Perhatian untuk member MinangForum untuk membaca peraturan dahulu agar post anda tidak dihapus
Dapatkan aplikasi MinangForum untuk android anda, Klik Disini untuk mendownload


 
Thread Rating:
  • 0 Votes - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
+ Reply to Thread
12-06-2011 08:09 AM

langkisau Offline
*

  • Feb 2009
  • 706 posts
  • reputations
  • 9 thanks
    Given 30 thank(s) in 28 post(s)
Post: #1
GANDANG TIGO YANG HAMPIA PUNAH
[Image: nef24h.jpg]

Musik gandang tigo merupakan salah satu bentuk musik rakyat Minangkabau yang terdapat di daerah Tabek Panjang, Keca­matan Baso, Kabupaten Agam. Kesenian ini mempunyai ciri khusus yang tidak dimiliki oleh musik rakyat lainnya. Kekhasan musik ini terdapat pada alat yang dipergunakan dan teknik memainkannya, sehingga musik gandang tigo menjadi sebuah musik yang unik dan menarik.



Biasanya gandang atau gendang ialah instrumen yang terbuat dari batang pohon dengan panjang lebih kurang 50-80 cm. Pada bagian tengah­nya dilobangi sehingga mem­bentuk rongga atau ruang. Kedua sisi batang pohon tersebut ditutupi dengan kulit hewan yang kering seperti kulit sapi, kulit kerbau, dan kulit kambing. Namun lain halnya dengan gandang tigo, gandang tigo ini tidak sesuai nama dengan bentuknya. Namanya gandang akan tetapi bentuk alatnya adalah canang yang terbuat dari kuningan. Canang yang digunakan dalam musik ini memang berjumlah tiga buah. Ketiga buah canang tersebut mempunyai nama yang berbeda-beda sesuai menurut ukurannya. Alat yang paling besar diberi nama induak (induk) berdiameter 24 cm, yang menengah diberi nama tangah (tengah) berdiameter 21,5 cm, sedangkan yang kecil dinamakan dengan anak yang berdiameter 20 cm.

Asal mula nama gandang tigo berawal dari kebiasaan masyarakat setempat untuk menamai bermain musik de­ngan sebutan bagandang. Jadi jika ingin mengajak bermain musik, masyarakat Tabek Panjang lebih sering mengajak dengan perkataan “bagandang wak nah” yang artinya “ber­main musik yuk”. Apapun jenis permainan musiknya masyara­kat setempat tetap menyebutnya dengan sebutan bagandang. Hal inilah yang melekat pada kesenian gandang tigo yang mana alat musiknya bukan termasuk golongan gendang. Akan tetapi sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat setempat menyebutnya demi­kian. Sedangkan untuk kata tigo (tiga) pada nama gandang tigo ialah karena orang yang mema­in­kannya berjumlah tiga orang. Oleh karena itu melekatlah nama gandang tigo pada kese­nian khas daerah Tabek Pan­jang ini karena bermain musik yang dimainkan oleh tiga orang.



Pola pukulan dalam per­mai­nan musik gandang tigo ini yaitu secara interlocking (dipu­kul secara bergantian dan bersahutan antara alat yang satu dengan yang lain), Prinsip dasar teknik permainan musik gandang tigo ini dimulai dari canang induak, setelah itu dilanjutkan dengan canang tangah dan terakhir canang anak sebagai paningkah dalam permainan musiknya. Pemukul alat tersebut terbuat dari kayu yang dibaluti dengan kain dan busa.

Pemain gandang tigo ber­jum­lah tiga orang, tiga orang itu semuanya laki-laki. Akan tetapi tidak tertutup kemung­kinan jika ada perempuan yang ingin memainkan alat musik ini, hanya saja belum pernah ada perempuan yang mema­inkan alat musik ini dalam acara-acara adat daerah Tabek Panjang tersebut. Masing-masing pemain musik gandang tigo memegang satu buah alat. Teknik memainkan alat ini dengan cara memegang alat tersebut dengan menggunakan tali, tali diikat pada sisi canang yang telah dilobangi kemudian tali itulah yang dipegang atau dijinjing untuk memainkan gandang tigo, bukan alatnya.

Komposisi pemain dalam memainkan alat musik ini dapat dimainkan dalam empat permainan yaitu: permainan dalam keadaan berdiri, per­mainan dalam keadaan jong­kok, permainan dalam keadaan duduk, dan permainan dalam keadaan berjalan. Posisi pe­mainnya adalah membentuk garis sejajar ke kiri dan ke kanan pada waktu posisi berdiri, jongkok dan duduk. Sedangkan pada waktu berjalan boleh berbanjar ke belakang (dise­suaikan dengan keadaan jalan).

Lagu yang terdapat dalam musik gandang tigo ada empat jenis judul lagu yaitu : Lagu Tigo-Tigo, Lagu Pararakan, Lagu Panjang, dan Lagu Cin­dangkuang/Kasiah-Kasiah. Semua lagu yang ada pada kesenian gandang tigo ini tidak mempunyai teks. Lagunya hanya berupa untaian nada yang telah disusun oleh pemu­siknya. Nada yang terdapat pada masing-masing alat musik gandang tigo ini ialah nada F pada canang induak, nada G pada canang tangah, dan nada Gis/As pada canang anak. Dengan demikian nada pada alat musik ini termasuk kepada nada yang bersifat treetonik.

