<img src="http://www.harianhaluan.com/images/stories/Berita7/160912/lancong.jpg" height="133" width="191" align="left" />DANAU TARUSAN KAMANG
(..ketika silih berganti,genangan danau berubah menjadi padang
rumput) ...pernahkan Anda bermimpi; suatu hari bermain rakit diatas
riak-riak danau? Lalu pada hari yang lain, danau yg anda arungi berubah
menjadi padang rumput ,dan anak-anak pun bebas bermain bola diatasnya,
ternak-ternak berkeliaran dan mobil-mobil pun bebas melintasi
menyeberang didasar danau yg mengering itu..?, lalu pada bulan
berikutnya, padang rumput itupun kembali menjadi hamparan danau yang
penuh riak..
Dan danau itu, bukanlah cerita dalam dongengan..!
Itulah danau Tarusan Kamang.
Setumpuk pesona yang sekian masa tersuruk tak terbicarakan oleh
banyak kita. Sekian lama kita serasa ‘rabun dekat’ tak bisa melihat
bahwa ada sesuatu yang sangat berharga di depan mata kita. Kalaupun
melihat, kita ternyata kurang mempergunjingkan dan kurang berbagi
kabar, hingga cerita pesona Danau Dua Wajah ini tak begitu akrab di
telinga banyak orang. Bahkan ironisnya tak sedikit masyarakat Agam dan
Bukittinggi yang masih ‘asing’ dengan pesona misteri danau indah dan
unik ini.
Dengan jarak lebih kurang 15 Km dari Jam Gadang Bukittinggi, lokasi
danau ini tentulah tak bisa dibilang terlalu jauh. Bisa ditempuh 20
menit dari pusat kota Bukittinggi dengan mobil pribadi dalam akses jalan
yang cukup bagus, dengan sepeda motor juga nyaman karena kita melintas
diantara sawah-sawah alam pedesaan ranah Tilatang Kamang, dengan angkot
kode 01 jurusan Kamang Mudiak Pakan Sinayan, kitapun sudah bisa sampai
di pangkal bibir danau yang sedang menggenang atau tengah mengering itu.
Sedikit menelusuri jalanan sempit lebar 3 meter di antara rumah-rumah
penduduk, lalu berjalan di antara kandang-kandang kerbau, kitapun
dihantar ke hamparan padang rumput landai dan indah di pojok danau. Di
hamparan padang rumput landai inilah wisatawan bebas berkumpul,
bermain dengan berbagai aktivitas menikmati setumpuk danau indah penuh
misteri ini.
Hal unik dari Danau Tarusan Kamang:
Secara umum, Danau Tarusan merupakan cekungan landai yang dipagari
perbukitan bernama Bukit Panjang, udaranya yang sejuk karena diapit
bukit dengan rerimbunan hutan, membuat sensasi tersendiri ketika kita
tengah berada di bibir danau. Sapaan penduduk yang ramah kepada tiap
pengunjung dan ternak gembala yang berkeliaran menjadi ilustrasi
suasana khas kampung Tarusan.
Tidak seorangpun yang tahu pasti, kapan danau ini menggenang dan
kapan akan mengering lagi jadi padang rumput. Satu-satunya yang sering
menjadi isyarat bagi penduduk sekitar adalah, adanya bunyi dentuman di
pojok danau. Bila pada suatu waktu terdengar bunyi dentuman, itu
pertanda esok harinya air akan muncul dan menggenang, dan
berangsur-angsur membentuk danau. Tak ada sungai di tarusan kamang, air
itu muncul dan menghilang begitu saja ke perut bumi. Lubang-lubang di
celah bebatuan di pojok danau adalah tempat muncul dan menghilangnya air
atau yg sering disebut ‘
aia luluih’ atau ‘Pupukan’. Ketika
air mulai menggenang , maka ikan-ikan dan udang pun bermunculan.
