The following warnings occurred:
Warning [2] file_get_contents(http://graph.facebook.com/?ids=http://www.minangforum.com/Thread-Perubahan-Kultur-Masyarakat-Mandailing-di-Nagari-Cubadak-Duo-Koto-Pasaman): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 403 Forbidden - Line: 806 - File: inc/plugins/fbmeta.php PHP 5.3.28 (Linux)
File Line Function
[PHP]   errorHandler->error
/inc/plugins/fbmeta.php 806 file_get_contents
/showthread.php(1196) : eval()'d code(42) : eval()'d code 1 fb_comment_count
/showthread.php(1196) : eval()'d code 42 eval
/showthread.php 1196 eval
Warning [2] file_get_contents(http://graph.facebook.com/?ids=http://www.minangforum.com/Thread-Perubahan-Kultur-Masyarakat-Mandailing-di-Nagari-Cubadak-Duo-Koto-Pasaman): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 403 Forbidden - Line: 806 - File: inc/plugins/fbmeta.php PHP 5.3.28 (Linux)
File Line Function
[PHP]   errorHandler->error
/inc/plugins/fbmeta.php 806 file_get_contents
/showthread.php(1196) : eval()'d code(131) : eval()'d code 1 fb_comment_count
/showthread.php(1196) : eval()'d code 131 eval
/showthread.php 1196 eval



Perhatian untuk member MinangForum untuk membaca peraturan dahulu agar post anda tidak dihapus
Dapatkan aplikasi MinangForum untuk android anda, Klik Disini untuk mendownload


 
Thread Rating:
  • 0 Votes - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
+ Reply to Thread
06-24-2012 03:08 PM

