Thread Rating:
  • 0 Votes - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
+ Reply to Thread
01-03-2012 02:10 PM
Alang Babega Offline
*

  • Jan 2009
  • 559 posts
  • reputations
  • 2 thanks
    Given 5 thank(s) in 5 post(s)
Post: #1
Pahit-Getir Kenangan Romusha Rel Sijunjung
[Image: dmusrc.jpg]

PADANG--Ada penamaan unik yang disematkan masyarakat Sijunjung pada sebuah persimpangan jalan di Muaro Sijunjung, yaitu Simpang Logos. "Logos" berawal dari kata "loge" yang artinya alias "kicuah" (kecoh).

Simpang Logas yang berjarak sekitar 17 km dari Alun-alun Muaro Sijunjung merupakan satu titik perlintasan jalur kereta api yang dibangun pada masa pendudukan Jepang pada 1943.

Jalur Sijunjung menuju ke Pekanbaru dimulai dari Muaro Sijunjung - Silukah Muaro - Lubuk Ambacang - Logas - Logas Tangko - Sungai Batang - Pekanbaru.

Istilah "Loge" melekat hingga kini karena berkaitan dengan Romusha yang didatangkan dari pulau Jawa. Kata "loge" sama artinya dengan "kicuah" dalam bahasa Minang yang berarti kecoh atau tipu. Memang para Romusha bisa sampai ke sini karena ditipu Jepang.

Bermacam janji diobralkan pemerintah Jepang untuk memboyong pemuda dari Jawa ke Sumatera. Pemuda digiur akan disekolahkan. Ada juga yang dijanjikan menjadi tentara Heiho.

Turijan, 80 tahun, misalnya, dulu pemuda dari Desa Lubang Kidul, Kecamatan Boto, Kabupaten Purwerejo, Jawa Tengah. Dia dijanjikan akan menjadi tentara Heiho di Sumatera.

Saat berkunjung ke kediamannya di Jorong III, Nagari Paru, Kecamatan Sijunjung, akhir Oktober lalu, kakek ini tampak masih sehat meski garis kerut wajahnya terlihat jelas menyertai matanya yang sayu.

"Saya dijual kepada Jepang untuk jadi tentara Heiho, pamit pada orangtua dilarang," katanya memulai cerita.

Ia mengaku masih berumur 12 tahun ketika diberangkatkan bersama 25 pemuda dalam rombongan. Mereka melewati jalur laut selama lebih satu minggu hingga sampai di Pelabuhan Teluk Bayur, Padang.

Dengan kereta api lalu dibawa selama sehari-semalam perjalanan ke Muaro Sijunjung. Turijan akhirnya ditempatkan untuk bekerja di kawasan sungai Singingi di daerah Kuantan, Riau. Ia bingung, setiba di sana, tidak ada kegiatan sekolah militer seperti yang dijanjikan Jepang.

"Terpaksa kerja dulu, katanya tiga bulan lagi baru sekolah dimulai," ujarnya

Turijan setiap hari dipaksa kerja menggali untuk melubangi bukit, membuat terowongan dan menimbun lembah. Ia adalah Romusha yang membangun jalur dari Pekanbaru.

Sementara rombongan yang lain membangun jalur yang dari Silukah. Ia pun akhirnya pasrah, tidak ada pilihan lagi. Sebab, ketakutan mulai merasuki dirinya setelah setiap hari melihat penyiksaan tentara Jepang pada Romusha.

"Kerja paksa itu dilakukan tanpa kenal lelah, baik siang maupun malam untuk makan pun sering tidak diberikan, bagi yang kedapatan berpangku tangan serdadu Jepang tanpa belas kasihan akan menyiksa mereka dan penyiksaan itu dipertontonkan kepada kami," katanya.

Seingat dia, bisa sampai belasan pekerja meninggal di kawasan itu setiap hari akibat kelelahan, penyiksaaan, dan kelaparan. Jasad pekerja bergelimpangan di sepanjang aliran sungai itu. Karena kasihan, para pekerja memakamkan seadanya jasad saudara saudaranya.

