Perhatian untuk member MinangForum untuk membaca peraturan dahulu agar post anda tidak dihapus
Dapatkan aplikasi MinangForum untuk android anda, Klik Disini untuk mendownload


 
Thread Rating:
  • 0 Votes - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
+ Reply to Thread
09-17-2012 10:02 PM

uwan Offline
*

  • Jan 2009
  • 1.496 posts
  • reputations
  • 12 thanks
    Given 75 thank(s) in 62 post(s)
Post: #1
DANAU TARUSAN KAMANG :Pesona Misteri Siklus Dua Wajah
<img src="http://www.harianhaluan.com/images/stories/Berita7/160912/lancong.jpg" height="133" width="191" align="left" />DANAU TARUSAN KAMANG

(..ketika silih berganti,genangan danau berubah menjadi padang
rumput) ...pernahkan Anda bermimpi; suatu hari bermain rakit diatas
riak-riak danau? Lalu pada hari yang lain, danau yg anda arungi berubah
menjadi padang rumput ,dan anak-anak pun bebas bermain bola diatasnya,
ternak-ternak berkeliaran dan mobil-mobil pun bebas melintasi
menyeberang didasar danau yg mengering itu..?, lalu pada bulan
berikutnya, padang rumput itupun kembali menjadi hamparan danau yang
penuh riak..





Dan danau itu, bukanlah cerita dalam dongengan..!

Itulah danau Tarusan Kamang.

Setumpuk pesona yang sekian masa ter­suruk tak terbicarakan oleh
banyak kita. Se­kian lama kita serasa ‘rabun dekat’ tak bisa melihat
bahwa ada sesuatu yang sangat berharga di depan ma­ta kita. Kalaupun
me­lihat, kita ternyata kurang mem­per­gun­jingkan dan kurang berbagi
kabar, hingga cerita pesona Danau Dua Wajah ini tak begitu akrab di
telinga banyak orang. Bahkan ironisnya tak sedikit masyarakat Agam dan
Bukittinggi yang masih ‘asing’ dengan pesona misteri danau indah dan
unik ini.

Dengan jarak lebih kurang 15 Km dari Jam Gadang Bukit­tinggi, lokasi
danau ini tentulah tak bisa dibi­lang terlalu jauh. Bisa ditem­puh 20
menit dari pusat kota Bukittinggi dengan mobil pribadi dalam akses jalan
yang cukup bagus, dengan sepeda motor juga nyaman karena kita melintas
diantara sawah-sawah alam pedesaan ranah Tilatang Kamang, dengan angkot
kode 01 jurusan Kamang Mudiak Pakan Sina­yan, kitapun sudah bisa sampai
di pangkal bibir danau yang sedang menggenang atau tengah mengering itu.
Sedikit menelusuri jalanan sempit lebar 3 meter di antara rumah-rumah
penduduk, lalu berjalan di antara kandang-kandang kerbau, kitapun
dihantar ke hamparan padang rumput landai dan indah di pojok danau. Di
hamparan padang rumput landai inilah wisa­tawan bebas berkumpul,
ber­main dengan berbagai akti­vitas menikmati setumpuk danau indah penuh
misteri ini.

Hal unik dari Danau Ta­rusan Kamang:

Secara umum, Danau Ta­ru­san merupakan cekungan landai yang dipagari
per­bukitan bernama Bukit Pan­jang, udaranya yang sejuk karena diapit
bukit dengan rerimbunan hutan, membuat sensasi tersendiri ketika kita
tengah berada di bibir danau. Sapaan penduduk yang ramah kepada tiap
pengunjung dan ternak gembala yang berke­liaran menjadi ilustrasi
sua­sana khas kampung Tarusan.

Tidak seorangpun yang tahu pasti, kapan danau ini menggenang dan
kapan akan mengering lagi jadi padang rumput. Satu-satunya yang se­ring
menjadi isyarat bagi penduduk sekitar adalah, adanya bunyi dentuman di
pojok da­nau. Bila pada suatu waktu terdengar bunyi dentuman, itu
pertanda esok harinya air akan muncul dan meng­genang, dan
bera­ngsur-angsur membentuk danau. Tak ada sungai di tarusan kamang, air
itu muncul dan menghilang begitu saja ke perut bumi. Lubang-lubang di
celah bebatuan di pojok danau adalah tempat muncul dan menghilangnya air
atau yg sering disebut ‘aia luluih’ atau ‘Pu­pukan’. Ketika
air mulai menggenang , maka ikan-ikan dan udang pun bermunculan.
Pe­tani-pertani yang sawahnya di bibir danau dan kini teren­dam air,
kini mulai ber­akti­vitas mencari ikan dan men­jaring udang. Konon,
dulunya ikan-ikan di danau tarusan cukup besar-besar, tapi kini hanya
tinggal ikan-ikan kecil yang dikenal dengan ‘Pantau Tarusan’. Aktivitas
mencari ikan dengan rakit dan meng­gunakan tangguk/jaring berca­bang
empat men­jadi peman­dangan khas yang dikenal juga dengan tradisi
‘Paso/Pasok.’.

