The following warnings occurred:
Warning [2] file_get_contents(http://graph.facebook.com/?ids=http://www.minangforum.com/Thread-Keunikan-Seni-Ukir-Pandaisikek): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 403 Forbidden - Line: 806 - File: inc/plugins/fbmeta.php PHP 5.3.28 (Linux)
File Line Function
[PHP]   errorHandler->error
/inc/plugins/fbmeta.php 806 file_get_contents
/showthread.php(1196) : eval()'d code(42) : eval()'d code 1 fb_comment_count
/showthread.php(1196) : eval()'d code 42 eval
/showthread.php 1196 eval
Warning [2] file_get_contents(http://graph.facebook.com/?ids=http://www.minangforum.com/Thread-Keunikan-Seni-Ukir-Pandaisikek): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 403 Forbidden - Line: 806 - File: inc/plugins/fbmeta.php PHP 5.3.28 (Linux)
File Line Function
[PHP]   errorHandler->error
/inc/plugins/fbmeta.php 806 file_get_contents
/showthread.php(1196) : eval()'d code(131) : eval()'d code 1 fb_comment_count
/showthread.php(1196) : eval()'d code 131 eval
/showthread.php 1196 eval



Perhatian untuk member MinangForum untuk membaca peraturan dahulu agar post anda tidak dihapus
Dapatkan aplikasi MinangForum untuk android anda, Klik Disini untuk mendownload


 
Thread Rating:
  • 0 Votes - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
+ Reply to Thread
04-13-2012 10:23 AM

palala Offline
*

  • Dec 2008
  • 817 posts
  • reputations
  • 7 thanks
    Given 36 thank(s) in 33 post(s)
Post: #1
Keunikan Seni Ukir Pandaisikek
[Image: 2ci8adg.jpg]


Nagari Pandai Sikek Kecamatan X Koto Kabupaten Tanah Datar dikenal karena dua hal: tenunan dan seni ukirnya. Dibanding tenunan songket, seni ukir lebih mudah berkembang sebab bisa dipelajari oleh siapapun. Se­men­tara tenunan songket ber­sifat tertutup, sulit dipelajari oleh orang di luar Pandai Sikek.

Seni ukir mulai dikenal oleh bangsa Indonesia bermula sejak zaman batu muda (neo­litik), yakni sekitar 1500 SM. Pada zaman itu nenek moyang bangsa Indonesia telah mem­buat ukiran pada kapak batu, tempaan tanah liat atau bahan lain yang ditemuinya.

Seni ukir sebagai salah satu kekayaan budaya Minangkabau lebih banyak dipahatkan pada kayu. Walau ada yang ditatah­kan pada logam akan tetapi tidak disebutkan sebagai ukiran melainkan hanya sebagai hiasan kerajinan atau kriya logam.

Pandai Sikek merupakan salah satu daerah yang masih menjaga lestarinya seni ukir tersebut. Ada 130 motif yang masih lestari hingga kini. Sebanyak 60 motif tumbuh-tumbuhan, 32 motif binatang dan sifatnya, dan 38 motif alam.

Faktor terbesar pelesta­riannya berasal dari bengkel dan sanggar tradisional. Ada 38 sanggar di Pandai Sikek yang terus mengembangkan seni ukir. Dalam perkembangannya, sanggar dan bengkel tersebut mampu mengembangkan ber­ba­gai bentuk baru yang mengu­tamakan nilai estetis.

Seni Ukir yang Tak Pernah Tumpul

Keunikan seni ukir Pandai Sikek inilah yang menarik bagi Adirozal, dosen ISI Padang Panjang yang juga mantan Wakil Walikota Padang Pan­jang, melakukan penelitian terhadap seni ukir Pandai Sikek selama lima tahun. Temuannya itu dituangkannya dalam diser­tasi Model Pendidikan Seni Ukir pada Sanggar Tradisional Pandai Sikek Kabupaten Tanah Datarâ. Dalam disertasi itu disebutkan, seni ukir itu tidak akan punah di Pandai Sikek. Selalu ada yang ingin mempe­lajarinya.

Transformasi seni ukir di Pandai Sikek awalnya tidak berlangsung di sanggar. Warga yang berbakat dan berminat hanya mencoba-coba dan meniru-niru karya ahli ukir. Pendidikan seni ukir mulai terarah semenjak 1970 ketika Ramli Dt Rangkayo Sati men­di­rikan sanggar seni ukir, katanya kepada Haluan Jumat (18/2) usai mempertahankan disertatasinya depan Guru Besar FBSS UNP.

