Beragam Budaya: Penampilan tamu dari Singapura dalam acara Solok Folkore 2011
Memeriahkan HUT Kota Solok ke-41, Pemko Solok memulai rangkaian peringatan tersebut dengan Baralek Gadang di Terminal Regional Bareh Solok (TRBS). Baralek Gadang kemarin dihadiri duta budaya dari Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam, serta seluruh daerah undangan yang berasal dari Sumbar dan provinsi lain di Indonesia.
Baralek Gadang tersebut diawali dengan pawai budaya 13 prosesi adat yang masih hidup dan berkembang di masyarakat Kota Solok. Di antara kekhasan budaya tersebut adalah adat mambuek hari, adat batagak kudo kudo, adat manyaratuih hari dan sebagainya. Pawai budaya ini juga dimeriahkan oleh kontingen dari Provinsi Jambi, Riau, DKI Jakarta. Mereka ikut menampilkan budaya khas daerah masing masing di tribun kehormatan.
Baralek Gadang juga dimeriahkan dengan tarian Jawek Baronjin karya koreografer Martion. Tarian Jawek Baronjin ini dipertunjukkan untuk menanti tamu agung dan diprediksi nantinya bisa digunakan sebagai pendamping atau pengganti tari Galombang. Puncak acara Baralek Gadang ditandai dengan makan nasi baronjin yang diikuti seluruh petinggi Kota Solok dan rakyat kebanyakan. Bahkan juga diikuti oleh duta budaya dari Propinsi Riau, Jambi, DKI Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia dan Singapura.
Ketua KAN Solok, Januardi Dt Tanali mengatakan nasi baronjin ini adalah nasi yang dibungkus dengan daun pisang berbentuk kerucut, yaitu bagian bawahnya melingkar. Sedangkan bagian atasnya runcing. Biasanya nasi baronjin dipergunakan saat “Alek Tunduak”, yaitu prosesi adat ketika mempelai wanita mengunjungi keluarga mempelai pria.
Duta budaya dari Singapura Osman mengaku sangat menggagumi acara makan nasi Baronjin tersebut. Ia mengaku tidak menyangka acara ini akan berlangsung dengan sangat meriah. Sebagai utusan dari negara dimana komunitas Melayu menjadi minoritas, Osman mengaku sangat senang berada di Kota Solok.
“Berada di Kota Solok serasa berada di kampung sendiri di masa-masa lalu. Ketika di sini, seakan cerita dari tua-tua (orang-orang tua, red) dulu tergambar dan dilihat langsung di sini,” ujarnya.
Sementara itu, utusan dari Brunei Darussalam Dayang Siti Nur Zuhaimah mengaku sangat menikmati makanan Nasi Baronjin. Menurutnya, makan baronjin tersebut menunjukkan kekayaan dan kekompakan masyarakat. Karena seluruh undangan dan peserta makan memakan nasi dan menu yang sama dan tidak dibeda-bedakan. “Makanannya sangat enak, cuma sedikit agak pedas,” kata Zuhaimah. (padek/rzy)