Thread Rating:
  • 0 Votes - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
+ Reply to Thread
01-05-2012 10:07 AM
palala Offline
*

  • Dec 2008
  • 651 posts
  • reputations
  • 5 thanks
    Given 36 thank(s) in 33 post(s)
Post: #1
Dominasi Perempuan Minang Dalam Perekonomian
indosiar.com, Sumatera Barat - Rumpuik Dipijak Indak patah, Alu Tataruang Patah Tigo…

Itulah pepatah yang mengatakan bahwa perempuan Minang lemah lembut, tapi di sisi lain, perempuan Minang sangat keras dan tidak lekas menyerah .

Sebagai Limpapeh Rumah Gadang, atau penguasa di rumahnya, perempuan Minang lebih banyak menjadi Puro, atau Bendahara dalam keluarganya.

Di daerah Bukittinggi Kabupaten Agam, Sumatera Barat, kerasnya dan menonjolnya peranan wanita dalam perekonomian bisa dilihat di lingkungann Kampung Kapau. Sebuah perkampungan yang dihuni, didominasi oleh para pedagang nasi Kapau yang seluruhnya perempuan. Kalaupun ada kaum lelaki, mereka lebih banyak sebagai pekerja saja.

Para pedagang nasi Kapau biasanya berjualan dari pasar ke pasar. Salah satunya adalah Hajjah Syamsinar. Perempuan yang lebih akrab disapa Etek Sam oleh penikmat nasi Kapau di Pasar Lereng, Bukittinggi ini, tidak pernah melihat adanya lelaki berperan langsung dalam mengelola dan berdagang nasi Kapau. Sejak ia masih kecil, ketika ia mulai mengikuti neneknya berdagang nasi Kapau dengan berjalan kaki dari pasar ke pasar, tidak pernah mengajak saudaranya yang laki-laki.

Hingga sekarang ia lebih banyak mempekerjakan saudaranya yang perempuan, bahkan untuk pekerjaan berat sekalipun. Ilmunya dalam meracik bumbu, yang sudah dimiliki sejak turun-temurun, pun hanya diajarkan kepada anaknya yang perempuan. Bahkan ilmu berdagang dan pengelolaan keuangan, tidak diajarkan kepada kaum laki-laki.

Tek Syam yang hanya berdagang 4 kali dalam seminggu di dua pasar secara bergantian, sudah mulai mempersiapkan meracik masakannya sejak sore, hingga dinihari, sebelum dibawa ke pasar yang dituju. Rendang itik, atau bebek, adalah khas masakan Etek Syam, dalam berdagang nasi Kapau. Hanya saja untuk memasak rendang itik, butuh persiapan lebih banyak dari jenis masakan lainnya, dengan adonan bumbu yang lebih rumit.

Kepiwaian Etek Syam dalam meracik bumbu telah membuatnya berhasil mendongkrak perekonomian keluarga setelah ditinggal suami belasan tahun lalu. Bahkan keahlian tersebut telah mengantarnya menunaikan ibadah haji ke tanah suci, dan mendirikan rumah yang terbilang mewah di Kampung Kapau.

Kabupaten Agam yang dikenal juga dengan Luhak Agam, tidak saja menelurkan para perempuan perkasa dari Kampung Kapau. Tak jauh dari pusat Kota Bukittinggi, terdapat pusat sulaman bordir milik Hajjah Rosma, yang dikenal juga sebagai aktivis perempuan di Kabupaten Agam. Kegigihannya untuk membina kaum perempuan agar bisa tegar dan mandiri, menjadikannya sebagai pelopor dan cerminan bagi wanita lainnya di daerah ini.

Setelah berbagai usaha dilakukannya untuk bisa bertahan hidup, akhirnya Hajjah Rosma memilih untuk mengembangkan sulaman bordir, yang memang sudah dikuasainya sejak kecil. Kini, usaha sulaman bordir yang telah ia rintis sejak tahun 60-an, telah menjadi patokan sejumlah kreasi bordir yang sekarang banyak terdapat di pasar-pasar sekitar Bukittinggi, bahkan hingga mancanegara.

Hajjah Rosma pun menularkan ilmunya ini pada kaum hawa lainnya. Ratusan perempuan mandiri telah lahir dari didikan tangannya untuk bisa bertahan hidup, dan tidak harus bergantung kepada orang tua atau suami. Pengerjaan bordir harus dilakukan dengan mesin jahit manual, sehingga bisa menghasilkan sebuah kreasi yang mempunyai nilai jual tinggi. Hentakan kaki dan keahlian jari tangan menari diatas gambar, serta memainkan kombinasi warna benang, adalah kuncinya.

Dari roda mesin jahit yang berputar inilah, puluhan remaja ini menumpukan harapan hidup mereka di masa depan, tanpa harus melupakan putaran bumi, yang selama ini lebih banyak membuat kaum mereka tertinggal di belakang.

Dominasi para wanita Minang dalam perekonomian keluarga tak lepas dari sistem Matriakat, atau Matrilineal, yang dianut masyarakat Minangkabau. Seiring dengan perubahan zaman, peran laki-laki lebih banyak dalam keluarganya. Keluarga Minang tidak lagi terkonsentrasi dalam sebuah keluarga besar, namun sudah beranjak menjadi keluarga kecil, atau Nuklear Famili, sehingga peran seorang ayah lebih banyak mendominasi sebuah keluarga.

Tapi sesungguhnya, ini bukanlah sebuah perang antar dua dunia, perempuan atau laki-laki. Sejatinya ini hanyalah soal pembagian tugas. Tidak masalah siapa yang mencari nafkah. Hidup ini indah jika dijalani tanpa prasangka.(Inti)
Reputation
Comments
 
Possibly Related Threads...
Thread:
  Etnis Minang Diminta Lebih Percaya Diri
  Rintihan Minangkabau dalam Lukisan Kamal Guci
  Mengingat Prestasi Orang Minang
  Bersikap Tenang, Kuat Karakter Minang
  Menjadi Perempuan Pembangkang
  Politisi Minang dan Kabinet Beraroma Rendang
  LKAAM Prihatinkan "Parangai Gadih Minang"
  Aliran Sesat Serbu Ranah Minang
  Orang Minang Harus Punya Jiwa Niaga
  Perempuan Minang dalam Sorotan