The following warnings occurred:
Warning [2] file_get_contents(http://graph.facebook.com/?ids=http://www.minangforum.com/Thread-Istano-Basa-Pagaruyung-Simbol-Bersatunya-Kaum-Padri-dan-Kerajaan): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 403 Forbidden - Line: 806 - File: inc/plugins/fbmeta.php PHP 5.3.28 (Linux)
File Line Function
[PHP]   errorHandler->error
/inc/plugins/fbmeta.php 806 file_get_contents
/showthread.php(1196) : eval()'d code(42) : eval()'d code 1 fb_comment_count
/showthread.php(1196) : eval()'d code 42 eval
/showthread.php 1196 eval
Warning [2] file_get_contents(http://graph.facebook.com/?ids=http://www.minangforum.com/Thread-Istano-Basa-Pagaruyung-Simbol-Bersatunya-Kaum-Padri-dan-Kerajaan): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 403 Forbidden - Line: 806 - File: inc/plugins/fbmeta.php PHP 5.3.28 (Linux)
File Line Function
[PHP]   errorHandler->error
/inc/plugins/fbmeta.php 806 file_get_contents
/showthread.php(1196) : eval()'d code(131) : eval()'d code 1 fb_comment_count
/showthread.php(1196) : eval()'d code 131 eval
/showthread.php 1196 eval



Perhatian untuk member MinangForum untuk membaca peraturan dahulu agar post anda tidak dihapus
Dapatkan aplikasi MinangForum untuk android anda, Klik Disini untuk mendownload


 
Thread Rating:
  • 0 Votes - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
+ Reply to Thread
11-03-2011 08:52 AM

langkisau Offline
*

  • Feb 2009
  • 706 posts
  • reputations
  • 9 thanks
    Given 30 thank(s) in 28 post(s)
Post: #1
Istano Basa Pagaruyung Simbol Bersatunya Kaum Padri dan Kerajaan
Setelah ludes terbakar pada 2007, kini Istano Basa Pagaruyung kembali memancarkan keelokannya. Istana yang menjadi simbol bersatunya kaum padri (ulama) dan kerajaan ini menorehkan banyak pelajaran berharga bagi masyarakat Minangkabau.

Megah, indah, dan menawan. Itulah wajah Istano Basa Pagaruyung di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat sekarang ini. Tak heran saat liburan Lebaran baru-baru ini ribuan pengunjung dari berbagai daerah terus berdatangan memandangi keelokan istana dan alam sekitarnya.

Para perantau pun ingin melihat seperti apa istana yang baru saja selesai dibangun itu. Kendati pagar seng masih membungkus istana tersebut, namun tak mengurangi keindahan arsitektur istana.

Dibandingkan dengan rumah gadang, bentuk arsitektur istana jelas berbeda. Pada dinding bangunan istana misalnya, dilengkapi dengan ukiran falsafah dan budaya Minangkabau.

Di samping itu, Istano Basa Pagaruyung juga dilengkapi dengan Surau, Tabuah Larangan, Rangkiang Patah Sambilan, Tanjung Mamutuih, dan Pincuran Tujuah. Surau yang berada di belakang istana berfungsi sebagai tempat shalat, belajar, mengaji (membaca Alquran), dan tempat tidur putra raja yang telah berumur di atas tujuh tahun.

Tabuah Larangan terdiri dari dua buah; Gaga Dibumi dan Mambang Diawan. Gaga Dibumi dibunyikan jika terjadi peristiwa besar seperti bencana alam, kebakaran, tanah longsor, dan lain-lain. Sedangkan Mambang Diawan difungsikan untuk memanggil Dewan Empat Menteri guna mengadakan rapat.

Sementara itu, Rangkiang Patah Sambilan merupakan simbol kemakmuran dan kekuasaan alam Minangkabau. Ia memiliki sembilan fungsi di antaranya sebagai tempat penyimpanan padi.

Tak jauh dari istana, juga terdapat Tanjung Mamutuih yang berperan sebagai tempat bermain-main anak raja seperti layang-layang, sepak tekong, dan lain-lain. Pincuran Tajuah merupakan tempat mandi bagi raja. Sarana ini dilengkapi dengan tujuh pincuran yang terbuat dari batang sampir dan jamban tradisional.

Meludeskan Istana

Sayangnya, berbagai keelokan tersebut redup. Maklum, si jago merah telah meludeskan istana bersejarah beserta seluruh isinya pada 27 Februari 2007.

Menurut saksi mata, api mulai membakar bangunan tua pada malam hari sejak pukul 19.10 WIB. Api cepat menjalar karena semua bahan istana terbuat dari kayu yang memang mudah terbakar.

Banyak isu beredar mengenai penyebab musibah terbakarnya istana yang dibangun pada 27 Desember 1976 itu, baik yang bernuansa mistis maupun logis. Kalau dilihat dari sisi geografis, kita semakin yakin, petir menjadi pemicu utama dari terbakarnya istana tersebut.

