<img src="http://www.harianhaluan.com/images/stories/Berita7/280812/longsor.jpg" height="148" width="199" align="left" />LONGSOR SEPANJANG 100 METER
Akibat longsor, kawasan Kelok 9 yang menghubungkan Sumbar-Riau
tertutup selama lima jam. Antrean kendaraan mencapai 15 Km. Tak ada
korban jiwa.
PADANG, HALUAN — Hujan lebat yang mengguyur kawasan
Kelok 9, sejak Senin siang (27/8) hingga sorenya, menyebabkan longsoran
tebing bukit di KM 153, sekitar 6 Km jelang pintu masuk Kelok 9, di Hulu
Air, Harau, Limapuluh Kota, dari arah Riau. Material longsor menimbun
badan jalan sehingga ruas jalan nasional yang menghubungkan Sumbar
dengan provinsi tetangga itu, terpaksa ditutup selama 5 jam.
Longsoran membawa material batu bercampur pasir serta
lumpur itu, terjadi sekitar pukul 17.00 WIB. Akibatnya, hubungan
Sumbar-Riau terputus sekitar 5 jam. Antrean panjang kendaraan bermotor
berbagai jenis yang terjebak macet diperkirakan mencapai 15 kilometer.
Mulai dari Sarilamak sampai ke lokasi tempat terjadinya longsor.
Bencana alam tanah longsor ini diperkirakan karena hujan
yang turun siang kemarin cukup deras. Kondisi tanah perbukitan yang
masih labil menyebabkan bebukitan longsor. Tampak timbunan material
tanah beserta kekayuan setinggi 7 meter dengan panjang 100 meter
menimbun jalan utama Sumbar-Riau ini. Tak ada korban jiwa dan kendaraan
yang tertimbun.
Firman Syah, Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD
Limapuluh Kota, yang berada di lokasi mengatakan, timbunan longsor
mencapai setinggi 7 meter. Antrean kendaraan mencapai 15 Km.
“Sekitar pukul 21.00 WIB material dapat disingkirkan,
tapi kendaraan terpaksa merayap akibat volume kendaraan yang menuju
Riau cukup banyak,” kata Firman Syah kepada Haluan, Senin (27/8) malam.
Sementara itu, Kepala Dinas Prasarana Jalan Tata Ruang dan Pemukiman Sumbar Suprapto kepada Haluan di
Padang menjelaskan, longsoran terjadi sekitar pukul 17.00 WIB saat
hujan lebat mengguyur kawasan Kelok 9. Material longsor berupa lumpur
sekitar 150 m3 menutupi badan jalan sepanjang kurang lebih 100 meter.
Petugas dan alat berat yang selalu disiagakan terdiri
dari 1 unit ekskavator, 1 unit loader dan 1 unit grader, langsung
diterjunkan ke lokasi untuk menyingkirkan material longsor. Namun untuk
kelancaran proses pembersihan material longsor, ruas jalan
Padang-Pekanbaru terpaksa ditutup sementara.
“Untuk membersihkan material longsor, kita terpaksa
menutup ruas jalan itu agar pekerjaan berjalan lancar dan tidak
membahayakan pengguna jalan. Karena lumpur itu menyebabkan jalan licin,”
kata Suprapto.
Para pengguna jalan diminta untuk bersabar hingga
pekerjaan pembersihan material longsor selesai. Sebab material lumpur
yang menutupi badan badan menyebabkan jalan menjadi licin. Bila
kendaraan tetap dibiarkan melintas, dikhawatirkan kendaraan akan slip
dan mengundang kecelakaan.
“Untuk pengaturan dan pengamanan di jalan, kami sudah berkoordinasi dengan Polres Limapuluh Kota,” kata Suprapto.
Kepala Satker Pelaksana Jalan Nasional Wilayah I Sumbar,
Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional II (BBPJN II), Dahler lebih jauh
menjelaskan, titik longsoran itu bukan di kawasan jalan layang Kelok 9,
tetapi di KM 153 dari arah Pekanbaru, atau sekitar 6 km dari Kelok 9
yang berada di KM 147.
Kelok 9 yang diresmikan pemakaiannya oleh Gubernur
Sumbar Irwan Prayitno pada H-4 jelang Lebaran 2012 lalu, aman dilewati.
Selama dua pekan, terhitung sejak H-4 jalan layang ini sudah dilewati
kendaraan. Namun masih untuk satu arah saja rute dari Pekanbaru menuju
Padang.
Kendaraan dapat langsung masuk ke jalan baru ini berawal dari
Jembatan Layang 6 pada KM 147. Jembatan ini terhubung dengan Jembatan 5,
Jembatan 4 dan Jembatan 3 dan keluar di Lubuk Bangku. Kendaraan
kemudian masuk kembali ke jalan lama di KM 146,5. Sedangkan arus lalu
lintas dari Padang ke Pekanbaru, tetap memakai jalan lama.
(h/ zkf/snt/ddg/vie)