The following warnings occurred:
Warning [2] file_get_contents(http://graph.facebook.com/?ids=http://www.minangforum.com/Thread-Kapuyuak): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 403 Forbidden - Line: 806 - File: inc/plugins/fbmeta.php PHP 5.3.28 (Linux)
File Line Function
[PHP]   errorHandler->error
/inc/plugins/fbmeta.php 806 file_get_contents
/showthread.php(1196) : eval()'d code(42) : eval()'d code 1 fb_comment_count
/showthread.php(1196) : eval()'d code 42 eval
/showthread.php 1196 eval
Warning [2] file_get_contents(http://graph.facebook.com/?ids=http://www.minangforum.com/Thread-Kapuyuak): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 403 Forbidden - Line: 806 - File: inc/plugins/fbmeta.php PHP 5.3.28 (Linux)
File Line Function
[PHP]   errorHandler->error
/inc/plugins/fbmeta.php 806 file_get_contents
/showthread.php(1196) : eval()'d code(131) : eval()'d code 1 fb_comment_count
/showthread.php(1196) : eval()'d code 131 eval
/showthread.php 1196 eval



Perhatian untuk member MinangForum untuk membaca peraturan dahulu agar post anda tidak dihapus
Dapatkan aplikasi MinangForum untuk android anda, Klik Disini untuk mendownload


 
Thread Rating:
  • 0 Votes - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
+ Reply to Thread
04-07-2009 01:40 PM

talongsong kuok Offline
*

  • Jan 2009
  • 347 posts
  • reputations
  • 1 thanks
    Given 14 thank(s) in 13 post(s)
Post: #1
Kapuyuak
Oleh H. Taufik Martha

