The following warnings occurred:
Warning [2] file_get_contents(http://graph.facebook.com/?ids=http://www.minangforum.com/Thread-Mengintip-Tradisi-Manjalang-Mintuo-%E2%80%9CDulu-Berbaju-Kurung-Kini-Baju-Buntung%E2%80%9D--13349): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 403 Forbidden - Line: 806 - File: inc/plugins/fbmeta.php PHP 5.3.28 (Linux)
File Line Function
[PHP]   errorHandler->error
/inc/plugins/fbmeta.php 806 file_get_contents
/showthread.php(1196) : eval()'d code(42) : eval()'d code 1 fb_comment_count
/showthread.php(1196) : eval()'d code 42 eval
/showthread.php 1196 eval
Warning [2] file_get_contents(http://graph.facebook.com/?ids=http://www.minangforum.com/Thread-Mengintip-Tradisi-Manjalang-Mintuo-%E2%80%9CDulu-Berbaju-Kurung-Kini-Baju-Buntung%E2%80%9D--13349): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 403 Forbidden - Line: 806 - File: inc/plugins/fbmeta.php PHP 5.3.28 (Linux)
File Line Function
[PHP]   errorHandler->error
/inc/plugins/fbmeta.php 806 file_get_contents
/showthread.php(1196) : eval()'d code(131) : eval()'d code 1 fb_comment_count
/showthread.php(1196) : eval()'d code 131 eval
/showthread.php 1196 eval



Perhatian untuk member MinangForum untuk membaca peraturan dahulu agar post anda tidak dihapus
Dapatkan aplikasi MinangForum untuk android anda, Klik Disini untuk mendownload


 
Thread Rating:
  • 0 Votes - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
+ Reply to Thread
10-20-2011 09:03 AM

limpapeh Offline
*

  • Jan 2009
  • 777 posts
  • reputations
  • 8 thanks
    Given 24 thank(s) in 24 post(s)
Post: #1
Mengintip Tradisi Manjalang Mintuo, “Dulu Berbaju Kurung, Kini Baju Buntung”
Setiap hari baik bulan baik, selalu diiringi dengan tradisi manjalang mintuo di Ranah Minang. Begitu pun di Lebaran Haji. Para menantu, bahkan calon menantu menyiapkan segala sesuatunya untuk dibawa ke rumah mertua atau calon mertua.

Tapi itu dulu, kini walau masih kental terasa, namun sudah terjadi pergeseran. Jika dulu para menantu “wajib” berbaju kurung yang rapi kini berbaju ketat dan buntung pun langsir ke rumah mertua, nuansa hari Hari Raya Idul Adha mulai kental terasa. Aktivitas masyarakat Kota Padang khususnya kaum ibu, terlihat makin sibuk.

Imar, 30, salah seorang warga Pengambiran tengah sibuk mempersiapkan bawaan yang akan dibawa ke rumah calon mertua saat Lebaran Haji nanti. Wanita yang mengaku telah bertunangan dengan seorang pemuda Padang sebulan lalu itu berencana membawa kue bolu, agar-agar, dan soto buatan sendiri ke rumah calon mertua.

“Walaupun belum jadi menantu, kita harus pandai babaso dengan calon mertua, dengan begitu mereka juga akan tahu kalau calon mantu hebat bikin agar-agar,” ujar Imar yang mengaku akan melangsungkan pernikahan dua minggu setelah Lebaran Haji ini.

Lain Imar, lain pula Karin. Wanita yang sudah punya anak satu ini mengaku tidak mempersiapkan buah tangan untuk dibawa ke rumah mertuanya saat berkunjung di Lebaran Haji nanti. Alasan Karin, selain dirinya tidak sempat membuat makanan lantaran kesibukan bekerja di kantor, mertuanya juga tidak mempersoalkan dia membawa makanan atau tidak.

“Agiah sajo pitih saratuih ribu, alah tu mah (kasih duit Rp100 ribu, itu saja),” kata Karin enteng. Cici, warga Kuranji Padang mengaku selalu berkunjung ke rumah mertunya di Lebaran Haji. Meski tidak membawa lemang, sebagaimana tradisi di daerah tersebut, paling tidak wanita bertubuh gemuk ini selalu membawa kue tart atau agar-agar.

“Kalau mambaok lamang lamo mambueknyo, repot awak, ancak bali sajo kue, murah meriah,” katanya. Tina, nenek empat cucu ini mengaku selalu dijalang (dikunjungi, red) menantunya tiap hari baik bulan baik. “Kalau menjelang puasa mantu saya rajin bawa limau, kue-kue dan lamang, Idul Adha juga begitu, tapi tidak pakai limau dan lamang, tapi ada bawa daging, “ ujarnya.

