The following warnings occurred:
Warning [2] file_get_contents(http://graph.facebook.com/?ids=http://www.minangforum.com/Thread-Sejarah-Nama-Minangkabau): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 403 Forbidden - Line: 806 - File: inc/plugins/fbmeta.php PHP 5.3.28 (Linux)
File Line Function
[PHP]   errorHandler->error
/inc/plugins/fbmeta.php 806 file_get_contents
/showthread.php(1196) : eval()'d code(42) : eval()'d code 1 fb_comment_count
/showthread.php(1196) : eval()'d code 42 eval
/showthread.php 1196 eval
Warning [2] file_get_contents(http://graph.facebook.com/?ids=http://www.minangforum.com/Thread-Sejarah-Nama-Minangkabau): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 403 Forbidden - Line: 806 - File: inc/plugins/fbmeta.php PHP 5.3.28 (Linux)
File Line Function
[PHP]   errorHandler->error
/inc/plugins/fbmeta.php 806 file_get_contents
/showthread.php(1196) : eval()'d code(131) : eval()'d code 1 fb_comment_count
/showthread.php(1196) : eval()'d code 131 eval
/showthread.php 1196 eval



Perhatian untuk member MinangForum untuk membaca peraturan dahulu agar post anda tidak dihapus
Dapatkan aplikasi MinangForum untuk android anda, Klik Disini untuk mendownload


 
Thread Rating:
  • 0 Votes - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
+ Reply to Thread
11-29-2012 10:31 AM

talongsong kuok Offline
*

  • Jan 2009
  • 347 posts
  • reputations
  • 1 thanks
    Given 14 thank(s) in 13 post(s)
Post: #1
Sejarah Nama Minangkabau