Kapuyuak dalam bahasa Indonesia disebut kecoak. Serangga yang satu ini bisa terbang kalau terdesak. Larinya lumayan cepat, terutama pada tempat-tempat tersuruk. Yang jelas habitatnya pada kawasan kumuh. Apakah itu di dapur, di tong sampah, atau bangunan yang sudah lama ditinggalkan. Mereka takut dengan cahaya, meski dalam suasana tertentu mereka membagak-bagakkan diri.
Hebatnya, terutama pada malam hari, kapuyuak tidak segan-segan naik meja makan, tempat tidur, meja kerja, atau bahkan bisa masuk dalam celana, dalam sepatu, sampai terkadang manyalek ke dalam bra kaum hawa.
Kapuyuak juga bisa menjadi pongah, ongas, mencari tempat tertinggi sambil mengibas-ngibaskan sungutnya. Sungut atau kumis itu cukup panjang, melebihi panjang badannya, yang menandakan bahwa sifatnya angkuh dan sombong itu melebihi dari kehidupannya sehari-hari. Lebih kurang ajarnya lagi, dia membuang kotorannya di mana-mana, ya di dapur, di tempat tidur, bahkan di kursi pejabat sekali pun. Itulah kapuyuak, yang sebagian besar manusia di muka bumi jijik melihatnya.
Secara politik, semua yang terjadi sekarang ini sah-sah saja, apalagi sudah dipayungi dengan undang-undang. Reformasi memang sudah merubah banyak hal dalam tatanan negara, pola pikir masyarakat, serta cara-cara sekelompok orang untuk membentuk dan melaksanakan keinginannya. Reformasi juga membuka mulut masyarakat untuk bersuara, meski tidak sedikit yang bicara seenaknya. Kesadaran tentang hukum di kalangan masyarakat baru setengah-setengah, yang sebagian besar mereka baru tahu akan haknya. Tentang kewajiban?
Nah, karena merasa berhak bersuara, berhak berpolitik, berhak berkelompok, maka berdirilah banyak partai. Dalam ko**** ini, tidak terlepas dari apa yang tersirat dalam pepatah Minang, yakni memakai ilmu koncek alias katak. Maknanya adalah, begitu ada tempat melompat langsung saja melompat, tidak jelas ke mana arah lompatannya.
Apalagi koncek, bagi orang Minang diberi pepatah lagi, bak koncek dalam tampuruang. Artinya selama ini sang koncek hanya bermukim atau berlindung di bawah tempurung yang tertelungkup. Dia tidak pernah melihat lingkugannya, melihat matahari, melihat apa yang terjadi kelilingnya. Begitu dibuka tempurungnya, dia pun meloncat tidak tentu arah. Dia merasa, dialah yang paling hebat, yang paling super, seakan dunia ini kalau bertampuk akan dia jinjing atau kalau bertali akan dia hela.
Koncek pun mengharik menghantam tanah. Dia mengganggap dirinya raja. Dia melompat ke sana ke mari, dengan konsep maju tak gentar. Orang mencaleg, dia pun ikut. Orang berpartai dia pun nimbrung. Hantaman tanah dari kakinya melompat, dia kira itu adalah pertanda bahwa dia akan menguasai dunia, menguasai negara, menguasai daerah dan lainnya. Bak seorang raja yang bernama Manggaga Bumi, sekali menghantam tanah tujuh orang tatilantang.
Sama saja dengan kapuyuak yang basalemak peak. Sudahlah datang dari kawasan yang kumuh sebagai habitatnya, kini naik ke tempat yang bersih. Ingin pula berkuasa di tempat yang bersih dan suci itu. Dia tidak sadar kalau dirinya belum dibersihkan, dia tidak tahu kalau tubuhnya masih bau. Yang penting bagaimana kekuasaan harus direbut terlebih dahulu, soal yang lain-lain diurus belakangan.
Kalau gagal? Baik koncek maupun kapuyuak selalu mencari kambiang hitam-nya. Artinya, dia akan menyalahkan orang atas kegagalan yang menimpanya. Fitnah pun muncul, sumpah serapah akan mengalir. Carut bungkangnya mungkin tidak termakan oleh anjing sekali pun. Dia pun kian nekat. Dia rela mati, meski sebelum mati itu sempat kanai tali akinya terlebih dahulu.
Si Kambiang Hitam yang dijadikan tumbal dari kegagalan kapuyuak, pun tidak tinggal diam. Tentu saja si kambing tidak mau dicap hanya sebagai hitam. Banyak kambing kok di dunia ini yang berwarna merah, putih, belang-belang dan lain sebagainya. Kok kambiang hitam saja yang jadi tumbal.
Kambing pun menyebutkan bahwa kapuyuak sudah keterlaluan. Itu namanya garah kudo. Garah kudo itu adalah orang yang tengah berkelakar tetap terlalu kasar. Sebagai contoh, seekor kuda bersama dengan kuda lainnya ketika tengah bergelut, mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi, dan kemudian dia jatuhkan kemana sukanya saja. Nah, terkadang jatuhnya kaki depan yang diangkat tinggi tersebut ke punggung kuda lainnya. Akibatnya, kuda yang tertimpa kaki depan itu meringkik kesakitan, tentu saja dia ingin membalas.