Lagu-lagu yang dimainkan dalam kesenian gandang tigo tidak terdapat kata-kata sebagai syairnya, akan tetapi menurut masyarakat setempat apabila dianalisa bunyi yang dikelu­arkan oleh kesenian ini pada lagu Cindangkuang maka akan terdengar seolah-olah kata seperti berikut, “ kasiah-kasiah bana den dek dikau, nanti-nanti di dangkuang” (saya­ngilah saya olehmu, tunggulah di pasar). Sedangkan pada lagu lainnya tidak terdengar seperti di atas.

Sebelum surau atau mesjid memiliki alat berupa toa untuk memberi pengumuman kepada masyarakat seperti saat ini, dahulu di daerah Tabek Panjang ini masyarakat memberikan peng­umuman-pengumuman penting seperti akan diadakan gotong royong, pemberitahuan ada salah seorang warga yang meninggal, dan sebagainya dengan cara membunyikan salah satu canang dan kadang-kadang membu­nyikan ketiga buah canang itu sambil menyo­rakkan pengumuman tersebut sambil berjalan keliling kam­pung. Lagu yang dimainkan pada saat memberikan pengu­muman itu tidak ditentukan. Kadang-kadang mereka mema­inkan keempat macam lagu yang ada.Selain itu kese­nian ini biasa juga ditampilkan pada saat masyarakat sedang bergo­tong royong, kemudian setelah gotong royong selesai, ketika masyarakat panen padi, dan alek anak gubalo (pesta rakyat setempat).

Ensambel gandang tigo ini pada awalnya terdiri dari tiga buah canang, enam buah ta­lem­pong pacik, satu buah pupuik gadang dan satu buah gendang kulit. Namun lama kelamaan seperangkat ensambel ini lenyap satu persatu, yang tersisa hanya lah tiga buah canang yang disebut gandang tigo tersebut.

Saat ini perkembangan musik gandang tigo sudah bisa dikatakan hampir dipenghujung usia, kesenian yang dahulunya sangat menarik bagi masyarakat Tabek Panjang tersebut seka­rang sudah sangat jarang ditam­pilkan. Kesenian ini terakhir ditampilkan pada acara arak-arakan pengantin pada Februari 2010 yang lalu.

Banyak faktor yang meng­hambat perkembangan keseni­an ini, diantaranya ialah tidak beberapa orang yang bisa memainkan musik gandang tigo ini, para pemusik gandang tigo yang bisa memainkannya sekarang sudah sibuk dengan urusan masing-masing. Tidak ada lagi keinginan untuk mengembangkan atau meng­ajarkan kesenian ini kepada generasi muda. Begitu juga halnya dengan para generasi muda masyarakat setempat, mereka juga tidak berminat untuk mempelajari kesenian asli daerah mereka sendiri.

Para generasi muda saat ini lebih senang mempelajari alat-alat musik barat seperti gitar, drum, piano, biola, gitar bass, dan sebagainya. Mereka tidak ingin dikatakan sebagai anak yang ketinggalan zaman, oleh karena itu mereka tidak mem­perdulikan hal-hal yang me­nyangkut dengan “ketradi­sionalan” yang mana hal terse­but sesungguhnya merupakan suatu aset yang sangat berharga, baik atas nama daerah maupun atas nama bangsa dan negara mereka sendiri.

Keadaan ini sangat mem­prihatinkan bagi kalangan pencinta musik tradisional. Sebuah aset kesenian yang sangat berharga ditinggalkan begitu saja oleh masyarakat pendukungnya. Saat ini alat musik gandang tigo di Tabek Panjang hanya ada seperangkat saja, itupun alat musik yang telah ada sejak dahulu dan merupakan satu-satunya alat musik asli daerah tersebut yang masih ada. Dari semenjak dahulu hanya alat inilah yang digunakan masyarakat setempat untuk memainkan kesenian ini. Sampai sekarang belum ada duplikat alat musik tersebut.

Para pejabat pemerintah yang bergerak dibidang pariwi­sata pun seakan tidak mau tahu dengan keadaan ini. Padahal ini juga merupakan tanggung jawab pemerintah daerah untuk menjaga dan melestarikan seni dan budaya daerah. Oleh karena itu marilah bersama-sama kita jaga dan lestarikan kesenian dan kebudayaan warisan nenek moyang kita. Demikian pula dengan para generasi muda, khususnya masyarakat Tabek Panjang, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam menyadari hal yang demikian. Sebagai generasi muda, marilah bersa­ma-sama kita bangkitkan lagi kesenian daerah yang sudah hampir punah tersebut. Agar kesenian asli daerah Tabek Panjang ini tidak punah. n



OLEH: ROMA CHANDRA

MAHASISWA JURUSAN SENI KARAWITAN ISI PADANG PANJANG

sumber : haluan
Reputation
Comments
 
Possibly Related Threads...
Thread:
  Dabus Garuda, Tradisi yang Masih Terpelihara dengan Baik
  Maklumat Kubung Tigo Baleh Digelar
  ATURAN PERKAWINAN ADAT MINANGKABAU YANG MENYESATKAN
  “Bahondoh-Bararawai”, Tradisi yang Berpantun
Rainbow "Malamang", Tradisi yang Mulai Hilang
  Musyawarah Tungku Tigo Sajarangan
  Tingkatkan SDM Tungku Tigo Sajarangan
  Mandi Basimbue": Ritual Minta Hujan, Siapa Saja yang Lewat Diguyur
  Mencari Nilai Falsafah Yang Terkandung Dalam Adat Minangkabau
  Apa yang Diharapkan dari Pekan Budaya