Perhatian untuk member MinangForum untuk membaca peraturan dahulu agar post anda tidak dihapus
Dapatkan aplikasi MinangForum untuk android anda, Klik Disini untuk mendownload


 
Thread Rating:
  • 0 Votes - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
+ Reply to Thread
07-12-2012 01:11 PM

limpapeh Offline
*

  • Jan 2009
  • 777 posts
  • 0
Post: #1
Sesobek Kecil Sejarah Plein van Rome di Padang
[Image: qqvz4ffe6c1828b96.jpg]
Sebuah pemandangan rapat umum di Lapangan Imam Bonjol Tahun 1948. Sebuah partai politik pribumi, menuntut pembebasan pemimpin politik Indonesia yang ditangkap Belanda ketika Agresi Militer II.\" (Sumber: http://beeldbank.nationaalarchief.nl)


Kamu tahu nggak, kalau dalam tata ruang kota-kota di Jawa, ada satu unsur yang selalu ada dan tidak boleh dihilangkan? Apa itu? Yakninya, alun-alun.
Alun-alun juga berfungsi sebagai tempat di mana raja dan rakyat bisa bercengkerama. Di Minangkabau, ruang publik yang fungsinya lebih kurang persis dengan alun-alun namanya barangkali medan nan bapaneh, artinya kira-kira adalah sebuah lapangan datar yang terkangkang ke matahari tempat di mana orang-orang dari nagari-nagari bertemu. Tempat ini terletak di batas nagari dengan nagari. Perhelatan rakyat diadakan di tempat ini, pasar malam dan karnaval, acara adu kerbau, maupun permainan-permainan rakyat lainnya.
Sekarang ruang publik seperti itu semakin langka, terdesak oleh pembangunan kota. Sekarang yang masih kita punya adalah Taman Imam Bonjol atau Lapangan Imam Bonjol.
Taman Imam Bonjol itu dulu namanya Lapangan Roma. Lapangan Roma seakan-akan selalu menjadi bagian dari perkembangan sosial dan politik kota Padang. Edisi Perca kali ini akan menceritakan beberapa peristiwa bersejarah yang pernah terjadi atau berlangsung di lapangan itu.
Di Padang pada awal abad ke-20, tepatnya 1 Maret 1902, disebut-sebut oleh koran Sumatra Bode, sebagaimana dicatatkan Rusli Amran, telah digantung 6 orang penjahat. Algojo yang melakukan eksekusinya bernama Siluen. Bersama 2 kawannya yang lain, Siluen didatangkan khusus dari Betawi untuk mengeksekusi Rajo Ageh, Hosen, Dulah, Udin, Suman, dan Rajab yang diputuskan dihukum gantung. Tempat hukuman gantung itu dilaksanakan di Lapangan Roma. Peristiwa itu disaksikan orang beramai-ramai.
Lapangan Roma juga pernah menjadi objek perebutan kelompok urang bagak Kota Padang yang banyak bermunculan pada 1930an, ketika krisis ekonomi melanda. Dengan menguasai lapangan itu, kelompok lain tidak diperbolehkan ikut memakainya. Jika ingin menggunakannya, harus membayar ‘upeti’ kepada kelompok yang menguasainya. Perebuatan penguasaan Lapangan Roma, menurut Colombijn, bahkan juga melibatkan kelompok pemuda perananan China di Pondok. Lapangan Roma diperebutkan kelompok pemuda juga karena lapangan itu merupakan tempat pertandingan dan kejuaraan-kejuaraan sepakbola diadakan.
Pada tahun 1943, ketika Jepang mengusai Padang, orang-orang Eropa, Indo-Eropa, dan pejabat pribumi yang yang terkait dengan kekuasaan bangsa Eropa, dikumpulkan dan dibariskan di Lapangan Roma ini juga. Mereka, kata Bahder Johan, didata oleh pejabat militer Jepang untuk kemudian dipenjarakan, atau dikirim ke kamp-kamp konsentrasi yang tersebar di Sumatera Tengah sebagai tawanan.
Lapangan Roma, setelah kemerdekaan, tetap difungsikan sebagai ruang publik. Namanya “dinasionalisasikan” menjadi Lapangan Imam Bonjol. Semoga lapangan itu tetap menjadi ruang publik dan tidak disulap menjadi plasa.
(DA)

Kamu tahu nggak, kalau dalam tata ruang kota-kota di Jawa, ada satu unsur yang selalu ada dan tidak boleh dihilangkan? Apa itu? Yakninya, alun-alun.

