Perhatian untuk member MinangForum untuk membaca peraturan dahulu agar post anda tidak dihapus
Dapatkan aplikasi MinangForum untuk android anda, Klik Disini untuk mendownload


 
Thread Rating:
  • 0 Votes - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
+ Reply to Thread
06-10-2011 11:05 AM

pangeran Offline
*

  • Dec 2008
  • 1.108 posts
  • reputations
  • 3 thanks
    Given 14 thank(s) in 12 post(s)
Post: #1
Estetika dalam Seni Ukir Minangkabau
PENDAHULUAN

Berbicara tentang estetika dalam seni ukir Minangkabau tidak bisa dilepaskan dengan masyarakat Minangkabau itu sendiri. Karena seni ukir tradisional Minangkabau merupakan gambaran kehidupan masyarakat yang dipahatkan pada dinding rumah gadang, merupakan wahana komunikasi dengan memuat berbagai tatanan sosial dan pedoman hidup bagi masyarakatnya. Marzuki Malin Kuning (1897 – 1987) ahli ukir dari Ampat Angkat Candung menjelaskan “Seni ukir yang terdapat pada rumah gadang merupakan ilustrasi dari masyarakatnya dan ajaran adat yang divisualisasikan dalam bentuk ukiran, sama halnya dengan relief yang terdapat pada candi Borobudur”.

Tetapi kenyataan yang ada, bahwa seni ukir tradisional pada rumah gadang telah kehilangan jati diri dan peranannya di masa sekarang. Masyarakat Minangkabau tidak banyak lagi yang mengetahui tentang nilai estetikanya, apa lagi makna filosofi yang terkandung di dalamnya. Hal ini disebabkan karena kurangnya kepahaman pada nilai-nilai estetika dan makna-makna adat yang terkandung dalam seni ukir tersebut. Untuk itu perlu dikaji ulang dan digali kembali, agar jangan kehilangan nilai dan makna seni ukir tradisional itu di tengah-tengah masyarakat pendukungnya.

Penulisan dibatasi pada aspek-aspek estetika seni ukir tradisional Minangkabau pada rumah gadang, dalam kaitannya dengan seni tradisional itu sendiri yang mempunyai makna-makna tertentu, sesuai dengan ajaran adat alam Minangkabau. Estetika dan makna-makna adat ini sangat perlu diketahui baik bagi pengukir maupun bagi para penikmat dan khalayak ramai, agar para pengukir dapat menciptakan karya-karya baru tanpa melepaskan diri dari norma-norma yang berlaku dalam lingkungan adat itu sendiri. Selain itu para penikmat khalayak akan dapat berkomunikasi dan mempunyai apresiasi yang baik dalam hal seni ukir tradisional Minangkabau sewajarnya, maka yang menjadi fokus dari penulisan ini adalah yang terjaring ke dalam pertanyaan-pertanyaan berikut ini: Apa pengertian seni ukir Minangkabau itu? konsep-konsep apa yang mendasari terwujudnya seni ukir tradisional Minangkabau? Apakah seni ukir tradisional Minangkabau itu merupakan wujud fisik yang semata-mata menampilkan estetika belaka? Makna-makna adat yang bagaimana yang terkandung di dalam seni ukir tradisional Minangkabau itu? Berikut ini akan dijelaskan pengertian seni ukir.



A. Pengertian Seni Ukir Tradisional Minangkabau

Seni ukir berasal dari kata “Seni” dan “Ukir”. Persoalan “Apakah seni itu” telah dijawab oleh para Filosuf dan ahli estetis sepanjang masa dengan puluhan defenisi yang berbeda-beda, tetapi apabila batasan itu diteliti dapat disimpulkan pengertian itu sebagai “Kemahiran” (skill). Menurut Soedarso SP yang dikutip oleh Efrizal (1996: 6) yaitu “Pengertian seni suatu kemahiran seseorang adalah sesuai dengan kata “art” yang berasal dari perkataan “ars” yang berarti kemahiran. Kata latin itu masih mempunyai akar kata yang lebih lanjut “ar” yang artinya menyambung atau menghubungkan antara yang satu dengan lainnya, sehingga tercipta suatu kesatuan yang menyenangkan. Untuk pengertian kemahiran itu bangsa Yunani Kuno memakai kata “techne” yang kini menjadi teknik.

