Perhatian untuk member MinangForum untuk membaca peraturan dahulu agar post anda tidak dihapus
Dapatkan aplikasi MinangForum untuk android anda, Klik Disini untuk mendownload


 
Thread Rating:
  • 0 Votes - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
+ Reply to Thread
03-09-2012 10:49 AM

pangeran Offline
*

  • Dec 2008
  • 1.108 posts
  • reputations
  • 3 thanks
    Given 14 thank(s) in 12 post(s)
Post: #1
Pendidikan Islam Saat Kelahiran Anak
Dalam perspektif pendidikan Islam, orang tua memiliki kewajiban terhadap pen­didikan anak. Ayah dan ibu tidak saja berperan sebagai orang tua biologis, tetapi juga orang tua rohani sehingga ia disebut sebagai murabbi yang bertanggungjawab mendidik kepribadian anak sehingga tumbuh dan berkembang sesuai tuntunan Islam.

Karena itu, Islam menga­jarkan prinsip-prinsip dasar pendidikan orang tua terhadap anaknya. Pendidikan itu di­mulai sejak mencari jodoh dengan mengutamakan aga­ma­nya, menikah secara sah, lalu mendidik dalam kan­dungan dengan memperbanyak zikir dan hanya mengkonsumi makanan halal lagi baik.

Adapun ketika anak itu lahir, orang tua mesti ikhlas menerima kelahiran anak dan mensyukurinya. Sikap ikhlas dimaksud rela atas kelahiran anak, meskipun laki-laki atau perempuan, sebab ketentuan jenis kelamin itu mutlak atas kehendak Allah semata (Qs. asy-Syu’ara/42 ayat 49).

Meskipun orang tua meng­harapkan kehadiran anak tertentu, namun ketika Allah memberikan anak yang tidak sesuai dengan keinginan tersebut, maka orang tua harus bisa menerimanya dengan hati ikhlas, lalu mem­berikan pendidikan yang baik kepada anak tersebut sesuai dengan tuntunan ajaran Islam.

Sikap ini juga pernah dialami oleh istri ‘Imran yang menginginkan seorang anak laki-laki. Namun Allah meng­anu­gerah­kannya anak perem­pu­an, tetapi ia tetap me­ne­rima­­nya dengan hati yang ik­hlas (Qs. Ali Imran/3 ayat 36).

Sebaliknya, sikap mem­benci kelahiran anak juga dikisahkan dalam al-Qur’an. Di antarany.a kisah masya­rakat Jahiliyah yang mem­benci anak perempuan yang baru lahir, malah ada yang sanggup membunuhnya de­ngan mengu­burkan (Qs. an-Nahl/16 ayat 58-59). Selain merasa hina, ada pula yang membenci dan membunuh anak­nya hanya karena takut miskin (Qs. al-Isra’/17 ayat 31).

Membunuh atau membenci anak hanya karena takut miskin adalah dosa besar. Al-Maraghi menyimpulkan bah­wa membunuh anak-anak, bila sebabnya karena takut melarat, berarti berburuk sangka terhadap Allah.

Dengan sikap ikhlas me­nerima kelahiran anak, baik laki-laki maupun perempuan, maka orang tua tersebut akan ikhlas pula mendidik anaknya sesuai dengan tuntunan aga­ma hingga kelak ia dewasa.

Sebaliknya, jika orang tua tidak senang terhadap ke­lahiran anak tersebut, maka sikap tersebut akan jelas berpengaruh secara psikologis terhadap pendidikan anak di masa selanjutnya, bisa jadi orang tua tersebut mudah marah kepada si anak, tidak bersikap adil, tidak bersikap lemah-lembut penuh kasih-sayang, dan sebagainya. Untuk itu, orang tua harus ikhlas menerima kelahiran anak, bagaimana pun kondisinya dengan menydari bahwa anak adalah anugerah sekaligus amanah dari Allah SWT.

Kemudian di saat anak lahir, hendaklah orang tua bersyukur kepada Allah SWT. Ucapan syukur ini pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Suatu riwayat me­ngisah­kan bahwa bila ada keluarga Aisyah r.a. yang melahirkan, maka Rasulullah tidak bertanya, “Apakah laki-laki atau perempuan?” Beliau hanya berkata, “ciptaan-Nya sempurna?” Apabila dijawab, “Ya.” Beliau pun berkata, “al­ham­dulillahi rabbil ‘alamin”.

Rasa syukur yang di­mak­sud tentu tidak sebatas uca­pan saja, tetapi dibuktikan dalam tindakan nyata. Salah satu bentuk perilaku syukur itu adalah memberikan pen­didikan yang baik kepada anak tersebut sehingga kelak menjadi anak yang shaleh. Adapun bentuk pendidikan tersebut dapat dilihat darai beberapa aspek.

