Perhatian untuk member MinangForum untuk membaca peraturan dahulu agar post anda tidak dihapus
Dapatkan aplikasi MinangForum untuk android anda, Klik Disini untuk mendownload


 
Thread Rating:
  • 0 Votes - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
+ Reply to Thread
09-12-2011 07:58 AM

langkisau Offline
*

  • Feb 2009
  • 706 posts
  • reputations
  • 9 thanks
    Given 30 thank(s) in 28 post(s)
Post: #1
TRADISI MANJALANG ISTANA MANDEH RUBIAH DI LUNANG
SETIAP tahun, selalu ada ritual adat di Istana atau Rumah Gadang Mandeh Rubiah di Lunang Kecamatan Lunang Silaut Pesisir Selatan. Ritual itu dilaksanakan di bulan baik yakni hari Lebaran. Ritual tersebut disebut Ninik Mamak Nan Salapan mengunjungi (manjalang) istana atau Rumah Gadang Mandeh Rubiah.

Rakena (55), Mandeh Ru­biah ke-VII Jumat (2/9) lalu menyebutkan, tradisi ini telah berlangsung lama, semenjak dari zaman Bundo Kanduang (Mandeh Rubiah I) mulai mejadikan kawasan ini sebagai kerajaan.

Berdasarkan pantauan Ha­lu­an, Jumat (2/9) kegiatan dimulai dengan arak arakan dari Kantor KAN Lunang dengan diawali tembakan salvo. Arak arakan terdiri dari rom­bongan Ninik Mamak Nan Salapan lengkap dengan atribut dan bendera kebesaran.

Di belakang Ninik Mamak Nan Salapan terdapat barisan alim ulama, pemerintah keca­matan, cadiak pandai, bundo kanduang, pemuda dan diiringi ratusan jamba. Iring- iringan tersebut sesampai di Gerbang Rumah Gadang, menegun sejenak dan menunggu tem­bakan salvo ke dua. Setelah itu rombongan kembali berge­rak menuju Rumah Gadang.

Sesampai di halaman Ru­mah Gadang Mandeh Rubia VII menyabut di depan pintu Istana yang berdiri megah itu. Rombongan kembali berhenti bergerak, Mandeh Rubiah pada saat itu menyambut para Ninik Mamak dan Rombongan sem­bari mengucapkan “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1423 Hijriah, Mohon Maaf Lahir Batin.”

Rombongan kemudian duduk pada tempat yang telah dipersiapkan. Pada Prosesi adat itu, sejumlah tokoh berkesem­patan menyampaikan sepatah dua patah kata. Di antaranya, Darwis Camata Lunang Silaut, Ketua KAN, Wali Nagari dan Pemuka Masyarakat.

Selanjutnya, kegiatan manja­lang Rumaha Gadang dilanjut­kan dengan menaiki rumah. Ninik Mamak Nan Salapan naik ke Istana Bundo Kandu­ang tersebut diiringi oleh pilar nagari lainnya. Pada kesem­patan itu ada sisombah, makan dan ditutup dengan do’a selamat.

Makna dari tradisi ini menurut Mandeh Rubiah VII adalah untuk membangun tali silaturrahmi antara Ninik Mamak dengan segenap anak kemenakan di hari fitrah. “Pada ritual ini yang ingin dicapai adalah pensucian diri pasca ramadan berlalu,” kata Mandeh Rubiah.

Sejarah dan Legenda Istana

Rumah Gadang Mande Rubiah terletak di Kecamatan Lunang Silaut dengan jarak ± 157 Km dari Kota Painan, dan ±3,5 jam dari kota Padang. Kini istana itu berkembang pula menjadi objek wisata. Bangunan ini diperkirakan sudah ada sejak abad ke - 14. “Pendirinya memiliki kaitan yang sangat erat dengan Kerajaan Pagaru­yuang yang terletak di Batu­sang­kar,” ungkap Rakena.

Berdasarkan penuturan, konon dikisahkan ketika terjadi huru-hara di Kerajaan Pagaru­yung seorang Putri Bundo Kandung yang bernama Putri Salasiah Pinang Masak melari­kan diri dan kemudian memba­ngun isatana di hilir Batang Lunang. Maka sesuai dengan kisah tersebut diyakini adaya keturunan Mande Rubiah di daerah ini.

“Latar belakang inilah yang kemudian menjadi daya tarik wisata budaya sehingga Rumah Gadang ini banyak dikunjungi para wisatawan. Dilakosi ini banyak terdapat peninggalan sejarah yang dianggap keramat oleh masyarakat setempat, diantaranya Tanduak Binauang, Talua Garudo dan berbagai jenis keris,” kata Rakena.

Kerajaan yang disebut-sebut sebagai pewaris tahta Bundo Kanduang yang dikenal sebagai Raja Perempuan Pagarruyung yang paling termasyhur dan melegenda di tengah-tengah masyarakat Minangkabau. Hubungan antara dua kerajaan besar ini diungkapkan dalam Kaba Cindua Mato yang sama melegendanya dengan Bundo Kanduang. Menurut cerita rakyat Minangkabau itu, disaat terjadi pertempuran hebat antara Pagarruyung dengan Kerajaan Singiang-Ngiang (selama lebih kurang 23 tahun), Bundo Kanduang dengan beberapa pengikutnya mengirab (terbang) ke langit. Bahasa itu tentu hanyalah sebagai kiasan dari kenyataan yang sebenarnya bahwa Bundo Kanduang mela­rikan diri ke Nagari Lunang dan mendirikan sebuah kera­jaan kecil di daerah itu. Untuk menyembunyikan identitasnya, Bundo Kanduang menukar namanya dengan Mande Rubi­ah, yang kata awal bahasa itu dalam bahasa Minangkabau memiliki makna yang sama.