Petani-pertani yang sawahnya di bibir danau dan kini terendam air,
kini mulai beraktivitas mencari ikan dan menjaring udang. Konon,
dulunya ikan-ikan di danau tarusan cukup besar-besar, tapi kini hanya
tinggal ikan-ikan kecil yang dikenal dengan ‘Pantau Tarusan’. Aktivitas
mencari ikan dengan rakit dan menggunakan tangguk/jaring bercabang
empat menjadi pemandangan khas yang dikenal juga dengan tradisi
‘Paso/Pasok.’.
Meski secara ilmiah beberapa kajian bisa menceritakan bagaimana
tentang keberadaan air di lapisan perut bumi, namun proses muncul dan
menghilangnya air yang selalu menjadi siklus unik di Tarusan ini tetap
saja menjadi cerita misteri yang tak berujung. Kisah misteri Danau
Tarusan pun semakin menjadi perbincangan dengan setumpuk gundukan tanah
yang terhampar di tengah danau, atau yang dinamakan ‘Padang Doto’ atau
Padang Data.
Di tengah gundukan tersebut tumbuh sebuah pohon Beringin ukuran
kecil dan tak bisa tumbuh membesar. Ketika air danau naik dan
menggenang semakin tinggi, pohon beringin di tengah gundukan tanah
itupun tak pernah ikut terendam. Pohon dan gundukan tanah itu seolah
ikut mengapung seiring naiknya air.
Meski sarat kisah misteri, namun menyeberang mengayuh rakit menuju
pohon beringin di tengah danau, tetap menjadi kesahduan tersendiri bagi
pengunjung danau.
Pesona susana danau itupun akan berganti drastis ketika air mulai
menyusut dan perlahan mengering. Hamparan danau yang tadi membentang
diantara kaki-kaki bukit kini berubah menjadi padang rumput menghijau
yang luasnya berpuluhkali luas lapangan sepakbola. Beberapa tonggak
gawang mulai terpancang tempat anak-anak kampung bermain bola setiap
petang. Ratusan ternak kerbau bebas merumput dan berkeliaran di dasar
danau. Mobil-mobil pribadi dan kendaraan bermotor juga bebas masuk
menikmati dasar danau yg kini menghijau. Batu-batu besar dengan
lubang-lubang menganga tempat air menghilang di pojok danau jelas
terlihat di depan mata. Puluhan rakit rambu pun kini terdampar melapuk
di sepanjang bibir danau. Tambak-tambak mini yg semula digunakan
penjaring ikan dan udang, kini menjadi petak-petak kering penuh
ranjau-ranjau bambu.
Itulah siklus danau dua wajah yang silih berganti. Tidak ada yang
tahu pasti kapan danau itu akan menggenang dan kapan akan berubah
menjadi padang rumput. Hanya saja seorang nenek tua yang tinggal di
pinggir danau sempat mengira-ngira, kalau menjelang bulan haji atau
Idhul Adha biasanya air akan muncul. Namun beliau tetap tak berani
memastikannya. Semua atas Kuasa Sang Pencipta, jangan pernah mendahului,
bisik sang nenek.
Kristal Indah yang Belum Terasah
Melihat kondisi danau tarusan di hari ini, tak ubahnya sekeping
kristal indah yang belum terasah. Butuh tangan-tangan dingin penuh
kreatifitas untuk membenah dan mengolah asset indah yg sarat sejarah dan
kisah misteri yang melimpah.
Terkadang kita bermimpi, bagaimana danau ini bisa dijadikan kunjungan
akbar para wisatawan dalam dan luar negeri. Hal-hal unik menjadi daya
tarik nan eksotik. Lahan dan kondisi alam yang kaya ragam kiranya punya
potensi untuk digelarnya ragam event budaya dan olahraga dalam kelas
bergengsi. Kalau ‘babendi-bendi ka sungai tanang’ kini hanya tinggal
impian, mungkin “Babendi-bendi ka Tarusan Kamang’ suatu hari nanti bisa
menjadi kenyataan…!
(haluan/Erison J Kambari)