Waspada tsunami….!Agaknya masyarakat sepanjang pantai pesisir Sumatera Barat, perlu meningkatkan kewaspadaan kemungkinan terjadinya tsunami. Pasalnya, terdapat temuan baru terhadap potensi terjadinya tsunami, yakni, tidak hanya memboncengi gempa besar, gempa relatif kecil pun, bisa mengakibatkan tsunami. Sumbernya, longsoran lereng bawah laut di bagian tenggara gugusan pulau di wilayah pesisir Padang.
Ya, itulah fakta terbaru yang ditemukan dalam ekspedisi LIPI ( Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ) bekerja sama dengan IPG ( Institut de Physique du Globe ) de Paris sejak 15 Februari 2008, yang mempelajari kesenjangan seismik antara Pulau Siberut dan Pagai. Riset ini bagian dari proyek SAGE ( Sumatera-Andaman Great Earthquake )
Ekspedisi yang berakhir Kamis (7/3-2008) pekan lalu itu, melibatkan lebih 50 peneliti dari 16 institusi internasional, termasuk Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Pusat Penelitian Geologi Kelautan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, serta Departemen Kelautan dan Perikanan. Proyek ini didanai Kementerian Luar Negeri Perancis melalui program Delegasi Antarpemerintah setelah Tsunami Aceh 2004.
Penelitian menunjukkan, ada serangkaian sesar anjak aktif (back thrust) di timur laut Kepulauan Mentawai yang dapat menimbulkan tsunami akibat aktivitas gempa di zona subduksi lempeng Indo-Australia terhadap Eurasia.
Lereng di sesar anjak itu diketahui runtuh selama gempa tektonik tahun 2004, 2005, dan 2007. Ditemukan pula bebas tanah longsor bawah laut yang sangat besar terkait dengan gempa-gempa itu. Bahkan terdapat sedimen masif di sana yang dilengkapi dengan sesaran anjak (back thrust) sebagai sumber pelontar gempa. Tidak perlu kuat, asal gempa mampu membuat sedimen itu terpeleset menjadi apa yang disebut sebagai big landslide,tsunami bisa terpicu.
Ada kemungkinan longsoran ini penyebab tsunami tahun 1797 di Kota Padang setinggi lima meter. “Bagian terpenting di tenggara Kepulauan Mentawai yang diteliti menunjukkan, daerah rawan tanah longsor bawah laut yang mungkin terpicu bila terjadi gempa bumi. Sangat penting dilakukan penelitian lebih lanjut di daerah ini untuk keperluan mitigasi tsunami akibat longsoran bawah laut,” lanjut pemimpin ekspedisi tersebut.
Tim menemukan bekas megalongsor di sebelah timur Siberut. Diduga longsor itu penyebab tsunami yang menerjang Padang 1797 lalu. Terlebih ditemukan pula backthrust atau sesar gempa di antara Kepulauan Mentawai dan daratan Sumatera. Sesar yang sama yang diduga menyebabkan Pulau Nias saat ini senjang ke arah timur, berlawanan dengan efek tumbukan antarlempeng benua di zona subduksi di sebelah baratnya.
Peneliti Puslit Geoteknologi LIPI Haryadi Permana mengungkapkan, kepenasaran para ahli dari gempa gempa 1797 yang menyebabkan tsunami di Padang, tapi tidak di Bengkulu, sedangkan tahun 1833, gempa di kawasan yang sama, tsunami di Bengkulu, tapi tidak di Padang. Begitupun dengan lima rentetan gempa besar berskala lebih dari 7,8 SR selama 3,5 tahun terakhir di pesisir barat Sumatera. Tapi kenapa hanya dua kali tsunami? pertanyaan ini akhirnya terjawab.
Kenapa pada 1797 tsunami sangat lokal, tidak seperti tsunami pada Desember 2004 yang menyebar gelombangnya sampai ke negara lain. Jawabannya adalah gempa tak terlalu kuat, tapi menyebabkan longsor di bawah laut itu. Longsor memicu tsunami setinggi 5 meter yang mengarah langsung ke Padang.
“Lebih mengejutkan adalah, kami menemukan banyak tumpukan sedimen yang masih intact di banyak tempat yang sewaktu-waktu mereka bisa longsor juga,” ujar Satish.
Di Siberut saja, masih ada sekitar 300 x 10 kilometer persegi tumpukan sedimen di kelerengan lebih 30 derajat. Dari data batimetri resolusi tinggi dan seismik pantul rekaman, Satish mengukur volumenya mencapai tiga kali material letusan Gunung Krakatau yang luruh ke dalam laut pada 1883.
Sedimen itu tinggal menunggu pemicu yang tepat. Mirip bom waktu karena, “Tidak perlu gempa besar, yang kecil saja dari backthrust, tapi menyebabkan longsor. Dan tsunami bisa terulang,” sambung Haryadi.
Untuk itu, pengetahuan soal tsunami akibat longsoran bawah laut menjadi dasar mendesain ulang sistem peringatan dini tsunami, jalur evakuasi, dan mitigasinya. Ancaman tsunami itu ditemukan di bagian timur laut Kepulauan Mentawai sekitar 700 kilometer.