  1. Prof. Dr. RM. NG. Poerbacaraka. Pendapatnya dikemukakan dalam sebuah
    karangan yang berjudul “Riwayat Indonesia”. Dalam tulisan mengenai nama
    Minangkabau dikaitkan dengan prasasti yang terdapat di Palembang, yaitu
    prasasti Kedudukan Bukit. Prasasti ini memuat 10 baris kalimat yang
    berangka tahun 605 Caka (Syaka) atau 683 M. Batu bertulis ini telah
    diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai berikut : ( a. Selamat
    Tahun Syaka telah berjalan 605 tanggal 11 b. Paro terang bulan
    waisyakha yang dipertuan yang naik di c. Perahu mengambil perjalanan
    suci pada tanggal 7 paro terang d. Bulan Jyestha yang dipertuan hyang
    berangkat dari Minanga. e. Tamwan membawa bala tentara dua puluh ribu
    dengan peti. f. dua ratus sepuluh dua banyaknya g. dua ratus berjalan di
    perahu dengan jalan darat seribu h. tiga ratus sepuluh dua banyaknya
    datang di mata Yap. i. Bersuka cita pada tanggal lima bulan… j. dengan
    mudah dan senang membuat kota.. k. syri wijaya menang karena perjalanan
    suci). Kesimpulan dari isi prasasti ini adalah Yang Dipertuan Hyang
    berangkat dari Minanga Tamwan naik perahu membawa bala tentara. Sebagian
    melalui jalur darat. Menurut Poerbacaraka kata tamwan pada prasasti itu
    sama dengan bahasa Jawa Kuno yaitu “Temwan”, bahasa Jawa sekarang Temon
    dan bahasa Indonesianya pertemuan. Pertemuan disini yaitu pertemuan dua
    buah sungai yang sama besarnya. Sungai yang dimaksudkan ialah Sungai
    Kampar Kiri dan Kampar Kanan. Besar kemungkinan dari orang kemudian
    dinamakan “Minangakanwa”, yang lama kelamaan diucapkan Minangkabau. Juga
    dikemukakan, bahwa dekatnya pertemuan Kampar Kiri dan Kampar Kanan
    inilah terletak pusat agama Budha Mahayana, yaitu Muara Takus.
  2. M. Said bertitik tolak dari prasasti Padang Roco Tahun 1286 di
    dekat Sungai Langsat di hulu Sungai Batang Hari. Pada prasasti ini
    ditemui kata-kata Swarna Bhumi dan Bhumi Melayu. Tidak satupun dari
    prasasti-prasasti yang ditemui yang berisikan kata-kata Minangkabau.
    Sedangkan tempat prasasti ditemui termasuk daerah Minangkabau sekarang.
    Oleh sebab itu, M. Said berkeyakinan bahwa ketika ekspedisi Pamalayu,
    nama Minangkabau belum ada. Menurut penelitian ahli sejarah seperti M.
    Yamin dan CC Berg, ekspedisi Pamalayu bukanlah agresi Militer, melainkan
    muhibah diplomatik dalam usaha mengadakan aliansi untuk menghadapi
    serangan Khubilai Khan. Itulah sebabnya prasasti Padang Roco isinya juga
    menunjukkan kegembiraan. Tidak mustahil antara pihak tamu dengan tuan
    rumah diadakan pesta untuk menyenangkan hati kedua belah pihak. Pada
    peristiwa inilah salah satu acaranya diadakan arena pertarungan kerbau
    antara kerbau tuan rumah dengan pihak tamu. Rupanya kemenangan berada di
    pihak tuan rumah. Suatu pertanyaan timbul, apakah cerita mengenai
    perlagaan kerbau yang kebanyakan dianggap dongeng tidak mempunyai
    hubungan dengan kedatangan misi Pamalayu ini. Menurut ukuran sekarang
    terlalu kecil peristiwa pertarungan kerbau ini untuk menguji kalah
    menang yang mempertaruhkan peristiwa dan status negara. Tetapi dari
    peristiwa ini nama Minangkabau lahir bukan mustahil.
  3. Prof. Dr. Muhammad Husein Nainar. Menurut keterangannya Guru
    Besar pada Universitas Madras ini, sebutan Minangkabau berasal dari
    “Menonkhabu” yang artinya “tanah pangkal” atau “tanah permai”
  4. Prof. Vander Tuuk mengatakan bahwa Minangkabau asalnya dari kata “Pinang Khabu” yang artinya tanah asal
  5. Sultan Muhammad Zein mengatakan bahwa Minangkabau berasal dari
    “Binanga Kanvar” yang artinya Muara Kampar. Keterangan ini bertambah
    kuat oleh karena Chau Yu Kua yang dalam abad ke 13 pernah datang
    berkunjung ke Muara Kampar menerangkan, bahwa disana didapatinya
    satu-satu bandar yang paling ramai di pusat Sumatera.
  6. Pendapat Tambo. Dari beberapa tambo seperti Tambo Pariangan dan
    Tambo Sawah Tangah, pada dasarnya mempunyai kesamaan lahirnya nama
    Minangkabau. Salah satu diantaranya transkripsi Tambo Pariangan nama
    Minang kabau diceritakan sebagai berikut : (” Tidak berapa lama
    antaranya datang lagi raja itu membawa seeokor kerbau besar yang
    tanduknya sepanjang delapan depa. Maka raja itu bertaruh atau
    bertanding, seandainya kalah kerbau kami, maka ambillah isi perahu ini.
    Maka dijawablah oleh raja, kemudian minta janji selama tujuh hari.
    Keesokkan hari dicarilah seekor anak kerbau yang sedang menyusu, lalu
    dipisahkan dari induknya. Anak kerbau tadi dibuatkan tanduk dari besi,
    yang bercabang dua yang panjangnya enam depa. Setelah sampai janji itu,
    maka dipasanglah tanduk palsu itu di kepala anak kerbau yang dipisahkan
    dari induknya itu. Melihat kerbau besar tersebut, berlarilah anak kerbau
    itu menuju kerbau besar yang disangka induknya sendiri untuk menyusu
    karena demikian haus dan laparnya. Lalu anak kerbau itu berbuat seperti
    menyusu sehingga tanduk palsunya masuk perut kerbau besar itu dan
    akhirnya mati. Maka mufakatlah seluruh rakyat akan menamakan negeri itu
    Minang kabau.
  7. Menurut Drs. Zuber Usman, dalam bukunya ” Kesustraan Lama
    Indonesia”. Dalam buku Hikayat raja-raja Pasai itu dikemukakan Raja
    Majapahit telah menyuruh Patih Gajah Mada pergi menaklukan pulau Perca
    dengan membawa seekor kerbau keramat yang akan diadu dengan kerbau Patih
    Sewatang. Dalam pertarungan ini Patih Sewatang mencari anak kerbau yang
    sedang kuat menyusu. Setelah sekian lama tidak menyusu kepada induk
    baru dibawa ke arena pertarungan. Karena haus dan kepalanya diberi
    MINANG (taji yang tajam), ketika pertarungan terjadi anak kerbau
    tersebut menyeruduk kerbau raja Majapahit tadi. Dalam pertarungan ini
    Patih Sewatang menang. Berdasarkan kepada Tambo mungkin ada yang
    bertanya mengapa tidak disebut “Manang kabau”, tetapi Minangkabau.
    Jawabnya karena kemenangan itu lantaran anak kerbau tadi memakai kata ”
    MINANG” yaitu taji yang tajam dan runcing, sehingga merobek perut
    lawannya.(kompasiana)
Reputation
Comments
 
Possibly Related Threads...
Thread:
  Sejarah Nagari Air Bangis
  Ini Sejarah Tabuik Pariaman
  Sejarah Singkat Pembentukan Kabupaten Pasaman
  Mengingat Kembali Sejarah Penyerangan Pasar Bandar Buat
  Menapaktilasi Jejak Sejarah Silek Kumango
  Meniti Sejarah Songket Silungkang
  SEJARAH KOTA PADANG
  Rusli Amran, Penyelamat Sejarah Ranah Minang (1922-1996)
  Koto Gadang : tempat lahir Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabau dan Haji Agus Salim.
  Sejarah Suku Minang