Alun-alun juga berfungsi sebagai tempat di mana raja dan rakyat bisa bercengkerama. Di Minangkabau, ruang publik yang fungsinya lebih kurang persis dengan alun-alun namanya barangkali medan nan bapaneh, artinya kira-kira adalah sebuah lapangan datar yang terkangkang ke matahari tempat di mana orang-orang dari nagari-nagari bertemu. Tempat ini terletak di batas nagari dengan nagari. Perhelatan rakyat diadakan di tempat ini, pasar malam dan karnaval, acara adu kerbau, maupun permainan-permainan rakyat lainnya.

Sekarang ruang publik seperti itu semakin langka, terdesak oleh pembangunan kota. Sekarang yang masih kita punya adalah Taman Imam Bonjol atau Lapangan Imam Bonjol.

Taman Imam Bonjol itu dulu namanya Lapangan Roma. Lapangan Roma seakan-akan selalu menjadi bagian dari perkembangan sosial dan politik kota Padang. Edisi Perca kali ini akan menceritakan beberapa peristiwa bersejarah yang pernah terjadi atau berlangsung di lapangan itu.

Di Padang pada awal abad ke-20, tepatnya 1 Maret 1902, disebut-sebut oleh koran Sumatra Bode, sebagaimana dicatatkan Rusli Amran, telah digantung 6 orang penjahat. Algojo yang melakukan eksekusinya bernama Siluen. Bersama 2 kawannya yang lain, Siluen didatangkan khusus dari Betawi untuk mengeksekusi Rajo Ageh, Hosen, Dulah, Udin, Suman, dan Rajab yang diputuskan dihukum gantung. Tempat hukuman gantung itu dilaksanakan di Lapangan Roma. Peristiwa itu disaksikan orang beramai-ramai.

Lapangan Roma juga pernah menjadi objek perebutan kelompok urang bagak Kota Padang yang banyak bermunculan pada 1930an, ketika krisis ekonomi melanda. Dengan menguasai lapangan itu, kelompok lain tidak diperbolehkan ikut memakainya. Jika ingin menggunakannya, harus membayar ‘upeti’ kepada kelompok yang menguasainya. Perebuatan penguasaan Lapangan Roma, menurut Colombijn, bahkan juga melibatkan kelompok pemuda perananan China di Pondok. Lapangan Roma diperebutkan kelompok pemuda juga karena lapangan itu merupakan tempat pertandingan dan kejuaraan-kejuaraan sepakbola diadakan.

Pada tahun 1943, ketika Jepang mengusai Padang, orang-orang Eropa, Indo-Eropa, dan pejabat pribumi yang yang terkait dengan kekuasaan bangsa Eropa, dikumpulkan dan dibariskan di Lapangan Roma ini juga. Mereka, kata Bahder Johan, didata oleh pejabat militer Jepang untuk kemudian dipenjarakan, atau dikirim ke kamp-kamp konsentrasi yang tersebar di Sumatera Tengah sebagai tawanan.

Lapangan Roma, setelah kemerdekaan, tetap difungsikan sebagai ruang publik. Namanya “dinasionalisasikan” menjadi Lapangan Imam Bonjol. Semoga lapangan itu tetap menjadi ruang publik dan tidak disulap menjadi plasa. .(inioke)
(This post was last modified: 07-12-2012 01:22 PM by limpapeh.)
Reputation
Comments
 
Possibly Related Threads...
Thread:
  Sejarah Pesan Singkat (SMS)
  Kawa Daun, Sejarah di Sayak Tempurung
  Rumah Gadang Orang Padang
  Tradisi Maanta Di Nagari Padang Sibusuak
  Lo Orang Padang Ya? Bukan…..
  Walikota Padang Ajak Masyarakat Lestarikan Budaya Minang
  Mandala Buka Rute Padang-Singapura
  Sejarah Pelabuhan Teluk Bayur-Emmahaven
  Info Bohong Gempa Jepang Cemaskan Warga Padang
  Warung Padang Bukan Berarti Pemiliknya Orang Padang