Perhatian untuk member MinangForum untuk membaca peraturan dahulu agar post anda tidak dihapus
Dapatkan aplikasi MinangForum untuk android anda, Klik Disini untuk mendownload


 
Thread Rating:
  • 0 Votes - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
+ Reply to Thread
03-31-2011 08:34 AM

udin kuriak Offline
*

  • Oct 2009
  • 246 posts
  • reputations
  • 2 thanks
    Given 23 thank(s) in 18 post(s)
Post: #1
Baburu kondiak
[Image: im0war.jpg]
Salah satu tradisi “ baburu kondiak “. Kata kondiak dalam bahasa setempat berarti babi hutan. Uniknya yang berburu bukanlah manusia, tapi para anjing pemburu yang sudah terlatih.

Pada mulanya tradisi ini untuk mengusir babi hutan yang merusak ladang para petani di Lima Puluh Kota. Tradisi berburu babi hutan atau ” kondiak” ini diperkirakan telah ada sejak sepuluh abad lampau. Tradisi ini juga menjadi bagian dari kehidupan agraris di Sumatra Barat. Sebagian orang Minang mewariskan tradisi tersebut karena mereka menggantungkan kehidupan dari hasil pertanian. Biasanya, saat memasuki masa panen, sawah para petani kerap diganggu dengan kehadiran babi-babi hutan. Gangguan ini jelas menjengkelkan. Kegiatan ini dilaksanakan tiga kali dalam seminggu yaitu pada hari Selasa, Sabtu dan minggu
Nah, dengan menangkap babi-babi liar itu, mereka berharap hasil panen yang didapat lebih berlimpah. Kendati awalnya hanya untuk menjaga hasil panen, belakangan acara berburu babi justru dijadikan hobi bagi sebagian masyarakat Minang. Tak mengheran- kan, bila kemudian acara berburu babi berlangsung saban pekan. Para pemilik anjing, biasanya sudah mengetahui lokasi yang akan dituju.
Sesuai adat dan tradisi, mereka terlebih dahulu harus menggelar musyawarah. Layaknya pertemuan agung, seorang pemuka adat menghormati para pemburu dengan simbol adat sirih pinang. Pertemuan ini lebih menyerupai ajang untuk bertukar pikiran. Tak hanya petani biasa yang hadir di acara ini. Beberapa pemimpin nagari (kesatuan masyarakat lokal dalam masyarakat Minangkabau) pun biasanya menyempatkan hadir untuk mempererat tali silaturahmi.
Dalam musyawarah inilah, para pemilik anjing biasanya secara sukarela mengumpul-kan uang. Dan, dana yang terkumpul akan diberikan kepada petani yang mempunyai keluhan. Biasanya, uang itu digunakan untuk mengobati anjing yang terluka saat berburu. Atau, buat mengganti sawah petani yang rusak karena dilewati anjing pemburu.
Tak semua anjing mempunyai keahlian yang sama. Bagi anjing yang baru pertama kali berburu, pemiliknya akan memberikan tetesan darah babi ke hidungnya. Ini dilakukan agar si anjing memiliki insting kuat terhadap buruannya.
Salak anjing semakin nyaring terdengar dari dalam hutan. Langkah-langkah kaki pemburu semakin kencang seiring deru nafas semakin tinggi. Seekor babi hutan tergolek lemah dikerubuti puluhan ekor anjing. Sorak sorai semakin ramai oleh ratusan pemburu dari dalam hutan. Inilah tradisi masyarakat Minangkabau tempo doeloe yang terus bertahan dan menjadi alternatif buat membunuh kejenuhan akan rutinitas kerja.(harau)
(This post was last modified: 03-31-2011 08:36 AM by udin kuriak.)
Reputation
Comments