The following warnings occurred:
Warning [2] file_get_contents(http://graph.facebook.com/?ids=http://www.minangforum.com/Thread-KATO): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 403 Forbidden - Line: 806 - File: inc/plugins/fbmeta.php PHP 5.3.28 (Linux)
File Line Function
[PHP]   errorHandler->error
/inc/plugins/fbmeta.php 806 file_get_contents
/showthread.php(1196) : eval()'d code(42) : eval()'d code 1 fb_comment_count
/showthread.php(1196) : eval()'d code 42 eval
/showthread.php 1196 eval
Warning [2] file_get_contents(http://graph.facebook.com/?ids=http://www.minangforum.com/Thread-KATO): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 403 Forbidden - Line: 806 - File: inc/plugins/fbmeta.php PHP 5.3.28 (Linux)
File Line Function
[PHP]   errorHandler->error
/inc/plugins/fbmeta.php 806 file_get_contents
/showthread.php(1196) : eval()'d code(131) : eval()'d code 1 fb_comment_count
/showthread.php(1196) : eval()'d code 131 eval
/showthread.php 1196 eval



Perhatian untuk member MinangForum untuk membaca peraturan dahulu agar post anda tidak dihapus
Dapatkan aplikasi MinangForum untuk android anda, Klik Disini untuk mendownload


 
Thread Rating:
  • 0 Votes - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
+ Reply to Thread
12-06-2012 11:11 AM

limpapeh Offline
*

  • Jan 2009
  • 777 posts
  • reputations
  • 8 thanks
    Given 24 thank(s) in 24 post(s)
Post: #1
KATO
[Image: adat-1.jpg]
KATO bagi
orang Minangkabau bukan hanya sekadar kata seperti yang dimaksud dalam
bahasa Indonesia. Kato berarti merupakan warisan yang mereka terima dari
nenek moyangnya dan juga menjadi pedoman hidup, hukum, dan peraturan
serta tata cara bermasyarakat di lingkungan Alam Minangkabau. Justru
karena itu seringkali kita dengar dalam acara-acara yang mereka lakukan,
didengar ungkapan petuah, pepatah petitih, asal-usulnya, hukum dan tata
tertib.
Orang Minangkabau memang piawai menggunakan kata, dan kata mereka
umumnya menjadi pedoman hidup, senantiasa menjadi pegangan. Umpamanya,
dalam mamangannya mereka berkata, siang dipatungkek-malam dipabanta
(siang dipertongkat-malam diperbantal). Maksudnya kata tersebut terus
mereka pakai dan pedomani, baik siang maupun malam. Dan pada mamangan
yang lain dikatakan, jikok indak pandai bakato, bak alu pancukie duri-kalau pandai bakato-kato, ibarat santan jo tangguli
(jika tidak pandai berkata, maka bagai alu pencungkil duri- kalau
pandai berkata-kata seperti santan dengan tengguli). Banyak orang yang
hanya sekadar berbicara, tidak tahu orang yang akan tersinggung, bicara
seenaknya sehingga menyakiti dan melukai hati orang lain atau lawan
bicaranya. Tapi sebaliknya bila pandai bertutur kata, maka orang itu
dapat menarik simpati lawan bicaranya. Orang seperti ini disebut, muluik manieh kucindan murah-elok bahaso, parangai katuju (mulut manis kucindan murah, perangai disukai)
Menurut ajaran filsafat mereka, kata mempunyai nilai, jenis, langgam
tuah dan sebagainya. Kata dapat dibagi dan ditafsirkan dalam jumlah yang
empat atau kelipatan empat. Keempat kata itu disebut Kato nan Ampek, yakni: Kato pusako, kato mupakaik, kato dahalu, kato kudian (Kata pusaka, kata mufakat, kato dahulu, kata kemudian)
Uraian dari kato pusako
tersebut yaitu “kata warisan” yang turun temurun sejak nenek moyang
mereka, dan tidak dapat diubah-ubah yang menyangkut filsafat, hukum,
peraturan, budi dan akal. Kata pusaka dan timbangan budi dan akal yang
dipahami secara mendalam ini disampaikan dalam pengucapannya yang
menunjukan cara berpikir mereka, Bajalan salangkah ma-adok suruik,
bakato sapatah dipikiekan. Balayia manantang pulau, bakato manuju nan
bana. Tataruang kaki inai padahannyo, tadorong kato ameh padahannyo

