PADANG PARIAMAN, SumbarOnline--Tradisi merantau bagi orang Minang sudah berlangsung sejak lama. Umumnya mereka meninggalkan kampung halaman untuk menuntut ilmu atau mencari nafkah, lalu menetap di negeri orang; mayoritas tidak membawa modal usaha, kecuali kemauan berusaha.
Itu sebabnya masyarakat di kampung halaman tidak bisa menyesali jika perantau sukses tidak peduli pada mereka. Namun, tak sedikit perantau yang membangun negeri asal dikarenakan kuatnya hubungan kultural dan emosional tertanam dalam diri mereka.
Walinagari Pungguang Kasiak Lubuak Aluang, Abizar Datuak Simarajo, mengaku menyadari hal itu. Akan tetapi, mendapati banyak perantau asal nagari-nagari begitu peduli terhadap kampung halaman mereka, ia menyatakan agak berhiba hati lantaran perantau asal wilayah yang dia pimpin tak begitu responsif.
"Padahal, dari sekitar 2.000-an perantau asal nagari kami cukup banyak yang berhasil secara ekonomi, pendidikan atau karier di pemerintahan dan politik, baik di Jakarta maupun daerah lain, bahkan ada yang di luar negeri," ujar Datuak ketika berbincang dengan wartawan
http://www.sumbaronline.com di kantin kantor bupati, Senin (16/1) siang.
Abizar dilantik menjadi walinagari oleh Bupati Ali Mukhni, Selasa (10/1), setelah memenangkan pemilihan walinagari periode 2012 - 2018 dengan suara mayoritas. Sebelumnya pada orde baru ia pernah menjadi Kepala Desa Pungguang Kasiak selama dua periode dan walikorong dengan total pengabdian 16 tahun.
Berdasarkan pengalaman tersebut, katanya, ia tahu benar jika nyaris tak ada perantau asal Pungguang Kasiak yang peduli terhadap pembangunan dan masyarakat di kampung halaman.
"Kalau kepentingannya terganggu barulah mereka pulang untuk mempersoalkannya," cetusnya sembari menceritakan pengalaman pahit tahun 1990-an.
Meski tanpa partisipasi perantau secara nyata, lanjutnya, pembangunan dan perekonomian Pungguang Kasiak yang berpenduduk sekitar 6.000 jiwa tetap berlangsung dengan baik.
"Namun, kamu juga mengharapkan peran para perantau sebagaimana di nagari-nagari lain," ujar pegawai negeri sipil (PNS) yang terakhir bertugas pada Museum Aditiawarman Sumbar dan pensiun tahun 2005.
Perekonomian masyarakat Pungguang Kasiak yang memiliki wilayah seluas hampir 600 hektar itu, umumnya bertani, berladang dan beternak. "Sekitar 400 hektar wilayah kami merupakan lahan persawahan dengan 10 kelompok tani. Namun, fasilitas mesin bajak yang kami miliki baru 10 unit. Idealnya 40 unit," cetusnya lagi.
Pungguang Kasiak yang dilalui saluran primer Irigasi Anai sangat potensial untuk pengembangan mina padi, perpaduan tanaman padi dan pembesaran ikan. Abizar juga menceritakan pengalamannya memanfaatkan itik untuk mengatasi hama dan rumput liar yang tumbuh di antara rumpun padi.