Adapun kata “ukir” atau ukiran menurut Bastomi, (1982: 1) berarti seni atau “seni pahat”, hal ini sejalan dengan Ensiklopedi Indonesia bagian 4 (1983: 2295) bahwa ukiran berasal dari kata “ukir” yang berarti seni pahat. Sedangkan ukiran (carving) berarti pahatan, juga dapat diartikan hiasan yang terukir, yaitu hasil seni rupa yang dikerjakan dengan proses memahat. Berdasarkan pendapat dan pengertian di atas dapat didefenisikan bahwa seni ukir adalah “Kemahiran seseorang dalam menoreh/ memahat gambar pada bahan yang dapat diukir, sehingga menghasilkan bentuk segi tiga, timbul dan cekung yang menyenangkan sesuai dengan gambar atau rencana”. Ukiran kayu adalah bentuk pahatan pada papan atau kayu dengan proses memahat yang sifatnya mementingkan bentuk timbul, cekung, cembung, cekung- cembung, segitiga dan tembus.

Seni ukir merupakan seni yang bersifat kedaerahan yang turun temurun dari satu generasi ke negeri berikutnya, seni seperti ini dinamakan seni tradisional. Menurut Bastomi ,(1981/1982: 80) “Kata tradisional berasal dari bahasa latin “traditio” yang berarti sebagai pewarisan atau penurunan norma-norma dan adat istiadat”. Tradisi sifatnya turun temurun karena diberikan dari pihak orang tua kepada anaknya, dari mamak kepada kemenakan. Siapa yang pertama kali menciptakan seni ukir itu tidak pernah disebutkan, sehingga jelaslah bahwa seni ukir tradisional itu benar-benar bersifat komunal.

Di samping seni tradisional, seni ukir juga dikenal sebagai seni klasik, menurut Sukarman (1980: 5) yang dimaksud dengan seni ukir klasik ialah: “Pola-pola hias atau seni ukir yang berakar dari seni ukir tradisional yang telah mencapai puncak perkembangannya”. Dengan kata lain seni ukir klasik ialah sejenis seni yang mencapai puncak kesempurnaannya menurut ukuran tertentu ditinjau dari teknik dan artistiknya. Sebagai contoh seni ukir klasik antara lain seni ukir Batak, seni ukir Toraja, seni ukir Jepara, seni ukir Bali dan seni ukir Minangkabau. Selanjutnya akan dijelaskan asal nama Minangkabau.

“Minangkabau berasal dari kata “Menangkerbau”, demikianlah penduduk negeri ini menyebut daerahnya. Nama itu mereka terima turun temurun dari mamak kepada kemenakan, dari orang-orang tua sejak dari dahulu sampai sekarang. Dari mana asal nama itu mereka bersatu berpendapat. Yang tidak bersatu alias bergalau ialah pendapat para sarjana” (Tumbijo, 1977:8). Kata “Minang” menurut (Sutan Zainal Arifin dalam Tumbidjo, 1977: 9) ialah besi runcing yang diikatkan pada hidung kerbau kecil. Minangkabau ialah memingit kerbau kecil yang sedang erat menyusu. Peristiwa mengadu kerbau besar dengan kerbau kecil yang diberi minang itu dapat dilihat dalam buku Mustiko Adat Alam Minangkabau (1955: 77 – 78).

Orang Minang menyebut negerinya dengan alam Minangkabau. Dimaksud dengan alam Minangkabau yaitu, suatu daerah di tengah pulau Sumatera meliputi provinsi Sumatera Barat, Kuantan dan Kampar Kiri. Ke utara sampai ke Sikalang Air Bangis yaitu batas dengan Tapanuli. Ke Timur sampai ke Taratak Air Hitam, yaitu batas dengan Indragiri. Ke Sialang balantak basi, yaitu batas dengan palalawan. Ke Tenggara sampai ke Sipisak-pisau hanyut, Durian Ditakuak Raja, Tanjuang Simalidu, batas dengan Jambi. Ke Selatan dengan Gunung Patah Sembilan, juga batas dengan Jambi. Ke barat dengan laut nan sididiah yaitu Samudera Hindia (Rajo Penghulu, 1994: 18-28).