(Berjalan selangkah melihat ke belakang, berkata sepatah dipikirkan.
Berlayar menantang pulau, berkata menuju yang benar. Tertarung kaki inai
obatnya, terdorong kata emas padahannya) Sebagai orang Minangkabau yang
teguh akan ajaran nenek moyangnya, maka ketika mereka berkata dan
mengeluarkan pendapat, tidak lumrah berkata terus terang, cukuplah
dengan kiasan atau sindirin. Dan orang yang sedang berkata, bersahut
jawab, kita yang awam tidak tahu siapa yang menang atau kalah. Keringat
dingin menetes di sekujur tubuh, padahal mereka saling bertutur kata
dengan manis.
Kato mupakaik
atau kata mufakat yaitu rumusan-rumusan tentang sesuatu masalah yang
dihasilkan berdasarkan permupakatan oleh orang yang berwenang, sehingga
harus dilaksanakan bersama. Seperti dikemukakan sebelumnya, alam
terkembang merupakan sumber filsafat Minangkabau, maka musyawarah yang
dilakukan untuk mencapai mufakat – dalam pepatah, mamangan, gurindam,
bidal – mereka gunakan mencari permupakatan yang bulat. Kata mufakat
mereka ambil dari ketentuan alam seperti air; bulek aia ka pambuluah, bulek kato ka mupakaik, bulek baru digolekkan-pipieh baru dilayangkan- (bulat air ke pembuluh, bulat kata karena mufakat, bulek baru digolekkan- tipis baru dilayangkan).
Air
sebagai benda alam yang mempunyai ketentuan yang khas, merupakan
pilihan nenek moyang orang Minangkabau menjadi tolok ukur hukum
bermusyawarah untuk mendapatkan kata sepakat yang sungguh-sungguh bulat.
Berikutnya dalam pepatah tersebut dinyatakan untuk dapat melaksanakan
suatu kata mufakat yang berdasarkan ketentuan benda alam yang bulat dan
tipis. Dima disebutkan ketentuan bulat dan tipis itu, bulat baru dapat digolekkan-tipis baru dapat dilayangkan.
Mengapa
air yang dijadikan kiasan dasar hukum bermufakat. Apakah tidak ada
benda lain yang dapat dibulatkan ke pembuluh? Jawabnya, tentu ada.
Tetapi air mempunyai sifat dan ketentuan dan nilai-nilai tersendiri. Air
dapat menggelora ganas, memporak-porandakan apa saja yang
menghalanginya, mengikis dan meluluh-lantakkan apa saja ketika banjir
bandang. Disisi lain, air bermanfaat bai kehidupan manusia, tanpa air
manusia di muka bumi ini sulit melaksanakan kegiatan, demikian juga
dengan makhluk lain. Air memang kadang ganas dan liar tetapi dapat pula
dijinakan, asalkan penjinakannya itu sesuai menurut salurannya. Saluran
itu adalah ke pembuluh.
Menurut
filsafat yang mereka anut, diingatkan dalam mendapatkan kata sepakat
dengan kesatuan pendapat itu dapat mewujudkankan satu kata dengan
perbuatan, mereka berkata:
Datar berlantai papan
Licin berlantai kulit
Maksudnya,
tidaklah mungkin suatu benda yang bundar bisa bergolek dengan mulus,
lancar, kalau sekiranya tempat bergoleknya tidak sempurna datar. Agar
setiap yang akan dimufakati, senantisa diperkirakan sebab dan akibat,
serta tidak terlepas dari ingatan kemampuan yang dimiliki masyarakat
bersangkutan.
Perbedaan
pendapat dalam mencapai kata sepakat bagi orang Minangkabau adalah hal
yang wajar karena berbeda pendapat dapat saja terjadi, disebabkan oleh
latar-belakang pengetahuan manusia itu sendiri, yang memang kadangkala
berbeda.
Kato Dahulu,
yaitu kesepakatan atau perjanjian yang pernah dilakukan, yang harus
ditaati. Senantiasa dalam pengucapannya diiringi oleh kalimat lain
sehingga menjadi; Kato dahulu kato ditapati (Kata dahulu kata ditepati)
Berdasarkan prinsip alam terkembang jadi guru, mereka berpetuah:
Kayu batakuak barabahkan, luak taganang nan basauk
suri tagantuang ditenuni, janji babuek batapati
kok titiek dapek ditampuang, malaleh dapek dipaliek
Satitiek namuah jadi lawiek, sakapa namuah jadi gunuang
Iyo dek kamanakan, sarato urang banyak di nagari
(Kayu
bertekuk direbahkan, luhak terkenang sama ditimba, suri tergantung yang
ditenuni, janji yang ditepati. Setitik bisa dilautkan, sekepal bisa
digunungkan. Oleh anak kemanakan serta anak negari)

