Perhatian untuk member MinangForum untuk membaca peraturan dahulu agar post anda tidak dihapus
Dapatkan aplikasi MinangForum untuk android anda, Klik Disini untuk mendownload


 
Thread Rating:
  • 0 Votes - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
+ Reply to Thread
03-21-2011 03:07 PM

palala Offline
*

  • Dec 2008
  • 817 posts
  • reputations
  • 7 thanks
    Given 36 thank(s) in 33 post(s)
Post: #1
Gempa dan Tsunami dalam Cerita Rakyat Mentawai
CERITA rakyat atau lagu tradisional yang diwariskan turun-temurun seringkali menjadi pencatat kearifan dan kewaspadaan manusia dengan lingkungannya. Termasuk dalam menghadapi ancaman gempa dan tsunami, seperti di Mentawai.

Jika gempa terjadi Yosep Sarokdok selalu ingat ucapan ayah atau ibunya di kampungnya Dusun Sarokdok, wilayah adat Sarereiket di pedalaman Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai.

"Waktu saya kecil kalau terjadi gempa pada pagi atau dini hari, orang tua saya akan berkata sipenanduk, kalau gempanya sore atau malam mereka berkata akan tumbuh udduat," kata Josep, 32 tahun, yang sekarang tinggal di Padang kepada PadangKini.com.

"Sipenanduk" artinya panen buah durian. Ayahnya menyebutnya "panengge" atau gempa yang akan menyebabkan banyak buah durian jatuh.

"Pesan optimisnya kepada anak-anak, gempa menolong menjatuhkan buah durian yang lebat dan berbatang tinggi itu," kata aktivis NGO Yayasan Citra Mandiri Mentawai itu.

Sedangkan "udduat" adalah jamur yang tumbuh di tanah dan enak dimakan. Orang tua Yosep akan menunjukkan satu tempat yang datar dan juga sedikit berbukit dekat rumah tempat biasa "udduat" tumbuh.

"Kalau gempa terjadi pada sore atau malam, kami selalu dipesan ayah atau ibu agar mengambil "udduat" di tempat itu, besoknya saya ke sana, memang banyak jamur yang bisa dipetik, sebagian baru tumbuh, sebagian sudah besar, jadi bisa direbus untuk makanan," ujarnya.

Kisah lain yang diceritakan turun-temurun di Sarereiket adalah pesan kalau terjadi gempa besar maka larilah ke pohon atau kebun pisang. Sebagai kampung yang terletak di tengah hutan dengan banyak pohon besar, kebun pisang tentu lebih aman. Jika pohon pisang rubuh oleh guncangan gempa tentu tidak akan mematikan.

Pesan itu terkait dengan pendirian "uma" atau rumah adat suku mentawai. Dikisahkan, dahulu kala saat mendirikan rumah adat berbentuk panggung itu, seorang anak laki-laki yatim-piatu bernama Ulu Taek disuruh menggali lubang untuk tiang utama oleh dua kakak angkatnya.

Ketika kedua kakak angkat laki-lakinya yang tidak suka dengannya meletakkan tiang utama yang runcing itu, si Ulu Taek berhasil lari ke atas. Beberapa kali hal itu terjadi. Pada akhirnya si Ulu Taek berpesan kepada istri dan anaknya bahwa ia akan membuat gempa yang bisa menenggelamkan uma tersebut sebagian ke dalam tanah, karena itu ia menyuruh lari ke pohon pisang.

Akhirnya ketika kedua kakaknya berusaha kembali membunuhnya, Ulu Taek menciptakan gempa yang menenggelamkan sebagian uma yang sedang mereka buat yang membuat kedua kakaknya tewas. Sedangkan istri dan anaknya selamat karena lari ke kebun pisang.

"Pesan dari cerita ini, kalau terjadi gempa besar maka lari ke pohon pisang, begitu yang dicerita turun-temurun," kata Yosep yang sekarang menjadi Koordinator Lumbung Derma, lembaga koalisi sejumlah NGO di Sumatera Barat untuk bantuan tsunami Mentawai.

Pesan lain, kata Yosep, cara orang Mentawai membuat rumah adat dengan tidak meletakkan tiang di atas tanah, tapi memancangkannya dalam-dalam. Tujuannya agar rumah tidak rusak akibat gempa.

Kisah lainnya di Mentawai adalah sebuah lagu tua yang dinyanyikan turun-temurun oleh suku mentawai di Siberut untuk menghibur anak-anak. Lagu berjudul "Teteu Amusiat Loga" itu kini terkenal karena dihubungkan dengan pesan mitigasi gempa dan tsunami: tingkah laku binatang sebelum terjadi gempa.

Begini syair lagu itu dan artinya.

Teteu Amusiat Loga

Teteu..
Teteu amusiat loga
Teteu katinambu leleu

Teteu girisit nyau-nyau
Amagolu teteu tai pelebuk
Arotadeake baikona

Kuilak pai-pai gou-gou
Lei-lei gou-gou
Barasita teteu
Lalaklak paguru sailet.

Gempa Tupai Mencicit

Gempa...
Gempa tupai mencicit
Gempa gemuruh datang dari bukit

Gempa tanah longsor dan rusak
Roh kerang laut sedang marah
Karena pohon baiko (pohon yang kulitnya untuk bahan membuat cawat) telah ditebang

Ekor ayam terlihat bergoyang
Ayam-ayam berlarian
Karena gempa bumi datang
Orang-orang berlarian.

Nikman Sanene, 30 tahun, mengaku sering mendengar orang-orang tua menyanyikan lagu itu ketika ia kecil. Itu ketika ia tinggal di kampungnya Desa Saibi Samokop, Pulau Siberut bagian Selatan hingga tamat SMA.

