Perhatian untuk member MinangForum untuk membaca peraturan dahulu agar post anda tidak dihapus
Dapatkan aplikasi MinangForum untuk android anda, Klik Disini untuk mendownload


 
Thread Rating:
  • 0 Votes - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
+ Reply to Thread
12-05-2011 10:14 AM

Alang Babega Offline
*

  • Jan 2009
  • 630 posts
  • reputations
  • 2 thanks
    Given 5 thank(s) in 5 post(s)
Post: #1
Maek, Nagari Seribu Menhir, Tertua di Minangkabau
Nagari Maek, Kecamatan Bukitbarisan, Kabupaten Limapuluh Kota, merupakan nagari paling tua di Minangkabau Barat. Usia nagari ‘Seribu Menhir’ ini ditaksir para sejarawan melebihi usia Nagari Pariangan di Kabupaten Tanahdatar. Benarkah taksiran tersebut? Apa saja keunggulan Nagari Maek? Seperti apa potret Maek sekarang?



NAGARI Maek memiliki luas 12.206 hektare. Penduduknya mencapai 13.000 jiwa. Mereka tersebar pada 12 jorong setingkat desa atau dusun. Yakni, Jorong Ronah, Kototinggi I, Kototinggi II, Kototinggi III, Auaduri, Bungotanjuang, Sopantanah, Sopan-gadang, Kotogadang, Ampanggadang I, Ampanggadang II dan Joron Nenan.


Secara pemerintahan, Nagari Maek saat ini dipimpin Irdapel Masrizal, 37. Dalam menjalankan tugas-tugasnya, Irdapel dibantu Sekretaris Nagari Nurjasri Putra, Kaur Pembangunan Donal Mahata Putra, Kaur Pemerintahan Arfi Hendra, Kaur Adm/Keuangan Yun Afrizal, staf pemerintahan Silvia Herawati, staf pembangunan Gosri Pendri, dan staf keuangan Yora Ratna Sari.


Untuk mempermudah pelayanan di tingkat jorong, Irdapel dibantu 12 kepala jorong. Yakni, Kepala Jorong Ronah Desrial Efendi, Kepala Jorong Kototinggi I Syafrimon, Kepala Jorong Kototinggi II Dimon Asrijal, Kepala Jorong Kototinggi III Ben Hardi, dan Kepala Jorong Auaduri Refrinaldi.


Kemudian, Kepala Jorong Bungotanjuang Yohanis, Kepala Jorong Sopantanah Masrion, Kepala Jorong Sopan-gadang Afrianto, Kepala Jorong Kotogadang Yeni Besni, Kepala Jorong Ampanggadang I Syafruddin, Kepala Jorong Ampanggadang II Sion, dan Kepala Jorong Nenan Popi Keswanto.


“Para kepala jorong beserta perangkat nagari, sangat membantu kami dalam menjalankan tugas-tugas pelayanan terhadap masyarakat,” ujar Irdapel Masrizal yang merupakan jebolan Diploma 3, Fakultas Ekonomi, Unand ketika ditemui Tim Jelajah Nagari Padang Ekspres, pekan lampau.


Irdapel mengatakan, roda pemerintahan di Nagari Maek berjalan cukup baik. Ini tentu tidak terlepas dari kemitraan yang terbangun baik dengan Badan Musyawarah (Bamus) yang dipimpin Margesfi, Kerapatan Adat Nagari (KAN) yang dipimpin Z Datuak Rajo Imbang, Lembaga Pemberdayaan Masyrakat (LPM) yang dipimpin Januarisman Datuak Patiah.


Selain dengan lembaga-lembaga tersebut, Irdapel dan perangkat Nagari Maek juga mengaku, tetap membangun komunikasi dengan tokoh-tokoh masyarakat, termasuk para perantau Maek. Perantau Maek memang cukup banyak, mereka tersebar di berbagai penjuru Tanah Air.



Geliat Ekonomi Maek
Mayoritas Warga Nagari Maek hidup dari hasil pertanian. Luas areal pertanian di Maek mencapai 1.099 hektare, terdiri dari sawah produktif dan sawah tadah hujan. Kendala utama yang dirasakan petani adalah pupuk. “Di nagari kami, pupuk bersubsidi sangat sulit. Data lahan pertanan dan perkebunan dengan kuota pupuk tidak sesuai,” ujar Irdapel.


Jaringan irigasi juga menjadi kendala pertanian di Maek. “Kami punya jaringan irigasi paling banyak di Limapuluh Kota, mencapai 200 jaringan. Tapi, hanya 30 persen yang kondisinya bagus, sedangkan 70 persen rusak. Kami berharap, pemerintah daerah dapat mengalokasikan anggaran untuk perbaikannya. Kalau irigasi di Maek baik, areal pertanian yang terairi bisa 1.600 hektare,” tutur Irdapel.


