KOPI -- MINANGKABAU adalah salah satu suku bangsa di Indonesia. Masyarakatnya terkenal dengan budi bahasa yang halus, beradat istiadat tinggi serta menganut sopan-santun tak terkira. Nagarinya elok rupa, tapi generasi mudanya dikenal berpikir agresif dan progresif.
Semua lini kebudayaannya bernilai tinggi, baik seni maupun sastra dan filsafat. Ada rabab, ada pula saluang. Ada dendang, ada pula pantun. Bahkan, pernak-pernik pakaian adatnya pun memiliki makna-makna tertentu yang mencerminkan karakter pemakainya.
Dalam tatanan sosial, Minangkabau memiliki ketentuan-ketentuan yang harus dipatuhi warganya. “Kato nan ampek, yakni kato mandaki, kato malereang, kato manurun dan kato mandata” namanya. Filosofis yang amat terkenal adalah Adat Basyandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK).
Kini, kondisi ideal Minangkabau sudah nyaris pupus, terkalahkan oleh serbuan budaya asing dan tersapu arus modernisasi. Menurut sebagian kalangan, Minangkabau malah sudah tinggal nama. Generasi muda Minangkabau sudah tak banyak lagi yang paham tentang adat istiadat lelluhur mereka. Itu kondisi pada 2012, entah bagaimana wujudnya nanti tahun 2022, 2032, 2042, dan seterusnya.
Akankah Minangkabau benar-benar tinggal nama? Semua tergantung kepada orang Minangkabau itu sendiri. Orang Minangkabau mungkin tidak akan punah, tetapi kebudayaan Minangkabau tidak ada yang bisa menjamin akan dapat bertahan menghadapi serbuan budaya asing dan derasnya arus globalisasi tersebut.
Memang, kini di sekolah ada kurikulum muatan lokal yang mengajarkan adat dan budaya Minangkabau. Namun, karena terbatasnya waktu dan tidak ahlinya para pengajar beserta tidak adanya referensi yang pas, tentu tidaklah menjadi jaminan, pelajaran itu dapat membangkit kembali kejayaan budaya Minangkabau dari semua lini.
Sebelum punah, seluruh anak Minangkabau dan orang yang tersangkut dengan budaya yang masyarakatnya bermukim di Provinsi Sumatra Barat ini, harus segera turun tangan. Bersama-sama kita melakukan aksi penyelamatan.(Nurul Khairiyah, mahasiswi STAI Imam Bonjol, Padang Panjang)