Dari petuah yang mereka sampaikan itu, tidaklah benar pandangan hidup
orang Minangkabau membenarkan mungkir janji, bila tidak disebabkan oleh
sesuatu hal yang penting dan mendadak. Begitu pula bagi pembuat aturan
dan undang-undang dalam masyarakat, hendaklah dipatuhi pula oleh pembuat
aturan dan undang-undang tersebut. Inilah yang dimaksud dengan “kata
dahulu, kata ditepati” Adat Minangkabau dalam ketentuannya menjadikan
janji atau kata dahulu itu pondasi dalam pandangan hidup orang
Minangkabau. Sementara itu pengertian pemeo : janji biaso mungkie, titian biaso lapuak
(janji biasa mungkir, titian lapuk), kadangkala dianggap untuk
pembenaran pemungkiran sebagaian orang. Padahal pameo tersebut memberi
peringatan bahwa janji itu biasa mungkir, justru karenanya mereka yang
membuat janji tersebut harus hati-hati dalam mengucapkan dan
menetapinya. Tentang janji menurut ajaran pandangan hidup orang
Minangkabau kalau dikaitkan dengan sabda Nabi Muhammad Saw”Hendaklah
kamu kalau berjanji dengan suatu perjanjian, kamu ucapkanlah Insya Allah” Karena memang tidak seorang manusia pun yang dapat memastikan janji yang dibuatnya, kecuali atas izin Allah jua.
Kato kudian dalam ketentuan adat Minangkabau disebut juga kato bacari,
yaitu suatu yang dimufakati untuk mendapatkan kata kebulatan, tetapi
karena sesuatu hal yang menghalangi seperti kematian, musibah dan lain
sebagainya, sedang waktu itu hampir diperoleh kata sepakat, maka rapat
yang sedang berlangsung diundur, sampai waktu yang ditentukan. Setelah
tiba waktu yang ditentukan ada suatu pendapat dan pemikiran baru yang
diajukan, yang diperkirakan hasil dan nilainya lebih menguntungkan dari
sebelumnya, serta menguntungkan semua pihak. Maka dicari kata yang baru,
itulah yang disebut Kato kudian-kato bacari. Tetapi yang tidak dibolehkan menurut pandangan hidup mereka adalah:
Kato kudian-kato bacari-cari
Hal tersebut mereka sampaikan dalam fatwa pepatahnya :
Karano datang baruik jo minyak, duduak bakisa tagak bapaliang
mancaliak jo suduik mato, bajalan di rusuak labuah
jikok tapakai nan bak kian, warieh siapo nan dijawek
pusako siapo nan ditolong
Warieh nan bajawek- pusako nan batolong, bajalan di nan pasa
(Karena
datang sesuatu dari belakang, duduk berpaling tegak berubah, melihat
dengan sudut mata, berjalan di pinggir jalan- jika dipakai yang
demikian, waris siapa yang diterima, siapa pusaka yang ditolong.
Berjalanlah tetap pada semestinya, berkata tetap menuju yang benar)
Kejadian
seperti ini sangat dilarang oleh filsafat hidup mereka, maksudnya
kebatilan seperti itu harus dihancurkan karena datangnya haq (kebenaran) Justru karena itu mereka meletakan bait terakhir sebagai tempat kembali sikap mereka, yaitu berjalan tetap pada yang pasar (semestinya), berkata tetap pada yang benar.
Sesuatu kesepakatan itu tetap pada prinsip semula yang bulat. Namun
yang dirobah cara mencapai tujuan, yang sifatnya lebih baik dari semula.
Dalam mamangannya, mereka berkata;
Duduak bakisa tagak bapaliang di lapiek nan sahalai
Bakisa di tanah nan sabingkah- nan bana dianjak tidak
(Duduk berkisar tegak berpaling di tikar yang sehelai. Berkisar di tanah sebingkah, namun kebenaran tak akan ditobah)




