAM, SO--Mujur
sepanjang hari, malang sekejap mata. Begitulah ungkapan yang mendera
keluarga pasangan Edy Syahmian St. Mahmud dan Ratmas Anis, warga Banto
Darano, Sanjai Kecamatan Mandiangin Koto Selayan, Kota Bukittinggi, saat
ini.


Tak
dinyana dan tak diduga, hari Selasa kemarin, 19 Juni 2012, merupakan
hari yang sangat bersejarah bagi seorang Edy Syamian St. Mahmud, ayah
tersayang dari Abdul Haviz, salah seorang remaja yang hilang entah
kemana disaat melakukan pendakian Gunung Marapi.


Dalam
wawancara khusus Edy Syahmian St. Mahmud pada Selasa (26/6), sekelumit
tentang Abdul Haviz diurai satu demi satu. Bermula dari keberangkatan
yang sangat aneh dirasakan oleh Edy Syahmian, biasanya kemanapun Haviz
pergi, dia selalu menyalami dan mencium tangan orang tuanya, namun
disaat ia akan melakukan pendakian Gunung Marapi kali ini, kebiasaan
serupa tidak dilakukannya.


Menurut
penuturan Edy Syahmian yang lebih akrab di panggil ustad itu, Haviz
pergi meninggalkan rumah semenjak hari Selasa (19/6) bersama tiga orang
temannya, masing-masing Fauzan (18), Alfian (16) dan Abdul Haviz (19)
sendiri.


Setelah
melewati Simpang Paniang-paniang menuju Pandan Tinggi Jorong Lasi Tuo
Nagari Lasi Kecamatan Canduang, Agam, ketiga remaja tanggung itu
menompangkan parkir kendaraan sepeda motornya pada penduduk setempat.
Namun baru beberapa langkah yang terlangkahkan, tiba-tiba ada seorang
warga melarang untuk melakukan pendakian melewati jalur ini.


Mendengar
teguran warga tersebut, Fauzan ciut nyalinya dan menyarankan pada
kawannya Alfian dan Haviz untuk mengurungkan niatnya melakukan
pendakian. Namun Afian dan Haviz tidak merasa gentar dengan larangan
warga setempat melanjutkan pendakian, sementara Fauzan kembali pulang ke
rumah sambil mengendarai sepeda motor yang urung diparkir pada salah
satu rumah warga tersebut.


Sewaktu
mengadakan perjalanan mendaki Gunung Marapi, Abdul Haviz terus
melakukan komunikasi dengan keluarga, baik orang tua maupun kakak
kandung Izzatillah melalui telphon seluler. Namun bertepatan pada hari
Rabu malam (20/6) pukul 19.00 WIB, ada sebuah pesan singkat dari Haviz
melalui hendphone kakaknya Izzatillah yang mengatakan, dia bersama
temannya tersesat dan kalau keesokkan harinya tiada kabar lagi, tolong
dicari mereka berdua.


Membaca
SMS tersebut, hati kedua orang tua sudah gundah gulana, kegalauan semua
keluarga tidak dapat terbendung lagi. Rasa penasaran untuk mendapatkan
pesan singkat dari Haviz selalu menyelimuti keluarga Haviz.


Dan,
hari Kamis merupakan penantian yang panjang bagi keluarga Haviz,
setelah dicoba-coba menghubungi ke handphone Haviz, namun tidak aktif
lagi. Rasa kegelisahan itu berujung sampai Jumat pagi, memang tidak ada
satupun pesan singkat yang kami terima lagi dari Haviz.


Karena
kami takut terjadi apa-apa sama Haviz dan Alfian, kami memberanikan
diri melaporkan kejadian ini pada kantor Camat Canduang. Pada Jumat
malam (22/6) berbagai komponen organisasi kemanusiaan, seperti dari
Basarnas Sumatera Barat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah ( BPBD ),
baik dari Agam, Bukittinggi, Padang Panjang dan Payakumbuh termasuk PMI
Agam, organisasi radio amatir RAPI, Mapala Unand, STAIN Bukittinggi,
Polsek IV Angkat Candung, KSB Lasi, pemuda Banto Darano Sanjai serta
organisasi lainnya.


Setelah
mengadakan rapat penyusunan strategi serta mendengarkan penuturan dari
Fauzan, teman Haviz yang batal berangkat, Tim langsung pada tengah malam
itu sekitar pukul 23.30 WIB bergerak mencari dua orang remaja tanggung
tersebut melalui jalur Kacawali jorong Labuang Nagari Canduang Koto
Laweh dengan kekuatan 34 orang personil yang langsung dikomandoi Kepala
BPBD Agam Bambang Warsito. Setelah melakukan pencarian selama lebih
kurang 5 jam, tim kembali ke posko dengan hasil nihil.


