Perhatian untuk member MinangForum untuk membaca peraturan dahulu agar post anda tidak dihapus
Dapatkan aplikasi MinangForum untuk android anda, Klik Disini untuk mendownload


 
Thread Rating:
  • 0 Votes - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
+ Reply to Thread
06-21-2012 09:39 AM

kambuik Offline
*

  • Dec 2008
  • 483 posts
  • reputations
  • 3 thanks
    Given 14 thank(s) in 14 post(s)
Post: #1
Peran Mamak Minangkabau Kekinian
Pada masa
lalu, peran seorang ma­mak (saudara laki-laki dari ibu), sa­ngatlah
penting dan strategis. Peran ma­mak yang berjalan di Minangkabau se­suai
dengan filosofinya.
Artinya, mamak berkewajiban
meng­hidupi anaknya dan mem­bim­bing kemenakan dalam bi­dang adat,
bidang agama, dan perilaku. Mamak juga memberikan pengabdian kepada
kam­pung dengan ikut membangun masjid, mengamankan kampung, dan
membangun infrasruktut daerah.
Peran seorang mamak
tersebut, di­implementasikan dalam bentuk se­orang yang menegakkan hukum
se­cara adil. Mamak tidak akan memi­hak ke­pada siapapun, serta
berperilaku men­jauhi KKN (korupsi, kolusi dan ne­potisme) dalam
kehidupannya. Dia h­a­nya berprinsip ka nan bana (kepada yang benar).
Seperti ungkapan filosofi, mahu­kum
adia, bakato bana, manim­bang samo barek, maukua samo panjang, nan
babarih nan bapahek, nan baukua nan dikabuang, tibo di mato indak
di­picingkan, tibo di paruik indak di­kam­pihaan, tibo di dado indak
dibu­suang­kan
. Setelah itu, seorang mamak juga menjadi tempat meminta nasehat bagi kemenakan dan orang kampung. Kapai tampek batanyo, ka pulang tampek babarito.
Di samping itu, mamak juga
sebagai pe­­nyelesai berbagai masalah dan se­ba­gai pengambil
kebijaksanaan se­perti fi­lo­­sofi. Seorang mamak mam­pu
me­nye­le­saikan semua permasalahaan yang di­hadapi, baik masalah ringan
dan ma­salah berat yang dihadapi oleh sa­nak kemanakannya.
Pada era globalisasi dan
keter­bu­ka­an saat ini, peranan seorang ma­mak di Minangkabau seperti
yang ter­gam­bar di atas, tidak lagi berfungsi se­suai dengan adat lamo
pusako usang. Pe­ran itu sudah beralih. Hasil pene­litian yang
di­lakukan oleh Pusat Kajian Str­a­tegis Sum­bar (PKSS) menyim­pulkan
bahwa 89,1 persen peranan seorang mamak di Minangkabau sudah beralih
fungsi.
Peran seorang mamak
harusnya, me­ngatur kemenakan dan pembina ke­menakannya. Peran itu sudah
beralih ke­pada ayah. Peran seorang mamak atas sengketa sako jo pusako
sudah ber­ali­h kepada penegak hukum. Peran se­orang mamak sebagai
pelaksanaan so­sial budaya sudah beralih fungsi ke­pada pe­merintah.
Maka seorang mamak ti­dak lagi sebagai figur yang menen­tu­kan atau
dominan dalam kehidupan di Minangkabau.
Apabila dilihat secara
medalam, me­ngapa peran mamak ini sudah mulai me­mudar di Minangkabau?
Ada bebe­rapa faktor penyebabnya. Di antaranya, per­tama dari
diri seorang mamak itu sen­diri. Mamak sekarang tidak lagi mem­bangun
karakter seorang mamak yang paripurna dengan tidak lagi menjalankan
nilai-nilai adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah secara
utuh. Seperti kasus, mamak yang sama-sama berjudi, mabuk-mabukan
dengan kemenakanannya. Bahkan, ada mamak yang mencabuli orang yang harus
dilindunginya.
Kedua, pengaruh dari sistem
patri­linial (garis keturunan bapak) yang saat ini sudah mewarnai adat
Minangkabau se­cara murni. Sebelumnya telah disim­pulan Al-Quran dan
hadis Ra­sullah, bah­wa tanggung jawab anak/keme­na­kan diserahkan
kepada orang tua. Mu­lai mendidik, membina, menga­rah­kan, mengajar,
menikahkan.
Sehingga, seorang mamak
tidak lagi men­jadi faktor yang dominan dalam me­­nentukan masa depan
keme­nakan­nya. Malah, dalam realisasi sistem adat, per­kawinan di
beberapa daerah di Mi­nangkabau, seorang mamak hanya men­­jalankan
ritual adat perkawinan saja, yang pada asensi semuanya proses
per­kawinan sudah dipersiapkan secara utuh oleh bapak atau orang tua.
Ketiga, pengaruh dari sistem
hu­kum formal pemerintahan (Undang Un­­dang, peraturan pemerintah,
pera­tu­ran daerah), di mana hukum formal me­ngambil alih peran seorang
mamak yang dilakoni selama ini secara ber­ansur-ansur. Seperti adanya
Undang Un­dang Agraria, Undang Undang ten­tang Perkawinan, Undang Undang
ten­tang Pemerintahaan Desa, dan lain­nya. Yang menyebabkan mamak
ti­dak lagi aktor utama dalam ekse­kusinya.
Pada dasarnya, masih banyak
fak­tor lain yang menyebabkan peran se­orang mamak berkurang dan
me­mudar pa­da saat ini. Dulu, seorang mamak yang menentukan wajah
Minangkabau. Se­karang sudah berbagi peran dengan yang lain. Ke depan,
seorang mamak harus bisa menepatkan diri dengan peran yang jelas.
Apa bila tidak, peran
seorang ma­mak akan hilang dalam perkem­bangan zaman dan perjalanan
waktu. Maka, se­bagai inspirasi, para mamak di Mi­nangkabau bisa belajar
pada budaya Bali. Di sana, adat dijadikan bagian dari aga­ma dan
aplikasinya dilakukan se­cara totalitas dalam kehidupan ke­seharian
mereka,
Kalau tidak, ke depan peran
se­orang mamak harus bisa berbagi, d­e­ngan bapak/ayah, pemerintah,
ula­ma. Sehingga peran seorang mamak hanya sebahagian segmen kecil dari
adat miangkabau itu sendiri atau bagian yang diberi sangat sfesifik
saja.
­Seorang mamak hanya
diberikan pe­ran dalam ritual formal dan simbolis saja. Di mana mamak
sebagai wayang atau boneka yang menjalankan seke­nario yang sudah diatur
dalangnya. Maka mamak sebagai bagian peleng­kap, tidak lagi sebagai
penyempurna per­adaban Minangkabau. (padek)
Oleh : Yohanes Wempi

Pengamat Budaya
Reputation
Comments
 
Possibly Related Threads...
Thread:
  ABS-SBK dan Jati Diri Minangkabau
  Belajar Sejarah Minangkabau Lewat Randai
  Perguruan Harimau Kuranji, Tempat Pelajari Minangkabau
  Tradisi “Gadaikan Anak” di Minangkabau
  HAK ULAYAT DI MINANGKABAU
  Pambagian Wanita Manuruik Adat Minangkabau
  LKAAM Ajak Lestarikan Budaya Minangkabau
  Kerdilnya Minangkabau di Area Moderat
  Kebudayaan Minangkabau Tinggal Nama
  20 Ninik Mamak Teken Kesepakatan