Perhatian untuk member MinangForum untuk membaca peraturan dahulu agar post anda tidak dihapus
Dapatkan aplikasi MinangForum untuk android anda, Klik Disini untuk mendownload


 
Thread Rating:
  • 0 Votes - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
+ Reply to Thread
06-22-2011 09:32 AM

talongsong kuok Offline
*

  • Jan 2009
  • 347 posts
  • reputations
  • 1 thanks
    Given 14 thank(s) in 13 post(s)
Post: #1
SIPANGKA YANG MINTA MAIN HINGGA LARUT MALAM, Goyangan Itu Membawa Petaka
DHARMASRAYA - Kasus Limapuluh Kota sebenarnya juga sering terjadi di daerah lain, misalnya di Kabupaten Dharmasraya.
Bahkan hasil investigasi Singgalang, selama 2011 saja setidaknya sudah terjadi dua kali keributan yang berbuntut cakak banyak antar kelompok atau kampung.
Semua keributan itu berawal dari acara baralek pernikahan yang menghadirkan orgen tunggal yang disertai goyang artis.
Menyikapi cakak banyak saat orgen tunggal jajaran Kapolres Dharmasraya telah mengeluarkan ketentuan dengan membatasi izin acara yang menghadirkan orgen tunggal itu sampai pukul 18.00 WIB
‘Ketentuan itu sudah ada sebelum saya ditugaskan di Dharmasraya,” ujar Kapolres Dharmasraya AKBP Chairul Aziz kepada Singgalang. Dijelaskanya, setiap warga yang tidak mematuhi ketentuan , maka acaranya langsung dibubarkan, hal ini bertujuan untuk menimalisir keributan pada acara tersebut,” tegasnya.

Ingin dibatasi
Ketua Forum Komunikasi Insan Musik (FKIM) Payakumbuh-Limapuluh Kota, Nofiandri menilai, kurenah cakak banyak sering ia ditemukannya di lapangan.
Pangkal masalah, acap dilemparkan kepada pelaku organ tunggal. “Kalau boleh jujur, sebenarnya kami ini, ingin bermain (organ tunggal) sampai sore. Bukan sampai larut malam. Sebab, kami ini manusia juga. Butuh istirahat,” ujar Nofan, panggilan akrab Nofiandri.
Tapi sayangnya menurut dia, harapan besar dari pelaku organ tunggal, bertolak belakang dengan keinginan tuan rumah. Bahkan tidak mengherankan, kurang seksi saja pakaian artis organ tunggal dalam sebuah pesta, maka group organ tersebut dibilang jadul dan tidak akan ada lagi penggemarnya.
“Nah, disaat pakaian artis suda sedikit seksi, sorotan datang bertubi-tubi. Kami harus bagaimana lagi?” Imbuh Nofan balik bertanya.
Yang membuat FKIM heran menurut Nofan, pelaku organ tunggal selama ini kurang mendapatkankan perhatian dari pemerintah. Padahal, pemerintah selalu menggembar-gemborkan hendak menjaga nilai adat dan norma agama.
“Jika peraturan nagari sudah jelas, serta disambung dengan peraturan daerah. Saya rasa, hiburan organ tunggal berjalan baik. Tak akan ada kericuhan. Sebab, ada aturan mainnya. Kalau seperti sekarang, niniak mamak sebagai tuan ruamh, kadang-kadang membiarkan juga organ berketuntang sampai pagi. Lalu, kami kah yang salah. Kenapa tidak ada perlindungan untuk kami?” tandas dia.
Ketua DPRD Limapuluh Kota, Darman Sahladi menilai, kekisruhan yang sering terjadi akibat acara organ tungal, disebabkan tidak jalannya peraturan di masing-masing nagari. Begitu juga dengan perda Limapuluh Kota, tentang revitalisasi nagari adat. Sehingga, tontonan organ tunggal mengusik rasa keminangkabauan. Apalagi, penyanyi organ tunggal sering beraksi di depan niniak mamak dan urang sumando.
“Nagari, harus bikin pernagnya. Setelah itu, jalankan sebaik mungkin. Bukan dibiarkan saja organ sampai tengah malam. Kita tidak pernah menyalahkan pelaku organ tunggal. Tapi, kita sangat berharap, perananan nagari sebagai kaki pemerintah paling rendah itu tampak. Bukan sebaliknya, membiarkan organ sampai larut malam. Intinya, sangat dibutuhkan aturan di dalam nagari. Kapan perlu, kita godok peraturan daerah tentang organ tunggal,” kata Darman Sahladi.
Sementara itu, Budayawan Yulfian Azrial ketika dihubungi mengatakan. Seluruh pihak harus kembali kepada norma adat. Penerapan revitalisasi nagari adat, sudah dibutuhkan benar.

