Perhatian untuk member MinangForum untuk membaca peraturan dahulu agar post anda tidak dihapus
Dapatkan aplikasi MinangForum untuk android anda, Klik Disini untuk mendownload


 
Thread Rating:
  • 0 Votes - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
+ Reply to Thread
12-15-2009 03:45 PM

Apak Paja Offline
*

  • Aug 2009
  • 1.406 posts
  • reputations
  • 180 thanks
    Given 25 thank(s) in 22 post(s)
Post: #1
Limpapeh rumah gadang
LIMPAPEH RUMAH GADANG

1. Bundo Kanduang
Bundo Kanduang adalah panggilan terhadap golongan wanita menurut adat Minangkabau. Bundo artinya adalah ibu, kanduang artinya sejati. Bundo Kanduang adalah ibu sejati yang memiliki sifat-sifat keibuan dan kepemimpinan.
Bundo Kanduang sebagai golongan wanita adalah pengantar keturunan yang harus memelihara diri serta mendudukan diri sendiri dalam aturan �adat basandi syara' �. Membedakan baik dan buruk, halal dan haram dalam hal makanan serta perbuatan lahiriah lainnya. Karena sebagai pengantara keturunan mempunyai tugas pokok dalam membentuk dan menentukan watak manusia dalam melanjutkan keturunan.
Dalam rangka membangun manusia indonesia seutuhnya dalam arti berkehidupan yang selaras dan serasi, selaras antara kepentingan lahiriah dan batiniah, selaras antara hubungan manusia dengan tuhannya dan manusia dengan sesamanya dan selaras antara kepentingan hidup di dunia dan kepentingan cita-cita hidup di akhirat, mau tak mau kita harus banyak berbicara tentang pentingnya peranan kaum wanita dalam membentuk generasi yang akan datang.
Menurut hukum adat Minangkabau, ibu adalah sebagai tempat menarik tali keturunan manusia di Minangkabau yang disebut dengan matrilinial. Karena ibulah menurut ketentuan �alam takambang jadikan guru� yang dijadikan oleh yang maha kuasa yang menyimpan pranatal, yang melahirkan dan beberapa proses yang maha penting yang kemudian disambut oleh tugas-tugas keibuan setelah dilahirkan. Di dalam adat Minangkabau, Bundo Kanduang� itu dihimpun dalam suatu ungkapan yang berbunyi: Bundo Kanduang, limpapeh rumah nan gadang,
umbun puruak pagangan kunci,
umbun puruak aluang bunian,
pusek jalo kumpulan tali,
sumarak di dalam kampuang,
hiasan dalam nagari.
Maksud dari gurindam adat tentang Bundo Kanduang ini adalah bahwa adat Minangkabau memberikan beberapa keutamaan dan pengecualian terhadap wanita di Minangkabau, sebagai bukti dari kemuliaan dan kehormatan yang diberikan kepada Bundo Kanduang, dan untuk menjaga kemuliaannya dari segala kemungkinan yang akan menjatuhkan martabatnya. Keutamaan dan pengecualian adat terhadap Bundo Kanduang dapat kita bagi dalam lima macam secara garis besarnya. Dimana lima macam ini merupakan ciri-ciri khas adat Minangkabau dibanding dengan adat-adat daerah lainnya di Indonesia.