Pada saat kejadian, kawasan tersebut "terserang" petir yang sangat kuat. Banyak peralatan elektronik milik penduduk sekitar rusak disambar petir.

Lalu, mengapa istana tersebut terbakar? Mari kita lihat fakta di lapangan. Istano Basa Pagaruyung berdiri menjulang di tanah datar. Puncak ketinggian bangunan itu mencapai 60 meter. Di sekitar istana tak ada pohon-pohon setinggi itu.

Ketika petir sangat kuat menyambar, benda tertinggi (gonjong) yang berada paling barat menjadi korbannya. Percikan api dengan leluasa membakar istana tiga lantai, 72 tonggak, dan 11 gonjong.

Usai terbakar, Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi turun tangan mengajak seluruh walikota, bupati, dan perantau untuk membangun kembali. Hasilnya, mereka sepakat istana tersebut dibangun pada 21 April 2008.

Berkat usaha keras itulah, pada 6 Juni 2010 Istano Basa Pagaruyung ditetapkan sebagai tuan rumah berlangsungnya Jambore Budaya Indonesia Malaysia. Setelah itu masyarakat pun kembali dapat melihat keindahan istana yang berada di balik perbukitan.

Melihat posisi istana yang sama seperti sebelum terbakar, mestinya perlu ada upaya agar tidak terjadi musibah serupa di kemudian hari. Di sekitar istana sebaiknya ditanami pohon-pohon besar nan tinggi sehingga jika ada sambaran petir yang sangat kuat, bangunan tersebut luput dari sasaran.

Idealnya lagi, lokasi istana dikembalikan ke posisi awal. Menurut Kamaruzzaman dan Anwar dalam bukunya Budaya Alam Minangkabau, Falsafah & Arsitektur Istano Basa Pagaruyung Serta Objek Wisata Lainnya, istana pertama kali dibangun di Puncak Bukit Batu Patah. Lokasi bukit ini berada di belakang bangunan istana sekarang.

Dari situ, istana lalu dipindah ke Ranah Tanjung Pagaruyung. Terakhir pindah lagi ke Gudam. Pada tahun 1804 istana yang menjadi tempat tinggal keluarga Kerajaan Minangkabau dan sekaligus menjadi pusat Kerajaan Minangkabau itu dibakar kolonialis Belanda. Untuk melestarikan nilai-nilai adat, seni, budaya, dan sejarah Minangkabau itulah maka istano dibangun kembali pada tahun 1976.

Simbol Persatuan
Menengok masa silam, Istano Basa Pagaruyung memiliki sejarah unik. Di sanalah pernah meletus perang saudara antara kaum padri (ulama) dan masyarakat yang tinggal di kerajaan tersebut.

Perang Padri yang melelahkan dan berlangsung lama (1803-1838) itu meletus lantaran kaum ulama ingin menegakkan kebenaran sesuai syariat Islam. Maklum, ketika itu banyak masyarakat adat terjebak dalam perilaku negatif seperti berjudi, adu ayam, menenggak minuman keras, mengonsumsi opium atau ganja, dan lain sebagainya.

Perundingan yang diadakan antara kaum padri yang dipimpin Harimau nan Salapan dan kaum adat yang dipimpin Raja Pagaruyung Sultan Muning Alamsyah mengalami jalan buntu. Perang saudara berkobar.

Kerajaan Pagaruyung yang berpusat di Koto Tengah diserang. Sultan Muning Alamsyah akhirnya menyingkir. Merasa terdesak, raja lalu minta bantuan kolonialis Belanda di Padang pada 21 Februari 1821. Sebagai imbalannya, Belanda mendapat konsesi lahan perkebunan kopi yang menggiurkan.

Tak lama setelah itu, tepatnya awal April 1821, atas perintah Residen James du Puy di Padang, dilakukan serangan besar-besaran untuk memukul mundur kaum padri. Mereka berhasil mengusirnya keluar dari Pagaruyung.

Guna bertahan dari serangan musuh, Belanda lalu membangun Benteng Fort van der Capellen di Batusangkar. Sedangkan kaum padri menyusun kekuatan di Lintau.

Mengetahui hal itu, Belanda pun terus mengejar dan menyerang kaum padri di Lintau, 13 April 1823. Namun apa daya, berkat perlawanan yang gigih dan gagah berani yang dipimpin Tuanku Imam Bonjol, Belanda tak berhasil menembus pertahanan kaum padri. Mereka terpaksa kembali lagi ke Batusangkar.

Agustus 1831 Belanda baru berhasil menaklukkan Lintau. Kaum padri terus terdesak dan mundur ke Bonjol. Menyadari hal itu, kaum padri pun mengubah strategi. Mereka melakukan konsolidasi bersama dengan seluruh rakyat.

Hasilnya, sejak awal 1833 terjadi perubahan mendasar. Pertikaian yang terjadi tidak lagi perang saudara, tetapi bersatunya kaum padri dan adat untuk melawan Belanda.

