Perhatian untuk member MinangForum untuk membaca peraturan dahulu agar post anda tidak dihapus
Dapatkan aplikasi MinangForum untuk android anda, Klik Disini untuk mendownload


 
Thread Rating:
  • 0 Votes - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
+ Reply to Thread
07-07-2012 09:05 AM

kambuik Offline
*

  • Dec 2008
  • 479 posts
  • 0
Post: #1
Jalan Tol dan Pembangunan Ekonomi
Tahun ini, ramai terdengar kabar tentang pembangunan jalan tol di kawasan Sumatra. Sebelumnya, hanya ada satu jalan tol di kawasan ini yakni di Sumatera Utara, belawan-medan-tanjung morawa, atau lebih familiar disebut Bel­mera. Jalan tol tersebut mulai beroperasi sejak tahun 1986.

Namun, sekarang ada harapan baru untuk pembangunan terkait jalan tol trans Su­matra sejak adanya Master­plan Percepatan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indo­nesia (MP3EI). Untuk jangka panjang, Sumatera akan dihubungkan dengan satu jalan tol yang melintas dari Nanggro Aceh Darussalam hingga Lampung. Seiring dengan itu, juga sudah santer terdengar pembangunan jalan tol dila­kukan di area propinsi suma­tera barat.

Jalan tol ini setidaknya akan membutuhkan investasi se­kitar Rp10 triliun, belum termasuk alokasi dana pem­bebasan lahan dan pem­bangunan kawasan ekonomi yang akan menghabiskan anggaran sekitar Rp1,2 tri­liun. Untuk pembebasan la­han Rp400 miliar, dan pem­belian kawasan perekonomian Rp800 miliar.

Investasi sebanyak itu men­capai empat kali lipat dari total APBD Sumbar 2012 yang hanya 2,6 triliun. Meng­apa ? Dengan jumlah ang­garan sebanyak itu sebe­narnya tidak memiliki man­faat ekonomi yang banyak untuk jangka pendek. Tapi untuk jangka panjang dan kepentingan yang lebih luas.

Penyediaan jalan seperti ini mungkin penerapannya adalah hal baru bagi masyarakat Sumbar. Memang benar bah­wa ada sebagian pendapat mengatakan bahwa penye­diaan jalan berbayar kurang pas untuk kategori masya­rakat Sumbar yang hanya memiliki pendapatan per kapita yang 20, 17 juta per orang per tahun (2011) yang jauh dari rata-rata pen­dapatan per kapita nasio­nal sebesar Rp30,8 juta se­hingga mungkin akan mem­beratkan untuk rakyat sum­bar. Tapi, Saya yakin bahwa ini hanya­lah analisis yang dangkal dan lebih berten­densi emosional, bukan ilmiah.

Tapi, kita tunggu saja apa hasil Analisa Mengenai Dam­pak Lingkungan (AMDAL). Pandangan saya mengatakan bahwa hasil analisis amdal pembangunan jalan tol itu akan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pemerintah karena amdal dibuat terakhir, bukan di awal yang menjadi alasan dilakukannya pem­bangunan jalan tol sehingga hasil akhir dari AMDAL rasanya akan selaras dengan harapan pemerintah.

Nilai Manfaat

Barangkali ada yang bertanya apa saja nilai manfaat dari pembangunan jalan tol ter­sebut? Apakah itu sebuah kebanggaan ketika jalan tol dibangun di sebuah daerah dan mengindikasikan bahwa daer­ah itu sudah mengalami kemajuan? Sektor apa sajakah yang akan berubah? Mari kita diskusikan beberapa hal berikut ini. Setidaknya pada tulisan ini ada dua manfaat utama terkait pembangunan jalan tol di Sumbar.

Pertama, revitalisasi dan merancang ulang kawasan objek wisata. Sumbar mungkin saja selamanya tidak akan prospektif untuk dunia ind­ustri karena memang letak geografis kita tidak men­dukung untuk itu. Selain itu, fasilitas untuk sebuah ka­wasan industri pun tidak pernah dipersiapkan dengan baik. Kawasan industri pa­dang yang dimulai dibangun sekitar tahun 1996 hingga sekarang dalam perjalanannya tidak menunjukan perkem­bangan yang menggembirakan. Semua pihak yang terlibat pada pengelolaannya juga tidak diketahui eksistensinya kecuali Irman Gusman yang masuk ke ranah politik.

