Perhatian untuk member MinangForum untuk membaca peraturan dahulu agar post anda tidak dihapus
Dapatkan aplikasi MinangForum untuk android anda, Klik Disini untuk mendownload


 
Thread Rating:
  • 0 Votes - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
+ Reply to Thread
03-06-2012 02:17 PM

saluakbalango Offline
*

  • Jan 2009
  • 375 posts
  • reputations
  • 1 thanks
    Given 20 thank(s) in 18 post(s)
Post: #1
Ampek Jinih, Petinggi Adat Minangkabau
PADANG PANJANG (jurnalberita.com) – “Maresek taraso di tangan, bakato taraso di hati, api padam puntuang brasok, rumah sudah paek babunyi, ayam manang kampuang tagadai, arang habih basi binaso, tukang ambuih payah sajo.”

Demikian pepatah orang Minangkabau dalam memahami sebuah persoalan terkait pentingnya keberadaan Ninik Mamak, Alim Ulama, Cadiak Pandai (Cerdik Pandai) dan Dubalang (Hulubalang), yang lebih dikenal dengan istilah “Ampek Jinih” dalam adat Minang.

“Ampek Jinih adalah kelompok terpenting dalam prosesi peradatan di Minangkabau. Keberadaanya merupakan tonggak adat yang tidak dapat tidak harus terus dipertahankan,” demikian ungkap Rafles Dt. Mangkuto nan Itam kepada jurnalberita.com di kediamannya, Rabu (1/2/12).

Terikat Ninik Mamak keberadaannya dalam adat Minangkabau sangatlah penting. Ninik Mamak dalam adat Minang dikenal sebagai pimpinan tertinggi dalam struktur adat atau lebih sering disebut sebagai Penghulu, dengan gelar Datuk atau dalam bahasa Minang disebut Datuak.

Datuak dalam adat Minang adalah mereka yang ‘dianjuang tinggi, diamba gadang’. “Maksudnya, posisinya adalah posisi tertinggi yang harus selalu ditinggikan dalam prosesi adat. Datuak di Minangkabau memiliki sifat baalam lapang, bapadang leba ( memiliki pengetahua luas dan penyabar),” terang Rafles.

Dalam melaksanakan tugas-tugas kepemimpinannya, seorang Datuak, bertugas untuk kusuik manyalasai, karuah mampajaniah (menyelesaikan yang kusut, menjernihkan yang keruh). Karena secara umum, Datuak di Minangkabau dalam kesehariannya bertugas untuk membina keturunannya secara adat dan menjaga keberlangsungan kampung halamannya. Dalam pepatah Minang disebutkan anak dipangku kamanakan dibimbiang, urang kampuang dipatenggangkan.

Sedangkan alim ulama menurut Rafles, yang sehari-hari berprofesi sebagai guru agama di salah satu sekolah tertua di Padang Panjang itu, merupakan suluah bendang dalam nagari, tau sah jo bata, halal jo haram, mukaruah jo muhibah.

“Maksudnya, alim ulama haruslah mampu memberikan pencerahan kepada masyarakat. Memberikan pemahaman dan pengetahuan tentang apa yang harus dilakukan dan mana pula yang tidak dibenarkan menurut agama,” terangnya.

Kalau untuk Cadiak Pandai, dalam adat Minang disebutkan, tau jo kato sampai, mangarati jo nan tasurek, paham di nan tasirek. Mereka adalah orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan tinggi tentang keduniawian. Dengan keberadaannya, masyarakat akan terbantu untuk mendalami berbagai nilai dan norma hidup. Tahu pula dengan tugas-tugas dan alur profesi.

“Kalau Dubalang, merupakan tokoh kampung yang bertugas sebagai tenaga pengamanan. Makanya dalam istilah adat disebutkan kato dubalang kato mangareh. Hal itu menjelaskan kepada kita tentang arti penting keberadaan Dubalang,” tegasnya
Reputation
Comments
 
Possibly Related Threads...
Thread:
  Tahun Depan, Taksi di Singapura Berstiker Minangkabau
  Minangkabau Absrak (Minangkabau jadi-jadian)
  Selamatkan Bahasa Minangkabau
  Surau Sebagai Skriptorium Naskah Minangkabau
  Ensiklopedia Minangkabau : Pengertian Koto Piliang
  Kepemimpinan Perempuan berlandasan “adat basandi syarak – syarak basandi kitabullah”
  Materialistik, Religius Culturalisme Minangkabau Dulu & Sekarang
  Raja Muda Menolak Gelar Kehormatan Adat
  Punahnya Identitas Minangkabau Diperantauan : Pelurusan sebuah Identitas
  Merokok Budaya di Minangkabau?