Kondisi ini memaksa kolonialis mengerahkan pasukan besar-besaran untuk menaklukkan masyarakat Minangkabau.
Tercatat sebanyak 148 perwira asal Eropa, 1.103 tentara Eropa, 36 perwira pribumi, dan 4.130 tentara pribumi dikerahkan Belanda untuk mengepung Bonjol selama enam bulan (16 Maret-17 Agustus 1837).

Hujan peluru bertubi-tubi yang dimuntahkan dari meriam-meriam besar itu membuat pertahanan Bonjol jebol. Bonjol memang dapat ditundukkan namun Tuanku Imam Bonjol beserta pengikutnya menyingkir, menuju Marapak.

Di tempat baru Imam Bonjol dan pasukannya pantang menyerah. Gagal menaklukkan pejuang di medan laga, Belanda lalu menggunakan akal liciknya. Pada Oktober 1837 dibujuknya Imam Bonjol untuk berunding.

Namun apa daya, bukan perdamaian yang didapat. Justru ia malah ditangkap. Dalam kondisi sakit, Imam Bonjol langsung dibawa ke Bukittinggi lalu ke Padang. Ia lalu diasingkan ke Cianjur (awal 1838), Ambon (akhir 1838), dan Manado (1839). Di situlah Tuanku Imam Bonjol menghembuskan nafas terakhir pada 8 November 1864.

Meski jasadnya telah lama tiada, kita dapat belajar banyak dari sejarah perjuangannya yang tak mudah menyerah. Persatuan antara kaum padri dan masyarakat adat yang pernah digalang Tuanku Imam Bonjol menjadi simbol betapa kolonialis tak mudah menumpas kekuatan tersebut. b siswo


Agar Keelokan Alam dan Budaya Minangkabau Berkilau

Memasuki Istano Basa Pagaruyung saat liburan Lebaran belum lama ini sebenarnya lebih nyaman ketimbang kawasan wisata lainnya di Sumatera Barat. Pengunjung tak diwajibkan membayar tiket masuk. Kotak amal diletakkan di pintu masuk bagi mereka yang ingin menyumbang secara sukarela.

Lain halnya di kawasan wisata Harau dan Ngalau Indah. Di gerbang pintu masuk Harau misalnya, pada tiket masuk jelas tertera tarif Rp 2.000 per orang. Namun anehnya petugas minta bayaran Rp 5.000 per orang.

Tarif parkir mobil pun diberlakukan sesukanya. Penulis yang hanya memarkir mobil sekitar 15 menit dikenakan Rp 5.000. Setelah uang diberikan, tak diberikan karcis parkir karena memang petugas tersebut tak memilikinya.

Begitu juga di gua Ngalau Indah, Kabupaten Payakumbuh. Setiap pengunjung diwajibkan membayar tiket masuk Rp 5.000 per orang dan tarif parkir Rp 5.000. Parahnya lagi, mereka tak mendapatkan bukti berupa tiket masuk dan karcis pakir.

"Biasanya, tiket masuk untuk setiap pengunjung cuma Rp 2.000 per orang," kata Atafrizal, warga Sicincin, Padang Pariaman kepada penulis. Pungutan liar (pungli) memang sudah banyak pihak yang tahu namun mengapa hal ini sulit dihentikan dan terkesan dibiarkan?

Fasilitas umum seperti toilet juga tampak kotor, jorok, bau, dan minim air bersih. Selain itu, para petugasnya pun terkesan seperti preman, tak mengenakan baju seragam dinas. Mereka juga tidak dilengkapi dengan identitas tanda pengenal. Tak ada senyum menghias di wajahnya.

Jika saja pungli dibasmi, fasilitas umum terlihat nyaman, serta keramahan petugas terwujud, niscaya keelokan alam dan budaya Minangkabau tetap berkilau. Pengunjung pun semakin tertarik untuk menjelajahi tempat-tempat indah tersebut

sumber :
suprizal-tanjung.blogspot.com
(This post was last modified: 11-03-2011 09:21 AM by langkisau.)
Reputation
Comments
 
Possibly Related Threads...
Thread:
  Latar Belakang Gerakan Padri, dan Mulanya Dakwah Salaf di Indonesia
  Dialektika Kerajaan Pagaruyung di dalam Alam Minangkabau
  Nagari Pagaruyung
Exclamation Kudeta Di Pagaruyung (1514- 1524), Peristiwa Tragis Yang Terlupakan
  Kaum Sufi dalam Sejarah di Minangkabau
  MENEMPATKAN PAGARUYUNG SEBAGAI KERAJAAN SIMBOLIS
  Pewaris Kerajaan Jambu Lipo Luncurkan Buku tentang Minangkabau
  Kerajaan Jambu Lipo Gelar Rajo Manjalang Rantau
  Menguak Sejarah Kerajaan Pagaruyung
  Batanghari, Saksi Sejarah Kerajaan Malayu