Perhatian untuk member MinangForum untuk membaca peraturan dahulu agar post anda tidak dihapus
Dapatkan aplikasi MinangForum untuk android anda, Klik Disini untuk mendownload


 
Thread Rating:
  • 1 Votes - 5 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
+ Reply to Thread
05-26-2011 07:51 AM

karimarajo Offline
*

  • Aug 2010
  • 386 posts
  • reputations
  • 0 thanks
    Given 24 thank(s) in 20 post(s)
Post: #1
Saka Lawang, Riwayatmu Tak "Semanis" Tempo doeloe......!
[Image: 10f0tg8.jpg]

Kenal dengan Lawang? Namanya sudah go internasional. Puncak Lawang, adalah tempat wisata dengan pemandangan alam mengarah ke danau Maninjau yang terletak di Kecamatan Matua Kabupaten Agam. Di puncak Lawang, tiap tahun diselenggarakan ivent paralayang.

Tidak hanya itu, Lawang juga terkenal sebagai daerah penghasil Gulo Saka, gula merah yang terbuat dari sari tebu yang dicetak dengan cetakan bulat yang proses pengerjaan pada umumnya masih dilaksanakan secara tradisional. Walau sebagian mengolah secara semi modern.dengan menggunakan mesin, namun saka Lawang tetap saka Lawang.

Proses awal pembuatan Saka Lawang pada umumnya masih menggunakan jasa kerbau untuk pemutar kilangan tebu, dimana kilangan tebu tersebut akan memeras air tebu untuk diolah menjadi gulo saka, proses selanjutnya air sari tebu dimasak dalam wajan atau kuali besar sampai mengental, proses selanjutnya adalah mencetak adonan sari tebu yang sudah mengental tersebut dalam cetakan selanjutnya gulo saka siap untuk dipasarkan.

Saka Lawang sudah terkenal sampai kedaerah tetangga, Saka lawang tidak hanya untuk pemanis makanan namun juga salah satu bahan untuk pemanis pembuatan kecap, dari Lawang saka juga mengalir ke Propinsi tetangga seperti Riau, Jambi, Sumut malahan sampai ke Pulau Jawa disamping untuk pemenuhan kebutuhan daerah Sumatera Barat, namun nasib petani tebu dan pembuat Saka Lawang tidak semanis rasa gulo saka tersebut.

N.Rajo Alam, salah seorang pengumpul Saka yang ditemui di pasar Lawang mengatakan harga saka tergantung kebutuhan pasar dan stok yang tersedia,. Kalau permintaan tinggi, otomatis harga meninggkat. Saat ini, harga di tinggkat petani di pasar Lawang berkisar antara Rp. 6.000 sampai Rp.7.000,- perkilogram. Harga ini, sedikit lebuh baik dibanding pekan sebelumnya.

Pasar untuk memasarkan gulo saka hanya dua kali seminggu, yakni Senin dan Jumat sebagai hari pekan di pasar Lawang.

Sementara itu ditingkat petani, seperti pengakuan Marni, dengan modal 80 batang tebu mentah akan menghasilkan 30 sampai 60 Kg saka yang dikerjakan secara tradisional dengan penggerak kilangan memanfaatkan tenaga kerbau. Itu sudah hasil maksimal.

Lain lagi kalau dikerjakan dengan cara semi modern dengan menggunakan mesin diesel sebagai penggerak kilangan, sehingga produksinya akan lebih banyak dibandingkan dengan pengolahan secara tradisional. Namun belum semua petani tebu lawang mampu untuk melakukan mordenisasi karena keterbatasan kemampuan finansial.

Kesulitan lain yang dihadapi petani tebu lawang disamping harga jual saka dan keterbatasan kemampuan pengolahan karena sebagian masih dengan cara tradisional, petani tebu Lawang juga kesulitan untuk mendapatkan pupuk. Keterbatasa tersedianya pupuk dipasaran, ikut mempengaruhi biaya operasional.