Maka, kapuyuak, koncek, kambing hitam dan kuda pun berlarian dengan konsep maju tak gentar. Kalau dalam mars bangsa ini berbunyi, “Maju Tak Gentar, Membela yang Benar”, tapi ini maju dengan mars, maju tak gentar membela yang bayar. Apakah yang bayar itu benar atau tidak, mereka tidak peduli. Yang jelas tujuan mereka satu, memperoleh keuntungan secara finansial sekaligus menduduki kursi kekuasaan.
Mereka lupa berkaca, bercermin diri untuk introspeksi. Pantas mereka maju, wajarkah mereka berkuasa. Meski dalam orasi kampanye, kalau terpilih ingin begini, ingin begitu. Mau mensejahterakan masyarakatnya, memudahkan sembako, menggratiskan pendidikan, listrik, air bersih, air sawah, air mandi, sampai pada memodali untuk usaha.
Mereka memang bagak di lingkungannya. Seperti kapuyuak bagak di lingkungan kumuh. Kuda bagak di gelanggang pacu, koncek bagak di tempat lembab yang banyak nyamuk. Hanya kambing yang tidak mempunyai kekuasaan kebagakkan. Dia selalu jadi korban, baik untuk hewan kurban, atau pun korban dari kesalahan orang lain. Tapi, pantaskah mereka menjadi penguasa. Legitimasi dari masyarakatlah nantinya yang akan menentukannya.
Tapi jangan dikira kapuyuak tidak mengeluarkan biaya untuk mencapai kursi yang dia inginkan ini. Seluruh harta bendanya ludes dijual untuk biaya sosialisasi. Maklum, dia harus bersaing dengan kader partai binatang lainnya, seperti koncek, kuda, kambing hitam dan lainnya. Dengan mars Maju Tak Gentar kader partai melego semua apa yang mereka miliki, kalau perlu betinanya, agar mendapat dukungan dari kalangan luas.
Hebatnya, yang nama kapuyuak memang tak tahu diri. Semakin dipampangkan gambarnya di pinggir jalan, orang semakin jijik melihatnya. Di depan kapuyuak orang memuji, tapi di belakangnya mencimeeh. Kian orang melihat gambar kapuyuak rasa jajok orang kian bertambah.
Orang pun berciloteh, bahwa kapuyuak adalah makhluk yang tidak tahu diri. Mencaleg orang mencaleg pula awak. Lah tabayang oleh kapuyuak kursi empuk yang akan menjadi bagiannya nanti. Di sana dia akan berbaur dengan komunitas yang berbeda latar belakang ilmu dan pengalaman serta tentu juga finansialnya. Toh, yang namanya kapuyuak tampaknya tidak peduli. Setiap ada yang membisikkan kepadanya, bahwa semua makhluk di muka bumi ini jijik melihatnya, akan dicapnya sebagai lawannya. Itu harus dilawan dengan diam, yakni dengan menyebarkan kuman penyakit.
Dia pun bersumpah, bahwa bila nanti mendapati kursi yang diidamkannya, dia akan menyebarkan virus penggerogot ke tubuh setiap orang yang duduk di kursi yang sama. Virus ini sangat berbahaya tapi nikmat bagi yang ketularannya. Mereka akan menikmati hasil menggerogot harta kekayaan negara. Di situlah kelebihan kapuyuak, dia mampu menyebar virus atau kuman dan pintar pula merayu agar pemangku jabatan di kursi tersebut tertular.
Dalam hati kapuyuak bergumam, saya datang dari habitat kumuh dan miskin, justru itulah saya akan mengeruk semua yang bisa saya kerjakan dari kursi itu. Tidak peduli harta negara, perusahaan milik negara, perusahaan swasta, atau makhluk-makhluk yang berurusan dengan saya. Saya akan sikat itu, tekad kapuyuak.
Masih dalam hatinya, kapuyuak juga berjanji atas nama pencipta, akan menyeret semua pemangku jabatan kursi padahal yang sama, agar dia tidak terjerat dalam hukum. Kalau perlu penegak hukum diikut-sertakan. Dalam ko****s ini, dimana ada kapuyuak yang ikhlas dalam mengeluarkan biaya sosialisasi diri, kapuyuak berpikir sejenak.
Jadwal pemilihan makhluk yang akan menduduki kursi itu kian dekat. Kapuyuak pun kian bersemangat kampanye hilir mudik. Berlari ke sana ke mari, menyuruk ke suatu tempat dari tempat lainnya. Lalu bersembunyi. Dan, kapuyuak pun kini menanti, bagaimana nasib kursi yang menjadi idamannya. Sebuah penantian yang sebenarnya hanya beberapa hari saja, tapi bagi kapuyuak itu dirasakan bertahun-tahun. Mau dia mati rasanya begitu lamanya dia merasakan penantian itu. o*
—————-
Penulis adalah, mantan Bupati Pasaman 1990-2000, Pensiunan TNI
Reputation
Comments