Suasana pacu jawi
Batusangkar, SitinjauNews – Ratusan fotografer lokal dan nasional 'menjepret' (mengabadikan) "alek pacu jawi" di hamparan sawah Subarang Nagari Tabek, Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanahdatar, Sabtu (28/1).
Event "pacu jawi" (balapan sapi) ini juga dihadiri ribuan masyarakat penggemar dan pecandu olahraga pacu jawi se-Tanahdatar, Kepala Disbudparpora Alfian Jamrah, Ketua Persatuan Olahraga Pacu Jawi (Porwi) Khairul Fahmi, Camat Pariangan Aslamudin, dan Wali Nagari Tabek Beni Monika.
Sejak pagi, para fotografer yang tergabung dalam beberapa organisasi seperti Kemilau Indonesia Photografer Comunity, CSOP Comunity Photo Hunting, dan Minangkabau Photografer, sudah mengambil gambar "pacu jawi".
Jumlah sapi yang mencapai sekitar 300 ekor ini dibawa pemiliknya dari empat kecamatan yang memiliki tradisi pacu jawi yakni Kecamatan Sungai Tarab, Limo Kaum, Pariangan dan Rambatan.
Kepala Disbudparpora Tanahdatar Alfian Jamrah mengatakan alek (pesta) nagari ini sangat penting untuk melestarikan budaya dan tradisi masyarakat agar tidak punah serta menyatukan anak nagari dalam meningkatkan sektor pariwisata di Luak Nan Tuo.
"Alek pacu jawi ini mempunyai dampak positif bagi perekonomian dan sosial budaya masyarakat yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat," katanya.
Event pacu jawi dapat menumbuhkan perekonomian masyarakat. Saat itu masyarakat dapat menggelar berbagai jenis makanan dan minuman, serta permainan anak-anak.
"Disamping itu, bagi peternak sapi juga dapat meningkatkan kesejahteraannya. Setiap sapi pacuan akan punya nilai jual yang tinggi dibanding jawi biasa," sebutnya.
Alek pacu jawi saat ini tak lagi milik orang Tanahdatar saja, tapi sudah mendunia. Pihaknya berharap masyarakat dapat mempertahankan tradisi seperti ini dan tidak terpengaruh dengan budaya asing, katanya.
Ketua Porwi Tanahdatar Khairul Fahmi, mengatakan kegiatan pacu jawi telah ada sejak ratusan tahun yang lalu dan menjadi sarana hiburan yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat.
Pada kegiatan ini dipadukan dengan tradisi masyarakat berupa arak-arakan pembawa dulang dan sapi-sapi terbaik yang didandani suntiang dan pakaian.
Selain pacu jawi, masyarakat juga dihibur kesenian tradisi anak nagari yakni talempong pacik, tari piring diatas piring dan hiburan rekreasi bagi anak-anak.
Pimpinan rombongan Kemilau Indonesia Photografer Comunity, Dodi Sandradi menyebut kegiatan pacu jawi di Kabupaten Tanahdatar sangat natural dan lebih dramatis bila dibandingkan kegiatan serupa di daerah lain.
Alek pacu jawi di Nagari Tabek ini sudah berlangsung selama tiga pekan lalu dan akan ditutup pada Sabtu (4/2) depan.
Kegiatan pacu jawi telah ada sejak ratusan tahun yang lalu dan menjadi sarana hiburan yang ditunggu-tunggu masyarakat. Pada kegiatan ini dipadukan dengan tradisi masyarakat berupa arak-arakan pembawa dulang dan sapi-sapi terbaik yang didandani suntiang (sunting) dan pakaian.