“ Walau ada pupuk bersubsidi, namun stok nya terbatas. Kalau memakai pupuk non subsidi harganya cukup tinggi dan tidak terjangkau, kalau tebu tidak dibantu perkembangan dengan pupuk akan menghambat petumbuhan tebu itu sendiri,” ungkap Marni.

Daerah Lawang sekitarnya, merupakan salah satu daerah dengan usaha pertanian tebu yang hampir merata yang dikelola secara tradisional. Semasa pemerintahan Bupati Agam dipimpin oleh M. Noer Syafei, di daerah ini pernah berdiri PGM ( Pabrik Gula Mini ) di kawasan Saribulan.

PGM Saribulan, sempat menghasilkan gula pasir, namun entah apa kendalanya pabrik gula mini yang dibangun dengan dan Inpres tersebut, berhenti beroperasi sehingga meninggalkan bangkalai pabrik. Kini, tidak ada lagi PGM. Di lokasi bekas pabrik, didirikan Sekolah menengah kejuruan SMKN 1 Matur.

Di Kabupaten Agam tidak hanya Lawang sebagai daerah penghasil gulo saka. Beberapa daerah tercatat sebagai daerah penghasil gulo saka seperti Bukik Batabuah Kecamatan Canduang, Sungailandia Kecamatan IV Koto atau Sungaipau dan beberapa daerah lainnya di kawasan Kabupaten Agam. Malahan dua pasar saka yakni di Sungailandia dan Bukikbatabuah, ibarat karakok tumbuah diateh batu. Hidup segan mati tak mau. Ironisnya pasar Sungailandia sudah lebih 15 tahun tidak ada lagi aktifitas pasar saka. Begitu juga dengan pasar saka Bukikbatabuah, pasar yang tergolong masih baru yang didanai dengan APBD Agam.

Umumnya, para petani tebu dan pembuat saka dari Sungaipua, Sungailandia atau Canduang, langsung memasarkannya ke Bukittinggi. Tidak demikian dengan pasar Lawang yang masih eksis dari dahulu sampai sekarang.

Penghulu Pasar Lawang,R.St. Batuah, mengatakan, pasar Lawang tidak hanya sebagai pasar Saka, namun juga berfungsi sebagai pasar untuk pemasaran hasil pertanian lainnya seperti beras ata kulit manis ( Casiavera ) yang berasal dari kawasan sekitarnya seperti dari kawasan Kecamatan Palembayan, Tanjungraya, Lubuakbasuang, di samping sebagai pasar untuk pemasaran hasil pertanian di kawasan kecamatan Matua.

Pasar Lawang merupakan salah satu pasar tradisional yang masih tetap eksis dua kali sepekan. Sementara itu beberapa pasar tradisional di kawasan ini sudah boleh dikatakan mati suri, seperti pasar Matua, pasar Embunpagi, Pasar Palembayan, Pasar Panta dan Pasar Sungailandia karena tidak ada lagi aktifitas jula beli.

R. St. Batuah mengharapkan, Pemkab Agam memperhatikan Pasar Lawang yang luasnya lebih dari satu hektar. “ Pemerintah Kabupaten Agam perlu membantu pendanaan pembenahan pasar syarikat. Karena dari sewa pasar sangat kecil. Kalau dibantu pihak ketiga sebagai investor, pedagang tidak akan mampu membeli atau menyewa.

“Kita akan ajukan proposal ke Pemkab Agam untuk melakukan refitalisasi pasar, sehingga pasar Lawang yang tidak hanya sebagai pasar pemasaran saka, namun juga sebagai pasar penampung hasil pertanian di daerah sekitarnya akan tetap eksis. Apalagi, gairah aktifitas jual beli dipasar Lawang setiap hari pekan dua kali dalam seminggu sangat signifikan,” ujarnya (ridwansyah/marawanews)
Reputation
Thanks given by: baselo
Comments
 
Possibly Related Threads...
Thread:
  Bercerita Minangkabau Tempo Doeloe Lewat Lukisan
Rainbow Pasar Payakumbuh Doeloe
  Industri Gula Saka tak Kenal Ekonomi Kerakyatan
  info paralayang puncak lawang