Satu peristiwa yang tidak pernah luput dari ingatan Turijan. Ia menuturkan, dirinya menyaksikan ratusan pekerja meninggal akibat reruntuhan bukit di sekitar ngalau Cigak. Ketika itu ia dalam masa berpindah-pindah tempat lokasi kerja.

Melarikan Diri
Turijan lama kelamaan memberontak. Ia berpikir untuk kabur. Sebab, ia dan pekerja lainnya tidak diberi makan. Akhirnya, bersama enam orang teman, Turijan nekat melarikan diri masuk hutan belantara. Di tengah pelarian itu, suasana semakin mencekam begitu tahu tentara Jepang memburu orang-orang yang kabur.

Selama 40 hari pelarian, Turijan dan enam temannya makan apa saja di tengah rimba. Pakaian mereka terbuat dari torok atau kulit kayu dan kain goni. Tak bisa tenang, selama pelarian harus berpindah-pindah karena takut dikejar Jepang. Di satu sisi, bila masuk kampung, warga lokal tega melaporkan ke tentara Jepang.

"Terpaksa makan daun kayu, kalau masuk kampung kita dicari, dilaporkan orang di sana," ujarnya.

Menjelang kekalahan Jepang, Turijan sudah sampai ke Logas dalam masa pelariannya. Perjalanan mengantarkannya ke kawasan Loge sampai akhirnya ia bisa tenang di Nagari Paru. Seingat dia, ketika itu Jepang juga tengah bersiap-siap meninggalkan Sijunjung.

Di sana ia berbaur dengan masyarakat setempat. Di Nagari Paru pada waktu itu hanya ditinggali sekitar 500 penduduk. Ia masih ingat, selain dirinya juga ada rekannya, Kasiman, Sukir, Alim, dan Nasik yang juga menetap di Nagari Paru.

Di antara mereka, hanya Turijan yang masih hidup.Sementara keempat rekannya itu telah tiada, yang terakhir meninggal 5 tahun lalu.

Setelah menetap di Nagari Paru, ia bekerja di sawah dan ladang karet. Karena ulet ia mendapat ibu angkat. Pada usia 30 tahun pada 1958 Turijan menikahi gadis Sijunjung. Dari pernikahan itu ia dikaruniai empat orang anak. Kelahiran anak pertamanya perempuan pada 1959.

Turijan hanya punya seorang adik yang dia tinggalkan dulu. Sejak itu ia tak pernah bertemu lagi dengan kedua orangtuanya. Ia mengatakan, untuk pertama kali pulang kampung pada 1992 mencari keberadaan adik perempuannya.

"Ketika pulang kami sedih karena sudah lama terpisah, tapi saya tak betah akhirnya balik ke Paru," ujarnya.

Turijan kini hanya mengisi sisa hidupnya di Nagari Paru. Di sini ia tinggal bersama anak, menantu, dan lima orang cucunya. Dia berdiam di rumah tak diperkenankan bekerja lagi oleh anak dan menantunya.

"Sejak 30 tahun terakhir datuk kami larang bekerja, biarlah dia di rumah mengisi hari-hari bersama cucu-cucunya, " kata Toha, menantunya.

Menghindari Siksaan Jepang
Lain kisah Turijan, lain pula nasib Ibrahim. Pelarian ke pelosok kampung yang diselimuti hutan belantara adalah satu satunya cara menghindari siksaan Jepang. Itulah yang dikenang Zurbaidah, 80 tahun, tentang suaminya Ibrahim yang juga bekas Romusha dari Desa Pasir Sari, Pekalongan.

Belum sampai 100 hari Ibrahim, suami Zurbaidah meninggal dunia. Ketika berkunjung ke gubuknya di Jorong Bukik Gombak, Nagari Padang Laweh, Kecamatan VII Koto, Sijunjung, Zulbaidah baru saja pulang dari ladang.

"Ia pekerja ulet, persis ketika bujangan dulu ," kenang Zurbaidah.

Ie menuturkan, suaminya dulu dijanjikan untuk disekolahkan oleh tentara Jepang. Selama dua tahun, rupanya sang suami dipekerja sebagai Romusha. Karena tak tahan disiksa, suaminya memilih kabur. Jauh sebelum bom dijatuhkan Sekutu di Hiroshima dan Nagasaki, Ibrahim sudah tertatih-tatih dalam pelarian.