Keesokkan
harinya pada hari Sabtu siang (23/6) pukul 11.00 WIB, pencarian kembali
dilanjutkan dengan kekuatan 125 personil yang melakukan penyisiran dari
empat titik pendakian, dua titik dari Nagari Canduang Koto Laweh, dan
dua tim lagi dari Nagari Lasi. Namun setelah kembali pada sore harinya,
ke empat tim pulang dengan tangan kosong.


Kami,
tutur ayahanda Haviz, ikut serta dengan tim melakukan pencarian sambil
berdoa pada Allah supaya Allah memberikan jalan kemudahan bagi kami.
Kondisi yang sama juga kami hadapi pada hari Minggu, sebanyak 75 orang
personil bergerak mencari pada beberapa titik yang diyakini tempat
tersesatnya kedua anak tersebut, namun tidak juga membuahkan hasil.


Pada
hari Senin kemaren, pencarian terus dilakukan dengan dibantu masyarakat
setempat, namun belum juga mendapatkan hasil maksimal. Berbagai langkah
dan upaya dilakukan oleh Edy Syamian yang sangat berharap anak kedua
dari 7 bersaudara itu bisa pulang.


Seluruh
saran orang ditampung oleh Edy Syahmian. “Kalau dalam kondisi seperti
ini, rumput sekalipun akan saya pegang, kendatipun saya tahu itu tetap
tidak akan memberikan arti bagi kami tengah berada ditepi jurang,” ujar
Edy.


Ditambahkan
oleh Edy Syahmian, keberangkatan Haviz ke Gunung Marapi tidak ada
kaitannya dengan mistik, kendatipun diyakini anaknya Abdul Haviz
memiliki kelebihan dan keanehan. Sedari kecil ketika Haviz duduk
dibangku Sekolah Dasar, Haviz tanpa takut dan gentar mempermainkan
berbagai jenis binatang melata seperti ular, begitu juga kebiasaan Haviz
yang sering duduk-duduk ditempat yang dianggap angker oleh masyarakat.


“Malahan
ada sebuah pohon kelapa yang dianggap angker dan ditakuti masyarakat,
namun dengan jiwa keberaniannya Haviz berani memanjat pohon tersebut
serta memetik buahnya,” tutur Edy Syamian yang didampingi isterinya
Ratmas Anis.


Begitu
juga dengan Alfian, yang sering kali kami perhatikan ketika menginap di
rumah dengan kebiasaannya membakar dupa atau kemeyan pada malam hari.
Kami benar-benar bingung apa sebenarnya yang terjadi dengan kedua anak
kami tersebut, imbuh Edy dengan wajah lelahnya.


Namun
kami selalu berupaya ikhlas menghadapi masalah ini, beberapa orang para
normal dan orang pintar sesuai saran dari teman-teman juga telah kami
lakukan. Berbagai versi peramalan disampaikan paranormal tersebut, namun
dari sekian orang yang telah ditemui, pada intinya hampir seluruh
paranormal memprediksi Abdul Haviz dan Alfian dibawa kabur orang bunian.


Mendengar
penuturan demi penuturan dari paranormal tersebut, bagaikan disambar
petir tulang ini rasanya, rasa keinginan yang kuat untuk bisa bertemu
lagi dengan anak tercinta sudah semakin kecil. Namun, kami seluruh
keluarga merasa yakin, Allah masih sayang pada kami, dan Insya Allah
anak kami akan kembali pulang dengan kondisi yang baik, ujar Edy dengan
lemah.


Memang
diakui, langkah Edy Syahmian mengitari pencarian dan menelusuri melalui
paranormal, banyak ramalan yang bervariasi, namun yang cukup
menyenangkan hati, Abdul Haviz dan Alfian masih dinyatakan hidup dan
dipelihara oleh orang bunian yang merupakan penghuni gunung Marapi.


Dibalik
keprihatinan dan kecemasan, ada juga sekelumit berita yang cukup
menggembirakan. Pada hari Sabtu pagi (23/6) pukul 09.00 WIB, ada seorang
warga petani kedatangan dua orang remaja tanggung ke pondoknya yang
berada disekitar pinggang gunung Marapi atau arah menuju keatas Gunung
Marapi.


Menurut
cerita Al Fatah seorang pemuda Banto Darano yang turut serta menyisiri
lokasi pencarian ke Gunung Marapi itu, pagi Sabtu tersebut Atut pemilik
pondok itu didatangi dua orang remaja tanggung yang memakai sandal
jepit, baju kaos oblong hitam dan warna kelabu yang menyandang tas
ransel samping, tiba tiba mendatangi pondoknya dan meminta makan dan
minum.