Untuk mengetahui seni ukir tradisional Minangkabau yang dimaksud adalah seni ukir yang tersebar di daerah Luhak Nan Tigo yaitu Luhak Tanah Datar meliputi (Kabupaten Tanah Datar dan Solok). Luhak Agam (Kabupaten Agam) dan Luhak Limo Puluh Kota (Kabupaten Limo Puluh Kota), mengingat di tiga luhak inilah seni ukir yang banyak dijumpai. Kenyataan ini memang sesuai dengan informasi yang diberikan oleh pihak permusiuman Sumatera Barat (Usman, 1985: 118). Untuk memahami seni ukir tradisional Minangkabau pahamilah lebih dahulu konsep estetikanya. Konsep estetika tersebut terselip pada sela-sela pandangan hidup dan konsep budaya yang bersumber pada tambo.



B. Tambo Sebagai Konsep Kebudayaan Minangkabau

Usaha untuk penemuan acuan guna memudahkan pemahaman terhadap estetika dan makna-makna tersirat dalam benda-benda budaya tradisional dalam hal ini seni ukir tradisional Minangkabau, ternyata memerlukan peninjauan ke masa lampau yang dapat mengungkapkan latar belakang sejarah dan kebudayaan tradisional tersebut. Agar dapat menerangkan nilai-nilai estetika dan makna-makna seni ukir tradisional Minangkabau yang terdapat pada rumah-rumah adatnya.

Peninjauan ke masa lampau ini seharusnya memerlukan data dan fakta sejarah yang lengkap dan dapat diverifikasikan. Namun data dan fakta yang demikian itu secara langsung tidak dapat dimanfaatkan. Sungguhpun demikian, hal tersebut tidak menjadi persoalan benar, mengingat pokok permasalahan berkaitan dengan pandangan hidup masyarakat Minangkabau.

Gambaran tentang pandangan hidup masyarakat Minangkabau itu biasanya diungkap dalam Tambo Alam Adat Minangkabau, yaitu lukisan sejarah tradisional Minangkabau atau historiografi Tradisional Minangkabau (Abdullah, 1974: 8). Di dalam tambo itu terdapat pantulan-pantulan sikap manusia dan masyarakat Minangkabau terhadap alam, manusia dan masyarakat, serta Maha Pencipta.

Tambo merupakan konsep kesejarahan tradisional kebudayaan masyarakat Minangkabau, yang hingga kini masih hidup dalam kesadaran masyarakat Minangkabau. Yaitu suatu hikayat yang melukiskan mulai dari asal-usul kejadian nenek moyang orang Minangkabau hingga tersusunnya ketentuan-ketentuan adat yang berlaku sampai masa kini. Ajaran-ajaran adat yang terkandung dalam tambo itu masih berfungsi di tengah-tengah masyarakat Minangkabau terutama yang berada di Sumatera Barat. Hal ini dapat dilihat pada upacara yang bersifat seremonial seperti: “batagak rumah gadang, batagak panghulu, perhelatan perkawinan, upacara kekah, turun mandi, kematian, kitanan, dan sebagainya. (Schrieke, 1973: 19-20).



C. Konsep Estetika Minangkabau

Konsep estetika mempunyai pengertian yang bervariasi sesuai dengan tempat, waktu dan keadaan dimana pengertian itu diwujudkan. Secara terminologis estetika itu mempunyai arti sebagai the theory of sentient knowledge “Teori pengetahuan kepekaan rasa”. Istilah estetika itu pertamakali diperkenalkan oleh Alexander Baumgarten (1750, 1758) yang mengartikan estetika sebagai the theory of the beautiful and art “teori keindahan dan seni” (Spirito, 1963: 28). Aristoteles menggunakan istilah-istilah “poetics” dan “rethoric” sebagai pengganti istilah estetika, yang oleh Baumgarten dianggap sebagai disiplin spesialis yang bersumber dari estetika (Sperito, 1963: 29). Sedangkan Bernard Bosanguest dalam Usman, (1985: 85) mengatakan bahwa estetika adalah ilmu pengetahuan dan filsafat keindahan dan seni. Ilmu pengetahuan keindahan dan ilmu pengetahuan seni ini oleh Kant dianggap merupakan dua hal yang tak mungkin dapat digabungkan, karena ilmu pengetahuan kepekaan rasa hanya dalam hubungan instuisi ruang dan waktu. Sedangkan teori seni lebih luas lagi jangkauannya karena harus diintegrasikan dengan konsep-konsep fantasi dan imajinasi pandangan (Sperito, 1963: 29). Estetika adalah filsafat tentang nilai keindahan, baik yang terdapat di alam maupun dalam aneka benda seni buatan manusia (Sumarjo, 2000: 33). Menurut ajaran Thomas Aquino kenikmatan tergantung pada sifat-sifat objektif dari tata bentuk sebagai kesatuan, kesempurnaan , proporsi dan harmoni ( Setjoatmodjo, 1988: 2). Dari pandangan kelima ahli tersebut sudah terlihat bahwa pengertian estetika itu mempunyai pengertian yang bervariasi. Apalagi bila pengertian estetika itu ditinjau dari pandangan dunia timur maka pengertiannya akan lain lagi.