Tuah Kato
Tuah kato
atau tuah kata, bisa berarti hikmah dari sifat kata yang diucapkan oleh
status orang yang mengucapkannya. Tuah kata itu terdiri dari dua belas
pasal (12 pasal) :
(1) Kato rajo, kato malimpahkan (Kata
raja, kata melimpahkan). Maksudnya, bahwa perintah atau sabda raja
adalah berisifat melimpahkan apa yang dimilikinya kepada siapa yang
memerlukannya, seperti kekayaan, kesenangan dan kekuasaan.
(2) Kato Pangulu, kato balipek
(Kata penghulu, kata berlipat) Maksudnya, apa yang diucapkan penghulu
senantiasa dengan makna berlapis-lapis. Sebab apa yang diucapkan
penghulu, lebih cenderung bersifat undang-undang dan hukum, yang
kalimatnya berbentuk pribahasa, pepatah-petitih, mamangan dan
sebagainya.
(3) Kato Alim, kato hakikaik
(Kata Alim, kata berhakekat) Artinya, apa yang diucapkan orang alim
ialah merupakan fatwa dari ajaran agama yang hahiki. Ucapan alim ulama
senantisa membedakan halal dan haram, menentkan sunat, fardu,
menjelaskan sah dan batal, menerangkan pahala dan seterusnya.
(4) Kato basa, kato mardeso
(Kata orang besar, kata mardesa) Maksudnya, apa yang diucapkan orang
besar merupakan prikata yang membuat orang senang dan bahagia.
(5) Kato Rang Tuo, kato manyalasaikan
(Kata orang tua, kata yang menyelesaikan). Artinya, ucapan orang tua
atau orang yang dituakan bersifat memberi penjelasan atau keputusan
persoalan, sehingga tidak menimbulkan persoalan lain lagi.
(6) Kato Rang bijak, kato mangalah
(Kata orang bijak, kata mengalah). Ucapan orang bijaksana tidak
bersifat menantang atau melakukan tantangan-tantangan hingga menimbulkan
gejolak. Orang bijak kalau berbicara, ucapannya menyejukan hati.
(7) Kato Rang pandai, kato makna
(Kata orang cendikiawan, kata bermakna) Apa yang diucapkan orang
cendikiawan mengandung maksud yang dalam karena ia mempunyai ilmu.
(8) Kato Rang mudo, kato basimanih
(Kata orang muda, kata yang manis) Ucapan orang muda hendaklah manis
bahasanya agar tidak menimbulkan kericuhan, sebab usia yang muda sangat
sulit mengendalikan diri. Karena itu diperlukan bahasa yang manis,
bahasa manis-kucindan murah.
(9) Kato punggawa, kato penghubuang (Kata punggawa, kato penghubung) Sifat kata atau ucapan punggawa (pegawai) hendaklah bersifat penghubung atau informatif
(10)Kato Dubalang, kato mandareh
(Kata hulubalang, kata menderas) Gaya ucapan hulubalang tidak
berbelit-belit, dan tegas- sesuai dengan fungsinya sebagai militer.
(11) Kato parampuan, kato marandah (Kata
perempuan, kata merendah) Gaya bahasa perempuan, jangan bersifat angkuh
dan congkak, karena hal itu akan menjauhkan hati orang darinya.
(12) Kato Rang banyak, kato bagalau (Kata
orang banyak, kata bergalau) Apa yang diucapkan orang ramai, sifatnya
simpang siur. Oleh karena itu perlu diteliti kebenarannya.




