The following warnings occurred:
Warning [2] file_get_contents(http://graph.facebook.com/?ids=http://www.minangforum.com/Thread-Bercerita-Minangkabau-Tempo-Doeloe-Lewat-Lukisan): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 403 Forbidden - Line: 806 - File: inc/plugins/fbmeta.php PHP 5.3.28 (Linux)
File Line Function
[PHP]   errorHandler->error
/inc/plugins/fbmeta.php 806 file_get_contents
/showthread.php(1196) : eval()'d code(42) : eval()'d code 1 fb_comment_count
/showthread.php(1196) : eval()'d code 42 eval
/showthread.php 1196 eval
Warning [2] file_get_contents(http://graph.facebook.com/?ids=http://www.minangforum.com/Thread-Bercerita-Minangkabau-Tempo-Doeloe-Lewat-Lukisan): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 403 Forbidden - Line: 806 - File: inc/plugins/fbmeta.php PHP 5.3.28 (Linux)
File Line Function
[PHP]   errorHandler->error
/inc/plugins/fbmeta.php 806 file_get_contents
/showthread.php(1196) : eval()'d code(131) : eval()'d code 1 fb_comment_count
/showthread.php(1196) : eval()'d code 131 eval
/showthread.php 1196 eval



Perhatian untuk member MinangForum untuk membaca peraturan dahulu agar post anda tidak dihapus
Dapatkan aplikasi MinangForum untuk android anda, Klik Disini untuk mendownload


 
Thread Rating:
  • 0 Votes - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
+ Reply to Thread
06-19-2013 04:13 PM

uwan Offline
*

  • Jan 2009
  • 1.496 posts
  • reputations
  • 12 thanks
    Given 75 thank(s) in 62 post(s)
Post: #1
Bercerita Minangkabau Tempo Doeloe Lewat Lukisan
<img src="http://www.padangmedia.com//foto/berita/Marah.jpg" align="left" width="250" />Marah Agus YunusPADANG Media
- Bercerita tentang Minangkabau tempo doeloe lewat lukisan, itulah yang
menjadi konsentrasi sang Maestro lukis asal Sumatera Barat, Marah Agus
Yunus. Usia yang terus beringsut senja ternyata tidak menjadi alasan
bagi sang Pelukis legendaris ini untuk menceraikan kuas dengan kanvas.
Meski sorot mata tidak lagi setajam dulu, ia masih setia menekuri kanvas
untuk membubuhkan cat minyak dengan keahlian tangan dan kecemerlangan
imajinasinya.

Ketika itu, Rabu (12/6), senja mulai turun di langit Kota Padang.
Matahari mengurai cahaya merah jingga. Biasnya jatuh di trotoar, di
atap-atap, dan pepohonan. Dalam suasana alam demikian romantis, Marah
terus saja khusyuk membubuhkan wewarna, memindahkan keindahan
imajinasinya ke permukaan kanvas. Ia sedang mengerjakan sebuah lukisan
dengan tema baralek gadang di Minangkabau. Di sebuah ruang khusus pada
salah satu galeri di Pasar Seni Taman Budaya Sumbar, Marah telah
menyelesaikan beberapa lukisannya. Lukisan dengan tema baralek gadang
yang tengah ia kerjakan, menggambarkan sebuah prosesi baarak anak daro
jo marapulai dalam tradisi Minangkabau, lengkap dengan para penari
gelombag, pemain tambua, serta niniak mamak, di halaman Rumah Gadang.

Sejak remaja, Marah telah menekuni seni lukis. Meski tak mengenyam
pendidikan khusus seni rupa di perguruan tinggi, ia begitu piawai dalam
bidang kesenian yang satu ini. Ia belajar secara otodidak. Setamat dari
STM, Marah sempat bekerja di Departemen Penerangan Sumbar kala itu.
Namun, tak bertahan lama. Jiwa senimannya memberontak, ia lebih memilih
menekuni seni lukis dan menghasilkan karya. Ia pun menjadi salah satu
seniman lukis legendaris yang karya-karyanya telah tersebar di seluruh
penjuru negeri hingga luar negeri, seperti Jerman, Swiss, Amerika,
Australia, Malaysia, dan sejumlah negara lainnya di Eropa.

Sejak tahun1970-an hingga kini, Pelukis kelahiran Padang, 17 Agustus
sekitar 76 tahun lalu ini telah menghasilkan lebih dari 1000 lukisan
yang terpajang di sejumlah galeri, rumah kenegaraan, hotel-hotel mewah,
di dinding rumah sejumlah tokoh nasional seperti Amien Rais, Siswono,
termasuk beberapa lukisannya yang terpajang di dinding rumah Sutan Zaili
Asril, Kadivre Riau Pos Group Sumbar.

