PADANG-Siapa saja yang belajar sastra Indonesia di bangku sekolah di Indonesia pasti sudah mengenal Datuk Meringgih.
Apalagi Datuk Meringgih identik denga kisah Sitti Nurbaya, kisah klasik Indonesia tentang anak gadis yang malang karena dipaksa kawin oleh orang tuanya.
Tapi, pasti banyak yang tidak mengenal kenapa Marah Rusli, sang penulis novel klasik "Sitti Nurbaya" memberi nama tokohnya yang mengambil tempat kejadian di Kota Padang zaman Kolonial Belanda tahun 1910-an itu dengan "Datuak Meringgih"?
Ya, dengan identitas "datuk" yang bertolak-belakang dengan sikap seorang "datuak" atau "datuk" yang merupakan penghulu kaum di Minangkabau yang harus arif bijaksana.
Dalam novel "Sitti Nurbaya" yang pertama kali diterbitkan Balai Pustaka pada 1922, tokoh Datuk Meringgih disebut seorang saudagar yang termahsyur kaya di Kota Padang yang tinggal di Kampung Ranah, Kota Padang, Sumatera Barat.
Ia seorang laki-laki paruh baya yang buruk rupa. Tubuhnya kurus-tinggi, punggungnya bungkuk udang, dadanya cekung, kakinya pengkar (bengkok), kepalanya besar, tapi tipis di muka, dan sulah (botak), serta rambutnya yang sedikit sudah beruban. Misai dan janggut yang panjang hanya beberapa helai.
Matanya kecil tajam, hidungnya bungkuk, mulutnya besar, giginya hitam dan kotor, yang dimuka keluar sebagai gigi tupai. Telinganya besar seperti telinga gajah, kulit mukanya berkarut marut, dan penuh dengan bekas penyakit cacar.
Perangainya disebut dalam novel klasik ini sama dengan sikapnya yang loba dan tamak. Ia kikir minta ampun. Ia tiada pengasih dan penyayang, serta bengis kasar budi pekertinya. Jika ia ingin membelanjakan uangnya, meski satu sen, dibolak-balik lama menimbang untuk dibayarkan.
Meski begitu ia menjadi tempat meminjam bagi orang, termasuk orang tua si gadis manis Sitti Nurbaya. Sitti Nurbaya dimintanya untuk menjadi istrinya sebagai pembayar utang. Penyuka daun muda yang tak tahu diri!
"Ia bergelar datuk bukanlah karena ia penghulu adat, melainkan panggilan saja baginya," tulis Marah Rusli dalam novel tonggak zaman Balai Pustaka ini.
Kenapa Marah Rusli menggelari tokohnya dengan "Datuk Meringgih"? "Kamus Bahasa Minangkabau- Indonesia" terbitan Balai Bahasa Padang, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional : 2009 menyebut "Datuak Maringgi" (atau Datuk Meringgih) adalah sebutan untuk pimpinan kelompok pendatang dari India, seperti Singh, yang tinggal di Kota Padang sebelum Perang Dunia II.
Sedangkan yang tidak pimpinan disebut "maringgi". Mereka disebut "maringgi" karena badan mereka rata-rata tinggi. Orang-orang India waktu zaman Kolonial Belanda memang banyak banyak menetap di Kota Padang. Umumnya mereka menjadi pedagang, terutama pedagang rempah.
Ketika Marah Rusli menulis novelnya dengan setting zaman itu, sebutan Datuak Maringgi ini termasuk popular di Kota Padang.
Sepertinya Marah Rusli sengaja member gelar kepada tokohnya yang tinggi kurus dan seorang pedagang ini seperti orang-orang Minang menggelari orang India. Bukan seorang penghulu, tetapi seorang yang tinggi! Ya, cocoklah tingginya dengan Damsyik yang memerankan tokoh Datuk Meringgih dalam film Sitti Nurbaya. Tapi, tentu saja Pak Damsyik jauh lebih ganteng. (s/PadangKini.com)