Meski secara ilmiah bebe­rapa kajian bisa menceritakan bagaimana
tentang kebe­radaan air di lapisan perut bumi, namun proses muncul dan
menghilangnya air yang selalu menjadi siklus unik di Tarusan ini tetap
saja men­jadi cerita misteri yang tak berujung. Kisah misteri Danau
Tarusan pun semakin menjadi perbincangan dengan setum­puk gundukan tanah
yang terhampar di tengah danau, atau yang dinamakan ‘Padang Doto’ atau
Padang Data.

Di tengah gundukan terse­but tumbuh sebuah pohon Beringin ukuran
kecil dan tak bisa tumbuh membesar. Ke­tika air danau naik dan
menggenang semakin tinggi, pohon beringin di tengah gundukan tanah
itupun tak pernah ikut terendam. Pohon dan gundukan tanah itu seo­lah
ikut mengapung seiring naik­nya air.

Meski sarat kisah misteri, namun menyeberang menga­yuh rakit menuju
pohon beri­ngin di tengah danau, tetap menjadi kesahduan tersendiri bagi
pengunjung danau.

Pesona susana danau itupun akan berganti drastis ketika air mulai
menyusut dan perlahan mengering. Ham­paran danau yang tadi mem­bentang
diantara kaki-kaki bukit kini berubah men­jadi padang rumput menghijau
yang luasnya berpuluhkali luas lapangan sepakbola. Beberapa tonggak
gawang mulai terpancang tempat anak-anak kampung bermain bola setiap
petang. Ratusan ternak kerbau bebas merum­put dan berkeliaran di dasar
danau. Mobil-mobil pribadi dan kendaraan bermotor juga bebas masuk
menikmati dasar danau yg kini menghijau. Batu-batu besar dengan
lu­bang-lubang menganga tempat air menghilang di pojok danau jelas
terlihat di depan mata. Puluhan rakit rambu pun kini terdampar melapuk
di sepan­jang bibir danau. Tambak-tambak mini yg semula digu­nakan
penjaring ikan dan udang, kini menjadi petak-petak kering penuh
ranjau-ranjau bambu.

Itulah siklus danau dua wajah yang silih berganti. Tidak ada yang
tahu pasti kapan danau itu akan meng­genang dan kapan akan beru­bah
menjadi padang rumput. Hanya saja seorang nenek tua yang tinggal di
pinggir danau sempat mengi­ra-ngira, kalau menjelang bulan haji atau
Idhul Adha biasanya air akan mun­cul. Namun beliau tetap tak berani
memastikannya. Semua atas Kuasa Sang Pencipta, jangan pernah mendahului,
bisik sang nenek.

Kristal Indah yang Belum Terasah

Melihat kondisi danau tarusan di hari ini, tak ubah­nya sekeping
kristal indah yang belum terasah. Butuh tangan-tangan dingin penuh
kreatifitas untuk membenah dan mengolah asset indah yg sarat sejarah dan
kisah mis­teri yang melimpah.

Terkadang kita bermimpi, bagaimana danau ini bisa dijadikan kunjungan
akbar para wisatawan dalam dan luar negeri. Hal-hal unik menjadi daya
tarik nan ekso­tik. Lahan dan kondisi alam yang kaya ragam kiranya punya
potensi untuk dige­larnya ragam event budaya dan olahraga dalam kelas
bergengsi. Kalau ‘babendi-bendi ka sungai tanang’ kini hanya tinggal
impian, mungkin “Babendi-bendi ka Tarusan Kamang’ suatu hari nanti bisa
menjadi kenyataan…! (haluan/Erison J Kambari)

jariah manantang buliah
(This post was last modified: 09-17-2012 10:04 PM by uwan.)
Reputation
Comments
 
Possibly Related Threads...
Thread:
  Pesona Pasir Putih di Pantai Sago Permai
  Pesona Matahari Senja di Pantai Padang
  Pesona Lawang Park Dan Danau Maninjau
  Harau, Pesona Wisata 50 Kota Dapat PNPM Pariwisata
  Pesona Tabiang Takuruang di Ngarai Sianok
  Sekilas-Profil Objek Wisata Danau Singkarak
  Mendaki Bukit Aur Serumpun, Menikmati View Danau Singkarak
  Puncak Lawang Danau Maninjau
  Danau Maninjau Terkini: Kisah Asmara yang Tercemar
  Birunya Danau Singkarak yang Tak Bisa Terlukiskan