2. Keutamaan Bundo Kanduang Di Minangkabau
1. Bundo Kanduang adalah perantara keturunan
Bundo Kanduang harus memelihara diri serta mendudukan diri sendiri dengan aturan adat dan agama Islam, mampu membedakan halal dan haram dalam semua perbuatan. Di Minangkabau, keturunan ditarik dari garis ibu, disebut matrilinial. Kalau seorang ibu bersuku caniago, maka anak yang dilahirkan baik laki-laki maupun perempuan harus memiliki suku sesuai dengan suku ibunya, yaitu caniago. Suku anak tidak menurut suku bapak seperti kebanyakan yang terjadi dalam adat daerah lain di Indonesia bahkan di dunia. Keturunan yang ditarik dari garis ibu seperti di Minangkabau mengandung makna agar manusia yang dilahirkan oleh kaum ibu terutama laki-laki menghormati dan memuliakan jenis keturunan tanpa pandang bulu. Seorang anak tidak dapat berbuat semaunya terhadap kaum ibu apalagi berbuat amoral kepadanya. Perbuatan asusila terhadap wanita di dalam adat Minangkabau merupakan suatu kesalahan yang sangat besar dan sangat tercela.
Sesuai dengan ketentuan yang terdapat dalam alam semesta yang merupakan guru atau tempat belajar dan mengambil iktibar bagi nenek moyang orang Minangkabau dahulunya dalam menyusun adat keturunan manusia seperti tumbuh-tumbuhan. Sebuah biji tumbuhan yang baik sudah pasti akan melahirkan pohon dan buah yang baik pula, begitu pula sebaliknya. Maka seorang ibu menurut adat Minangkabau akan lebih banyak menentukan watak manusia yang dilahirkan. Seperti kata pepatah :
Kalau karuah aia di hulu
Sampai ka muaro haruah juo,
Kalau kuriak induaknyo
Rintiak anaknyo
Tuturan atok jatuah kepalambahan
2. Rumah tempat kediaman
Barumah batanggo adalah suatu syarat mutlak bagi satu nagari di Minangkabau. Rumah tempat kediaman menurut hukum adat Minangkabau diutamakan untuk wanita, bukan untuk laki-laki. Di dalam kehidupan sehari-hari di Minangkabau orang akan berbicara umpamanya : �pulang ka rumah urang gaek (rumah ibu)�, tidak pernah terdengar �pulang ke rumah bapak�. Begitu pula dengan ungkapan �pulang kerumah isteri� bukan �pulang ke rumah suami�. Karena rumah diutamakan untuk kaum wanita.
Seorang bapak di Minangkabau belumlah merasa puas kalau dia belum dapat membuatkan rumah tempat kediaman untuk anak perempuannya. Hal ini selalu merupakan kewajiban dan cita-cita seorang bapak. Tidak ada seorang bapak mempunyai niat membuatkan rumah untuk anaknya yang laki-laki. Ketentuan ini mempengaruhi adat perkawinan di Minangkabau, yang disebut dalam pepatah:
Sigai mencari anau
Anau tatap sigai baranjak
Artinya setiap terjadi perkawinan, anak laki-laki pulang ke rumah perempuan; dan setiap terjadi perceraian, laki-laki pergi, sedangkan perempuan tetap pada tempatnya semula (rumahnya).
Dalam hal ini bukan berarti laki-laki tidak mendapat perhatian. Pengutamaan perempuan untuk mendapatkan rumah karena kodrat laki-laki lebih kuat dibanding perempuan. Seorang perempuan menurut adat dan agama Islam tidak dibenarkan tidur disembarang tempat. Bagi mereka diberi tempat kediaman yaitu rumah. Sedangkan laki-laki, tidak dilarang menurut adat dan agama Islam berdiam atau tidur di sembarang tempat, seperti menumpang di tempat orang lain, kedai, di masjid/surau dan lain sebagainya.
Sesuai dengan kodrat hayati wanita, maka kepadanya diberikan beberapa pengecualian dari kaum laki-laki. Dapat dibayangkan seorang wanita yang tidak mempunyai tempat kediaman, tentu ia akan tidur disembarang tempat, yang sangat mengkhawatirkan akan terjadi hal-hal yang akan merusak nama baik kaum wanita itu sendiri. Maka didalam hukum adat Minangkabau disebutkan dalam pepatah:
Iduik batampek mati bakubua
Kuburan hiduik dirumah gadang
Kuburan mati ditangah padang
Mengingat pentingnya peranan wanita dalam hidup dan kehidupan ini sesuai dengan kodrat hayatinya yang lemah itu, maka adat Minangkabau mengutamakan lindungan terhadap kaum wanita, sesuai dengan ketentuan adat:
Nan lameh ditueh
Nan condong ditungkek
Ayam barinduak
Siriah bajunjuang
3. Sumber ekonomi diutamakan untuk wanita
Sawah ladang, banda buatan yang merupakan sumber ekonomi menurut adat Minangkabau pemanfaatannya diutamakan untuk wanita. Bukan berarti bahwa kaum laki-laki tidak dapat memanfaatkan sama sekali. Berhubung kaum wanita itu lemah dari kaum laki-laki maka sawah ladang untuk wanita. Laki-laki mempunyai kemampuan dan kebebasan yang lebih luas dibandingkan dengan wanita.
Karena kaum laki-laki mempunyai fisik yang kuat serta kemampuan yang lebih luas, maka kepadanya ditugaskan mengurus dan mengawasi sawah ladang untuk kepentingan bersama, karena laki-laki merupakan tulang punggung yang kuat bagi kaum wanita yang selalu berusaha melindungi mereka, seperti kata syarak �laki-laki menjadi tulang punggung wanita�.