Bundo Kanduang bagi banyak ahli sejarah tetap saja sebagai tokoh yang misterius keberadaannya. Hal ini bisa jadi karena Minangkabau sebe­lum Islam masuk ke daerah ini tidak mengenal tradisi menulis, sehingga sejarah hanya diwariskan secara lisan dari mulut kemulut. Tidak hanya itu, tetapi sejarah pun dibung­kus dalam bentuk cerita yang disebut di Ranah Minang sebagai Kaba. Berbagai kisah semisal asal keturunan Minang­kabau dari Iskandar Zulkarnain (Alexander Agung). Dalam Tambo Minangkabau disebut­kan bahwa Iskandar Zulkarnain memiliki tiga orang anak laki-laki. Ketiga orang anak ini adalah Maharaja Alif, Maharaja Dipang dan Maharaja Diraja. Anak Iskandar Zulkarnain yang terakhir ini datang keda­ratan Minangkabau sewaktu Gunung Marapi masih sebesar telur itik. Maharaja Diraja inilah yang kemudian dipercayai sebagai nenek moyang orang Minangkabau.

Di Lunang juga terdapat komplek makam Bundo Kan­duang, Dang Tuanku, Puti Bungsu, Cindua Mato dan beberapa pengikutnya. Kuburan Bundo Kanduang, Dang Tuan­ku, Puti Bungsu dan beberapa orang pengikutnya terletak dalam satu komplek. Semen­tara itu kuburan Cindua Mato terpisah hampir satu kilometer dari komplek makam Bundo Kanduang. Entah mengapa makam Cindua Mato terpisah dari komplek makam yang Bundo Kanduang, yang penting semua makam manusia-ma­nusia yang sering dijumpai dalam mitos Minang­kabau itu sama-sama dikera­matkan.

Yang juga sangat menarik bagi pengunjung adalah nisan-nisan di setiap kuburan itu yang unik. Nisan yang tidak biasanya dijumpai di Minangkabau itu khabarnya didatangkan dari Aceh, makanya orang-orang setempat juga menyebutnya sebagai Nisan Aceh. Bentuk nisan itu seperti penggada Bima yang sering dijumpai di film-film. Mempunyai ukiran yang tidak terpikirkan oleh manusia sekarang bagaimana cara orang-orang dimasa ratusan tahun lalu itu membuatnya.

Bundo Kanduang, yang kemudian berganti nama men­ja­di Mande Rubiah, sampai sekarang tahta kebesarannya masih berlanjut hingga Mande Rubiah VII. Keberadaan Man­de Rubiah sebagai penerus kebesaran Bundo Kanduang diakui di tengah-tengah masya­rakat tidak hanya di Nagari Lunang, akan tetapi sampai ke daerah-daerah yang pernah dipengaruhi oleh kekuasaan Minangkabau seperti Indopuro, Muko-Muko (Bengkulu), Jam­bi, dan Palembang. Bahkan sampai sekarang masih ada masyarakat dari Air Bangis, yang mencari nenek moyang mereka ke Nagari Lunang.

Mande Rubiah VII, sebagai pewaris tahta Bundo Kanduang menjadi pemimpin bagi masya­rakat, tidak hanya secara simbolik tapi berlaku dalam berbagai kegiatan adat, agama, bahkan pemerintahan. Dalam tataran adat, Mande Rubiah VII yang melantik atau men­syahkan penghulu nan salapan (pimpinan adat). Selain itu Mande Rubiah VII juga mem­berikan keputusan akhir ten­tang apa yang dimusya­warahkan oleh pimpinan adat. Bila Mande Rubiah VII setuju makakeputusan berlaku, bila keputusan itu kurang berkenan di hati Mande Rubiah VII, maka keputusan harus ditinjau ulang kembali.

Jejak-jejak sejarah yang ditinggalkan Bundo Kanduang di Kerajaan Mande Rubiah, selain peninggalan-peninggalan kuno yang ada di istana seperti; manuskrip, senjata-senjata, dan alat-alat rumah tangga kerajaan yang telah berusia ratusan tahun, di sekitar komplek Istana Mande Rubiah juga dapat ditemukan kuburan para tokoh yang melegenda di Minangkabau (Bundo Kan­duang, Dang Tuanku, Rajo Mudo, Puti Bungsu, dan Cin­dua Mato). Namun yang terpen­ting jejak yang ditinggalkan Bundo Kanduang di Nagari Lunang adalah pengaruh Mande Rubiah di tengah-tengah masya­rakat yang semakin mengukuh­kan bahwa beliau benar-benar sebagai penerus kebesaran tahta Ratu Minangkabau (haluan)
Reputation
Comments
 
Possibly Related Threads...
Thread:
  Bakaua Adat, Tradisi Syukur Masyarakat Sijunjung
  Tradisi “Mambukak Kapalo Banda” Masyarakat Sungai Pisang
  Tradisi “Gadaikan Anak” di Minangkabau
  Seni Tradisi Kalah dengan Organ Tunggal
  Dabus Garuda, Tradisi yang Masih Terpelihara dengan Baik
  Tradisi Menahlilkan Orang Maling
  Ketua IPSI Padang Resmikan Sasaran Silat Seni Tradisi
  Tradisi "Maarak Atok" Dihidupkan Lagi Masyarakat Garagahan
  Tradisi “Rayo Katampek”
  Tradisi Melihat Bulan dan Memukul Bedug