UJI COBA BULAN DEPAN
PADANG, HALUAN — Penerbangan perdana langsung dari Padang-Singapura akan dimulai Oktober mendatang. Namun uji terbang rencananya dilaksanakan bulan depan. Seluruh persiapan tengah dilakukan, termasuk hitung-hitungan biaya penerbangannya. Sebab Garuda Indonesia yang dipercaya Pemprov Sumbar mematok harga sekali terbang minimal Rp89 juta dengan pesawat jenis Boeing 737-800.
Wakil Gubernur Sumbar Muslim Kasim kepada Haluan, Rabu (8/8) mengungkapkan, rapat untuk mematangkan semua rencana tersebut telah dilaksanakan pada Senin (6/8) lalu. Rapat tersebut dihadiri oleh pihak Garuda Indonesia Cabang Padang, Asita Sumbar, Kadin Sumbar, para bupati/walikota se-Sumbar, Dinas Perhubungan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan serta instansi terkait lainnya. Muslim Kasim menambahkan, penerbangan langsung Padang-Singapura ini sudah dinanti-nanti banyak kalangan di Sumbar.
Sebab rute Padang-Singapura ini sangat potensial untuk pengembangan dunia pariwisata dan perdagangan dan investasi di Sumbar. Penerbangan langsung juga diyakini sebagai pembuka keterisoliran Sumbar dengan dunia luar.
“Kita akan segera realisasikan penerbangan langsung ini. Soal biaya yang ditimbulkan akan kita upayakan secara bersama-sama mengatasinya. Sebab pembukaan jalur penerbangan langsung ini sangat penting bagi pembangunan di Sumbar,” kata Muslim Kasim.
Setiap kabupaten/kota sepakat akan memikul biayanya, bila batas minimal yang ditetapkan Garuda Indonesia untuk mencapai Break Even Point (BEP) tidak terpenuhi. Untuk sekali terbang Padang-Singapura dibutuhkan biaya Rp89 juta, dengan asumsi harga tiket Rp1,2 juta dan kursi yang terisi 120 seat dari 160 kursi Boeing 737-800. Penerbangan dari Singapura-Padang agaknya tidak masalah, BEP dapat dicapai.
Ketua Kadin Sumbar Asnawi Bahar juga optimis. Penurunan tingkat kunjungan wisata ke Sumbar dapat didongkrak, salah satunya dengan penerbangan langsung. Selain itu adanya komitmen dari aparat keamanan di daerah ini, untuk memberikan rasa aman kepada setiap orang yang datang ke Sumbar.
Secara ekonomi, penerbangan langsung dengan tiket Rp1,2 juta per penumpang dirasa tetap menguntungkan dibandingkan bila harus ke Batam dulu, lalu dengan kapal fery menyeberang ke Singapura. Biaya yang dikeluarkan justru lebih besar lagi.
Sedangkan untuk menutupi biaya penerbangan langsung yang cukup besar itu, maka perlu dibangun komitmen bersama untuk mengatur kalender iven wisata yang tetap dan tidak berubah-ubah. Sehingga wisatawan yang berkunjung ke daerah ini dapat mengikuti iven yang diadakan.
Penurunan tingkat kunjungan wisata ke Sumbar tak lain karena wisata yang ditawarkan Sumbar masih merupa objek wisata alam. Wisatawan hanya disuguhkan keindahan alam yang membuat mereka cepat bosan. Apalagi objek wisata itu tidak pula dikembangkan dengan sentuhan teknologi dan atau tidak ada aktivitas kegiatan seni.
Saat mereka butuh wisata belanja, tidak ada pula yang representatif. Begitu pula keamanan pengunjung, belakangan ini makin tidak terjamin. Penjambretan merajalela. Belum lama ini seorang turis Spanyol dirampok.
“Bila kita ingin memperbaiki tingkat kunjungan wisatawan, maka keamanan adalah suatu yang utama diciptakan. Wisatawan tak akan mau datang berkunjung bila daerah kita tidak aman. Karena itu patut dipertanyakan pernyataan yang menyebutkan Sumbar sebagai daerah teraman nomor 2 di Indonesia,” kata Asnawi yang akrab disapa Ucok ini.
Dari hitungan sementara, kata Muslim Kasim, bila kursi pesawat tidak terisi minimal 120 seat, maka daerah bersedia menutupinya. Setiap daerah akan membicarakannya dengan DPRD masing-masing. Besarnya biaya penutup itu tergantung dari jumlah kursi yang kosong.
Sedangkan jadwal penerbangannya direncanakan 2 kali sepekan. Tetapi Garuda minta 3 kali sepekan. Pembahasan lebih lanjut secara teknis akan dilakukan di Jakarta dengan manajemen Garuda yang direncanakan hari Jumat (10/8) ini. (h/vie)