Tahun ini, ramai terdengar kabar tentang pembangunan jalan tol di kawasan Sumatra. Sebelumnya, hanya ada satu jalan tol di kawasan ini yakni di Sumatera Utara, belawan-medan-tanjung morawa, atau lebih familiar disebut Belmera. Jalan tol tersebut mulai beroperasi sejak tahun 1986.
Namun, sekarang ada harapan baru untuk pembangunan terkait jalan tol trans Sumatra sejak adanya Masterplan Percepatan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Untuk jangka panjang, Sumatera akan dihubungkan dengan satu jalan tol yang melintas dari Nanggro Aceh Darussalam hingga Lampung. Seiring dengan itu, juga sudah santer terdengar pembangunan jalan tol dilakukan di area propinsi sumatera barat.
Jalan tol ini setidaknya akan membutuhkan investasi sekitar Rp10 triliun, belum termasuk alokasi dana pembebasan lahan dan pembangunan kawasan ekonomi yang akan menghabiskan anggaran sekitar Rp1,2 triliun. Untuk pembebasan lahan Rp400 miliar, dan pembelian kawasan perekonomian Rp800 miliar.
Investasi sebanyak itu mencapai empat kali lipat dari total APBD Sumbar 2012 yang hanya 2,6 triliun. Mengapa ? Dengan jumlah anggaran sebanyak itu sebenarnya tidak memiliki manfaat ekonomi yang banyak untuk jangka pendek. Tapi untuk jangka panjang dan kepentingan yang lebih luas.
Penyediaan jalan seperti ini mungkin penerapannya adalah hal baru bagi masyarakat Sumbar. Memang benar bahwa ada sebagian pendapat mengatakan bahwa penyediaan jalan berbayar kurang pas untuk kategori masyarakat Sumbar yang hanya memiliki pendapatan per kapita yang 20, 17 juta per orang per tahun (2011) yang jauh dari rata-rata pendapatan per kapita nasional sebesar Rp30,8 juta sehingga mungkin akan memberatkan untuk rakyat sumbar. Tapi, Saya yakin bahwa ini hanyalah analisis yang dangkal dan lebih bertendensi emosional, bukan ilmiah.
Tapi, kita tunggu saja apa hasil Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Pandangan saya mengatakan bahwa hasil analisis amdal pembangunan jalan tol itu akan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pemerintah karena amdal dibuat terakhir, bukan di awal yang menjadi alasan dilakukannya pembangunan jalan tol sehingga hasil akhir dari AMDAL rasanya akan selaras dengan harapan pemerintah.
Nilai Manfaat
Barangkali ada yang bertanya apa saja nilai manfaat dari pembangunan jalan tol tersebut? Apakah itu sebuah kebanggaan ketika jalan tol dibangun di sebuah daerah dan mengindikasikan bahwa daerah itu sudah mengalami kemajuan? Sektor apa sajakah yang akan berubah? Mari kita diskusikan beberapa hal berikut ini. Setidaknya pada tulisan ini ada dua manfaat utama terkait pembangunan jalan tol di Sumbar.
Pertama, revitalisasi dan merancang ulang kawasan objek wisata. Sumbar mungkin saja selamanya tidak akan prospektif untuk dunia industri karena memang letak geografis kita tidak mendukung untuk itu. Selain itu, fasilitas untuk sebuah kawasan industri pun tidak pernah dipersiapkan dengan baik. Kawasan industri padang yang dimulai dibangun sekitar tahun 1996 hingga sekarang dalam perjalanannya tidak menunjukan perkembangan yang menggembirakan. Semua pihak yang terlibat pada pengelolaannya juga tidak diketahui eksistensinya kecuali Irman Gusman yang masuk ke ranah politik.
Kembali kepada sektor pariwisata, Untuk menarik wisatawan sebenarnya tidak perlu infrastruktur yang baik. Bila pemerintah tidak cukup dana untuk pembangunan fisik, cukup investasi pada sektor non fisik seperti budaya sadar wisata saja sudah cukup. Para turis tidak untuk menikmati jalan yang mulus atau hotel yang mewah di sumbar, karena semewah-mewahnyanya hotel bintang lima di sumbar pun masih kalah baiknya daripada fasilitas hotel kelas melati di jerman, begitu ketika atase pendidikan Indonesia di Jerman pernah bicara dalam suatu diskusi yang saya juga ikut hadir di dalamnya. Wisatawan hanya ingin melihat bagaimana wajah dunia lain selain negara mereka. Jadi, sangat lazim memang ketika paket wisata perkampungan kumuh di Jakarta pun laku di jual oleh tangan-tangan kreativ di sektor pariwisata. Saya pikir ini salah satu alasan mengapa pentingnya kesiapan non-fisik di kawasan wisata menjadi penting.
Pengalaman saya sebagai pelaku pariwiata professional di Pulau Bali beberapa tahun lalu, cukup membuat saya paham bagaimana karakteristik objek wisata yang disukai oleh turis mancanegara. Bali tidak menawarkan fasilitas bintang lima di setiap objek wisata mereka. Bali hanya menyediakan fasilitas yang “layak” untuk ditempati oleh wisatawan. Nah, standar layak itu menjadi relatif bila kita mencari segmen wisatawan mana yang akan kita garap.
Kedua, pembangunan jalan tol akan menunjang percepatan ekonomi di kawasan yang di lalui jalan toll. Pihak swasta akan semakin mudah melakukan ekspansi usaha yang sesuai dengan karakteristik daerah Sumbar. Bila ternyata industri pariwisata yang akan dinilai paling menarik, maka pembangunan unit bisnis yang seperti itulah akan marak di Sumbar nantinya.
Percepatan ekonomi di Sumbar tidak bisa dilakukan dengan cara yang konvensional atau familiar di sebut dalam MP3EI sebagai slogan Business not as usual. Untuk memacu pertumbuhan ekonomi, maka harus di dukung dengan kesiapan dan kemauan dari semua pihak. Untuk urusan pendanaan, maka akan ada solusi yang tampak ketika kemauan dan kesiapan telah dilakukan dengan baik.
Kita semua pasti tau bahwa pembangunan jalan tol ini lebih dominan didanai oleh pihak swasta. Kabarnya, pemerintah daerah hanya membebaskan lahan. Ini tampak bahwa pendanaan yang minim tidak menghalangi niat baik untuk memajukan daerah.
Oleh karena dana yang digunakan untuk investasi jangka panjang dan bersifat multiplier effect ini begitu banyak, maka dukunglah ini sebagai kebijakan yang tepat. Jangan biarkan proyek terbesar di Sumbar ini hanya lewat begitu saja tanpa mendapatkan dampak ekonomi yang nyata untuk rakyat sumbar. bila pemerintah mempersiapkan infrastruktur fisik menuju daerah berkategori maju (developed) maka rakyat harus mempersiapkan pembangunan non-fisik berupa mentalitas yang siap mendukung berkembangnya daerah itu. Tidak ada daerah yang maju peradabannya bila tidak didukung oleh pembangunan non-fisik. Majulah terus Ranah Minang!***
AZIZUL MENDRA
(Peneliti Bidang Ekonomi Politik dan Editor Pada Perusahaan Media Monitoting BINOKULAR)
Sumber : haluan