The following warnings occurred:
Warning [2] file_get_contents(http://graph.facebook.com/?ids=http://www.minangforum.com/Thread-Apa-Kabar-Kereta-Api-Sumbar): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 403 Forbidden - Line: 806 - File: inc/plugins/fbmeta.php PHP 5.3.28 (Linux)
File Line Function
[PHP]   errorHandler->error
/inc/plugins/fbmeta.php 806 file_get_contents
/showthread.php(1196) : eval()'d code(42) : eval()'d code 1 fb_comment_count
/showthread.php(1196) : eval()'d code 42 eval
/showthread.php 1196 eval
Warning [2] file_get_contents(http://graph.facebook.com/?ids=http://www.minangforum.com/Thread-Apa-Kabar-Kereta-Api-Sumbar): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 403 Forbidden - Line: 806 - File: inc/plugins/fbmeta.php PHP 5.3.28 (Linux)
File Line Function
[PHP]   errorHandler->error
/inc/plugins/fbmeta.php 806 file_get_contents
/showthread.php(1196) : eval()'d code(131) : eval()'d code 1 fb_comment_count
/showthread.php(1196) : eval()'d code 131 eval
/showthread.php 1196 eval



Perhatian untuk member MinangForum untuk membaca peraturan dahulu agar post anda tidak dihapus
Dapatkan aplikasi MinangForum untuk android anda, Klik Disini untuk mendownload


 
Thread Rating:
  • 0 Votes - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
+ Reply to Thread
12-08-2011 10:55 AM

barebehtebeh Offline
*

  • Jan 2009
  • 570 posts
  • reputations
  • 4 thanks
    Given 33 thank(s) in 29 post(s)
Post: #1
Apa Kabar Kereta Api Sumbar
[Image: 15kereta-api-wisata-sumbar-terkini-berit...r-post.jpg]

Sumbar post |

Pada masa jayanya, kereta api Sumbar pernah melayani penumpang dan barang di berbagai rute, seperti Padang- Pariaman, Padang – Kayutanam – Padang Panjang, Padang Panjang – Singkarak – Sawahlunto - Muara Kelaban- Muaro Sijunjung, dan Padang Panjang – Bukittinggi - Payakumbuh. Bahkan juga ada Muaro Sijunjung - Pakanbaru melewati Logas. Namun kini, kejayaan itu tinggal cerita semata.

Jika membuka lembaran sejarah perkeretaapian Sumbar, maka di dalamnya akan disua arti penting keberadaan Pelabuhan Teluk Bayur dan Kota Sawahlunto sebagai kota tambang batubara. Sebab, jalur kereta api di Sumbar dimulai dengan kepu¬tusan pemerintah kolonial untuk membangun jalur dari Sawahlunto ke Teluk Bayur melalui Padang Panjang pada tahun 1878, guna mengangkut batubara.
Dalam perjalanan berikutnya, tepatnya tahun 1892, bersamaan dengan diresmikannya Pelabuhan Emmahaven (Teluk Bayur), sekaligus juga dilakukan pembukaan jalur kereta api Padang-Teluk Bayur dan Solok-Muara Kalaban.

Sementara itu, setahun sebelumnya juga telah diresmikan jalur Padang - Padang Panjang. Setelah itu, dibuka pula jalur mendaki melalui Koto Baru ke Bukit¬tinggi, dan Payakumbuh. Oleh karena kondisi alam Minang¬kabau, beberapa segmen jalur rel kereta api in diberi rel bergigi.

Dengan beroperasinya kereta api di Sumbar, fakta membuktikan bahwa secara serta merta pun telah turut mendukung kegiatan perekonomian sejak zaman Belanda. Tak hanya itu, sejarah pun mencatat, bahwa dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan, kereta api ini pun cukup memegang peranan penting. Sementara di alam kemerdekaan, kereta api ini pun menjadi sarana transportasi unggulan sampai dengan tahun 1980-an.

Namun, beriringan dengan perjalanan waktu—seiring menipisnya cadangan batubara di Sawahlunto sejak tahun 2003—masa kejayaan kereta api Sumbar juga turut memudar. Akhirnya, nasib warisan pening¬galan pemerintah kolonial bermuatan sejarah itu ikut terbeng¬kalai.

Kenyataan ini pun tidak ditampik oleh Deputi Vice President PT KAI Divre 2 Sumbar Puspawarman. Kata pria jebolan Unes Padang ini, memang demikian realita yang dihadapi PT KAI Divre 2 saat ini. Setidaknya, kata Puspawarman, ini dialami oleh daerah yang jalur kereta apinya sedang nonaktif.
Kendati demikian, ungkap pria asal Pasia Laweh Tanahdatar ini, tidak demikian untuk masyarakat sepanjang Padang – Pariaman dan Padangpanjang - Sawahlonto, yang telah menikmati Kereta Api Wisata.

“Saat ini, kereta api di Sumbar yang terus beroperasi adalah kereta penumpang, baik reguler maupun wisata pada hari Minggu, jurusan Padang - Pariaman yang berstasiun di Simpang Haru dan Tabing. Selain itu, juga ada angkutan wisata loko uap Kota Sawahlunto - Stasiun Muara Kalaban dan angkutan wisata Kota Padangpanjang-Sawahlunto. Sedangkan kereta barang diaktifkan untuk mengangkut barang pabrik PT Semen Padang dari Indarung, Kecamatan Lubuk Kilangan menuju Pelabuhan Teluk Bayur,” papar Puspawarman.