Dalam sejarah estetika, pengertian estetika itu berkembang menurut pandangan hidup dan atau menurut kerangka pikiran para ahli di mana istilah itu ditafsirkan. Oleh karena itu dapat dipahami mengapa terdapat perbedaan makna tentang pengertian estetika antara dunia Barat dan dunia Timur. Di dunia Barat umpamanya, mulai dari teori-teori yang diungkapkan oleh Plato hingga teori-teori yang dikemukakan oleh Benedetto Croce tentang pengertian estetika itu selalu berubah, sesuai pula dengan pandangan dari masing-masing zaman dan tempat berkembangnya. Sebagai contoh ambillah teori mimesis yang tumbuh di Yunani beberapa abad sebelum Masehi. Teori ini dikembangkan oleh Plato menjadi teori bentuk dan bentuk sebagai idea. Teori ini dikembangkan lagi oleh Aristoteles menjadi teori idealismenya (Bosanguent, 1957: 341).

Di dunia Timur pengertian estetika itu tumbuh dan berkembang menurut pandangan hidup masing-masing bangsa. Veda merupakan sumber dari prinsip pengertian estetika India, ajaran-ajaran yang terkandung dalam taoisme dan konfusiusisme merupakan sumber bagi prinsip pengertian estetika Cina (Coomaraswamy, 1956: 3-57). Begitu pula dengan al-Qur’an dan Hadis merupakan sumber bagi prinsip estetika Islam (Buckhardt, 1976: 11-12). Ini berarti bahwa pengertian estetika itu di dunia timur juga bervariasi.

Jadi pengertian estetika itu sungguh tidak tetap, berubah, atau tergantung pada pandangan hidup orang perorangan atau masyarakat yang mendukungnya. Namun sesungguhnya estetika itu mempunyai tempat dalam ilmu pengetahuan filsafat, yaitu, sebagai bagian dari ilmu pengetahuan filsafat yang kedudukannya setaraf dengan bagian-bagian lain seperti, logika, metafisika, etika dan epitemologi. Estetika dapat juga dipandang sebagai filsafat seni, yang pada hakekatnya banyak menelaah persoalan-persoalan hubungan ungkapan bentuk dan ungkapan isi (Sperito, 1963: 32). Dalam hubungan inilah muncul berbagai aspek, baik itu berupa nilai-nilai spiritual, maupun nilai-nilai fisik.

Dari uraian di atas dapat ditarik pengertian konsep estetika yang diperlukan untuk menjelaskan arti konsep estetika dalam seni ukir Minangkabau yang dimaksud, kerangka atau garis besar pengertian yang dapat memberikan gambaran tentang gejala-gejala keindahan menurut pandangan hidup suatu masyarakat, sehingga gejala-gejala tersebut dapat berperan sebagian acuan seni dalam masyarakat tersebut.

Estetika dalam seni ukir Minangkabau juga dapat menampakkan diri sebagai gejala-gejala yang terdapat dalam alam. Ia dapat membentuk gejala tentang bagaimana suatu masyarakat melihat sesuatu, memandang, memberikan arti, makna, dan mengisi pandangan hidupnya terhadap karya-karya seni mereka. Dari sudut inilah konsep estetika Minangkabau itu dapat dipelajari, ditinjau dan dimanfaatkan.