Nagari Maek punya potensi di bidang perkebunan. Tanaman gambir adalah komoditi unggulan Maek bidang perkebunan. Luas kebun gambir petani Maek mencapai 3.000 hektare, dengan produksi 60 ton per minggu. Sayang, harga gambir di Maek sama dengan harga di Kecamatan Kapur IX sebagai penghasil gambir terbesar di Indonesia; selalu dimainkan toke.


“Selain harganya yang sering dimainkan oleh toke dari India, perkebunan gambir di Maek juga terkendala sarana transportasi. Sejak Indonesia merdeka sampai sekarang, jalan di Maek hanya diaspal sedikit-sedikit. Tidak pernah dilakukan pengaspalan tuntas. Padahal, selalu diusulkan lewat Musrenbang,” tutur Irdapel.


Tidak cuma gambir, Maek juga punya potensi perkebunan pinang. Jumlah pohon pinang di Maek, ditaksir mencapai 200.000 batang. “Pinang menjadi salah satu tumpuan ekonomi warga Maek. Hampir tiap keluarga punya pohon pinang. Harga pinang juga lumayan menjanjikan, tidak dimainkan toke. Walau demikian, jalan tetap menjadi kendala,” ujar Irdapel.


Sekelindan dengan pertanian dan perkebunan, peternakan juga menjadi tumpuan ekonomi warga Maek. Peternakan paling dominan adalah sapi. Hampir setiap keluarga punya sapi dengan jumlah 1 sampai 5 ekor. Sehingga tidak heran, bila saat ini Maek memiliki populasi sapi sebanyak 3.000 ekor.


“Dengan sapi, masyarakat Maek bisa menyekolahkan anak sampai ke perguruan tinggi. Makanya, kami bertekad menjadikan Maek sebagai sentral sapi. Sapi di Maek yang mencapai 3.000 ekor, hendaknya dapat ditambah pemerintah, lewat program satu petani satu sapi atau program lain. Lahan yang tersedia untuk itu, masih banyak,” kata Irdapel.


Kecuali bergantung pada sektor pertanian, perkebunan dan peternakan, perekonomian warga Maek juga ditopang usaha menjahit. Sekitar 30 persen wanita di Maek, punya usaha sampingan menjahit pakaian. Selama ini, usaha itu masih tumbuh sendiri, belum terlihat intervensi dari pemerintah daerah, seperti penguatan modal ataupun bantuan mesin.

Nagari Maek, Kecamatan Bukitbarisan, Kabupaten Limapuluh Kota, memiliki 12 lembaga Pendidikan Anak Usia Dini, 12 Taman Kanak-Kanak, 11 Sekolah Dasar, 1 Sekolah Menengah Pertama, 1 Madrasah Tsanawiyah, dan 1 Sekolah Luar Biasa, untuk menunjang pendidikan formal anak-anak mereka.



”SEDANGKAN untuk pendidikan agama, nagari kami memiliki 24 unit Madratsah Diniyah Aliyah dan 12 Taman Pendidikan Al-quran. Namun insentif dari pemerintah daerah untuk guru-guru MDA dan TPA, untuk tahun ini belum cair,” ujar Wali Nagari Maek Irdapel Masrizal, pekan lampau.


Irdapel melihat, sarana dan prasarana pendidikan di nagarinya, cukup memadainya. Hanya saja, agar tingkat sumber daya manusia warga Maek semakin bagus, diperlukan sebuah Sekolah Menengah Atas. ”Kami berharap, Dinas Pendidikan Sumbar maupun Limapuluh Kota, sudi membangun SMA di Maek,” ujarnya.


Bidang kesehatan, Nagari Maek memiliki 12 Posyandu, 2 Poskesri, 1 Puskesmas Pembantu, dan 1 Puskesmas yang didukung 1 dokter umum, 1 dokter gigi, dan 12 bidan desa. Tidak ada kendala berarti yang dirasakan warga Maek pada bidang kesehatan, karena pelayanan yang diberikan tenaga medis memuaskan.


”Pimpinan Puskesmas Maek Muhammad Affandi bersama para dokter dan bidan, memberi pelayanan memuaskan untuk Nagari Maek yang berada di Timur Limapuluh Kota. Puskesmas Maek juga punya ruang rawat inap. Ini membuat warga kami senang,” tutur Irdapel.