barebehtebeh Offline
*

  • Jan 2009
  • 570 posts
  • reputations
  • 4 thanks
    Given 33 thank(s) in 29 post(s)
Post: #1
Perubahan Kultur Masyarakat Mandailing di Nagari Cubadak Duo Koto Pasaman
<img src="http://padangekspres.co.id/up/berita/24062012081210nagari-cubadak.jpg" alt="Nagari Cubadak di Kecamatan Duo Koto Kabupaten Pasaman" title="klik untuk memperbesar" align="left" width="280" />
Sistem
kekerabatan dan sturuktur masyarakat yang berubah di Nagari Cubadak,
Kecamatan Duo Koto berdampak pada sistem perkawinan. Dalam praktik
sehari-hari, sudah jarang ditemui sistem manjujur (istri datang ke tempat suami, red) yang menjadi ciri khas Mandailing. Kini mereka menerapkan sistem sumando yang lazim dipakai masyarakat Minang.
Meski secara adat yang berlaku sistem sumando tetapi manjujur
tidak dilarang. Hanya saja masyarakat sebagian besar memilih sumando.
Tinggal di rumah istri dan hidup dengan berusaha dari mata pencaharian
keluarga istrinya.
”Kita di sini fleksibel.
Kalaupun sudah menerapkan adat Minang, kalau mau pakai adat Mandailing
juga boleh. Satu dua orang masing ada yang pakai sistem manjujur dan
bisa diadati,” ujar Ketua KAN Nagari Cubadak Ahmad Azizan.
Dalam adat Nagari Cubadak, prosesi perwakinan dimulai dengan manyu­ngkun (melamar,red). Pihak laki-laki datang ke rumah perempuan bersama orangtua dan mamaknya untuk me­la­mar calon istri.
Jika dalam pertemuan itu tercapai kata sepakat, akan dilanjutkan dengan timbang tando untuk
mengikat kedua belah pihak. Tando bisa beruba cincin, kain sarung atau
benda lain. Masing-masing mamak diminta menjaga betul kamakanakannya.
Mereka tak lagi bisa ber­gerak bebas seperti muda mudi kebanyakan.
Kemudian pihak keluarga kedua belah pihak bermu­sya­warah untuk manantuan hari
(menentukan hari, red) baik hari akad nikah dan peresmian pernikahan
atau baralek. Akad nikah digelar di rumah perem­puan dan ke­luar­ga
kedua belah pihak hadir dalam acara tersebut. Biasanya seminggu
ke­mu­dian digelar acara baralek yang dimulai dengan acara manjoput
marapulai atau men­­jemput marapulai.
Tapi sehari sebelum acara manjoput marapulai, pihak laki-laki mengantar longkopan atau kelengkapan ke pihak perempuan.
Jika olek atau alek meneng
(kecil) cukup membawa tiga ekor ayam, jika oleh manonga (menengah, red)
membawa tiga ekor ayam dan seekor kambing. Jika olek godang membawa
ayam, kambing dan kerbau. Olek meneng cukup dihadiri para bosar di
kampung. Olek manonga biasa akan mengundang bosar dari kampung tetangga.
”Kalau sudah olek godang
atau baralek gadang, Raja Sontang dan semua bosarnya akan hadir dalam
acara itu,” ujar Azizan. Jadi Raja Sontang hanya ikut dalam prosesi adat
yang besar-besar saja. Kalau acara yang kecil dan menengah yang turun
cukup kaki tangan Raja Sontang yakni para bosa.
Di Kerajaan Raja Sontang
yang meliputi Nagari Cubadak dan Nagari Simpang Tonang ada yang disebut
dengan let na lima bolas (kaki tangan raja yang 15 orang, red) yakni
tujuh bosar, 4 pucuk adat dan 4 hakim.
Setelah manantuan hari
selesan, pernikahan di tempat perempuan pun digelar. Usai nikah, pihak
laki-laki pulang lagi ke rumahnya dan ninik ma­mak di kampungnya
meng­gelar musyarakat untuk me­nyam­but ninik mamak pihak perempuan
saat manjoput marapulai nanti.
Selanjutnya pada hari yang sudah ditentukan digelar acara manjoput marapulai.
Saat itu, paginya sekitar pukul 10.00 WIB di tempat laki-laki sebe­lum
datang pihak perempuan para ninik mamak atau ninik mamak na opat sudah
menge­lar musyawarah untuk persiapan acara.
Kemudian datang pihak
perempuan ke rumah laki-laki di iringi mamak dan kaum kerabatnya. Di
sini ninik ma­mak kedua belah pihak akan duduk dan menggelar musya­warah
adat. Saat musya­warah adat inilah muncul hata-hata (pesan-pesan, red)
yang dimulai dari kata pembuka bahasa Man­dailing dan untuk pe­nguat­an
pernyataan meng­gu­na­kan petatah petitih Minang. Biasanya yang sering
disebut dalam musayarakat adat ”du­duk surang basampik-sam­ping, duduk
basamo balapang-lapang”.
Dalam musyawarah adat itu
sekaligus diberi gelar bagi laki-laki oleh mamaknya. Gelar itu biasanya
sutan atau kari diambil dari gelar-gelar nenek moyang mereka. Beda
dengan Mandailing, gelar sutan, bagin­da dan mangaraja hanya boleh
diberikan pada keturunan raja-raja. Setelah selesai proses adat di rumah
laki-laki, pihak perempuan pamit dengan mem­­­­bawa marapulai diiringi oleh mamaknya.
Sampai di rumah perem­puan
digelar lagi musyawarah adat para ninik mamak setem­pat. Proses ini pada
intinya, mamak si laki-laki menyerah­kan kamanakannya kepada ninik
mamak setempat. Saat itu dia akan menyampaikan harapannya kepada kedua
mempelai untuk membina keluarga dengan baik.
”Kalau ada masalah-masalah
kecil dan bisa diselesaikan di sini, tolong diselesaikan. Tapi kalau
masalahnya besar, kami bersedia diajak untuk bersama-sama menyelesaikan
masalah tersebut”. Kira-kira begitulah kata-kata yang di­ung­kapkan
pihak mamak laki-laki. Ungka­pan itu disam­pai­kan dalam bahasa
Mandailing tapi untuk penguatanya dia akan meng­gunakan
pribahasa-pribahasa Minang. Setelah itu acara ninik mamak selesai dan
dilanjutkan dengan acara ibu-ibu.
Setelah selesai olek, pada
hari kedua atau hari ketiga masih ada acara lagi yakni martandang
sadari. Dimana marapulai dan anak daro bersama keluarga pihak perempuan
datang ber­kunjung ke rumah orangtua laki-laki. Ini dilakukan untuk
mem­perkuat silaturrahmi dan jalinan keluarga antara keduanya. Bia­sanya
digelar sehari, ditutup dengan makan bersama. Mara­pu­lai dan anak daro
beserta ke­luarga perempuan pulang hari itu juga.
Kemudian ada lagi yang
dise­but martandang tandang dua ari. Pada hari ketujuh datang lagi
marapulai dan anak daro dan keluarganya ke rumah keluarga laki-laki dan
mereka menginap di sana. Terakhir martandang tan­dang tolu ari, yang
datang hanya pihak marapulai dan anak daro dan mereka menginap di ru­mah
orangtua laki-laki.
Mengadopsi sebagian adat
Minang dan mempertahankan beberapa kekhasan Mandai­ling menjadikan
masyarakat Cuba­dak lebih terbuka. Mere­ka men­jadi orang yang cepat
beradaptasi dengan suku ma­na­pun di Pasa­man. Mereka juga bisa dengan
ce­pat mem­pe­lajari bahasa Mi­nang. ”Sejak sekolah dasar, kita sudah
diperkenalkan beragam bahasa. Jadi anak-anak kecil di sini juga sudah
bisa bahasa Minang meski sehari-hari mere­ka berbahasa Mandailing,” ujar
Azizan.
Prosesi adat seperti
perka­winan yang menggunakan kali­mat pembuka dalam bahasa Mandailing
tetapi petatah pei­titih dalam Bahasa Minang serta kesenian tradisional
seperti Ronggeng yang banyak meng­gunakan lagu berbahasa Minang makin
membuat beberapa aspek kehidupan Minangkabau mele­kat dalam diri
masyarakat Na­gari Cubadak, Kecamatan Duo Koto.
Tuangku Rajo Sontang XII
Reflis mengatakan Nagari Cuba­dak dan Nagari Simpang Tonang Kecamatan
Duo Koto memang unik. Dua nagari dibawah kekua­saan Raja Sontang itu
sehari-hari berbahasa Mandailing tetapi adat yang dipakai Minang. (padek)

dek indak mangko coiko
Reputation
Comments
 
Possibly Related Threads...
Thread:
  Bakaua Adat, Tradisi Syukur Masyarakat Sijunjung
  Tradisi “Mambukak Kapalo Banda” Masyarakat Sungai Pisang
  Nagari Malalak Miliki Grup Kesenian Tradisional "Aua Sarumpun"
  Ribuan Masyarakat Ramaikan Puncak Festival Budaya Tabuik 2012
  masihkah saya dianggap bagian dari masyarakat Minang
  KERAPATAN ADAT NAGARI (KAN), DINILAI
  Tradisi "Maarak Atok" Dihidupkan Lagi Masyarakat Garagahan
  Peraturan Nagari Minangkabau akan dijadikan acuan di Nagari Sumatera Barat
  Tradisi "Balimau" Untungkan Masyarakat Pinggir Singkarak
  Pacu Jawi" di Nagari Sungai Tarab Ditutup