Pertama, aspek pendidikan aqidah dan ibadah dengan cara mengumandangkan ad­zan. Ketika anak lahir, setelah ia dibersihkan, maka sebelum diajarkan berbagai ilmu, maka pendidikan yang per­tama dan utama diajarkan oleh orang tua adalah me­ngumandangkan adzan di telinga anak. Hal ini juga sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Di­riwayat­kan oleh Abu Rafi’, ia berkata: Aku melihat Ra­su­lullah SAW mengumandang­kan adzan di telinga Hasan ibn ‘Ali saat baru dilahirkan oleh ibunya, Fatimah.” (H.R. Abu Daud)

Ibn Qayyim dalam kitab­nya Tuhfatul Maudud, menye­butkan bahwa rahasia di­lakukan adzan dan iqamah di telinga bayi yang baru lahir mengandung harapan yang optimis agar mula-mula su­ara yang terdengar oleh telinga sang bayi adalah seruan adzan yang mengandung mak­na keagungan dan kebesaran Allah serta syahadat yang menjadi syarat utama bagi seseorang yang baru masuk Islam.

Dengan demikian, tuntunan pengajaran ini menjadi per­lambang Islam bagi seseorang saat dilahirkan ke alam dunia. Hal yang sama dianjurkan pula agar yang bersangkutan dituntun untuk mengucapkan kalimat tauhid ini saat sedang meregang nyawa meninggal dunia yang fana ini. Tidaklah aneh bila pengaruh adzan ini dapat menembus kalbu sang bayi dan mempengaruhinya meskipun perasaan bayi yang bersangkutan belum dapat menyadarinya.

Kemudian, adzan juga mengandung aspek pendidikan ibadah. Sebagaimana yang dipahami bahwa dalam adzan terkandung seruan untuk melaksanakan shalat, “hayya ‘ala al-shalah”, marilah men­dirikan shalat. Seruan ini merupakan pendidikan ibadah sejak dini. Meskipun si bayi belum mampu berkomunikasi seperti layaknya orang de­wasa, tetapi dengan seruan shalat yang terkandung dalam adzan ini diharapkan seruan ini akrab di telinga anak dan berpengaruh dalam qalbu/jiwanya sehingga kelak ia baligh dapat dengan mudah dididik untuk melaksanakan shalat.

Kedua, aspek pendidikan akhlak, dengan cara memberi nama yang baik. Pemberian nama kepada anak tentu tidak hanya sekedar simbol atau identitas seseorang, namun dalam perspektif pen­di­dikan Islam, pemberian na­ma tersebut mengandung doa.

Karenanya, Islam menga­jarkan agar memberikan nama yang baik kepada anak dengan harapan kelak kepribadiannya juga baik sebagaimana yang terkandung dalam makna nama tersebut. Mengenai memberikan nama kepada anak, al-Qur’an juga men­ceritakan tentang istri Imran yang memberi nama anaknya dengan nama Maryam (QS. Ali Imran/3 ayat 36). Quraish Shihab dalam tafsirnya al-Misbah menyebutkan bahwa nama Maryam berarti seorang yang taat, dengan harapan kiranya nama itu benar-benar sesuai dengan kenyataan.

Ketiga, aspek pendidikan kesehatan jasmani dan rohani dengan cara memberi ASI, makanan yang halal serta Tahnik. Allah memerintahkan agar seorang ibu yang sehat memberi ASI pada anaknya selama dua tahun (Qs. al-Baqarah/2 ayat 233). ASI sesungguhnya mengandung unsur kesehatan jasmani dan rohani. Dari segi kesehatan jasmani, air susu ibu (ASI) memiliki manfaat yang amat banyak bagi kesehatan.

Dalam buku child deve­lopment oleh Laura E Berk (2003) menjelaskan beberapa alasan mengapa ibu harus menyusui anaknya, yaitu: 1) ASI menyediakan keseim­bangan lemak dan protein yang tepat; 2) menjamin nutrisi yang lengkap; 3) mem­bantu menjamin pertumbuhan fisik yang sehat; 4) melawan banyak penyakit; 5) dapat mempertinggi fungsi imunitas (kekebalan) tubuh bayi; 6) menjamin sistem pencernaan; 7) melindungi dari kegagalan perkembangan rahang dan kerusakan gigi,; 8) Bayi yang diberi ASI lebih mudah ber­pindah ke makanan yang padat daripada bayi yang diberi susu botol; dan 9) meningkatkan perkembangan attachment (kasih sayang) antara ibu dan anak.