Berdasarkan hal yang demikian, telah menjadi adat di Minangkabau bahwa segala sesuatu pekerjaan yang dikerjakan oleh wanita seharusnya diukur dengan mungkin dan "patuik" untuknya. Pada umumnya kita dapati dinegeri-negeri di Minangkabau, pekerjaan yang dilakukan oleh kaum wanita dalam hidup sehari-hari di samping kaum laki-laki adalah pekerjaan ringan.
Hal yang demikian adalah merupakan penghayatan adat yang dalam mendudukan wanita pada proporsinya yang wajar dalam segala bidang. Dan sangatlah dicela menurut pandangan umum kalau kiranya ada wanita yang mengerjakan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan laki-laki.
Dengan pengecualian yang diatur adat dengan mengutamakan sumber ekonomi di dalam pemanfaatannya diutamakan lebih dahulu untuk wanita, yang pelaksanaannya dibantu oleh kaum laki-laki, maka akan terjaminlah kelangsungan hidupnya matrilinial Minangkabau yang menjadi lambang perhormatan dalam memuliakan kaum wanita. Dan akan terjauhlah dalam kehidupan masyarakat rasa pandang enteng terhadap kehidupan manusia.
4.Yang menyimpan hasil ekonomi adalah wanita
�Umbun paruak pagangan kunci, umbun puruak aluang bunian� yang dimaksud bahwa hasil ekonomi sebagai pemegang kuncinya adalah Bundo Kanduang (wanita). Rangkiang sebagai lambang dihadapan rumah gadang yang ditempati oleh Bundo Kanduang.
Sesuai dengan sifatnya kaum wanita yang serba ekonomis itu, maka kepadanya dipercayakan oleh kaum adat untuk memegang dan menyimpan hasil sawah dan ladang dan padanya pula terpegang kunci ekonomi tersebut. Karena dalam kenyataan sehari-hari kaum wanita lebih ekonomis dibandingkan dengan kaum laki-laki.
5. Hak suara wanita dalam musyawarah
Di dalam adat Minangkabau suara Bundo Kanduang di dalam bermusyawarah mempunyai hak yang sama dengan kaum laki-laki. Setiap sesuatu yang dilaksanakan di dalam lingkungan kaum dan pesukuan menurut adat suara dan pendapat wanita sangat menentukan lancar atau tidaknya suatu pekerjaan.
Sebagai contoh dalam kehidupan sehari-hari, setiap keputusan yang telah diperoleh dalam rapat bersama kaum laki-laki dalam suatu kaum, belumlah dapat dilaksanakan kalau sekiranya, kaum wanita belum mensepakatinya. Umpamanya kenduri dalam mengawinkan anak laki-laki atau perempuan. Walaupun kelompok kaum laki-laki dalam suatu kaum, seperti penghulu, mamak, orang tuo, manti pegawai, sumando telah mensepakati suatu hari untuk melaksanakan perhelatan menurut adat seperti upacara nikah � kawin, belumlah dapat dilaksanakan kalau belum mendapat persetujuan dari kaum wanita (Bundo Kanduang).
Begitu pula untuk mendirikan gelar pusaka (gelar penghulu) untuk suatu kaum, belum dapat diresmikan kalau salah satu paruik (ibu dalam kaum tersebut), belum mesepakatinya. Dan kalau terjadi yang demikian dan dilaksanakan juga, maka dianggap pengangkatan gelar pusaka tersebut tidak syah. Begitu pula halnya dalam mempergunakan harta pusaka sesuai fungsinya untuk kepentingan bersama, seperti menggadai. Tidaklah dapat dilaksanakan gadai, atau hibbah dan sebagainya, kalau kiranya salah seorang ibu dari anggota kaum tersebut belum menyetujuinya.
Dari lima macam pengecualian adat Minangkabau terhadap kaum wanita (Bundo Kanduang) tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa adat telah memberikan emansipasi dan menempatkan kaum wanita pada tempat yang sewajarnya, mengingat pentingnya tugas pokok yang dipegang oleh kaum wanita dalam pengembangan bangsa dan membentuk manusia yang dilahirkannya.
Di luar takdir dan terlepas dari pandangan yang keliru, kita sesungguhnya ingin maju terus. Sekuat tenaga ingin membebaskan diri dari semua belenggu, semua kekangan untuk kemajuan, tetapi tetap disesuaikan dengan kodrat wanita sendiri dan norma dalam ruang dan waktu yang telah oleh adat dan agama Islam. Seperti pepatah adat :
Menurut alua jo patuik
Malabiahi jan ancak-ancak
Mangurangi jan sio-sio

Berbuatlah untuk Akhirat, Insya Allah Dunia akan mengikuti,.....
Reputation
Comments
 
Possibly Related Threads...
Thread:
  Rumah Gadang Minang Perlu di lestarikan
  BPNB Padang Inventarisasi Rumah Gadang dan Randang
  Benda Purbakala Melayu Dipamerkan di Rumah Budaya Fadli Zon
  Rumah Gadang Terkini: Akankah Hanya Sebagai Ikon Pariwisata Sumatera Barat?
  Lestarikan Rumah Gadang
Rainbow Ratusan Keris di Rumah Budaya Fadli Zon
  Puncak Maulid, Tiap Rumah Buat Lamang
  Ditengah Guyuran Hujan Lebat : Ritual Safa Gadang Khidmat
  Sanggar Seni Sumarak Rumah Gadang Meriahkan HUT Pasbar
  Rumah Gadang Tuanku Sultan Achmad