Pelarian itu akhirnya sampai di Jorong Bukik Gombak, Nagari Padang Laweh. Setiba di kampung ini, Ibrahim membantu pekerjaan penduduk di sawah dan di ladang. Ketika itu pula suaminya menceritakan kepada penduduk tempat dia bekerja, bahwa dia adalah Romusha yang sedang dalam pelarian.

"Masyarakat kasihan dan dia dibawa tinggal bersama penduduk setempat," ujarnya.

Suatu ketika, di kampung masyarakat sedang bertobo (ke sawah berombongan-red), Ibrahim ketika ikut bekerja sedang Zurbaidah muncul di sana sebagai anak gadis. Di sanalah pertama kali hati Ibrahim tertambat pada Zulbaidah.

Tak lama kemudian, Ibrahim mengajaknya menikah menjelang 1950-an. Zulbaidah tak ingat ia menikah dengan Ibrahim pada usia berapa. Yang ia ingat, usianya terpaut hampir sepuluh tahun dengan Ibrahim.

Dari pernikahan itu mereka dikaruniai 9anak. Kini anak mereka hanya tinggal enam orang. Tiga orang sudah tiada. Selama hidup bersama Zulbaidah, Ibrahim menafkahi keluarganya dengan berladang coklat dan durian.

"Ia dapat keluarga baru di sini setelah bertahun-tahun dalam pelarian menjadi Romusha," ujarnya.

Ibrahim memang pernah didatangi oleh kerabatnya dari Jawa. Sekitar 1980-an untuk pertama kalinya ia mengunjungi keluarga di sana yang masih tinggal. Menurut Zulbaidah, ketika itu ia pulang kampung dengan anak saudara sepupunya. Seingat Zulbaidah, Ibrahim punya saudara laki-laki semua. Dan itu pun waktu itu sudah banyak yang meninggal.

Waktu kepulangannya ke Pekalongan difasilitasi oleh Daliman. Menurut Syafruddin, wali Jorong Bukik Gombak, Daliman merupakan tentara yang bertugas di Kodim Muaro Sijunjung.

"Dalimanlah yang memuluskan Ibrahim bertemu kerabatnya di sana," ujarnya.

Namun, kecintaan Ibrahim terlalu dalam terhadap kampung barunya, nagari Ladang Laweh. Apalagi terhadap keluarganya. Dia cuman betah lima belas hari di sana, setelah itu balik lagi.

"Sudah itu tidak pernah ke Jawa lagi," kata Zulbaidah.

Kini yang ia kenang dari sosok suaminya adalah semangat kerja keras. Meskipun hidup serba kekurangan, tapi tetap ikhlas menjalani kehidupan. Memang baginya, terasa kehilangan menadalam atas kepergian suaminya.

Ibrahim adalah bekas Romusha yang paling terakhir di jorong itu. Ia baru saja tutup usia, sedangkan temannya Hasan, Oto, Tasiu, Amek, dan Kariman sudah meninggal dalam sepuluh terakhir.

"Bang Ibrahimlah bekas Romusha yang paling terakhir masih hidup di Jorong ini," kata Wali Jorong.

Jalur kereta api yang dibuat tentara pendudukan Jepang di Sijunjung menuju Pekanbaru hanya tinggal cerita. Jalur itu terputus di Sijunjung setelah akhirnya Jepang kalah dalam Perang Dunia II sehingga terpaksa angkat kaki dari Indonesia.

Jika Anda ke Sijunjung, singgahlah ke Jorong Silukah, Durian Gadang, di sana ada sebuah lokouap tua sebagai saksi. Lokouap yang telah dijadikan situs cagar budaya ini ditemukan di lokasi penuh semak pada 1980-an.

Kereta api benar-benar tak pernah lewat ke Sijunjung. Darah dan keringat para Romusha, sebagian besar dari Pulau Jawa menjadi kenangan di sana. (joni aswira/padangkini.com)
Reputation
Comments
 
Possibly Related Threads...
Thread:
  Fenomena Kota Padang: Kota Bengkuang Tinggal Kenangan
Star Burung Kuau Tinggal Kenangan