Sebagai pimpinan sanggar, Ramli Dt Rangkayo Sati me­rek­rut warga Pandai Sikek yang mahir mengukir. Selain merek­rut ahli ukir, Ramli Dt Rangka­yo Sati mengajak pemuda-pemuda. Kelompok pemuda pertama yang menjadi warga belajar adalah Dirajo, Suardi, Fauzi St Padomanggih, Jastami Sidi Marah Alam. Menyusul kemudian Si On, Wardi Tan­jung, dan Zainal Marsal.

Setelah periode itu, sanggar tradisional dan bengkel kerja melakukan berbagai inovasi, tidak sekedar mencoba-coba dan meniru . Maka, seni ukir Pandai Sikek tidak hanya dijumpai di rumah adat dan balairung, ia bisa pula dilihat di rumah pribadi, gonjong perkantoran, restoran, hotel, perabot rumah tangga, pintu, dan mimbar masjid.

Ciri khas ukiran tradisio­nal Pandai Sikek ditandai dengan motif yang bersumber dari alam dan bentuk penam­pangnya basandiang (segitiga lancip). Penampang basandiang disebabkan pengaruh penggu­na­an peralatan pahat tradisi­onal (layang-layang), ujar Ketua LPTO Kota Padang Panjang 2006-2010 ini.

Prinsip ukiran di Pandai Sikek mengacu filosofi alam takambang jadi guru. Umum­nya motif ukiran diwujudkan dalam bentuk flora walaupun dalam judul atau penamaannya disebutkan alam fauna atau nama manusia. Misalnya motif siganjo lalai (nama gadis), simanjo lelo (nama laki-laki), kuciang lalok (kucing tidur), dan tupai managun (tupai tertegun).

Pelajaran di bengkel dan sanggar tradisional, terlebih dahulu harus mengetahui motif-motif tradisional tersebut sebelum mempelajari falsafah motif itu sendiri. Materi filosofi diberikan pada kelas diskusi, terkadang diberikan secara berkelakar atau bercanda.

Karena itulah, seni ukir Pandai Sikek, bagi masyara­katnya, tak hanya bermakna sebuah seni ukir, ia mengan­dung nilai-nilai. Arti lainnya, mempelajari seni ukir turut memahami makna-makna yang dibawa oleh seni ukir itu sendiri.

Rutinitas Biasa

Masyarakat kita cenderung pragmatis. Kalau ukiran tidak laku, siapa lagi yang akan membuat? Tiba-tiba nada suara Adirozal sedikit mening­gi. Kekhawatirannya, sanggar dan bengkel tradisional itu bisa saja tergerus arus zaman.

Realitasnya, kini di Pandai Sikek hanya tersisa empat sanggar. Menurut Adirozal, penyebabnya karena mereka tidak dibina secara berkesi­nam­bungan. Ini tanggungjawab pemerintah, ujarnya.

Sanggar dan bengkel tradi­si­onal tersebutâdengan tidak banyak dukungan seperti menjalani rutinitas saja. Mereka belajar di sanggar, tapi tak mendapat banyak dari hasil pekerjaan itu. Padahal, sanggar dan bengkel tradisional tersebut dapat menjadikan orang untuk langsung bekerja.

Dibandingkan dengan pen­di­dikan formal, pendidikan di sanggar lebih efektif. Pembe­lajarannya langsung pada prak­tek dan memungkinkan mengu­rangi pengangguran.

Coba bayangkan bila tidak ada generasi muda yang meng­ukir. Budaya kita hilang, rumah adat tidak berukir, terjadi lost generation. Mesti­nya masuk ilmu pendidikan, masuk perha­tian pemerintah. Ukiran Jepara sampai ke Eropa karena didu­kung ba­nyak pihak, tuturnya.

Perhatian pemerintah, begitulah yang ditunggu. Di Pandai Sikek, mereka telah berupaya melestarikan itu. Tapi perlu peningkatan dan campur tangan seluruh sinergi, bagai­mana mengembangkan, perlu Perindag Kotam, bagaimana mendidik dengan baik, perlu Dinas Pendidikan dan Perguruan Tinggi. Selama ini dikelola tradisional, apa adanya. Sedikit sekali campur tangan pemerintah, sedikit sekali yang ingin membuat mereka lebih baik, ujarnya.

Seni ukir Pandai Sikek memungkinkan untuk menje­lajahi Indonesia, juga bersaing secara international. Menurut Adirozal, peluang ini belum termanfaatkan. Dinas Perindag belum pernah menjual. Dinas Kebudayaan belum pernah melestarikan, katanya tegas. (andika destika khagen/pandaisikek.net)
Reputation
Comments