Kurenah Kato
Kurenah kata dalam
bahasa Minangkabau, adalah semacam tingkah laku kata-kata, yang
fungsinya cenderung sebagai bahan penilaian dalam memperbincangkan suatu
kejadian, yang tengah dipersoalkan pada suatu kerapatan atau
persidangan. Apabila tuah kato lebih bersifat norma etik bagi
fungsionaris, maka kurenah kato cenderung kepada etika pskologis.
Kurenah kato itu sebagai berikut :
(1) Kato iyo, kato baturuik
(Kata iya, kata dituruti). Artinya suatu ucapan atau kesepakatan yang
telah disetujui, agar dituruti atau ditepati untuk dilaksanakan.
(2) Kato tido, kato mati
(Kata tidak, kata mati). Maksudnya adalah suatu ucapan yang telah
ditidakkan atau dalam permusyawaratan yang telah ditentang dalam
pengambilan keputusan, masalahnya tidak dapat diteruskan lagi.
(3) Kato antah, kato dipakatokan (Kata
entah, kata diperkatakan atau diperbincangkan) Maksudnya suatu ucapan
yang tidak jelas, samar atau diragukan. Oleh sebab itu harus dibincang
agar tidak mengacaukan penafsiran sebagai sesuatu yang tidak jelas,
samar atau meragukan.
(4) Kato duo, kato maragu (Kata dua, kata meragu) Suatu ucapan atau keputusan yang mekna ganda, akan menimbulkan keragu-raguan.
(5) Kato takuik, kato tak lalu
(Kata takut, kata tak lalu) Ucapan atau keputusan yang lahir karena
ketakutan, karena ditekankan – merupakan ucapan atau keputusan yang
disepakatt tapi tidak dapat dilaksanakan-
(6) Kato bangih, kato talampau (Kato
berang atau marah, kata terlampau) Maksudnya, ucapan yang diambil saat
dalam suasana sedang marah, bersifat keterlaluan melampaui batas norma
yang ada.
Ragam Kata

Bagi orang Minangkabau, bila berkata harus sesuai dengan kedudukkannya,
ia tidak sembarangan berkata, ia harus tahu kepada siapa berkata dan
peranan apa yang dipegang dalam berkata. Justru karena itu, ia harus
pandai menempatkan diri dalam berkata. Ada empat jenis kata, yaitu:
(1) Kato mandaki
(Kata mendaki) adalah kata yang diucapkan oleh seseorang ketika
berhadapan dengan orang yang statusnya lebih tinggi. Misalnya, anak muda
atau seorang anak kepada orang tuanya, pegawai kepada atasan, murid
kepada guru dan seterusnya. Mereka meletakkan di bawah yang menjadi
lawan bicaranya, karena memang etikanya demikian. Dia tidak dibenarkan
menyebut dirinya “Aden tapi menggunakan kata.”Ambo atau awak”. Tutur bahasanya terjaga agar ia dianggap tidak sopan dan tidak beradat.
(2) Kato manurun
(Kata menurun) ialah kata yang diucapkan oleh orang tua kepada anaknya,
mamak kepada kemenakan, guru kepada murid, atasan kepada bawahan. Orang
yang menggunakan kata menurun dapat menyebut dirinya “Den atau Awakden” . Sedangkan orang yang dibawahnya, ia menggunakan kata ganti orang kedua dengan “waang” (kamu) bagi lelaki, sedangkan untuk perempuan “wak kau” (kamu). Kemudian bila menunjuk atau membicarakan orang ketiga maka ia ia menggunakan kata “Inyo” (Dia).
Tata bahasanya rapi, cenderung terkesan pendek-pendek, agar dapat
dicerna dan dimengerti lawan bicaranya. Terkesan agar berwibawa.
(3) Kato malereang
(Kata melereng). Maksudnya, bahasa yang digunakan oleh orang posisi
atau statusnya sama, yang saling segan menyegani, seperti orang yang
mempunyai hubungan kerabat karena perkawinan – bisan, ipar, mertua,
menantu, antara mereka yang mempunyai jabatannya yang dihormati –
penghulu, ulama, guru dan sebagainya – Pemakaian tata bahasanya rapi,
lebih cenderung menggunakan pribahasa, kiasan, sindiran. Kata ganti
orang pertama, kedua, ketiga bersifat khusus. Awak ambo atau Awak mbo, untuk orang pertama. Gelar panggilan kekerabatan diberkan oleh keluarga untuk orang kedua – beliau untuk orang ketiga –
(4) Kato mandata (Kata
mendatar), yaitu bahasa yang digunakan oleh berstatus sama dan
hubungannya akrab. Pemakaian tata bahasanya bersifat bahasa pasar yang
lazim memakai suku kata berakhir atau kata-kata yang tidak lengkap, dan
kalimatnya pendek-pendek. Kata ganti orang pertama, orang kedua, ketiga
bersifat khusus. Aden atau Den untuk orang pertama. Orang kedua, Waang atau Aang untu lelaki – Kau untu perempuan. Sedangkan untuk orang ketiga – Inyo atau Nyo.
Martabat Kata
Martabat kata terbagi dalam kategori, yang mempunyai nilai sendiri-sendiri :
(1) Kato nan sabana kato
(Kata yang sebenarnya kata), kata-kata yang mempunyai perbendaharaan
kebudayaan dan sebagai warisan nenek moyang. Kata-kata itu bukan saja
sebagai pandangan filsafat dan undang-undang hukum, tapi juga petuah
yang penuh hikmah yang dapat dipakai sebagai pegangan hidup, seperti
kiasan, perumpamaan, bidal, dan sebagainya.
(2) Kato nan dipakatokan (Kata
yang diperkatakan), ialah berupa wasiat atau ajaran-ajaran dari
seseorang kepada orang lain, yang dipegang teguh, walaupun sifatnya
menyimpang dari yang lazim.
(3) Kato nan bakato-kato
(Kata yang berkata-kata), yakni ucapan yang mengandung pengertian
ganda, sehingga memerlukan penafsiran dan mungkin berlainan persepsi
bagi yang mendengar atau yang menerimanya. Dan akan menimbulkan
perbincangan yang berlarut-larut tentang penafsirannya.
(4) Kato nan takatai-katai
(Kata yang terkatai-katai), yakni ucapan yang tak terkendali, liar atau
tidak punya arti – apalagi makna – Kata terkatai-katai timbul karena
gurauan, marah, sedih atau dalam kondisi tidak normal.
Kato Sifat

