PADANG PANJANG (jurnalberita.com) – Minangkabau, merupakan salah satu suku di Indonesia yang memiliki banyak kisah dan sangat dikenal di Nusantara. Bukan hanya terkenal dengan para perantaunya yang berada dimana-mana, namun dikenal pula dengan banyaknya keunikan, begitu pula perempuannya.
Perempuan Minang, memiliki kapasitas tersendiri di dalam suku yang memiliki adat yang cukup ketat. Beragam kisah yang ada dalam wilayah kesukuan Minangkabau, terbentang luas dalam berbagai cerita rakyat. Bahkan, dalam cerita-cerita rakyat itu, dalam istilah Minang disebut Kaba, digambarkan bila perempuan Minang sebagai penyelamat masyarakat, anak, dan keturunannya. Sedangkan mamak atau kaum lelakinya, kadang malah tidak muncul dalam Kaba.
Contohnya dalam Kaba terkenal Cindua Mato, Bundo Kandung sebutan mulia bagi perempuan Minang, digambarkan sebagai orang yang sangat berkuasa. Tidak saja karena sistem keturunan yang mengambil garis keturunan dari ibu (matrilineal), tapi juga berkuasa dalam sistem pemerintahan. Posisi Bundo Kanduang begitu berkuasa dan sangat sentral.
“Dalam banyak aspek, perempuan Minang memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangannya, baik secara adat, sosial budaya, bidang ekonomi, bahkan politik,” demikian disampaikan Raflis Dt. Mangkuto Nan Itam, salah seorang pemangku adat atau penghulu dari Suku Sikumbang.
Menurutnya, dari fakta adat, Bundo Kanduang memiliki posisi dan peranan dalam struktur politik masyarakat Minangkabau. Peranan serta partisipasinya dalam struktur masyarakat, sangatlah vital.
Ia juga menjelaskan, peranan politik Bundo Kanduang itu bersifat integral dalam setiap pengambilan keputusan dan kebijakan adat. “Jadi, disinilah letaknya kenapa Bundo Kanduang tidak dapat dipisahkan sama sekali dari fungsi dan struktur politik Minangkabau. Dan dari situ pulalah kenapa perempuan Minangkabau dapat saja mengambil alih posisi kaum laki-laki di bidang kekuasaan,” tegasnya.
Kini, di zaman yang semakin maju, Bundo Kanduang yang selama ini berada di dalam rumah-rumahnya untuk mendidik dan membesarkan anak, telah menunjukkan jatidiri yang sebenarnya sebagai seorang yang mampu berkuasa.
Tak terhitung saat ini, dalam konstelasi politik nasional dan daerah, Bundo Kanduang sanggup mengambil alih beragam jenis profesi, yang sebelumnya hanya dikuasai kaum laki-laki.
Bundo Kanduang, sosok perempuan Minangkabau yang kadang bagi sebagian orang hanya dikenal sebagai sosok lemah lembut. Tutur kata yang santun, perawakan yang selalu menunduk, patuh pada mamak. Benarkah perempuan Minangkabau demikian?
Berbagai literatur sejarah, Tambo atau Kaba yang ada, Bundo Kanduang ternyata tidak hanya seorang perempuan penyabar. Bukan seorang yang hanya bisa bertutur lembut, perawakan yang gemulai. Namun perempuan Minangkabau yang sebenarnya, tergambar dari sebuah Kaba berjudul Sabai nan Aluih (Sabai nan Lembut).
Sabai digambar sebagai gadis Minangkabau yang lemah lembut, namun dalam Kaba itu juga disampaikan seorang Sabai dalam kesehariannya, yang dalam lirik lagunya digambarkan, jikok bajalan siganjua lalai, pado maju suruik nan labiah, samuik tapijak indak mati, alu tataruang patah tigo (jika berjalan lemah gemulai, daripada maju lebih banyak mundur, semut terinjak tidaklah mati, penumbuk padi tersandung patah tiga).
Begitu kuat gambaran perempuan Minangkabau. Bukan hanya gambaran tentang perempuan yang selalu lemah gemulai, tampil anggun dan mempesona, baik laku dan elok budi. Seorang Bundo Kanduang di Minangkabau juga seorang yang kuat, yang memilki kekuatan tidak terkira.
Seperti digambarkan alu tataruang patah tigo, seorang yang tidak disangka-sangka memiliki kekuatan besar, tersandung saja, penumbuk padi yang kuat dan besar, bisa patah menjadi tiga bagian.
Mengapa begitu besar kekuatan Bundo Kanduang? Bukankah seorang perempuan yang kodratnya lemah tak akan mampu berbuat begitu? Raflis Dt. Mangkuto nan Itam, pemangku adat dari suku Sikumbang menjelaskan, refleksi perempuan Minangkabau yang demikian bukanlah mengada-ada.
“Ini bukanlah gambaran mengada-ada dari seorang perempuan Minangkabau. Hal demikian terbukti dalam keseharian seorang Bundo Kanduang yang terampil bekerja di sawah dan ladang. Mampu mengiringi dan menyamai kaum laki-laki mengerjakan tugasnya,” ujarnya.
Perempuan Minangkabau saat ini, di tengah badai ekonomi yang melanda dunia, memang terlihat nyata kekuatannya. Bila dalam keluarga, si suami kurang mampu mencukupi nafkah anak istrinya, kaum perempuan tak tinggal diam di rumah. Mereka bekerja, melakukan hal-hal yang selama ini hanya dikerjakan kaum laki-laki. Sebuah refleksi nyata dari seorang Bundo Kanduang yang sebenarnya