Bahkan kata Puspawarman, PT KAI juga telah memprogramkan pengaktifan Kereta Api Cindua Mato untuk relasi Padang – Padang Panjang. Selain itu, juga akan dioperasikan kereta api komuter rute Padang menuju Bandara Internasional Minangkabau (BIM) atau sebaliknya, mulai April 2012.
Menurut Puspawarman, kereta komuter ini bisa memberikan alternatif baru bagi penumpang yang akan menuju BIM atau sebaliknya, di samping adanya bus-bus yang memiliki rute yang sama.

Saat ini, kata Puspawarman, PT KAI sedang memproses pembebasan lahan untuk pembangunan rel kereta sepanjang 4,2 kilomter dari stasiun Duku menuju BIM. Disisi lain, alumni SMA 1 Batusangkar ini juga tak menampik, bahwa di beberapa jalur non¬aktif—prasarana kereta api meliputi antara lain stasiun, rel, jembatan, perlin¬tasan, sinyal dan lainnya—kondisinya sangat mem¬prihatinkan.
Bahkan kata pria yang juga ikut membidani lahirnya Tabloid Nagari ini, banyak kelengkapan stasiun yang terbengkalai atau tertim¬bun. Contohnya round table di Stasiun Koto Baru sudah tidak bisa ditemukan lagi. Jembatan telah berkarat tak terawat dan bantalannya banyak yang sudah lapuk dan hilang. Hampir semua perlintasan sebidang dengan jalan raya, sudah terbenam dalam aspal. Si¬nyal-sinyal banyak yang berdiri layu di antara halaman dan atap rumah-rumah semi permanen.
Ketika ditanya kenapa hal ini bisa terjadi, Puspawarman mengatakan, pengembangan potensi aset jaringan kereta api, sebenarnya perlu juga mendapat perhatian pemangku kepentingan, seperti eksekutif dan legislatif.

Lebih jauh dikatakan Puspawarman, terbitnya UU No 23 Ta¬hun 2007 tentang Perkereta¬apian, masih belum banyak diketahui oleh khalayak ramai. Hadirnya undang-undang terse¬but, kata Puspawarman lagi, akan menjawab pernyataan tentang pihak mana yang bertanggungjawab sebagai operator, pengelola, pemilik dan pengam¬bil kebijakan.

“Persoalan perkeretaapian tentu¬nya memerlukan sinergi dan dukungan dari berbagai pihak yang terkait, seperti pemerintah pusat, pemda, legislator di pusat dan daerah, dan badan usaha milik peme¬rintah maupun swasta serta masyarakat secara umum,” kata Puspawarman.

Puspawarman juga mengakui bahwa jaringan kereta api belum menyentuh daerah Sumbar bagian utara, seperti Pasaman. Sementara di sisi lain, potensi komoditas telah jauh berkembang dan memerlukan sarana angkutan yang ekonomis dan cepat.

Sebenarnya, kata Puspawarman, dalam hal ini jaringan kereta api dapat dikembangkan ke daerah Pasaman, disambungkan lagi ke daerah Riau menuju perairan Selat Malaka sebagai gerbang pelabuhan pengiriman komoditas ke wilayah timur.

Jalur rintisan ini, kata Puspawarman lagi, diharapkan dapat menjadi pengumpan (feeder), yang dapat diinte¬grasikan dengan rencana jalur Trans Sumatera Railway dari Aceh sampai Lampung.
Menangapi kondisi perkeretaapian Sumbar ini, Dosen Politeknik Negeri Universitas Andalas Padang yang juga pengamat perkeretaapian, Willson Gustiawan mengatakan, membangkitkan kembali perkeretaapian Sumbar, tidak mungkin dibebankan seluruhnya kepada PT KAI sendiri. Sebab, menurut UU Perke¬retaapian PT KAI adalah sebagai operator, Dalam hal ini, kata Willson Gustiawan, peran pemerintah, legislatif, swasta dan masyarakat juga tidak bisa dikesampingkan. Kesemuanya harus turun tangan untuk mengembangkan perkere¬taapian di Sumbar.

“Kereta api Sumbar saat ini harus dibangkitkan kembali. Batang itu memang telah bangkit yang selama ini sempat terendam, tetapi belum lagi muncul dari permukaan air. Kita mendambakan kem¬bali peran kereta api sebagai sarana transportasi andalan, di tengah kondisi sarana trans¬portasi darat lainnya yang tak lepas dari kemacetan pada waktu dan jalur tertentu, penge¬mudi yang ugal-ugalan, tarif yang tidak murah, dan lain seba¬gainya. Mudah-mudahan pada saatnya nanti, perkere¬taapian Sumbar benar-benar bangkit, menjemput masa jayanya seperti dahulu,” ungkap Wilson salam sebuah tulisannya.

dek indak mangko coiko
Reputation
Comments
 
Possibly Related Threads...
Thread:
  Sumbar Jadi Daerah Istimewa Bisa Ga Ya?
  Kereta Api Masa Lalu
  Sumbar Harus Tolak RUU Desa
  Meninjau Produksi Otak Sumbar
  Sumbar Belum Butuh Jalan Tol
  Pendidikan Karakter Bukan Hal Baru di Sumbar
  Potensi Energi Panas Bumi Sumbar 1.598 MWe
  Sumbar untuk 29 Daerah
  Bertahan dengan Nagari, Sumbar Rugi Finansial
  TdS Promosikan Pariwisata Sumbar