Sifat kata merupakan watak kata atau ucapan yang bila diucapkan akan
menmbulkan reaksi bagi pendengarnya. Yang terdiri dari empat kategori :
(1) Kato mancari kawan (Kata mencari kawan), yakni kata-kata yang menimbulkan rasa simpati atau rasa senang bagi orang yang mendengarnya.
(2) Kato mancari lawan (Kata
mencari lawan), yaitu kata-kata yang diucapkan bersifat menantang,
tajam, kotor sehingga membangkitkan amarah bagi pendengarnya.
(3) Kato indak mancari kawan (Kata tidak mencari kawan), yakni kata atau ucapan yang besifat fitnah, gunjingan, bohong.
(4) Kato indak balawan (Kata tidak berlawan), yakni kata-kata atau ucapan yang bersifat perintah, baik salah atau benar harus dijalankan.
Memahami Kato dalam Makna dan Pesan
Bagi orang Minangkabau kato
adalah suatu kata yang lebih jauh maknanya – dalam bahasa Indonesia
kata hanyalah sebuah kata yang tak lebih dari ucapan yang keluar dari
bibir seseorang. Kato dimaksudkan dalam bahasa Minangkabau, bukan
sekadar komunikatif yang juga terdapat pada binatang. Binatang
mengfungsikan bahasa ekspresif dan signatif, sedangkan manusia menmbah dua fungsi lagi, yaitu deskriptif dan argumentatif. Dengan bahasa dimungkinkan adanya konsep benar dan salah.
Atau dengan kata lain, memungkinkan berkembangnya akal budi. Justru
karena itu bahasa membuat atau membentuk manusia semakin manusia. Dalam
pepatahnya diungkapkan :
Bajalan paliharokan kaki, bakato paliharokan lidah
(Berjalan peliharalah kaki, berkata pelihara lidah)
Manusia memiliki sepasang kaki dan dengan kaki itu pula ia berjalan
melaksanakan sebagian kegiatannya. Kendatipun kaki tersebut adalah
miliknya, namun ia harus hati-hati melangkah, jika kurang waspada maka
secara pisik ia bisa tersandung, dan ia akan merasakan sakit atau
terluka. Dan ia memiliki lidah untuk bicara – berkata dan berkomunikasi
dengan orang lain- Oleh karenanya, ia harus hati-hati ketika
berkomunikatif dengan orang lain. Kalau tidak, ia akan bisa menyakiti
hati orang lain dan ujung akan mengimbas kepada dirinya sendiri. Jadi
orang Minangkabau dituntut untuk berbiacara sesuai dengan situasi dan
kondisi.
Menelusuri kato
bagi orang yang berada diluar lingkungan alam pikiran Minangkabau
tentulah terasa agak sulit, karena mereka belum mengenal budaya
Minangkabau tersebut. Di alam Minangkabau memang seakan-akan tidak
bahasa halus dan kasar, semua orang dapat mengunakan dialek bahasa
asalkan komunikatif. Hanya saja bahasa yang diucapkan tergantung dengan
siapa ia berbicara. Bila ia berbiacara dengan teman sebaya – tidak
mungkin sama dengan orang tua atau orang yang dituakan – Dan bila sedang
membicarakan tentang peraturan atau hukum, dia tentu harus memahami
hukum dan tata tertib dari hukum tersebut, atau sekurang-kurangnya
mengerti.
