Hampir seluruh masyarakat memiliki persepsi sama bahwa mengonsumsi es krim akan mengakibatkan adanya potensi penyakit batuk. Suhu dingin es krim dapat mengiritasi saluran pernapasan sehingga menyebabkan penyakit yang dapat mengganggu aktifitas sehari-hari. Namun dari penelitian Rilnia Metha Sofia, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Mataram, es krim coklat justru bisa menjadi obat batuk.
Hal ini diungkapkan Rilna saat mempresentasikan hasil penelitiannya yang berjudul “Es Krim Coklat sebagai Obat Batuk Antitusif” pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke 25 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), kemarin (10/7). Judul inilah yang mengantarkan Rilna dan kawan-kawan lolos sebagai peserta PIMNAS ke 25 kategori Program Kreatifitas Mahasiswa Penelitian (PKM-P)
Rilna menjelaskan, es krim yang dibuat dari bahan cokelat memang memiliki potensi sebagai suatu bahan makanan yang dapat menekan refleks batuk. Hal ini terjadi karena cokelat mengandung zat tobromin yang secara signifikan dapat menekan refleks batuk.
“Cara kerja tobromin ini sama cara kerja obat-obat batuk dalam meredakan batuk,” katanya.
Suhu dingin es menurut Rilna juga justru dapat bekerja secara sinergis dengan tobromin untuk meredakan batuk. Menurutnya, dingin dengan suhu yang sangat rendah, memang dapat menyebabkan terjadinya cedera pada sel, termasuk pada sel saluran nafas sehingga menginduksi terjadinya batuk. Namun, dingin dengan suhu yang lebih tinggi, justru dapat mengakibatkan penyempitan pembuluh darah lokal tanpa menyebabkan cedera pada sel.
“Dengan kondisi ini, rasanya tidak kalah enak dengan es krim yang lainnya,” tambahnya.
Dalam penelitiannya, Rilna menggunakan sampel yang terdiri dari 30 orang mahasiswa laki-laki Fakultas Kedokteran Universitas Mataram. Mereka dibagi menjadi 5 kelompok dan diberi perilaku yang berbeda-beda. Satu kelompok misalnya diberi zat dalam obat batuk Dextrometorphan (DMP). kelompok lain diberi krim coklat atau es krim atau tentunya es krim coklat sehingga dapat diketahui efek yang terjadi pada masing-masing kelompok.
“Es krim cokelat jika dibandingkan dengan DMP memang memiliki efektivitas yang tidak jauh berbeda. Terlebih lagi, es krim cokelat tidak memiliki efek samping yang berarti jika digunakan sebagai obat. Rasanya yang enak akan meningkatkan kepatuhan pasien minum obat, terutama anak-anak,” pungkasnya. (gry/pimnas.umy.ac.id)