Liputan6.com, Jakarta: Saat panen di Tanah Datar, Sumatera Barat tiba, datang pula hari bahagia bagi para petani. Tak cuma karena hasil melimpah, tapi juga lantaran pesta besar yang melibatkan banyak sapi akan segera dimulai.
Pesta ini adalah tradisi tua yang hidup lebih dari 500 tahun dan menjadikan sapi begitu akrab dengan keseharian. Rakyat Tanah Datar menyebut tradisi itu Pacu Jawi.
Pacu Jawi bermakna balap sapi. Sedikit mirip dengan karapan sapi di Madura. Bedanya, Pacu Jawi digelar di pematang berlumpur, sementara karapan di areal tanah kering.
Nyaris setiap pemilik sapi bakal bergairah tiap acara Pacu Jawi tiba. Merawat agar sapi sehat saja tak cukup. Untuk membentuk sapi yang tangguh di arena pacu, ramuan jamu yang dicampur telur adalah santapan wajib. Ini agar sapi tak cuma kuat, tapi juga bisa berlari secepat kilat.
Tak mudah memastikan asal mula Pacu Jawi. Sebuah tradisi kuno pengisi waktu luang petani ketika masuk musim tanam. Periode ketika kaum paderi atau ulama menyebarkan pengaruh di Ranah Minang bersamaan lunturnya pengaruh Kerajaan Pagaruyung akibat dominasi Belanda, mengubah pola Pacu Jawi menjadi lebih Islami.
Perjudian adalah soal rentan pada atraksi adu balap. Untuk menekan celah adanya taruhan, kaum ulama memberi pertimbangan mengubah tata cara di arena pacu. Hanya satu joki yang bergerak mengendalikan dua sapi, tak lagi beriringan layaknya adu balap konvensional.
Pacu Jawi punya teknik tersendiri agar sapi lari terbirit-birit. Caranya, dengan menggigit bagian ekor. Makin kencang gigitan joki, makin kencang pula sapi berlari.
Menjadi sapi terbaik tentu menguntungan bagi pemilik. Pasar ternak Desa Cubadak Batusangkar menjadi saksi betapa sapi-sapi tangguh memiliki harga berlipat ketimbang sapi biasa.
Tak cuma di Indonesia, ajang serupa Pacu Jawi pun ada di Vietnam. Di india pun sama saja. Balap sapi menjadi bagian hidup para petani. Boleh jadi ini permainan khas negeri agraris.
Berbeda dengan di Nusantara dan Vietnam, status sapi di India lebih terhormat. Mereka terlihat di mana-mana tanpa mendapat gangguan dari manusia.
Dalam kitab Mahabarata dan Bhagawad Gita, Krisna -- dewa yang dipuja umat Hindu -- yang juga diyakini sebagai Awatara atau inkarnasi kedelapan Dewa Wisnu, memiliki kedekatan dengan sosok sapi. Ia punya banyak julukan. Dua namanya yang terkenal adalah Gopala yang berarti pelindung sapi dan Govinda, penggembala sapi.
Ketika peradaban menjadikan sapi sebagai bagian dari permainan, baik di Tanah Datar atau belahan Bumi lain, ini tak lebih sebagai interaksi natural antara manusia dan hewan. (ASW/Vin)