Memang tepatlah pemikiran mereka tentang kato. Ada kato pusako, dan ada kato mupakaik, kato dahulu, kata kudian. Pemilihan bahasa tersebut karena pengertiannya berbeda dan fungsinya pun berbeda, namun saling kait berkait.
Kato pusako,
yaitu menyangkut warisan petuah, wejangan, sejarah atau tambo dan
termasuk nilai-nilai serta alam pikiran alam Minangkabau itu sendiri.
Dari pengamatan yang saya lakukan bertahun-tahun – kebenaran adalah bagian terpenting dari kato pusako, sebab dalam kebenaran itu muncul Adat
(Adat tang sebenarnya adat) – Kebenaran yang mereka maksud adalah
kebenaran mutlak dari Tuhan – kebenaran yang berdiri sendirinya. Sebagai
referensi pembaca, saya ungkapkan sebuah pepatah :
Kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo ka pangulu
Pangalu barajo ka mupakaik, mupakaik barajo ka alua jo patuik
Alua jo patuik barajo ka nan bana.
Nan Bana badiri sandiriNyo.
(Kemanakan beraja ke mamak, mamak beraja ke penghulu
Panghulu beraja ke mufakat, mufakat beraja ke alur dengan patut
Alur dengan patut beraja ke yang Benar
Yang Benar berdiri sendiri-Nya)
Dari pepatah tersebut jelaslah semuanya bermuara pada kebenaran –
kebenaran hakiki- Sementara itu manusia adalah makhluk yang gelisah,
kadangkala ia pun tidak percaya pada apa yang dikatakannya. Karena itu,
ia selalu mencari dan mencari kebenaran.
Dalam alam pikiran mereka, konsep kato disebut kato nan ampek,
yang kemudian berlanjut ke cabang-cabang yang lain. Cabang-cabang itu
menguatkan konsep awal yang merupakan pemikiran, tingkah laku, sikap
perbuatan seseorang menyampaikan ucapan dan bahasanya. Kata menurut alam
pikiran mereka, bukan sekadar bahasa tapi membawa pesan-pesan dan
simbol-simbol.
Sebagai kata penutup pada bab ini, saya akhiri dengan :
Pikie palito hati, nanang hulu bicaro, haniang saribu aka
Dek saba bana mandatang, batolan mangko bajalan
Baiyo mangko bakato, ingek dirunciang ka mancucuak,

ingkek didahan nan ka maimpok, alun rabah lah ka ujuang,
alun pai lah babaliak, alun babali alah tajua,
balun dimakan lah diraso, bakato siang caliak-caliak,
barundiang malam agak-agak.
(Pikir
pelita hati, diam sejenak hulu bicara, hening seribu akal. Karena
kesabaran kebenaran datang, permisi maka berjalan, beriya baru berkata,
ingat diruncing yang akan menusuk, ingat pada dahan yang akan menimpa,
belum rebah sudah ke ujung, belum pergi sudah pulang, belum dibeli sudah
terjual, belum dimakan sudah dirasa, berkata siang lihat-lihat,
berunding malam hati-hati)
Dengan
merasakan sesuatu ke dalam diri, seseorang akan senantiasa berhati-hati
dan cermat dalam berbuat sehingga tidak merusak hati orang lain, dan
senatiasa memiliki ketenangan dalam berpikir – dengan mengingat yang
baik maupun buruk akibat suatu tindakan.)

sumber : http://tambodunia.blogspot.com/2011/05/kato.html
Reputation
Comments
 
Possibly Related Threads...
Thread:
  Baliakan ka KATO nan aslinyo...