”Takajuik
awak pak, nan biasonnyo kok ado urang nan datang, jankan dari dakek,
dari jauah pun alah manyalak taranak ambo, tapi antah dek baa taranak
ambo haniang sajo katiko anak mudo nan baduo ko tibo," tutur Atut.


Keduanya
meminta air dan nasi yang dibungkus dengan kantong asoy. Mereka tidak
mau makan dengan piring yang ada dipondok. Ketika Atut menunjukkan jalan
untuk pulang dari Marapi, keduanya hanya diam dan berkata akan pergi
jauh, demikian yang disampaikan Atut.


Atut
sendiri tidak mengetahui informasi bahwasanya ada dua orang remaja
hilang di Marapi saat kedua remaja yang kuat dugaan adalah Hafis dan
Alfian tersebut mendatanginya.


Setelah
mendengar penuturan dari Atut serta dari ciri-ciri yang disampaikannya,
diyakini bahwa kedua remaja tanggung tersebut adalah Abdul Haviz dan
Alfian yang sudah melakukan pendakian semenjak Selasa lalu.


Selain
itu, pada hari Senin kemaren (25/6) sekitar pukul 17.00 WIB, tim
Basarnas yang mengomandoi pencarian juga menemukan ada jejak kaki yang
diperkirakan sekitar dua jam yang lalu dilewati dua orang yang berlokasi
sekitar di Lakuak Munta.


Setelah
ditelusuri hingga jejak menghilang, tim hanya menemukan sebuah Goa yang
biasa disebut masyarakat sekitar Goa Inyiak Taruko. Pencarian sekitar
goa langsung dilakukan tim Basarnas, namun hasilnya juga nihil dan tim
kembali ke posko yang berada di kantor camat Canduang dengan tangan
hampa.


Hingga hari ini, Selasa (26/6) pukul 16.00 WIB tim belum juga menemukan warga Banto Darano dan Kamang Magek tersebut.

Bupati
Agam Indra Catri yang mendatangi posko di kantor Camat Canduang Selasa
(26/6) ingin mengetahui perkembangan terakhir tentang dua orang warga
yang hilang tersebut, menyatakan rasa prihatinnya yang mendalam.


“Kita
Pemerintah Kabupaten Agam merasa sangat prihatin atas kejadian ini,
semua kekuatan telah kita turunkan secara maksimal, baik melalui BPBD,
PMI dan organisasi kemanusiaan lainnya, kendatipun belum membuahkan
hasil yang kita harapkan,” ungkap Indra Catri.


Ketika
didesak wartawan mengenai batas waktu pencarian, bupati menegaskan,
untuk tahap pertama ini kita sesuaikan dengan kesepakatan awal yakni
dalam tempo satu minggu atau sampai tanggal 28 Juni 2012, namun apakah
nanti akan dilakukan perpanjangan, tentunya akan kita sesuaikan dengan
hasil evaluasi dari tim. Apabila rekomendasi tim harus diperpanjang
waktu pencarian, kenapa tidak kita lakukan,” papar Indra Catri dengan
serius.


Pada
bagian lain Indra Catri juga memberikan apresiasi yang tinggi atas
kerjasama, kepeduliaan dan pengorbanan dari seluruh komponen masyarakat
serta organisasi kemanusiaan, baik dari provinsi, kabupaten kota maupun
kecamatan dan nagari.


“Saya
sangat bersyukur dan berterima kasih atas kemurahan hati dan semangat
dari rekan-rekan relawan dan wartawan yang tak mengenal waktu, baik
siang maupun malam, semoga menjadi amal bagi kita semua dan kedua warga
kita dapat ditemukan dalam keadaan yang selamat sesegera mungkin,” harap
Indra Catri, mengakhiri.
Reputation
Comments
 
Possibly Related Threads...
Thread:
  Gubernur Sambut Peraih Penghargaan Lingkungan Hidup
  Hidup Ibarat Basilek
  Etnis Minang Diminta Lebih Percaya Diri
  Gubernur: Program Adiwiyata Membentuk Karakter Anak Didik
  Banyak Penyebab Anak Durhaka
  Radio Masih Punya Peran Penting
  Adi Gunawan: Si Ateis Itu Anak Cerdas
  Sasalah-salah Anak Buah, Salah Bapak Buah
  Kalau Tidak Jualan, Anak Saya Makan Apa?
  Gaya Hidup Modern Lupa Pola Hidup Sesuai Anjuran Agama