"Ini bahasa mentawai lama, makna tepatnya agak sulit dipahami, saya sepakat artinya berkaitan dengan gempa, hanya saja lagu ini biasa dibawakan dengan gembira," katanya kepada PadangKini.com.

Masalahnya "Teteu" memiliki beberapa pengertian, tergantung konteks. "Teteu" bisa berarti "Kakek" atau "Nenek", atau nenek makhluk halus, tapi bisa juga "gempa". Banyak orang Mentawai setuju arti "Teteu" di lagu ini adalah gempa.

Pumumuan
Yang menarik dari suku mentawai yang jumlahnya hanya sekitar 50 ribu adalah memiliki kekayaan folk tale (dongeng rakyat). Dibandingkan dengan suku lainnya di Indonesia, Mentawai termasuk paling banyak memiliki dongeng atau cerita rakyat. Bahkan mereka memiliki istilah sendiri terhadap cerita rakyat, yaitu "pumumuan".

Cerita rakyat Mentawai lain yang bisa dikaitkan dengan bencana gempa dan tsunami adalah dua kisah terkenal, kisah terbelahnya Pulau Pagai menjadi dua bagian, utara dan selatan, dan kisah menjauhnya Pulau Beriloga atau Pulau Sanding.

Kisah terbelahnya Pulau Pagai yang sekarang dipisah selat selebar 770 meter menurut "pumumuan" berawal dari sebatang pohon raksasa yang tumbuh di sebelah timur selat itu. Karena pohon itu dijadikan tempat bersarang seekor burung raksasa pemakan manusia, maka orang-orang pun menebang pohon itu. Pohon itu akhirnya tumbang, membelah pulau menjadi dua sehingga air laut masuk.

Sedangkan kisah menjauhnya Pulau Beriloga dari Pulau Siberut hingga kini terletak paling selatan Pulau Pagai (dekat Pulau Enggano) karena kesaktian seorang Paggetasabau, orang yang dianggap sebagai Sikerei (dukun) pertama di Mentawai.

Keponakannya meminta sebuah tanjung dilepaskan seperti kapal ke tengah laut. Tanjung itu akhirnya benar-benar lepas dan menjauh sehingga menjadi pulau yang terpencil.

Tentu saja kisah-kisah folklore tersebut tidak bisa diterima logika berkaitan dengan kejadian nyata. Tetapi simbol-simbol seperti kayu rubuh, daratan terbelah, air laut naik, pulau terpisah tidak tertutup kemungkinan tercipta karena kejadian di masa lampau.

Namun yang aneh dari kehidupan suku Mentawai adalah kenyataan bahwa mereka di masa lalu tidak pernah mendirikan kampung di pinggir pantai.

Cerita turun-temurun menyebutkan kampung orang Mentawai berasal dari pedalaman Pulau Siberut, yaitu Kampung Simatalu. Mereka berkembang dan diaspora ke pulau Siberut sendiri, lalu ke Pulau Sipora dan Pulau Pagai, juga mendirikan kampung-kampung di tengah hutan, jauh dari pantai.

Pemindahan sejumlah kampung ke pantai dimulai awal 1914 oleh pemerintah Belanda dan Zending Protestan. Lalu besar-besaran melalui proyek PKMT (Pembinaan Kesejahteraan Masyarakat Terasing) Departemen Sosial era Soeharto pada 1970-an. Sejumlah kampung dipindah paksa ke pesisir.

"Tentu ada alasan nenek moyang kami dulu tinggal jauh dari pantai padahal mereka hidup di pulau, kemungkinan mereka takut tsunami di masa lampau," kata Kortanius Sabeleake, tokoh Mentawai yang juga mantan Ketua DPRD Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Catatan sejarah pada 1797 gempa bersumber di pantai timur Pulau Siberut pernah menimbulkan tsunami dahsyat di Kota Padang dan Pariaman. Gempa dahsyat kedua pada 1833 yang juga menimbulkan tsunami. Namun tidak ada catatan apa yang terjadi di Kepulauan Mentawai di kedua bencana itu.

Setidaknya sebuah desa di Pagai Utara mencatat dengan nama yang diberikan masyarakat kepadanya, Silabu. Desa ini hancur oleh terjangan tsunami 25 Oktober 2010 yang menewaskan 7 orang. "Silabu" artinya "pulau berbentuk labu" di depan desa yang terbentuk akibat kemungkinan tsunami 1833.

Sejarah tidak ditulis pada zaman dulu oleh masyarakat tradisional seperti Mentawai. Tetapi cerita rakyat (folklore) seperti dongeng, nyanyian, nama tempat, dan kebiasaan hidup turun-temurun bisa "mencatat" kejadian masa lalu yang mestinya bisa dijadikan peringatan menghindari bencana.

Juga tak kalah penting menjadi simbol "hidup akrab dengan bencana". Apalagi bencana gempa dan tsunami yang mematikan selalu mengancam penduduk di Kepulauan Mentawai. (Syofiardi Bachyul Jb/PadangKini.com)
Reputation
Comments
 
Possibly Related Threads...
Thread:
  Tsunami Jangkau 2 Kilometer Daratan
  Dilema dalam Bernagari
  Cerita Lasuang Panumbuak Tapuang
  Monumen Gempa 30/S Tak Terurus
  Lebaran, Mudik dan Tradisi dalam Beragama
  Info Bohong Gempa Jepang Cemaskan Warga Padang
  185 Pulau Bentengi Sumbar Mampu Mengurangi Laju Tsunami
  Gempa Tektonik dan Seksonik di Ranah Minang
  Benarkah Tsunami Besar Mengancam Sumatera Barat?
  Ketika Iwan Fals Manggung di Mentawai