ASI juga berpengaruh ter­hadap kesehatan rohani anak. Artinya, orang tua harus memakan makanan yang ha­lal, sebab makanan itu akan berpengaruh terhadap ASI yang dimiliki oleh sang ibu. Jika seorang ibu memakan makanan yang haram lalu mengalir dalam ASI-nya, maka si anak pun akan me­makan pula benih-benih ha­ram melalui ASI tersebut. Akibatnya, kelak kepribadian anak juga cenderung kepada hal-hal yang haram dan sulit untuk dididik. Jadi, makanan yang haram sesungguhnya racun bagi perkembangan ruhani si anak.

Kemudian, ketika anak lahir juga perlu dilakukan tahnik, yaitu menggosokkan buah kurma ke langit-langit mulut si bayi. Di antara hadis yang berkenaan dengan hal ini adalah hadis dari Abu Burdah r.a.: Bahwa Abu Musa r.a. berkata, “Aku telah di­ka­runiai seorang anak. Ke­mudian aku membawanya kepada Nabi Muhammad SAW, lalu beliau me­na­ma­kan­nya Ibrahim, menggosok langit-langit mulutnya dengan sebuah kurma dan men­doa­kan­nya dengan keberkahan. Setelah itu beliau menye­rahkannya kembali ke­pa­daku”. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Menurut Nashih Ulwan dalam bukunya al-Tarbiyah al-Awlad, hikmah yang di­kandung dalam Sunnah ini adalah untuk menguatkan syaraf-syaraf mulut dan teng­gorokan dengan gerakan lidah dan dua tulang rahang bawah dengan jilatan, sehingga anak siap untuk menetek dan menghisap susu secara kuat dan alami.

Lebih utama penggosokan ini dilakukan oleh orang yang memiliki sifat takwa dan saleh sebagai suatu peng­hormatan, dengan harapan semoga si anak juga menjadi orang yang shaleh dan takwa pula. Tahnik juga mengan­dung hikmah agar kelak si anak mampu memelihara lisannya, selalu berzikir, bicara yang manis menyenangkan orang lain.

Keempat, aspek pen­di­dikan sosial dengan men­cukur rambut dan beraqiqah. Ra­sulullah SAW bersabda: se­tiap anak itu digadaikan dengan akikahnya. Di­sem­belihkan (hewan) baginya pada hari ketujuh (dari kelahiran)nya, diberi nama dan dicukur pada hari itu pula. Aqiqah dan mencukur rambut ini mengandung aspek pen­didikan sosial. Aqiqah, misal­nya, dagingnya akan dise­dekahkan kepada orang mis­kin, karib kerabat dan masya­rakat sekitar. Oleh karena itu, aqiqah akan memperkuat tali ikatan cinta di antara anggota masyarakat.

Demikian juga tentang mencukur rambut anak. Jika orang tuanya sanggup, sebaik­nya rambut anak itu ditim­bang seberat perak lalu dise­dekahkan kepada orang yang berhak. Rasulullah SAW bersabda: “Fathimah telah menimbang rambut kepala Hasan, Zainab, dan Ummu Kaltsum. Seberat timbangan rambut itulah ia menge­dekahkan perak.”

Jadi, akikah dan mencukur rambut lalu bersedekah pe­rak—ada ulama yang ber­pendapat dengan emas—se­berat rambut itu mengan­dung aspek sosial yang di­lakukan oleh orang tua di saat anak lahir. Selain dari hikmah sebagaimana yang dijelaskan di atas, Sunah ini juga akan ber­pengaruh ter­hadap per­kembangan ke­pri­badian anak kelak.

Dengan kepedulian sosial yang tinggi dari orang tua di saat kelahirannya, diharapkan ia memperoleh hidayah dari Allah SWT kelak menjadi anak yang tinggi pula rasa solidaritas sosialnya sehingga ia tidak hanya mampu me­ngabdi secara vertikal (habl minallah), tetapi juga mampu menjalin hu­bungan horizontal (habl mi­nnnas) secara seimbang.

Langkah-langkah ini mes­ti­nya diterapkan oleh setiap orang tua dalam menerima kelahiran anaknya. Upaya ini diharapkan mampu mendidik generasi yang berkarakter, berakhlauk karimah dan tetap istiqamah menjalankan pe­rintah Allah SWT dengan cerdas dan berkualitas. Wa­llahu a’lam.



MUHAMMAD KOSIM, MA

sumber : haluan
Reputation
Comments
 
Possibly Related Threads...
Thread:
  Pemprov Sumbar Bentuk Badan Syiar Islam
  MUI, LKAAM dan Ormas Islam Versus Lippo Group
  Gara-Gara Iddah, Pemimpin Yahudi Masuk Islam
  Ulama: Balimau ke Sungai Bertentangan dengan Islam
  Islam Menjaga dan Memuliakan Wanita
  Peranan Wanita dalam Islam
  Agama Orang Minang Mayoritas Islam
  Pria Dewasa masih di Pasar saat Jumat
  Hukum Islam Tentang Perayaan Valentine Days
  Pendidikan Alquran; Lanjut atau Hentikan?