DESA RANTIH
SAWAHLUNTO, HALUAN — Jika beberapa waktu lalu, Desa Rantih, Sawahlunto didaulat menjadi salah satu desa wisata, kini desa yang memiliki penduduk lebih kurang seribu jiwa itu tengah mengembangkan diri menjadi objek wisata kampung tradisional.
Sesuai dengan namanya, kampung tradisional memang sengaja dibuat untuk para wisatawan yang ingin mengenang kondisi Indonesia tempo dulu. Kondisi di mana Indonesia belum diterangi lampu dari tenaga listrik PLN, ataupun hiruk pikuk siaran televisi, dengan berbagai cerita sinetronnya.
Kampung tradisional yang nantinya merupakan satu kesatuan dengan Desa Wisata Rantih itu, akan menampung wisatawan yang menginginkan ketenangan, tanpa adanya teknologi yang tumbuh seiring perkembangan zaman. Bahkan untuk datang ke kawasan kampung tradisional ini pun, jika melalui jalan darat wisatawan akan disuguhi dengan alat transportasi layaknya zaman dahulu kala, transportasi paling hemat bahan bakar.
Transportasi tak berbahan bakar bensin atau solar maupun ali itu, adalah pedati yang dilengkapi seekor kerbau. Dengan santai, wisatawan akan dapat menikmati perjalanan dengan pedati yang ditarik seekor kerbau, yang dilengkapi dengan gantungan sekarung rumput.
Untuk mencapai kampung tradisional, perjalanan pedati dengan tarikan kerbau itu akan melewati rute sepanjang lebih kurang 800 meter. Sementara di kampung tradisional itu sendiri, terdapat bangunan terbuka, layaknya ‘dangau-dangau’ yang terbuat dari kayu beratapkan daun kelapa ataupun rumbia.
Sedangkan, jika wisatawan ingin datang melalui jalan sungai, pengelola kampung tradisional itu nantinya juga akan menyediakan transportasi perahu, yang berasal dari aliran Sungai Batang Ombilin.
Setidaknya, jika ingin berperahu menuju kampung tradisional akan memakan waktu sekitar setengah hingga satu jam perjalanan. Sebab, untuk mencapai kawasan tersebut harus menyusuri aliran sungai sejauh satu kilometer.
Kampung tradisional yang mulai dioperasikan pertengahan 2012 mendatang itu, akan dilengkapi dengan camping ground, out bond, dan berbagai kegiatan tradisional yang dapat dilakukan wisatawan kota, yang belum pernah bersentuhan dengan pertanian khususnya.
Tidak bisa dibayangkan, jika wisatawan dapat melakukan kegiatan berupa menanam padi di sawah, atau jika wisatawan sedang mujur mendapati proses pelunakan lahan sawah secara tradisional dengan menggunakan sapi atau kerbau. Proses yang biasa disebut maoncah atau berancah itu, memang sangat jarang atau sulit untuk ditemui pada zaman yang telah sesak dengan kemajuan teknologi saat ini.
Yang tidak kalah menariknya, kampung tradisional ini juga menyediakan belut-belut sawah. Namun jangan senang dulu, wisatawan baru akan dapat menikmatinya jika bisa menangkapnya. Sebab, pengelola kampung tradisional hanya akan menyediakan alat tangkap berupa kail berikut umpan.
Wisatawanlah yang harus berjuang mendapatkan belut-belut yang ada dalam lubang di pinggir-pinggir sawah. Sungguh suatu suasana wisata yang menumbuhkan kemandirian bagi mereka yang datang. Apalagi, wisatawan yang telah terbiasa dengan dukungan pembantu dalam menjalani keseharian, akan sangat tertantang untuk mengikutinya. Kampung tradisional sendiri berada di kawasan Landu, yang memiliki sebuah air terjun yang juga dinamai air terjun landu. Landu merupakan salah satu dari empat air terjun yang ada di Desa Rantih. Tiga lainnya, yang berjarak tidak terlalu jauh dari air terjun Landu, yakni Air Terjun Lurah Tibarau, Air Terjun Sungai Bikan, dan Air Terjun Lurah Lobah.
Sebenarnya untuk Air Terjun Sungai Bikan sudah dibuka semenjak tahun 1991 silam, dan beberapa kali dikunjungi wisatawan dari luar negeri, mulai dari Belanda, Jerman dan Singapura.
Setelah sampai di air tejun, wisatawan dapat menikmati kesejukan air terjun dengan menceburkan diri. Tetapi, hati-hati jangan sampai melompat, karena muara dari air terjun sangatlah dangkal.
Kawasan kampung tradisional yang dikelola langsung pemuda setempat juga mengembangkan seni bela diri tradisional silat. Jika ada kesempatan dan keinginan untuk mendalami ilmu silat, tidak ada salahnya untuk berguru atau belajar langsung kepada tetua silat kampung Rantih.
Pengembangan pariwisata Rantih baik desa wisata maupun kampung tardisional dilakukan secra swadaya masyarakat, yang dibantu pemerintah Kota Sawahlunto. kesadaran akan begitu besarnya manfaat wisata dalam mengangkat perekonomian, mulai dirasakan masyarakat setempat.
Sebab, sebagian besar wisatawan yang datang ke Rantih bukanlah wisatawan lokal. Setidaknya wisatawan yang datang berasal dari luar Sawahlunto, bahkan dari luar Sumatera Barat.
Sehingga, kedatangan wisatawan memang memberikan dampak ekonomi yang besar. Sebab, untuk menikmati betapa uniknya desa wisata, wisatawan tidak bisa hanya berkunjung satu hari saja.
Di sinilah, masyarakat dapat merasakan nilai ekonominya. Selain berbelanja, wisatawan juga menginap di home stay yang disediakan langsung oleh warga. Harganya, bisa dikatakan sangat terjangkau, dibandingkan dengan penginapan yang berada di pusat kota.
Beberapa waktu lalu, peserta Sawahlunto Internasional Music Festival (SIMFes) 2011, yang berasal dari lima benua itu, juga menikmati suguhan keindahan Rantih.
Kurator SIMFes 2011, Miss Kelly menyatakan kekaguman akan indahnya Rantih. Suasana hamparan sawah yang hijau, dan derasnya air sungai rantih yang mengalir bening, membuat Miss Kelly ingin berlama-lama di sana.
Tidak hanya Miss Kelly, Ketua Keroncong Tugu, Andree Micheal dan vokalis Music Krakatau Ubiet juga menyatakan simpatinya, dengan kemolekan Rantih. “Rantih memiliki pesona tersendiri dari objek wisata lainnya. Rantih masih belum terjamah peradapan, yang membuatnya memiliki keindahan yang luar biasa,” ujar Ubiet.(h/fadilla Jusman)