Perhatian untuk member MinangForum untuk membaca peraturan dahulu agar post anda tidak dihapus
Dapatkan aplikasi MinangForum untuk android anda, Klik Disini untuk mendownload


 
Thread Rating:
  • 0 Votes - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
+ Reply to Thread
01-05-2012 10:03 AM

palala Offline
*

  • Dec 2008
  • 817 posts
  • reputations
  • 7 thanks
    Given 36 thank(s) in 33 post(s)
Post: #1
Minang Saisuak - Sebuah Rumah Gadang di Solok
[Image: k3x6wo.jpg]
minang-saisuak-sebuah-rumah-gadang-di-solok

‘Rumah gadang sambilan ruang, salanja kudo balari, sapakiak budak maimbau’, begitu penggalan ungkapan Minangkabau yang sering kita dengarkan mengenai kebesaran dan kemegahan rumah gadang. Memang kalau kita lihat banyak foto klasik mengenai rumah gadang, ataupun beberapa di antaranya yang masih dapat kita saksikan sampai kini di darek, maka mungkin tak terlalu menyombong kalau kita katakan bahwa nenek moyang orang Minangkabau dulu sudah menguasai teknologi pertukangan yang cukup tinggi.

Rumah gadang jelas dibuat dengan jiwa seni yang halus dan bermutu tinggi, yang memainkan rasa dan pikiran. Kemegahannya mencerminkan sebuah tamadun yang cukup tinggi. Setiap bagian dari rumah gadang dihiasi dengan ukiran yang memiliki nilai falsafah tertentu. Berbagai nama ukiran yang terdapat di rumah gadang – aka cino, pucuak rabuang, itiak pulang patang, dan cancadu bararak, untuk sekedar menyebut contoh – merepresentasikan falsafah hidup orang Minangkabau yang berguru kepada alam (‘Alam takambang jadi guru’). Pembangunan rumah gadang juga merefleksikan sifat kegotongroyongan orang Minangkabau zaman lampau yang sangat kental, sebagaimana telah dikaji dengan mendalam oleh Marcel Vellinga dalam bukunya Constituting Unity and Difference: Vernacular Architecture in a Minangkabau Village (Leiden: KITLV Press, 2004). Sifat gotong royong orang Minangkabau itulah yang sudah memudar sekarang, berganti dengan sifat indivisualisme yang kadang-kadang melebihi orang Barat.

Rubrik ‘Minang Saisuak’ kali ini menurunkan foto sebuah rumah gadang Minangkabau dengan rankiang tinggi sitangka lapa di depannya. Foto ini dibuat oleh mat kodak Jean Demeni di Solok sekitar tahun 1915, seperti dapat dikesan dari judul foto ini: ‘Een fraai Menang Kabausch huis te Solok’ yang berarti ‘Sebuah rumah Minangkabau yang cantik di Solok’. Foto ini dicetak dengan teknik lichtdruk oleh Winkel Maatschappij Paul Bäumer & Co. di Padang.

Foto adalah sebuah artefak sejarah yang bisa ‘berbicara’ banyak kepada kita hari ini. Selain merekam rumah gadang, foto ini juga merekam beberapa lelaki dan perempuan yang kelihatan memakai pakaian serba putih. Barangkali bahannya sejenis ganiah atau marekan yang murah pada masa itu. Tapi lebih dari itu, ada cukup bukti yang menunjukkan bahwa Gerakan Paderi (1803-1837) telah mempengaruhi cara berpakaian orang Minangkabau dan juga cara mereka memilih warna pakaian. Orang yang berpakaian warna putih cenderung diasosiasikan dengan golongan agama dan yang memakai warna hitam diasosiasikan dengan golongan parewa atau golongan adat.

Dari penampilan fisik rumah gadang, dan dari cara membangunnya, tersimpan kearifaan masyarakat Minangkabau, seperti tersirat dalam pantun: ‘Rumah gadang bari bapintu / Nak tarang jalan ka dalam / Dibalun sagadang kuku / Dikambang saleba alam / Bago sagadang bijo labu / Bumi jo langik ado di dalam’. Kini banyak orang yang sebesar ‘balon raksasa’ (baca: sangat berkuasa), tapi di dalamnya hampa, kosong melompong, jauh dari sifat arif bijaksana, dan…bebal.

Suryadi – Leiden, Belanda. (Sumber foto: Souvenir der Padangsche Bovenlanden. Padang: Winkel Mij. v/h P. Baumer & Co,19xx).

Singgalang, Minggu, 18 Desember 2011
Reputation
Comments
 
Possibly Related Threads...
Thread:
  Dua malam di ranah Minang
  Rumah Pendiri Kompas, Kini Jadi Play Grup
  Sahabat Sejati Habibie, Fasih Berbahasa Minang
  Rumah Bagonjong Yang Mendunia
  Filosofi Tari Piring Minang
  Rumah Gadang Sembilan Ruang
  tata Cara Mendirikan Rumah di Minangkabau
  Kenapa orang Minang bagala?
  Sistim Kekerabatan Matrilineal Sebuah Penyimpangan Sunatullah
Rainbow Dibalik ‘Beratnya’ Suntiang Minang