Kondisi Infrastruktur
Bicara soal infrastruktur umum, seperti jalan dan jembatan, baru Irdapel sedikit mengeluh. Menurutnya, kondisi jalan di Nagari Maek sangat parah. Walau sebagian sudah diaspal, tapi masih banyak yang rusak berat. Siapa saja yang datang ke Maek, pasti merasakan kondisi tersebut.
”Semenjak Indonesia merdeka, pengaspalan jalan ke Maek tidak pernah tuntas. Makanya, kami sangat bermohon kepada pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan DPRD, agar dapat menuntaskan jalan menuju Nagari Maek,” ujar Irdapel.


Permohonan itu, menurut Irdapel, tentu suatu yang logis. Sebab usulan perbaikan jalan sudah berkali-kali lewat Musrenbang. Selain itu, Nagari Maek juga berpotensi pada segala sisi, baik dari sisi peradaban manusia, hasil perkebunan gambir dan pinang, hasil peternakan sapi, maupun dari sisi objek wisata.


”Sedangkan untuk jembatan, nagari kami punya 17 unit jembatan. Umumnya, berbentuk jembatan kayu dan jembatan gantung. Namun kondisi banyak yang rusak. Yang dibangun representatif baru jembatan, menggunakan dana PNPM,” tutur Irdapel Masrizal, apa adanya.


Salah satu jembatan yang mendesak dan strategis dibangun pemerintah daerah di Maek, menurut Irdapel adalah jembatan yang menghubungkan Jorong Nenan dengan Kecamatan Kapur IX. Jembatan ini berada di jalan kabupaten.


”Selain itu, pemerintah juga perlu membangun jembatan yang menghubungkan Maek dengan pusat Kecamatan Bukitbarisan. Jembatan ini, kalau bsia menjadi skala prioritas. Sebab, warga Maek sudah berkali-kali mengusulkan lewat Musrenbang,” ujar Irdapel.


Potensi Wisata
Menyinggung soal objek wisata, Maek tidak kalah dari Lembah Harau yang sering dikunjungi wisatawan. Di Nagari Maek, terdapat beratus-ratus menhir. Menurut sejarawan Universitas Negeri Padang Prof DR Mestika Zed, menhir adalah batu tunggal yang berdiri tegak di atas tanah dan berasal dari periode neolitikum.


Periode neolitikum itu berada antara 6.000/4.000 SM sampai 2000 SM. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Nagari Maek telah berusia beribu-ribu tahun. Tapi uniknya, warga Maek meyakini, sebutan Maek berasal dari bahasa Arab, Mahad.


Adapun Ma’had sejatinya merupakan kata benda yang menunjukkan arti tempat dan waktu. Ma’had diyakini berasal dari kata Ahad yang berarti berjanji. Dengan demikian, Ma’had sebenarnya bukan hanya memiliki arti pondok pesantren, tempat dan waktu untuk memeneuhi janji.


Terlepas dari itu, warga Maek bangga kampung mereka menjadi kampung tertua di Minangkabau. Tidak terhitung banyaknya, peneliti asing, sejarawan dalam negeri, dosen dan mahasiswa sejarah yang datang ke Maek, untuk melihat menhir. Ini tentu menjadi objek wisata pula.


Selain menhir, Maek juga memiliki Bukit Posuak atau bukit yang berlubang. Bukit Posuak berada di Jorong Sopantanah. Bersama dengan Bukit Posuak, Maek juga memiliki air terjun yang tak kalah indahnya, yakni air terjun Sarosah Barasok di Jorang Ampanggadang.


”Potensi wisata itu, sebenarnya bisa menambah pendapatan asli nagari Maek maupun pendapatan masyarakat. Sekaligus bisa mengangkat nama daerah. Tapi karena infrastruktur jalan dan jembatan belum bagus, potensi wisata ini belum tergarap,” tutur Irdapel Masrizal. (padangekspres)
Reputation
Comments
 
Possibly Related Threads...
Thread:
  Sejarah Nagari Air Bangis
  Sejarah Nama Minangkabau
  Koto Gadang : tempat lahir Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabau dan Haji Agus Salim.
  Sejarah Alam Minangkabau dan Adat Istiadatnya
  Tambo Alam Minangkabau : Penghapusan Sejarah dan Kekacauan Logika
  Minangkabau di masa Pra-Islam
  Sejarah Minangkabau Ditemukan di Sulawesi
  Tuanku Nan Tuo dan Gerakan Keagamaan Islam Minangkabau Akhir Abad ke-19
  Nagari-Nagari di Minangkabau "Tempo Doeloe"
Rainbow Asal Muasal Nama # 2: Minangkabau