Lebih berbahaya, ancaman itu bisa terlambat dideteksi oleh rangkaian Dart Buoy (pendeteksi gelombang laut) yang sudah dipasang. Dalam rancangan peta Indonesia Tsunami Warning System, peralatan itu memang dipasang untuk mendeteksi gelombang abnormal yang datang dari gempa di zona subduksi. Gempa di zona tersebut bisa memicu tsunami yang menyapu ke kawasan regional di sekeliling Samudra Hindia, termasuk Indonesia.
Dalam survei PreTI-Gap, terekam lebih dari 900 kilometer persegi data batimetri resolusi tinggi dan 800 kilometer data seismik pantul yang mendukung temuan. Itu hanya untuk daerah sepanjang 500 kilometer pada segmen timur laut Kepulauan Mentawai.
Skenario yang mungkin terjadi. Pertama : longsor di dasar laut bisa menyibak air di atasnya. Kedua: air laut tidak akan berlama-lama membiarkan sibakan itu. Gelombang akan tercipta untuk mengisinya kembali. Ketiga : sejumlah besar massa air akan tersebar dalam lingkaran konsentrik.
Keempat : di laut lepas, tsunami yang tercipta mungkin masih kurang dari semeter dan hampir tidak dirasakan oleh kapal laut. Tapi gelombang tersebut bisa terentang sampai radius 100 kilometer dan melaju 750 kilometer per jam.
Kelima : mendekati garis pantai, dasar laut yang menanjak akan memperlambat gelombang itu. Karena yang depan melambat, gelombang yang datang di belakangnya akan berbenturan, menciptakan “dinding” air yang bisa setinggi gedung 10 lantai.
Keenam: tsunami melabrak daratan. Ketujuh : sebagian dari energinya akan menggerus pantai, mencerabut pepohonan nyiur, dan menghancurkan bangunan. Dan terakhir, kedelepan : sisa energinya akan direfleksikan kembali ke laut.
Pakar tsunami dari Puslit Geoteknologi LIPI Danny Hilman Natawidjadja, menekankan perlunya perhatian lebih terhadap teori tersebut. Mirip dengan gejala yang sama terjadi di Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 1992 dan Simeuleue, Aceh, pada 1907.
“Gempa sebenarnya berasal dari gerakan patahan yang tidak besar, tapi terjadi tsunami,” imbuhnya.“Tapi, contoh paling mudah adalah saat Krakatau meletus,” kata Satish.
Ancaman tsunami itu, luput dari perhatian peneliti lokal, termasuk dalam merancang peta Indonesia Tsunami Warning System yang akan diluncurkan November mendatang. “Sebab, selama ini lebih fokus mendesainnya untuk sumber gempa yang berasal dari zona subduksi. Tentu saja, ancaman tsunami yang sangat lokal ini juga sangat penting dan kami harus mendesain ulang peta itu,” kata Danny.
Gempa berskala kecil masih terus terjadi, sebagian besar tercatat di sekitar Pulau Sipora. Melihat rekaman pusat-pusat gempa, lokasinya berada di bagian tepi segmen kegempaan yang berada di bawah Pulau Siberut, yang belum pernah melepaskan energi. Segmen Kegempaan Pagai telah melepas sekitar 40 persen energinya pada gempa tahun lalu.
Indikasi ini hendaknya dijadikan dasar meningkatkan kewaspadaan masyarakat dan Pemda Padang. Tsunami akibat longsoran bawah laut itu, katanya, untuk sampai di pantai timur kepulauan hanya butuh beberapa menit. Perambatan gelombang perlu waktu sekitar 15 menit untuk sampai di pantai Padang.
Kini, data akurat, delapan kota – kabupaten di Sumbar rawan ancaman tsunami. Tsunami pukul 21.42 WIB Senin 25 Oktober 2010 yang melanda Mentawai, menurut US Geological Survei ( USGS ), berkekuatan 7,7 skala Richter, namun versi BMKG 7,2 SR. Gempa menimbulkan tsunami dan melanda tiga kecamatan, di Pagai dan Sipora. Jumlah korban jiwa ( Meninggal ) 427 orang ( Terbanyak di Pagai Utara dan Selatan ) dan 75 orang hilang. Sedangkan 173 luka berat, 325 orang luka ringan. Rumah penduduk yang rusak berat 517 unit, rusak ringan 204 buah. Sedangkan 15. 097 orang mengungsi
Tahun 1787, Padang dihantam tsunami setinggi lima meter. Kita tidak ingin musibah gempa dan tsunami melanda provinsi Tuah Sakato ini. Kita tidak bisa mencegah, tetapi perlu kesiapan meminimalkan korban jika musibah itu terjadi. arpinus/ ridwansyah ( catatan : tulisan pernah dimuat tahun 2011. Dimuat ulang setelah sedikit menmgalami penyempurnaan
sumber : marawanews