Banyak hal yang dapat diambil dari latar belakang sejarah dan kebudayaan Minangkabau, terutama mengenai nilai-nilai yang terkandung di dalam ajaran adatnya. Ajaran tersebut biasanya dirangkaikan dalam bentuk butir-butir ungkapan kalimat yang disebut petatah petitih. Di antara petatah petitih itu terdapat beberapa ungkapan yang bisa memberikan gambaran tentang gejala keindahan menurut pandangan hidup masyarakat Minangkabau. Gejala-gejala tersebut ada yang menampakan dirinya searah atau sejalan dengan konsep estetika Islam.

Dalam penjabaran konsep estetika Minangkabau ini akan diuraikan empat unsur pokok yang akan menunjang konsep estetika dalam seni Minangkabau tersebut adalah: (1) dasar pandangan hidup Alam Takambang Jadi Guru “Alam terkembang jadi guru” sebagai unsur nilai dan wujud, (2). Sistem penalaran yang terhimpun dalam tungku nan tigo sajarangan, (3) Adat basandi syarak “Adat bersandi syari’at, (4) Perihal bahan, alat, dan cara menggunakannya yang dapat ditarik dari ungkapan petatah petitih. Keempat unsur tersebut saling tunjang menunjang dalam menggambarkan proses kreasi, mulai dari memandang alam objek hingga menggarap alam menjadi subjek yang menyajikan wujud ideal dari aspek-aspek adat. Sekaligus keempat unsur tersebut memberikan gambaran tentang hubungan bentuk dan isi. Sehingga dapat menjadi dasar-dasar konsep estetika Minangkabau (Usman, 1985: 86).



1. Pandangan Hidup Alam Takambang Jadi Guru Sebagai Nilai-Nilai Adat dan Wujud

Pandangan hidup masyarakat Minangkabau yang diungkapkan dalam petatah petitih, secara lengkap berbunyi:

Panakiak pisau siraut, ambiek galah batang lintabung, salodang ambiek kenyiru. Satitiak jadilah laut. Sekapal jadikan gunuang. Alam takambang jadi guru. (Panakik pisau seraut, ambil galah batang lintabung, saludang jadikan niru. Satitik jadikan laut. Sekapa jadikan gunung. Alam terkembang jadi guru).

Bila diperhatikan secara seksama pantun petatah petitih ini, maka tiga kalimat pertama adalah sampiran, dan tiga kalimat terakhir adalah isi kandungan petatah petitih itu sendiri. Keduanya baik sampiran maupun isinya, dapat memiliki makna yang cukup luas dan dalam pengertiannya.

Ditinjau secara harfiah, maka makna kalimat-kalimat tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: Panakik pisau seraut artinya pisau siraut yang biasa dipakai untuk meraut, dapat juga dipakai sebagai alat menakik, dan memahat. Dalam hal ini tersimpul makna agar orang memanfaatkan alam apa adanya, dan jangan menunggu alat serba lengkap baru bekerja, Ambil galah batang lintabung, pohon lintabung ini adalah sebangsa rumput berdaun lebar dan bertangkai daun keras (St. Pamoentjak, 1935: 140), batangnya lurus dan panjang, jadi logis bila dijadikan galah. Ini bahwa alam ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Saludang ambil ke niru, saludang selaku kulit pembalut mayang pinang itu, memang dapat dijadikan model untuk menampi beras.

Jadi, sampiran ini saja sudah mengambil alam sebagai idea dan imajinasinya, dan menunjukkan betapa pentingnya kedudukan alam dalam pikiran orang dan masyarakat Minangkabau.

Selanjutnya, makna yang terkandung dalam tiga kalimat berikutnya dapat pula dijelaskan sebagai berikut. “Setetes jadikan laut”, sesungguhnya makna kalimat ini dapat mempunyai dua pengertian, yaitu, bersyukurlah dan kreatiflah. Anggaplah air setetes itu sebagai laut, maka orang akan berbahagia karena mensyukuri nikmatnya. Atau jadikanlah setetes air itu sebesar laut, maka itu tandanya kreatif. Begitu pula dengan “Sekapal atau segenggam jadikan gunung”, maknanya sama dengan Satitiak jadikan laut. “Alam terkembang jadi guru” ini adalah kalimat kuncinya, yang hendak menyatakan bahwa siapa saja dalam melakukan sesuatu hendaklah selalu berorientasi ke alam, segala-galanya telah disediakan bagi manusia. Alam dapat dijadikan sumber ciptaan manusia, sumber ilmu pengetahuan dan seni, sumber kehidupan. Pendek kata alam itu harus dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Dari uraian di atas terlihat nilai-nilai dari pandangan hidup dan adat Minangkabau yang dapat disarikan dari kalimat alam takambang jadi guru ini. Hal ini merupakan konsep estetika dalam penciptaan seni ukir Minangkabau yang bersumberkan pada alam.