Dukung polisi
Salah seorang Ketua MUI Agam, Alwisral Imam Zaidallah kepada menyatakan MUI menyambut baik ketegasan Kapolda Sumbar yang melarang orgen tunggal malam hari.
“Kita mendukung penuh sikap Kapolda tersebut, karena penampilan sebagian besar orgen tunggal di masyarakat sudah tidak sesuai lagi dengan ajaran agama Islam dan adat Minangkabau, padahal masyarakat kita adalah masyarakat yang mengaku basandi syarak, syarak basandi kitabullah,” katanya.
Sebelumnya MUI Agam kata Imam telah mensinyalir, penampilan organ tunggal terutama pada acara baralek di malam hari tidak terkontrol.
Di Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya pembatasan pemakaian orgen tunggal pada acara baralek sudah sejak lama diberlakukan oleh wali nagari. Namun pelarangan ini baru disampaikan secara lisan, tapi menurut Walinagari Maninjau Miliardi larangan lisan itu efektif.
Beberapa nagari di Agam bahkan telah mengatur prihal pelarangan ini melalui pernag dan peraturan KAN. Di Nagari Panampuang Kecamatan IV Angkek, Kerapatan Adat Nagari (KAN) setempat mengeluarkan peraturan pelarangan penampilan orgen tunggal pada acara baralek.
“Setahu saya peraaturan sudah ada sejak 2005 dan dilaksanakan secara efektif di sana,” kata mantan Kabid Pemdes BPMPN Agam.
Menurut Satria, nagari Batu Kambing bahkan telah mengajukan draf perna tentang pengaturan kegiatan hiburan di masyarakat.
Berkenaan dengan penegasan Kapolda, jajaran Polres Agam menyatakan siap melaksanakan instruksi ini.
Menurut Kapolres Tanah Datar, AKBP Teguh Trisasongko, mengantisipasi dampak negatif, seperti perkelahian antar kampung, orgen tuggal perlu izin keramaian dan waktu pertunjukan tidak sampai larut malam.
Selama ini, kata Teguh, peraturan pemberian izin sudah ada, namun perlu pengertian, pemahaman dan kesadaran masyarakat.
Pemerintah jorong, nagari, kecamatan dan daerah perku mengingatkan masyarakatnya untuk menjaga ketertiban.Dalam izin keramaian biasanya sudah ditentukan secara lengkap tentang lokasi, waktu, jumlah penonton dan penanggung jawab, namun banyak yang dilanggar.

Dibatasi
Langkah efektif mengantisipasi keributan dalam pertunjukan orgen tunggal adalah dengan cara membatasi waktu. Di Kabupaten Pasaman hal itu sudah dilakukan. Pembatasan dihasilkan melalui kesepakatan segenap unsur masyarakat.
Menurut Kapolres Pasaman AKBP Gatot Santoso, pihaknya kini memperketat izin keramaian guna menghindari hal hal yang tak diinginkan.
“Pertunjukan orgen tunggal pada pesta perkawinan pada malam hari harus melibatkan muspika, ninikmamak dan tokoh masyarakat,” katanya.
Nuansa Islam
Sedangkan Ketua MUI Kota Solok, HM. Rusli Khatib Sulaiman berpendapat sudah saatnya pertunjukan orgen tunggal beralih ke kesenian bernuasa Islam.
Prinsipnya MUI dan ulama menginginkan orang yang melaksanakan pesta, mencari hiburan yang bernuansa islami. Dan berpakaianlah dengan sopan. Karena dalam acara baralek, yang akan melihat adalah ninik, mamak dan bundo kanduang.
Kalaupun harus mengadakan acara orgen tunggal, gelarlah pada siang hari saja.
LAPORAN TIM SINGGALANG
(This post was last modified: 06-22-2011 09:33 AM by talongsong kuok.)
Reputation
Comments
 
Possibly Related Threads...
Thread:
  Wartawan Medan yang Sempat Buat Heboh Malaysia
  Tarian Malam di Taman Melati
  Padang Religius Masih Sekadar Slogan : Hiburan Malam Menjamur
  Gondang Sambilan, Kesenian Khas Pasaman yang Terancam Punah
  Risiko Perempuan yang Bersuami Lebih dari 1 Pria
  Sedekah yang di Denda
  Mereka yang Berminat Gantikan Gamawan...
  Caddy Cantik yang Jadi Rebutan,Pulang Kuliah Dijemput Mobil Mewah
  Antara Antasari, Nasrudin & Rani :Umpan Cinta Berbuah Petaka
  Caleg DPD Asal Sumbar Tertangkap Membawa Ineks