“Lukisan saya sudah banyak tersebar di berbagai tempat, ada juga yang
terpajang di hotel-hotel yang ada di Padang ini, termasuk lukisan yang
dipajang di Hotel Ambacang dan ikut hancur saat gempa 2009 lalu,” ujar
putra dari seorang Kapten Kapal yang membawahi orang-orang Belanda
sebagai anak buah kapal, pada zaman pendudukan Belanda.

Marah memilih Minangkabau tempo doeloe sebagai tema sebagian besar
lukisannya bukan tanpa alasan. Baginya, ini merupakan bentuk perjuangan
melalui karya seni dalam rangka melestarikan serta memperkenalkan
kebudayaan Minangkabau kepada dunia. Seperti apa yang telah ia lakukan
selama ini, lukisan-lukisannya yang tersebar di berbagai negara, seperti
sejumlah negara di Eropa, serta merta telah memperkenalkan Minangkabau
kepada dunia luar.

“Dengan begitu, melalui lukisan ini, Minangkabau diperkenalkan kepada
dunia luar. Setidaknya mereka mendapatkan sedikit gambaran tentang
kebudayaan Minangkabau melalui cerita yang disajikan lewat
lukisan-lukisan saya itu,” ujar Pelukis yang beralamatkan di Gantiang
Padang ini.

Berbagai iven pameran karya seni baik dalam maupun luar negeri telah
diikutinya. Meski harus diakui Marah, ia mempersiapkan sendiri untuk
mengikuti iven-iven tersebut sementara dari pemerintah sendiri minim
sokongan.

“Hal seperti ini seperti sudah lumrah saja di negeri ini, dimana para
seniman harus bersitungkin menghidupkan kebudayaan dengan jerih
sendiri, sementara pemerintah terus saja menggembar-gemborkan misi
memajukan kebudayaan, sementara abai dengan keberadaan mereka para
seniman yang sesungguhnya telah bekerja-keras untuk itu,” sesalnya.

Sementara itu, melihat perkembangan dunia seni saat ini yang telah
melahirkan sejumlah seniman termasuk para pelukis muda, Marah menaruh
harap. Kelak di antara para seniman muda yang dilahirkan zaman kini,
terutama di Ranah Minang, ada yang benar-benar memiliki jiwa Minang
seperti halnya dirinya. Sehingga apa yang mereka hasilkan dalam bentuk
karya, tidak terlepas dari upaya melestarikan serta mengenalkan
kebudayaan Minangkabau kepada generasi muda yang barangkali telah
berjarak dengan tradisi ataupun corak kehidupan kebudayaan Minangkabau
tempo doeloe.

“Seniman muda saat ini memang telah banyak bermunculan, namun yang
benar-benar memiliki jiwa Minang, itu yang saya harapkan akan
melanjutkan perjuangan saya ini. Sebab, para seniman muda saat ini,
khususnya di bidang seni lukis, lebih banyak menghasilkan karya dengan
tema kontemporer. Saya khawatir, generasi di masa datang tidak lagi
berkesempatan melihat gonjong rumah gadang kecuali di istano
Pagaruyuang, contohnya saja seperti kincia yang ada di lukisan saya ini,
sekarang sudah sangat langka atau mungkin sudah tidak ada lagi, kincia
atau lasuang aie ini dulu digunakan orang untuk menumbuk padi,” cerita
Marah seraya menunjukkan beberapa lukisannya yang terpajang di galeri
tempat ia melukis.

Bagi Marah, berkesenian telah menjadi nafas yang mengalir dalam
kehidupannya. Tidak ada batas usia untuk terus berkarya. Selama mata
masih mampu menangkap cahaya, dan jemari masih menyimpan kekuatan untuk
bergelut dengan kuas dan kanvas, ia akan terus mengabadikan keping demi
keping kenangan Minangkabau tempo doeloe, sebagai jembatan ingatan yang
menghubungkan para generasi muda zaman kini dengan kehidupan kebudayaan
Ranah Minang di masa lalu. (Yeni Purnama Sari)

jariah manantang buliah
(This post was last modified: 06-19-2013 04:14 PM by uwan.)
Reputation
Comments
 
Possibly Related Threads...
Thread:
  Sosok Perempuan Minangkabau
  Versailles dan Minangkabau
  Imam Masjidil Haram dari Minangkabau
  Bundo Kanduang Ibu Sejati Menurut Adat Minangkabau
  Walisongo Ada yang Keturunan Minangkabau?
  Batik Ciri Khas Minangkabau-Tanah Liek
  Basuluak, Tarekat ala Minangkabau
  tata Cara Mendirikan Rumah di Minangkabau
  Adaptasi Seni Budaya China di Minangkabau
  Sesobek Kecil Sejarah Sahaya di Minangkabau