Dalam kaitannya dengan ajaran Islam ayat-ayat Illahi banyak tersimpan di alam, bagi mereka yang dapat membacanya dan mempelajarinya. Ayat-ayat yang menjelaskan fenomena alam ini, dapat dilihat antara lain pada Surah 50, Qaf : 7-8, yang artinya: “Dan tidakkah mereka memperhatikan bumi, bagaimana Kami meluaskannya dan membuat gunung di atasnya, serta Kami tumbuhkan bermacam-macam tumbuh-tumbuhan yang cantik di atasnya (ayat 7). “Sebagai pemandangan dan pengajaran bagi tiap-tiap hamba Allah, yang mau kembali (tobat) kepada-Nya (ayat 8)”. Jadi, alam takambang jadi guru, adalah ayat-ayat Allah yang tercipta dan terkandung dalam alam, sesuai dengan apa yang terbaca dengan baik oleh Dt. Perpatih Nan Sabatang beserta abangnya Dt. Katumanggungan sekalipun Islam baru masuk Minangkabau setelah dua setengah abad kemudian (Nasrun, 1971: 25).

Dalam hal ini alam takambang jadi guru menempatkan diri sebagai nilai-nilai estetika. Dari sudut wujud sebagai bentuk maka alam terkembang jadi guru, pengertiannya dapat dihubungkan dengan teladan, contoh, model sarana dan dorongan. Ini berarti bahwa alam itu dapat diteladani, dicontoh, dan dibuat model, dipakai sebagai saran dan dorongan. Dengan kata lain alam dapat ditiru atau diimitasikan serta menjadi titik tolak penciptaan dan sumber ilham. Soalnya ialah bagaimana bentuk imitasinya? Apakah imitasi 100%, atau sebangsa stilasi, abstraksi, atau ditransformasikan?

Sesuai dengan petatah petitih yang berlaku, maka yang diucapkan itu tak lain adalah bentuk alam secara murni, tetapi mengisahkan sesuatu yang lain daripada itu sendiri. Diberikan bentuk “A” untuk mengabsahkan bentuk “B”.

Contoh: Seperti ruas dengan buku, Seperti kuku dengan daging Seperti aur dengan tebing. Seperti sirih pulang ke gagangnya.

Diwujudkan “ruas dengan buku”, kuku dengan daging, aur dengan tabing dan sirih pulang ke gagangnya”, bukanlah hendak melukiskan ruas dan buku…dst., melainkan hendak mengiaskan suatu pengertian lain yang sesungguhnya dapat diungkapkan dalam satu saja yaitu harmoni atau selaras (Usman, 1985: 89).

Hampir semua petatah petitih mempunyai ungkapan demikian sesuai pula dengan fenomena alam yang serba misteri itu. Jadi kearifan untuk dapat membaca apa yang tersirat diperlukan dalam hal ini. Lalu bagaimana pula dengan wujud visualnya.

Seni rupa tradisional Minangkabau sungguh sangat terbatas pada bentuk-bentuk arsitektur, seni ukir, motif-motif hias pada tekstil dan hiasannya saja. Tidak dikenal bagaimana bentuk seni patungnya atau bentuk seni lukisnya. Oleh karena itu satu-satunya presentasi wujud visual hanya tampil dalam motif-motif hias yang serba flora.