Menurut Nur Ainas Abizar, ketua Bundo Kanduang Sumbar, manjalang mintuo tidak hanya pada hari raya saja, pada dasarnya ini merupakan salah satu rangkaian proses perkawinan. Diawali dengan sebuah perencanaan perjodohan, setelah jelas kesepakatan selanjutnya pihak wanita datang ke pihak keluarga laki-laki, dan dikenal dengan istilah maresek.

Pihak laki-laki diberi jangka waktu dua hingga tiga minggu untuk memberi jawaban. Ketika tiba jangka waktu yang sudah disepakati, pihak perempuan datang lagi kepada pihak laki-laki untuk meminta jawaban. Kemudian dilanjutkan dengan proses meminang, baru ditetapkanlah tanggal baralek sesuai kesepakatan dua belah pihak.

Tenggang waktu sebelum baralek, keluarga dari pihak perempuan datang ke keluarga pihak laki-laki, yang dikenal dengan manjalang mintuo. Sebab, dalam budaya Minangkabau yang menikah memang laki-laki dan perempuan, tapi yang kawin adalah keluarga.

Tradisi Manjalang Mintuo dengan membawa lamang saat ini sudah mulai ditinggalkan di Ranah Minang. Tampak, seorang ibu membuat lamang di kawasan Kota Padang.

Acara tersebut akan semakin memperat silaturahim antara keluarga besar mempelai wanita dengan keluarga besar pihak laki-laki. Buah tangan pada saat acara ini, tergantung pada kebiasaan salingka nagari. Antaran bisa berupa nasi kuning, panggang ayam, bolu, puding, sipuluik, ikan bakar, pangek padeh, pergedel dan buah-buahan. Jumlah antaran biasanya ganjil, mulai dari sembilan, sebelas dan tiga belas. “Angka ganjil menggambarkan ibadah yang jumlahnya ganjil, seperti shalat dilakukan 5 waktu, aqiqah pada hari ke 7,” ujar wanita yang akrab dipanggil Bundo.

Selanjutnya, menurut Bundo lagi, si calon menantu menginap di tempat mertua atau ‘japuik malam.’ Ketika akan pulang si mertua balas memberikan buah tangan seperti baju, selendang dan lain-lain sesuai adat salingka nagari. “Tapuak alang babaleh, tapuak sirih bajawak.”

Setelah resmi menjadi menantu, biasanya pada saat menjelang puasa, dua hari raya si menantu rutin datang manjalang dengan berbagai bawaan. “Tradisi ini membuktikan bahwa adat di Minang menjunjung tinggi silaturahim dan keakraban,” ujar Bundo.

Musdarizal, pakar budayawan atau yang lebih akrab dipanggil Makatik, menyebutkan di ranah Minang dewasa ini banyak terjadi pergeseran budaya. Manjalang mintuo misalnya. Seharusnya, kegiatan ini sampai beranak tiga, masih dilakukan secara baik. Sang menantu datang silaturahim ke tempat mertua, tidak hanya pada saat hari raya saja. Manjalang mintuo memiliki konsep lebih luas.

Semestinya, kalau bisa sekali sebulan menantu datang ke rumah mertua. Hal ini dimaksudkan agar silaturahim dengan mertua semakin akrab. “Mertua akan takana jo minantu, dan ini merupakan nilai plus bagi sang menantu,” ujar Makatik.

Menurutnya lagi, jika dibandingkan dulu, saat ini banyak sekali kaedah-kaedah manjalang yang tidak diketahui perempuan yang berstatus menantu orang Minang. Contohnya, ketika menjenguk mertua sedang sakit, si menantu berpakaian yang tidak senonoh. Celana ketat, baju warna warni, padahal sangat tidak sesuai dengan momen.

Bawaan yang dibawa pada saat manjalang pun harus diperhatikan bagaimana cara membawanya. “Kalau adat Minang, makanan yang dibawa untuk mertua, tidak boleh dijinjing, melainkan dipangku. Sebab, yang dijinjing biasanya makanan untuk ikan dan ayam, apakah mertua disamakan dengan binatang,” jelas makacik.

Pergeseran ini menurutnya, terjadi karena si menantu (perempuan) jarang mendapatkan pemahaman dari ninik mamak, tentang tata cara bergaul dengan mertua”. (padangekspres)
Reputation
Comments
 
Possibly Related Threads...
Thread:
  Baju Kuruang Basiba: Sebuah Ikon Minangkabau
  Malamang Tradisi yang Mulai Memudar
  Tradisi Maantan Pabukoan Ka Mintuo
  Jembatan Batu Busuk.... Riwayatmu Dulu......
  Tradisi Urang Minang Menyambut Ramadhan
  SERASA DI KAMPUNG TEMPO DULU
  (Baju) Lebaran
  Mengenali Tradisi 'Balimau' di Sumatera Barat
  Pengunjung Jam Gadang Kini Dihibur oleh Spongebob
  Aduh…Gue Lagi Pusing Nih, Jangan Diganggu Dulu!