Kembali kepada sektor pariwisata, Untuk menarik wisatawan sebenarnya tidak perlu infrastruktur yang baik. Bila pemerintah tidak cukup dana untuk pembangunan fisik, cukup investasi pada sektor non fisik seperti budaya sadar wisata saja sudah cukup. Para turis tidak untuk menikmati jalan yang mulus atau hotel yang mewah di sumbar, karena semewah-mewahnyanya hotel bintang lima di sumbar pun masih kalah baiknya daripada fasi­litas hotel kelas melati di jerman, begitu ketika atase pendidikan Indonesia di Jer­man pernah bicara dalam suatu diskusi yang saya juga ikut hadir di dalamnya. Wisa­tawan hanya ingin melihat bagaimana wajah dunia lain selain negara mereka. Jadi, sangat lazim memang ketika paket wisata perkampungan kumuh di Jakarta pun laku di jual oleh tangan-tangan kreativ di sektor pariwisata. Saya pikir ini salah satu alasan mengapa pentingnya kesiapan non-fisik di kawasan wisata menjadi penting.

Pengalaman saya sebagai pelaku pariwiata professional di Pulau Bali beberapa tahun lalu, cukup membuat saya paham bagaimana karak­teristik objek wisata yang disukai oleh turis manca­negara. Bali tidak mena­warkan fasilitas bintang lima di setiap objek wisata mere­ka. Bali hanya menyediakan fasilitas yang “layak” untuk ditempati oleh wisatawan. Nah, standar layak itu men­jadi relatif bila kita mencari segmen wisatawan mana yang akan kita garap.

Kedua, pembangunan jalan tol akan menunjang percepatan ekonomi di kawasan yang di lalui jalan toll. Pihak swasta akan semakin mudah mela­kukan ekspansi usaha yang sesuai dengan karakteristik daerah Sumbar. Bila ternyata industri pariwisata yang akan dinilai paling menarik, maka pembangunan unit bisnis yang seperti itulah akan marak di Sumbar nantinya.

Percepatan ekonomi di Sumbar tidak bisa dilakukan dengan cara yang konvensional atau familiar di sebut dalam MP3EI sebagai slogan Busi­ness not as usual. Untuk memacu pertumbuhan ekonomi, maka harus di du­kung dengan kesiapan dan kemauan dari semua pihak. Untuk urusan pendanaan, maka akan ada solusi yang tampak ketika kemauan dan kesiapan telah dilakukan dengan baik.

Kita semua pasti tau bahwa pembangunan jalan tol ini lebih dominan didanai oleh pihak swasta. Kabarnya, pemerintah daerah hanya membebaskan lahan. Ini tampak bahwa pendanaan yang minim tidak meng­halangi niat baik untuk me­ma­jukan daerah.

Oleh karena dana yang digu­nakan untuk investasi jangka panjang dan bersifat mul­tiplier effect ini begitu banyak, maka dukunglah ini sebagai kebijakan yang tepat. Jangan biarkan proyek ter­besar di Sumbar ini hanya lewat begitu saja tanpa menda­patkan dampak eko­nomi yang nyata untuk rakyat sum­bar. bila pemerintah mem­persiap­kan infrastruktur fisik menuju daerah ber­kategori maju (developed) maka rakyat harus memper­siapkan pem­bangunan non-fisik berupa men­talitas yang siap mendukung berkem­bangnya daerah itu. Tidak ada daerah yang maju pera­da­bannya bila tidak di­dukung oleh pem­bangunan non-fisik. Majulah terus Ranah Mi­nang!***



AZIZUL MENDRA
(Peneliti Bidang Ekonomi Politik dan Editor Pada Perusahaan Media Monitoting BINOKULAR)


Sumber : haluan
(This post was last modified: 07-07-2012 09:08 AM by kambuik.)
Reputation
Comments
 
Possibly Related Threads...
Thread:
  Pembangunan Bandara Direspon Gubernur
  Gubernur: Asian Foundation Dukung Pembangunan Jalan Tol
  Rencana Pembangunan Jalan Tol Menguat Lagi
  3 Juta Buruh Turun ke Jalan
  Tahun 2012, Segmen I-A Jalan Tol Sumbar Mulai Dibangun
  Pembagunan Jalan Tol Dimatangkan
  Menteri BUMN: Jalan Tol Sumatera Mendesak Dibangun
  Jabodetabek - Waspadai Titik Jalan Rawan Ranjau Paku Berikut Ini
  Pembangunan Bandara di Pasaman Barat 95 Persen
  Sumbar Sebagai Percontohan Pembangunan Shelter Mandiri