Akan tetapi bentuk-bentuk flora itu sering dikaitkan dengan pengertian lain, karena masing-masing motif seni ukir tradisional sering dikaitkan dengan pengertian lain, karena masing-masing motif itu mempunyai judul yang mengambil nama dari alam tumbuh-tumbuhan, alam hewan, manusia dan benda-benda yang ada di alam ini. wujud floranya sangat mirip alam nyata, tapi maknanya lain. Jadi ada pengertian kiasan dalam wujud visualnya. Dalam hubungan ini pula wujud verbal dan wujud visual mendapat kedudukan yang dapat dikatakan sepadan. Oleh karena itu bentuk-bentuk visual yang ditampilkan tidak berbeda dengan kiasan-kiasan pada petatah petitih.

Dengan demikian jelaslah bahwa alam takambang jadi guru ini, dapat merupakan dua unsur dalam konsep estetika Minangkabau, yaitu unsur nilai dan unsur wujud. Unsur nilainya mengandung makna kiasan, unsur wujudnya menampilkan wajah alami dari khasanah flora. Unsur estetika dalam seni ukir Minangkabau berikutnya adalah unsur norma atau kriteria.



2. Tungku Nan Tigo Sajarangan dalam Penalaran Minangkabau sebagai Norma-norma atau Kriteria

Alam pikiran Minangkabau dapat dikatakan sederhana, namun di dalam kesederhanaannya itulah tersimpan kesulitan-kesulitan memahami pengertian-pengertian yang cukup unik itu. Alam pikiran tersebut dibentuk dengan tiga perangkat alat yang selalu dipakai untuk mempertimbangkan segala permasalahan. Tiga perangkat alat tersebut adalah alua jo patuik, ukua jo jangko dan raso jo pareso. (alur dan patut, ukur dan jangka, rasa dan periksa).

Bila seperangkat alat di atas dialihkan ke bidang seni rupa terutama seni ukir tradisional Minangkabau maka dapat diumpamakan sebagai berikut. Seorang seniman Minangkabau, bila hendak menciptakan sebuah karya, pertama-tama pastilah ia berhasrat hendak membentuk suatu hasil ukiran yang bernilai wajar dan pantas (alua jo patuik). Untuk mencapai hal demikian sudah barang tentu ia akan sampai kepada usaha-usaha dalam proses kreasi dengan menggunakan tata cara tertentu, baik dalam segi patokan, maupun segi teknis yang menggeluti alam dimensi ruang dan dimensi waktu. Dalam hal ini ia berurusan dengan ukur dan jangka (ukua jo jangko). Seterusnya, menjelang titik-titik penyelesaian karyanya dia berada di alam timbang rasa dan pikiran yang dalam bahasa Minangkabau disebut raso jo pareso.

Identifikasi di atas merupakan gambaran umum tentang penalaran menurut aluran adat Minangkabau yang dikaitkan dengan bidang seni. Terhadap hal-hal lebih khusus lagi tentu akan dapat diperiksa pada petatah petitih yang secara langsung atau tidak langsung berhubungan dengan dunia kesenirupaan. Misalnya, dalam sampiran pantun adat yang berbunyi: “Panakiek pisau siraut, ambiek galah batang lintabung, soladang ambiek kanyiru”. (Usman, 1985: 92).

Dalam hal ini istilah pisau siraut sebagai alat untuk menakik, secara tidak langsung, pisau siraut jelas berguna juga sebagai alat peraut di samping alat pemotong, lebih jauh lagi dapat berguna juga untuk alat mengukir dan sebagainya. Satu hal yang sudah pasti adalah ketiga perangkat alat tersebut, dalam konsep estetika Minangkabau jelas merupakan norma-norma atau kriteria yang dapat memelihara nilai-nilai estetika tradisional.


oleh Efrizal

Dosen Seni Rupa FBSS Universitas Negeri Padang

sumber : http://ranahseni.com/mod.php?mod=publish...&artid=149
Reputation
Comments
 
Possibly Related Threads...
Thread:
  Menghitung Secara Cepat Dalam Bahasa Minang
  ABS-SBK dan Jati Diri Minangkabau
  Belajar Sejarah Minangkabau Lewat Randai
  Perguruan Harimau Kuranji, Tempat Pelajari Minangkabau
  Tradisi “Gadaikan Anak” di Minangkabau
  HAK ULAYAT DI MINANGKABAU
  Pambagian Wanita Manuruik Adat Minangkabau
  LKAAM Ajak Lestarikan Budaya Minangkabau
  Seni Tradisi Kalah dengan Organ Tunggal
  Merawat Seni Rakyat Sejak Dini